Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. Bang Ihsanuddin Nursi, apa 0:20 kabar? 0:22 Waalaikumsalam 0:24 warahmatullah wabarakatuh. Masyaallah 0:27 bulan yang penuh rahmah ini ya. 0:29 Masyaallah maulid nabi shu ala nabi. 0:32 Allahumma shi alham 0:35 sayidina Muhammad. Sayidina Muhammad. 0:37 Ya Allah. Apa kabar Bang? Ini dunia 0:40 nampaknya tidak baik-baik saja ya. 0:43 Bencana ada di mana-mana. Perang di 0:45 mana-mana. Alam pun batuk-batuk. Tapi 0:48 yang kita lihat republik ini nampaknya 0:51 tidak sedang baik-baik saja. Ujuk-ujuk 0:55 Presiden minta Danantara kirim 120 0:59 triliun. Ini [berdehem] hikel ini dari 1:02 komisi berapa? 11. Ini uring-uringan kok 1:04 enggak ada berita apa-apa. Tahu-tahu 1:06 dikirim. bahkan maunya presiden, kepala 1:08 koalisi. Ya, ini apa yang terjadi dengan 1:11 Danantara dan APBN juga tentang kelas 1:14 menengah yang nampaknya dari 57 juta 1:18 lebih jadi 47 juta. Ini ke mana makhluk 1:22 ini dan jadi apa mereka sekarang? Banyak 1:25 faktor yang menentukan tapi apa 1:28 penyebabnya? Mungkin Bang Ihsanuddin 1:30 Nursi bisa memberikan sebuah penjelasan 1:33 di antara berita-berita tentang approval 1:37 rating Prabowo. Di antara para petinggi 1:41 main salah-salahan nih. Apa kerja Bakom 1:43 ini? Katanya pakai teori nommah 1:46 beginilah begitulah. Apa yang Bang 1:49 Ihsanuddin Nursi lihat dari pergolakan 1:51 yang ada? Sementara dunia sedang mencari 1:55 sebuah sampel pertarungan yang akan 1:58 dimenangkan oleh siapakah? Rusia dan 2:00 China bersatu dalam SCO. Iran tetap 2:03 menjadi bintang paling bersinar. Ah, 2:06 apakah akan ada tata ekonomi baru? 2:09 Bisakah Iran melawan ee apa ee hentakan 2:13 dari Trump dengan blocking ee segala 2:16 ekonominya? Mesir pun sudah mulai 2:18 uring-uringan diancam Amerika. bagaimana 2:21 ee Bang Ihsanuddin Nursi memberikan 2:23 penjelasan untuk pendengar kita dan apa 2:26 yang akan bisa ee pendengar setelah 40 2:30 menit ini membuat tambah cerah lagi 2:33 pikirannya. Tafadal Bang Ihsanuddin 2:35 Nursi. [berdehem] 2:36 Baik. 2:38 Bismillahirrahmanirrahim. 2:40 Subhanaka la ilmaana illa maamtana 2:43 inakaimul hakim. Allahumma shi sayidina 2:47 Muhammadid. Alhamdulillahiabbilamin. 2:51 Em 2:54 pertama ya 2:56 kita bicara dulu soal 2:59 Shanghai Cooperation Organization. Iya. 3:04 Karena eh ini seakan-akan 3:08 terpisah dengan belt and road inisiatif. 3:12 H 3:13 padahal ini ee 3:16 satu mata rantai. 3:19 Satu mata rantai 3:21 dengan belt and road inisiatif. 3:25 Belt and road inisiatif itu kerja sama 3:27 pertumbuhan. 3:29 Hm. 3:29 Sementara kalau pada Shanghai 3:33 Cooperation Organization 3:36 itu lebih ke bagaimana 3:40 mereka yang duduk 3:43 ee itu sudah lebih dalam posisi 3:46 kesetaraan. 3:49 Kalau belt and road inisiatif itu Cina 3:52 yang berinvestasi seakan-akan gitu ya. 3:54 He 3:55 Cina yang melakukan ee ee Cina sebagai 3:59 pihak yang berinisiatif gitu. Kalau di 4:02 Sang High Corporation Organization itu 4:06 eh para pihak berinisiatif 4:08 h 4:10 secara moneter 4:13 dia tetap dalam prinsip 4:17 menghindari dua hal. 4:19 menghindari dolarisasi, menghindari 4:21 shift code. 4:24 Dia tidak ingin menggunakan sarana 4:26 pembayaran 4:29 ee swift code ee dalam transaksi mereka 4:33 menggunakan mata uang masing-masing 4:37 dan dengan begitu mereka tidak 4:38 menggunakan dolar. 4:40 Karena itu antara Bel and Broad 4:42 Inisiatif 4:44 dengan Sang High Cooperation 4:46 Organization 4:48 ini pada hakikatnya adalah dedolarisasi. 4:52 Tuh, ini kita didengerin orang nih. 4:54 Oh, iya. 4:56 [tertawa] 4:57 Iyalah pasti radio 4:59 bukan bukan didengerin bukan didengerin 5:02 orang dalam tanda petik di radio bukan. 5:04 [tertawa] 5:06 Lanjut Israel aja ada dua titik tuh yang 5:08 dengerin ya. 5:09 [tertawa] 5:11 Masyaallah. Silakan 5:14 dengarin baik-baik ya sedang ee dialog 5:17 di pagi ini dirasil. He. 5:19 Ee rekam dengan baik serekam-rekamnya ya 5:21 buat mereka yang sedang merekam. He. 5:23 Buat mereka yang sedang bertugas atas 5:25 nama negara. 5:26 Betul. Mantap. 5:29 [mendengus] 5:29 Nah, karena itu ee ketika 5:33 sekian menyampaikan 5:35 ee kerja sama ingin kerja samanya dengan 5:39 Kirgistan, 5:40 H 5:41 Rjikistan dan Turmekistan gitu, 5:43 H 5:44 itu kelihatan ee yang hendak dijahit 5:47 adalah ee kerja sama kawasan Asia 5:52 Selatan yang berhubungan dengan Timur 5:55 Tengah, yang berhubungan dengan ee ee 5:58 Eropa. H 5:59 dari hal ini sebenarnya 6:02 pernyataan Iran lebih ke upaya 6:06 membangun alternatif dari tekanan 6:09 Amerika 6:11 ee 6:13 ee dan suka tidak suka ini bagian dari 6:17 cara cerdas orang-orang yang memang 6:20 negara-negara yang memang hendak ee 6:23 menolak cara-cara Amerika yang 6:27 kalau dalam bahasa saya multiple 6:28 suitable standard. Hm. 6:30 Jadi [berdehem] 6:32 ee dan mereka menyadari betul betapa 6:35 betapa Amerika semena-mena, 6:36 semau-maunya, sewenang wenang, 6:38 semaunya 6:39 menggunakan kekuatan dolarnya, 6:40 menggunakan kekuatan militernya, 6:43 menggunakan kekuatan 6:44 dan eh school eh Shanghai Cooperative 6:49 Organization ini, [berdehem] 6:52 organisasi kerja sama Shanghai ini 6:56 ee sekaligus merupakan 6:58 bukan saja dia persoalan perdagangan, 7:00 bukan saja persoalan infrastruktur, 7:03 tapi juga persoalan kerja sama keamanan. 