Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:09 [musik] 0:12 Brail 0:24 [musik] 0:37 Bismillahirrahmanirrahim. 0:38 Asalamualaikum warahmatullahi 0:40 wabarakatuh. 0:42 Waalaikumsalam. 0:43 Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma 0:45 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:48 sayyidina Muhammad. Dipancar luaskan 0:51 dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36 0:54 Kalimagis Cibubur Bekasi. Radio 0:57 Silaturahim untuk Islam yang satu. 1:00 Ikhwat dan akhwat pendengar setia Radio 1:03 Silaturahim di mana pun Anda berada. 1:05 Bagaimana kabarnya di siang hari ini? 1:08 Semoga selalu dalam keadaan sehat 1:10 walafiat dan selalu dalam lindungan 1:13 Allah Subhanahu wa taala. 1:17 Di tengah kesibukan siang hari ini, mari 1:19 sejenak kita tenangkan hati, kita buka 1:22 pikiran, dan kita dekatkan diri kepada 1:24 Al-Qur'an. Karena saat ini, ikhwan dan 1:27 akhwat, kita akan ee mengikuti kajian 1:31 tafsir Ibnu Katsir yang pada kesempatan 1:34 kali ini akan membahas surah Fatir ayat 1:37 5 dan ayat 6. 1:39 Allah Subhanahu wa taala mengingatkan 1:41 kita agar kita tidak tertipu oleh 1:44 kehidupan duniawi serta mengingatkan 1:47 tentang permusuhan setan yang senantiasa 1:51 berusaha menyesatkan manusia. Kajian 1:54 kita di siang hari ini akan disampaikan 1:57 oleh guru kita Ustaz Umar Rasyid Hasan. 2:00 Dan semoga melalui kajian di siang hari 2:04 ini kita semakin memahami pesan 2:06 Al-Qur'an, semakin waspada terhadap tipu 2:10 daya dunia dan setan, serta semakin kuat 2:13 dalam menjaga keimanan dan ketakwaan 2:16 kepada Allah Subhanahu wa taala. 2:18 Asalamualaikum warahmatullahi 2:19 wabarakatuh, Ustaz. 2:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:22 wabarakatuh. Sehat, Ustaz ya? 2:24 Alhamdulillah wasyukurillah. 2:26 Alhamdulillah. 2:26 Baik ikhwan dan akhwat. Langsung saja 2:28 kita akan menyimak pemaparan tausiah 2:31 yang akan disampaikan oleh guru kita. 2:33 Tafadol ustaz. 2:35 Bismillahirrahmanirrahim. 2:37 Asalamualaikum warahmatullahi 2:39 wabarakatuh. 2:40 Waalaikumsalam. 2:42 Innalhamdalillah 2:43 nahmaduhu wa'inuhu wafiruh 2:47 wa naud nazubillahi min sururi anfusina 2:51 waminati a'malina. 2:54 Man yahdihillahu fala mudillalah 2:57 waman yudlil fala hadiyaalah. 3:00 Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la 3:03 syarikalah wa ashadu anna muhammadan 3:06 abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ala 3:09 Muhammadin wa ala alihi wasohabati 3:12 ajmain. Amma ba'd. Subhanaka la ilma 3:16 lana illa ma alamtana innaka antal 3:20 alimul hakim. 3:22 Watub alaina innaka ant tawabur rahim. 3:26 Allahumma inna naudubika min ilmin la 3:28 yanfa wamin qolbin la yaksya wamin 3:31 nafsin la tusba wamin dawatin la 3:33 tustajabulah. 3:35 Allahum in nasaluka il nafq wasia wa 3:39 amalan mutaqbala. 3:40 Amin ya Allah. 3:44 Ikhwat al iman yang dirahmati Allah 3:46 subhanahu wa taala. 3:48 Mari sama-sama kita 3:51 mengosongkan pikiran dulu nih yang sudah 3:54 kita gunakan dari semenjak 3:57 sepertiga malam sampai 4:00 sekarang menjelang pukul . Ya. [tertawa] 4:05 Ya. tentunya sudah banyak sekali 4:08 aktivitas yang kita kerjakan, 4:11 baik itu 4:13 ee aktivitas yang 4:16 ee berkaitan dengan dunia karena kita 4:20 memang sedang hidup di dunia 4:23 atau mungkin dalam 4:25 kegiatan yang sifatnya itu ee lebih pada 4:30 mendahulukan 4:32 urusan-urusan akhirat 4:34 dalam kehidupan ini. I 4:37 ikhwan fillah pendengar Radio Rasil di 4:40 mana saja berada. 4:42 Sebelumnya mari kita sama-sama bersyukur 4:44 kepada Allah Subhanahu wa taala atas 4:46 nikmat yang Allah berikan pada kita yang 4:49 kalau kita menghitung nikmat itu Allahu 4:51 Akbar tiada bisa kita menghitungnya. 4:54 Subhanallahiladzim. 4:57 Dan agar kesyukuran kita dianggap 4:59 sempurna 5:01 oleh Allah Subhanahu wa taala, sisipkan 5:03 di dalamnya selawat dan salam kita yang 5:06 kita peruntukkan 5:08 buat Nabi kita Muhammad sallallahu 5:11 alaihi wasallam wasallam. 5:12 Semoga kiranya kita termasuk hamba 5:15 Allah, umat beliau. 5:17 Amin ya Allah. 5:18 Yang akan mendapatkan syafaatul udma di 5:20 hari kemudian nanti. 5:21 Amin ya Allah. [berdehem] 5:23 Amin ya rabbal alamin. 5:28 Ikhwat al iman 5:31 yang Allah muliakan, baik yang ada di 5:35 Cibubur 5:37 atau yang ada di Sukabumi, 5:40 di Batam dan lain-lain tempat. 5:45 Sudah saatnya kita 5:48 ee pada kehidupan ini menggunakan 5:53 akal sehat kita dan 5:56 mencoba menggiring akal sehat itu pada 6:00 ee 6:02 amal-amal 6:05 yang nilainya itu adalah nilai 6:11 agama ya, nilai 6:15 keyakinan 6:17 dan nilai 6:19 yang nuansanya itu adalah amal saleh. 6:23 Semua itu berdasarkan 6:26 pada fakta bahwa nanti manusia 6:29 membutuhkan itu di akhirat. 6:32 Nah, adanya 6:35 perlakuan-perlakuan baik dan buruk itu 6:39 nampaknya sumbernya itu dari pikiran 6:43 ya. Oleh karenanya pikiran-pikiran kita 6:46 ini mari kita fokuskan untuk 6:49 menjadikan amal-amal kita ini 6:53 adalah amal-amal yang bisa kita 6:56 pertanggungjawabkan 6:57 kelak saat kita berjumpa dengan Allah 6:59 Subhanahu wa taala. di ayat yang akan 7:01 kita bahas 7:03 ini surat surat fatir ini semalam ustaz 7:07 menalaahnya 7:08 ee mungkin ada kaitan dengan ayat yang 7:11 ke-16 dengan 45 nantinya tapi tidak 7:16 semua kita baca ee tafsirnya lebih 7:19 kepada terjemahnya dulu karena waktu 7:21 yang mepet. Di ayat kelima dan ke ee di 7:24 ayat kelima dan keenam Allah Subhanahu 7:26 wa taala firmankan di surat Fatir ini. 7:29 Auzubillahim minasyaitanirrajim. 7:35 [berdehem] 7:37 Ya 7:39 ayyuhannasu 7:40 in Allah ini kur ini kacamatanya kurang 7:44 sayaakar 7:46 sur 7:46 enggak apa-apa enggak apaar Quran ya 7:48 enggak apa 7:50 ya. 7:53 inallahiq 7:59 fala tagurrannakumul 8:02 hayatud dunya 8:04 wala yagurrannakum 8:07 billahil garur 8:11 innasyaitana 8:13 lakum aduwun fattakhiduhu 8:16 aduawa 8:19 innama yadu 8:27 Ah, ini dua ayat. 8:29 Silakan baca artinya, Habib Agus. Biar 8:33 jemaah pendengar 8:35 mm juga menelaah tentang maknanya. Kalau 8:40 dekat enggak bacaannya? 8:43 Iya. 8:46 Atau dibebaskan ini ya terjemahan bebas 8:49 di ustaz aja ya. Heeh. 8:50 Oke. 8:52 Bismillahirrahmanirrahim. Ini maknanya, 8:54 ikhwat al iman, seruan Allah Subhanahu 8:57 wa taala kepada 8:59 semua jenis manusia. 9:04 Tidak hanya pada 9:06 ee orang-orang yang beragama Islam saja. 9:11 Kalau nas dalam Al-Qur'an itu umum 9:13 sifatnya, tidak bernuansakan kekhususan. 9:17 Wahai segala manusia, 9:19 semua manusia." Allah Subhanahu wa taala 9:22 katakan, 9:24 "Sesungguhnya 9:26 janji-janji Allah itu adalah benar." 9:31 Ya, janji-janji Allah itu adalah benar. 9:34 Janji tentang Allah akan memberi rezeki. 9:37 Janji ee bahwa Allah akan menghidupkan, 9:41 mematikan. 9:43 Janji bahwa Allah itu akan menghidupkan 9:46 kita setelah mati. 9:49 Janji Allah Subhanahu wa taala bahwa 9:50 kita akan dikumpulkan di akhirat nanti 9:53 di Padang Mahsyar. Lalu subhanalladzim 9:56 digiring setelah selesai penghakiman 9:59 manusia itu ada yang ke dalam surga, ada 10:03 yang ke dalam neraka. Nauzubillah 10:04 minzalik. 10:06 Inna wa'dallahi haqq. Sesungguhnya 10:10 janji-janji Allah itu adalah benar. 10:15 Oleh karenanya, Ikhwat al iman, 10:16 diingatkan di sini oleh Allah Subhanahu 10:18 wa taala jika memang janji Allah itu 10:21 benar, 10:23 tidak ada ee keraguan di dalamnya, itu 10:29 Allah katakan, "Fala tagurannakumul 10:32 hayatu dunya." 10:34 Maka saat kalian hidup di dunia ini, 10:37 jangan coba-coba ingin ditipu oleh 10:40 dunia. 10:42 Itu 10:43 jangan ingin dunia itu memperdayakan 10:46 kalian. 10:48 Betul. Memang dalam sebuah hadis ini 10:50 tafsirnya Abi Agus bahwa ya ayyuhannas 10:54 innad dunya khodiratun khulwah. Wahai 10:58 manusia, bahwa dunia itu hijau dan 11:02 menawan. 11:04 Lalu manis rasa dunia itu. Ternyata 11:07 subhanallah manis rasa dunia itu. Itu h 11:12 janganlah kalian terpedaya 11:17 oleh dunia saat hidup di dalamnya. 11:20 Hmm. 11:22 W yagurnakum 11:24 billahil garur. Dan jangan sekali-kali 11:28 kita hidup di dunia ini. Masyaallah. 11:37 Coba Abi Agus diartikan. 11:39 Wagakum billahil. Ustaz matanya kurang 11:43 pas. Ini artinya 11:45 wumillahil 11:48 salah. 11:49 Wahai manusia, sungguh janji Allah itu 11:51 benar. Maka janganlah kehidupan dunia 11:54 memberdayakan kamu dan janganlah setan 11:56 yang pandai menipu memperdayakan kamu 11:59 tentang Allah. 12:00 Nah, di sini ada damir untuk setan. 