Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:04 braasil 0:05 [Musik] 0:13 [Musik] 0:19 TV braasil 0:21 [Musik] 0:28 TV 0:36 Brasil 0:37 [Musik] 0:44 [Musik] 0:50 TV rasil 0:53 [Musik] 0:58 TV 1:00 [Musik] 1:08 [Musik] 1:15 cintai Papua ee menjelang 17 Agustus e 1:20 2022 menjelang ulang tahun kemerdekaan 1:23 Eh Republik Indonesia kita ingin 1:27 membahas salah satu isu krusial yang 1:29 juga menjadi perhatian e para pemimpin 1:32 dan kebijakan publik e di negeri ini 1:35 yaitu terkait dengan kebijakan pemekaran 1:37 provinsi Papua Eh sahabat-sahabat 1:40 sekalian ya Eh pemekaran provinsi Papua 1:44 dinilai telah membuat situasi politik 1:46 dan keamanan di bumi cendrawasi semakin 1:49 panas langkah pemerintah dan DPR yang 1:51 bersih Kukuh mengesahkan tiga 1:53 undang-undang pembentukan Provinsi baru 1:56 dikhawatirkan bakal memperuncing konflik 1:58 di Papua Jika dilihat ada perbedaan 2:01 pandangan antara pemerintah dan sebagian 2:03 orang asli Papua ihwal pembentukan 2:05 Provinsi Papua Tengah Papua pegunungan 2:09 dan Papua Selatan pemerintah yakin 2:11 berbagai permasalahan di Papua bakal 2:13 selesai lewat pemekaran namun bagi warga 2:16 Papua yang harus diselesaikan adalah 2:18 konfliknya dahulu artinya dengan 2:21 pemekaran tak berarti konflik selesai 2:23 majelis rakyat Papua atau mrp yang 2:26 mewakili masyarakat adat dan kultural 2:28 Papua juga melihat ada kepentingan lain 2:31 di luar efektivitas pemerintahan seperti 2:33 yang kerap pemerintah katakan menurut 2:35 mrp dalam amar gugatan undang-undang 2:38 otonomi khusus Papua ke Mahkamah 2:40 Konstitusi pemecahan akan Kian 2:42 mempersempit hak orang Papua menentukan 2:44 nasib sendiri argumen yang secara 2:47 konstitusi juga kuat ya mrp menggugat 2:51 pasal 76 undang-undang otonomi khusus 2:53 yang menyebarkan menyebutkan Pembentukan 2:55 provinsi baru di Papua boleh melangkahi 2:58 daerah persiapan padahal tahapan daerah 3:00 persiapan ini wajib ada seperti diatur 3:02 dalam undang-undang nomor 23 tahun 2014 3:05 tentang pemerintahan 3:07 daerah banyak desakan agar pemerintah 3:10 mengevaluasi pendekatan yang selama ini 3:12 cenderung berorientasi ke keamanan dan 3:14 sentralistis terhadap Papua alih-ali 3:16 bersih keras memecah Papua ke dalam 3:18 wilayah kecil Jakarta dianggap perlu 3:21 lebih memenuhi kewajiban yang 3:22 diamanatkan otonomi khusus seperti 3:25 membentuk pengadilan hak asasi manusia 3:27 mendirikan komisi sampai membuat 3:30 peradilan adat untuk mengurai 3:32 masalah-masalah pel di provinsi dan di 3:35 daerah Papua Apa yang mesti segera 3:39 dilakukan UN leader kali ini akan 3:41 membahas tema terkait dengan Ayo cintai 3:44 Papua dan sudah hadir bersama kita para 3:48 narasumber yang pertama sudah hadir 3:51 Eh Kakak frederika ya Kakak frederika 3:56 kain yang merupakan advokat e perempuan 3:59 dari Papua Selamat malam Kak frederika e 4:02 selamat malam dan kemudian Yang kedua 4:05 juga sudah hadir juga bersama kita Bang 4:07 Haris Azhar ya direktur eksekutif eh 4:10 lokataru garam warga sadarham eh Selamat 4:15 malam Bang Haris Azar dan kemudian eh 4:19 juga sudah hadir bersama kita Prof Cahyo 4:22 pemungkas peneliti tim kajian Papua Brin 4:24 Selamat malam eh Prof 4:28 Cahyo ya selamat malam selamat malam ka 4:33 rumah kita bapak Dr Mardani alera ya 4:36 juga sudah hadir asalamalaikum Pak 4:38 Mardani salamangdi Mbak frederika Matur 4:42 nuuhun Prof Cahyo Mang Har Azhar malam 4:47 Dan ini juga nanti akan bersama kita 4:49 eh Bung Roki Gerung yang senantiasa duet 4:52 e setiap pekan bersama Pak marani di 4:54 acara 4:55 ini sebelum kita mulai sahabat-sahabat 4:58 sekalian ee eh kita ingin mengucapkan 5:01 terima kasih kepada seluruh pemirsa 5:03 Setia industrial leader ST dan juga 5:06 rekan-rekan media dan warta yang terus 5:08 senantiasa menyaksikan eh mengikuti 5:12 memberitakan acara ini semoga bisa 5:14 menjadi sumbangsih konten pencerahan 5:17 bagi seluruh rakyat Indonesia dan juga 5:19 para pengambil kebijakan publik di 5:21 negeri ini acara ini bisa disaksikan 5:24 secara langsung melalui channel YouTube 5:26 dan Facebook Mardani ala kemudian 5:29 channel YouTube eh PKS TV dan rasil TV 5:32 dan juga disiarkan secara langsung 5:34 melalui channel radio rasil 720 am di 5:38 sekitar jabod detabek dan di relay juga 5:41 melalui jaringan radio rasil di beberapa 5:43 kota di seluruh Indonesia dan juga 5:46 disiarkan juga oleh Radi Channel eh 5:48 YouTube PKS TV Jakarta Timur baik 5:51 sahabat-sahabat sekalian eh eh kita 5:54 mulai acara pada malam ini kepada Pak 5:57 Mardani dipersilakan tadi juga ada ada 5:59 titipan dari Kak frederika ingin E 6:02 mengetahui sikap PKS sebenarnya 6:04 Bagaimana terkait kebijakan ee otonomi 6:07 Papua dan pemekaran e Provinsi Papua ini 6:09 kepada Pak maripersilakan Pak kasih Bang 6:12 haldi izin Pak predika nanti saya 6:16 jawab Bismillahirrahmanirrahim 6:23 Eh Alhamdulillah Allahumma sholli ala 6:26 sayyidina muhammad Amma ba 6:30 Selamat malam dan salam sejahtera untuk 6:32 kita semua bahagia sekali Indonesia 6:35 Leaders talk seri 6:38 ke99 ya pekan depan kita seri ke-1 Bang 6:42 Har Azhar ya Eh Rencananya mau offline 6:45 ya mau show 6:48 of agar kita bisa lebih jaga demokrasi 6:52 ini adalah eh usaha kita untuk melakukan 6:56 civic education pendidik publik agar 7:00 menjadi 7:02 ee warga yang beretika dan berlogika 7:06 dalam membangun Indonesia Tema kita 7:09 malam ini Ayo cintai Papua memang 7:12 sengaja ya kita ingin membahas dari 7:16 banyak Sisi terkait dengan Papua ee masa 7:21 depan Papua kondisi saat ini Papua serta 7:25 kita belajar mencari solusi ee bagaimana 7:28 kita menjadikan Papua betul-betul dapat 7:32 menikmati keseluruhan 7:34 ee keindahan kemerdekaan keindahan 7:38 kebebasan ee di ee NKRI yang kita cintai 7:42 ini tentu ini bukan perkara yang mudah 7:45 karena itu matur nuwun Prof Cahyo Mas 7:48 Haris Mbak predika dan nanti ini eh eh 7:51 Selamat bergabung Bung Roki eh Tema kita 7:54 ee tema yang agak spesial Ayah cintai 7:57 Papua ee e nanti Mbak fredera bisa 8:00 langsung menyampaikan tapi Izinkan saya 8:03 menyampaikan tiga 8:04 hal yang pertama adalah bahwa Indonesia 8:08 bukan kumpulan Pulau bukan kumpulan ee 8:13 sumber daya alam tapi dia kumpulan orang 8:16 dengan mimpinya dengan harapannya dengan 8:20 cita-citanya dengan kondisi eh 8:25 demografisnya psikologisnya geografisnya 8:28 ataupun ologisnya jadi orang-orang dan 8:31 orang yang harusnya 8:33 menjadi perhatian utama Ya karena memang 8:37 ide besar kita membangun NKRI sebetulnya 8:40 meluluk dalam rangka melindungi segenap 8:42 bangsa dan seluruh tanah tumpah darah 8:44 Indonesia memajukan kesjastraan umum 8:47 mencerdaskan kehidupan bangsa dan terus 8:49 serta dalam ee perdamaian dunia Jadi ee 8:53 Apun kebijakan di skala nasional di 8:56 skala lokal 8:57 ee di di skala publik itu harus selalu 9:01 berorientasi kepada orang-orang dan 9:03 orang ya karena itu pendapat orang 9:07 harapan orang dan cita-cita orang itu 9:11 harus menjadi pegangan 9:13 utama dan karena itu 9:16 eh Malam ini saya ingin ee sedikit 9:19 menyampaikan betapa bahwa poin dua ya 9:23 dalam konteks kita negara yang 9:26 berdemokrasi negara yang punya banyak 9:29 bak kepentingan punya banyak Catatan 9:32 punya banyak harapan tentu ee kebijakan 9:37 publik yang diambil harus melulu 9:39 betul-betul berbasis kepada etika dan 9:41 logika yang kuat ini yang selalu 9:43 dibangun jadi ketika kita mencoba 9:45 menyelesaikan masalah Papua maka 9:47 pekerjaan utama kita adalah bagaimana 9:50 Papua papua dan papua harus menjadi 9:53 perhatian utama kita dari perspektif 9:56 betul-betul yang pertama tentu tadi jadi 9:59 orangorang dan orang ya baru kemudian 10:02 kita membahas yang lainnya jadi 10:04 ee tentu etika kita membangun Papua itu 10:10 lebih dahulu ketimbang bagaimana kita 10:13 mencoba untuk pembangunan fisik nah saya 10:16 eh tertarik dengan tulisan Pak Laode Ida 10:20 di Kompas Pekan lalu Kalau enggak salah 10:22 ya ketika 10:24 pembangunanisme yang dikedepankan 10:27 ketimbang pendekatan humanisme 10:30 pendekatan kemanusiaan 10:33 pendekatan bahwa setiap orang punya 10:35 pikiran ee setiap orang harus didengar 10:39 setiap orang harus dimintai ee pendapat 10:43 tapi ketika keputusan politik sudah 10:45 diambil memang harus 10:47 ada Law enforcement yang adil yang harus 10:50 dijalankan ya jadi poin dua kebijakan 10:53 publik yang harus diwujudkan itu 10:56 kebijakan publik yang betul-betul mampu 10:59 mewadahi ya keseluruhan dari 11:02 pikiran-pikiran harapan-harapan dan 11:04 cita-cita dari orang-orang yang 11:06 berkumpul di 11:07 dalamnya tentu ini bukan proses yang 11:09 mudah tapi dengan pendekatan eh 11:12 sacitifik dengan data yang kuat dengan 11:16 melibatkan para pakar ee dengan 11:19 kerendahan hati seluruh pihak baik 11:21 pemerintah pusat pemerinterah termasuk 11:24 kami yang di DPR RI Insyaallah kita akan 11:27 menemukan titik e tengahnya ada yang 11:31 menarik yaitu ketika eh teman-teman kita 11:35 di Gerakan Aceh Merdeka bisa duduk 11:39 bareng bisa menghasilkan dokumen 11:41 Helsinki bisa menjadi satu titik tolak 11:45 Bagaimana mewujudkan Aceh yang sejahtera 11:48 Aceh yang maju Aceh yang EE mampu dengan 11:52 segala spesifikasinya tumbuh dan 11:54 berkembang dalam NKRI nah ini tentu 11:57 menjadi salah satu k ee contoh yang baik 12:00 Bagaimana kita