7:05 Wah, menariknya di situ. He. 7:07 Jadi, ada juga ee pembahasannya berbagai 7:09 dimensi di posisi itu 7:11 ee cuma belum sampai pada seperti ee 7:15 seperti kasus ee NATO. 7:18 Ee tapi poinnya adalah para pihak 7:22 menyadari pentingnya kerja sama 7:23 keamanan, politik, energi, 7:25 infrastruktur, keuangan, semuanya masuk 7:27 di situ. 7:28 He. 7:29 Nah, Iran mengusulkan itu. 7:31 Oh, 7:31 Iran mengusulkan ee agar tetangganya 7:36 sebelah di Bandar Abbas ngebangun ee 7:39 satu hub energi dengan pasokan minyak 7:44 dari Iran. 7:45 Oh, dan kemudian hasilnya bagi dua. Oh, 7:48 gitu. 7:49 Salah satunya itu misalnya gitu. Nah, ee 7:53 tentu saja ini akan mengurangi 7:55 ketergantungan 7:57 ee kalau pakai bahasa saya ini akan 8:01 mengurangi ketergantungan pada Barat. 8:04 ee 8:06 dengan ketergantungan yang berkurang ini 8:09 ee tentu saja 8:11 ee makna kemandirian, makna kedalatan 8:15 ekonomi itu meningkat. Ah, itu yang 8:18 yang hendak dicapai melalui Shanghai 8:21 Cooperative Organization. kerja sama 8:24 organisasi organisasi kerja sama 8:26 Shanghai 8:27 ini tentu membuka 8:29 membuka medan baru ini yang disebut 8:32 dengan 8:34 dunia makin terserak dalam kerja sama 8:36 perekonomian. Saat yang sama Amerika 8:38 melaku e mendapat perlawanan bukan hanya 8:40 dari 8:42 musuh-musuhnya 8:43 iya 8:43 tapi juga dari mitranya seperti Mark 8:45 Carne dari Kanada yang 8:47 uh 8:48 akhirnya malah menunjukkan kemampuan 8:50 melakukan perlawanan 8:51 listriknya mau di stop. [tertawa] 8:55 Iya. Nah, 8:57 sebenarnya di sini kita dapat pelajaran. 9:00 kita dapat pelajaran bahwa 9:04 ee 9:05 kalau hari ini kita bicara tentang ada 9:09 upaya mengembalikan pengendalian energi 9:13 khusus seperti modal lama gitu. ini 9:16 modal lama dan itu berarti modal pasal 9:18 33 ee liat 1, 2, dan 3 [berdehem] 9:23 yang 9:25 kembali lagi membatasi makna pasar bebas 9:28 pada sektor energi primer. 9:31 Hm. 9:32 Ee sebenarnya pemerintah harus 9:34 serta-merta juga ngatasi ee pasar bebas 9:37 pada sektor energi sekunder listrik. H 9:41 gitu. ee 9:44 perlahan tapi pasti listrik terus naik 9:47 gitu [tertawa] 9:49 terus terbobani gitu 9:50 pelan-pelan 9:52 ada undang-undangnya 9:53 pelan naik dan dan anda pakai tidak 9:56 pakai bayar ee itu kalau permintaan 9:58 swasta kepada PLN 10:01 anda mau pakai punya saya tidak pakai 10:03 punya saya terserah mesti bayar 10:05 dan kemudian mereka menentukan energi 10:07 primernya sendiri misalnya kalangan 10:09 batuara wah mereka 10:11 dari hulu dulu sampai ke pembangkitan 10:13 mereka kuasain kay gitu. 10:14 He 10:15 itu yang disebut sebenarnya bagian dari 10:16 upaya mendikte 10:18 ee negara. 10:20 Kalau pakai bahasa saya itu bagian dari 10:22 udeta korporasi di bidang ah di sektor 10:25 energi gitu. Kalau pakai buku prahara 10:28 bangsa itu gitu. [tertawa] 10:31 Nah, kita bisa sebenarnya bisa belajar 10:33 di sini 10:35 dari Shanghai Cooperative Organisation 10:37 ini kita bisa belajar belajar bahwa 10:39 ternyata negara-negara itu pun tetap 10:42 memisahkan mana hajat hidup orang 10:43 banyak, mana e barang komersial, mana 10:46 kuasi gitu. Jadi tidak serta-merta ikut 10:48 pada. Nah, ee saya sudah dengar bahwa 10:53 sudah lama saya dengar bahwa Prabowo 10:55 Subianto hendak menghapus SKK migas yang 10:59 diterbitkan oleh Susul Bongido ketika BP 11:02 Migas di ee bubarkan oleh Mahkamah 11:04 Konstitusi tapi diterbitkan bahwa wajah 11:07 baru SKK Migas. Saya bilang 11:09 ini bukti perlawanan dari ee eksekutif 11:13 yang melahirkan SKK Migas itu gitu ya. 11:15 He. 11:15 Dan saya ngelihat ini mereka akan ee 11:18 bangun usaha baru. 11:19 He 11:20 ee bentuk badan usaha khusus gitu ya di 11:23 Prabowo Subianto sebagai wujud bahwa 11:25 mereka tunduk pada konstitusi. Dalam 11:27 bahasa yang lain kalau kita pahami di 11:29 sini ee sebenarnya pemerintah Indonesia 11:33 lagi-lagi sejak lama memang menjalankan 11:36 ee liberalisasi atau pasar bebas di 11:38 sektor energi. Ah, sementara kalau kita 11:42 belajar dari Iran yang hadir di BK ini 11:45 eh untuk tunduk untuk bergabung dalam S 11:48 Hai Cooperative Organization, 11:50 maka disadari oleh negara-negara itu 11:52 bahwa 11:55 hajat hidup perang banyak tidak mungkin 11:56 diserahkan ke pasar bebas. H 11:59 yang disebut dengan oleh New York Times, 12:02 oleh 12:04 h 12:04 belum sampai seberapa jauh negara boleh 12:07 terlibatnya seperti mereka ngelihat 12:08 bagaimana ee Trump terlibat dalam 12:12 mengintervensi dalam penjadian hajat 12:14 perang banyak 12:15 gitu 12:16 dan [berdehem] itu merisaukan kalangan 12:18 swasta swasta besar. Nah, sampai pada 12:21 level ini kelihatan ada pertarungan 12:23 besar antara energi fosil dengan energi 12:26 baru terbarukan. 12:28 Heeh. Nah, posisi itu yang sedang 12:30 berjalan. Nah, di tengah situasi kayak 12:33 gitu, kita menghadapi Karut lah, 12:35 [tertawa] 12:36 ke bangkar hutan. 12:38 Padahal tujuan mereka hendak nanam 12:41 sawit. Nah, sawit itu bagian dari tadi 12:43 e 12:45 dengan merusak dengan merusak hutan 12:46 mereka hendak menyatakan mereka terlibat 12:48 dengan environmental. Kacau enggak? 12:50 [tertawa] 12:50 Kacau kan? 12:51 Kan alasan mereka sebenarnya mau 12:53 ngebangun sawit aja tuh. 12:54 Betul. 12:55 Hm. simpel nari 12:56 sampai akhirnya ada ditemukan di di 12:58 provinsi ada 72 tersangka kan banyak tuh 13:01 luar biasa tuh [tertawa] 13:06 tapi tetap buat apa jadi tersangka kalau 13:08 akhirnya ee ee hutan enggak bisa 13:10 dipulihkan atas pembakar mereka 13:12 dan akhirnya izin untuk ngembangun sawi 13:14 tetap berjalan gitu tindak pidan ee 13:17 enggak ada pemulihan. Jadi kalau kalau 13:19 ceritanya ada 13:21 bagian penitipan kawasan hutan PKH gitu 13:23 ya 13:24 dengan Satgasar Hutlanya gitu 13:26 tapi hutan sudah terbakar dan kemudian 13:28 pidana se akan-akan bisa memulihkan 13:30 hutan enggak bisa 13:31 memuaskan. 