Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:16 Assalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh Bang Ikhsanudin Nursi, apa 0:20 kabar? 0:22 Waalaikumsalam. 0:24 Wabarakatuh. 0:26 Masya Allah, bulan yang penuh rahmat ini 0:29 ya, masya Allah. 0:30 Maulid Nabi. 0:31 Shollu ala Nabi, Allahumma sholli ala 0:34 Muhammad Sayyidina Muhammad Sayyidina 0:36 Muhammad. 0:37 Ya Allah, apa kabar Bang? Ini dunia 0:40 nampaknya tidak baik-baik saja ya, 0:42 bencana ada di mana-mana. Perang di 0:45 mana-mana, alam pun batuk-batuk, tapi 0:48 yang kita lihat Republik ini nampaknya 0:51 tidak sedang baik-baik saja. Ujug-ujug 0:55 Presiden minta Danantarta kirim 120 0:59 triliun. Ini Haikal [berdehem] ini dari 1:01 Komisi berapa? 11 ini uring-uringan kok 1:04 enggak ada berita apa-apa. Tahu-tahu 1:06 dikirimlah, kan maunya Presiden kepala 1:08 koalisi ya. Ini apa yang terjadi dengan 1:11 Danantarta dan APBN? Juga tentang kelas 1:14 menengah yang nampaknya dari 57 juta 1:18 lebih jadi 47 juta. 1:21 Ini ke mana makhluk ini dan jadi apa 1:23 mereka sekarang? 1:25 Banyak faktor yang menentukan tapi apa 1:28 penyebabnya? Mungkin Bang Ikhsanudin 1:30 Nursi bisa memberikan sebuah penjelasan 1:33 di antara berita-berita tentang approval 1:37 rating Prabowo di antara para petinggi 1:41 main salah-salahan ya, apa kerja Bakom 1:43 ini? Katanya pakai teori nom kom sbilah, 1:46 beginilah, begitulah, apa yang Bang 1:49 Ikhsanudin Nursi lihat dari pergolakan 1:51 yang ada? 1:52 Sementara dunia sedang mencari sebuah 1:55 sampel pertarungan yang akan dimenangkan 1:58 oleh siapakah? Rusia dan China bersatu 2:01 dalam SCO, Iran tetap menjadi bintang 2:04 paling bersinar. Ah, apakah akan ada 2:07 tata ekonomi baru? Bisakah Iran melawan 2:11 eh apa eh hentakan dari Trump dengan 2:14 blocking eh segala ekonominya? Mesir pun 2:17 sudah mulai uring-uringan diancam 2:19 Amerika. Bagaimana eh Bang Ihsanuddin 2:22 Nursi memberikan penjelasan untuk 2:24 pendengar kita dan apa yang akan bisa eh 2:27 pendengar 2:28 setelah 2:30 40 menit ini membuat tambah cerah lagi 2:33 pikirannya. Tafadhol Bang Ihsanuddin 2:34 Nursi. 2:35 [berdehem] 2:36 Baik. 2:38 Bismillahirrahmanirrahim. 2:40 Subhanaka la ilmalana illa ma allamtana 2:43 innaka alimul hakim. 2:45 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 2:47 wa sayyidina alhamdulillahirobbil 2:48 alamin. 2:50 Ehm. 2:54 Yang pertama ya. 2:56 Kita bicara dulu soal 2:59 Shanghai Cooperation Organization. 3:01 Oh, iya. 3:04 Karena 3:05 eh ini seakan-akan 3:08 terpisah 3:09 dengan Belt and Road Initiative. 3:12 Ehm. 3:13 Padahal ini eh 3:16 dia satu mata rantai. 3:19 Satu mata rantai 3:21 dengan Belt and Road Initiative. 3:24 Ehm. 3:25 Belt and Road Initiative itu kerja sama 3:27 pertumbuhan. 3:28 Ehm. 3:29 Sementara kalau pada Shanghai 3:33 Cooperation Organization 3:36 itu lebih ke bagaimana 3:40 mereka yang 3:42 duduk 3:43 eh 3:44 itu sudah lebih 3:46 dalam posisi kesetaraan. 3:48 Kalau Belt and Road Initiative itu 3:51 Cina yang berinvestasi seakan-akan 3:54 begitu. 3:54 Ehm. 3:55 Cina yang melakukan eee 3:58 eee Cina sebagai pihak yang berinisiatif 4:01 begitu. 4:01 Ehm. 4:02 Kalau di Shanghai Cooperation 4:04 Organization itu 4:06 eee para pihak berinisiatif. 4:08 Ehm. 4:10 Secara 4:11 moneter 4:13 dia tetap dalam prinsip 4:17 menghindari dua hal. 4:19 Menghindari dedolarisasi, menghindari 4:21 Swift Code. 4:24 Dia tidak ingin menggunakan sarana 4:26 pembayaran 4:28 eee Swift Code. 4:31 Eee dalam transaksi mereka menggunakan 4:33 mata uang 4:35 masing-masing. 4:36 Ehm. 4:37 Dan dengan begitu mereka tidak 4:38 menggunakan dolar. 4:40 Karena itu antara Belt and Road 4:42 Initiative 4:44 dengan Shanghai Cooperation Organization 4:48 ini eee 4:49 pada hakikatnya adalah dedolarisasi. 4:52 Ehm. 4:52 Tuh, ini kita didengerin orang nih. 4:53 Oh, iya. 4:54 Tuh. 4:54 Betul. 4:56 [tertawa] 4:56 Gila pasti 4:58 radio. 4:59 Bukan, bukan didengerin, bukan 5:01 didengerin orang dalam tanda petik di 5:03 radio, bukan. 5:04 [tertawa] 5:06 Lanjut. Israel saja ada dua titik tuh 5:08 yang dengerin. Nah, ya. 5:09 [tertawa] 5:11 Ehm, masya Allah. Silakan, Bang. Ehm. 5:13 Baik. Dengerin baik-baik ya, Iksan dan 5:15 Didin Nursi sedang eee dialog di pagi 5:17 ini di Rahasia. 5:18 Ehm. 5:19 Eee rekam dengan baik serekan-rekannya 5:21 ya, buat mereka yang sedang merekam. 5:22 Ehm. 5:23 Buat mereka yang sedang bertugas atas 5:25 nama negara. 5:25 Betul. 5:26 Mantap. 5:29 [mendengus] 5:29 Nah, karena itu eee ketika Tze Sekian 5:33 menyampaikan 5:35 eee kerja sama, ingin kerja samanya 5:37 dengan 5:39 Kirgistan 5:40 Ehm. 5:41 Tajikistan dan Turkmenistan begitu. 5:43 Ehm. 5:44 Itu kelihatan eee yang hendak dijahit 5:47 adalah 5:48 eh, 5:49 kerja sama 5:51 kawasan Asia Selatan 5:53 yang berhubungan dengan 5:55 Timur Tengah 5:56 yang berhubungan dengan eh, 5:58 Eropa. 5:59 He em. 5:59 Dari hal ini sebenarnya 6:02 pernyataan Iran lebih ke upaya 6:06 membangun alternatif dari 6:08 tekanan Amerika. 6:11 Eh, 6:13 He em. 6:13 Eh, dan suka tidak suka 6:16 ini bagian dari cara cerdas 6:19 orang-orang yang memang negara-negara 6:20 yang memang hendak 6:22 eh, menolak cara-cara Amerika yang 6:25 yang 6:27 He em. 6:27 kalau dalam bahasa saya multiple 6:28 suitable standard. 6:29 He em. 6:30 Jadi 6:31 [berdehem] 6:32 eh, dan mereka menyadari betul betapa 6:35 betapa Amerika semena-mena, 6:36 semau-maunya, sewenang-wenang. 6:38 Semau-maunya. 6:39 Menggunakan kekuatan dolarnya, 6:40 menggunakan kekuatan militer nya. 6:42 He em. 6:43 Menggunakan kekuatan 6:44 dan SCO eh, 6:47 Shanghai Cooperative 6:49 Organization ini 6:50 He em. 6:51 [berdehem] 6:52 organisasi kerja sama Shanghai ini 6:55 ini eh, sekaligus merupakan 6:58 bukan saja persoalan perdagangan, bukan 7:00 saja persoalan infrastruktur 7:02 tapi juga persoalan kerja sama keamanan. 