menyelesaikan segala 12:02 masalah yang ada dalam ruang lingkup 12:04 anak bangsa di dalam negara kesatuan 12:07 Republik Indonesia terakhir yang ketiga 12:09 ingin saya sampaikan eh sebagai juga 12:11 penjelasan 12:12 eh PKS mendukung eh Mbak frederika Eh 12:17 pemekaran ini dengan catatan satu dia 12:21 harus betul-betul mendengarkan ee 12:24 perasaan pikiran harapan dari masyarakat 12:27 Papua ya dan karena itu 12:30 ee secara 12:32 logikanya harapan kami dengan pemekaran 12:35 ini walaupun kami di PKSS mendapat 12:37 banyak sekali 12:38 harapan Wilayah lain juga dimekarkan 12:42 ditambah tetapi dengan segala kecintaan 12:45 kepada 12:47 Papua PKS menganggap bahwa eh pemekaran 12:51 ini adalah sesuatu yang baik karena ada 12:54 anggaran ada perhatian ada lokasi SDM 12:57 terbaik ada pelayanan yang mestinya 13:00 dapat ditingkatkan teorinya teorinya 13:03 tetapi juga PKS mendapatkan masukan yang 13:07 sangat berharga dari teman-teman mrp ya 13:10 teman-teman mrp datang ke DPP PKS 13:13 ditemui oleh Presiden PKS saya kebetulan 13:15 karena mewakili komisi 2 diundang 13:18 Harapan teman-teman mrp adalah segala 13:21 hal ini ditunda sampai Keputusan 13:23 Mahkamah Konstitusi terkait judicial 13:25 review pasal 76 ayat 2 dan 3 khususnya 13:29 itu diselesaikan kami setuju bahwa 13:32 judicial review pasal 76 ayat 2 dan 3 13:35 perlu untuk segera diputuskan karena 13:38 memang ini adalah salah satu legal 13:41 action konstitusional action yang 13:43 diambil oleh teman-teman mrp atau 13:46 sebagian dari masyarakat Papua agar 13:49 kedaulatannya haknya pikirannya 13:51 perasaannya dapat didengar tetapi ee 13:54 kami juga melihat ee proposal pemecahan 13:57 ini dapat menjadi jadi solusi bagi 14:00 Bagaimana orang-orang yang ingin agar 14:03 daerahnya maju mendapatkan perhatian 14:05 mendapatkan anggaran tetapi catatan 14:09 kami sebaiknya ini dilakukan sesudah 14:12 judicial review dikeluarkan kami sudah 14:14 sampaikan itu di eh rapat komisi 2 14:19 Bagaimana judicial review ini menjadi 14:22 perhatian kita bersama tetapi sayangnya 14:25 memang sampai akhir kita melihat 14:27 judicial review belum keluar juga dan 14:29 karena itu kami mendesak ee para hakim 14:33 di Mahkamah Konstitusi untuk segera 14:35 mendapatkan eh hasil keputusan dari 14:39 eh Jr pasal 76 ayat 2 dan 3 terakhir 14:43 yang ketiga tentu seluruh kebijakan di 14:46 negara ini 14:48 ee pasti akan mendapatkan respon e 14:52 masukan bagaimana sesuatu yang baik 14:55 menurut pusat punya catatan di daerah 14:57 ataupun catatan dari para pengamat dan 14:59 EE kita punya mekanismenya ada Judus 15:03 review-nya ada juga ee mungkin kalau 15:06 perlu ee yang lebih kuat ptun-nya dan 15:09 lain-lainnya maka intinya adalah bahwa 15:12 Ayo Satukan pikiran Satukan hati untuk 15:15 mencintai Papua karena Papua adalah kita 15:18 dan kita adalah Papua begitu Bang 15:22 haldi Baik terima kasih 15:25 ee Pak Mardani dan berikutnya eh kita 15:30 ingin mendengarkan secara langsung dari 15:32 Kak frederika yang sebagai advokat eh 15:35 perempuan masyarakat Papua Seperti apa 15:37 sebenarnya aspirasi dari mayoritas 15:40 masyarakat Papua terkait dengan 15:42 kebijakan ini 15:43 eh yang juga mudah-mudahan bisa menjadi 15:46 masukan dari kepada pemerintah dan para 15:49 pengambil kebijakan di Legislatif dan 15:51 Eksekutif kepada Kak frederika 15:54 dipersilakan 15:57 Kak di-unmute dulu 16:02 Kak masih mute 16:09 Mbak ya selamat malam bisa dengar suara 16:12 saya jelas mbak ya iya 16:16 ee terima kasih untuk kesempatan ini dan 16:20 terima kasih juga untuk 16:23 ee tadi saya lupa nama pak mohon maaf 16:27 Sayati lihat 16:30 kembali Pak Mardani aman Mbak Iya iya 16:34 pak Mardani untuk penjelasannya tadi 16:37 karena ketika saya lihat flyer ini saya 16:40 terus bertanya ini 16:42 eh posisi PKS Bagaimana di Senayan pada 16:47 saat 16:48 pembahasan rancangan undang-undang 16:52 eh pemekaran wilayah termasuk juga eh 16:56 sebelumnya otonomi khusus yang di Papua 16:59 kami e beri nama otonomi khusus jilid du 17:03 dan Tadi saya sudah dengar 17:05 eh menarik bahwa PKS memberi 17:10 catatan orientasi dari kebijakan Ini 17:13 mesti pada orang atau pada manusiaal ya 17:16 kalau kita rumuskan seperti itu Nah 17:19 pertanyaannya lagi manusia yang 17:21 mana manusia ini manusia yang mana 17:24 Apakah manusia menurut kacamata ta 17:29 ketika itu Menyusun kebijakan ini atau 17:32 manusia Papua yang menjadi 17:35 ee inti dari ee kebijakan pemakaran ini 17:40 Nah itu mungkin itu perlu dijelaskan 17:43 dulu supaya eh nanti ya diskusi kita 17:47 menjadi menjadi lebih mendalam lebih 17:49 menarik dan dan tadi misi untuk 17:53 membangun Papua itu betul-betul bisa 17:56 tercapai nantinya nya Nah seperti yang 18:00 mungkin Jakarta ini jauh sekali dari 18:02 Papua tetapi ee lewat berbagai 18:05 pemberitaan 18:06 eh teman-teman di luar Papua mungkin 18:10 yang mengikuti perkembangan mengetahui 18:13 dengan dengan persis bahwa 18:16 ee suara masyarakat mayoritas ya suara 18:20 mayoritas Saya tahu bahwa ada sebagian 18:23 orang papua sebagian atau segelintir 18:25 sebetulnya sejumlah orang-orang Papua 18:27 yang pulang pergi ke Jakarta dan 18:31 EE meminta supaya wilayahnya dimekarkan 18:35 ya ada kita tidak menutup mata terhadap 18:38 itu tapi bahwa yang terjadi mayoritas 18:42 masyarakat 18:43 ee menyatakan menolak kebijakan 18:46 pemekaran ini yang memang sifatnya kan 18:49 dibuat sepihak di Jakarta ini Nah itulah 18:52 yang eh apa saya sebetulnya ingin tahu 18:55 pembuat kebijakan ini terutama ee para 18:58 anggota-anggota DPR di 19:01 Senayan Apa yang dipikirkan bahwa 19:03 kebijakan sebesar pemekaran Papua ke 19:06 dalam sekian provinsi itu sama sekali 19:09 tidak dikonsultasikan dengan baik dengan 19:11 rakyat Papua dan bagaimana kebijakan 19:15 macam ini ketika tidak dikonsultasikan 19:17 bisa mendapat dukungan yang luas di 19:20 Papua betulbetul kami ee apa namanya 19:24 tidak untuk kami kebijakan Apa yang 19:26 dilakukan di Jakarta kemarin dengan 19:29 menghasilkan rancang ee menghasilkan 19:31 undang-undang dari rancangan menjadi 19:32 undang-undang ya P tanggal 29 kemarin 19:35 presiden sudah tandaatangan 19:38 Ee dengan tidak ada konsultasi tidak 19:41 melibatkan rakyat Papua sama sekali ini 19:44 akan bisa efektif karena kita sudah 19:48 belajar 20 tahun dengan adanya 19:49 undang-undang otsus yang pertama Nomor 19:52 21 Tahun 19:54 2001 yang prosesnya sebetulnya 19:57 melibatkan rakyat ya konsultasinya 19:59 dibuat sekian itu gelombang dengan 20:02 rakyat di berbagai itu pelosok ya tidak 20:04 hanya di Jayapura sampai di beberapa 20:07 wilayah-wiah eh wilayah-wilayah yang 20:09 lain itu saja dalam perjalanannya 20 20:12 tahun tidak eh apa tidak seperti yang 20:15 kita bayangkan ya Eh tidak tidak 20:18 mendapat itu apa rakyat keterlibatan 20:21 rakyat begitu kecil sekali apalagi 20:23 dengan kebijakan yang terbaru ini yang 20:25 sama sekali tidak melibatkan rakyat 20:26 Papua secara signifikan ya dan EE tadi 20:31 kalau memang mimpinya adalah mau membuat 20:35 Papua ini menjadi ee apa namanya menjadi 20:38 baik Ya tidak seperti apa yang terjadi 20:41 saat ini tapi kalau prosesnya untuk 20:45 menghasilkan kebijakan ini saja sudah 20:47 dikerjakan dengan cara seperti itu 20:50 sepihak dari Jakarta tanpa mendengar 20:53 aspirasi orang Papua yang menjadi subjek 20:56 dari kebijakan ini sulit Saya 20:59 membayangkan bahwa kebijakan ini bisa 21:01 menjadi ee obat yang 21:04 mujarab untuk 21:07 menjawab Segala persoalan yang sedang 21:10 terjadi atau selama ini terjadi di 21:13 Papua nah 21:16 eh ada sesuatu yang membuat kami terus 21:18 bertanya-tanya sampai hari ini apa 21:21 sesungguhnya yang membuat pemerintah 21:23 pusat begitu sulit membuka diri dan 21:27 mendengar suara rakyat Papua pemerintah 21:30 pusat dalam hal ini 21:32 eksekutif termasuk para wakil rakyat di 21:35 Senayan ya yang sulit sekali mendengar 21:40 memberi ruang untuk mendengar orang 21:42 Papua bicara apa tentang kebijakan 21:46 ini ini satu pertanyaan yang terus 21:49 menggema dalam diri kami dalam diri 21:52 orang Papua 21:53 eh apa apa yang menjadi pikiran dasar 21:57 dari ee baik itu ee pemerintahan dalam 22:01 hal ini pemerintahan Dib Presiden Jokowi 22:05 dan anggota-anggota DPR di Senayan 22:08 ketika menyusun dua kebijakan yang 22:10 sangat itu penting sekali ini esensial 22:12 sekali Bagi Papua hari ini dan kedepan 22:14 Ya baik itu undang-undang otsus jilid 2 22:17 maupun eh pemekaran tiga provinsi yang 22:21 baru Mengapa tidak ada ruang batin yang 22:24 terbuka untuk mendengar ee suara rakyat 22:28 di Papua sebetulnya kalau ada kesempatan 22:31 yang 22:32 diberikan kebijakan itu menjadi lebih 22:34 apa namanya lebih adaptif ya dan bisa 22:38 memberi ruang untuk suatu perbaikan yang 22:41 signifikan bagi situasi di Papua hari 22:44 ini tapi sayang bahwa 22:46 ee ruang itu tertutup benar-benar 22:50 tertutup dengan kemarin presiden juga 22:53 menandatangani undang-undang itu 22:56 ee kami simpulkan bahwa memang orang 22:59 Papua tidak punya ruang untuk 23:02 bicara dalam negara ini atau suara orang 23:05 Papua suara minor yang tidak terlalu 23:07 dianggap penting untuk didengar jadi 23:10 semua yang Jakarta Lakukan Jakarta 23:11 anggap itu benar dan baik untuk Papua 23:15 Apakah demikian 23:16 resepnya saya tidak terlalu 23:19 yakin begitu saja dulu 23:22 mas ya terima