Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Bismillahirrahmanirrahim, 0:00 assalamualaikum warahmatullahi 0:01 wabarakatuh. Allahumma sholli ala 0:03 sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina 0:05 Muhammad. 0:07 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 0:09 ini hari Kamis tanggal 12 Rabiul akhir 0:11 1448 Hijriah atau tanggal 24 September 0:15 2026. 0:17 Kita jumpa lagi dalam acara bincang 0:19 hijrah 0:21 bersama tentu saja Bang Habib, beliau 0:24 adalah seorang master trainer dan 0:27 konsultan digital. 0:30 Nanti ada bintang tamu kita yaitu Mas 0:32 Dedy Rahmadi, eh Rahmadi 0:35 Mas Dedy Rahman. 0:37 Beliau adalah praktisi branding dan 0:40 komunikasi. 0:42 Sudah ada di ujung telepon di pakai Zoom 0:45 ini ya. Oke, assalamualaikum Bang Habib. 0:48 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:49 Bang Dedy Rahman, assalamualaikum. 0:52 Waalaikumsalam. 0:53 Masyaallah suaranya kedengaran jelas, 0:55 oke. Jadi kita akan membahas tema gaya 0:58 Purbaya saat peran berubah ya, gaya 1:02 Purbawa Purbaya saat peran berubah. 1:05 Silakan Bang 1:07 Bang Habib sebagai pengantar 1:09 bagaimana? 1:11 Assalamualaikum. 1:12 Assalamualaikum warahmatullahi 1:13 wabarakatuh. 1:15 Eh Pak Krisna, Pak Dedy dan 1:17 seluruh pendengar Radio di seluruh 1:19 Indonesia dan di beberapa negara 1:22 yang mendengar lewat streaming. 1:25 Mudah-mudahan hari ini kita diberkahi, 1:27 dimudahkan. 1:28 Amin, amin. 1:29 Kita akan membicarakan sesuatu yang 1:31 sebenarnya lebih jauh dari sekedar media 1:35 sosial. Ini penting bagi kita nantinya 1:38 kita bisa pakai untuk kehidupan kita 1:40 sehari-hari maupun kita bisa pakai untuk 1:43 eh merek kita, ada bisnis ataupun kita 1:45 bisa melihat fenomena yang ada di 1:48 masyarakat sehingga kita tidak tertipu 1:51 eh dengan pencitraan. 1:54 Kita bisa kita 1:55 secara ilmiah, secara akademis 1:58 gitu ya, bagaimana 2:00 eee 2:01 ini bukan sekedar media sosial, kita 2:03 membahas eee terkait personal branding 2:05 ya. 2:07 Jadi eee bukan bahasa yang sederhana, 2:09 bagaimana orang terlihat menarik Pak 2:11 Krisna. 2:12 Ehm. 2:12 Bagaimana mendapatkan follower atau atau 2:15 bagaimana membuat viral, bukan sekedar 2:17 itu tapi ini eee sebagai eee 2:21 strategic positioning 2:23 eee manajemen reputasi, komunikasi eee 2:27 kredibilitas dan kepercayaan atau trust 2:29 gitu ya. 2:30 Nah, ada ada fenomena yang sangat 2:32 menarik eee yang kita jadikan case 2:34 study, kebetulan 2:35 di YouTube saya itu selalu muncul ya 2:38 berita yang lagi hot beberapa hari ini 2:42 ya, sebetulnya sudah 2:44 cukup lama lebih dari seminggu tetapi 2:46 ter terus muncul gitu ya. 2:48 Eee perubahan eee dari kabinet ya, peran 2:53 eee Purbaya Yudhisadewa ya. Tanggal 14 2:56 September digantikan oleh eee Menteri 3:00 eee Suahasil Nazara. Nah, ini menarik 3:03 Pak Krisna ketika eee seseorang 3:06 mengalami perubahan 3:08 Iya. 3:08 namanya institutional role atau peran 3:12 apakah personal branding-nya ikut hilang 3:14 gitu ya? 3:15 Eee 3:16 nah, ini Purbaya juga cukup eee menarik 3:19 ya. Jadi 3:21 eee fenomenanya cukup besar ya, sampai 3:23 ada istilahnya namanya eee Purbaya 3:26 effect gitu ya. 3:27 Kalau kita lihat pemantauan ada drone 3:29 emprit ya 3:31 eee itu sekitar 1 tahun 3:33 eee terakhir ada 1 juta percakapan 3:36 digital mengenai Purbaya ya dan lebih 6 3:39 miliar engagement gitu ya, engagement 3:41 tuh kayak interaksi gitu ya. 3:43 Dan ada 2,3 3:46 juta pengikut di TikTok dan 1,23 3:49 juta pengikut di Instagram gitu ya. 3:53 Pada pertengahan September. Nah, angka 3:55 ini bukan pemantauan aja, tetapi eh 3:58 sensus eh publik, ya. Sehingga kita bisa 4:01 baca sebagai indikator eh 4:03 digital, gitu ya. Bukan ukuran 4:06 popularitas. Jadi, eh kita enggak bahas 4:09 popularitas seseorang, tetapi kita bahas 4:12 bagaimana personal branding. Banyak 4:13 orang yang takut kehilangan jabatan, 4:16 takut kehilangan posisi, karena dia eh 4:18 bingung nanti saya sebagai apa, gitu ya. 4:21 Ya, dia membayangkan ya eh orang harus 4:26 melihat dia sebagai apa, gitu ya. Nah, 4:28 eh dia memakai topeng, gitu ya. Dia 4:32 memakai topeng orang lain, gitu ya. 4:34 Kadang-kadang bahkan merubah topengnya 4:36 atau wajahnya, gitu ya. Tetapi eh 4:39 personal branding di sini adalah 4:41 memperjelas mukanya, gitu ya. Sehingga 4:44 orang mengasosiasikan dia sebagai apa, 4:46 gitu ya. 4:47 Nah. 4:48 Nah. Nah, ketika salahnya udah seperti 4:51 Purbaya, orang itu melihat perhatian 4:53 publiknya sudah lebih besar lagi. Nah, 4:55 kalau kita lihat kemarin Purbaya itu 4:59 eh beberapa jam sebelum eh setelah ada 5:02 perubahan jabatan, akun TikTok-nya itu 5:04 ada tulisannya, "Udah siap belum?", gitu 5:07 ya. Ada saya sempat baca komentarnya. 