Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail 0:14 TVestina eh dan juga ee terkait konflik 0:18 Ukraina lewat 0:20 Rusia eh seakan-akan publik Amerika 0:24 menghukum eh pemerintahan Biden ee yang 0:27 ee mendukung Israel ya ee dalam ee 0:32 terkait kompleks di Palestina ini dan 0:35 beberapa isu lainnya. Nah, tapi ee kita 0:37 ingin ee mengundang para narasumber yang 0:40 paham terkait politik luar negeri dan 0:43 isu-isu khususnya di kebijakan Amerika 0:46 ee terkini untuk kita melihat dan nanti 0:49 kita pelajari apa ee hikmah dan 0:51 pembelajaran yang bisa kita dapatkan 0:53 untuk Indonesia dengan kemenangan Donald 0:56 Trump ini. Untuk itu sudah hadir bersama 0:58 kita para narasumber nih yang cukup 1:00 mumpuni. Yang pertama Profesor Siswanto 1:04 dari Brin. Asalamualaikum Prof. 1:06 Anto. Waalaikumsalam warahmatullahi 1:07 wabarakatuh. Ya, terima kasih sudah 1:09 hadir. Dan juga narasumber kedua Ibu 1:13 Asrafdianita, PhD, Kaprodi Hubungan 1:16 Internasional FISIP UI. Asalamualaikum 1:19 ee Bu Astra. Waalaikumsalam 1:21 warahmatullahi wabarakatuh. Saya ralat 1:23 dikit ya, bukan ketua prodi, ketua 1:25 departemen. Ini ketua prodinya bisa. Oh, 1:28 gitu. Ketua departemen. Iya. Dan Mas 1:30 Jelang Ramadan juga ini Mas Jelang 1:33 reguler. Iya, Mas. Ee ee Mas Jelang di 1:37 sini juga sebagai dosen ee hubungan 1:39 internasional ya, kajian wilayah 1:41 Amerika. Kajian 1:43 Kajian ee wilayah Amerika ya. Terima 1:46 kasih ee atas 1:48 kehadirannya. 1:49 Ee dosen kajian Amerika Sekolah Kajian 1:52 Strategis dan Global UI ya. Dan 1:54 alhamdulillah tuan rumah Indusan Stok 1:56 kita sudah hadir Pak Mardan 1:57 Indonesiaara. Asalamualaikum Pak 1:59 Mardani. 2:02 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:03 wabarakatuh. Bang Haldi, Prof. Mas 2:06 Jilang, Dr. Asla, matur nuwun semuanya. 2:10 Iya, alhamdulillah. Dan nanti insyaallah 2:13 semoga segera 2:15 bergabung ee tandemnya Pak Marani Bung 2:18 Roikung ya. Nah, sahabat-sahabat 2:20 sekalian sebelum kita mulai diskusi kita 2:22 yang ingin mengupas tuntas terkait latar 2:24 belakang dan faktor-faktor kemenangan 2:27 Donald Trump, kami ingin mengucapkan 2:29 terima kasih yang sebesar-besarnya 2:31 kepada seluruh pemirsa setia Indonesia. 2:33 Stok baik di dalam negeri ataupun di 2:36 luar negeri. Ee acara ini bisa 2:38 disaksikan secara langsung melalui 2:40 siaran YouTube Mardani Alisera TKS TV 2:44 dan juga Rasil TV dan juga disiarkan 2:47 melalui jaringan radio Rasil di 2:50 Jaboretabek dan juga di beberapa kota di 2:52 seluruh Indonesia yang terhubung dengan 2:53 jaringan radio Rasil. Dan juga kami 2:56 mengucapkan terima kasih kepada 2:57 rekan-rekan media dan wartawan yang juga 2:59 terus menyaksikan, memberitakan dan 3:02 meliput acara ini. Semoga bisa 3:05 memberikan sumbangsih konten positif ee 3:08 bagi dunia pers dan juga pencerahan dan 3:10 pencerdasan politik bagi seluruh 3:12 masyarakat Indonesia. Baik, kita mulai 3:14 diskusi kita pada malam hari ini ee 3:18 terkait ee dengan mengapa Donald Trump 3:21 menang pada Pak Mani persilakan untuk 3:23 berikan komentar dan paparan. 3:35 Silakan, Pak 3:36 Mari. Kasih, Bang Haldi. 3:41 Ee makasih, Bang Haldi. Izin ee narsum 3:45 semuanya, saya memberi pengantar. 3:49 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 3:51 warahmatullahi wabarakatuh. 3:53 Waalaikum. Alhamdulillah. Allahumma 3:55 sholli ala sayyidina Muhammad amma ba'd. 3:59 Selamat malam dan salam sejahtera untuk 4:01 kita semua. Matur nuwun ini banyak 4:03 sekali narasumber walaupun agak 4:06 kelihatan UI connection nih ya. Kita 4:08 hari ini menang nih biasanya ITB 4:10 connection nih. Bang Aldi doang tuh yang 4:12 ITB tuh. Prof. Saya belum tahu nih Prof. 4:14 dari mana 4:17 ini. Kalau tambah Rocky Grung makin 4:19 mayoritas nih kita nih. 4:22 ITB lagi sibuk. Pilkade DKI dua-dua 4:26 calonnya 4:28 itu 4:29 ee izinkan saya menyampaikan beberapa 4:32 hal. Pertama ee Pak Asra, Mas Dilang, 4:37 Prof. Ini ee podcast-nya saya bareng 4:42 Bung Rocky sudah 4 tahun lah. Setiap 4:45 pekan ee Jumat malam ee ee liburnya 4:49 kalau puasa aja gitu. Alhamdulillah. 4:53 niatnya memang ee membangun masyarakat 4:56 yang beretika dan berlogika. Dan karena 4:59 itu kita perlu untuk melihat apa yang 5:03 terjadi di Amerika 5:05 karena 5:08 eh there are two elephant in the room ya 5:13 eh yang akan sangat berpengaruh kepada 5:16 siapapun yang ada di ruangan di planet 5:19 ini yaitu Amerika dan Cina ya. Jadi apa 5:22 yang terjadi pada Amerika apa yang 5:25 terjadi pada Cina pasti akan 5:27 berpengaruh. sekarang Amerika yang jadi 5:31 ee temanya mengapa tram menang. Ya, saya 5:34 izin dengan segala ee pengetahuan yang 5:37 sangat terbatas dibanding Mas Jenang, 5:40 Prof. E sis sama dr. Asra, saya ingin 5:44 menyampaikan beberapa hal buat leaders 5:46 dan calon leaders. ini penting sekali di 5:49 banyak survei walaupun tidak ee menang 5:54 ee tinggi Mas Jenang ya ee ee Kamala tuh 5:59 mayoritas ee menang ee tidak landslight 6:03 lah tapi ternyata pada saat hari 6:07 pemilihan kemenangan Donald Trump itu 6:12 sangat 6:14 mengejutkan, besar. Bukan cuma itu, 6:17 menyapu bersih hampir the swing eh eh 6:24 statnya gitu loh, Pennsylvania gitu, 6:27 Michigan luar biasa gitu. Beberapa 6:31 basisnya Demokrat juga keambil gitu loh. 6:34 Jadi ee makanya bukan cuma ee kemenangan 6:40 yang 6:41 277, tetapi popular vot-nya juga menang. 6:45 Ini pertama kali nih luar biasa ini 6:47 Donald Trump waktu 2016 kan dia popular 6:51 vot-nya kalah sama Hilari. Bukan cuma 6:54 itu, republik juga menyapu bersih senat 6:58 dan kemenangan telak di House of 7:01 Representative. Sehingga yang terjadi 7:04 memang Republik dan Donald Trump akan 7:06 sangat menguasai kebijakan Amerika 4 7:10 tahun ke depan dari ee awal Januari. 7:15 sampai nanti ee November 7:18 202 ee eh 2028 ya ee pelantikan eh 7:23 pemilu lagi. Saya melihatnya ada tiga 7:26 hal. Yang pertama tentu pandangan saya 7:30 adalah kemampuan Donald Trump untuk 7:34 secara jelas mendefinisikan apa yang 7:37 diperlukan oleh masyarakat Amerika. Saya 7:41 sangat terkesan, Mbak Asra ketika Donald 7:43 Trump bilang gini. 7:45 The beautiful word is not hope, not l 7:49 but tarif. Jadi kata yang paling indah 7:52 tuh bukannya cinta, bukan harapan. Itu 7:56 kan yang selalu Demokrat angkat, tapi 7:59 tarif. Pokoknya saya mau jadi preman, 8:02 saya mau pajakin semuanya. Uang harus 8:04 balik semua, pabrik harus balik semua, 8:07 warga saya dapat kerjaan semua. bahwa 8:10 kemudian dengan tarif terjadi perang 8:12 dagang yang dengan perang dagang itu 8:14 inflasi naik yang dengan inflasi naik 8:16 itu pertumbuhan ekonomi dunia karena 8:19 Amerika Cina perang jadi tidak optimal 8:22 ee motornya mogok maka banyak negara 8:25 akan keleleran. itu nomor dua dah gitu 8:28 loh. Nah, yang pertama buat saya Donald 8:31 Trump punya clear and loud message. 8:36 Hampir seperti Clinton bilang gitu, it's 8:40 economic stupid gitu. Ini masalah 8:42 ekonomi, ekonomi, ekonomi. 8:44 Walaupun Mas Jinang sama ProfS ataupun 8:48 dr. Asra pasti 8:50 menjelaskan 8:51 kinerja ekonominya Biden pasca pandemi 8:55 keren ya. inflasinya mulai turun ya, 8:59 pengangguran juga ee cukup rendah. 9:04 Tetapi ternyata saya melihat satu 9:07 tayangan di CNBC yang 60 minutes itu 9:10 kemenangan Donald Trump itu ditentukan 9:12 oleh harga 9:15 telur as simple as that. Karena ternyata 9:19 walaupun inflasi turun, pengangguran 9:22 menurun, ekonomi mulai bergeliat, tapi 9:25 harga telur tidak turun gitu. Dan itu 9:27 sangat memukul 9:30 masyarakat secara psikologis. secara 9:33 persepsi sehingga buat mereka ee apa 9:37 namanya prestasi ekonomi Biden itu 9:41 terbukti tidak menarik perhatian, proper 9:44 ratingnya tidak tinggi. Eh, Denny J 9:47 dalam kajiannya mengatakan yang bikin 9:49 Kamala Haris itu kalah salah satunya ya 9:52 karena dianggap incumbent tidak 9:55 mendifferentiate dengan sangat tegas 9:57 kepada Biden yang approval ratingnya 9:59 tidak tinggi. kalau enggak salah diangka 10:01 32 atau 36% gitu. Itu yang pertama. Jadi 10:05 ekonomi, ekonomi, ekonomi. Yang kedua 10:08 tentu ee dapat dukungan dari 10:13 Ultrayentrik eh eh Elon Mask dan para 10:19 eh Robert eh JFK Junior gitu loh. nya ee 10:25 dan banyak pihak-pihak yang ee itu 10:29 mengamplifikasi pesan dari Donald Trump 10:33 termasuk yang 10:35 menarik ee ada kecenderungan Demokrat 10:38 itu status quo sekarang gitu. Agak lucu. 10:41 Dulu Demokrat itu pejuang kelas buru 10:43 gitu loh. Tapi belakangan Donald Trump 10:46 justru ingin kita ingin makanya 10:49 ada eh DOJ kan Department of eh 10:54 Government efficiency gitu kan si Elon 10:57 Mask dan itu membuat menarik banyak 10:59 pihak termasuk yang menyedih mengejutkan 11:03 Mas Jenang ternyata eh proamerican 11:08 Hispanics itu banyak dukung Muslim juga 11:11 banyak dukung Trump gitu loh. Ternyata 11:13 isu imigrasi itu buat mereka, padahal 11:16 mereka imigran juga gitu. Ternyata 11:18 enggak mau berbagi. Pokoknya saya dulu 11:20 imigran tapi sekarang saya sudah natif. 11:23 Yang imigran baru tuh yang harus dibuang 11:25 gitu loh. Kacau ini. Bagaimana 11:27 berubahnya manusia. Nah, jadi ee yang 11:31 kedua buat saya memang Donald Trump bisa 11:35 ee bukan cuma isu ekonomi, isu-isu yang 11:38 membuat ketakutan dari kelas menengah 11:41 dan kelas pekerja. 