Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:13 [musik] Brail TV 0:21 negara kita 0:23 dan sudah terbukti ee 0:26 tahun 2019 kalau tidak salah Mas Satria 0:29 Lewan Salim ee Nobel Ekonomi itu 0:32 diberikan kepada satu tim ee peneliti 0:38 yang luar biasa menjadikan SD Inpres 0:45 ee ee 0:48 prototipe penelitiannya ya. betapa 0:51 dengan pendekatan yang ee jelas 0:55 political will-nya, teknokrasi 0:58 dijalankan dengan baik, orkestrasinya 1:01 jalan, anggarannya jalan, ee dan 1:05 kolaborasinya jalan. 1:07 eh SD Infres ya bareng dengan Puskesmas 1:11 dari zaman Pak Harto ketika itu 1:14 menjadi salah satu blessing in disguise 1:17 ketika kita eh dapat eh dalam tanda 1:21 kutip winfall ya rezeki nomplok karena 1:25 minyak ya dan itu luar biasa dan 1:28 sekarang ketika 1:30 artificial intelligence tengah membuat 1:34 dunia tidak memiliki stabilitas 1:37 yang kokoh ee krisis lingkungan 1:42 ee ee 1:44 internet yang membanjiri kita. 1:49 ee keberadaan pendidikan berkualitas 1:53 sudah tidak lagi menjadi prasyarat, 1:56 tetapi menjadi satu 1:59 ee saya menilainya ingredien utama dari 2:04 satu bangsa kalau dia mau survive ya. Ee 2:09 ada bangsa yang sehat, dia akan tumbuh 2:12 berkembang. Ada bangsa yang sakit dia 2:15 akan tertinggal. Tetapi ada bangsa yang 2:18 mati. Apakah Indonesia sehat, sakit atau 2:22 mati sangat tergantung kepada bagaimana 2:25 kita memprioritaskan pendidikan. 2:29 Dan tentu ee Mas Satriyawan sangat 2:32 paham, Mas Anggun juga, Pak Dahlan juga 2:35 urusan pendidikan tidak melulu tentang 2:38 anggaran. ada ee arsitektur 2:41 kependidikan, 2:42 ada 2:44 ee pandangan saya ee anatomi dan 2:48 ekosistem pendidikan itu sendiri yang 2:51 itu perlu betul-betul dipetakan dengan 2:54 seksama. 2:55 Amerika sebagai quote and on katakan 2:58 salah satu tempat kita belajar selain 3:02 Finlandia, selain Jepang, belakangan 3:04 selain Singapura ya walaupun ee Pak 3:08 Presiden mengatakan Singapura tidak bisa 3:10 dijadikan contoh, tapi saya berbeda. 3:13 Singapura tetap bisa menjadi contoh ya. 3:16 Karena ketika kita bisa mengurus yang 3:19 kecil dengan baik tinggal scing up ya 3:21 kita perbesar dan Singapura dengan ee 3:25 dua universitas dalam top 10 gitu dan 3:30 visa skor yang sangat tinggi gitu loh. 3:33 Plus kemarin baru menaikkan gaji guru 3:35 padahal sudah tinggi gajinya ya masa ya 3:39 gitu loh. Itu ee sebagai bentuk 3:42 antisipasi. 3:44 kepada perlunya peningkatan kualitas 3:46 pendidikan, maka buat saya kita bisa 3:48 belajar dari siapa saja, bisa belajar di 3:51 mana saja dan kapan saja. Baik itu 3:54 kepada murid kita sekalipun ataupun 3:57 kepada orang tua, apalagi kepada orang 3:59 tua dan guru kita. Karena itu tiga hal. 4:02 Yang pertama ee politik anggaran mesti 4:05 jelas. Pendidikan kalau buat saya justru 4:09 di atas Kementerian Keuangan Masa 4:11 Triawan Salim. 4:13 Menteri Pendidikan mesti dipilih pertama 4:15 baru Menteri Keuangan karena structure 4:17 follow function, money follow program, 4:20 pendidikan yang harus diikuti oleh 4:22 Kementerian Keuangan. E kebijakan ini 4:24 mesti jelas ya. Dan kalau dikatakan ee 4:28 betul Singapura kecil ee cuma 56 juta, 4:32 kita total e murid kita saja kalau dari 4:36 PAUD sampai mahasiswa bisa R juta yang 4:39 mengalahkan. Tetapi numbers doesn't 4:41 matter. Enggak pernah eh jumlah itu 4:44 menentukan. Ya, kalau dalam Quran ada 4:46 dikatakan kaminatanah. 4:51 Berapa banyak kaum yang sedikit bisa 4:53 mengalahkan kaum yang banyak dengan izin 4:55 Allah? Tentu izin Allah itu ada 4:57 prasyarat-prasyaratnya. 4:59 Jadi eh pertama eh prioritas ee 5:05 Kementerian Pendidikan atau Pendidikan 5:07 menjadi political will yang jelas. yang 5:09 kalau perlu investasi utama justru di 5:12 pendidikan ya. Kalau sekarang kan ada 5:15 NET ya, not in employment education and 5:18 training gitu loh. Padahal kita punya eh 5:23 apa namanya? 5:25 Eh bonus demografi yang luar biasa. 5:28 Karena itu yang kedua sesudah 5:30 Kementerian Pendidikan menjadi utama. 5:32 Yang kedua orkestrasi Kementerian 5:34 Pendidikan dengan seluruh ekosistem. 5:37 Betul. ee pendidikan bukan cuma di 5:40 sekolah, justru yang utama di rumah dan 5:43 di lingkungan. bagaimana mengorkestrasi 5:45 tiga hal ini. Bahkan kalau menurut saya, 5:47 Kementerian Tenaga Kerja harus ikut 5:49 kepada Kementerian Pendidikan, 5:51 Kementerian Lingkungan juga harus masuk 5:53 di Kementerian Pendidikan, Kementerian 5:55 Perekonomian Muattin harus masuk di 5:57 Kenian Pendidikan karena kita sedang 5:59 menyiapkan masyarakat yang bukan untuk 6:02 2030 atau 2045 jadi 2070, 2100 dan itu 6:08 betul-betul menentukan eksis atau 6:10 tidaknya Indonesia dan karena itu 6:12 sesudah tadi politik dan prioritas maka 6:15 yang kedua Dua adalah bagaimana 6:18 melakukan 6:19 ee 6:21 anatomi arsitektur ekosistem pendidikan 6:24 kita secara menyeluruh dari hulu sampai 6:27 ke akhir. Ini sebetulnya nyambung Pak 6:30 Satriawan, dengan kita sedang ada dalam 6:33 momen luar biasa revisi Undang-Undang 6:35 Swis Diknas. Nih kita doa nih semoga di 6:39 DPR, pemerintah ee termasuk 6:42 masyarakatnya tiga ini dengan mengharap 6:45 rida Allah betul-betul dianugerahkan 6:48 hikmah gitu loh. Betul-betul 6:50 dianugerahkan kekuatan batin, ketajaman 6:53 pikiran, betul-betul bisa meletakkan 6:56 fondasi pendidikan yang kuat. proses 6:58 teknokrasinya, proses kajian 7:01 filosofisnya, 7:03 sosiologisnya, yuridisnya sampai kepada 7:07 ee pertimbangan peradabannya perlu 7:10 betul-betul kalau bisa ideologisnya ya. 7:12 Karena jelas ya, negara kita negara 7:15 berdasarkan Pancasila dan Pancasila itu 7:18 tegas. Yang pertama Ketuhanan Yang Maha 7:20 Esa. Artinya unsur tauhidnya ya. Unsur 7:24 bagaimana Undang-Undang Dasar kita eh 7:26 pasal 33 ayat 3 eh 31 ayat 3 gerakan 7:29 313. Kalau Pak Muzamil Yusuf selalu 7:32 mengingatkan bahwa tujuan pendidikan 7:35 iman dan takwa gitu loh itu betul-betul 7:38 dan akhlakul karimah sains dan teknologi 7:40 tentu itu menjadi yang kedua itu 7:43 ekosistem arsitektur pendidikan 7:45 betul-betul utuh dan ini betul-betul 7:48 harus bahasanya mas semuanya sudah ada 7:51 sih tinggal kerendah hatian di DPR sama 7:53 pemerintah pas duduk gitu loh 7:56 bareng-bareng memetakan jangan pernah 7:58 punya fasted interest yang ini ada 8:00 projeknya yang ini ada manfaat ekonomi. 8:02 Jangan jangan pokoknya mana yang 8:04 betul-betul bisa mengantarkan kita. 8:07 Enggak perlulah 2021 gitu 2045 dululah 8:11 gitu 2045. Karena bagaimanapun eh likuli 8:15 marhalah rijalu setiap tahapan ada 8:17 orangnya. Biarkan kita serahkan 2045 8:20 kepada penerus kita nanti. Terakhir yang 8:22 ketiga 8:24 tentu ee proses teknokrasinya harus 8:27 dijalankan. Ee bagaimana peran 8:30 pemerintah pusat, pemerintah provinsi, 8:32 pemerintah kabupaten kota, ee bagaimana 8:35 desain pendidikan pesantren, madrasah. 8:38 Sekarang kan formal, nonformal, 8:41 informal, betul-betul menjadi satu 8:43 kesatuan yang sebagian besar sudah ada. 8:45 Tetapi ee bagaimanapun tidak boleh ada 8:50 pikiran bahwa mereka yang guru agama, 8:54 pendidikan agama lebih rendah ketimbang 8:56 pendidikan umum. Semuanya punya peran 8:59 dan tupoksi yang sangat menentukan. 9:01 terakhir balutan keseluruhannya saya 9:03 tetap Mas Adriawan, Mas Anggun, Pak 9:06 Dahlan tetap mengangkat otonomi daerah 9:10 selama pusat masih terus buang-buang 9:13 anggaran, buang-buang harapan buat buang 9:16 mimpi bikin IKN, mimpi bikin berikutnya, 9:19 uang daerahnya dikurangi gitu loh. Maka 9:23 kita sedang menggali kubur sendiri. 9:26 Karena kalau kita melihat size matter, 9:28 makin kecil urusan makin baik ya. Kalau 9:31 kita baik sudah sistem bagus baru gitu. 9:34 Kalau sekarang ee kita melihat ee dengan 9:38 urusan penegakan hukum yang masih 9:40 bermasalah, korupsi yang masih sangat 9:43 tinggi ya, suap-menyuap. yang lagi sedih 9:46 ee ada rektor ditangkap tangan OTT oleh 9:51 KPK gitu loh. Padahal ya bisa jadi itu 9:55 ee bagian dari ee puncak gunung es itu 9:59 ada yang lebih dari itu. Dan karena itu 10:01 jangan lelah untuk terus bersuara, 10:04 jangan takut untuk suruh selalu 10:06 menyuarakan kebenaran. 10:08 Selama kita niatnya lurus insyaallah 10:11 Allah membersamai kita. Terima kasih, 10:13 mohon maaf. Monggo dilanjutkan, Bang. 10:17 Baik, terima kasih, Pak Mardani. 10:20 Sekarang kita ingin mendengar dulu e 10:23 dari Pak Anggun Gunawan ya ee pandangan 10:25 terkait ee kebijakan 10:28 terkait kesejahteraan guru yang sudah 10:30 dikeluarkan oleh pemerintah. Ee 10:32 dipersilakan. 10:34 Oke, makasih Mas Haldi. Asalamualaikum 10:36 warahmatullahi 10:37 wabarakatuhakalam 10:39 warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya 10:41 hormati Bang Mardani, kemudian ada Pak 10:43 Dalan Iskan, Bang Satriawan, dan ada 10:46 juga Pak Teguh ya. Eh, Bapak, Ibu yang 10:50 saya hormati yang lagi mantau di YouTube 10:52 ya, karena apa link itunya saya bagikan 10:55 di anggota kami, Pak ee di adaksi. 10:58 Kebetulan memang ini ee 11:00 keren. Keren. 11:01 Iya. Ini ee mungkin cerita sedikit 11:03 tentang organisasi kami. Jadi kami itu 11:05 baru, Pak. 11:06 Silakan. Silakan. 11:08 Iya. Jadi baru ya untuk organisasi dosen 11:11 baru lahir sekitar bulan Januari 2025. 11:14 Jadi masih 1 tahunan. Tapi kemudian kami 11:18 sudah bisa membuat sejarah pertama kali 11:21 dosen demo gitu loh. Karena selama ini 11:24 dosen itu 11:27 jangan kalah sama Satriawan. 11:30 [tertawa] 11:31 Karena selama ini yang demo tuh PGRI 11:33 gitu kan ya. E jadi kalau dosen itu kan 11:36 apa ya rasa itunya lebih tinggi, rasa 11:39 egonya lebih tinggi dibandingkan ee 11:42 lebih kepada masalah realitasnya gitu. 11:45 Masa dosen demo ya? 11:47 Iya. Masa masa dosen demo gitu truknya 11:50 sudah keren itu. [tertawa] 11:52 Jadi kebetulan kami ini memang 11:54 kebanyakan dosen-dosen muda Pak di 11:55 adaksi ini kebanyakan Genzi ya. Genzi 11:58 itu kalau kita lihat memang tidak tidak 12:01 kuat untuk hidup melarat gitu ya. Jadi 12:03 CPNS dosen itu cuma digaji 2,3 juta 12:06 dengan kualifikasi apa namanya? 12:09 Kualifikasi pendidikan S2 gitu kan ya. 12:12 Beberapa teman-teman sudah berkeluarga 12:14 juga. Jadi kemudian karena selama ini 12:16 kami itu di dinambobokan ee kita itu 12:20 sebagai dosen itu ya harus bersyuku dan 12:22 sabar gitu kan ya. Tapi susu anak 12:25 kemudian pampers anak kan enggak bisa 12:26 bersabar ya Pak ya. E kalau prinsip saya 12:29 daripada saya kelahi dengan istri, lebih 12:31 baik kita kelahi dengan menteri gitu. 12:33 Akhirnya kami kami demo tanggal itu 12:36 cakepannya cakep. 12:40 Jadi kami demo tanggal 3 Februari 12:43 2025 ee rencananya mau ke istana ya, 12:46 tapi kemudian kami diarahkan oleh pihak 12:49 kepolisian di patung kuda gitu ada 300 12:52 dosen kala itu ya dari seluruh Indonesia 12:54 dari Aceh sampai Papua. Dan kami kirim 12:57 bunga dua kali. Eh, pertama ke 12:59 Kemendikti STECH. Efeknya itu Prof. 13:02 Satrio diganti di bulan Agustus kami 13:05 kirim bunga lagi ulang tahunnya Bu Sri 13:07 Mulyani. Berapa minggu kemudian Bu Sri 13:09 Mulia diganti. 