Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail 0:13 TV kama kafaru 0:16 fatakununa 0:19 sawa falaa tattakhidzu minhum 0:25 auliya hatta yuhajiru 0:34 fain tawallau fakudzuhum 0:38 waqatuluhum haitsu 0:41 wajadtumuhum walaa tattakhidzu minhum 0:46 waliyan wala 0:48 [Musik] 0:50 nasir 0:52 sadaqallahul aliyul adzim 0:56 [Musik] 1:01 Dear leaders dan calon leaders di 1:03 seluruh Indonesia. Kembali lagi kita 1:05 pada acara Indonesia Stok yang pada 1:07 malam ini sudah memasuki sesi 1:10 ke-196 di mana kita malam ini mengangkat 1:13 tema tentang ee entas dari middle income 1:16 trap ya. bagaimana kita keluar dari 1:19 jebakan eh middle income trap yang sudah 1:22 berlangsung ee beberapa tahun ya kurang 1:24 lebih 29 tahun ee ee sejak Indonesia 1:29 merdeka gitu ya. Indonesia harus 1:32 menghindari terjadinya middle income 1:34 trop trap. Eh middle income trap 1:36 merupakan suatu keadaan ketika negara 1:38 berhasil mencapai tingkat pendapatan 1:40 menengah tetapi tidak dapat keluar dari 1:42 tingkatan tersebut untuk menjadi negara 1:45 maju. Hal ini disebabkan karena negara 1:47 tidak mampu bersaing dengan 1:49 berpenghasilan lebih rendah. Bersaing 1:51 dengan negara yang berpenghasilan lebih 1:53 rendah yang bergantung pada sumber daya 1:54 alam dan murahnya tenaga kerja. Di sisi 1:57 lain juga tidak mampu bersaing dengan 1:58 negara maju yang mengandalkan kualitas 2:00 manusia dan teknologi tinggi. Sehingga 2:03 Indonesia sendiri sudah terjebak sebagai 2:05 middle income country, negara 2:07 berpendapatan menengah selama 29 tahun. 2:10 Artinya hanya tersisa 21 tahun bagi 2:12 Indonesia untuk terbebas dari middle 2:14 income trap sesuai dengan visi 2045. 2:17 Ya. Dan sahabat-sahabat sekalian, ee 2:20 mengatasi middle income trap ini adalah 2:23 tantangan besar bagi negara berkembang 2:26 yang ingin naik kelas menjadi negara 2:28 berpendapatan tinggi. Ya. Ya. Fidal 2:31 income trap ini ee terjadi ketika negara 2:33 mencapai pendapatan per kapita menengah 2:35 tapi tidak bisa terus tumbuh karena 2:37 terjebak dalam struktur ekonomi yang 2:39 tidak berubah. Untuk keluar dari jebakan 2:42 ini diperlukan kombinasi kebijakan 2:44 ekonomi, sosial, dan institusi yang 2:46 solid dan adanya reformasi transformasi 2:49 dalam struktur ekonomi negara dan ee 2:53 poster pendapatan domestik bruto negara. 2:57 Untuk itu kita pada malam ini ee ingin 3:00 mengulas dan senantiasa ingin terus 3:02 membahas secara mendalam bagaimana agar 3:05 negara kita Indonesia tercinta ini bisa 3:07 menjadi negara maju keluar dari jebakan 3:10 negara berpenghasilan menengah. Untuk 3:12 itu sudah hadir ee pada malam ini para 3:16 narasumber kita. Yang pertama sudah 3:18 hadir Pak Sutrisno Iwantono, ketua 3:20 kebijakan publik dari Apindo. 3:22 Asalamualaikum, Pak Sutrisno. 3:24 Waalaikumsalam. 3:26 Makasih sudah hadir. Kemudian sudah 3:28 hadir juga bersama kita ee Bu Ester 3:31 Sriastuti. Selamat malam, Bu Ester. 3:35 Malam, Mas Saldi. Ya, jadi malam ini 3:37 kita mengundang narasumber kombinasi 3:39 dari ekonom ya, Bu Ester dari INDEF dan 3:41 juga pengusaha dari Apindo dalam hal ini 3:45 Pak Sutrisno Iwantono. dan juga nanti 3:48 akan menyusul segera bersama kita tuan 3:51 rumah Industrial The Stok Pak Mardani 3:52 Alisera dan juga duetnya senantiasa 3:55 dalam setiap acara ILT ini Bung Roki 3:58 Gerung ya. Baik, sahabat-sahabat 4:00 sekalian, sebelum kita mulai acara kita 4:02 pada malam hari ini, ee kami ingin 4:05 mengucapkan terima kasih yang sebesar 4:07 besarnya kepada seluruh pemirsa setia 4:09 leader Stok baik di dalam negeri ataupun 4:12 luar negeri. Ee dan kepada rekan-rekan 4:15 wartawan dan media yang juga senantiasa 4:18 menyaksikan meliput dan memberitakan 4:20 acara ini. Acara Indonesia Stock ini 4:23 saat ini bisa disaksikan secara langsung 4:26 melalui siaran live streaming di channel 4:28 YouTube Mardani Alisera PKS TV serta 4:30 Rasil TV dan juga ee disiarkan ee 4:34 melalui jaringan radio Rasil di beberapa 4:37 di sekitar Jabolitabek dan juga 4:39 disiarkan secara relay melalui jaringan 4:42 radio Rasil ee FM di beberapa kota di 4:45 seluruh Indonesia. Baik, sahabat-sahabat 4:48 sekalian ee kita mulai ee diskusi kita 4:52 ee acara Indusal Stock pada malam ini eh 4:55 dengan tema bagaimana keluar dari middle 4:57 income trap. Eh, kita mulai sambil 5:01 menunggu nanti Pak Mardani dan juga Bung 5:03 Roki Gerung yang insyaallah akan segera 5:06 menyusul. Kesempatan pertama ee kami 5:09 berikan kepada ee Pak Sutrisno untuk 5:13 memberikan paparan pandangannya, Pak. 5:15 Dipersilakan. ke ke Mbak Estar aja dulu. 5:18 Oh atau Mbak Estar. Baik, kesempatan 5:21 pertama silakan Mbak Estar diberikan ee 5:24 pandangannya bagaimana kondisi ekonomi 5:26 Indonesia saat ini dan mungkin bagaimana 5:29 apa penyebab-penyebab ee sebab-sebab 5:31 Indonesia tetap ee berada pada negara 5:33 berpendapatan menengah dan bagaimana 5:35 caranya agar kita bisa keluar ee dari 5:38 jebakan ini dan menuju negara 5:40 berpendapatan tinggi dan menjadi negara 5:42 maju. Pada Mbak Estar. Persilakan, Mbak. 5:46 Baik ee Mas Haldi ee selamat malam ee 5:50 Pak Sutresno, Bapak Ibu semua dan 5:54 rekan-rekan media. Ee saya izin ya untuk 5:58 ee share 6:00 screen ini. Nanti mungkin saya akan ee 6:03 share screen ee se sedikit saja gitu. 6:08 Jadi ee kalau tadi Mas Haldi katakan 6:12 bahwa ee ternyata kita masih ee masuk 6:16 dalam middle income trad dan memang 6:18 cukup lama gitu ya, du 20 tahun lebih 6:21 itu kita masih dalam ee middle income 6:24 trad. Nah, ee tentunya kalau bisa ee 6:28 keluar dari middle income trap ya, kita 6:31 harus ee penuh apa ada solusinya ya 6:34 tantangan-tantangan ekonomi terutama 6:36 pada ee pemerintahan ke depan gitu. 6:40 Kalau bisa kita ee petakan ini ada empat 6:45 tantangan. Yang pertama adalah tantangan 6:47 fiskal, yang kedua adalah tantangan 6:50 investasi, ee kemudian yang ketiga 6:52 adalah pendidikan dan food and 6:55 energy. Dari tantangan fiskal kita 6:58 melihat bahwa yang namanya eh tax 7:01 revenue atau penerimaan negara dari 7:03 pajak ini turun terus ya. ee dilihat 7:07 dari ee targetnya itu selalu tidak 7:10 tercapai target kecuali tahun 7:13 2021, 2022, dan 2023. Nah, di sini ee 7:18 tercapai targetnya pada 3 tahun itu 7:20 karena apa? Karena booming commodity 7:22 price, yaitu palm oil. Nah, ee dilihat 7:26 dari teks ratio ya, kalau kita tarik 7:29 data dari tahun 72 sampai tahun 2023 7:33 ternyata ee tax ratio ee artinya ini 7:37 adalah perbandingan ee pajak dari pajak 7:40 dibandingkan dengan PDB itu ee cenderung 7:44 ee turun terus ya dan ee cenderung 7:47 rendah. Nah, dari sisi budgetnya juga 7:50 pengeluarannya itu ternyata lebih banyak 7:52 belanja dari apa? Belanja dari ee rutin 7:57 gitu ya dibandingkan belanja modal. Nah, 8:00 ini kan ee harusnya malah terbalik kan 8:03 kalau pengin maju ya keluar dari jebakan 8:06 Batman seperti middle income trap, maka 8:10 expenditure eh apa capital expenditure 8:13 atau belanja modal ini harus lebih besar 8:16 daripada regular expenditure atau 8:19 belanja 8:20 rutin. Nah, di sisi lain ee kita harus 8:23 ada solusi juga gitu. kita ee sudah 8:27 terlibat utang ya yang cukup ee tinggi 8:30 yaitu sekitar 8:32 38% ee rasio utang kita terhadap GDP. 8:36 Nah, ini kita harus melihat kalau ee apa 8:40 pendapatan dari pajak dan bukan pajak 8:43 itu rendah, nah utangnya tinggi, 8:46 sementara belanjanya itu tidak ee 8:49 dialokasikan untuk belanja modal lebih 8:51 banyak. Nah, ini adalah problem gitu ya. 8:54 maka ee ini akan kita akan ee potensinya 8:58 akan terus tetap di ee kelompok negara 9:01 berpendapatan menengah ke bawah gitu. 9:04 Nah, sehingga yang diperlukan adalah ee 9:08 investasi ya, investasi yang bisa 9:10 meng-create job gitu, menciptakan 9:13 lapangan pekerjaan lebih banyak gitu. 9:16 Nah, ee di sini ee investasi memang kita 9:20 sudah membentuk satu ee apa 9:22 kluster-kluster ya special economic yang 9:24 lebih banyak gitu. Dari Sabang sampai 9:27 Merauke sudah ada tetapi eh tetap saja 9:31 ini belum full ocupied gitu ya. Nah, 9:34 maka dibutuhkan satu fiscal insentif 9:38 maupun non fiscal insentif gitu ya. baik 9:41 ee dari fiskal insentif itu ee misalnya 9:44 dari sisi pajaknya dikurangin dan 9:46 seterusnya. Tetapi yang terlebih ee 9:49 penting lagi adalah kita harus menjamin 9:51 ya legal ee eh certain artinya 9:55 ketidakpastian ya ee terhadap ee hukum 9:58 ini harus dikurangi dan ee infrastruktur 10:02 ya terhadap ee apa kekurangan 10:04 infrastruktur ini harus lebih banyak 10:06 dibangun gitu. Nah, dari sisi lain itu 10:10 adalah ee public facility gitu. Nah, ini 10:12 juga harus ee lebih banyak dibangun dan 10:16 di sisi lain ee ketidakkonsistenan 10:18 antara pemerintah ee pusat dengan 10:21 pemerintah regional itu juga harus di 10:24 apa dikurangin gitu sehingga ee 10:29 orang-orang yang mau berbisnis ini mau 10:31 investor mau datang ke Indonesia. Nah, 10:34 dari sisi lain kalau pengin keluar dari 10:36 jebakan Batman ya, jebakan middle income 10:39 trap tadi, satu-satunya cara adalah 10:42 yaitu ee memperbaiki ya kualitas dari ee 10:46 angkatan kerja. Karena kita tahu bahwa 10:49 data itu menunjukkan 12% eeem apa ee di 10:55 angkatan pekerjaan angkatan kerja kita 10:57 itu ee hanya dari pendidikan tinggi the 11:01 80% itu lebih dari ee pendidikan rendah. 