11:42 bisa di-highlight. Sementara kelas atas 11:46 dengan pemotongan pajaknya pasti ini 11:48 surga gitu loh buat para billioner. Jadi 11:51 dua-dua atas bawah dia dapat. Terakhir 11:53 yang ketiga kalau buat saya ini 11:55 pelajaran bagi yang lagi pilkada nih 11:58 izin Prof ya harus benar-benar menangkap 12:01 apa sih yang ada dalam pikiran 12:03 masyarakat gitu. Jangan terlalu percaya 12:06 kepada survei tapi buat kualitatif 12:10 analisis. buat analisa yang tajam apa 12:13 yang ada dalam pikiran. Kami punya 12:16 pengalaman, Prof. Saya jadi sempat jadi 12:19 ketua tim pemenangan 12:21 Hiisandi. Hasil surveinya masyarakat itu 12:26 banjir, macet, sampah. Ketika kami 12:29 angkat isu ini di 12:32 2016 itu sebulan enggak ada ee interaksi 12:37 dari masyarakat, tidak ada resonansi. 12:40 Kami bingung kan. Kami duduk lagi 12:42 panggil tiga grup lagi. Pak Asra 12:45 harusnya UI nih waktu itu saya belum 12:46 kenal sih ya. Kami undang anak muda ee 12:51 pekerja sama emak-emak masing-masing en 12:53 orang. Jadi seharian tuh saya tuh 6 jam, 12:57 6 jam, 6 jam siang sampai malam kita 13:02 pelajari dan ternyata enggak ada jawaban 13:05 yang di pikiran yang kita tangkap karena 13:08 itu tempat FGD-nya itu tertutup. Eh, di 13:11 dalam sih ngelihat cuma kaca tapi enggak 13:14 bisa lihat keluar. Kita bisahat kita 13:16 bisa lihat yang di dalam kan. 13:18 Dan 13:19 ternyata celetukan-celetukan itu ya 13:22 ketika banjir kata mereka belanjir mah 13:25 belangsakan bareng-bareng kita enggak 13:26 masalah. Wah enggak masalah macet kata 13:30 mereka yang macet tuh orang Bekasi, 13:32 orang Depok. Kita mah di Jakarta enggak 13:34 ada macetnya gitu. Kaget saya tuh 13:37 ketemulah celetukan mereka seragam tuh 13:41 bahwa ibu kota lebih kejam dari ibu 13:44 tiri. 13:46 Masuklah bahwa urusan ekonomi ekonomi 13:49 keluarlah 13:51 oke. Sepertinya susah itu. One kecamatan 13:55 one center of excellent. Tapi kita 13:57 mudahkan pokoknya cuma Tamrin Sudirman 14:00 44 kecamatan punya Tamrin Sudirman. Kita 14:04 bikin signetnya 14:06 oke oke apapun pertanyaan Sandi 14:09 jawabannya oke OC. Apapun pertanyaan Mas 14:13 Anit jawabannya KJP plus. Karena Pak 14:15 Ahok luar biasa bisa merebut hati 14:18 emak-emak. Emak-emak tuh pokoknya 14:20 pencinta Ahok. Karena Ahok memberikan 14:23 KJP kartu Jakarta pintar yang kita 14:25 bilang gampang kalahinnya Ahok. Ahok 14:28 ngasih 400 kita ngasih 500.000 KJP plus 14:32 eh menang ternyata. Artinya there is no 14:37 rocket science in winning election. Dan 14:39 Trump menunjukkan kita harus pandai 14:42 membaca apa isi hati pemilik. Nyun sewu. 14:46 Matur nuwun. Monggo 14:49 dilanjutkan cukup. 14:52 Baik, terima kasih Pak Marani. Ini baru 14:54 ngasih tipsnya sudah menjelang berapa 14:56 hari pencoblosan ini ke calon kepala 14:59 daerah. Tenang aja di yang pintar mah 15:01 sudah tahu dari awal. 15:04 Baik, terima kasih Pakani. Sekarang kita 15:07 ingin mendengar langsung dari para 15:09 narasumber nih analisis-analisis 15:10 mendalamnya dan juga mungkin bisa 15:12 sekaligus apa ee pelajaran bisa kita 15:16 ambil untuk kita terapkan di Indonesia 15:17 ya dengan kemenangan Trum ini. Kepada 15:20 Prof. Siswanto dipersilakan untuk 15:22 kesempatan pertama 15:24 ya. Terima kasih Bang 15:28 Mardani. Ibu AS. Hatur nuhun 15:30 Profelang. Asalamualaikum. 15:32 warahmatullahi 15:37 wabarakatuh. Ee jadi juga teman-teman 15:40 dari Kader 15:42 dan calon Kader ya, mudah-mudahan ini 15:45 menjadi 15:47 satu apa inspirasi untuk 15:51 pengembangan teman-teman di kader dan 15:53 calon kader di PKS. 15:56 Amin. Amin. Jadi 15:58 ee bicara tentang Amerika tadi seperti 16:02 pengantar Bang Mardani memang bicara 16:05 sebuah apa? Aktor besar dalam hubungan 16:08 internasional 16:10 ya. Seperti ini adalah bidangnya Bura 16:13 sebenarnya. Jadi ee malah dalam perang 16:17 dingin mereka ee Amerika merupakan 16:19 polisi dunia gitu kan. 16:21 Jadi wajar kalau kita juga punya 16:24 perhatian terhadap ee perkembangan 16:27 politik di kawasan Amerika nih, 16:29 wilayahnya masih hilang. 16:32 Ee kalau kita berangkat 16:35 dari 16:37 survei ee kita berangkat dari anu ya, 16:40 kalau dari survei 16:43 itu 16:45 jadi 16:47 35% orang Amerika yang memang 16:50 ee tidak suka dengan apa 16:54 kepemimpinan Biden dalam hal demokrasi 16:57 gitu. 16:59 Jadi jeblok demokrasinya si Biden ini 17:02 35% 17:04 sedangkan ketidakpuasan dalam bidang 17:06 ekonomi 31% gitu ya. 17:09 Jadi 17:10 ee ini paling enggak dalam pandangan 17:13 orang Amerika gitu kan secara umum ya 17:16 Eropa. Jadi memang 17:19 ee sebenarnya Biden kan dari Demokrat ya 17:22 tadi yang harusnya sangat ee peduli 17:27 dengan masalah nilai-nilai demokrasi, 17:29 kebebasan gitu 17:31 kan, persamaan hak dan seterusnya. Tapi 17:34 kasus 17:36 ketika demonstran di sejumlah 17:39 universitasnya sekitar 25 universitas 17:42 besar di Amerika demonstrasi maka ee 17:46 berin enggak ada ampun gitu ya 17:48 kan untuk apa 17:52 meibas para demonstran dan ini enggak 17:55 bisa dilepas dari apa ee keberadaan 17:59 Kemala Haris gitu kan. Karena kan 18:03 walaupun statement dari Kemal Haris 18:06 bahwasanya e dia bukan Biden gitu, tapi 18:09 dia enggak bisa lepas dari apa eh Biden 18:12 sebagai eh presiden sebelumnya gitu kan. 18:15 Jadi enggak bisa juga kan ada yang 18:18 pandangan mungkin akan menjadi 18:19 bayang-bayang ee saya juga ketuk kalau 18:23 dia menang jadi apa presiden 18:26 Amerika. Ee juga yang juga harus kita 18:30 catat bahwasanya dalam sejarah 18:33 Amerika belum pernah tuh presiden 18:36 perempuan di Amerika kan ya kan. Baru 18:40 coba-coba kemarin 18:42 ee tahun 2016 gitu kan. 18:45 Nah, tapi kan ee juga gagal gitu 18:48 kan. H Clinton enggak bisa apa jadi 18:52 presiden. Padahal eh populer vood-nya ee 18:55 tinggi gitu ketimbang Trump padahal 18:57 gitu. Jadi karena juga 19:00 tadi seperti disinggung tadi, Trump itu 19:04 kan perilakunya agak agak ya tadi preman 19:08 gitu ya, tapi 19:09 ee saya berpikir dia ee dari segi segi 19:13 segi perilaku, segi akhlak itu mungkin 19:15 enggak bagus ya, tapi dari segi apa? 19:20 Kebijakan ter lebih rasional gitu kan. 19:23 Misalnya ketika kita 19:26 ngomong apa kebijakan gitu atau kita 19:29 bicara masalah demokrasi dulu ya sebelum 19:32 masalah kebijakan 19:34 ee Biden 19:36 termasuk ya karena ibar kan direks Haris 19:40 kan juga enggak lepas dari Partai 19:41 Demokrat ya yang direfleksikan oleh 19:43 Biden gitu. 19:46 ee 19:49 dalam kehidupan demokrasi di Amerika itu 19:52 kan ee kebebasan tadi kebebasan 19:56 berekspresi, kebebasan berpendapat atau 19:59 demonstrasi itu kan sesuatu yang ada 20:02 dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika ya 20:05 dalam 20:07 kedua musik bahwasanya 20:12 e orang-orang Amerika Maka dianugerahi 20:15 oleh sebuah hak untuk berpendapat, hak 20:19 kebebasan, hak merdeka itu dari Tuhan 20:21 sehingga enggak bisa juga dicabut oleh 20:24 siapapun. 20:26 Ya. Ee bahkan dalam amandemen pertama 20:30 atau dalam Bill of Wright Amerika itu 20:33 kan eh bahwasanya kebebasan atau 20:36 berserikat 20:37 berkumpul enggak bisa diatur sama sekali 20:40 gitu. Bahkan kongres pun enggak bisa 20:43 gitu kan. mengatur tentang 20:46 kebebasan berpendapat, berserikat, dan 20:48 seterusnya gitu. Nah, 20:51 ketika Joe Biden itu apa ee keras sekali 20:56 terhadap mahasiswa-mahasiswa kat di apa 20:59 di 25 universitas di Amerika itu sebuah 21:02 catatan yang sangat apa 21:04 ee sangat serius buat orang Amerika 21:07 sehingga enggak heran kalau 25% e 25% 21:11 itu ee mereka tidak puas dengan apa ee 21:15 35% ya dengan ee bedaan di bidang 21:18 demokrasi 21:20 Nah, kemudian ee dibandingkan dengan 21:23 Trump, Trump juga pernah menghadapi 21:25 demokr apa demonstran ya. 21:28 Bahkan bukan hanya demonstran, 21:31 penjarahan gitu kan. Penjarahan waktu 21:33 terjadi ee pembunuhan terhadap ee kulit 21:37 berwarna ya oleh polisi di Amerika. Tapi 21:41 ee Trump enggak enggak enggak 21:44 secara intensif dan keras terhadap para 21:47 demonstran walaupun sudah mengarah 21:49 penjarahan bukan demonstrat yang seperti 21:51 para mahasiswa di universitas di 21:54 Amerika. Trump justru eh merangkul ya. 21:58 Trump justru mengundang para 22:01 tokoh-tokoh kitam untuk diskusi, bicara 22:04 apa yang menjadi aspirasi mereka di 22:05 Gunung Putih gitu. Mereka justru 22:07 mengakomodir itu gitu ya. Beda dengan 22:10 ee ee Joe Biden yang kita enggak dengar 22:13 tuh eh Joe Biden kemudian mendengar apa 22:16 namanya aspirasi mahasiswa gitu kan. 22:18 Kita enggak dengar gitu. Padahal Pin itu 22:21 adalah ee dari Partai Demokrat yang 22:23 biasanya konsern dengan masalah 22:24 demokrasi, konscern dengan masalah 22:27 kebebasan, konsern dengan ee masalah ee 22:32 pokoknya yang berbau dengan nilai-nilai 22:33 Amerika lah gitu 22:35 ketimbang darapatan Demokrat biasnya. 22:38 Tapi dalam kasus kita bandingkan Trump 22:40 dengan Biden dan justru kita lihat Trump 22:41 lebih demokratis gitu ya karena 22:44 mengundang ee para demonstran untuk 22:46 bicara di gunung putih 22:48 gitu. Nah, itu ee sebuah anomali ya buat 22:52 buat buat Presiden Amerika yang dari 22:53 partai ee Partai Demokrat dari Partai 22:57 Demokrat. 