Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
- dipancar luaskan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibugur
- Bekasi, Radio Silaturahim untuk Islam
- yang satu. Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa taala,
- bagaimana kabar Anda di pagi hari ini?
- Semoga sehat walafiat dan selalu dalam
- lindungan Allah Subhanahu wa taala.
- Senang sekali saya dapat kembali
- menjumpai Anda ikat nafot dalam program
- sirah sahabat di edisi hari Senin 26
- Februari
- 2018. Narasumber kita seperti biasa
- Ustaz Komaruddin Basuni. Beliau telah
- hadir di tengah-tengah kita saat ini.
- Kita sapa terlebih dahulu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Sehat,
- Ustaz? Kir alhamdulillah.
- Dan di pagi hari ini tema yang akan
- diangkat atau sahabat yang akan menjadi
- topik kita adalah tentang ee sahabat
- bernama Ibnu Abbas radhiallahu
- anhu. Baiklah ikhwan dan akhwat
- yang berbahagia dan dirahmati Allah
- Subhanahu wa taala. Mari kita simak
- pemaparan dan tausiah dari Ustaz.
- [Musik]
- Iya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullah
- wabarakatuh. Innalhamdalillah
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- nahmaduhufirubillahusatialinaahdillah
- asadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa asadu anna muhammadan
- abduhuasul. Amma ba.
- Para pendengar Radio Silaturahim di mana
- saja berada. Juga Pak Tiki Rasil yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
- Alhamdulillah pada pagi
- ini
- tanggal sekarang sudah
- memasuki tanggal
- ke 9 atau 10 Jumatil akhir ya.
- ee yang bertepatan
- dengan
- tanggal
- 26. Betul ya? Betul.
- Tahun 2018.
- Alhamdulillah kita pagi ini dimudahkan
- oleh Allah sampai di studio dan juga
- para pemiarsa yang siap untuk
- mendengarkan kisah salah seorang sahabat
- yang pagi ini akan kami sampaikan yaitu
- yang dikenal dengan panggilan Ibnu Abbas
- atau juga disebut Abdullah bin Abbas.
- Abdullah bin Abbas adalah salah seorang
- sahabat Rasulullah
- yang dari sejak kecil beliau sudah
- mendapatkan langsung bimbingan dari
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Beliau lahir 3 tahun sebelum Nabi
- hijrah.
- Jadi bisa di prediksi kurang lebih waktu
- itu Nabi
- baru ee 10
- tahun diangkat menjadi nabi dan rasul.
- Nah, beliau lahir Abdullah bin Abbas
- ini. Nah, Rasulullah hijrah itu pada
- usia 53 tahun ya,
- pada tahun ke-13 dari
- kenabian. Beliau hijrah dari Makkah ke
- Madinah.
- Nah, beberapa anak kecil yang seusia
- dengan
- beliau di
- antaranya
- ada Zaid bin Haritah.
- bin Harit. Ah, bin Haris. Ada juga
- sahabat Abdullah bin
- Jubair. Ada lagi yaitu Ibnu Abbas. Ini
- anak-anak
- muda yang pada saat ee
- beliau itu Rasulullah berada di Kota
- Madinah. Itu anak-anak Buddha yang masih
- kecil tuh maksudnya sahabat yang masih
- kecil termasuk ya Abdullah bin Abbas.
- Beliau Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam sangat memahami di antara
- karakter anak-anak yang masih kecil itu
- punya satu pandangan yang jauh dari
- kebiasaan anak muda yang lain. Ada
- beberapa anak sahabat yang cerdas-cerdas
- ya. Di antaranya Abdullah bin Jubair,
- kemudian lagi ada sahabat Zaid bin
- Harit.
- Kemudian lagi ada lagi sahabat Abdullah
- bin Abbas ini. Nah, sahabat-sahabat
- kecil
- ini boleh dibilang itu antik dan
- menyegarkan.