11:05 Nah, ini ee untuk bisa keluar dari 11:08 jebakan Batman maka harus meningkatkan 11:12 atau mengaktifkan ya ee mesin-mesin 11:16 pertumbuhan ekonomi tidak hanya dari ee 11:19 konsumsi tetapi juga dari investasi, 11:21 ekspor dan pengeluaran pemerintah. 11:24 Demikian ee Mas Aldi presentasi dari 11:27 saya. 11:30 Ee baik ee Mbak Ester, nanti kita 11:32 lanjutkan diskusinya ya. Eh, sekarang 11:35 kita e dari Pak Iwan, Pak Sutrisno 11:38 dipersilakan, Pak. Pandangannya seperti 11:40 apa gagasannya, harapannya sehingga 11:43 Indonesia bisa keluar dari jebakan 11:45 middle income trap. Ya, terima kasih. 11:47 Asalamualaikum warahmatullahi 11:48 wabarakatuh. Bapak, Ibu, dan teman 11:50 sekalian. 11:53 Ee kalau kita bicara mengenai middle 11:56 income trap di mana Indonesia sudah ee 12:00 masuk di dalam perangkap itu ya. 12:05 Ee tentu ini sebuah agenda yang cukup ee 12:11 kritis yang harus 12:13 kita ee perhatikan secara seksama dan 12:16 menjadi kepedulian kita. 12:20 Ee intinya kan posisi Indonesia saat ini 12:24 masuk di 12:25 dalam negara berpendapatan menengah ya, 12:30 tapi paling bawah gitu. Karena kita 12:34 punya ee GNP per kapita, GDP perkapita 12:38 sekitar 5.000 ya, 4.900 sampai 5.000 per 12:42 kapita. 12:44 di mana kalau kita ingin menjadi negara 12:47 berphasilan tinggi itu harus mencapai 12:52 12.000 itu dolar ya per 12:55 kapita. Dan untuk itu ya sebagaimana 13:00 kita ee ketahui dari berbagai macam 13:04 hitung-hitungan ya untuk mencapai 13:09 itu dalam kurun waktu 21 tahun. 13:13 ke depan ya. 13:17 Karena targetnya kan 2045 kita sudah 13:21 masuk menjadi negara ee 13:25 berpenghasilantik. Itu artinya kita 13:27 harus tumbuh di atas 7% 7 atau 8% per 13:32 tahun. Dan fakta yang kita alami selama 13:35 10 tahun terakhir bahkan mungkin 15 13:37 tahun terakhir kita itu masih tertumbuh 13:40 di sekitar 5%. ekonomi kita plus minus 13:45 5% walaupun ee mungkin dibanding negara 13:50 lain bagus ya, tetapi dengan pertumbuhan 13:53 5% ini tidak mungkin kita bisa menjak 13:55 keluar dari ee TRP middle income ini dan 14:00 kemudian masuk menjadi negara maju. 14:03 Karena itu 14:05 ee kuncinya ya hanya satu, bagaimana 14:07 kita bisa meningkatkan pertumbuhan 14:11 ekonomi melebih dari angka-angka 5% yang 14:15 sudah berlangsung sekian 14:17 lama. Nah, ee kalau kita bicara 14:20 pertumbuhan ekonomi maka itu 14:23 artinya adalah pertumbuhan dari seluruh 14:26 sektor-sektor ekonomi yang ada ya. mulai 14:30 dari perkebunan, 14:32 pertanian, ee tambang, perdagangan, 14:34 transportasi, logistik, dan lain-lain 14:36 itu semua sektor itu harus tumbuh ee 14:40 secara signifikan untuk bisa mengejar 14:44 pertumbuhan di atas 7%. Nah, siapa 14:46 sebenarnya yang bisa menumbuhkan di 14:49 tingkat sektor-sektor itu? contoh adalah 14:50 pelaku ekonomi di 14:52 situ. Tanpa pelaku ekonominya tumbuh, 14:55 tanpa pelaku ekonominya berkembang, maka 14:58 ekonomi juga tidak akan tumbuh dan 15:00 Indonesia juga tidak akan mungkin 15:02 menjadi negara berpenghasilan tinggi. 15:06 Ini adalah 15:08 ee kata kuncinya ya. Namun demikian kita 15:12 lihat 15:13 bahwa di dalam 15:16 berbagai data itu menunjukkan 15:19 pertumbuhan itu malah mengalami 15:21 perlambatan ya. Misalnya di sektor 15:24 manufacturing ee dulu kita posisinya 15:28 bisa sampai 30% dari e GDP ya. Jadi 15:31 kontribusi manufacturing itu 30% kurang 15:34 29 lah sekian persen. Sekarang turun 15:37 menjadi kira-kira ee 15:40 19%. Padahal yang namanya manufacturing 15:44 itu adalah tahapan yang harus dilalui 15:46 oleh negara yang akan mentransform dari 15:50 negara sedang berkembang menjadi negara 15:53 maju. 15:54 Bahkan di dalam ee saat-saat ini banyak 15:59 manufacturing yang mengalami kemunduran 16:02 kebangkutan ya seperti misalnya tekstil 16:05 ee sepatu, alas kaki ya ini PHK di 16:09 mana-mana. Kemudian juga kemarin itu ada 16:11 di ee elektronik ya ini mengalami 16:17 kemunduran. 16:19 Oleh karena itu ee upaya kita untuk 16:22 menumbuhkan ini menjadi penting. Satu 16:25 indikasi yang kita lihat 16:29 misalnya bahwa selama 10 tahun terakhir 16:33 ini ekonomi kita cenderung terjadi 16:36 konsentrasi. 16:38 Jadi ada ee indeks konsentrasi yang 16:41 semakin tinggi. Artinya ada sejumlah 16:45 pelaku-pelaku besar yang menguasai 16:47 ekonomi ya dengan kontribusi yang besar. 16:50 Ada pelaku-pelaku lain yang semakin 16:52 kecil. Ada ee ketimpangan di dalam 16:57 ee industri itu sendiri yang kemudian 17:01 berdampak pada ee kenti pangan di dalam 17:04 masyarakat. ya. Kalau kemudian terjadi 17:08 konsentrasi ya yang sebagian dari pelaku 17:11 itu besar, sebagian lagi mengecil ya, 17:14 maka sudah pasti ada inefisiensi di sana 17:18 ya. Sudah pasti ada 17:20 inefisiensi. Dan ketimpangan itu 17:22 ternyata tidak hanya terjadi secara ee 17:26 industri begitu, tetapi juga terjadi 17:28 secara ee regional. antar wilayah 17:31 terjadi 17:33 ketimpangan Jawa, luar Jawa, provinsi ee 17:37 di timur, di barat itu terjadi ee 17:40 ketimpangan sehingga kemudian secara 17:42 keseluruhan ekonomi mengalami kesulitan 17:46 untuk tumbuh. 17:49 Nah, ee ketimbangan ini tidak hanya 17:52 terjadi di 17:53 dalam ee wilayah semacam itu, tetapi di 17:56 dalam kelas atau sektor yang sama, di 17:59 dalam 18:01 ee masyarakat yang sama, itu juga ada 18:03 ketimbangan lagi antara yang kaya dan 18:06 yang miskin itu ee semakin ee besar. 18:10 Oleh karena itu, kondisi ini tidak 18:12 memungkinkan kita untuk bisa tumbuh 18:14 dengan baik karena sudah pasti ada 18:17 inefisiensi. Oleh karena itulah ee ee ke 18:21 depan agenda kita satu ya, yang pertama 18:25 menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang 18:27 cukup tinggi. Itu artinya seluruh sektor 18:30 itu harus tumbuh dengan ee baik. 18:34 Kemudian konsentrasi ekonomi harus di ee 18:39 kurangi ya dengan arti ee kelas menengah 18:45 ya ekonomi kelas menengah ya pelaku 18:48 usaha kelas menengah itu harus 18:50 diperbanyak ya dengan semakin banyaknya 18:52 itu maka kegiatan ekonomi itu akan 18:54 semakin besar jangan justru menjadi 18:57 kecil. kita bicara pajak yang yang 19:00 rendah misalnya rasio pajak kita rendah 19:03 karena yang dipajakin enggak ada adanya 19:06 di kelas paling bawah. Kalau kelas 19:08 menengahnya ada, maka ee teks basis kita 19:12 ya basis pengenalan pajak itu menjadi 19:15 luas. Maka problem mengenai ee keuangan 19:20 pemerintah yang sulit tadi bisa di ee 19:23 atasi ya. Yang kedua tentu mengurangi 19:26 disparitas antar daerah, kemudian 19:30 disparitas antar e golongan ya dan 19:33 kemudahan untuk berusaha. Kemudahan 19:36 berusaha ini penting bagi kita semua 19:39 saudara sekalian karena kita sudah punya 19:41 omnibus flow. Tetapi faktanya di 19:43 lapangan ee setiap saat muncul ya 19:50 ee aturan-aturan baru yang semuanya itu 19:53 mempersulit. 19:55 Ya, seperti sekarang ini 19:57 misalnya ada tapera, kemudian ada 20:03 ee undang-undang kesehatan yang yang 20:07 kemudian akan membatasi mengenai kadar 20:10 gula, kadar ee garam, kadar lemak dalam 20:13 makanan. Ya, ini membuat 20:15 ketidakpastian ya. Jadi kalau dari 20:19 sisi ee kepentingan dunia usaha ya, 20:25 kepastian mengenai regulasi itu sangat 20:28 penting. Ketika ada uncertainty dalam 20:33 regulatory dalam peraturan, maka 20:36 menyebabkan pelaku usaha kemudian wi 20:38 andc dia akan menunda investasi, menunda 20:42 kegiatannya dan itu berarti ekonominya 20:45 kemudian mundur. Itu 20:48 satu. Yang kedua itu adalah masalah 20:52 productivity ya. Productivity. Kita tahu 20:55 bahwa kita tenaga kerja kita ini cukup 20:58 besar tapi produktivity-nya lebih rendah 21:01 dibandingkan negara-negara lain. Kita 21:03 punya bonus demografi tetapi ternyata 21:06 tidak juga memberikan efek signifikan 21:09 terhadap ee pertumbuhan ekonomi kita 21:11 sehingga sebentar lagi masa mengenai 21:14 bonus demografi ini sudah berakhir. 21:17 Sementara impak terhadap ekonominya 21:20 belum kelihatan. justru nanti ini akan 21:24 menjadi ee beban ya 21:28 untuk 21:30 ee Indonesia, ekonomi Indonesia masa 21:33 depan ya. Ketika dia menjadi tua 21:36 tetapi belum siap 21:39 dengan ee tabungan yang cukup sehingga 21:43 dia menjadi beban 21:45 generasi berikutnya. 