22:59 Nah, kemudian juga 23:01 ee kalau bicara masalah tadi saya bilang 23:05 ee Kemala Haris juga enggak bisa bicara 23:07 dengan ee kegagalan Biden. Biden saya 23:10 kira eh presiden yang ee gagal 23:12 dibandingkan pendahulunya. seperti 23:14 misalnya kita bandingkan dengan ee Bill 23:16 Clinton gitu kan yang berhasil apa ee 23:20 mengundang 23:22 ee para pemimpin di Timur Tengah yang 23:24 berkonflik antara lain Yasar Arafat 23:26 kemudian Edharak Edharak kemudian mereka 23:30 bicara ikam David walaupun itu gagal ya 23:31 tapi ada 23:32 upaya-upaya bicakan luar negeri yang ee 23:36 yang nyata gitu kan untuk ee menyakan 23:38 masyarakat Timur 23:39 Tengah juga dibandingkan dengan Jimmy 23:41 Carter yang juga dari Partai Demokrat 23:43 yang berhasil mendapat hadiah Nobel 23:46 perdamaian gitu kan. Beden enggak enggak 23:49 ada prestasi-prestasi yang cukup 23:50 signifikan dalam kepemimpinannya gitu 23:53 kan. Jadi ee dalam konteks ini saya 23:56 bilang dalam konteks ee politik maka 23:58 saya bilang juga ee wajar kemudian orang 24:01 ee memilih ee suaranya kepada Trump ya. 24:06 dan pengamat-pengamat justru memandang 24:10 Biden justru ee terlalu apa sibuk dengan 24:14 urusan-urusan internasional. Memang 24:16 seperti dakwah semacam itu. Sibuk dengan 24:17 masalah di Ukraina, sibuk dengan 24:20 masalah-masalah di 24:21 di apa di Timur Tengah gitu 24:25 kan. Bandingkan dengan Donald Trump gitu 24:28 kan yang lebih rasional ya dengan 24:30 pernyataan American firstik Amikra gitu 24:35 kan. Ini ini ini satu jargon-jargon yang 24:38 memang sesuai dengan realitas dengan 24:40 yang ada hidup di Amerika gitu. Karena 24:42 apa? Karena pasca 24:45 perang teluk ya setelah Amerika masuk ke 24:49 Irak gitu kan, itu kan sangat menguras 24:51 sumber dana keuangan Amerika gitu. Jadi 24:55 kemudian juga di era Obama tetap belum 24:57 berhasil untuk melakukan recovery 25:00 ekonomi di Amerika. 25:02 Jadi teorinya bahwa perang membuat 25:04 bangkrut itu terbukti di Amerika ya. Di 25:06 era Obama pun Amerika belum berhasil. 25:10 Kemudian di era apalagi di era Joe Biden 25:14 Donald Trump juga belum berhasil. dia 25:15 baru apa mencoba untuk melakukan 25:18 konsolidasi ekonomi. Tapi yang 25:20 yang juga bisa kita pikir ee tidak 25:23 rasional adalah ketika 25:25 Biden ketika ekonominya belum cukup 25:28 berhasil, belum cukup 25:30 papan, baru konsolidasi sudah terlalu 25:32 banyak e aktif di ataupun banyak 25:35 kebijakan luarnya yang begitu apa 25:37 menguras sumber daya keuangan misalnya 25:39 di Ukrani, Ukraina kemudian juga ke 25:42 banyak membiayai perang di Timur Tengah 25:45 kepada apa kepada kepada apa kepada 25:48 Israel. Ini kan sebuah yang enggak 25:50 logis. Padahal keuangannya tidak terlalu 25:53 bagus, pertumbuhan ekonominya juga 25:55 enggak terlalu bagus, bandingkan 25:56 Tiongkok ya, Cina ya, tapi sudah 25:58 hambur-hamburkan uang gitu kan. Ini di 26:00 di dalam konteks ini kita bandingkan 26:03 antara Trump dengan Joyo dan saya pikir 26:05 Trump lebih lebih logis dan lebih 26:08 berpikir rasional ya masalah pembangunan 26:10 di di Amerika. 26:13 Jadi wajar kemudian ee ee banyak warga 26:16 Amerika lebih percaya kepada Trump 26:18 ketimbang kepada penerusnyaalah Haris 26:20 ya. Karena bagaimanapunalah Haris 26:23 kemudian juga eh pasti tidak lepas dari 26:25 kebijak-kebijakan Partai Demokrat dan e 26:28 Biden sebagai pendahulunya. Dan juga eh 26:31 indikator lain yang bisa kita lihat 26:33 bagaimana sekarang 26:35 kemudian republik e menguasai semua 26:37 sektor atau lini politik di kongres. 26:39 seperti Bang Madani bilang tadi, dia 26:42 menguasai sektor senat kemudian ee DPR 26:46 gitu kan. J ini sebuah sebuah realitas 26:48 politik yang tidak bisa dipungkiri 26:50 bahwasanya memang eh masyarakat Amerika 26:52 sedang tidak percaya kepada Demokrat dan 26:54 para elit Demokrat dianggap tidak mampu 26:56 membawa aspirasi apa ataupun 26:58 memperjuangkan kepentingan 27:00 Amerika dan akhirnya orang lebih percaya 27:02 kepada Trump gitu kan yang dianggap 27:04 lebih memberi harapan gitu kan dengan 27:07 first-nya dan sebagain walaupun ini pun 27:09 masih belum tentu ya karena ini kan baru 27:11 baru baru baru sebuah proses dan sebuah 27:14 janji gitu kan banyak variabel lain yang 27:16 apa akan mempengaruhi keberhasilan 27:18 Trump. Tapi paling tidak Trump sudah 27:20 tadi sudah menyatakan bahwasanya 27:24 ee akan memberikan suatu apa ee 27:27 rasionalisasi terhadap ee kerjasama 27:30 kerjasama ekonomi dengan dengan dengan 27:32 Tiongkok misalnya akan menetapkan tarif 27:34 dan seterusnya gitu untuk apa 27:37 menstimulus pertumbuhan ekonomi di 27:39 Amerika. 27:40 Kemudian ee hal lain juga yang perlu 27:43 kita apa ee cermati adalah ee bagaimana 27:46 ee kebijakan luar negeri ee Joe Biden ya 27:51 itu ee begitu sangat-sangat ee mendukung 27:55 kebijakan Israel gitu. Padahal di sana 27:58 terjadi genosida gitu. Ini sesuatu yang 28:01 sangat-sangat apa ee dikecam oleh 28:03 masyarakat internasional. 28:06 Jadi ee kalau kita bicara masalah ee 28:09 inosida, masalah 28:11 kemanusiaan, kayaknya Jobadan sangat 28:14 jeblok gitu kan. Kenapa? Karena karena 28:19 jelas-jelas setiap hari banyak apa 28:21 korban meninggal di apa di Palestina 28:25 karena kebijakan apa namanya ee militer 28:28 Israel, tapi tetap saja ee Amerika kok 28:31 dukung Israel gitu kan. 28:33 Kemudian juga ada upaya senjata-senjata, 28:36 tapi orang melihat itu semacam ya 28:39 basa-basi aja gitu. Itu dia tetap aja 28:41 enggak enggak pernah 28:43 efektif. Dan kemudian ee kalau kita 28:46 bicara Amerika tu kita bicara kebijakan 28:48 Amerika bicara bicicarakan Biden gitu. 28:50 Nah, jadi ternyata Joen bertanggung 28:54 jawab secara langsung terhadap genosida 28:56 di di jalur Gaza. Kenapa? karena dia 29:01 mengirim bom, mengirim rudal, mengirim 29:04 senjata, dan mengirim keuangan kepada 29:07 Israel, gitu kan. Jadi kebijakan Israel 29:09 itu tidak akan apa namanya ee se semasif 29:14 itu Gid kalau tidak mendapat dukungan 29:16 dari e Amerika dalam har jo 29:18 Bidenu. Dan itu yang apa yang membuat 29:21 saya kira ee masyarakat juga menjadi 29:24 semacam ee kurang simpati terhadap apa 29:26 keberadaan ee pada kebijakan ee Joe 29:30 Biden ya. Dan kemudian itu akan 29:33 berdampak kepada Kemal Haris gitu. Dan 29:36 sebagai tadi seperti saya bilang, tidak 29:38 pernah ee Presiden Amerika ee seorang 29:40 wanita gitu. Apalagi juga eh walaupun ee 29:44 orang Amerika itu yang kita bilang 29:47 pelopor demokrasi tapi sebetulnya juga 29:48 rasis juga gitu ya kan. Ee sebetulnya ee 29:52 juga ada rasis juga terutama ee 29:55 orang-orang konservatifnya gitu kan. dia 29:57 ee bukan orang yang betul-betul politik 30:00 putih, tapi dia juga ada keturunan ee 30:03 India. Walaupun Prof, izin 5 menit lagi, 30:05 Prof. 30:06 Oke. Jadi kesimpulannya adalah 30:09 bahwasanya ketika kita 30:11 ee bicara masalah Joe Biden, bicara 30:15 Kemala Haris, bicara ee Trump, tentu 30:20 saja Donald Trump adalah bukan presiden 30:24 yang juga sebetulnya bagus gitu karena 30:27 juga ee tidak terlalu ee ee apa memiliki 30:32 satu kecakapan yang betul-betul bagus. 30:36 waktu dia memimpin Amerika. Tapi paling 30:38 tidak ee dia menangkap betul seperti 30:41 Bang Marani bilang tadi, dia menangkap 30:43 betul apa yang menjadi sebuah 30:45 fenomena-fenomena nyata di dalam 30:47 kehidupan masyarakat Amerika. Tadi 30:49 misalnya masalah ekonomi, dia ingin 30:50 memperbaiki ekonomi Amerika dulu dengan 30:52 American. First, dia akan memperduakan 30:55 apa namanya ee negara pihak-pihak lain. 30:57 Kemudian dia akan berjanji akan membuat 30:59 Amerika lebih besar. sekarang ini kan 31:01 sebuah janji-janji, harapan-harapan yang 31:03 bisa membuat orang menjadi juga cukup 31:06 memberikan suatu respon yang positif 31:08 kepada ee Donald Trump. Jadi ee andai 31:11 kata kita bicara masalah kenapa Donald 31:16 Trump menang karena memang pada 31:18 kenyataannya Trump bisa menangkap apa 31:21 yang menjadi apa yang menjadi sebuah 31:23 kebutuhan nyata orang-orang Amerika 31:24 yaitu mengembalikan Amerika dulu dalam 31:27 hal ekonomi baru kemudian Amerika tampil 31:29 dalam e kancah global menjadi kekuatan 31:31 super power untuk mengimbangi Tiongkok. 31:33 Saya kira sementara itu aja. 31:34 Asalamualaikum warahmatullahi 31:35 wabarakatuh. 31:37 Waalaikumsalam warahmatullahi 31:38 wabarakatuh. Terima kasih Prof. Sisanto 31:40 dan selamat datang Bung 31:43 Rocky. Ini Donald Rocky. 31:47 Oke. Gu dari lagi di jalan nih. Lagi 31:50 diun sor ya mobil ya. Oke Prof. Kita 31:54 sekarang ke Bu Astra dulu ya Prof. Oke. 31:57 Baik Bu Astra dipersilakan berikan 31:59 pandangannya terkait ee faktor 32:01 kemenangan Donald Trump. Iya. Oke, ee 32:04 pertama terima kasih banyak ee sudah 32:06 mengajak bergabung untuk ee berbagi ya 32:08 berbagi pandangan tentunya dan ee dalam 32:12 konteks ini ee sebenarnya kalau kita 32:14 lihat kurang lebih sebenarnya apa yang 32:15 in sampaikan sudah disampaikan banyak 32:18 oleh Pak ee Prof. ya, Prof. Siswanto. Ee 32:20 kalau kita lihat ee sebenarnya titik 32:23 temunya adalah ee kebijakan populis ya 32:25 yang sedemikian rupa gitu ya. Kemudian 32:28 juga memang tidak hanya di Amerika, saya 32:30 kira di Eropa, negara-negara Eropa juga 32:32 ee sedang tren ya ee berkaitan dengan ee 32:34 kebijakan populis ya yang kemudian 32:37 mendorong ee apa ee pemilih-pemilih ee 32:41 ee berpikir kepada ee pemerintah yang 32:43 kemudian ee mempunyai arah kebijakan 32:45 yang lebih populis gitu ya. Termasuk 32:47 misalnya tadi ee apa sinofobia terhadap 32:50 ee atau ketidaksukaan terhadap ee orang 32:52 asing gitu ya. Kemudian ee 32:54 persoalan-persoalan berkaitan dengan ee 32:57 apa proteksi, perdagangan dan segala 32:59 macam yang kemudian memang ee isu-isu 33:01 seperti ini dekat sekali dengan 33:02 masyarakat. Misalnya tadi Pak Madani 33:04 juga ngomong soal Pilkada misalnya, 33:06 kurang lebih apa sih yang diinginkan 33:07 masyarakat gitu ya? Tentu apa yang 33:09 paling dekat dengan eh survival-nya gitu 33:11 ya dalam konteks ini mungkin persoalan 33:13 ekonomi gitu. 33:15 Jadi misal kenapa kemudian persoalan ee 33:17 iklim tidak menjadi ee orientasi karena 33:19 dianggap isu yang sangat mewah gitu ya 33:22 ketimbang bicara kebutuhan depan mata 33:24 gitu. Jadi kalau kita lihat sebenarnya 33:26 ee ini tren yang juga terjadi ketika 33:28 Trump terpilih ya. Kurang lebih sama 33:30 saya kira ee konteks-konteksnya ya. 33:32 Kenapa kemudian ee terpilih hari ini 33:34 kembali gitu ya? Karena ee apa yang 33:37 dilakukan oleh Biden ee tadi sudah 33:39 dijelaskan oleh Prof. Oto juga tidak 33:41 memberikan harapan baru gitu ya, tidak 33:43 memberikan suatu perubahan yang 33:44 signifikan. Ahli-ahli memberikan 33:46 perubahan signifikan malah semakin ee 33:48 apa masyarakat malah semakin sulit. 