5:09 Nah. 5:10 Besoknya unggahannya itu udah 4 juta 5:13 view-nya yang lihat, ya. Ada dua 20.000 5:17 komentar, ya. 5:18 Nah, kontennya itu setelah itu dia 5:21 mancing depan rumahnya 5:23 He eh. Belakang rumahnya. 5:25 Belakang rumahnya, itu kontennya udah 9 5:28 juta lebih view, gitu ya. 5:30 Ya. Nah. Wah. Kita langsung mikir, oh 5:34 berarti dia disukain masyarakat, ya. Eh 5:37 tapi kalau dari konsep branding ini 5:38 enggak sesederhana itu, ya. He eh. 5:41 Artinya gini, artinya personal brand-nya 5:43 tetap jalan walaupun Purbaya udah enggak 5:46 jadi menteri, gitu. Iya. Itu itu itu 5:48 yang saya tangkap ya, yang saya tangkap 5:50 ya. Nah. 5:52 Nah, ini kita bahas dari perspektif 5:54 strategi branding. Dan kita bisa 5:56 ngaplikasikan ini dalam kehidupan kita 5:59 sehari-hari. Bagaimana ketika kita 6:01 kenalan sama orang, kita selalu 6:03 bawa-bawa nama jabatan misalnya. Saya 6:05 sebagai ee direktur hasil gitu, atau 6:07 saya sebagai apa, saya sebagai apa. 6:09 Ketika jabatan itu enggak sudah enggak 6:11 melekat, banyak orang yang post power 6:13 syndrome gitu ya. 6:14 Nah. 6:16 Jadi menteri, jadi apapun gitu ya. Dia 6:18 pengin diperlakukan sebagai menteri 6:20 gitu. Dia pengin diperlakukan sebagai 6:21 orang penting. 6:21 Padahal sudah tidak jadi menteri lagi. 6:23 Nah, pada itu yang yang banyak orang 6:25 sampai sakit, sampai sekarang. 6:27 Ee dia seharusnya diasosiasikan sebagai 6:32 orang melihat dia seperti apa. Nah, itu 6:34 itu sebetulnya authority ya. Nah, 6:37 karakter gitu ya. 6:39 Nah, jadi kayak Purbaya itu ada dua ee 6:41 yang bisa dilihat. Dia sebagai 6:43 profesional. 6:44 Yang kedua, dia sebagai human atau 6:46 sebagai manusia gitu. 6:48 Ketika 6:49 profesionalnya berubah, dia tetap ada 6:52 sebagai karakter personal. 6:54 Ee sebagai manusia gitu ya. Jadi 6:57 ee bagaimana 6:59 ee karakter personal ini tetap kuat. 7:02 Nah, kita ambil contoh lain ee terlepas 7:04 dari pandangan politik ya, misalnya Pak 7:06 Anies ya. Pak Anies juga seperti itu ya. 7:08 Sekarang jabatan politiknya tidak ada, 7:11 tetapi engagement-nya masih tinggi gitu 7:13 ya. Bahkan masih diperhitungkan sebagai 7:14 kandidat 7:15 ee apa namanya presiden 7:18 gitu. Dan berbagai tokoh-tokoh lain juga 7:19 seperti itu. Prabowo juga seperti itu 7:21 sebelumnya. Nah, gitu ya. Dan ee hampir 7:24 10 tahun gitu, tapi namanya masih ee 7:27 bagus gitu ya. Secara ee kita bahas 7:29 secara ee 7:31 ee branding gitu ya. Nah. 7:34 Kita tuh sering campurin antara image, 7:36 reputasi, dan branding gitu ya. Jadi 7:38 kadang nih, ini contoh ya ee misalnya 7:41 kita bawa ke level internasional. 7:43 Eh, ada 7:45 eh, Cristiano Ronaldo. Cristiano Ronaldo 7:47 itu 7:48 itu 7:49 sangat kuat gitu ya, eh, pengaruhnya ya, 7:52 di dunia sepak bola. Sehingga 7:54 brand-brand besar itu nempel sama sama 7:56 dia ya. 7:57 Satu saat eh, sesi wawancara ya. 8:00 Eh, dia ngobrol eh, sama wartawan. Di 8:04 depannya ada Coca-Cola ya. Coke ya. Mas 8:07 Dedy tahu ya. 8:08 Iya. 8:08 Ceritanya. Dia cuman menyingkirkan eh, 8:11 apa namanya botol minuman bersoda ya. 8:14 Dia cuman menyingkirkan aja. Nah, itu 8:16 perusahaannya rugi sampai sampai 8:18 triliunan gitu ya. Karena cuman cuman 8:21 gerakan eh, dia nyikirin 8:23 Eh, apa namanya gerakan. Itu apa? Itu 8:26 adalah personal branding-nya dia sangat 8:29 tinggi sekali. 8:30 Kuat kuat banget ya. 8:31 Kuat sekali. Artinya apa? Oh, Ronaldo 8:33 enggak suka minuman karbonasi. Oh, 8:35 Ronaldo hidupnya sehat bla bla bla bla. 8:37 Panjang itu ceritanya. 8:39 Nah, 8:40 image itu apa yang dilihat orang gitu 8:42 ya. Dan reputasi beliau itu cukup sangat 8:46 bagus sekali. Makanya kita tuh mesti 8:48 bedain antara profesional dan 8:51 apa namanya personal. Itu yang mesti 8:53 dibedain. Banyak ya orang ditempelkan 8:56 kepada brand-nya atau eh, ketika 8:59 orangnya itu turun brand-nya ikut hancur 9:01 gitu ya. 9:02 Nah, itu yang mesti dibedakan. Jadi, eh, 9:05 populer ya, bukan personal branding. 9:09 Tapi, ketika 9:11 membangun karakter itu yang menjadi 9:14 lebih kuat. Nah, nanti kita bahas sama 9:17 Mas Dedy ini pakarnya ya. 9:19 Eh, bagaimana branding itu dibentuk dan 9:22 bagaimana kita mempersiapkan branding 9:25 eh, sampai menjelang kematianlah 9:26 ibaratnya gitu Pak Krist. 