Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Radio Silaturahim dan Rasil Visual untuk
- Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat,
- masih bersama kami dalam acara Sirah
- Sahabat bersama Ustaz Komuruddin Basuni.
- Dan kini kita sudah masuki sesi kedua
- yaitu sesi tanya jawab. Ustaz, ini
- langsung aja ada pesan WhatsApp dari
- Bunda Liza Emilda. Ustaz. Iya.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Kamruddin Basuni.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Buiza. Ee Ustaz,
- subhanallah sungguh kesadaran yang luar
- biasa dari sahabat Abu Mihzan. Mohon
- maaf Ustaz tadi ketinggalan
- menyimak. Tadi di dalam perang apa, ya,
- Ustaz? Dan siapa pemimpin perangnya dan
- dari suku mana Abu Mihzan? Jazakallah
- khair, Ustaz. Ya. Baik.
- Abu Mihjanin itu adalah salah seorang
- sahabat Assaqopi dari suku Sakibopi.
- Sakib itu biasanya daerah yang identik
- dengan sebuah daerah yang dulu Nabi
- pernah datang ke tempat itu, yaitu
- Thaif. Ya. Heeh.
- Kemudian pemimpin peperangan waktu itu
- adalah Saad bin Abi
- Waqqas ya. Dan peperangannya adalah
- peperangan Qodisiah. Kodisiah. Kodisiah
- itu dari nama tempat nama tempat yang
- ada di daerah kerajaan Parsi. Dalam
- peperangan itu kebetulan umat Islam
- mendapat kemenangan, Ustaz. Ya. Iya
- betul. Yang salah satunya tadi dari
- kisah Abu Mijan tadi. Kisah Abu Mijan
- yang bisa memporak perandakan musuh.
- yang secara zir tidak bisa dihadapi.
- Tapi dengan takdir Allah, dengan
- keberadaan Abu Mijan kok suasana bisa
- berubah menjadi 180 derajat. Demikian
- ya. Baik, terima kasih Ustaz atas
- jawabannya. Semoga Bu Liza tadi ikut
- menyimak jawaban dari Ustaz Kamaruddin
- ini dan kita sudah mendapat telepon dari
- pemirsa. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam. Ya, baik. Dengan siapa?
- Di mana, Pak?
- Saya Tahir lagi di perjalanan. Iya, Pak
- Tahir. Silakan, Pak Tahir.
- Asalamualaikum, Ustaz Komarudin.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Tohir Khaluk. Kir?
- Alhamdulillahir
- pangestu sae nya sae. Heeh. Mangga
- teraskeun ya, Pak Komarudin. Iya. ee di
- zaman
- Rasulullah ya umat Islam
- begitu hebatnya
- menerima dan Islam. Bagaimana
- kalau sekarang ini kita
- bisa ee
- mendapatkan menerima ajaran Islam dari
- ulama-ulama kita bisa kembali seperti
- zaman Rasulullah? Ya, mohon
- pencerahannya.
- Iya. Baik ya. Terima kasih.
- Asalamualaikum. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz
- alhamdulillah pertanyaannya bagus sekali
- ya. Artinya bagaimana kalau umat Islam
- hari ini menerima syariat Islam itu
- seperti umat Islam di zaman Nabi. Nah,
- sementara umat Islam hari ini
- mendapatkan wejangan nasihat dari para
- ulama seolah-olah jauh daripada sejarah
- tersebut. Ya, baik saudaraku. Ya,
- memang proses perkembangan zaman itu
- punya pengaruh
- ya. Kalau di zaman Rasul itu yang
- namanya umat Islam itu satu. Jadi enggak
- ada pemahaman umpamanya kelompok A,
- kelompok B. Umpamanya nih di Indonesia
- ini ada orang NU, ini orang Persis,
- orang Muhammadiyah. dulu tuh enggak ada
- si enggak ada itu di pokoknya Islam
- Islam sama semua. Nah, makanya mereka
- begitu diarahkan satu itu satu
- semua. Nah, itu satu ya. Karena waktu
- itu pimpinannya langsung Rasulullah dan
- begitu Rasulullah
- wafat maka kepemimpinan tetap berjalan
- tapi komando tetap dipegang oleh satu
- orang. Ya, seperti di zaman Umar itu
- enggak ada lagi yang memberikan komando
- kecuali Umar sendiri. Kecuali Umar. Jadi
- ketaatan para sahabat kepada pimpinannya
- itu betul-betul dirasakan ya. Dan Allah
- memberikan kelebihan kepada Umar bin
- Khattab. Dia bisa memantau umatnya di
- belahan bumi sekalipun dia bersembunyi.
