Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 Brail [musik] TV. 0:13 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:15 warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma 0:17 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:19 sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita 0:21 berjumpa lagi hari ini, hari Kamis 0:24 tanggal 11 Rabiul Aal 1447 Hijriah atau 0:27 tanggal 4 September 2025 kita jumpa lagi 0:31 dalam bincang hijrah bersama Bang Habib 0:35 Husein dan juga nanti ada tamu 0:50 hilang suaranya 1:08 Halo. I asalamualaikum, Pakna. 1:16 Kami I. Oke, 1:19 Bangis silakan diberikan kata 1:22 pengantarnya tentang bagaimana kita 1:24 membuat branding yang yang 1:27 nempel gitu. 1:29 Silakan Mang Amb. 1:30 Pak Krishna terdengar suara saya Pak 1:32 Krishna? 1:32 Terdengar. Terdengar. Oke, terdengar 1:34 dengan baik. Silakan Bang Habib. 1:37 Mas Dedi 1:38 siap. 1:40 Oh, terdengar. Oke, siap. 1:44 Oke, bismillahirrahmanirrahim. 1:45 Asalamualaikum warahmatullahi 1:46 wabarakatuh. Terima kasih, Pak Krisna, 1:50 Mas Dadi Rahman, sahabat saya sekaligus 1:54 founder Katapedia, 1:56 praktisi branding senior 2:01 dalam perjalanan sebuah bangsa ee dan 2:04 bisnis. Ee citra ini penting sekali. Ini 2:08 modal yang tidak ternilai. Indonesia 2:09 hari ini menghadapi beragam dinamika 2:12 mulai dari perubahan ekonomi, 2:15 ekonomi global ee geopolitik ya, Rusia, 2:19 Amerika, China ya, belum lagi gejolak 2:22 sosial. Terakhir ini kita ngadapin ee 2:26 luar biasa gejolak di dalam negeri gitu 2:28 ya. Ee ini fenomena yang menarik ya yang 2:32 bisa kita kupas secara keilmuan dan 2:36 aplikasi kita sehari-hari. Nah, reputasi 2:39 ini bukan sekedar ee hasil dari kerja 2:41 keras. Bagaimana orang membangun 2:43 branding, membangun reputasi, nama 2:45 baiknya dia hancur dalam seketika. Ini 2:48 kita perlu hindari. Dalam 6070 menit ke 2:52 depan kita akan membahas bagaimana 2:54 menjaga membangun branding yang baik, 2:56 membangun branding yang tangguh sehingga 2:59 usaha kita, bisnis kita, nama baik kita 3:01 bisa tetap ee konsisten gitu ya. tetap 3:05 amanah yang kita jaga itu tetap berjalan 3:08 dengan baik sampai akhir- hayat kita. 3:09 Nah, jadi branding ini bukan sekedar 3:11 logo ee ini adalah seni membangun 3:15 persepsi yang berakar dari kejujuran dan 3:18 kebermanfaatan. 3:19 Jadi di tengah tantangan ini, Pak 3:21 Krisna, masyarakat, pelaku usaha, maupun 3:24 lembaga publik ini dituntut untuk jaga 3:26 citra agar tidak mudah goyah sekaligus 3:29 bisa merawat kepercayaan. 3:31 Jadi kita tetap grow, tetap tumbuh 3:33 bagaimana pada akhirnya brand yang kuat 3:36 adalah yang mampu menghadirkan 3:38 ketenangan, memberikan arah, dan 3:40 menumbuhkan keyakinan di banyak orang. 3:42 Hari ini kita membahas ee branding 3:45 dengan pakar ee branding ee senior. 3:51 Beliau 3:52 saya sebutnya king maker. 3:55 Jadi beliau ini 3:57 ee berada di balik ee 4:01 suksesnya Presiden 4:03 dan tokoh-tokoh politik. ee kebetulan 4:06 tokoh politik, tapi beliau ilmunya luas, 4:08 bisa diaplikasikan di di banyak ee 4:11 keilmuan lainnya. Insyaallah kita akan 4:14 membahas secara keilmuan. Menarik ee 4:17 fenomenanya kemarin ee ketika ada 4:21 beberapa tokoh yang berbicara 4:24 setelah itu ee maka berdampak signifikan 4:30 terhadap hidupnya dia karena satu dua 4:33 kalimat yang dia ucapkan gitu ya. itu 4:35 kita akan bahas secara ee keilmuan 4:38 terkait branding ini ya. Jadi hari ini 4:41 alhamdulillah ee ada Mas Dedi Rahman. 4:45 Mas Dedi 4:48 asalamualaikum. 4:50 Halo, Mas Dedi. Warahmatullah. 4:53 Ya, silakan Mas Dedi mungkin ditanggapi 4:55 fenomena yang ada. 4:57 Silakan tentang apa itu branding dan apa 5:01 setiap 5:03 terima kasih. ee Kang Habib. Kang Habib 5:07 [berdehem] memang ee di beberapa hari 5:11 terakhir ini, seminggu terakhir ini kita 5:13 memang mengalami ya kita diperlihatkan, 5:16 dipertontonkan oleh sebuah fenomena yang 5:19 cukup menarik dan 5:22 meresahkan juga sih sebenarnya karena 5:24 ini terkait dengan urusan ee nasib 5:27 bangsa juga. Jadi tidak hanya nasib ee 5:32 politisi yang bermasalah, tapi juga 5:34 karena politisi ini membawa nama bangsa, 5:38 jadi akan berefek pada ee bangsa, 5:42 seluruh anak bangsa, gitu kan. Ya, itu 5:44 yang terjadi. Dan dari sini kita juga 5:47 bisa melihat bagaimana 5:51 ee branding itu harus menjadi perhatian 5:55 terutama pejabat publik dan orang-orang 5:59 yang membutuhkan kepercayaan dari orang 6:02 lain. Branding sendiri saya bisa ee 6:07 kasih definisi yang simpel gitu ya. dia 6:11 adalah proses meningkatkan values agar 6:15 dipercaya. Jadi simpelnya seperti itu. 6:18 Jadi ada proses. Jadi tidak bisa instan 6:21 ya. Branding itu tidak bisa instan harus 6:24 punya waktu yang cukup gitu. Kemudian 6:28 meningkatkan values. Jadi ada proses 6:31 terus-menerus yang dilakukan untuk 6:34 ditingkatkan, yaitu values-nya. 6:37 VUS ini sebenarnya di bisa Indonesianya 6:40 nilai, bisa juga ee ee kebaikan-kebaikan 6:44 atau kebermanfaatan yang harus terus 6:47 dirasakan oleh ee orang-orang di 6:50 sekelilingnya. 6:51 Dan tujuan dari akhir sebuah branding 6:54 itu adalah agar dipercaya, trust. 6:58 sehingga apabila kemudian dalam 7:01 prosesnya gitu kan ya dalam prosesnya 7:04 ada kata-kata, ada perilaku yang justru 7:09 itu ee terbalik dari branding 7:13 sebelumnya, maka branding sebelumnya itu 7:15 akan hancur. Itu sebabnya Nabi kita 7:19 mengatakan, "Jagalah lisanmu, jagalah 7:21 lisanmu, jagalah lisanmu." 7:23 Karena sedikit aja tergelincir dengan 7:25 urusan lisan ini, apalagi 7:27 perilaku-perilaku buruk ya, lisan aja 7:30 itu bisa sangat menggelincirkan 7:33 ee personal branding kita 7:36 itu bisa berakibat fatal. Itu yang 7:38 terjadi kemudian dengan empat orang 7:40 anggota dewan ee mungkin lebih ya ada 7:43 dari partai lain juga itu ee 7:47 dinonaktifkan. din agar kemudian ee 7:52 masyarakat ini ee bisa didengar 7:56 aspirasinya, 7:58 merasa terdengar aspirasinya. Nah, 8:01 branding ini yang kemudian kalau di 8:03 bidang e public leader gitu kan ya yang 8:05 biasa menjadi bidang saya ini harus 8:09 dijaga dijaga sebaik mungkin agar 8:12 kemudian ee tidak blunder, tidak 8:17 menghancurkan karir, tidak menghancurkan 8:19 bisnis. 8:21 Dan branding ini juga sesungguhnya 8:23 dibutuhkan 8:25 kepada ee orang-orang lain selain 8:28 politisi. Jadi baik pebisnis, siapapun 8:31 sebenarnya, apapun profesinya, apakah 8:33 dia guru, apakah dia tukang, apakah dia 8:37 arsitek, segala macam, maka branding ini 8:41 perlu dilakukan, jadi personal branding 8:44 ya istilahnya perlu dilakukan agar bisa 8:47 dipercaya gitu kan ya. Kalau kemudian 8:51 ee dia tidak bisa dipercaya lagi, maka 8:54 akan bermasalah urusan ee karirnya, 8:58 bisnisnya itu akan jadi bermasalah. 