kasih baik eh terima kasih 23:26 kerik ya tadi mudah-mudahan didengar 23:30 oleh para wakil rakyat pemerintah dan 23:36 sekarangak sekarang kita ke 23:39 bangilakan berikan pandangannya terkait 23:42 dengan 23:45 kebij 23:46 Iya Selamat malam Asalamualaikum 23:49 warahmatullah 23:56 wabarakatuh senang ketemu lagi Iya nih 23:59 ngumpul semua nih ada kakak frederika 24:03 juga ada Mas Cahyo semuanya Saya mungkin 24:06 langsung aja ya 24:10 Ee Papua itu menurut saya salah satu 24:16 eh salah satu yang 24:19 paling yang paling ee 24:22 lengkap untuk menunjukkan 24:25 eh 24:26 the atau yang paling 24:29 rendah atau yang paling meresahkan untuk 24:33 melihat komplikasi persoalan di bangsa 24:36 ini 24:38 ee Saya mau menggunakan dua atau tiga 24:42 kata eh untuk mensimbolisasi 24:46 kompleksitas atau masalahnya satu soal 24:50 kesejahteraan kedua soal keadilan ketiga 24:53 soal 24:54 kemanusiaan dan dari dari tiga hal itu 24:58 di Papua itu paling dapat yang paling 25:01 dapat peringkat 25:02 ee paling rendah kalau di grafik Gitu Ee 25:06 ini bukan data saya tapi ee kalau dari 25:10 sisi kesejahteraan selalu tiga besar 25:13 atau lima besar eh konstan 25:16 eh tingkat kesejahteraannya paling 25:18 rendah eh papua dan papua barat ee saya 25:23 masih pakai term di luar DOB ya Papua 25:27 nah eh dari sisi keadilan ada praktik e 25:32 diskriminasi yang cukup Eh serius 25:36 keadilan di sini saya maksudkan adalah 25:37 keadilan hukum atau Keadilan keadilan 25:40 prosedural atau keadilan formal Jadi 25:43 kalau misalnya atau yang jadi pelaku 25:45 dari sebuah peristiwa ini adalah orang 25:49 eh rambut keriting kulit hitam itu 25:52 prosesnya cepat 25:54 Ee tapi kalau misalnya yang jadi korban 25:57 eh orang eh Papua asli 26:01 oap itu prosesnya susah 26:04 eh Sekali lagi bukan saya yang 26:06 menyebutkan tapi negara yang menyebutkan 26:08 itu secara tidak langsung kasus 26:10 pelanggaran HAM sudah ada banyak 26:13 daftarnya yang diproses 26:16 E tapi baru mau bikin satu pengadilan 26:20 HAM untuk panii Wak dekat eh belum lagi 26:25 dari kasus-kasus yang sebagai atau bisa 26:29 masuk ke mekanisme penyelesaian formbal 26:31 banyak sekali Nah dari jadi ada 26:34 diskriminasi dan Dou standar di situ 26:37 dari sisi kemanusiaan menurut saya 26:40 akibat dari praktik buruk 26:42 kesejahteraan dan juga Soal e keadilan 26:49 eh kondisi e kalau saya mau bilang 26:54 bahwa kalau kita mau kasih e standar 26:57 kemanusiaan kondisinya cukup meresahkan 27:00 di Papua itu nah ini 27:03 Eh misalnya ya Eh 27:07 EMP Berapa hari lalu lebih dari sat 27:09 minggu yang lalu empat orang di Lani 27:11 Jaya meninggal karena 27:13 kelaparan Lalu ada 27:17 eh pengungsian yang cukup e memburuk dan 27:22 tidak ada konsolidasi negara untuk 27:26 penanganan 27:29 dan dari sisi opini publik juga tidak 27:31 ada perhatian jadi masalah nasional jadi 27:35 saya minta Ma sampai di semua itu ada 27:38 problem serius yang terus 27:40 memburukal jadi sulit juga sebetulnya 27:44 bicara soal penyelesaian dalam 27:47 bairi 27:49 kalauwa itu ke Papua kena orang 27:56 Bil bekerja yang bekerja itu alat 27:59 kelengkapan NKRI untuk merepresi nah 28:02 muncul kemudian ee apa namanya 28:08 eh bad side of papuan story-nya itu 28:12 misalnya soal OPM 28:14 KKB tapi treatmentnya juga menurut saya 28:18 salah juga saya suka ditegur sama orang 28:21 Tuh lihat tuh eh orang Papua bunuhin 28:25 polisi tentara segala macam itu kan 28:27 pelanggaran HAM kok diam nah di situ ada 28:30 satu cara berpikir yang salah juga 28:32 karena kalau kita mau bilang bahwa KKB 28:35 atau OPM melakukan pelanggaran HAM itu 28:37 artinya mereka enggak ngerti konsep 28:39 pelanggaran HAM yang Kalau saya bilang 28:42 mereka berlaku pelanggar HAM berarti 28:44 kita mengakui secara enggak langsung 28:46 Mereka berkuasa karena konsep 28:47 pelanggaran HAM itu adalah yang berkuasa 28:50 melakukan represi terhadap yang tidak 28:52 berpuasa gitu jadi Sudah campur aduk 28:56 masalahnya 28:58 karena ini acara 29:00 iltones lead sebetulnya yang saya sangat 29:04 kangen dari soal Papua ini 29:07 soal 29:10 leadersip dengan situasi yang kalau dulu 29:14 disebutnya 29:16 sebagai tahun lu masih banyak-an 29:19 yangulal 29:20 M jadi itu yang 29:24 turunurunpelihara dan dia menjadias 29:28 di Papua itu sekarang situasinya sudah 29:30 seperti itu Nah tidak ada yang e justru 29:33 di level Papua muncul 29:36 leadership saya sebbenarnya di tengah di 29:40 apa istilahnya di tengah kegersangan 29:42 keadilan kemanusiaan dan kesejahteraan 29:44 Saya melihat ada muncul harapan 29:48 leadership di 29:50 papuanya tapi justru di 29:53 Indonesianya di pihak eh Indonesianya 29:56 tidak muncul leadership 29:59 eh dengan segala hormat saya buat Pak 30:01 Maruf Amin ya sebagai wakil presiden 30:04 hasil dari amandemen eh undang-undang 30:07 sus kemudian menunjuk satu institusi 30:09 baru semioral menunjuk 30:12 pakufin Pak marufin itu kiai yang cukup 30:16 dikenal karismatik dan diuntungkan 30:18 dengan eh posisi sebagai wakil presiden 30:21 tapi dia bukan orang yang punya apa 30:25 namanya 30:26 ee 30:28 kedekatan emosional dan kultural dengan 30:30 situasi di 30:32 Papua nah 30:35 eh dan itu 30:37 terlalu 30:39 konstruktif leadersip itu kan 30:41 kadang-kadang dia 30:43 harus bebas atau melampaui jabatan dan 30:52 pangkatunya orang atauomp 30:56 punyaak 30:57 gak cuman soal pemahaman tapi juga bisa 31:02 menggerakkan kita belum ada di Indonesia 31:04 ini ada Cum gak dikasih ruang untuk 31:08 difasilitasi membangun atau 31:11 memobilisasi satu prakk ya kalau bahasan 31:16 masah nanti mungkin itu akan 31:21 diuobilisasi keevel yangbih opasion 31:26 dan soal materi-materinya jdp itu 31:30 eh apa klarifikasi sejarah penyelesaian 31:34 pelanggaran hak asasi manusia eh soal 31:37 identitas nah operasional dari risetnya 31:41 temuannya jdp itu belum ada karena 31:44 operasionalnya itu harus lewat satu 31:46 praktik leadership bukan dianggarkan 31:48 saja gitu nah jadi ini yang menurut saya 31:53 dari Indonesia enggak ada leadership 31:55 yang 31:56 eh 31:58 masuk di sana terakhir saya ingin 32:01 menyampaikan akibat dari situasi ini ini 32:04 terus memburuk kita masih lihat data E 32:07 ini baru belakangan kayaknya agak enak 2 32:10 minggu gak ada Dengar kasus kekerasan di 32:13 Papua 32:15 terus proses proses-proses hukum masih 32:18 ST begitu aja tapi yang terjadial Papua 32:22 dilihat sebagai 32:24 sebuahelarian dari prakk oligarki untuk 32:28 mengeksploitasi jadi situasi yang tadi 32:30 saya Gambarkan itu di 5 10 menit pertama 32:33 itu ternyata secara 32:36 eh dijadikan tujuan ataupun menjadi 32:38 dampak 32:40 ya tujuan atau dampak 32:43 dari yang pada akhirnya masuk satu 32:46 praktik eksploitasi yang lebih masif 32:48 yang difasilitasi oleh eh undang-undang 32:51 omnibus enggak ada undang-undang omnibus 32:54 saja eksploitasi sumber daya alam itu ee 32:58 cukup masif nah 33:01 ee Saya melihat 33:04 ee sebelum ada undang undang-undang 33:07 omnibus jadi ada satu situasi yang 33:09 menarik satu Papua itu kaya banget 33:11 dibandingkan di Indonesia yang lain 33:14 cukup lengkap kekayaannya dari dalam 33:17 tanah sampai di atas tanah kualitas 33:19 kekayaannya juga luar biasa harga market 33:23 kekayaannya juga 33:25 ee kalau orang anak basket bilang tuh 33:28 ngecun mulu ngecun 33:31 tinggi tapi wilayahnya 33:34 luas orang aslinya 33:37 sedikit J kalau dibandingkan dengan 33:40 tempat-tempat lain orang aslinya 33:42 jumlahnya dengan luasan wilayahnya cukup 33:45 kompetitif Meskipun banyak banyak yang 33:49 jebol juga tapi di Papua 33:51 jumlah orang aslinya 33:53 dikitasannya besar kandungannya luar 33:56 biasa 33:57 nah 33:58 eh ini yang 34:01 terjadi situasinya dan dengan 34:04 undang-undang omnibus ini akan 34:06 semakin 34:08 termobilisasi praktik 34:10 eksploitasi contoh lagi misalnya luasan 34:13 atau ruas e infrastruktur yang dibangun 34:16 belum teruji dan terbukti hari ini bahwa 34:19 itu berguna buat 34:23 eh menguatkan eh orang asli Papua atau 34:28 warga sipil tapi itu justru dipakai oleh 34:31 kelompok industri yang duitnya juganya 34:34 engak gak engak gak bisa dijamin balik 34:39 buat orang Papua 34:42 Nah jadi makin berjarak jadi ketika 34:47 warga itu makin berjarak 34:49 e punya kedcayaan 34:53 kekwatiranu diisi dengan 34:55 Maknya nasi-narasi bahwa ini akan 34:58 meningkatkan pendapatan dan lainain tapi 35:01 sudah terbukti berdekade itu tidak 35:03 menumuhkan tidak menumuhkan 35:06 kesejahteraan menguatkan rasa keadilan 35:09 dan 35:13 meningkatkanitusiaanakikit 35:15 lagi undangundang itu konsep 35:20 perahanep yang 35:25 dana konteks Papua hari ini justru Ini 35:28 makin menyulitkan dalam simulasi 35:30 praktiknya kita bisa berdebat secara 35:32 teoritik dan di atas kertas tapi dalam 35:35 prakknya menurut saya ini akan sulit 35:37 contoh aja kecil salah satunya akan 35:39 butuh 35:40 eh struktur-struktur pemerintahan daerah 35:43 yang baru 35:44 eh yang dikatakan akan menjadi ruang 35:49 baru buat kepemimpinan orang 35:51 Papua tetapi 35:53 justru hal itu menjadikan pertanyaan 35:57 karena dalam praktik yang ada hari ini 35:59 saja 36:00 eh praktik menuju kekuasaan itu tidak 36:04 juga dilakukan dengan cara-cara atau e 36:07 praktik adat orang Papua itu juga enggak 36:09 diakomodir 36:11 akhirnya itu hanya menjadi satu praktik 36:14 eh politis quee eh untuk