13:31 Nah mestinya bukan sekedar itu izinnya 13:34 dicabut. 13:35 Hm. Itu 13:36 dan mereka dipaksa lagi untuk 13:38 mereeboisasi menanam kembali. Wah, itu 13:40 baru keren. 13:41 Itu baru keren itu, gitu loh. Nah, di 13:43 situ bukti ee ee sampai seberapa besar 13:47 kita memelihara hutan kita 13:49 sebagai bagian dari paru-paru dunia, 13:52 sebagai bukti bahwa kita friendly 13:54 environmental. Bahasanya begitu kan. 13:56 Bersahabat dengan lingkungan, dekat 13:58 dengan lingkungan [tertawa] 14:00 begitu. Jadi tidak sesumbar gitu loh. 14:03 Tidakbar tapi kemudian ketika hutan baru 14:05 orang hidup orang hutan pada pusing 14:07 hidup di sana sekarang. [tertawa] 14:11 H. 14:12 Nah, jadi kalau kita kalau kita ngambil 14:16 kita bilang kita friendly environmental, 14:18 kita tunduk pada green ekonomi gitu loh. 14:20 Di mana kita tunduk pada green ekonomi? 14:23 Rumus green ekonominya aja sebenarnya 14:25 tetap dalam rangka pasar bebas kok. 14:27 Dalam rangka korporasi tetap bisa 14:28 mendikte kok. Dan terbukti [berdehem] 14:30 sekarang dengan pembakaran hutan itu 14:32 korporasi mendikte dengan kasar gitu. 14:35 [tertawa] 14:36 Itu kan bagian dari kolporasi mendikti 14:38 dengan kasar, kolporasi mendikti dengan 14:40 semau-maunya. Dan ini bukan peristiwa 14:42 baru, peristiwa yang mengulang entah 14:44 berapa puluh kali gitu. [tertawa] 14:48 Ng lihatnya gini. Jadi kalau ee kemudian 14:51 terbentuk ada satgasarhut lah 14:54 dengan saya tidak tahu, saya tidak dapat 14:57 memastikan Haji Isam sebagai ketuanya. 15:00 Seru juga tuh gitu. [tertawa] 15:03 Kiri kanan. Oke. Hm. He 15:05 iyalah begitulah. Nah 15:08 ee ceritanya kalau kita kembali gitu. 15:11 Nah, sekarang kita lihat soal ee 15:14 turunnya 15:15 kelas menengah. 15:18 Angka saya memang kelas menengah turun 15:21 9,48 juta. 15:24 9 kom 48 juta. 15:28 Ee 15:30 itu sebagian dari gambaran 15:34 ee ketidakmampuan 15:37 mengatasi dampak COVID gitu ya. Akhirnya 15:40 mereka jatuh. 15:40 He. 15:41 Satu. 15:43 Yang kedua, 15:44 ketidakmampuan mengatasi situasi 15:48 perekonomian yang tidak pasti dengan 15:49 harga-harga yang melonjak 15:51 dan dolar yang ee sedemikian rupa. 15:54 H 15:55 rupiah jatuh gitu. Ini ini 2024 ya 2026 15:59 lebih lagi [mendengus] 16:01 gitu. 16:02 Ee eh yang ketiga 16:05 ini dampak dari ketidakpastian itu ee 16:08 kealahan alokasi APBN. 16:13 APBN tidak memberikan likiditas gitu ya 16:17 yang cukup tinggal mereka tidak bisa 16:18 bertahan. 16:20 Yang menariknya adalah [berdehem] 16:23 angka saya. Jadi ee penurunan angka 16:26 kelas menengah sebanyak 9,48 juta. 16:30 Nah, itu diikuti dengan di sini 16:33 menariknya ee yang orang tidak lihat 16:35 sektoril berkaitan dengan sektor monetor 16:37 dan fiskal. Sektoril jatuhnya kelas 16:40 menengah itu diikuti dengan undisbersed 16:43 loan. 16:44 Apa tuh? 16:45 Undisbersed adalah kredit yang sudah 16:47 disediakan tapi tidak dicairkan. 16:49 Yang angkanya tidak bergerak tetap 2.548 16:52 triliun. H 16:54 turunnya cuma sekitar 30 triliun dari 16:57 257 menjadi 2548. H 17:00 gitu ya. 17:01 Heeh. Jadi sekitar sekitar itu turunnya 17:05 sekitar 29 sekitar segitulah. 17:08 Iya 30 triliun gitu ya. 17:10 Enggak bisa usaha atau gimana? 17:13 Nah 17:15 ee 17:18 ini sebenarnya sudah saya presentasikan 17:19 berkali-kali di berbagai tempat ya. 17:22 tujuh indikator ee pertumbuhan tersendat 17:26 yang mengakiban si kecil melarat. Judul 17:28 saya begitu. H. 17:31 Nah, ee 17:33 kalau kita melihat 2.548 17:36 triliun 17:37 tidak dicairkan padahal sudah 17:39 disediakan, maka pertama ee sektor ril 17:45 swasta itu melihat ada ketidakpastian, 17:49 hm. ada risiko bisnis yang tinggi 17:52 sehingga mereka menahan diri. 17:55 H 17:56 dampak dari mereka menahan diri ini ee 18:00 mengakibatkan perbankan kembali lagi 18:02 pergi ke SRBI, perbankan pergi lagi ke 18:05 SBN. 18:06 Hm. 18:06 Artinya lagi yang dihisab gitu ya 18:09 posisinya. Nah, 18:10 dampak lebih lanjutnya adalah si 18:13 korporasi yang tidak mencairkan itu juga 18:15 melakukan efisiensi. 18:17 Nah, efisiensi yang paling dekat adalah 18:19 PHK. H. 18:21 Nah, dampak yang sama ketika kita 18:23 ngelihat terjadi persaingan suku bunga 18:26 antara Fed Fund Rate SRBI, SBN dan bunga 18:29 deposito itu mengakibatkan pihak yang 18:32 membutuhkan dana untuk pembiayaan dalam 18:35 hal ini kelas menengah gitu ya, itu juga 18:37 ketakutan. 18:39 Bunga tinggi, risiko bisnis enggak pasti 18:42 gitu ya, risiko politik tinggi, ya sudah 18:44 mereka menahan diri pun ya sudah begitu. 18:46 Jadinya melipat itu 18:48 nah di situ kelihatan 18:50 di situ kelihatan relasi antara moneter 18:52 fiskal dan sektoral. 18:55 Jadi jangan bilang dia akan bisa 18:57 menurunkan kan terakhir Purbai 18:59 menyatakan melalui Himbara kami akan 19:01 turunkan 400 triliun. Jadi bukan lagi 19:03 200 triliun gitu ya. 19:04 Nah bagaimana diturunkan 400 triliun? 19:07 Apaan? 19:08 Kredit yang sudah disediakan tapi tidak 19:09 dicairkan saja 19:11 gitu ya. Andis berelon tadi gitu 19:14 mencapai tetap tidak bergeser tetap 2548 19:17 triliun. 