7:04 Oh, menariknya di situ. 7:06 He em. 7:06 Jadi dia juga eh, pembahasannya berbagi 7:09 dimensi di posisi itu. 7:11 Eh, 7:12 cuma belum sampai pada seperti eh, 7:14 seperti kasus 7:16 eh, 7:17 NATO. 7:18 Eh, 7:19 tapi poinnya adalah 7:21 para pihak menyadari pentingnya kerja 7:23 sama keamanan, politik energi, 7:25 infrastruktur, keuangan, semuanya masuk 7:27 di situ. 7:28 He em. 7:29 Nah, Iran mengusulkan itu. 7:31 Oh. 7:31 Iran mengusulkan eh, 7:34 agar tetangganya sebelah 7:37 di Bandar Abbas ngebangun 7:39 eh, satu satu hub energi 7:42 dengan pasokan minyak dari Iran 7:45 ee 7:46 dan kemudian hasilnya bagi dua 7:48 Oh begitu 7:49 salah satunya itu misalnya gitu nah 7:52 ee 7:53 tentu saja ini akan mengurangi 7:55 ketergantungan 7:57 ee kalau pakai bahasa saya 8:00 ini akan mengurangi ketergantungan pada 8:02 Barat 8:03 ee 8:06 dengan ketergantungan yang berkurang ini 8:08 ee tentu saja 8:11 ee 8:12 makna kemandirian makna kedaulatan 8:14 ekonomi itu meningkat nah itu yang 8:18 yang yang di hendak dicapai melalui 8:20 Shanghai Cooperative Organization 8:22 kerjasama 8:24 organisasi organisasi kerjasama Shanghai 8:27 ini tentu membuka mem membuka medan baru 8:31 ini yang disebut dengan 8:34 dunia makin terserak dalam kerjasama 8:35 perekonomian 8:37 saat yang sama Amerika melaku mendapat 8:39 perlawanan bukan hanya dari 8:41 dari musuh-musuhnya 8:43 tapi juga dari mitranya seperti Mark 8:45 Carney dari Kanada yang 8:47 Duh 8:48 akhirnya malah menunjukkan kemampuan 8:50 melakukan perlawanan 8:51 listriknya di stop 8:53 [tertawa] 8:54 iya 8:56 nah 8:57 sebenarnya di sini kita dapat pelajaran 9:00 kita dapat pelajaran bahwa 9:03 ee 9:05 kalau hari ini kita bicara tentang 9:08 ada upaya mengembalikan pengendalian 9:11 energi 9:13 khusus seperti modal lama gitu 9:15 modal lama dan itu berarti modal pasal 9:17 33 9:19 ee ayat 1 2 dan 3 9:22 [berdehem] 9:23 yang 9:25 kembali lagi membatasi makna 9:27 pasar bebas pada 9:29 sektor energi primer 9:31 he 9:32 ee sebenarnya pemerintah harus serta 9:34 merta juga mengatasi 9:36 ee pasar bebas pada sektor energi 9:39 sekunder, listrik. 9:40 He 9:41 Di situ. 9:42 Ee 9:44 perlahan tapi pasti listrik terus naik. 9:48 [tertawa] 9:49 Terus terbebani gitu. 9:50 Pelan-pelan. 9:51 He 9:52 Ada undang-undangnya. 9:53 Pelan naik dan dan Anda pakai tidak 9:56 pakai bayar. Ee, itu kalau permintaan 9:58 swasta kepada PLN. 10:00 He 10:01 Anda mau pakai punya saya, Anda tidak 10:03 pakai punya saya terserah, ya mesti 10:04 bayar. 10:05 Dan kemudian mereka menentukan energi 10:07 primernya sendiri, misalnya kalangan 10:09 batubara. Wah, mereka 10:11 He 10:11 dari hulu sampai ke pembangkitan mereka 10:13 kuasain begitu. 10:14 He 10:15 Itu yang disebut sebenarnya bagian dari 10:16 upaya mendikte 10:17 He 10:18 ee, negara. 10:20 Kalau pakai bahasa saya itu bagian dari 10:22 kudeta korporasi di bidang, ah, di 10:24 sektor energi. 10:26 Begitu. Kalau pakai buku Pradana Bangsa 10:28 itu begitu. 10:29 [tertawa] 10:30 Nah, 10:31 kita kita bisa sebenarnya bisa belajar 10:33 di sini. 10:34 He 10:35 Dari Shanghai Cooperative Organization 10:37 ini kita juga belajar. 10:38 Belajar bahwa ternyata negara-negara itu 10:41 pun 10:41 tetap memisahkan mana hajat hidup orang 10:43 banyak, mana 10:45 eh, barang komersial, mana kuasi begitu. 10:47 Jadi tidak serta merta ikut pada 10:49 Nah, eh 10:51 saya sudah dengar bahwa 10:53 sudah lama saya dengar bahwa Prabowo 10:55 Subianto 10:56 hendak menghapus SKK Migas 10:59 yang diterbitkan oleh Susilo Bambang 11:00 Yudhoyono ketika BP Migas di 11:03 eh, dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi. 11:05 Tapi diterbitkan mau wajah baru SKK 11:07 Migas saya bilang 11:09 He 11:09 ini bukti perlawanan dari eh 11:12 eksekutif yang melahirkan SKK Migas itu 11:14 begitu ya. 11:15 He 11:15 Dan saya ngelihat ini mereka akan eh 11:18 bangun usaha baru. 11:19 He 11:20 Eh, bentuk badan usaha khusus begitu ya. 11:22 Coba Prabowo Subianto 11:24 sebagai wujud bahwa mereka tunduk pada 11:26 konstitusi. 11:27 Dalam bahasa yang lain kalau kita pahami 11:29 di sini 11:31 eh, sebenarnya pemerintah Indonesia 11:32 lagi-lagi 11:34 sejak lama memang menjalankan eh 11:37 liberalisasi atau pasar bebas di sektor 11:39 energi. 11:40 Ah, sementara kalau kita belajar dari 11:42 Iran yang hadir di 11:44 Bishkek ini eh untuk tunduk untuk 11:46 bergabung dalam 11:48 Shanghai Cooperation Organization. 11:50 Maka disadari oleh negara-negara itu 11:52 bahwa 11:53 bahwa 11:55 hajat hidup orang banyak tidak mungkin 11:56 diserahkan ke pasar bebas. 11:59 Akhirnya yang disebut dengan oleh 12:01 oleh New York Times, oleh 12:04 Bloomberg. 12:05 Sampai seberapa jauh negara boleh 12:07 terlibat nih seperti mereka melihat 12:08 bagaimana 12:10 eh Trump terlibat dalam 12:12 mengintervensi dalam penyediaan hajat 12:14 hidup orang banyak. Gitu. 12:16 Dan [berdehem] itu merisaukan kalangan 12:18 swasta, swasta besar. 12:20 Nah, sampai pada level ini kelihatan ada 12:23 pertarungan besar antara 12:25 energi fosil dengan energi baru 12:26 terbarukan. 12:28 Eh, nah posisi itu yang sedang berjalan. 12:32 Nah, di tengah situasi kayak gitu kita 12:33 menghadapi karhutla. 12:35 [tertawa] 12:36 Kebakaran hutan. 12:38 Padahal tujuan mereka hendak nanam 12:40 sawit. Nah, sawit bagian dari tadi eh 12:44 dengan merusak dengan merusak hutan 12:46 mereka hendak menyatakan mereka terlibat 12:48 dengan environmental. Kacau enggak? 12:50 [tertawa] 12:50 Kacau kan? 12:51 Karena alasan mereka sebenarnya mau 12:53 ngebangun sawit aja tuh. 12:56 Sampai akhirnya ada ditemukan di di 9 12:58 provinsi ada 72 tersangka. Kan banyak 13:01 tuh luar biasa tuh. 13:02 [tertawa] 13:05 Nah, tapi tetap buat apa jadi tersangka 13:07 kalau akhirnya eh eh hutan enggak bisa 13:10 dipulihkan atas pembakaran mereka. 