Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala. Baik yang dapat meraih kami lewat
- radio silaturahim maupun lewat rasil ee
- YouTube ya. Jadi bisa diakses rasil
- YouTube-nya ee dengan search Rasil TV.
- Ketik saja insyaallah akan langsung
- ketemu e linknya karena saat ini Rasil
- TV masih belum bisa diakses karena satu
- dan lain hal. Baik, alhamdulillah kita
- berkumpul kembali di majelis ilmu pada
- pagi hari ini. Seperti biasa pada hari
- Sabtu pagi Rasil hadir dengan tausiah
- pagi bersama guru kita Ustaz Ahmad
- Jazuli Khalil telah hadir di
- tengah-tengah kita. Mari kita sapa
- terlebih dahulu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat ya, Ustaz? alhamdulillah.
- Alhamdulillahabbilamin. Sehat dan
- mudah-mudahan juga kesehatan yang
- melingkupi ikhwan dan akhwat pendengar
- kami pada pagi hari ini. Pada kesempatan
- kali ini Ustaz akan membahas ee masih
- seputar Asrar salat. Betul Ustaz ya.
- Tapad Ustaz langsung.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam. Alfatilah
- had sayyidina wa habibina rasulillah
- Muhammad ibni Abdillah sallallahu alaihi
- wasallam wa ala alihi wa ashabihi.
- maqidanafiham
- mautana
- maal kitabahumusna
- wa Nabi Muhammadinallahu alaihi wasallam
- Auzubillahiminasyaitanirjim
- bismillahirrahmanirrahimahbil
- alamin arrahmanirrahimiki
- yaumiddin iyaka na'budu wa iyaka nasta
- ihdinatal mustaqimathalladzina
- anamta alaihim ghairil magdubi alaihim
- waladin
- amin. Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu
- wassalamu ala asrofil mursalin sayyidina
- wa maulana Muhammadin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma
- ba'd. Fainna astaqal hadis kitabullah
- taala wahairol hadi hadi Muhammadin
- shallallahu alaihi wasallam.
- Para pendengar silaturahim yang
- dirahmati Allah. Alhamdulillah kembali
- kita panjatkan puji serta syukur ke
- hadirat Allah Subhanahu wa taala yang
- senantiasa melimpah curahkan nikmat
- karunia-Nya kepada kita, terutama nikmat
- iman dan Islam, nikmat sehat walafiat,
- nikmat panjang usia dalam taat, termasuk
- nikmat dipertemukannya kita pagi ini
- dalam keadaan sehat walafiat dalam
- rangka menjalankan perintahnya yang
- diwajibkan. kan atas kita semua yaitu
- menuntut ilmu yang insyaallah pagi ini
- kita akan membicarakan tentang asal
- salat.
- Afan, Ustaz, sebelum lanjut ke asal
- salat ee dilihat ininya kayaknya klipnya
- belum menyala dengan sempurna. Maaf,
- Ustaz.
- Iya, mohon maaf ee para perenggan
- mungkin yang tadi belum ee mendengarkan
- suara Ustaz dengan jelas. Ee insyaallah
- ee akan didengarkan selama berapa detik.
- Baik. Alhamdulillah. Silakan, Ustaz.
- Lanjutkan.
- Selawat dan salam semoga selalu tercurah
- atas Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam beserta keluarganya,
- para sahabatnya, para pengikut dan
- pengamal sunahnya. Para pendengar radia
- silaturahim yang dirahmati Allah.
- Ee untuk memahami asrar salat ini, maka
- kita lihat dulu bagaimana proses atau
- perjalanan diwajibkannya salat kepada
- Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam.
- Kalau kita lihat ya ee ketika Allah
- mewajibkan zakat itu ayatnya turun
- kepada Nabi ketika Allah mewajibkan
- puasa ayatnya juga. Jadi Allah perintah
- Jibril kau pergi temui Muhammad ya
- perintahkan kepadanya untuk mengerjakan
- e puasa Ramadan. Ayatnya di bawah.
- Begitu juga ketika haji ya. Jadi ayat
- yang memerintahkan haji
- dibawa diturun disampaikan kepada Nabi.
- Tapi ketika salat
- maka malaikat Jibril suruh menjemput
- Nabi, membawa Nabi menghadap Allah
- Subhanahu wa taala. Jadi bukan ayatnya
- diberikan kepada Nabi, tapi Allah
- langsung yang memberikan perintah itu
- kepada Nabi dengan cara Nabi Muhammad
- dijauhkan
- dari keluarga, dari dunia, dari semua
- yang dicintai dan mencintai Nabi. Hanya
- berdua dengan Allah. Jibril pun enggak
- menemani
- saat itu. Ya, jadi dijauhkan. Dan
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- menjelaskan, asalah
- mikrajil mukmin. Salat itu mikrajnya
- orang mukmin.
- Artinya di waktu salat kalau Nabi dulu
- waktu mikraj bertemu dengan Allah ah
- maka
- ketika salat
- kita ini sedang berhadapan dengan Allah.
- Idza shallal abdu fainnahu yunajib rbah.
- Seorang hamba ketika salat dia sedang
- bermunajat
- kepada Tuhannya. Coba berdialog dengan
- Allah ya. Nah, itulah makanya di dalam
- salat itu hendaknya begitu kita
- mengatakan Allah Akbar semua
- ya semua entah itu keluarga ya dunia ini
- harus keluar dari pikiran kita. Istiqbal
- ya.
- ee menghadap hanya kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Dan kita ee seperti
- waktu kita menghadap kiblat, artinya
- kita tidak menghadap kepada yang
- lainnya. Berpaling dari yang lainnya
- karena menghadapnya kepada Allah. Ee
- jadi seperti kita waktu salat menghadap
- ke kiblat artinya berarti kita berpaling
- dari selain kiblat. Nah, kiblat yang
- sesungguhnya tentu adalah Allah ya. Maka
- kita ini ketika salat ini supaya
- berpaling dari semua selain Allah hanya
- kepada Allah Subhanahu wa taala. Itulah
- mikraj.
- Nah,
- selanjutnya para pendengar radia
- silaturahim yang dirahmati Allah.
- Dan kalau kita lihat sejarah ya, bahwa
- salat itu mulai diwajibkan
- pada tahun 11 kenabian
- ya. 11 kenabian lewat peristiwa Isra dan
- Mikraj.
- Sebelum itu belum ada kewajiban salat
- ya. Sebelum itu belum ada kewajiban
- salat. Lalu apa yang ee yang dilakukan
- oleh Rasulullah 11 tahun di Makkah?
- Tugas Rasulullah ya selama 11 tahun itu
- adalah menggodok, berdakwah, mengajak
- orang ke dalam Islam sesudah Islam
- kemudian digodok oleh Rasulullah. Ya,
- gembleng mereka ini tentang akidah
- supaya umat Islam itu benar-benar
- mengenal Allah Subhanahu wa taala. Jadi,
- belum ada ee perintah sujud kepada Allah
- ya. Kenapa? Bagaimana mau sujud kepada
- Allah? Orang belum kenal Allah.
- Ya, jadi diperkenalkan dulu oleh Nabi
- siapa Allah itu. Sehingga kaum muslimin
- saat itu benar-benar mengenal Allah yang
- sebenarnya.
- Bukan Allah menurut persepsi
- ya. Kaum muslimin itu sendiri bukan
- Allah yang diciptakan oleh akal
- pikirannya tapi yang disujudi itu adalah
- benar-benar Allah. Itulah makanya
- Rasulullah hanya memperkenalkan
- ee hanya memperkenalkan Allah kepada
- mereka. Hanya tauhid yang diajarkan
- dan hal-hal yang bisa merusak
- ee tauhid ini oleh Rasulullah dibuang,
- dilarang. di antaranya adalah ziarah
- kubur gitu ya, hal-hal yang berbau
- khurafat,
- kemudian tahayul. Nah, itu disingkirkan
- oleh Rasulullah. Lah kenapa enggak boleh
- orang ziarah? Karena orang jahiliah,
- orang Nasrani sudah biasa berziarah. Lah
- kalau orang Islam yang belum mengerti
- bagaimana cara ziarah dalam Islam
- dibiarkan ziarah dengan sendirinya
- mereka akan menggunakan cara yang selama
- ini dia lakukan waktu masih jahiliah.
- Dan itu jelas berbahaya ya bisa merusak
- tatanan akidah yang sudah Nabi
- sallallahu alaihi wasallam bina ya pada
- kaum muslimin pada saat itu. Jadi kita
- bisa mengerti kalau Nabi mengatakan
- kuntu nahaitukum an ziaratil kubur. Dulu
- aku melarang kalian semua berziarah
- kubur. Jadi segala hal yang bisa merusak
- akidahnya dijauhkan. Jadi diperkenalkan
- dulu kepada siapa namanya kaum muslimin
- siapa Allah itu bukan Allah menurut akal
- kaum muslimin masing-masing.
- Ketika sahabat Umar bin Khattab
- radhiallahu anh beliau ini sudah masuk
- Islam,
- Nabi Muhammad bertanya kepada sahabat
- Umar. Umar kamu cinta kepadaku? Saya
- akan gunakan bahasa bebas saja ya. Kamu
- cinta kepadaku, Umar? Jawab Umar, "Tentu
- Rasulullah, saya cinta kepadamu.
- Siapa yang lebih kau cintai Umar? Aku
- atau dirimu atau keluargamu?"
- Sahabat Umar
- yang pada saat itu dia baru bisa
- ee membuka
- akal fisiknya, tapi belum bisa membuka
- akal imannya.
- Maka dia mengatakan begini, "Tentu
- adalah saya atau keluarga saya lebih
- saya cintai."
- Nah, karena menurut sahabat Umar,
- menurut akal kita juga bahwa mana ada
- orang bisa mencintai orang lain melebihi
- diri dirinya sendiri. Enggak ada di
- mana-mana juga. Pasti orang itu akan
- mencintai dirinya sebelum dia mencintai
- orang lain. Kecintaan pada dirinya akan
- lebih tinggi, lebih besar dari
- kecintaannya pada orang lain.