- Itu Umar bisa tahu.
- Padahal HP belum ada. He apalagi yang
- disebut namanya internet. Internet jauh
- belum ada. Tapi Allah berikan pandangan
- yang begitu hebat yang Allah sindir
- dalam ayat inna fialika la ayatin lil
- mutawassimin. Sesungguhnya
- kejadian-kejadian itu adalah merupakan
- tanda-tanda kebesaran Allah bagi
- orang-orang yang diberikan firasat. Nah,
- jadi Umar itu firasatnya tinggi. Jadi
- kalau ada orang yang macam-macam itu
- Umar diberitahu tuh tuh tuh langsung
- tarik aja. Padahal umarnya enggak ada.
- Tapi orang, "Hah, kok gak ada Umar di
- sini?" Ah, itu
- kehebatannya. Nah, itulah artinya
- kenapa? Keyakinannya kepada Allah
- tinggi. Nah, adapun sekarang kenapa umat
- Islam hari ini dengar nasihat dari
- ulamanya ya mungkin pengaruhnya banyak.
- Pertama dari sisi pergaulan.
- Karena pergaulan yang dihadapi oleh umat
- Hen ini, apalagi anak-anak muda itu
- mereka cocok dengan masa anak muda.
- Kalaupun ada yang dekat dengan ulama
- sedikit
- sekali. Maka seorang penyair mengatakan,
- "Kalau Anda melihat seseorang, tanya aja
- siapa
- temannya. Kalau temannya orang baik,
- pasti baik. Tapi kalau temannya orang
- yang enggak baik, ya pasti dia terbawa."
- Nah, itulah ya sebagaimana hadis Nabi,
- seseorang itu digambarkan seperti
- bersentuhan dengan penjual minyak wangi.
- Iya. Kalau dekat, kalau dekat dia kena
- wangi atau dia berdekatan bersentuhan
- dengan tukang pandai besi, maka dia akan
- kena. Maka siapa temannya itu? Qarinnya
- siapa? Maka oleh karena itu kalau kita
- ingin membangun generasi yang punya
- karakter seperti sahabat Nabi, maka
- generasi itu dekatkan dengan Quran,
- dekatkan dengan sirah nabawiyah,
- dekatkan dengan perjalanan orang-orang
- saleh. Tidak hanya di zaman Nabi, orang
- saleh, tapi di zaman sesudahnya sampai
- hari ini. Insyaallah mereka akan punya.
- Saya teringat waktu saya di Yaman dulu
- ya
- itu anak-anak
- muda khususnya dari Palestina yang
- mereka belajar di Yaman tahun 2009 saya
- di
- sana itu ruhi jahatnya tinggi.
- Masyaallah. Jadi kalau saya dikumandang
- Allahu Akbar ya Allah kalau orang Sunda
- bilangnya orang Sunda dia sunah eta
- panon cing
- kar ya Allah kenapa?
- mendengar suara azan itu mereka
- tertarik dan setiap hari Jumat itu
- mereka belajar apa? Belajar bela diri.
- Ada yang naik itu pohon ada yang
- beratihan tinju ada yang latihan nembak
- memanah memanah. Sehingga dalam satu
- saat saya pernah datang ke satu tempat
- lahir tahan mereka. Di situ mereka saing
- serang.