melengkapi 36:19 formalitas eh tata cara Pilkada yang ada 36:22 selama ini dan ini yang akhirnya membuat 36:25 ee Papua kayak semacam diadu domba di 36:29 anara sesama 36:31 orang Saya ingin mengatakan bahwa sayaak 36:35 setuju 36:37 denganonksnya 36:44 danakunya dan ini situasin gak ada 36:47 jaminan akan 36:48 leh saya 36:50 pikir 36:55 ituan 36:57 eh apa namanya 37:02 patahan-patahan temuan baru juga dari 37:07 masas k-a Baik terima kasih Bang Har Ya 37:12 nanti sesi diskusi setelah ini banyak 37:16 beberapa pertanyaan yang bisa kita 37:18 diskusikan dan sekarang kita ke Prof 37:21 dipilan Prof berikan pandangannya 37:25 Yangnya 37:29 terima kasih eh pak ya Eh selamat malam 37:33 asalamualaikum warahmatullahi 37:35 wabarakatuh salam 37:37 sejter semua mohon maaf suara saya agak 37:40 ini agak sakit 37:43 sedikitorokan pertama Terima kasih telah 37:46 mengundang saya e dalam 37:48 forum leader talk ya ini baru pertama 37:51 kali Pak E saya juga pertama kaget ini 37:54 saya mintaatnya gitu saya agak bingung 37:56 ini ma bicara apa ya Eh yang kedua saya 37:58 sampaikan rasa hormat saya pada bapak Dr 38:00 Mardani alisera eh kemudian juga 38:03 rekan-rekan pembicara eh kakak federika 38:06 kurain Bang Haris asar dan eh Bang eh RI 38:10 Gerung ya 38:12 eh di sini saya akan eh menjelaskan 38:15 sedikit saja mengenai hasil penelitian 38:17 Lipi yang sekarang menjadi brint ya 38:20 badan riset dan inovasi nasional ya Eh 38:23 dulu eh tahun 2000 38:27 ya kami mempublikasikan eh buku ya 38:30 eh yang berjudul eh Papua roadmap ya eh 38:34 buku itu meskipun ee apa sudah lama tapi 38:38 e Saya kira masih relevan ya ada 38:40 beberapa hal yang dijelaskan ee sebagai 38:44 akar persoalan konflik Papua pertama 38:46 adalah mengenai masalah eh identitas dan 38:50 status politik serta pelurusan sejarah 38:52 karena 38:53 ee Saya kira seb ee sebagian ya saya 38:57 tidak tahu apakah ini bagian besar atau 38:59 bagian kecil ya di antara e kalangan 39:02 pergerakan kalangan terpelajar eh 39:05 karangan yang tercerahkan di Papua 39:07 merasa bahwa mereka 39:09 eh apa terjajah ya Eh mereka mengatakan 39:13 bahwa the Act of free choice eh tidak 39:15 dilakukan sesuai dengan eh prinsip the 39:18 196 itu New York agreen perjanjian New 39:21 York tahun 1962 dan eh the Act of reoice 39:25 juga tidak dilakukan bukan ya dengan ee 39:28 jujur dan adil kalau Profesor dulever 39:31 mengatakan itu adalah ee bukan tindakan 39:34 pilihan bebas ya jadi di antara kalangan 39:37 terpelajar Papua selalu ee menuntut ya 39:41 adanya Masalah e pelurusan sejarah ee 39:44 yang kedua adalah masalah marginalisasi 39:46 dan diskriminasi terhadap orang Papua 39:49 yang berlangsung ee sejak integrasi 39:51 dengan Indonesia 39:53 ee Saya kira berada di di 39:57 semua lapisan ya Ee terutama di masalah 40:00 ee pemanfaatan sumber daya ee kemudian 40:06 eh juga sekarang berkembang ya tidak 40:09 hanya marginalisasi dan diskriminasi 40:11 tetapi juga eh fenomena apa rasisme yang 40:15 masih kuat ya E apa ada pandangan ya 40:19 yang menganggap bahwa orang Papua 40:22 misalnya masih hidup zaman batu dan eh 40:25 tadi Bang Haris mengatakan ya Ada 40:27 beberapa ee kalau misalnya ada kejadian 40:30 kemudian yang mengungsi adalah orang 40:32 asli Papua maka tidak ada tidak ada 40:35 bantuan ya tidak ada 40:36 ee pengelolaan secara baik tapi e kalau 40:42 pengungsi adalah orang non Papua ee maka 40:45 apa berbagai pihak kemudian e datang 40:48 membantu Ya seperti peristiwa lamina 40:51 tahun 2019 kemudian yang ketiga adalah 40:54 kegagalan pembangunan yang berlang 40:56 langsung di mana pembangunan telah 40:58 menyebabkan tadi ya marginalisasi dan 41:00 depopulasi serta displacement orang asli 41:02 Papua yang keempat adalah masalah eh 41:06 kekerasan negara dan pelanggaran HAM itu 41:08 yang tadi disampaikan Bang Haris ya 41:11 masih adanya memoria pasionis atau 41:13 trauma psikologis memoria pasionis 41:15 adalah bisa kita pahami sebagai eh 41:19 ingatan kolektif yang tidak tertulis di 41:21 kalangan orang asli Papua tentang 41:24 sejarah penderitaannya di masa lalu yang 41:26 diceritakan dari satu generasi ke 41:29 generasi lain misalnya ee terutama di ya 41:32 di daerah-daerah yang bekas konflik di 41:34 daerah pegunungan ya ada ingatan-ingatan 41:36 yang terus-menerus diceritakan misalnya 41:38 di bawah pohon ini saudara saya dibunuh 41:40 atau di pandai ini ee apa saudara saya 41:43 apa ditembak Saudara perempuan saya 41:46 diperkosa dan lain itu memoria pasionis 41:48 itu yang kemudian ee menyebabkan orang 41:51 Asil Papua masih trauma ketika ee 41:54 melihat ya Ee TNI ataupun ponri bahkan 41:58 ketika saya membagi kaos berwarna hijau 41:59 ya k saya riset Green ekonomi ya dikenal 42:02 biri ee dua minggu yang lalu mereka Oh 42:05 ini kaos tentara oh bukan Pak ini bukan 42:07 kaos tentara ini kaos Libi print ya 42:09 print dan BPS eh kaos saja kaos yang 42:12 berwarna hijau bagi mereka 42:14 ee ada ada apa unsur-unsur traumatis ee 42:18 itu pertama adalah ee mengenai apa eh 42:22 Papua roadmap ee kemudian saya akan 42:25 masuk di sini melalui 42:26 masalah ee kegagalan pembangunan 42:29 ee selama ini belum ada evaluasi 42:32 terhadap hasil otonomi khusus secara 42:34 komprehensif Saya kira yang paling mudah 42:36 kalau kita mengevaluasi perjalanan 42:38 otonomi khusus eh kami melakukan riset 42:41 dengan Asia foundation tahun 2018 kami 42:46 menganalisis mengolah data statistik BPS 42:49 dari tahun 2013 sampai 2018 itu 42:52 menunjukkan bahwa ee eh mengenai human 42:57 development index ya atau HDI atau 42:59 indeks pembangunan manusia 43:01 eh di kabupaten-kabupaten atau kota yang 43:05 penduduknya didominasi oleh orang non 43:07 Papua eh orang Jawa bukis Buton dan 43:10 Makassar maka tingkat indeks pembangunan 43:13 manusia rata-rata cukup baik di atas eh 43:16 70 Ya seperti kota Jayapura kota Sorong 43:19 eh apa ee Nabire kemudian ee meroke dan 43:25 beberapa ya saya kira ee kalau semakin 43:28 banyak jumlah pendatang maka tingkat IPM 43:30 semakin tinggi dan sebaliknya pada 43:32 kabupaten-kabupaten yang penduduknya 43:34 didominasi oleh orang asli Papua maka 43:37 indeks pembangunan manusia atau IBM 43:40 rata-rata ada yang e 30 antara 30 sampai 43:44 50 yang paling parah adalah Kabupaten 43:47 duga di mana IPM 34 dan juga pegunungan 43:50 arfak ee itu lebih rendah dari IBM di 43:53 negara Afrika ya Artinya selama ini 43:56 pembangunan otonomi khusus untuk siapa 43:58 karena tidak mampu 44:00 ee apa tidak mampu menaikkan IPM orang 44:03 asli Papua pemerintah selalu mengatakan 44:06 terutama KSB ya IPM meningkat dari tahun 44:08 ke tahun Iya meningkat tetapi posisi 44:10 papua dan papua Barat masih paling 44:13 paling apa terakhir dalam posisi IPM di 44:17 antar provinsi-provinsi di Indonesia ya 44:19 ya meningkat eh satu poin tapi posisinya 44:22 Masih nomor 34 dan nomor 33 ya demikian 44:26 juga ya tingkat ee jumlah penduduk yang 44:28 hidup di bawah kemiskinan pada kabupaten 44:31 atau kota yang didominasi penduduknya 44:34 oleh orang non Papua rata-rata 44:37 ee rendah ya dan sebaliknya 44:39 kabupaten-kabupaten yang didominasi 44:41 penduduknya oleh orang Asil Papua 44:42 tingkat kemiskinan cukup tinggi ini ee 44:46 yang disebut sebagai apa paradoks 44:48 otonomi khusus di mana ee pembangunan ee 44:52 ekonomi yang berlangsung dari sejak e 44:55 baru sejak integrasi sampai sekarang ee 44:58 belum mencapai sasaran belum mencapai 45:00 sasaran meningkatkan Harat dan martabat 45:02 orang asli Papua eh kemudian eh saya 45:06 akan banyak ke data ecosop kemudian 45:08 Bagaimana dengan 45:09 eh apa pemekaran nah ini saya ada data 45:14 yang diolah oleh bapak Agus sumul ya 45:16 dalam eh penelitiannya ee Pak kalau kita 45:21 melihat ya Ada akan ada atau ee 45:23 pemerintah sudah mengesahkan ya DPR ya 45:26 Ee Provinsi Papua Selatan yang beribuota 45:29 di Merauke Papua Tengah di Nabire Papua 45:32 pegunungan Tengah di Wamen dan Papua 45:34 yang lama Papua Selatan ada 4 Kabupaten 45:38 jumlah penduduknya adalah 45:41 517.000 di mana persentasi orang asli 45:43 Papua ada 45:45 61% menurut sensus penduduk 2010 ini ya 45:48 kalau kita melihat IBM tahun 45:51 eh 2022 maka rata-rata kabupaten yang 45:55 tergabung dalam Papua Selatan 45:59 60,08ya cukup rendah apalagi kalau kita 46:02 melihat Provinsi Papua Tengah ada 7 46:05 Kabupaten penduduknya 46:08 1.181.000 persentasi oap ada 75% dan 46:12 ipm-nya adalah 46:14 56,63 kira juga cukup rendah kemudian 46:17 Papua pegunungan tengah ada 9 Kabupaten 46:19 dengan penduduk 1,6 juta ini Papua 46:21 pegunungan Tengah di waminaa dan 46:23 sekitarnya penduduknya 1,6 juta 46:26 persentasi oap mayoritas 46:28 97% tetapi ipm-nya rata-rata kabupaten 46:31 yang tergabung dalam provinsi Papua 46:33 pegunungan tengah adalah 47 sangat 46:36 rendah sekali ya kemudian Papua yang 46:38 lama daerah Jayapura dan EE Mamta dan 46:41 saya Reri penduduknya 46:44 1,1 1.uta20.000 eh persentasi oap 57% ee 46:51 ibm-nya 66 yang paling tinggi eh 66 ya 46:54 di Jayapura dan n terutama di 46:56 daerah-daerah pantai Eh Coastal areas 46:59 tingkat IBM lebih tinggi eh daripada 47:01 da-daerah pegunungan kemudian ee jadi 47:04 kalau kita melihat IBM provinsi-provinsi 47:06 baru itu ya Ee Merauke 47:09 60,08 ya Eh kemudian Papua Tengah 56 dan 47:13 papua pegunungan Tengah 47 artinya 47:15 sebetulnya ya