21:48 Nah, Saudara sekalian ee tentu kalau 21:51 dari sisi dunia usaha, dari sisi bisnis 21:55 itu ada tiga hal, ya. Yang pertama tentu 21:58 ee kebijakan di bidang moneter itu harus 22:02 kondusif yang 22:03 memungkinkan ee kegiatan ekonomi itu 22:06 berjalan ya. Kalau tuku bunga 22:09 terus-menerus naik ya baru kemarin ini 22:12 bisa turun ya itu akan menyulitkan ya. 22:16 Yang kedua tentu kebijakan 22:18 fiskal yang ee proper juga dari sisi ee 22:23 penerimaan negara ya, pengejaran pajak 22:26 itu juga harus proper gitu. jangan 22:29 mengejar kepada itu-itu saja, tapi 22:32 tekis-nya harus diperluas dengan cara 22:34 tadi menaikkan ee usaha-usaha kecil 22:37 menjadi menengah sehingga mereka menjadi 22:40 ee golongan yang memang layak untuk di 22:44 pajakin. Yang ketiga itu adalah mengenai 22:48 ee sektoril ya. kebijakan sektoril ini 22:51 penting karena kalau ee perizinan, 22:56 birokrasi, 22:58 korupsi itu masih meraja rela jangan 23:01 harap kita bisa melakukan investasi ya. 23:04 Sementara investasi itu kan adalah 23:06 faktor ee utama dari pertumbuhan 23:10 ekonomi. Nah, Saudara sekalian, kalau 23:13 saya ee rangkum, kalau saya rangkum dari 23:20 ee pandangan saya tadi, yang pertama 23:24 kita itu harus fokus untuk mendorong 23:29 efisiensi. Efisiensi di segala hal. 23:32 Jangan ada konsentrasi ekonomi di 23:34 kelompok tertentu yang menyebabkan 23:37 ekonomi itu tidak efisien. Jadi, kelas 23:39 menengah harus 23:41 diperbanyak supaya pelakunya banyak, 23:44 eksisnya juga luas. Yang kedua itu 23:47 adalah harus ada competition yang 23:51 fair. Ya, jadi kalau competition tidak 23:54 fair maka yang satu menjadi besar, yang 23:57 lainnya mati. Dan jangan harap ekonomi 23:59 akan tumbuh ketika tidak ada fairness di 24:02 dalam e 24:04 competition. Yang ketiga itu mesti ada 24:07 innovation. Jadi tidak cukup dengan 24:09 investasi-investasi. kita tahu tadi 24:12 memang e paling utama, tetapi kalau 24:14 tidak ada innovation di dalam ee bisnis, 24:18 di dalam ekonomi, maka tidak mungkin 24:19 kita bisa compete dengan negara lain. 24:24 Dan yang berikutnya yang tadi saya 24:26 katakan adalah ada kepastian mengenai ee 24:30 regulasi. 24:31 Kalau regulasinya berubah-rubah sesuai 24:33 dengan selera dari pejabat karena ee 24:39 kepentingan-kepentingan sesaat mereka, 24:40 maka itu juga tidak akan memberikan 24:43 kepastian bagi orang untuk melakukan ee 24:46 kegiatan 24:48 ekonomi. Dan yang terakhir sekali lagi 24:52 ee kita mesti memberikan porsi yang 24:55 cukup bagi 24:57 peningkatan mutu sumber daya manusia. 25:01 tanpa sumber daya manusia yang bagus, 25:04 kita tidak akan mungkin bisa ee 25:07 meningkatkan ekonomi ya, apalagi nanti 25:10 artificial intelligence itu akan 25:12 berkembang pesat, akan semakin 25:14 mengurangi penggunaan ee tenaga kerja. 25:18 Kalau tenaga kerja tidak ee cukup tinggi 25:21 quality-nya, maka akan susah dan 25:23 tentu harus 25:28 ee mengutamakan juga persoalan apa 25:33 eko ekosistem global terutama dari sisi 25:36 lingkungan. Jadi kalau lingkungan kita 25:38 hancur maka ekonomi juga akan hancur. 25:42 Jadi ee kegiatan ekonomi yang 25:46 berkesinambungan itu sangat ee 25:48 diperlukan untuk ee bisa ee mendorong 25:53 Indonesia keluar dari jebakan ee negara 25:58 berpendapatan menengah. Terima kasih. 26:01 Asalamualaikum warahmatullahi 26:02 wabarakatuh. 26:03 Waalaikumsalam warahmatullahi 26:05 wabarakatuh. Terima kasih. Pak Sutrisno 26:07 atas e pandangannya ya dari sudut 26:10 pandang pengusaha. Dan sekarang kita 26:12 sudah hadir juga eh Bung Rocki Grung. 26:16 Asalamualaikum. Selamat malam Bu Roki. 26:18 Waalaikumsalam warahmatullahi 26:21 wabarakatuh. Tap semangat lagi di jalan 26:24 juga nih Bu Roki. Enggak enggak usah di 26:27 disemangati saya. Saya yang mesti 26:28 semangati kalian tuh. Oh iya betul. 26:33 Nah, bagaimana Bung Ribam ini tentang ee 26:36 keluar dari middle income trap ya ee 26:40 tema ekonomi kembali. kira-kira 26:43 kebijakan apa yang perlu kita perlukan, 26:45 sikap dari pemerintah dan juga mungkin 26:48 nanti disambut oleh pelaku industri dan 26:50 ekonomi agar negara kita bisa menjadi 26:53 negara berpendapatan tinggi, maju, dan 26:57 juga ee menjadi ee negara yang ee adil 27:00 dan sejahtera. Kepada Muragi persilakan. 27:03 Saya sedikit ya e cara berpikirnya nih 27:05 karena ya saya dengar tadi normatifnya 27:08 begitu, tekbooksnya bilang begitu. 27:10 Tetapi coba kita bayangkan di dalam 27:13 keadaan krisis legitimasi hari-hari ini 27:16 nih, apakah middle income trap itu bisa 27:20 berubah menjadi middle class revolution? 27:22 Kan itu pertanyaan yang mesti dijawab 27:24 sebetulnya karena ada ketegangan 27:26 psikologis dalam upaya untuk 27:28 menyeberangkan ekonomi dari Pak Jokowi 27:31 ke Pak Prabowo. Tetap sampai sekarang 27:33 belum ada official statement dari Pak 27:36 Prabowo tinggal e 2 minggu bahwa dia 27:39 akan 27:40 menjalankan semacam 27:43 ee strategi ekonomi apakah basisnya 27:46 monetaris apa basisnya fiskal. Kan itu 27:49 juga mesti jadi sinyal di luar negeri 27:51 itu menteri menteri keuangannya 27:53 sebetulnya tradisinya monetaris atau 27:55 fiskal. Jadi itu soal teknis. Tetapi hal 27:58 yang paling berbahaya adalah kesepakatan 28:01 antara Prabowo dan ee Jokowi itu belum 28:04 dibatalkan. Padahal publik melihat bahwa 28:07 seluruh aspek yang akan dilakukan oleh 28:09 Pak Prabowo harus berbeda dengan Pak 28:11 Jokowi. Jadi memang masih ada semacam 28:14 sopan santun dari e Pak Prabowo untuk 28:16 untuk mengatakan oke beberapa hal 28:18 mungkin akan kita periksa itu. Padahal 28:20 pada hari-hari ini sudah dibatalkan 28:22 semua ide Jokowi Jokowi sendiri sudah 28:25 gugup untuk menerangkan bahwa IKN masih 28:27 akan jalan, bahwa infrastruktur akan 28:29 jalan. Jadi itu poin pertama. Nah, poin 28:31 kedua adalah kita mulai melihat 28:34 keresahan di daerah tuh bahwa mereka 28:36 yang jadi e gubernur, kepala daerah, 28:39 anggota DPR tahu bahwa yang akan dikirim 28:42 ke daerah itu cuma 1000 triliun. Apa 28:44 namanya mandatory eh stage spending di 28:46 situ tuh sisanya pasti dipakai oleh Pak 28:49 Prabowo dari 3.600 triliun yang 28:51 diperlukan itu sudah 1000.000 triliun 28:54 bayar utang macam-macam. Jadi ruang 28:56 fiskalnya betul-betul tinggal mungkin 28:58 300 triliun itu. Jadi kita mau lihat 29:00 bagaimana kemerahan publik itu bisa 29:03 dikendalikan oleh anggaran yang tinggal 29:05 300 triliun. Jadi saya mau anja kita 29:08 berpikir secara politikal ekonomi itu 29:10 karena tidak ada semacam jaminan bahwa 29:12 stabilitas politik akan jadi landasan 29:15 untuk 29:16 memperbaiki atau keluar dari middle 29:18 income trap ini. Kita masih berpikir 29:20 kalau pendalaman dari middle income trap 29:23 ini, pengalaman dari trap itu di dalam 29:25 100 hari pertama Pak eh Prabowo misalnya 29:28 yang terjadi adalah pendalaman deepening 29:31 of the of the trap. Apa yang akan 29:33 terjadi? Yaitu krisis kelas menengah. 29:36 Kan itu yang mesti kita siapkan 29:37 sebetulnya tuh. Jadi sekali lagi seluruh 29:39 figur ekonomi itu kita setuju. Tetapi 29:43 saya selalu ingatkan ada buku bunyinya 29:45 begini. Economics doesn't lie. Economis 29:48 does. Itu ilmu ekonomi tidak mungkin 29:50 berbohong. Para pelaku ekonomi, pejabat 29:53 ekonomi pasti berbohong dengan data tuh. 29:56 Jadi kelihatannya kemampuan kita untuk 29:59 mengeksploitasi isu-isu ini harus 30:02 dijaminkan di dalam kondisi adanya 30:04 stabilitas politik. Nah, yang enggak 30:06 bisa dijamin justru stabilitas politik 30:08 itu. Jadi, membangun ekonomi 8% oke 30:11 sebagai dasar. Tetapi kalau legitimasi 30:13 kurang, ekonomi ditumbuhkan 8% itu sama 30:16 dengan saya bawa bajai dipakai lari di 30:18 jalan tol mestinya panas. Itu kan pasti 30:21 terjadi kan. Jadi tidak mungkin misalnya 30:23 ekonomi 8% itu ditumbuhkan bersamaan. 30:25 Itu enggak bisa tuh pasti hanya ada satu 30:27 sektor yang lead dan itu akibatnya ada 30:30 disparitas generasionya meningkat. Kalau 30:33 ada stabilitas politik enggak ada soal. 30:35 Tetapi di dalam keadaan instabilitas 30:36 politik ekonomi yang dipacu sehingga 30:38 overheating itu menimbulkan keresahan 30:40 kelas menengah apalagi kelas bawah yang 30:42 eh aspire e cita-cita jadi jadi middle 30:45 class. Jadi saya kira itu yang jadi unik 30:48 di dalam konteks pembicaraan hari ini 30:50 karena transisi ini dicemaskan secara 30:53 psikopolitik. itu, Pak. Itu intinya tu 30:55 kalau misalnya ee sama seperti saya 30:58 ikuti debat antara ee ee Donald Trump 31:01 dan e Kamala Haris misalnya kemarin di 31:05 dalam acara bersama OperAra Winfrey itu 31:07 seorang anak muda dari desa itu bertanya 31:09 pada Kala Haris, "Kami tidak bisa bayar 31:12 eh housing tuh. Bagaimana Anda kalau 31:15 jadi presiden mengatasi itu?" Kalau 31:16 Makis dengan gampang bilang, "Iya betul. 