9:27 Iya. 9:29 Nanti [berdehem] kita juga eh, bakal 9:31 enggak punya jabatan apa-apa, enggak 9:32 punya 9:33 gelar apa gelar pun enggak dibawa mati 9:35 gitu. 9:36 Hmm. 9:36 Dan eh, ini yang menarik gitu ya, 9:38 bagaimana kita bisa mem-branding kita 9:42 ya, mem-branding diri kita supaya bisa 9:44 bermanfaat, tujuannya tetap bermanfaat 9:46 untuk banyak orang dan bagaimana orang 9:48 itu melihat kita 9:50 dan ini bisa berdampak keluar. Itu 9:52 mungkin pembuka aja. 9:54 Baik, walaupun pembuka pertanyaan sudah 9:56 masuk nih. Dari Bapak Rudi. 9:59 Nah, Mas Dedy tuh. 10:00 Bang Habib. Ee ee Bang ada Bang Dedy ya 10:04 katanya. 10:05 Oh. 10:05 Boleh tanya, apakah ee 10:07 masalah branding-nya ini hanya 10:09 disematkan kepada orang public figure 10:11 saja atau orang biasa pun juga 10:14 tidak terlepas dari seharusnya punya 10:16 public branding, setiap orang punya 10:18 branding. Silakan. 10:23 Siapa ini? 10:23 Dari Bapak Rudi. Nah. Saya belum ngasih 10:26 apa-apa sudah 10:27 Nah, dibuka dibuka dulu ini. 10:28 Oh, ya. 10:29 Nah, mungkin Mas Dedy buka habis 10:31 Buka dulu buka dulu dah, oke baik-baik. 10:33 Pak Rudi mohon maaf ya, nanti akan 10:35 dijawab oleh Pak Dedy nih. 10:37 Assalamualaikum warahmatullahi 10:39 wabarakatuh. Terima kasih atas 10:42 undangannya nih ee Mas Habib dan Pak ini 10:47 Pak Krisna, alhamdulillah. 10:49 Nah, ini pembahasan cukup menarik ya 10:52 karena memang lagi lagi tren juga gitu 10:55 kan ya. Saya juga lihat bahwa di 10:58 sosial-sosial media juga di sosial media 11:00 saya juga walaupun saya enggak follow 11:02 beliau tapi konten-konten terkait ee 11:06 Pak Purbaya ini tetap muncul gitu kan 11:08 ya. 11:09 Nah, ee saya ingin tidak gitu kan ya, 11:12 tadi tadi sudah disampaikan oleh ee 11:15 Habib 11:18 cukup cukup panjang, cukup luas, cukup 11:22 lebar gitu kan ya. Nah, saya ambil 11:25 supaya gampang diingat itu ada empat hal 11:27 aja. 11:29 Empat plus empat plus satu nanti jadi 11:31 lima. Jadi yang pertama itu dari 4 itu 11:34 yang pertama itu adalah kompetensi. 11:37 Jadi, kalau kita membangun personal 11:39 branding, kompetensinya harus jelas 11:41 dulu. 11:43 Karena dengan adanya kompetensi, kita 11:45 jadi memiliki apa yang tadi disebut oleh 11:47 Habib itu otoritas. 11:50 Otoritas kita bisa dapat secara legal, 11:52 misalkan jadi Menteri Keuangan. Tetapi, 11:55 itu enggak cukup. Harus sesuai dengan 11:58 kompetensi kita otoritas tersebut. Nah, 12:01 dari Purabaya itu dijelaskan di awal 12:05 kalau dia itu adalah S1-nya itu Elektro 12:08 ITB. 12:09 Kalau mau saya kasih tahu, kebetulan 12:12 saya dari ITB juga. 12:14 Jurusan Elektro di ITB itu, itu passing 12:17 grade-nya tertinggi di ITB. 12:20 Jadi, kumpulan orang paling cerdas di 12:23 Indonesia itu kumpulnya di Elektro. 12:26 Kalau dia masuk ITB, gitu ya. Kalau di 12:29 UI itu Kedokteran, gitu ya, kalau enggak 12:31 salah ya, Kedokteran UI. Tapi, kalau di 12:33 ITB, itu Elektro. 12:35 Elektro. 12:35 Nah, itu berarti dia punya otoritas 12:37 sebagai orang cerdas, gitu kan ya, layak 12:40 untuk didengar. 12:41 Dan S2 S3-nya terkait dengan 12:44 ekonomi. Jadi, dia memang layak untuk 12:45 jadi menteri 12:47 eh Keuangan. Ditambah memang sejak zaman 12:50 Pak Jokowi, sebenarnya dia berada di 12:52 latar di lat di bagian di balik layar 12:56 untuk mengurusin masalah urusan ekonomi. 12:58 Jadi, yang pertama itu kompetensi harus 13:01 ada. 13:02 Jadi, kalau kita membangun 13:04 eh personal branding, kompetensinya 13:06 harus ada. 13:07 Nah, kayak Habib sendiri ya menunjukkan 13:10 master BNP-nya, gitu kan ya. Saya 13:12 sendiri menunjukkan eh strategis 13:15 branding dan komunikasi. Itu yang 13:17 pertama. 13:19 Yang kedua, itu adalah diferensiasi. 13:23 Jadi, untuk membangun personal branding, 13:25 kita punya enggak cukup dengan 13:27 kompetensi, tapi juga harus punya 13:29 diferensiasi. 13:31 Nah, 13:32 Purbaya datang sebagai Menteri Keuangan, 13:35 dia merombak 13:37 apa yang menjadi tesis 13:40 orang sebelumnya. 13:41 Mmm. 13:41 Bahwa 13:42 Kementerian Keuangan itu harus formal. 13:45 Iya. 13:46 Harus rumit. 13:48 Harus kemudian 13:51 sangat muter-muter untuk menjelaskan 13:53 sesuatu. Nah, Purbaya itu berbeda sama 13:56 sekali. Dia antitesis dari semua Menteri 13:59 Keuangan lainnya. 14:01 Jadi, gayanya juga gaya koboi. Kalau 14:04 menjelaskan itu secara simpel dan 14:07 langsung, gitu kan ya. Enggak enggak 14:09 banyak 14:10 bahasa-bahasa yang tinggi. Kemudian 14:14 blak-blakan, gitu kan. Terus terang 14:15 kalau bicara. 