33:50 Kalau kita lihat misalnya angka 33:52 pengangguran juga walaupun tidak 33:54 meningkat tajam tapi stagnan gitu ya di 33:56 4,1% gitu. Dan kemudian kita lihat 33:59 sebenarnya bagaimana juga secara global 34:01 ekonomi ee Amerika tidak membaik 34:03 sedemikian rupa gitu ya dan terus harus 34:05 berhadapan dengan China gitu dengan 34:07 kekuatan Cina yang terus menguat dengan 34:09 berbagai bantuan yang diberikan baik itu 34:11 dengan mekanisme BRI gitu ya. secara ee 34:14 politik global pun politik luar negeri 34:16 menurut saya ee masyarakat juga melihat 34:18 bagaimana kemudian ee dibawah Biden 34:21 tidak tidak menjanjikan sedemikian rupa. 34:24 Dan tadi ya pasti American first atau 34:26 sebenarnya eh MIV policy ini sudah ada 34:28 di era 2018-219 ya. Miers policy ini 34:32 sudah muncul dan eh Trump sudah memulai 34:35 itu dengan keluar dari TPP, keluar dari 34:38 komitmen-komitmen multilateralism gitu 34:40 ya. itu memang sedikit banyak memang ee 34:42 masyarakat lihat betul gitu ya, ketika 34:44 periode pertama ee terpilih ada komitmen 34:47 untuk kemudian lebih ee inward looking 34:49 gitu ya. Sesuatu yang memang sudah 34:51 dituntut oleh ee apa ee masyarakat 34:54 Amerika gitu ya ee sebelum ee periode ee 34:57 ini gitu. Jadi melihat tidak ada 34:59 perubahan yang sedemikian rupa nampaknya 35:01 memang ee pilihan masyarakat terhadap ee 35:05 manifesto-manifesto yang lebih populis 35:06 gitu ya itu akan jauh lebih punya ee 35:09 harapan. ya gitu ya. Dan ee Trump 35:11 nampaknya juga mengambil sikap yang 35:12 sangat ee rasional. Tadi Pak Prof 35:14 Siswanto juga sampaikan ya, rasional dan 35:17 dalam konteks ee misalnya kebijakan luar 35:19 negeri memang sangat bertumpuh pada 35:22 kebijakan ekonomi yang sifatnya 35:23 transaksional. Jadi kita teral diplomasi 35:25 transaksional dan ee saya kira ini ini 35:29 jadi kunci juga ya, bagaimana kemudian 35:31 meraih hati ee masyarakat. Lagi-lagi 35:33 nampaknya persoalan depan mata menjadi 35:35 penting untuk direspon gitu ya. ee 35:37 ahli-ahli bicara misalnya soal ee 35:40 demokrasi yang sedemikian rupa gitu ya, 35:42 membicara tentang gender equality bahkan 35:44 di kita pun juga sama gitu ya. Kalau 35:46 kita misalnya melakukan survei di waktu 35:49 kemarin misalnya sejauh mana sih 35:50 masyarakat peduli dengan isu gender 35:52 equality, nothing gitu ya. Nah, jadi eh 35:56 bahkan ibu-ibu sendiri, perempuan 35:58 sendiri mungkin engak enggak peduli 35:59 dengan isu itu gitu ketika kita 36:00 melakukan survei gitu ya. Kurang lebih 36:02 yang diharapkan adalah jelas-jelas balik 36:04 lagi ke persoalan ekonomi gitu ya. 36:06 terlepas tadi beberapa isu berkaitan 36:08 dengan humanitarian gitu ya. Ee isu 36:10 kemanusiaan menurut saya itu itu isu 36:13 yang ee tambahan gitu ya. Ee tapi 36:16 sebenarnya fokus masyarakat Amerika 36:18 sebenarnya nampaknya memang ee mengalami 36:20 kondisi yang ee sebenarnya bukan baru ya 36:23 tapi sudah sekian lama dan tidak ada 36:25 perubahan yang signifikan yang kemudian 36:27 membuat masyarakat sudah mulai ee lelah 36:29 gitu ya dengan apa yang mereka hadapi, 36:30 tekanan-tekanan ekonomi ya dan segala 36:32 macamnya. kemudian ee terlihat bahwa 36:35 baik secara domestik maupun secara 36:36 global tekanannya kuat terhadap ee apa 36:39 namanya Amerika gitu ya. Jadi ee dalam 36:42 konteks ini menurut saya nampaknya 36:44 memang ee Kamala di bawah ee 36:47 bayang-bayangnya Biden enggak punya 36:48 ruang untuk kemudian ruangnya terlalu 36:50 tipis ya untuk kemudian bisa ee bisa 36:53 mendapatkan porsi besar terhadap ee 36:55 pemilih e pemilu hari ee Amerika gitu 36:58 ya. bukan karena persoalan dia perempuan 37:00 gitu ya, tapi ee memang karena strategi 37:04 kebijakannya menurut saya agak kurang 37:05 kurang kurang melihat bagaimana kemudian 37:08 ee kebutuhan yang ada di masyarakat yang 37:10 tepat gitu ya. Di samping juga ee apa 37:13 namanya di bawah bayang-bayang Biden 37:15 beberapa kebijakan Biden yang dianggap 37:17 ee kurang merespon ataupun juga ee 37:20 merugikan quat kuat gitu Amerika itu 37:22 tidak memberikan dukung ee baik buat e 37:24 Kamalaj. Jadi lagi-lagi bukan karena 37:26 persoalan dia perempuan atau bukan ee 37:28 tapi karena lebih kepada 37:29 kebijakannya. Dan kemudian konsen saya 37:31 sebenarnya berkaitan dengan ee Trump ini 37:35 ee kalau kami dari ee studi hubungan 37:37 internasional kami melihat ee akan 37:40 banyak ee perubahan-perubahan kebijakan 37:42 pastinya ya. Terutama misalnya berkaitan 37:44 dengan ee kebijakan Trump yang yang 37:48 pertama juga sama gitu ya yang tidak ee 37:51 mendukung kebijakan yang basisnya ee 37:53 multilateralism ya. dia tidak percaya 37:55 dengan multilateralisme, tidak ingin 37:58 berbagi gitu ya. Jadi nampaknya memang 38:00 inward looking me first policy atau 38:03 American first gitu ya, itu menjadi eh 38:05 tujuan Amerika dan dia akan membawa 38:07 dampak besar terutama misalnya di isu 38:09 perdagangan gitu ya, isu tarif dan ini 38:11 juga akan berdampak pada kita ya. Ee 38:14 walaupun pada saat yang bersamaan 38:16 sebenarnya kalau kita lihat secara 38:18 regional banyak ee kebijakan-kebijakan 38:19 yang kemudian mungkin akan lepas dari ee 38:23 apa kontrol ataupun peran Amerika gitu 38:25 ya. Dalam konteks itu kita bisa melihat 38:27 peluang juga mungkin peluangnya dengan 38:29 melihat misalnya Indonesia bisa bermain 38:31 mengambil alih peluang-peluang tersebut. 38:33 Tapi lagi ini sangat tergantung pada 38:35 bagaimana kita membangun diplomasi yang 38:36 kuat gitu ya untuk meyakinkan ee 38:39 masyarakat ee internasional bahwa 38:41 Indonesia punya kapasitas untuk itu. 38:43 Misal berkaitan dengan ee isu apa 38:46 namanya ee ASEAN gitu ya, kerjaasama di 38:48 ASEAN ataupun Indo Pasifik gitu ya yang 38:51 ee saat ini terus kita apa namanya ASEAN 38:55 eh of Indo Pasific ya IoP itu juga 38:57 sedang ee sedang kita galak-galakkan kan 38:59 dalam ee berapa tahun terakhir ini. ee 39:02 sebenarnya ada ruang untuk kemudian 39:03 memainkan peran itu. Tapi seberapa besar 39:07 peluangnya sangat tergantung pada 39:08 bagaimana kita membangun diplomasi 39:10 tersebut ya untuk meyakinkan masyarakat 39:12 terhadap masyarakat global gitu ya 39:14 terhadap apa yang ingin kita lakukan. 39:16 Atau dilihat sebenarnya secara ee 39:19 kemampuan dari eh Lewi Institute 39:21 misalnya ya dari data Lewi Institute 39:23 kita enggak kita cukup bagus peningkatan 39:25 ee kekuasaan kita, apapun kekuatan kita 39:27 gitu ya ee sebagai middle power. Ee jadi 39:30 menurut saya ada ruang untuk kita 39:32 memainkan porsi itu. Tapi lagi-lagi kita 39:34 juga berhadapan dengan kondisi domestik 39:36 ya, dengan tuntutan-tuntutan yang 39:37 sedemikian rupa gitu. Nah, ini ee perlu 39:40 strategi untuk kemudian memastikan bahwa 39:41 kita bisa memanfaatkan peluang itu. Di 39:44 luar itu persoalan dengan perdagangan 39:46 menurut saya ee paling penting adalah 39:48 kunci kita paling ee pemerintah harus 39:50 tetap berorientasi pada peningkatan daya 39:52 saing gitu ya, daya saing industri kita 39:55 gitu dan SDM tentunya gitu ya. isu-isu 39:57 yang kemudian sebenarnya ini isu klasik 40:00 ya. Tapi lagi-lagi ee ini jadi satu 40:02 catatan besar untuk kemudian kita juga 40:05 ee 40:06 berusaha meningkatkan ee kualitas dari 40:09 produk kita dan sekaligus sebenarnya 40:11 juga memperluas pasar kita. Ee pasar 40:13 kita hari ini kan utama kita US dan 40:16 China gitu ya ataupun Jepang gitu. Tapi 40:19 saya kira ee ada ruang untuk kemudian 40:21 melihat potensi-potensi pasar non 40:22 tradisional gitu ya. melihat pasar 40:24 Afrika, pasar ee Amerika Latin walaupun 40:28 jarak gitu ya. Tapi lagi-lagi ini 40:29 kajiannya banyak sih yang bicara tentang 40:31 ee pasar non tradisional ya. Nah, 40:34 sebenarnya ini ee sangat penting untuk 40:36 kita lihat, untuk kita petakan gitu ya. 40:38 Di mana Indonesia bisa menutup ya. tadi 40:41 kalau ee kebijakan proteksionisme 40:43 Amerika sedemikian rupa di mana ee 40:46 Indonesia akan kemudian ee mengalihkan 40:48 gitu ya, mengalihkan ee beban tarif tadi 40:51 gitu atau ee perdagangan tadi ke ee 40:54 wilayah-wilayah mana, negara mana yang 40:56 kemudian bisa ee tetap tidak membuat ee 40:59 apa namanya ee balance of trade kita 41:03 menjadi minus misalnya gitu atau defisit 41:05 gitu. Jadi ada menurut saya ini hal yang 41:08 kemudian sangat perlu kita respon dengan 41:10 ee sangat ee teliti gitu ya untuk 41:13 melihat ee posisi Trump sendiri gitu ya 41:15 dalam berbagai kebijakannya. Tapi 41:17 lagi-lagi menurut saya tidak hanya Trump 41:19 tapi saya melihat juga negara-negara 41:20 Eropa semikian rupa ya. Kemudian ee apa 41:22 namanya? gerakan misalnya ee right 41:24 wings-nya sangat kuat gitu ya hari ini. 41:26 Tapi ee ee lagi-lagi kita harus ee tetap 41:30 memainkan peran untuk bisa memastikan 41:33 bahwa kemudian apa yang menjadi ee 41:35 komitmen kita baik itu secara domestik 41:38 maupun secara global termasuk misalnya 41:40 di isu Palestina ya ee menurut saya itu 41:42 menjadi satu kewajiban kita untuk 41:44 kemudian apa namanya ee mengawal isu-isu 41:47 yang terkait ini. terutama juga misalnya 41:49 di isu