belum siap secara sumber 47:17 daya manusia angka harapan hidup angka 47:20 lama sekolah kalau kita lihat misalnya 47:23 angka lama sekolah di di provinsi 47:25 papabua Yang ada sekarang yang belum 47:27 dibagi ya rata-rata orang sekolah itu ee 47:30 sampai kelas 47:32 ee 5 5 SD ya kalau di Papua Barat 47:36 rata-rata Sampai eh e eh 7 tahun eh 7 47:40 tahun itu SMP kelas 2 bagaimana kita mau 47:43 memekarkan sebuah provinsi ketika ya 47:46 rata-rata lama sekolah itu ya kalau di 47:48 Papua ee baru sampai kelas 5 SD apa 47:53 angka apa itu ee rata-rata lama sekolah 47:56 ya Ee kalau kita lihat di duga dan di 47:58 Intan Jaya rata-rata lama sekolah itu 48:01 sampai SD kelas 2 e di daerah konflik 48:04 rata-rata lama sekolah antara 2 tahun 48:06 dan 3 tahun artinya sampai ongk telu ya 48:09 kelas 3 atau ongk loro kelas 2 tidak 48:11 sekolah rata-rata average ya Jadi 48:14 bagaimana kita mau memekarkan ya Eh 48:17 angka apa ini rata-rata lama sekolah ya 48:20 Eh kemudian logika pemerintah adalah 48:23 Justru dengan pemekaran maka kan ada 48:26 bisa dibangun rumah sakit yang apa yang 48:30 standar ee nasional ya di Wamena di 48:33 nabirei atau akan dibangun perguruan 48:35 tinggi yang bereputasi internasional 48:38 atau nasional di Wamena di nabe dan di 48:40 meruki nah mengapa untuk membangun 48:42 sekolah rumah sakit itu harus kemekaran 48:45 Mengapa tidak dibangun saja ee kalau 48:47 alasannya adalah ee karena apa kabupaten 48:50 tidak bisa memiliki Rumah Sakit 48:53 bertarapf internasional ya dirubah saja 48:55 peraturan n ya Bukankah Papua itu adalah 48:57 otonomi khusus Mengapa tidak tidak di 48:59 Mengapa pemerintah tidak membangun rumah 49:01 sakit bertarap internasional di Wamena 49:04 atau di nabirim atau di meroke eh ini ya 49:07 Eh kalau logikanya adalah 49:09 eh eh peraturan Mengapa eh osus itu 49:14 tidak menjadi Lex spesialis Justru pada 49:16 realitasnya undang-undang otonomi khusus 49:18 bersifat Lex generalis artinya kalau ada 49:21 konflik Eh kalau ada 49:23 ee apa ee 49:26 perbenturan ya Eh antara undang-undang 49:28 yang bersifat khusus dan undang-undang 49:30 yang bersifat umum maka undang-undang 49:32 khusus itu dikalahkan ya itu misalnya E 49:35 kalau Provinsi Papua membutuhkan banyak 49:37 e SPG sekolah pendidikan guru itu tidak 49:40 bisa karena SPG itu di dalam 49:42 undang-undang e nasional sudah tidak 49:45 boleh lagi padahal Papua membutuhkan SPG 49:47 nah ini mengapa undang-undang 49:49 us itu bersifat eh Le generalis 49:52 tidakesalis ini contohnya ya Kemudian 49:55 yang kedua rata-rata pad atas APBD 50:00 Kabupaten Kota kalau kita melihat ee di 50:02 provinsi eh Papua Selatan rata-rata 50:08 eh rata-rata kontribusi pad terhadap ABD 50:11 ada 5%. kecil sekali ya di Provinsi 50:14 Papua Tengah di Nabire sampiika 50:17 rata-rata kontribusi pad 50:19 2,21% sangat kecil pad-nya ee kemudian 50:23 di Provinsi Papua pegunungan Tengah 50:25 rata-rata 50:26 1,84% e di Papua pedungungan Tengah 50:30 ee yang paling tinggi adalah di Provinsi 50:32 Papua yang lama 4,12% artinya pemekaran 50:36 akan semakin meningkatkan ketergantungan 50:39 eh provinsi yang dimekarkan terhadap 50:42 fiskal pemerintah pusat jadi justru 50:45 pemakaran akan semakin meningkatkan 50:47 dependensi APBD ee dependensi anggaran 50:50 terhadap pusat karena justru pusat yang 50:52 lebih berkuasa karena mereka pad-nya 50:54 kecil ya eh daya-daya yang akan 50:56 dimekarkan itu Padnya hanya 5% 2% dan 51:00 1,884% dalam hal ini maka eh kekuasaan 51:04 anggaran pemerintah pusat itu lebih 51:05 besar dari eh makin Saya kira eh Bapak 51:09 lebih paham daripada saya ya soal ini eh 51:12 soal rata-rata 51:15 pad persentase pad terhadap APBD kalau 51:19 cuma 5% 2%,8% justru akan menjadi apa ke 51:24 depan akan menjadi jadi apa beban dari 51:27 pemerintah pusat ya Secara keuangan ini 51:28 e secara kuantitatif kemudian 51:31 eh Saya kira ada beberapa hal 51:34 keluhan-keluan yang disampaikan e kalau 51:37 kita datang ke apa daerah-daerah 51:40 pemekaran ya benar Kak frederika korain 51:44 tadi ya saya di nabiri itu bertemu baik 51:47 orang-orang dari lembaga masyarakat adat 51:49 maupun dewan adat Papua Meskipun mereka 51:52 berbeda posisi politik mereka itu bicara 51:54 sama bahwa pemakaran ini dipaksakan dan 51:57 eh tidak bersifat demokratis tidak dari 51:59 bawah bahkan orang elmaa yang dibentuk 52:01 oleh pemerintah itu di dalam hatinya 52:04 juga ya Meskipun mereka diam ya Kalau 52:06 kalau saya tanya dari hati ke hati 52:08 mereka tidak tidak setuju juga E itu ya 52:11 e ya ini apalagi orang dari dewat adat 52:14 jelas mereka sangat kritis peman Ini 52:17 adalah bentuk dari and 52:19 Mengapa logika yang pertama adalah eh 52:23 pemekaran e berimpas ee atau dapat 52:26 dimaknai sebagai teknologi negara untuk 52:29 membuka ruang-ruang bagi remiliterisasi 52:31 ya itu jelas ya dengan adanya provinsi 52:34 baru maka akan ada mungkin e Polda baru 52:38 atau atau Kodam baru atau Korem baru dan 52:41 lain-lain justru Ini yang 52:43 menjadi tadi disampaikan oleh Bang Haris 52:46 Eh memoria pasionis ini mereka masih 52:49 traumatis eh dengan ee semakin banyak 52:53 tentara semakin jumlah semakin banyak 52:56 polisi justru membuat orang asli Papua 52:58 merasa traumatis ya kan ee memang 53:01 mungkin bagi orang non Papua mereka 53:03 tidak masalah dengan kehadiran tentara 53:05 dan polisi ya Ee tetapi bagi orang asli 53:08 Papua masih ada masalah yang belum 53:10 selesai trauma psikologis yang kedua 53:12 adalah bahwa pemekaran Ini adalah sebuah 53:14 teknologi eh penataan ruang ya yang 53:18 bertujuan untuk eh melumpuhkan ee 53:21 kemandirian atau tingkat eh ee ketahanan 53:24 masyarakat adat Papua ee pemekaran akan 53:27 berimplikasi pada ee banyaknya uang yang 53:30 turun di ee setiap Kabupaten atau di 53:33 provinsi yang baru sehingga dengan 53:35 semakin banyaknya uang semakin banyak 53:37 komoditas Industri Modern maka akan 53:40 semakin apa melumpuhkan ee ee 53:43 kemandirian orang asli Papua yang selama 53:45 ini hidup ee dari apa ee dari ee 53:50 berkebun dan lain-lain ya Ee kita 53:52 melihat ya dampak dari dana Kampung dari 53:54 dana respek yang itu belum selesai 53:56 karena sebagian uang ternyata lebih 53:58 banyak ee dikonsumsi atau pembangunan 54:00 infrastruktur fisik tetapi belum bisa 54:03 untuk mendorong kegiatan-kegiatan yang 54:05 produktif kemudian ee yang ketiga ya itu 54:08 ya Ee pemekaran selalu dikhawatirkan ee 54:11 akan memarginalkan orang orang asli 54:14 Papua karena akan semakin banyak ee 54:16 penduduk dari luar ee yang akan mengisi 54:19 ee pos-pos sektor ekonomi dan sekor 54:23 birokrasi sehingga di Papua yang ibm-nya 54:26 terata-rata rendah itu akan ee 54:29 termarinalkan atau jumlah mereka semakin 54:31 kecil ya ya kita bisa melihat ya di 54:34 Merauke misalnya itu jumlah orang asli 54:36 Papua 30% ya orang kemarin ya 70% Eh 54:41 orang non Papua terutama transmigran 54:43 Jawa ya dan di situ anggota DPR dari 54:46 orang Marin itu hanya tiga ya E dari 21 54:49 misalnya eh dan eh apa undang-undang 54:53 yang baru meng katakan ya pada 54:55 pengangkatan anggota DPR ee maksimal 25% 54:59 tapi itu juga tidak akan menyelesaikan 55:01 masalah ee karena masalahnya sudah eh 55:05 cukup mendalam ya Eh masalahnya sudah 55:08 semakin rumit kemudian yang ketiga 55:10 pemekaran akan semakin mudahkan 55:12 eksploitasi sumber daya alam ee justru 55:14 yang akan ee apa eh e dikhawatirkan alih 55:18 fungsi lahan pangan lokal seperti saku 55:20 seperti buah merah kemudian diganti 55:23 dengan ee kelapa sawit dengan Estate 55:25 food Estate ya Eh apa terutama kelapa 55:29 sawit yang cukup mengancam e palm oil ya 55:32 Eh ini juga menjadi kekhawatiran ee 55:36 ee justru ee beberapa apa E hari yang 55:41 minggu yang lalu hari yang lalu ya kita 55:42 menyaksikan kelaparan di Lani Jaya 55:45 karena hipere petatas dan keladi tidak 55:48 bisa tumbuh di dalam suhu yang sangat 55:50 dingin karena ada ee apa E suhu minus 20 55:54 derajat suus di ee lanijaya kalau kita 55:56 melihat di lanijaya kan orang bertani di 55:58 daerah ee ini ya kemiringan ya dengan ee 56:01 di gunung yang cukup apa dingin ya minus 56:04 20 derajat maka hiperi kemudian tidak 56:07 bisa tumbuh dan terjadi kekeringan Nah 56:09 saya kira yang perlu dilakukan oleh 56:11 pemerintah seharusnya adalah 56:12 memperbanyak ee melakukan inovasi 56:15 teknologi ee pangan-pangan lokal ya 56:17 seperti 56:18 ee kalau mereka tidak bisa apa hiper dan 56:22 P atas mungkin sagu didatangkan dari 56:24 bawah ataukah 56:26 ee ada inovasi-inovasi teknologi ee dan 56:31 saya kira pemerintah sudahah Sanya untuk 56:33 tidak lagi Eh fokus pada food Estate ya 56:36 Eh pada kelapa sawit dan beras justru 56:39 yang lebih diutamakan adalah Eh misalnya 56:41 eh saku hipere patatas buah merah dan 56:44 lain-lain eh kemudian yang terakhir saya 56:47 kira masalah resolusi konflik ya Eh 56:50 konflik eh di antara eh salah satu 56:53 persoalan dasar pap adalah persoalan 56:56 konflik kekerasan dan kita melihat ya Ee 56:58 studi terakhir yang dilakukan oleh 57:00 aliansi demokrasi Papua oleh ibu Anum 57:02 Latifah Anum serar eh dari 17 kasus jual 57:05 beli senjata itu eh satu kasus dari 57:08 Papua Nugini satu kasus dari Mindanau 57:11 tetapi 15 kasus itu mereka eh eh apa 57:14 senjata itu didatangkan dari dalam 57:16 negeri sendiri ya dari