31:18 Tetapi saya akan upayakan ada ee small 31:22 bisnis di e daerah-daerah. Jadi langsung 31:25 jelas, oh small bisnis itu berarti 31:27 langsung dikenali oleh anak-anak muda 31:29 ini. Kami akan dapat bisnis e bunganya 31:31 akan diturunkan. Jadi bukan dengan 31:33 mengatakan ekonomi akan tumbuh sekian 31:35 segala segala macam gitu kan. Jadi ada 31:37 hal yang konkret. Karena kita mau dengar 31:38 itu sebetulnya sebagai ee address 31:42 pertama dari Pak Prabowo bahwa ekonomi 31:45 akan 31:46 dimaksimalkan melalui teori apa? Teori 31:49 trickle down atau teori distribusi. Jadi 31:52 segala hal yang kita tunggu hari ini 31:54 adalah kecepatan Pak Prabowo untuk 31:58 menerangkan fungsi dari mesin ekonominya 32:00 itu ke mana arahnya tuh. Jadi sekali 32:02 lagi ee bagus kalau kita ee ucapkan 32:04 terus ini sambil mengingat bahwa ada 32:07 yang licin di dalam transisi ini. Nah, 32:10 itu yang saya sebut sebagai faktor 32:12 politik yang bisa membatalkan juga semua 32:15 inspirasi yang ada pada Pak Prabowo. 32:17 Yang terakhir kita tahu semua ambisi 32:19 politik batasnya adalah APBN. Itu 32:21 dasarnya. Jadi rasionalitas ambisi itu 32:24 akan dikendalikan oleh APBN yang makin 32:26 terbatas. Nah, ini saya kira 32:28 faktor-faktor yang mungkin memperluas 32:30 percakapan. akan jadi bagus betul kalau 32:32 para ekonomi juga berpikir di dalam 32:34 latar political ekonomi saya kira itu ee 32:36 poinnya dan eh ee terima kasih Bu Ester 32:39 dan 32:42 eh Pak Iwan yang berupaya untuk memberi 32:45 semacam panduan awal untuk menilai apa 32:49 sebetulnya modeling yang pas bagi Pak 32:51 Prabowo. Tetapi buat saya ada satu 32:53 problem yaitu Pak Prabowo mesti 32:54 memutuskan dia adalah kelanjutan dari 32:57 Jokowi atau Jokowi harus ditinggalkan 32:59 demi rasionalitas ekonomi. 33:01 Asalamualaikum warahmatullahi 33:02 wabarakatuh. 33:03 Waalaikumsalam warahmatullahi 33:04 wabarakatuh. Terima kasih Bung Roki. 33:07 Sekarang kita diskusi tanya jawab sambil 33:09 menunggu Pak Marani mudah-mudahan bisa 33:11 bergabung jam 09.00 ya. Baik. Saya saya 33:14 juga minta izin ya ada acara keluarga 33:17 siap ya. Makasih, Bu Roki. Oke, Pak 33:20 Iwan. Thank you. Yasih, 33:24 Pak. Baik. Eh, sekarang kita ee ke Mbak 33:28 Esther kita diskusi. Mbak Esther ee 33:32 secara struktur ekonomi apa ini yang 33:35 perlu diubah? Ya, kan tadi Bung Roki 33:37 bilang kalau kondisinya sama saja 33:40 Prabowo hanya melanjutkan e kebijakan 33:43 kerja Jokowid, ya tidak akan ada 33:45 perubahan ya. Perubahan itu kan hanya 33:47 akan terjadi memang kalau ada kebijakan 33:50 berubah, sistem yang berubah, struktur 33:52 yang berubah sampai orang yang berubah. 33:55 Kira-kira secara struktur ekonomi negara 33:57 kita ini apa yang perlu diubah supaya 33:59 negara kita bisa menjadi negara maju? 34:01 Kalau kita lihat seperti Korea Selatan 34:03 ada perubahan signifikan mereka sehingga 34:06 dari awalnya dulu waktu awal-awal 34:07 kemerdekaan tahun 50-an kita sama dengan 34:11 mereka. Bahkan dalam beberapa hal 34:13 Indonesia katanya lebih maju, tapi 34:14 sekarang kita sudah tertinggal jauh ya. 34:16 Korea Selatan mengubah struktur basis 34:19 ekonomi mereka dari basis pertanian 34:21 menjadi berbasis teknologi tinggi 34:22 misalnya ya dan fokus pada research and 34:25 development dan lain-lain ya. Nah, 34:27 kira-kira apa nih yang perlu diubah 34:30 secara struktur dan sistem ekonomi 34:32 Indonesia sehingga negara kita bisa 34:34 keluar dari jebakan middle income trap 34:36 ini? 34:39 Terima kasih Mas Haldi. Dan saya sepakat 34:41 dengan Bung Roki ya tadi sama Pak Iwan 34:44 ya bahwa eh kita itu harus berpikir 34:49 political economy thinking gitu ya. Nah, 34:53 karena memang ekonomi itu tidak bisa 34:56 dipisahkan dari ee politik ya. Jadi 34:59 kalau rakyat lapar ya nanti akan ee 35:02 politiknya akan goyang gitu kan. Nah, 35:05 sehingga ee kalau e nyambung ke 35:07 pertanyaannya Mas Haldi tadi ee apa yang 35:11 perlu diubah? Saya cuman model ekonomi 35:14 saja. Teori pertumbuhan ekonomi ya. Ee 35:17 kita berpatokan pada solo growth 35:19 misalnya ee di situ ee dikatakan bahwa 35:25 ada suatu pertumbuhan suatu negara akan 35:28 tumbuh jika dia modalnya kuat ya. 35:32 Kemudian sumber daya manusianya 35:34 kualitasnya bagus. Dan yang ketiga 35:37 adalah jangan lupa teknologi ee dan 35:40 inovasi 35:41 pastinya. Artinya di sini ee kalau kita 35:46 bicara tentang ee satu negara ya 35:50 katakanlah tadi masali katakan Korea 35:53 Selatan, Vietnam, Thailand misalnya ya 35:56 kan. Singapura dulu ee Cina bahkan itu 35:59 kondisinya sama tahun 8-an ya. Nah, Cina 36:03 bahkan ee berguru sama kita. Dia datang 36:07 ke Batam bagaimana 36:10 cara membuat spesial economic zone, 36:13 kawasan ekonomi khusus Batam. Nah, 36:15 kemudian diawali dengan membangun Sensen 36:18 gitu ya. Nah, sekarang Cina sudah 36:20 melejit ee dan hanya butuh ee 10 tahun 36:24 keluar dari middle income trap. Namun 36:27 kita masih sampai sekarang masih eh 36:29 dalam middle income eh countries gitu 36:33 ya. Nah, sempat ee apa masuk di kelompok 36:38 negara maju tetapi hanya di bibir ketika 36:41 krisis ee kembali lagi gitu. Dan ini ee 36:45 mungkin masuk lagi tetapi masih di bibir 36:48 saja, di bibir ee bawah gitu ya. Nah, ee 36:53 tentu saja kita tidak bisa ya mengubah 36:56 ya dari ee struktur ee apa mengubah dari 37:00 sektor pertanian gitu ya menjadi ee 37:04 loncat ke sektor jasa atau manufaktur. 37:08 Negara-negara maju sekalipun ya 37:10 katakanlah di Eropa ya, Jerman, ee 37:12 Belanda ee Belgia mereka negara maju 37:16 tetapi mereka tidak meninggalkan ee 37:19 pertanian gitu karena apa? Mereka sadar 37:22 bahwa yang namanya food sovereinity atau 37:25 kedaulatan pangan itu harus. Jadi jangan 37:28 sampai kita menggantungkan ya ee nasib 37:31 kita, perut kita kepada negara lain. 37:34 Oleh karena itu ketika ee kedaulatan 37:37 pangan itu tercipta, swasbada pangan itu 37:40 tercipta, maka ee rakyat ini ee akan ee 37:44 tercapai ini dulu apa kebutuhan 37:47 pangannya tercukupi dulu ee dengan ee 37:50 affordable price tentunya dengan ee 37:53 harga yang terjangkau. Nah, kalau 37:55 semuanya sekarang impor ya ee bahkan ee 37:59 impor pangan kita tahu dari tahun ke 38:01 tahun meningkat terus bahkan garam pun 38:04 impor, air mineral pun impor. Ini kan 38:07 kondisi yang menurut saya tidak masuk 38:09 akal gitu. Apa-apa diimpor gitu loh. 38:13 Nah, sehingga ee saya rasa yang harus 38:17 dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan 38:19 pangan, kedaulatan pangan dulu ya. 38:21 politik pangan itu harus diubah ya dari 38:24 undang-undang ee yang 38:29 ee menyebutkan bahwa ee cadangan pangan 38:33 itu bisa dipenuhi dengan impor. Itu 38:36 harusnya dikembalikan lagi ke 38:37 undang-undang yang lama bahwa ee 38:40 pemenuhan kebutuhan pangan itu prioritas 38:43 ya dari domestik bukan dari impor. impor 38:47 ini hanya jika ee kebutuhan apa pangan 38:52 dari domestik tidak bisa terpenuhi. Itu 38:54 saja. Nah, baru nanti ee lanjut ke 38:58 industri manufaktur dan sektor jasa, 39:00 tetapi sektor pertanian tidak 39:01 ditinggalkan. Demikian, Mas Haldi. 39:06 Iya, terima kasih, Mbak Ester. Sekarang 39:09 kita ke Pak Sutrisno ya. ee Pak Sutrisno 39:12 terkait dengan ee ke iklim investasi di 39:17 Indonesia ya. Ya, baik untuk investasi 39:20 asing ataupun domestik. Kira-kira dari 39:23 sudut pandang pengusaha negara kita ini 39:25 sudah baik enggak iklim untuk 39:27 berinvestasi bagi para pemilik modal 39:30 pengusaha sehingga mereka punya 39:32 kepercayaan dan minat yang tinggi untuk 39:35 ee berinvestasi mengembangkan usaha di 39:38 Indonesia sehingga ujungnya akan bisa 39:41 menciptakan lapangan kerja dan 39:42 meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 39:48 Pak, masih di-mute, Pak? 39:59 Maaf, masih di-mute, Pak Sutresna. 40:09 Eh, Halo, Pak. 40:20 masih di-mute, 40:42 Halo, Pak. 40:46 Masih 40:51 di-mute. Enggak kedengaran suaranya, 40:57 Pak. Halo. 41:10 Sudah belum? Ah, sudah, Pak. Sudah. 41:13 Silakan, Pak. tolong nanti kalau mute 41:15 lagi dibantu ya untuk unmute karena di 41:17 sini agak susah. Oh iya, Pak. Ya, saya 41:20 kira 41:21 ee investasi itu kan ee variabel dari 41:26 pertumbuhan ekonomi ya. Nah, investasi 41:29 itu 41:30 juga jangan selalu berpikir itu mesti 41:33 asing ya. Karena pelaku-pelaku dalam 41:36 negeri ini kan juga punya 41:38 surplus yang sebenarnya bisa 41:41 diinvestasikan ee sepanjang kemudian 41:44 investasi itu memang memberikan 41:48 ee jaminan return ya. Orang kalau punya 41:53 modal kalau mau ditaruh di satu kegiatan 41:55 bisnis maka dia harus menghasilkan. 41:58 Panjang itu tidak memberikan kepastian 42:00 itu ya orang tidak akan mau masuk ke 42:03 sana. 42:05 Nah, nah salah satu syarat untuk orang 42:08 mau 42:09 investasi ee yang pertama itu adalah 42:13 kepastian mengenai 42:15 hukum. Itu yang pertama. Sebab kita 42:17 tidak mau orang mau investasi kemudian 42:19 uangnya hilang. Ada kepastian mengenai 42:22 regulasi. Jangan regulasinya di mudahkan 42:27 dari awal, tapi begitu orang masuk 42:29 kemudian ee dipersulit itu dijebak gitu. 42:33 Semacam dijebak itu adalah bersyarat ee 42:37 ee utama ya. Yang kedua, untuk investasi 42:41 itu tentu 42:44 infrastruktur mesti ee layak ya. Orang 42:48 kalau mau 42:51 investnya tidak bagus, listriknya enggak 42:53 ada, pembangkit energi juga tidak ada, 42:57 ee itu akan sulit orang untuk mau masuk. 