isu climate change ya menurut 41:51 saya isu yang kemudian dianggap kalau 41:53 bagi Trump e nomor sekian enggak enggak 41:56 terlalu ada komitmen berkaitan isu 41:57 climate change. Padahal di beberapa 41:59 kawasan misalnya seperti kawasan Pasifik 42:02 eh sudah apa namanya sangat sangat 42:04 terancam dengan isu climate change ya. 42:06 Jadi eh kita bisa bermain di situ. 42:09 Sebenarnya Indonesia sudah ada inisiatif 42:11 bicara tentang Pacific elevation ya yang 42:13 kemudian e kita berkomitmen untuk 42:14 membantu e apa namanya di isu-isu klimat 42:17 gitu. Tapi ee menurut saya lagi-lagi ee 42:20 kita harus bisa melihat dan memetakan 42:22 kira-kira kebijakan dan melakukan 42:24 prediksi-prediksi 42:26 kebijakan-kebijakan ee Tran yang seperti 42:29 apa yang kemudian akan memberikan dampak 42:30 di sektor-sektor mana dan kita harus 42:32 bisa sudah memitigasi ee dampak dari 42:34 kebijakan tersebut. Jadi kalau saya ini 42:37 ini ee bukan lagi-lagi bukan hanya 42:39 persoalan ee domestik Amerika gitu yang 42:42 ee sedemikian rupa, tapi kita terdampak 42:45 banyak-banyak hal gitu ya. Apalagi kita 42:48 yang sudah mulai enggak bisa lagi keluar 42:50 dari ee apa rantai pasok global ya 42:53 segala macam ya dan kemudian ee kita 42:55 harus bisa mengantisipasi sedemikian 42:57 rupa perubahan-perubahan kebijakan ee 42:59 Amerika. Walaupun secara sebenarnya 43:00 nanti mungkin Mas eh Mas Roki bisa ee 43:04 melihat gitu ya, menambahkan ee e 43:07 Amerika termasuk negara yang sangat pro 43:10 ee anu ya proteksionisme itu muncul dari 43:12 Amerika. Jadi menurut saya apa yang 43:15 dilakukan hari ini itu sebenarnya bukan 43:17 sesuatu yang baru gitu ya. Ee Amerika 43:19 melakukan proteksionisme, double 43:21 standard policy itu kan semua sudah 43:23 karakternya Amerika gitu ya kalau kita 43:25 melihat secara keseluruhan. Jadi sesuatu 43:27 yang sebenarnya sudah sudah melekat ya 43:30 dan selalu melekat dan ee itu selalu ada 43:33 pembenaran justifikasi dari Amerika 43:34 kenapa mereka melakukan banyak hal. Jadi 43:37 ya lagi-lagi kita harus bermain cerdik 43:39 memastikan bahwa kemudian kita 43:40 mendapatkan mampu memitigasi dampak dan 43:43 mendapatkan peluang dari situasi yang 43:45 berubah. Saya kira itu sementara Mas 43:47 Haldi. 43:49 Baik terima kasih Bu Astra atas ee 43:52 paparannya. Ini karena banyak 43:54 narasumber. Kita lanjut dulu sekarang 43:55 ya. ke Mas Jilang Ramadan sebagai pakar 43:59 studi kebijakan Amerika. Bagaimana 44:01 melihat situasi yang sedang berkembang. 44:06 Baik, izinkan saya berbicara kalau 44:09 dibilang pakar jauh ya dibandingkan 44:11 guru-guru saya yang ada di sini. Saya 44:13 pikir Bang Mardani tadi sudah 44:15 menjelaskan semuanya di awal dan juga 44:18 Prof. Siswanto apalagi juga Mbak Asra. 44:20 Jadi saya mungkin hanya sedikit saja 44:22 mengambil bagian-bagian yang mungkin 44:24 saya bisa bicarakan apalagi sudah ada 44:26 Bung Rocki nih. Jadi saya melihat 44:28 setidaknya tadi ada tiga hal yang kita 44:29 garis bawahi bahwasanya satu adalah 44:31 terkait isu ekonomi yang sangat relate 44:33 dengan masyarakat Amerika yang memang 44:36 saat ini sebagaimana gelombang populisme 44:39 itu juga berkembang di dunia tidak cuman 44:41 Eropa, Amerika dan juga di Indonesia 44:43 sebagian dan di kawasan-kawasan lain 44:46 bahwasanya masyarakat aspirasi-aspirasi 44:48 masyarakat ini menginginkan adalah 44:50 solusi-solusi yang instan seperti itu 44:52 yang memang dirasa bisa dihadirkan cepat 44:54 untuk mereka seperti itu. terutamanya 44:56 karena inflasi, tekanan-tekanan ekonomi, 44:59 meningkatnya apa namanya ee ketimpangan 45:02 sosial yang dialami oleh warga-warga 45:03 Amerika Serind sehingga mereka 45:05 aspirasinya menguat untuk mendapatkan 45:07 pemimpin yang bisa merubah keadaan. 45:09 Sebagaimana yang tadi disampaikan 45:11 mungkin dalam dua dekade terakhir 45:12 Amerika memang merasakan sekali dampak 45:15 bagaimana perang yang mereka lakukan di 45:16 luar negeri itu sangat ber mempengaruhi 45:19 kemampuan mereka sendiri. terutama juga 45:21 dalam 45:22 pengelolaanemasukan negara dan juga 45:24 sehingga adanya tuntutan atau munculnya 45:26 aktor-aktor lain yang menguat di tataran 45:28 global seperti itu. Kemudian di sisi 45:30 kedua, bagaimana isu imigran itu menjadi 45:33 semakin ee di dijadikan sebuah retorika 45:37 yang empuk ya oleh apa namanya ee Trump 45:40 dan juga mesin politiknya seperti itu. 45:41 Karena memang melihat ee kemunculan 45:43 imigran-imigran tadi yang sebagaimana 45:46 Prof. siswa sampaikan bahwasanya yang 45:47 tadinya imigran dan sudah memiliki green 45:50 card atau sudah lama di US dan menjadi 45:51 warga negara US sudah comfort zone 45:54 sehingga we don't want anymore migrants 45:56 anymore gitu. Dan memang uniknya juga 45:59 bahwa peningkatan pemilih yang 46:01 didapatkan oleh Trump pada pemilu kali 46:03 ini memang didapatkan dari ee 46:05 orang-orang hispanik ya, 46:06 keturunan-keturunan Latin yang juga dan 46:09 juga kaum-kaum muda yang melihat 46:10 sebenarnya ee eh Joe Biden sebagai 46:14 seorang eh publik atau eh public figure 46:17 atau juga politisi yang memang harusnya 46:20 diharapkan merepresentasikan negaranya 46:22 dengan keuzuran beliau dan gejala-gejala 46:26 dimensi yang ditampakkan di publik itu 46:27 memunculkan sentimen bahwa beliau tidak 46:30 lagi fully functioning as a leader 46:32 seperti itu. Dan ee orang-orang muda 46:36 tentunya mengharapkan seseorang yang 46:37 memang dapat merepresentasikan 46:39 negaranya. bagaimana negara yang adidaya 46:42 disebutnya sebagai global power yang 46:43 tadi once as a global police after the 46:46 pernah menjadi polisi global setelah e 46:50 kontestasi perang dingin berakhir 46:53 Amerika kini meredup dan berelasi kepada 46:55 tadi hal ketiga di mana kepemimpinan 46:58 Amerika sendiri menjadi ee ee pertanyaan 47:01 di dunia sehingga banyak-banyak juga 47:03 negara yang di satu sisi link on atau 47:06 bersandar kepada kebijakan Amerika sudah 47:09 lambat laun mulai mereka oh Amerika kita 47:12 sudah enggak bisa lagi nyandal ke 47:13 Amerika sehingga mereka harus ee move 47:15 forward dengan ee apa namanya kemampuan 47:18 mereka sendiri atau kapasitas mereka 47:19 sendiri untuk ee bisa ee tidak terlalu 47:24 ter apa namanya tergantung terhadap 47:26 Amerika dan memiliki kemunculan ee China 47:29 atau Tiongkok sebagai kekuatan baru yang 47:31 memberikan juga ee apa namanya angin 47:34 segar bagi negara-negara yang mungkin ee 47:37 ee dulunya mungkin mendapatkan investasi 47:39 dari Amerika. Tapi kini investasi dari 47:41 Amerika sudah tidak lagi mampu 47:42 mengangkat perekonomian mereka. Dengan 47:44 kemudahan yang diberikan Tiongkok, tentu 47:46 mereka akan beralih ke sana. Dan kita 47:48 lihat juga bagaimana Trump ketika 47:50 berhasil memenangkan ini. Ee kita lihat 47:53 perubahannya lah. Di 2016, Trump itu 47:56 dari el-nya memenangkan 304 kalau saya 47:59 enggak salah. Kemudian kekalahan dia 48:01 terhadap Biden di 2020 Biden mendapatkan 48:05 sekitar 306 atau 308. Nah, kemudian kali 48:09 ini total darior college-nya itu 48:11 memenangkan 312. Berarti setidaknya itu 48:14 ada peningkatan ya, ada peningkatan yang 48:16 cukup signifikan walaupun bukan 48:17 landflight kemenangannya Trump tadi kita 48:19 lihat. Dan juga bagaimana swing eh 48:21 negara-negara federal atau yang eh swing 48:24 tadi bisa diraih oleh eh didapatkan 48:27 votnya dari polisi tadi oleh Trump. Kita 48:31 melihat juga ketika Trump menang 48:32 sendiri, banyak negara juga yang 48:34 sebenarnya akan merasa sangat 48:35 diuntungkan gitu. Walaupun ee di satu 48:38 sisi seperti China sendiri atau Tiongkok 48:40 melihat bahwa ee oh ini akan menguat e 48:43 apa namanya? Trump mungkin akan mengada 48:45 e apa namanya membuka lagi ee gerbang 48:49 perang dagang dengan mereka. Tapi ini 48:51 juga merupakan ee unjuk gigi buat 48:53 Tiongkok sendiri untuk apa namanya 48:55 menegaskan kekuatan mereka di dunia 48:57 global sebenarnya. Walaupun sebenarnya 48:59 kalau kita melihat dari kekuatan ekonomi 49:01 ee militer expenditor atau pengeluaran 49:04 ee militer sendiri, Tiongkok itu mungkin 49:06 butuh 20 30 tahun lagi sebenarnya untuk 49:08 menyaingi Amerika. Cuma ketika Amerika 49:11 menegaskan bahwa Tiongkok ini adalah 49:13 pesaing mereka, itu akan leverage 49:14 Tiongkok sendiri. Di ketika Amerika 49:17 selalu instabil, maka Tiongkok yang 49:19 sudah lama dengan si Jin Ping dan 49:21 terus-terusan stabil ini tentunya apa 49:23 namanya? Menegaskan posisi mereka 49:25 sebagai adidaya baru gitu. Dan ini juga 49:27 menakutkan di sisi lain buat orang-orang 49:29 Amerika bahwa mereka akan memiliki 49:31 pesaing. Tapi dengan inward looking ini 49:33 tentunya banyak juga menguntungkan. 