- Masyaallah. Itu dibina dari anak-anak
- kelas SD. Bayangkan kelas mulai kelas 3,
- kelas 4, kelas 5 apalagi sanawiyahnya.
- Nah, di situ dibimbing oleh
- senior-senior. Jadi kecintannya kepada
- Islam tinggi.
- Masyaallah. Jadi kalau sudah mendengar
- jihad fisabilillah, wah mereka
- bersukacita. Ya, kalau kita layan
- dengan jihad, ya udah dah kamu aja dah.
- Saya nanti dulu. Belum siap. Nanti dulu.
- Ah, itu bedanya. Kenapa? karena ruhul
- jihadnya enggak dibangun. Ya, demikian
- ya. Baik, terima kasih Ustaz atas
- jawabannya dari semoga tadi yang
- menelepon di perjalanan ikut menyimak
- dan selamat sampai tujuan. Amin. Baik,
- ini Ustaz ada SMS selanjutnya dari hamba
- Allah di Jakarta. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz
- Komaruddin Basuni. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Kisah TBAT
- Abu Mizan yang luar biasa. Apakah hikmah
- yang bisa diambil dari cerita tersebut
- dalam menghadapi kenakalan dari
- anak-anak? Ustaz, mohon pencerahan.
- Jazakumullah khair.
- Seorang yang punya giriroh ya
- sebagai penyambung
- dakwah apabila dia menghadapi satu
- permasalahan terutama permasalahan anak
- muda itu enggak boleh putus
- asa. Yang namanya orang kan bergerak
- terus. Mungkin sekarang diingatkan belum
- sadar terus saja. Nah, Abu
- Mijan. Jadi tadi disebutkan dalam
- mukadimah, dia juga beramal baik, dia
- juga beramal buruk, tapi diingatkan,
- diingatkan, oke. Tapi berbuat lagi.
- Diingatkan lagi. Diingat
- terus. Maka Allah mengatakan dalam
- ayatnya, fainnadzikro tanfaul mukminin.
- Itu peringatan itu sangat berguna bagi
- orang beriman. Artinya mungkin sekarang
- belum 100%, 1 saat 100% dia kembali
- total. Itu yang disebutkan taubatan
- nasuha. Maka kita oleh Allah dipesan
- laasu mirrahmatillah. Jangan putus asa
- dari rahmat
- Allah. Jadi kalau sekarang belum terus
- berjalan karena Allah mengatakan wama
- alaika illal balagul mubin. Tidak ada
- kewajiban engkau wahai Muhammad dan juga
- umatnya kecuali hanya menyampaikan. Jadi
- urusan dia taat, urusan dia tidak itu
- bukan urusan kita. Itu Allah yang punya
- urusan. kewajiban kita hanya
- menyampaikan. Makanya bagaimana
- mengatasi gelora semangat ya itu tetap
- aja diingatkan, diingatkan,
- diingatkan. Nah, justru lama-kelamaan
- saya ingat itu kisah Ibnu Hajar.
- Ibnu Hajar Aswalan.
- Iya. Itu bagaimana beliau dalam
- perjalanannya mencari
- ilmu. Jangankan hafal, baca pun ya
- enggak bisa. Artinya baca secara ilmu
- ya.
- Mungkin kalau hanya baca, tapi baca itu
- kan ada aturannya, ada tata tertibnya.
- Kalau dalam ilmu istilah itu ada
- nahwunya, ada
- sarfnya. Baca kitab kalau enggak tahu
- ilmu nahunya belak-belak
- dia. Kenapa?
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Tidak
- dibaca alhamda lillahu. Itu ada
- aturannya. Alhamdu karena kemasukan alif
- lam maka kedudukannya kedudukannya jadi
- mubtada dan dia ya isim tuh. Sedangkan
- isim harus dibaca rafa. Alhamdu lillahi
- itu dia jadi idofah karena dia menjadi
- li majrur e lillahi majrurun bili. Nah,
- rabbi dan selanjutnya rabbi isim itu ada
- pengaturannya enggak sembarangan.