- Rasulullah memaklumi pemahaman Umar ini
- karena begitulah menurut akal fisik
- kita.
- Nah, karena itu Rasulullah kemudian ee
- ee menyuruh secara tidak langsung kepada
- sahabat Umar untuk belajar membuka akal
- imannya.
- Makanya beliau mengatakan begini, "Umar,
- belum sempurna iman seseorang
- sehingga ia mencintai aku melebihi
- kecintaan pada siapapun, bahkan pada
- dirimu sendiri."
- Sahabat Umar yakin Rasulullah itu pasti
- benar.
- Ya, karena itu dia enggak membantah.
- Tapi dia enggak mengerti apa iya ada
- orang mencintai orang lain melebihi
- kecintaan pada dirinya. Itu yang akal
- dia enggak nerima.
- Ah, karena itu dia harus mencari jawaban
- bahwa apa yang dikatakan Nabi bisa
- diterima oleh akal dia. Pulang dia
- merenung sahabat Umar itu dalam
- renungannya itu ya bahwa selama ini dia
- berada di tepi jurang
- ya
- ee apa namanya? Wauntum ala safa
- khufratim minanar.
- Dulu kalian kata Allah berada di tepi
- jurang api neraka.
- Faanqadakum. Ya. Lalu Allah yang
- menyelamatkan. Berdiri di tepi jurang
- hanya menunggu waktu. Begitu waktu sudah
- sampai nyemplung deh ke jurang itu.
- Yaitu kematian.
- Orang yang selama ini dia cintai,
- yang diperjuangkan,
- yang dibela, yaitu anak-anaknya dan
- istri-istrinya yang sangat disayangi
- oleh sahabat Umar.
- Satu pun mereka tidak ada yang mau
- menyelamatkan Umar dari tepi jurang.
- Enggak ada yang narik,
- ya. Enggak ada yang narik. Nah, malah
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- yang ee selama ini dia musuhi, yang
- paling dibenci, bahkan sahabat Umar coba
- untuk membunuhnya,
- beliaulah yang membawa sahabat Umar dan
- keluarganya
- ya menariknya dari tepi jurang itu
- dibawa ke sebuah taman yang sangat
- indah, taman yang sangat
- apa namanya? Sahdu dan lain sebagainya
- yang sangat nyaman yaitu taman Islam.
- Rasulullah lah. Padahal Rasulullah ini
- bukan keluarganya.
- Justru orang yang paling dibenci dialah
- justru yang menyelamatkan.
- Ini anaknya, istrinya yang dicintai.
- Bukannya menyelamatkan Umar dari tepi
- jurang. Bah malah mereka justru berjajar
- bersama-sama juga ee berdiri di tepi
- jurang itu mendukung ya perbuatan
- sahabat Umar bin Khattab radhiallahu
- anhu. Justru yang menyelamatkan Umar itu
- adalah Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam yang membawanya ke taman yang
- sangat indah. Nah, ini ketika akal iman
- sudah terbuka, begitu cara pandangnya.
- Akhirnya kata sahabat Umar, "Iya, kalau
- gitu ternyata yang mencintai aku itu
- bukan anakku, bukan istriku yang
- sebenarnya cinta.
- Bahkan aku pun enggak cinta pada diriku
- sendiri. Justru yang cinta kepadaku
- adalah Rasulullah."
- Maka kata Sabar, "Kalau begitu yang
- harus lebih dicintai ya Rasulullah. Wong
- aku sendiri enggak mencintai diriku
- ketika akal imannya belum terbuka.
- Jadi barulah sadar sekarang sahabat Umar
- baru tahu kalau memang Rasul memang
- paling berhak untuk dicintai ya hatta
- dari dirinya sendiri. Maka dengan mantap
- pagi harinya ee Umar menemui Rasulullah.
- Ah, begitu bertemu dengan Rasul, kata
- Umar, Rasulullah, aku mencintaimu
- melebihi kecintaan pada apapun, pada
- siapapun, termasuk pada diriku sendiri.
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- girang bukan main. Yang membuat girang
- gembiranya Rasul bukan ucapan,
- bukan ucapan sahabat Umarnya. Sebab
- ucapan itu bisa saja ya, Bu ee ee
- bunyinya A, tapi di hatikan enggak
- begitu. Bisa jadi sekarang a besok pagi
- akan berubah ya ketika yang berbicara
- cuma mulutnya. Tapi kalau itu keluar
- dari akal imannya yang menunjukkan dia
- sudah mengenal siapa Allah, maka itu
- yang menggembirakan. Dan orang ini kalau
- sudah seperti ini enggak mungkin
- meninggalkan Islam.
- Dulu ada orang katanya dai ya, biasa
- ceramah disebut kemudian dengan ustaz.
- Akhirnya kemudian pindah agama. Dari
- situ menjadi guru besar di agama Kristen
- ya. Ah. Nah, dia mengatakan dulu ustaz
- banyak dihafal ayat-ayat Al-Qur'an. Maka
- saya katakan ini orang akal fisiknya
- memang jalan, cuma akal imannya belum
- terbuka gitu. Belum terbuka
- ya. Beda dengan sahabat Umar. Nah, itu
- sudah terbuka. Karena sudah terbuka,
- kenal betul apa itu Islam. Karena sudah
- kenal betul itu Islam, maka orang ini
- enggak mungkin akan meninggalkan Islam.
- Ah, itulah sahabat Umar. Bagi orang
- seperti itu, penderitaan atau apapun ya
- demi Islam akan menjadi sebuah
- kenikmatan
- ya. Walaupun mungkin orang sulit
- menerima ya,
- bagaimana sih ada derita membawa nikmat?
- Padahal kan sinetronnya juga ada ya.
- Derita membawa eh sengsara. Sengsara
- mawa nikmat. Kata saya ini sebenarnya
- bahasa tasawuf ini kalim ee apa namanya
- tema film itu. Enggak tahu nih
- sutradaranya memang orang sufi apa ya.
- Ee jadi bahasanya bahasa tasawuf kata
- saya gitu kan. Ee ya Allah. Jadi
- bagaimana ada ada derita membawa nikmat
- atau sengsara membawa nikmat. Ya, ini
- adalah masalah cinta. Kalau sudah
- begini, kalau sudah bicaranya cinta ya
- seperti itu.
- Siapapun juga,
- siapapun juga kalau dicubit mesti yang
- dicubit itu kan merasa sakit
- ya kan olin ya. Hah. namanya cubitan
- siapapun juga. Tapi dua sejoli ya orang
- yang sedang pacaran. Nah itu anak
- gadisnya kekasihnya nyubit dia. Saya
- yakin itu si si lelakinya ini ya enggak
- bakalan marah.
- Nah enggak bakalan marah. Justru dia
- menikmati cubitan itu. Karena yang dia
- lihat di sini adalah bukan cubitannya
- tetapi siapa yang mencubit.
- Begitulah kita dengan Allah ya. Kalau
- kita cinta betul kepada Allah, lalu oleh
- Allah kita dicubit. Hm. Ya, kita dicubit
- ya entah dengan apa saja cubitannya.
- Bisa jadi rezekinya yang diambil oleh
- Allah, bentuk cubitannya
- atau anaknya diambil oleh Allah atau
- motornya atau apa saja. Maka ketika dia
- melihat siapa yang mencubit, maka ini
- menjadi sebuah kemesraan. Ada kenikmatan
- sendiri. Siapa yang suka apa namanya?
- Kepalanya diinjak, baunya diinjak-injak,
- semua enggak ada. Ya, ini menyakitkan.
- Tapi nyatanya kita lihat bagaimana kalau
- orang lagi panjat pinang
- itu diinjak-injak kepanya sama anak-anak
- kecil ya. Apa kata yang diinjak terus,
- terus terus. Senang dia diinjak. Kenapa
- bukan injekannya yang dia lihat? Di
- balik injekan ini ada apa? W kita juga
- siapa sih yang menikmati macet? Enggak
- ada. Kan ada orang nikmati aja udah
- katanya macet. Siapa yang bisa menikmati
- macet? Bukan macetnya yang kita nikmati.
- Berangkat pagi pulang sore berangkat
- orang kerja tetap berangkat walaupun
- sudah tahu macet tapi dijalani juga.
- karena bukan ngelihat kemacetannya,
- tapi di balik itu ada sesuatu yang
- diharapkan. Nah, itu yang membuat dia
- terus
- ya. Mudah nanti itu bab mahabbah, bab
- cinta kita akan bahas ya. Jadi, jadi
- kembali para pendengar radio silaturahim
- yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Itulah makanya Nabi memperkenalkan dulu.
- Saya ingat seorang ee dai
- namanya Ustaz Felix. Apa itu?
- Siu.
- Siu ya.
- Dia pernah cerita begini.
- Orang apa namanya? Orang Cina itu ketika
- membuat patung Buddha patungnya
- gemuk-gemuk. Hm. Kalau orang Taiwan
- bikin patung Buddha itu kurus.
- Nah, kenapa ya ketika ditanya kenapa
- Anda membuat patung Buddha itu kok
- gemuk? Kata orang Cina, karena Buddha
- itu simbol kebahagiaan.
- Orang itu bahagia ya, orang bahagia
- kalau duitnya banyak.
- Ah, jadi inti berarti kalau pengin
- bahagia buat orang Cina ya duit banyak.
- Kalau enggak duit enggak banyak enggak
- bisa bahagia. Kalau duit banyak kaya,
- kita bisa makan enak juga enak makan
- lah. Kalau sudah seperti itu, siapa yang
- enggak gemuk badannya?
- Nah, lalu orang orang ini Taiwan ketika
- membuat e patung Buddha kemudian
- Buddhaya kurus. Ditanya, "Kenapa ana
- membuat patung Buddha kurus?"
- Katanya, kata orang Taiwan itu Buddha
- itu ada tukang tirakat, tukang semedi,
- tukang puasa. Kalau orang tukang puasa
- mesti badannya kurus. Nah, ini berarti
- yang menarikkan gitu. Yang sekarang
- sedang dibuat patungnya itu orangnya
- satu.
- Orangnya satu.
- Kenapa dua orang ini kok berbeda membuat
- patung ee Buddha ini? Nah, sedangkan ini
- alasan ini al ini berarti persepsi.