9:00 Orang jadi tidak percaya lagi. Itu yang 9:02 membuat kemudian 9:05 ee 9:07 krisis itu bisa terjadi pada level 9:09 individu bahkan kemudian pada level 9:12 negara. Kemarin itu kita melihat secara 9:16 level negara, tingkat kenegaraan itu ada 9:20 terjadi krisis sehingga masyarakat 9:22 berdemo habis-habisan gitu kan ya. Itu 9:25 kan karena muncul ketidakpercayaan 9:28 terhadap branding yang dibangun oleh 9:30 negara. Negara mengatakan sesuatu tapi 9:33 ternyata anggota dewannya mengatakan hal 9:37 yang lain. Nah, itu yang ee perlu sangat 9:40 untuk selalu selaras gitu kan ya. 9:43 tentang apa yang kita katakan, apa yang 9:45 kita lakukan, dan nilai-nilai apa yang 9:48 kita narasikan itu harus sejalan dengan 9:51 branding yang memang dipersiapkan. 9:53 Akan tetapi event krisis pun ya 9:57 sebenarnya gitu kan ya, kalau kita orang 10:00 yang beriman gitu kan ya, dalam kondisi 10:03 apapun sebenarnya 10:06 ee kita bisa mensyukuri ee krisis yang 10:11 terjadi gitu kan. 10:13 Jadi apa sih yang bisa dilakukan 10:15 misalkan gitu kan 10:18 bisa saja krisis itu kemudian membuat 10:21 adanya perubahan. Adanya perubahan dari 10:24 sisi kebijakan negara, kebijakan di 10:27 Senayan itu terjadi perubahan karena 10:29 memang desakan masyarakat terhadap 10:32 krisis tersebut menjadi besar. 10:35 Nah, di level kita yang sifatnya 10:37 individu, kita juga bisa memanfaatkan 10:40 krisis tersebut. pertama mungkin menjadi 10:43 pelajaran bahwa kita harus lebih 10:45 berhati-hati 10:47 menjaga kata-kata, menjaga perilaku, 10:51 menjaga etika agar branding kita tidak 10:54 hancur. Akan tetapi juga lebih dari itu 10:57 kita juga bisa memperlihatkan branding 11:00 kita. misalkan 11:02 ee ada yang kemudian ee melakukan 11:07 proses memperlihatkan keberpihakannya 11:11 gitu kan ya. bisa aja produk-produk UMKM 11:14 tertentu gitu kan dia memperlihatkan 11:18 keberpihakannya terhadap demo yang 11:20 terjadi 11:22 dengan kemudian ee menampilkan 11:27 ee 11:29 dukungan terhadap demo yang tentu yang 11:32 tidak bersifat anarkis gitu kan ya. Demo 11:35 yang benar-benar real lah buat dari 11:38 mahasiswa gitu kan ya. bisa ee UMKM bisa 11:41 membantu di situ dengan melakukan 11:43 pembagian apa dan segala macam. 11:46 Bisa juga melakukan ee profesi-profesi 11:50 yang lain itu juga bisa membantu dalam 11:53 terjadi pada saat krisis tersebut gitu 11:56 kan ya. Ikut memperbaiki hal-hal yang 11:58 rusak itu juga memperlihatkan 12:01 keterlibatan 12:02 UMK UMKM misalkan bidang pertukangan 12:05 gitu untuk kemudian memperlihatkan 12:08 kepeduliannya. kepada negara dan 12:12 kepeduliannya kepada krisis tersebut 12:14 sekaligus memanfaatkan krisis yang ada 12:18 gitu untuk melakukan kebaikan-kebaikan. 12:21 Karena sesungguhnya 12:23 values yang diharapkan, yang dilakukan, 12:27 ditingkatkan untuk mencapai branding 12:29 yang bisa layak dipercaya itu adalah 12:32 melakukan banyak kebaikan-kebaikan. 12:35 Kira-kira itu dulu awalnya, Bib supaya 12:39 tidak kepanjangan. 12:40 Oke. Menarik menarik. Ee saya buka 12:43 pertanyaan ya. E 12:44 silakan Bang Habib. 12:46 Ini jadi menarik nih kenapa nama orang 12:49 atau nama pribadi atau nama tempat usaha 12:52 kita pernah lihat tiba-tiba bisa hancur 12:54 dalam sekejap gitu ya. Padahal dibangun 12:56 bertahun-tahun gitu ya bisa hancur dalam 12:59 hitungan jam. Eh apa nih fenomena apa 13:02 nih ee misalnya persepsi publik itu 13:05 berubah dengan sangat cepat, begitu 13:07 viral, nama orang bisa hancur, nama 13:10 usaha-usaha nih bisa ramai seketika, 13:13 bisa juga hancur seketika gitu ya. 13:15 Padahal membangun reputasinya tuh 13:17 karakter. Tapi 13:19 ya iya menjaganya butuh kewaspadaan 13:22 setiap saat gitu ya. Ada teman saya itu 13:25 ee ee salah satu pengusaha sukses. Dia 13:28 punya 49 brand ee mungkin juga Mas Dedi 13:32 e tahulah. Ee dia membangun usaha dengan 13:36 apa namanya dengan cerita pribadinya. 13:38 Cerita pribadinya membangun apa namanya? 13:41 Keluarga segala macam. Akhirnya 13:44 namanya hancur seketika ketika ada salah 13:46 satu perbuatannya yang tidak sesuai 13:49 dengan ee kelakuan masyarakat umum atau 13:52 keumuman dalam masyarakat itu brandnya 13:54 hancur semua, Mas Tedi. Akhirnya dia 13:56 bilang sama saya ee dia bilang gini, 13:58 "Bip, sekarang itu jangan bangun 14:00 personal branding kaitin sama usaha." 14:02 Anda harus menjaganya tuh seumur hidup. 14:05 Tapi Anda bangun sistem, bangun merek 14:08 itu jangan ee nempelin sama personal 14:11 kalau bisa. Nah, ini ini menarik nih, 14:13 Mas Dedi nih, gitu. Kenapa bisa hancur 14:16 dalam seketika? Terus ketika kita 14:18 menghadapi ujian itu kan mungkin juga ee 14:23 kita kadang-kadang difitnah gitu ya, 14:25 nama kita dijelekkan gitu ya, nama kita 14:28 dibusukkan dihancurkan gitu. Gimana sih 14:30 kita ngadapinnya Mas Krishna? Eh, Mas 14:33 Krishna boleh tanggapin juga Mas Dedi 14:35 bagaimana secara keilmuan tuh bagaimana? 14:38 Silakan Mas Dedi R dulu ya. H 14:41 ee itu kalau kasus seperti itu saya 14:44 melihatnya 14:46 ada dua jenis branding yang perlu 14:48 dipertimbangkan. 14:50 Pertama branding bisnisnya sendiri atau 14:53 corporate branding atau product branding 14:56 dan eh personal branding dari pemilik 14:59 bisnis tersebut. ini dua hal yang 15:01 berbeda, perlakuannya juga bisa berbeda. 15:04 Ee kapan sebenarnya personal branding 15:08 dari pemilik UMKM itu bisa dilakukan? 15:12 Sebenarnya ada beberapa persyaratannya. 15:15 Misalkan yang pertama bahwa itu memang 15:17 bisnis yang baru sama sekali. Bisnis 15:20 yang baru sama sekali kalau menggunakan 15:22 produk branding, jadi kita mencoba 15:25 menjual dengan memperkuat branding dari 15:28 produk. 15:29 kadang tidak cukup kuat ya, apalagi 15:33 produknya itu sebenarnya tidak tidak 15:36 beda-beda banget gitu kan, tidak 15:37 unik-unik amat di pasaran. Maka yang 15:41 perlu dilakukan agar kemudian bisnisnya 15:44 bisa cepat berkembang itu pakai personal 15:46 branding. Jadi karena kalau personal 15:50 branding ini selalu ada cerita. 15:52 Jadi selalu ada story terkait pemiliknya 15:55 yang itu ee bisa menarik gitu ya, bisa 15:58 menarik orang untuk kemudian ee 16:03 merasa bahwa ee ini layak dibeli gitu. 16:07 Karena personal branding ini akan lebih 16:09 ee memperlihatkan story yang menampilkan 16:12 why dari produk itu kenapa sih produk 16:14 itu layak untuk ee ditampilkan, 16:18 dipublikasikan, dijual dan sebagainya. 16:21 Nah, itu ee banyak kemudian teman-teman 16:25 UMKM kita menggunakan strategi personal 16:28 branding untuk menaikkan bisnisnya. 16:31 Itu bagus gitu kan ya. Itu bagus. Nah, 16:35 setelah kemudian bisnisnya sudah mulai 16:38 naik, saya harapkan sih sebenarnya yang 16:41 lebih bagus adalah pelan-pelan personal 16:44 brandingnya memisahkan diri. 16:47 memisahkan diri tidak dikaitkan lagi 16:49 dengan ee perusahaannya 16:52 dan perusahaan tersebut mulai 16:54 membranding dirinya menjadi ee sangat 16:57 kuat gitu kan ya. Sehingga apapun 17:00 kemudian perilaku dari personal ee 17:03 pemiliknya itu jadi tidak dikaitkan lagi 17:07 dengan perusahaannya asalkan 17:09 perusahaannya itu benar memiliki 17:11 branding yang benar-benar sangat kuat. 17:14 Jadi orang membeli itu enggak ada 17:16 hubungannya dengan ownernya siapa lagi 17:19 gitu kan ya. 17:20 Ownernya siapa lagi. Cuma memang itu ada 17:23 tahapan-tahapan ya. Biasanya kalau sudah 17:26 main di product branding mestinya dia 17:28 sudah mulai agak membesar, UMKM-nya 17:30 sudah agak membesar atau bahkan kalau 17:34 tidak mau pakai personal branding sama 17:36 sekali karena memang tidak semua owner 17:39 itu suka tampil. 