- Alhamdulillahu enggak ada lillahi rabbil
- alamin. Jadi ini aturan ini yang mesti
- dilakukan oleh seorang apalagi yang dia
- punya
- keilmuan. Nah dalam hal
- ini maka seseorang kalau ingin
- mendapatkan ilmu yang sesungguhnya itu
- belajar harus
- fokus. Jangan kadang ke sini kadang oh
- ya enggak tuntaslah. Jadi kalau seorang
- dikatakan ahli betul-betul ahli orang
- belum ngomongnya udah dia sudah tahu tuh
- kalau sudah ahli gitu. Kalau istilah
- orang geus kacium
- belum apa-apa lihat roman mukanya sudah
- tahu dia enggak perlu dia ngomong sudah
- tahu tuh itu kalau ahli begitu ya
- demikian ya.
- Oke. Ayo Ustaz kita dapat telepon lagi
- ya. Halo. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam. Dengan siapa? Di mana,
- Pak? dan Sri Raharjo di Pak. Iya,
- silakan, Pak. I Asalamualaikum, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Tafadol ya. Kalau mendengar
- kisah-kisah dari sahabat-sahabat Nabi
- itu keberaniannya, kejujurannya,
- kecintaannya kepada negara dan agama
- Islam itu kan tinggi ya, Ustaz? Ya,
- betul. Nah, kalau bagaimana kenapa itu
- tidak dijadikan kurikulum untuk
- pelajaran sekolah, Ustaz? Seandainya itu
- dijadikan kurikulum itu kan merupakan
- suatu pembelajaran bagi anak-anak untuk
- mencintai apa agama dan pimpinan yang
- apa mengajak kepada kebenaran itu. Itu
- bagaimana, Ustaz? Menurut Ustaz gitu.
- Saya kira itu aja, Ustaz. Pertanyaan
- saya. Iya. Namanya siapa nih? Namanya
- Bapak siapa? Sri Raharjo. Dari mana?
- Saya di jalan. Di jalan. Di jalan. Iya.
- Saya ini nyopir. Nyopir. Oh iya.
- Hati-hati Pak di jalan. Iya. Makasih,
- Ustaz. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam. Ya. Baiklah, Pak. Ya,
- memang bagaimana membangun generasi ya.
- Nah, sekarang jangankan sampai ke
- tingkat itu, justru pelajaran agamanya
- aja sekarang hanya sekian persen. Nah,
- saya ini termasuk salah satu guru agama
- ya di sebuah sekolah itu kalau saya
- menyampaikan pelajaran agama itu 1
- minggu itu cuma berapa jam? Satu kali.
- Satu kali itu dibagi 2 jam pelajaran.
- Cuma itu doang.
- akidah akhlak sudah satu kali
- pertemuan itu baik kelas 1, kelas 2,
- kelas 3 sama itu semua. Makanya di luar
- itu saya adakan yang disebut namanya
- yaitu sistem pesantren. Nah, jadi di
- waktu habis salat apakah itu habis salat
- zuhur, apakah itu habis salat asar,
- magrib, bisa dari situ saya. Jadi mereka
- saya tambah ilmunya, saya berikan
- semangat. Bagaimana sahabat Ali waktu
- Nabi masih di Makkah, dia masih muda,
- dia masuk Islam umur 10 tahun. Bayangkan
- umur 10 tahun itu sama dengan orang yang
- bersekolah sekarang
- usianya SD kelas 4 atau kelas 5.
- Nah, gitu
- rata-rata. Dia masuk Islam. Waktu masuk
- Islam dia bilang, "Saya kalau masuk
- Islam harus izin dulu sama ayah." Heeh.
- Karena merasa ee
- ayahnya bukan disuruh Bapak
- saya langsung ketemu Nabi. Ah, langsung
- dia masuk Islam. Kemudian oleh Nabi
- digemleng akidahnya.
- itu Nabi memberikan gemblengan itu
- dengan cara apa? Memberikan kisah-kisah
- orang-orang dahulu. Maka turunlah surat
- Al-Kahfi. Diajelaskan siapa Alkahfi itu.
