Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 Bismillahirrahmanirrahim. 0:16 Alhamdulillahilladzi 0:23 anzala 0:25 ala 0:26 abdihil 0:27 kitab 0:29 wa lam yaj'al 0:34 lahu 0:35 qayyim 0:36 al 0:39 li yundzira ba'san 0:42 syadidan 0:46 min 0:48 ladunhu wa yubasysyiral 0:51 mu'minin. 0:53 Wa yubasysyiral 0:56 mu'mininalladzina 1:02 ya'malunas 1:05 shalihati 1:07 lahum 1:08 ajran 1:09 hasana. 1:12 Makitsina 1:14 fihi 1:16 abada. 1:18 Wa yundziralladzina 1:23 qalu 1:24 ittakhadzallahu 1:27 walada. 1:29 Ma lahum 1:31 bihi 1:32 min 1:33 ilmin 1:35 wala 1:36 li 1:37 aba'ihim. 1:40 Kaburat kalimatan 1:45 takhruju 1:47 min afwahihim. 1:51 In 1:52 yaquluna 1:54 illa 1:56 kadziba. 1:59 Fala'allaka 3:07 Assalamualaikum warahmatullahi 3:09 wabarakatuh. 3:11 Rahmatullah wabarakatuh. 3:13 Bismillahirrahmanirrahim, 3:15 assalamualaikum warahmatullahi 3:16 wabarakatuh. 3:18 Dear leaders dan calon leaders seluruh 3:20 Indonesia, kembali lagi kita 3:23 pada acara Indonesia Leaders Talk setiap 3:26 Jumat malam. 3:28 Kali ini dengan tema uta-atik wakaf. 3:31 Eee 3:33 pada tanggal 25 Januari eee kemarin 3:35 Presiden Jokowi beserta 3:37 eee Bu Sri Mulyani dan jajaran 3:41 eee pimpinan negara lainnya sudah 3:43 meluncurkan gerakan nasional wakaf uang. 3:47 Di satu sisi 3:49 ada kegembiraan 3:50 eee bagi kita ketika pemerintah akhirnya 3:54 memfasilitasi 3:56 penerapan nilai-nilai Islam dalam 3:59 kehidupan berbangsa dan bernegara 4:01 dan yang kita yakini ketika nilai-nilai 4:04 Islam ini diterapkan akan mendatangkan 4:07 keberkahan 4:08 bagi kehidupan bangsa dan negara kita 4:11 dan mendatangkan keberkahan bagi 4:12 masyarakat Indonesia. 4:14 Tapi di sisi lain ada juga kekhawatiran 4:18 pemerintah 4:20 dalam profesionalisme, 4:23 independensi dan juga tujuan pemerintah 4:25 dalam menggulirkan Gerakan Nasional 4:28 Wakaf Uang ini. Ya, terkait dengan 4:31 pemanfaatan dana umat mau dibawa kemana 4:34 dana umat hasil wakaf ini. 4:37 Menurut data yang dihimpun oleh 4:39 pemerintah setiap tahunnya 4:41 ada potensi untuk wakaf aset mencapai 4:45 2.000 triliun dan wakaf uang 188 4:48 triliun, bukan dana yang kecil. 4:50 Nah, 4:51 kita khawatir, masyarakat khawatir 4:54 ketika dana ini tidak dikelola dengan 4:55 benar dan profesional tidak akan 4:57 memberikan manfaat, maslahat bagi umat, 5:01 bagi kehidupan rakyat, bangsa dan 5:03 negara. Untuk itu 5:05 diskusi Indonesia Leaders Talk pada 5:07 malam ini sudah menghadirkan beberapa 5:10 narasumber untuk mengupas terkait dengan 5:13 uta-atik wakaf 5:15 ini. Sudah hadir bersama kita Ustaz 5:17 Irfan Syauqi Beik. Assalamualaikum Ustaz 5:19 Irfan. 5:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 5:22 wabarakatuh, Mas. 5:24 Sudah hadir bersama kita dalam acara 5:27 Indonesia Leaders Talk ini. Ustaz Irfan 5:29 adalah anggota Badan Wakaf Indonesia. 5:32 Dan juga kita ketahui 5:36 sebagai salah satu pakar dalam 5:38 perekonomian syariah ya dan keuangan 5:40 syariah. Mudah-mudahan nanti bisa 5:42 memberikan pencerahan kepada kita. 5:45 Dan juga nanti insya Allah akan 5:46 bergabung menyusul bersama kita Ustaz 5:49 Tengku Zulkarnain 5:51 yang beliau mudah-mudahan eh salah 5:53 seorang ulama kita dan bisa memberikan 5:56 eh pandangan 5:58 dari sudut pandang beliau sebagai ulama 6:01 bagaimana melihat kebijakan pemerintah 6:03 ini. 6:04 Eh dan juga sudah hadir juga bersama 6:07 kita narasumber tetap kita dan tuan 6:09 rumah kita Pak Mardani Ali Sera. 6:10 Assalamualaikum Pak Mardani. 6:13 Salam Bang Aldi. Jazakallah 6:15 Allah Ustaz Irfan. 6:17 Waiyakum sama-sama ini Pak Ustaz 6:19 Mardani. 6:21 Dan juga Bung Rocky Gerung yang juga 6:23 senantiasa membersamai kita dengan 6:26 pemikiran-pemikiran kritis tajam dan 6:28 fundamentalnya. 6:30 Dan eh sebelum kita masuk ke Pak 6:33 Mardani, saya ingin mengucapkan terima 6:35 kasih kepada rekan-rekan seluruh sahabat 6:38 eh pemirsa Indonesia Leader Talk yang 6:41 terus eh sampai episode saat ini 6:43 mengikuti acara Indonesia Leader Talk 6:45 setiap pekannya setiap Jumat malam. 6:47 Mudah-mudahan acara ini bisa memberikan 6:50 pencerahan bagi kita. Terima kasih juga 6:52 kepada rekan-rekan media yang terus 6:54 meliput dan memberitakan acara ini. Kita 6:57 niatkan sebagai sarana untuk pendidikan 6:59 bagi seluruh masyarakat kita dan memberi 7:01 masukan bagi kebijakan kepada 7:04 pemerintah. 7:05 Dan juga acara ini rekan-rekan sekalian 7:07 bisa disaksikan melalui channel eh 7:10 YouTube dan Facebook eh Bapak Mardani 7:12 Ali Sera, kemudian YouTube dan Facebook 7:15 Partai Keadilan Sejahtera atau juga PKS 7:17 TV. 7:18 Dan juga eh channel YouTube eh Rasil TV 7:21 dan juga bisa di dengar secara langsung 7:24 melalui siaran radio Rasil 720 AM. Jadi 7:28 bagi rekan-rekan yang ingin mendengarkan 7:30 tanpa harus melihat secara live 7:32 streaming bisa mendengarkan juga melalui 7:34 channel radio Rasil 720 AM. 7:38 Eh baik eh untuk awalan eh eh saya 7:42 berikan eh persilakan kepada Bapak 7:44 Mardani Ali Sera untuk bisa memberikan 7:47 pandangan dan pengantarnya terkait tema 7:49 kita pada malam ini uta-ati wakaf. Pada 7:51 Pak Mardani dipersilakan, Pak. 7:53 Kasih, Bang Aldi. Izin Ustaz Irfan dan 7:56 Bro Rocky. 7:58 Pemberitahuan juga malam ini seperti 8:00 Sayyidina Muhammad Amma Ba'd. 8:02 Selamat malam dan salam sejahtera untuk 8:04 kita semua. Ee temanya khusus tentang 8:08 otak-atik wakaf, ya. 8:10 Eee ini tema yang eee substansial karena 8:14 wakaf nanti Ustaz Irfan akan 8:16 mendetailkan salah satu sumber 8:20 eee bukan cuma pendanaan, tapi kekuatan 8:22 umat dan bangsa, ya. Karena itu 8:25 apresiasi dulu kepada pemerintah yang 8:28 sudah memainstreamingkan wakaf, ya, 8:31 dengan eee Gerakan Nasional Wakaf Uang. 8:35 Sebetulnya ini tindak lanjut, ya, Ustaz 8:37 Irfan dengan eee fatwa MUI, ya. Dari 8:41 tahun 2002 apa 2012 itu Majelis Ulama 8:44 Indonesia sudah menggerakkan gemar 8:47 berwakaf ini, ya. Bahkan eee negara kita 8:49 sudah punya bukan cuma Baznas, ya, Badan 8:52 Amil Zakat Nasional, tapi yang sekarang 8:55 mulai menjadi primadona. Nanti Ustaz 8:57 Irfan akan mendetailkan Badan Wakaf 9:00 Indonesia, ya. Salah satu regulator 9:02 utama yang dibentuk negara agar gerakan 9:06 wakaf ini betul-betul proporsional 9:09 akurasinya tinggi, efektivitasnya juga 9:12 tinggi, ya. Dan karena itu saya 9:14 apresiasi juga pada kesempatan kali ini 9:17 ketika pemerintah dengan serius 9:20 sebetulnya sejak zaman Ibu Rini 9:22 Sumarsono, ya, ide tentang Bank Syariah 9:25 Indonesia, ya. Walaupun baru gabungan 9:27 tiga, ya, eee BPSM, 9:30 BRI Syariah, dan BNI Syariah 1 Februari 9:34 kalau tidak salah OJK sudah meresmikan 9:37 dan mengizinkan adanya Bank Syariah 9:40 Indonesia, ya. Walaupun eh saya kritik, 9:43 ya, karena penempatan modal negaranya 9:46 belum ada, ya. Walaupun aset gabungan 9:48 sudah 220 triliun, tetapi dia belum 9:51 mendapat political will. Mestinya 9:53 pemerintah segera melakukan placement, 9:55 ya, penempatan modal negara seperti LPI 9:58 yang kita sudah bahas, Lembaga Pengelola 10:00 Investasi atau Indonesian Investment 10:03 Authority yang langsung mendapatkan 10:04 placement penempatan modal negara 15 10:07 triliun, ya, dari total 30 atau 25 gitu 10:11 eh eh pada ujungnya. Jadi, apresiasi 10:14 karena eh dan ini tidak perlu membuat 10:17 takut eh saudara-saudara kita dari agama 10:20 yang lain karena semuanya, mau Kristen, 10:23 Protestan, eh Katolik, Hindu, Buddha, 10:26 ketika ada instrumen yang dapat 10:28 memperkuat eh potensi keuangan rakyat 10:32 atau kekuatan rakyat, maka eh perlu 10:34 diperkuat. Walaupun, ya, pada kesempatan 10:37 kali ini saya ingin memberikan beberapa 10:40 kerangka utama dan warning, ya, eh 10:44 peringatan bagi kita semua. 10:47 Karena eh mesti sangat hati-hati, ya. 10:50 Kalau secara umum eh kategori dana itu 10:53 tiga, ya. 10:54 Pertama, dana private. Ini dimiliki 10:57 pribadi ataupun lembaga. Eh ini kalau di 11:00 Amerika ini menjadi salah satu sumber 11:03 utama kemajuan negara dengan paham 11:06 kapitalismenya, individualismenya. 11:08 Di kita eh kita berikan kalau dalam 11:11 Islam, eh eh hak kepemilikan itu mutlak 11:15 punya seseorang atau lembaga dan tidak 11:18 boleh eh dikotak-katik dan dia eh nanti 11:22 akan masuk kepada hadis bahwa khairunnas 11:26 anfa'uhum linnas, sebaik-baik manusia 11:28 yang paling banyak manfaatnya bagi 11:29 manusia lain. Karena itu, dalam konteks 11:32 inilah maka ada jendela zakat yang 11:34 wajib, ada jendela infak yang dia sunah, 11:38 ada jendela wakaf yang dia sangat 11:41 dianjurkan. Ya. Tapi yang kedua, ada 11:43 dana masyarakat. Nah, wakaf ini ada di 11:46 poin dana masyarakat. Makanya hati-hati 11:49 ketika negara mulai masuk campur. 11:52 Digarisbawahi, 11:54 ee 11:55 ee satu ekonom kita cukup lumayan, Pak 11:58 Antoni Budiawan menggaris bawahi. Saya 12:01 juga sangat memahami, Bu Anis 12:02 sudah-sudah berkomentar. 12:04 Undang-Undang 17/2003 tentang keuangan 12:06 negara menjelaskan bahwa pemasukan 12:08 negara itu cuma tiga. 12:10 Yaitu pajak, PNBP penerimaan negara 12:12 bukan pajak, dan hibah. Hibah juga 12:14 diatur. Ee bukan hibah dari luar ke 12:17 masyarakat, tapi pemerintah pusat ke 12:19 pemerintah daerah bisa. 12:21 Persetujuan DPR, pemerintah pusat ke 12:23 negara lain. Kita banyak bantu 12:25 Palestina, kita juga punya Indonesian 12:27 Aid sekarang. Kemarin kita memberi 12:30 kepada Samoa, Vanuatu, Samoa, 12:33 negara-negara Pasifik Selatan bantuan 12:35 100 sampai 150.000 US dolar untuk 12:38 penanganan Covid. Itu ee 12:40 hibah antara pemerintah pusat kepada 12:42 pemerintah luar atau ee institusi di 12:45 luar. Dan yang ketiga, hibah dari 12:47 pemerintah ee pusat kepada BUMN atau 12:51 BUMD. Tapi kesemuanya harus mendapat 12:53 persetujuan ee DPR dan masuk dalam APBN 12:56 atau APBD. Nah, sementara wakaf tidak 12:59 masuk dalam ketiganya. Dia bukan pajak, 13:01 dia bukan PNBP, dan dia bukan hibah. 13:04 Nah, karena itu 13:06 dengan gerakan nasional yang dibuat 13:08 pemerintah tentang wakaf ini, maka 13:09 melulu pengelolanya, nazirnya, 13:13 itu betul-betul harus adalah civil 13:17 society. 13:18 Karena tadi, ada dana privat, dana 13:20 masyarakat, dan dana umum. Yang dikelola 13:23 negara adalah dana umum. Nah, ini dari 13:26 ee tanah, air, dan kekayaan alam di 13:28 dalamnya dimiliki oleh negara digunakan 13:29 sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat, 13:31 itu dana umum. Tetapi bab tentang wakaf 13:35 ini betul-betul harus oleh masyarakat, 13:39 dari masyarakat, untuk masyarakat, 13:42 dikelola dengan musyawarah masyarakat. 13:44 Jadi betul-betul bab wakaf ini 13:47 pemerintah jadi edukator, jadi 13:51 fasilitator, jadi regulator dengan 13:53 BWI-nya, dan menjadi eh quote and 13:57 unquote edukasi dan literasi. Tetapi 14:00 pelaksanaannya 14:01 lagi-lagi civil society civil. Karena 14:04 ketika dana wakaf atau dana umum ini, 14:08 ya, kita sebutnya dana masyarakat ini 14:11 dikelola oleh negara, maka saat itu 14:13 pemerintah sedang 14:15 membuat sumber daya pergerakan civil 14:19 society menjadi melemah. 