13:11 Jadi kami kirim 13:12 bahaya kamu kalau kirim bunga lagi kamu. 13:15 [tertawa] 13:16 Jadi kami ee agak khawatir gini ya agak 13:19 hati-hati juga kalau adaksi kirim bunga 13:20 biasanya menterinya diganti gitu loh. 13:22 Jadi kami baru kirim dua dua bunga 13:25 sekitar 100-an dari seluruh Indonesia 13:27 dan efeknya menterinya diganti. Jadi ini 13:31 sebagai prolog aja ya tentang adaksi dan 13:33 anggota kami sekitar 6.000, Pak. Ee dan 13:36 memang di awal-awal kami cukup berani 13:38 karena dibakingin sama profesor dan juga 13:41 ada wamen di belakang ya, mantan wamen 13:43 Pak Fasri Jalal gitu. 13:45 Ini saya share screen sedikit ya, Pak 13:47 ya, mungkin cerita aja biar ee enggak 13:50 melompat-lompat gitu. Saya Anggun 13:52 Gunawan. Kebetulan saya dulu S1-nya di 13:54 Filsafat UGM, S2-nya di Oxford Politnik 13:57 dulu di UK. Sekarang saya lagi mau 14:00 berangkat ke Belanda di Amsterdam 14:02 University gitu. Kebetulan sekarang jadi 14:06 ketua DPP Aliansi Dosen ASN Kemendikti 14:10 Saintech Seluruh Indonesia. 14:12 Apa namanya? Adsi tadi ya. 14:14 Adaksi Pak. 14:16 Adaksi. 14:16 Adaksi. Teman-teman bilangnya itu ya 14:19 dosen-dosen yang suka aksi gitu 14:20 bilangnya kayak gitu. 14:22 Oke. 14:23 Tapi Bu Fus saintech ya yang dosen ilmu 14:25 sosial enggak bisa ikut, enggak boleh 14:26 ikut ya. Eh, kementeriannya Pak Dahlan, 14:30 Kementerian Kemendikti Saintech. Jadi 14:31 khusus di Kementerian Dikti Saintech. 14:34 Kalau Kemenak itu mereka punya punya 14:36 lagi gitu. 14:38 Berarti yang ini yang Sent yang sosial 14:41 juga bisa kan? 14:42 Bisa pokoknya yang di Kementerian Dikti 14:44 Saintech. 14:45 Oh, gitu. Pak Heeh. Bukan cuma 14:49 bisa daftar. [tertawa] 14:52 Iya. Ini mungkin secara sedikit 14:54 brainstorming aja e Bapak Ibu semuanya. 14:57 terkait dengan potret gaji di Indonesia 14:58 ya. Jadi kita dapatkan data itu sekitar 15:01 ada dosen kita tuh digaji Rp600.000 gitu 15:04 ya. Ee kalau gaji pokok kalau misalnya 15:06 kita berpatokan kepada PNS gitu dengan 15:09 golongan tertinggi 4E itu di sekitar 15:12 6,3. 15:14 E kemarin ini cukup kontroversi 15:15 sebenarnya ee terkait dengan tag homepay 15:19 yang disampaikan oleh teman-teman PTNBH 15:22 ya yang dipanggil oleh MK kemarin karena 15:24 ada gugatan dari teman-teman kita dari 15:26 SPK terkait dengan ee gaji pokok dosen 15:29 itu kalau bisa minimal setara dengan 15:32 satu kali UMR. ini dari beberapa pihak 15:35 yang diundang oleh MK kemarin itu kita 15:38 mendapatkan data bahwasanya kalau untuk 15:40 yang ada ee PTS atau juga PTK Katolik 15:43 yaitu ee ada yang R juta gitu, kemudian 15:47 yang di Aceh itu ada R3 jutaan. Kalau 15:49 yang PTNBH itu beragam ya dari R juta 15:51 sampai kemudian profesornya kalau di UI 15:53 bisa sampai hampir R juta. Jadi memang 15:57 sangat itu ya sangat ee sangat beragam 16:00 gitu. Dan memang kalau kita lihat ee 16:03 saya punya kalau ada adagium yang 16:06 mengatakan bahwasanya eh if you pays you 16:11 get monkey. Jadi [tertawa] 16:15 jadi kalau kita kalau kita apa ya? Kalau 16:17 kita membayar orang dengan upah yang 16:20 kecil, maka kita akan mendapatkan ee ya 16:25 sesuai dengan itu gitu ya. Mungkin dosen 16:27 di Indonesia tuh hebat-hebat ya. Saya 16:28 punya teman dari Oxford University jadi 16:31 dosen gitu ya ee di UI misalnya ya hebat 16:35 gitu. Tapi ketika dia pulang ke 16:37 Indonesia kemudian apa yang dia dapatkan 16:40 di Oxford itu tidak bisa dia keluarkan 16:42 karena memang impak yang dia dapatkan 16:44 itu tidak sesuai gitu kan ya. Belum lagi 16:47 kemudian beban administratifnya. 16:49 Ee banyak juga kawan-kawan saya di 16:51 Oxford dulu ada yang IS3 ya dan saya 16:54 cukup miris juga ya mungkin saya cerita 16:56 ada teman saya itu cukup pintar dia 16:58 SMA-nya itu di Tamrin M. Tamrin yang 17:01 sekarang menjadi sekolah Garuda gitu ya. 17:03 Tahu saya tahu Jakarta Timur itu. 17:05 Jakarta Timur. Heeh. Kemudian dia sejak 17:07 S1 sampai S3 tuh sudah di Oxford Uni 17:10 dulu dibantu oleh Pak SB ya tuh ada ee 17:13 beasiswa presidential ship gitu kan ya. 17:15 beasiswa presidensial S1-nya, S2-nya 17:18 kemudian dia dapat ee beasiswa dari 17:20 Oxford Uni termasuk juga S3nya dan 17:24 beliau ini pakar sebenarnya di bidang ee 17:27 baterai mobil listrik. Baterai listrik 17:30 dia pakarnya gitu. Jadi untuk vehicle 17:33 untuk baterainya itu dia risetnya 17:35 tentang itu. Tapi saya ketika dia lihat 17:38 itu ya balik ke Indonesia kemudian 17:41 bekerja dia bekerja itu di Oliver Weman. 17:44 Jadi itu sebuah perusahaan konsultasi 17:47 gitu ya, terutama terkait dengan bisnis 17:50 gitu. Nah, sekarang dia bekerja di 17:52 retail sen. Jadi saya melihat ada 17:56 anak-anak pintar Indonesia yang sudah 17:59 masuk di kampus-kampus top dunia tapi 18:01 ketika balik enggak mau jadi dosen 18:03 karena gajinya cuma segini gitu. Jadi 18:07 saya dan Pak Mardani sudah mention juga 18:09 ya di Instagram saya juga pernah baca 18:11 itu ya sebenarnya kita itu banyak 18:13 anak-anak pintar Indonesia itu yang S3 18:15 di luar negeri, di kampus-kampus top 18:17 dunia ya, tapi enggak mau jadi dosen 18:19 karena ya gaji dosen di Indonesia tuh 18:21 kayak gini gitu loh. Jadi ee itu yang 18:24 itu yang terjadi ya Bapak, Ibu terkait 18:26 dengan kondisi dosen di Indonesia dan 18:28 memang mirisnya terkait dengan ee ya 18:31 kasus yang baru terjadi ya dan kita juga 18:33 syok berapa bulan yang lalu kami dari 18:35 adaksi itu ee audiensi dengan KPK dan 18:39 memang bertemu langsung dengan Ketua 18:41 KPK. Kemudian ketua KPK bilang 18:44 sebenarnya KPK itu sudah tahu banyak 18:47 lubang-lubang yang terjadi di laporan 18:48 keuangan di universitas gitu ya di 18:50 kampus-kampus. 18:52 Tapi karena fokus KPK itu belum ke 18:55 pendidikan tinggi, belum ke 18:56 kampus-kampus, karena divisi khususnya 18:58 itu fokus ke kepala daerah. Makanya 19:01 selama ini kita lihat banyak kepala 19:03 daerah yang ditangkap oleh KPK gitu kan 19:05 ya. Tapi kalau ditelisik lebih dalam 19:08 lagi sebenarnya banyak kasus korupsi di 19:10 kampus-kampus gitu ya. Mulai dari 19:13 misalnya penerimaan mahasiswa baru yang 19:16 diunsut itu kan terkait dengan fakultas 19:18 kedokteran ya mesu kedokteran. ee ya 19:22 kemudian juga menjadi rektor gitu kannya 19:25 dan lain sebagainya. Nah, jadi ee kita 19:28 melihat dengan gaji yang kecil ini 19:30 sebenarnya dosen itu secara sistematis 19:33 itu mereka juga berperilaku koruptif 19:35 gitu. Yang paling kecil itu adalah kita 19:38 memanipulasi dana riset yang sedikit itu 19:40 kemudian bisa menjadi buat penambah ee 19:43 buat penghasilan kita gitu. Jadi itu 19:45 yang terjadi. Jadi kita di kampus 19:48 dianggap sebagai penjaga integritas gitu 19:50 kan ya. kita ngajarkan mahasiswa untuk 19:52 menjadi pemimpin-pemimpin atau 19:54 kadar-kadar bangsa yang itu jujur dan 19:55 berintegritas. Tapi kemudian kita karena 19:59 pendapatan yang kecil, perlahan demi 20:02 perlahan kemudian kita terjebak dalam 20:04 perilaku-perilaku koruptif sebenarnya 20:06 walaupun mungkin ee praktiknya itu tidak 20:09 ee miliaran gitu kan ya. Mungkin kalau 20:11 kita dosen-dosen kecil mungkin sejutaan, 20:13 ratusan ribu gitu loh. Jadi itu yang 20:15 terjadi di dosen kita selama ini dan itu 20:18 enggak enggak pernah dilihat oleh 20:20 masyarakat gitu. Dan sialnya memang 20:23 dosen-dosen senior itu mendoktrin kita 20:26 itu Anda sudah jadi dosen kemudian ya 20:28 Anda nikmatin saja, Anda harus sabar dan 20:30 bersyukur gitu loh. Jadi kalau misalnya 20:32 Anda enggak terima dengan kaji segini ya 20:34 silakan Anda pindah gitu. Jadi menurut 20:36 saya itu juga ajaran yang tidak tidak 20:39 itu ya tidak benar juga gitu 20:42 nih biar saya enggak terlalu lama. Jadi 20:45 ini terkait dengan Serdos. Jadi dosen 20:46 kita itu 300an ribuan orang yang Serdos 20:49 itu baru di sekitar 52%. 20:52 Ini saya masuk ke sini aja ee biar 20:55 enggak terlalu lama ya. Jadi kalau 20:57 misalnya Mas nikmati aja nikmati terus 20:59 nikm aja. [tertawa] 21:02 Jadi ee saya ya kalau misalnya kita mau 21:05 benchmarking ya, jadi kita coba lihat ke 21:08 negara-negara yang memang kampusnya 21:09 bagus-bagus gitu kan ya. E kalau 21:11 misalnya kalau di UK kemudian kita coba 21:14 cari yang bagus mungkin kayak UCL yang 21:16 juga masuk 10 besar dunia gitu. Ada 21:19 Oxford, kemudian Cambridge eh kalau 21:21 UCL-nya di London ya. Itu setahun itu 21:24 dosen itu bisa dapat untuk grade yang 21:26 paling rendah itu di koma R,25 miliar ya 21:30 kalau kita jadikan rupiah gitu. Memang 21:33 rata-rata ee saya lihat di berbagai 21:36 macam apa namanya itu ruangan pekerjaan 21:39 dosen kalau di luar negeri itu enak. 21:40 Jadi mereka langsung mention terkait 21:42 dengan kalau Anda jadi dosen, asisten 21:45 atau associate itu gajinya segini loh 21:47 gitu loh. Jadi langsung dimension jadi 21:49 tidak kayak beli ee kucing dalam karung 21:52 sudah tahu. Jadi orang kalau mau lamar 21:54 tapi ada konsekuensinya. Kalau gajinya 21:55 gede berarti ee beban kerjanya gede 21:58 kemudian kualifikasinya pun juga tinggi 22:01 gitu. 22:02 Tapi seginilah yang didapatkan kalau di 22:04 UK kemudian juga di Belanda sekitar 101. 22:08 Ee kemudian di Malaysia paling tidak di 22:10 Malaysia itu ketika orang baru masuk 22:11 jadi dosen itu sudah dapat sekitar 27 22:13 juta gitu kan ya. Berbeda kalau misalnya 22:16 dosen PNS di Indonesia itu CPNS-nya cuma 22:18 dapat 2,3 juta. 22:21 Ee jadi gini ee jadi ee salah satu dewan 22:26 penasihat kami Prof. Pasli Jalal ya yang 22:28 juga lama di BAPENAS itu beliau seringki 22:32 ketika memberikan nasihat kepada kami 22:34 itu kalau kita ingin maju maka kita 22:36 harus tiru negara OECD gitu loh 22:38 negara-negara maju. E jadi kami diadaksi 22:41 ini membuat formulasi ya kalau misalnya 22:43 kita merujuk kepada ee kebijakan di 22:47 negara-negara OICD mungkin yang paling 22:50 moderate aja lah gitu. Maksudnya kita 22:52 pakai 50% aja dari OECD. Nah, seharusnya 22:56 gaji dosen di Indonesia segini nih. 22:58 Untuk asisten ahli itu R3 juta, lektor 23:01 28 juta, lektor kepala R3 juta, dan 23:04 profesor 44 juta. Ah, jadi seharusnya 23:07 segini gitu. Nah, sekarang kita coba 23:10 hitung ya kebutuhannya. Apakah negara 23:12 sanggup untuk membayar dengan ee rate 23:15 seperti itu? 23:17 Cakep. 23:18 Heeh. Ini kita coba bikin simulasi. Ah, 23:21 kalau misalnya kalau misalnya 328.000 23:25 dosen ini kemudian digaji dengan standar 23:28 OECD tadi, maka sebenarnya yang kita 23:31 butuhkan itu cuma 114 triliun. 23:36 Hm. 23:36 Kalau misalnya seluruh dosen dibayar 23:38 dengan segitu ya. Tapi kalau misalnya 23:40 kita hanya fokus kepada dosen ASN 23:43 yang jumlahnya itu sekitar 105.000-an 23:45 ribuan orang ya, baik itu di Kemenak, di 23:47 Kemendikti Saintech ataupun juga di 23:49 KL-KL yang lain itu ee sekitar ini Pak 23:53 sekitar 40 triliun. 23:55 Ee ini apakah angkanya besar atau enggak 23:58 gitu? Kita bertanya besar atau enggak 24:00 gitu. 24:00 Kecil. [tertawa] 24:01 [berdehem] 24:01 Nah, sekarang kita bikin formulasi lagi 24:04 ya. Ee ini juga kalau bicara ekosistem 24:08 di Indonesia ini sebenarnya itu kita 24:09 enggak sehat ya. Jadi kalau 24:11 negara-negara OECD itu sebenarnya kalau 24:13 kita ingin menjadikan kampus-kampus kita 24:15 itu risetnya menjadi maju seharusnya itu 24:18 paling tidak 30 sampai 35% mahasiswanya 24:22 itu adalah mahasiswa pasca sarjana. Jadi 24:24 kita melihat ee ada dana riset yang 24:27 diberikan kepada kampus tapi tidak 24:29 menjadi sebuah project mercuuar gitu 24:32 loh. Jadi enggak enggak kelihatan gitu 24:34 loh. Misalnya kayak dulu di Oxford 24:36 ketika saya kuliah itu kan lagi corona 24:39 ya Covid-19. 24:40 Dan itu ada anak Indonesia, Mbak Karina 24:43 Jo gitu ikut terlibat dalam riset itu 24:46 dan itu bisa menghasilkan triliunan gitu 24:48 kan ya. Walaupun untuk biar risetnya 24:50 sendiri pun sudah triliunan. Ee jadi 24:53 kalau negara-negara maju itu mereka bisa 24:55 membuat sebuah kampus yang risetnya 24:57 unggul atau advance itu karena punya 24:59 mahasiswa pascennya yang sangat banyak. 