14:18 Itu jadi membuat orang kaget. Yang 14:21 tadinya Kementerian Keuangan itu adalah 14:23 Kementerian horor, gitu 14:25 Iya. 14:25 Pengertian pengertian yang menegangkan, 14:27 ya. 14:27 Pasti serem banget, gitu loh. 14:30 Apalagi kalau sudah bicara kondisi 14:31 ekonomi, itu suram banget. Nah, begitu 14:35 Purbaya datang, lain ceritanya. Nah, itu 14:37 diferensiasinya jadi kuat. Dan 14:40 diferensiasi itu harus dibangun secara 14:43 dari dalam. Itu yang disebut oleh Habib 14:45 tadi, otentisitasnya, otenticity-nya. 14:48 Jadi, harus otentik. 14:49 Dia harus otentik. Nah, kebetulan 14:51 belasan tahun yang lalu saya ketemu 14:53 sering ketemu dengan Mas Yudi Mas Yudi. 14:55 Saya biasa panggil Mas Yudi. Di kampus 14:57 juga dia panggilannya Yudi. 14:59 Mmm. 15:00 Eh, 15:01 kita sering ngobrol dulu dan memang 15:03 gayanya juga seperti itu. 15:04 Mmm. 15:05 Enggak pernah juga saya ngelihat 15:06 rambutnya rambutnya itu 15:08 tersisir rapi kayak Habib sekarang itu 15:10 enggak. 15:11 [tertawa] 15:11 Memang dari dulu begitu dan dia tidak 15:13 berubah. Jadi, tetap jadi otentik. 15:17 Nah, itu. Jadi, pertama kompetensinya 15:19 kuat. Dia punya diferensiasi untuk 15:22 membedakan dari 15:24 eh personal branding yang lainnya dengan 15:26 jabatan yang serupa. Itu dua. Yang 15:29 ketiga, 15:31 karena ini berhubungan dengan rakyat, 15:33 dengan masyarakat, maka dia harus kuat 15:36 humanity-nya. 15:38 Jadi, eh perilakunya harus ramah, 15:41 merakyat, eh bisa makan di warung, bisa 15:45 ngobrol dengan siapa aja, ketawa-ketawa 15:48 dengan siapa aja, 15:50 eh sifatnya sederhana, bahkan bisa 15:52 menyampaikan sesuatu itu joke-joke gitu 15:55 kan ya. Kalau pakai bahasa, bahasa 15:57 enggak rumit, bahasa bahasa bayi, 15:59 istilah anak sekarang. 16:00 Ehm. 16:01 Mudah diajak foto. Habib aja kan pernah 16:03 berfoto kan ya. 16:05 Karena [tertawa] itu sesimpel itu. Jadi, 16:07 sangat human gitu. Human touch-nya itu 16:10 dapat. 16:10 ya. 16:11 Kuat banget. 16:12 Ehm. 16:12 Jadi, kalau kita juga membangun personal 16:14 branding, apalagi untuk jadi public 16:16 figure yang biasanya ada protokoler, 16:20 maka kita tembus itu protokoler-nya. 16:23 Jadi, humanity. Nah, itu yang ketiga. 16:26 Yang keempat, hampir terakhir, itu 16:28 adalah dia membangun hope. Ada visi, 16:32 misi, target yang selalu dibicarakan itu 16:34 adalah 16:36 pertumbuhan ekonomi 8% gitu loh. 16:39 Pada saat sebenarnya kita lagi sekarat 16:41 di 5% 16:43 itu dia sudah bicara tentang 8% gitu kan 16:46 ya. 16:48 Dan ada cara-cara poin-poin yang selalu 16:50 dia jelaskan di mana-mana untuk 16:52 mendapatkan tersebut. 16:54 Bahwa itu sangat rumit, ya betul. Dan 16:56 itu juga tidak eh kerjaan bukan bukan 17:01 tugas wajib, tugas utama dari Menteri 17:04 Keuangan sebenarnya. Karena itu harus 17:06 kerja sama dengan kementerian lain untuk 17:09 bisa mencapai 8% tersebut. Itu kerjaan 17:12 yang sangat besar. 17:13 Tapi, saya melihat 17:15 dia itu membangun harapan. 17:17 Membangun harapan kepada masyarakat 17:20 bahwa kita bisa loh, ini bisa berubah 17:23 gitu kan ya. Nah, itu branding yang 17:25 kemudian 17:27 eee membuat orang tertarik untuk jadi 17:29 followers-nya, untuk tertarik mengikuti 17:33 apa video-video dia, konten-konten dia, 17:37 eee 17:38 besar juga orang tertarik untuk 17:40 berinteraksi, makanya engagement-nya 17:42 sangat tinggi gitu kan ya. 17:44 Nah, empat hal ini yang itu semuanya 17:47 dimiliki oleh Perubaya 17:49 dan itu sebaiknya di pemil dimiliki oleh 17:52 kita-kita juga yang biasa-biasa ini 17:54 sebenarnya gitu kan ya. Karena nanti 17:56 akan saya jawab kenapa 17:58 kalau bukan pejabat publik kita juga 18:00 butuh personal branding. 18:02 Ehm. 18:02 Jadi yang pertama tadi saya ulang ada 18:04 kompetensi, 18:05 kemudian ada diferensiasi, 18:07 kemudian ada humanity atau human touch 18:10 yang kemudian ada membangun hope, visi, 18:13 target gitu kan ya. Dan ini semuanya 18:15 dibungkus 18:17 dalam apa yang namanya konsistensi. 18:20 Ehm. 18:22 Konsistensi, ini yang harus selalu 18:23 dimunculkan. 18:24 Keempat hal itu selalu dimunculkan di 18:26 manapun dia berada. 18:28 Dalam setiap narasi dimunculkan 18:30 konsisten. 18:31 Dan kon kalau kenapa konsistensi perlu 18:34 perlu? Karena konsistensi 18:37 itu bisa memperlihatkan bahwa ini bukan 18:39 kepura-puraan. 18:41 Ini bukan hal yang sementara sehingga 18:43 orang menjadi trust. 