12:03 Ternyata 12:05 banyak setan-setan yang ada di dunia ini 12:08 memperdaya kita sehingga kita lupa 12:12 terhadap Allah Subhanahu wa taala yang 12:15 menciptakan kita. 12:18 Kita ditipu oleh setan 12:22 agar kita ini lalai, jauh dari Allah 12:25 Subhanahu wa taala. Setelah kita 12:27 memiliki segala sesuatu yang ada di 12:29 dunia ini ya, jabatan, 12:32 ya ilmu pengetahuan, ya pengalaman 12:35 hidup. Betul enggak, Bagus? 12:37 Betul. 12:38 Ya kan? Bahkan kemiskinan itu sendiri 12:40 sudah kita dapatkan. kesengsaraan, 12:43 penderitaan itu sama mendapatkannya. 12:48 Itu terlebih parah jika orang yang 12:51 mendapatkan di dunia ini kemiskinan, 12:54 kesengsaraan, masih bisa ditipu juga 12:56 oleh setan dengan tidak sabar, dengan 13:00 banyak mengeluh, dengan banyak ah protes 13:03 pada Allah Subhanahu wa taala. 13:06 tidak berupaya untuk merubah nasib gitu, 13:10 bahkan ngedumel istilahnya kan. Nah, itu 13:13 malas itu. Nah, ini 13:18 di dalam ayat yang keenamnya subhanallah 13:21 Allah ingatkan 13:23 justru kondisi dan posisi setan itu 13:27 innana lakum adu. 13:31 Sesungguhnya setan itu dikenalkan oleh 13:33 Allah Subhanahu wa taala. Dia makhluk 13:36 Aku kata Allah yang tidak mungkin kalian 13:38 melihatnya. Mereka melihat kita manusia. 13:44 Sesungguhnya setan itu lakum wahai 13:47 manusia bagimu adua. 13:51 Adu itu adalah musuh. E bahkan boleh 13:55 dikatakan musuh bebuyutan. 13:59 Hm. Itu musuh bebuyutan. Kalau musuh 14:03 bebuyutan itu sampai kiamat 14:06 terus-terusan jadi musuh kita. Dan ini 14:09 ingatan Allah pada kita. 14:13 Mengingatkan Allah pada kita agar kita 14:15 paham betul-betul 14:17 bahwa kedudukan keberadaan setan itu 14:21 adalah musuh kita. 14:24 Fattakiduhu adua. Oleh karenanya jadikan 14:27 dia betul-betul musuh kita. Jangan 14:29 dijadikan teman. Kalau setan dijadikan 14:32 teman, akan merusak semuanya. Karena 14:34 hakikatnya dia musuh 14:37 gitu. 14:39 Dia akan menghancurkan ekonomi kita, dia 14:41 akan menghancurkan ee cita-cita kita, 14:45 dia akan menghancurkan keluarga kita, 14:47 dia akan menghancurkan generasi kita, 14:50 bahkan negara kita. Itu setan. 14:56 [mendengus] 14:58 Innama yadu hizbahu liyakunu min 15:01 ashabisir. 15:03 Dan sungguh Allah 15:05 memberikan ee keterangan dalam ayat ini, 15:09 keterangan yang sangat jelas. Jika 15:12 kalian tidak menjadikan setan itu 15:14 sebagai musuh, bahkan 15:18 sebagian kalian mengambil menjadikan 15:20 setan itu sebagai teman, innama yadu. Ya 15:24 kan? Sesungguhnya setan yang dijadikan 15:27 teman itu mengajak kalian hizbahu. 15:31 Apa hizbahu di sini? Golongannya. 15:34 Golongan yang ee ditipu oleh setan ya. 15:39 Yaitu golongan yang ee diperdaya 15:43 hidupnya oleh setan. Ke mana setan itu 15:46 mengajak golongannya? 15:49 min asir agar golonganolongannya itu 15:55 dibawa 15:56 ke dalam neraka syair. 15:59 Nauzubillahi 16:01 tumma naudubillah. 16:04 Ikhwan pillah, kita sama-sama 16:06 menganalisa tentang hizab ini. Tentang 16:09 daripada hizib. Hizab itu tadi golongan. 16:14 Golongan yang mana? Yaitu golongan yang 16:16 tertipu oleh setan. 16:19 Abi Agus coba kita mungkin kita juga 16:21 sekarang yang tergoda oleh naudubillah 16:25 minzalik. Nah, gini 16:29 ee pada kondisi apa sih 16:33 setan itu banyak memperdaya manusia? 16:39 Kalau kita sekarang ee mengambil 16:42 sebagian ayat ini untuk kita pikirkan, 16:45 ternyata kalau kita seperti semalam 16:48 ustaz berpikir ini dari segi apa setan 16:51 itu banyak e menjadikan manusia itu 16:54 sebagai golongannya. Ternyata 16:58 dari pemikiran Ustaz ya beda mungkin 17:01 dengan pemikiran lain. Hasil pemikiran 17:03 saya semalam ternyata setan itu banyak 17:06 mengambil golongannya itu dari dunia 17:09 akademisi. 17:11 Subhanallahiladzim. 17:13 Kenapa, Ustaz? 17:14 Hah? Dari apa, B Gus? 17:16 Kenapa, Ustaz? 17:17 Kenapa, Pak Ustaz? 17:20 Mereka itu setan-setan itu banyak 17:23 mengambil golongannya dari dunia 17:24 akademisi. 17:26 Dunia akademisi yang begitu beragam 17:29 subhanallah adzim dengan prodi-prodi 17:32 yang bermacam-macam. Betul. 17:35 Menghasilkanlah dari prodi kedokteran ya 17:37 dokter-dokter 17:39 prodi ee 17:41 ee apa namanya? Insinyur tuh fakultas 17:45 sipil ya menjadi insinyur. 17:48 Iya kan? 17:49 ee Pak Prodinya pertanian menjadi 17:51 petani-petani 17:53 insinyur pertanian kan gitu. Demikian 17:56 perikanan, demikian perhutanan, 17:58 macam-macam. Nah, dari dunia 18:01 pendidikanlah 18:03 setan-setan itu mengambil bagian. 18:06 Masyaallah 18:08 golongannya. Yang selanjutnya itu tadi 18:12 liakunu min ashabisir. 18:15 Selanjutnya digiring pengikut 18:18 golongannya itu ke dalam neraka sair. 18:20 Naudubillah minzalik. 18:23 Mari ikhwatal iman berpikir. Kita yang 18:26 mendalami dunia pendidikan yang sudah 18:29 kita ikut juga larut kepada dunia 18:31 pendidikan sehingga sehinggakan kita 18:34 jadi S1, S2, S3 gitu. Agus. Betul. Nah 18:39 tuh. 18:40 H 18:42 kenapa ustaz katakan bahwa setan itu 18:45 banyak mengambil bagian golongannya itu 18:47 dari dunia akademisi? Karena dunia 18:50 akademisi hari ini ini kita bicara fakta 18:56 bagus kita bicara fakta karena dunia 18:58 pendidikan hari ini sangat menjurus pada 19:02 kompetisi. 19:05 Ee pada kompetisi 19:09 iptakannya 19:10 ruangan pendidikan itu hanya untuk 19:12 kompetisi. Kompetisi untuk meraih S1 19:16 dengan apa? dengan penulisan skrip 19:20 skripsi itu kompetisi. 19:24 Nah, kompetisi di kalangan S2 maka 19:29 terjadilah yang namanya ee desertasi ya 19:34 itu kan S2 itu disertasi ya bagus ya. 19:39 Yang ketiga di S3 doktoral apa? 19:44 Yang pertama itu ee kalau untuk S1 tadi 19:47 Ustaz bilang apa? Ee skripsi. 19:53 Kemudian yang keduanya 19:56 untuk 19:57 tesis. 19:58 Tesis ya. Tesis. Yang ketiga, 20:00 desertasi. 20:01 Desertasi itu semuanya baik skripsi, 20:06 tesis, 20:06 baik tesis, baik apa? 20:09 Desertasi. disertasi semuanya nuansa 20:13 kompetisi 20:16 tuh. 20:17 Nah, setan menginginkan itu, 20:21 menginginkan dunia kompetisi itu. Karena 20:25 mereka-mereka yang sudah S1, S2, S3 itu 20:28 melalui kompetisi tadi uh akan duduk di 20:32 mana? akan duduklah di singgahsana tapuk 20:36 istilahnya e yang diinginkan dari 20:38 cita-citanya. Jadi ini, jadi itu, jadi 20:42 mana mungkin orang tidak memiliki S1, 20:44 S2, S3 dapat duduk di sana sini. Itu 20:48 kompetisinya. 20:50 Maka kalau kita lihat saja program 20:53 doktoral yang itu disertasinya 20:57 diinginkan oleh semisal doktoral yang 20:59 ada di Amerika 21:01 itu subhanallahil adzim atau doktoral 21:03 yang ada di eh Cambridge ya atau di di 21:06 English, di di UK atau hatta di 21:09 Australia. Semua program doktorannya itu 21:13 adalah ee sarana untuk mengecek. 21:17 Mengecek apa? mengecek daya seseorang 21:21 untuk jadi doktoral itu diuji dengan 21:24 harus menulis disertasi. Desertasinya 21:26 apa? Desertasinya menganalisa. 21:31 Kalau memang doktorannya di Amerika, 21:33 mereka tidak akan mungkin dapat ijazah 21:35 doktoral selama belum ada hasil 21:38 disertasi. Ternyata desertasnya sudah 21:40 ditentukan oleh mereka 21:41 universitasuniversitas luar negeri itu. 21:44 Analisa ya melalui disertasimu negerimu. 21:48 Kalau tidak kali kamu tidak akan dapat 21:50 S1, S3. Maka dianalisa pula ke 21:54 Indonesia, dianalisa tentang ee 21:58 perkembangan populasi penduduk ya kan. 22:01 Kemudian isi negeri ini apa? Terus 22:05 [tertawa] 22:06 e demografinya per tahun sekian 22:09 bertambah kurang dari ekonominya itu 22:12 akan jadi disertasi. Enak mereka kalau 22:15 sudah dikontrol kita dunia pendidikan 22:17 oleh disertasi yang diserahkan kepada 22:21 universitas yang luar negeri mereka tahu 22:23 kelemahan mereka tahu keunggulan negeri 22:26 kita melalui hasil disertasi itu. 22:30 Allahu Akbar. 22:32 Maka ini ikhwat al iman, sarana 22:35 kompetisi itu ternyata kalau kita lihat 22:37 dari unsur agama, kacamata agama ini 22:41 adalah gampang dimasuki oleh setan-setan 22:44 yang dapat mengendalikan manusia. Lupa 22:47 diri, 22:49 lupa jati diri e karena mereka sudah 22:54 dalam ruangan kompetisi. 22:57 Allahu Akbar. Oleh karenanya kita lihat 23:00 bagus ya. Kita lihat nih di Indonesia 23:03 sendiri 23:06 tidak kurang kayaknya orang pintar. 23:08 Betul enggak bagus? 23:09 Ya Allah enggak kuranglah 23:13 orang-orang pintar di Indonesia. 23:16 Siapa sih yang mengingkarinya? Enggak 23:17 ada yang bisa mengingkari. 23:20 Orang pintar di Indonesia itu semakin 23:23 tahun semakin bertambah. 