25:02 Sementara di Indonesia itu mm berapa ya? 25:05 baru 3% lah ya, hampir-hampir 3% gitu 25:09 pasca sarjana kita itu. Jadi sangat 25:13 susah untuk mengharapkan kampus-kampus 25:15 kita itu bisa menghasilkan riset yang 25:16 bagus gitu. Belum lagi nanti kalau kita 25:19 bicara tentang masalah dana riset ya. 25:22 Nah, sekarang yang kedua dulu ketika 25:25 saya di UK itu jadi saya baca-baca ya. 25:27 Jadi, UK itu memang sangat terbantu 25:29 dengan keberadaan ee mahasiswa asing. 25:32 Jadi, kehidupan pendidikan tinggi di UK 25:35 itu sangat tergantung dengan tuusion fee 25:37 yang dibayarkan oleh mahasiswa asing. 25:39 Ni, misalnya dulu ketika saya kuliah, 25:41 kalau teman saya cuma bayar 4.000o, saya 25:44 14.000o gitu loh. Jadi hampir 4 l 25:47 kalinya mahasiswa lokal di sana. Dan 25:49 memang itu mereka ee mazhab ee di UK itu 25:52 memang sudah kapitalis ya. Kapitalis. 25:55 Jadi memang ee mereka menjadikan tuision 25:58 V itu sebagai ee nafas buat kampus. Nah, 26:01 sekarang UK itu bermasalah karena mereka 26:04 visanya ketat sehingga banyak mahasiswa 26:06 asing itu enggak jadi datang ke UK. 26:08 Visanya juga mahal sehingga banyak 26:11 kampus-kampus itu lagi krisis finansial 26:13 sekarang. 26:14 H 26:14 ee sebenarnya kita sangat kalah ya dulu 26:17 Pak Mardani S2, S3-nya di UTM ya Pak ya 26:20 di Malaysia gitu. Betul. 26:22 Sebenarnya kita kalah jauh dengan 26:24 Malaysia gitu terkait dengan mahasiswa 26:26 internasional kita itu enggak nyampai 1% 26:29 Mbak. Mungkin 0,01 26:31 0,1 26:33 ya pers gitu. 0,1% 26:36 mahasiswa internasional yang masuk ke 26:37 Indonesia. Dan itu kebanyakan ya kita 26:39 biayai sendiri ya dengan mungkin 26:41 beasiswa KNB dan lain sebagainya gitu. 26:45 Jadi, generating income kita itu untuk 26:47 mahasiswa internasional itu rendah. Dan 26:50 kalau misalnya kita kaitkan dengan QS 26:52 ranking dan juga e THE ranking, kita 26:55 enggak bisa naik gitu karena ada 26:57 international staff, ada mahasiswa 26:59 internasional yang menjadi parameter 27:02 untuk bisa bertarung di THE ranking dan 27:04 juga QS gitu loh. 27:06 Jadi, ini menjadi sesuatu persoalan yang 27:09 sangat dilematis gitu kan ya. 27:13 Ee sekarang saya mau gini ee sebenarnya 27:16 kalau kita lihat mazhab ya, mazhab 27:18 pendidikan di Indonesia itu kan 27:19 sebenarnya kita lebih dekat dengan 27:21 negara-negara welfare state ya, Pak ya, 27:23 negara sosial kesehatan gitu. 27:26 Jadi kalau misalnya kalau misalnya ini 27:28 saya bikin simulasi. Kalau misalnya kita 27:31 memberikan 27:32 semua mahasiswa di kita ini kalau 27:34 sekarang tuh angka itu 10 juta 10,7 juta 27:38 ya ee jiwa orang yang baik itu di D3, 27:42 D2, S1, S2, S3, profesi dan lain 27:45 sebagainya itu ada sekitar 10 jutaan. 27:48 Kalau misalnya semua mahasiswa kita itu 27:51 kita gratiskan, maka dana yang kita 27:53 butuhkan itu adalah sekitar 232 27:57 ee triliun. 27:59 Ini mirip-mirip [berdehem] dengan 28:00 anggaran MBG. 28:01 Kalau kita gratiskan semua ya. Heeh. 28:04 Ee sekarang saya masuk ke ini ya. Ini 28:06 hitung-hitungannya. 28:08 Kalau misalnya kita merujuk kepada 28:11 asupan dana yang diberikan oleh 28:13 negara-nara OECD kepada pendidikannya 28:17 itu biasanya gini, Pak. Ee biasanya 28:20 mereka akan memberikan dari anggaran 28:21 pendidikan itu 30% itu untuk pendidikan 28:24 tingginya, 50% untuk pendidikan dasar 28:26 dan menengah, 20% nanti untuk yang 28:28 nonformal dan juga pendidikan 28:30 kekhususan. Ya, 28:31 jadi kayak gitu. Nah, saya kemarin baca 28:35 RAPBN 2027, Pak Purbaya bilang untuk 28:39 anggaran pendidikan 2027 itu 820,9 28:44 triliun. 28:45 Kalau misalnya kita memakai rumus untuk 28:49 negara di OECD di mana negara OECD itu 28:52 rata-rata memberikan 30% 28:54 anggaran pendidikan untuk pendidikan 28:56 tinggi 28:56 seharusnya Dikti Saint itu dapatnya 246 29:00 triliun. H 29:02 mungkin dibagi nanti sama Kemenak gitu 29:04 kan ya karena Kemenak juga punya kampus 29:05 gitu. Heeh. 29:06 Tapi realitanya adalah mungkin belum 29:09 realita ya. Tapi kemudian di RPBN 2027 29:12 Kemend Saintch itu cuma dapat 65,1 29:15 triliun. 29:17 Nah, jadi kalau misalnya tadi saya 29:18 bilang kalau misalnya kita gratiskan 29:21 untuk puluhan juta mahasiswa kita itu 29:23 cuma bukan cuma ya tapi banyak 200 29:26 22 29:27 32. Kalau misalnya ini kita ambil 30% di 29:31 anggaran pendidikan itu sudah di angka 29:33 406 29:36 246 gitu kan ya masih ada sisa untuk 29:38 dana riset sebenarnya kalau itu semuanya 29:40 digratiskan. 29:42 Jadi sebenarnya negara kita tuh mampu 29:44 gitu loh kalau misalnya benar-benar 29:46 politik anggarannya itu berpihak kepada 29:48 pendidikan. 29:49 Ee sekarang 29:51 ini data saya baru dapat juga dari teman 29:54 gitu kan ya. 29:55 Jadi saya juga kaget gitu loh terkait 29:57 dengan URI ini. Tapi ini ini enggak tuh 30:00 Pak Mardannya sudah lihat atau enggak 30:02 gitu. 30:03 Harusnya Pak sudah punya nih 30:05 ini data. Kemudian dari BAPENAS Pak 30:09 ee di sini terbilangnya UKRI ya. Tapi 30:11 seharusnya ini URI Pak. 30:13 UKRI kan ee punya presiden ya kampus 30:15 punya presiden secara pribadi di 30:17 Bandung. Tapi saya ini feelingnya lebih 30:19 ke URI. Uri itu kan dibangun katanya 10 30:22 kampus gitu kan ya. itu Pak dananya Pak 30:25 100 30:27 13 triliun. 30:29 Wow 30:30 untuk URI ya 10 kampus gitu 30:34 dua kali anggarannya Kemikti STECH 30:38 yang mungkin apa namanya mahasiswanya 30:40 pun mungkin berapa persen lah dari total 30:43 mahasiswa di Indonesia gitu. 30:46 Eh, jadi sebenarnya closing saya adalah 30:50 jadi sebenarnya kita itu hanya butuh 30:52 semacam politik anggaran ya, 30:54 keberpihakan negara ini kepada 30:56 pendidikan gitu. 30:58 Jadi kalau ya makanya saya saya 31:01 lagi-lagi balik lagi ya kita di dosen 31:04 ini memang ya maksudnya kita bukan bukan 31:07 bukan apa ya bukan kemudian mengeluh 31:09 gaji dosen kecil ya tapi kemudian ketika 31:12 orang sudah S2 S3 dihargai cuma R3 juta 31:15 R juta gitu kan ya ya apa yang bisa kami 31:18 berikan kepada mahasiswa gitu kan ya 31:21 sementara dapur kami sendiri pun ya ya 31:24 harus berkelahi gitu kan ya ya banyak 31:27 teman-teman saya itu diadaksi itu adalah 31:29 kemudian jadi ojol dan sampai sekarang 31:31 masih ee punya beberapa aplikasi ojol 31:34 ya. Kemudian beberapa itu juga jadi kuli 31:37 gitu, jadi kuli bangunan gitu. Ee jadi 31:40 itu yang terjadi gitu yang terjadi di 31:42 dosen kita dan memang ini banyak 31:44 dosen-dosen sendiri mengatakan nih aib 31:46 gitu ya, aib ya enggak usahlah cerita 31:48 tentang gaji dosen gitu. Tapi karena 31:51 kita pernah kuliah di luar negeri ya apa 31:54 ya gaji itu sesuatu yang harus muncul di 31:57 awal gitu dan harus ada semacam 31:59 standarnya. 32:01 Mungkin itu saja, Pak, sebagai pemantik 32:03 saya nanti yang lainnya enggak kebagian. 32:05 Mungkin itu dulu dari saya. Terima 32:07 kasih. Ee nanti bisa kita diskusi, ya. 32:10 Ee terima kasih, Pak Mardani. Bang e 32:12 Heldi. 32:13 Saya stop dulu. 32:15 Baik, terima kasih Pak Anggun atas 32:17 penjelasannya. Ee sekarang kita ingin 32:20 mendengar dulu dari Mas Satriwan Salim. 32:23 Persilakan Mas Triwan. 32:26 Oke, terima kasih Bang Haldi. Ee 32:29 bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 32:30 warahmatullahi 32:31 wabarakatuhamsalam 32:34 warahmatullahi wabarakatuh. 32:35 Yang terhormat Bang Mardani, Pak Dahlan, 32:39 Mas Anggun, Kang, Bapak, Ibu pemirsa 32:44 Mard ya kan dan yang berbahagia. 32:49 Baik. Radio Rasil yang banyak dengarin, 32:52 Mas. Radio Rasil banyak Rasil Radio. 32:56 Iya. Ee 32:59 Rasil itu Rasul ya. Kira-kira asal 33:01 katanya sama dengan ro sin sama lam ya. 33:05 Menyampaikan risalah gitu ya. 33:07 Amin. Amin. 33:08 Jadi ee saya juga harus menyampaikan 33:11 risalah kalau begitu melalui channelnya 33:14 Bang Mardani dan Rasil TV. Kalau tadi 33:17 Bang Anggun dengan sangat anggun 33:20 menyampaikan data-data mengenai ee 33:24 bagaimana kondisi realita objektif 33:26 dosen-dosen kita yang pendapatannya jauh 33:31 ya dibanding negara-negara ASEAN. Tidak 33:34 udah tidak usah negara G20, negara ASEAN 33:36 saja. 33:38 Nah, tadi Bang Anggun sempat menyebut 33:41 m-mention 33:42 ee terkait dengan uji materi. Betul. 33:46 Kami sekarang ee dari P2G salah satu 33:51 pihak terkait dalam uji materiil 33:54 Undang-Undang Guru Dosen yang pemohonnya 33:58 adalah teman-teman SPK Serikat Pekerja 34:01 Kampus. 34:02 Eh, persidangannya sudah cukup lama, 34:04 Bang Mardani. Semoga ini ee gol lagi ya 34:09 biar 2-0 gitu, Bang Mardani. 34:11 Keren, keren. Yang yang e 34:14 asal jangan kirim bunga ya. Kalau kirim 34:16 bunga repot tadi tuh [tertawa] 34:19 langsung berhenti ya. 34:21 Nah, 34:21 iya. 34:23 Kalau kalau yang uji material sekarang 34:25 ini ee pemohonnya adalah SPK. ee kami 34:29 P2G bersama Asosiasi Dosen Indonesia ee 34:34 Prof. Apa ee 34:37 ee ketuanya yang dosen UI itu penganggun 34:42 saya lupa nih namanya Prof. Apa ketua 34:44 umum Asosiasi Dosen Indonesia. tengah 34:46 kami sebagai pihak terkait ee menggugat 34:50 pasal 52 Undang-Undang Guru Dosen 34:53 terkait dengan upah minimum bagi dosen. 34:56 Nah, bagi kami di P2G guru juga sama. 35:00 Ada pasal 14 di Undang-Undang Guru Dosen 35:02 14 dan 52 di Undang-Undang Guru Dosen 35:05 ini bagi kami adalah pasal kembar. Jadi 35:08 kami meminta agar ee Mahkamah Konstitusi 35:11 kemudian ee apa namanya menetapkan atau 35:16 menjelaskan bahwa pasal 52 dan pasal ee 35:20 14 tersebut gitu ya, itu harus dimaknai 35:23 sepanjang harus ada klausul upah 35:25 minimum. Nah, selama ini kan guru dosen 35:28 tuh enggak ada upah minimumnya. Jadi 35:31 klaim kemarin rektor mana UGM kemudian 35:34 dari Unhas ya itu kami hadir di 35:36 persidangan bersama SPK gitu ya dan 35:39 hakim MK rasa-rasanya 35:42 juga e terheran-heran gitu ya. Nah jadi 35:46 kami sih menduga gitu ya ee berhusnuzon 35:50 ini keputusan MK terkait gugatan 35:53 Undang-Undang Guru Dosen akan sama 35:54 dengan keputusannya dengan gugatan kami 35:57 di Undang-Undang APBN 2026. Nah, 36:00 insyaallah itu doa. Baik, Bang Marani 36:02 saya share screen boleh enggak, Bang 36:04 Hadi? Boleh ya? Eh, 36:05 boleh dong. 36:07 Siap. 36:07 Jangan kalah sama adaksi kan dian PPG 36:11 kan. [tertawa] 36:13 Oke. Mana dia? 36:15 Sudah jelas tuh. Sudah ada tuh. 36:18 Oke, sebentar. Nah, ini dia. Ini 36:22 kelihatan enggak, Bang Hardi? 36:23 Jelas kelihatan. Oke. Hari Rabu kemarin 36:27 pernyataan saya ee sebagai ketua P2G ee 36:31 di Kompas ya, di koran Kompas itu itu 36:34 dikutip 36:34 saya baca tuh saya baca. 36:36 Nah, bersama ee Pak Menteri juga ada 36:39 kalau tidak salah. Jadi ee beberapa 36:42 waktu lalu Pak Purbaya mengatakan bahwa 36:45 oh anggaran pendidikan di dalam postur 36:47 RAPBN di 2027 itu naik ya kan mencapai 36:52 820,9 36:54 triliun. 36:55 Nah, ini kan memang selalu menjadi klaim 36:58 oleh pemerintah beberapa tahun terakhir 37:01 terbesar sepanjang sejarah. Itu betul ya 37:04 karena memang tren RAPBN apa tren 37:06 anggaran pendidikan di APBN itu selalu 37:10 ee naik gitu beberapa tahun terakhir lah 37:12 kira-kira 10 tahun terakhir lah kurang 37:13 lebih. ee 2027 820,9 37:18 di tahun 2026 ini 700 ee berapa ee 69 eh 37:23 700 berapa Bang Marani kok lupa nih 720 37:26 apa 769 ya 769 triliun sebelumnya 720 37:31 sebelumnya 69 dan seterusnya jadi naik 37:33 memang trennya nah tetapi ternyata di 37:37 dalam RAPBN 2027 tersebut gitu dan 37:43 anggaran pendik ikan itu diambil untuk 37:46 MBG sebesar 240 triliun. 