18:46 Jadi intinya di situ konsistensi ini, 18:48 trust membangun trust. Jadi dari 18:50 keseluruhan 4 + 1 tadi itu 18:53 itu ujung akhirnya adalah trust. Nah, di 18:56 situlah branding gitu kan ya. 18:59 Nah, terkait sama pertanyaan Pak Masrudi 19:01 Pak Rudi tadi. 19:02 Nah, terkait sama Pak Masrudi tadi 19:05 trust itu adalah ujung target sebuah 19:08 branding. 19:09 Sehingga 19:11 siapapun harus membutuhkannya terkait 19:13 sam tergantung levelnya. 19:16 Kalau kita adalah public figure, maka 19:19 trust kita itu harus cukup besar. 19:22 Harus cukup tinggi. Sehingga apapun 19:25 program yang akan kita lakukan itu akan 19:27 didukung oleh masyarakat, didukung oleh 19:30 media, didukung oleh para pejabat lain, 19:33 didukung oleh seluruh stakeholder. 19:36 Kita butuh trust yang sangat tinggi. 19:38 Akan tetapi kalau kita rakyat biasa, 19:41 kita butuh tetap butuh trust. 19:44 Trust dengan atasan di kantor, trust 19:46 dengan bawahan, trust dengan teman 19:49 manajer selevel. Trust di keluarga, 19:53 trust di pertemanan di pertemanan, trust 19:56 di lingkungan masjid dan lingkungan 19:58 ibadah lainnya. Trust itu tetap 20:00 dibutuhkan. 20:01 Ehm. 20:01 Makanya kemudian personal branding tetap 20:04 kita munculkan. 20:05 Dan 20:06 eee nabi kita diturunkan 20:10 itu katanya, eh bukan katanya memang 20:12 hadisnya, nabi sendiri bilang untuk 20:14 memperbaiki akhlak. 20:15 Ehm. 20:16 Nah, memperbaiki akhlak itu 20:18 itu bagian dari trust, bagian dari 20:20 proses personal branding. 20:23 Nah, gitu kira-kira. Saya enggak berani 20:25 panjang lebar, Dokter Sun. 20:28 Tambahin 20:28 Mudah-mudahan eh bermanfaat yang singkat 20:30 ini. 20:30 Oke. 20:31 Saya tambahin sedikit eh terkait 20:34 pertanyaan yang tadi ya. 20:35 Jadi sebetulnya kita mau dikenal sebagai 20:37 apa eh Pak Krisna? 20:39 Misalnya gini, oh orang kalau dikasih 20:42 tanggung jawab Pak Krisna mah kerjaan 20:44 pasti selesai lah. 20:46 Gitu. Ada lagi orang, oh ini orangnya 20:48 pintar tapi susah diajak kerja sama 20:49 misalnya. 20:50 Tuh. 20:51 Benar. Jadi eee 20:54 top of mind ketika orang 20:56 mendengar 20:58 eh nama itu, itu masuk ke pikirannya 21:00 dia. Oh dokternya pintar 21:03 eh tapi enggak mau dengerin misalnya. 21:05 Oh dokternya sabar, saya ngomong 21:07 didengerin. Jadi, 21:08 kadang-kadang bukan 21:10 masalah yang paling pintar, tapi yang 21:12 paling bisa memahami. Ah, yang paling 21:16 isi eh menjelaskan gitu ya tadi Mas Dedy 21:19 bilang gitu ya. Jadi, 21:21 bukan oh saya harus bikin supaya orang 21:24 ini tahu saya sebagai apa, enggak. Tapi, 21:27 nilai-nilai saya yang natural ya, yang 21:30 saya itu misalnya orangnya eh apa 21:33 detail, orangnya eh perfeksionis, 21:35 orangnya pengin seperti ini, seperti 21:37 nilai-nilai positif itu yang diperkuat 21:40 gitu ya, yang diperkuat sehingga kita 21:42 tidak berpura-pura menjadi orang lain. 21:45 Kalau berpura-pura tuh capek, akhirnya 21:47 misalnya ada seorang yang terkenal 21:49 ke-gap, oh kok orangnya kayak gini, oh 21:52 orangnya kayak gitu. Tapi, kalau kita 21:53 menjadi diri kita sendiri memang eh 21:56 nilai-nilai kita yang kita kebawa itu 21:58 yang yang Purba ya eh apa mainkan 22:02 sebetulnya. Gitu ya. Dia bukan dikenal 22:05 sebagai orang oh Menteri Keuangan, 22:07 enggak. Tapi, begitu ganti Purba ya dia 22:10 adalah Purba ya gitu ya. 22:11 Ehm, oke. 22:12 Eh dia memang memang Purba ya sudah 22:14 Purba ya enggak oh Purba ya orang 22:16 sebutin. Bahkan saya sempat ketemu itu 22:19 eh beliau ada seorang eh 22:22 mohon maaf ya maksudnya ya kalau kita 22:24 sebut apa pengemis lah ya, pengemis 22:27 ngadang beliau, ngajak ngobrol beliau 22:29 tidak eh apa namanya tidak mengabaikan 22:31 dan tetap ngajak ngobrol dia. Itu 22:33 ngadang dia saya lihat sendiri di depan 22:35 mata saya gitu ya. 22:37 Diajak ngobrol sampai sudah sampai orang 22:39 itu selesai baru oh iya, oh iya orang 22:42 itu 22:43 pergi gitu ya. Tapi, itu adalah 22:45 karakter natural baik ada kamera maupun 22:48 enggak ada kamera gitu ya. Nah, di 22:50 samping itu itu sebagai apa personal 22:54 branding ya. Jadi, tema atau karakter 22:57 atau narasi yang kita bawa itu konsisten 22:59 gitu ya. Nah, Nah, mungkin eh tambahan 23:02 saja, tambahan. Jadi, orang itu berat 23:05 sebenarnya melepas Purbaya itu kenapa? 23:07 Ya, karena kita mengenal Purbaya itu 23:09 Purbaya, bukan dia sebagai Menteri 23:11 Keuangan begitu ya. Dia mengerti nih 23:13 harga-harga lagi naik, segala macam itu. 23:15 Ya, walaupun ada ada kelebihan, ada 23:17 kekuranganlah tetap. Misalnya, kebijakan 23:20 fiskal mungkin agak beda sama yang lain 23:22 dan yang lain. Tapi, menurut saya ini 23:24 satu hal yang menarik terkait 23:26 branding-nya beliau begitu dan dan 23:28 keikhlasan beliau bagaimana membangun 23:31 negeri-negeri begitu dengan segala macam 23:32 resikonya begitu. 