14:21 Nah, padahal civil society yang kuat itu 14:23 menjadi syarat negara yang terkontrol 14:25 dengan baik. Nah, ketika civil society 14:28 melemah karena sumber dayanya ditarik 14:30 oleh negara, itu sangat berbahaya. 14:33 Karena itu lagi-lagi eh kita perlu 14:35 sangat berhati-hati, niat baik harus 14:38 dengan cara yang baik. Nah, karena itu 14:40 kita minta kepada pemerintah, nanti BWI 14:44 sangat berperan besar untuk menjelaskan 14:46 roadmap-nya seperti apa pengelolaan dana 14:48 masyarakat melalui wakaf ini. Eh eh eh 14:53 mekanismenya seperti apa, eh 14:55 peraturannya seperti apa, sehingga 14:56 betul-betul 14:58 kalau saya, Bang Haldi, Ustaz Irfan, Bro 15:02 Rocky, dan semua teman-teman, dana 15:04 masyarakat paling enak dikelola oleh 15:06 lembaga masyarakat sendiri. BWI ber 15:09 berkenan ber ber ber berperan besar 15:12 dalam literasi, edukasi, penguatan 15:15 organisasi, kapasitas SDM, sampai baik 15:19 kuantitas maupun kualitas, sehingga ada 15:22 ratusan bahkan ribuan dana wakaf, dana 15:27 umat, dana masyarakat yang kuat dikelola 15:30 oleh institusi masyarakat yang kuat, 15:32 lembaga pengelola 15:34 masyarakat, dana syariah masyarakat 15:37 sehingga itu yang kuat. Kita bisa 15:39 belajar Bang Haldi dengan teman-teman 15:41 Katolik ya, mereka punya 15:44 serikat Jesuit ya yang sangat militan 15:49 yang sangat bukan cuma militan dalam 15:52 mengelola dananya ya, bisa 20% bahkan 15:56 itu loh. 15:57 Bahkan mengelola institusinya ada banyak 16:01 sekali institusi pendidikan, institusi 16:03 LSM, institusi riset dari lembaga 16:06 teman-teman serikat Jesuit ini yang itu 16:10 quote and quote world class 16:12 standard dan itu betul-betul 16:15 stand out among the crowd dan itu tidak 16:18 dikuasai negara. Mereka mampu secara 16:20 mandiri menjadi 16:23 agen bagaimana Katolik ini memberikan 16:26 pencerahan bagi masyarakat baik 16:30 program di pedesaannya, bahkan mereka 16:32 punya program renewable energy-nya. 16:35 Mereka punya 16:37 program koperasinya yang kokoh sekali 16:40 dan itu melulu dikelola mandiri oleh 16:44 masyarakat, oleh lembaga masyarakat. Nah 16:47 negara kalau mau hadir 16:50 usul saya betul-betul memperkuat 16:52 lembaga-lembaga swadaya di masyarakat 16:54 sehingga civil society itu punya sumber 16:56 dayanya sendiri, punya SDM 16:58 berkualitasnya sendiri, punya 17:00 kemandiriannya sendiri, punya kemampuan 17:02 kontrol sosialnya sendiri dan pada 17:04 umumnya menjadi pressure group yang 17:06 membuat negara betul-betul ada di bawah 17:08 kontrol masyarakat. Bukannya sumber daya 17:12 dana masyarakat ditarik, dikuasai negara 17:15 yang akhirnya civil society bisa sangat 17:18 lemah, tidak mandiri dan justru nanti 17:20 dikuasai. Nah, karena itu 17:22 kita dukung tapi sangat hati-hati, kita 17:25 awasi dan kita jaga bersama 17:29 ide, inisiatif gerakan nasional wakaf 17:32 uang atau wakaf sejenisnya yang 17:35 dilakukan oleh negara. Begitu sebagai 17:37 pengantar Bang Aldi. 17:43 Baik, terima kasih 17:45 Pak Mardani dari sudut pandang DPR 17:49 bagaimana DPR bisa melakukan pengawasan 17:52 dan memastikan agar program ini 17:55 tepat sasaran karena salah satu 17:57 kekhawatiran masyarakat sebenarnya sama 18:00 juga dulu seperti dana abadi haji dan 18:03 lain-lain gitu ya. 18:05 Penggunaan dana ini 18:08 eh 18:08 tidak tepat sasaran atau tidak 18:11 dikembalikan untuk kemaslahatan umat 18:14 gitu. Bagaimana cara 18:16 agar DPR sebagai salah satu instrumen 18:19 pengawasan pemerintah dan 18:21 lembaga-lembaga di bawah naungan 18:23 pemerintah ini bisa 18:26 berjalan dengan baik untuk memastikan 18:28 agar dana ini benar-benar dikelola 18:30 dengan baik dan tepat sasaran. 18:33 Iya, eh 18:35 ambil contoh ya, undang-undang KPK itu 18:38 dibuat tahun 2002 ya. 18:41 Dan KPK quote and unquote mulai efektif 18:44 dan menjadi quote and unquote lagi 18:46 pendekar 2012 ke atas itu. 18:49 Ketika eh pemerintah memberikan 18:53 political will-nya, dananya 18:56 eh sirkulasi kepemimpinannya dibuat 18:58 betul-betul masyarakat walaupun 19:01 kemarin dapat musibah ya dengan revisi 19:03 undang-undang dan paket kepemimpinannya 19:05 sehingga indeks persepsi korupsi kita 19:08 pertama kali ini turun itu sejak 19:10 reformasi. Ini catatan. Jadi, usul saya, 19:13 Bang Aldi, baik Badan Wakaf Indonesia, 19:17 Badan Pengelola Dana Pengelola Haji 19:20 kita, ya, 19:21 eh yang memegang eh pengelolaan dana 19:24 haji kita, dan berbagai lembaga 19:26 institusi pengelola, baik dana, 19:29 institusi, SDM, lain-lain, 19:32 berikan political will, 19:34 eh dukung anggarannya, 19:37 perkuat SDM-nya, 19:40 biarkan dia mandiri. 19:42 Eh, nanti 5 10 tahun sesudah itu, maka 19:45 dia akan sangat efektif untuk menjadi 19:49 kekuatan civil society yang kuat. Tentu 19:51 dengan syarat pemerintahnya benar-benar 19:55 ikhlas memperkuatnya, bukan malah 19:58 mengkooptasi atau menjadikannya kuda 20:00 tunggangan. Nah, ini eh di DPR kita akan 20:04 terus awasi eh BWI. Mungkin saya belum 20:07 cek, ya, Ustaz Irfan. Nanti eh partner 20:09 mitranya Komisi 8 mestinya dengan 20:12 Kemenag. 20:13 8, betul. 20:14 8. Nah, kita perlu eh political 20:16 will-nya, mainstreaming-nya, 20:18 anggarannya, 20:20 dukungannya, eh konektivitasnya dengan 20:23 lembaga-lembaga yang lain, sehingga 20:24 betul-betul menjadi world class 20:26 institution. 20:27 Nah, karena eh kayak kita eh pengelola 20:31 dana pengelola haji kita eh sudah ada, 20:34 walaupun baru satu putaran. BWI sudah 20:36 tiga putaran, ya, Ustaz Irfan, ya? Eh eh 20:38 komisionernya ataupun eh kita sebutnya 20:41 apa, ya? Komisioner atau apa, deh? 20:44 Anggota, anggota. 20:45 Anggota BWI, ya? 20:47 Iya, setiap 3 tahun, ya. 20:49 3 tahun. Nah, itu harus betul-betul 20:51 di-back up dengan 20:53 eh political will, anggaran, dan lain. 20:55 Sehingga eh kita masih tetap kalah. 20:58 Jumlah jemaah haji kita yang besar kalah 21:01 dengan efisiensi pengelolaan dana tabung 21:03 haji yang dimiliki oleh Malaysia yang 21:04 sebenarnya jumlah pengelola haji 1/10 21:06 dari kita, gitu. Nah, tapi ini menjadi 21:09 tantangan dan itu bukan cuma tugas 21:11 pemerintah, kita di DPR juga perlu ee 21:14 betul-betul mainstreaming, ya, agar 21:16 institusi-institusi pengelola kegiatan 21:18 keumatan ini, baik umat 21:21 agama mana pun diperkuat, anggarannya 21:23 diperkuat political-nya, diperkuat 21:26 konektivitasnya, dan diperkuat 21:28 roadmap-nya sehingga betul-betul menjadi 21:29 lembaga world class institution yang 21:32 memberikan kontribusi terbesar bagi 21:33 pembangunan bangsa. 21:35 Begitu, Bang Haldi. 21:36 Baik, terima kasih, Pak Mardani, ee atas 21:39 penjelasannya. 21:41 Ee 21:42 sekarang kita masuk ke Ustaz ee Irfan 21:46 Syauqi Beik yang ee mudah-mudahan bisa 21:48 menjelaskan bagaimana sebenarnya proses 21:52 ee kemudian akhirnya diluncurkan Gerakan 21:54 Nasional Wakaf ini oleh wakaf uang oleh 21:57 Pak Presiden Jokowi dan bagaimana 22:00 pengelolaan ke depan, ya, oleh Badan 22:02 Wakaf. 22:04 Saya serahkan ke Ustaz. 22:06 Baik, terima kasih, 22:08 ee Bang Haldi. Bismillahirrahmanirrahim. 22:10 Asalamualaikum warahmatullahi 22:12 wabarakatuh. 22:14 Nahmaduhu wanushalli ala rasulihil karim 22:16 wa ba'd. 22:17 Rabbisyrahli sadri wayassirli amri 22:20 wahlul uqdatan min lisani yafqahu qauli. 22:22 Rabbana zidna ilman nafi'an warzuqna 22:24 fahman wasi'an. 22:27 Yang saya hormati Ustaz Mardani Ali 22:29 Sera, 22:30 Pak Rocky Gerung, dan juga nanti akan 22:33 bergabung Ustaz Tengku Zulkarnain. 22:36 Jadi memang 22:37 kita ee sama-sama menyadari bahwa 22:41 tantangan yang kita hadapi ini kan 22:43 sangat berat, ya. 22:45 Tantangan kita ee sangat luar biasa, ya, 22:48 dari sisi ekonomi misalnya kita 22:50 ee tahun 2020 ini kita mengalami 22:53 pertumbuhan negatif yang dalam sejarah 22:55 ini adalah ee pertumbuhan negatif 22:58 ketiga, ya, setelah tahun 1963, 98, dan 23:03 di tahun 2020. 23:04 Nah, tentu menghadapi 23:06 tantangan-tantangan yang berat ini, kita 23:07 perlu mengoptimalkan semua potensi 23:09 domestik yang kita miliki. 23:12 Dan di antara potensi domestik yang kita 23:14 miliki, dan ini eh juga menjadi sumber, 23:18 ya, untuk memperkuat eh pembangunan umat 23:21 dan masyarakat, itu antara lain adalah 23:24 wakaf. Ya, apalagi 23:27 eh wakaf ini juga dalam sejarah, ya, 23:31 terbukti telah memainkan eh peran yang 23:33 sangat signifikan, ya, di dalam eh 23:36 pengembangan eh umat. Dan ini juga 23:39 sangat terkait nanti dengan peradaban. 23:41 Jadi, tegak tidaknya peradaban itu salah 23:43 satunya ditopang oleh eh semangat 23:47 berbagi. Dan kita melihat, ya, bahwa 23:50 potensi wakaf ini sangat luar biasa 23:52 besar. 23:53 Dan sebagaimana yang juga eh telah 23:55 sama-sama kita ketahui, bahwa eh potensi 23:58 wakaf, ya, eh baik wakaf eh aset, dalam 24:02 hal ini adalah tanah wakaf, ya, kita 24:04 memiliki tanah wakaf di sekitar hampir 24:08 400.000 titik di seluruh Indonesia, yang 24:11 kalau kita coba eh lakukan eh analisis, 24:15 ya, nilai potensinya bisa mencapai angka 24:17 2.000 triliun. 24:18 Dan juga kita punya potensi eh wakaf 24:21 uang, ya, yang dalam kajian eh Badan 24:24 Wakaf Indonesia tahun 2019, 24:27 potensinya mencapai angka 180 triliun. 24:30 Jadi, memang kita memiliki 24:31 potensi-potensi yang sangat luar biasa. 24:34 Yang ini kalau buat saya, itu bukan 24:36 sekedar kita bicara angka atau kita 24:38 bicara uang. Tapi bagaimana kemudian 24:41 kita bisa mengembangkan banyak hal, kita 24:43 bisa memperkuat solidaritas sosial, kita 24:46 bisa memperkuat semangat berbagi, kita 24:49 bisa kemudian menghadirkan eh berbagai 24:51 kemaslahatan yang lebih besar, ya, di 24:53 tengah situasi yang seperti ini. Dan 24:55 jangan lupa bahwa 24:57 eh gerakan ekonomi syariah itu telah 24:59 melewati ya berbagai presiden. Jadi, 25:02 artinya dari dulu sampai sekarang kita 25:04 sudah melewati berbagai eh kepemimpinan 25:07 nasional dan kita akan tetap terus 25:09 melaju, berkembang ya dan akan semakin 25:12 kuat. Nah, apalagi kemudian kalau 25:15 gerakan ekonomi syariah ini juga 25:16 mendapatkan endorsement dari berbagai 25:18 pihak ya. Artinya 25:20 eh semua pihak ya terlepas dari 25:23 eh perbedaan politik misalnya memberikan 25:26 endorsement terhadap eh potensi-potensi 25:29 ekonomi syariah ini, saya kira ini akan 25:32 eh memperkuat ya, akan memperkuat 25:35 upaya-upaya kita untuk mengoptimalkan eh 25:37 potensi yang kita miliki dan 25:40 hari ini kalau kita melihat ya peran 25:42 institusi wakaf di dalam memitigasi eh 25:46 problem pandemi misalnya itu juga cukup 25:48 signifikan ya. Betapa banyak rumah 25:50 sakit-rumah sakit wakaf misalnya yang 25:52 dikelola oleh ormas Islam yang kemudian 25:54 berkontribusi ya di dalam eh menangani 25:58 eh health crisis yang kita hadapi hari 26:00 ini ya. Demikian pula eh dengan 26:03 pengembangan sistem pendidikan ya yang 26:05 saya kira telah banyak institusi 26:07 pendidikan berbasis wakaf yang 26:09 menunjukkan kinerja yang sangat luar 26:10 biasa. Misalnya contohnya Pondok Modern 26:13 Gontor yang saya mendapat informasi 26:15 total asetnya bisa sampai 30 triliun 26:18 misalnya. Jadi, banyak sekali hal-hal 26:20 kebaikan dan saya melihat ya bahwa ada 26:23 satu yang sebenarnya 26:25 eh belum dioptimalkan dengan baik yaitu 26:28 adalah wakaf uang. 26:30 Ya, jadi kalau wakaf aset orang kalau 26:32 mau berwakaf aset itu harus kaya dulu. 26:34 Supaya harus punya aset dulu baru 26:36 kemudian 26:37 eh bisa berwakaf. Tetapi dengan wakaf 26:40 uang, maka kita sebenarnya membuka ruang 26:43 ya, membuka ruang kepada siapapun ya 26:46 dengan latar belakang apapun dengan 26:48 pendapatan berapapun untuk kemudian 26:50 menikmati satu amalan ibadah yang akan 26:53 memberinya pahala keabadian, sedekah 26:55 jariyah yaitu adalah wakaf. Dan wakaf 26:58 uang ini, ya, walaupun ada perbedaan 27:01 pendapat tetapi kan ee Majelis Ulama 27:04 Indonesia sudah mengeluarkan fatwa, 27:06 kemudian juga di dalam undang-undang 27:08 wakaf nomor 41 tahun 2004 juga ini sudah 27:12 ee apa namanya, diakomodasi, ya, 27:15 sehingga 27:16 wakaf uang itu adalah sesuatu yang ee 27:19 legal, sesuatu yang memang secara 27:22 syariat dan juga secara hukum positif 27:23 adalah 27:25 ee apa yang bisa kita kembangkan. Nah, 27:27 saya melihat wakaf uang ini ini masih 27:30 banyak belum tereksplorasi dengan baik, 27:32 ya, padahal kita memiliki potensi itu, 27:35 ya. Nah, sehingga bagaimana kemudian 27:38 kita mendorong penguatan ini. Apalagi 27:40 berdasarkan survei dari ee BWI dan 27:44 Kemenag tahun 2020 kemarin, ya, bahwa 27:47 literasi masyarakat terhadap wakaf ini 27:50 masih berada dalam kategori rendah. Ya, 27:52 jadi ee literasi zakat itu ee 27:55 kategorinya moderat atau menengah, 27:58 tetapi literasi wakaf itu masih rendah. 