23:26 Dan yang kurang adalah orang-orang 23:28 benar, orang pintar. Kata orang Betawi 23:32 ee apa istilahnya ngelideeg ya? Apa 23:35 orang banyak tuh ngelideeg ya? Apa Sunda 23:38 tuh? [tertawa] 23:39 Beju bejibun apa 23:41 orang betjibun ya? 23:42 Bejibun banyak 23:43 ya. Iya banyak. Kalau orang Sunda 23:45 ngalide gitu. Orang pintar mah ngalid 23:48 itu bejibun banyak 23:52 itu. Tapi yang tidak ada dari kalangan 23:55 mereka orang pintu itu adalah 23:57 orang-orang yang benar. 23:59 Ya Allah. Artinya sekarang antara pintar 24:02 dengan benar mana yang harus kita 24:03 dahulukan? Dari kepahaman saja. 24:07 Aus. 24:08 Heeh. 24:08 Mana yang harus didahulukan? 24:10 Pintar apa benar? 24:13 Benar. [tertawa] Dah, ini yang paling 24:15 benar. 24:15 Ini yang paling benar. 24:17 Ini yang paling benar. 24:19 Mencari orang yang benar ini yang susah. 24:23 Nah, dan mencari orang pintarnya mudah. 24:26 Ternyata kalau kita jujur untuk mencari 24:29 orang penter itu adanya pada kompetisi 24:32 itu. 24:34 Adanya pada kompetisi itu. Dan setan 24:37 sangat suka pada orang pintar yang masuk 24:39 pada wilayah kompetisi itu. 24:43 Dan setan sangat takut pada orang yang 24:45 benar ketika ikut kompetisi. Karena 24:47 orang benar saat ikut kompetisi itu, 24:50 kompetisi-kompetisi yang dilakukan itu 24:53 diamati, dianalisa dan orang benar tidak 24:57 akan mau berkecimpung kerja sama pada 25:00 kompetisi-kompetisi buruk. Sedangkan 25:03 kebanyakan orang pintar maunya 25:05 menghalalkan segala cara. Ini yang 25:07 disukai setan. 25:12 Camkan baik-baik omongan Ustaz Umar ini 25:14 di siang hari bolong ini. 25:18 Di Indonesia sendiri ya mungkin ya 25:21 sekarang kalau dikatakan puluhan ribu 25:24 Abi Agus, puluhan ribu setiap tahun dari 25:29 universitas-universitas 25:30 yang beragam itu di Indonesia baik 25:32 negeri ataupun swasta meluluskan S1, S2, 25:36 S3 25:39 dijerat mereka itu oleh kompetisi. 25:42 Subhanallah. 25:44 Maka Ustaz tidak bangga jadi S1, S2, S3. 25:48 Kalau maunya ke sana. 25:49 Iya. [tertawa] 25:51 Itu di Indonesia sendiri ya puluhan ribu 25:55 setiap tahun meluluskan dari 25:58 universitas-univers negeri ataupun 26:00 swasta itu S1, S2, S3 gitu. Tetapi 26:06 banyaknya kelulusan S1, S2, S3 itu ya 26:10 Allah tapi sayang sekali tidak banyak 26:13 perubahan 26:15 di negeri kita ini. Tidak banyak 26:17 perubahan. Yang ada malah status ee 26:22 ketenagakerjaan semakin semakin bias. 26:25 Maka muncul problematika apa? Ya Allah, 26:29 ya Rabbi. Penganggu pengangguran 26:32 ini ikhwan jujur. Kita harus jujur 26:36 menganalisa kehidupan itu. Karena di 26:38 ayat ini kita akan di akan digaed oleh 26:41 Allah Subhanahu wa taala, diingatkan 26:43 Allah subhanahu wa taala tentang 26:45 perilaku kita dalam hidup. Jangan kita 26:48 ikut setan. Jangan kita lupa diri. 26:51 Jangan lupa Allah. Jangan hanya melul 26:54 hidup ini pada kompetisi negatif. 26:57 Nauzubillah minzalik. H. Maka kalau kita 27:01 bijak menganalisa kondisi Abi Agus, ee 27:05 Abi Agus punya putra-putri. Saya juga 27:07 sama punya putri saja. Kalau saya 27:10 saya ketika 27:13 ee niat mendidik anak gitu kan, saya 27:17 ingin mencetak anak saya itu ee 27:23 pintar dan benar. 27:29 Ya kan 27:31 saya berniat atau cita-cita saya 27:34 mencetak generasi saya itu mencetak anak 27:37 pintar dan benar. Nah, ternyata 27:41 mencetak generasi kita pada kalimat ini. 27:45 Mencetak generasi agar generasi kita ini 27:48 pintar pintar dan benar. 27:52 Eh, pintar yang benar gitu. 27:59 itu 28:01 sebentar mencetak generasi kita 28:05 pintar yang benar 28:10 itu lebih mudah. 28:13 Coba Abi Agus sekarang Abi Agus anaknya 28:15 dari Gontor ya. 28:15 Heeh. itu itu di sana akan disiapkan 28:19 kurikulum dan silabus harian yang harus 28:22 tercapai yang akan mencetak anak-anak 28:24 kita ini pintar yang benar gitu. 28:29 Nah, mencetak generasi kita agar 28:32 generasi kita ini menjadi generasi 28:35 pintar yang benar itu lebih mudah 28:40 bila dibandingkan saat kita mencetak 28:42 generasi kita agar pintar. Tapi belum 28:46 benar. 28:49 Ada benar, ada belum benar. 28:53 Sudah jelas generasi kita yang benar mah 28:55 gampang diarahkan. 28:58 Nih belajar tafsir nih, belajar bahasa 29:00 Arab, nih, bahasa bahasa Inggris kamu 29:02 agar pintar dan dalam keadaan benar. Itu 29:05 lebih mudah mendidik anak yang ee 29:08 generasi kita yang memiliki karakter 29:11 pintar dan benar. masih lebih mudah bila 29:15 dibandingkan dengan mendidik generasi 29:17 kita, ya pintar tapi belum benar. Nah, 29:21 kebanyakan di kita hari ini anak-anak 29:23 kita cerdas tapi belum benar mereka. 29:28 Jarang dari mereka itu yang memiliki 29:30 jalan yang benar. Iya, cerdas tapi 29:33 jarang dalam jalan yang benar. Nah, kita 29:37 sekarang seakan-akan punya tugas untuk 29:40 mendidik diri kita dan keluarga kita 29:42 serta generasi kita ini, yaitu menjadi 29:46 anak-anak yang pintar, 29:49 yang benar, dan kita menjadikan generasi 29:53 kita yang pintar, yang belum benar ini, 29:56 kita punya PR untuk menjadikan mereka 29:59 menjadi generasi yang pintar, yang benar 30:01 agar mudah dididiknya. 30:05 Ah, ini harus berpikir kita. Ah, ini 30:08 gambaran masyarakat Abi Agus ya. Ini 30:10 ayat kita. Jadi kalau baca Quran itu 30:13 tidak hanya semacam kita baca, sekedar 30:15 kita baca saja. Kita analisa 30:20 pahamnya kita terhadap ayat ini pada 30:23 pada apa sih? pada unsur sosial 30:26 masyarakat 30:28 yang beragam tadi, Ikhwatal iman, yang 30:31 selalu didera untuk berkompetisi. 30:35 Nah, Ikhwan yang dirahmati Allah. 30:38 Nah, sekarang coba ke faktanya ya. 30:40 Faktanya, Abi Agus. Ini fakta saja, 30:42 enggak bisa dipungkirilah. 30:45 Karena dunia pendidikan itu menjurus 30:47 pada bentuk kompetisi. Coba lihat 30:52 kemunculan orang-orang yang berilmu. 30:57 Kemunculan orang berilmu itu contohnya 31:00 ee lulusan ataupun alumni UI ya kan. 31:05 Dokter berapa, insinyur berapa, ahli 31:09 biologi berapa, ahli fisika berapa, ahli 31:12 gizi berapa. Itu muncul setiap tahun 31:17 dari ee Gunadarma, dari anu dari anu 31:21 dari Uyuni Brau i kan Hatta ee UIDA 31:26 sendiri Gontor ya meluluskan 31:29 ee alumni-alumni. Nah, kemunculan 31:34 orang-orang berilmu yang di yang 31:36 dihasilkan oleh dunia pendidikan tadi 31:40 tapi 31:41 jahat dengan ilmu. Ada enggak? Saya 31:45 jujur mengatakan 31:47 kemunculan orang-orang berilmu itu 31:49 banyak dari tahun ke tahun. Tapi dia 31:53 jahat. Tapi mereka jahat dengan ilmu. 31:56 Banyak enggak? Ayo jawab. Ini analisa 32:00 analisa kita loh, pemikiran kita loh. 32:04 Subhanallahil adzim. Hari ini zaman kita 32:08 kemunculan orang-orang berilmu itu namun 32:11 mereka jahat dengan ilmunya. 32:15 Perlu contoh, Abi Agus? 32:17 Ayo ngantuk. 32:19 Hm. Enggak. Minum kopi dulu, Abi Agus 32:21 mikir. 32:22 E tanpa gula kopinya. 32:24 E seperti Pak Iksan bilang, jangan minum 32:26 kopi dengan gula. H perlu bukti. Jujur 32:32 jangan ada yang kesinggung ini. Ustaz 32:34 Umar hanya memaparkan hasil pemikiran 32:37 semalam. 32:41 Semua orang jangan tersinggung. Malah 32:43 ustaz memberikan kesempatan, gunakan 32:46 pikiran ee gunakan akal dan pikirannya. 32:49 Karena nanti 32:51 kalau tersinggung hasil kompetisinya 32:54 menunjukkan kepada angka jeblok 32:56 [tertawa] gitu loh. Jujur buktinya 33:04 berapa banyak hakim di kita 33:08 hitung hakim dari atas sampai bawah. 33:12 Dari ee ibu kota sampai adakah hakim di 33:16 kabupaten? Ada kan? 33:17 Heeh. Kecamatan enggak ada lah. 33:19 Heeh. 33:19 Gitu kan. 33:21 Berapa banyak hakim yang ada di negeri 33:24 kita? Tapi kok hakim diadili? 33:28 Tulis. 33:31 Takut lupa. 33:33 Berapa banyak hakim di kita tapi kok 33:36 hakim diadili? 33:40 Menurut saya pribadi ini sebuah 33:42 kejahatan pada ilmu 33:45 yang semestinya ilmu itu dimanfaatkan. 33:48 Tapi setelah dia jadi orang, jadi hakim, 33:50 katakan kok banyak hakim, tapi banyak 33:53 hakim yang diadili. 33:56 Allahu Akbar. 33:59 Lagi ini. Ini fakta. 34:03 Ada jaksa setelah hakim ada jaksa 34:07 Pak Hakim. dan pajaksa dulu ada nyanyian 34:10 begitu 34:11 kapan saya 34:12 kapan saya kan [tertawa] 34:15 gitu kan sekarang tadi hakim ya yang 34:19 diadili banyak sekarang banyak jaksa 34:25 kok dituntut 34:28 yang semestinya jaksa itu menun 34:30 menuntut 34:31 menuntut sekarang banyak jaksa kok yo 34:34 dituntut 34:35 [berdehem] 34:36 ada apa gerangan 34:39 analisa membuktikan ini adalah 34:42 kemunculan ilmu yang disalah gunakan. 34:48 Munculnya orang-orang pintar ini, tapi 34:51 mereka jahat dengan ilmunya. 34:54 Banyak jaksa kok dituntut. 34:58 Betul enggak omongan saya nih? 35:01 H 35:01 saya tidak akan mengatakan 35:04 jaksa atau hakim ini A B C D itu enggak 35:07 boleh. Tapi kondisi seperti ini. 35:11 Betul bagus. 35:13 Renungkan omongan Ustaz Umar sekarang. 