- Kalau begini, jadi Buddha menurut
- persepsinya orang
- apa namanya ee ini orang Cina begini,
- menurut orang Taiwan begini. Kata saya,
- "Jangan-jangan kalau orang Jawa yang
- bikin batang Buddha entar dipakaiin
- blangkon ya.
- Orang Etiopia jangan-jangan nanti dicat
- hitam.
- Nah, itulah makanya di dalam Islam kita
- tidak boleh melukis Tuhan. Jangankan
- melukis Tuhan, melukis Nabi Muhammad
- saja kita enggak boleh. Karena ketika
- melukis enggak bisa dilepaskan dari apa
- itu yang disebut tadi persepsi itu. Ya,
- Ibnu sekarang melukis Nabi Muhammad.
- Saya melukis Nabi Muhammad, Ali melukis.
- Hasil lukisannya enggak mungkin sama
- kan? Mesti beda. Ketika kita
- mengucapkan, "Ya Rasulullah," akan
- terbayang tuh gambar Nabi Muhammad
- sesuai hasil lukisan yang mengatakan,
- "Ya Rasulullah, bentuknya beda-beda.
- Kalau gitu Nabi Muhammad rupanya walah
- banyak banget. Ini untuk Nabi. Bagaimana
- kalau itu adalah Allah?"
- Nah, ini nih. Itu makanya dalam Islam
- enggak boleh kita melukis Nabi Muhammad.
- Apalagi melukis Allah. Bukan berarti
- Islam enggak menghargai masalah seni dan
- seni. Bukan itu. Ini masalah akidah.
- Jadi kenapa orang membuat patung Buddha
- gemuk? Kenapa kurus? Persepsi. Ini
- masalahnya lah. Kalau sudah persepsi
- maka beda-beda. Itu menunjukkan dua
- orang ini enggak kenal siapa Buddha.
- Kalau sama-sama kenal persis secara
- Buddha enggak beda, mesti sama
- ya. Nah, inilah yang ee jadi 11 tahun
- Nabi Muhammad itu hanya mengajarkan
- kepada umat Islam tentang apa namanya?
- akidah. Memperkenalkan dulu siapa Allah
- yang sebenarnya bukan Allah menurut
- persepsi, bukan Allah menurut pendapat
- ya. ee masyarakat atau bukan Allah yang
- diciptakan oleh pikirannya sendiri.
- Nah, itu terhadap Allah. Terhadap agama
- juga kan ada orang yang kenal betul
- Islam, ada juga yang enggak kenal
- sebenarnya. Menurut dia Islam tuh
- begini. Menurut A, menurut B Islam itu
- begini. Menurut C Islam itu begini lah.
- Ini jelas bedalah yang tiga ini.
- Tiga-tiganya salah mungkin, tiga-tiganya
- benar enggak mungkin. Mesti ada yang
- salah
- ya. Ini mesti tuh seperti itu. Makanya
- enggak heran sekarang ada orang yang
- menyalahkan muslim begini yang
- menyalahkan itu. Nah, ini kenapa boleh
- jadi ini masalahnya? karena karena
- persepsi tadi, pemahaman
- ya, dan lain sebagainya.
- Ee
- baik para pendengar radia silaturahim
- yang dirahmati Allah. Maka begitu ada
- perintah salat, perintah sujud kepada
- Allah, maka para sahabat saat itu ketika
- sujud, yang disujudi adalah Allah
- Subhanahu wa taala. Bukan Allah yang
- diciptakan oleh akal pikirannya.
- Nah, selanjutnya sekarang ketika kita
- mau mengerjakan salat ya untuk sujud
- kepada Allah. komunikasi dengan Allah
- yang membuat aturan Allah sendiri.
- Yang kita mau komunikasi dengan Allah,
- kita mau bertemu dengan Presiden.
- Presiden yang membuat aturan pihak
- presiden. Begitu juga itu dengan Allah.
- Allah yang bikin aturan. Maka aturan ini
- jangan kita yang bikin sendiri.
- Saya punya jemaah, dia pedagang sayur.
- Jadi dia berangkat ke pasar itu jam 4.
- Sebab kalau subuh berangkatnya enggak
- kebagian sayuran. Ada yang bekas-bekas
- apa namanya orang sisa-sisa gitu ya.
- Bagian yang jelek-jelek katanya Ustaz.
- Jadi saya berangkatnya jam .00. Karena
- saya juga seorang muslim
- kalau saya berangkat subuh enggak
- kebagian, jadi saya salat subuhnya jam
- .00, Pak Ustaz. Katanya gitu.
- Bagaimana tuh? Padahal tadi Pak Ustaz
- mengatakan salat subuh itu dimulai jam
- sekian sampai jam sekian waktunya. Ah
- kalau kita mengerjakan sebelum waktunya
- atau sesudah lewat waktunya itu min
- afhasi syaiat min akbaril maasi wa afis
- syaiat. Termasuk maksiat. terbesar dan
- juga ada perbuatan keji. Paling keji
- lah. Sekarang bagaimana katanya, Pak
- Ustaz? Saya dulu melakukannya jam .00
- melulu ya. Itu bagaimana? Oh, kata saya
- enggak apa-apa ya, enggak apa-apa kalau
- dulu-dulu itu. Enggak apa-apa. Yang
- dulu-dulu sih, Bu. Oh, jadi enggak
- berdosa saya enggak. Insyaallah enggak
- ya. Dulu karena Ibu enggak tahu, tapi
- mulai malam ini enggak boleh gitu kan.
- Mulai malam ini enggak boleh.
- Solusinya, Pak Ustaz, bagaimana supaya
- saya dapat sayurannya enggak jelek gitu
- kan. Kata saya gampang, Ibu ya. Ibu
- pergi ke sana silakan jam .00, mau jam
- .00 juga boleh. Begitu kedengaran azan
- langsung pergi ke musala. Kan di pasar
- juga ada musala, ada masjidnya.
- Ibu wudu ya, wudu salat sendiri. Hmm.
- Enggak usah jemah lagi ya, salat sendiri
- aja suratnya qulhu hitu kan. Udah itu
- aja terus baca. Nanti begitu salat
- wiridnya sambil jalan. Kalau wirid
- enggak wirid juga enggak apa-apa belanja
- begitu. Nah, lama-lama kan nanti juga
- dengan sendirinya malu orang-orang
- jemah. Masa saya enggak jemah ya. Ya,
- alhamdulillah akhirnya ya jemah. Mau
- kita paksakan harus jemah. Kalau enggak
- jemah begini
- awal-awal namanya udah enggak usah jemah
- qulhu aja mah inna atina baca suratnya.
- Iya. Salat begitu lama-lama akhirnya,
- Pak Ustaz, orang-orang belum salat saya
- sudah salat duluan. Ada yang negor, "Bu,
- nanti jemah kalau jam begini." Akhirnya
- malu juga saya katanya sendiri ya.
- Akhirnya ya jemah juga ya. Itu namanya
- kita dakwah ya orang awal-awal. Jangan
- namanya bayi baru kecil udah dikasih
- nasi uduk kasih ya kelolodan. Bahasa
- bahasa Arab itu kelolodan.
- Ah, inilah jamaah rahimakumullah ya.
- Jadi diatur oleh Allah bagaimana kumtum
- ilas shati kata Allah begitu kan. Kalau
- kamu ya ayyuhalladzina amanu idtum
- fagsilu wajakum. Kalau kamu mendirikan
- salat basuh wajahmu,
- basuh tanganmu sampai siku-siku. usap
- kepalamu, basuh kakimu. Cuma itu Allah
- mah gampang banget. Sudah ya artinya
- sebelum kita menghadap Allah,
- berkomunikasi dengan Allah, bermunajat
- dengan Allah, kita suruh bersikap
- thaharah dulu.
- Nah, tharah dulu. Nah, tempo hari kan
- sudah dijelaskan oleh saya thaharah itu
- ada ada tiga, ada empat. Taharah dari
- hadas. Hadas kecil, hadas besar.
- Tuh taharah bersihkan dulu zahir kita.
- Lalu thaaharah anin najasah.
- Ya, suci dari najis. Najis zahir ya.
- Kotoran ayam atau apa dibersihkan badan
- kita, pakaian kita, tempat ibadah kita,
- maupun dari najis batin, sifat
- bohongnya,
- kemudian juga nipunya.
- dan sifat-sifat buruk lainnya, sifat
- hati buruk lainnya itu namanya thaharah
- kita
- ya bersihkan. Kenapa? Karena Allah itu
- maha suci. La yaqbalu illa thyiban.
- Enggak nerima kecuali yang baik. Maka
- kita bersihkan seluruhnya ya. Sesudah
- kita bertaharah
- ya baru kemudian kita apanya? Berpakaian
- yaitu menutup aurat. Aurat itu aib.
- Tutupi aib sendiri, tutupi aib orang
- lain. Nah, sekarang ini lagi ramai
- namanya bongkar-bongkar aib ya. Wah,
- udah luar biasa. Kalau sudah nyeritain
- orang ya paling enak. Memang paling
- enak. Sehingga kadang-kadang eh kalau
- kata Haji Bang Haji Omirama apa? Gajah
- di pelupuk mata ee eh semut di seberang
- lautan kelihatan
- ya. Gajah di pelupuk mata enggak
- kelihatan. Tuh begitu ya. Namanya
- manusia seperti itu.
- Nah, cuma kalau udah ngomongin orang
- luar biasa. Kalau dengerin agak susah.
- Padahal kalau kita lihat Allah justru
- membuat kita ini memberi kita dua
- telinga, satu mulut.
- Mungkin kan maksudnya supaya kita lebih
- banyak
- mendengar daripada bicara. Kalau orang
- banyak mendengar daripada bicara
- insyaallah jadi orang pintar.
- Ya, kalau banyak bicara jarang mendengar
- enggak pintar-pintar nantinya. Wong
- modalnya dikit ya yang dibicarakan.