19:18 Nah, itulah hadis itu mengindikasikan 19:24 perekonomian jalannya tersendat gitu. 19:27 Hm. 19:27 Tapi dibantah sama mereka enggak bisa. 19:29 Pertemuan ekonomi sekarang 5,2 kan gitu 19:31 ya. 19:32 Iya. Itulah 19:32 5,2 ya. Di sini muncul persoalan 19:36 data. Heeh. 19:38 Iya. Di sini muncul persoalan data. data 19:41 siapa yang akurat loh mereka bilang, 19:43 "Wih, danantara bisa meraih keuntungan 19:45 tinggi." Persoalan pokoknya danantara 19:48 bisa meraih keuntungan sampai ratusan 19:50 triliun yang sampai katanya il kali 19:52 lipat atau berapa kali lipat saya tidak 19:53 tahu. 19:54 Ada yang kali lipat kalau enggak salah 19:56 apa ya ee 19:59 ee saya lupa ada salah satu BMN gitu ya. 20:01 H 20:02 disebut dalam pidato itu kali lipat 20:05 kenaikannya. 20:05 Heeh. 20:07 Harus kita lihat sekarang 20:09 laporan keuangan yang audited sudah ada 20:11 belum gitu. 20:14 [tertawa] 20:15 Laporan keuangan yang audited sudah ada 20:17 belum? Nah, kalau dibilang laporan 20:19 auditornya sudah ada, kenapa Danantara 20:22 tidak mengemukakan keuntungan yang 20:23 didapat ini didasarkan atas laporan 20:25 auditor dari masing-masing BUMN? 20:27 Hm. 20:29 itu muncul pertanyaan-pertanyaan besar 20:31 itu. Jadi atas dasar perhitungan kayak 20:34 gimana dan antara yang katanya sudah 20:36 berhasil menghimpun keuntungan itu 20:38 dasarnya apa? Dasar perhitungan gimana? 20:41 Laporannya apa? Gitu. Laporan audited. 20:44 Oke. Kalau dibilang laporan audited 20:45 karena ini terbuka, baik. Karena laporan 20:47 audited terbuka, maka pertanyaan 20:49 besarnya menjadi mana konsolidasi dari 20:51 laporan yang masing-masing sudah audit 20:53 tadi 20:54 atau katakan sekarang mana laporan yang 20:56 belum audit terus dikonsolidasi gitu. 20:58 Heeh. 20:58 Nah, ini dampaknya panjang nih. Nah, itu 21:00 yang menimbulkan ketidakpercayaan. 21:03 He 21:03 gitu melihat yang lebih dalam [tertawa] 21:07 kondisinya. Nah, jadi ketika kita 21:10 melihat kelas menengah tetap ee 21:12 sebenarnya bukan data baru itu 21:15 bukan data 29 Agustus yang kemarin 21:17 muncul. Itu data lama karena sudah saya 21:20 presentasikan ke mana-mana 21:22 soal kejatuhan kelas menengah. Bahkan 21:24 kelas menengah yang rentan miskin pun 21:26 turut anjlok gitu loh. H kelas menengah 21:29 kenapa tadi ketidakmampuan daya beli 21:30 gitu. 21:31 Yang miskinnya ke mana? Mungkin jatuh 21:33 lagi apa? 21:34 Mungkin jatuh lagi ke bawah. Ah tapi kan 21:36 mereka bilang kemiskinan sudah 21:38 berkurang. 21:39 Ah coba bank dunia bilang enggak bisa. 21:41 Anda negara ee middle come ee middle 21:45 upper gitu ya. H 21:47 upper middle come. He 21:48 ee middle. Jadi kelas menengah atas gitu 21:52 [berdehem] 21:53 ee itu ada 21:55 dari posisi upper middle come gitu 21:57 middle upper gitu [berdehem] 21:58 terjebak di middle. 22:00 Maksudnya apa? Terjebak di middle ini Bu 22:04 yang dia mereka sebut dengan struktur 22:09 atas menengah atas menengah menengah 22:12 bawah dan bawah dan sangat bawah. lima 22:14 kelas tadi itu 22:16 sebenarnya menggunakan data Bank Dunia 22:18 yang akhirnya dengan data Bank Dunia 22:20 Indonesia klasis kemiskinannya tertinggi 22:22 dibanding Asia 22:24 jumlahnya 64,2%. 22:27 Hm. 22:27 Ah itu karena Bank Dunia mengubah 22:30 mengubah posisi Indonesia dari kelas 22:33 menengah bawah menjadi kelas menengah 22:34 atas lompatnya dua kali 22:36 gitu kan. Mestinya 22:38 mestinya kan ee menengah bawah menengah 22:41 menengah atas gitu. menengah kejendung 22:44 ke atas dengan indikator sekian ee 4.000 22:48 sekian lebih. 22:49 He 22:49 ee PDB-nya. Nah, begitu masuk ukuran PDB 22:53 muncul problematik. 22:54 He. 22:55 Hal begitu, kenapa utang berdasarkan 22:58 teori Bank Dunia itu 23:03 per tahunnya dihitung dengan PDB? Kenapa 23:05 tidak dihitung? Berdasarkan perpajakan. 23:07 Hm. Kalau dalam perbankan Anda tidak 23:10 boleh pinjam lebih dari 30% dari 23:14 pendapatan per bulan, gitu ya. Kenapa di 23:19 negara perhitungannya 23:22 utang dihitung dengan PDB? Seolah itu 23:25 sebagai pendapatan. Padahal pendapatan 23:27 konkret bukan di PDB. 23:29 Pendapatan konkretnya di perpajakan. 23:31 Logis enggak? [tertawa] 23:34 Iya. Enggak enggak. Saya saya cuma saya 23:37 cuma ingin menyatakan tidak logiknya 23:39 rumus-rumus yang dibangun oleh Bank 23:41 Dunia gitu loh. 23:43 H 23:43 sama seperti dulu ketika mereka bangun 23:45 30% sekarang mereka pikir 40 60% gitu. 23:49 Iya kan? 23:51 Bagaimana mereka ngubah 30% ke 60% yang 23:54 kedua kemudian dengan posisi 60% 23:56 disebabkan mereka ngitungnya pada PDB 23:58 gitu. 23:59 Berapa 24:01 ee pendapatan negara, utang negara 24:04 dibanding dengan PDB? Sekarang utang 24:05 negara sudah mencapai 10.293 24:09 triliun lebih gitu 24:11 dengan suku bunga bergerak 6,9 sampai 24:14 dengan 7,2. 24:15 Ya sudah yang orang kaya makin kaya, 24:17 miskin makin miskin gitu. 24:21 Karena karena yang dihutangkan APBN apa 24:23 ee ee apa apa ee surat-surat hutang itu 24:26 yang beli orang kaya begitu ya. Yang 24:28 bayar pajak rakyat begitu, Bang. 24:30 [berdehem] 24:31 Betul. Iya. Begitu. Jadi ee cicilan 24:34 bunganya yang bayar melalui pajak 24:35 rakyat. Makanya karena yang bayar adalah 24:37 pajak rakyat disebabkan APBN 82% 24:40 tergantung pada perpajakan gitu ya. 24:43 Pada penerimaan perpajakan kalimatnya 24:45 begitu. 24:46 Maka mestinya kita ngukurnya bukan utang 24:48 per PDB gitu, tapi utang per penerimaan 24:52 perpajakan gitu logikanya. 24:55 Baru logis. Waduh. Nah, dari situ dari 24:58 situ kita dapat angka sahih. Angka 25:00 sahihnya adalah APBN 25:04 sudah tertekan di atas 35%. 25:08 H 25:08 untuk 2027 saja hitungan saya mencapai 25:11 35,46%. 