43:01 Dan pengadaan infrastruktur itu tidak 43:03 mungkin dilakukan oleh ee pelaku usaha 43:06 kalau sifatnya itu publik, gitu. Nah, 43:10 sayangnya seringki ee pembangunan 43:14 infrastruktur itu tidak tidak tepat 43:16 gitu. ada wilayah-wilayah yang 43:19 sebenarnya memerlukan tetapi justru 43:22 di 43:24 ee kembangkan di tempat lain ya. 43:26 Misalnya IKN ya, IKN itu memerlukan uang 43:31 yang begitu besar ya, tapi belum tentu 43:33 itu ee menarik gitu bagi ee investor 43:37 karena tempatnya yang jauh, 43:39 macam-macamnya belum tersedia sementara 43:42 ee uang yang digelontorkan ke sana itu 43:44 cukup besar. mestinya ee infrastruktur 43:48 dibangun ya ketika di sana 43:51 ada 43:53 ee sumber daya ekonomi yang memungkinkan 43:56 untuk dikembangkan dan tentu itu harus 43:59 punya akses untuk bisa ee keluar dan 44:04 masuk ke pasar. Jadi kita bisa produksi 44:07 tapi kalau enggak bisa dipasarkan juga 44:09 percuma. Nah, semua itulah yang 44:12 sebenarnya menjadi ee pertimbangan bagi 44:16 siapapun yang akan 44:18 menginvestasikan 44:20 modalnya. Nah, seringki ya kebijakan itu 44:23 masih belum ee layak gitu. Misalnya kita 44:28 punya Undang-Undang Cipta Kerja yang 44:30 sudah dikeluarkan yang katanya itu 44:32 mempermudah ya mempermudah perizinan 44:36 birokrasi dan lain sebagainya. Tapi 44:37 kenyataannya kan tidak seindah itu. E 44:41 masih banyak ee perizinan ee yang sulit 44:45 yang tidak ada harmonisasi antara 44:48 pemerintah pusat dengan pemerintah 44:50 daerah. Yang pusat maunya A, yang daerah 44:53 maunya B, yang kemudian tidak ee 44:57 nyambung. 44:59 Di samping itu banyak juga 45:00 peraturan-peraturan yang 45:03 dikeluarkan yang kemudian membuat ee 45:06 kita terkejut-kejut gitu. Yang terakhir 45:09 ini misalnya Undang-Undang Kesehatan ya 45:11 yang tadi saya sebutkan 45:14 ee 45:16 apa makanan minuman yang 45:19 mengandung gula tertentu, mengandung 45:22 garam tertentu, mengandung lemak 45:23 tertentu nantinya akan kena cukai ya 45:26 dilarang berda dan sebagainya. ini 45:28 membuat resah sehingga orang kemudian 45:30 berpikir ulang kalau mau invest. 45:33 Demikian tiba-tiba pungutan ada tapera, 45:36 ada PPN, ada macam-macam yang muncul. 45:39 Jadi, jadi ini semua menjadi beban bagi 45:44 ee pelaku usaha yang akan melakukan 45:46 investasi. Nah, hal semacam inilah yang 45:48 saya kira ee perlu untuk dipastikan ya, 45:54 bahwa betul tadi pemerintahan Prabowo 45:58 itu ee jangan menambah 46:03 ketidakpastian dari iklim usaha sehingga 46:06 kemudian orang menjadi raku untuk 46:09 menanamkan modalnya diizin. Saya kira 46:11 gitu 46:16 ya. Baik. Eh, terima kasih Pak Sutresno 46:19 mengenai eh terkait kualitas sumber daya 46:22 manusia. Bagaimana, Pak? Apakah ee 46:24 dengan kondisi saat ini apa kira-kira 46:26 aspek-aspek yang perlu ditingkatkan? Ya, 46:28 karena kita lihat juga kemarin salah 46:31 satu ikhtiar katanya penunjukan Pak 46:34 Nadim, Mas Nadim itu sebagai Menteri 46:36 Pendidikan supaya melakukan link and 46:39 match antara dunia industri dengan 46:40 pendidikan ya walaupun dengan banyak pro 46:42 kontra. Kira-kira bagaimana perkembangan 46:45 link and match antara sumber daya 46:47 manusia itu menjadi kata kunci ya. 46:49 Karena apa? Karena productivity daripada 46:52 SDM kita tuh masih kalah dengan 46:55 negara-negara ee pi kita, negara-negara 46:58 yang 46:59 se level dengan kita, Thailand, bahkan 47:03 dengan Vietnam pun kita itu kalah ya 47:06 dengan misalnya dengan Malaysia gitu. 47:09 Sementara memang ee ee upahnya kan terus 47:13 naik terus ya, upah terus naik sementara 47:17 productivity-nya flat. Nah, ini 47:19 menyebabkan kemudian 47:22 ee pelaku usaha apalagi setelah COVID 47:26 ini berkembangnya artificial 47:29 intelligence mereka cenderung kemudian 47:32 menggunakan 47:33 tenaga-tenaga yang sifatnya non manusia. 47:36 dia menggunakan robot, menggunakan mesin 47:38 dan sebagainya. Ini yang menjadi problem 47:41 nanti bagi 47:43 ee pengangguran di kita, angkatan kerja 47:46 kita. Karena pelaku usaha akan cenderung 47:49 menjadi kapital intensif. Sementara 47:51 angkatan kerja setiap tahun itu mungkin 47:53 bertambah sekitar 3,5 juta. Ke mana 47:55 mereka akan di tampung? Dan itu tidak 47:59 memungk kalau mereka tidak bisa 48:01 produktif itu tidak memungkinkan kita 48:02 untuk 48:03 mencapai pertumbuhan yang tinggi untuk 48:05 keluar dari middle income tadi ya. Nah, 48:08 oleh karena 48:09 itulah 48:11 ee investasi di bidang sumber daya 48:13 manusia ini menjadi begitu penting. 48:16 Tetapi jangan juga ukurannya hanya 48:18 berapa uang yang dikeluarkan untuk itu 48:20 gitu 20% dari PBN dan sebagainya. Tetapi 48:23 sebenarnya pendidikan kayak apa sih yang 48:25 diperlukan gitu. Kalau nanti 48:27 pendidikannya hanya kayak saya belajar 48:31 ekonomi ya yang yang makro-makro semua 48:34 belajar ekonomi nanti yang yang buat 48:36 barang siapa. 48:38 Jadi semestinya kita itu lebih ee down 48:42 to earth bahwa pendidikan yang 48:44 diperlukan itu adalah yang memang 48:46 lulusannya itu begitu lulus orientasinya 48:50 tuh bisa membuat barang, membuat produk 48:53 ya dia mempunyai jiwa entrepreneur ya 48:57 sehingga ekonomi akan dikembangkan oleh 49:00 mereka tidak memungkinkan nanti berharap 49:02 kepada sektor ee usaha besar yang 49:06 cenderung nanti capital intensif ya. 49:09 Jadi sebagian tenaga kerja itu pada 49:11 akhirnya harus ditampung di tadi yang 49:14 saya sebut ee usaha-usaha kelas menengah 49:17 ya. Jangan usaha yang mikro-mikro kecil 49:19 itu karena itu juga ee tidak terlalu 49:22 produktif gitu. Mereka harus didorong 49:24 menjadi usaha menengah yang mempunyai 49:28 kemampuan inovasi yang cukup, penguasaan 49:31 teknologi yang benar sehingga dia 49:33 menjadi pelaku ekonomi yang cukup banyak 49:36 gitu ya. jangan tergantung sama yang 49:38 besar saja. Dengan demikian, kegiatan 49:40 ekonomi itu akan jauh lebih bervariasi, 49:43 lebih banyak dilakukan oleh ee 49:47 masyarakat Indonesia. Sekaligus mereka 49:49 inilah yang akan menampung ledakan 49:52 angkatan kerja yang nantinya tidak akan 49:54 bisa diserap di sektor formal. Saya kira 49:57 itu kalau kita bicara mengenai. 50:01 Baik, terima kasih Pak. Sekarang kita ke 50:04 Mbak Ester. Mbak Ester eh ee kira-kira 50:08 ee apa pusat-pusat pertumbuhan ekonomi 50:10 yang perlu jadi fokus ee prioritas 50:13 pembangunan oleh pemerintah ya yang 50:16 berdasarkan potensi ekonomi Indonesia 50:18 sehingga kita bisa berdaya saing tinggi 50:21 dengan negara-negara lain di seluruh 50:23 dunia. 50:26 I kalau bicara pusat-pusat pertumbuhan 50:29 itu bicara lokasi, Mas ya. Jadi kalau 50:33 yang saya ingin ee highlight adalah ya 50:37 selama ini kan kalau kita bicara 50:38 pertumbuhan ekonomi itu hanya ee relay 50:42 on pada konsumsi rumah tangga gitu. Jadi 50:45 ee selama ini kalau kita bicara 50:48 pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak 50:50 hanya konsumsi rumah tangga gitu, tetapi 50:53 adalah investasi ya didorong, ekspor 50:56 didorong setelah kita punya investasi 50:59 kita dorong ekspor. Setelah kita punya 51:02 duit dari devisa negara dari ekspor baru 51:05 kita belanjakan ee dengan apa lebih ee 51:09 banyak gitu kan. intinya kan seperti 51:11 itu. Nah, di sisi lain ya ee kalau kita 51:15 bicara pertumbuhan ekonomi jangan ee ini 51:19 mengabaikan ya kelas menengah seperti 51:22 tadi Bung Roki katakan ya karena ee 51:25 jumlah kelas menengah kita ini sekarang 51:27 ee menurun 51:29 gitu. Artinya apa? Ini adalah eh warning 51:32 ya, signal bahwa kita ini akan krisis. 51:35 beberapa eh best practice menunjukkan ya 51:39 eh empirical study menunjukkan di 51:42 Amerika Latin misalnya ketika kelas 51:44 menengah kita itu tidak ada atau 51:46 cenderung e sangat sedikit artinya 51:49 hollow middle class. Nah ee itu akan 51:53 terjadi revolusi gitu. Nah itu yang 51:56 tidak kita inginkan. Ee mereka yang ada 51:59 di kelas menengah kemudian jatuh miskin. 52:01 Nah, orang-orang yang ee masyarakat 52:05 kelompok masyarakat miskin ini kan jadi 52:07 jatuhnya lebih banyak kan. Nah, ini yang 52:10 tidak kita inginkan. Artinya gap antara 52:13 ee yang kaya dengan yang miskin ini ee 52:16 harus ee dikecilkan. Itu yang pertama. 