49:34 Misalkan ketika US berada di NATO dan 49:38 kekuatan kedua terbesarnya adalah Turki 49:40 yang berada di NATO juga. Maka ketika ya 49:44 Amerika lebih cenderung kepada inward 49:46 looking maka Turki ini akan lebih 49:48 bergerak bebas jadi di NATO seperti itu. 49:50 Dan dia akan mungkin lebih mudah ee 49:53 melaksanakan operasi-operasi militernya 49:55 yang memang kalau di ketika rezimnya 49:57 Demokrat yang menguasai Amerika akan 49:59 sulit mendapatkan izin. Begitu juga 50:00 dengan Korea Utara. Orel Utara sempat 50:02 mendapatkan angin segar kan ketika Trump 50:04 memimpin lalu anginnya hilang lagi 50:07 ketika Biden memimpin. Nah, ini mungkin 50:08 juga akan jadi angin segar lagi bagi ee 50:11 Korea Korea Utara atau rezim-rezim 50:13 negara di mana autor karian itu menjadi 50:16 ee landasan ee kepemimpinan 50:18 negara-negara tersebut. Kemudian di sisi 50:20 politik regional juga yang 50:22 menjadi tadi sebagaimana disampaikan 50:24 bahwa Trump bisa mendefinisikan apa yang 50:26 diinginkan ee warganya atau keinginan 50:29 masyarakat Amerika. Salah satunya juga 50:31 kan lobi-lobi juis Israel yang memang 50:33 sangat kuat di Amerika ingin menegaskan 50:35 bahwa ibu kotanya Israel ada adalah 50:38 Yerusalem bukan Tel Afif seperti dan ini 50:40 yang juga akan dilakukan oleh Trump dan 50:42 bagaimana deal of century yang dulu 50:43 mungkin sempat terhenti juga mungkin 50:45 akan dilanjutkan lagi oleh Trump dan 50:47 kita juga lihat bagaimana sebenarnya 50:48 keputusan yang cukup decisif yang 50:50 dilakukan oleh Trump itu adalah menarik 50:52 pasukan dari Afghanistan walaupun juga 50:54 dampaknya akhirnya yang merasakan adalah 50:57 Biden karena arus imigran dari 50:59 Afghanistan meningkat tajam. sehingga 51:00 itu yang memunculkan ee sentimen 51:02 terhadap ee apa namanya immigran ini 51:05 meningkat. Dan mungkin setelah tiga hal 51:08 tadi yang saya sampaikan, saya mungkin 51:10 sedikit mengembalikan ke landasan 51:11 filosofis Amerika sendiri. Setidaknya 51:13 ada dua ya, Men for himself dan juga 51:16 Garden on the hill gitu. Bagaimana orang 51:18 Amerika itu kuat sekali 51:20 individualistisnya dan bagaimana 51:21 proteksionisme mereka ingin kita ni 51:24 first policy gitu. Sebagaimana tadi 51:26 disampaikan oleh Mbak Asra bahwasanya 51:28 kita ee kita nih untuk diri kita sendiri 51:31 gitu. We don't want to share to our 51:32 others gitu. Kita enggak mau berbagi 51:34 dengan orang kita aja enggak cukup gitu. 51:36 Man for himself dan juga eh bagaimana 51:39 mereka melihat negaranya garden on the 51:40 hill. Negara yang memang ada berada di 51:43 puncak seperti itu. Melihat 51:44 negara-negara lain yang ada di bawah. 51:45 sehingga landasan ini yang memang ee 51:48 menjadi ee apa ya sebuah retorika yang 51:51 sangat mudah diolah oleh Trump dan masuk 51:54 gitu ke 51:55 aspirasi-aspirasi ke masuk ke alam 51:58 pikirnya orang-orang Amerika. Dan kita 52:00 lihat bagaimana memang saat ini ya 52:02 aspirasi masyarakat Amerika yangang 52:04 menginginkan pemimpin yang seperti 52:06 Trump. Sebagaimana dulu mungkin kita 52:08 sedikit membandingkan ya, bahwa Trump 52:10 sendiri memuji Hitler dan ketika Hitler 52:13 ee dipilih oleh masyarakat ee Jerman itu 52:16 dipilih secara demokratis dan memang 52:18 masyarakat Jerman menginginkan Hitler 52:19 sebagai pemimpin mereka karena postw itu 52:22 Jerman itu sangat terluka dan mereka 52:24 harus lif up bangun bangkit lagi dari 52:28 keterpurukan pas perang dan mereka 52:30 membutuhkan sosok seperti Hitler dan ini 52:31 juga yang mungkin diharapkan oleh 52:33 masyarakat Amerika sehingga tadi dua 52:35 filosofi yang melandasi bagaimana cara 52:38 mikan masyarakat Amerika ini muncul 52:39 kembali individualisme mereka, 52:41 proteksionisme mereka dan juga mereka 52:43 ingin melihat bagaimana negara mereka 52:45 jaya kembali seperti itu dipandang 52:47 sebagai garden on the hill bagaimana 52:48 sebuah kebun yang ada di sebuah lembah 52:51 di perbukitan dan ini adalah semua 52:54 negara yang lain yang berada di bawahnya 52:55 look up kepada mereka seperti itu. Nah, 52:58 mungkin sedikit banyak itulah yang saya 53:00 sampaikan. Mudah-mudahan ee kita bisa 53:03 mendapatkan atau saling berdiskusi satu 53:05 sama lain untuk melihat bagaimana Trump, 53:08 kemenangan Trump ini mau menjadi sebuah 53:10 berkah atau malapetaka di 4 tahun ke 53:12 depan. Ah, itu pertanyaannya. Langsung 53:15 kita kasih umpan lambung ke Bung 53:18 Roki. Baik, terima kasih Masjelang. Bung 53:21 Roki, apakah kemenangan Tram ini akan 53:23 membawa berkah bagi Indonesia di dunia 53:25 atau akan timbul perang dunia ketiga 53:28 ini? 53:31 Pertanyaan semacam IND itu tanya aja 53:33 pada chat 53:35 GPT. Iya. Karena seolah-olah kita 53:38 mengevaluasi politik Amerika tanpa moral 53:42 standing ya memang orang Amerika 53:44 menginginkan itu. American first bring 53:48 America greed again. Jadi kalau kita mau 53:52 analisis politik 53:53 internasional kita ada dalam posisi 53:56 bukan sebagai pengamat. Karena Indonesia 53:59 punya pengalaman historis dengan global 54:01 politics kan itu dasarnya kan. Jadi 54:04 kalau Anda tanya misalnya kenapa Trump 54:06 yang yang menang ya ngapain dari posisi 54:10 Indonesia yang pro pada keadilan? Lebih 54:13 baik kita tanya kenapa jagoan kita 54:15 kalah? Siapa itu? Ya kan malah Haris kan 54:19 begitu pertanyaan evaluatif kan itu sama 54:22 dengan Anda tanya itu e ya udah semua 54:25 orang memang menginginkan Jokowi 3 54:27 periode ya udah mau diapain lagi tuh 54:30 semua orang menginginkan supaya kibran 54:32 jadi 2009 kan enggak ada evaluasi moral 54:34 di situ kan jadi menjengkelkan juga 54:37 kalau kita saya dengerin semuanya itu 54:39 dan di mana-mana orang cuma iya Trump 54:41 menang karena iya ekonomi stupid ekonomi 54:44 stupid kan kita mau latih Cara kita 54:47 berpikir supaya kita lipatkan emosi dan 54:49 moral kita, pengalaman historis kita 54:52 untuk melihat berarti nanti satu waktu 54:56 kalau Gibran jadi presiden, kita cuma 54:58 bertanya apa? Penjawab Gibran jadi 55:00 presiden itu kan pertanyaan teknis tuh 55:03 yang bisa dijawab oleh CHPT itu. Jadi 55:06 kalau kita mau berpikir secara 55:09 ideologis, kita tanya apa penyebab 55:11 Kamala Haris itu yang seharusnya menang, 55:14 dia gagal. 55:17 dasar berpikirnya begitu. Jadi kalau 55:19 kita lihat bisa kenapa Kamal Haris gagal 55:22 ya? Bukankah dia seorang feminis? 55:24 Bukankah dia seorang yang pro gender, 55:25 bukankah dia seorang yang pro social 55:28 settin? Bukankah dia lawyer yang sudah 55:31 pernah jadi jaksa, macam-macam itu, tapi 55:34 kalah juga tuh. Kan begitu yang kita mau 55:37 mau evaluasi ya. Jadi kalau kita jawab 55:39 bahwa iya karena orang Amerika itu gugup 55:43 untuk menerima Kamal Haris karena 55:46 sebetulnya Kamal Haris itu cuman 55:47 asistennya Joe Biden kok. 55:51 Kan begitu lihatnya kan semua orang 55:54 menganggap bahwa ini Kamala ini enggak 55:56 ada poin. Dia tiba-tiba jadi wakil 55:59 presiden, tiba-tiba calon jadi 56:02 presiden. Sementara Donald Trump itu dia 56:05 sudah jadi selebritis dari 30 tahun 56:07 lalu. Jadi dia udah brandingnya udah ada 56:09 gitu. Enggak malah telat bikin branding, 56:11 enggak mampu untuk ucapin sesuatu yang 56:13 sebetulnya lebih final sifatnya kan. 56:16 Jadi kalau kita lihat misalnya bahwa oke 56:18 kemampuan-kemampuan kita untuk 56:20 mengevaluasi itu kayak kayak kita habis 56:23 baca chat GPT lalu kita ucapin semua 56:25 itu. Nah, kita ingin memulai satu 56:27 tradisi bahwa Indonesia harus terlibat, 56:30 harus ada moral call untuk mencoba 56:33 melihat apakah dunia hari ini 56:35 betul-betul sudah masuk dalam 56:36 pragmatisme itu. Apakah dunia hari ini 56:38 bahkan dalam politik Indonesia Rusia 56:40 sudah masuk dalam cibakan psikologi fear 56:43 of eh missing out FOMO. Itu kan kita mau 56:47 ajarkan itu sebagai saya e terima kasih 56:50 ya. ini ee mengingatkan lagi pada 56:53 debat-debat dulu saya kuliah di fakultas 56:56 divisi itu justru hubungan internasional 56:59 mulai memperdebatkan bagaimana cara 57:01 memandang dunia pakai pendekatan realis 57:03 atau ala Hansor Kenta atau Stanley 57:07 Hofman kira-kira begitu dulu saya kira 57:09 juga sekarang begitu nilainya tuh jadi 57:11 value itu kita berikan pada analisis 57:14 analisis politik internasional itu kalau 57:15 kitaakasih value kita hanya jadi 57:18 mendeskripsikan untuk kita mulai pilih 57:20 gitu. Misalnya begini, "Coba kenapa e 57:23 Indonesia akhirnya pergi pada ee bricks 57:27 ketimbang pada OECD gitu?" Ya, karena 57:29 bricks lebih mudah untuk masuk di situ 57:32 karena tapisannya lebih sederhana. Tapi 57:35 secara ideologis orang anggap bahwa iya 57:36 kan brick itu lebih sosialis daripada 57:38 Amerika tuh. Padahal kita butuh dolar 57:41 dan brick itu enggak ada dolarnya situ 57:43 tuh. 57:44 Jadi kemampuan ini yang ingin kita kita 57:47 e ajukan atau penimana saya ajukan untuk 57:50 memutar e pertanyaan itu. Kenapa Kamala 57:52 Haris gagal? Bukankah ini era 57:56 eh global ethics di mana feminis point 58:00 of view itu menguasai dunia? 58:02 Kenapa cara berpikir feminis itu tidak 58:05 dihasilkan? Kenapa misalnya Ridwan Kamil 58:08 harus menghina-hina perempuan dan masih 58:10 dieluk-elukkan oleh PKS? 58:13 Kan itu intinya kan kita enggak bisa 58:15 sekedar bilang ya itu kan ya udah memang 58:18 e orangnya mampu lakukan itu kan dan 58:21 mungkin janda-janda juga emang akan 58:22 milih return kamil seandainya pun 58:24 dipilih tapi itu salah secara etis 58:26 kan itu yang kita sebut sebagai 58:30 pre value di dalam di dalam analisis 58:33 itu. Nah, kita mau coba memikirkan 58:35 dengan secara cepat-cepat tuh kalau 58:39 Partai Demokrat di Amerika itu akhirnya 58:41 kehilangan moral stand. Padahal dulu 58:43 kalau kita lihat e ideologi dari tahun 58:47 90 awal oke ada Bill Clinton. Bill 58:51 Clinton bikin buku yang kemudian jadi 58:53 pegangan kampanye dia. Puting People 58:56 first. Jelas itu setara dengan keinginan 58:58 kita untuk menghasilkan kemanusiaan yang 59:00 adil dan beradab. Obama nulis buku 59:02 kampanye judulnya apa 59:04 tuh? Audity of hope. Keberanian untuk 59:07 berharap tuh. Itu artinya ada upaya di 59:10 situ untuk memberi nilai ideologi. Nah, 59:11 Tram enggak ada ideologinya kan. Dasar 59:14 pikiran kita itu mesti kita seterakan 59:17 supaya evaluasi internasional memberi 59:19 nilai pada kita tuh dan orang boleh 59:22 merasa. Oke, Indonesia itu punya stand 59:24 di dalam politik internasional. 