23:34 Oke, kita ke pertanyaan pendengar lagi 23:36 ya. 23:37 Dari Bapak 23:38 Daryanto di Subang. 23:40 Bagaimana cara membedakan personal 23:43 branding yang otentik dengan pencitraan? 23:48 Silakan, Mas Dedy. 23:53 Oke ya, terima kasih. Ini memang memang 23:55 ini sering sering banyak pertanyaannya 23:58 ya. 23:58 Mana yang otentik dengan pencitraan? 24:00 Sebenarnya kata kuncinya itu ada di 24:04 eh 24:04 konsistensi begitu ya, kata konsistensi. 24:08 Di mana 24:09 antara tidak ada kamera dengan adanya 24:14 kamera, itu enggak ada perubahan. 24:17 Nah, itu dia akan konsisten. 24:19 Cuma kan memang kalau kita tidak ketemu 24:22 langsung, kan jadi rumit kita kan ya. 24:24 Karena kita hanya bisa melihatnya di 24:27 sosial media. Nah, 24:29 kalau itu 24:30 kita bisa lihat dari konsistensi dia 24:34 bisa tahan berapa lama. 24:37 Biasanya, kalau kemudian dia hanya 24:40 sekedar pencitraan begitu kan ya, 24:42 dia enggak akan bisa tahan lama itu. 24:45 Setahun itu saja sudah sudah berat 24:47 sekali. Apalagi kalau sudah dia 24:49 mendapatkan apa yang dia inginkan. 24:53 Jadi, kalau sudah mau jadi caleg, begitu 24:55 jadi anggota legislatif dia berubah gitu 24:57 kan ya. 24:58 Begitu mau jadi walikota, begitu jadi 25:01 walikota, dia berubah. Begitu dari model 25:04 berencana jadi capres menjadi presiden 25:06 berubah. Nah, itu bukan 25:08 eh otentik. Itu adalah pencitraan, gitu 25:11 kan ya. 25:12 Itu kita bisa lihat setelah terjadi ada 25:15 jabatan atau setelah target yang 25:18 diinginkan 25:19 tercapai. 25:21 Cuma memang yang paling bagus itu adalah 25:24 memang bisa lihat langsung. 25:26 Karena pesan dari 25:29 eh 25:32 Umar Ibnu Khattab juga, gitu kan. Kalau 25:34 untuk menilai seseorang itu 25:37 apakah pernah berbisnis dengannya, 25:40 apakah pernah berjalan bersafar 25:42 dengannya, apakah pernah menginap 25:45 bersamanya, gitu kan ya. Jadi, itu 25:48 langsung dekat, gitu ya. Itu kita akan 25:51 bisa langsung tahu dia 25:52 eh 25:54 benar-benar pencitraan atau [tertawa] 25:56 bisa benar itu otentik, gitu. 25:58 Oke, kemudian dari Bapak Toto. 26:01 Bang Habib dan Pak Dedy, apakah 26:04 keberanian menyampaikan pendapat yang 26:06 berbeda justru memperkuat atau 26:08 melemahkan personal branding seorang 26:10 pejabat? 26:12 Oke, saya jawab ya. 26:15 Jadi, 26:16 Dari Bapak Toto. 26:18 Ya, Pak Toto, terima kasih 26:20 pertanyaannya. 26:21 Kita eh saya ambil contoh eh Nabi 26:23 Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam 26:25 eh personal branding yang betul-betul 26:29 eh natural dan betul-betul berasal dari 26:32 jiwanya 26:34 eh beliau, gitu ya. 26:36 Pada saat itu kondisinya 26:38 melawan, ibaratnya peradaban orang yang 26:41 eh apa? Menyembah batu, orang yang 26:44 banyak eh yang sudah kebiasaan yang 26:46 salah yang yang orang lakukan. Tapi, 26:49 ketika Nabi Muhammad itu menjelaskan 26:52 beliau saya Nabi Muhammad saya Nabi yang 26:55 diutus oleh Allah gitu ya, saya 26:58 Rasulullah. Beliau enggak langsung 27:00 menjelaskan itu, beliau itu membangun ya 27:03 pengalaman experience sebagai orang yang 27:06 terpercaya gitu ya. 27:07 Terpercaya itu karakter yang dibangun 27:09 gitu ya selama ini. 27:11 Ya, eh bagaimana berdagang eh 27:13 terpercaya, bagaimana menyelesaikan apa 27:15 eh masalah antar kabilah, bagaimana 27:19 segala macam itu dipercaya. Sehingga 27:22 ketika dia menjelaskan bahwa beliau 27:25 adalah Rasulullah, itu yang orang itu 27:28 sebetulnya secara hakikat, secara 27:30 kebenaran itu 27:31 enggak bisa menolak pada saat itu gitu 27:33 ya. Tetapi ada ego, egoisme, ada apa 27:37 pride, ada segala macam, ada jabatan, 27:39 itu yang yang tidak bisa ditinggalkan 27:42 oleh sebagian yang yang memang eh 27:44 menentang eh beliau. Tetapi secara 27:47 secara bagaimana eh akhlak beliau dan 27:52 lain-lain, itu bisa bertahan sampai 27:54 ratusan tahun gitu ya sebagai itu kalau 27:57 kita sebut mungkin eh Mas Dedy brand 27:59 equity ya di situ. Jadi bagaimana trust 28:03 itu menjadi reputasi beliau gitu ya. 28:06 Jadi 28:07 orang itu percaya sama orang bukan saya 28:09 ngomong saya orangnya bisa dipercaya, 28:11 saya orangnya jujur, tapi pengalaman 28:13 ketika orang itu misalnya orang bisa 28:15 dipercaya oke 28:16 dia bisa dipercaya dalam semua hal, tapi 28:18 begitu dikasih uang ya, itulah ujian 28:21 sebenarnya orang itu misalnya. Wah, 28:24 ternyata begitu dikasih uang misalnya 1 28:26 juta masih amanah, 10 juta masih amanah, 28:28 100 juta sudah mulai goyang. 