- Apakah mereka itu orang biasa? Ternyata
- Alkahfi itu anak bangsawan itu
- dan dia punya roh tinggi dia pada saat
- keislaman dia begitu hebat. Allah
- uji apa ujiannya?
- pejabat-pejabat yang ada di waktu itu
- justru memproses dia, akan mengancam
- dia, serta akan memasukkan dia ke dalam
- penjara. Kalau tidak akan dibunuh.
- Dibayangkan apakah mereka menyerah?
- Tidak. Ternyata tidak. itu masih anak
- muda.
- Bayangkan daripada saya menyerah apalagi
- saya murtad dikembalikan kepada agama
- musyrik lebih baik nanti dulu kata dia.
- Nah, keimanan yang begitu membara di
- anak
- muda Allah
- lindungi pada saat mereka mau tidur
- malam karena mereka berpikir besok saya
- harus menghadap
- lagi para pemimpin negeri itu dan saya
- harus
- mempertanggungjawabkan. Karena mereka
- kan dikasih waktu ditanya, "Apakah kamu
- agamanya tidak sama dengan saya? Apa
- yang kamu sembah?" Allah kata dia,
- "Kenapa tidak menyembah tuhan-tuhan yang
- kami lakukan?" Oh, itu kan musyrik
- buatan
- manusia. Oh, bagaimana kalau
- saya lakukan sesuatu kepada engkau
- gara-gara engkau tidak sama dengan saya?
- Ya, monggo kata
- dia, kata pejabat. Tapi karena saya
- masih melihat bahwa kamu itu orang
- tuanya adalah teman-teman saya, satu
- leting, satu profesilah masih di
- kalangan para menteri. Saya kasih
- kesempatanlah biar kamu berpikir besok
- saya akan tanya
- lagi. Tahu-tahu begitu malam itu mau
- tidur, ingat ya kata dia, "Besok saya
- akan berhadapan lagi. Kalau saya
- berhadapan lagi, dua. Kalau tidak murtad
- dibunuh atau dipenjara. Akhirnya apa?
- Bangun dia keluar
- rumah
- jalan. Begitu jalan jalan jalan di ujung
- jalan ketemu lagi dengan temannya sama
- akidahnya. Kumpullah mereka tujuh
- orang. Kemudian begitu mereka jalan,
- seekor anjing ngikutin
- dia. Jalan jauh udah capek. Ternyata ada
- gua. Dia masuk.
- Dia masuk gua tidur sementara anjingnya
- jaga. Tidur enggak tanggung-tanggung.
- Bukan sehari dua semalam 2 malam. Satu
- hari berapa? 309. 309 tahun
- tidur. Coba
- bayangkan begitu bangun lapar kata
- amirnya. Sudah kamu keluar ya. Tapi
- walyatalf.
- Harus hati-hati, harus lembut, jangan
- gerasak-gerusuk. Nah, w yusir bikum
- ahada. Jangan sampai seorang pun
- tahu. Kalau bahasa kita begitu keluar
- dari gua tulang cileung. Oh, takut ada
- yang melihat. Keluar keluar dia. Begitu
- sampai di pasar, pas dia beli, pas mau
- dibayar, penjualnya kaget. Uang apaan
- ini? Uangnya udah enggak lat. Kata dia,
- "Kenapa ya sekarang bukan uangnya, bukan
- uang itu. Mungkin kalau saya terjemahkan
- gampangnya. Dulu tahun 60 saya masih
- mengalami tahun 60 itu masih ada uang
- namanya uang bolong. Koin. Koin yang
- tengahnya bolong. Heeh. Tengah bolong.
- Terus lagi ada yang namanya sen. H. Ada
- lagi picis. Picis. Ini namanya. Terus
- ada lagi uang bisa punya uang
- galabag. Saya masih ingat. Ya Allah,
- kata saya. Dan orang uang itu sekarang
- sudah enggak ada a hanya jadi museum
- aja.