59:26 Kemungkinan-kemungkinan ini yang saya 59:28 anggap kita lalai sebetulnya untuk 59:30 membangun semacam ee model analisis 59:33 kritis yang di dalamnya harus basah 59:35 secara ideologi itu. Jadi sekali lagi 59:37 coba e saya tunda dulu mau mau terangkan 59:40 dulu kenapa kemampuan kita untuk 59:42 menganalisis itu kayak habis baca koran 59:45 terus bikin apa namanya dulu itu e 59:48 pemetaan lalu laporin pada dosen ini 59:50 content analysisnya tuh tanpa value. Itu 59:53 dulu. Terima kasih. 59:57 Baik, terima kasih Bang Roki. Semat 1:00:00 menarik nih sudut pandang yang lain ya 1:00:01 dari pembicara yang lain. Kalau tadi Pak 1:00:04 Mardani dan mungkin beberapa pembicara 1:00:07 melihat faktor kemenangan dari Trump. 1:00:11 Eh, Bung Roki, mengapa Kemala Haris 1:00:13 kalah? Ini menarik eh karena ee 1:00:16 memberikan sudutan yang lain. Baik. Ee 1:00:19 ee kita sekarang ke Prof. ee Siswanto 1:00:22 dulu Prof. Apakah ada tanggapan tadi 1:00:24 terkait dengan pandangan Bung Roy? 1:00:26 Menarik juga ya, bahwa ee apakah memang 1:00:29 ini menandakan bahwa pemilih Amerika ini 1:00:32 memang ee tidak lagi mempertimbangkan 1:00:35 sisi moral dan lain-lain gitu ya, tapi 1:00:38 benar-benar pure pragmatis 1:00:44 gitu. Baik, eh sebelumnya ee saya 1:00:47 ucapkan selamat malam Bung. 1:00:51 Jadi ee tentu saja ini akan apa 1:00:54 memperkaya diskusi kita dari karena 1:00:56 dilihat dari sudut value, sudut 1:00:59 filosofi ee memang juga ee suatu yang 1:01:04 menarik ketika kita coba kaitkan antara 1:01:08 ee kegagalan ee ataupun mengapa Don ee 1:01:13 Donald Trump menang, 1:01:15 mengapa K Haris kalah gitu kan. 1:01:19 Jadi saya sebetulnya juga 1:01:23 ee singgung sedikit tadi sudah dari awal 1:01:25 bahwasanya sebetulnya 1:01:27 ee 1:01:30 karena keberadaan Kemenaris enggak lepas 1:01:33 dari ee keberadaan ee Joe Weden gitu kan 1:01:39 dan orang melihat Joe Widen itu orang 1:01:42 yang anomali dalam demokrasi gitu. 1:01:47 Padahal tradisi politik atau ideologi 1:01:49 politiknya adalah dari ee Demokrat yang 1:01:53 biasanya sangat konsern dengan 1:01:54 nilai-nilai 1:01:56 demokrasi. Tapi kalau kita kasus 1:01:58 kebijakan Joe Biden ketika dia 1:02:01 sangat-sangat refres terhadap demonstran 1:02:04 di 1:02:06 25 peran tinggi di Amerika, maka itu 1:02:09 sebuah anomali yang eampilkan 1:02:13 oleh terhadap demokrasi di Amerika. 1:02:17 itu suatu yang apa ee yang menjadi 1:02:19 sebuah kenyataan 1:02:21 ee dalam kebijakan beda terhadap nilai 1:02:24 dan demokrasi di Amerika. Jadi kemudian 1:02:27 juga survei 1:02:28 mengatakan 1:02:30 ya 1:02:33 35% orang-orang Amerika tidak puas 1:02:36 terhadap demokrasi di Amerika di era Joe 1:02:38 Beden. Kemudian ini adalah 31% adalah 1:02:44 ketidakpuasan dalam hal ekonomi gitu. 1:02:47 Dan ini berdampak kepada 1:02:50 ee keberadaan Kemari sebagai ee presiden 1:02:55 atau kandidat presiden gitu kan. Karena 1:02:57 dia bagaimanapun enggak bisa lepas dari 1:02:59 eh keberadaan Joe Biden dan keberadaan 1:03:04 apa namanya 1:03:05 ee Demokrat di Amerika. 1:03:09 Padahal menurut survei-survei 1:03:12 eh suara terbesar di Amerika adalah kaum 1:03:14 perempuan gitu. 1:03:17 Tapi kalau berangkat dari nilai-nilai 1:03:19 ini sebetulnya ee banyak orang-orang apa 1:03:22 Amerika memberikannya perempuan akan 1:03:24 memberikan suara kepada Haris. Tapi itu 1:03:27 tetap saja ee tidak menjadi suatu ee 1:03:30 poin tersendiri bagi Kemaris untuk 1:03:32 memenangkan pertarungan ini. Karena ee 1:03:35 tidak cukup hanya dari kaum perempuan 1:03:37 yang memberikan dukungan kepada Kemudian 1:03:40 Haris. 1:03:41 Jadi memang ee nilai-nilai demokrasi 1:03:45 dianggap penting sehingga ee juga 1:03:49 terfleksi dari ee survei. Yang kedua 1:03:52 tadi masalah kebijakan luar negeri tadi 1:03:55 ketika Amerika 1:03:57 ee bicara masalah ee pelopor nilai-nilai 1:04:02 kemanusiaan ini nilai-nilai apa 1:04:06 ee kebebasan, nilai demokrasi. Tapi 1:04:09 ketika Amerika juga 1:04:11 mendukung Israel dalam kebijakan 1:04:13 genosidanya di Gaza itu menjadi suatu 1:04:16 persoalan juga gitu. 1:04:18 itu menjadi sebuah walaupun dalam survei 1:04:20 itu bukan bukan bukan suatu yang utama 1:04:24 ya hanya 1:04:25 5% tapi paling enggak itu sebuah juga 1:04:28 sebuah anomali terhadap apa ee kebijakan 1:04:32 Amerika yang biasanya sangat-sangat 1:04:35 orang-orang dari Presiden dari Parta 1:04:36 Demokrat biasanya sangat konsern dengan 1:04:37 masalah negosiasi gitu, masalah 1:04:40 perundingan, masalah damai. 1:04:43 Kita lihat bagaimana ee 1:04:45 kebijakan Barack Obama terhadap ee rezim 1:04:48 Iran, Iran. Dia mencoba untuk 1:04:51 menghindari perang, tapi coba untuk 1:04:52 membangun sebuah demokrasi, kembali 1:04:55 melakukan hubungan-hubungan normalisasi, 1:04:57 hubungan diplomatik dan sebagainya. 1:04:58 Kemudian Trump ee mementahkan itu 1:05:01 kembali. Tradisi politik orang-orang 1:05:04 dari Presiden Demokrat biasanya sangat 1:05:07 menekankan masalah negosiasi, diplomasi 1:05:09 ketimbang perang gitu kan. Sedangkan 1:05:11 kalau kita lihat kebijakan Joe Biden itu 1:05:14 ee dibikit sebagai sebuah presiden yang 1:05:16 sangat-sangat menekatkan masalah apa 1:05:19 namanya ee militer dengan mendukung apa 1:05:22 namanya ee Israel bahkan mengerahkan 1:05:25 kapal-kapal besarnya kemudian mengirim 1:05:27 rudal dan sebagainya itu suatu sebuah 1:05:30 sebuah sebuah kebijakan yang juga tidak 1:05:32 sesuai dengan nilai kemanusiaan yang 1:05:33 harusnya menjadi konsern penting seorang 1:05:36 presiden Amerika dari berangkat dari 1:05:38 patar demokrat. Jadi dua hal itu saya 1:05:40 kira. Jadi masalah-masalah demokrasi 1:05:41 yang di era joiden itu sangat-sangat 1:05:43 dilanggar sehingga itu juga menjadi 1:05:45 pertimbangan buat orang Amerika untuk 1:05:48 tidak memilih Kem Haris sebagai ee 1:05:50 presiden dari Demokrat yang juga tidak 1:05:52 lepas dari keberadaan Citra Joe Biden 1:05:54 sebagai eh presiden Amerika yang 1:05:56 dianggap kurang berhasil dalam membawa 1:05:58 Amerika. Itu dalam sisi demokrasi juga 1:06:00 dalam masalah-masalah ekonomi. 1:06:03 Sementara itu menjadi komentar saya. 1:06:04 Makasih. Terima kasih Prof. Siswanto. 1:06:07 Baik, sahabat-sahabat sekalian ee 1:06:10 ee sangat menarik pembicaraan kita dan 1:06:12 sangat mendalam ulasan dan dari berbagai 1:06:15 sudut pandang dari para narasumber. Tapi 1:06:17 kita sudah tiba di akhir acara. Ee 1:06:20 seperti biasa setiap narasumber kita 1:06:23 minta untuk memberikan closing statement 1:06:25 atau closing ide. Closing statement 1:06:27 pertama ke Pak Marani persilakan. 1:06:43 Eh, ulang di Adik lagi terima telepon. 1:06:46 Iya, ini sudah closing ideas, Pak. 1:06:48 Closing statement. Silakan. Oke. Eh, 1:06:53 Bung Rocky ee tidak salah narasumber 1:06:56 membahas ini karena memang kami yang 1:06:59 mengusulkan kenapa Trump menang. Nanti 1:07:02 kita akan buat ee dalam perspektif yang 1:07:04 lebih value oriented eh discussion. 1:07:08 Tetapi memang sebetulnya ini ingin jadi 1:07:10 pelajaran. Ayo semua yang ingin menang 1:07:14 pemilu Pilkada belajar bagaimana 1:07:17 mengenal masyarakat itu punya hati 1:07:20 nurani, punya conscious mind, punya 1:07:23 harapan terdalam. Siapa yang bisa 1:07:26 memetakan dan menyuarakannya, maka 1:07:29 mereka bisa menang. Mereka yang membawa 1:07:31 nilai juga perlu belajar bagaimana 1:07:33 memenangkan nilainya dalam pertarungan 1:07:35 yang elegan di pemilu. Makasih. 1:07:40 Baik, terima kasih Pak Murani. 1:07:42 Berikutnya 1:07:43 eh Bu Asul. Bu Asrilakan. 1:07:47 Oke ya. Eh saya kira tadi menarik juga 1:07:49 ya eh kita dipancing oleh Bung Rogi ya 1:07:53 dengan pernyataan kenapa bahas ini gitu 1:07:54 ya. Lagi-lagi tadi saya sebenarnya sudah 1:07:56 pengin jawab pertanyaannya karena kita 1:07:57 ditawarkan dengan pertanyaan itu gitu 1:07:59 ya. tapi bahwa itu tidak salah juga 1:08:01 gitu. Kalau di dalam studi kita bicara 1:08:04 tentang bagaimana mencari research 1:08:06 question, dua-duanya valid. Kita mau 1:08:08 lihat dari perspektif Trump, oke. Kita 1:08:10 mulai dari perspektif Kamal Haris, oke. 1:08:13 Jadi dua-duanya tidak ada yang salah 1:08:14 gitu ya. Tapi kemudian bagaimana kita 1:08:16 menjelaskan, bagaimana kita 1:08:18 menganalisisnya menjadi penting. 1:08:20 Perspektifnya Bung Roki mungkin bisa 1:08:21 jadi beda dengan perspektif saya. 1:08:23 perspektif saya mungkin melihatnya lebih 1:08:26 kepada kenapa misalnya saya juga pengin 1:08:27 dengar temangan Bung Rocki kalau ingin 1:08:30 menjawab pertanyaan tadi kenapa Kamalah 1:08:32 Haris kalah ee seperti apa perspektifnya 1:08:34 kalau buat saya kenapa kalah memang 1:08:36 karena juga selain karena 1:08:37 persoalan-persoalan tadi yang tidak 1:08:39 tidak bisa diungkiri ya persoalan 1:08:41 ekonomi segala macam apa 1:08:43 kesulitan-kesekutan yang dialami oleh 1:08:44 Amerika dan ee begitu banyak juga ee 1:08:47 secara global ya posisi-posisi Amerika 1:08:50 yang kemudian harus berhadapan dengan 1:08:51 Cina gitu ya. Satu sisi menurut saya 1:08:53 nilai tadi tentang gender, tentang 1:08:56 perempuan ee belum belum sampai pada 1:08:58 yang selama ini disampaikan oleh Amerika 1:09:00 bahwa perempuan punya kesetaraan. Ya, 1:09:03 mereka enggak melihat itu sebagai sebuah 1:09:05 isu yang kemudian penting juga untuk 1:09:07 dibawa di dalam isu pemilu ini gitu ya. 1:09:09 Jadi kalau saya sih ee lagi-lagi kita 1:09:12 mau melihat dari perspektif mana tentu 1:09:14 ini kalau dari sisi perspektif ee 1:09:16 kebijakan luar negeri men saya kebijakan 1:09:18 luar negeri Trump sangat realis, 1:09:20 sangat-sangat realis gitu ya 1:09:21 pendekatannya. Ee tentu ee ini yang 1:09:24 menjadi ee seringki 1:09:26 menjadi kemudian menjadi ee suatu hal 1:09:30 yang harus kita respon dengan cara apa? 1:09:32 Apakah dengan cara realis juga perang 1:09:34 jadinya? 