25:14 Oh. 25:14 Untuk 226 yang angka defisitnya lebih 25:17 tinggi pasti lebih tinggi gitu. 25:20 Hm. 25:20 Nah, ini yang 25:22 macembuk waktu ya. 25:24 He he he. [tertawa] 25:26 Artinya ee dengan posisi begitu kan kok 25:28 Anda berani tetap berani buka utang gitu 25:30 loh. Anda tetap berani menciptakan utang 25:33 baru gitu. 25:34 Nah, misalnya kalau kita bicara beberapa 25:36 bulan lalu angka utang kita R9.920 25:40 triliun. Sekarang posisinya sudah 10.293 25:44 triliun,29 misalnya begitu ngomongnya. 25:47 Itu kan artinya Anda menciptakan hutang 25:49 baru hanya karena 25:51 defisit APBN tidak bisa Anda atasi lewat 25:53 perpajakan. Defisitas PBN tidak bisa 25:55 andatasi lewat yang namanya penerima 25:56 negara dari sumber daya alam. 25:58 Padahal [berdehem] sumber daya alamnya 25:59 telah menciptakan sejumlah kongolomerat 26:02 menjadi orang kaya gitu. [tertawa] 26:05 Apa ini pula yang menyebabkan pemerintah 26:08 tidak mau memakai uang IMF ya karena kan 26:10 nanti banyak aturan-aturan yang 26:12 merengsek ke negeri ini. Atau macam 26:14 mana, Bang? Kan statement hari ini Pak 26:17 Prabowo mengatakan tidak akan memakai 26:19 hutang dari IMF. Bagaimana Bang hubungan 26:21 dengan lembaga ekonomi dunia ini? 26:24 Ee saya kebetulan punya pengalaman 26:27 mendalam gitu ya, He. 26:29 Dengan persoalan IMF gitu. Karena salah 26:32 satu pengalaman saya adalah kami 26:34 menggugat IMF di International Tribun. 26:37 He. 26:37 Disebabkan resep pemulihan ekonominya 26:41 salah. 26:42 Hm. 26:44 International Tribun menolak karena 26:46 gugatan mestinya bukan datang dari warga 26:48 negara, 26:49 tapi datang harus dari negara. 26:51 Dan karena itu AMF kemudian minta maaf. 26:53 Heeh. 26:53 Padahal akibat IMF gitu ya, 26:56 He. 26:56 Ekonomi kita seperti sekarang aburadul, 26:59 ekonomi kita sudah diserahkan ke tangan 27:00 swasta sebagian besar. 27:03 Jadi ada beberapa kesalahan-kesalahan 27:05 struktural mendasar. 27:06 Saya ulang ya. 27:08 Ada kesalahan-kesalahan struktural 27:09 mendasar dari anjuran IMF terhadap 27:12 Indonesia ketika kita kemarin krisis. 27:15 Dan karena itu kami menggugatnya ke 27:16 International Tribun. 27:18 H. He. 27:18 Dan AMF dan International Tribun menolak 27:21 karena gugatan tidak karena keanggotaan. 27:24 Jadi e legal standingnya istilahnya. 27:26 He. 27:27 Legal standingnya bukan warga negara 27:29 tapi legal standingnya negara. Tapi 27:32 kemudian AMF minta maaf 27:34 karena [berdehem] kami membuktikan kami 27:36 21 orang waktu itu gitu ya. 27:38 He 27:38 eh ada ada Hartoyo, ada Rizal Ramli, 27:43 ada Sri Edi Suwasono, saya dan 27:46 beberapa pihak lain gitu ya. ada 27:48 Aminarioso almarhum gitu. 27:50 Nah, [berdehem] 27:52 dari sana sebenarnya kita belajar bahwa 27:55 tidak seluruh resep Barat itu ampuh 27:58 gitu. Tidak seluruh resep barat itu 28:00 mustajab gitu. [tertawa] 28:03 Dan tidak dengan resep barat yang tidak 28:05 mustajab itu, maka mestinya kita juga 28:07 belajar bahwa konsep-konsep Barat itu 28:12 tidak seluruhnya mustajab, tidak 28:14 seluruhnya ampuh. Dan dalam kajian saya 28:18 gitu ya, 4 Juli 28:20 2024 28:22 dalam pertemuan ulama seAsia Tenggara 28:25 saya menyatakan gagalnya Barat seabad. 28:29 Dilihat dari indikator luruhnya 28:31 keluarga, luruhnya nilai-nilai 28:34 kemanusiaan pada manusia dan sementara 28:37 segelintir orang menguasai ee PDB dunia. 28:42 Dan itu ditunjukkan oleh temuan Slitz, 28:46 temuan Thomas Piketti, temuan Michael 28:49 Hon gitu ya. 28:50 E data-datanya. Begitu juga saya 28:52 tunjukkan dari risetnya PE Risch dan Gup 28:54 gitu. Dan ketika saya gunakan data itu 28:57 dalam perspektif ekonomi politik, 29:00 ekonomi politik dari rujukan 29:03 National Security Strategic of US dan 29:05 National Defense Strategic of US, Chat 29:07 GPT AI tidak bisa menolaknya dan 29:10 mengatakan, "Ya, kajian Anda benar, 29:14 [tertawa] sahibit." 29:17 Iya. 29:18 Nah, dari [berdehem] sana saya ingin 29:19 mengatakan ke pendengar Rasil, ke 29:22 pemirsa Rasil TV 29:24 kok ya sudah tahu begitu kita masih 29:26 masih bicara ganti rezim gitu sementara 29:31 sistem dibiarkan. 29:33 Padahal sudah berkali-kali saya bilang 29:34 ini sistemnya buradul enggak. 29:37 Ini sistemnya sistem yang salah gitu. 29:40 Siapapun rezimnya. Heeh. 29:42 Siapapun rezimnya. Sama seperti saya 29:44 bilang. tulisan saya, siapapun 29:46 gubernurnya, 29:48 siapapun gubernur BI-nya, akan tetap 29:50 yang namanya rupiah tidak akan pernah 29:52 bisa menguat, 29:53 tidak akan pernah yang namanya inflasi 29:55 bisa terkendali penuh 29:57 gitu. Karena apa? Karena kita 29:59 menempatkan sistem menggunakan sistem 30:02 yang tunduk pada aturan-aturan yang 30:04 mereka buat gitu yang kita adopsi dalam 30:06 undang-undang. 30:07 Begitu juga siapapun presidennya, 30:10 dia enggak akan bisa menarik relasi 30:12 kental antara fiskal moneter dan 30:13 sektoral. dalam rangka kemandirian 30:16 ekonomi nasional. Saya enggak bicara 30:17 kedaulatan ya, 30:19 saya bicara kemandirian [berdehem] aja. 30:20 Kemandirian aja belum sampai ke sana, 30:22 belum sampai kedaulatan. Jadi siapapun 30:25 presidennya, siapapun yang namanya 30:28 Gubernur Baynya, siapapun menteri 30:30 keuangannya, siapapun menteri ESDM-nya 30:33 gitu ya, siapapun [tertawa] Menteri 30:35 Perdagangan, Menteri Penelusriannya, ee 30:39 tambah lagi dengan katakan menteri koper 30:41 eh tambah koperasi sih enggak usah 30:42 dihitung ya. 30:43 [tertawa] 30:46 Akan begitu. Betul. 