- Nah, sehingga suatu saat keingintahuan
- sahabat Abdullah bin Abbas terhadap apa
- yang dilakukan oleh Rasulullah bukan
- sekedar hanya ingin
- tahu. Sehingga satu
- saat Abdullah bin Abbas setelah beliau
- mengucapkan dua kalimah syahadat di
- hadapan Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Padahal waktu itu usianya
- masih muda sekali. Ada yang mengatakan
- masih 7 tahun ya. Karena beliau memang
- lahir dari keluarga besar. Nah, orang
- tuanya Abbas, paman Nabi sendiri. Nah,
- orang kaya raya. Maka anaknya pun yang
- mewarisi dari kekayaan orang tuanya itu.
- Jadi, orang tuanya begitu indah, orang
- tuanya begitu perhatian kepada anaknya.
- Maka lahirlah seorang anak yang disebut
- namanya Abdullah bin Abbas itu punya
- keunggulan daripada keunggulan
- sahabat-sahabat yang lain. Secara
- fisik Abdullah bin Abbas itu badannya
- tinggi
- besar bukan
- tinggi Mal keceng apa Mal keceng. Nah,
- tinggi semampai
- bukan atau kutilang istilahnya. H
- kutilang itu singkatan dari kurus
- tinggi. Kurus tinggi tinggi langsing.
- Bukan bukan itu. Beliau tinggi besar ya.
- Kemudian bahunya besar.
- Hm. Nah, dari situ kemudian dilihat dari
- sisi kulitnya. Kulitnya putih
- bersih dan beliau punya wajah ganteng.
- Nah, ini Abdullah bin Abbas ini. Dan
- beliau memiliki kecerdasan yang di luar
- kebiasaan-kecerdasan yang lain. Artinya
- di atas
- rata-rata. Dan beliau hafiz
- Quran dan ribuan hadis di kepala beliau
- bersarang itu hadis-hadis
- Nabi. Nah, suatu saat Abdullah bin Abbas
- ingin mengetahui bagaimana Rasul kalau
- salat malam.
- Ah, akhirnya dia pamit sama
- bibinya. Ah, kemudian ternyata bibinya
- itu yang menjadi istri
- Nabi. Ah, kata bibinya, "Boleh nanti
- saya sampaikan sama Rasul, Anda nginep
- oleh."
- Nah, ternyata dia nginp di rumah Rasul
- itu di bibinya beliau yang jadi istri
- Nabi. Tidak hanya sekedar ingin tidur,
- tapi ada niat dia ingin tahu bagaimana
- Rasul salat malam.
- Nah, maka begitu Rasulullah sudah larut
- malam, bangun, beliau sudah bangun
- duluan.
- Ibnu Abbas. Ibnu Abbas itu karena memang
- istilah bahasa saya namanya peremnya
- perem. Jadi merem tapi matanya melek,
- hatinya melek. Ya. Merem apa itu
- namanya? Kalau istilah sunah perum hayam
- namanya. Jadi merem tapi melek ya. Nah,
- Ibnu Abbas begitu dengar Nabi kalau
- istilah bahasa kita mah cingkluprak. Ah
- nih ada suara apa nih?
- sendal bunyi gitu ya. Nah, wah. Maka
- Ibnu Abbas langsung segera dia bangun,
- dia sediakan tempat air wudu biasa Nabi
- wudu itu. Maka begitu Rasulullah keluar
- mau ambil kaget. Nah, ini siapa yang
- nyiapin
- ini? Kata Ibnu saya ya Rasulullah.
- Masyaallah. Kata Nabi langsung didekap
- oleh Nabi. Dipegang ininya apa? Bahunya.
- Terus didekatkan kepalanya, terus
- didoakan oleh Rasulullah,
- "Allahumma faqihu
- fiddin." Ya Allah berikan dia kepahaman
- yang dalam tentang
- agama.
- Kemudian semoga Engkau memberikan
- kepahaman fit
- takwil dalam memberikan penjelasan.
- Artinya Quran ini supaya dijelaskan oleh
- beliau dengan tafsiran tafsiran yang
- beliau ketahui dari
- Rasul. Nah, ini doa Rasul di tengah
- malam.
- Bayangkan kepada orang yang masih muda
- yang semangat giriroh menuntut ilmunya.
- Luar biasa ya. Doanya Rasul diijabah
- pasti oleh
- Allah. Nah, satu
- saat Rasulullah ingin berjalan.