13:12 Dan akhirnya izin untuk ngebangun sawit 13:14 tetap berjalan gitu. 13:16 Ah, tindak pidana eh enggak ada 13:17 pemulihan. Jadi kalau kalau ceritanya 13:20 ada 13:21 bagian penertiban kawasan hutan PKH gitu 13:23 ya 13:24 dengan satgas karhutlanya gitu. 13:26 Tapi hutan sudah terbakar dan kemudian 13:28 pidana seolah-olah akan bisa memulihkan 13:30 hutan, enggak bisa. 13:31 Memuaskan. 13:31 Nah, mestinya bukan sekedar itu, izinnya 13:34 dicabut. 13:35 Ehm. 13:35 Itu. 13:36 Dan mereka dipaksa lagi untuk me 13:38 mereboisasi, menanam kembali. Wah, itu 13:40 baru keren. 13:41 Itu baru keren itu, begitu loh. Nah, di 13:43 situ bukti eh 13:45 eh 13:46 sampai seberapa besar kita memelihara 13:48 hutan kita 13:49 sebagai bagian dari paru-paru dunia. 13:51 Sebagai bukti bahwa kita friendly 13:53 environmental. Eh, bahasanya begitu kan? 13:56 Bersahabat dengan lingkungan, dekat 13:58 dengan lingkungan. 13:59 [tertawa] 14:00 Begitu. Jadi tidak tidak sesumbar begitu 14:02 loh. 14:03 Satu orang hutannya. 14:04 Tapi kemudian ketika 14:05 Oh, baru orang hidup. Orang hutan pada 14:07 pusing di situ di sana sekarang. 14:08 [tertawa] 14:12 Nah, jadi kalau kita 14:14 kalau kita ngambil, kita bilang kita 14:16 friendly environmental, kita tunduk pada 14:18 green ekonomi begitu loh. Gimana kita 14:20 tunduk pada green ekonomi? 14:23 Rumus green ekonominya saja sebenarnya 14:25 tetap dalam rangka pasar bebas kok, 14:26 dalam rangka korporasi tetap bisa 14:28 mendikte kok. Dan terbukti [berdehem] 14:30 sekarang dengan pembakaran hutan itu, 14:32 korporasi mendikte dengan kasar begitu. 14:35 [tertawa] 14:36 Itu kan bagian dari korporasi mendikte 14:38 dengan kasar, korporasi mendikte dengan 14:40 semau-maunya. Dan ini bukan peristiwa 14:42 baru, peristiwa yang mengulang entah 14:44 berapa puluh kali begitu. [tertawa] 14:48 Melihatnya begitu. Jadi kalau eh 14:50 kemudian terbentuk ada 14:52 ada Satgascarhutla 14:54 dengan 14:55 saya tidak tahu, saya tidak dapat 14:57 memastikan Haji Isam sebagai ketuanya, 15:00 seru juga tuh begitu. 15:01 [tertawa] 15:02 Jadi kanan oke. 15:05 Iya lah, begitu lah. 15:08 Eh, ceritanya kalau kita kembali begitu. 15:11 Nah, sekarang kita lihat soal 15:13 eh turunnya 15:15 kelas menengah. 15:17 Angka saya memang kelas menengah turun 15:20 9,48 15:22 juta. 15:23 Wih. 15:24 9, 15:25 48 juta. 15:27 He eh. 15:28 Eh, 15:30 itu sebagian 15:32 dari gambaran 15:34 eh, ketidakmampuan 15:37 mengatasi dampak Covid gitu ya, akhirnya 15:39 mereka jatuh. 15:40 He eh. 15:41 Satu. 15:43 Yang kedua, 15:44 ketidakmampuan mengatasi situasi 15:48 perekonomian yang tidak pasti dengan 15:49 harga-harga yang melonjak 15:51 He eh. 15:51 dan dolar yang eh, sedemikian rupa. 15:54 He eh. 15:55 Rupiah jatuh gitu ya. Yang kedua. 15:57 2024 15:58 2026 lebih besar lagi. 16:01 [mendengus] 16:01 Gitu. 16:02 Eh, eh, 16:03 yang ketiga, 16:05 ini dampak dari ketidakpastian itu di 16:07 eh, ke 16:09 kesalahan alokasi APBN. 16:11 He eh. 16:13 Oh. 16:13 APBN tidak memberikan likuiditas gitu 16:16 ya, 16:16 He eh. 16:17 yang cukup tinggal mereka tidak bisa 16:18 bertahan. 16:20 Yang menariknya adalah 16:22 [berdehem] 16:23 angka saya, jadi eh, penurunan angka 16:26 kelas menengah sebanyak 9,48 16:28 juta, 16:30 eh, itu diikuti dengan 16:32 di sini menariknya, eh, yang orang tidak 16:34 lihat 16:35 sektor riil berkaitan dengan sektor 16:36 moneter dan fiskal, 16:38 sektor riil jatuhnya kelas menengah itu 16:41 diikuti dengan undisbursed loan. 16:44 Apa tuh? 16:45 Undisbursed loan adalah kredit yang 16:46 sudah disediakan tapi tidak dicairkan, 16:48 He eh. 16:49 yang angkanya tidak bergerak tetap 2.548 16:52 triliun. 16:53 He eh. 16:54 Turunnya cuma sekitar 30 triliun. Dari 16:57 2577 menjadi 2548. 17:00 He eh. 17:01 Gitu ya. 17:01 Eh, jadi sekitar sekitar itu turunnya. 17:04 He eh. 17:05 Sekitar 29, sekitar segitulah. Gitu ya. 17:09 30 triliun gitu ya. 17:10 Enggak bisa usaha atau gimana, Pak? 17:13 Nah, 17:15 eh, 17:18 ini sebenarnya saya presentasikan 17:19 berkali-kali di berbagai tempat ya. 17:22 Ya tujuh indikator eh pertumbuhan 17:24 tersendat 17:26 yang mengakibatkan si kecil melarat 17:28 judul saya begitu. 17:28 Ehm. 17:31 Nah eh 17:33 kalau kita ngelihat 2.548 17:36 triliun 17:37 tidak dicairkan padahal sudah disediakan 17:40 maka pertama 17:43 eh sektor riil swasta 17:46 itu melihat ada ketidakpastian. 17:49 Ehm. 17:49 Ada risiko bisnis yang tinggi. 17:52 Sehingga mereka menahan diri. 17:55 Ehm. 17:55 Dampak dari mereka menahan diri 17:59 ini eh mengakibatkan perbankan kembali 18:02 lagi pergi ke SRBI, perbankan pergi lagi 18:04 ke SBN. 18:06 Ehm. 18:06 Artinya duit rakyat lagi yang dihisap 18:08 begitu ya posisinya. Nah. 18:10 Dampak lebih lanjutnya adalah 18:12 si korporasi yang tidak mencairkan itu 18:14 juga melakukan efisiensi. 18:17 Nah efisiensi yang paling dekat adalah 18:19 PHK. 18:20 Ehm. 18:21 Nah dampak yang sama ketika kita 18:23 ngelihat terjadi persaingan suku bunga 18:26 antara Fed Fund Rate, SRBI, SBN dan 18:28 bunga deposito 18:30 itu mengakibatkan pihak yang membutuhkan 18:32 dana untuk pembiayaan dalam hal ini 18:35 kelas menengah begitu ya itu juga 18:37 ketakutan. 18:39 Ehm. 18:39 Bunga tinggi, risiko bisnis enggak pasti 18:42 begitu ya, risiko politik tinggi ya 18:44 sudah mereka menahan diri pun. Ya sudah 18:46 begitu jadinya. Berlipat itu. 18:47 Wait and see. 18:48 Nah di situ kelihatan 18:49 Ehm. 18:50 di situ kelihatan relasi antara moneter, 18:52 fiskal dan sektor riil. 18:54 Ehm. 18:55 Jadi jangan bilang dia akan bisa 18:57 menurunkan 18:58 kan terakhir pun BI menyatakan melalui 19:00 himbara kami akan turunkan 400 triliun 19:02 jadi bukan lagi 200 triliun begitu ya. 19:04 Iya. 19:04 Nah bagaimana diturunkan 400 triliun? 