28:00 Artinya, puluhan tahun praktik wakaf, 28:03 ya, mungkin berabad-abad sejak datangnya 28:05 Islam kita sudah mempraktikkan wakaf dan 28:08 itu terlihat ee di banyak institusi 28:11 pendidikan dan keagamaan, ya, akan 28:13 tetapi ternyata setelah kita survei 28:16 literasinya masih rendah. Nah, sehingga 28:18 di sini kita perlu ee melakukan 28:21 penguatan-penguatan. Nah, salah satunya 28:23 adalah dengan bagaimana kita ee 28:26 mengedukasi dan mengkampanyekan secara 28:28 masif mengenai ee wakaf uang ini yang 28:31 potensinya luar biasa, yang ini kalau 28:34 bisa kita kelola, maka dia akan 28:36 menghadirkan kemaslahatan yang besar, 28:38 ya. Dan dalam konteks ini, 28:41 semua aturan ini tentu 28:43 ada dasar hukumnya, ya. Jadi, ketika 28:46 misalnya ee Presiden meluncurkan Gerakan 28:49 Nasional Wakaf Uang, di mana Presiden 28:51 sebelumnya Pak SBY juga sekitar tahun 28:54 2009-2010 juga pernah meluncurkan 28:56 gerakan wakaf uang. Ya, jadi itu 28:59 sebenarnya adalah salah satu bentuk 29:01 endorsement dan upaya untuk melakukan 29:03 sosialisasi dan edukasi. Ya, adapun 29:06 pengelolaan dananya tentu kita harus 29:08 melihat ya dari sisi undang-undangnya. 29:11 Nah, kalau kita merujuk ya kepada 29:13 undang-undang wakaf nomor 41 tahun 2004, 29:16 memang wakaf uang ini ya tentu ini 29:19 adalah sumber dana yang memang tidak ada 29:21 hubungan sama sekali dengan APBN, ya. 29:24 Kecuali kalau kita ya misalnya para 29:28 nazir menginvestasikan dana wakafnya 29:30 melalui instrumen sukuk negara, tetapi 29:32 itu tidak dikonsider sebagai pendapatan 29:36 negara masuk ke dalam APBN. Jadi, karena 29:38 itu sebenarnya ini adalah area ya di 29:42 mana kita mengembangkan konsep people to 29:44 people transfer. Jadi, antara masyarakat 29:47 dengan masyarakat itu saling berbagi, 29:49 difasilitasi dalam satu sistem di mana 29:52 di dalam sistem ini BWI dan Kementerian 29:55 Agama mendapatkan mandat untuk melakukan 29:58 pengelolaan ya agar 30:00 lalu lintas informasi, kemudian 30:04 pengelolaan wakaf, program-program itu 30:06 kemudian bisa berjalan dengan efektif, 30:09 efisien, dan high impact. Nah, ini yang 30:11 menurut saya pembenahan yang perlu untuk 30:14 kita lakukan ya supaya kita bisa 30:18 mengoptimalkan potensi wakaf ini ya 30:20 karena 30:21 wakaf uang misalnya kalau kita kembali 30:23 ke sejarah itu pernah mengalami masa 30:25 jaya di masa Turki Utsmani. Selama 30:28 beberapa abad instrumen wakaf uang itu 30:30 berdasarkan riset Profesor Murat 30:32 Cizakca, itu menjadi 30:35 mesin pertumbuhan ekonomi dunia karena 30:37 Turki menguasai sepertiga dunia pada 30:39 saat itu. Nah, artinya eh catatan 30:42 sejarah sudah pernah kita melihat 30:44 bagaimana signifikansi peran wakaf uang, 30:47 maka kemudian dalam konteks eh 30:49 perekonomian kontemporer hari ini, kita 30:51 pun melihat ini ada potensi besar. Nah, 30:53 karena itu perlu untuk kita dorong. Dan 30:56 model-model pengelolaan wakaf uang juga 30:57 sudah berkembang di berbagai negara. 31:00 Kita ini masih kalah loh dengan 31:01 Singapura. Singapura, negara muslim 31:03 minoritas, tetapi di sana zakat 31:06 penghasilan profesi wajib dibayarkan 31:09 oleh penduduk Singapura yang muslim. 31:11 Demikian pula wakaf uang wajib 31:13 dibayarkan tentu berdasarkan level eh 31:15 income. 31:17 Jadi, kalau income-nya 1.000 dolar, maka 31:19 eh kewajiban wakaf uang itu adalah 1 31:22 dolar. Nah, kemudian itu bertingkat 31:24 sampai yang maksimal eh sekitar 4 atau 5 31:27 dolar Singapura setiap bulan. 31:29 Dan dari situ mereka bisa kelola, bisa 31:31 menghasilkan berbagai project. Dan semua 31:34 itu diatur melalui Majelis Ulama Islam 31:36 Singapura yang hari ini mereka punya 31:38 aset sampai 2 miliar dolar Singapura, 31:40 sekitar 20 triliunan. Mungkin barangkali 31:42 adalah Majelis Ulama Islam paling kaya 31:44 di dunia. Karena apa? Karena dia bisa 31:46 mengelola dengan baik. Nah, jadi ini 31:48 yang menurut saya menjadi tantangan kita 31:51 untuk bagaimana kita meng-organize, ya, 31:54 eh potensi-potensi ini, ya, melalui eh 31:57 upaya pembenahan sistem, pembenahan 31:59 kelembagaan sehingga nanti eh wakaf ini 32:02 bisa eh memiliki dampak yang signifikan. 32:06 Dan terkait dengan hubungan negara 32:08 dengan masyarakat, 32:10 kalau saya melihat tidak dalam 32:12 perspektif konflik. Jadi, bukan bukan 32:14 berarti eh negara harus dipinggirkan, 32:17 masyarakat diutamakan, atau sebaliknya 32:19 negara yang terlalu powerful, 32:20 masyarakatnya yang dipinggirkan. Kalau 32:22 saya melihat ini harusnya dalam konteks 32:24 bagaimana antara negara dan masyarakat 32:27 ini memang eh ada hubungan komplementer 32:29 yang kuat. Jadi, saling melengkapi 32:31 begitu, sehingga keberadaan Badan Wakaf 32:33 Indonesia bukan untuk mengambil alih apa 32:36 yang sudah dilakukan oleh masyarakat, 32:37 tidak. Ya, justru kita ingin 32:40 mengoptimalkan potensi-potensi ini, ya, 32:43 karena kalau misalnya kita bergerak 32:45 masing-masing, ya, kalau masing-masing 32:47 kan tentu impact-nya tidak signifikan, 32:49 tapi kalau bergeraknya dalam satu 32:50 kesatuan eh gerakan, ya, maka tentu 32:54 dampaknya akan akan lebih signifikan. 32:56 Nah, dalam kerangka inilah maka 32:59 keberadaan negara melalui Badan Wakaf 33:01 Indonesia itu itu adalah tadi, ya, dalam 33:04 rangka bagaimana kita meningkatkan 33:06 optimalisasi tadi, ya, bahwa nazir-nazir 33:09 yang ada itu kita optimalkan juga, ya, 33:12 kita buat mereka menjadi lebih 33:14 profesional. Banyak nazir yang sudah 33:16 profesional, tapi lebih banyak lagi yang 33:18 tidak profesional. Nah, ini adalah PR 33:20 kita. Bayangkan, ya, untuk nazir 33:22 pengelola wakaf saja, dari data yang eh 33:25 ada, ya, kita ini eh nazir perorangan 33:29 ini enggak kehitung jumlahnya, mungkin 33:30 ribuan, mungkin puluhan ribu, ya. Kita 33:34 punya 264 nazir wakaf uang, ya, dan 23 33:38 lembaga keuangan syariah pengelola wakaf 33:40 uang. Jadi, 33:41 dan kita melihat, ya, ketika eh eh nazir 33:45 ini misalnya dalam konteks perorangan, 33:47 ya, yang jumlahnya ribuan, karena 33:49 sifatnya perorangan, maka pengelolaannya 33:52 itu profesionalitas, transparansi, dan 33:54 akuntabilitasnya itu juga menjadi eh 33:56 pertanyaan, ya, sehingga akhirnya muncul 33:59 banyak konflik-konflik, ya. Eh dan 34:01 terutama ini konflik dengan ahli waris 34:03 karena eh biasanya di generasi ketiga, 34:06 generasi keempat dari wakif, ya, 34:09 cucunya, cicitnya, itu melihat kok yang 34:12 nazir keturunannya jadi kaya, sementara 34:14 asetnya itulah aset yang diwakafkan. 34:16 Nah, di situlah kemudian kita sering 34:17 melihat terjadi konflik. Nah, kita 34:19 melihat bahwa 34:21 tentu hal ini, ya, tentu perlu untuk di 34:24 perbaiki. Dan secara global kita juga 34:26 telah memiliki Wakaf Core Principles 34:28 sebagai eh pedoman untuk bagaimana kita 34:31 memperbaiki eh pengelolaan eh wakaf. 34:34 Nah, jadi saya melihat bahwa dalam 34:36 perspektif ini, ya, maka kalau kami 34:39 berpendapat, ya, eh memang eh sudut 34:42 pandang yang harus kita lihat, ya, itu 34:44 adalah eh untuk eh menghadirkan 34:47 kemaslahatan yang lebih besar, ya, dan 34:49 dan melalui upaya kita mengoptimalkan 34:52 wakaf ini, mudah-mudahan itu juga 34:53 menjadi jalan nanti penguatan eh 34:55 masyarakat, ya, penguatan eh apa namanya 34:59 eh kondisi sosial yang ada. Nah, 35:01 sehingga kemudian wakaf tadi, ya, daya 35:05 eh ungkitnya untuk membangkitkan ekonomi 35:08 itu akan menjadi lebih besar. Nah, 35:09 sambil kita beresin PR-PR tadi, PR 35:12 kelembagaan, PR digitalisasi, misalnya, 35:14 ya, kan? Eh dengan era sekarang maka 35:17 digitalisasi itu menjadi kunci. Nah, 35:19 jadi banyak sekali eh PR-PR, termasuk eh 35:22 belajar dari dunia gerakan zakat, 35:25 gerakan wakaf pun juga sekarang kita 35:27 tengah mengembangkan berbagai instrumen 35:28 nantinya alat ukur yang nanti akan kita 35:31 jadikan sebagai eh rujukan untuk 35:34 kemudian melihat dan menilai eh kualitas 35:37 eh kinerja pengelolaan wakaf. Demikian 35:40 mungkin sebagai pengantar eh Bang Haldi, 35:42 makasih. 35:45 Jazakallah, jazakallah. 35:47 Amin, Ustaz. 35:48 Eh terima kasih, Ustaz Irfan. Eh satu 35:51 pertanyaan. 35:52 Ya. 35:53 Eh selain dari wakaf juga kita kan punya 35:56 juga eh badan zakat, ya, Baznas. 35:59 Ya. 35:59 Eh potensinya. Ini apa sih perbedaannya? 36:02 Ada Baznas, ada badan ada badan wakaf 36:05 gitu, ya? 36:05 Ya, ya. 36:06 Eh bagaimana 36:08 koordinasinya? Terus pertanyaan 36:10 berikutnya nih, Ustaz. 36:12 Ya. 36:12 Eh 36:13 kalau data zakat kita kan eh apa 36:16 Hm. 36:16 dari total sekitar 230 triliun yang baru 36:19 terkelola mungkin sekitar 8 triliunan, 36:21 ya? Dan itu sangat kecil. Eh saya kurang 36:24 tahu kalau data terkait wakaf. kira-kira 36:27 apa bottle neck masalah selama ini 36:30 sehingga potensi dana yang besar itu 36:31 belum mampu terkumpul dan terkelola 36:33 dengan baik. 36:35 Baik, ya terima kasih Bang Haldi. Jadi 36:38 yang pertama Indonesia ini memang 36:40 menganut rezim pengelolaan zakat dan 36:43 wakaf yang berbeda. 36:45 Zakat diatur oleh rezim Undang-Undang 36:47 Nomor 23 tahun 2011 36:50 sementara wakaf diatur oleh rezim 36:52 Undang-Undang Nomor 4 tahun 41 tahun 36:55 2004. 36:56 Nah, sehingga ini eh dua hal yang 36:58 berbeda 36:59 dan ini tentu berangkat dari konsepsi 37:02 dasar ya bahwa zakat dengan wakaf itu 37:04 kan eh berbeda. Jadi mungkin secara 37:06 singkat saya jelaskan ya perbedaan 37:08 ziswaf walaupun di sini sudah ada Ustaz 37:10 Tengku Zulkarnain ya, mohon maaf nih Pak 37:12 Kiai kalau saya salah ya. 37:14 Jadi pertama kita berangkat dari konsep 37:17 infak. 