- Ada Ibnu Abbas dipanggil kata Nabi, "Ayo
- ikut saya." Ikutlah Abdullah bin Abbas
- naik
- kendaraan. Nah, sedang berjalan berdua
- di atas kendaraannya. Rasul bersabda,
- "Ya gulam." Nah, panggilan eh anak
- muda. Ada apa, ya Rasulullah? Mau aku
- berikan sesuatu yang apabila engkau
- melakukan Allah akan
- memeliharamu, Allah akan melindungimu,
- Allah akan menjagamu. Ya. Baik. Kemudian
- kata Nabi,
- "Ihfadillaha
- yahfadka." Jagalah
- Allah, jagalah
- perintahnya. Laksanakan, niscaya Allah
- akan
- menjagamu. Aduh. Jadi orang yang
- melaksanakan perintah Allah, menjaga
- aturan-aturan Allah, dijaga, dipelihara,
- itu Allah akan menjaga
- dia.
- Yahfadka. Kemudian, "Ya gulam
- ihfadillaha
- yahfadka." Hai ghulam, sekarang jaga
- larangan Allah jangan sampai engkau
- langgar. niscaya kamu akan menemukan
- Allah di hadapan kamu. Artinya engkau
- satu saat apabila menghadapi kesulitan
- Allah akan berada di hadapan kamu.
- Artinya engkau tidak akan kehilangan,
- engkau tidak akan susah menghadapinya.
- Pasti Allah akan memberikan
- jalan. Waidastaan pastain
- billah. Kalau kamu minta tolong langsung
- sama Allah, jangan pakai pelantaran yang
- lain. Masyaallah.
- Jadi beliau memberikan pendidikan
- langsung baik itu menyangkut
- adabiah maupun menyangkut yang sifatnya
- ubudiah. Kemudian yang sifatnya
- muamalah berinteraksi dengan orang yang
- lain itu langsung diberikan bimbingan.
- Waidastaanta pastain billah. Kalau kamu
- minta tolong langsung.
- Kemudian kata
- Nabi dalam lanjutan sabatnya,
- waid saalta
- fasalillah. Kalau kamu minta
- langsung tadi kan minta tolong ya
- berarti kepada sesama. Tapi kalau kamu
- pengin ada sesuatu langsung aja sama
- Allah. Nah, itulah nasihat Rasulullah
- kepada Abdullah bin Abbas.
- Nah, beliau dengan
- ketekunannya tiap hari dan semangat
- mendampingi Rasul itu bukan main. Setiap
- Rasul mengadakan kajian itu dia ada di
- sampingnya. Dan beberapa anak muda yang
- seangkatan dengan dia itu bukan main,
- semangatnya. Nah, beliau termasuk
- sahabat Nabi yang diberikan kelebihan.
- Dia
- punya daya tahan ingatan yang cukup
- kuat. Hampir
- 1000 600 lebih sabda Nabi yang dimuat di
- Bukhari dan Muslim itu dikuasai oleh
- beliau. Hafal Al-Qur'an 30
- juz. Sampai salah seorang sahabat
- muslimat namanya Ummu
- Atiah. Suatu saat Ibnu Abbas mengimami
- salat.
- Begitu selesai disampin sama Umut,
- "Wahai anak
- muda, saya terkesan dengan bacaan surat
- yang kau baca. Surat ini biasa Rasul
- baca setiap surat. Dan sekarang kamu
- mengulang dan apa yang kamu baca saya
- teringat dengan suaramu dan suara
- nabimu." Jadi begitu dibaca langsung
- terkesan ini Rasul yang membaca surat
- ini. Nah, itu diikuti oleh Ibnu Abbas.
- Nah, para pendengar Radio Silaturahim
- yang dimuliakan Allah Subhanahu wa
- taala. Pada saat Ibnu Abbas sudah
- menyiapkan air wudu untuk Nabi
- melaksanakan salat, nah kemudian beliau
- ikut salat malam bersama Nabi. Nah,
- posisi beliau waktu itu berada di
- sebelah
- kiri. Kemudian isi Nabi di belakang.