- Nah, begitu dia nyerahin uang, kata yang
- jualan ini mah 3 abad yang lalu ini mah.
- Loh, memang beda ya? Beda,
- Pak. Bingung dia kan. Nah, sedang
- diskusi-diskusi tu-tua temannya dekat.
- Dia nanya, "Ada apa?" "Ada apa?" Padahal
- tadinya dia berusaha supaya tidak
- diketahui. Akhirnya apa? Wah, nih
- jangan-jangan
- nih pemilik harta karun. Enggak, enggak.
- Kata dia. Akhirnya berita ini sampai ke
- raja. Kata dia,
- "Janganlah. Justru saya ini kan berbuat
- ini karena ada raja yang Oh, kan
- sekarang mah beda,
- Pak. Sekarang itu rajanya saleh." Nah,
- dan Anda tidak akan diapa-apain apalagi
- Anda muslim. Benar. Iya. Akhirnya datang
- rajanya. Rajanya salaman sama dia. Terus
- ditanya, "Mana kawannya?" Akhirnya
- kawannya dibangunkan keluar tuh
- semua. Begitu keluar dialoh ya. Ditanya
- setelah dialog akhirnya begitu dia
- jelaskan bahwa kami ini berbuat ini
- karena kami diancam oleh seorang raja
- yang durhaka kepada Allah. Nah, kemudian
- kami masuk di gua kami tidur. Kami kira
- ya sehari dua hari. He. Karena apa? Dia
- bilang, "Berapa lama itu matahari?"
- Cuman begitu matahari dari barat kan
- nyorot tuh. Hm. Karena posisi guanya itu
- menghadap ke barat. Jadi begitu matahari
- dari barat kena sinar. Itu kan kalau
- bahasa kita mahedang.
- Haredang panas gerah ke uh. Begitu
- bangun matahari itu padahal itu sudah
- 309 tahun.
- Nah, bagaimana Allah memuliakan kepada
- orang yang punya ruhul jihad yang ting
- tinggi. Demikian ya. Baik, Ustaz. Terima
- kasih atas jawaban juga nasihatnya.
- Mungkin Ustaz pertanyaan terakhir
- sekaligus mungkin penutup Ustaz ya. Ini
- dari pendengar kita Bu Vina di Kudus
- Ustaz. Ya Allah Kudus ya. Iya.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Bu Pina,
- monggo. Ee kenapa banyak dari beberapa
- sahabat Rasul yang punya masa lalu kelam
- mudah diberi hidayah? Sedangkan orang
- yang sudah mengikuti perintah Allah
- tetapi imannya biasa saja, malah semakin
- sering turun seperti yang dialami oleh
- banyak orang termasuk saya. Sun.
- Barakallahu fikum, Ustaz. Ya,
- alhamdulillah Bu Pina ya. Itu kan
- urusannya hidayah ya. Jadi hidayah itu
- akan datang kalau orang itu ada
- keinginan.
- Ya, orang bagaimana Allah mau ngasih
- orang enggak punya
- keinginan. Enggak ada. Kalau istilah
- bahasa agamanya rasa gereget pun enggak
- ada. Nah, jadi di zaman Nabi itu karena
- ada orang punya keinginan kemudian Allah
- berikan
- hidayah. Nah, dengan hidayah itu
- kemudian mereka digemleng akidahnya
- terus kajiannya maka tumbuh terus.
- Dan sekalipun mereka punya sejarah
- kelam, seperti siapa yang punya sejarah
- kelam? Seorang yang
- namanya Umair bin Wahab.
- Umair bin Wahab itu kan jagoan Quraisy
- yang kerjanya kalau bahasa Sunda main
- bobok, main
- tarok. Jadi kalau dia marah kepada orang
- itu bukan hanya sekedar ditempeleng.