37:51 Ini setara dengan 29,23 37:54 triliun. Saya bilang begitu ke Kompas ya 37:56 kan? Dan ini jelas ya jelas 38:00 mengangkangi, 38:02 jelas melawan keputusan Mahkamah 38:05 Konstitusi yang sudah kami menangkan di 38:07 dalam putusan MK 1 bulan yang lalu. Nah, 38:11 nanti akan saya kutipkan ya ee akan saya 38:13 tayangkan juga putusan MK itu detailnya. 38:17 Nah, kemudian di dalam ee waktu 38:20 kesempatan yang lain banyak juga dari ee 38:23 pemerintah atau bahkan dari masyarakat 38:25 yang mengatakan, "Oh, selambat-lambatnya 38:27 kan keputusan MK itu bahwa anggaran MBG 38:30 harus dipisahkan dari anggaran 38:32 pendidikan selambat-lambatnya 2028." 38:36 Nah, padahal ada kalimat ya kan di dalam 38:40 paragraf yang sama di dalam putusan MK 38:43 itu yang menyebutkan bahwa 38:47 apabila anggaran MBG tetap dimasukkan ke 38:50 dalam RAPBN 2027 karena sedang dibahas 38:53 saat ini oleh pemerintah dan DPR, maka 38:57 itu dapat dilakukan sepanjang hmm 39:01 sepanjang tidak mengurangi anggaran 39:04 pendidikan minimum. umum 20% dari APBN 39:07 sebagaimana mandatory spending ada kata 39:10 panjangnya. Jadi boleh anggaran 39:13 pendidikan sampai 2028 ya, APBN 2008 39:17 boleh anggaran MBG dimasukin ke anggaran 39:19 pendidikan tetapi kata MK sepanjang 39:23 tidak mengurangi anggaran pendidikan 39:25 yang minimum 20%. Kenyataannya ya 39:28 mengurangi. 39:30 Nah, ini kan tidak menjadi contoh ee 39:34 teladan yang baik dalam tata kelola 39:36 negara. 39:37 Saya teringat ya kan ya mestinya 39:40 pemimpin-pemimpin kita baik eksekutif, 39:43 yudikatif, legislatif semua bawa 39:47 konstitusi itu. Saya sebagai pengajar 39:49 pendidikan kewarganegaraan, pendidikan 39:52 Pancasila ya itu memang harus menjadi 39:56 apa namanya nafasnya ee pemerintah 39:59 khususnya ya kan lembaga-lembaga negara 40:02 gitu. si konstitusi itu dibawa dilihat 40:05 oh ada pasal 31 ayat 4 ya kan anggaran 40:09 pendidikan sekurang-kurangnya itu 20% 40:11 dari APBN ditambah keputusan Mahkamah 40:14 Konstitusi nomor 40 tahun 2026. 40:18 Jadi 40:20 RAPBN sekarang ini, postur RAPBN 2027 40:23 ini bagi kami jelas inkonstitusional 40:27 dan jelas mengkhianati keputusan MK ya 40:31 kan dan bertentangan dengan pasal 31 40:34 ayat 4 UUD45 kita. Nah, itu yang 40:38 pertama. 40:39 Terus kalau kita lebih detailkan ya kan 40:43 berapa jadinya? Kenapa itu bagi kami 40:45 inkonstitusional gitu ya? Nah, karena 40:48 kalau kita preteli lagi anggarannya dari 40:51 820,9 triliun anggaran pendidikan ya kan 40:55 dikurangi 240 untuk ee apa namanya MBG 40:58 itu sisanya hanya 580. 41:01 580,9 41:03 triliun ini Bang Mardani, Bang Hardi itu 41:06 hanya 14,2% 41:08 dari RAPBN yang jumlahnya 4.090 triliun 41:12 itu. Itu dalilnya jelas itu 41:15 angka-angkanya 41:16 ya kan. 41:17 Nah, jadi 14,2 triliun. Padahal 41:20 Konstitusi pasal 31 ayat 4 mewajibkan 41:24 minimum minimal 20%. Keputusan MK juga 41:27 mengatakan demikian. Kenyataannya hanya 41:30 14,2%. 41:32 Ini namanya apa? MK sudah memutuskan, 41:37 publik juga sudah berharap, gitu kan ya. 41:40 Pasalnya jelas dalam konstitusi, 41:42 kalimatnya jelas dalam putusan MK. kok 41:46 masih dilawan, kok masih apa namanya 41:48 tidak diikuti. Nah, ini kan kami sebagai 41:51 pendidik, Pak Anggun juga sebagai dosen, 41:54 ya kan? Kita sebagai ee mendidik 41:57 anak-anak kita, siswa, mahasiswa dalam 41:59 bernegara memang seperti ini cara 42:01 mengelola negara. Terus konstitusi kita 42:03 apakan? Ini pertanyaan reflektif loh. I 42:07 kan pertanyaan reflektif. 42:09 Oh iya. Tujuannya untuk rakyat juga kok 42:12 untuk memberi makan anak-anak. Betul. di 42:15 Mahkamah Konstitusi waktu kami bersidang 42:18 di perkara yang 40 itu APBM 2026, 42:22 kami dari P2G tidak menolak ya kan hak 42:26 anak mendapatkan gizi karena itu juga 42:28 bagian dari hak warga negara dan masuk 42:31 ke dalam hak asasi manusia di dalam 42:34 dokumen universal hak asasi manusia ya 42:37 kan ahli dari kami menjelaskan juga 42:39 waktu itu ya kan dari UII itu ya dari 42:42 apa namanya dari ee Yogyakarta. Nah, 42:45 yang kita ee kritisi adalah yang kita 42:48 uji adalah anggarannya karena mandatory 42:50 spending ini jelas minimal 20%. Jadi, 42:52 kenyataannya bukan 20% anggaran 42:55 pendidikan dalam postur RAPBN 27 berapa? 42:58 Hanya 14,2% 43:00 saja. Nah, itu yang kedua. 43:03 Berarti harusnya seperti apa 43:04 anggarannya? Minimal anggarannya ya kan 43:08 20% itu adalah 800 triliun lebih. Karena 43:12 kita anggap saja 4.000 ya 4.000 triliun 43:16 RAPBN kita 2027 ya kali tinggal kali 20% 43:20 ya kan yang penting bisa kali-kalian 43:22 jangan sampai 4.000 * 20% jadinya 18 43:26 atau 17. Nah itu repot. 43:28 Nah jadi 43:30 iya kan jadi setara minimal R00 triliun 43:34 itu hanya untuk anggaran pendidikan. 43:36 Pendidikan dasar, pendidikan menengah, 43:38 pendidikan DIIKTI ya kan. Kemudian 43:40 Kementerian Agama. Nah, jadi pemerintah 43:44 sebenarnya sedang tidak mematuhi dan 43:47 sedang melawan perintah konstitusi. 43:50 Dan ini adalah contoh yang tidak baik. 43:53 Itu yang pertama ya, karena tadi kita 43:55 membahas tentang apa namanya ee postur 43:58 RAPBN. ini juga sudah kami sampaikan 44:01 kemarin Bang Mardani hari Rabu kemarin. 44:04 Kebetulan kami saya diundang oleh Wakil 44:07 Ketua MPR RI gitu ya ee di gedung MPR ee 44:12 apa namanya di Nusantara 3 di markasnya 44:15 Bang Mardani. Ada juga e anggota DPR 44:18 dari Banggar, dari Komisi 2 gitu ya ee 44:22 dari badan anggaran komisi 10 juga ada. 44:24 Ini kami sampaikan. 44:26 Nah, yang kedua karena kita juga 44:29 sekarang berbicara tentang guru, 44:32 berbicara tentang dosen di dalam ee 44:35 rancangan anggaran ee era PBN 2027. Nah, 44:39 kami ini objektif, Bang Mardani ya kan 44:42 ini saya tutup ya. Kami ini objektif. 44:44 Kemarin alhamdulillah 2 hari lalu kita 44:47 mendapatkan kabar angin segar apa itu? 44:51 Ya, pemerintah bersama DPR. Terima kasih 44:54 nih, Bang Mardani. Saya harus objektif 44:56 juga Komisi DU itu punya 44:59 ee jariah di situ. Komisi 10 punya ee 45:03 Banggar, punya Komisi 11 punya ee 45:07 Kementerian Dikdas DASM, punya 45:08 Kementerian PAN RB, punya Kementerian 45:12 apalagi Kemdagri, mungkin punya KemenQ 45:14 pasti punya. Kalau Kementerian Agama 45:16 saya enggak tahu karena ikhlas beramal 45:18 ya kan. Nah, jadi kami berterima kasih 45:22 karena ada upaya serius untuk ya kan 45:25 mengangkat guru-guru P3K Paruh waktu 45:29 yang jumlahnya kurang lebih R200.000 45:32 ya kan menjadi P3K penuh waktu. Ini 45:35 ikhtiar lama Bang Mardani dan Bapak Ibu 45:38 teman-teman di Komisi 2. Bang Mardani 45:40 kan masih di Komisi 2 ya belum pindah ke 45:42 Komisi 10 kan. 45:43 Masih kasihi kasih. 45:45 Nah, jadi ini ikhtiar ee kolektif dan 45:48 cukup lama saya rasa gitu. Nah, yang 45:50 kedua guru P3K penuh waktu yang 45:54 jumlahnya Bang Anggun R00.000, Pak. Jadi 45:56 mohon maaf ya kalau adaksi AD itu 46:00 anggotanya mungkin dikitlah karena dosen 46:02 itu setahu saya ee berapa? 200 apa 46:05 300.000 jumlahnya nasional 46:07 R00.000. 46:08 Nah, 300 46:09 kalau guru itu 3,4 juta kurang lebih, 46:12 Bang. Nah, dan itu kasta-kastanya nanti 46:14 saya akan ee perlihatkan juga. Jadi, ee 46:19 900.000 guru P3 penuh waktu kemudian 46:24 akan diangkat menjadi pegawai negeri 46:26 sipil. Nah, baru sampai di situ tuh yang 46:28 orkestrasinya dipimpin oleh Bapak ee 46:32 Dasko ya kan. Nah, jadi ee Bapak Donasco 46:36 rasanya bersama Komisi DU kementerian 46:39 terkait ini mengarrange eh dirigen-nya 46:42 bagus sekali ini. Karena di eranya 46:44 sebelumnya, di eranya Pak Jokowi, 46:46 pemerintah itu hanya mengangkat 46:49 guru-guru honorer menjadi P3K kurang 46:52 lebih Rp800.000 R000 walaupun janjinya 46:54 Nadir dulu R juta. Itu pun di tahun 2025 46:59 keluarlah KPMENPAN RB nomor 16 tahun 47:03 2025 yaitu apa? Pegawai pemerintah apa? 47:07 P3K paruh waktu. Ini yang saya pikir 47:10 sangat zalim. sudahlah paru waktu, 47:12 sudahlah P3K paru waktu lagi dan gajinya 47:15 disesuaikan waktu mereka jadi honorer. 47:18 Ini yang kami jadikan sebagai saksi 47:20 data-data di Mahkamah Konstitusi waktu 47:22 sidang ee apa gugatan APBN ya kan. Dan 47:26 hakim MK itu sangat adil sekali. Nah, 47:29 balik yang tadi 900.000 ini 47:33 diprioritaskan untuk menjadi PNS. Nah, 47:35 Bang Anggun kita memang saat ini 47:37 kekurangan guru. Bang Marani ini tahu 47:39 betul sebenarnya ya. kita kekurangan 47:42 guru PNS itu per Agustus ini semalam ee 47:47 kami berdialog di di TVRI saya dengan Bu 47:50 Dirjen gtk ee datanya adalah kita 47:55 kekurangan 400 guru PNS sebenarnya jadi 47:57 kelas-kelas0000 47:59 400.000 48:00 Tapi PP-nya sudah keluar, Bang. Kalau 48:01 dosen itu kan PP-nya sudah keluar, sudah 48:04 keluar juga. 48:05 Betul belum? Itu yang kami sekarang 48:07 sedang e goda-goda Bang Mardani ee Ibu 48:11 Menpan RB gitu kan agar ada 48:14 dukung dukung keluar 48:15 kita dukung. Nah, yaitu apa? satu ya kan 48:19 kalau permintaan teman-teman mumpung ini 48:21 di Komisi DU ya Bang Mardani ini sohibul 48:23 baitnya pas nih satu teman-teman guru 48:26 itu penginnya yang P3K penuh waktu itu 48:30 pengin langsung otomatis itu yang 48:32 pertama Bang oke otomatis 48:34 iya tidak ada tes ya 48:36 betul nah itu skema yang pertama skema 48:39 yang kedu ya kan pasti akan ada seleksi 48:43 kenapa karena kekurangan gurunya 400.000 48:46 Sedangkan guru P3K panuh waktu existing 48:50 R900.000 yang didata Kemdik Dasment. 48:53 Jadi kan otomatis pasti akan ada 48:55 seleksi. Cuman apa yang menjadi 48:57 seleksinya? 48:58 Yang kedua bagi kami adalah ini mungkin 49:00 Bang Marani sudah punya pemikiran juga 49:02 mungkin mengafirmasi saja saya 49:04 memperkuat. Yang kedua adalah skemanya 49:08 yang usianya di atas 35 tahun, yang 49:11 sudah lama mengabdi, mohon maaf ya, yang 49:13 sudah senior-senior, tua-tua di atas 50 49:16 tahun apalagi yang sudah punya 49:17 sertifikat pendidik itu kita berikan 49:19 afirmasi dan afirmasi ini bukan barang 49:22 baru. Sudah pernah juga dilakukan oleh 49:24 Bank Mardani, oleh pemerintah sebelumnya 49:26 waktu P3K. 49:28 Bahkan di zaman Pak SBY 1 juta guru 49:31 honorer diangkat menjadi PNS dengan 49:34 PNS 49:34 mempertimbangkan afirmasi juga yaitu 49:38 lama mengabdi. Nah, ini yang kedua. Oke. 49:44 Yang ketiga. 49:45 Jadi yang yang kedua, Mas Satan, yang 49:48 kedua berarti yang 400.000 diutamakan 49:51 tadi yang sudah punya sertifikasi dan 49:54 435 ke atas gitu ya. 49:56 Betul. Betul. Oke, 49:58 nanti tinggal mainkan saja bobotnya oleh 50:00 Panselnas ya kan. Nah, tinggal dimainkan 50:04 bobotnya variabel satu, variabel 2 ini 50:06 berapa persen itu e di situlah mungkin 50:09 kita bijak ee berkeadilannya itu di sana 50:12 nanti bijaksananya muncul di situ. Yang 50:14 ketiga, Bang Mardani kemarin saya 50:16 sampaikan juga di TVRI waktu berdialog 50:19 itu ee mohon dibuat kluster, Bang. 50:23 kluster antara yang fresh graduate yang 50:27 sudah punya sertifikat pendidik alumni 50:31 PPG Prajabatan. Ini kan anak-anak kita 50:34 yang baru lulus dari kampus pendidikan 50:37 yang sudah ikut PPG prajabatan, yang 50:39 mana mereka sudah punya sertifikat 50:41 pendidik tapi belum ngajar, masih 50:43 nganggur, ya kan? Nah, klusternya satu. 50:47 kluster yang kedua untuk guru-guru kita 50:50 yang plus-plity 50:56 ya kan bukan equality bukan menyamakan 50:58 tetapi memberikan sesuai dengan 51:00 porsinya. 