- Nah, begitu sedang salat karena dia
- posisinya banyak sebelah kiri oleh Nabi
- ditarik tuh oleh tangan sebelahnya
- ditaruh di sebelah
- kanan. Nah, begitu ditaruh di sebelah
- kanan dia mundur ke
- belakang. Sampai akhir salat Nabi
- manggil gulam anak muda. Kamu kan tadi
- saya tarik supaya ada di sebelah kanan.
- Kok kamu mundur ke belakang? Kenapa? Apa
- jawaban? Ya Rasulullah, engkau ini
- terlalu
- agung. Saya kan orang biasa. Enggak
- pantes kalau saya di
- sampingmu. Tapi Rasul tidak membantah
- ucapannya. Udah dibiarkan aja.
- Sudah. Nah, Rasulullah kalau melihat
- Ibnu Abbas dan beberapa sahabat itu
- namanya hampir sama Abdullah. Ada
- Abdullah bin Abbas, ada Abdullah bin
- Umar, ada lagi Abdullah bin
- Jubair, ada lagi Abdullah bin Amr bin
- Ash. Bahkan ada lagi Abdullah bin Abi
- Bakar, Abdullah. Hampir ada 30 nama
- Abdullah.
- Nah, untuk empat orang ini yaitu
- Abdullah bin
- Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin
- Zubair, Abdullah bin Amr bin Ash. Ini
- disebut dengan
- panggilan
- abadillah. Jadi kalau Nabi bilang ya
- abadillah itu empat orangnya langsung
- hadir. Jadi mangganya engak enggak
- begini. Hei Abdullah bin Umar. He
- Abdullah. Enggak ya abadillah. langsung
- empat orang ini. Jadi ini
- sahabat-sahabat militan yang kualitasnya
- masyaallah padahal usianya masih
- muda-muda mereka. Sehingga pada saat
- Rasul wafat itu usianya baru 13
- tahun. Baru 13 tahun berarti kelas 1 SMP
- ya. Tapi kualitas keimanan, kualitas
- ibadah, kualitas akhlak masyaallah dia
- di atas rata-rata. gitu. Kalau istilah
- kita nilainya tuh 9,9 lah. H rata-rata
- 10 tu nilainya itu.
- Masyaallah. Nah, pada saat Rasulullah
- wafat, beliau
- menangis. Kenapa
- menangis? Karena terus siapa yang beliau
- atau yang ia ajak bicara yang seperti
- Rasul? Karena Rasul sekarang sudah tidak
- ada.
- Akhirnya Ibnu Abbas ee memanggil
- teman-temannya yang
- seangkatan. Kata dia, "Teman-teman,
- sekalipun Rasul tidak ada, tetap kita
- harus menggali ilmu
- sedalam-jalamnya." Nah, sahabat yang
- seangkatan dengan dia ternyata kurang
- respon. Mungkin merasa sudah cukuplah
- katanya. Tapi Ibnu Abbas masih aja.
- Akhirnya suatu
- saat ada satu hadis yang diterima oleh
- sahabat Nabi dari orang Anshar. Nah, dia
- langsung datang ke rumahnya. Begitu
- sampai di rumahnya, sahabat Anshar ini
- sedang
- istirahat. Nah, diberitahu oleh
- keluarganya bahwa fulan sedang
- istirahat. Ya udah, enggak apa-apa kalau
- gitu saya nunggu di sini. Maksudnya
- nunggu di luar. Nah.
- Ah, ditunggu di luar enggak
- bangun-bangun. Dianya ngantuk. Akhirnya
- sorbannya dibuka, digelar. Dia tidur di
- depan
- pintunya. Nah, begitu tuan rumah bangun,
- pas dibuka pintu
- kaget. Kata orang sunah, "I saha
- jelema?" "Iya di dieu." Di dieu.
- Begitu bangun, "Anta Ibnu Abbas." Naam.