35:17 Nah, sekarang banyak polisi bahkan 35:20 semakin tahun semakin diperbanyak itu 35:22 personil polisi dengan apalah namanya ee 35:26 menerima kalau posisi secapa ya yang di 35:29 Bandung itu apa secaba [tertawa] 35:32 macam-macamlah itu penerimaan 35:35 calon-calon polisi. Itu banyak polisi di 35:38 kita ini. Tapi kok polisi ini banyak 35:41 yang disidik. 35:45 Ah, ini kan masalah besar, [tertawa] 35:47 masalah yang harus kita pikirkan. 35:50 Itu loh ya. Hakim banyak yang diadili, 35:55 jaksa banyak dituntut, polisi banyak di 35:58 sidik. 36:00 Allahu Akbar. Apalagi faktanya sekarang 36:04 banyak hansip. [tertawa] Banyak hansip 36:07 ditangkap. 36:09 Hansib. 36:10 Iya, hansip. Hansib itu apa? Pertahanan. 36:13 sipil kan gitu. Ansip, hansip-hansip di 36:16 mana kok banyak yang ditangkepin 36:18 gara-gara apa? Gara-gara itu kan h ikut 36:24 kompetisi negatif itu tadi. 36:27 [mendengus] 36:28 Lalu sekarang kalau tadi ya naik 36:31 dikitlah dari hansip ke satpam. 36:35 Sekarang banyak satpam yang diamankan 36:38 padahal tugas satpam mengaman 36:40 mengamankan. 36:42 Apa [tertawa] 36:44 enggak menjadi fakta sekarang kita hari 36:46 ini? Lailahaillallah 36:50 kita ucapkan ini istigfar ikhwatal iman. 36:53 Istigfar itulah Allah katakan tadi dalam 36:56 surah Al-Qur'an e ayat 5 dan 6. Innitana 37:02 lakum adu lakum adu. 37:06 Sesungguhnya setan itu bagimu adalah 37:08 musuh. 37:11 Yang mestinya manusia yang jadi hakim 37:14 ini harus mengadili malah kok diadili. 37:17 Yang semestinya jaksa itu menuntut kok 37:19 malah dituntut. Yang semestinya polisi 37:22 itu menyidik kok malah disidik. 37:27 yang semis hansip itu mengamankan kok 37:29 malah ditangkap. 37:31 Demikian juga satpam yang semestinya ya 37:34 Allah membuat suasana itu nyaman, 37:36 tentram kau malah diamankan. Ah ini 37:39 masalah besar 37:41 dalam kehidupan masalah besar. 37:44 Jangan dikira sepele 37:46 pertanggungjawabannya. Ya Allah, ya 37:48 Rabbi. 37:50 Kalau tidak tobat dari perlakuan yang 37:53 Ustaz Umar sampaikan ini ya siap siap 37:55 saja kamu antum-antum ini jadi golongan 38:00 yang telah dimiliki setan. liakunu min 38:03 ashabir. Yang kelak golongan-golongan 38:06 ini akan dibawa ke neraka syair. 38:09 Himbauan kita sebagai ustaz-ustaz yo. 38:13 Saya sendiri menasihatkan pada diri saya 38:15 sendiri keluarga. Bertobatlah 38:18 dari segala kesalahan dan dosa saat 38:21 hidup ini agar kita tidak dibodoh-bodohi 38:24 setan. 38:26 Berhentilah pada kompetisi kehidupan 38:28 yang buruk. Semua ini kompetisi kok. 38:31 Kompetisi agar cepat menjadi orang 38:33 terkaya. Kompetisi agar cepat 38:37 naik jabatan. Tetapi 38:40 ya Allah praktiknya 38:43 mengikuti cara-cara yang digoda oleh 38:47 setan. Nauzubillah minzalik. 38:51 Ikhwan fillah yang dirahmati Allah 38:52 subhanahu wa taala. 38:57 Sebetulnya Ustaz Mar tidak banyak nih 38:59 yang akan Ustaz urai, tetapi intinya 39:02 seperti itu. Intinya adalah 39:06 mengajak kepada kita semua untuk 39:08 berpikir sehat. 39:10 Berpikir 39:12 yang lazimnya seperti manusia-manusia 39:15 zaman dulu yang kalau dia hidup di 39:18 dunia, ya Allah taat patuh pada Allahnya 39:21 luar biasa. 39:23 meninggalkan larangan-larangan 39:26 yang telah Allah catat dalam Al-Qur'an 39:29 dan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu 39:30 alaihi wasallam dalam sunah-sunahnya 39:33 dijelaskan inilah yang terlarang, ini 39:35 yang boleh, ini yang tidak boleh. Sudah 39:39 jelas. Innal halala bayyinun wa innal 39:43 harama bayyinun. Wainahuma 39:46 umurun musytabihat. 39:49 Yang halal jelas, yang haram jelas. Ada 39:52 sesuatu di antara yang halal, yang jelas 39:55 itu termasuk orang-orang yang terjerumus 39:57 pada sesuatu yang remeng-remeng. 39:59 Remengremeng. 40:00 Heeh. Apa remeng-remeng itu? 40:02 Remang-remang. 40:03 Remang-remang tidak jelas. 40:05 Samar-samar. 40:06 E samar-samar indharkan. Waman waqoa fi 40:10 suuhati 40:12 waqoa fil haram. Karena barang siapa 40:14 yang sudah terjerumus pada yang subu 40:17 yang rembang-rembangeng tadi jelas kata 40:20 Allah kata Rasul sallallahu alaihi 40:21 wasallam sudah jatuh pada sesuatu yang 40:24 diharamkan oleh Allah subhanahu wa 40:26 taala. Ikhwan fillah yang Allah rahmati. 40:30 siapapun manusia ini, khususnya yang 40:33 beragama Islam yang telah mengaku iman 40:36 kepada Allah, iman kepada malaikat, yang 40:39 telah mengakui sedalam-dalam pengakuan 40:42 kepada adanya malaikat, kepada adanya ee 40:46 kitab-kitab Allah dan nabi-nabi, gitu 40:49 kan. 40:51 yang meyakini bahwa dunia ini akan 40:53 dikiamatkan Allah. Yang mengimani bahwa 40:57 ada qadar dan qadar semuanya dari Allah. 41:00 Ingat itu semuanya 41:03 agar kita memposisikan diri kita ini 41:07 pada sesuatu yang diridai oleh Allah 41:10 Subhanahu wa taala. Jika tidak 41:14 kita tidak melarang untuk kompetisi. Toh 41:17 kompetisi itu dianjurkan oleh dan 41:20 rasulnya. Tapi pada kompetisi apa? 41:22 Fastabiquul 41:24 khairat. Pada jalan yang baik saja. 41:26 Tetapi jangan sampai kompetisi ini 41:28 kebablasan sifatnya. yang nanti akhirnya 41:32 ada semacam ee pengkhianatan pada ilmu. 41:39 Pengkhianatan pada ilmu itu hidup kita 41:42 di dunia ini setelah kita mencari ilmu, 41:44 kita dibebani loh dengan ilmu itu. 41:48 Makanya orangorang ulama mengatakan kita 41:50 yang belajar itu belajar ilmu harus 41:53 mengerti tentang masuliyatul ilmi, 41:56 tentang tanggung jawab terhadap ilmu 41:59 yang kita dapatkan gitu loh. Itu 42:02 masihatul ilm. Contohnya 42:04 pesantren-pesantren di Indonesia ada 42:06 28.000 kurang lebih ya. Contohnya saja 42:09 katakanlah gontor. Gontor itu boleh 42:11 dikatakan memberikan dua masalah. 42:15 menjelaskan masuliah plus ilmu. 42:20 Masuliah ini kalimat masuliyatul ilm, 42:24 pertanggungjawaban terhadap ilmu 42:26 pengetahuan 42:27 kita. Tidak hanya gontor di mana-mana 42:30 pesantren menitipkan pada santri masatul 42:33 ilm pertanggungjawaban 42:35 plus ilm. Pertanggungjawaban ini mutlak 42:39 sifatnya. Ilm ini bisa dikatakan kepada 42:42 kunci. 42:44 Jadi kita dalam hidup ini setelah 42:45 menuntut ilmu, jadikan ilmu itu kunci 42:48 kita untuk membuka apapun ya Allah 42:52 ruangan hidup ini. 42:54 Jadi e pesantren contohnya memberikan 42:58 ee katakanlah tadi masilatul ilm 43:01 tanggung jawab dan ilmu. Ilmu kita 43:03 katakan kunci. Nah kunci untuk membuka 43:06 apa, Abi? 43:07 Pintu 43:08 ya. Gembok. 43:10 Gembok. E pintu belum. Bagaimana kunci 43:13 membuka pintu kalau gak gembok? Gembok 43:16 membuka gembok dengan dengan kunci. Nah, 43:20 kita juga setelah mesantren di mana-mana 43:23 pesantren, dididik diri kita di 43:26 mana-mana universitas, jadikan ilmu kita 43:29 itu adalah kunci untuk membuka segala 43:33 kebaikan. 43:35 Kebaikan ternyata ee yang bisa kita buka 43:40 itu berbentuk apa? kebaikan itu 43:43 sumuliahnya, 43:45 universalnya terletak pada adanya sosial 43:49 masyarakat. 43:51 Jadi kalau kita membuka sosial 43:53 masyarakat dengan kunci ya harusnya 43:55 kunci itu yang bisa membuka dunia sosial 43:57 masyarakat itu terutama kepada 44:00 kebaikan-kebaikan. 44:03 Namun bagaimana kalau kita membuka 44:05 sosial masyarakat itu dengan dunia 44:07 kejahatan? Ingat. Ingat sekali lagi 44:10 ingat. 44:11 bahwa masyarakat itu saat menilai ah itu 44:15 Abi Agus 44:17 betapa dahsyatnya penilaian masyarakat 44:20 itu. Jadi kalau kita sudah punya ilmu, 44:23 bertanggung jawab pada ilmu. Karena 44:25 karena ilmu sendiri, ilmu sendiri 44:27 maknanya kunci. Dengan kunci kita bisa 44:30 membuka apa saja. 44:32 Maka ketika kita membukanya dengan 44:34 cara-cara benar, maka kita akan 44:37 berhadapan dengan penilaian-penilaian 44:39 masyarakat yang begitu dahsyat dengan 44:41 kebenaran. Namun jika kunci yang kita 44:44 buka itu untuk membuka dunia masyarakat 44:47 secara salah, maka masyaallah itu tadi 44:50 penilaian masyarakat terhadap kita saat 44:53 kita melakukan kesalahan. Betapa 44:56 dahsyatnya kita. Nauzubillah minzalik. 45:00 Ikhwan fillah yang dirahmati Allah. 45:01 Subhanahu wa taala. 45:03 Ayat ini adalah ayat yang harus 45:06 menghidupkan 45:08 pikiran dan hati kita. 45:11 Bukan hanya jasad ee fisik saja, tetapi 45:15 ee kalau fisik kan bisa kita lihat. Tapi 45:17 kalau akal, pikiran tidak mungkin bisa 45:19 kita lihat. Betul enggak? 45:20 Iya. 45:20 Jasad ini kita lihat ada tangan, ada 45:22 kaki, ada kepala. Tapi ingat, di dalam 45:25 kepala kita tuh ada otak yang harus kita 45:28 ee ee gunakan untuk berpikir gitu loh. 45:33 Hati kita untuk menganalisa itu jasad 45:36 kita. Maka satukan hal-hal yang 45:40 bernuansa kampolis positif ini pada 45:43 tingkah laku kita pada ee apa namanya? 