30:48 Akan begitu. Enggak akan pernah bisa 30:49 keluar dari e istilah saya terjerat di 30:52 jalan sesat gitu. 30:54 Hanyut dalam kebodohan gitu ya. 30:56 Ee terjerat di jalan sesat dan itu terus 30:59 bergulir. Dan ini bukan kajian saya baru 31:03 ini kajian sudah sejak yang namanya 31:05 tahun 2004. 31:07 Nah, ketika kita tahu akhirnya sekarang 31:09 kelas menengah jatuh, daya beli tidak 31:12 meningkat gitu. sumber daya alam 31:14 dikuasai oleh korporasi, ee tekanan 31:17 utang luar negeri tinggi, nilai tukar 31:19 berantakan, ee monet terdikte, ee ya 31:24 sudah 31:25 Anda mau ngomong apa gitu. runtunan data 31:27 itu Anda tidak bisa pungkiri. Dan itu 31:30 yang saya bilang lima sistem ee lima 31:33 item yang membuat kita terjerat dalam 31:36 jalan sesat itu. 31:38 Lima item yang membuat kita seperti 31:41 wawancara kita beberapa waktu lalu, lima 31:44 sistem yang membuat kita enggak bisa 31:46 keluar 31:48 dari sistem perekonomian yang terdikte 31:50 gitu melihatnya. [berdehem] 31:52 Masyaallah. 31:54 Kalau ngelihat kayak begini, Bang, kita 31:56 ini jadi garu-garu kepala. Tapi di 31:59 lapangannya ramai orang macet jalan, 32:02 pasar penuh ini. Apa yang terjadi 32:05 sebenarnya? Apa mereka sedang hibernasi 32:07 atau apa ya eh survival life dalam 32:11 perjalanan hidupnya sekarang ini? 32:13 Manusia kan harus terus bergerak. Apa 32:15 yang Bangsi bisa berikan pencerahan 32:19 untuk pendengar di antara berbagai 32:21 keburukan yang ada ini? 32:24 Ada 32:25 ada tiga fenomena penting, 32:28 ada tiga peristiwa penting yang perlu 32:30 kita lihat. Mereka tetap pergi ke mall 32:33 tapi terbatas untuk belanja barang. 32:35 Mereka pergi dalam rangka 32:36 ngelihat-ngelihat, menghibur diri, 32:38 dan kalaupun sedikit bisa ada duit, 32:40 makan. Oke. 32:41 Oh, makan 32:42 gitu. Maka hampir semua resto, 32:45 hampir semua tempat kopi ramai 32:48 karena mereka sudah tidak bisa lagi 32:49 menghibur diri ke mana-mana kecuali 32:51 pergi ke kafe, pergi ke resto, 32:54 pergi ke mall dalam merangkai. 32:56 H 32:56 itu fenomena pertama. 32:59 Fenomena kedua gitu ya, 33:02 sebenarnya dengan indikator 33:04 indikator pameran mobil 33:06 oh i 33:07 yang peminatnya juga terbatas gitu ya. 33:09 pembelian terbatas itu mengindikasikan 33:11 bahwa memang perekonomian tersendat. 33:13 Heeh. 33:14 Juga Anda bisa lihat misalnya pada 33:15 pembelian motor gitu. 33:17 H 33:18 itu gambaran ekonomi tersendat. 33:20 Nah, fenomena ini menggambarkan 33:23 ada kesalahan alokasi dalam belanja. 33:27 Kesoalan alokasi itu nampak pada 33:28 persoalan MBG, 33:31 nampak itu pada persoalan KDMP, H 33:33 nampak pada persoalan APBN tidak terima 33:36 lagi dana dari BUMN sebagai bagian dari 33:41 kekayaan yang dipisahkan. 33:42 Tapi 33:43 kekayaan negara yang dipisahkan namanya. 33:45 Tapi dipaksa tuh 33:46 masuknya ke danantara. 33:47 Dipaksa kirim katanya R10 triliun 33:50 [berdehem] DPR. 33:51 Iya kirim tak e dibanding sama 33:54 angka-angka sebelumnya kan belum ada 33:55 apa-apanya. 33:58 Jadi ee dia tidak sekedar kayak 120 34:02 triliun dibanding dengan angka APBN, 34:04 penerimaan APBN yang mencapai 3.000 34:06 sekian 34:07 itu kan kecil sekali. 34:09 Kecil sekali enggak ee 34:11 ya 34:13 10% aja enggak nyampai gitu kalau 34:15 ngambilnya kayak gitu gitu. Nah, 34:18 [berdehem] dari situasi yang begitu 34:19 gitu, fenomena berikutnya adalah 34:22 fenomena 34:24 di mana ee ada ketidakadilan. 34:28 Misalnya ketika Anda bicara tentang 34:30 Undang-Undang 34:32 PPSK 34:34 bahwa pasal 50A-nya 34:36 mereka terbebas dari tuntutan hukum 34:38 kalau mereka membeli Patriot Bond dan 34:40 merah putih bond gitu misalnya. 34:42 saat yang sama kita menyaksikan ada 34:44 korupsi yang besar-besaran gitu loh. 34:46 Jadi, 34:46 jadi 34:47 ada ada tindakan hukum yang memang 34:50 berbeda, pelayanan hukum yang berbeda. 34:53 Ada ketentule of law-nya itu, nah di 34:56 sini menarik nih. 34:58 Rule of law-nya itu tidak menggambarkan 35:02 satu rasa keadilan. 35:05 Jadi sejak yang namanya pembuatan 35:07 undang-undang dan pelaksanaan 35:09 undang-undang itu yang muncul adalah 35:11 ketidakadilan. 35:13 Maka penegakannya ketidakadilan jadinya 35:16 gitu loh. Jadi kepada ketika sektor 35:18 ekonomi memberikan gambaran penegakan 35:21 dari perancangan, pembuatan dan 35:23 pelaksanaan hukum yang tidak adil dan 35:26 karenanya penegakan menjadi tidak adil, 35:28 maka masyarakat akan membuat juga satu 35:30 sikap tidak adil terhadap pemerintah. 35:33 Kenapa? karena tiga hal. Yang pertama, 35:36 yang pertama kedaulatan sudah mereka 35:39 serahkan lewat partai politik. Partai 35:40 politiknya tidak mewakili mereka. Satu 35:43 ya. Satu. Yang kedua, mereka sudah 35:46 membayar lewat pajak tapi uang pajak 35:48 dipakai untuk bermewah-mewah. 35:50 Tidak juga dalam rangka menyejahterakan 35:52 mereka, gitu ya. 35:54 Ee kalau dibilang bangun infrastruktur, 35:57 Bank Dunia membuktikan pembangunan 35:59 infrastruktur cuma turun 0,3%. 