17:42 Apalagi kalau dia itu punya sifat 17:45 introvert gitu kan ya, tidak suka 17:46 tampil, maka dia harus fokus di ee 17:49 produknya 17:51 terutama untuk produk-produk apalagi 17:53 kalau B2B B2B jadi dia menjadi supplier 17:57 buat perusahaan yang lebih besar lagi. 17:59 itu sebenarnya personal branding-nya 18:01 enggak dibutuhkan secara ee publik gitu 18:06 kan ya, tetapi tetap dibutuhkan untuk 18:09 diketahui oleh ee pemilik perusahaan 18:13 yang lebih besar gitu 18:15 yang princiipalnya. 18:17 Nah, jadi itu memang ada 18:18 tahapan-tahapannya. Jadi jangan sampai 18:20 memang terpesona 18:22 karena kita sukses melakukan personal 18:25 branding lalu kita mendongkrak bisnis 18:28 kita menjadi sangat tinggi. Kita lupa 18:31 kemudian untuk melepaskan 18:34 branding produk kita dengan personal 18:37 branding kita. Seharusnya dengan kasus 18:40 ee temannya Mas Habib yang memang sudah 18:43 bisa punya banyak perusahaan seperti 18:45 itu, beliau harus menarik diri. Jadi 18:48 jangan lagi mengkaitkan personal 18:50 branding-nya dengan 18:52 perusahaan-perusahaannya apalagi 18:53 perusahaannya banyak gitu kan ya. itu 18:56 harus melepaskan diri dan mungkin lebih 18:58 fokus ke urusan ee mungkin hal yang 19:01 tidak terkait dengan bisnis misalkan 19:04 entah urusan charity gitu kan ya atau 19:08 bikin yayasan apa sesuatu yang sifatnya 19:10 sosial, urusan pendidikan dan lain-lain 19:13 sehingga orang tidak orang-orang yang 19:17 mengetahui tentang bisnisnya dia itu 19:20 tetap jalan bagus 19:22 walaupun ee akan terjadi jadi sesuatu 19:26 pada beliau gitu kan ya. Karena orang 19:28 sudah percaya sama ee banget sama 19:31 produknya dan sudah sangat puaskan, 19:33 sangat terpuaskan. 19:35 Nah, itu yang harus ee benar-benar 19:37 dipahami. Jangan terlalu lama juga 19:39 melakukan personal branding. Bahwa 19:41 personal branding itu adalah cara yang 19:43 tercepat untuk membangun UMKM. Iya, itu 19:47 betul. Itu cara yang tercepat. Kalau 19:50 produknya memang tidak sangat-sangat 19:52 unik banget gitu kan ya. Karena memang 19:53 jarang produk UMKM itu yang unik-unik 19:56 banget sehingga dicari orang ter ee 19:59 secara membabi buta itu jarang. Paling 20:01 hanya beda-beda dikit aja dan itu hanya 20:04 menimbulkan sifat penasaran. Tapi kalau 20:07 kemudian dipakai personal branding jadi 20:08 ada cerita itu menjadi lebih kuat karena 20:11 orang suka menyebarluaskan cerita-cerita 20:14 yang menarik. Akan tetapi begitu sudah 20:17 kuat, jadi produknya sudah kuat, maka 20:20 branding produk tersebut yang harus 20:22 diperkuat dan personal brandingnya 20:23 dilepaskan. Nah, itu yang mungkin 20:26 dilupakan oleh ee teman ee Mas Habib, 20:28 [berdehem] 20:29 Kang Habib dilupakan dan bahkan kemudian 20:33 membuat statem yang menurut saya cukup 20:35 salah karena ee langsung menolak sama 20:40 sekali personal branding. Gak, gak boleh 20:42 gitu juga. Karena sesungguhnya dia 20:44 dibesarkan oleh personal branding, lalu 20:47 kemudian menyalahkan personal branding 20:50 dan mengajak orang untuk tidak melakukan 20:52 personal branding. Itu kesalahan 20:54 berikutnya sebenarnya. [tertawa] 20:56 Oh, 20:56 gitu, Kang Abib. 20:57 Sekarang ee apa yang dilakukan ketika 21:00 nama kita dianjurkan ee atau bisnis kita 21:03 dianjurkan dan fitnah itu lebih 21:05 menyebarnya lebih cepat daripada 21:06 klarifikasi kan, Mas? 21:08 Iya. [tertawa] Iya. Nah, itu kita gimana 21:11 sebaiknya diam atau itu kan ada namanya 21:13 istilahnya rebranding ya. 21:15 Heeh. 21:16 Kalau ada rebranding itu tetapi memang 21:19 ya semuanya harus harus dirubah gitu kan 21:22 ya. He. 21:23 Kalau untuk hal-hal yang sangat sangat 21:26 sangat menyakitkan segmen tertentu dari 21:30 dari ee 21:33 audiens atau customer, ya sudah 21:37 menghilang aja dulu gitu gak apa-apa 21:39 gitu kan ya. Melakukan pertobatan cukup 21:42 lama gitu kan ya cepat lama tetapi kan 21:45 bisnis masih bisa jalan. 21:47 bisnis [berdehem] masih bisa jalan 21:49 dengan nama-nama yang baru, nama-nama 21:51 yang baru dan memunculkan ee direksi 21:55 direksi yang baru. Jadi ee orang yang 21:58 sudah punya personal branding yang ee 22:01 yang sulit untuk diperbaiki, maka 22:04 kemudian dia harus berada di belakang 22:07 layar karena sesungguhnya dia masih 22:10 punya potensi untuk membangun bisnis. 22:12 Cuma dia harus menunjuk orang-orang yang 22:15 baru, yang masih bersih, yang belum 22:18 personal branding-nya belum rusak untuk 22:20 kemudian membangun bisnis yang bisnis 22:23 itu jangan lagi menggunakan personal 22:26 branding, mengandalkan personal branding 22:28 dari ee pengelolanya, tapi harus ke main 22:33 ke produknya atau corporate-nya, 22:35 perusahaannya. Itu yang harus dilakukan. 22:38 Jadi, gak apa-apa, Kang Abit. ee 22:42 temannya bisa tiarap dulu dan main dulu 22:46 ke hal-hal yang sifatnya ee sosial lah 22:50 ya. Jadi jangan ada terkait sama bisnis 22:53 sama sekali. Harus mainnya di sosial 22:56 atau keagamaan. Anggaplah itu bagian 22:59 dari pertobatan proses [tertawa] 23:01 regrandingnya itu proses pertobatan gitu 23:03 kan ya. 23:04 Dan dia tidak menyentuh hal-hal yang 23:06 terkait sama bisnis. Kalau masih pengin 23:10 tampil ya. Kalau masih pengin tampil. 23:12 Iya. Iya. Iya. 23:14 Oke. Biasanya orang-orang yang terbiasa 23:16 tampil itu kalau enggak tampil kasihan 23:18 [tertawa] tersiksa hidupnya. 23:21 [berdehem] 23:21 Ya. I ya. 23:23 Ya. Bang Habib. Eah kita tahu pendengar 23:25 ya Bang Habib ini adalah 23:28 konsultan 23:30 ee BNSP ya. Ee jadi master trainer BNSP 23:35 juga. Dia konsultan bisnis digital. Ada 23:38 yang kami ingin tanyakan kepada 23:41 Bapak ee Rahman, Bapak Dedi Rahman. 23:46 Bagaimana misalnya merek-merek yang kita 23:48 jumpai sehari-hari? Misalnya ee 23:51 roti bakar Edi ee gudek gudek Bucitro, 23:55 gudek apa namanya tuh? Moberek gitu kan. 23:59 Itu pakai nama. Kalau dia enggak pakai 24:01 nama itu bukan bukan itu berarti bukan 24:06 barang itu. Apakah 24:08 dia harus terus menjaga 24:12 perilaku dia supaya mereknya tetap mm 24:16 bernilai baik di mata masyarakat? 24:18 Ya. Jadi kalau misalkan yang roti bakar 24:21 ED, yang bakar buah berek gitu, tahap 24:25 awal memang mereka melakukan personal 24:27 branding ya. Kalau roti bakar kan mulai 24:30 dari blok M ya kalau 24:31 Iya Bu 24:32 beliau sendiri yang 24:33 di jalan pelatihan 24:35 berhubungan dengan ee customernya dan 24:39 nah itu yang bagusnya adalah kemudian 24:42 ternyata memang secara produk dia cukup 24:45 menarik gitu kan ya 24:47 secara produk cukup menarik sehingga 24:49 bisa dialihkan dari personal branding 24:52 sebelumnya sampai kemudian ke ee produk 24:56 branding. 24:56 Hm. 24:57 Dan sambil beliau meninggal dunia pun 25:02 ee beliau tetap menjaga nama baik. 25:04 Iya. 25:05 Menjaga nama baik tidak melakukan. 