45:49 kinerja kita di saat kita sudah memiliki 45:54 ilmu pengetahuan. 45:56 Ayat ini memberikan kepada kita tentang 46:00 guide kehidupan setelah kita punya ilmu 46:03 pengetahuan. 46:05 Agar ilmu pengetahuan yang Allah berikan 46:07 pada kita melalui apapun bentuknya, 46:09 apakah masuk ke perguruan tinggi, apakah 46:12 masuk ke pesantren atau ke mana-mana, 46:15 jadikan dia sebagai perbekalan untuk 46:17 menyelamatkan diri kita dari bisikan 46:21 setan yang inginnya setan itu membawa 46:24 kita menjadi golongannya. Naudubillah 46:26 minzalik. Ikhwan fillah yang dirahmati 46:27 Allah subhanahu wa taala, kajian ini 46:30 semoga 46:31 menjadikan perenungan ya kan. perenungan 46:35 kita bersama agar saat kita hidup di 46:38 dunia ini kita tidak terbedaya oleh 46:41 setan dan kita akan senantiasa 46:45 menjadikan ilmu pengetahuan yang Allah 46:47 beri pada kita hanya akan kita letakkan 46:51 pada sesuatu yang bermanfaat sehingga 46:54 kita akan melahirkan. Katakan kita punya 46:57 generasi tadi sajalah akan melahirkan 47:00 kalau anak kita jadi hakim. hakim yang 47:03 akan mengadili. 47:05 Kalau anak kita menjadi jaksa, jaksa 47:07 yang akan menuntut kalau anak kita jadi 47:10 polisi, jadi polisi yang akan menyidik. 47:13 Apalagi kalau satpam h dia akan 47:16 mengamankan tidak diamankan. Ada semalam 47:19 ustaz berpikir 47:22 di kita ini khususnya di daerah 47:26 Cilengsi itu perumahan-perumahan itu Abu 47:29 Habib Agus kanan kiri. Ada yang 47:32 statusnya ee kluster-kluster, 47:36 ada yang ada yang bukan kluster gitu 47:38 umum. Tapi di sini juga ada kota wisata. 47:41 Betul. 47:42 Betul. 47:42 Itu ada juga di sini ada kota legenda 47:45 gitu kan. Ustaz berpikir semalam 47:49 di kota 47:51 legenda ataupun kota wisata kok banyak 47:53 satpam ya di pintu masuk ee ee apa 47:57 namanya kluster-klusternya. 48:00 Ustaz berpikir 48:04 ini dalam kalau begini caranya 48:07 kluster-kluster itu dijaga oleh satpam 48:11 ini menunjukkan 48:13 bahwa kluster itu tidak aman. 48:16 Betul enggak, B Agus? 48:18 Heeh. 48:18 Nah, heehnya gimana jawabannya? 48:21 Kephamannya gimana? Heeh. Itu jika 48:24 klaster di masih dijaga sama satpam 48:27 menandakan kluster itu tidak aman apa 48:29 apa aman? 48:31 Tidak aman. 48:33 Yang masuk akal adalah ketika kluster 48:36 diciptakan enggak usah ada satpap. Betul 48:38 enggak? Itu aman namanya. [tertawa] 48:42 Artinya ilmu pengetahuan itu harus 48:44 menjaga kehidupan seperti halayanya 48:47 e yang ustaz katakan tadi analognya 48:50 seperti klaser-klaser yang tidak mesti 48:53 ada satpam karena hakikatnya dunia itu 48:56 aman seluruhnya. Tapi kalau 48:59 kluster-kluster di mana perumahan masih 49:00 menggunakan jasa, satpam menandakan 49:04 bahwa klaser itu dalam keadaan tidak 49:05 aman. satu saat bisa jadi bisa jadi 49:09 potensi ada maling ya itu ada garong dan 49:12 sebagainya. Maka ikhwan, mari kita 49:14 gunakan akal sehat demi menyongsong 49:18 kehidupan di masa akan datang, terutama 49:20 kehidupan akhirat yang kekal abadi. Kita 49:24 hari ini hidup di dunia, siapapun kita, 49:28 orang kaya, orang miskin, pemerintah, 49:30 rakyat, sama di hadapan Allah Subhanahu 49:32 wa taala selamatkan diri-diri kita. 49:36 saat hidup di dunia dengan berbakti pada 49:39 Allah dan memanfaatkan ilmu yang Allah 49:41 berikan pada kita untuk menebus 49:44 kebahagiaan hakiki abadi di dalam surga 49:48 Allah Subhanahu wa taala kelak di 49:50 akhirat. Wallahuam bissawab. 49:53 Wallahuam bisawab. Jazakallah ustaz atas 49:57 tausiahnya di siang hari ini. Ikhwan dan 50:01 akhwat. Demikian tadi tausiah kita. 50:04 Semoga apa yang beliau sampaikan 50:06 bermanfaat. Kami akan 50:09 ee jeda sejenak terlebih dahulu. Kita 50:12 kembali setelah jeda berikut ini. 50:13 Tetaplah bersama kami. 50:22 [musik] 50:26 Hasil TV 50:35 [musik] 50:46 Radio Silaturahim untuk Islam yang satu 50:50 yang masih dipancaraskan dari Jalan 50:53 Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis, 50:57 Cibubur, Bekasi. Ikhwan dan akhwat yang 51:00 dirahmati Allah subhanahu wa taala. 51:02 Terima kasih Anda masih bersama kami 51:04 dalam program tausiah siang di hari ini. 51:09 [menghela napas] 51:10 Dan masih pada tema kita yaitu 51:13 pembahasan Quran surah Al-Fatir. Quran 51:16 surah Fatir ayat 5 dan ayat 6. 51:20 Ingin dilanjutkan, Ustaz? 51:21 Gak? 51:22 Oh, enggak. barangkali ada 51:25 ee ada penanya atau dibuka aja dulu. 51:28 Oh, baik. Kalau begitu, Ustaz ee 51:33 sebenarnya yang ee kita ingin, Ustaz ya, 51:36 anak-anak kita ini menjadi orang pintar 51:39 atau menjadi orang pintar yang benar 51:42 seperti yang tadi Ustaz sampaikan. 51:44 Karena kalau hanya pintar, 51:47 maka 51:48 ia mungkin mampu mencapai kedudukan yang 51:50 tinggi. Tetapi kalau pintar sekaligus 51:54 benar, ia akan menggunakan kedudukannya 51:57 untuk menghadirkan kemaslahatan bagi 51:59 manusia. 51:59 Betul. 52:01 Ya. Bismillahirrahmanirrahim. 52:05 Ee ragam [berdehem] 52:08 ee 52:10 varian atau mungkin jenis ya. 52:13 Hm. anak-anak kita itu kan berbeda. 52:17 Tadi ustaz sempat mengatakan bahwa dalam 52:19 dunia pendidikan Ibu Agus mendidik 52:22 anak-anak yang pintar dan benar itu akan 52:25 lebih mudah. 52:26 Heeh. 52:28 Ketimbang mendidik anak-anak yang pintar 52:31 tapi belum benar. 52:33 Heeh. 52:34 Coba sekarang banyak loh anak-anak kita 52:36 pintar tapi belum benar dalam perilaku 52:39 kesehariannya masih terkena narkoba. 52:44 Oke. Satu jenis narkoba. Anak kita 52:46 pintar tapi kena narkoba. Akhirnya kan 52:48 mendidik mereka susah kan? 52:49 Iya. Susah. 52:52 Bila dibandingkan dengan anak kita 52:53 pintar tapi benar. Gampang. 52:56 Mendidik anak kita yang pintar dan benar 52:58 mah gampang. Tapi mendidik anak kita 53:01 yang pintar tapi tidak benar ini yang 53:03 sulit. 53:05 Anak kita pintar tapi kena pergaulan 53:08 bebas. 53:11 pintar loh. 53:13 Tapi maunya serba bebas. Akhirnya sulit 53:15 kita kan 53:18 anak kita pintar tapi minum-minuman 53:20 arak. 53:22 Tambah lagi dengan judi, tambah lagi 53:24 dengan oh tawuran. 53:27 Pintar mereka bukan tidak pintar. Lawa 53:29 mereka tawuran itu pintar menggunakan 53:32 senjata kok. 53:34 Ini menjadi masalah. 53:37 Jadi saya berharap dengan uraian 53:40 [berdehem] 53:40 ee tausiah di siang ini, bagi siapapun 53:44 orang tua yang memiliki generasi, 53:48 arahkan sebaik-baik arahan. 53:51 Anak-anak kita yang pintar ini 53:54 harus tetap dalam keadaan benar. 53:59 Dan jangan putus asa mendidik anak kita 54:02 yang pintar. Kita tidak mengatakan 54:04 generasi kita ini bodoh kok. 54:07 [mendengus] 54:08 Generasi kita ini pintar-pintar. 54:11 Namun kalau yang memiliki generasi belum 54:14 pintar, 54:15 memiliki generasi pintar tapi belum 54:17 benar, ini yang harus ekstra. 54:22 Ini harus ditambah volume, kekuatan, 54:25 energi, pikiran, fokusan pada generasi 54:28 kita yang pintar namun belum benar. 54:32 Akhirnya kebanyakan kita diuji oleh 54:34 Allah Subhanahu wa taala dalam kondisi 54:35 yang kedua ini. Memiliki generasi pintar 54:38 namun belum benar. 54:40 Akhirnya kalau kita paksakan pun dalam 54:42 dunia pendidikan mereka, ya Allah. 54:45 Contohnya sekarang kita bahas tadi kok 54:47 akan jadi ini pintar ngelabuin akan jadi 54:51 ini. Pintar nipu ya akan jadi ini. 54:54 Pintar ngebohong jadi ini. Serba pintar 54:57 tapi dalam urusan-urusan yang tidak baik 55:01 itu. Maka ikhwan yang dirahmati Allah, 55:04 benar kata Abe Gus tadi, kalau kita 55:06 memang 55:08 memiliki generasi ini yang pintar dan 55:11 benar, ya Allah ya Rabbi, kita akan enak 55:15 gitu. Kita akan sedikit ee diberi apa 55:19 istilahnya keleluasaan gitu dalam 55:23 mendidik anak-anak kita yang pintar dan 55:25 benar. Namun kita akan diperas tenaga, 55:29 otak, pikiran, macam-macam, bahkan dana. 55:31 Barangkali saat kita mendidik anak kita 55:34 yang pintar namun belum benar. 55:37 Maka kita jangan putus asa dari dua hal 55:40 ini agar kita tetap fokus menjadikan 55:44 generasi kita ini adalah harapan bangsa, 55:47 harapan kita untuk dapat meneruskan 55:50 estapeta kehidupan dalam nuansa ee 55:54 kompetisi yang baik. kompetisi yang 55:57 positif yang menghadirkan pada diri anak 56:00 kita, keluarga kita sesuatu yang 56:03 bermanfaat, sesuatu yang banyak 56:05 mengandung nilai-nilai baik dalam 56:07 kehidupan. Wallahualam. 56:09 Baik, Ustaz. Kami ingin menyapa ada Ibu 56:12 Aminah Citra Indah, kemudian ada Eyang 56:16 Sri, 56:16 dan pertanyaan selanjutnya, Pak Ustaz 56:19 datang dari hamba Allah. Asalamualaikum 56:21 warahmatullahi wabarakatuh. 