37:18 Infak itu adalah spending dalam bentuk 37:21 material. 37:22 Nah, infak itu bisa di jalan Allah, bisa 37:24 di eh bukan di jalan Allah ya, misalnya 37:27 di surat Al-Anfal ayat 36 di situ 37:30 dikatakan alladzina kafaru yunfiquna 37:33 amwalahum liyasuddu an sabilillah. Jadi 37:35 infak menggambarkan juga ada orang-orang 37:38 yang ingin menjauhkan dari jalan Allah, 37:39 mereka juga ber eh berkorban harta. Nah, 37:42 infak fi sabilillah itulah infak yang 37:44 kita maksud. Nah, infak fi sabilillah 37:47 dalam bentuk materi ini bagian dari 37:49 sedekah karena sedekah itu ada yang 37:51 material, ada yang non material. Non 37:54 material misalnya attabasumu sedekah, 37:57 tersenyum itu sedekah nah itu non 37:58 material. Nah, bagian wajibnya itu 38:01 adalah zakat. Jadi infak wajib atau 38:04 sedekah wajib itu adalah zakat. Makanya 38:07 di dalam Qur'an ya kata eh zakat juga 38:10 bisa ya di gan apa eh kata infak dan 38:13 sedekah yang menunduk menunjukkan 38:15 kewajiban itu diartikan sebagai zakat. 38:18 Nah, wakaf juga adalah sedekah jariyah, 38:21 infak jariyah ya, di mana dia memiliki 38:24 karakteristik yang 38:26 apa yang khusus dibandingkan dengan 38:27 sedekah biasa. Antara lain adalah 38:29 pokoknya tidak boleh berkurang. Nah, 38:32 jadi itu. Nah, kalau sedekah biasa kan 38:34 apapun bisa habis, ya. Sedekah makanan 38:36 habis makanannya, beres, gitu. Tapi 38:38 kalau wakaf dia harus dijaga dan 38:41 sifatnya sunah muakkadah. Nah, dalam 38:43 pengelolaan zakat wakaf ini kita 38:45 menganut dua institusi, dua 38:46 undang-undang yang berbeda. Nah, 38:48 kebetulan saya sendiri baru bergabung 38:50 beberapa hari ini dengan Badan Wakaf 38:52 karena baru pergantian. Sebelumnya saya 38:54 alumni Baznas, gitu ya. Jadi, eh memang 38:57 eh kita eh berusaha, ya, untuk 38:59 mengoptimalkan bahwa eh zakat yang 39:02 dikumpulkan diperkirakan 2020 mencapai 39:04 12 triliun, ya, dari potensi 233 kan 39:08 memang ada gap tuh, kesenjangan yang 39:10 sangat tinggi. Tetapi kalau kita lihat 39:12 dalam 5 tahun terakhir, 2015 sampai 39:15 2020, itu kenaikannya hampir 4 kali 39:18 lipat. Jadi, sebenarnya ada satu progres 39:21 dan salah satu eh rahasianya kenapa eh 39:24 terjadi progres yang luar biasa tadi? 39:26 Karena ada upaya penguatan literasi, 39:29 penguatan dari sistem kelembagaannya. 39:31 Misalnya, eh zakat sekarang secara 39:33 digital sudah sangat maju, ya. Mereka 39:35 sudah mengembangkan platform digital 39:37 sendiri, bahkan artificial intelligence 39:39 sudah ada di situ, ya, untuk menggarap 39:42 eh berbagai segmen di dalam masyarakat. 39:44 Nah, eh itu yang kemudian. Nah, sekarang 39:46 tinggal bagaimana wakaf. Nah, wakaf ini 39:48 juga eh perlu untuk kita eh terus 39:51 kembangkan dan kuncinya, kuncinya adalah 39:54 trust. Jadi, kalau saya perhatikan, ya, 39:57 coba mungkin eh bisa kita lihat, 39:59 lembaga-lembaga zakat dan 40:01 lembaga-lembaga wakaf yang besar, itu 40:03 adalah mereka yang bisa menjaga trust. 40:06 Karena kalau enggak bisa jaga trust itu 40:07 pasti lembaganya kecil dan mati. Jadi, 40:09 kalau ada lembaga besar, dia pasti bisa 40:11 menjaga trust. Artinya apa? 40:13 Akuntabilitas, transparansi itu menjadi 40:15 hal yang kunci. Nah, di sinilah 40:17 sebenarnya bagaimana kita memperkuat ini 40:20 ya supaya yang transparan, yang 40:22 accountable, yang accessible oleh 40:24 siapapun itu bukan sedikit gitu tapi 40:27 makin banyak. Nah, yang nakal-nakal ini 40:30 yang coba kita 40:31 ee dalam tanda petik singkirkan begitu 40:33 karena supaya semuanya punya semangat 40:36 gitu untuk kemudian menjaga trust ini 40:38 karena bagaimanapun zakat dan wakaf 40:40 enggak akan bisa lepas dari trust. Dan 40:42 apa yang terjadi di BAZNAS itu karena 40:44 trust-nya luar biasa. Nah, demikian pula 40:46 di wakaf kita akan dorong penguatan 40:48 trust ini begitu. 40:50 Baik, terima kasih Ustaz atas 40:52 penjelasannya. 40:54 Ee nanti kita lanjutkan dan sekarang 40:56 kita ke Ustaz Tengku Zulkarnain. 40:59 Assalamualaikum Ustaz Tengku. 41:05 Assalamualaikum Ustaz Tengku. 41:08 Salam warahmatullahi wabarakatuh. 41:10 Alhamdulillah jazakallah khair. 41:12 Kiai. 41:13 Bergabung dengan ini Islamic Research 41:15 Institute. 41:16 Ustaz tadi sudah ada pemaparan dari Pak 41:18 Mardani dan juga Pak Iwan menjelaskan 41:21 proses dan ee konsep dari wakaf ini 41:25 sebagai anggota dari Badan Wakaf 41:27 Indonesia. Nah, kita pengin juga 41:29 mendapatkan paparan pandangan dari Ustaz 41:32 Tengku Zulkarnain mewakili umat gitu ya. 41:35 Ee dan juga ulama bagaimana melihat 41:37 terkait dengan gerakan nasional wakaf 41:40 uang yang ee digulirkan oleh ee 41:42 pemerintah baru-baru ini. Kepada Ustaz 41:44 Tengku dipersilakan Ustaz. 41:46 Ya, terima kasih. Assalamualaikum 41:48 warahmatullahi wabarakatuh. 41:50 Alhamdulillah wassalatu wassalam ala 41:51 Rasulillah. 41:53 Ee Bapak-bapak sekalian dan para pemirsa 41:56 sekalian bahwa wakaf itu adalah salah 42:00 satu dari ajaran Islam. Jadi, syariat 42:02 Islam. 42:03 Ee 42:05 ada pewakif 42:07 orang yang mewakaf dan ada yang menerima 42:10 wakaf atau menjalankan wakaf itu, 42:12 amanah. Menjalankan amanah. 42:15 Nah, 42:16 dan wakaf itu perintah Allah juga sunah 42:19 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. 42:21 Selama ini memang secara tradisi, wakaf 42:24 itu selalu benda-benda yang tidak 42:26 bergerak. Karena sesuai dengan asal 42:28 katanya wakaf berhenti. 42:30 Jadi, bangunan, tanah, dan lain-lain. 42:34 Sampai kemudian di zaman modern ini, 42:37 orang mulai memikirkan bagaimana wakaf 42:40 itu yang produktif dan dibuatlah wakaf 42:43 uang. 42:44 Dan Majelis Ulama Indonesia menyetujui 42:45 adanya wakaf uang itu. 42:48 Wakaf uang 42:49 yang ada di Indonesia seperti yang akan 42:53 eh digerakkan di Indonesia yang sudah 42:54 dicanangkan oleh Presiden Republik 42:56 Indonesia adalah wakaf uang yang 42:57 mengambil manfaat dari uang yang 43:00 diwakafkan itu. 43:02 Imbalnya saja, imbal jasanya saja yang 43:04 dipakai. 43:05 Misalnya satu orang mewakafkan hartanya 43:08 100 juta 43:10 kepada LPS, ya, kemudian 43:13 eh selama 2 tahun, maka imbal jasa 43:16 daripada yang 100 juta itu, hasilnya 43:19 itulah yang akan dipakai atau 43:21 diwakafkan. Jadi, bukan yang 100 juta 43:23 yang diwakafkan semua, tapi imbalnya 43:25 saja. 43:26 Nah, di sinilah yang bisa menimbulkan 43:29 sesuatu yang 43:31 eh merugikan apabila imbal jasanya itu 43:34 tidak dapat seperti yang diharapkan. 43:37 Atau malah rugi. 43:38 Oleh karena itu, 43:41 pelaksana wakaf itu harus sangat 43:43 berhati-hati. Dari awal sudah saya 43:45 katakan, 43:46 untuk meletakkan harta yang diwakafkan 43:49 uang itu, diletakkan ke mana. 43:52 Kalau cuma 2 tahun kan waktunya pendek, 43:54 misalnya. Diletakkan di mana itu? Eh 43:58 kalau dibelikan sukuk, 44:00 sukuk tidak menjamin satu keuntungan. 44:04 Sebagaimana yang telah terjadi di 44:05 Indonesia, misalnya dana 44:07 abadi umat. Dulu zaman Pak Harto kan 44:10 setiap orang naik haji menyumbang 44:12 100.000. 44:14 Nah, dana itu disimpan 44:16 dan diambil bunganya saja. 44:18 Imbal jasanya saja. 44:20 Sampai lama itu, kemudian kita 44:23 pertanyakan ke mana duit itu. 44:25 Waktu itu sekitar 1,5 triliun. 44:28 Enggak jelas. Eh, kita pertanyakan di 44:30 koran kita tanya, menteri agamanya juga 44:34 menjawabnya enggak jelas waktu itu di 44:35 mana. 44:36 Kemudian ternyata uang itu dipakai 44:39 bunga-bunganya saja. 44:41 Nah, kemudian 44:42 belakangan 44:44 zaman 44:45 Menteri Agama Maftuh Basuni 44:47 uang dana abadi umat itu dibelikan ke 44:49 sukuk. 44:51 Ya, SBSN, surat 44:53 berharga 44:55 syariah nasional. 44:57 Kan tidak jelas sampai sekarang berapa 44:58 lama sudah. 45:00 Cuman saya mendengar terakhir katanya 45:01 uang itu sudah lebih 5 triliun. 45:03 Tetapi 45:05 bagi hasilnya untuk siapa? 45:07 Ah, uangnya bagaimana keadaannya 45:09 sekarang? Berapa lama mau dipakai oleh 45:11 pemerintah di sukuk? 45:13 Itu kan sampai sekarang penjelasannya 45:15 enggak ada 45:16 yang bisa memuaskan masyarakat tentang 45:19 eh, 45:20 eh, hasil daripada 45:22 eh, dibelikannya sukuk dana abadi umat 45:24 itu. 45:25 Sumbangan jamaah haji. 45:27 Nah, sekarang mau digerakkan wakaf 45:29 nasional uang. 45:31 Kalau misalnya terkumpul targetnya 188 45:34 triliun diletakkan di mana duit itu? 45:38 Kalau dibelikan ke sukuk kemudian 45:39 dipakai untuk infrastruktur 45:42 bikin jalan tol misalnya 45:45 berapa tahun baru break even point? 45:47 Belum lagi untungnya. 45:49 Kalau misalnya 30 tahun baru balik 45:53 kalau untung. Beberapa ruas jalan tol 45:55 kan rugi. 45:56 Bagaimana nanti nasib orang yang 45:58 mewakafkan uangnya ini? Ini Ini harus 46:00 dikaji dengan hati-hati. 46:02 Oleh karena itu 46:04 ee saya dari awal mengatakan saya enggak 46:07 mau ikut dalam gerakan wakaf nasional 46:09 ini. 46:10 Sebab 46:11 ada trauma juga. 46:13 Berapa banyak uang yang harusnya 46:15 dikelola dengan baik, bahkan untuk 46:17 orang-orang miskin seperti bansos 46:19 itu dikorupsi. 46:21 Nah, jadi kan 46:23 kepercayaan masyarakat juga berkurang. 46:26 Padahal wakaf ini 46:28 intinya adalah kepercayaan masyarakat 46:31 untuk menyerahkan hartanya sebagai 46:34 pewakif 46:35 untuk dikelola 46:37 sesuai dengan kemauan orang yang 46:38 mewakafkan itu. 46:40 Jadi 46:41 kalau dibelikan sukuk ini apakah pewakif 46:43 itu mau? 46:46 Apakah sudah ada ijab kabul di awal 46:49 bahwa hartanya ini akan dibelikan ke 46:51 sukuk misalnya. 46:53 Kalau enggak tidak ada ijab kabul 46:56 apa bisa orang yang mewakafkan itu 46:58 memberikan saja begitu tanpa ada 47:01 syarat-syarat atau keinginan dijadikan 47:03 ini, dijadikan ini misalnya. 47:05 Nah, ini kan perlu dikaji lebar kok. 47:08 Ujung-ujung terus diluncurkan 47:11 mau mengambil 47:13 target 188 triliun 47:16 berapa lama dia akan dipakai ee 47:19 sebagai 47:20 ee menanamkan modal di satu perusahaan 47:23 apa 47:25 dibagikan kepada masyarakat 47:28 yang mana saja. 47:30 Karena selama ini wakaf ini kan dikelola 47:32 oleh 47:33 lembaga Islam dan yayasan Islam dan 47:36 ormas Islam. 47:38 Ee misalnya Muhammadiyah itu banyak 47:39 sekali wakaf-wakaf umat yang semuanya 47:42 itu jelas atas nama organisasi 47:45 Muhammadiyah. 