25:08 Jadi sebenarnya apa yang beliau lakukan 25:11 itu hanya sebagai koki aja gitu kan ya. 25:14 Tidak kemudian 25:16 kehidupan. Jadi masalah ee personal 25:20 life-nya itu dimunculkan. Enggak. Enggak 25:22 sampai ke situ juga menurut saya gitu 25:24 kan ya. Jadi sehingga orang hanya 25:27 melihat nama Edi itu dari 25:30 profesionalitasnya dalam membuat roti 25:32 bakar. 25:33 Kecuali mungkin gini Mas Dedi, kalau 25:35 misalnya dia bikin roti, rotinya ada 25:38 beracun gitu ya, orang mati habis makan 25:40 rotinya. Nah, itu kan rusak misalnya. 25:42 Nah, itu ee profesionalitasnya dia 25:44 misalnya itu langsung ngerusak nama roti 25:47 bakarnya misalnya gitu ya, contohnya 25:49 gitu ya. 25:50 He, betul. Tapi diedak enggak jual cuma 25:52 roti 25:54 harus ganti. [tertawa] 25:56 H. 25:56 Tapi kalau masalah masalah pribadinya, 25:59 keluarganya dan lain harusnya enggak 26:00 terkait sama profesionalitasnya ya. 26:03 Enggak enggak terkait. Dan memang dari 26:05 awal dia tidak memunculkan itu gitu kan. 26:07 Tidak membuat story terkait dengan 26:10 keluarganya gak. He. 26:11 Kalau mau dia bikin story juga story 26:14 tentang bagaimana dia membuat rotinya. 26:17 He. 26:17 Dan itu profesionalitas. 26:19 Iya. Iya. Iya. Iya iya. Kayak dulu 26:22 zamannya Pak Krishna Bondan. Bondan Pak 26:25 Bondan itu yang suka news itu. 26:27 Oh almarem. 26:28 Nah 26:28 iya betul. Itu kan brandingnya kuat 26:31 sekali tuh. 26:32 Iya. 26:34 Oke. Ee walaupun ee roti edis sekarang 26:37 enggak jual cuma enggak cuma roti 26:39 macam-macam. Ada nasi goreng segala ada 26:41 macam-macam. 26:42 Kayak steler 77 juga begitu. 26:44 Iya 77 juga begitu. Jadi, mm jadi 26:48 konsekuensi apabila kita branding atau 26:50 membuat merek dengan nama kita, 26:52 konsekuensinya kita harus menjaga 26:53 perilaku kita begitu selamanya itu ya. 26:55 Iya. 26:56 Harus jaga 26:57 menjaga produknya lah. Hm. 26:59 Bagaimana kalau pakai nama-nama lain? 27:02 Sekarang banyak juga yang ee meniru 27:05 misalnya harga kaki lima rasa bintang 27:09 rasa bintang lima, hotel bintang lima 27:11 begitu 27:12 dia lari kep. 27:12 Nah, itu dipakai oleh banyak. Nah, jadi 27:15 brandingnya berarti enggak tepat atau 27:16 gimana? Atau ada jeblak apa-apa 27:19 sebenarnya kalau dia bikin tageline 27:21 begitu slogan seperti itu berarti kan 27:24 dia 27:24 mau menjanjikan sesuatu. 27:26 Iya. 27:27 Kalau kemudian janji itu dia tepati, 27:30 jadi orang merasakan nikmatnya seperti 27:33 di kaki 27:35 tapi harga bintang maka dia masuk. 27:37 Hm. Tapi kalau ternyata harganya dan 27:41 rasanya tidak sesuai dengan apa yang 27:43 dijanjikan, itu bermasalah nantinya. 27:47 Hm. Masalahnya orang hanya niru-niru aja 27:49 menarik kata-kata dipakai, dipakai tapi 27:50 dia tidak memperhatikan kualitas dari 27:53 produknya. 27:54 Ah, kalau itu sebentar itu hidupnya, 27:56 Pak. [tertawa] 27:59 Ada ini Mas Dedi kasus yang kemarin 28:02 influencer itu di Indonesia kan sempat 28:04 viral karena mempromosikan produk 28:06 bermasalah misalnya skincare ilegal, 28:09 investasi bodong segala macam. Nah, tapi 28:11 begitu nama influencernya rusak, 28:14 produknya juga ee dianggap negatif 28:17 walaupun misalnya udah ada izin, udah 28:19 apa. Jadi konsumen itu ngerasa ketipu. 28:21 Brand aslinya juga 28:23 butuh waktu lama buat mulihin citranya 28:25 gitu. Gu. Jadi trustnya sudah enggak ada 28:27 trust marketingnya. Ibarat ee 28:29 satu kali rusak ee rusak susu sebelanga 28:33 gitu. Satu titik aja jadi rusak semua 28:36 gitu. Jadi kan banyak juga kayak 28:38 brand-brand internasional tuh ee dia ada 28:40 skandal pribadi langsung itu ee 28:43 merek-mereknya nempel ke dia juga ikut 28:46 begitu langsunglangsung buru-buru narik 28:49 diri gitu ya. 28:50 Itu juga cukup apa namanya berdampak 28:54 sekali gitu. Nah, itu sih mungkin itu 28:57 Mas Dedi gimana? 28:59 Jadi 29:01 kalau untuk memang pengin produknya itu 29:04 cepat dikenal orang, digunakan orang, 29:06 dibeli orang, memang nempel ke personal 29:09 branding itu cara paling cepat gitu kan 29:12 ya. 29:12 Cara paling cepat itu sangat instan. 29:15 Kemudian punya follower sekian juta, 29:17 kita minta 29:18 di-endorse produk itu cara paling cepat 29:21 gitu. Hm. 29:22 Akan tetapi juga yang namanya 29:26 big game tentu big pain juga lah kan ya. 29:29 Jadi kalau ee high impact ya high risk 29:32 juga. 29:34 Kalau sampai kemudian personal branding 29:36 yang kita pakaikan produk kita untuk 29:39 diendor sama dia bermasalah, maka ya 29:43 siap-siap produk kita juga kena masalah 29:46 gitu. 29:47 Nah, itu biasalah untuk malamnya begitu. 29:50 Iya iya iya iya. Oh menarik ya. Jadi 29:54 kemarin ya ee Mas Dedi kita ngomong 29:55 politik dikit nyinggung ya. Jadi ada 29:58 partai itu yang besarnya karena artis ya 30:01 begitu ini viral. Nah jadi artisnya ee 30:07 bermasalah langsung diganti karena dia 30:08 gedenya cepat ya. Ada juga partai yang 30:10 yang besarnya karena grass root bawahnya 30:13 jadi di akar rumputnya kuat. Dia enggak 30:15 langsung ganti tuh. tenang-tenang aja 30:17 [tertawa] partainya. 30:19 Iya, saya enggak ngomongin partainya ya. 30:21 Tapi 30:22 ee itu kita ngambil pelajaran. Oh, 30:24 berarti memang dia gedenya bukan karena 30:27 apa namanya dia rata lah memang 30:29 membangunnya dari bawah gitu. Tapi kalau 30:31 ada yang cepat banget gitu naiknya 30:34 karena profil branding orang-orangnya 30:36 langsung diganti masalah nih gitu ya. 30:39 Heeh. 30:40 Oke, itu ya 30:41 kalau di partai yang agak lambat itu 30:44 mengganti memang saya kenal ee anggota 30:48 dewannya gitu kan dan saya juga pernah 30:50 ke dapilnya gitu. Saya dengar banyak 30:52 cerita tentang mil beliau juga memang 30:54 cukup kuat gitu kan ya tidak mudah 30:57 menurunkannya. [tertawa] 31:00 Baik, ini sudah ada pertanyaan dari 31:01 pendengar nih Bang Habib 31:03 silakan 31:03 bisa dibacakan ya. Asalamualaikum, Bang 31:06 Habib, Bang Dedi Ram. Penanyaan namanya 31:08 Rahman juga nih. Saya sudah berproduksi 31:11 klasik enzim fermentasi alami selama 12 31:15 bulan 360 hari. Dari 20 jenis buah, 31:20 bagaimana saran untuk branding yang 31:23 patut terbaik dipasarkan? 31:28 penanya namanya Rahman juga nih. 31:32 Ee boleh diulang Pak Krishna tadi 31:35 suaranya kecil. 31:35 Jadi ee saya sudah berproduk 31:40 nama klasik enzim. Klasik enzim 31:43 fermentasi alami selama 12 bulan. 31:47 Dari 20 jenis buah, bagaimana saran 31:50 untuk branding yang patut dan terbaik 31:53 dipasarkan? 31:56 Oh, oke. 31:57 Jadi, jenis produknya banyak-banyak itu 31:59 tuh banyak turunannya. 32:02 Ada yang perlu dikonsentrasikan enggak 32:03 itu? 32:06 Oke. 32:07 Ee itu di mana, Pak? Di Depok. Di 32:09 Jabotabek. 