19:07 Duit apaan begitu 19:07 kredit yang sudah disediakan tapi tidak 19:09 dicairkan saja 19:11 Ehm. 19:11 begitu ya undisbursed loan tadi gitu 19:14 mencapai tetap tidak bergeser 19:16 tetap 2548 triliun 19:18 nah itulah di situ 19:20 mengindikasikan 19:24 perekonomian jalannya tersendat gitu 19:27 tapi dibantah sama mereka enggak bisa 19:29 pertumbuhan ekonomi sekarang 5,2 kan 19:31 gitu ya 19:31 iya itulah 19:32 5,2 19:33 ya rating turun 19:34 persoalan persoalan data 19:37 iya 19:38 di sini 19:39 muncul persoalan data data siapa yang 19:41 akurat loh mereka bilang Widanantara 19:44 bisa meraih keuntungan tinggi persoalan 19:46 pokoknya 19:48 danantara bisa meraih keuntungan sampai 19:50 ratusan triliun sampai katanya 9 kali 19:52 lipat atau berapa kali lipat saya tidak 19:53 tahu 19:54 ada yang 9 kali lipat kalau enggak salah 19:56 apa ya 19:57 eee 19:59 a saya lupa ada salah satu BUMN gitu ya 20:02 disebut dalam pidato itu 9 kali lipat 20:05 kenaikannya 20:07 harus kita lihat sekarang 20:09 laporan keuangan yang audited sudah ada 20:11 belum gitu 20:14 [tertawa] 20:15 laporan keuangan yang audited sudah ada 20:17 belum nah kalau dibilang laporan audited 20:19 itu sudah ada kenapa danantara tidak 20:22 mengemukakan keuntungan yang didapat ini 20:24 didasarkan atas laporan audited dari 20:25 masing-masing BUMN 20:29 itu muncul pertanyaan-pertanyaan besar 20:31 itu 20:32 jadi atas dasar perhitungan kayak gimana 20:35 danantara yang katanya sudah berhasil 20:36 menghimpun keuntungan 20:38 itu dasarnya apa dasar perhitungannya 20:40 gimana laporannya apa 20:42 gitu laporan audited oke kalau dibilang 20:44 laporan audited karena ini terbuka baik 20:46 karena laporan audited terbuka maka 20:48 pertanyaan besarnya menjadi mana 20:50 konsolidasi dari laporan yang 20:52 masing-masing sudah audited tadi atau 20:54 katakan sekarang mana laporan yang belum 20:56 audited terus dikonsolidasi gitu nah ini 20:58 contohnya panjang nih nah itu yang 21:00 menimbulkan ketidakpercayaan 21:03 itu melihat melihat yang lebih dalam 21:06 [tertawa] 21:07 iya 21:07 Kondisinya. Nah, jadi ketika kita 21:09 melihat kelas menengah tetap eh 21:12 Sebenarnya bukan data baru itu. 21:15 Bukan data 29 Agustus yang kemarin 21:17 muncul. Itu data lama karena sudah saya 21:19 presentasikan ke mana-mana. Soal 21:22 kejatuhan kelas menengah. 21:23 Bahkan kelas menengah yang rentan miskin 21:25 pun turut anjlok gitu loh. 21:28 Kenapa? Tadi ketidakmampuan daya beli 21:30 gitu. 21:31 Yang miskinnya ke mana? Mungkin jatuh 21:33 lagi begitu gimana? 21:34 Apa? 21:34 Mungkin lebih ke bawah. Ah, tapi kan 21:36 mereka bilang kemiskinan sudah 21:37 berkurang. 21:39 Ah, coba Bank Dunia bilang enggak bisa 21:40 Anda negara 21:42 eh middle income 21:45 middle upper gitu ya. 21:46 Upper middle income. 21:48 Eh middle lah. Jadi kelas menengah atas 21:51 gitu. 21:52 [berdehem] 21:53 Eh 21:54 Itu ada kalimat 21:55 upper middle income gitu, middle upper 21:57 gitu. 21:58 Terjebak [berdehem] 21:59 di middle income. 21:59 atas 22:00 Maksudnya apa terjebak di middle income 22:02 ini? 22:04 Yang masuk yang dia mereka sebut dengan 22:07 dengan struktur atas, menengah atas, 22:11 menengah, menengah bawah dan bawah dan 22:13 sangat bawah ke lima kelas tadi itu 22:15 sebenarnya menggunakan data Bank Dunia 22:17 yang akhirnya dengan data Bank Dunia 22:20 Indonesia kelas 22:21 miskinnya ini tertinggi dibanding 22:23 Asia. 22:24 Jumlahnya 64,2%. 22:27 Ah, itu karena Bank Dunia 22:29 mengubah mengubah posisi Indonesia 22:32 dari kelas menengah bawah menjadi kelas 22:34 menengah atas. 22:35 Selompatnya dua kali. 22:36 Gitu. Kan mestinya 22:38 mestinya kan eh 22:40 menengah menengah bawah, menengah, 22:41 menengah atas gitu. 22:43 Menengah cenderung ke atas dengan 22:45 indikator sekian eh eh 22:47 4.000 sekian lebih 22:49 eh PDB-nya. Nah, begitu masuk ukuran PDB 22:52 muncul problematik. 22:55 Kalau begitu 22:56 kenapa utang berdasarkan teori Bank 22:59 Dunia 23:00 itu 23:02 per tahunnya dihitung dengan PDB. Kenapa 23:05 tidak dihitung berdasarkan perpajakan? 23:07 Ehm. 23:08 Kalau dalam perbankan Anda tidak boleh 23:11 pinjam 23:12 lebih dari 30% dari pendapatan per 23:14 bulan, gitu ya. 23:16 Kenapa di di 23:19 negara perhitungannya 23:21 utang 23:23 dihitung dengan PDB, seolah itu sebagai 23:25 pendapatan. Padahal pendapatan konkret 23:27 bukan di PDB. 23:28 Ehm, ehm. 23:29 Pendapatan konkret ini perpajakan. Logis 23:31 enggak? 23:32 [tertawa] 23:34 Iya. 23:36 Enggak, enggak, enggak. Saya saya cuma 23:37 saya cuma ingin menyatakan tidak 23:39 logiknya rumus-rumus yang dibangun oleh 23:41 Bank Dunia, gitu loh. 23:42 Ehm. 23:43 Sama seperti dulu ketika mereka bangun 23:45 30%, sekarang mereka bikin 40 60% gitu. 23:49 Iya kan? 23:50 Ehm. 23:51 Bagaimana mereka mengubah 30% ke 60%? 23:53 Yang kedua kemudian dengan posisi 60% 23:56 disebabkan mereka ngitungnya pada PDB, 23:58 gitu. 23:59 Eee berapa 24:00 eee pendapatan negara, utang negara 24:04 dibanding dengan PDB. Sekarang utang 24:05 negara sudah mencapai 10.000 293 triliun 24:10 lebih, gitu. 24:11 Ehm. 24:11 Dengan suku bunga bergerak 6,9 sampai 24:13 dengan 7,2. 24:15 Mantap. 24:15 Ya sudah, yang orang kaya makin kaya, 24:17 miskin makin miskin, gitu. 24:20 Karena karena yang diutangkan APBN, apa 24:23 eee 24:24 apa apa eee surat-surat utang itu yang 24:26 beli orang kaya, begitu. 24:28 Yang bayar pajak rakyat, begitu. 24:30 [berdehem] 24:31 Betul. Iya, begitu. Jadi eee cicilan 24:34 bunganya yang bayar melalui pajak 24:35 rakyat. Makanya karena yang bayar adalah 24:37 pajak rakyat disebabkan APBN 82% 24:40 tergantung pada perpajakan, gitu ya. 24:42 Pada penerimaan perpajakan, kalimatnya 24:45 begitu. 24:45 Maka mestinya kita ngukurnya 24:47 bukan utang per PDB, gitu. Tapi utang 24:51 per penerimaan perpajakan, gitu 24:53 logikanya. 24:54 Baru logis, waduh. Nah, dari situ 24:58 dari situ kita dapat angka sahih. 