56:22 Waalaikumsalam warahmatullahi 56:25 wabarakatuh. 56:26 Ustaz, mana yang lebih berbahaya? Orang 56:28 bodoh yang berbuat salah karena 56:31 ketidaktahuan 56:33 ataukah orang pintar yang sengaja 56:35 menggunakan ilmunya untuk melakukan 56:37 kesalahan? 56:39 Mana yang lebih apa tadi? 56:40 Mana yang lebih mana yang lebih 56:42 berbahaya? [tertawa] 56:44 Allahu Akbar. Kalau kita analisa 56:46 satu-satu, Bunda, ya. 56:47 Iya. 56:48 Orang bodoh tapi berbuat kesalahan 56:51 karena bodoh. 56:51 Heeh. Iya kan? 56:52 Orang bodoh yang berbuat salah karena 56:54 ketidaktahuan. 56:55 Karena ketidaktahuan. Orang bodoh 56:57 melakukan kejahatan. Katakan karena 57:00 tidak tahu itu hal-hal yang tidak boleh 57:02 kan gitu. 57:05 Mana yang lebih dahsyat bila 57:06 dibandingkan dengan orang pintar tapi 57:08 kerjanya minterar-mintirin orang dengan 57:11 ilmunya? Ini lebih jahat. 57:15 Bentuk manusia yang kedua ini yang lebih 57:17 berbahaya. 57:19 dia tahu. 57:21 Oke. 57:23 Tapi melakukan kejahatan dengan 57:25 pengetahuannya. 57:27 Inilah tadi munculnya orang-orang pintar 57:29 itu jahat dengan ilmunya. 57:33 Berbeda dong dengan orang bodoh 57:35 melakukan kejahatan karena meang dia 57:37 tidak tahu. 57:39 Bisa jadi dia beranggapan bahwa sesuatu 57:42 yang dilakukan itu tidak ee katakanlah 57:45 melanggar syariat, tidak melanggar 57:47 hukum, kan gitu. 57:48 [terkesiap] 57:49 orang yang begini, orang yang bodoh tadi 57:52 yang seperti ini nampaknya kalau kita 57:55 jadi ee pengendali hukum itu harus di 57:58 harus dimaafkan 58:01 itu loh dan diarahkan. 58:03 Tapi kalau katakanlah kita sebagai 58:06 pengendali keadilan, mahkamah katakan 58:09 berhadapan dengan kelompok yang pintar 58:11 ya kan tahu ini, tahu itu, tahu itu, 58:15 tahu ini, gitu kan. Serba tahu tapi 58:18 masih melakukan kejahatan. Ah, ini yang 58:20 akan mendapatkan sanksi. Paham ya? 58:24 Sanksi mungkin sebelum diadili dia kasih 58:28 dulu baju apa? Baju or 58:30 orang. baju orang kan gitu 58:32 baju jeruk 58:33 baju jeruk gitu [tertawa] 58:35 karena pada zaman kita hari ini oh 58:38 lagi-lagi ya Allah kata Abe Agus tadi 58:41 fenomena ya kan 58:43 ya fenomena fenomenanya seperti itu. 58:46 Namun kalau Bunda bertanya, "Mana yang 58:48 lebih, mana yang lebih akan ee katakan 58:51 ee selamat gitu kan atau kita berpihak, 58:54 maka sebetulnya kita tidak berpihak 58:57 kebodohan. [tertawa] 58:59 Kita sekali lagi tidak berpihak pada 59:01 kebodohan. Sehingga kalau orang itu 59:04 bodoh, melakukan apapun ya karena 59:06 kebodohan dia tidak tahu. Meski harus 59:09 dimaafkan, tapi generasi kita atau kita 59:12 sendiri jangan mendudukkan memposisikan 59:15 diri kita pada kelompok-kelompok yang 59:17 bodoh. 59:19 Sehingga ketika melakukan apapun harus 59:22 mengandalkan ya saya maafkan ya saya 59:24 maafkan kan gitu. Abi Agus pintar 59:27 sedikit kenapa gitu. pintar sedikit. 59:30 Kena kenapa pintar mencermati kondisi, 59:34 pintar kita harus jadi orang baik. Orang 59:37 baik itu syaratnya begini begegini, kita 59:39 harus pintar. 59:41 Nah, sehingga nanti kita akan menggeser 59:44 orang yang pintar tapi ah itu kebelinger 59:47 itu loh yang sekarang banyak. 59:50 Nauzubillah minzalik 59:53 orang yang pintar ini tapi kebeling 59:55 kebelinger. Allah wallahuam bisawab. 59:58 Tetapi kita tidak boleh putus asa. 1:00:00 Ikhwatal iman. Bunda ee yang bertanya 1:00:03 tadi, "Saya, Ustaz ini akan berpihak 1:00:06 pada tidak berpihak pada dua-duanya 1:00:08 sebetulnya. Namun kalau kalau boleh 1:00:11 boleh memilih, kita akan berpihak pada 1:00:13 orang bodoh ketika melakukan kesalahan 1:00:16 karena ketidaktahuan gitu kan. Sehingga 1:00:19 patut mendapatkan ee maafan dari kita." 1:00:22 ketimbang kita menjumpai orang-orang 1:00:24 pintar, tetapi dia dengan ilmu dan 1:00:27 kepintarannya itu nauzubillah minzalik 1:00:30 melakukan kecerobohan hidup berupa 1:00:33 kecerobohan hidup. 1:00:35 Kecerobohan hidup itu banyak jenisnya. 1:00:37 Koruptor itu kan membunuh, berkhianat, 1:00:42 menipu, berdusta itu namanya kecorobohan 1:00:45 hidup. Nah, itu wallahuam bissawab. 1:00:48 Baik, Ustaz. Kalau begitu ee jika ee 1:00:52 kita melihat pendidikan tinggi yang 1:00:55 menghasilkan orang-orang berilmu, ee 1:00:59 lalu mengapa semakin tinggi pendidikan 1:01:01 seseorang belum tentu semakin tinggi 1:01:04 pula integritas dan akhlaknya. Apakah 1:01:07 ada yang salah dengan sistem pendidikan 1:01:09 kita? 1:01:09 Ya, bismillahirrahmanirrahim. Kalau kita 1:01:12 salahkan sistem pendidikan kita pun kita 1:01:15 tidak menjadi orang bijak. 1:01:18 Namun coba kita berbuat adil dalam dunia 1:01:20 pendidikan, dunia akademisi. Apa 1:01:23 definisi adil? Orang tahu definisi adil 1:01:26 itu dalam bahasa Arab waduin fi makani, 1:01:29 meletakkan segala sesuatu pada 1:01:31 tempatnya. Nah, kita tidak akan bisa 1:01:34 dong menyalahkan dunia pendidikan kita 1:01:36 lawang dosen-dosen kita dari rektor ya, 1:01:41 dari rektor, dari purek, 1:01:44 dari ee Senat. ya kan dari yang mengurus 1:01:49 prodi semua itu sampai dosen-dosen ya 1:01:51 kan ada profesor ada guru besar kan 1:01:54 profesor kan ada doktor ada kita tidak 1:01:57 bisa menyalahkan mereka 1:02:00 namun pendemikian kita patut mengawasi 1:02:03 mereka jika kinerja mereka dalam keadaan 1:02:05 buruk 1:02:07 apa iya 1:02:09 ilmu yang di 1:02:11 dicari oleh mereka-mereka itu 1:02:14 mengajarkan pada keburukan 1:02:16 Tidak, 1:02:19 Profesor. Sampai apapun itu adalah figur 1:02:24 contoh kehidupan prototype yang kita 1:02:27 akan ikuti. 1:02:30 Jika mereka melakukan kejahatan, ya 1:02:32 bagaimana orang yang tidak 1:02:33 berpendidikan? Dia akan lebih 1:02:35 mengatakan, "Tuh, kan gitu. Yang pintar 1:02:39 aja profesor begitu apalagi saya." 1:02:42 Tetapi dalam kehidupan tidak begitu. Ini 1:02:45 ini ini ukuran ee misurnya seperti itu. 1:02:50 Yang profesor aja sudah begitu apalagi 1:02:53 saya. Tapi dalam kehidupan tidak seperti 1:02:55 itu. Nafsi-nafsi. 1:02:58 Maka dunia pendidikan tidak serta-merta 1:03:00 kita harus salahi. Yang benar adalah 1:03:04 evaluasi. 1:03:08 yang benar adalah eva evaluasi dalam 1:03:11 dunia pendidikan kita agar kelulusan 1:03:15 dari apapun bentuk strata pendidikan 1:03:18 kita dari S1, S2, S3, dari mana-mana 1:03:22 universitas katakan atau orang yang 1:03:24 hanya mentok pendidikannya pada ee SD, 1:03:28 SMP, SMA semisal, berperilakulah pada 1:03:32 akhlakul karimah. Jadi kegagalan manusia 1:03:35 hari ini pada dunia pendidikan karena 1:03:38 tidak mendahulukan akhlakul karimah 1:03:41 dalam pendidikannya. 1:03:44 Tuh bukan salah ilmunya, Habib Agus. 1:03:47 Jadi kalau pendidikan ini tidak 1:03:50 mendahulukan akhlakul karimah, maka 1:03:53 niscaya hasilnya akan negatif. Contoh 1:03:56 saja 1:03:58 ee dulu ustaz sudah sampaikan masalah 1:04:02 akhlak ataupun adab, etika, tata cara ya 1:04:05 kan atau susila dikatakan kan agak agus 1:04:09 susilok kan itu susila itu akhlak itu. 1:04:13 Nah, orang-orang dulu ketika dihadapkan 1:04:17 pada dua fenomena akhlak dan ilmu, yang 1:04:20 mereka cenderung memilih adalah pada 1:04:22 akhlak, bukan pada ilmu. 1:04:25 Sehingga mereka menyiapkan waktu-waktu 1:04:27 kehidupan itu khusus untuk akhlak dulu, 1:04:30 tidak pada ilmu. 1:04:31 Adab, 1:04:32 adab, etika. Maka orang dulu mengatakan 1:04:37 ee kuntu atlubu aladab. itu sudah ustaz 1:04:40 sampaikan loh bulan kemarin. Kuntu 1:04:43 atlubul adab 1:04:46 salatina sanah. 1:04:49 Saya menelaah menekuni tentang adab itu 1:04:54 lamanya 30 tahun. Di situ ada ada 1:04:58 kurikulum gak? Gak [tertawa] ada. 1:05:00 Kurikulum sekarang itu 6 tahun, 3 tahun. 1:05:03 Itulah kurikulum yang menjurus pada ee 1:05:06 kompetisi. 1:05:08 Sekarang nih kurikulum kita kurikulum 1:05:10 kompetisi. 1:05:12 Kalau masa lalu oh enggak ada yang 1:05:14 namanya kompetisi yang adalah 1:05:16 pengabdian, 1:05:17 pengorbanan. [tertawa] 1:05:19 Maka menghasilkan ulama-ulama yang luar 1:05:21 biasa. Seperti ulama salaf mengatakan, 1:05:25 "Aku belajar tentang adab, etika, akhlak 1:05:28 mulia itu 30 tahun. Waubul ilma isrina 1:05:32 sanah. 