- Nah, kayak model ceramah sekarang saya
- ceramah di sini babnya bab ini. Nanti
- pindah ceramah ke tempat lain. Toh yang
- dengerin beda. Itu lagi pindah lagi
- tempat lain lagi ke Jawa Barat ya. itu
- lagi. Kenapa? Karena enggak
- dengar-dengar dari orang. Giliran orang
- ceramah dianya pergi. Ya, jadi enggak
- dengar cuma ngomong doang. Modalnya
- jadinya sedikit. Tapi kalau kita mau
- banyak mendengar dari orang, insyaallah.
- Makanya saya dengan Olin banyakan Olin
- nanti ilmunya. Hah? Ya. Iya. Dengan
- dengan apa namanya semua yang di sini
- ya? Dengerin dari Habib Husein, dari
- siapa? Makanya saya juga dengerin
- dengerin Habib Husein, dengerin Ustaz
- apa namanya Sanusi ya untuk nambah baik.
- Nah itu nutup namanya aurat. Sesudah itu
- kata Rasulullah idza kumta ilat
- faasbigil wudu. Sempurnakan wudu kamu.
- Sesudah itu summakwil kiblah. Kemudian
- menghadaplah ke kiblat. Nah, lihat
- sekarang
- ketika kita menghadap kiblat, artinya
- kita berpaling dari semua arah,
- berpaling dari yang lainnya, hanya fokus
- ke arah sana. Nah, kita ketika menghadap
- Allah, kalau memang benar-benar pengin
- menghadapnya kepada Allah benar, maka
- kita harus berpaling dari selain Allah.
- lah selain Allah itu ya keluarga ya
- harta benda, pekerjaan
- harus di di disingkirkan dulu dari diri
- kita, dari pikiran kita ya, dari ingatan
- kita. Karena kita hanya menghadapkan
- diri kita kepada ee Allah Subhanahu wa
- taala tuh seperti itu. Lalu fakabbir
- ucapkan kata Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam kalimat Allahu Akbar ya.
- yakni hanya Allah yang besar, yang lain
- semuanya kecil. Ya, yang lain itu apa?
- Ya, yang lain selain Allah lah. Selain
- Allah. Maa ma inda ma ind
- yanfad wa indall baq. Yang ada di sisi
- kamu itu akan hilang, akan binasa. Tapi
- yang ada di sisi Allah itulah yang
- kekal. masa kita mau memburu yang akan
- hilang lalu meninggalkan yang kekal yang
- di sisi Allah Subhanahu wa taala.
- Nah, selanjutnya
- ee di dalam salat ini berarti kalau
- seperti itu harus hadir hati kita ya.
- Hadir hati kita jangan cuma badannya
- saja. Makanya di waktu takbir itu kita
- mengucapkan Allahu Akbar kabiro
- walhamdulillah kasiro terus wajjahtu
- wajhiya lilladzi fathar samawati ard.
- Kuhadapkan jiwa ragaku kepada zat yang
- menciptakan langit bumi. Jiwa dan raga
- kita kita hadapkan kepada Allah.
- Walaupun kadang-kadang bahkan bukan
- kadang-kadang kalau saya ya setiap salat
- ya yang ngadap enggak tahu apanya yang
- ngadap kadang-kadang lagi salat Allahu
- Akbar pikirannya ke mana-mana
- ya. Nah itu berarti kan pikiran kita,
- hati kita enggak menghadap ee kepada
- Allah. Mungkin di sinilah kenapa al Imam
- Al Ghazali rahimahullah ya dan kalau
- kita lihat ee apa namanya hadis-hadis
- tentang doa iftitah itu enggak ada yang
- menggunakan inni wajjahtu yang ada
- adalah wajjahtu enggak pakai ini.
- Wajjahtu wajhiya lilladzi fathar
- samawati
- bukan inni wajahtu.
- Nah, ketika ditanya kenapa?
- Padahal di dalam Al-Qur'an itu kan Nabi
- Ibrahim mengatakan inni wajjahtu waj
- lilladzi fatar samawatil ard hanifah
- muslima wa ana ya ee awalul muslimin.
- Lalu kenapa dalam hadis itu kok tidak
- ada ininya?
- E ketika ditanya begitu Imam Ghazali
- mengatakan begini.
- Wong kita ini lagi salat, mulutnya
- mengatakan
- wajahtu wajhiya. Kuhadapkan jiwa ragaku
- tapi pikirannya ke mana-mana.
- Itu berarti pernyataan orang itu kan
- bohong ya kan. Bohong wong. Ya Allah
- saya hadapkan jiwa ragaku kepadamu. Tapi
- jiwa raga eh jiwa eh jiwa kita, pikiran
- kita entah ke mana. Berarti bohong nih
- pernyataan kita.
- Udah bohong
- ditambahin lagi dengan ini. Artinya ini
- sesungguhnya gitu. Sesungguhnya.
- Maka kalau ditambahin ini pikirannya ke
- mana-mana bohongnya tambah gede. Sudah
- bohong pakai kata sungguh kayak model
- pedagang.
- Ada dulu pedagang begitu ditawar berapa
- ini, Pak? Oh, ini R5.000. R000 ya? 4.000
- aja, Pak. Demi Allah, Pak, dari sononya
- juga enggak dapat.
- Udah ngomongnya dari sononya enggak
- dapat. Kalau ini bohong ditambahin pakai
- demi Allah lah. Kan bohongnya tambah
- gede jadinya, gitu. Nah, ini sudahlah
- pikirannya ngawur mengatakannya wajapkan
- jiwa ragaku ditambah lagi dengan
- sungguh. Ah, ini kata Imam Ghazali itu
- bohongnya tambah gede. Jadi, biar jangan
- kegedean bohongnya, makanya enggak usah
- ditambahin ini. Lah dalam Al-Qur'an Nabi
- Ibrahim kan mengucapkannya ini lah nabi
- Nabi Ibrahim yang disamakan dengan kita
- ya. Ya kalau orang yang sudah seperti
- itu ya silakan menggunakan kata sungguh.
- Saya bukan ngelarang orang salat baca
- doa iftitah membaca ini wajah tuh. Tidak
- ya. Ee cuma saya setuju dengan
- pendapatnya, dengan pernyataannya
- Imam Ghazali gitu saja. Ya, benar.
- Makanya saya kalau baca titita enggak
- baca ini. Langsung aja wajahtu ya.
- Karena di dalam hadisnya juga begitu.
- Ee jadi hadir hadir hati ya.
- Ee
- untuk makna ini sebenarnya banyak
- petunjuk-petunjuk Al-Qur'an ya yang
- mengarahkan ke sana. Di antaranya adalah
- firman Allah, "Aqimisata lidik." Dirikan
- salat lidik untuk mengingat Aku.
- Ya, dirikanlah salat untuk mengingat
- aku.
- Hmm.
- pendidikannya cukup tinggi tapi modal
- agamanya kurang. Nih ayat ini bisa jadi
- diselewengkan artinya kemudian diterima
- penyelewengan itu.
- Nah, maksudnya bagaimana nih cara
- menyelewengkannya? Setan atau iblis bisa
- saja berkata berbisik di pikiran orang
- yang akidahnya kurang ya. bahwa
- perhatikan oleh kamu firman Allah ini.
- Dirikan salat untuk mengingat aku.
- Ya. Nah, untuk jadi salat itu adalah
- berarti bukan tujuan
- tapi alat. Nah, tujuan utamanya adalah
- zikir. Ingat kepadaku.
- Tuh, tujuan salat itu adalah demikian.
- Maka berarti kalau sudah ingat kepadaku
- ya enggak perlu lagi salat.
- Hm. Enggak perlu. Yang penting adalah
- zikirnya. Ini kan setan bisa begini nih
- ya menyesatkan manusia. Makanya enggak
- heran kan ada sebagian orang ya ee
- mengatakan kalau kita sudah makrifat
- billah, mengenal Allah, enggak perlu
- kita salat lagi. Cukup di hati saja.
- Cukup di hati saja. Nah, ini ya Allah
- banyak yang begini nih ya yang orang
- tuanya ngadu kepada saya karena anaknya
- sudah enggak salat lagi. Karena dia
- sudah makrifat
- tidak salat lagi karena dia sudah ingat
- terus kepada Allah setiap saat.
- Sedangkan tujuan salat itu adalah zikir.
- Maka saya ketika ditanya begitu saya
- uraikan begini.
- Zikir itu
- dalam bahasa Indonesianya dua, bisa jadi
- mengingat, bisa jadi juga menyebut.
- Ya. Jadi kalau zikir kepada Allah
- berarti mengingat Allah atau menyebut
- Allah itu boleh disebut atau dengan
- diingat. Karena begini, kalau orang
- menyebut ya, kalau kita menyebut nama
- seseorang pasti saat itu kita lagi
- mengingat orang itu. Ya, kalau saya
- menyebut nama Ibnu, maka saat itu kan
- berarti saya lagi ingat Ibnu. Kalau saya
- sedang ingat pada seseorang, pasti saya
- juga sedang menyebut orang tersebut
- walaupun tidak dengan mulut, tapi
- hatinya kan menyebut.
- Maka karena itu zikir itu boleh
- diartikan menyebut, boleh juga diartikan
- mengingat.
- Nah, zikir di sini ada dua. Ada zikir
- bisan, ada zikir ada tiga, maaf. Ada
- zikir bisan, ada zikir bil jawarih, ada
- zikir bilqolbi. Zikir bisan mengingat
- Allah, menyebut Allah dengan lidah.
- Ya Allah, ya Allah, ya Allah.
- Lailahaillallah. Baca Al-Qur'an
- misalnya, baca subhanallah, baca
- alhamdulillah, Allahu Akbar. Itu namanya
- kita zikir dengan lidah, dengan lisan.
- Zikir ini ada manfaatnya tapi kecil. Hm.
- Tapi kecil ini ya. Ini mengenai zikir
- lisan. Yang keduanya adalah zikir bil
- jawarih, zikir dengan anggota tubuh
- ya. Zikir dengan anggota tubuh.
- Ah, seperti apa orang sedang salat?
- Salat itu adalah zikir. Anggota tubuhnya
- yang zikir. Kemudian kita ini duduk di
- majelis taklim itu adalah lagi zikir.