25:00 Angka sahihnya adalah 25:02 APBN 25:04 sudah tertekan di atas 35%. 25:07 Ehm. 25:08 Untuk 2027 saja hitungan saya mencapai 25:11 35,46%. 25:14 Oh. 25:14 Untuk 2026 yang angka 25:17 defisitnya lebih tinggi, pasti lebih 25:18 tinggi gitu. 25:20 Ehm. 25:20 Nah, ini yang yang 25:22 Mau cemburu waktu ya. 25:25 [tertawa] 25:26 Artinya eh dengan posisi begitu kan kok 25:28 Anda berani tetap berani buka utang gitu 25:30 loh. Anda tetap berani menciptakan utang 25:32 baru gitu. Nah, misalnya kalau kita 25:35 bicara beberapa bulan lalu angka utang 25:38 kita 9.920 25:40 triliun. 25:41 Sekarang posisinya sudah 10.293,29 25:46 misalnya begitu ngomongnya. Itu kan 25:47 artinya Anda menciptakan utang baru 25:49 hanya karena 25:51 defisit APBN tidak bisa Anda atasi lewat 25:53 perpajakan. Defisit APBN tidak bisa Anda 25:55 atasi lewat namanya penerimaan negara 25:57 dari sumber daya alam. 25:58 Padahal sumber [berdehem] daya alamnya 25:59 telah menciptakan sejumlah konglomerat 26:02 menjadi orang kaya. 26:04 [tertawa] 26:05 Apa ini pula yang menyebabkan pemerintah 26:07 tidak mau memakai uang IMF ya? Karena 26:10 kan nanti banyak aturan-aturan yang 26:12 merengsekkan negeri ini. Itu macam mana, 26:14 Bang? Kan statement hari ini Pak Prabowo 26:17 mengatakan tidak akan memakai utang dari 26:19 IMF. Bagaimana, Bang? Hubungan dengan 26:21 lembaga ekonomi dunia ini. 26:23 Eh. 26:25 Saya kebetulan punya pengalaman mendalam 26:28 gitu ya. 26:28 Ehm. 26:29 Dengan persoalan IMF gitu. Karena 26:32 salah satu pengalaman saya adalah kami 26:34 menggugat IMF di International Tribune. 26:37 Ehm. 26:37 Disebabkan resep pemulihan ekonominya 26:41 salah. 26:42 Ehm. 26:44 International Tribune menolak karena 26:46 gugatan mestinya bukan datang dari warga 26:47 negara. 26:49 Ehm. 26:49 Tapi datang harus dari negara. Dan 26:51 karena itu IMF kemudian minta maaf. 26:53 Padahal akibat IMF gitu ya, 26:56 ekonomi kita seperti sekarang amburadul. 26:59 Ekonomi kita sudah diserahkan ke tangan 27:00 swasta sebagian besar. 27:03 Jadi ada beberapa kesalahan-kesalahan 27:05 struktural mendasar. Saya ulang ya. 27:07 Ada kesalahan-kesalahan struktural 27:09 mendasar dari anjuran IMF terhadap 27:12 Indonesia ketika kita kemarin krisis. 27:15 Dan karena itu kami menggugatnya ke 27:16 International Tribune. 27:18 Dan IMF dan International Tribune 27:21 menolak karena gugatan tidak karena 27:23 keanggotaan jadi legal standing-nya 27:26 istilahnya. Legal standing-nya bukan 27:28 warga negara tapi legal standing-nya 27:30 negara. 27:31 Tapi kemudian IMF minta maaf. 27:34 Karena [berdehem] kami membuktikan kami 27:36 21 orang waktu itu gitu ya. 27:38 Eh ada 27:40 ada Hartoyo, ada Rizal Ramli, ada Sri 27:43 Edi Swasono, saya dan 27:46 beberapa pihak lain gitu ya. Ada Amin 27:48 Aryoso, Al Maktum gitu. 27:50 Nah 27:50 [berdehem] 27:52 dari sana sebenarnya kita belajar 27:54 bahwa tidak seluruh resep Barat itu 27:57 ampuh gitu. 27:58 Tidak seluruh resep Barat itu mustajab 28:01 gitu. 28:02 [tertawa] 28:03 Dan tidak dengan resep Barat yang tidak 28:05 mustajab itu maka mestinya kita juga 28:07 belajar bahwa konsep-konsep Barat itu 28:12 tidak seluruhnya mustajab, tidak 28:13 seluruhnya ampuh. Dan dalam kajian saya 28:18 gitu ya 4 Juli 20 24 28:21 dalam pertemuan ulama se-Asia Tenggara 28:25 saya menyatakan gagalnya Barat se-abad 28:29 dilihat dari indikator luruhnya 28:31 keluarga, luruhnya nilai-nilai 28:33 kemanusiaan pada manusia dan sementara 28:37 segelintir orang menguasai eh 28:40 PDB dunia. 28:41 Dan itu ditunjukkan oleh 28:44 temuan 28:45 Stiglitz, temuan Thomas Piketty, temuan 28:48 Michael Hudson gitu ya, 28:50 He eh. 28:50 eh data-datanya. Begitu juga saya 28:52 tunjukkan dari risetnya Pew Research dan 28:54 Gallup gitu. 28:55 Dan ketika saya gunakan data itu dalam 28:57 perspektif ekonomi politik, 29:00 ekonomi politik dari rujukan 29:03 National Security Strategic of US dan 29:05 National Defense Strategic of US, 29:07 ChatGPT AI tidak bisa menolaknya dan 29:10 mengatakan, 29:11 Ya. 29:12 kajian Anda benar. 29:14 [tertawa] 29:14 Sahih. 29:17 Ya. 29:17 Ya. 29:18 Nah, dari [berdehem] sana saya ingin 29:19 mengatakan ke pendengar Rasional, 29:22 ke pemirsa Rasional TV, 29:24 kok ya sudah tahu begitu kita masih 29:27 masih bicara 29:29 ganti rezim gitu, sementara sistem 29:31 dibiarkan. Padahal sudah berkali-kali 29:34 saya bilang ini sistemnya amburadul 29:36 enggak karu-karuan. 29:37 Iya. 29:37 Ini sistemnya sistem yang salah gitu. 29:40 Siapapun rezimnya. 29:41 He eh. 29:42 Siapapun rezimnya, sama seperti saya 29:44 bilang 29:45 He eh. 29:45 tulisan saya, siapapun gubernurnya, 29:47 He eh. 29:48 siapapun gubernur BI-nya, akan tetap 29:50 yang namanya rupiah tidak akan pernah 29:51 bisa menguat. 29:53 He eh. 29:53 Tidak akan pernah yang namanya inflasi 29:55 bisa terkendali penuh 29:56 He eh. 29:56 gitu. Kenapa? Karena kita menempatkan 29:59 sistem 30:00 menggunakan sistem yang tunduk pada 30:02 aturan-aturan yang mereka buat gitu, 30:05 yang kita adopsi dalam undang-undang. 30:07 He eh. 30:07 Begitu juga siapapun presidennya, 30:10 He eh. 30:10 dia enggak akan bisa menarik relasi 30:11 kental antara fiskal, moneter dan 30:13 sektoral dalam rangka kemandirian 30:16 ekonomi nasional. Saya enggak bicara 30:17 kedaulatan ya. 30:18 He eh. 30:19 Saya bicara kemandirian [berdehem] saja. 30:20 Kemandirian saja, belum sampai ke sana. 30:22 Belum sampai kedaulatan. 30:24 He eh. 30:24 Jadi, siapapun presidennya, siapapun 30:27 yang namanya 30:28 gubernur BI-nya, siapapun menteri 30:30 keuangannya, siapapun menteri SDM-nya 30:33 gitu ya, 30:34 siapapun 30:35 [tertawa] 30:35 menteri perdagangan, menteri 30:36 perindustriannya, eh 30:39 tambah lagi dengan katakan menteri 30:41 koper, eh tambah koperasi sih, enggak 30:42 usah dihitung, ya. 30:43 [tertawa] 30:45 Akan begitu, betul? 