51:01 Jadi ada nanti seleksi untuk guru PNS 51:05 dari kluster ee PPG prajabatan yang 51:09 belum mengajar. anak-anak muda ini fresh 51:12 graduate umurnya 20-an ini dengan 51:15 kluster yang kedua, kluster poro senior 51:18 para P3K penuh waktu 35 plus dengan 51:22 mempertimbangkan lama bekerja dan dengan 51:24 mempertimbangkan variabel sertifikat 51:27 guru tadi itu. Nah, jadi saya pikir ini 51:30 harus ee apa namanya diorkestrasikan 51:33 oleh Bang Mardani Komisi 2 oleh Kemen 51:36 PAR EB. Kami berterima kasih baik lagi 51:38 tadi kepada legislatif, kepada eksekutif 51:41 Kementerian eh Dikdasmen, Kementerian eh 51:45 PAN RB, Kemenk Pasti walaupun kemarin 51:47 saya lihat mimiknya Pak Purbaya ee 51:50 kayaknya agak terpaksa atau bagaimana 51:53 wallahualam lah ya gitu karena ada Bapak 51:55 Dasco gitu ya mungkin ada Bapak Dasco 51:58 dan gimana wallahuam yang jelas ini 52:01 niatnya kami apresiasi karena sudah 7 52:03 tahun Bang Anggun kalau dosen itu setiap 52:05 tahun pasti ada rekrut PNS, staf mohon 52:08 maaf ya tenaga administrasi, tenaga 52:11 kependidikan ya kan staf pertamanan, 52:14 staf perdagangan, analisis kebijakan 52:17 setiap tahun dibuka rekrutmen PNS. Tapi 52:19 untuk guru ini sudah lama kita puasa. 52:23 Jadi alhamdulillah ini apresiasi untuk 52:26 ee pemerintah yang sudah mulai mengurai 52:29 benang kusut tata kelola guru yang 3,4 52:32 juta. Terkait tata kelola guru, saya mau 52:36 lihatin sedikit ya, minta waktu sedikit 52:38 Bang Aldi. Apa namanya? Bagaimana 52:41 rumitnya, 52:43 riwehnya kalau kata orang Bogor mah 52:45 Ramijud gitu ya. Ramijud itu apa ya? Oh, 52:49 kustut. Kustut gitu ya. Benang kustut. 52:51 Tambah lihat. Tambah lihat. 52:53 Tah eta bener leres pabaliek gitu ceuk 52:55 Sundana mah nya. Nah ini saya mau e 52:58 lihatin bagaimana pabaliutnya tata 53:01 kelola guru. Nah sekarang mulai di oleh 53:04 Bang Mardani oleh pemerintah mulai ee 53:07 diurai satu persatu nih ya kan. Apa yang 53:11 menjadi pilar tata kelola guru? 53:14 Bagi kami di P2G ada lima pilar tata 53:17 kelola guru. Yang pertama adalah pilar 53:20 kesejahteraan. 53:22 Yang kedua adalah pilar kompetensi. 53:26 Ini dua sisi mata uang. Kita ngomongin 53:29 kesejahteraan. Guru harus begini 53:31 kesejahteraannya harus tapi 53:33 kompetensinya jangan sampai kita lupa, 53:36 ya kan. Nah, ketiga, rekrutmen. Jadi, 53:39 kami ya kan berharap 53:43 upaya atau wacana 53:46 resentralisasi atau restrukturisasi guru 53:49 dikelola pusat ini betul-betul harus 53:52 hati-hati ya kan sebagai upaya untuk 53:55 mengurai benang kusut tata kelola guru 53:58 ini bagus karena rekrutmen guru kita itu 54:01 Bang Anggun antara demand suplai enggak 54:04 nyambung ya kan. Kekurangan gurunya 54:07 R00.000, 54:09 guru yang pensiun Rp0.000 setiap tahun 54:12 kurang lebih. Tapi rekrutmennya enggak 54:14 ada. Jadi kelas-kelas kita itu kosong. 54:17 250.000 54:19 lebih ruang kelas yang kosong. Kalau 54:21 kelasnya kosong siapa yang mengajar? 54:24 ya yang mengajar itu mesin ya kan 54:28 interactive flat panel itu yang dari Pak 54:29 Prabowo kan enggak mungkin karena 54:31 [tertawa] enggak betul dikirim juga 54:34 interaktif flat panel ya kan papan papan 54:38 interaktif yang cerdas itu tapi kan 54:39 enggak ada yang mengoperasionalkan 54:42 di kelas karena gurunya enggak ada 54:44 bagaimana feedback bagaimana membangun 54:47 karakter karena papan itu tidak bisa 54:50 membangun karakter anak tetap butuh guru 54:52 secara organik di ruang kelas Nah, 54:54 alhamdulillah sekarang sudah mulai 54:56 direkrut, akan direkrut 2027. Tiga. Yang 55:00 keempat, pilar apa? Distribusi. 55:03 Guru-guru kita itu sama kayak dosen, 55:06 saya enggak tahu ya, sama enggak polanya 55:07 dengan dosen Bang Anggun. Terkonsentrasi 55:09 di daerah-daerah urban ya kan. Di 55:13 daerah-daerah apa namanya? ee rural di 55:17 3T apalagi sepi peminat di situ. Tapi 55:21 kalau nanti sudah dikelola oleh pusat, 55:24 redistribusinya saya rasa makin efektif. 55:28 Tentu harus koordinasi wajib dengan 55:31 pemda, dengan komisi dua. Mana pemda 55:33 yang kekurangan guru sekarang ini, Bang? 55:36 Ni harus tahu nih publik, ya, Bang. 55:38 Bapak Dharlan Iskand juga harus tahu 55:39 begitu rumitnya ngelola pendidikan dasar 55:42 menengah ini. Di Jakarta dah enggak usah 55:45 jauh-jauh ke Jawa Timur apalagi ke Aceh 55:48 atau ke Papua. Di Jakarta saja saya 55:50 menemukan banyak Pak ya kan guru-guru 55:54 SMA itu misalnya ya yang mengajar mata 55:57 pelajaran bahasa Indonesia diajar oleh 56:00 guru informatika yang mengajar mata 56:02 pelajaran ee apa? agama diajar oleh guru 56:06 olahraga. Yang mengajar mata pelajaran X 56:09 diajar oleh guru mata pelajaran Y. 56:11 Bahkan satu guru itu sampai mengajar 40 56:14 jam 50 jam 1 minggu, yaitu 5 hari. 56:19 Gimana kualitas pembelajaran akan 56:21 terbentuk? Boro-boro berbicara wellbeing 56:24 guru, ya kan. untuk mengajar saja dengan 56:30 bahagia, dengan aman, dengan nyaman itu 56:34 tidak terpenuhi. Itu di Jakarta ya kan. 56:37 Nah, kenapa? Karena rekrutmennya enggak 56:39 ada. Adapun rekrutmen P3K ya kan tidak 56:44 sesuai dengan yang dibutuhkan 56:46 karena pemenda ruang fiskalnya sempit 56:48 dan persoalan 56:50 rekrutmen yang dibutuhkan A dikasihnya B 56:53 ini sudah lama. Bukan hanya sekarang, 56:56 sudah di era Pak Jokowi itu di periode 56:58 kedua. Bayangkan ya, yang dibutuhkan 57:02 guru pendidikan agama Islam di 1 SMA 57:05 yang dikirim ke sana guru seni rupa. 57:06 Akhirnya guru senilah yang mengajar 57:08 pendidikan agama Islam. 57:10 Yang dibutuhkan guru pendidikan 57:12 Pancasila PKn nih, kewarganegaraan yang 57:14 dikirim guru bahasa Mandarin. Akhirnya 57:16 guru bahasa Mandarin yang ngajar PKn. 57:18 coba gimana mau kompeten, gimana mau ee 57:23 patuh taat kepada prinsip 57:25 profesionalitas, 57:26 ya kan? Nah, jadi yang kelima adalah 57:29 pilar apa namanya perlindungan. Jadi 57:32 dengan adanya rencana mengangkat guru 57:34 PNS P3K penuh waktu ini at least sudah 57:38 mulai mengurai variabel pilar yang 57:41 pertama apa? kesejahteraan pasti 57:43 sejahtera insyaallah kalau sudah PNS 57:45 ketimbang P3K ya kan karena kontrak dia 57:48 apalagi P3K per waktu. Yang kedua adalah 57:52 pilar apa yang mulai diurai yaitu 57:53 rekrutmen. Yang ketiga adalah distribusi 57:56 tadi gitu. Nah guru itu banyak 58:00 undang-undang yang menghaturnya. Ada 58:01 undang-undang guru dosen. Kalau dia PNS 58:04 P3K ada Undang-Undang ASN produknya Bank 58:07 Merdani. 58:08 Ada undang-undang Siddiknas. 58:11 ada Undang-Undang Pemerintah Daerah 58:12 karena dia di bawah ee pemda i kan 58:16 pejabat pembina ke pegawainya adalah 58:18 kepala daerah dinas pendidikan di bawah 58:21 pemda undang-undangnya. 58:23 Kalau kemudian terkait dengan PPG ada 58:26 berkaitan dengan Undang-Undang Dikti 58:28 pendidikan profesinya dia 58:29 diselenggarakan di LPTK dan seterusnya. 58:31 Nah, gini gurunya Bang dosen kayak gini 58:35 enggak nih Bang Anggun 58:38 Coba? 58:40 Rumit juga, Bang, sebenarnya. 58:43 Makanya tadi saya bilang apa tadi Peliut 58:45 Ramijud orang Bogor mah ya gitu sudah 58:49 gini nih ya sudah muringke. Nah, 58:51 alhamdulillah tadi ya saya berkali-kali 58:53 mengucapkan alhamdulillah karena sudah 58:54 mulai di diurai oleh pemerintah dan DPR. 58:58 Alhamdulillah tadi. Amin. Amin. 59:01 Ada guru di bawah pemda sekarang. Pemda 59:04 pun dibagi menurut undang-undang pemda. 59:06 guru SD, guru PUD, guru SD SMP di bawah 59:09 kota kabupaten, guru SMAK, guru SMA, 59:14 guru SLB luar biasa di bawah pemerintah 59:16 provinsi. Iya kan? Apa sekarang muncul 59:20 entitas baru Bang Anggun, Pak Daran 59:22 Iskan, ada namanya SMA Unggul Garuda. 59:26 Ini gurunya sekolahnya bukan dikelola 59:28 oleh Kemikdas Dasmment, oleh daerah, 59:31 bukan. Tapi oleh Kemdikti, oleh orangnya 59:33 Pak Anggun tuh Kemdikti Sintech. 59:37 Ada lagi namanya ya sekolah rakyat 59:40 dikelola. 59:40 Kami juga enggak setuju, Pak. Enggak 59:41 setuju karena duit kami diambil, Pak. 59:43 Sekolah Garuda. 59:46 3 triliun, Pak. 3 triliun. 59:49 Masyaallah. 59:50 Sekolah rakyat itu dikelola oleh 59:53 Kemenos. Ya kan? Madrasah secara 59:56 historis ya kan sampai hari ini dikelola 59:59 oleh Kementerian Agama. 1:00:01 Nah, lalu ada lagi ee sekolah nasional 1:00:04 terintegrasi oleh Kem Dikdas DASM gitu. 1:00:07 Jadi memang ini adalah pertanyaan 1:00:11 konstitusional untuk kita 1:00:13 renung-renungkan khususnya Bang Mardani. 1:00:16 Apa itu? 1:00:18 Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 1:00:21 Pasal 31, 1:00:23 pemerintah menyelenggarakan satu sistem 1:00:27 pendidikan nasional. 1:00:29 Apakah ini bentuk wujud nyata dari satu 1:00:34 sistem pendidikan nasional itu ketika 1:00:38 sistem pendidikan kita terfragmentasi 1:00:41 atau memang inilah bentuk satu sistem 1:00:44 itu karena dia terdiri dari beragam 1:00:47 komponen. 1:00:49 Ada komponen Kemdik Dasmen mengelola 1:00:51 sekolah, komponen pemda mengelola 1:00:54 sekolah, komponen Kemenak mengelola 1:00:56 madrasah, komponen si Kemensos mengelola 1:00:59 sekolah, komponen Kemdikti Sci mengelola 1:01:03 SMA. Ini yang namanya keterkaitan antar 1:01:07 komponen-komponen yang membantu suatu 1:01:09 sistem. Apakah demikian tafsiran dari 1:01:13 pasal 31 Konstitusi kita bahwa 1:01:16 pemerintah menyelenggarakan satu sistem 1:01:18 pendidikan nasional? Ini pertanyaan 1:01:21 reflektif, kontemplatif, 1:01:24 dan sekaligus konstitutif untuk kakanda 1:01:28 Mardani Aliera. 1:01:30 Siap dijawab. 1:01:32 Billahi taufik wal hidayah. 1:01:34 Wasalamualaikum 1:01:35 warahmatullahi wabarakatuh. 1:01:38 Waalaikumsalam. 1:01:40 Terima kasih Mas Satriawan. 1:01:44 Dan sekarang kita ingin mendengar nih 1:01:45 setelah dari ee para pelaku ee Pak 1:01:50 Anggun ya dari asosiasi 1:01:51 pelaku Pak korban Pak. Korban [tertawa] 1:01:56 ini poin opinya apa dulu ini? 1:01:58 Tetap semangat [tertawa] 1:02:01 ya. Sekarang kita ingin mendengar 1:02:02 pandangan dari Pak ee Dahlan Iskan. 1:02:05 Bagaimana, Pak, terkait dengan ee 1:02:07 kesejahteraan guru kita, kebijakan 1:02:10 politik anggaran kita, apakah sudah 1:02:11 tepat? 1:02:13 [tertawa] 1:02:14 Saya kagum dengan Bung Anggun dan Bung 1:02:17 Satriawan. Kagum. Saya 1:02:20 keren. Keren. 1:02:23 Saya menikmati sekali pembicaraan dua 1:02:25 orang ini dan saya merasa bukan 1:02:29 siapa-siapa. Ee saya merasa bukan 1:02:32 siapa-siapa dalam masalah pendidikan ini 1:02:36 ya. Paling-paling saya pelaku pendidikan 1:02:38 begitu karena saya punya di keluarga 1:02:41 kami ada kira-kira 120 madrasah dan dan 1:02:45 segala macam. Tapi kok saya enggak 1:02:47 merasakan ruwetnya itu? [tertawa] 1:02:51 Gini deh, waktu saya berikan untuk Mas 1:02:54 Satriawan sama Mas Anggun 1:02:57 [tertawa] 1:02:59 enggak? Pak Dalan harus komen dulu. 1:03:01 Iya komen dulu Pak Dahlan. Justru kita 1:03:03 pengin insight dari 1:03:07 senior ini. Minimal parking dari China, 1:03:10 Pak. Pak Dahlan. Dari China ke 1:03:12 Cina. Cina. Betul Cina. Padahal tu 1:03:14 bolak-balik ke China tuh. 1:03:16 Saya malahan begini. Saya malahan begini 1:03:18 bahwa sebetulnya saya pengin memuji 1:03:21 diintrodusirnya sekolah rakyat ya kalau 1:03:24 itu betul betul untuk lapisan termiskin. 