- Cuma zikir dengan anggota tubuh.
- Maka sekarang kalau orang sudah ingat
- Allah kepada Allah enggak perlu salat.
- Ini namanya orang enggak enggak paham
- zikir. Wong salat sendiri itu zikir
- ya. Jadi kalau sudah ingat Allah enggak
- usah salat. Berarti kalau sudah sudah
- ingat sama Allah enggak usah ingat lah.
- Bagaimana memahaminya? Kan gitu jadinya.
- Ini orang enggak paham kata, enggak
- paham zikir, enggak paham makna zikir
- itu. Nah, itulah tadi itu ee pendidikan
- lumayan tapi dasar pondasi agamanya
- enggak ada ya. Ya susah jadinya salah
- memahami. Yang ketiganya adalah zikir
- bilqolbi. Ya. Nah, zikir berjawari
- dengan anggota itu lebih baik daripada
- zikir bisan. Yang ketiganya adalah zikir
- qolbi ya. Berzikir dengan hati. Nah, ini
- yang terbaik.
- Kayak tadi tuh Umar bin Khattab memahami
- makna cinta itu yang dimaksud oleh Nabi
- itu adalah merupakan
- hasil daripada zikir bilqarbi yaitu
- tadabbur, taamul sampai Nabi mengatakan
- begini. Tafakuru sa'ah khairun min
- ibadati sanah. Berpikir kamu 1 jam itu
- lebih baik dari ibadah 1 tahun.
- ibadah 1 tahun yang tanpa dihayati oleh
- kita dengan kita hanya menghayati suatu
- ibadah dalam waktu 1 jam nilainya kalah
- tuh yang ibadah 1 tahun itulah ilmu ya.
- Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam
- menjelaskan bahwa ibadah itu bernilai
- tidaknya tergantung kepada pemahaman
- orang itu.
- Ah dari sini makanya ada orang ngaji 16
- tahun enggak berubah sifatnya.
- Cerewetnya ya jalan terus berantem sama
- tetangga enggak ee apa namanya enggak
- ada ininya berhentinya. Padahal ngaji
- sudah puluhan tahun. Tapi ada orang yang
- ngaji baru seminggu, baru 2 minggu sudah
- terjadi perubahan yang drastis gitu.
- Kenapa? Karena yang satu itu ngajinya
- cuma badannya saja, mungkin dengan
- lisannya, hatinya enggak ngaji. Kalau
- yang baru seminggu, sebulan ini dia
- hatinya yang ngaji gitu. Hatinya
- benar-benar ngaji, dia pahami, dia
- hayati gitu tuh. lalu diterapkan ini
- luar biasa sampai Nabi tafakir ibadati
- sana. Nah, itu adalah ee zikir ya. Ee
- jadi ada tiga, ada zikir bisan, zikir
- bil jawari, dan zikir bilqalbi. Sama
- halnya dengan begini, orang kalau sudah
- bicara tentang amal mesti ya yang
- umumnya orang memahami kaitannya amal
- itu dengan duit, dengan harta. Makanya
- coba kamu itu ya banyakin amal mesti
- yang dipahami adalah banyakin sedekah
- gitu kan. Padahal amal itu adalah
- maknanya alamal hual harakah. Amal itu
- gerakan. Jadi kalau saya begini lagi
- beramal.
- Kita nih duduk di sini ini ya namanya
- kita lagi beramal. Nah amal itu gerakan.
- Gerakan itu ada tiga. Ada gerakan lisan,
- gerakan anggota tubuh, gerakan hati.
- Kalau gerakan-gerakan ini sesuai dengan
- perintah Allah, sesuai dengan perintah
- Rasulullah, dengan tuntunan Rasulullah,
- ni namanya taat, gitu. Jadi, kalau kita
- diperintahkan taatlah kamu kepada Allah,
- taatlah kamu kepada Rasulullah.
- Maksudnya apa tuh? Mulutmu
- gitu.
- Perbuatanmu
- dan keyakinanmu
- harus sejalan dengan yang diperintahkan
- Allah, diperintahkan rasul-Nya, yang
- juga dicontohkan rasulnya. Ini namanya
- taat. Yang begini taat itu. Nah, kalau
- berlawanan, kalau berlawanan itu namanya
- maksiat.
- Oleh Allah mulut kita suruh begini malah
- kebalikannya. Anggota tubuh kita suruh
- salat malah enggak salat. disebut
- maksiat yang begini suruh kita
- menghayati, memahami sesuatu justru kita
- tinggalkan ya melarang orang menghayati.
- Ini namanya adalah maksiat. Itu makna
- amal, makna zikir. Jadi ada tiga. Ah.
- Nah, tidak sedikit di antara kita masih
- salah memahami tentang amal, tentang
- zikir sehingga akhirnya sempit sekali
- pemahaman kita tentang hal itu. Wala
- takun minal gofilin. Dan jang kamu ee
- jangan menjadi ee orang yang lalai
- ya. Menjadi orang yang lalai. Ah, begitu
- kata kata Allah di dalam Al-Qur'an. fala
- takun ee minal gofilin. Jadi dalam salat
- ya jangan sampai ee waktu berdiri kita
- baca tahiyat, waktu tahiyat malah baca
- fatihah ya. Nah, itu namanya badannya
- hadir tapi hatinya tidak. Cobalah
- bayangkan ketika kita menghadap
- presiden, badannya kita di depan
- presiden, ketika ditanya diam aja kita
- karena pikiran kita lagi ke mana-mana.
- Wah, kesal banget. Tersinggung Presiden.
- Lah sekarang bagaimana kita menghadap
- yang menciptakan presiden? Menghadap
- yang menciptakan raja, yang menciptakan
- kita, yang tahu isi hati kita, yang tahu
- pikiran kita.
- Nah, di sinilah makna makna batin ya
- ketika salat itu harus seperti itu gitu.
- Memang ini hal ini apaana enggak
- gampang. Ini susah ya untuk bisa begini
- susah tapi bukan berarti enggak bisa.
- Dibutuhkan di sini adalah mujahadah
- perjuangan ya dibutuhkan mujahadah. saya
- ini
- ee saya salut ya dengan teman SD saya.
- Dia enggak ngerti bahasa Arab Olin. Cuma
- dia ini saking pengin tahunya terjemahan
- qul huallahu ahad tuh apa gitu. Jadi dia
- ngerekam sendiri. Baca qulhu kemudian
- direkam ininya terjemahnya. Nanti setiap
- tiap tidur ya dia dengerin itu akhirnya
- dia terjemahannya fatihah terjemahannya
- qul azubirabbinnas falaq binnas ya qulhu
- itu hafal tahu walaupun satu-satu ya
- enggak enggak tahu tapi terjemahannya
- seperti itu. Sehingga ketika ketika
- salat dia tahu maknanya qul huallahu
- ahad itu. Qulhuallahu ahad apa
- terjemahnya. Allahusad apa terjemahnya?
- Heeh.
- Ini ada satu ayat yang menurut saya
- merupakan sindiran dari Allah ya buat
- kita yaitu ya ayyuhalladzina amanu la
- taqrubus shat wa antum sukaro hatta
- tlamu ma taquulun. Wahai orang-orang
- yang beriman, kamu jangan salat kalau
- lagi mabuk. Kata Allah kalau lagi mabuk
- jangan salat sampai kamu menyadari apa
- yang kamu ucapkan. Jadi dulu itu pernah
- sahabat ee Abdurrahman bin Auf itu
- mengadakan pesta.
- Dalam pesta biasalah orang Arab bikin
- kambing guling gitu ya. E maka sahabat
- Ansar diundang, sahabat Muhajirin
- diundang waktu belum belum diharamkan
- minuman keras. Lalu kemudian mabuk-mabuk
- mereka.
- Mabuk-mabuk.
- Nah, masuk waktu salat magrib. Sahabat
- Abdurrahman bin Auf kemudian menjadi
- imam dalam salat. Surat yang dibacanya
- surah Alkafirun. Qul ya ayyuhal kafirun.
- Maklum dalam keadaan mabok. Jadi ada
- terjadi perubahan ayatnya. Bacanya
- begini. Qul qul ya ayyuhal kafirun.
- A'budu maa ta'budun wa antum' abiduna ma
- a'bud. Wa ana abidum ma abadtum wa antum
- abiduna ma a'bud. Maka artinya jelas
- berubah. Hai orang-orang kafir,
- aku pernah menyembah Tuhan yang kamu
- sembah. Kalian pun pernah menyembah
- Tuhan yang aku sembah. Gitu ya.
- Ee ya kacau jadinya kan. Maka turun
- firman Allah, "Wahai orang-orang
- beriman, kalau lagi mabuk jangan salat.
- Sebab kalau lagi mabuk salat, kamu tidak
- menyadari apa yang kamu ucapkan."
- Kata saya ini bahasanya Allah ini kan
- cerita tentang mabok ya. Tapi kalau
- orang yang jeli, yang cerdas ini ketika
- dia mau salat kan berasa
- ya. Kenapa orang mabuk jangan salat?
- Karena orang mabuk tidak ngerti apa yang
- diucapkan.
- Lah sekarang kalau saya enggak mabuk,
- tapi saya enggak tahu Fatihah itu
- maknanya apa yang saya ucapkan. Surat
- yang saya baca dari awal sampai selesai
- sampai ruku, saya tidak tahu apa yang
- saya ucapkan. Apa berarti saya ini
- mabuk? H gitu kan. Enggak mabuk sih,
- cuma enggak ada bedanya gitu. Dalam hal
- apa? tidak menyadari apa yang diucapkan
- lah. Kalau sudah seperti ini bagaimana
- bisa khusyuk
- gitu ya.
- Jadi ya Allah makanya kata saya ini ya
- Allah halus banget ini Allah ini kalau
- saya katakan nyindir ya. Jadi artinya
- bahwa kita kalau salat enggak mengetahui
- apa yang kita ucapkan itu seperti orang
- yang mabuk lagiah orang mabuk kemudian
- salat dia tidak tahu apa yang diucapkan
- itu artinya.