32:11 Iya. Enggak, enggak disebut alamatnya 32:12 hanya Rahman saja. 32:14 Oke. Jadi ee saya ee tanggepin dulu ya 32:17 sedikit. Sebetulnya kan kalau sampai 32:20 berapa produk dia ada banyak variasinya 32:23 ya, prosesnya sampai ee cukup panjang 32:27 ya, bahannya alami gitu ya. Jadi 32:29 sekarang itu ee arahnya juga ke life. 32:32 Jadi orang pengin ee bahan-bahan natural 32:36 sehat gitu ya. Ee nah fermentasi itu 32:41 juga mesti ada edukasinya karena ee 32:43 kurang populer sebagian masyarakat ee 32:46 terkait produk-produk yang fermentasi 32:49 gitu ya. Gitu ya tadi fermentasi ya. 32:52 Nah, ee untuk kalangan atas ee kita juga 32:56 atau menengah ya kita juga mesti ada 32:58 storytelling yang tadi Mas Dedi bilang 33:00 enzim fermentasi alami itu ee istilahnya 33:04 agak terlalu teknis. Jadi butuh bahasa 33:06 yang lebih awam gitu ya ditambah ee 33:09 emosional. Misalnya ada kisahnya 33:11 bagaimana 12 bulan membangun dengan ee 33:15 cinta dan emosi gitu ya. dan dia coba 33:18 langsung misalnya ada ee orang-orang 33:21 yang dibuat tester setelah mencoba ini 33:25 misalnya ee ini enzim buat apa? 33:28 Kesehatan gitu ya, penyakitnya sembuh 33:31 misalnya. 33:32 Ee ini enzimnya buat apa ya, Pak? 33:35 Enggak dijelaskan atau apa nih? 33:36 Jelaskan e enggak dijelaskan ya. 33:38 misalnya ee ada kasus-kasus dia ee 33:42 misalnya diabetes atau apa dia bisa 33:45 kering bisa sehat lagi. Tadinya misalnya 33:49 jadi orang Indonesia nih suka before 33:50 after. Jadi ada narasi-narasi bukan 33:53 sekedar minuman kesehatan tapi 33:54 perjalanan panjang ee pembuatannya gitu 33:59 ya. Si Bapak ini misalnya ee dari enggak 34:01 bisa enggak bisa duduk bisa duduk dari 34:03 duduk bisa enggak bisa jalan, bisa jalan 34:06 gitu ya. terus tambahin nilai-nilainya 34:08 gitu ya. Anda bukan hanya membeli produk 34:10 ini, tapi Anda membantu ee UMKM, Anda 34:14 membantu juga kayak misalnya kecap kurma 34:16 itu kan menarik. ee dengan membeli 34:19 produk ini, Anda sudah infak ee sekian 34:22 persen 0,2 apa 2,5% misalnya Anda. Jadi 34:27 orang itu bukan beli karena dia suka 34:28 doang, karena produknya bagus, tetapi 34:31 ada nilai di situ. Kenapa brand-brand 34:33 kemarin habis genosida Israel itu hancur 34:37 gitu ya? Ee penurunan yang luar biasa 34:41 gitu omsetnya. Karena orang beli bukan 34:43 karena cuman sekedar makan, tetapi 34:46 [mendengus] dia beli karena value. Ada 34:48 value-nya, "Ah, saya beli ini karena 34:50 saya pengin ee mendukung keimanan saya 34:53 gitu. Saya mendukung ee apa namanya? Ee 34:56 keberpihakan gitu kepada misalnya 34:59 Palestina gitu ya. Jadi ini ada nilai di 35:02 situ, ada nilai gitu ya. Jadi ee juga 35:05 yang tadi Mas Dedi sampain hindarin juga 35:08 terlalu apa namanya ee nge-branding ke 35:12 personal nanti kalau sudah besar gitu 35:14 ya. Guna kalau untuk awal banyakin 35:16 testimoni misalnya kalau kayak 35:18 produk-produk kesehatan tuh misalnya 35:19 dokter, ahli kesehatan gitu ya tapi 35:22 jangan pakai AI gitu bohong-bohongan 35:24 gitu. Misalnya sekarang kan banyak tuh 35:26 ee artis-artis pakai AI seolah-olah 35:28 ngomong gitu produknya itu juga ee 35:30 menipu ya enggak bole 35:31 penipuan itu. 35:33 Eh penipuan. 35:34 gitu. Jadi ee coba dulu ee misalnya 35:37 produknya 50 produk dibagiin minta 35:41 testimoni, testimoninya dimasukin ke 35:43 marketing kit, habis itu juga di ee 35:46 dikampanyekan gitu. Pelan-pelan dulu ee 35:48 tapi memang produknya betul-betul ee 35:51 terbukti bukan hanya sekedar janji itu 35:54 mungkin. 35:56 Oke, bisa dijawab Pak Rahman. 35:59 Jadi mau nambahin? Boleh, boleh saya 36:01 tambahin. Jadi kalau dari sisi saya 36:04 sil 36:05 ee lebih umum ya. Jadi sebuah produk 36:08 diluncurkan apapun itu produknya ee mau 36:12 enzim fermentasi ataupun apapun. 36:14 Iya. Dia berjenis-jenis ini. 36:16 Iya. Itu yang perlu dicari lebih dahulu 36:19 itu adalah big-nya. 36:21 Hm. 36:22 Kenapa sih produk ini penting kita 36:24 luncurkan? He. 36:25 Emangnya kalau saya enggak ngeluncurin 36:27 produk ini ngefek enggak ke masyarakat 36:29 gitu kan ya? 36:30 Kenapa sih ini ya memang harus 36:32 dibutuhkan gitu kan ya? Itu yang 36:34 kemudian harus kita komunikasikan kepada 36:37 calon pembeli kita. Bisa jadi masuk 36:39 nanti personal branding juga enggak 36:41 apa-apa. Jadi memang dia punya 36:44 pengalaman bahwa ada rasa sakit apa. 36:46 Kemudian ketemulah ee bahan-bahan 36:49 seperti ini dipermentasi kemudian 36:52 ternyata dia bisa sembuh gitu kan. itu 36:54 kan cerita pribadi atau cerita 36:55 keluarganya. Maka dia kepikiran untuk 36:58 membikin produk tersebut agar makin 37:01 sebanyak orang, makin banyak orang yang 37:04 kemudian bisa mendapatkan manfaat kalau 37:08 produk ini disebarluaskan. 37:11 Nah, harus ketemu Y-nya dulu, gitu kan 37:14 ya. Jangan kemudian kita hanya pikir in 37:18 saya punya produk ini, produk ini, 37:20 produknya begini, saya bikinnya begini, 37:22 begini, begini. Tetapi kita lupa bahwa 37:25 orang membeli itu harus ada alasan 37:29 tertentu. Kenapa sih memang pantas untuk 37:32 dibeli gitu kan, pantas untuk 37:34 dikonsumsi? 37:36 Itu harus ada alasan yang kuat dan 37:38 alasan itu harus kita menjelaskan dengan 37:41 big tersebut. Kenapa sih saya membuat 37:45 produk ini gitu kan ya? Kenapa produk 37:47 ini penting? Apa akibatnya kalau dunia 37:51 ini enggak ada produk ini? gitu kan. 37:53 Seperti 37:54 sama seperti saya di konsultan di 37:56 politik gitu kan. 37:57 Walaupun saya ee kuliahnya jurusan 38:01 teknik lalu kemudian banyak bekerjanya 38:04 di bidang IT tapi kemudian saya masuk 38:07 jadi konsultan branding dan lebih 38:09 mengkhususkan lagi bidang politik 38:12 walaupun ilmu branding bisa dipakai di 38:14 mana aja. Karena saya melihat bahwa 38:17 ini kalau politisi kita tidak dibranding 38:20 dengan benar gitu kan ya sampai 38:23 sedalam-dalamnya 38:24 ini akan bermasalah negara ini. 38:27 Terbukti kemarin itu yang terjadi karena 38:29 mereka tidak membranding dirinya itu ee 38:33 dengan ee sangat baik gitu. Nah, itu 38:36 big-nya itu yang membuat kemudian ee 38:39 bisnis tersebut saya [berdehem] atau 38:42 siapapun yang bisnis UMKM tetap bertahan 38:46 walaupun bisnisnya jatuh bangun tetap 38:49 akan bertahan karena ada sesuatu yang 38:52 harus tetap dipertahankan. 38:54 Mengapa bisnis ini kenapa enzim 38:56 fermentasi ini harus saya produksi gitu 39:00 loh. Nah, itu big-nya harus ditemukan 39:03 dulu. Kalau itu enggak ketemu, kita akan 39:06 kesulitan. 39:06 Ini kan yang seperti yang ditanyakan dia 39:08 punya enzim enzimnya itu bermacam-macam. 39:12 Yang perlu diekspos tuh yang mana? Apa 39:14 semuanya atau salah satu dari yang 39:17 jenis-jenis itu? 39:19 Ya sama seperti tadi kan roti bakar Edi 39:21 kan tidak hanya jualan roti bakar, 39:23 [tertawa] tapi roti bakar itu yang jadi 39:25 kira-kira killer 39:28 killer produknya. He. 39:29 Jadi dia harus masuk ke dulu ke satu 39:32 killer produk yang benar-benar kuat 39:34 gitu. 39:34 Itu yang diekspose ya. 39:36 Itu yang harus diekpose habis habisan. 39:38 Yang lainnya nanti bisa menyusul gitu. 39:41 Ternyata ada juga karena sudah dipercaya 39:44 satu gitu kan ya, maka mereka akan cari 39:46 yang lain. Mana produk yang lainnya 39:49 untuk penyakit ini, untuk kebutuhan ini. 39:51 Mereka kan tak percaya. sekali percaya 39:54 pada satu produk enzim, maka produk 39:57 enzim yang lain entah puluhan itu akan 40:00 dipercaya, 40:01 akan ngikut. 