30:48 Akan begitu, enggak akan pernah bisa 30:49 keluar dari, eh, istilah saya terjerat 30:52 di jalan sesat, begitu. 30:54 Hanyut dalam kebodohan, begitu, ya. Eh, 30:57 terjerat di jalan sesat. Dan itu terus 30:59 bergulir. Dan ini bukan langkah kajian 31:02 saya baru, ini kajian sudah sudah sejak 31:05 yang namanya tahun 2004. 31:07 Nah, ketika kita tahu akhirnya sekarang 31:09 kelas menengah jatuh, daya beli tidak 31:11 meningkat, begitu. Sumber daya alam 31:14 dikuasai oleh korporasi. Eh, tekanan 31:17 utang luar negeri tinggi, nilai tukar 31:19 berantakan. 31:20 Eh, moneter ter-dikte. 31:23 Eh, ya sudah. 31:25 Anda mau ngomong apa, begitu? Runtunan 31:27 data itu Anda tidak bisa pungkiri. Dan 31:30 itu yang saya bilang 31:31 lima sistem, eh, lima item yang membuat 31:34 kita 31:35 terjerat dalam dalam jalan sesat itu. 31:38 Lima item yang membuat kita 31:40 seperti wawancara kita beberapa waktu 31:43 lalu. 31:44 Lima sistem yang membuat kita enggak 31:46 bisa keluar, 31:47 dari sistem perekonomian yang ter-dikte, 31:49 begitu. 31:50 Melihatnya. 31:51 [berdehem] 31:52 Masya Allah. 31:54 Kalau ngelihat kayak begini, Bang, kita 31:56 ini jadi garuk-garuk kepala. Tapi di 31:59 lapangan, ya, 32:00 ramai orang, macet, jualan, pasar penuh, 32:03 ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa 32:06 mereka sedang hibernasi atau apa, ya, 32:09 eh, survive survival dalam perjalanan 32:12 hidupnya sekarang ini? Manusia kan harus 32:14 terus bergerak. Apa yang Bang Isanuddin 32:16 Nursy bisa berikan pencerahan untuk 32:19 pendengar di antara berbagai keburukan 32:21 yang ada ini, Bang? 32:23 Ada 32:25 ada tiga fenomena penting. 32:28 Ada tiga peristiwa penting yang perlu 32:30 kita lihat. 32:32 Mereka tetap pergi ke mal, tapi terbatas 32:34 untuk belanja barang. Mereka pergi dalam 32:35 rangka ngelihat-ngelihat, menghibur 32:37 diri, dan kalaupun sedikit bisa ada duit 32:40 makan. Oke. 32:41 Oh. 32:41 Gitu. 32:42 Oh. 32:43 Maka hampir semua resto, 32:45 Ehm. 32:45 hampir semua tempat kopi ramai. 32:48 Karena mereka sudah tidak bisa lagi 32:49 menghibur diri ke mana-mana kecuali 32:50 pergi ke kafe, pergi ke resto, 32:53 Ehm. 32:53 pergi ke mall dalam rangka 32:56 Ehm. 32:56 Itu fenomena pertama. 32:59 Fenomena kedua, gitu ya. 33:02 Ehm. 33:02 Sebenarnya dengan indikator 33:04 indikator pameran mobil 33:06 Oh, iya. 33:07 yang peminatnya juga terbatas, gitu ya, 33:09 pembelinya terbatas, itu mengindikasikan 33:11 bahwa memang perekonomian tersendat. 33:13 Ehm. 33:14 Juga Anda bisa lihat misalnya pada 33:15 pembelian motor, gitu. 33:17 Ehm. 33:18 Itu gambaran ekonomi tersendat. Nah, 33:20 fenomena ini menggambarkan 33:23 ada kesalahan alokasi dalam belanja. 33:27 Kesalahan alokasi itu nampak pada 33:28 persoalan MBG. 33:30 Ehm. 33:31 Nampak itu pada persoalan KDMP. 33:33 Ehm. 33:33 Nampak pada persoalan 33:35 APBN tidak terima lagi dana dari 33:39 BUMN sebagai bagian dari kekayaan yang 33:41 dipisahkan. 33:42 Tapi 33:43 Kekayaan negara yang dipisahkan namanya. 33:44 Tapi dipaksa tuh 33:45 Masuknya ke dana negara. 33:47 Dipaksa kirim katanya 120 triliun. 33:50 [berdehem] 33:50 DPR 33:51 Dia kirim tak ah, dibanding sama 33:53 angka-angka sebelumnya kan belum ada 33:55 apa-apanya. 33:57 Jadi 33:58 ah, dia tidak sekedar kayak 34:01 120 triliun dibanding dengan angka APBN 34:04 penerimaan APBN yang mencapai 3.000 34:06 sekian. Itu kan kecil sekali. 34:08 Ehm. 34:09 Ehm. 34:09 Kecil sekali enggak ah. 34:10 Ehm. 34:11 Ehm. 34:11 Ya. 34:12 Ehm. 34:13 10% aja enggak nyampe gitu kalau 34:15 ngambilnya kayak gitu-gitu. Nah, 34:18 [berdehem] 34:18 dari situasi yang begitu gitu, 34:20 fenomena berikutnya adalah fenomena 34:24 di mana 34:25 ah ada ketidakadilan. 34:28 Misalnya ketika Anda bicara tentang 34:30 undang-undang 34:32 PP K 34:33 Ehm. 34:33 bahwa pasal 50 A nya 34:36 mereka terbebas dari tuntutan hukum 34:38 kalau mereka membeli Patriot Bond dan 34:40 Merah Putih Bond gitu misalnya. 34:42 Ehm. 34:42 Saat yang sama kita menyaksikan ada 34:44 korupsi yang besar-besaran gitu loh. 34:45 Jadi 34:46 Ehm. 34:46 jadi 34:47 ada ada tindakan hukum yang memang 34:50 berbeda perla pelayanan hukum yang 34:52 berbeda. Ada keten jadi rule of law nya 34:55 itu nah di sini menarik nih. 34:57 Ehm. 34:58 Rule of law nya itu 35:00 tidak menggambarkan 35:02 satu 35:03 rasa keadilan. 35:05 Jadi sejak yang namanya pembuatan 35:07 undang-undang dan pelaksanaan 35:09 undang-undang itu yang muncul adalah 35:11 ketidakadilan. 35:12 Maka penegakannya pun ketidakadilan 35:14 jadinya. 35:16 Iya. 35:17 Jadi kepada ketika sektor ekonomi 35:19 memberikan gambaran penegakan dari 35:21 perancangan, 35:23 pembuatan dan pelaksanaan hukum yang 35:24 tidak adil dan karenanya penegakan 35:27 menjadi tidak adil, maka masyarakat akan 35:29 membuat juga satu sikap tidak adil 35:31 terhadap pemerintah. 35:33 Kenapa? Karena tiga hal. 35:35 Yang pertama, yang pertama 35:37 kedaulatan sudah mereka serahkan lewat 35:39 partai politik, partai politiknya tidak 35:41 mewakili mereka. Satu. 35:43 Ya, satu. Yang kedua 35:45 mereka sudah membayar lewat pajak, tapi 35:47 uang pajak dipakai untuk bermewah-mewah. 35:50 Tidak juga dalam rangka menyejahterakan 35:52 mereka. Gitu ya. 35:53 Ehm. 35:54 Ehm. 35:55 Kalau dibilang bangun infrastruktur 35:57 Bank Dunia membuktikan pembangunan 35:59 infrastruktur cuma turun 0,3%. 36:03 Sri Mulyani waktu Menteri Keuangan cuma 36:04 menyebut 36:06 iya, kita tetap tidak mampu bersaing 36:08 biaya logistik kita dengan negara dengan 36:10 negara tetangga. 36:12 Artinya apa? 36:13 Capital incremental capital output ratio 36:15 nya tinggi. Apa poinnya? Ada korupsi. 36:18 Ehm. 36:19 Gitu kan? 36:19 Iya. 36:19 Kita ngelihat jadi di situ. 36:21 Ehm. 36:21 Nah kalau kita ngelihatnya begitu gitu 36:23 ya 36:24 tambahan lagi sekarang 36:26 eh fenomena berikutnya 36:28 korupsi besar-besaran itu gitu ya. 36:31 Acapkali. 