1:03:28 Karena saya mengikuti teori-teori bahwa 1:03:32 memutuskan kemiskinan yang terbaik 1:03:35 adalah lewat pendidikan itu sudah 1:03:37 kesepakatan dunia. Itu jadi hanya ee ee 1:03:41 pendidikan adalah cara terbaik untuk 1:03:45 memutus kemiskinan gitu. Nah, ee 1:03:48 sebetulnya 1:03:50 bahwa siapa sekarang yang memperhatikan 1:03:54 yang termiskin itu. Sehingga sebetulnya 1:03:56 saya saya sangat mengapresiasi lepas 1:03:59 dari apakah kenapa itu di Kementerian 1:04:01 Sosial ya saya juga aneh juga begitu 1:04:04 tapi ya pokoknya idenya orang yang 1:04:07 termiskin itu mendapat sekolah yang 1:04:10 terbaik itu menurut saya ee logika yang 1:04:14 bagus sekali karena memutus sesuatu yang 1:04:17 yang paling miskin menjadi yang paling 1:04:21 fasilitas yang paling baik itu saya 1:04:22 setuju sekali karena begini ee Saya 1:04:25 pengin melihat kecenderungan di kalangan 1:04:28 pendidikan Islam. 1:04:30 Ee dulu waktu saya masih semuda Anda 1:04:34 atau lebih muda dari Anda, itu kan tiap 1:04:37 hari mendiskusikan mengapa sekolah Islam 1:04:40 itu selalu jelek. Di tiap kota sekolah 1:04:45 terbaik itu selalu Katolik. Terbaik 1:04:47 kedua itu Kristen. Terbaik ketiga 1:04:50 mungkin negeri, baru kemudian sekolah 1:04:52 Islam. Begitu. Jadi kita selalu 1:04:54 membicarakan 1:04:56 mengapa itu terjadi begitu. Tetapi 1:04:59 kalau sekarang SDIT-nya Bang Mardani 1:05:01 yang dicari oleh orang sekarang Pak 1:05:04 SDIT-nya Bang Mardani [tertawa] 1:05:05 SMPIT-nya. 1:05:07 N makanya sekarang sekolah-sekolah Islam 1:05:11 yang melebihi 1:05:14 lebih baik dari sekolah Katolik itu 1:05:15 sudah banyak sekali. Banyak sekali ya. 1:05:19 sekolahnya Pak Mardani. Di tempat saya 1:05:21 sudah mulai inden juga. Itu di Malang 1:05:24 ada 1:05:25 keren. Keren 1:05:26 indennya 5 tahun. Jadi kalau mau masuk 1:05:29 SMA itu kelas 5 SD sudah harus mendaftar 1:05:32 dan tiap bulan sudah harus membayar. Itu 1:05:34 sekolah Islam dan tidak ada yang membawa 1:05:36 bendera NU atau Muhammadiyah. Itu 1:05:39 inisiatif-inisiatif 1:05:41 aktivis perorangan Islam yang gelisah 1:05:43 dengan mutu pendidikan. Tetapi kan tetap 1:05:46 itu mahal. hanya lapisan-lapisan 1:05:48 tertentu yang bisa yang ikut 1:05:50 memperebutkan itu yang untuk yang 1:05:53 termiskin kan tetap tidak ada. Karena 1:05:55 itu saya mengapresiasi sekali itu. 1:05:57 Tetapi bahwa kemudian ee ruwetnya ee 1:06:04 tabaliung tabaliung ya tabaliungnya 1:06:06 [tertawa] 1:06:07 tabaliut tambaliut tambaliut. Iya 1:06:11 tabutnya seperti itu. Ee saya mau pengin 1:06:14 mendengar lebih lanjut dari Mas 1:06:15 Satriawan dan ee Mas Ung. Silakan 1:06:20 ya. 1:06:20 Baik terima kasih Pak Dalan. Mungkin 1:06:23 sebelum ke Mas Satriwan sama Sang lagi 1:06:25 mungkin Pak Marani dulu silakan Pak. 1:06:27 Mungkin ada tanggapan juga tadi dari 1:06:28 paparan Pak Anggun sama Pak Satrir. 1:06:30 Ada pertanyaan konstitusional tadi. 1:06:33 Ah silakan. 1:06:35 Mungkin Mas Tegus sudah hadirkah atau 1:06:37 belum? Mungkin Mas Tegu sudah hadir bisa 1:06:39 duluan. 1:06:40 Mas Teguh apa ada? 1:06:44 Belum kayaknya, Pak. Ya, ini saya engak 1:06:45 belum ya. I sudah. 1:06:48 Oke. Yang pertama ee respon kepada Mas 1:06:52 Anggun tetaplah ee berani untuk eh 1:06:58 you are what you think. ee setuju 30% ee 1:07:04 APBN yang 20% 1:07:07 itu untuk ee pendidikan tinggi 50 1:07:12 pendidikan dasar 20-nya sisanya karena 1:07:15 memang ee piramida pendidikan kita juga 1:07:19 seperti itu. Bahkan kalau ngelihat 1:07:21 negara maju ee hampir 1 sampai 2,5% tuh 1:07:27 PDB untuk riset ya. di luar pendidikan 1:07:30 tadi gitu. Nah, karena itu saya 1:07:33 mendukung walaupun ada anomali di kita 1:07:37 Mas Anggun ya padahalan sangat paham ini 1:07:40 ee Inggris tuh 1:07:43 100 kalau enggak salah ya ee e 1:07:47 universitas kita di Inggris itu nanti 1:07:49 Mas Anggun ee Cina 400 itu Cina 3.000 1:07:53 Indonesia atau Cina Cina 3000 2000 Cina 1:07:56 2000 kita 4.000 1:07:57 iya kita kita apa 6.000 awalnya masih 1:08:00 6.000 gitu. 1:08:02 Jadi kita terlalu banyak dan terlalu 1:08:05 mudah ee membuat ee ee universitas. Nah, 1:08:11 buat saya ini juga yang perlu untuk kita 1:08:14 benahi ya karena quality matters gitu. 1:08:17 Nah, dan ee ketika kalau tadi ee ee Kang 1:08:23 Satriawan ngangkat tentang 1:08:27 ee ee sekolah 1:08:29 ee 1:08:31 Garuda gitu loh ya ee atau Mas Anggun 1:08:35 angkat tentang PRI gitu loh. ee 1:08:40 itu ada sekolah yang tujuh ee sekolah 1:08:45 baru itu anggarannya bisa sampai 3 1:08:48 triliun gitu loh. Luar biasa sekali. Itu 1:08:50 kan sama Kang Satriaw tahu itu. Dan buat 1:08:54 saya sebaiknya niat baik tetap harus 1:08:58 dengan cara yang baik ya. dan SD Inpres 1:09:02 sudah terbukti ya, bagaimana kalau kita 1:09:06 konsentrasi kepada existing sekolah, 1:09:10 kita orkestrasi dengan baik ya, 1:09:13 anggarannya betul-betul didiskutikan 1:09:15 dengan baik, dengan kualitas yang baik 1:09:18 dan dengan pola ee ee sekolah ee ikut 1:09:22 serta dalam mengatur dan mengawasi 1:09:26 anggaran beserta masyarakat setempat. 1:09:28 buat saya itu akan sangat cepat sekali 1:09:31 ya karena masyarakat itu juga sangat 1:09:33 semangat kok untuk menambah anggaran 1:09:37 sekolah ya kalau dibuka mekanisme yang 1:09:40 baiknya ya. 1:09:41 Nah, jadi ee Mas Anggun demikian maju 1:09:45 terus dan jangan takut untuk bersuara. 1:09:48 Justru adanya adaksi ini sangat penting 1:09:52 ee ee untuk terus disuarakan. Kalau Mas 1:09:56 Satriawan Salim, saya akan suarakan di 1:09:59 DPR ee lima ee pilar tadi ya ee 1:10:04 kesejahteraan, 1:10:06 kemudian profesionalitas, 1:10:09 rekrutmen, distribusi, dan ee 1:10:13 perlindungan ini ee mudah-mudahan di ee 1:10:16 Sis Diknas ini masuk ya. khusus untuk 1:10:19 target P3K jadi PNS pusat ee kami sedang 1:10:25 ee akan memanggil eh pan RB eh 1:10:29 Kemendagri BKN 1:10:31 kalau eh KemenQ dan BAPENAS kan tidak 1:10:36 diumpunnya Komisi 2. Roadmap-nya seperti 1:10:38 apa? Karena betul ini keputusan politis. 1:10:41 saya ee dukung eh Pak Dasasko, Pak 1:10:45 Prabowo untuk mengawal ini, tapi tetap 1:10:49 eh prosesnya diir is in the detail. 1:10:52 Harus hati-hati biar tidak terjadi 1:10:55 mention sana incorpor sana. Kalau ke 1:10:57 sana gua ke sono yang diperlukan guru 1:11:00 seni yang dikirim guru olahraga. masih 1:11:03 nyambung sebetulnya kalau itu. [tertawa] 1:11:06 Tapi memang ee antara sentralisasi 1:11:09 dengan otonomi sekolah yang dibangun 1:11:12 perlu ada titik temuk. Enggak boleh ee 1:11:16 ee karena lain lubuk, lain ikannya, lain 1:11:18 ladang, lain belalang. Kita harus 1:11:20 betul-betul dan jangan lupakan sekolah 1:11:23 swasta, madrasah, pesantren, dan 1:11:26 pendidikan informal dan nonformal. 1:11:28 karena semuanya ada dalam ekosistem ee 1:11:32 sistem pendidikan nasional kita ke 1:11:35 teman-teman Komisi 10. Ee nanti kalau 1:11:38 saya enggak tahu Mas Anggun mungkin di 1:11:40 dosen PTN ya, tapi kalau dosen swastafa 1:11:43 lagi kasihan sekarang. 1:11:45 Betul. 1:11:45 Karena PTN sangat PTN-nya sangat lahap 1:11:48 untuk ngambil mahasiswa tanpa 1:11:50 mempertimbangkan rahasia dosen dengan 1:11:52 mahasiswa. 1:11:53 Betul. 1:11:53 Sampai September masih ada yang nerima 1:11:57 PTN ya. 1:11:58 ee sementara PTS betul-betul kehilangan 1:12:02 buat saya ini ee ee jeruk makan jeruk 1:12:05 dan salah sekali mestinya masing-masing 1:12:08 diberikan ee ee kesempatan untuk tumbuh 1:12:12 berkembang dan berkolaborasi ketimbang 1:12:14 saling memakan. 1:12:16 Kenapa tidak saling berkooperasi gitu? 1:12:18 Saking lahapnya sampai OTT KPK itu 1:12:21 buktinya saking lahapnya. Dan betul dan 1:12:24 saya khawatir itu ee ee Penimana Gunung 1:12:28 Es 1:12:29 betul 1:12:29 ternyata banyak yang terjadi. Tapi saya 1:12:31 apresiasi juga KPK walaupun tetap 1:12:34 mengingatkan KPK fokusnya paling enak 1:12:37 karena korupsi itu extraordinary crime. 1:12:40 KPK fokusnya kepada aparat mestinya eh 1:12:43 fokusnya gitu loh sehingga betul 1:12:45 penegakan hukumnya baik. Tapi yang 1:12:47 sekarang ini bumbu-bumbu boleh tapi 1:12:49 jangan lupakan tugas pokoknya untuk 1:12:51 membersihkan korupsi. di aparat penegak 1:12:54 hukum. Karena memang di situlah salah 1:12:57 satu yang menjadi akar perlindungan dari 1:13:00 banyak hal gitu, Bang Hali. Dan saya 1:13:03 setuju anggaran pendidikan 20% harus 1:13:05 kita awal bersama. Lanjut, Bang Adi. 1:13:08 Baik. Ee terima kasih, Pak Mardani. Dan 1:13:12 sebenarnya kita sudah tiba di akhir 1:13:13 acara sekaligus tadi juga Pak Dar minta 1:13:16 Pak Agun, Pak Satriawan ya juga untuk 1:13:18 menambahkan sekaligus juga closing 1:13:20 statement ya. Eh, kita sudah masuk 1:13:23 losing statement sekaligus kalau ada 1:13:24 yang mau ditambahkan ataupun rekomendasi 1:13:28 aspirasi untuk pemerintah. 1:13:30 Eh, waktu saya closing statement saya 1:13:32 berikan untuk Mas Satriawan ya. 1:13:34 Keren, keren. 1:13:35 Silakan. Iya, terima kasih Mas Anggun. 1:13:39 Monggo. 1:13:40 Iya, Mas Anggun dulu dipersilakan 1:13:42 closing setman dulu silakan. 1:13:46 Tinggal tunggu. 1:13:46 Oke. Baik. Eh, terima kasih Mas eh 1:13:49 Haldi. Eh, saya mau nyambung ke Pak 1:13:52 Mardani tadi ya eh terkait dengan 1:13:55 grapping yang dilakukan oleh terutama 1:13:58 PTNBH ya, kampus-kampus besar yang 1:14:00 kemudian diberikan otonomi keuangan oleh 1:14:02 pemerintah berdasarkan undang-undang 1:14:04 pendidikan tinggi gitu. 1:14:06 Jadi memang ketika dulu ada semangat 1:14:08 dari pemerintah untuk kemudian 1:14:11 meminimalisir anggaran negara kepada PTN 1:14:13 gitu sehingga muncullah ada PTNBH, PTN 1:14:16 BLU dan juga PTN SATKER. 1:14:19 Ee efeknya adalah kemudian kampus 1:14:21 disuruh untuk mencari duit sendiri 1:14:23 seperti di UK gitu kan ya. Tapi kemudian 1:14:26 orang kampus ini sebenarnya tidak 1:14:28 canggih-canggih amat dalam membuat 1:14:30 bisnis gitu ya. 1:14:32 Jadi walaupun mungkin kampus bisa bikin 1:14:34 pom bensin, bikin hotel dan lain 1:14:36 sebagainya, tapi itu hanya sekian persen 1:14:39 dari keseluruhan total anggaran yang 1:14:41 dibutuhkan oleh sebuah kampus gitu. 1:14:44 Iya. 1:14:44 Kemarin kita sudah dengar juga rektor 1:14:46 ITB itu mengeluhkan asupan dari negara 1:14:49 itu cuma 18% untuk kebutuhan anggaran 1:14:52 tahunan IPB ee ITB gitu. 1:14:55 E untungnya ITB itu adalah punya banyak 1:14:57 alumni ya sehingga ee endowment fund-nya 1:15:01 mungkin okelah gitu, kerja sama dengan 1:15:03 industrinya oke. Tapi kemudian juga ada 1:15:06 PTN-PTNBH yang ada di luar Jawa gitu 1:15:08 loh. Jadi disparitas yang terjadi di 1:15:10 perguruan tinggi di Indonesia itu adalah 1:15:14 oke misalnya Unhas itu PTNBH tapi 1:15:16 kemudian kemampuan dia untuk 1:15:18 menghasilkan anggaran atau menghasilkan 1:15:20 uang itu tidak sehebat ITB atau UI yang 1:15:23 ada di Jawa. 1:15:24 Jadi tetap aja di Indonesia ini terjadi 1:15:26 ketimpangan perguruan tinggi di antar 1:15:28 wilayah gitu. Jawa ini tetap menjadi 1:15:30 sentral. 1:15:32 Pak Marani orang UI, saya UGM gitu kan 1:15:34 ya. Kita anak-anak daerah ketika SMA itu 1:15:36 penginnya ya ke ITB, UGM, UI mungkin ke 1:15:39 UNPAT dan lain sebagainya. 1:15:41 Kita penginnya kuliahnya di sana karena 1:15:43 memang tidak terjadi semacam itu ya ee 1:15:46 persebaran kualitas gitu. Berbeda 1:15:49 misalnya di Belanda. di Belanda itu 1:15:52 kalau kita ingin belajar hukum oke ke 1:15:54 Leiden. Kalau kita mau belajar ekonomi 1:15:57 ke Rotterdam gitu kan ya. Kalau kita 1:15:59 belajar pertanian ya ke Waheningan. Tapi 1:16:02 di Indonesia ini katanya ada kearifan 1:16:05 lokal ketika ada sebuah kampus ingin 1:16:07 mendirikan prodi itu katanya ada 1:16:09 kearifan lokalnya tapi itu enggak 1:16:11 kebentuk. Seharusnya misalnya di Papua 1:16:13 itu ada kampus yang hebat untuk sport 1:16:17 gitu. sport karena banyak olahragawan 1:16:20 kita itu kebanyakan orang-orang Papua 1:16:22 gitu. Harusnya ada kampus khusus 1:16:24 olahraga berdiri di Papua 1:16:27 tapi ada 1:16:29 mungkin kelautan dan lain sebagainya. 