36:03 Sri Mulyani waktu Menteri Keuangan cuma 36:04 menyebut iya kita tetap tidak mampu 36:07 bersaing biaya logistik kita dengan 36:09 negara dengan negara tetangga artinya 36:12 apa capital incremental capital 36:15 review-nya tinggi. Apa poinnya ada 36:17 korupsi 36:19 gitu kan lihat jadi di situ. Nah, kalau 36:22 kita ngelihatnya begitu gitu ya, 36:24 tambahan lagi sekarang ee fenomena 36:27 berikutnya korupsi besaran-besaran itu 36:30 gitu ya, acap kali ee salah salah 36:35 treatment gitu, mistreatment, 36:36 distreatment gitu. 36:38 Ee ada yang dapat hukuman tinggi, ada 36:41 yang dapat yang mestinya tidak proses 36:42 hukumproses hukum 36:44 ee tergantung penegakan hukum. Dan pada 36:46 saat yang sama terjadi namanya gitu ya, 36:49 persaingan penegakan hukum antara ee CSW 36:54 gitu kan, Trunojo dan Pojok Kuningan 36:57 gitu. Itu gimana tuh? [tertawa] 37:01 Iya. 37:02 Ya, saya menyebutnya di sebuah TV swasta 37:05 sebagai 37:06 eerling. [berdehem] 37:07 Tapi pada saatnya sama sesungguhnya 37:09 gambaran ee di situ gambaran persaingan 37:12 gitu. Gambaran persaingan penegakan 37:14 hukum. Padahal penegakan hukumnya tadi 37:16 sudah bermuatan seperti itu. Di bidang 37:18 ekonomi dia sudah mencerminkan rasa 37:20 ketidakadilan gitu ngelihatnya begitu. 37:23 Nah, ada problem besar di situ. Problem 37:25 besarnya di situ apa? Ah, ini yang saya 37:27 sebut sebagai kesalahan sistem nih. 37:30 Apa, Bang? 37:30 Di DPR dia tidak menggambarkan 37:33 genuine atau truth 37:36 representasi representatif gitu ya. 37:39 Dia tidak menggambarkan genuine true 37:41 representative. di eksekutif sama dia 37:44 tidak menggambarkan eh satu genuine true 37:49 governance sehingga ketika mereka berdua 37:52 bikin eh bikin public policy, bikin 37:54 kebijakan publik dengan menggunakan 37:56 otoritasnya, maka otoritasnya otoritas 37:58 semu, 37:59 fal authority 38:00 gitu. Kalau dalam bangunan berpikir saya 38:03 ini bagian dari kedua DPR dan eksekutif 38:07 telah melahirkan satu model tata kelola 38:11 yang berbasis pada otoritas semu. 38:15 [berdehem] 38:15 Jadi tata kelolanya berbasis otoritas 38:17 semu. Saya sebutnya sebagai false 38:18 autority. Nah, ketika berpindah ke 38:20 pengadilan dia menjadi false certain 38:24 gitu loh. Keyakinan, kepastian hukum 38:27 yang semu. Padahal otoritasnya otoritas 38:30 yang semu. Nah, itu yang kemudian 38:32 dicitrakan ke masyarakat sehingga tadi 38:35 ee approval ratingnya menurun. 38:38 Hm. 38:39 Gitu. 38:41 rating mundur itu harus dilihat dari 38:43 situ. Nah, saya menyebut ada tambahan 38:45 lagi 38:46 Anda tadi ditanya soal tim komunikasi di 38:49 sebuah TV suasa saya sebut Anda 38:52 kelihatannya tidak denial tapi 38:54 sesungguhnya orang menangkap bahwa 38:57 gitu ya 38:59 bahwa implicit message Anda, pesan 39:02 terselubung anda gitu ya. He. 39:04 Jadi, ada pesan pesan ada pesan 39:07 tersurat, pesan tersirat Anda impreate 39:09 message-nya 39:11 itu anda denial. 39:13 Hm. 39:14 Anda menyangkal gitu. 39:16 Ah, bayangkan pidato kenegaraan 39:19 14 Agustus 2026. Saya tidak diamanatkan 39:23 untuk berkomunikasi, saya diamanatkan 39:26 untuk bekerja. Itu salah kalimat itu. 39:32 Itu salah, kalimat itu. Salah. 39:35 [berdehem] 39:35 Ya, itulah pentingnya narasi ya. Aduh. 39:38 [tertawa] 39:39 Jadi, jadi ee pembuat naskah pidatonya 39:42 itu enggak ngerti 39:44 h 39:45 bahwa komunikasi itu bagian dari 39:48 interaksi sosial. 39:51 Dan interaksi sosial itu ketika caha 39:54 salah dia melahirkan antipati. 39:57 H. Ini yang tidak dipahami dengan baik, 39:59 dengan cantik oleh namanya para ahli 40:01 komunikasi yang ada di pemerintahan. 40:05 Bakom 40:05 enggak bisa. Anda membantah misalnya K 40:08 dari melawan si Fatimah Zahra pakai 40:11 pendekatan kuantitatif dan pakai coba 40:13 kasih angka kasih angka kasih angka itu 40:15 kuantitatif seolah-olah segala sesuatu 40:17 bisa diangkakan. Memang Anda bisa 40:20 mengangkakan kepuasan sesungguhnya 40:22 merepresentasikan kepuasan gitu angka 40:24 enggak juga. 40:26 Hm. Ada sense yang tidak bisa Anda 40:28 kuantitatifkan. Ada rasa yang Anda tidak 40:31 bisa kuantitatifkan. 40:33 Rasa keimanan itu enggak bisa 40:34 dikuantitatifkan. Rasa keyakinan itu 40:37 tidak bisa dikuantitatifkan. Kepuasan 40:40 boleh dikuantitatifkan, tapi dia tidak 40:42 full dikuantitatifkan. Ini kan disertasi 40:45 saya tentang hal kayak gini gitu ya. 40:48 Perdebatan tajam misalnya tentang moral 40:50 hazard. Ini disertasi saya di sini. 40:52 Moral hazard dalam ekonomi. Dalam 40:53 ekonomi itu saya masuk dalam perbankan 40:55 dan APBN. H 40:56 itu saya dihajar habis. Bagaimana Anda 40:59 membuat mengkuantifikasikan katanya ee 41:03 moral hazard gitu. Moral hazard itu ee 41:06 perilaku tidak bermoral para pejabat, 41:08 perilaku tidak bermoral para pelaku 41:10 usaha gitu ya. Karena merasa sudah 41:12 dijamin selesai sehingga mereka berbuat 41:13 seenak-enaknya. Saya bilang ini proxi 41:18 untuk menunjuk sebuah indikasi. Nah, 41:20 gitu. Maka saya bikin tuh 41:22 rumus-rumusnya. Rumus di APBN-nya saya 41:25 bikin, rumus di perbankannya saya bikin. 41:27 Bagaimana moral hazard dalam perbankan, 41:29 bagaimana moral hazard dalam APBN? 41:32 Begitu 41:33 misalnya begitu. Keberanian mereka bikin 41:35 cipta hutang baru misalnya 41:37 menciptakan hutang baru 41:38 tanpa menghitung pendapatan penerima 41:40 negara terhadap yang namanya ee utang 41:43 gitu misalnya 41:44 kan. fungusinya tadi rumusnya adalah 41:46 penerimaan negara terhadap utang 41:48 sehingga menggambarkan kemampuan APBN 41:50 membayar cicilan pokok dan bunga tiap 41:53 tahun gitu misalnya 41:54 ketika mereka melanggari itu, itu bagian 41:56 dari malas hazard. Kenapa? Karena mereka 41:58 masih merasa udahlah toh 42:01 ukuran yang dibangun oleh IMF 60% 42:03 itu moral hazar gitu. 42:06 Itu contoh-contohnya begitu gitu loh. 42:08 Contohnya diperbankan moral hazar juga. 42:10 Udahlah toh ee tabungan sudah dijamin 