52:20 Yang kedua, kalau pengin ekonomi tumbuh 52:23 ini caranya tidak 52:26 ee mengeluarkan kebijakan yang kontraksi 52:28 terus gitu. Contohnya misalnya ee 52:32 masyarakat dipajakin terus gitu ya dari 52:35 PPN e 52:37 11% dinaikkan menjadi 12% misalnya. Nah, 52:42 ini kan yang kena semua lapisan 52:44 masyarakat. Nah, padahal itu mungkin 52:47 kalau dihitung dari tax revenue-nya 52:49 enggak terlalu seberapa. Kecuali kalau 52:51 kita pajakin orang-orang yang ee kaya 52:54 gitu kan. ee orang kaya 10 orang kaya 52:58 aja kalau dipajakin mungkin T reven-nya 53:00 akan jauh lebih banyak gitu. Itu itu ee 53:04 jadi ee apa jangan ee keluarkan 53:07 kebijakan fiskal yang kontraksi terus 53:09 gitu. Nah, apalagi ada ee PPN yang untuk 53:14 IPL lah gitu kan ee iuran yang IPL apa 53:18 pemeliharaan lingkungan yang untuk 53:20 apartemen itu buat saya tidak masuk akal 53:23 ya. Saya sangat mengerti ya, di sisi 53:25 lain ee pemerintah itu ee apa 53:29 kebingungan ya dengan fiscal space yang 53:32 sangat kecil ya, utang banyak ee rasio 53:36 pajak itu turun terus. Ee 53:39 kemudian di sisi lain juga ee pemerintah 53:43 harus generate ini kan ee pembangunan ee 53:46 dorong pembangunan terus. Nah, itu duit 53:48 dari mana gitu kan. Nah, sehingga harus 53:51 dipilih program-program yang prioritas 53:53 gitu. Mana apakah ee tadi Bung Rocki 53:57 katakan apakah ee IKN harus ee tetap 54:01 dijalankan, apakah ee infrastruktur mana 54:04 yang harus 54:05 diprioritaskan, apakah memang itu yang 54:08 menjadi program prioritas atau ada 54:10 program-program lain misalnya 54:12 peningkatan sumber daya, kualitas sumber 54:14 daya manusia. ee kalau menurut saya itu 54:17 harus yang prioritas terlebih dahulu. 54:19 Karena kalau tidak nanti pada tahun 2045 54:23 itu akan terjadi namanya ledakan ee 54:26 penduduk usia produktif. Nah, kalau 54:29 mereka tidak dibekali oleh skill yang 54:32 acceptable di pasar tenaga kerja, maka 54:35 yang terjadi bukan bonus demografi, tapi 54:38 boncos demografi karena ada ledakan 54:40 pengangguran yang sangat dahsyat pada 54:42 tahun 2045. 54:44 Demikian, Mas Hilda. 54:48 Haldi 54:50 soralik ini. Iya, Mbak. Ee kalau sektor 54:54 industri apa kurang kira-kira, Mbak? 54:56 Sektor industri unggulan yang bisa kita 54:58 ee ee jadikan ee apa produk e unggulan 55:03 untuk meningkatkan PDB kita? 55:06 Kalau bicara manufaktur ee manufaktur 55:09 industri ya. Jadi ee ini kan banyak ya 55:14 ee kita sebenarnya sempat ee booming ee 55:19 di sisi tekstil, tapi karena ada ee 55:22 kebijakan yang apa menurut saya itu 55:25 melonggarkan impor. Jadi akhirnya ee 55:28 perusahaan di domestik nih, industri 55:31 taksi di domestik cenderung lesu dan 55:33 banyak yang bangkrut. Nah, kemudian 55:36 kalau kita bicara industri elektronik 55:39 kita juga ee apa bagus kok gitu kan. 55:43 Nah, tetapi ee ada kebijakan yang tidak 55:47 ee apa berpihak itu akan menjadi 55:50 berkurang. Nah, ee ini industri ini nih 55:53 harus di apa didorong gitu ya dengan 55:57 kebijakan-kebijakan yang memang ee 56:00 membuat mereka itu terstimulasi. Saya 56:03 tidak bicara proteksi ya, tetapi paling 56:05 tidak membuat mereka nyaman sehingga 56:08 mereka bisa melakukan ekspor ya me bisa 56:12 bersaing di apa di pasar global bisa 56:16 ekspor. Nah, itu yang didorong oleh 56:19 Cina, pemerintah Cina. Jadi, pemerintah 56:22 Cina itu ee memberikan satu subsidi ya 56:26 menurut saya ee sekarang 56:29 gini ee apa mereka bisa mengimpor ee 56:34 dengan harga yang murah ke Indonesia 56:37 dengan ee biaya ongkir ya ongkos ongkos 56:41 krim itu sangat murah gitu. Eh, 56:44 katakanlah ketika kita bisa belanja 56:47 produk Cina di e-commerce, platform 56:49 e-commerce dengan ongkir yang cuma 56:51 12.000, itu buat saya tidak masuk akal. 56:54 Nah, pasti ada kebijakan pemerintah Cina 56:57 memberikan subsidi sehingga ee 57:01 perusahaan-perusahaan itu bisa melakukan 57:03 ekspor. Nah, seharusnya ee pemerintah 57:06 Indonesia itu ee bisa melakukan itu. 57:10 Tidak hanya ee bagaimana cara 57:13 meningkatkan ee pajak terus atau tax 57:15 revenue gitu, bukan seperti itu. tetapi 57:18 dorong ekonomi ini tumbuh dulu baru 57:21 nanti ee ketika mereka bisa memproduksi 57:24 ya terus kemudian mereka volume 57:27 sales-nya itu meningkat dengan 57:29 serta-merta maka penerimaan negara akan 57:32 tinggi juga kok gitu. 57:39 Baik, terima kasih ee Mbak Ester. 57:41 Sekarang ee kita ke Pak Sutrisno lagi. 57:45 Pak Sutrisno ee terkait ee 57:49 dengan 57:50 ee pusat-pusat pertemuan ekonomi ya. 57:54 ee banyak beberapa kal ee industri yang 57:58 memindahkan ee lokasinya saat ini dari 58:01 Indonesia ke luar negeri ya, ke Vietnam 58:04 misalnya ya, ke Malaysia atau ke 58:07 Thailand gitu. Dan juga mungkin dari 58:10 beberapa kawasan industri yang ada di 58:12 sekitar ee Jabo Detetabek ya ee seperti 58:17 di Cikarang ya, di Karawang dan 58:19 lain-lain pindah mungkin kena tingginya 58:21 ee UMR ya atau UMK. di daerah tersebut 58:25 pindah ke daerah Jateng dan beberapa 58:27 daerah lainnya. Nah, kalau ini terus 58:30 berlangsung kita akan terus menjadi 58:33 middle income trap. Nah, bagaimana Pak 58:35 Sutrisno melihat fenomena ini? 58:38 ya kan itu enggak bisa 58:40 disalahin kalau kita berbisnis di suatu 58:44 tempat tapi biayanya di situ tinggi dan 58:47 kemudian membuat ee perusahaan rugi 58:50 akhirnya tutup kan gak mungkin dia akan 58:52 bertahan di situ. Jadi orang bertahan 58:55 misalnya pindah dari Jawa Barat ke Jawa 58:59 Tengah karena ee upahnya lebih murah di 59:02 Jawa Tengah gituan. Perusahaan itu 59:05 adalah padat 59:07 karya di mana cost-nya itu ee sebagian 59:10 besar berasal dari tenaga kerja. 59:13 Sementara 59:14 di ee Jawa Barat di Karawang banyak 59:17 mahal di Jawa di Jawa Tengah murah orang 59:19 pindah ke sana gitu. Karena seringki ya 59:22 karena kepentingan politik tertentu itu 59:26 para calon-calon bupati, calon walikota, 59:29 kampanye itu akan menaikkan upah tinggi 59:32 gitu dalam rangka ee mendapatkan vote 59:36 ya, mendapatkan suara supaya kepilih 59:39 gitu. Tapi begitu kepilih kan dia harus 59:42 menepati janjinya itu. Kalau enggak kan 59:43 dia harus bisa. Tapi akibatnya 59:46 investornya engkang lari dari sana gitu. 59:52 Nah, ini juga terjadi kalau di Indonesia 59:53 ternyata tidak ee membuat mereka visibel 59:59 ya orang pindah ke Vietnam karena 1:00:01 Vietnam lebih bagus infrastrukturnya 1:00:04 misalnya lebih murah ongkos kerjanya dan 1:00:07 lain-lain gitu kan. Tidak bisa kita 1:00:10 paksa orang untuk ee rugi kan. Karena 1:00:14 kalau rugi kan negara juga enggak akan 1:00:17 ganti kan kita uang-uang bank bayar ee 1:00:21 bunga kena pajak. Tapi kalau kemudian 1:00:25 rugi ya pasti orang tidak akan melakukan 1:00:28 bisnis. Saya kira itu. 1:00:35 I. Baik, Pak. Kemudian ee dari sisi ee 1:00:40 kebijakan fiskal moneter ya, suku bunga, 1:00:44 inflasi dan lain-lain. Kira-kira dari 1:00:46 sudut pandang pengusaha kebijakan 1:00:48 moneter dan fiskal apa yang perlu segera 1:00:50 diambil Pak Sutisno untuk menunjuk? Pak, 1:00:53 kalau dari sisi moneter itu kan jelas 1:00:55 ya, daya beli masyarakat sekarang ini 1:00:57 turun ya. Ee ada deflasi. Difasi itu 1:01:02 bisa juga ee disebabkan oleh ee orang 1:01:07 mengurangi ee konsumsi kan ya karena ada 1:01:11 kayak daya belinya ee menurun ya bisa 1:01:15 juga karena katakan harga pangan turun 1:01:17 kita menyebabkan itu ee deflasi. ya. 1:01:21 Artinya kalau kalau kemudian daya beli 1:01:24 itu ee turun ya itu kebijakan moneternya 1:01:29 kan harusnya kan lebih 1:01:31 ee rileks ya, relaksasi, tubuh bunga 1:01:35 diturunkan dan sebagainya sehingga orang 1:01:37 mulai mau ee berbelanja. 1:01:41 Ya, sekarang itu ada 1:01:44 fenomena yang namanya undisbersed kredit 1:01:48 itu 1:01:49 meningkat. Jadi ee para pelaku usaha, 1:01:54 masyarakat meminjam uang ke bank tapi 1:01:56 uangnya enggak dipakai-pakai 1:01:58 gitu karena belum ada ee ee ee ee 1:02:03 kepastian di dalam bisnisnya. Sementara 1:02:05 suku bungahnya tinggi sehingga akhirnya 1:02:08 dia sudah dapat jat enggak dipakai. 1:02:11 ya. Oleh karena itu ee upaya untuk 1:02:14 menurunkan suku bunga itu adalah salah 1:02:17 satu cara kita untuk meningkatkan daya 1:02:19 beli. Nah, dari sisi fiskal ya, fiskal 1:02:22 itu yang pertama 1:02:25 adalah pungutan kita sudah terlalu 1:02:27 banyak gitu ya. Pajak PPN segala macam 1:02:29 dipajakin orang beli ee dapat gaji 1:02:32 dipajk belanja lagi dipajk beli semen 1:02:36 dipajk semua dipajin sampai sampai habis 1:02:39 gitu ya. 1:02:40 Sementara yang dipik ya itu-itu aja 1:02:42 gitu. Kenapa? Karena memang pelaku usaha 1:02:46 yang pantas untuk dipajik itu sedikit. 1:02:49 Kalau pelaku usaha menengahnya itu 1:02:51 banyak, maka mereka bisa menjadi ee 1:02:54 objek pajak. Tapi ini kan tidak. Tadi 1:02:56 saya katakan terjadi 1:02:58 ee apa namanya? 1:03:01 konsentrasi industri tadi itu. Nah, jadi 1:03:04 kebijakan fiskal yang benar itu adalah 1:03:08 jangan terlalu ee apa kontraktif 1:03:12 terhadap ekonomi dari sisi 1:03:16 ee pendapatan 1:03:19 pemerintah. Dari sisi belanja mestinya 1:03:22 belanja pemerintah itu harus efisien 1:03:23 juga. 1:03:25 Jangan dibelanjakan ke wilayah-wilayah 1:03:28 yang tidak punya multiplier effect. 1:03:31 Harus jelas ketika dia dibelanjakan itu 1:03:33 bisa meningkatkan daya beli masyarakat. 