- Ana Ibnu Abbas. Masyaallah. Kenapa Anda
- sampai berbuat
- demikian? Ya, saya datang sih siang,
- katanya. Cuma karena Anda istirahat,
- saya khawatir mengganggu Anda. Maka
- biarlah saya nunggu. Kata safat, "Kenapa
- tidak disuruh seorang
- aja? Saya akan datang ke rumahmu kata
- Ibnu Abbas, tidak, saya yang
- mencari. Anda yang saya cari. Nah, saya
- ini ingin mencari ilmu. Maka saya
- berkewajiban datang kepada
- Anda. Sahabat Ansar begitu disampaikan
- hujah, dianggap banyak bicara kemudian
- diminta, "Apa yang pernah Anda sampaikan
- dari Rasul tentang sesuatu hal?" Itu
- diceritakan oleh beliau kemudian masuk
- dalam rekamannya dan kemudian beliau
- pulang. Sudah.
- Nah, begitu beliau memasuki zaman
- Khalifah Umar bin Khattab, nah Umar
- ingin
- mengetes sejauh mana
- kemampuan Abdullah bin Abbas dalam
- menerima satu ayat dari Allah kemudian
- dijelaskan dengan penafsiran beliau.
- Akhirnya dikumpulkan para
- sahabat-sahabat besar baik itu yang
- senior yang mereka pernah dulu menjadi
- pejuang Badar maupun sahabat-sahabat
- yang masuk Islam setelah Fathu Mekah.
- Kumpul itu semua. Nah, anak-anak muda
- yang cerdas hadir di situ. Pertanyaan
- Umar bin Khattab. Kata Umar bin Khattab,
- "Coba tolong oleh Anda jawab pertanyaan
- saya. Bagaimana menurut Anda waktu ana
- membaca ayat idza jaa nasrullahi wal
- fath? Silakan
- jawab. Nah, di situ orang-orang yang
- senior di kalangan sahabat Nabi
- menjawab, "Oh, kalau menurut saya
- begini, kalau sudah ada pertolongan
- Allah, kewajiban kita hanya bertasbih
- aja dan
- beristigfar." Sudah, udah. Memang letter
- ayatnya seperti gitu. Jaa apabila datang
- nasrullahi pertolongan Allah walat dan
- kemenangan waritanasa. Dan kamu lihat
- manusia yadkuluna mereka masuk fi
- dinillah pada agama Allah apa aja
- berbondong-bondong.
- Fasabbih bihamdibika wasbir.
- Maka bertasbih dan mohon ampun pada
- Allah. Selesai. Kata Umar, "Coba menurut
- Anda Ibnu Abbas gimana? sama enggak?
- Tidak kata dia.
- Nah, dia langsung tidak jelaskan kata
- Umar. Kata Ibnu Abbas, menurut yang saya
- ketahui ayat ini memberikan
- isyarat bahwa beberapa saat lagi
- Rasulullah akan kembali kepada Allah.
- Nah, kan beda kan. Kenapa? Di situ ada
- kalimat idza
- jaa. Idza itu menunjukkan kepada sesuatu
- yang akan
- terjadi. Nah, dan waktu turun ayat ini
- adalah Nabi masih hidup. Tapi desiran
- ayat ini mengisyaratkan bahwa tidak lama
- lagi Rasulullah akan pulang pada Allah
- dengan beberapa tanda dijelaskan satu
- persatu. Kemudian bagaimana sikap orang
- mukmin menghadapi pertolongan Allah yang
- begitu
- besar, yang begitu indah, maka kewajiban
- mereka memuji Allah, menyanjungnya, dan
- beristigfar
- kepadanya. Oh, baru Umar punang. Kata
- Umar, "Wah, bagus, bagus."
- Nah,
- kemudian suatu saat Khalifah
- Umar mendapatkan berita. Nah, berita ini
- harus diatasi, harus segera diberikan
- solusi yang terbaik dan harus
- cepat. Maka Umar bin Khattab memanggil
- tokoh-tokoh sahabat termasuk anak muda
- ini. Nah, kenapa Umar memasukkan
- kelompok anak muda ini? Cuma
- satu-satunya anak muda masuk dari
- kelompok orang-orang besar
- berpengaruh. Sehingga ada sahabat Ansar
- yang bilang, "Itu anak muda ngapain
- dibawa ke sini?