42:13 oleh LPS 2 miliar enggak apa-apa juga. 42:15 Ah tapi ter perbankan diukur sekarang 42:17 secara ketat. Itu yang disebut dengan 42:19 sampai seberapa jauh tingkat ketahanan 42:21 ekonomi baik moneter maupun fiskal mesti 42:23 diukur ada ukurannya. Nah ketika ukuran 42:27 itu memberi petunjuk maka dia muncul 42:30 dirasa. Benar enggak kayak gitu gitu. 42:33 Narti tadi pertanyaan Aan THB tentang 42:36 masyarakat masih tetap pergi ke sana ke 42:38 mari, masyarakat masih tetap belanja ke 42:40 ya iya itu bagian dari sesungguhnya 42:43 eh 42:45 satu bentuk perlawanan diam. 42:48 Hm. 42:49 Satu mereka mereka tidak mau bayar pajak 42:51 juga tapi walaupun mereka dikungkung 42:53 oleh pajak sedemikian rupa gitu ya. 42:56 Dikungkung oleh tapi mereka pada 42:57 hakikatnya juga tidak ada keikhlasan 42:59 untuk bayar pajak. Iya. 43:02 Nah, ketika sistemnya riba dengan peman 43:05 kayak gitu, maka negara itu tidak berkah 43:07 gitu ujungnya. 43:09 Mas 43:10 jatuhnya di situ negara tidak berkah 43:12 gitu. 43:12 45 menit sudah ini, Bang. Insyaallah. 43:15 Masyaallah. Luar biasa. Masyaall. 43:17 Terakhir ya. 43:17 Silakan. Terakhir. 43:20 Kalau kita bicara ini masih awal 43:23 September gitu ya, [berdehem] 43:26 masih bulan baik, 43:28 masih dalam waktu-waktu yang baik. Kalau 43:29 kita mau bicara 43:31 negara gemah ripah lah jin negara yang 43:35 berkeadilan sosial. Lalu ada orang ribut 43:38 soal ee bagaimana Unhan menolak 43:41 berjilbab gitu ya. [berdehem] 43:43 Sebantah 43:45 kayak gimana ceritanya. Terus ada orang 43:48 bisa baca aduhaha dikasih minuman keras 43:50 gitu misalnya. Alkisah. Heeh. [tertawa] 43:53 Jadi itu menggambarkan bahwa 43:56 sesungguhnya 43:58 telah terjadi 44:00 ee [berdehem] 44:02 deepening conflict gitu ya, konflik yang 44:05 mendalam, defening konflik dalam kondisi 44:08 masyarakat Indonesia yang tidak mampu 44:10 diselesaikan oleh pemerintah. 44:14 Definit ini karena sejak kita eh 44:20 menyetujui ris gitu ya sampai akhirnya 44:23 sekarang kita betul-betul telah 44:26 mengkhianati kalau pakai bahasa saya 44:29 Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. 44:32 Perdebatan-perdebatan kita, 44:33 perdebatan-perdebatan yang akhirnya ee 44:36 kalau dalam bahasa saya melawan Tuhan. 44:38 Hm. Dan setiap negara yang melawan Tuhan 44:41 kelihatannya kelihatannya saja kaya raya 44:44 seperti tingginya gedung-gedung gitu ya. 44:47 Ada orang yang melaporkan tingginya 44:48 gedung-gedung di Shanghai. Ada orang 44:50 yang melaporkan tingginya gedung-gedung 44:52 di Nanjing, di Beijing, 44:54 ee di Hongkong, di Maau, 44:56 ee di Guangzu, e di mana-mana. Termasuk 44:59 yang namanya juga di Amerika dan di 45:00 Eropa gitu ya. 45:01 H 45:02 tapi pertanyaan mendasarnya, adakah pada 45:04 mereka sakinah 45:05 gitu? Adakah pada mereka Pak 45:07 Pak rasa tentram damai hidup mereka gitu 45:11 ee kedalaman hati. Nah, itu yang 45:14 akhirnya sekarang juga tidak dimiliki 45:16 oleh Indonesia. 45:17 Masyaallah. 45:18 Kasus kemarin ee ee demo 27 Agustus yang 45:22 mengakibatkan seorang meninggal 45:24 itu kan gambaran nyawa manusia mati 45:27 karena kemudian masyarakatnya sudah 45:29 dalam posisi deepening konflik. 45:31 Hm. 45:32 Ini bahasa bahasa saya enggak enak nih. 45:34 H. Saya mau bilang bahasa saya enggak 45:36 enak. Depending konflik. Konflik 45:38 masyarakatnya sudah mendalam yang 45:40 kemudian tidak diselesaikan oleh aparat. 45:42 Bahkan aparat penegak hukum termasuk 45:44 yang namanya pemerintahan seakan-akan 45:47 mengambil sikap ya tidak posisinya e 45:51 upaya mencegah gitu. 45:53 Iya. Terjadinya pada malam hari. 45:56 Sementara, sementara a e aliansi 45:59 masyarakat Pati Bersatu sudah pulang 46:01 pada tengah hari dan ribut dengan ojol 46:03 gitu loh. Mereka saling bersengketa 46:04 dengan ojol gitu. Nah, itu menunjukkan 46:08 ee konflik sosial conflict gitu ya. 46:11 Iya. 46:12 Ee dipening, sudah mengalami pendalaman 46:15 dipening. 46:15 Nah, wawancara saya kali ini, obrolan 46:17 kita pagi ini ee mengingatkan kepada 46:21 semua kalangan kita tidak boleh 46:23 memperdalam. Mari kita dangkalkan bahkan 46:25 mari kita selesaikan. 46:27 Mari kita selesaikan dengan cara gimana 46:29 tadi 46:30 ee jangan menggunakan model komunikasi 46:32 yang tidak simpatik. Saya ulang, 46:35 komunikasi Anda tidak simpatik sama 46:36 sekali. 46:38 Ee apakah anak-anak muda yang baru duduk 46:40 di badan komunikasi pemerintahan gitu 46:41 ya, 46:42 anak-anak muda yang merasa bisa 46:43 menguasai data tapi argumennya 46:46 argumennya yang dangkal gitu ya. He. 46:48 Ee jangan salah, angka-angka statistik 46:51 itu tidak merepresentasikan 46:53 ee kualitatif. 46:56 Ulang. 46:57 H. 46:58 Jadi kalau menggunakan metodologi dan 47:00 konfigurasi sistemnya Ihsanuddin Nursi, 47:03 dalam metodologi yang saya bangun, dalam 47:06 konfigurasi sistem yang saya bangun gitu 47:08 ya. Betapa kita dalam posisi tingkat 47:12 konflik yang begitu mendalam dan 47:13 posisinya rentan. 47:15 Masyaallah. 47:15 Ah, itu yang mestinya diatasi. Saya kira 47:17 saya patut mengingatkan begini Hanalb 47:20 supaya kita waspada, supaya kita tetap 47:22 menjaga keutuhan bangsa ini. Sebagaimana 47:24 saya tulis dalam bangsa terbelah, saya 47:26 tulis dalam prahara bangsa. 47:28 Masyaallah. 47:28 Subhanakallahumma wabihamdika asadu illa 47:31 anta wastagfiruka. 47:33 Asalamualaikum warahmatullahi 47:34 wabarakatuh. Wafanum. 47:35 Waalaikumsalam warahmatullahi 47:38 wabarakatuh.