40:02 Oke. 40:03 Baik, ini ada pertanyaan dari orang 40:05 Conet nih. Asalamualaikum Pak Dedi Ram 40:08 dan Habib. Di conet itu banyak sekali 40:10 toko minyak wangi berderet-deret. Tapi 40:13 kenapa hanya satu yang ramai? Yang 40:16 lainnya tidak. Padahal sama-sama minyak 40:18 wangi. Kenapa satu itu yang paling ujung 40:21 tuh yang paling ramai? Yang lain tidak. 40:23 Padahal sama-sama minyak wangi. Itu 40:25 pertanyaan dari Ibu Rno 40:29 yang kebulinya juga [tertawa] 40:32 banyak kebuli di sana tapi ada satu dua 40:34 yang bagus banget. 40:37 [tertawa] 40:37 Jadi ee ee itu kan jadi gini, bisa jadi 40:42 semua toko itu jual parfum, tapi ada 40:45 satu toko yang penjualnya ee ramah, 40:49 emosional, 40:50 terus dia dapat experience, habis itu 40:52 orangnya yang 40:53 beli itu dia nyebarin lagi. Dia kalau 40:55 dicondet belinya tuh di Evi Parfum 40:58 contoh ya. Saya enggak promosiin atau 41:00 enggak ee di toko nah toko ini nih ya 41:05 itu ramah orangnya 41:06 ee orang juga ngobrol ini pengalaman 41:09 juga saya coba jadi apa namanya 41:12 ngelayanin saya mau tahu nih gimana sih 41:13 cara ngelayaninnya jadi begitu 41:15 ngelayanin kita ajak ngobrol orang itu 41:17 dari beli satu produk bisa jadi lima 41:18 produk ee Mas Krishna 41:21 nah jadi ee branding itu bukan sekedar 41:25 ee apa beli tapi dia tuh nyam ada 41:27 persepsi bukan cuman barang, tapi juga 41:29 ada trust gitu ya. Jadi orang itu beli 41:32 ke toko, saya sudah pernah beli di situ. 41:34 Ah, udah saya beli di situ daripada 41:35 nyoba-nyoba yang lain gitu kan. Nah, 41:38 jadi orang itu pertama trafficnya ee 41:42 jadi contoh ya ee saya lihat ambil kasus 41:45 ee misalnya makan bawa pohon deh ya. 41:47 Makan bawa pohon itu waktu pertama 41:48 berdiri ee dia bikin menu sama semua 41:51 Rp2.000 kalau enggak salah apa Rp25.000. 41:53 Akhirnya orang semua mau daging, mau 41:55 ayam sama semua akhirnya ramai. Itu 41:58 traffic generator. Bangun traffic dulu 42:00 orang begitu sudah interaksi orangnya 42:02 ramah, pelayannya ramah ee makanannya 42:05 enak, orang kan pengin datangnya lebih 42:07 lebih gampang gitu ya. Jadi membangun 42:10 pertama trust dulu terus dapat 42:12 experience. Setelah dapat experience 42:14 mungkin itu toko juga udah lama, 42:16 orang-orangnya juga yang layanin senior. 42:18 Kenapa Garuda Indonesia? orang walaupun 42:21 tiketnya mahal tetap beli Garuda gitu 42:23 ya. Ee kenapa? Walaupun mungkin ee 42:27 pramugarinya udah senior-senior gitu ya. 42:29 E gitu. Iya kan? Tetapi orang ah saya 42:32 naik Garuda aja lebih tenang gitu. Nah 42:34 gitu ya. Nah. Iya kan? Nah itu itu ada 42:38 trust di situ gitu ya. Ada keramahan di 42:40 situ. Ee senyumnya berapa senti kiri 42:42 kanan atas bawah ya Mas? Jadi [tertawa] 42:46 gitu mungkin. Jadi ee cobalah dibuat 42:49 kayak kalau toko minyak wangi ada 42:50 testernya, ada bonus-bonus kecil itu kan 42:53 enggak seberapa, 42:54 lebih harum gitu ya. Ee ada emosional 42:57 mungkin dia hari Jumat bagi-bagi nasi, 43:00 bagi-bagi minyak wangilah yang 43:02 kecil-kecil kasih ke orang-orang yang 43:04 membutuhkan gitu kan. Jadi itu ada 43:07 emosional hook-nya yang bikin orang wah 43:11 luar biasa gitu. 43:14 Oke. 43:16 Mau dijawab apa dulu? 43:17 Ee sebenarnya ada satu ee kata kata yang 43:21 bagus itu value for money. Jadi 43:24 kalau produknya sama 43:26 maka value-nya harus ditinggikan. 43:29 Nah, value-nya ini bisa macam-macam 43:31 seperti yang dijelaskan Habib tadi, bisa 43:34 keramahan, bisa diskon kecil-kecilan, 43:37 bisa aktivitas sosial tiap Jumat, 43:40 macam-macam. itu yang membuat orang 43:42 kemudian memilih dia gitu kan ya, tidak 43:45 di tempat ee parfum yang lain. Karena 43:49 kalau orang mengeluarkan duit ee buat e 43:52 parfumnya dia, maka rasa-rasanya uang 43:55 saya ini jauh lebih berguna, lebih 43:57 menyenangkan gitu kan. Membeli membeli 44:01 pada dia gitu. Nah, itu istilahnya value 44:03 for money-nya itu lebih tinggi daripada 44:06 ee toko-toko parfum yang lain. Itu yang 44:08 perlu dicari. 44:10 Oke, asalamualaikum Bang Habib dan Pak 44:13 Dedi. Saya punya produk dan saya kasih 44:16 merek, tapi tahunya di tempat lain ada 44:18 mereknya sama. Bagaimana mengatasi ini? 44:20 Saya takut produknya sama, merek sama. 44:22 Takutnya nanti mereka tidak lari ke saya 44:25 tapi ke tempat yang lain yang bukan 44:26 saya. 44:29 Ada kesamaan merek gitu. Padahal 44:30 produknya juga sama. Itu bagaimana 44:32 mengatasinya? 44:34 Apa ditambah 44:35 ini produknya apa, Pak? Pak Krisna. 44:36 Hah? 44:38 Produknya apa? Bakso. Bakso. Jelasin 44:39 enggak? 44:40 Bakso. 44:40 Oh, 44:42 warung bakso. 44:43 Iya. 44:46 Ee jadi kalau dari saya benar tadi ee 44:49 big-nya kenapa orang mesti beli bakso 44:52 itu gitu atau kalau memang baksonya 44:54 sama, pelayanannya beda, servicesnya 44:57 beda, baksonya organik, tidak mengandung 45:00 apa namanya bahan-bahan berbahaya 45:03 ya segala macam. Kenapa orang mesti beli 45:05 misalnya tempat jadi kadang-kadang saya 45:07 lihat ya tempat bakso itu ramai nih 45:09 masuk ke gang, sempit kecil gitu ya 45:13 ramai. Tapi begitu baksonya dipindah ke 45:15 pinggir jalan yang ada AC-nya tempatnya 45:18 lebih besar malah sepi. 45:20 Kenapa itu pernah gitu? 45:21 Pernah ketemu cas gitu enggak? 45:23 Karena itu ada efek tuh kalau 45:26 kadang-kadang kalau Pak Krishna 45:28 perhatiin Indomaret kenapa sih terang 45:30 banget? Alfamart dibikin tuh terang. 45:32 Orang enggak takut masuk gitu semuanya 45:35 transparan, kelihatan segala macam. Jadi 45:37 orang itu suka ee sebetulnya pertama 45:40 masuknya itu trustnya itu ee yang kita 45:43 mesti bangun. Ketika dia sudah nyobain 45:45 bakso kita, enggak bakalan berpindah 45:47 sama bakso lain. Karena bakso saya 45:48 adalah 45:49 benar-benar begitu ngerasa di lidah dia 45:51 ngangenin gitu misalnya. Gitu contoh ya. 45:54 Nah, tapi ketika orang sudah scale up 45:56 misalnya dia wah karena baksonya enak, 45:58 dia yakin nih dia bikin marketnya dia 46:01 bikin ee tempatnya lebih besar, lebih ee 46:04 mewah segala macam itu marketnya ganti. 46:07 Orang-orang yang biasanya beli dia agak 46:08 sungkan, "Ah, jangan-jangan lebih mahal 46:11 harganya, tempatnya mewah begini, 46:13 tempatnya AC begini gitu." Jadi ee apa 46:15 namanya? Tidak apa sih originalitas dari 46:19 brand itu tuh apa misalnya gitu. 46:21 Kadang-kadang yang bikin ngantri malah 46:23 yang ramai gitu. Itu kadang-kadang 46:25 rasanya itu yang bikin orang beli itu 46:28 karena ngantrinya itu wah ya itu ramai 46:30 tuh gitu. Orang pengin beli karena 46:32 ramainya gitu macam-macam gitu Pak 46:35 Krisna. Jadi enggak enggak simpel 46:37 definisinya mesti banyak hal yang 46:39 dilihat. 