47:47 Semua. Tidak ada organisasi Muhammadiyah 47:50 itu yang 47:51 hartanya itu milik 47:54 pribadi enggak ada. Di sementara di 47:56 ormas yang lain 47:57 sekolah mereknya itu sekolah 48:00 eh organisasinya tapi miliknya milik 48:03 pribadi daripada pengelola sekolah itu 48:07 di Muhammadiyah enggak ada kalau sekolah 48:09 Muhammadiyah mesti milik perserikatan 48:12 kalau eh rumah sakit Muhammadiyah pasti 48:14 milik perserikatan 48:16 ada di beberapa organisasi yang 48:18 mereknya ormas dia tapi barang yang 48:21 diwakafkan oleh masyarakat itu 48:23 eh dikelola oleh satu keluarga 48:25 turun-temurun 48:27 satu lagi yang yang dalam kenyataan ini 48:29 tentang wakaf ini 48:31 duit dikumpul dari masyarakat bikin 48:33 sekolah 48:35 oleh seorang ulama yang karismatik 48:38 setelah jadi sekolah itu 48:41 kemudian ulama ini wafat diteruskan oleh 48:43 anaknya seolah-olah itu harta wakaf itu 48:45 milik keluarga 48:48 orang mau masuk sekolah situ aja eh 48:49 taman kanak-kanak bayar 30 juta uang 48:52 mukanya eh jadi 48:54 peranan orang yang dulu mau membangun eh 48:57 sekolah itu misalnya sebagai eh sarana 49:00 wakaf untuk meringankan beban 49:02 orang-orang miskin hilang pada generasi 49:04 kedua 49:06 jadi milik eh anak-anaknya padahal itu 49:09 uang wakaf umat 49:11 nah ini kan yang tidak jelas-jelas ini 49:12 kan inilah kesempatan untuk 49:14 mengkoreksinya kalau menurut saya 49:16 di 49:17 zaman ini 49:19 yang ketiga jangan sampai ada anggapan 49:22 pemerintah mengambil semua 49:24 wakaf ini 49:26 karena sampai ini enggak boleh nanti 49:27 kalau 188 triliun ditargetkan diambil 49:30 oleh gerakan nasional wakaf ini kemudian 49:33 dikelola oleh eh lembaga eh pengelola 49:37 wakaf ini 49:38 tapi dibelikan proyek-proyek pemerintah 49:41 eh dalam bentuk sukuk surat berharga 49:43 syari eh eh syariah nasional 49:46 yayasan-yayasan Islam akan kehilangan 49:48 momen untuk mendapatkan wakaf-wakaf ini 49:51 ya orang enggak mau lagi langsung ke 49:54 masjid atau langsung ke 49:56 madrasah, tapi diambil oleh eh, gerakan 49:59 nasional wakaf yang dikelola pemerintah. 50:01 Saya khawatir ada anggapan gerakan ini 50:04 memonopoli eh, wakaf sehingga organis- 50:09 asosiasi organisasi Islam 50:11 kehilangan 50:12 eh, kesempatan untuk mendapatkan wakaf 50:15 dari masyarakat. 50:16 Yang seperti inilah sebetulnya yang 50:18 harus dijelaskan lebih dulu kepada 50:20 masyarakat. 50:22 Saya pikir itu dulu yang saya ingin 50:23 sampaikan. Terima kasih, saya kembalikan 50:25 kepada Saudara moderator. 50:28 Eh, terima kasih, Ustaz. Jazakallahu 50:30 khair. 50:31 Halo, Ustaz. 50:33 Ustaz Tengku, eh, terkait dengan 50:38 kepercayaan masyarakat yang saat ini 50:41 eh, belum begitu besar kepada pemerintah 50:43 sehingga ketika diluncurkan pun banyak 50:46 pro kontra dan 50:47 eh, pendapat-pendapat eh, yang 50:50 menunjukkan ketidakpercayaan terhadap 50:53 pemerintah. Tapi di sisi lain kita perlu 50:55 mendorong agar 50:57 eh, masyarakat, rakyat, umat kita ini 51:01 gemar untuk berinfak, gemar untuk 51:03 bersedekah gitu ya. 51:05 Nih, jalan tengahnya kira-kira menurut 51:07 Ustaz bagaimana nih, Ustaz? 51:10 Ya, kita sebenarnya tidak menganggap 51:14 bangsa Indonesia ini tidak gemar 51:16 berwakaf. Harta wakaf yang tercatat saja 51:19 itu sekitar 2.000 triliun. 51:22 Ya, tanah kuburan, itu rata-rata tanah 51:24 wakaf. Masjid, rata-rata tanah wakaf. 51:27 Sekolah-sekolah Islam itu rata-rata 51:29 tanah wakaf. 51:30 Eh, kemudian panti asuhan, rata-rata 51:33 tanah wakaf. 51:35 Artinya di Indonesia ini selama 51:37 Indonesia, bahkan sebelum Indonesia 51:38 merdeka pun wakaf itu sudah jalan. 51:42 Eh, potensinya uh, ribuan triliun. Kalah 51:45 APBN kita kalau kalau duitkan itu. 51:48 Tapi 51:49 eee 51:51 tuduhan yang mengatakan kalau kegemaran 51:54 masyarakat Indonesia berwakaf belum 51:56 kuat, ini saya pikir tuduhan yang tidak 51:59 tepat. 52:00 Hanya saja 52:02 mungkin mau dikelola secara nasional, 52:04 supaya terasa lebih kuat seperti 52:06 zakatlah. Zakat itu kan dari dulu orang 52:08 bayar zakat. 52:09 Tapi sebelum ada badan zakat 52:13 eee Baznas itu wakafnya itu 52:16 terpisah-pisah 52:18 antara 52:19 organisasi Islam, eee masyarakat dengan 52:22 masyarakat, tidak di di catat dan 52:25 dikelola oleh negara. 52:26 Sampai kemudian dibentuknya Baznas, tapi 52:28 kan gereget Baznas enggak dirasakan oleh 52:30 masyarakat sebagaimana orang mewakafkan 52:33 harta atau membayarkan zakat kepada eee 52:37 panitia zakat di dekat rumahnya. 52:39 Mengalirnya kan terasa langsung. 52:41 Sekarang kalau kita tanya, berapa persen 52:43 orang Indonesia yang sudah merasakan 52:45 eee 52:46 buah daripada Baznas misalnya daripada 52:49 uang zakat yang sekian triliun setiap 52:51 tahun. Ke mana disalurkan untuk 52:54 kesejahteraan umat? 52:55 Tidak tercatat dengan baik atau tidak 52:58 tersosialisasikan dengan baik. 53:01 Maka sebagian besar kawan-kawan saya 53:03 sudah sudah enggak mau lagi 53:05 berzakat ke Baznas itu. Mereka bayar 53:07 zakat langsung saja kepada eee 53:09 orang-orang yang membutuhkan, yang 53:11 asnaf-asnaf yang membutuhkannya daripada 53:13 asnaf yang delapan itu. 53:15 Begitu juga wakaf, saya kalau ini tidak 53:17 ada geregetnya kepada masyarakat malah 53:20 nanti dipakai untuk hal-hal yang yang 53:22 tidak mengentaskan kemiskinan tapi malah 53:26 dipakai untuk eee hal-hal yang 53:28 mercusuar. 53:30 Ya, orang enggak percaya tetap, malah 53:32 orang enggak mau malah bisa antipati. 53:34 Oleh karena itu jangan sampai gerakan 53:36 wakaf ini 53:37 diluncurkan kemudian menggagalkan 53:41 apa namanya tujuannya sendiri, karena 53:43 apa? Karena masyarakat tidak yakin. 53:46 Coba berikan kepada masyarakat kira-kira 53:48 nanti imbal jasa nya untuk apa? 53:50 Kalau dibangunkan jalan misalnya untuk 53:52 apa jalan? 53:53 Jalan itu hak pemerintah membangunnya 53:56 tugas pemerintah. 53:57 Loh tapi kan untuk kesejahteraan 53:59 bersama. Kita orang Islam sudah bayar 54:01 pajak. 54:03 Masa uang wakaf mau dibikin lagi jalan? 54:05 Ah kan jalan cukup di uang pajak. 54:08 Kita orang Islam itu kena dua loh, sudah 54:09 bayar zakat bayar pajak. 54:11 Kalau bangun jalan misalnya sarana 54:13 jembatan, jalan layang, jalan tol, ya 54:16 pakai uang pajak. 54:18 Jangan orang Islam yang sudah kena 54:20 double ini 54:21 uang pajaknya dipakai untuk membangun 54:23 infrastruktur 54:25 tahu-tahu uang wakafnya untuk 54:26 infrastruktur lagi. 54:28 Ah kan bahaya seperti ini. Itu saja yang 54:30 saya ingin sampaikan semoga 54:32 mudah-mudahan kita bisa 54:34 mematahkan dulu itu, memberikan 54:35 keyakinan. Kalau masyarakat sudah yakin 54:37 bermanfaat untuk mengentaskan kemiskinan 54:41 eh 54:42 nanti akan berduyun-duyun orang. 54:44 Seperti di Saudi Arabia orang yakin. 54:47 Saudi Arabia itu uang zakat saja 100 54:49 triliun 54:50 satu tahun 54:52 dan itu bermanfaat kepada orang miskin 54:53 sana. 54:54 Singapura misalnya, Singapura itu bisa 54:56 mengumpulkan 54:57 6 triliun setahun 55:00 dan mengalir ke kami, ke Sumatera. 55:02 Ada banyak masjid-masjid di Riau, di 55:05 eh Medan itu yang dibiayai oleh 55:09 eh uang zakat daripada kaum muslimin 55:11 muslimat yang ada di Singapura. 55:13 Sementara uang BAZNAS ditunggu-tunggu 55:15 belum pernah hadir itu. 55:17 Masyarakat yang menyentuh langsung. 55:21 Jangan sampai nasib nanti wakaf ini 55:23 seperti itu, enggak netes, enggak jelas 55:25 gitu ke mana gitu. Masyarakat menunggu, 55:28 yang dapat siapa? 55:29 Sudah berapa yang dapat? 55:31 Kan enggak disosialisasikan. 55:34 Demikian saya kira. 55:35 Iya, terima kasih Ustaz Taufiqul Zul 55:37 nanti kita lanjutkan diskusinya. 55:40 Eh, dan eh rekan-rekan sekalian, 55:43 sahabat-sahabat leaders dan calon 55:45 leaders seluruh Indonesia. 55:48 Eh, sebelum kita masuk ke 55:51 Bung Rocky Gerung. 55:52 Eh, saya ingin mengucapkan kembali 55:54 terima kasih juga kepada rekan-rekan 55:56 media. 55:57 Untuk senantiasa terus membersamai dan 56:00 eh meliput dan mengikuti acara ini. 56:03 Mudah-mudahan sebagai sarana kita untuk 56:06 belajar eh dan mencerahkan dan juga 56:09 memberi masukan kepada pengambil 56:11 kebijakan di negeri ini. 56:13 Dan juga eh jangan lupa untuk terus 56:16 mengikuti di channel Bapak Mardani Ali 56:18 Sera, kemudian channel PKS TV YouTube 56:21 dan Facebook. Channel Rasio TV dan juga 56:25 yang terbaru insyaallah juga nanti akan 56:27 terus bersama kita channel 56:29 Bunda Neno Warisman di YouTube. 56:32 Dan juga melalui Radio Rasio. Eh, secara 56:35 langsung eh Rasio 720 AM. 56:39 Baik, eh sekarang kita masuk ke Bung 56:41 Rocky Gerung. 56:43 Bung Rocky. 56:44 Iya, iya, iya, saya ada. 56:45 Iya, bagaimana melihat eh kebijakan ini 56:48 dan tadi sudah ada paparan dari para 56:50 narasumber kita. 56:53 Oke, ya, eh 56:55 saya cari akal dulu nih supaya ada poin. 57:04 Semua sudah di 57:05 uraikan sebetulnya, tapi ada satu 57:07 problem itu. 57:09 Vaksin itu 57:12 diperlukan untuk memelihara kesehatan. 57:17 Tapi orang enggak percaya. 57:19 Bahkan presiden sudah kasih contoh 57:22 bagaimana dia singsingkan 57:24 dengan bajunya 57:27 dan jarum suntik itu menuju pembuluh 57:29 darahnya. 57:31 Orang tetap anggap itu bukan vaksin. 57:35 Orang tetap anggap itu sandiwara itu. 57:39 Jadi vaksin yang adalah diperlukan buat 57:41 kesehatan tidak dipercaya orang. Wakaf 57:44 yang diperlukan untuk ekonomi tidak 57:46 dipercaya orang itu. 57:48 Jadi problemnya di situ itu bahwa 57:49 institusi wakaf itu legal, 57:53 bahwa wakaf itu adalah bagian dari 57:57 CSR 57:59 antar umat untuk memelihara keakraban 58:02 dan solidaritas, 58:04 itu enggak ada yang ragukan. 58:06 Yang orang ragukan adalah 58:08 proposal pemerintah. 58:10 Jadi kita mesti lihat dulu 58:13 problem psiko 58:15 psiko sebut saja psikologi publik yang 58:18 mendasari kontroversi terhadap zakat 58:20 itu, terhadap wakaf itu. 58:23 Lalu pemerintah mulai cari-cari cara. 58:25 Bandingkan dengan Singapura. Singapura 58:27 bisa mengefektifkan solidaritas melalui 58:30 wakaf. Iya, 58:32 benar berhasil di Singapura. 58:34 Didukung oleh rakyat. Kenapa? 58:36 Karena Menteri Sosial Singapura tidak 58:38 berasal dari PDIP. 58:42 Jadi soal-soal semacam itu yang disebut 58:45 biasa disebut 58:47 anthropological notes, 58:49 nota antropologi terhadap proposal 58:51 publik pemerintah. Itu yang mesti 58:52 diperhatikan. 58:54 Jadi sekali lagi ini bukan soal anti 58:57 terhadap kebijakan pemerintah, tapi 59:00 secara secara deskriptif 59:03 orang bertanya bahwa rezeki yang saya 59:05 peroleh 59:06 yang disediakan oleh alam semesta, 59:10 yang di 59:11 berikan sebagai jaminan oleh Tuhan bahwa 59:14 manusia harus hidup karena itu secara 59:16 natural 59:18 setiap orang 59:20 pasti tidak mungkin miskin 59:22 karena ada yang sudah dibagikan 59:25 secara persis pada setiap orang walaupun 59:27 di dalam 59:28 eh aturan kadang kala ada yang dapat 59:30 lebih, ada yang dapat kurang, itu adalah 59:32 soal kemampuan kita untuk 59:34 saling membagi. Justru karena berbeda, 59:36 maka diperlukan pembagian. Bagian itu 59:39 yang kita sebut sebagai dimensi keadilan 59:41 dari institusi ekonomi yang disebut 59:43 wakaf itu. 59:44 Itu sudah selesai sebetulnya tuh. 59:47 Jadi sekarang jadi soal kenapa yang 59:48 sudah selesai itu harus dialihkan pada 59:51 negara tuh? 59:53 Tentu karena negara mencium 2.000 59:56 triliun itu menggiurkan. Itu saja 59:58 intinya kan? 1:00:00 Jadi sekali lagi 1:00:02 soal-soal yang sifatnya pragmatis itu 1:00:04 yang tidak 1:00:06 tidak dibongkar latar belakangnya Pak. 1:00:08 Lain kalau pemerintah misalnya bilang, 1:00:10 "Kami memang salah urus negara, karena 1:00:13 itu kami minta umat Islam ikut 1:00:15 mengurus." 1:00:17 Jadi pengakuan itu yang diperlukan 1:00:18 sebetulnya. 1:00:20 Efek kesi dari wakaf itu terletak pada 1:00:22 legitimasi pemerintah di depan umat 1:00:25 Islam itu. 1:00:27 Karena orang anggap bahwa bukannya 1:00:29 pemerintah dijamin oleh konglomerat, 1:00:32 oleh oligarki. 