1:03:37 Kalau dibelanjakan kemudian yang dibeli 1:03:40 barang-barang impor gitu kan uangnya 1:03:42 enggak enggak beredar di 1:03:44 sini ya kan. J dibelanjakan di IKN sana 1:03:48 dia juga enggak banyak multiplier 1:03:50 effect-nya. mestinya dibelanjakan di 1:03:52 tempat-tempat di mana di situ banyak 1:03:55 masyarakat, populasinya ee besar. Jadi, 1:03:58 uangnya beredar di situ bisa berarter 1:04:00 berkali-kali lipat. Nah, ekonominya kan 1:04:03 tumbuh. Sumber daya alam yang ada di 1:04:06 situ akan jadi manfaatkan karena ada 1:04:07 uang yang menstimulir e kegiatan ekonomi 1:04:11 itu dari sisi ee pengeluaran ya, jangan 1:04:15 fiskal dari sisi pengeluaran. 1:04:18 Dan dari sisi pendapatan tadi yang saya 1:04:20 katakan pungutan-pungutan sudah banyak. 1:04:22 Ini muncul lagi kemarin 1:04:25 ee apa upah ee buruh diwajibkan untuk 1:04:29 nabung 1:04:31 gitu. Nabung kok diwajib-wajibkan. Itu 1:04:34 kan untuk kepentingan mereka sendiri. 1:04:36 Akibatnya kan 1:04:37 uangnya enggak enggak beredar lagi, daya 1:04:40 beli masyarakat akan turun lagi. Belum 1:04:42 lagi uang itu nanti siapa yang 1:04:45 mengelola ya pengalaman kita uang yang 1:04:47 diambil dari ee karyawan, dari buruh, 1:04:52 dari masyarakat itu 1:04:53 kemudian penuh dengan moral harsal. ya 1:04:56 saya enggak mau sebutkanlah 1:04:58 peristiwa-peristiwa ee pemanfaatkan 1:05:00 dana-dana itu yang kemudian 1:05:01 diselewengkan untuk kepentingan lain. 1:05:04 Jadi kalau ee moneternya seperti itu, 1:05:07 fiskalnya seperti itu, tapi yang penting 1:05:08 lagi adalah sektorilnya gitu. Monet 1:05:11 sudah baik, fiskal sudah baik, tapi 1:05:14 sektorialnya, peraturannya, 1:05:16 birokrasinya tidak memberikan kepastian. 1:05:19 ditambah-tambah terus ada ini, ada itu 1:05:21 muncul ini muncul ini semuanya kemudian 1:05:24 ee tidak terkoordinasi ya. Saya sering 1:05:27 diskusi dengan ee KL ya, kementerian dan 1:05:32 lembaga keluar e peraturan di satu 1:05:34 lembaga tertentu untuk departemen lain, 1:05:36 kementerian lain merasa tidak pernah 1:05:39 dilibatkan ya kan. Nah, contohnya 1:05:41 misalnya di bidang kesehatan ya, di 1:05:44 bidang tembakau misalnya cukai tembakau 1:05:45 dan sebagainya itu ee Kementerian 1:05:48 Perindustrian Perdagangan enggak 1:05:49 dilibatkan gitu. Padahal mereka itu yang 1:05:51 membina industri, mereka yang membina 1:05:54 pedagang. Ini hanya satu sisi saja. Jadi 1:05:57 kalau koordinasi di antara 1:05:59 pemerintah ee lembaga dan kementerian 1:06:02 itu tidak jalan, nah bagaimana pelaku 1:06:05 usaha bisa yakin bahwa investasi ini 1:06:08 akan akan aman? gitu sehingga mereka 1:06:11 akan cenderung menjadi witc nunggu, 1:06:14 nunggu. Tapi sampai kapan nunggu itu? 1:06:16 Kalau semua nunggu ya enggak tercapai. 1:06:18 Pertumbuhan ekonomi enggak tercapai juga 1:06:21 itu nanti kita keluar dari middle income 1:06:26 itu. Itu ya. Ini masih sampai jam berapa 1:06:29 nih? Bentar lagi, Pak. Sampai 21.30 15 1:06:32 menit lagi. 14 menit lagi. Heeh. Baik. 1:06:36 Ee sekarang kita ke Mbak Estter ya. 1:06:39 Mbaker eh ee terkait dengan sektor jaz 1:06:43 ee ini ya ee unggulan ini ada pemikiran 1:06:47 bahwa sebuah negara yang ingin keluar 1:06:50 dari middle income trap salah satu yang 1:06:52 harus dilakukan adalah melakukan 1:06:54 diversifikasi ekonomi ya yang ee bukan 1:06:57 saja mengandalkan sektor ekspor primer 1:07:00 atau komoditas atau sumber daya alam 1:07:02 gitu, tapi membangun sektor manufaktur 1:07:04 dan jasa yang berdaya saing tinggi ya. 1:07:07 Seperti halnya untuk sektor jasa yang 1:07:08 bernilai tinggi itu seperti layanan 1:07:11 keuangan, teknologi informasi, serta 1:07:14 jasa kreatif dan pariwisata yang lebih 1:07:17 ee inklusif gitu ya. Nah, seperti halnya 1:07:20 seperti di Singapura mereka melakukan 1:07:22 transformasi menjadi pusat finansial 1:07:24 global dengan birokrasi efisien, 1:07:26 stabilitas politik gitu ya. Jadi ada 1:07:29 sektor-sektor ee ekonomi kreatif baru, 1:07:32 sektor jasa bernilai tinggi yang baru 1:07:35 yang bisa mendongkrak ekonomi. Nah, 1:07:37 untuk Indonesia bagaimana ee peluang ee 1:07:40 sektor-sektor jasa bernilai tambah 1:07:42 tinggi ini, Mbak? 1:07:46 ee sebenarnya tidak hanya sektor jasa ya 1:07:49 ee tetapi juga sektor ee manufaktur gitu 1:07:52 yang artinya ee kita itu tidak hanya 1:07:57 mengekspor komoditas ya dalam bentuk 1:08:00 mentah, tapi kita olah dulu gitu. Nah, 1:08:03 sehingga ee kita ee bisa mendapatkan 1:08:07 nilai tambah dari apa yang sudah kita 1:08:09 ekspor gitu kan. Nah, contoh misalnya 1:08:12 kalau kita bicara rumput laut misalnya, 1:08:15 rumput laut ee diekspor mentah bisa juga 1:08:18 gitu. Tetapi ee langkah baiknya jika 1:08:21 rumput laut itu diolah dulu ya ee 1:08:25 menjadi misalnya agar-agar gitu, itu 1:08:28 yang kita ekspor. Bicara kopi misalnya, 1:08:31 kopi sebagian besar diekspor dalam 1:08:33 bentuk green bean gitu kan. 1:08:36 Nah, alangkah baiknya jika kita ee tidak 1:08:39 mengekspor dalam bentuk green bean, 1:08:41 tetapi kita ekspor dalam bentuk eh 1:08:44 roasted copy ee karena harganya ini jauh 1:08:48 lebih mahal gitu. Katakanlah kopi dalam 1:08:52 1 kg dalam bentuk green pin itu kalau 1:08:55 arabika sekitar Rp50.000 ya. Nah, ketika 1:08:59 dijual dalam bentuk e rosed kopi itu 1:09:02 satu 200 gr-nya aja bisa ee Rp100.000 1:09:06 ya. Kalikan 5 kan kalau dalam 1 kilo kan 1:09:10 berarti 1 kilonya bisa ee ini Rp500.000 1:09:14 gitu 1 kilonya. Nah, ini kan berarti 1:09:18 artinya apa? Artinya ee kita bisa 1:09:22 menjual produk yang sudah di apa ada 1:09:26 nilai tambahnya dulu gitu kan. Nah, 1:09:30 harganya lebih mahal karena ada nilai 1:09:32 tambah gitu di situ dan ee apalagi kalau 1:09:36 kita 1:09:37 bisa mengolah ya ee memberikan nilai 1:09:40 tambah pada sektor-sektor jasa gitu. 1:09:43 Nah, itu sih Mas. Jadi ee kalau saya sih 1:09:48 cenderung ya kita tidak meninggalkan 1:09:51 sektor pertanian tetapi kita 1:09:55 juga ee melakukan industrialisasi ya, 1:09:59 hilirisasi ee dan kita juga ee ke sektor 1:10:03 jasa gitu. Itu sih Mas Haldi. I. Baik, 1:10:07 terima kasih Mbak Ester. Intinya eh 1:10:10 gimana menumbuhkan ee sektor-sektor 1:10:12 industri yang bernilai tambah tinggi ya. 1:10:14 Baik manufaktur dengan hilirisasi e 1:10:18 produknya dan juga sektor jasa bernilai 1:10:20 tambah tinggi ya. Baik. Eh, selamat 1:10:23 datang Pak Mardani, 1:10:25 Bang Haldi, Mbak Estter 1:10:29 Mas Iwantono apa kabar? Matur nuwun 1:10:32 semua. Nyuwun sewu. Baru gabung baru 1:10:34 kelar acara saya. Nyuwun sewu. Nyuwun 1:10:36 sewu kami Bapak dengan senang hati. 1:10:39 Matur nuwun. Matur nuwun atas ilmunya. 1:10:42 Lanjut di ini Pak Sutrisno izin mau 1:10:44 pamit duluan mungkin sekaligus closing 1:10:46 statement dulu e Pak sebelum pamit 1:10:50 persilakan. Iya terima kasih. 1:10:52 Asalamualaikum. 1:10:54 Waalaikumsalam. Senang sekali bisa jumpa 1:10:56 lagi. Lanjut lanjut. Gimana ya? Saya 1:10:59 saya kira saya izin dulu ya karena saya 1:11:00 sudah dari tadi. Iya. Monggo. Saya kira 1:11:03 itu saja. Saya hanya ingin menekankan ya 1:11:07 ee pertama 1:11:09 bahwa efisiensi pasar itu harus dijamin 1:11:12 ya oleh pemerintahan Pak Prabowo nanti. 1:11:16 Pasar yang efisien, bukan pasar yang 1:11:18 terdistorsi, bukan pasar yang dipenuhi 1:11:21 oleh para r seeker, oleh para ee 1:11:26 pemburu fasilitas gitu ya. Tapi memang 1:11:29 pelaku-pelaku pasar yang didasari pada 1:11:33 ee kemampuan berproduksi secara 1:11:35 inovatif, secara efisien. Yang kedua 1:11:38 adalah ada fair competition. Jadi, ada 1:11:41 persaingan yang sehat di antara ee para 1:11:45 pelaku ya. Karena kalau terjadi 1:11:47 persaingan sehat maka ee pelaku itu akan 1:11:51 mampu bersaing di manapun gitu. Tapi 1:11:54 kalau ada perlindungan-perlindungan, 1:11:56 maka kalaupun dia bisa eksis, itu adalah 1:11:58 semu sifatnya. Karena itu fair 1:12:00 competition itu ee perlu ditegaskan 1:12:05 nanti Mas ee Martani ya yang mau jadi 1:12:11 menteri. Amin gitu. 1:12:14 Takut. Takut aminnya. Tapi ilmunya saya 1:12:16 ambil. pasar yang efisien, kompetisi 1:12:20 yang fair, setuju sekali, dan tenaga 1:12:22 kerja yang memang berkualitas itu. 1:12:24 Waduh, betul sekali itu, Masantono. 1:12:27 Heeh. Yang ketiga itu masalah inovasi 1:12:29 ya. Jadi kalau kita tidak ada inovasi 1:12:31 jangan harap kita mampu ee bersaing. 1:12:34 Karena itu pendidikan itu bukan 1:12:35 pendidikan untuk 1:12:37 jadi ekonom kayak saya, jadi politikus 1:12:40 kayak Mas Merani. Betul. Betul. Tapi 1:12:43 harus jadi ee ee masyarakat yang memang 1:12:46 begitu lulus bisa bikin barang, bisa 1:12:48 bikin uang gitu. Kalau yang kita-kita 1:12:51 ini kita-kita aja, Mas, jangan 1:12:53 banyak-banyak. Setuju. Setuju. Iya. Yang 1:12:56 lainnya itu harus punya skill. Jadi, 1:12:58 begituang. 