36:32 Salah. 36:34 Salah treatment gitu, mistreatment, 36:36 distreatment gitu. Ada yang dapat 36:39 hukuman tinggi. Ada yang dapat yang 36:41 mestinya tidak proses hukum, proses 36:43 hukum. Tergantung penegakan hukum. Dan 36:46 pada saat yang sama terjadi namanya gitu 36:49 ya. 36:49 Persaingan penegakan hukum antara. 36:52 CSW 36:54 gitu kan. 36:55 Trunojoyo dan Pojok Kuningan gitu, itu 36:58 gimana tuh? 36:59 [tertawa] 37:01 Iya. 37:02 Saya saya menyebutnya di di sebuah TV 37:05 swasta sebagai. Upper [berdehem] 37:07 lighting, tapi pada hakikatnya sama 37:08 sesungguhnya gambaran. Di situ gambaran 37:11 persaingan gitu, gambaran persaingan 37:13 penegakan hukum. Padahal penegakan 37:15 hukumnya tadi sudah bermuatan seperti 37:17 itu. Di bidang ekonomi dia sudah 37:19 mencerminkan rasa ketidakadilan gitu. 37:21 Ngeliyatnya begitu. Nah, ada problem 37:24 besar di situ. Problem besarnya di situ 37:25 apa? Ini yang saya sebut sebagai 37:27 kesalahan sistem nih. 37:29 Apa Bang? 37:30 Di DPR dia tidak menggambarkan. 37:33 Genuine atau truth. 37:36 Representasi. Representatif gitu ya. Dia 37:39 tidak menggambarkan genuine atau true 37:41 representatif. 37:42 Di eksekutif sama. 37:44 Dia tidak menggambarkan. 37:46 Satu genuine atau true governance 37:50 sehingga. Ketika mereka berdua bikin 37:53 bikin public policy, bikin kebijakan 37:54 publik. Dengan menggunakan otoritasnya 37:56 maka otoritasnya otoritas semu. 37:59 False authority. Gitu, kalau dalam 38:01 bangunan berpikir saya. Ini bagian dari 38:04 kedua DPR dan eksekutif. Telah 38:07 melahirkan satu. Model. 38:10 Tata kelola yang. 38:12 Berbasis pada otoritas semu. 38:15 [berdehem] 38:15 Jadi tata kelolanya berbasis otoritas 38:17 semu, saya sebutnya sebagai false 38:18 authority. Nah, ketika berpindah ke 38:20 pengadilan dia menjadi false certainty. 38:24 Gitu loh. 38:25 Keyakinan kepastian hukum yang semu, 38:28 padahal otoritasnya otoritas yang semu. 38:30 Nah, 38:31 itu yang kemudian dicitrakan ke 38:33 masyarakat sehingga tadi eh approval 38:37 rating-nya menurun. 38:38 Ehm. 38:39 Gitu. Approval rating menurun itu harus 38:42 dilihat dari situ. Nah, saya menyebut 38:44 ada tambahan lagi. 38:46 Oke. 38:46 Anda eh tadi ditanya soal tim 38:48 komunikasi. Di sebuah TV swasta yang 38:50 saya sebut 38:51 Anda Anda kelihatannya tidak denial. 38:54 Tapi sesungguhnya orang menangkap bahwa 38:57 gitu ya. 38:58 Ehm. 38:59 Bahwa 39:00 implicit message Anda 39:02 pesan terselubung Anda gitu ya. 39:04 Ehm. 39:04 Jadi ada pesan pesan ada pesan tersurat 39:07 pesan tersirat Anda implicit message-nya 39:11 itu Anda denial. 39:13 Ehm. 39:14 Anda menyangkal gitu. Ah, bayangkan 39:17 pidato kenegaraan 39:19 14 Agustus 2026, "Saya tidak diamanatkan 39:23 untuk berkomunikasi. Saya diamanatkan 39:26 untuk bekerja." 39:27 Itu salah kalimat itu. 39:30 Ehm. 39:32 Itu salah kalimat itu salah. 39:35 [berdehem] 39:35 Iya, itulah pentingnya narasi ya. Aduh. 39:38 [tertawa] 39:39 Ehm. 39:39 Jadi jadi eh pembuat naskah pidatonya 39:42 itu enggak ngerti. 39:44 Ehm. 39:45 Bahwa komunikasi itu 39:47 bagian dari interaksi sosial. 39:51 Dan interaksi sosial itu ketika cara 39:54 salah, dia melahirkan antipati. 39:57 Ehm. 39:57 Ini yang tidak dipahami dengan baik 39:59 dengan cantik oleh namanya para ahli 40:01 komunikasi yang ada di pemerintahan. 40:05 Bakom itu. 40:05 Enggak bisa. Anda membantah misalnya 40:08 Kodari melawan si Fatimah Zahra pakai 40:10 pendekatan kuantitatif pakai Coba kasih 40:13 angka kasih angka kasih angka. Itu 40:15 kuantitatif. Seolah-olah segala sesuatu 40:17 bisa di angkakan. Memang Anda bisa meng 40:19 meng mengangkakan kepuasan sesungguhnya 40:22 merepresentasikan kepuasan itu angka? 40:24 Enggak juga. 40:26 Mmm. 40:26 Ada sense yang tidak bisa Anda 40:28 kuantitatifkan. Ada rasa yang Anda tidak 40:31 bisa kuantitatifkan. 40:32 Rasa keimanan itu enggak bisa 40:34 dikuantitatifkan. Rasa keyakinan itu 40:36 tidak bisa dikuantitatifkan. Kepuasan 40:39 boleh dikuantitatifkan, tapi dia tidak 40:42 full dikuantitatifkan. Ini kan disertasi 40:45 saya tentang tentang hal kayak gini gitu 40:47 ya. 40:47 Mmm. 40:48 Perdebatan tajam misalnya tentang moral 40:50 hazard, ini disertasi saya di sini. 40:51 Moral hazard dalam ekonomi. Dalam 40:53 ekonomi itu saya masuk dalam perbankan 40:55 dan APBN. 40:55 Mmm. 40:56 Itu saya dihajar habis. 40:58 Bagaimana Anda membuat 41:00 mengkuantifikasikan katanya 41:03 eh moral hazard gitu. Moral hazard itu 41:05 eh perilaku tidak bermoral para pejabat, 41:08 perilaku tidak bermoral para pelaku 41:10 usaha gitu ya. Karena merasa sudah 41:12 dijamin selesai sehingga mereka berbuat 41:13 seenak-enaknya. 41:14 Saya bilang 41:16 ini proksi 41:17 untuk menunjuk sebuah indikasi. 41:20 Ah gitu. Maka saya bikin tuh 41:22 rumus-rumusnya. Rumus di APBN-nya saya 41:24 bikin, rumus di perbankannya saya bikin. 41:27 Bagaimana moral hazard dalam perbankan, 41:29 bagaimana moral hazard dalam APBN. 41:32 Gitu. 41:32 Mmm. 41:33 Misalnya begitu. Keberanian mereka bikin 41:35 cipta utang baru misalnya. 41:36 Mmm. 41:37 Menciptakan utang baru 41:38 tanpa menghitung pendapatan penerimaan 41:40 negara terhadap yang namanya eh utang 41:43 gitu misalnya. Kan mestinya tadi 41:45 rumusnya adalah penerimaan negara 41:47 terhadap utang. 41:48 Sehingga menggambarkan kemampuan APBN 41:50 membayar cicilan pokok dan bunga tiap 41:52 tahun gitu misalnya. 41:54 Ketika mereka melanggar itu, itu bagian 41:56 dari moral hazard. Kenapa? Karena mereka 41:58 masih merasa udahlah toh 42:00 Utang terus. 42:00 ukurannya dibangun oleh IMF 60% 42:03 itu moral hazard. 