1:05:34 berbeda saat aku mendalami ilmu hanya 20 1:05:36 tahun. Coba bedanya 1:05:40 bahkan ada ulama mengatakan kepada 1:05:42 anaknya menasihati dan ini harus kita 1:05:45 lakukan pada anak-anak kita atau pada 1:05:47 anak didik kita ya bunai itu kan laama 1:05:53 baban minal adab 1:05:56 ahabbu ilama 1:06:01 baban minal ilm. Wahai anak-anakku, 1:06:04 anak-anakku mungkin anak saya. 1:06:07 Itu kan mungkin anak Abi Agus menjadi 1:06:10 murid saya. Wahai anak-anak muridku ya 1:06:12 kan. 1:06:14 Wahai apalah anak-anak akademisiku gitu 1:06:19 kan. Karena anak itu kan ada anak 1:06:21 biologis, ada anak non biologis kan ya. 1:06:24 Ada anak biologis, ada anak 1:06:27 akademisi, ada ada anak ee katakanlah 1:06:31 politis kan gitu. Nah, wahai anak-anakku 1:06:34 dalam pendidikan itu loh, 1:06:37 kamu belajar satu bab, satu ee bab itu 1:06:43 satu pasal 1:06:45 adab gitu loh. Satu pasal yang isinya 1:06:49 adalah informasi tentang adab, tentang 1:06:52 etika, tentang akhlak mulia. Satu bab 1:06:54 saja itu lebih suka bagiku. Kata orang 1:06:58 tua masa lalu. Bila dibandingkan dengan 1:07:00 engkau mempelajari 70 pasal 70 bab ilmu 1:07:04 pengetahuan. Allahu Akbar. 70 pasal ilmu 1:07:08 pengetahuan itu kan banyak sekali Agus 1:07:10 ya. Kedokteran ya fisika ya biologi ya. 1:07:13 Oh macam-macam ya kan. 1:07:18 70 pasal tentang ilmu buat saya enggak 1:07:21 peduli. Tapi kalau kamu mempelajari satu 1:07:24 bab tentang etika dan akhlak mulia, itu 1:07:27 lebih aku sukai. Kenapa? Karena satu 1:07:30 pasal bab, satu bab atau satu pasal ee 1:07:33 akhlak ada etika yang dipelajari itu 1:07:36 akan mewarnai, memayungi daripada 70 bab 1:07:41 ilmu pengetahuan. 1:07:44 Ini dahsyat, 1:07:46 ikhwan yang dirahmati Allah. Maka tugas 1:07:49 kita hari ini kita mencoba evaluasi, 1:07:53 mengevaluasi kinerja kita selama ini 1:07:56 dalam dunia pendidikan, dalam dunia 1:07:58 ekonomi, dalam dunia sosial politik. 1:08:00 Kita harus kita evaluasi agar bagaimana? 1:08:04 Agar hidup ini serba nyaman. Agar kita 1:08:08 ketika menoleh ke kanan, oh kebahagiaan. 1:08:11 menoleh ke kiri. Oh, ketentraman di 1:08:14 hadapan kita, oh keadilan di belakang 1:08:17 kita, masyaallah generasi yang akan 1:08:19 meneruskan estapeta kehidupannya begini 1:08:22 ee nikmat rasanya. 1:08:24 Evaluasi. Dan soal evaluasi yang paling 1:08:28 utama adalah evaluasi tentang 1:08:30 kenegaraan. 1:08:32 Karena negara membawahi begitu banyak 1:08:35 sosial masyarakat. Di Indonesia saja 1:08:37 masyarakat kita sudah hampir 300 juta. 1:08:41 Evaluasinya dari mana? Harus dari 1:08:43 tingkat teratas. 1:08:45 Evaluasi. Evaluasi terus turun sampai 1:08:48 tingkat RT RW. 1:08:51 Kalau itu sudah kita lakukan, Ikhwatal 1:08:53 iman, tawakal kita pada Allah luar 1:08:55 biasa. Jika tidak melakukan evaluasi, 1:08:57 coba lihat surat yang sama, surat Fatir 1:09:00 ayat 16. Buat Allah tidak susah. Jika 1:09:05 manusia tidak mau merubah nasibnya, 1:09:07 malah terus-menerus melakukan kejahatan. 1:09:09 Kejahatan, kejahatan. Eh, buat Allah 1:09:11 tidak susah. Allah katakan inasya. Ini 1:09:14 surat 16-nya, ayat 16-nya inasa. Jika 1:09:18 Allah kehendaki 1:09:21 yudhibkum, 1:09:23 kalian akan kami hapus 1:09:26 di muka bumi ini. Peradaban yang kalian 1:09:29 bangun yang kotor itu kami akan hapus. 1:09:32 Karena kamu menjadi pencuri, karena kamu 1:09:35 menjadi pengkhianat, karena kamu jadi 1:09:36 koruptor, lambat laun kami akan hapus 1:09:39 kondisi kalian. Kata Allah sendiri, 1:09:41 bukan kata Umar Rasid Hasan. 1:09:43 Inibum, 1:09:45 kalau kami berkehendak 1:09:48 kondisi kalian yang begini buruk, kami 1:09:50 akan hilangkan kalian pelaku-pelaku 1:09:53 kejahatan itu. 1:09:56 Bolqin jadid. Dan kami akan datangkan 1:09:59 makhluk-makhluk aku yang baru. Allahu 1:10:02 Akbar. Nah, yang baru ini, Ikhwat al 1:10:05 iman, tidak lepas kontrol kita, tidak 1:10:08 lepas pembicaraan kita pada generasi. 1:10:13 Jadi di sini bukan berarti dihilangkan 1:10:15 semua yang jahat itu langsung 1:10:17 didatangkan orang luar negeri 1:10:18 menggantikan rakyat yang ada. Tidak. 1:10:21 Jadi di sini bisa maknanya adalah 1:10:23 generasi. 1:10:26 Maka Allah tekankan tadi ikhwat al iman 1:10:28 sekali lagi di ayat yang ke-16 inibumin 1:10:33 jadid. Jika kami berkehendak kalau 1:10:36 kalian tidak mengevaluasi, tidak 1:10:37 bertobat dari perbuatan buruknya, kami 1:10:39 akan hilangkan kalian melalui kematian, 1:10:42 melalui fitnah, melalui ujian hidup yang 1:10:44 begitu beragam yang berat. Kami akan 1:10:46 datangkan kepada khalaya-khalaya kalian, 1:10:49 generasi yang baru, manusia-manusia 1:10:51 ciptaan Allah yang baru. Khalqin jadid 1:10:53 ini adalah generasi kita. 1:10:56 Tuh, Abi Agus. Wallahuam bisabab. 1:10:58 Wallahuam bisabawab. Kemudian, Ustaz, 1:11:00 ada Bapak Komaruddin di Karawang. 1:11:04 Subhanallah. 1:11:04 Ee memberikan komentar, "Banyak orang 1:11:07 yang pura-pura tahu." Kemudian ada Ibu 1:11:11 Najema di Samarinda. Sekarang ini banyak 1:11:14 orang pintar, pikiran, tapi bodoh secara 1:11:17 agama. 1:11:18 Subhanallah. 1:11:18 Dan ini mayoritas ustaz. Bagaimana 1:11:21 kemudian kita menghadapinya? 1:11:23 Iya. Nah, kemudian Ustaz ini juga ada 1:11:25 pertanyaan ee dan juga komentar 1:11:29 ee 1:11:32 jangan-jangan masalah pendidikan kita 1:11:35 bukan karena anak-anak kita kurang 1:11:36 pintar. 1:11:38 Hm. 1:11:38 Tetapi karena memang sejak awal kita 1:11:40 lebih sibuk bertanya, "Anak saya dapat 1:11:43 nilai berapa daripada bertanya 1:11:45 anak saya sudah menjadi manusia yang 1:11:48 seperti apa." 1:11:49 Masyaallah. 1:11:50 Tiga pertanyaan penutup, Pak Ustaz. 1:11:52 Penutup, ya. 1:11:53 Jadi begini Bunda dan yang bertanya 1:11:56 tadi, kita sharing ini kelihatannya ini 1:11:58 lebih kepada sharing ya, 1:12:02 jadi kalau kita melihat dan ee menilai 1:12:06 standar 1:12:08 menilai standar pendidikan nasional kita 1:12:13 ya kita tidak salah kalau 1:12:16 niat kita mendidik anak itu menjadi anak 1:12:18 yang baik lalu mendapatkan ilmu yang 1:12:21 banyak Dan dengan ilmunya mereka 1:12:24 dihargai oleh Allah Subhanahu wa taala. 1:12:26 Jadilah mereka karyawan, jadilah mereka 1:12:29 pegawai. Itu kehormatan Allah buat 1:12:31 mereka yang memiliki ilmu. Jadilah 1:12:34 mereka ee 1:12:36 apa namanya? ee 1:12:39 ee pemimpin perusahaan gitu kan. Ee 1:12:43 jadilah mereka direktur ya kan? Jadilah 1:12:46 mereka dokter. Terjadilah mereka itu 1:12:48 Allah menghormati generasi yang kita 1:12:50 miliki ee ee dari ilmu yang Allah beri. 1:12:54 Allah Allah hargai, Allah hormati 1:12:56 kedudukan 1:12:58 gu. Tetapi ikhwat al iman yang dirahmati 1:13:01 Allah, 1:13:02 kenyataan yang seperti ibunda tadi 1:13:04 katakan ya, kita hari ini ingin anak 1:13:07 kita subhanallah pintar yang 1:13:10 pintar-pintar ini menjadi A B C D yang 1:13:13 ustaz sebutkan tadi yaitu idealnya 1:13:16 keinginan kita. Namun pun demikian, 1:13:20 idealnya cita-cita kita itu bukan kita 1:13:24 menyerahkan segala urusan pada dunia 1:13:26 pendidikan formal kita. 1:13:29 Ingat bahwa asas ataupun dasar-dasar 1:13:33 akhlakul karimah itu 90% didominasi 1:13:36 dengan keluarga loh. Ingat 1:13:39 10% itu mungkin akhlak itu didapati di 1:13:43 dua nilai pendidikan 1:13:45 tapi 90% 1:13:47 nilai akhlak dan etika itu adanya di 1:13:50 rumah kita sendiri. Maka jangan lupa 1:13:52 sebelum kita mengirimkan anak-anak kita 1:13:55 ke dunia pendidikan ya strata yang lebih 1:13:58 tinggi setelah SMP, setelah SMA ke 1:14:01 universitas, ingat bekali dulu dengan 1:14:04 akhlak yang kita didik di rumah tangga 1:14:06 kita. Ingat loh Bunda, Ayahanda, 90% 1:14:10 akhlak itu ada di rumah kita. Maka ibu 1:14:12 bapaknya sendiri yang harus lebih 1:14:14 berakhlak di rumahnya agar ditiru oleh 1:14:17 anak dan keturunannya. Apalagi peniruan 1:14:20 itu sempurna. saat mereka menjadi ee apa 1:14:23 namanya e mahasiswa atau siswa dia sudah 1:14:27 dibekali [musik] akhlak yang baik. Tentu 1:14:30 kalaupun mereka sudah di [musik] 1:14:32 mahasiswa keluaran dari mahasiswa akan 1:14:35 menjadi masih harapkan. Nah, itu itu 1:14:38 ingat Bunda 1:14:41 dan juga ikhwat iman yang dirahmati 1:14:43 Allah. 1:14:44 Tapi hari [musik] ini soal strata 1:14:47 pendidikan itu, Abi Agus kemarin pusat 1:14:49 mendengar informasi di [musik] Jawa 1:14:51 Barat kalau enggak salah ada ulama besar 1:14:54 tapi punya dia berjelar profesorit saya 1:14:56 sebut namanya [musik] 1:14:58 bergelar profesor doktorannya 1:15:02 ma apalah gitu kan tapi semua [musik] 1:15:06 ijazahnya itu boleh apaus sekarang boleh 1:15:11 boleh beli 1:15:14 Setelah dianalisa ini benar enggak 1:15:16 profesornya ini dari mana? Universitas 1:15:18 mana ini dokternya benar enggak dokter 1:15:20 dari mana? Di situ ada dokter HC honoris 1:15:23 kausa. 1:15:24 Dokter HC itu humoris kausa atau [musik] 1:15:27 honoris kausa. 