- Nah, maka mudah-mudahan kita tidak masuk
- dalam kelompok orang-orang yang apa
- namanya mabuk ya. Nah, ya kalau masuk
- orang mabuk ya ya wajar juga, pantas
- juga wong enggak ngerti ya. Wala takun
- kata Allah, wala takun minal gofilin.
- Kamu jangan menjadi orang yang lalai,
- orang yang tidak mengerti. Ya. Ee
- itu ada yang bertanya begini.
- Di dalam surah Almaun tuh kan ada
- fawailun lil musin
- alladzina hum an shatihim sahun.
- Celakalah bagi orang yang salat, yaitu
- mereka yang lalai dari salatnya.
- Ketika saya baca beberapa tafsir juga
- ulama-ulama fikih berkata, "Kita
- bersyukur kepada Allah karena Allah
- berfirman dalam ayat ini dengan ee an
- shatihim bukan fi shatihim."
- Fawailun lil musollin alladzina hum an
- shatihim bukan fi shatihim.
- Jadi lalai dari salatnya bukan lalai di
- dalam salatnya. Lalu apa bedanya
- lalai dari salat dengan lalai di dalam
- salat? Kalau lalai dari salat itu
- artinya bahwa kita ini mengerjakan salat
- di luar waktunya. Itu namanya orang
- salat. Ya, lalai dari waktunya ya. Jadi
- orang yang lalai dari salatnya.
- Hm. Aturan zuhur jam sekian dia
- ngerjainnya menjelang asar, pas asar.
- Begitu juga salat-salat atau sebelum itu
- namanya orang lalai dari salatnya
- ya. Apalagi enggak meninggalkan, enggak
- mengerjakannya. Lah kalau lalai di dalam
- salatnya, ketika salat, ah itu lalai
- kita. Yang tadi itu tuh apa namanya?
- Enggak menyadari apa yang diucapkan oleh
- kita. Ya. Ee makanya kata ulama fikih,
- bersyukur sekali itu Allah
- mengucapkannya an shatihim. Dan hal itu
- menunjukkan bahwa khusyuk itu tidak
- wajib di dalam salat. khusyuk itu hanya
- sunah gitu ya. Kecuali menurut
- ulama-ulama sufi ya baru menjadi ee
- menjadi syarat lah. Kalau umpamanya
- ee apa itu sahun fi shatihim, siapa
- salat kita yang enggak enggak dikatakan
- lalai? Semuanya adalah lalai. Yang
- enggak lalai cuma mungkin bilangan bisa
- dihitung jari. Ya, wong saya sendiri
- enggak pernah ngerasain namanya salat
- khusyuk yang sebenarnya khusyuk kayak
- apa gitu. Iya, lagi salat nguapnya aja
- satu satu kali salat kadang bisa dua
- tiga kali. Padahal kan kalau kalau kayak
- ee siapa? Syekh Junaidi berkata begini,
- "Saya itu tidak percaya ada orang kok
- bisa tidur di rumahnya Allah, di rumah
- kekasih."
- Iya. Ya, masjid itu kan disebut rumahnya
- Allah. Kita masuk ke masjid loh. Kok
- bisa bisa ngantuk katanya di rumah
- kekasih? Wong kita ini lagi tidur aja
- bisa bangun kalau ada kekasih. Ahah. Ini
- malah masuk ke rumah kekasih pules kata
- beliau begitu. Ah, susah kata saya nih
- memahami apa namanya pemikiran mereka.
- Itulah namanya kaum muhibin memang
- begitu itu ya. Kaum muhibin seperti itu.
- Susah ya.
- bukan enggak bisa kembali mujahadah kita
- perlu ada perjuangan
- dan ini membutuhkan waktu yang ee yang
- cukup ya. Jadi begitulah para pendengar
- rahimakumullah
- mengenai makna ee khudur ya di dalam ee
- batin kita ketika kita menghadap Allah
- Subhanahu wa taala. Jadi enggak cuma
- mulut, enggak cuma fisik, kita saja yang
- menghadap, tapi yang paling utama adalah
- bagaimana bisa hadir hati kita ya di
- saat kita menghadap Allah Subhanahu wa
- taala. Sehingga ya lidahnya, ya
- perbuatan kita atau tubuh kita, demikian
- juga hati kita menghadap Allah Subhanahu
- wa taala dan menjauhkan pikiran kita
- dari apapun selain Allah Subhanahu wa
- taala. Mudah-mudahan ini dikaruniakan
- oleh Allah kepada kita semuanya.
- Barangkali ini yang bisa sampaikan.
- Mudah-mudahan apa namanya bisa dipahami
- dan juga ee bisa diamalkan di setiap
- ibadah salat kita. Wallahuam.
- Ya rabbanaarofna
- biananafna
- wa annana asrafna
- alha asrafna
- fatub alaina taubah
- tagsilu kulla haubah
- wasurlanal
- wair
- wa mauludina
- wal ahli wal ikhwani
- wasairil khillani
- wa kulli dzi mahabbah
- au jiratin au shohbah wal muslimina
- ajma
- ambi
- aslan
- wudan manna
- biktisabin
- minna
- bil mustofa rasuli
- nahd bikulli suuli
- shallam
- rabbi
- alaihi addal habbi wa alihi
- wasahbihi
- Ya Allah, kami mengaku bahwa kami
- berdosa, kami melampaui batas, kami
- hampir tergelincir. Berilah kami
- pengampunan,
- membersihkan semua nista. Tutuplah
- kekurangan kami, ya Allah.
- Amankanlah yang kami takuti. Ampunilah
- ayah bunda kami juga anak-anak kami,
- famili dan saudara saudara serta semua
- teman dan yang mereka kami cintai,
- tetangga atau sahabat, serta seluruh
- muslim semuanya. Amin. Terimalah
- harapanku. semata anugerah dan
- kemuliaan-Mu.
- Bukan karena usaha kami. Dengan
- kedudukan Almfa sallallahu alaihi wa
- alihi wasallam, kabulkan permintaan
- kami. Selawat dan salam semoga Allah
- limpahkan
- kepada Rasulullah senantiasa sebanyak
- butiran awan. Puji bagi Allah sejak awal
- hingga akhir.
- Masih hidup.
- Iya. Masyaallah. Baik, Ikhwan dan Nawat
- yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
- Tadi telah kita dengarkan penjelasan
- Ustaz seputar Asrar salat. Kami
- persilakan ikhwan dan akhwat yang ingin
- menyampaikan pertanyaannya seperti biasa
- untuk SMS dan WhatsApp bukan untuk
- telepon ya. Kami persilakan di nomor
- 0811999720.
- Nah, kalau yang ingin telepon silakan
- hubungi nomor 0218451512.
- Kami akan kembali setelah jeda berikut
- ini.
- [musik]
- [musik]
- La la la
- juga nasil network untuk Islam yang yang
- satu. Mohon maaf Ikhwan dan Akhwat tadi
- sempat berdiskusi ee dengan Ustaz Jaz
- sehingga jadi hilang fokus. Tapi
- mudah-mudahan tidak hilang fokus karena
- kita akan langsung menjawab penanya yang
- sudah masuk lewat telepon. Ee saya sapa
- terlebih dahulu. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam Bu dengan Ginanjar di
- Kender Bu Jakarta Timur.
- Baik Pak Ginanjar. Langsung pertanyaan
- langsung dengan Ustaz Jazuli.
- Iya. Ee terkait dengan khusyuk salat ee
- saya merasa merasa heran dengan para
- sahabat Nabi
- yang mempunyai banyak luka bacokan habis
- perang terus yang ee kena panah. Tapi
- kok salatnya bisa khusyuk ya?
- Sedangkan saya sendiri yang pernah
- mengalamin lidah sariawan itu enggak
- khusyuk gitu. bagaimana bisa mengikutin
- mental sahabat Nabi seperti itu.
- Itu aja, Bapak.
- Baik.
- Maksudnya gini, Bu. Ee para sahabat Nabi
- itu kan kalau habis perang tuh pada
- luka-luka, kan, Bu?
- Iya.
- Tapi mengapa mereka salatnya kok
- khusyuk? Padahal kan luka itu kan peri
- sakit gitu.
- Baik, kita sudah tangkap ee
- pertanyaannya. Baik Bapak silakan
- dengarkan jawaban Ustaz lewat radio ya,
- Pak ya.
- Oke, makasih Bu. Asalamualaikum,
- Bu.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Ee
- mereka ini bisa salat dengan begitu
- khusyuk. Sementara kita ee apa namanya?
- Mau khusyuk ini kok susah sekali gitu
- ya.
- Ee saya pernah membaca satu kitab Pak
- namanya kitab itu Al-Ibris. Itu buah
- karya seorang waliullah Syekh Abdul
- Aziz.
- Beliau ini pernah ditanya begini, "Tuan,
- katanya, Syekh, kenapa ada orang tuh
- dilihat kalau wudu
- basuh mukanya saja bisa jadi 20 30
- kali." Wah, selesai-selesai basuh muka.
- Nanti giliran salat, takbirnya lama
- sampai imam sudah baca surat, dia baru
- selesai takbir sudah berpuluh-puluh
- kali. Kenapa bisa seperti itu? Itu kan
- yang disebut dengan wiswas itu ya.
- Kata beliau begini,
- "Karena orang ini bisanya seperti itu.
- Karena dia tidak tahu tujuannya ke mana
- mau salat itu. Ketika dia takbir itu
- tujuan tujuannya mau ke mana dia? Dia
- mau apa?"
- Ketika dia tahu ketika takbir ini dia
- mau menghadap siapa gitu, itu enggak
- terjadi seperti itu. Begitu juga wudu
- kata beliau ya. Nah, di sini berarti
- kalau sudah bicara masalah tujuan ini
- hati ini niat ya.
- Ee selanjutnya sekarang
- saya akan buat ini dululah apa namanya
- ee sebuah
- ee perbandingan aja Pak ya. Yang namanya
- khusyuk kalau kita berada di ini ee apa
- namanya? Gedung Gelora Bung Karno.
- Lalu kita menghadiri suatu acara bawa
- anak atau cucu kita. Kebetulan kita juga
- memang hobi, senang mendengarkan lagunya
- Omirama.