1:16:30 Jadi itu tidak terjadi persebaran itu 1:16:33 berbasis kepada kearifan lokal gitu loh. 1:16:36 Itu yang pertama. 1:16:37 Nah, jadi grabing kemudian UGM yang 1:16:39 biasanya cuma terima 3.000 mahasiswa 1:16:41 sekarang menjadi 10.000 gitu kan ya. 1:16:44 Kemudian ada Unesa juga yang kemarin 1:16:46 juga dikeluhkan oleh orang tua siswa. 1:16:48 Saya biar anak saya masuk ke Unesa itu 1:16:50 mahal, tapi kemudian kok kuliahnya 1:16:52 online terus gitu. Sampai kemarin saya 1:16:54 ketemu dengan Pak Purbaya, awalnya 1:16:56 anaknya itu kuliah di UI gitu, 1:17:00 "Dek, kok kamu kuliahnya online terus 1:17:01 sama dosennya gitu. Udah kamu kuliah aja 1:17:04 ke Amerika." Jadi Pak Purbaya akhirnya 1:17:06 anaknya disuruh ke Amerika kuliahnya 1:17:08 gitu. Jadi kalau kuliah mahal untuk 1:17:10 sekarang ya, kalau misalnya kita punya 1:17:13 duit, saya pribadi mungkin akan 1:17:14 kuliahkan anak ke Malaysia yang biayanya 1:17:17 mungkin 111 dengan UI gitu. 1:17:20 E dengan kondisi seperti ini yang 1:17:22 kasihan itu memang teman-teman PTS 1:17:25 akhirnya 1:17:26 jadi ee APK kita itu dari tahun ke tahun 1:17:29 tuh enggak enggak naik ya secara 1:17:30 signifikan. Tapi kemudian kuota yang 1:17:34 kemudian yang sangat limited ini 1:17:36 kemudian digrab oleh PTN-PTN 1:17:39 dan itu luar biasa ya. Ee kampus-kampus 1:17:41 yang kemudian dulu itu brandnya cukup 1:17:44 kuat gitu. Ada kampus di Jogja 1:17:46 arsitekturnya itu sangat kuat. 3 tahun 1:17:48 ini itu mengeluhkan kekurangan 1:17:50 mahasiswa. Itu Hatta itu perguruan 1:17:52 tinggi yang sudah top ya. Eh maksudnya 1:17:55 maksud saya itu PTS yang sudah top gitu 1:17:57 juga mengeluhkan gitu. 1:17:59 Muhammadiyah pun juga mengeluhkan. ee 1:18:01 kampus-kampus Muhammadiyah. 1:18:03 Jadi itu yang terjadi. Jadi ee kami di 1:18:06 adaksi ini berencana untuk mengugat 1:18:08 undang-undang pendidikan tinggi karena 1:18:11 karena memang ee pangkal bala ya pangkal 1:18:14 bala dari kekisruan ini itu ada di 1:18:17 undang-undang pendidikan tinggi yang 1:18:18 kemudian membuat kasterisasi itu dan 1:18:20 adanya pengambilan ya atau penarikan 1:18:23 uang negara untuk menghidupi perguruan 1:18:25 tinggi. Jadi, jadi itu yang terjadi. 1:18:29 Jadi memang ini ee yang kedua adalah 1:18:31 saya gini, saya mau coba sinkronisasi 1:18:34 ya. Sebenarnya Pak Mardani kita itu 1:18:37 banyak anak-anak pintar di Indonesia 1:18:38 gitu kan ya. Ada yang di Harvard itu 1:18:41 banyak, di Oxford itu banyak. Ketika 1:18:42 saya S2 di Oxford itu banyak anak-anak 1:18:44 pintar Indonesia. Tapi kemudian yang mau 1:18:47 jadi dosen akhirnya banyak yang enggak 1:18:49 mau gitu loh. Terakhir teman saya di 1:18:52 Kementerian e KLH terakhir dia malah 1:18:55 risen dari PNS alumni S1, S2, S3 Oxford. 1:18:58 PNS kemudian dia masuk ke dunia bisnis 1:19:02 gitu, bikin PT di Kalimantan. 1:19:04 [mendengus] Jadi, jadi itu yang terjadi. 1:19:06 Jadi, anak-anak pintar kita itu yang 1:19:07 sudah kuliah di kampus-kampus top dunia 1:19:10 itu kemudian mereka tuh merasa apa ya 1:19:13 patah hati, merasa kemudian pesimis 1:19:15 dengan kondisi saat ini gitu. Ee saya 1:19:18 saya coba kekkan dengan sekolah Garuda. 1:19:22 Kata Pak Prabowo, kata juga Prof. Stella 1:19:24 yang menjadi PIC untuk sekolah Garuda 1:19:26 ini yang kemudian dicantolkan 1:19:28 anggarannya ke Kementi Saintech. Kita 1:19:31 pun juga protes Bang Satriawan 1:19:33 sebenarnya 1:19:34 karena ngambil 3T gitu kan ya itu bisa 1:19:37 bayar buat tukin dosen gitu. Jadi saya 1:19:40 melihat anak-anak ini kan awalnya akan 1:19:43 diproyeksikan untuk kuliah di 1:19:45 kampus-kampus stop dunia mau ke Harvard, 1:19:48 ke Oxford dan lain sebagainya gitu kan 1:19:50 ya. 1:19:51 ee kuliahnya biar kurikulumnya kalau di 1:19:54 sekolah Garuda itu kan pakai kurikulum 1:19:55 internasional pakai IB gitu kan ya atau 1:19:57 pakai level gitu sehingga nanti 1:20:00 kuliahnya bisa ke luar negeri. 1:20:02 Tapi saya khawatir eh yang sudah 1:20:05 existing aja teman-teman kita yang sudah 1:20:07 kuliah di top-top kampus dunia itu pada 1:20:09 enggak mau balik ke Indonesia. Kalaupun 1:20:11 balik ke Indonesia bekerjanya tidak di 1:20:13 pemerintahan, tidak ke dosen gitu kan 1:20:15 ya. ee malahan ke perusahaan-perusahaan 1:20:18 internasional yang memberikan gaji yang 1:20:19 layak gitu. Jangan-jangan kemudian 1:20:22 sekolah Garuda itu hanya kemudian 1:20:24 menambah anak-anak muda Indonesia yang 1:20:27 kemudian merasa pesimis dengan dengan 1:20:29 negara ini, gitu. Jadi mereka mungkin 1:20:31 okelah mungkin dikawal oleh e rezim yang 1:20:33 sekarang ya. Tapi kalau misalnya sudah 1:20:35 ganti rezim itu anak-anak itu mau 1:20:38 diapakan gitu kayak misalnya program 1:20:40 dulu Habibi gitu kan ya. Untung aja Pak 1:20:42 Habib kemudian dilamar kan oleh Pak Ibnu 1:20:45 Sutowo disuruh pulang gitu. 1:20:47 Nah, kalau misalnya kondisinya adaak 1:20:50 progres gitu anak-anak itu ya sudah 1:20:52 kalau mau ganti ke warga negara 1:20:53 sudahudah kami lepas aja gitu. Sampai di 1:20:56 kami itu di dosen-dosen yang di PTN itu 1:20:59 ada juga kawan-kawan ini lagi 1:21:01 nyari-nyari lohongan di Malaysia 1:21:03 kemudian di UK atau di Taiwan yang 1:21:05 memberikan gaji yang lebih lebih apa ya 1:21:07 lebih affordable gitu ya yang lebih 1:21:09 memanusiakan dosen gitu. banyak berpikir 1:21:13 seperti itu. Jadi saya takutnya gini ee 1:21:16 kalau kalau di Prancis bang satriawan 1:21:19 itu yang menjadi guru itulah top-topnya 1:21:21 anak-anak SMA gitu. Jadi bangsa mungkin 1:21:24 bisa cari nanti di Google ada ekole 1:21:26 normale superior gitu. itu sekolah 1:21:30 pendidikan tinggi khusus guru di Prancis 1:21:33 yang itu masuk susah itu top-top 1:21:36 anak-anak pintar yang ada di SMA 1:21:38 kemudian mereka masuk ke perguruan 1:21:39 tinggi keguruan di kitanya IKEP-IKP yang 1:21:42 lama itu malah dijadikan universitas 1:21:44 negeri gitu kan ya yang konsistennya itu 1:21:46 cuma UPI mungkin ada pendidikannya yang 1:21:48 lainnya menjadi negeri IKIP Jakarta jadi 1:21:51 Universitas Negeri Jakarta ee IKIP 1:21:53 Padang menjadi Universitas Negeri Padang 1:21:55 gitu dan lain sebagainya. Cuma UPI aja 1:21:57 yang ada pendidikannya. 1:21:59 Sementara di Prancis itu untuk menjaga 1:22:01 kualitas pendidikan sudahlah gratis. 1:22:03 Kalau di Prancis dari dasar sampai S3 1:22:06 tuh gratis di Prancis guru-gurunya pun 1:22:09 juga orang-orang top gitu loh sejak SMA 1:22:11 gitu. 1:22:12 Nah, saya saya takutnya terjadi di guru 1:22:15 dan juga terjadi di dosen. Jadi, 1:22:18 anak-anak pintar kita itu 1:22:20 kemudian tidak tidak menjadi pendidik 1:22:23 dan kemudian yang menjadi guru dan dosen 1:22:25 itu orang-orang cuma level-level middle 1:22:27 gitu loh. 1:22:28 Dan itu terjadi 1:22:30 level-level middle gitu kan ya. sehingga 1:22:32 kemudian perguruan tinggi kita itu tidak 1:22:34 bisa bersaing dengan ee perguruan tinggi 1:22:37 di luar negeri. 1:22:38 Ah, yang terjadi kalau di Australia 1:22:40 mungkin ini isunya sensitif ya. Kalau di 1:22:43 luar negeri itu mereka sudah terbuka. Di 1:22:44 Australia itu mereka open aja ke luar 1:22:48 negeri gitu kan ya. Nah, kalau di kita 1:22:50 mungkin teriak orang-orang kita 1:22:52 ee ee maksudnya dosen itu bisa dari 1:22:54 negara mana pun gitu kan ya. sampai 1:22:56 kemudian di Cambridge itu misalnya yang 1:22:58 ada profesor kulit hitam pertama di 1:23:00 Cambridge itu yang sosiologi itu yang 1:23:03 bunuh diri mungkin ya dia meninggal di 1:23:05 usia muda gitu itu kan bukan dari kampus 1:23:08 top dunia jadi di Liverpool eh more gitu 1:23:12 kan ya bukan kampus top di UK gitu tapi 1:23:14 dia bisa menjadi profesor sosiologi di 1:23:16 Cambridge gitu dan itu diopen Karina Jo 1:23:20 misalnya Karinajo itu dia gak pernah 1:23:21 kuliah di Oxford Pak 1:23:24 anak Indonesia yang yang menemukanak 1:23:26 Astrazeneca itu e Mbak Kar itu 1:23:29 dia di keospok itu eh pertamanya S1-nya 1:23:32 di Taiwan kemudian dia ee pindah ke 1:23:36 Australia dari Australia dia postoknya 1:23:38 baru ke Oxford enggak pernah. Kalau di 1:23:41 kita 1:23:43 itu enggak terbuka. Ada semacam pure 1:23:45 blood gitu kan ya. 1:23:47 UI penginnya alumni dia yang jadi dosen, 1:23:49 UGM pengin alumninya dia gitu. Jadi 1:23:52 secara culture kita belum bisa terbuka. 1:23:55 Nah, jadi menurut saya ee kesejahteraan 1:23:58 ini menjadi poin penting untuk pintu 1:23:59 masuk sehingga profesi ini bisa menjadi 1:24:02 menarik buat anak-anak pintar. Itu 1:24:05 enggak masalah kata Prof. Stella kita 1:24:07 bersaing. Oke, gitu kan ya. kita mau 1:24:09 bersaing sama orang-orang kita mau 1:24:11 bersaing gitu loh, berani gitu. Tapi 1:24:13 tolong dong angkaet ee gajinya juga 1:24:17 bersaing juga gitu loh di di apa 1:24:19 disetarakan dengan ee kampus-kampus 1:24:21 besar yang ada di dunia gitu loh. Nah, 1:24:24 jadi itu mungkin ee dari saya Bang Haldi 1:24:26 terkait dengan hal fenomena perguruan 1:24:28 tinggi dan juga tentang dosen. 1:24:31 Baik, terima kasih Pak Anggun. 1:24:34 Berikutnya Pak Sriawan dipersilakan 1:24:36 closing statement-nya yang agak ringkas, 1:24:38 Pak. 1:24:39 Iya, terima kasih. Saya coba dalam tempo 1:24:42 yang sesingkat-singkatnya ya. 1:24:46 Ya, yang pertama terima kasih kepada Pak 1:24:49 Dahlan karena sudah mewakafkan waktunya 1:24:51 ke saya. 1:24:52 Yang kedua, yang kedua saya masih 1:24:55 menagih jawaban dari Bang Mardani karena 1:24:58 belum menjawab pertanyaan 1:25:00 konstitusional saya tadi itu. Itu 1:25:05 yang ketiga 1:25:06 ee memang angka bukan sekedar angka 1:25:10 angka 820 triliun itu kalau kita lihat 1:25:14 sangat jumbo fantastis sekali untuk 1:25:16 pendidikan. 1:25:18 Tapi yang lebih dari sekedar angka Bang 1:25:20 Zuldi, Bang Haldi adalah yaitu bagaimana 1:25:24 mutu pendidikan. 1:25:26 Nah, ini yang saya pikir harus 1:25:28 berdampak. berapun angka yang diklaim 1:25:30 kemudian oleh negara sebagai bagian dari 1:25:34 tanggung jawab konstitusional negara di 1:25:36 dalam menyiapkan investasi manusia 1:25:39 Indonesia ke depan itu harus berdampak 1:25:42 terhadap mutu. 1:25:44 Nah, ini memang masih menjadi PR. Eh, 1:25:48 karena tadi saya berbicara data sebagai 1:25:50 penutup, saya kasih data juga gitu ya 1:25:53 sedikit ee 1 menit mungkin Bang Haldi 1:25:56 gitu ya untuk datanya terkait dengan 1:25:59 bagaimana gambaran ee sekolah mutu 1:26:03 sekolah di Indonesia. Kira-kira ini Bang 1:26:05 Haldi, Bang Mardani 1:26:09 hanya 1:26:10 70 kecamatan 1:26:12 ya di Indonesia atau 1% dari jumlah 1:26:16 kecamatan di Indonesia yang punya SD, 1:26:20 SMP, SMA dengan capaian akreditasi 1:26:24 minimal B. 1:26:26 Bayangkan ya, hanya 75 kecamatan saja 1:26:29 dan itu terkonsentrasi lagi-lagi di 1:26:31 Pulau Jawa. 1:26:33 Di Sumatera hanya ada empat atau lima 1:26:35 kecamatan dan di luar itu tidak ada. 1:26:39 Nah, jadi ee apa namanya? Ee ini kan 1:26:44 menjadi persoalan di kita gitu ya. E 1:26:46 mohon maaf maksud saya di Jawa 1:26:48 terkonsentrasi di Pulau Jawa, kemudian 1:26:51 di Sumatera, di Bali juga ada gitu ya. 1:26:54 Di Bali juga ada. tetapi di daerah di 1:26:56 luar itu tidak ada. Nah, ini kan menjadi 1:27:00 gambaran bahwa ee 1:27:03 angka atau anggaran yang super fantastis 1:27:06 itu ternyata belum mampu untuk 1:27:10 menggerakkan sekolah-sekolah kita itu 1:27:13 menjadi sekolah-sekolah yang bermutu. 1:27:16 Kan begitu. 