1:15:30 Katakanlah honoris kausa ya bukan 1:15:33 humoris ya. 1:15:35 Dapat dokter has dari mana ini? 1:15:39 Setelah dianalisa [musik] 1:15:41 ini universitas ini tidak mengeluarkan 1:15:43 doktor AC-nya. Universitas ini tidak 1:15:46 [musik] mengangkat ini profesor, guru 1:15:48 besar. Oh, ternyata bodong. Ini dunia 1:15:51 pendidikan yang amburadu [musik] seperti 1:15:53 ini yang harus mendapatkan perhatian 1:15:56 pemerintah 1:15:57 agar kita ini [musik] tidak didera 1:15:59 kepada kejahatan ee akademisi. 1:16:04 Ingin [musik] cepat jadi profesor tapi 1:16:06 beli. Ingin cepat jadi dokter doktor 1:16:09 tapi beli. Allahu Akbar. 1:16:11 [musik] 1:16:12 Ini apa-apaan 1:16:15 tidak seperti itu. Harus ada tim 1:16:17 kontrol. 1:16:19 Sehingga seseorang jadi profesor, ya 1:16:21 benar [musik] dia profesor. Sehingga dia 1:16:23 jadi doktor, ya benar jadi doktor. Jelas 1:16:26 universitasnya. 1:16:27 [musik] Doktor itu tidak mungkin 1:16:29 dikeluarkan dari strata pendidikan SD. 1:16:31 Enggak mungkin. 1:16:34 adanya doktor itu dikeluarkan dari 1:16:43 yang dirahmati Allah, mari sama-sama 1:16:45 kita sadarkan diri masing-masing 1:16:48 terutama sekali pada 1:16:51 masyarakat kita umat Islam yang beriman 1:16:53 [musik] pada Allah bahwa segala sesuatu 1:16:56 ada pertanggungjawabannya. 1:17:01 Berjalanlah pada rel-rel 1:17:05 hukum Allah yang 1:17:08 sehingga kehidupan kita akan dinilai 1:17:10 benar. Jika tidak kita Allahu Akbar 1:17:14 lagi-lagi akan menjadi umat seperti ee 1:17:18 digambarkan oleh Allah Subhanahu wa 1:17:20 taala pada surat yang sama, surat Fatir 1:17:23 di ayat yang terakhir yaitu ayat 45. Apa 1:17:26 Allah katakan? Ini ini nasihat buat 1:17:29 kita, [musik] 1:17:30 buat seluruh manusia. Apa kata Allah 1:17:33 Subhanahu wa taala? 1:17:44 [musik] Jika Allah menghendaki azab 1:17:48 kepada manusia seluruhnya 1:17:50 atas perbuatan yang mereka lakukan, 1:17:53 apakah pelanggaran akademisi tadi? 1:17:56 Apakah pelanggaran etika tadi sehingga 1:17:59 menjadikan tatanan katakanlah instansi 1:18:01 pemerintah tidak [musik] benar untuk 1:18:03 amburadul itu jika Allah ingin menyiksa 1:18:07 mereka pelaku-pelaku kejahatan itu. 1:18:11 Justru kata Allah 1:18:14 kami tidak akan sisakan di atas muka 1:18:17 bumi ini orang-orang jahat. 1:18:21 Jika Allah kehendaki. Walakin kata Allah 1:18:24 walakin yuakirum 1:18:27 ajalim musamma. [musik] Namun dengan 1:18:29 rahmat Allah azab-azab itu Allah geser 1:18:33 sedikit. 1:18:36 Diakhirkan azab itu oleh Allah Subhanahu 1:18:38 wa taala. Untuk apa? Untuk sebuah 1:18:40 perenungan. Untuk sebuah kesadaran, 1:18:43 pertaubatan. [musik] 1:18:45 Semua dosa anak Adam ini akan diampuni 1:18:48 oleh Allah. terkecuali syirik dan 1:18:50 kekafiran dan tidak ada manusia yang 1:18:52 bersih dari dosa dan kesehatan. Eh, 1:18:54 Allah masih memberikan kesempatan lakin 1:18:58 wakinum. 1:19:02 Namun Allah mengakhirkan ada azab itu 1:19:04 bagi pelaku-pelaku kejahatan untuk apa? 1:19:07 Untuk diberi kesempatan [musik] 1:19:09 bertobat. 1:19:13 Namun [musik] jika datang ajal pada 1:19:15 mereka, 1:19:20 maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa 1:19:21 taala bagi hamba-hambanya itu basi, 1:19:25 maha melihat, maha memperhatikan, maha 1:19:29 segala-galanya. Eh, ternyata 1:19:31 hamba-hambaku di kota Jakarta nih begini 1:19:34 ya pekerjaan kalian. 1:19:38 Kami yang memberikan jabatan pada 1:19:40 kalian. Eh, ternyata begini ya. 1:19:43 Memperlakukan pemberian aku berupa 1:19:46 jabatan itu, itu Allah yang memiliki 1:19:47 jabatan. 1:19:49 Eh, ternyata orang-orang Jakarta, 1:19:51 orang-orang Medan, orang Bandung, orang 1:19:52 Surabaya, aku beri kenikmatan jabatan 1:19:55 kok diperlakukan 1:19:57 tidak adil ya. Nah, itu maka jika Allah 1:20:01 berkehendak di ayat ini, Allah akan 1:20:03 hapus itu dengan azabnya. Namun itu tadi 1:20:06 semoga kita masih diberi kesempatan 1:20:08 untuk bertobat dengan ayat Allah wakin 1:20:11 yuakhirum ajal musamma sehingga 1:20:13 dosa-dosa itu subhanallahilim 1:20:16 azab-azab itu digeser pada waktu yang 1:20:20 lain dan sehingga kita diberi kesempatan 1:20:23 untuk mengakui segala dosan kesalahan 1:20:26 lalu bertobat pada Allah dengan taubatan 1:20:30 nasuha. Wallahuam bissawab. Baik, ikhwan 1:20:34 dan akhwat, tidak terasa kita sudah 1:20:36 berada di penghujung acara. Tadi ada 1:20:39 Bang Haji Caca yang menyimak dan ingin 1:20:41 berkomentar, Ustaz. 1:20:43 Namun karena kita dibatasi oleh waktu 1:20:46 ee mohon maaf nih Bang Haji Caca juga 1:20:49 tadi ada 1:20:51 apa namanya telepon dari Uti Musiati. 1:20:54 Hm. 1:20:55 Juga mungkin ingin berinteraktif tapi 1:20:57 kita sudah berada di 1:20:58 Iya. Iya. 1:20:59 Pekan depan. 1:21:00 Enggak ada kesempatan lagi, Ustaz. 1:21:01 Pekan depan ya. 1:21:02 Baiklah. Sebagai penutup, Ustaz, mungkin 1:21:04 bisa kita tarik kesimpulan dari 1:21:06 pembahasan kita di siang hari ini. 1:21:08 Bismillahirrahmanirrahim. Sebelumnya 1:21:10 Ustaz mengucapkan salam dulu kepada 1:21:12 semua pendengar 1:21:13 dan pemirsa televisi Rasil di mana saja 1:21:17 berada. 1:21:18 Harap di ee kiranya ketika siapapun yang 1:21:21 memberikan ceramah seperti ini yang 1:21:24 paling utama adalah samina wa atna. Kan 1:21:27 begitu. 1:21:29 Samna wa atna. kita mendengar dan kita 1:21:33 patuh terhadap apa yang didengar. Dan 1:21:36 semoga kita diberi rezeki oleh Allah 1:21:37 Subhanahu wa taala yang selalu 1:21:40 fayattabiuna ahsanah mengikuti daripada 1:21:44 nasihat-nasihat yang baik. Jadi kita kan 1:21:46 menasihati diri kita, keluarga kita, dan 1:21:49 masyarakat dengan nasihat yang baik. 1:21:51 Fayattabiuna ahsanah. kita semoga 1:21:53 menjadi hamba-hamba Allah yang ketika 1:21:56 dapat nasihat gitu kan kita ikuti 1:21:59 nasihat itu tentunya nasihat baik kita 1:22:02 ikuti nasihat baik itu fayattabiuna 1:22:04 ahsana mengikuti nasihat-nasihat yang 1:22:07 baik itu sehingga apa sehingga ruang 1:22:10 kehidupan itu tidak sempit dosa itu 1:22:13 mempersempit kehidupan 1:22:15 dosa perilaku kotor itu mempersempit 1:22:18 kondis 1:22:20 ingat itu. Tetapi jika aman, damai, 1:22:24 tentram, mengikuti hal-hal yang baik 1:22:26 dari nasihat, mengikuti nasihat yang 1:22:30 baik itu membuka cakrawala 1:22:33 dengan berbagai kesempatan-kesempatan 1:22:35 hidup yang begitu banyak amal salehnya. 1:22:38 Jadi, kita tidak 1:22:41 asal 1:22:43 memberikan nasihat kepada masyarakat. 1:22:45 Namun yang paling penting adalah nasihat 1:22:48 itu mari kita dengarkan. Siapapun yang 1:22:50 beri nasihat asalkan baik, dengarkan 1:22:53 nasihatnya. Yang utama lakukan 1:22:56 nasihat yang didengarkan itu menjadi 1:22:58 butir-butir ikhwat al iman, hikmah dalam 1:23:01 kehidupan. Sehingga kita, betapun siapa 1:23:05 kita yang hidup di dunia yang pernah 1:23:07 berdosa, yang pernah bersalah, yang 1:23:10 pernah korupsi, yang pernah membunuh, 1:23:13 yang pernah berkhianat, oh macam-macam. 1:23:16 diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu 1:23:18 wa taala untuk dapat penghapusan dosa 1:23:21 hanya dengan bertobat kepada Allah 1:23:23 Subhanahu wa taala atas segala kasalan. 1:23:26 Semoga ikhwat al iman Allah tetap 1:23:29 menyayangi kita yang lemah ini 1:23:32 memberikan berkah kehidupan pada kita, 1:23:36 memasukkan diri kita pada hamba-hamba 1:23:38 Allah yang diridai dalam kehidupannya 1:23:40 mendapatkan magfirah dan rahmat Allah 1:23:43 Subhanahu wa taala. Ini kalimat wajib 1:23:46 diaminkan oleh semua yang mendengar 1:23:49 sehingga semoga Allah menjawab dalam 1:23:52 waktu yang dekat dan kita termasuk 1:23:54 hamba-hamba Allah yang beruntung di 1:23:56 dalam rahmat dan kasih sayang Allah 1:23:59 Subhanahu wa taala. Wallahuam bisawab. 1:24:03 Baik, Ustaz. Jazakallah atas ee 1:24:06 tausiahnya. Ikhwan dan akhwat, 1:24:08 pendidikan jangan hanya mencetak 1:24:11 generasi yang pintar, tetapi juga 1:24:13 generasi yang pintar dan benar. Karena 1:24:16 memang ilmu itu harus disertai iman, 1:24:19 adab, akhlak, dan tanggung jawab. Karena 1:24:22 ilmu adalah amanah, jangan sampai kita 1:24:24 hanya mengejar gelar dan prestasi. 1:24:26 Subhanallah, 1:24:27 tetapi kehilangan kebenaran dan 1:24:29 keberkahan ilmu. Dan semoga ilmu yang 1:24:31 kita miliki menjadi jalan kebaikan dan 1:24:33 kemaslahatan bagi umat. Amin. 1:24:35 Akhirul kalam kami yang bertugas di 1:24:37 siang hari ini mohon undur diri. 1:24:38 Subhanakallahumma 1:24:40 wabihamdika ashadu alla ilahailla anta 1:24:42 astagfiruka waubu ilaikaliq. Wabillahi 1:24:45 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 1:24:47 warahmatullahi wabarakatuh. 1:24:49 Waalaikumsalam.