- Saat itu Omirama menyampaikan lagu. Kita
- menikmatinya tiba-tiba cucu kita hilang.
- Ya, ketiba-tiba cucu kita hilang.
- Maka kita akan mencari saat itu ya
- berada di di Gelora Bungkar itu ketika
- kita mencari cucu kita maka pikiran
- kita, telinga kita, mata kita itu akan
- mengarahkan pada satu titik
- saat itu. Karena telinga kita, mata kita
- sekarang ini sedang mencari ya menuju
- kepada si cucu, maka suaranya oma Irama,
- musik-musiknya
- begitu menggelegar, mungkin hanya
- terdengar saja oleh telinga, tapi kita
- tidak akan tahu lagu apa yang
- dinyanyikan ya, apalagi sampai bisa
- mengikuti lagunya Omirama. Enggak
- mungkin saat itu karena telinga kita
- sedang fokus kepada cucu, mata kita
- sedang fokus, begitu juga pikiran kita.
- Ini yang disebut dengan khusyuk.
- Ketika kita sudah bisa menutup lubang
- sembilan,
- dua mata, dua telinga, dua hidung, satu
- mulut, dan yang dua lagi. Ya, sudah kita
- tutup semuanya mengarah kepada satu
- titik yaitu wajah tu wajia.
- Mungkin ada suara dari luar ya. Ya,
- sekeras apapun hanya terdengar,
- tapi kita tidak akan tahu. Makanya
- enggak mungkin orang lagi salat kalau
- seperti itu telinganya ikut salat gitu,
- matanya, pikirannya salat, tiba-tiba
- terganggu oleh guyonan yang ada di TV
- sehingga tertawa. itu enggak mungkin
- terjadi karena kita sudah bisa
- mengarahkan seluruhnya anggota panca
- indra kita ini kepada satu titik. Itu
- yang dialami oleh para apa mungkin para
- sahabat seperti itu ya. Nah, kita ini
- masih belum bisa mengarahkan itu. Ee
- cobalah ee orang ada yang yang
- mengadakan apa itu terapi yoga, terapi
- apaagi itu satu lagi tu.
- Heeh. Itu adalah sebenarnya mirip-mirip
- inian mirip-mirip ee khusyuk ya. Karena
- saat itu kita sedang memfokuskan pikiran
- kita ya ke dalam satu titik.
- mengosongkan dari semua kesibukan
- duniawi. Dan ternyata hasilnya itu bisa
- membuat visi kita menjadi sehat. Orang
- salat kalau khusyuk, orang Islam kan
- enggak perlu lagi meditasi, enggak perlu
- yoga sebenarnya. Karena khusyuk itu
- lebih hebat dari meditasi daripada yoga.
- Tapi kan enggak sembarangan orang bisa
- gitu, tapi harus ada latihan belajar.
- Nah, di antaranya makanya ulama fikih
- memberikan petunjuk ya kalau salat ya
- sunahnya menghadap ke seumpama dinding.
- Loh, kenapa harus menghadap semua
- dinding? Bukan sebuah keharusan. Karena
- yang membuat terganggunya konsentrasi
- itu ada dua. Satu adalah benda yang
- terlihat. Yang kedua adalah suara.
- Ya, coba kita ketika mau salat habis
- main catur
- ya, habis main catur kalah lagi, kesal
- lagi ya. Begitu takbir Allahu Akbar maka
- papan catur itu akan terbayang ada di
- dalam salat kita. Berarti yang
- mengganggu konsentrasi kita itu adalah
- benda yang kita lihat. Nah, maksudnya
- ulama fikih, salatlah di depan dinding.
- Semakin sempit jangkauan mata kita.
- semakin kecil ya yang mengganggu
- konsentrasi, semakin luas jangkauan
- pandangan kita, semakin besar yang
- mengganggu konsentrasi kita. Maka kalau
- di kalangan ulama tasawuf ya, yang baik
- salat itu untuk tingkat pemula pejamkan
- matanya gitu. Dengan memejamkan mata
- maka kita tidak melihat-melihat benda
- dan itu nanti akan apa namanya? bisa
- fokus kita. Cuma ulama fikih mengatakan
- makruh hukumnya salat sambil memejamkan
- mata. Kenapa? Karena fikih itu bicara
- masalah zahir, bukan bicara masalah
- batin.
- Ee lah sekarang kalau merem kita lagi
- salat bawa barang dicolong orang
- bagaimana? Enggak tahu gitu. Tapi kalau
- melek kita bisa lindungi tuh harta benda
- kita.
- Ah, jadi fikih bicara jangan sampai
- barang kita nantinya dicolong kita tidak
- tahu. Kalau ulama sufi ya udah biarinlah
- barang saya dicolong juga daripada
- pahala salat yang dicolong gitu tuh ya.
- Mana yang pilih?
- Makanya sekarang terserah orang nanya
- sebaiknya merem apa melek Pak Ustaz?
- Katanya salat ya terserah ente mana yang
- mau diselametin gitu ya.
- Apakah tas ente apa yang isinya apa
- namanya? Pakaian apa tas ente yang
- isinya pahala salat. Begitu jadinya
- terserah ya. Yang kedua yang membuat
- kita terganggu itu adalah suara
- ya. Lagi salat terganggu oleh
- suara-suara dari luar ketika kita tidak
- bisa ee menutup lubang telinga kita.
- Nah, karena itu untuk tingkat pemula
- dalam ilmu fikih kalau salat bacaan
- salat kita harus terdengar oleh suara
- kita.
- Dengan ee terdengarnya suara bacaan
- kita, maka suara bacaan kita itu akan
- menghalangi masuknya suara dari luar.
- Terhalang oleh suara ucapan kita, gitu.
- Ah, itu di antaranya ya ee cara untuk
- meningkat untuk menciptakan ke
- kekhusyuan ya. Nah, kalau kalau tadi
- Nabi dijauhkan berarti memang memang
- harus singkirkan semuanya ya semuanya.
- Entah itu keluarga atau ee apa namanya
- ee pekerjaan dan sebagainya.
- E cuma kita ini kan situasi itu kadang
- mempengaruhi. Iya, kadang mempengaruhi.
- Saya punya
- jemaah
- nanya sama saya, "Ustadz, bagaimana
- supaya tenang hidup saya?" Nah, ini
- kenapa? Jadi dia ditipu R juta.
- Jadi dia akan mendapatkan mobil ini
- Pajero ya.
- Nah, cuma untuk ngurus-ngurus ini itu
- dan sebagainya suruh kirim duit dulu
- gitu.
- Kata saya mantan kepala sekolah ya salam
- kata saya enggak itu baik amat kata
- saya. Apa itu orang mau ngasih mobil
- Pajero sama Bapak enggak kenal enggak
- apa sama Bapak ya. Dan bapaknya juga
- percaya banget sama orang itu gitu. Yang
- jelas R00 juta hilang.
- Nah, jadi akhirnya bagi dia kan saya R00
- juta bagi saya itu kan gede banget kalau
- pertimaan dia ya R00 juta kalau saya
- dapat Pak Jero kan dijual masih ada
- lebihnya lah gitu ya.
- Nah, cuma enggak enggak berpikir gitu
- tentang kebaikan orang yang enggak
- dikenal ini.
- Akhirnya bagaimana Ustaz supaya saya
- tenang? Saya ingat sama dia terus nih
- katanya. Nah, sekarang minta wiridan
- supaya ee apa yang harus saya amalkan?
- Ini bukan bagian wirid. Saya bilang,
- "Pak, bukan bagian wirid. Taruhlah
- dengan sebab wirid orang itu sadar. Lalu
- mengembalikan duitnya ke mana? Wong
- alamat Bapak tidak tahu ya. Itu jadi
- bukan bagiannya. Nah, sekarang bagaimana
- sampai salat saya ke bawah-bawah." Nah,
- itu pikiran kadang-kadang juga masuk kan
- ke dalam salat. kondisi dan ini yang
- mengganggu konsentrasi salat kita.
- Makanya tadi itu Nabi dijauhkan dari
- dunia ini segala sesuatu itu apa
- namanya? Tinggalkan walaupun enggak
- enggak gampang yaitu butuh tadi latihan
- latihan latihan. Salah satunya adalah
- tadi menghayati semua bacaan yang kita
- baca di dalam salat. Bukan cuma cuma
- bacaan termasuk rukuk itu maksudnya apa?
- Sujud itu coba lihat kalau ruku bacanya
- subhana rabbiyal adzim tapi kalau sujud
- subhana rabbiyal a'la ya kenapa enggak
- dibalik saja ya. Nah ini sehingga kata
- Imam Gaz karena di waktu ruku itu ada
- takzim dalam diri kita kepada Allah
- Subhanahu wa taala ya. Jadi demikian ya
- ee dihayati itu bacaan. Coba saja ya
- kalau sekarang begini kita salat
- misalnya bismillahirrahmanirrahim,
- mulut kita mengucapkan gitu. Hati kita
- itu menterjemahkan mana itu. Semua yang
- kita baca ya semuanya diterjemahkan.
- Salat lama rasanya sebentar.
- Sebentar rasanya.
- Kalau sudah begini ya cara salatnya kita
- begini. Kalau ngelihat imamnya imam yang
- ngebut udah enggak demen banget deh
- hatinya. Ah, ini mah salatnya udah salat
- pengin ngebut aja yang begini. Itu
- nantinya dengan sendirinya kan begitu.
- Melihat orang salat ngebut sudah enggak
- demen karena sudah terbiasa dia ini ee
- apa namanya? Menterjemahkan atau
- mentadaburi ayat ee kalimat-kalimat yang
- dibaca di waktu salat itu dengan
- sendirinya nanti begitu. Tapi kenapa ada
- kiai malah ulama yang salatnya ngebut?
- Nah, ini kita jadi enggak demen sama
- dia. Nah, kita juga jangan salahkan ya.
- Sebab orang cara membaca itu ada tiga
- tingkatan Ibnu ya. Orang salat satu
- bacaannya orang awam.
- Caranya orang awam itu membaca apa yang
- diucapkan oleh mulut tidak dipahami oleh
- hati.