oknum-oknum TNI 57:19 dan Polri justru eh selama ini yang 57:21 ditangkap adalah para apa pelaku-pelaku 57:24 yang di tengah ya di tingkat apa makelar 57:27 Eh tapi tidak pernah ada penyelidikan 57:29 yang tuntas dihulu dan dihilir Eh siapa 57:32 yang memberikan uang dan siapa yang 57:34 menjual senjata pihak pertama dari 57:36 penelitian alp 15 kasus dari 17 kasus 57:39 justru e senjata itu eh banyak apa 57:43 dijual oleh numoknum ya num-oknum aparat 57:45 keamanan ini juga menjadi perhatian kita 57:48 dan saya kira 57:49 eh Sudah saatnya yang terakhir saya 57:52 mengatakan bahwa 57:53 eh dengan semakin meningkatnya 57:56 intensitas kontak tembak sejak tahun 57:58 2018 sebetulnya sebelum tahun 2018 58:02 kontak tembak itu jumlahnya relatif 58:03 sedikit ya 58:05 Eh tapi 2018 ke sini itu semakin 58:08 meningkat sampai sekarang Eh yang 58:11 menyebabkan jatuhnya korban sipil e 58:13 aparat TNI Polri maupun e tpnp OPM eh 58:18 saya dan juga warga sipil ya Eh kalau 58:22 warga sipil yang dekat kalau orang-orang 58:25 OPM melihat warga sipil dekat dengan 58:27 tentara maka mereka juga akan terancam 58:30 mereka akan ditembak dan juga sebaliknya 58:32 warga sipil yang dekat dengan OPM eh 58:35 mereka juga akan menghadapi risiko 58:37 ditembak Nah saya kira yang perlu 58:39 dilakukan adalah Eh sekarang ini eh 58:42 humanitaran paus ya cedak kemanusiaan 58:45 kemudian melakukan 58:47 eh apa penghentian tembak-menembak dan 58:50 yang ketiga adalah 58:52 eh dialog untuk mencari solusi politik 58:55 yang permanen Eh kalau Indonesia bisa 58:58 berdialog dengan geragan Aceh Merdeka 59:00 maka apa Indonesia tidak bisa berdialog 59:03 dengan misalnya tpn TB OPM dan United 59:06 Liber for Papua Saya kira Eh sekarang 59:09 ini perlawanan di Papua itu bisa 59:12 dibedakan menjadi dua secara mainstream 59:14 ya Eh gerakan sipil politik yang 59:16 tergabung dalam United liberation 59:18 Movement for West Papua dan gerakan 59:20 militer yang tergabung di dalam tentara 59:22 pembebasan nasional Papua Barat 59:24 organisasi Papa Merdeka itu kan ada dua 59:26 sayap aja meskipun dua sayap ini ee apa 59:30 ee ee berdiri masing-masing berdiri 59:33 sendiri Saya kira sudah saatnya Ee kita 59:35 menjadikan Indonesia sebagai rumah yang 59:38 adil ya rumah rumah yang adil yang 59:42 memberikan rasa keadilan bagi semua 59:44 kelompok etnis semua kelompok agama 59:46 semua ee kelompok yang ada di Indonesia 59:48 oleh karena itu kita kita mencari 59:51 Indonesia ee sebagai apa rumah yang EE 59:54 apa rumah yang memberikan rasa nyaman 59:56 rumah bersama yang sehingga orang Papua 59:59 ee bagaimana membuat orang Papua merasa 1:00:01 nyaman tinggal di Indonesia Saya kira 1:00:03 salah satunya adalah dengan apa dialog 1:00:05 Ya seperti yang kita lakukan di Aceh 1:00:07 Terima kasih selamat malam 1:00:09 asalamualaikum warahmatullahi 1:00:11 wabarakatuh Eh waktu saya kembalikan Pak 1:00:14 terima kasih eh Prof Cahyo atas 1:00:16 paparannya yang sangat luas ya dan 1:00:20 sangat objektif dan berdasarkan hasilih 1:00:22 Prof terima kasih dan Sekarang kita ke 1:00:26 Bung Roki Bung Roki tadi sudah dengan 1:00:28 gamblang Prof Cahyo e Kak frederika Bang 1:00:31 Haris memaparkan Yang intinya benang 1:00:34 merah yang kita tangkap pengambilan 1:00:36 kebijakannya ee belum melibatkan dialog 1:00:39 dan aspirasi dan bermusyawarah bersama 1:00:41 dengan seluruh masyarakat Papua dan juga 1:00:44 ee selama berapa tahun terakhir ini 1:00:47 keadilan sosial juga belum terwujud di 1:00:50 Papua bagaimana Bung Roki 1:00:53 melihatnya 1:00:55 eh Jakarta selalu salah hitung itu jadi 1:00:59 itu intinya itu salah 1:01:01 hitung dan saya pernah salah hitung juga 1:01:04 ketika naik gunung di siklop satu waktu 1:01:07 beberapa tahun lalu mungkin 3 tahun lalu 1:01:10 saya naik gunung siklop di depan bandara 1:01:14 Eh 1:01:16 Sentani waktu saya lihat gunung itu saya 1:01:20 bikin semacam perhitungan bahwa saya 1:01:23 bisa tempuh itu 1:01:24 maksimal 4 jam itu narah itu gunung 2000 1:01:29 me di atas muka laut dan kelihatan e 1:01:33 puncaknya bagi saya yang hobinya naik 1:01:36 gunung dengan gembira saya mulai 1:01:38 melangkah jam 1:01:40 pagi jalan dari e lapangan 1:01:45 e ke arah kanan terus mulai mendaki 1:01:49 di sesuatu yang saya hitung bisa saya 1:01:53 selesaikan 4 jam ternyata baru bisa saya 1:01:56 selesaikan selama 12 jam bayangkan salah 1:02:00 hitung Kenapa Karena saya hanya melihat 1:02:04 dari jauh gunung itu saya tidak tahu 1:02:07 bahwa di dalam Gunung itu tidak ada 1:02:09 jalan sayaesti merangk pakai akar G jadi 1:02:13 Anda lihat bahwa seringki Jakarta itu 1:02:16 hanya bisa melihat secara makro dan 1:02:19 diaak lihat apa yang mikro di 1:02:22 situ dikatakan 1:02:26 anda tidak bisa Mat hutan Kalau anda 1:02:29 hanya melihat pohon-pohonikian juga 1:02:33 sebiknya anda hanya Melat hutan andaak 1:02:36 tahu apaon di situ Jakarta sering Melat 1:02:40 Papua Dar jauh dan tidak bisa Melat 1:02:43 ruang ba 1:02:46 yangangkana Ma itu sebagaiu 1:02:50 hiapiagi orang Papua dia 1:02:53 punya 1:02:54 sesuatu yang lain dari cara pandang 1:02:56 Jakarta tadi Eh Pak caho menerangkan di 1:03:00 situ ada soal identitas ada soal memori 1:03:03 ada macam-macam di situ Haris asrar yang 1:03:06 yang berabad-abad mengenal Papua 1:03:09 berabad-abad karena pengetahuan dia itu 1:03:14 melampaui zaman 1:03:17 tentang pelanggaran hak asasi manusia di 1:03:20 situ jadi saya menganggap bahwa kita 1:03:23 harus melihat cara Papua melihat Jakarta 1:03:27 bukan cara Jakarta melihat Papua saya 1:03:29 lanjutkan cerita saya ya saya naik ke 1:03:31 gunung siklop itu karena diundang oleh 1:03:33 komunitas e noen Papua waktu itu 1:03:36 anak-anak muda yang berupaya untuk 1:03:39 memberi pendidikan P rakyat Papua dan 1:03:42 saya naik gunung itu di dalam e mungkin 1:03:46 2 hari sebelum Natal jadi itu ada 1:03:48 semacam ibadah Natal Di atas puncak 1:03:50 gunung siklop dan saya diminta untuk 1:03:52 memberi kuliah tentang lingkungan hidup 1:03:54 jadi bayangkan eh betapa eksotisnya itu 1:03:58 dari atas gunung siklop saya bisa 1:04:00 pandang e 1:04:01 eh Sentani Sentani di depannya ada marur 1:04:07 port macam-macam itu jadi satu keadaan 1:04:10 yang saya bayangkan seandainya Jakarta 1:04:12 mau naik gunung sama-sama dengan orang 1:04:14 Papua lalu berdoa di atas gunung siklop 1:04:17 mungkin lain cara orang papuaang Jakarta 1:04:19 tuh lebih unik lagi di ibadah Natal Di 1:04:23 pagi hari di puncak gunung siklop 1:04:25 seorang perempuan Muslim berdoa Saya 1:04:28 masih ingat doanya kira-kira dia bilang 1:04:31 begini nih kita doakan supaya Indonesia 1:04:34 tidak mati 1:04:36 gitu supaya Indonesia tidak 1:04:39 mati anda bayangkan satu antropologi 1:04:43 teologis di situ diucapkan oleh seorang 1:04:46 perempuan muslim yang melihat Indonesia 1:04:50 dari puncak siklop dan mengucapkan satu 1:04:53 doa yang indah sementara Indonesia 1:04:57 mengucapkan statement politik NKRI harga 1:05:00 mati itu Jadi dua antropologi bekerja 1:05:04 secara bersamaan tapi di dalam posisi 1:05:06 yang saling mengintai itu 1:05:09 NKRI bikin statement politik nkr Jakarta 1:05:13 bikin statement politik NKRI harga mati 1:05:17 sementara orang Papua mendoakan supaya 1:05:20 nkr tetap hidup jadi raksi itu 1:05:24 menunjukkan dengan kuat bahwa intensi 1:05:27 untuk menyelesikan Papua enggak bisa 1:05:29 dengan prinsip nkr harga 1:05:31 mati paling tidak ruang dialog terbuka 1:05:34 kalau NKRI tidak menyatakan ini adalah 1:05:37 harga mati itu jadi kata harga mati itu 1:05:39 adalah kata yang justru bisa mematikan 1:05:41 dialog gu itu itu 1:05:44 hermenuticsnya begitu tuh 1:05:47 jadi kita ingin agar supaya kalau kita 1:05:51 katakan Apakah pemekaran itu adalah 1:05:54 solusi yang yang e memungkinkan kita 1:05:58 hidup di dalam 1:06:00 dialog Ya bisa aja tapi kan itu 1:06:03 penyelesaian teknokratis pemekaran itu 1:06:05 Adah penyelesaian 1:06:07 teknokratis penyelesaian birokratis 1:06:09 outputnya adalah undang-undang tapi 1:06:12 outcnya 1:06:13 apa jelas di atas kertas ada 1:06:17 undang-undangala macam sekarang ada 1:06:19 undang-undang pemekaran rancangan 1:06:20 undang-undang tapi itu output legalnya 1:06:24 outcome legitimasi itu yang 1:06:27 dipersoalkan J Kita bedakan lagi antara 1:06:29 mana yang legal mana yang legitim 1:06:31 sesuatu yang 1:06:33 legitim tidak perlu sebetulnya 1:06:36 diandalkan kembali pada hal yang 1:06:38 legal tetapi sebab yang legal tidak 1:06:41 dengan sendirinya legitim itu Nah itu 1:06:43 intinya jadi kalau kita bicara soal 1:06:45 undang-undang tadi ingat bahwa itu 1:06:47 adalah output bukan outcome apalagi 1:06:49 impact dari undang-undang itu tidak 1:06:51 diprediksi 1:06:52 itu jadi Saya mau Terangkan itu untuk 1:06:56 memperlihatkan cara pandang yang lain 1:06:58 tadi ada soal omnibas Lau saya 1:07:02 eh sedikit hafal e data tentang Papua 1:07:06 kalau menyangkut eh lingkungan karena 1:07:09 Hobi saya masuk keluar hutan ada 37 juta 1:07:12 hektar hutan di Papua 80% ad hutan 1:07:15 primer di dalam hutan itu ada 20.000 1:07:18 jenis 1:07:19 ee pohon ada 600 jenis mamalia ada 1:07:24 150.000 jenis ulat ada puluhan ribu 1:07:28 jenis burung dan ada 1:07:31 3400 masyarakat adat di situ tuh waktu 1:07:34 omnibas Lau tiba di Papua orang bertanya 1:07:38 apakah para pembuat Om B itu pernah 1:07:41 bicara dengan 20.000 