1 M, 1 M 28:32 sudah hilang itu orang. Nah, itulah 28:34 nilai dari dari orang tersebut gitu ya. 28:37 Bagaimana pengalaman mereka gitu ya 28:40 dari promise gitu ya, eh apa bagaimana 28:44 brand promise habis itu jadi experience, 28:46 experience terhadap orang itu, baru jadi 28:48 trust gitu loh. Jadi eh 28:50 experience yang dibangun bersama Nabi 28:52 Muhammad, ya makanya tadi Mas Dedi 28:54 bilang eh kita kalau mau kenal sama 28:57 orang, safar aja dulu sama orang itu. 28:58 Karena apa? Kita baru eh kita bangun 29:01 tidur orang itu tahu, kita apakah dia 29:04 kuat gitu ya, eh kita monitoring terus, 29:07 ya pasti ada karakternya yang 29:09 keluar gitu ya. Jadi kalau kita ambil 29:12 contoh Rasulullah gitu ya, alaihi 29:14 wasallam. Ma eh beliau enggak enggak 29:16 bilang saya expert gitu ya, saya leader, 29:19 tapi beliau mencontohkan 29:21 eh bagaimana eh melindungi apa eh harga 29:25 diri orang lain. Ketika ada yang 29:27 misalnya satu ruangan buang ada yang 29:29 buang ada bau nih buang angin. Ketika 29:31 ada orang yang buang berarti dia yang 29:32 buang angin. Tapi Rasulullah 29:34 ayo kita wudhu bareng-bareng, ayo kita 29:36 jadi menutupi 29:37 Aib orang lain. 29:39 aib orang lain gitu ya. Jadi itulah 29:41 karakter gitu ya. Eh kita enggak jadi 29:43 jangan sibuk ngomong siapa diri kita 29:45 gitu ya, bagaimana kita segala macam, 29:47 tapi 29:50 tunjukkan aja perilaku eh experience 29:52 bagaimana Surabaya itu membangun 29:54 kebijakan yang pro rakyat, bagaimana dia 29:56 otentik, otentik itu kalau di eh Islam 29:59 itu sidik ya, otentik ya. Jadi benar, 30:02 jujur gitu ya. 30:03 Bagaimana eh itu dibangun. Jadi ada 30:06 value di dalam diri kita. Mungkin itu eh 30:08 tambahan aja. 30:09 Ehm. 30:11 Oke, silakan. 30:12 Mas Dedi. 30:14 Kalau dari saya begini, jadi 30:17 eh keberanian untuk menyampaikan 30:20 pendapat yang berbeda dari pendapat umum 30:22 ataupun pendapat yang punya otoritas 30:25 lebih tinggi seperti atasan gitu kan ya. 30:28 Itu punya potensi 30:30 eh membangun personal branding asalkan 30:33 memang 30:35 dia berencana personal branding-nya 30:37 dibangun untuk itu. Jadi kalau dia 30:39 membangun personal branding-nya sebagai 30:41 orang yang 30:43 punya otoritas di bidang hal yang memang 30:46 dia kuat di situ dan dia untuk 30:48 menjelaskan 30:49 bahwa perbedaan pendapatnya itu 30:51 bertentangan dengan pendapat pada 30:53 umumnya, maka itu cukup kuat gitu kan 30:55 ya. 30:57 Kalau kemudian dia me menginginkan bahwa 31:00 [berdehem] 31:01 personal branding-nya itu dianggap 31:02 sebagai orang yang 31:05 eh ingin memperjuangkan sesuatu, maka 31:07 keberanian itu akan memperkuat eh 31:10 personal branding-nya gitu kan ya. 31:13 Akan tetapi 31:14 eh kalau kemudian dia ingin personal 31:17 branding-nya itu dianggap orang yang 31:19 kemudian 31:21 eh bisa bekerja sama dengan siapa saja 31:25 atau kemudian 31:27 eh dianggap humble gitu kan ya atau 31:30 sesuatu yang tidak ingin menyakiti oleh 31:33 eh orang lain gitu kan ya. 31:35 Maka 31:38 keberanian untuk menyatakan pendapat 31:40 secara keras itu juga tidak akan 31:43 membantu. 31:44 Maka persis yang seperti dijelaskan oleh 31:46 Habib tadi 31:47 Nabi kemudian tidak kemudian secara 31:50 keras menyalahkan 31:53 ada orang yang yang eh kentut tersebut, 31:56 tapi kemudian 31:58 mencoba menghilangkan 32:01 rasa malu yang muncul dari eh perilaku 32:04 yang tidak sengaja tersebut. Ini kan 32:07 eh sangat halus sebenarnya, ini sangat 32:08 halus. Tapi tergantung dari kita, kita 32:11 ingin membentuk personal branding-nya 32:12 seperti apa. 32:14 Jadi personal branding itu setiap 32:16 perilaku apapun yang kita lakukan gitu 32:18 kan ya. 32:19 Baik menentang sesuatu atau menyetujui 32:22 sesuatu, itu tergantung dari 32:25 personal branding yang mau kita bentuk. 32:28 Apa yang akan terjadi di pikiran orang 32:29 lain tentang kita gitu kan ya. 32:32 Kalau model politisi sekarang yang 32:35 kemudian eh 32:37 tidak cocok dengan kebijakan pemerintah, 32:40 dia akan lebih mudah untuk menyampaikan 32:43 hal yang yang 32:44 yang tidak suka sebagai bentuk pada 32:47 keberanian dan itu untuk personal 32:50 branding dia gitu kan ya. 32:52 Akan tetapi ada juga yang memang 32:55 ee, berharap pemerintah akan semakin 32:57 baik 32:58 jadi keberaniannya itu dia bentuk dengan 33:02 cara bukan menentang kebijakan, tapi 33:05 juga memperlihatkan ada sesuatu yang 33:07 lebih baik dari kebijakan 33:09 yang ada sekarang gitu kan ya. 33:12 Seperti ee, contoh kasus yang di 33:17 ketua umum Gontor kemarin gitu ya, Kiai 33:19 Gontor itu. 33:20 Mmm, bagus sekali pidatonya itu. 33:22 Nah, itu kan 33:24 ee, sebenarnya 33:26 di dia punya keberanian untuk ee, 33:29 mengeluarkan pendapatnya. 