- Mungkin kalau bahasa kita mah lah
- umurnya kan paling berapa tahun
- maneh kok bisa kumpul di tengah
- orang-orang besar kayak
- gini.
- Umar tidak terpengaruh dengan
- ucapan. Ya kita dengarkan aja nanti
- pandangannya. Ternyata begitu
- disampaikan satu usulan dari Umar bin
- Khattab itu sahabat yang hadir enggak
- langsung merespon. Diam semuanya.
- Kemudian dipersilakan kepada Ibnu Abbas.
- Silakan Ibnu Abbas berikan penjelasan.
- Masyaallah. Itu beliau menger satu
- masalah itu dari dasarnya dulu, kemudian
- dari permasalahannya baru solusinya.
- Sehingga waktu beliau menyampaikan salah
- satu ayat dari
- Al-Qur'an itu disaksikan oleh tabiin.
- Kata tabiin, sekiranya penduduk Parsi,
- Romawi dan daerah-daerah di sekitar Arab
- hadir menyaksikan dan mendengarkan
- khutbah yang disampaikan oleh Ibnu
- Abbas, niscaya semua yang hadir akan
- masuk Islam semuanya.
- Begitu luas dan begitu tajam dan
- cerdasnya pemikiran Abdullah bin
- Abbas. Namun demikian, sekalipun beliau
- diberikan ilmu yang tinggi oleh Allah,
- tapi sikap beliau itu tawadu. Nah, di
- sini ya jadi tidak gr ya, tidak merasa
- diri lebih baik atau lebih pintar dari
- tapi dijaga ketawaduannya.
- Sehingga salah satu sahabat Nabi yang
- bernama Zaid bin
- Tsabit, dia seorang sahabat Nabi yang
- diberikan kemampuan bisa menulis dan
- bisa
- membaca. Begitu ketemu Ibnu Abbas,
- dicium tangannya. Kata Iblis, "Ngapain
- dicium?" Kata Zaid, "Nah, beginilah yang
- saya dengarkan dari Rasulullah. Kalau
- Anda ketemu orang alim, Anda mencium."
- Kata Abdul Lahab bin Abbas, "Sekarang
- saya cium lagi tanganmu." Kenapa? Karena
- Anda termasuk orang alim. Wah, jadi
- sahabat itu satu sama lain itu saling
- merangkau, saling mencintai, dan saling
- menghormati. Bukan sahabat satu saling
- caci. Ini gara-gara beda pendapat
- langsung umat dijauhkan, langsung
- dikecer. Ah, kalau sahabat enggak
- begitu. Jadi penghormatan kepada sahabat
- satu dengan yang lain itu betul-betul
- diwujudkan dalam akhlak, dalam pergaulan
- hari-hari, kemudian dalam
- berinteraksi. Berinteraksi apapun yang
- dilakukan oleh sahabat-sahabat besar
- tadi itu, itu menonjolkan akhlakul
- karimah. Penuh dengan senyum. Kalau
- mereka ketemu dengan satu sen lain,
- enggak saling cemerut. Ya. Kemudian
- kalau mereka ketemu dengan mereka itu
- sering sapa kemudian dirangkul. Itulah
- kehidupan para sahabat. Maka pantas
- kalau Allah mengatakan bahwa orang-orang
- di samping Rasulullah disebutkan dalam
- surat Muhammad Muhammadur Rasulullah
- walladzina maahu asyidda alal kubar
- ruhamau
- bainahu. Mereka tegas kepada orang-orang
- yang di luar Islam tapi sesama
- orang-orang mukmin mereka berkasih
- sayang. Ruhau bainahum.
- Nah.
- Abdullah bin
- Abbas pada zaman Khalifah Ali bin Abi
- Thalib itu usianya sudah cukup ya, sudah
- dewasa hampir 40 lebih
- umurnya. Nah, beliau pada saat
- menghadapi permasalahan yang terjadi
- antara Ali dengan Muawiyah terjadi
- peristiwa yang disebut namanya yang
- disebut namanya peristiwa sifin.