jenis pohon di situ 1:07:44 pernah bicara dengan 300 masyarakat adat 1:07:46 di situ pernah bicara dengan 600 mamalia 1:07:49 di situ Mengapa tiba-tiba omnibus Law 1:07:52 menganggap bahwa mereka itu adalah 1:07:54 nonfaktor karena harus dipastikan 1:07:57 bahwa food Estate itu mesti jalan tuh 1:08:00 jadi kalau kita sebut bahwa antropologi 1:08:03 Jakarta itu adalah ingin 1:08:06 mengeksklusi bukan sekedar manusia tapi 1:08:09 juga habitat di situ timbul satu 1:08:13 pengertian baru bahwa Jakarta butak 1:08:16 huruf terhadap yang kita sebut sebagai 1:08:18 anopolog of hope itu di man anop of 1:08:22 itu sekedar di di ee komunitas-komunitas 1:08:27 adat 1:08:28 di Papua berdasarkan ee Memory collektif 1:08:32 Itu antropologi of hope itu diasuh di 1:08:34 New York diasuh di di Cambridge diasuh 1:08:37 di Oxford segala macam itu yang kemudian 1:08:40 mengental menjadi satu statement untuk 1:08:43 menghasilkan kembali Papua menghasilkan 1:08:45 kembali Papua berdasarkan arus sejarah 1:08:47 yang belum final 1:08:52 jadi godaan itu itu yang membuat 1:08:55 variabel-variabel birokratis teknokratik 1:08:58 tadi akhirnya batal itu nah ini 1:09:00 sebetulnya cara pandang yang yang unik 1:09:03 yang eh sering kita kita harus duga 1:09:05 bahwa kebiasaan Jakarta itu untuk 1:09:08 menyelesaikan semua hal secara 1:09:10 teknoirokratik itu itu pasti akan gagal 1:09:12 apalagi kalau yang teknobirokratik itu 1:09:15 sekedar diucapkan sebagai kebutuhan atau 1:09:17 kepastian legalistik 1:09:20 legalistik bukan pendekatan antropologi 1:09:23 bukan pendekatan eh hermeneutik bukan 1:09:26 pendekatan humanisme bukan pendekatan eh 1:09:31 justifikasi moral bukan 1:09:33 pendekatan Clarity atau eical promotion 1:09:37 berhadap-hadapan dengan jumlah 1:09:39 pelanggaran HAM yang ada di situ tuh 1:09:41 jadi sekali lagi Ini kesempatan yang 1:09:44 baik kita memunculkan isu ini dalam 1:09:47 upaya untuk bukan bukan bukan sekedar 1:09:49 Mari mencintai Papua tapi Biarlah orang 1:09:52 Papua merasa dia berhak untuk mencintai 1:09:55 Indonesia dari perspektifnya sendiri itu 1:09:57 jadi Papua yang mesti merumuskan apa 1:10:00 versi cinta dia pada Indonesia tuh bukan 1:10:02 kita yang paksakan orang Papua itu 1:10:04 mencipta Indonesia dalam konteks NKRI 1:10:07 harga mati itu Jadi kalau misal oke ya 1:10:10 Ada negara kesatuan Mungkin itu masih 1:10:12 lebih enak ada negara persemakmuran 1:10:14 mungkin juga lebih baik tapi menyebutkan 1:10:16 ada negara yang tidak ingin diusik lagi 1:10:20 dan karena itu dipakai istilah harga 1:10:21 mati itu membahayakan enggak ada duel 1:10:24 argumen di dalam keadaan yang sudah 1:10:26 harga mati jadi buat apa ada dialog 1:10:28 kalau harga matinya diucapkan lebih 1:10:30 dahulu tuh nah saya kembali tadi pada 1:10:31 pengalaman eh 1:10:34 eksistensial saya bersama dengan 1:10:37 pemuda-pemuda Papua di atas gunung 1:10:40 siklop di menjelang hari natal itu itu 1:10:43 menunjukkan bahwa ada doa lain yang bisa 1:10:46 diucapkan bukan doa politik bukan doa 1:10:49 hukum tapi doa antropologi terima 1:10:52 kasih Baik terima kasihoki ya ini 1:10:56 bagaimana eh pemerintah dalam mengambil 1:10:59 kebijakan ya bukan hanya domain politik 1:11:02 dan kepentingan ekonomi pragmatis ya 1:11:04 tapi sosial 1:11:06 antropologi dan aspirasi masyarakat 1:11:08 Papua juga dan juga secara historis 1:11:10 sejarah semua perlu kita perhatikan ya 1:11:14 Luar biasa para narasumber pada malam 1:11:16 ini memberikan pandangan paparan eh 1:11:19 wawasan dan harapan ya anthopology of 1:11:22 hope tadi saya 1:11:24 dapat istilah yang sangat bernilai dari 1:11:26 Bung Roki dan Namun karena keterbatasan 1:11:29 waktu tiba kita di akhir acara eh 1:11:33 seperti biasa para narasumber 1:11:35 dipersilakan memberikan closing 1:11:37 statement dan juga sambil boleh juga 1:11:39 memberikan tanggapan terkait dengan tadi 1:11:41 pandangan para narasumber yang lain 1:11:43 sekaligus e pernyataan penutup ya atau 1:11:46 gagasan penutuping atingating 1:11:52 pertama eh kepada Pak Mardani 1:11:55 dipersilakan 1:11:56 Pak kasih Bang haldi eh Prof Cahyo matur 1:12:00 nuhun paparannya luar biasa 1:12:03 eh panjang kali lebar Bro Keren biasa ya 1:12:08 Azar jadi eh sengaja kita memang angkat 1:12:11 tema ini bro 1:12:15 karena ada ketidakadilan ya Ada suara 1:12:18 yang tidak 1:12:19 terdengar 1:12:21 tapi saya ktemu dengan banyak orang di 1:12:25 DPR yang ingin masalah Papua selesai 1:12:27 mbak frederika bahkan kalau kita lihat 1:12:31 eh secara insentif elektoral masyarakat 1:12:35 Papua 90%nya memilih Pak Jokowi ya 1:12:38 sebagai presidennya sebetulnya Pak 1:12:41 Jokowi punya eh kuat sekali ya 1:12:47 Eh political backup gu atautical 1:12:50 foundation untuk 1:12:52 betul-betul mengambil inisiatif 1:12:54 menyelesaikan masalah Papua ya karena 1:12:57 memang 1:12:58 ee Ini bukan tentang Berapa jumlah 1:13:02 orangnya 1:13:03 eh dan lain-lain tetapi ini tentang satu 1:13:07 orang pun dia adalah 1:13:09 eh warga negara Indonesia yang punya hak 1:13:12 untuk mendapatkan keadilan perhatian 1:13:16 dukungan dan kehadiran negara ya karena 1:13:19 itu bang haldi Tema kita malam ini tidak 1:13:21 selesai tetap ini menjadi PR kita untuk 1:13:25 kemudian kita mungkin bisa menghadirkan 1:13:29 ee solusi yang lebih manusiawi solusi 1:13:33 yang lebih Papua 1:13:36 oriented solusi yang lebih rendah hati 1:13:39 ya tentu dengan tetap mengedepankan 1:13:42 proses teknokrasi eh riset yang tadi 1:13:45 Prof Cahya sudah sampaikan dan termasuk 1:13:48 keberanian untuk out of the box 1:13:51 menyelesaikan masalah Papua Dan saya 1:13:53 yakin Insyaallah dalam waktu yang tidak 1:13:57 lama ketika niat baik kerendah hatian 1:14:01 kemauan mendengar dan pendekatan 1:14:03 teknokratis yang berbasis Sain tadi 1:14:07 brooki luar biasa ya bukan cuma output 1:14:10 outcome tapi impactnya juga betul-betul 1:14:13 kita bisa menyelesaikan karena kita 1:14:16 punya cerita sukses Bagaimana Gerakan 1:14:18 Aceh Merdeka dapat duduk bersama dengan 1:14:22 pemerintah untuk membuat kesepakatan 1:14:25 membangun Aceh yang maju dan sejahtera 1:14:27 sampai sekarang masih punya masalah tapi 1:14:29 minimal pondasinya ada contohnya ada 1:14:31 begitu Bang 1:14:38 haldi masih dimute terima kasih Pak 1:14:42 marani berikutnya Kak frederika eh 1:14:45 memberikan closing statement atau 1:14:47 closing ideas 1:14:49 di ya Eh terima kasih Pak mani Mas Cahyo 1:14:55 eh Bang Ricky Gerung saya selalu suka 1:14:59 mendengar e pernyataan-pernyataannya 1:15:02 juga sobat eh Haris 1:15:05 e ya Saya senang dengan dialog malam ini 1:15:08 eh mendengar kawan-kawan yang lain 1:15:11 berbicara tentang Papua lebih dalam itu 1:15:14 jauh lebih baik mungkin akan lebih kuat 1:15:18 mengajak mengantar masyarakat Indonesia 1:15:22 untuk lebih ee e dalam memahami apa 1:15:24 sesungguhnya masalah yang ada di Papua 1:15:27 harapan kami kemarin sebetulnya ketika 1:15:30 proses e diskusi tentang otonomi khusus 1:15:33 jilid 2 pemekaran wilayah yang dilakukan 1:15:37 di Senayan termasuk juga disponsori oleh 1:15:40 pemerintah pusat ya oleh eh eksekutif 1:15:44 beberapa Kementerian yang terlibat itu 1:15:47 yang kami membayangkan sebetulnya adalah 1:15:50 menaruh berbagai fakta-fakta yang tadi 1:15:53 diangkat oleh EE Mas Cahyo itu di atas 1:15:56 meja lalu kita bicara bersama antara 1:15:59 orang Papua dan pemerintah pusat ya kita 1:16:02 bicara ya ini 20 tahun otsus sudah jalan 1:16:06 tapi ini fakta-faktanya ipm-nya masih 1:16:08 tetap rendah Kenapa orang Papua makin 1:16:12 terpinggirkan Kenapa Apakah ini apa Eh 1:16:16 otsus ini kok kenapa militarisme semakin 1:16:18 menjadi-jadi di Papua walaupun Dom 1:16:21 Katanya sudah berakhir di tahun 1:16:24 8 1998 nah yang seperti ini sebetulnya 1:16:27 yang kita mau forum yang 1:16:30 terbuka kedua belah pihak duduk dan 1:16:32 bicara mengevaluasi proses yang sudah 1:16:34 terjadi sebelumnya lalu merumuskan 1:16:37 sama-sama Bagaimana jalan ke depan 1:16:40 tetapi ya Yang yang terjadi kita sudah 1:16:42 lihat kan prosesnya sepihak dan itu tadi 1:16:45 saya mau garis bawahi sesuatu tadi yang 1:16:48 disampaikan soal rasisme rasisme ini 1:16:51 satu topik yang saya kira eh saya baca 1:16:54 road map yang lalu eh topik ini belum 1:16:56 banyak muncul rupanya ini mulai muncul 1:16:59 setelah 20 tahun sus berlaku rasisme 1:17:01 terhadap orang Papua Apa yang dilakukan 1:17:04 oleh Jakarta dengan melahirkan dua 1:17:07 kebijakan tersebut tanpa dialog dengan 1:17:09 orang Papua itu adalah wujud rasisme 1:17:12 sebetulnya yang tidak disadari oleh 1:17:16 pemerintah pusat karena apa Karena orang 1:17:18 Papua dianggap ah kok terada otak toh 1:17:20 kita ajak bicara buat apa kau bukan 1:17:24 manusia istilahnya begitu kau tidak bisa 1:17:26 pikir nah ini yang yang tidak akan 1:17:30 pernah ketika Jakarta terus berdiri 1:17:33 memandang Papua seperti ini bahwa 1:17:36 Papua hanya sebagai dapur masa depan 1:17:38 Indonesia bukan orang 1:17:41 Papua sebagai itu subjek dari proses itu 1:17:45 pembangunan kebijakan kebijakan yang 1:17:47 berlangsung masalah Tidak akan pernah 1:17:50 selesai kalau bisa ungkapan B Papua 1:17:53 dapur masa depan Indonesia itu harus 1:17:55 berubah menjadi orang Papua Jadi 1:17:58 sasarannya bukan itu ee dapurnya bukan 1:18:01 sumber makanannya tapi manusianya ya 1:18:04 manusia Papua menjadi ee apa namanya 