46:40 He 46:41 Mas Dedi silakan. Oke, boleh. Kalau 46:43 terkait nama yang sama, ini kan brand 46:45 name ya. Memang sebenarnya harusnya dari 46:48 awal itu dilakukan riset. Kalau kita 46:51 bikin produk dengan nama tertentu, kita 46:55 harus bikin riset juga adakah ini 46:57 namanya sudah dipakai atau belum. Karena 46:59 kalau sudah dipakai nanti berbahaya, 47:02 kita bisa kena isu, 47:03 hm, 47:04 bisa kena tuntutan. Kalau kemudian brand 47:07 yang nama yang sama kemudian menuntut 47:09 kita gitu. 47:10 Maka kemudian harus ini harus di 47:13 dihati-hati dari awal. Akan tetapi kalau 47:17 kita menggunakan brand nama yang sama 47:20 dan belum ada yang satu brand pun yang 47:24 mendaftarkannya di HAKI, maka kita harus 47:26 segera mendaftarkannya. Paling tidak itu 47:29 untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga bisnis 47:32 kita. Kalau kita niat membesarkannya ke 47:34 depan, 47:35 H 47:35 itu harus didaftarkan di hai. Jangan 47:38 sampai kemudian kita besarkan bisnis, 47:41 kita lupa mendaftarkannya dia di hai, 47:44 tiba-tiba ada orang lain yang baru 47:47 muncul menggunakan nama yang sama tetapi 47:49 sudah dihakikan, didaftarkan mereknya 47:53 itu kemudian bisa menghabisi bisnis 47:55 kita. 47:56 Nah, itu berbahaya gitu kan ya. Nah, 47:58 kalau sudah didaftarkan 48:01 lalu kemudian 48:03 dipublikasikan 48:05 baik di sosm ataupun di Google ee Google 48:10 Map gitu kan ya, di sinilah ee lokasi 48:14 dari bakso yang asli terkait brand name 48:17 tertentu sehingga orang tidak akan 48:19 salah. Orang akan mencari 48:22 bakso gitu [berdehem] kan ya, itu 48:24 berbasiskan lokasi. Nah, itu bisa 48:26 menggunakan Google Map. Nah, biar Google 48:29 Map-nya, lokasinya kita harus benar 48:32 sangat terverifikasi daripada yang lain 48:35 sehingga itu yang muncul. Dan kita bantu 48:38 dengan sosial media juga. Di sosial 48:41 media kita juga buat nama bakso dengan 48:44 brand name kita. Walaupun punya orang 48:47 lain juga membuat yang sama, nah kita 48:49 harus lakukan verifikasi paling tidak 48:51 didaftarkan sehingga orang benar-benar 48:54 yakin bahwa bakso dengan nama tertentu 48:57 itu adalah milik kita, bukan milik yang 49:00 lain. Jangan sampai kita beriklan besar 49:03 gitu, kita melakukan promosi tentang 49:05 bakso kita, lalu kemudian yang beli di 49:09 tempat yang lain. Gak. kita harus 49:11 lakukan 49:12 verifikasi terhadap nama bakso kita, 49:15 lokasi bakso kita sehingga orang tidak 49:18 akan salah. H 49:20 dan orang akan menganggap bahwa selain 49:23 bakso milik kita yang punya nama sama 49:26 itu palsu. Nah, itu kan luar biasa. 49:30 Mas Dedi dengar-dengar juga bikin buku 49:32 Mas Dedi. Mungkin bisa diceritain 49:34 bukunya. Ah, itu tadi sudah saya 49:36 sampailkan. 49:37 Oh, 49:38 tapi itu lebih terkait sama politik ya. 49:40 Enggak apa-apa. Jadi konsep-konsep 49:41 dasarnya seperti apa? 49:43 Menarik tuh, Mas. Jadi, jadi 49:45 saya lihat ada QR code-nya juga di 49:47 dalamnya. 49:48 [tertawa] 49:49 Jadi memang ee setelah selesai 2024 49:52 kemarin pemilu lalu ee saya bikin 49:55 bukulah ya bikin buku yang sifatnya 49:58 formulasi dari aktivitas saya selama 12 50:03 tahun terakhir membantu ee ada bisnis 50:06 juga sebenarnya saya bantu paling banyak 50:08 tapi politisi untuk memanding dirinya 50:12 agar dari yang semulanya tidak dikenal 50:15 sama sekali kemudian dan menjadi ee 50:19 terpilih gitu kan ya. itu ada prosesnya 50:21 itu ada enam detailnya ada enam proses 50:25 mulai dari proses membangun popularitas 50:28 ada dua hal kita membangun exposure 50:31 biasanya melalui sosm kemudian membangun 50:33 awareness itu untuk membangun 50:35 popularitas lalu kemudian kita membangun 50:38 kesukaanabilitas 50:40 jadi ada proses engagement ada proses ee 50:45 kemudian ee komitmen kemudian ada action 50:49 jadi tahap Tahapan ada enam tahapan itu 50:51 sebenarnya kelompok dari tiga tahapan 50:54 besar. Jadi membangun popularitas dulu, 50:56 membangun kesukaan, baru membangun 50:59 elektabilitas. Kalau dikaitkan dengan 51:01 UMKM, kita buat dulu UMKM kita ini 51:06 terekspos. Jadi mulai dikenal baik ee 51:09 nama, baik ee unik tempat ee lokasinya, 51:14 baik unik kemudian produknya. segala 51:18 sesuatu yang unik itu membuat mudah 51:21 sekali terekspos gitu kan. Tapi tidak 51:24 cukup hanya sampai terekspos. Terekspose 51:26 mungkin orang aware gitu kan ya. Mungkin 51:28 datang untuk nyoba-nyoba karena memang 51:31 ee yang kita tawarkan itu harganya cukup 51:34 murah gitu kan atau cukup standar. Orang 51:36 pengin penasaran tetapi kita harus masuk 51:39 ke tahap kedua itu kesukaan. Setiap yang 51:42 sudah nyoba itu harus sangat disukai. 51:45 Mereka juga suka. Jadi apa yang kita ee 51:48 janjikan itu terpenuhi. Jadi setelah 51:51 populer disukai baru kemudian 51:54 keterpilihan. Kalau di politik itu 51:57 adalah mengajak orang lain. Mengajak 52:00 orang lain untuk kemudian datang ke UMKM 52:03 kita, datang ke restoran kita, datang ke 52:05 warung kita. Bro, saya sudah [berdehem] 52:08 coba ini. Ini benar-benar enak, 52:11 benar-benar asik, enggak bikin kantong 52:14 bolong. Lu wajib cobain. Nah, itu sudah 52:17 tingkat keterpilihan. Jadi, kita sudah 52:19 memiliki orang-orang yang akan 52:22 mengiklankan bisnis kita itu melalui 52:26 konsumen kita. Nah, buku saya 52:28 mengajarkan tentang hal itu. Monggo aja. 52:31 Boleh di-show bukunya, Mas Dadi? 52:34 Mana ya? 52:35 Mau lihat 52:36 bukunya. 52:41 Nah, ini 52:42 Oh, public leaders 52:43 branding public leaders 52:45 branding for public. Jadi memang ini 52:48 studi kasusnya terhadap politisi. 52:51 Tetapi 52:53 politisi itu adalah salah satu produk 52:55 sebenarnya. 52:56 Kalau dia diganti dengan bakso juga bisa 52:59 gitu. [tertawa] 53:02 I ya, ya. Oke. 53:05 Model-model seperti itu. Jadi ini lebih 53:07 banyak ee konsep teorinya. 53:09 Baik. 53:09 Saya kasih biasanya teorinya sedikit. 53:11 Lalu kemudian contoh-contohnya. 53:13 H 53:13 di sini ada sekitar 53:16 ee 115 53:19 barcode. Jadi ini barcode ya. 53:21 Ini ada penjelasan sedikit. Lalu 53:23 kemudian ada contohnya. Nah, contohnya 53:25 kita pakai handphone. Nanti muncul itu 53:28 konten-konten di sosm terkait dengan 53:30 teori yang saya jelaskan. 53:32 Hm. Nah, itu ada 115. Jadi kalau baca 53:34 buku ini harus sambil megang handphone. 53:37 Kenapa? 53:38 Jadi setiap baca sedikit ya cek lihat 53:40 hasilnya di handphone sosm-nya begitu 53:43 bolak-balik. [mendengus] 53:44 Oke. Nih, ada yang tanya Pak Dedi 53:46 sendiri membranding diri enggak? 53:49 [tertawa] 53:51 Ya, sedikit-sedikitlah. 53:53 [tertawa] 53:55 Ini juga ada. Asalamualaikum, Ma. Saya 53:57 mau konsultasi nih. Saya ingin buka 53:59 usaha. sebaiknya bikin usaha sendiri 54:01 atau ikut franchise. [mendengus] 54:04 Dia takut resiko katanya. 54:06 Oh, 54:06 resikonya mana lebih tinggi? 54:08 Mendingan franchise sebenarnya. 54:10 Oh, gitu. 54:11 Tapi kalau 54:12 mendingan jualin barang orang dulu. 54:13 Heeh. Kemampuan untuk menang meng-handle 54:16 risiko ya bikin sendiri dulu. 54:18 Kalau kiat kiat memilih franchise 54:20 bagaimana? 