1:00:33 Bukankah mereka yang mestinya 1:00:36 cost-nya itu mesti dibebankan pada 1:00:39 eh 1:00:40 pendukung-pendukung rezim itu tuh. 1:00:43 Kan itu orang mau hitung apa namanya 1:00:45 economies of scale dari wakaf kita tuh. 1:00:48 Bahwa cost-nya dari satu produk 1:00:50 seharusnya tidak dibebankan pada 1:00:53 konsumen itu. 1:00:56 Kalau perusahaan itu punya skala ekonomi 1:00:59 yang besar, sehingga cost-nya jadi 1:01:01 kecil. Ini karena cost 1:01:04 perusahaan klaim besar itu kita punya 1:01:06 aset 1.000 triliun, 1:01:08 11.000 triliun kata Presiden. Lalu 1:01:10 kenapa cost-nya itu masih harus 1:01:12 dibebankan pada 1:01:14 konsumen? Bukankah Anda bisa bebankan 1:01:17 itu pada skala Anda yang besar itu tuh? 1:01:19 Jadi logis itu yang orang anggap 1:01:23 ada sebetulnya eh 1:01:26 semacam penyelundupan kepentingan yang 1:01:29 tidak tulus. Kayak gitu saya menganggap 1:01:31 bahwa wakaf itu legal, bagus 1:01:34 demi keadilan 1:01:36 tetapi proposalnya yang tidak tulus itu 1:01:39 itu soalnya tuh. 1:01:40 Nah, kita 1:01:41 bisa perlebar itu dengan melihat 1:01:43 kejadian-kejadian politik politik 1:01:45 belakangan ini. Dalam 2 tahun ini umat 1:01:47 Islam menganggap bahwa kita tidak 1:01:50 diperlukan sebetulnya. Sekarang 1:01:52 tiba-tiba diperlukan. 1:01:53 Jadi, oportunisme itu yang 1:01:57 sedang menggagalkan proposal dari Pak 1:01:59 Presiden. 1:02:00 Kan itu dibuktikan dengan hari pertama 1:02:03 Sandi berkampanye semua sudah nyinyir 1:02:05 tuh. Mestinya orang senang gitu kan. 1:02:07 Wah, jadi eh pemerintah mengerti bahwa 1:02:10 ekonomi Pancasila itu sebetulnya 1:02:12 basisnya adalah model ekonomi Islam 1:02:15 misalnya. 1:02:16 Bahwa keadilan sosial bisa 1:02:18 diselenggarakan dengan ayat-ayat eh 1:02:20 hukum syariat. 1:02:21 Bahwa 1:02:23 keakraban berwarga negara bisa diasuh 1:02:26 lewat wakaf. 1:02:27 Kan orang inginkan itu diakui 1:02:28 pemerintah. 1:02:30 Tapi yang dilakukan pemerintah adalah 1:02:31 bagian itu tidak diakui, tapi begitu 1:02:34 tergiur dengan 2.000 triliun tiba-tiba 1:02:37 ada proposal yang sa yang yang sangat 1:02:39 laksris itu. 1:02:41 Jadi, saya hanya mau lihat itu 1:02:42 sebetulnya. 1:02:44 Dan demi itu kita ingin supaya kejujuran 1:02:47 itu didahulukan sebelum proposal ekonomi 1:02:49 itu diajukan pada masyarakat. 1:02:51 Saya tahu bahwa kita bayar pajak, bahkan 1:02:53 pajak pun kita malas bayarnya tuh karena 1:02:56 kita tahu pajaknya itu jatuhnya tidak 1:02:58 pada publik tapi jatuh pada 1% orang 1:03:02 yang justru 1:03:03 mengemplang pajak, kan itu kan. 1:03:06 Kan dalam peradaban 1:03:07 pajak itu adalah cara biadab untuk 1:03:10 mempertahankan peradaban. Itu namanya 1:03:12 pajak itu. 1:03:13 Tapi cara biadab itu pun kita terima 1:03:15 karena kita tahu itu akan dipergunakan 1:03:18 untuk keadilan sosial. Mana ada orang 1:03:20 yang mau mau hartanya dipajakin, bahkan 1:03:22 dengan dengan undang-undang ditentukan 1:03:24 sendiri tanpa ada konsultasi dengan 1:03:26 pemilik uangnya tuh. Itu cara biadab 1:03:28 dalam peradaban. 1:03:30 Tetapi masyarakat mengerti bahwa cara 1:03:32 itu adalah untuk mempertahankan 1:03:35 peradaban yang berkeadilan. 1:03:37 Nah, wakaf juga dimengerti dengan cara 1:03:39 semacam itu. Kalau ada ketulusan 1:03:42 proposalnya itu pasti seluruh umat Islam 1:03:45 akan 1:03:46 mengucapkan terima kasih pada negara 1:03:49 karena sudah memperhatikan institusi di 1:03:52 dalam 1:03:53 ajaran Islam yang disebut wakaf. 1:03:55 Tapi karena yang terjadi adalah 1:03:56 terbalik, 1:03:57 survei hari ini kalau di dibikin survei 1:04:00 cepat-cepat itu, 1:04:01 mungkin 2% yang menganggap oke, itu 1:04:04 bolehlah yang 98% bilang, "Ngapain gua 1:04:07 gua taruh modal rezeki gua yang 1:04:09 diberikan oleh Tuhan dan disediakan oleh 1:04:12 alam hanya untuk sesuatu yang masih 1:04:14 tanda tanya di ujungnya tuh." Apakah 1:04:17 pemerintah ini akan menganggap bahwa 1:04:19 keakraban berwarga negara itu tidak 1:04:21 berhubungan dengan wakaf yang di 1:04:24 yang di 1:04:25 pinjamkan untuk menghasilkan 1:04:29 apa namanya kegunaan itu. Jadi, 1:04:30 utility-nya itu yang orang hitung 1:04:32 sebetulnya. 1:04:33 Jadi, sekali lagi 1:04:35 dengan segala hormat saya 1:04:36 menganggap bahwa pemerintah harus 1:04:38 periksa dulu. 1:04:40 Tulus enggak dia waktu mengajukan 1:04:42 proposal tentang wakaf. Terima kasih. 1:04:47 Terima kasih Bu Roki, ini luar biasa. 1:04:50 Saya tertarik untuk mendalami terkait 1:04:53 dengan sebelum menggulirkan gerakan 1:04:56 nasional wakaf ini, pemerintah harus 1:04:59 mengedepankan 1:05:00 kejujuran dan ketulusan dulu ya dan 1:05:03 buktilah gitu 1:05:04 bahwa 1:05:06 pemerintah memang jujur 1:05:08 profesional 1:05:10 dalam mengelola 1:05:12 ee dana wakaf ini Prof. Nah, tapi 1:05:15 faktanya kan ee dalam beberapa tahun ini 1:05:18 banyak peristiwa-peristiwa 1:05:20 korupsi dan lain-lain 1:05:22 itu tidak terjadi. Nah, ee dalam konteks 1:05:26 bernegara kan ini tidak di bisa 1:05:28 dibiarkan terus, Prof. Antara ada 1:05:30 kebijakan yang secara resmi negara sudah 1:05:33 gulirkan, 1:05:34 sementara rakyat ee tingkat 1:05:36 kepercayaannya rendah terus. Ini gimana 1:05:39 supaya kita keluar dari lingkaran setan 1:05:42 ini, Prof? 1:05:45 Enggak ada enggak 1:05:46 lingkarannya enggak ada, yang adanya 1:05:48 setan itu. Kan setan itu tidak hidup di 1:05:51 dalam lingkaran. Setan itu tidak punya 1:05:53 alamat tetap. Dia bisa pindah-pindah 1:05:55 sesuai dengan ee pragmatismenya itu. 1:05:58 Kalau setan ada di dalam lingkaran, 1:06:00 gampang kita beku itu kan. Lingkarannya 1:06:01 perkecil, perkecil, perkecil, lama-lama 1:06:03 dia tinggal satu titik nih. 1:06:04 Tapi beliau, si setan ini, dia 1:06:09 mondar-mandir dari gorong-gorong yang 1:06:11 sana, pindah ke gorong-gorong dari 1:06:12 macam-macam itu kan. 1:06:14 Dan itu yang sebetulnya menjengkelkan 1:06:16 sebetulnya, karena tidak ada pengakuan 1:06:18 yang jujur bahwa 1:06:20 istana sebetulnya 1:06:23 ya orang anggap sarang setan. 1:06:26 Karena enggak pernah bisa istana itu 1:06:27 secara jujur mengatakan bahwa kami 1:06:29 bersalah, kami salah kebijakan, 1:06:32 kami salah ee bernegosiasi dengan 1:06:36 Moslem politics. 1:06:38 Jadi seolah-olah 1:06:40 ini business as usual, ada wakaf. Memang 1:06:43 wakaf itu sekali lagi adalah institusi 1:06:45 yang penting, tetapi proposal itu datang 1:06:48 dari orang yang sudah tidak penting 1:06:50 lagi. Jadi 1:06:51 soal-soal semacam itu tuh. Nah, kita 1:06:54 mau lihat sebetulnya ada enggak 1:06:55 perubahan mental dari kekuasaan. 1:06:58 Jangan-jangan nanti 1:06:59 besok pagi Presiden Jokowi 1:07:00 memperkenalkan lagi seorang selebriti 1:07:02 sebagai duta wakaf gitu. 1:07:04 Kan 1:07:05 kelakuan pemerintah kan begitu kan? 1:07:07 Public figure disodorkan, padahal orang 1:07:10 nunggu Anda yang mesti menyodorkan diri 1:07:13 supaya orang tahu bahwa Anda presiden 1:07:15 berubah cara 1:07:17 melihat persoalan, cara berhubungan 1:07:19 dengan umat Islam. Jadi sebetulnya kita 1:07:21 ingin agar supaya sebelum proposal wakaf 1:07:24 itu 1:07:25 diajukan, sebaiknya 1:07:27 presiden dirukyah dulu tuh. Supaya 1:07:30 terlihat integritasnya itu. Jadi saya 1:07:32 hanya membaca pikiran publik ya. Saya 1:07:34 sampaikan ini karena kadangkala 1:07:36 formulasi pers itu terlalu hati-hati, 1:07:39 tidak ada kejujuran untuk mengucapkan 1:07:40 kritik. Ini saya mengambil resiko untuk 1:07:43 menerangkan ini agar supaya perdebatan 1:07:46 itu tidak lagi disembunyikan. Dalam soal 1:07:48 ya negara membutuhkan, negara iya itu 1:07:50 itu itu mah catatan kaki aja tuh tapi 1:07:53 headline-nya adalah bahwa proposal itu 1:07:56 diajukan oleh orang, oleh kekuasaan yang 1:07:58 tidak tulus. Terima kasih. 1:08:01 Terima kasih Prof. Eh 1:08:03 sekarang kita ke Pak Mardani. Pak 1:08:05 Mardani dari eh 1:08:08 Ustaz Irfan, Ustaz Tengku, eh 1:08:10 Pak Bung Rocky Gerung 1:08:12 ada kesamaan tadi eh intinya adalah soal 1:08:16 kepercayaan masyarakat nih ya. Ketiga 1:08:19 hal ketiga pembicara ini 1:08:22 menyatakan itu yang sedang ada masalah 1:08:24 sekarang ya. Banyak sekali eh 1:08:27 program-program pemerintah yang 1:08:29 digulirkan eh juga kita kemarin juga 1:08:31 baru dengar berita terkait mau 1:08:33 sertifikasi digital tanah gitu ya, surat 1:08:35 tanah. Ada juga masalahnya rakyat tidak 1:08:38 percaya juga gitu. Jadi kalau ini 1:08:41 dibiarkan terus eh 1:08:44 eh program apa bangunan bangsa dan 1:08:47 negara kita ini 1:08:48 eh saya khawatir suatu saat bisa rapuh 1:08:51 gitu. Nah sebagai negarawan di DPR 1:08:55 lembaga negara bagaimana Pak Mardani 1:08:57 melihat ini dan terobosan apa yang perlu 1:08:59 di 1:09:00 segera dilakukan penyelenggara 1:09:01 pemerintah negara. 1:09:07 Di unmute dulu, Pak. 1:09:09 Mohon maaf. 1:09:11 Ah, makasih Bang Aldi. 1:09:13 Tentu saya selalu mengingatkan ada 1:09:15 tesis, antitesis, sintesis, ya. 1:09:19 DPR eh mesti terus bersuara, ya. 1:09:23 Kayak sekarang nih, tiba-tiba saja 1:09:25 pemerintah, 1:09:27 Kementerian Dalam Negeri, partai koalisi 1:09:30 mengunci, tidak ada Pilkada 2022 dan 1:09:34 2023, ya. Semuanya ditaruh di 2024. 1:09:37 Padahal awalnya pembahasan itu agak 1:09:40 mulus gitu. 1:09:41 Cuma PDIP dari awal yang memang minta 1:09:43 2024. 1:09:45 Eh 1:09:47 tentu 1:09:50 problem trust ini itu akan sangat 1:09:54 tergantung kepada leader, ya. 1:09:56 Saya selalu mengutip everything rise and 1:09:59 fall on leadership, ya. 1:10:01 Nah, karena itu eh 1:10:04 agak aneh kan, tidak perlu ada Pilkada 1:10:06 2022 2023 ketika pandemi, padahal 1:10:09 sekarang sudah ada mulai vaksinasi. 1:10:12 Kemarin 2020 eh pemerintah sangat 1:10:15 semangat gitu loh. Pilkada itu bahkan 1:10:17 satu menteri mengatakan bisa 1:10:19 menggerakkan roda perekonomian gitu. 1:10:21 Pilkada 2020 perlu lah. 1:10:23 Ketika 2022 2023 alasannya berbeda lagi 1:10:27 gitu. Padahal ancaman PLT pelaksana 1:10:30 tugas yang ratusan dalam durasi yang 1:10:33 sangat panjang ini 1:10:35 amat sangat berbahaya, bahkan bisa dobel 1:10:37 PLT. Gubernurnya PLT, nanti bupati 1:10:40 walikota PLT itu ditunjuk oleh gubernur. 