1:18:07 menjadi menjadi eh poros yang penting ya 1:18:11 Nah 1:18:14 E saya tidak tahu apakah masih ada ruang 1:18:17 untuk eh kebijakan yang sudah dibuat itu 1:18:19 bisa dibahas kembali itu pak 1:18:21 ee anggota DPR dari PKS mungkin lebih 1:18:25 tahu itu tapi Harapan Kita semoga 1:18:28 pemerintah pusat sadar bahwa ada hal 1:18:30 yang salah yang sudah dibuat dan kenapa 1:18:33 tidak perlu mengevaluasi kembali dan 1:18:36 duduk bersama dengan rakyat Papua dan 1:18:38 bicara dan mungkin tadi yang diusulkan 1:18:40 oleh Pak Cahyo eh Mas Cahyo tadi bilang 1:18:43 ya Mari dialog dengan perwakilan jadi 1:18:46 perwakilan itu pemerintah Indonesia 1:18:48 perwakilan rakyat Papua duduh dialog 1:18:50 secara bermartabat dan cari jalan keluar 1:18:53 yang lebih permanen untuk perdamaian 1:18:56 bagi Papua dan perdamaian bagi Indonesia 1:18:58 juga Indonesia pasti capek juga kan urus 1:19:00 Papua yang berkonflik 1:19:01 terus begitu saja terima kasih banyak 1:19:04 selamat 1:19:05 malam selamat malam Terima kasih Kak 1:19:08 frederika berikutnya Bang Haris 1:19:13 dipersilakan Iya saya mungkin mau ambil 1:19:16 Angle lain ya 1:19:19 Eh saya ingin menerjemahkan soal 1:19:21 ketidakpercayaan situasi 1:19:23 ketidakpercayaan orang di Papua terhadap 1:19:25 pemerintah pusat 1:19:29 ee kan itu berangkat dari peristiwa yang 1:19:33 terjadi di lapangan dan juga 1:19:36 eh respon negara tidak tidak 1:19:40 pernah 1:19:42 merespon situasi yang ada di masyarakat 1:19:45 di warga dan di lapangan yang akhirnya 1:19:48 ee memupuk ketidakpercayaan itu dari 1:19:52 situ saya ingin B angkan untuk untuk 1:19:54 melihat 1:19:55 atau ya kita boleh berharap boleh ee 1:20:00 mencari trobosan tapi juga harus 1:20:03 di kita ini selalu nanti kalau peristiwa 1:20:06 baru bicara yang namanya begini kita 1:20:09 harus siap-siap dalam paling enggak 1:20:11 dalam kurun rezimnya hari ini gitu ya 1:20:14 sampai 2 tahun ke 1:20:17 depan apa Saya tidak berharap tapi 1:20:20 keburukan-keburukan yang mungkin terjadi 1:20:22 itu akan direspon Seperti apa 1:20:25 Nah ini yang harus kita siapkan juga 1:20:29 jangan kita terlalu selalu deg-degan 1:20:33 terus untuk menunggu kabar yang baru 1:20:36 atau rutinitas yang terus buruk yang 1:20:38 terjadi di Papua jadi yang lebih 1:20:42 realistis Tolong disiapkan juga karena 1:20:46 ketidakgenahan kebijakan Jakarta 1:20:48 terhadap 1:20:49 Papua ini seperti apa ini 1:20:53 kita 1:20:55 beremergensi terus dengan situasi Papua 1:20:57 nah ini ke depan masih akan terus 1:20:59 berlangsung seperti ini 1:21:01 eh dan kita enggak punya mekanisme yang 1:21:04 ajek yang e dengan merespon Maka akan 1:21:08 muncul 1:21:10 kepercayaan muncul harapan atau 1:21:13 optimisme tadi 1:21:16 itu prakk Ilal loging masih terus 1:21:20 terjadi 1:21:21 eal juga tambah banyak 1:21:25 ee Ditambah lagi dengan 1:21:28 kebijakan-kebijakan Baru Jakarta ini 1:21:30 nanti dampaknya cukup ee dalam dan 1:21:34 meluas 1:21:35 ee bagi 1:21:38 eksistensi dan juga identitas seorang 1:21:40 asli 1:21:41 Papua Mari kita merenungkan itulah 1:21:44 kira-kira akan seperti apa ini ke depan 1:21:47 mungkin itu penutup saya terima kasih 1:21:49 banyak terima kasih Bang Haris 1:21:53 atas e closing statementnya dan sekarang 1:21:56 Prof 1:21:57 cahilakan e Terima kasih Mas e jadi 1:22:01 mencintai e Papua eh kita tidak hanya 1:22:06 mencintai eh tanahnya dan sumber daya 1:22:09 alamnya tetapi juga harus mencintai 1:22:11 manusia sejarah ee nilai-nilai dan e 1:22:16 kebudayaannya Saya kira itu yang perlu 1:22:19 kita apa namanya 1:22:21 eh kita jadikan prinsip yang utama eh di 1:22:25 dalam pembangunan e di dalam pembangunan 1:22:28 di Papua harus bertumpuh pada 1:22:30 menyelamatkan manusia 1:22:32 ee tanah dan EE sumber daya alam yang 1:22:36 terkandung apa di atasnya atau di 1:22:39 bawahnya 1:22:40 Eh ini saya kira apa namanya ee prinsip 1:22:43 yang harus eh menjadi pijakan Ya bagi 1:22:46 pemerintah dan juga kita semua nah eh 1:22:50 dialog adalah dialog tidak memb bunuh 1:22:52 siapapun ya kata almarhum Mas muridan ya 1:22:54 eh dialog merupakan salah satu solusi 1:22:58 strategi ya yang untuk menyelesaikan 1:23:01 konflik Papua secara bermartabat 1:23:04 walaupun Papua akan dimekarkan menjadi 1:23:07 10 provinsi Saya kira tidak akan ee 1:23:09 menyelesaikan konflik yang sudah 1:23:11 berlangsung sejak lama ee konflik hanya 1:23:14 bisa diselesaikan melalui eh Jalan 1:23:16 dialog mungkin itu mas ya Eh terima 1:23:19 kasih P Bapak Mardani eh Bangis as Kakak 1:23:22 frederika Bang Riung dan host 1:23:26 juga para pemirsa semua di mana pun 1:23:29 berada eh Selamat malam asalamualaikum 1:23:32 warahmatullahi wabarakatuh 1:23:33 Waalaikumsalam warahmatullah wabakuh 1:23:35 terima kasih eh Prof Cahyo dan sekarang 1:23:38 eh Bung Roki dipersilakan closing 1:23:41 ideasnya ya oke eh teman-teman kita 1:23:45 ingin 1:23:46 lihat satu fakta baru 1:23:50 bahwa ketegangan di di Papua itu 1:23:53 menimbulkan semacam pertandingan 1:23:55 frustrasi itu frustrasi yang 1:23:58 dipromosikan justru oleh eh keadaan 1:24:02 Global yang juga sedang berbahaya di 1:24:04 Indo Pasifik Jadi kalau 1:24:06 variabel-variabel ini kita taruh di atas 1:24:07 meja maka kita mesti katakan bahwa Papua 1:24:11 Itu bukan bagian dari nasionalisme 1:24:14 Indonesia sebetulnya Papua adalah bagian 1:24:17 dari humanisme universal itu harus 1:24:19 berani kita ucapkan itu yang membuka 1:24:21 pintu dialog gitu kan Kalau kalau 1:24:25 wilayah gramarnya kita perluas bahwa ini 1:24:27 adalah problem yang menyangkut eh 1:24:31 keseimbangan baru di Indo Pasifik nah 1:24:34 variabel ini memang eh sedikit sensitif 1:24:37 tapi dia membuka 1:24:38 pembicaraan kita bisa bisa preteli apa 1:24:43 aja potensi kecemasan kita kalau terjadi 1:24:46 eskalasi di Indo Pasifik karena eh 1:24:49 realignment dari politik global yang 1:24:51 dimulai di eh Taiwan hari ini di sat 1:24:55 Taiwan jadi bagian ini juga harus di 1:24:58 dilihat secara eh lebih tajam karena ini 1:25:01 variabel baru yang masuk di dalam upaya 1:25:04 untuk menyelesaikan secara keseluruhan 1:25:06 Apa yang disebut sebagai realignment 1:25:08 tentang 1:25:10 model kesetaraan manusia di Indo Pasifik 1:25:14 model kesetaraan manusia ee pasca covid 1:25:17 model kesetaran manusia ketika ketika 1:25:20 dunia itu mengalami krisis pangan dan 1:25:21 energi jadi ini satu paket berpikir 1:25:24 sebetulnya tu n yang beginian ini enggak 1:25:26 cukup dilakukan oleh Brin E atau oleh 1:25:29 lembaga-lembaga yang lain Ini 1:25:31 Membutuhkan satu Satu Kesempatan sejarah 1:25:34 untuk memungkinkan semua orang 1:25:36 mengucapkan kalau Brin kan di Brin itu 1:25:39 kan diasuh oleh bpip itu susah juga tuh 1:25:41 Brin secara paradigmatik Brin itu adalah 1:25:43 anak asuh dari bpip itu ideologi yang 1:25:46 tunggal gu itu itu yang yangung Mas Yes 1:25:50 itu Itu itu yang secara jujur ya Cahyo 1:25:53 adalah bagian dari Free Rider di situ 1:25:56 tetapi secara keseluruhan kita hanya 1:25:59 bisa melihat satu kesempatan yang 1:26:01 terbuka jadi ilt ini justru mengambil 1:26:04 alih hal-hal yang tidak bisa diucapkan 1:26:06 oleh Brin hal-hal yang tidak bisa 1:26:08 diucapkan melalui fasilitas yang disebut 1:26:11 tadi 1:26:13 Eh pembagian kekayaan yang tersembunyi 1:26:16 itu jadi satu persoalan harus dibuka 1:26:19 secara lebar gramarnya harus dibuka 1:26:21 secara lebar demikian juga bahasa 1:26:23 diplomasinya harus tidak boleh ada yang 1:26:25 diseludupkan melalui istilah-istilah 1:26:27 yang rumit gitu dan saya tahu bahwa cara 1:26:29 berpikir dan gramatika orang Papua lebih 1:26:31 baik dari gramatika orang Indonesia 1:26:33 tentang bahasa Indonesia tu mengucapkan 1:26:35 bahasa Indonesia yang EE menyembunyikan 1:26:38 masalah itu justru membahayakan proses 1:26:40 dialog tadi jadi sekali lagi terima 1:26:42 kasih Bu frederika Eh mas Cahyo haldi eh 1:26:47 sahabat saya naik gunung saudara Haris 1:26:50 asrar dan e dan 1:26:53 terutama forum ilt yang dibiayai secara 1:26:57 batin oleh Mardani alisera dibiayai 1:27:00 secara batin ya karena saya tahu ini 1:27:01 forum yang miskin tapi kaya ide itu Nah 1:27:04 dari segi itu sebetulnya kita tahu bahwa 1:27:07 tidak semua hal bisa diselesaikan dengan 1:27:09 dengan uang itu dengan peralatan negara 1:27:11 forum-forum kecil semacam ini yang 1:27:13 diasuh dengan ide dan dengan kelegaan 1:27:15 hati itu yang membuat kita bisa menuju 1:27:18 pada percakapan yang berbasis pada 1:27:20 humanitarian saya kira itu eh 1:27:23 asalamualaikum warahmatullahi 1:27:24 wabarakatuh Selamat malam eh salam buat 1:27:26 teman-teman di Papua Ibu frederika i 1:27:30 terima kasihi Gerung sahabat-sahabat 1:27:33 sekalian dengan demikian berakhirlah 1:27:35 acara Indad stok kita pada malam ini 1:27:38 kita semua para narasumber dan seluruh 1:27:41 rakyat Indonesia berharap 77 tahun 1:27:44 Indonesia merdeka ee saatnya ee Papua ee 1:27:49 merasakan ee adanya keadilan sosial dan 1:27:52 sentuhan Midas untuk bisa memajukan dan 1:27:55 memakmurkan rakyat Papua dan apaun 1:27:58 kebijakan publiknya kita harap eh yang 1:28:01 paling merasakan manfaatnya dan yang 1:28:03 juara adalah e saudara-saudara kita 1:28:07 masyarakat di Papua Terima kasih sampai 1:28:10 ketemu pada acara Ind pekan depan 1:28:12 asalamualaikum warahmatullahi 1:28:14 wabarakatuh 1:28:19 [Musik] 1:28:21 waalumsam