1:12:59 Iya. Bisa menciptakan pekerjaan untuk 1:13:02 dirinya sendiri. Yang ke berikutnya itu 1:13:05 adalah eh konsistensi di dalam eh 1:13:11 regulation ya. Kepastian jangan selalu 1:13:14 menimbulkan 1:13:15 ketidakpastian ya tiba-tiba muncul ini 1:13:18 kemudian kita kaget-kaget akhirnya e 1:13:21 gaduh di sana sini akhirnya kemudian 1:13:24 peraturannya dicabut lagi. Itu artinya 1:13:27 apa? Artinya karena memang dari awal 1:13:28 tidak diajak bicara semua orang yang 1:13:31 berkepentingan. Tiba-tiba dikeluarkan 1:13:33 peraturan ketika keluar enggak bisa 1:13:35 dijalankan karena yang pelakunya itu 1:13:38 enggak mau gitu, enggak mau jalanin 1:13:39 gitu. Itu di lapangan seperti itu. 1:13:42 Kemudian akses kepada keuangan terutama 1:13:45 untuk ee kelas menengah ya. Sebab kalau 1:13:48 kelas menengah pelaku ekonomi menengah 1:13:50 itu tidak tumbuh ya jangan harap ekonomi 1:13:53 akan tumbuh. Iya. I. Jadi akses 1:13:55 keuangannya harus di ee buka. Kemudian, 1:14:00 nah ini yang paling penting itu adalah 1:14:03 corruption ya. Ya. Karena 1:14:06 ee biaya melakukan bisnis masih tinggi. 1:14:10 Ee korupsi juga terjadi di mana-mana ya. 1:14:15 kita enggak usah enggak usah ee ee malu 1:14:19 gitu ee 1:14:21 tanpa ee upaya untuk mengurangi biaya 1:14:26 ekonomi tinggi yang bersumber dari 1:14:28 pungutan-pungutan dari birokrasi, maka 1:14:32 investasi juga enggak akan tumbuh, 1:14:33 ekonomi juga enggak akan tumbuh. Saya 1:14:35 kira itu anunya apa ee ee closing dari 1:14:39 saya. Terima kasih, Mas Madani. Semoga 1:14:42 sukses terus. ini channel juga terus ya. 1:14:46 Heeh. Terima kasih Mbak dan semuanya. 1:14:49 Asalamualaikum warahmatullahi 1:14:51 wabarakatuhikumsalam. Matur nuhun Masno. 1:14:53 Nuhun. Terima kasih Pak 1:14:55 Sutrisno. Silakan Pak. Baik. Baik. Eh 1:15:01 Pak Sno mungkin nanti apa izin pamit 1:15:03 duluan. Terima kasih sudah closing 1:15:04 statement. Dan sekarang kita ke Pak 1:15:06 Mardani. Silakan Pak Mardani ee 1:15:09 paparannya terkait tema kita ee keluar 1:15:12 dari jebakan eh Middle Income Country. 1:15:16 Eh matur nuwun Mbak Estter, Bro, dan 1:15:20 leader calon leaders. Tema ini harus 1:15:24 terus kita kupas 1:15:26 karena ada banyak sekali gravitasi gaya 1:15:30 yang menahan biar kita bisa melaju 1:15:34 dengan kecepatan yang tinggi pertumbuhan 1:15:37 ekonomi kita ya Mbak Ester ya. Karena 1:15:40 itu pandangan dari 1:15:43 ee researchers, pandangan dari pelaku 1:15:47 usaha, kami mewakili komunitas politik 1:15:52 dan filosuf serta pengamat tajam Bung 1:15:56 Roh Grung. Mudah-mudahan membuat kita 1:15:59 bisa menempatkan e masalah pada 1:16:02 tempatnya. Eh, tadi yang 1:16:04 disampaikan Mas Iwantono tentang pasar 1:16:07 yang efisien. 1:16:10 tentang eh fair competition, tentang 1:16:14 inovasi, e konsistensi dalam peraturan 1:16:17 ini jadi masukan yang betul-betul sangat 1:16:22 diperlukan. Eh saya kebetulan lagi di 1:16:25 Singapura Ester tadi barusan selesai 1:16:27 acara itu selalu kagum ya di small 1:16:31 country running 1:16:33 efficiently, eh inovatif, kreatif. Tadi 1:16:37 saya ke Singapore City 1:16:40 Hall Singapore City Gallery gimana dari 1:16:44 tahun-an konsistensi sampai sekarang 1:16:48 sehingga pendapatan per kapitanya dan 1:16:50 kualitas universitasnya masuk top 10. 1:16:53 Jadi kesimpulannya Bang 1:16:55 Haldi harus ada sikap negarawan dari 1:16:59 para 1:17:00 pemimpin dan berani mengambil keputusan 1:17:03 pahit untuk betul-betul menjaga pasar. 1:17:07 dan menjaga iklim serta menjaga 1:17:10 integritas. Termasuk yang ketiga, 1:17:12 betul-betul mampu memetakkan di mana 1:17:15 kekuatan kita dan get things done. 1:17:19 Jangan terlalu banyak diskusi, jangan 1:17:22 terlalu banyak kita timbang dengan ee 1:17:26 tidak seksama, tetap harus seksama. Eh 1:17:29 tadi hilirisasi dan segala macamnya hulu 1:17:32 ke hilirnya yang dengan itu 1:17:34 mudah-mudahan ee perlahan tapi pasti di 1:17:39 2025 sampai 1:17:41 2030 kita mulai naik ke upper middle 1:17:45 income dan mudah-mudahan 1:17:48 2030-nya sudah masuk ke ke lewat dari eh 1:17:53 middle income trip country masuk higher 1:17:55 income country dan itu adalah pekerjaan 1:17:59 besar jihad bersama kita membangun 1:18:02 keseluruhan ee stakeholders dan 1:18:04 keseluruhan elemen yang tidak mudah tapi 1:18:07 ini jalan yang sangat mulia untuk kita 1:18:10 tempuh. Begitu Bang Haldi? 1:18:15 Baik ee terima kasih e sahabat-sahabat 1:18:18 sekalian 1:18:19 ee sudah tiba juga di akhir acara kita. 1:18:22 Seperti biasa narasumber juga diminta 1:18:25 untuk memberikan closing statement atau 1:18:27 closing ideas. Closing statement pertama 1:18:30 ke Mbak Estar dipersilakan, Pak. 1:18:33 Iya. Terima kasih, Mas Haldi. Kalau saya 1:18:35 singkat saja sih ee intinya adalah kalau 1:18:39 ekonomi ingin tumbuh itu harus 1:18:42 patokannya pada pertama adalah penguatan 1:18:46 kapital ya, modal. Yang kedua adalah 1:18:48 penguatan ee kualitas sumber daya 1:18:51 manusia. 1:18:52 Yang ketiga adalah teknologi. Nah, dan 1:18:55 inovasi. Untuk bisa melakukan teknologi 1:18:57 dan inovasi, maka harus ee dibutuhkan 1:19:01 kualitas sumber daya manusia yang ee 1:19:04 tinggi dan modal yang ee tinggi ya. 1:19:07 Paling tidak kalau tidak punya modal 1:19:09 kualitas dulu. ini terjadi pada 1:19:11 Singapura juga, Pak Ali ya, Pak Mardani. 1:19:14 Ee iya betul WJU itu ee awalnya diminta 1:19:20 memimpin Singapura, beliau menangis. 1:19:23 Tetapi kita lihat dari eh Diamond Potter 1:19:27 ya yang membantu Pak Likan Wanju gitu 1:19:31 sehingga mereka ee bisa e tumbuh menjadi 1:19:34 pesat. Artinya semua kebijakan yang 1:19:38 dikeluarkan oleh pemerintah harus 1:19:40 didrive based on riset dan eh riset ini 1:19:45 ya memang harus eh based on iya ee yang 1:19:49 jujur gitu ya bukan ABS asal Bapak 1:19:51 senang gitu. Itu sih kalau dari saya. 1:19:57 Baik, makasih. Terima kasih dan bagus 1:20:00 bagus. Silakan closing statement, 1:20:02 closing 1:20:07 ideas. 1:20:10 Halo. Halo, Pak Marani silakan closing 1:20:14 statement. Kasih Bang eh leaders dan 1:20:17 calon leaders ya. Ee kedengaran 1:20:21 di kedengaran ya? Kedengaran. Oke. Ee 1:20:28 yang pertama 1:20:30 ee buat leaders dan calon leaders Islam 1:20:34 amat sangat 1:20:37 mementingkan kasbul maisyah ya. 1:20:39 Pendapatan yang 1:20:41 halal. Benar-benar memberikan perhatian 1:20:44 kata baginda Nabi Muhammad sallallahu 1:20:48 alaihi wasallam. 1:20:50 Alkasibu 1:20:51 Habiballah. Pencari nafkah itu kekasih 1:20:55 Allah. Karena itu 1:20:57 negara ee ee ee apa institusi 1:21:03 pendidikan ee research betul-betul punya 1:21:07 kewajiban besar menyediakan ekosistem 1:21:10 yang mampu membuat warga negara bisa 1:21:14 bekerja ee dengan keterampilan yang 1:21:17 dimiliki, tapi juga dengan ketajaman 1:21:20 pikiran dan keluasan hati. Insyaallah ee 1:21:23 kalau seluruhnya bekerja sama kita bisa 1:21:27 membawa masyarakat ini menjadi 1:21:30 masyarakat yang adil, makmur, dan keluar 1:21:33 dari middle income trap countries. Eh, 1:21:36 ini tidak mudah. Pak Prabowo punya 1:21:38 target 8% pertumbuhan ekonomi. It look 1:21:42 like almost impossible ya, Mbak eh Esa. 1:21:46 Tetapi 1:21:48 eh impossible itu kalau belum kita 1:21:51 lakukan. when we can do it, it can be 1:21:54 possible gitu loh. Tinggal tadi ya 1:21:56 betul-betul there is no rocket science 1:21:59 in break the traps. tinggal terapkan 1:22:05 keseluruhan ee ee prinsip-prinsip 1:22:08 pertumbuhan ekonomi yang adil, 1:22:10 prinsip-prinsip inovasi, prinsip-prinsip 1:22:13 bagaimana ee betul-betul pasar itu tidak 1:22:20 didisirsi, tetap harus ada afirmasi, 1:22:23 tetap harus ada bansos, tetapi biarkan 1:22:26 ee kelompok kreatif, kelompok kapital 1:22:29 tumbuh berkembang yang dengannya menjadi 1:22:31 lokomotif dan dan dan lokomotif itu 1:22:34 pastinya dari kelompok-kelompok ee 1:22:38 kreatif negara punya kewajiban menjamin 1:22:41 agar persaingan yang sehat ee pasar yang 1:22:45 sehat dan institusi pendidikan yang 1:22:48 menyediakan ee manusia-manusia terbaik 1:22:52 untuk memikul beban keluar dari middle 1:22:55 income trap countries ini. Begitu Bang 1:22:57 Ali. 1:23:00 Baik, terima kasih Pak Madani dan Mbak 1:23:03 Estar. Dengan demikian, sahabat-sahabat 1:23:04 sekalian, berakhir kita e berakhirlah 1:23:06 Industrial Lad Stok kita pada malam ini 1:23:08 dengan ee tema bagaimana kita agar 1:23:10 negara Indonesia bisa keluar dari 1:23:12 jebakan middle income country eh jebakan 1:23:15 negara berpendapatan menengah dan semoga 1:23:19 ee pemimpin kita yang baru dan juga 1:23:21 generasi muda di masa mendatang memiliki 1:23:25 cita-cita dan juga sekaligus 1:23:28 ee belajar untuk meningkatkan kapasitas, 1:23:31 kemampuan, kapabilitas 1:23:33 agar negara kita ini bisa keluar dari 1:23:36 jebakan ee negara berpendebatan menengah 1:23:39 menjadi negara maju secara ekonomi dan 1:23:41 ujungnya terwujudnya Indonesia yang 1:23:44 adil, sejahtera, dan bermartabat dan 1:23:46 terhormat di mata dunia. Terima kasih. 1:23:48 Sampai ketemu pada acara inisial stok 1:23:50 pekan depan pada waktu dan channel ee 1:23:53 yang sama. Asalamualaikum warahmatullahi 1:23:55 wabarakatuh.