42:06 Itu contoh-contohnya begitu-begitu loh. 42:08 Contohnya. Di perbankan moral hazard 42:10 juga. Udahlah 42:11 eh tabungan sudah dijamin oleh LPS 2 42:13 miliar, enggak apa-apa juga. Ah, tapi 42:15 seluruh perbankan diukur sekarang secara 42:17 ketat. Itu yang disebut dengan sampai 42:19 seberapa jauh tingkat ketahanan ekonomi, 42:22 baik moneter maupun fiskal, mesti 42:23 diukur. Ada ukurannya. Nah, ketika 42:26 ukuran itu 42:28 memberi petunjuk, 42:29 maka dia muncul di rasa. Benar enggak 42:32 kayak gitu? Begitu. Tapi tadi pertanyaan 42:35 Aisyah Thalib tentang masyarakat masih 42:37 tetap pergi ke sana kemari, masyarakat 42:39 masih tetap banyak Ya, iya, itu bagian 42:41 dari sesungguhnya 42:43 eh 42:45 satu bentuk perlawanan 42:47 diam. 42:48 Ehm. 42:49 Satu, mereka mereka tidak mau bayar 42:51 pajak juga, tapi walaupun mereka 42:53 dikungkung oleh pajak sedemikian rupa 42:55 gitu ya. 42:55 Ehm. 42:55 Dikungkung oleh Tapi mereka pada 42:57 hakikatnya juga tidak tidak ada 42:59 keikhlasan untuk bayar pajak. 43:01 Iya. 43:02 Nah, ketika sistemnya riba dengan 43:04 pemberian kayak gitu, maka negara itu 43:06 tidak berkah, begitu ujungnya. 43:09 Masyaallah. 43:09 Contohnya di situ, negara tidak berkah, 43:11 begitu. 43:12 25 menit sudah-sudah ini, Bang. 43:14 Insyaallah, masyaallah, luar biasa, 43:16 masyaallah. 43:16 terakhir ya. 43:17 Silakan. 43:17 Terakhir. 43:18 Ehm. 43:20 Kalau kita bicara, ini masih masih awal 43:23 September, begitu ya. 43:25 [berdehem] 43:26 Masih bulan baik. 43:28 Masih dalam waktu-waktu yang baik. Kalau 43:29 kita mau bicara 43:31 negara gemah ripah loh jinawi, 43:34 negara yang berkeadilan sosial, 43:37 lalu ada orang ribut soal 43:39 eh bagaimana Unhan menolak berjilbab, 43:42 begitu ya. 43:43 [berdehem] 43:43 Sebab entah 43:45 Entah gimana ceritanya. 43:46 Terus ada orang 43:47 Ehm. 43:48 bisa baca Ad Dhuha dikasih minuman 43:49 keras, begitu misalnya. 43:51 Oh, bisa. Ehm. 43:52 [tertawa] 43:53 Jadi, 43:54 itu menggambarkan bahwa sesungguhnya 43:58 telah terjadi 44:00 eh 44:01 [berdehem] 44:02 deepening conflict, begitu ya. Konflik 44:04 yang mendalam. 44:06 Deepening conflict dalam kondisi 44:08 masyarakat Indonesia yang tidak mampu 44:10 diselesaikan oleh pemerintah. 44:14 Deepening konflik ini karena 44:17 sejak kita 44:18 eee 44:20 menyetujui RIS gitu ya 44:22 sampai akhirnya sekarang 44:24 kita betul-betul telah 44:26 mengkhianati, kalau pakai bahasa saya, 44:29 Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. 44:32 Perdebatan-perdebatan kita 44:33 perdebatan-perdebatan yang akhirnya 44:35 eee kalau dalam bahasa saya melawan 44:37 Tuhan. 44:38 Eee. Dan setiap negara yang melawan 44:40 Tuhan kelihatannya kelihatannya saja 44:43 kaya raya seperti tingginya 44:45 gedung-gedung gitu ya. Ada orang yang 44:47 melaporkan tingginya gedung-gedung di 44:49 Shanghai, ada orang yang melaporkan 44:51 tingginya gedung-gedung di Nanjing, di 44:52 Beijing, eee di Hongkong, di Macau, eee 44:56 di Guangzhou, eee di mana-mana, termasuk 44:59 yang namanya juga di Amerika dan di 45:00 Eropa gitu ya. 45:02 Tapi pertanyaan mendasarnya, adakah pada 45:04 mereka sakinah? 45:06 Adakah pada mereka eee rasa tentram 45:09 damai di hidup mereka gitu? Eee eee 45:12 kedalaman hati. Nah, itu yang 45:14 yang akhirnya sekarang juga tidak 45:15 dimiliki oleh Indonesia. 45:18 Kasus kemarin eee eee demo 27 Agustus 45:22 yang mengakibatkan seorang meninggal, 45:24 itu kan gambaran nyawa manusia mati 45:26 karena kemudian masyarakatnya sudah 45:29 dalam posisi deepening konflik. 45:32 Ini bahasa bahasa saya enggak enak nih. 45:34 Saya mau ulang bahasa saya enggak enak, 45:36 deepening konflik. Konflik eee 45:38 masyarakatnya sudah mendalam 45:40 yang kemudian tidak diselesaikan oleh 45:41 aparat, bahkan aparat penegak hukum, 45:43 termasuk yang namanya pemerintahan, 45:45 seakan-akan 45:47 eee mengambil sikap 45:49 ya ya tidak posisinya upaya mencegah 45:52 gitu. 45:53 Ya, itu terjadinya pada malam hari 45:56 sementara sementara eee 45:58 aliansi masyarakat Pati Bersatu sudah 46:00 pulang pada tengah hari dan ribut dengan 46:02 ojol gitu loh. Mereka saling bersengketa 46:04 dengan ojol gitu. Nah, itu menunjukkan 46:07 eh konflik 46:09 sosial konflik gitu ya. 46:11 Iya. 46:12 Eh, dipending sudah mengalami 46:13 pendalaman. 46:14 Di 46:15 Nah, wawancara saya kali ini, obrolan 46:17 kita pagi ini eh mengingatkan kepada 46:20 semua kalangan kita tidak boleh 46:23 memperdalam. Mari kita dangkal kan, 46:25 bahkan mari kita selesaikan. 46:27 Iya. 46:27 Mari kita selesaikan. Dengan cara 46:28 gimana? Tadi. 46:30 Iya. 46:30 Eh, jangan menggunakan model komunikasi 46:32 yang tidak simpatik. 46:34 Saya ulang. Komunikasi Anda tidak 46:36 simpatik sama sekali. 46:37 Iya. 46:37 Eh, apakah anak-anak muda yang baru 46:39 duduk di badan komunikasi pemerintahan 46:41 gitu ya? 46:42 Iya. 46:42 Anak-anak muda yang merasa bisa 46:43 menguasai data tapi argumennya 46:46 argumennya yang dangkal gitu ya. 46:48 Iya. 46:48 Eh, jangan salah. 46:50 Angka-angka statistik itu tidak 46:51 merepresentasikan 46:53 eh ka- kuanti- kualitatif. 46:56 Ulang. 46:57 Iya. 46:58 Jadi, kalau menggunakan metodologi dan 47:00 konfigurasi sistemnya Ihsanudin Nursi 47:03 eh dalam metodologi yang saya bangun 47:06 dalam konfigurasi sistem yang saya 47:07 bangun gitu ya 47:09 betapa kita dalam posisi 47:11 tingkat konflik yang begitu mendalam dan 47:13 posisinya rentan. 47:14 Masya Allah. 47:15 Ah, itu yang mestinya diatasi. Saya kira 47:17 saya patut mengingatkan begini Akhisan 47:19 Talib supaya kita waspada 47:21 Iya. 47:21 supaya kita tetap menjaga keutuhan 47:23 bangsa ini sebagaimana saya tulis dalam 47:25 bangsa terbelah, saya tulis dalam 47:26 prahara bangsa. 47:28 Masya Allah. 47:28 Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu 47:30 alla ilaha illa anta astagfiruka wa 47:31 atubu ilaih. 47:33 Assalamualaikum warahmatullahi 47:34 wabarakatuh. Wa afwan minkum. 47:35 Assalamualaikum warahmatullahi 47:38 wabarakatuh.