- Nah, dalam peristiwa sipin ini dua
- kelompok sahabat terbelah dua. Yang satu
- ngeblok kepada Ali, yang satu kepada
- Muawiyah. Nah, di mana sekarang posisi
- Abbas? Ibnu
- Abbas. Ternyata Ibnu Abbas berada di
- pihak Ali bin Abi Thalib.
- Tapi menurut satu
- riwayat, Ibnu Abbas ya akhirnya dia ada
- yang mengatakan tidak terpengaruh ke
- mana-mana di
- tengah-tengah. Tapi pandangan yang lain
- dia berada di pihak Ali bin Abi
- Thalib. Kenapa saudaraku? Karena ada
- sahabat yang alim juga di situ namanya
- Abdullah bin Amr bin Ash. Ini yang masuk
- kategori Abadilah
- ini. Dia justru berada di pihak
- Muawiyah. Nah, kenapa?
- Karena pada saat ee ayahnya Amr bin
- Ash karena dia ditunjuk oleh Muawiyah
- sebagai komandannya, dia datang ke
- rumahnya Amr bin
- Ash. Kata ayahnya,
- "Abdullah, kamu ingat pesan Nabi kan?"
- "Iya." "Bah kamu harus ikut ayah."
- "Iya." "Nah, sekarang ayah memanggil
- Anda ikut ayah ke mana?" "Ke
- Syam. Dan kamu harus membela ayah."
- Waduh, kata dia, "Saya ini mau memihak
- Ali, tapi karena Rasul pernah berpesan,
- kamu harus ikut
- ayah. Jadi saya ikut pesan Rasul, ikut
- ayah aja dah. Tapi urusan nanti saya
- dikasih senjata dan lain sebagainya itu
- nantilah. Yang penting saya sekarang
- ikut ayah aja dulu." Karena Nabi
- perpesan, "Kalau nanti suatu saat ayahmu
- datang meminta kamu taat ayah, sudah
- saya taat ayah dah." Akhirnya dia
- ternyata dibawa oleh ayahnya Amr bin As
- agar dia berpihak kepada Muawiyah untuk
- memerangi
- Ali. Nah, kan orang saleh ilmunya cerdas
- ya, ilmunya tinggi. Dia sudah bisa
- memilah dan memilihi yang berhak
- ditolong dan dibilah itu Ali bukan
- sahabatnya Muawiyah. Karena Muawiyah itu
- istilah bahasa kita masuk kategori
- bugot.
- Dia yang menyerang Ali yang Ali yang
- telah sah ditetapkan oleh kaum muslimin
- sebagai khalifah. Nah, sementara
- Muawiyah tidak mau mengangkat Ali
- sebagai khalifah dan dia mengangkat
- senjata dan tahu itu Abdullah bin Amr
- bin Ash. Nah, sementara temannya
- Abdullah bin Abbas di pihak Ali kan
- seolah-olah nih teman dekat mau diadu
- nih. Iya. Hm. Nah, di situ akhirnya apa?
- Abdullah bin Amr bin Ash. Artinya dia
- pokoknya diikut. Tapi dia kalau suruh
- akar sejatah dia enggak enggak mau kata
- dia. Menurut sebagian riwayat dia
- mengatakan berada di pihak Muawiyah tapi
- dia tidak ikut andil anggar senjata.
- Nah. Nah, karena dia tahu. Nah, apalagi
- setelah dia melihat sahabat-sahabat
- junior yang usianya lebih dahulu, yang
- lebih tua dan perjuangannya besar.
- Bahkan jiwanya dikorbankan untuk Islam.
- Bahkan sempat dirinya dibakar oleh api,
- tapi api enggak mempan membakar dia.
- Siapa dia? Ammar bin
- Yasir. Waktu itu berada di pihak Ali bin
- Abi Thalib. Nah, di situlah Ibnu Abbas
- hadir di tengah-tengah sahabat yang lain
- dan terjadilah kontak senjata antara
- pihak Ali dengan Muawiyah. Nah, di
- tengah jalan, di tengah pertempuran
- pihak Muawiyah minta bertahakkim dengan
- Al-Qur'an. Ali pertamanya nolak, tapi
- karena Ali didesak oleh umatnya,
- akhirnya menyerah. Nah, begitu dia
- menyerah harus ada perwakilan dari pihak
- Ali maju ke depan untuk menyampaikan
- istilah kita orasinya atau pandangannya.