1:10:43 Tentu ada persyaratannya, tetapi PLT 1:10:45 yang menunjuk PLT. Nah, 1:10:47 eh logika-logika ini sama kemarin 1:10:50 tiba-tiba eh satu pengelola Pasar 1:10:53 Muamalah di Depok ditangkap. Saya komen 1:10:58 mestinya ada literasi edukasi dulu gitu 1:11:01 loh. 1:11:02 Dilihat dulu gitu. 1:11:03 Saya komen barangkali jauh lebih baik 1:11:07 ketika kalau tadi Bung Rocky bilang yang 1:11:10 menjadi duta wakaf itu Habib Rizieq 1:11:14 Shihab gitu loh karena eh 1:11:16 positioning-nya yang kuat dicintai gitu 1:11:18 loh. Sama Muhammadiyah boleh, NU boleh, 1:11:21 orang-orang terbaik yang menjadi 1:11:22 endorser-nya gitu. 1:11:24 Orang-orang yang memiliki pengikut yang 1:11:26 mencintainya gitu loh karena ini bab 1:11:29 tentang hati, ini bab tentang trust ya. 1:11:32 Apalagi kita melihat eh bansos 1:11:35 se sedang eh di 1:11:39 eh awasi, kasus Madam lain-lain belum 1:11:43 dituntaskan 1:11:45 saat yang sama indeks persepsi korupsi 1:11:47 kita turun. Nah, jadi eh 1:11:50 eh antara message dan messenger-nya 1:11:54 mesti klik klop. Nah, karena itu 1:11:56 Indonesia Leader Talk selalu ingin hadir 1:11:59 mengingatkan pemerintah karena 1:12:02 eh premisnya jelas power tend to corrupt 1:12:04 ya. Eh kekuasaan itu cenderung 1:12:06 menyimpang ya. Absolute power corrupt 1:12:09 absolutely ya. Eh karena itu Indonesia 1:12:11 Leader Talk lugas, berani, tegas kita 1:12:14 apresiasi ada yang baik ya tetapi yang 1:12:17 baik ini kurang dan karena itu kita 1:12:19 harus tingkatkan dengan pengawasan 1:12:21 melekat dari masyarakat. Akal sehat, 1:12:24 keberanian untuk bicara kelurusan niat 1:12:28 itu menjadi dasar negeri ini akan selalu 1:12:31 memiliki pemimpin yang ada dalam 1:12:33 rel-nya, tidak kembali tirani atau 1:12:35 dikuasai oligarki. Begitu Bang Ali. 1:12:38 Baik, eh terima kasih Pak Mardani. Eh 1:12:41 sekarang kita ke Ustaz Irfan. Ustaz 1:12:43 Irfan sebagai anggota Badan Wakaf ya 1:12:45 Indonesia 1:12:47 bagaimana ini eh menjawab keraguan 1:12:49 masyarakat eh tugas berat dari Badan 1:12:52 Wakaf dan terobosan-terobosan apa 1:12:54 kira-kira nanti yang akan dilakukan 1:12:57 oleh Badan Wakaf, eh, untuk merangkul 1:13:00 semua elemen komponen masyarakat, umat, 1:13:03 agar bisa maksimal dalam gerakan 1:13:06 nasional wakaf ini. 1:13:08 Ya, jadi memang 1:13:11 trust itu adalah sesuatu yang harus kita 1:13:13 perjuangkan. 1:13:15 Dan BWI juga menyadari bahwa, 1:13:18 eh, trust ini bukan sesuatu yang given. 1:13:20 Dia harus dibuktikan dengan kerja nyata, 1:13:23 dengan hal-hal yang sifatnya konkret. 1:13:25 Jadi, 1:13:27 kalau dalam konteks ini, maka yang bisa, 1:13:29 eh, saya katakan adalah kita akan 1:13:31 berusaha 1:13:33 semaksimal mungkin untuk mengembangkan 1:13:35 sistem wakaf yang transparan, akuntabel, 1:13:39 accessible, 1:13:41 ya, dan kemudian, eh, memiliki impact. 1:13:43 Nah, ini yang sekarang, eh, akan kita 1:13:45 dorong, ya, akan kita dorong ke depan. 1:13:47 Karena, 1:13:48 eh, apa? Kalau saya lebih memilih 1:13:51 bagaimana kita menampilkan hal-hal yang 1:13:53 memang membuat publik yakin. 1:13:55 Sama seperti, eh, tadi, ya, eh, Baznas 1:13:57 misalnya, ya. Eh, Baznas memang, eh, 1:14:00 kapasitasnya hari ini, 1:14:02 misalnya Baznas pusat, itu bisa, baru 1:14:05 bisa menjangkau 1,5 juta masyarakat 1:14:07 dhuafa seluruh Indonesia. Dan 1:14:10 informasinya bisa dilihat dengan mudah, 1:14:12 programnya bisa di, eh, telusuri, ada di 1:14:15 mana, 1:14:16 ya, mulai dari program pendidikan, 1:14:18 kesehatan, ekonomi, dan sebagainya. 1:14:20 Tetapi dengan, eh, mereka bisa membangun 1:14:23 kualitas manajemen yang baik, ya, 1:14:25 sertifikasi ISO, kemudian ISO-nya bukan 1:14:28 hanya yang kait, kaitan dengan 1:14:29 manajemen, tapi juga data security, ISO 1:14:32 27001, maupun juga anti korupsi, eh, ISO 1:14:37 37001, ternyata trennya progresnya 1:14:40 meningkat luar biasa. Walaupun sering 1:14:42 juga ditimpa, eh, isu zakat untuk 1:14:44 infrastruktur dan sebagainya, tetapi kan 1:14:46 fakta yang kemudian berbicara, program 1:14:49 yang kemudian berbicara. Nah, demikian 1:14:51 pula kalau kita melihat pengolahan wakaf 1:14:53 hari ini, ya, misalnya BWI dalam 3 tahun 1:14:56 terakhir sejak periode Pak Nuh ini kita 1:14:59 melihat juga ada satu progres 1:15:01 sebenarnya, progres peningkatan eh 1:15:04 trust, ya, kemudian eh wakaf sekarang 1:15:06 masuk ke ruang-ruang publik, pembicaraan 1:15:09 tentang wakaf, pembicaraan tentang 1:15:11 semangat berbagi ini, ya, karena memang 1:15:13 kesadaran religiusitas masyarakat kan 1:15:15 semakin muncul dan semangat berbagi 1:15:17 semakin eh terdorong ke arah menjadi 1:15:20 lifestyle. Nah, ini yang momentum ini 1:15:22 yang menurut saya harus kita manfaatkan 1:15:24 dengan baik, ya, dengan kerja-kerja yang 1:15:27 memang eh tadi akuntabel dan definisi 1:15:31 akuntabel itu, itu eh apa, menurut saya 1:15:35 itu bisa dilihat dari berbagai hal. 1:15:37 Mulai dari sisi financial 1:15:38 accountability, ya, aku akuntabilitas 1:15:41 dan kita sudah punya PSAK wakaf, ya, eh 1:15:44 kita harus comply dengan itu, kemudian 1:15:46 juga dari sisi eh pengelolaannya harus 1:15:50 akuntabel, dari sisi programnya harus 1:15:52 juga akuntabel. Nah, inilah yang menjadi 1:15:54 challenge sebenarnya, tantangan ke 1:15:56 depan, ya, termasuk BWI. Nah, termasuk 1:15:59 juga bagaimana kemudian kita 1:16:01 mengembangkan program-program, 1:16:04 ya, eh yang kemudian eh keberadaan dan 1:16:08 potensi wakaf uang ini kalau bisa kita 1:16:10 optimalkan, nah, ini akan memberikan eh 1:16:13 impact gitu yang positif. Nah, jadi itu 1:16:16 sebenarnya yang sekarang sedang kita 1:16:17 lakukan, walaupun saya pribadi menyadari 1:16:20 memang 1:16:22 berada di tengah situasi seperti 1:16:23 sekarang ini juga tidak mudah, ya, kita 1:16:25 mengelola eh situasi dan kondisi. Tetapi 1:16:28 saya punya keyakinan yang terpenting kan 1:16:30 perintah Qurannya kita beramal dengan 1:16:33 seoptimal mungkin begitu, ya, dengan 1:16:36 usaha yang maksimal dan kita jamin bahwa 1:16:40 lembaga seperti BWI, Baznas, BPKH itu 1:16:43 adalah lembaga-lembaga yang kredibel. 1:16:45 Lembaga-lembaga yang akuntabel dan bisa 1:16:47 eh diakses publik dan bisa dibuktikan. 1:16:50 Itu saja. Karena dari situ kemudian kita 1:16:53 akan mendapatkan trust gitu. Nah, bahwa 1:16:56 eh ada hal-hal di luar eh daya jangkau 1:17:00 kami di BWI misalnya, hal-hal politik 1:17:02 yang yang uncontrollable itu ya itu 1:17:05 adalah bagian dari dinamika. Tapi 1:17:08 positioning kami adalah 1:17:10 eh BWI itu mendapat mandat dari 1:17:12 undang-undang untuk bagaimana mendorong 1:17:15 penguatan ya wakaf ini, memastikan 1:17:19 proses-proses eh terjadi dengan baik. 1:17:22 Memastikan bahwa problem-problem yang 1:17:25 dihadapi di lapangan itu bisa kita 1:17:27 atasi. Ya, misalnya eh bagaimana 1:17:30 mengurus akta ikrar wakaf, mempersempit 1:17:33 eh durasi waktu penyelesaiannya. Misal 1:17:35 hal seperti itu yang coba kita lakukan 1:17:37 dan kita perbaiki. Ya, dengan periode 1:17:39 yang singkat 3 tahun, paling tidak 3 1:17:41 tahun ke depan ini kita mencoba mencari 1:17:44 terobosan-terobosan. Nah, dalam konteks 1:17:45 inilah dukungan, masukan, kritikan, 1:17:49 pengawasan termasuk dari eh Mardani ya, 1:17:53 eh dari teman-teman DPR saya kira 1:17:54 menjadi sesuatu yang eh sangat penting 1:17:57 gitu. Karena bagaimanapun juga meskipun 1:17:59 BWI ini adalah lembaga yang dibentuk 1:18:02 berdasarkan undang-undang, tapi pada 1:18:03 dasarnya ini adalah wajah umat gitu. Ini 1:18:05 adalah wajah kita gitu. Nah, ini yang 1:18:07 coba kita jaga. Dan saya menyadari betul 1:18:10 mahalnya harga trust. 1:18:12 Nah, mahalnya harga trust dan trust itu 1:18:14 sekali lagi bukan sesuatu yang given. 1:18:15 Nah, di sinilah bagaimana kita merancang 1:18:18 dan mendesain program-program ya 1:18:21 pengembangan yang bisa kemudian eh 1:18:23 melibatkan partisipasi publik ya 1:18:26 memperkuat elemen-elemen gerakan wakaf 1:18:28 yang sudah tumbuh ya yang sekarang sudah 1:18:31 berkembang bahkan dari sejak sebelum 1:18:33 Indonesia merdeka, untuk kemudian dan 1:18:35 bisa meng-accelerate supaya potensi 1:18:37 wakaf semakin high impact. 1:18:39 Ya, semakin memiliki dampak yang besar. 1:18:41 Ya, jadi dengan kata lain ya, di eh kita 1:18:44 bisa berkontribusi positif. Ini memang 1:18:47 terus terang ya, saya sendiri tidak bisa 1:18:48 menjawab dengan eh kata-kata kecuali 1:18:51 kita akan dorong melalui action real 1:18:55 gitu ya, di mana aspek tadi 1:18:56 akuntabilitas, transparansi itu kita 1:18:59 jaga betul. Dan kita mengembangkan juga 1:19:02 ya, eh apa namanya dari sisi 1:19:04 keilmuannya, indeks-indeks alat-alat 1:19:05 ukur ini juga insyaallah akan kita 1:19:07 kembangkan. Sama seperti di zakat, kita 1:19:09 punya indeks zakat nasional. Orang bisa 1:19:11 ngelihat itu berapa nilai indeksnya 1:19:13 untuk mengetahui kualitas pengelolaan. 1:19:16 Dan itu pertama di dunia, dari literatur 1:19:18 sekarang kita jadi referensi global. Ya, 1:19:21 nah sekarang di wakaf kita akan lakukan 1:19:23 hal yang sama ya, karena kita menyadari 1:19:25 ketika segala sesuatu itu kita kelola 1:19:28 dengan profesional termasuk ya, bahwa 1:19:31 kebijakan itu basisnya adalah research 1:19:34 sesuatu yang memang secara saintifik 1:19:36 juga bisa kita buktikan maka ini akan 1:19:38 memberikan perubahan-perubahan dan 1:19:41 perbaikan-perbaikan secara signifikan. 1:19:44 Nah, jadi ini yang coba eh kita lakukan 1:19:46 eh dan insyaallah di bawah kepemimpinan 1:19:48 Pak Profesor Muhammad Nuh ya 1:19:51 eh untuk 3 tahun ke depan ini kita coba 1:19:53 ya, menghadirkan perubahan-perubahan 1:19:55 itu. Nah, di sinilah menurut saya 1:19:57 eh dukungan itu menjadi sangat penting 1:20:00 ya, jadi semua elemen 1:20:02 kita itu enggak bisa juga menolak 1:20:03 endorsement dari siapa pun begitu. Jadi 1:20:06 kita sangat terbuka siapa pun kita ajak 1:20:09 istilahnya kalau gerakan wakaf ini 1:20:11 adalah bis ya, mari kita isi bis 1:20:14 sebanyak-banyaknya gitu dengan 1:20:15 penumpang. Mungkin penumpangnya ada yang 1:20:17 saleh, mungkin penumpangnya ada yang 1:20:20 selengean, mungkin penumpangnya ada yang 1:20:22 eh enggak menutup aurat misalnya begitu 1:20:25 kan jadi tetapi kita ingin bahwa gerakan 1:20:28 ini kemudian bisa menghadirkan kemajuan. 1:20:30 Jadi itu yang barangkali eh dalam 1:20:33 konteks BWI, ya, sekali lagi kami mohon 1:20:35 doa. Ini karena kebetulan 1:20:36 kepengurusannya baru ini, Pak Mardani. 1:20:38 Jadi, 2021 ini eh baru. Kami baru rapat 1:20:42 perdana juga kemarin. Jadi, artinya 1:20:45 bagaimana ini eh semua masukan tentu 1:20:47 kita sangat aware, ya, dan apa yang 1:20:50 menjadi dinamika dan juga ekspektasi 1:20:52 publik itu juga sangat kita rasakan. Dan 1:20:55 bagi saya pribadi belajar dari eh 1:20:57 sebelumnya di Baznas, sekarang di BWI 1:20:59 saya kira eh insyaallah eh saya meyakini 1:21:03 bahwa ketika perjuangan kita mendapatkan 1:21:05 trust itu kita buktikan dengan 1:21:07 kerja-kerja apa, insyaallah hasilnya 1:21:09 akan baik. Demikian mungkin tanggapan 1:21:10 dari saya. Terima kasih. Jazakallah 1:21:12 jazakallah. 1:21:13 Baik, terima kasih eh Ustaz Irfan dan eh 1:21:16 sahabat-sahabat sekalian, tibalah kita 1:21:19 di akhir acara eh dengan tema uta-atik 1:21:23 wakaf pada malam ini. 1:21:25 Eh kita alhamdulillah sudah mendapatkan 1:21:27 banyak pencerahan, penjelasan dari para 1:21:30 narasumber. Dan sekarang eh 1:21:33 tibalah kita untuk closing ideas atau 1:21:36 closing statement, 1:21:38 ya, untuk menutup acara ini oleh para 1:21:41 narasumber. Untuk closing statement 1:21:43 pertama saya berikan kesempatan kepada 1:21:46 Ustaz Tengku Zulkarnain untuk memberikan 1:21:48 closing statement-nya, Ustaz. 1:21:50 Ya, terima kasih. 1:21:52 Eh orang-orang yang duduk di Badan Wakaf 1:21:56 kami kenal dan punya reputasi baik. 1:21:59 Tapi, yang menjadi masalah kembali saya 1:22:02 katakan jangan sampai ada anggapan 1:22:04 ini pemerintah terdesak duit, 1:22:07 kemudian dia memau memakai dana wakaf 1:22:09 itu untuk menyelesaikan program 1:22:12 infrastrukturnya. 