- Orang benar-benar orang Sunda sama
- sekali enggak kenal bahasa Jawa.
- tiba-tiba membaca tulisan Jawa ya
- mulutnya mengucapkan dan belum tentu
- benar ucapannya juga hatinya enggak
- paham apa yang diucapkan. Nah, itu sama
- tuh dengan kita baca Quran ya surat azab
- ngantuk, surah rahmat mah malah apa
- namanya ya ngantuk gitu kan. Jadi kita
- tidak bisa membedakan mana ayat rahmat,
- ayat azab. Nah, karena apa? Karena apa
- yang diucapkan oleh mulut hati kita
- enggak kenal. Inilah bacaannya orang
- awam. Yang keduanya orang saleh. Kalau
- orang saleh itu tingkatan yang kedua
- orang apa yang diucapkan oleh mulut
- diterjemahkan oleh hatinya.
- Nah, ini tingkatan kedua nih. Sudah
- mulai bagus yang begini.
- Biasanya orang begini ketika membaca
- ayat azab nangis.
- Baca ayat rahmat. Ya Allah.
- senang gitu. Jadi bacaan ini kita ini
- ikut alur ayat itu. Saya ingat ketika
- ada dulu sinetron ee Siti Nurbaya,
- istri saya itu berantemu sama TV.
- Wah itu Datuk Maringi ya. Aduh lain
- aki-aki omelin [tertawa]
- saya geleng-geleng senyum saya. Karena
- waktu itu dia nonton dengan hatinya ikut
- alur cerita itu ya. Jadi ketika kesal ya
- kesal, ketika sedih ikut nangis gitu
- kan. Maka saya bilang begini, "Bu, coba
- kalau kau begini cara membaca Al-Qur'an,
- Subhanallah."
- Nah, itu yang belum bisa.
- Kenapa? Imam Imam Syafi'i ketika membaca
- ayat inallahar mukminina
- anfusahum wawalum jannah. Allah akan
- membeli jiwa orang mukmin dan harta
- orang mukmin dengan surga. Itu Imam
- Syafi'i pingsan baca ayat itu
- ya. Sahabat Abu Bakar Assiddiq pingsan
- baca ayat itu. Hmm. Lah saya baca ayat
- itu jangankan pingsan, sedih juga
- enggak. Ini beliau bisa pingsan. Kenapa?
- Makanya Nabi bertanya, "Apa yang
- membuatmu pingsan?" Katanya Abu Bakar,
- "Ya Rasulullah, bagaimana saya tidak
- takut?" Dalam ayat ini Allah mengatakan
- Allah akan membeli jiwa dan harta kita
- dengan surganya di mana pun berarti kita
- ini kan bayak kayak barang dagangan
- yang pembelinya Allah. Di manapun
- pembeli Rasulullah mesti pengin membeli
- barang yang bagus. Mana ada pembeli yang
- pengin barang rongsokan. Aku ini adalah
- barang rongsokan yang penuh dengan dosa,
- penuh noda. Maukah Allah memberi aku
- dengan surga? Tentu saja Allah enggak
- mau. Kalau enggak mau, aku akan
- dilemparkannya ke tong sampah. Ya, ke
- tempat sampah neraka jahanam. Itu yang
- membuat beliau pingsan. Ini namanya
- hatinya sudah mentadaburi apa yang
- diucapkan oleh mulutnya. Kita kan enggak
- sampai ke sana itu ya. Itulah orang
- tingkatan yang kedua. Nah, kalau yang
- tingkatan ketiga cara membacanya
- hati itu menterjemahkan
- ee eh mulut menterjemahkan apa yang di
- hati
- gitu. Jadi, mulutnya baru mengucapkan ee
- alif lam mim dalalikal kitabu hatinya
- sudah selesai satu Al-Qur'an
- gitu. Sudah saya buat yang gampang
- begini. Kalau kita membaca misalkan
- komik Petruk ya, dulu banyak komik
- Petruk lagi zaman kecil saya. Nah,
- taruhlah sekian halaman dibaca itu komik
- sudah 10 kali kita baca. Maka dengan
- sendirinya kita kan hafal isi-isi apa
- namanya komik itu kan. Ketika kita
- membaca halaman pertama, tentu kita kan
- sudah tahu nih halaman kedua tuh apa,
- ketiganya apa. Wong isi dari komik itu
- kita sudah jelas, sudah ada di hati.
- Tuh, begitu. Jadi kita baru baca halaman
- 1, halaman 10-nya sudah terbaca oleh
- kita. Karena mulut ini sedang
- menterjemahkan, sedang mengungkapkan apa
- yang ada di hati. Orang seperti itu
- membaca enggak perlu lama-lama.
- Makanya jangan heran sekarang Imam Abu
- Hanifah ya satu hari khatam Quran dua
- kali malam harinya dua kali. Imam
- Syafi'i satu siang satu kali malam satu
- kali. Jangan nanya cara bacanya
- bagaimana? Tajidnya bagaimana lah itu
- mah orang awam yang bacanya masih bicara
- masalah begitu gitu. Nah, artinya di
- sini nanti akan bertemu kita juga dengan
- orang itu salat ya Allah cepat amat. Ah,
- mungkin kelompok ketiga gitu aja kita
- husnudannya gitu husnudannya.
- Ah, cuma ustaz masih muda banget apa ya
- sudah kelas 3. Nah, enggak tahu deh
- kalau itu ya begitu
- begitu barangkali ya, Pak ya.
- Masih ada lagi.
- Baik. Satu, Ustaz ya. Mungkin bisa
- dijawab dengan singkat. ee dari hamba
- Allah bertanya, "Apabila lalai dalam
- salat, misalnya terlupa bacaan atau
- terlupa rakaat, apakah terhitung sah
- salatnya?"
- Baik.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Kalau kita lalai atau lupa tentang
- rakaat
- ya atau bacaan, maka begini kalau batal
- enggak salatnya enggak batal. Dan kita
- ada aturan apabila kita lupa
- akan bacaan atau rukun dari salat,
- maka kita wajib
- kembali
- ke apa n rukun tertinggal
- entah itu ucapan atau perbuatan ya. Ah,
- lalu kita lakukan rukun tersebut juga
- rukun-rukun yang sesudahnya
- ya. Jika
- saat kita ingat belum sampai ke rukun
- yang sama dengan rukun tertinggal.
- Saya contohnya begini.
- Saya lagi sujud misalnya atau lagi
- tahiyat. Gitu lagi tahiyat baru ingat.
- Kalau tadi saya belum baca Fatihah.
- Nah, ya. Maka segera di waktu tadi sujud
- atau lagi tayat berdiri baca Fatihah.
- Lalu rukun-rukun sesudah Fatihahnya juga
- dilakukan, yaitu rukuknya, iktidalnya,
- sujudnya. Karena di dalam salat kan ada
- syaratnya adalah tertib.
- Yakni nih ruku ini dihitung dikerjakan
- kalau didahului dengan baca Fatihah.
- Kalau fatihahnya belum dibaca ininya
- juga belum belum apa namanya? Belum
- dilakukan rukuknya. Kalau rukunya belum
- dilakukan, enggak terhitung dilakukan,
- iktidalnya juga belum terhitung. Kalau
- iktidalnya belum terhitung, sujudnya
- juga belum terhitung. Begitu seterusnya
- ya. Tetapi sekarang kalau ingat ingatnya
- itu sudah memasuki rukun yang sama
- dengan yang tertinggal, yang enggak
- perlu kita pakai ee apa namanya? Replay
- itu apa namanya? Hah? Balikul.
- Nah, balik ulang enggak perlu. Misalnya
- lagi ee kita lagi baca Fatihah ya,
- rakaat ketiga misalnya ya. Ingat tadi,
- "Ya Allah, tadi saya rakaat kedua itu
- belum baca Fatihah ya." Enggak perlu
- pakai mundur ruku atau enggak usah
- lanjutkan aja Fatihah. Berarti rakaat
- yang tadi enggak kepakai
- gitu. Berarti sekarang ini lagi rakaat
- kedua gitu jadinya
- ya. Jadi enggak batal. Cuma nanti
- sebelum salam disunahkan sujud sahwi
- gitu ya. Disunahkan sujud sahwi. Enggak
- perlu di ee enggak perlu diulang lagi.
- Jadi enggak batal. Nah, itu fikih itu
- bahasannya. Nah, mudah-mudahan Allah
- Subhanahu wa taala panjangkan umur kita
- dalam taat kepadanya.
- Allah limpahkan rahmat, taufik, dan
- hidayah kepada kita anak cucu kita
- sehingga dapat istikamah dalam
- menjalankan perintahnya menjaw larangan.
- Rabbana taqabbal minna duana
- birahmatika ya arhamarahimin.
- Wasallallahu ala sayidina Muhammadin
- waam. Alhamdulillahiabbil alamin.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin telah kita
- ikuti bersama kajian bersama Ustaz Ahmad
- Jazuli Kholil. Mudah-mudahan beliau
- dipanjangkan usianya dalam ketaatan dan
- kita dapat diberikan waktu dan
- kesempatan untuk kemudian belajar
- kembali bersama ke beliau juga.
- Mudah-mudahan ee beliau perjalanan nanti
- umrahnya dilancarkan Ustaz dan selamat
- kembali ke tanah air insyaallah. yang
- bertugas pada hari ini saya Caroline,
- ada Cindy juga di belakang kamera, di
- belakang mixer radio ada Khalid, di atas
- ada Bang Rasyid juga yang ee menyimak
- kami. Terima kasih atas ee
- partisipasinya mengirimkan pertanyaan.
- Mohon maaf apabila tidak semuanya dapat
- terjawab oleh Ustaz karena keterbatasan
- waktu. Insyaallah bermanfaat besar pada
- pagi hari ini. Kami undur diri.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ila anta astagfiruka waubu ilaik.
- Billahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Tertutup mata jiwaku
- berselimutkan
- dosa.
- Bertahung-tahun
- diriku terlena akan nikmatnya
- dunia.
- Tertunduk wajahku bersujud
- kelam dalam sesat. Tertati
- imanku tergoda [musik]
- akan indahnya
- dunia. [musik]