1:27:17 Nah, makanya 1:27:19 saya melihat bahwa klaim anggaran 1:27:22 pendidikan terbesar kalau itu tidak 1:27:25 berdampak terhadap ya kan pengembangan 1:27:27 sumber daya manusia yang unggul ya kan 1:27:31 yang baik gitu ya, yang kemudian menjadi 1:27:34 manusia seutuhnya yang sekolahnya itu 1:27:37 sekolah yang aman, lingkungannya yang 1:27:40 baik gitu ya, proses pembelajarannya 1:27:42 berkualitas ya. Lantas seperti apa? 1:27:45 Sebagai penutup ya, yang menjadi 1:27:49 tantangan terbesar sebenarnya di dalam 1:27:50 tata kelola pendidikan itu yaitu satu 1:27:53 hal saja. Apa namanya? Adalah 1:27:56 diskontinuitas. 1:27:59 Keterputusan atau ketidakberlanjutan 1:28:02 program-program 1:28:04 ini menjadikan pendidikan kita itu kayak 1:28:08 undur-undur, maju mundur, maju mundur. 1:28:11 Ya kan? Nah, jadi saya melihat 1:28:15 harusnya pemerintah DPR itu menggunakan 1:28:20 kaidah yang ada di apa pesantren 1:28:23 misalnya 1:28:24 apa itu kira-kira yang lama-lama yang 1:28:27 baik itu enggak apa-apa diteruskan, 1:28:30 ya kan? tetapi harus juga kreatif dalam 1:28:33 menciptakan hal-hal yang baru. Nah, di 1:28:36 dalam pemerintahan kita yang saya lihat 1:28:38 sebagai pendidik ya kan apa yang lama 1:28:41 itu ya harus diganti gitu kan ya. 1:28:43 Padahal itu sebenarnya ada bagian-bagian 1:28:45 yang apa namanya khanah juga yang baik. 1:28:48 Nah, saya khawatir seperti sebagaimana 1:28:51 Bang Anggun apakah ada jaminan kemudian 1:28:54 sekolah nasional terintegrasi SMA Unggul 1:28:57 Garuda yang anggarannya itu sudah 1:28:59 puluhan triliun. Ditambah lagi sekolah 1:29:02 rakyat. Sekarang sudah ada 166 kalau 1:29:06 tidak salah targetnya Pak Presiden 500 1:29:08 sekolah rakyat itu anggarannya ya 1:29:11 mungkin sudah ratusan triliun atau 1:29:12 puluhan triliun gitu. Apakah ada jaminan 1:29:15 kemudian itu dilanjutkan oleh 1:29:18 pemerintahan berikutnya? Nah, ini yang 1:29:22 membuat kemudian tata kelola pendidikan 1:29:24 kita itu maju mundur. Jadi, bagi saya 1:29:27 tantangan paling besar itu bukan siapa 1:29:29 pemimpinnya, tapi terjadinya 1:29:31 keterputusan tadi discontinue tadi itu. 1:29:35 I kan. Nah, kenapa 1:29:39 nih? Tuh, 1:29:41 lagi. Belum lagi kurikulumnya, Bang. 1:29:43 Kurikulumnya ganti 1:29:44 betul belum lagi kurikulumnya [tertawa] 1:29:46 ya kan. belum begitu. Nah, jadi 1:29:48 dan kawan kami di Papua, Bang. Kawan 1:29:50 kami di Papua itu ada perguruan tinggi 1:29:52 di Papua itu kita enggak ngajarin 1:29:55 materi, Bang. Itu ngajarin baca tulis, 1:29:57 Bang. Udah mahasiswa. 1:29:58 Betul penutup, ya. Jadi berdasarkan data 1:30:03 apa namanya penghitungan dari human 1:30:05 capital index HCI yang variabel HCI itu 1:30:11 dibentuk oleh apa namanya? literasi, 1:30:14 numerasi, kemudian ee prevalensi 1:30:17 stunting gitu ya. Terkait kemampuan 1:30:20 dasar literasi numerasi itu anak-anak 1:30:23 kita memang ya kan yang kelas SMA itu 1:30:28 kemampuannya setara dengan kelas 6 SD. 1:30:31 Iya. 1:30:32 Nah, kemarin Pak Mardani seminggu yang 1:30:35 lalu Gubernur Jawa Barat itu coba survei 1:30:39 ya kan benar enggak ini gitu ya. 1:30:41 Ternyata saya enggak usah sebut SMA-nya, 1:30:43 itu sudah viral. SMA Negeri 2 di 1:30:46 Kabupaten Bekasi. SMA Negeri 2 di 1:30:49 Kabupaten Bekasi ya kan. Salah satu 1:30:51 kecamatan di Kabupaten Bekasi itu 4* 9 1:30:55 aja enggak tahu 1:30:57 itu kelas 12 SMA, Pak. Viral Pak itu. 1:31:00 Nah, ini bagi kami yang ada di 1:31:03 pendidikan dasar menengah bukan hal yang 1:31:05 baru, ya kan? data-data apakah itu PISA 1:31:09 yang sering berulang-ulang kita kutip ya 1:31:11 kan yang terbaru misalnya ee tka gitu 1:31:15 ya, tes kemampuan akademik itu nilai 1:31:18 kita ee ini penutup Bang Ali mohon maaf 1:31:20 ya, saya minta waktunya ee apa satu atau 1:31:23 2 menit lagi nih minta nambah lagi ini 1:31:24 ya. Nah, eh tes tes kemampuan akademik 1:31:29 ya kan ini perlu ditagih oleh Bang 1:31:31 Mardani juga kepada pemda 1:31:34 ya kan. Selain kepada pemerintah pusat 1:31:36 ya pemda juga harus bertanggung jawab 1:31:38 sebenarnya karena tanggung jawabnya 1:31:39 bersama. Nih lihat nilai tes kemampuan 1:31:43 akademik anak-anak kita jenjang SMA SMK 1:31:47 tahun 2025 Madrasah Aliah juga berapa 1:31:51 nilai matematikanya Bang Mardani? Nilai 1:31:54 rata-rata anak-anak kita 36,10 1:31:58 Pak dari skala 0 sampai 100. Bayangkan 1:32:02 ya kan? Nah, bahasa Inggris 24,93, 1:32:07 bahasa Indonesia 55,38. 1:32:11 Oke. Mata pelajaran ciri IPA kimia 34,92 1:32:17 ya kan. Apalagi fisika 37,65, 1:32:21 matematika lanjut 39,32 1:32:24 nilainya. Nah, jadi wajar ketika ditanya 1:32:29 oleh Gubernur Jawa Barat anak kelas 12 1:32:31 SMA negeri tidak tahu 4 * 9 ya kan. 1:32:36 Hal-hal yang sifatnya matematika dasar. 1:32:39 Nah, makanya dalam formula human capital 1:32:42 index itu dikatakan bahwa tingkat 1:32:45 produktivitas anak Indonesia yang lahir 1:32:48 saat ini ya kan di tahun 2038 itu hanya 1:32:53 50 1:32:55 apa namanya 54%. 1:32:58 Artinya dari 100 yang mereka produksi di 1:33:01 di tahun ee 2000 38 nanti hanya 54 yang 1:33:06 bisaisa yang bisa mereka buat. Thailand 1:33:09 itu 61, Malaysia 61, Brunei 63, Vietnam 1:33:13 jauh dari kita. Di atas kita 69. Enggak 1:33:16 usah dah Singapura walaupun Bang Mardani 1:33:18 mau nyontoh Singapura juga ketinggian 1:33:21 ya. Dia nomor 1 88 dia. Nah, jadi apa 1:33:25 namanya ee anak yang lahir di 1:33:29 tahun-tahun ini ya 2018 waktu itu 1:33:32 2018-2020 di tahun 2038 tingkat 1:33:35 produktivitasnya hanya sampai 54. kita 1:33:37 nomor 96 ya kan. Nah, jadi ini kategori 1:33:41 menengah ke bawah gitu. Nah, jadi 1:33:44 anggaran besar memang tantangannya 1:33:46 adalah bagaimana mampu menggerakkan 1:33:49 berdampak terhadap mutu pendidikan, 1:33:52 berdampak terhadap kualitas pendidikan 1:33:55 nasional kita. Nah, itu yang menjadi PR 1:33:57 dan saya berharap Bang Mardani menagih 1:34:00 juga kepada pemda ya kan. Pemda jangan 1:34:03 ributnya ketika TKD berkurang saja ya 1:34:07 kan. Ketika [berdehem] pendidikannya ee 1:34:10 stagnan di bawah terus gitu pemda enggak 1:34:12 enggak pernah ribut. Nah mohon sesekali 1:34:14 diingetin ya dijewer dengan kasih 1:34:17 sayang. Terima kasih 1:34:18 pemda yang bagus itu. [tertawa] 1:34:21 Itu pemda Jabar bagus itu nanya-nanya 1:34:23 itu KDM 1:34:27 nanya nanya-nanya nanya. ini saya saya 1:34:31 ee kalau ditonton oleh ee yang bagian 1:34:34 sono itu saya pernah di digeruduk ya di 1:34:37 Instagram saya karena dulu berdebat di 1:34:41 salah satu televisi nasional kami dari 1:34:43 P2G mengkritisi cara ee Pak Gubernur 1:34:47 untuk menyelesaikan persoalan pendidikan 1:34:49 di Jawa Barat. Anak-anak yang nakal 1:34:52 dikirim ke barak ya kan. Nah, itu kami 1:34:55 kritisi pakai data, pakai teori ya di 1:34:58 Amerika, di Eropa dan seterusnya. Wah, 1:35:01 akhirnya 1:35:02 apa Instagram saya diserbu gitu ya. Wah, 1:35:05 dan seterusnya dan seterusnya. Nah, jadi 1:35:07 saya sih tidak masalah ya kan yang jelas 1:35:10 pendidikan di daerah tidak selesai 1:35:13 dengan cara memberikan uang Rp100.000 1:35:16 sejuta kepada satu orang. Ini persoalan 1:35:19 bukan personal tapi struktural. Jawa 1:35:22 Barat adalah provinsi dengan anak tidak 1:35:24 sekolah tertinggi di Indonesia. Sekali 1:35:27 lagi, Jawa Barat adalah provinsi dengan 1:35:31 angka anak tidak sekolah tertinggi di 1:35:33 Indonesia. 1:35:35 Memang penduduknya juga paling banyak 1:35:37 kan ya. [tertawa] 1:35:40 I Baik, terima kasih Mas Satriawan ee 1:35:45 atas closing statement-nya. 1:35:46 Mudah-mudahan nih aspirasi harapannya 1:35:49 didengar oleh Pak Presiden 1:35:51 Amin. Amin. 1:35:52 Amin. 1:35:53 Amin. Dan terakhir Pak Mardani. 1:35:54 Persilakan Pak closing statement. 1:35:57 Saya ngikut sunahnya Pak Dahlan Iskan. 1:36:00 Mudah-mudahan Pak Prabowo, Pak Purbaya, 1:36:04 Pak Dasko mendengarkan acara kita malam 1:36:08 ini. Yang berikutnya insyaallah 1:36:11 dosen-dosen kita tersenyum dan semangat 1:36:15 mengajar. Guru-guru kita ee punya 1:36:19 kesejahteraan yang membaik dengan 1:36:21 profesionalitas 1:36:23 dan murid-murid kita yang utama. Bukan 1:36:25 cuma tes visanya, bukan cuma TKA-nya, 1:36:29 tapi tetap memiliki iman, takwa, dan 1:36:32 akhlak nul karimah. Begitu, Bang Ali. 1:36:36 Baik, terima kasih Pak Mardani atas 1:36:39 closing statement-nya dan juga Pak 1:36:42 Anggun, Pak Satriawan, dan juga Pak 1:36:44 Dalan Iskan. Eh, tema tentang guru ini 1:36:47 fundamental karena masa depan suatu 1:36:49 bangsa ditentukan oleh kualitas guru. 1:36:52 Kualitas guru sangat didukung oleh 1:36:54 kesejahteraan guru tadi ya. Ketika Anda 1:36:57 bayar 1:36:58 pinut yang didapat adalah monkey gitu 1:37:00 ya. Jadi, 1:37:01 tapi ketika PKS diserang terkait dengan 1:37:04 ee pendidikan ya langsung pasang tuh 1:37:07 sekian doktor ee PKS yang menjadi 1:37:10 anggota DPR. Luar biasa. 1:37:12 Iya. Ini Dr. Marda pun ee kita simpan 1:37:15 juga nih dokternya. [tertawa] 1:37:19 Baik, Bang. 1:37:20 Dokter enggak penting, yang penting 1:37:22 pendidikannya membaik. 1:37:23 Enggak dalam artian gini, apa namanya 1:37:25 itu kita merasa ee PKS sejak awal memang 1:37:28 sangat konsen dengan pendidikan gitu kan 1:37:30 ya. Heeh. 1:37:31 Ya, harapannya ini menjadi menjadi 1:37:33 semacam itu ya, Bang Satriwan ya. 1:37:36 Ee kita menitipkan harapan gitu loh 1:37:37 kepada teman-teman PK 1:37:40 sama pendidikan tuh hampir tiap bulan. 1:37:42 Anda ada di L Satriwan enggak bos-bos. 1:37:46 Satu, Bang, Bang [tertawa] Marani satu. 1:37:48 Kita ee forum ini kekurangan kehilangan 1:37:51 satu guru lagi. B, Pak, 1:37:54 Bung Rocky nanti gabung. 1:37:55 Eh, nanti kita undang. Ah, kita coba 1:37:57 undang. 1:37:58 Kita akan undang lagi. 1:38:00 Kemarin dia minta cuti panjang. Kalau 1:38:02 ada Bu Rocky Pak Dahlan lebih keren lagi 1:38:04 kita tuh ya. 1:38:04 Iya. Nanti coba kita undang lagi. 1:38:06 Tapi kita senang karena kalau kami 1:38:08 diadaksi itu memang ee dosen-dosen akar 1:38:10 rumput ya mungkin bahasa kasarnya 1:38:13 dosen-dosen kere gitu kan ya. Jadi jadi 1:38:16 kami senang karena di kami walaupun 1:38:18 banyak profesor tapi yang jadi pengurus 1:38:20 itu anak-anak muda. Jadi dosen-dosen 1:38:22 muda. 1:38:22 Bagus. Bagus. 1:38:23 Nah karena karena memang kami melihat ee 1:38:25 wacana profesor itu tidak masuk ke inti 1:38:28 persoalan gitu loh. 1:38:30 Betul. Betul. Jadi mereka punya koneksi 1:38:32 ke kementerian, tapi masalah ini enggak 1:38:34 pernah mereka bicarakan. Mereka sudah 1:38:36 nyaman dengan zonanya, gitu. 1:38:38 Jadi terima kasih Pak Mardani sudah 1:38:40 berikan kesempatan buat kita dosen-dosen 1:38:42 adaksi yang 1:38:43 siapap kita undang lagi ya untuk tema 1:38:46 yang lebih spesifik nanti. 1:38:48 Iya. Baik, ee terima kasih Pak Mardani 1:38:52 dan seluruh narasumber atas ee 1:38:55 partisipasinya pada malam hari ini. Ee 1:38:58 besar harapan tadi banyak masukan, guru 1:39:01 bisa lebih sejahtera. Tujuannya adalah 1:39:03 untuk meningkatkan kualitas pendidikan 1:39:05 dan ujungnya adalah untuk meningkatkan 1:39:07 ee kualitas ee sumber daya manusia dari 1:39:10 anak-anak kita semua ee di rumah ya di 1:39:12 Indonesia. dan mari kita dukung ee fokus 1:39:16 kebijakan keberpihakan anggaran 1:39:18 pemerintah untuk pendidikan dan 1:39:20 mudah-mudahan pemerintah menaati 1:39:22 keputusan MK ya Bang Setriwan 1:39:25 yang sudah membatalkan terkait anggaran 1:39:27 MBG ee dan dialihkan sepenuhnya untuk 1:39:30 pendidikan. Terima kasih sampai ketemu 1:39:32 pada acara inal pekan depan pada waktu 1:39:35 dan channel yang sama. Asalamualaikum 1:39:36 warahmatullahi wabarakatuh. 1:39:37 Waalaikumsalam warahmatullah 1:39:38 wumsalam.