54:22 Ah, saya belum pernah milih dong. Tahu, 54:24 B. Sudah pernah, Bib. 54:25 Oh 54:26 ee 54:26 penginnya sih yang laku gitu. yang laku 54:29 [tertawa] tapi 54:29 jadi kalau misalnya awal itu loh loh L l 54:34 putus ya halo 54:35 kedengaran 54:36 terdengar enggak enggak enggak putus 54:38 saya pikir putus jadi kalau untuk awal 54:41 dia itu mesti membuktikan dia bisa 54:43 jualan jualinlah produk orang produk 54:46 orang dulu 54:47 ya 54:47 nah ketika 54:50 ee produk orang laku dia akan dapat nih 54:54 oh feel-nya kayak gini ee Oh, produknya 54:58 ini laku karena ini gitu ya, karena 55:01 misalnya ada satu brand yang paling laku 55:03 tuh susu kambing. Oh, ini susu 55:06 kambingnya laku kenapa? Oh, emang 55:07 khasiatnya bagus. Dia sudah cobain, dia 55:09 coba sendiri. Jadi kalau jualan itu 55:11 saran saya coba sendiri barangnya. 55:13 Jangan kayak calu mobil bis, dia nyuruh 55:17 orang naik bis, tapi dia sendiri enggak 55:18 naik bis gitu. Jadi kalau ngerasain, 55:21 Nah, jadi karyawan kita kalau suruh 55:23 jualan, suruh coba. Jangan sampai dia 55:24 kelaparan enggak nyobain sampai mungkin 55:27 ee ngeluarin air liur di makanannya 55:30 gitu. Apalagi kita berdosa sekali gitu. 55:32 Yang kedua, dia itu enggak bisa jelasin 55:35 secara rasa emosional gitu. Suruh cobain 55:38 barangnya gitu. Jadi semua peronda kita 55:41 mereka suruh cobain. Kalau ada rasa baru 55:44 mereka suruh ngerasain gitu. Jadi 55:46 ngerasain itu benar-benar 55:48 ee mereka saya sudah cobain Bu rasanya 55:51 kayak gini gitu ya segala macam. Nah, 55:54 yang kedua ee setelah dia cobain, oh dia 55:57 tahu manajemennya kayak gini, ee 56:00 belajarnya kayak gini, sistemnya kayak 56:01 gini, nanti dia bikin merek sendiri tapi 56:04 modalnya jangan besar dulu kalau memang 56:05 baru mulai-mulain ee produknya gitu. 56:09 Nah, kalau tadi apa ya? Pertanyaan kedua 56:11 ya. Oh, milih franchise ya. Mil 56:13 franchise ya. Pertama, cek reputasinya 56:16 udah luas apa belum gitu ya. Apa cuman 56:17 hype doang nih. Oh, mereknya cepat 56:20 naiknya kayak Mas Dedi bilang, habis itu 56:22 turunnya juga cepat. Terus lihat 56:23 review-nya di Google gitu ya, bandingin 56:26 sama franchise lain. Pengorbanan kita 56:29 tuh sejauh apa. Apakah kita gratis boleh 56:32 daftar atau ee kita korban R00.000 kah, 56:35 sejuta. Makin besar yang kita korbanin 56:38 itu makin ngeceknya makin banyak gitu. 56:40 Gitu. Terus bahan bakunya apa? Apakah 56:43 ada keunikan SOP-nya halalnya apa enggak 56:46 gitu ya. orangnya nanti training after 56:48 kita daftar tuh supportnya kayak gimana 56:51 kayak gitu-gitu kan penting kalau kita 56:52 daftar habis itu enggak di-support 56:54 percuma e marketing kit-nya kayak 56:56 lengkap apa enggak biasanya sih kayak 56:58 gitu-gitu sih Mas ee Mas Dedi e apa ee 57:02 Mas Krishna jadi 57:04 ada biaya bulanan apa enggak kayak gitu. 57:06 Nah, e harusnya sih produknya juga 57:08 enggak expire-nya berapa lama. Kalau 57:11 produk cepat, nah ada resiko expire kan. 57:14 Kita mesti tahu nih berapa lama kita 57:16 naruhnya di mana gitu. Ee gitu apa 57:20 produk Evergreen kayak misalnya bakso 57:21 kayak gitu-gitu kan cepat banget gitu. 57:24 Berapa jam aja udah enggak enak gitu. 57:26 Itu sih mungkin apakah ada ee ini produk 57:29 lokal atau enggak. Lihat juga nih kalau 57:31 bisa peraturan-peraturan ada peraturan 57:33 impor produk Amerika bebas pajak. Nah, 57:36 itu produk kita bisa bersaing sama 57:37 produk Amerika mungkin bisa lebih murah 57:39 gitu. Masyarakat kita juga sebagian sama 57:42 produk asing ee wah gimana gitu kan. 57:45 Nah, itu kita bisa bertahan enggak gitu. 57:48 Itu sih mungkin ee kita banyak hal yang 57:51 dilihat termasuk juga lihat ee 57:53 aturan-aturan trennya kayak mana gitu. 57:57 Itu Pak Krishna. 57:59 Baik. Baik. Kita sepertinya sudah 58:02 dibatasi oleh waktu. Mm. Mm. Pertanyaan 58:06 sepertinya sudah terjawab semuanya. Ada 58:08 lagi terakhir yang mau disampaikan baik 58:10 Pak Dedi maupun Bang Habib. Silakan. 58:13 Silakan Mas Dedi. 58:14 Ee mungkin saya membantu tadi pertanyaan 58:17 terkait dengan memilih bisnis atau 58:20 franchise. 58:20 Heeh. 58:21 Itu sama seperti kemudian ee calek-calek 58:24 yang saya handle [tertawa] itu 58:27 [berdehem] 58:27 ada persamaan ya. 58:29 Ada persamaan. Jadi saya bilang ee bisa 58:34 bisa menang ee Calek kere ataupun calek 58:38 kaya sama-sama bisa menang gitu kan ya. 58:40 Cuma kalau calek ee kere kerja kerasnya 58:43 harus luar biasa. Sama juga kalau milih 58:46 bisnis. Kalau mau bisa santai milih 58:49 bisnis dengan franchise gitu kan kita 58:51 pilih franchise yang benar. Tapi itu 58:53 berarti 58:54 dia harus punya ee duit yang cukup modal 58:57 yang cukup besar gitu kan ya. Tapi kalau 59:00 modalnya tidak terlalu besar, ini 59:03 istilahnya calek kere, maka dia harus 59:06 kerja keras. 59:07 Dia harus kerja keras seperti yang 59:09 dijelaskan oleh Mas Habib tadi. Jadi dia 59:12 harus mulai belajar berjualan, dia mulai 59:14 melakukan ini, melakukan itu, itu kerja 59:16 keras gitu kan ya. 59:18 Dan itu juga bisa berhasil. 59:20 Jadi memang semuanya bisa berhasil, 59:22 franchise bisa berhasil, bangun bisnis 59:24 sendiri bisa berhasil tergantung dari 59:27 diri kitanya sendiri juga gitu. 59:30 Oke, itu dari saya. 59:31 Oke. Baik, terima kasih Bang Aiba mau 59:34 disampaikan. 59:35 Jadi ee saudara-saudara sekalian 59:38 pendengar yang dirahmati oleh Allah, 59:40 kita belajar hari ini branding itu bukan 59:43 logo, bukan rasa, bukan strategi. 59:46 Branding itu sebetulnya citra, citra 59:49 kepercayaan yang kita tanamin di hati 59:52 orang lain gitu ya. 59:53 Nilai ya kebaikan. 59:54 Kalau ee kalau kita bangun dengan 59:57 kejujuran, konsisten dari amanah yang 59:59 kita jaga setiap hari itu akan bagus 1:00:02 gitu ya. kondisi sekarang fitnah itu 1:00:04 bisa datang kapan aja, nama kita bisa 1:00:06 hancur dalam sekejap gitu ya. Produk 1:00:09 kita bisa dilupakan dalam sebulan gitu 1:00:11 ya. Tapi ada satu yang enggak bisa 1:00:13 dihilangkan gitu ya. 1:00:15 Legacy yang lahir dari integritas sama 1:00:18 keberkahan. Jadi warisan dari 1:00:20 integritas kita sama keberkahan dibantu 1:00:22 dengan doa-doa gitu. Doa orang banyak 1:00:25 apalagi produk kita bermanfaat buat 1:00:27 orang banyak gitu. Jadi ee kita bangun 1:00:30 brand bukan cuman hari ini, tapi nama 1:00:33 baik kita untuk ee masa mendatang, untuk 1:00:35 anak-anak kita, gitu. Karena pada 1:00:37 akhirnya yang kita tinggalkan bukan 1:00:39 cuman usaha, bukan hanya produk, tapi 1:00:42 kebaikan ee kepercayaan orang dan 1:00:44 nilai-nilai yang baik gitu. Ingat ee 1:00:47 brand kita, nama baik kita itu bisa naik 1:00:50 turun, tetapi warisan atau legasi itu 1:00:53 adalah doa yang hidup sampai kapanpun, 1:00:57 sampai hari kiamat. Gitu. Mungkin itu ee 1:01:00 Mas Kristana. 1:01:01 Baik, terima kasih ee Bang Habib. Ini 1:01:03 nomor telepon Bang Habib. Kalau mau 1:01:05 kontak, mau konsultasi soal branding, 1:01:07 soal apa saja silakan di 0823 1:01:12 10.213 1:01:14 0823 1:01:16 10.213. 1:01:18 Ini ada tanyaan Pak Dedi nanti langsung 1:01:20 tanya ke Bang Habib aja deh ya. 1:01:22 Pak Dedi terima kasih atas ilmunya ya 1:01:25 tentang branding ini. Baik sampai jumpa 1:01:27 lagi. Baik saya Muhammad Krishna dan 1:01:29 Ondi Saputra juga Algi mohon pamit. 1:01:31 Wabillahi taufik walhidayah. 1:01:33 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:01:34 wabarakatuh. Waalaik