- Dan dari pihak Muawiyah pun harus ada
- yang menyampaikan wakilnya satu orang.
- Ditunjuklah Ibnu Abbas.
- Nah, jadi di pihak Ali yang akan
- ditunjuk Makjuj itu Ibnu Abbas. Dari
- pihak Muawiyah Amr bin
- Ash. Begitu
- disedorkan Abdullah bin Abbas akan
- bicara
- ditolak. Karena mereka sudah tahu nih
- ini kalau orang ini ngomong tidak akan
- kalah. Pokoknya akan terus dia akan
- menghadang setiap apapun dia akan kejar
- terus. Maka waktu disodorkan Ibnu Abbas
- untuk tampil membeberkan
- permasalahannya, ditolak enggak
- mau. Ah, akhirnya apa kata Ali bin Abi
- Thalib? Ya, terus kita siapa lagi?
- Enggak ada. Eh, pihak Muawiyah yang
- mengusulkan yaitu Abu Musa
- al-Asy'ari. Akhirnya diterima yalah.
- Tapi Ali sesungguhnya enggak setuju Abu
- Musa untuk tampil ke depan. Kenapa?
- Kemampuan berpikirnya beda dengan Ibnu
- Abbas. Cara berpikirnya beda. Tapi
- karena mereka menghendaki Ibnu ee
- menghendaki Abu Musa ya ternyata apa?
- Begitu Musa tampil justru
- dikecewakan. Jadi apa yang disampaikan
- Abu Musa itu semua seolah-olah tidak
- dianggap lagi. Nah di situlah mulailah
- ee bahwa Ibnu Abbas betul-betul memang
- orang yang diperhitungkan oleh pihak
- Muawiyah. diperhitungkan oleh pihak yang
- lain. Bahkan pada saat beliau menjadi
- ulama, guru semua para sahabat yang
- disebut tabiin itu rumah beliau enggak
- pernah sepi. Tiap hari itu banyak orang
- belajar ilmu. Belajar ilmu tafsir,
- belajar ilmu hadis, belajar ilmu faraid,
- belajar ilmu tentang dunia dan tentang
- alam sekarang. Wah, itulah hebatnya.
- Saya waktu baca kisah Ibnu
- Abbas, timbul
- keinginan. Saya pernah ada cita-cita
- ingin jadi Ibnu Abbas, tapi ternyata
- karena banyak permasalahan yang
- dihadapi, karena persyaratan jadi Ibnu
- Abbas itu harus hafal Al-Qur'an
- dulu. Sementara Quran yang ada aja
- banyak yang lupa kata saya nih. Apalagi
- ribuan hadis yang safal. Masyaallah.
- Tapi saya merasa kagum waktu saya di
- Prepot, waktu saya nanya, saya bilang,
- "Di sini siapa yang suka memberikan
- ceramah?" Dijawab, "Ibnu Abbas." Saya
- kaget. Ibnu Abbas. Ibnu Abbas mana? Ibnu
- Abbas orang sini.
- Jadi, dalam hati saya Heeh. Ini
- jangan-jangan Ibnu Abbas palsu. Apa nih?
- Jadi namanya Ibnu Abbas.
- Jadi seorang kiai, seorang ustaz dari
- Iriar. Kenapa dikasih nama Ibnu Abbas?
- Nah, karena dia kan agamanya sebelumnya
- Nasrani masuk Islam. Jadi, nah kemudian
- dikasih nama agar dia bersemangat
- namanya Ibnu Abbas. Ternyata ilmunya
- masyaallah ya, ilmunya tinggi dan memang
- bisa ee memberikan jawaban-jawaban
- terhadap apa yang ditanyakan. Mungkin
- itu saja saudaraku para pendengar Radio
- Rasel di mana saja berada akan
- ee kepribadian akan kecerdasan dan lain
- sebagainya yang menyangkut sahabat Nabi
- ini. Demikian walaupun minkum
- wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [Musik]
- [Musik]