1:22:14 Ketika utang sudah 6.000 triliun, pidato 1:22:17 presiden misalnya kemarin tetap 1:22:19 menjalankan infrastruktur 1:22:21 yang besar-besaran, 1:22:24 terus enggak ada duit, jangan-jangan 1:22:32 BWI-nya bagus-bagus tapi pemerintahnya 1:22:35 menelikung, mengambil duit itu untuk 1:22:37 menyelesaikan eh nafsu untuk membangun 1:22:40 infrastruktur di tengah-tengah kesulitan 1:22:42 ekonomi 1:22:44 dunia dan juga kesulitan ekonomi karena 1:22:46 pukulan pandemi Covid-19 ini. Yang 1:22:49 harusnya dikurangi digas ke situ. 1:22:52 BWI beli sukuk, sukuknya dipakai untuk 1:22:55 membangun infrastruktur yang semestinya 1:22:57 dikurangi. 1:22:59 Nah, ini yang yang kemudian orang enggak 1:23:00 mau nanti akan memberikan wakafnya 1:23:03 kepada eh pemerintah, dia akan langsung 1:23:05 aja ke organisasi-organisasi Islam atau 1:23:09 yayasan-yayasan Islam yang impact-nya 1:23:11 itu bisa dirasakan langsung oleh 1:23:13 pewakifnya. 1:23:15 Anda misalnya saya nyumbang yayasan 1:23:17 pendidikan 1:23:19 eh di dekat rumah saya, anak-anak 1:23:21 kampung saya sekolah di situ, itu 1:23:23 kelihatan langsung. 1:23:25 Daripada nanti untuk infrastruktur 1:23:27 enggak jelas atau rugi infrastrukturnya 1:23:30 dan sebagainya dan sebagainya. Ini yang 1:23:32 harus ditutup 1:23:34 lubang ini. 1:23:36 Kalau pemerintah harus meyakinkan 1:23:39 saya pikir memang butuh orang-orang yang 1:23:41 dipercaya. 1:23:42 Kalau sosok-sosok yang sudah ada ini kan 1:23:45 ngomong aja orang sudah ragu. 1:23:47 Ah, kalau orang-orang BWI ini saya tahu 1:23:49 Profesor Nuh saya tahu Irfan Sauqi ini 1:23:51 sahabat saya. 1:23:52 Jadi 1:23:54 coba cari celah untuk menutup itu, untuk 1:23:57 mendapatkan keyakinan dari masyarakat 1:23:59 supaya masyarakat mau berwakaf ke situ. 1:24:02 Selagi itu dipakai untuk infrastruktur 1:24:04 dan lain-lain, masyarakat sudah terlalu 1:24:06 sakit 1:24:07 dengan eh oknum-oknum pejabat kita yang 1:24:10 ternyata banyak bocor. Bahkan dana 1:24:13 bansos saya katakan tadi tega-teganya di 1:24:16 rampok begitu. 1:24:17 Kan enggak punya perasaan gitu. 1:24:20 Kalau dana wakaf dirampok juga kan 1:24:21 bahaya itu, nah gitu. Bukan bukan 1:24:23 BWI-nya sekarang masalahnya. Pengelola 1:24:26 itu oke, tapi ketika dibelikan eh sukuk 1:24:29 kemudian uang sukuk itu dipakai oleh 1:24:31 negara untuk hal-hal yang tidak eh 1:24:35 bermanfaat langsung kepada umat. 1:24:37 Oh, kan jalan bermanfaat saya katakan 1:24:39 tadi. Kita juga bayar pajak. Orang Islam 1:24:41 tuh bayar pajak, uang pajak untuk jalan. 1:24:43 Kenapa uang zakat untuk jalan juga? 1:24:45 Jadi, orang Islam kena dua kali 1:24:46 sementara orang lain yang enggak 1:24:48 berwakaf karena cuman dalam ajaran 1:24:50 agamanya dia cuman eh ber- membayar 1:24:52 pajak sebagai warga negara, ya kena 1:24:55 sekali kita kena dua kali. 1:24:57 Kan sakit sekali itu kalau begitu. Eh, 1:24:59 jadi inilah saya pikir pesan saya, 1:25:01 mudah-mudahan bisa diperhatikan oleh 1:25:03 kawan-kawan di BWI 1:25:05 dan semoga kiranya 1:25:06 kesalahpahaman atau ketidak 1:25:10 yakinan masyarakat 1:25:12 kepada pemerintah untuk nanti-nanti 1:25:14 jangan-jangan mengambil dana ini bisa 1:25:15 dieliminir, dikurangi atau mungkin 1:25:18 dihapus. Terima kasih. 1:25:20 Terima kasih, Ustaz. Jazakallah khair. 1:25:23 Atas closing statement-nya. Berikutnya, 1:25:26 Bung Rocky closing ideas, Bung Rocky. 1:25:31 Iya. 1:25:33 Ideas-nya 1:25:35 tinggal ampas sebetulnya kan. 1:25:39 Iya, betul eh 1:25:41 kita tadi Profesor Irfan berupaya untuk 1:25:43 menerangkan secara metodologis fungsi 1:25:46 dari BWI. 1:25:49 Dan kita 1:25:50 mengerti itu. Karena seseorang dengan 1:25:53 sendirinya harus punya keyakinan untuk 1:25:55 menghasilkan 1:25:57 result yang maksimal itu. 1:25:59 Jadi, seluruh keterangan eh Pak Irfan 1:26:02 itu masuk di akal saya. 1:26:05 Yang tidak masuk di akal adalah momentum 1:26:08 ini 1:26:09 dipergunakan untuk menambal sesuatu yang 1:26:12 disebabkan oleh kedunguan kebijakan, kan 1:26:15 itu jalan pikirannya itu. 1:26:17 Barusan 2 3 hari lalu kita dengar 1:26:21 Mari Pangestu 1:26:23 eee Direktur Pelaksana World Bank 1:26:26 menegur Sri Mulyani 1:26:29 yang adalah 1:26:30 juniornya sebetulnya, walaupun Sri 1:26:32 Mulyani lebih dulu berkarir di World 1:26:33 Bank. 1:26:35 Bank dunia itu punya bisnis dengan 1:26:36 Indonesia 1:26:37 bisnis infrastruktur, pembangunan 1:26:40 juga bisnis utang itu. 1:26:43 Sri Mulyani 1:26:44 adalah penentu kesehatan fiskal negeri 1:26:48 ini, termasuk di dalamnya adalah efikasi 1:26:50 dari wakaf ini. 1:26:52 Dia ditegur oleh World Bank 1:26:55 yang sebetulnya adalah oversight secara 1:26:57 tidak langsung dari perekonomian 1:26:59 Indonesia. 1:27:00 Jadi 1:27:02 orang menganggap bagaimana mungkin 1:27:04 Menteri Keuangan ditegur sebagai 1:27:06 pembohong, kan sebetulnya Sri Mulyani 1:27:08 mau bilang ya Anda berbohong dalam 1:27:09 statistik itu, karena hitungan kami 1:27:11 Indonesia baru 8 tahun lagi baru pulih 1:27:13 gitu kan. 1:27:14 Jadi moral itu akhirnya terkuras oleh 1:27:17 ketiadaan basis integritas dari mereka 1:27:20 yang mengajukan proposal wakaf ini, 1:27:23 yaitu kekuasaan. Itu itu intinya itu. 1:27:26 Saya tidak meragukan profesionalitas 1:27:28 seseorang di dalam lembaga yang juga 1:27:30 bisa diaudit, dibuatkan indeks, 1:27:32 ratingnya bisa diperiksa minute 1:27:33 details-nya. 1:27:35 Tetapi problemnya bukan di situ, 1:27:37 problemnya adalah 1:27:38 wakaf adalah institusi, institusi diukur 1:27:41 berdasarkan profesionalitas, tapi 1:27:43 kekuasaan diukur berdasarkan legitimasi. 1:27:46 Nah, itu yang sedang defisit sebetulnya 1:27:48 itu. Jadi itu problemnya itu ya. Selamat 1:27:51 bekerja Pak Irfan dan eee 1:27:55 eee itulah 1:27:57 hanya itu yang bisa saya ucapkan ya, 1:27:59 selamat bekerja, itu saja. 1:28:01 Prof Rocky. 1:28:03 Terima kasih. 1:28:03 Terima kasih, Prof Rocky. 1:28:05 Oke ya. 1:28:06 Baik, kepada sekarang kepada Pak Irfan 1:28:09 untuk statement mungkin juga mau 1:28:10 menanggapi Bung Rocky tadi. 1:28:13 Ya. 1:28:14 Ya, pokoknya 1:28:16 eh kita terbuka 1:28:17 eh dengan semua masukan ya, karena 1:28:21 seperti yang disampaikan Ustaz Mardani, 1:28:22 Pak Mardani tadi bahwa memang ini 1:28:24 persoalan hati ya, persoalan rasa. Jadi 1:28:26 memang 1:28:27 eh gerakan wakaf ini 1:28:30 kita bangun ya, dakwah wakaf ini kita 1:28:32 bangun dalam konsep yang eh saya 1:28:35 menyebut dengan istilah 3T ya. 1:28:38 Jadi pertama adalah takliful qulub, 1:28:40 bagaimana membangun eh kesamaan 1:28:42 frekuensi hati. 1:28:44 Yang kedua adalah takliful fikroh, 1:28:45 bagaimana membangun kesamaan frekuensi 1:28:47 pemikiran. 1:28:49 Dan yang ketiga adalah takliful harokah, 1:28:51 bagaimana kita membangun kesamaan 1:28:53 frekuensi gerakan. 1:28:55 Nah, jadi dalam tiga hal inilah kita 1:28:56 akan terus-menerus membangun eh gerakan 1:28:59 wakaf melalui pendekatan hati, 1:29:01 pendekatan ayat yang ujungnya melahirkan 1:29:04 keyakinan. 1:29:05 Ya, kemudian juga profesionalitas yang 1:29:08 kita bungkus dengan berbagai gagasan dan 1:29:10 ide, wacana yang ini kita perkuat. Nah, 1:29:13 sehingga kemudian nanti ujungnya dari 1:29:15 sisi harokah, gerakan itu kita bisa 1:29:17 melahirkan, menghadirkan sesuatu. Ya, eh 1:29:20 menghadirkan sesuatu yang kemudian eh 1:29:22 membawa berkah dan manfaat. Saya 1:29:23 menyadari 3 tahun bukan waktu yang eh 1:29:26 lama ya, untuk kemudian berbuat eh yang 1:29:30 mengatasi semua persoalan, tapi paling 1:29:32 tidak ada hal-hal yang bisa kita 1:29:34 kerjakan, ada hal yang bisa kita 1:29:36 selesaikan eh dalam rangka memperkuat eh 1:29:39 pembangunan wakaf di negara kita. Jadi 1:29:42 konsep 3T ini yang akan terus kita 1:29:44 kembangkan, sehingga potensi wakaf ini 1:29:46 bisa kita optimalkan untuk kemaslahatan 1:29:49 umat dan bangsa ini. Demikian 1:29:51 dari saya, terima kasih. Assalamualaikum 1:29:53 warahmatullahi wabarakatuh. 1:29:54 Waalaikumsalam. Terima kasih Ustaz Irfan 1:29:56 dan terakhir closing ideas dari Pak 1:29:58 Mardani. 1:30:00 Terima kasih Bang Aldi, jazakallah Ustaz 1:30:02 Irfan, Ustaz Tengku, Bro Rocky. 1:30:05 Eh 1:30:06 wakaf ini tanda iman. 1:30:09 Eh, 1:30:10 seperti infak dan sedekah ya, sidqun ya. 1:30:13 Karena itu dukung 1:30:15 gerakan wakaf. Tetapi apakah eh kita 1:30:19 percaya kepada negara? Kita lihat trust 1:30:21 kepada negara, tapi Badan Wakaf 1:30:23 Indonesia adalah lembaga independen. 1:30:26 Kita eh 1:30:28 dukung terus eh kiprahnya untuk tadi 1:30:31 takliful qulub, takliful fikroh, 1:30:33 takliful harokahnya. 1:30:35 Sehingga insyaallah ke depan eh 1:30:39 umat eh masyarakat, publik punya 1:30:42 institusi yang kokoh, yang dia tangannya 1:30:46 di atas, yang hatinya kuat, yang 1:30:49 pikirannya tajam, yang gerakannya 1:30:50 terorkestrasi dengan baik sehingga 1:30:52 negara 1:30:54 tidak bisa sembarangan untuk membuat 1:30:56 kebijakan yang merugikan, korupsi kian 1:30:58 mengecil, akuntan akuntabilitas kian 1:31:02 menguat, dan pada kesempatan yang eh 1:31:05 berikutnya maka terwujudlah Indonesia 1:31:07 yang adil, makmur, dan bermartabat bagi 1:31:10 kita semua. Terima kasih, Bang Aldi. 1:31:13 Ya. Terima kasih, Pak Mardani dan 1:31:16 dengan closing statement dari Pak 1:31:19 Mardani tadi berakhirlah eh Indonesia 1:31:21 Leaders Talk kita pada malam ini. 1:31:24 Terima kasih saya ucapkan kepada para 1:31:26 narasumber dan juga eh para pemirsa yang 1:31:29 terus setia eh membersamai kita dan juga 1:31:32 rekan-rekan media. 1:31:34 Eh, untuk penutup acara ini eh saya 1:31:39 ingin eh menyampaikan 1:31:41 eh 1:31:42 sebuah pembicaraan dengan salah seorang 1:31:45 ulama eh yang pernah saya lakukan bahwa 1:31:48 kita punya harapan besar ketika 1:31:51 rakyat Indonesia yang mayoritas umat 1:31:53 Islam dan terbesar di dunia ini 1:31:54 melakukan 1:31:56 eh gerakan-gerakan kebaikan, amal saleh 1:31:59 terus-menerus, 1:32:01 ya, baik itu dalam bentuk ibadah ee 1:32:03 mahdo salat, wakaf, zakat, membantu 1:32:06 sesama, produktif dalam ee 1:32:10 berbuat ee amal kebaikan, profesional di 1:32:14 dunia kerja, bisnis. 1:32:16 Ee apabila resultan kebaikan rakyat 1:32:19 Indonesia ini jauh lebih besar daripada 1:32:22 ee resultan kemaksiatan dan kezaliman, 1:32:26 mudah-mudahan 1:32:27 ee negara kita bisa segera bangkit dan 1:32:30 keluar dari segala permasalahan dan 1:32:33 ujian-ujian dan cobaan yang ada, gitu 1:32:36 ya. Dan mudah-mudahan ee Gerakan 1:32:38 Nasional Wakaf ini bisa menjadi salah 1:32:41 satu jalan keluar bagi bangsa Indonesia 1:32:44 untuk ee keluar dari segala permasalahan 1:32:48 dan ujian yang sedang kita alami. Dan 1:32:50 dalam rangka untuk kita bisa membantu 1:32:52 saudara-saudara kita 1:32:54 ee yang sedang tertimpa ee ee musibah 1:32:59 Covid dan kesulitan ekonomi akibat Covid 1:33:02 dan bencana dan ujian lainnya. Demikian 1:33:05 dari kami dan sampai jumpa 1:33:08 pada Indonesia 1:33:09 pekan depan. 1:33:11 Assalamualaikum warahmatullahi 1:33:12 wabarakatuh. 1:33:14 Salam warah