- Pokoknya orang itu digenjut sampai dia
- enggak bisa
- berdaya. Itulah Mus'ab bin Umair. Tapi
- begitu dia ada niat mau membunuh Nabi,
- itu berangkatnya dari Makkah itu mau
- membunuh
- Nabi. Cuma begitu dia datang ke Makkah
- ketemu Umar. Kata Umar, "Hubullah, ini
- musuh Allah." WH kagetnya. Kata
- Umar, kalau dia datang tidak mungkin dia
- akan punya niat baik. Pasti niatnya
- jahat. Nah, dia akhirnya dikawal oleh
- Umar mau ketemu Nabi. Begitu sampai di
- hadapan
- Nabi,
- ditanya, kata Nabi,
- "Umer, kamu mau
- ngapain?" "Enggak, karena anak saya
- ditawan di sini. Saya ingin ketemu anak
- saya sudah lama
- kasihan
- Umir.
- Bukankah kedatangan kamu ke sini itu
- gara-gara kamu berbicara dengan tokoh
- Makkah yang namanya SOP one
- miliarder? Kamu kan di situ ngomong
- berdua. Kata kamu kalau ada orang yang
- membiayai saya pergi ke Madinah saya
- akan lakukan. Kata sopan, "Saya siap
- membiaya kamu berap pun harganya.
- Bukankah itu yang menyebabkan kamu
- datang ke
- sini?" "Kok tahu?" kata dia. Nah, ya
- saya kan
- diberitahu. Kata Mus'ab bin
- Umir bin Wahab, "Ya
- Rasulullah, kalau gitu anda beneran
- absitadak ulurkan tanganmu sekarang."
- Langsung dia biat masuk Islam.
- Kenapa dia bicara empat mata waktu di
- kota Makkah di sebuah batu karena dia
- sedang melamun memikirkan anaknya. Kata
- dia, "Saya ingin ketemu dengan anak
- saya. Bahkan kalau saya datang ke sana
- saya enggak tanggung-tanggung. Saya akan
- bunuh itu yang nama
- Muhammad." Kedengaran sama sopan. Oh,
- kalau gitu
- oke. Cuma kan saya punya masalah.
- Masalah apa? Hutang. Hutang kepada kamu.
- Ya. Iya. urusan itu beres. Kata dia,
- "Seluruh hutangku kepada kamu, kepadaku
- lunas, saya lunas. Bahkan saya kasih
- biaya perjalananmu dan anak istrimu di
- rumah saya jamin." Oke, kata dia.
- Bukankah itu yang menyebabkan kamu
- datang ke sini? Kok tahu? K. Wah, saya
- diberitahu kata Nabi. Nah, itulah
- bagaimana
- ya orang-orang dahulu di zaman Nabi masa
- kelamnya, masa lamanya begitu berat tapi
- kemuda. Itulah hidayah. Ya, artinya
- Allah kalau sudah memberikan hidayah
- kepada hamb-Nya insyaallah. Nah, terus
- bagaimana keadaan muslimin hari ini?
- Pertamanya baik, koknya menurun-menurun.
- Eh, ya karena itu kurang siraman. H
- kurang apa? kurang
- pupuk dia ibadah sudah culang-caling ya
- kajian ogah banyak malas salat berjamaah
- enggak pernah tapi tetap ngakunya Islam
- salatnya masih sendiri aja ya bagaimana
- mau
- tumbuh lihat tanaman tanaman itu bisa
- tumbuh segar kalau tanaman itu diurus
- dirawat dijaga, dipupuk kemudian mereka
- di awasi demikian.
- Ya, baik, terima kasih Ustaz Jazakallah
- khair atas jawaban dan juga
- pencerahannya kita di pagi hari ini.
- Semoga menjadi manfaat buat kita semua.
- Ustaz, karena keterbatasan waktu kita
- tidak semua juga SMS bisa dibacakan. Eh,
- saya Khalid Mustofa pamit undur diri
- ditemani Fahri, Ondi juga Robi dari Rasi
- Visual. Subhanakallahumma wabihamdika
- ashadu alla ilahailla anta astagfiruka
- wa atubu ilaik. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- [Musik]
- Oh.
- [Musik]