1:09:35 Kemudian cara seperti apa yang paling 1:09:37 ini yang harus kita pikirkan untuk 1:09:38 kemudian ee tadi ya tetap melihat apapun 1:09:42 yang ada dalam kondisi hari ini ee 1:09:45 terutama dengan ee munculnya Trum, kita 1:09:47 harus tetap optimis, tetap melihat 1:09:49 peluang seperti apa kita bisa manfaatkan 1:09:51 itu dan memitigasi dampak-dampak yang 1:09:53 mungkin ee terjadi baik buat kita bagi 1:09:56 Indonesia secara regional maupun secara 1:09:58 global. Saya kira itu. Terima kasih. 1:10:02 Baik, terima kasih Bu Asra dan sekarang 1:10:04 Mas dipersilakan. 1:10:07 Baik, terima kasih untuk closing 1:10:08 statement. Saya rasa mungkin menegaskan 1:10:10 sedikit apa yang disampaikan Mbak Asra 1:10:12 tadi. Mbak AS sudah ee menyampaikan 1:10:15 kenapa sebenarnya Kamal Har sendiri 1:10:17 kalah seperti itu. Dan mungkin bisa 1:10:19 dibuat nanti apa namanya ee diskusi 1:10:21 kedua terkait lebih kepada value-nya 1:10:24 seperti apa dan kenapa namanya Kamah 1:10:26 harus bisa kalah sementara. Padahal kita 1:10:29 tahu bahwa gender perspektif ini sudah 1:10:31 globally renown lah seperti itu. Nah, 1:10:33 mungkin kita bisa juga yang saya ingin 1:10:36 yang ingin saya sampaikan adalah 1:10:37 bagaimana mungkin Indonesia tetap akan 1:10:39 menjadi middlem ya di antara dua apa 1:10:42 namanya Amerika dan juga bagaimana the 1:10:44 rise of China yang masih terus berlanjut 1:10:46 selama dia tetap stabil di bawah si 1:10:48 JPing. Nah, seperti itu kita rasa saya 1:10:51 melihat juga bahwa Indonesia memang 1:10:53 tetap akan memiliki peran kunci di situ 1:10:55 mengimbangi dua dunia timur dan barat. 1:10:57 Bagaimana juga dua kekuatan ini bisa 1:10:59 berlangsung. Kita lihat bagaimana Men 1:11:02 yang baru menegaskan bahwa kami akan 1:11:03 bergabung ke bricks. Tapi juga kita 1:11:05 lihat bagaimana OECD juga tetap berusaha 1:11:08 untuk apa namanya ee mengupayakan 1:11:10 Indonesia juga tetap berada dalam servel 1:11:13 seperti itu. Kita bahwa beberapa minggu 1:11:15 depan nih kalau enggak salah ada satu 1:11:17 event yang dilaksanakan OECD terkait eh 1:11:20 eh entrepreneur dan juga eh AI dan juga 1:11:24 ekosistem untuk eh startup seperti itu. 1:11:26 Nah, ini adalah upaya meraih sebenar 1:11:28 bagaimana UM Indonesia yang memiliki 1:11:30 major atau kekuatan di UMKM untuk bisa 1:11:33 masuk juga ke dalam sebuah ee lingkaran 1:11:35 yang OECD. Walaupun dalam sisi high 1:11:38 politicsnya Indonesia menegaskan bahwa 1:11:39 ingin bergabung ke bricks. Saya lihat 1:11:41 tadi bagaimana Indonesia memiliki ee apa 1:11:44 namanya kesempatan sebagai middlem ke 1:11:45 depannya dan tetap memainkan tadi 1:11:47 mendayung di antara dua karang ini. Tapi 1:11:49 bermainnya memang harus lebih cantik 1:11:51 karena kita juga melihat supaya kita 1:11:52 juga tetap bisa mendapatkan keuntungan 1:11:55 dari kedua belah pihak mau dari Amerika 1:11:57 dan juga ee China seperti itu. Nah, 1:12:00 mungkin itu sesingkat yang bisa saya 1:12:02 sampaikan. Saya kembalikan kepada Mas 1:12:04 Hadis. Silakan. 1:12:06 Baik, terima kasih Masang. Dan sekarang 1:12:09 Pak Swanto dipersilakan Prof. 1:12:16 Kira yang penting untuk menjadi 1:12:19 perhatian kita belajar dari kasus 1:12:21 Amerika bahwasanya ee 1:12:24 demokrasi itu penting bagi pemimpin baik 1:12:27 maupun lokal ya. orang Amerika 35% itu 1:12:32 tidak puas dengan demokrasi di Amerika, 1:12:33 maka dia bisa jatuh gitu kan. Tidak puas 1:12:36 kemudian penerusnya jadi gagal. Nah, 1:12:38 demikian juga di Indonesia sih kalau 1:12:41 kita ingin tetap menjadi sesuatu yang 1:12:45 menjadi apa ee dambaan rakyat, jadi 1:12:50 nilai-nilai demokrasi itu harus tetap 1:12:51 ditegakkan dan penting menjadi 1:12:53 perhatian. Kita belajar kas Amerika. 1:12:55 Demikian soalnya makasih. 1:12:58 I terima kasih Prof. Sisanto dan 1:13:01 terakhir Bung Roilakan. 1:13:05 Oke, coba saya terangkan ya apa fungsi 1:13:07 metodologi 1:13:09 sebetulnya? Alat untuk membedah soal. 1:13:12 Oke, ini good. Dalam 2 jam ini alat-alat 1:13:16 yang Anda pakai itu dibaca oleh chat 1:13:18 CPT. Dalam 2 jam ini 1:13:22 topografi Elon Mas yang ada di atas kita 1:13:25 membaca jumlah kalimat yang ada sebutkan 1:13:27 itu. Di dalam 2 jam ini terbaca bahwa 1:13:31 genealogi yang hendak diucapkan oleh 1:13:34 para pakar Indonesia tidak pernah 1:13:36 menyebut moral call. Apa akibatnya? 1:13:40 Anda satu waktu Anda akan kaget bahwa 1:13:43 Anda menyumbang pada chat GPT untuk 1:13:45 membuat pernyataan-pernyataan nanti yang 1:13:48 sifatnya moral natural. Itu itu 1:13:51 intinya kan kita upload sesuatu yang 1:13:53 akan dibaca. Oh, Indonesia itu enggak 1:13:55 mukan 1:13:57 moral. Oleh karena itu, big data akan 1:13:59 bekerja. Kebijakan kebijakan publik 1:14:03 Amerika pada Indonesia akan pakai cara 1:14:06 berpikir kita. Mereka enggak memerlukan 1:14:08 socialet. 1:14:10 Begitu Amerika C sekarang lagi rumusin, 1:14:13 oh Indonesia cara berpikir yang begitu 1:14:15 bagus. Sudah jadi diplomat yang akan 1:14:18 dikirim ke Indonesia bukan 1:14:20 diplomat yang pro kemusiaan adil dan 1:14:23 beradab. Dia akan bawa diplomat-diplomat 1:14:25 yang civis pacem parabelu. Kan begitu 1:14:28 akibatnya kan. Jadi itu maksudnya supaya 1:14:32 tahu bahwa teknologi itu menyerap 1:14:34 informasi dari kita. Lalu kita sodorkan 1:14:38 diri kita untuk dibaca secara sangat 1:14:40 praktis. Begitu 1:14:42 dong. Itu sama dengan misalnya ni ini 1:14:44 kasus yang saya marah tadi pagi itu. 1:14:46 Ritwan Kamil bikin blunder. Terus orang 1:14:50 bilang, "Ya memang itu cara 1:14:52 berpikirnya." Ya sudah enggak apa-apa 1:14:53 yang penting terpilih. Itu artinya kita 1:14:56 sodorkan sesuatu yang memungkinkan pada 1:14:59 akhirnya nanti pemilu berikutnya boleh 1:15:01 mengolok-olok perempuan. Kan ini cuman 1:15:03 sudut pandang kan. boleh menistakan 1:15:06 janda itu. Ini cuma sudut pandang kok. 1:15:09 Itu yang saya maksud. No moral call. 1:15:11 Artinya evaluasi kita terhadap apapun 1:15:14 itu didasarkan pada kedumuan. Itu aja. 1:15:20 Baik, terima kasih Bu Roki dan dengan 1:15:24 demikian berakhir ya ee kita pada malam 1:15:27 ini dengan ya 1:15:30 kelihatannya peneliti-peneliti kita itu 1:15:33 kayak monster yang tinggal nunggu 1:15:35 dimasukin data terus dia dikomputasi 1:15:38 selesai. Itu enggak ada moral kok. 1:15:41 Tenang, Bro. Nanti ada pembahasan 1:15:44 berikutnya kita bahas value and moral. 1:15:48 Siap. Ya boleh aja. Tetapi dari awal itu 1:15:51 kemampuan kita untuk melakai metodologi 1:15:53 itu dibenamkan pada ketidakmampuan kita 1:15:57 untuk mengevaluasi. Sebetulnya kan ini 1:15:59 ini soal seri 1:16:01 soal-soal soal untuk mengevaluasi cara 1:16:04 kita sendiri itu. 1:16:07 Baik, terima kasih Bu Rokih dan seluruh 1:16:10 narasumber ee sahabat-sahabat sekalian. 1:16:12 memang salah satu tujuan ILT ini dan 1:16:15 juga selalu kita duetkan Pak Marani 1:16:18 Muroki ini untuk melihat dari sudut 1:16:20 pandang lain ya yang mungkin ratusan 1:16:24 kali sudut pandang lain tapi sudut yang 1:16:26 berlaku sudut 1:16:29 pragmatis masih dukung buah bina coba 1:16:32 cob 1:16:36 bro kita 1:16:40 bahas juga begitu itu enggak ada poin 1:16:44 terhadap semua dengar mana guru-guru 1:16:46 visi Bu yang bahlil bahlil kan udah 1:16:48 nanti di grup enggak ada poin enggak ada 1:16:50 moral call enggak 1:16:52 ada fungsi fungsi eh sudah ditangguhkan, 1:16:55 Bro. Tenang aja, 1:16:57 Bro. Makin lama kita menjadi menjadi 1:17:01 sangat dangkal itu. Kita kita berupaya 1:17:04 untuk mengaktifkan pikiran, tetapi 1:17:06 enggak mau takut keluar karena nanti 1:17:09 dianggap wah kalau keluar itu enggak ada 1:17:11 partner lagi. Kan itu prinsipnya. 1:17:17 Ya, terima kasih Bu Roki dan seluruh 1:17:19 narasumber. Eh, dengan demikian 1:17:22 berakhirlah acara ST kita pada malam 1:17:24 hari ini ya. Mudah-mudahan UI bisa balik 1:17:27 lagi tuh. Tapi UI mau bikin jadi world 1:17:30 class universitynya apa? UI watercos UI 1:17:34 itu 1:17:36 i tenangi. Keren. Keren. ITB yang harus 1:17:40 dirapiin tuh. 1:17:43 IT. ITB lagi beradu dua calon 1:17:46 gubernurnya. Sekarang kita nantikan 1:17:47 siapa yang menang. Ya, itu calon beradu 1:17:50 secara teknis bukan secara etis. 1:17:53 Keren. Keren. Sama HB enggak ada di situ 1:17:56 diadu enggak ada aduan. Siap. Nanti kita 1:17:59 buat adu yang etis dan logis. Baik, 1:18:02 terima kasih Bu Roki dan semuanya. Ee 1:18:05 dengan demikian berakhir acara kita. Ee 1:18:07 seperti biasa ee kami mengucapkan terima 1:18:10 kasih seluruh narasumber dan pemirsa dan 1:18:12 semoga bahasan kita kali ini memang 1:18:15 tujuannya agar kita bisa mendapatkan 1:18:17 berbagai sudut pandang dan terutama ee 1:18:20 Murok yang senantiasa mengangkat tentang 1:18:22 sudut pandang nilai, value dan moral 1:18:24 yang tinggi di tengah situasi 1:18:26 pragmatisme politik mungkin yang sedang 1:18:28 ada di negara kita. Tetapi memang ee 1:18:31 kita terus harus bisa mendengar 1:18:33 suara-suara hati nurani seperti beliau 1:18:35 ya. Dan mudah-mudahan para pemimpin kita 1:18:38 juga mendengarnya. Terima kasih. Sampai 1:18:39 ketemu pada acara Indonesia pekan depan 1:18:42 pada waktu dan channel yang sama. Terima 1:18:44 kasih kepada seluruh narasumber Pak 1:18:46 Prof. Siswanto, Bu Asra, Mas Jelang, dan 1:18:49 juga Pak Roki. Sampai ketemu pada waktu 1:18:52 channel yang sama pekan depan. 1:18:54 Asalamualaikum warahmatullahi 1:18:55 wabarakatuh. Waalaikumsalam.