33:31 Tapi dia tidak mengatakan bahwa 33:34 Menteri Agama itu salah gitu kan ya. 33:36 [tertawa] 33:37 Hebat. 33:38 Yang dia katakan 33:39 pendidikan lebih penting gitu. 33:41 Mmm. 33:42 Pendidikan lebih harusnya difokuskan 33:44 kebijakannya gitu kan. 33:45 keren. 33:46 Diurusnya ke kependidikan. 33:48 Walaupun ditambahin dengan jok-jok yang 33:51 yang cukup menyindir sih 33:53 [tertawa] 33:54 sorry ye gitu kan ya. 33:56 Iya juga. 33:57 Itu luar biasa sehingga personal 33:59 branding dari Kiai tersebut itu bisa 34:02 cukup kuat memperlihatkan bahwa Gontor 34:05 itu memang punya ideologi yang kuat gitu 34:08 kan ya, bahwa Gontor itu memang 34:12 ee, bukan sembarangan gitu kan yang yang 34:14 bisa di kooptasi oleh oleh pemerintah 34:17 yang berkuasa sekalipun gitu kan. Itu 34:20 maka brandingnya menjadi sangat kuat. 34:23 Branding Gontornya dan branding dari 34:24 Kiaianya sendiri. 34:26 Oke. 34:26 seperti itu. 34:27 Baik, selanjutnya dari Bapak Andi, Bang 34:30 Habib dan Pak Dedy 34:32 Apakah branding dapat dibentuk tanpa 34:34 sengaja? Dia natural saja begitu, orang 34:37 saja yang mau yang mau image-kan dia 34:38 gitu, dia sendiri tidak tidak bermaksud 34:40 demikian. Bisa enggak terjadi secara 34:42 natural? 34:43 Terjadi secara natural. 34:44 Dari Bapak Andi. 34:45 Dari Bapak Andi. 34:46 Oke. 34:47 Eh, terdengar ya suara saya? 34:49 Jadi, 34:50 branding itu bisa tanpa sengaja 34:52 sebetulnya. Bahkan seringkali personal 34:55 brand itu 34:57 eh, sadar terlebih dahulu sebelum orang 34:59 itu bangun gitu ya. Jadi, 35:01 eh, ada intentional branding, memang 35:04 kita 35:05 apa, sengaja bagaimana 35:07 kita ingin dikenal. Nah, ini banyak 35:09 beberapa oknum 35:11 orang terkenal ini juga memang dibangun 35:13 untuk melihat orang itu seperti itu. 35:15 Bahkan kita juga beberapa kali 35:17 eh, ya melihat ya ada oknum pemimpin 35:21 juga seperti itulah. Dia bangun 35:23 bagaimana dia ingin dikenal. Tapi 35:25 sebetulnya sehari-hari juga seperti itu. 35:27 Ada juga eh, bagaimana eh, emer 35:31 apa ya, istilahnya itu emergent 35:32 emergency emergent branding gitu. 35:34 Bagaimana orang itu 35:37 eh, melihat apa yang kita sering lakukan 35:39 gitu ya. Eh, jadi 35:41 ketika ada masalah, dia datang gitu ya. 35:44 Dia hadir gitu ya. Dia nyelesaiin gitu 35:46 ya. Lama-lama orang itu mikir, oh kalau 35:48 ada masalah eh, panggil dia. Ini orang 35:50 bisa diandalkan ini gitu ya. Jadi, itu 35:52 terbentuknya secara organik eh, secara 35:55 memang bukan dibuat-buat gitu ya. Nah, 35:58 jadi eh, branding itu sebetulnya 36:02 kita itu eh, seperti apa, bagaimana kita 36:05 komunikasinya gitu ya. Apa yang 36:07 konsisten kita lakukan, habis itu 36:09 pengalaman pengalaman orang-orang ini 36:11 seperti apa dengan kita gitu ya. Jadi, 36:14 di mana orang lain itu eh, 36:17 membentuk persepsi tentang kita, 36:19 bukannya kita pengin dilihat seperti apa 36:22 gitu ya. 36:23 Jadi, sebetulnya kalau enggak sengaja 36:25 atau sengaja itu kan sebetulnya eh, cara 36:28 ya atau kalau sengaja berarti 36:30 dibuat-buat. Nah, dibuat-buat sebetulnya 36:32 enggak ada masalah tetapi memang itu 36:34 karakter kita orang-orang belum tahu nih 36:36 saya karakternya saya seperti gimana. 36:37 Saya penguatanlah karakter saya sama Mas 36:40 Dedy misalnya. Mas Dedy saya pengen jadi 36:42 apa namanya pemimpin daerah nih karakter 36:44 saya seperti ini. Bagaimana orang bisa 36:46 tahu lebih banyak karakter saya gitu ya. 36:48 Nah, biasanya Mas Dedy asesmen dulu nih 36:50 karakternya. Oh, dia bisa baca oh 36:53 karakternya enggak seperti ini. Jangan 36:54 dibuat-buat gitu ya. Nanti malah kalau 36:56 dibuat-buat malah enggak natural. 36:58 Kesannya juga kelihatan enggak natural 37:00 kayak orang senyum. Pak Ridwan kalau 37:01 senyum 37:02 benar-benar dari hati. Beda orang senyum 37:04 dibuat-buat gitu ya. Bahkan mungkin 37:07 kalau beberapa saya lihat juga kayak 37:09 customer care di perusahaan itu 37:12 dia nelpon itu di depannya ada cermin 37:14 ya. Jadi begitu dia senyum itu senyumnya 37:17 terdengar sampai di ujung telepon. 37:19 Bayangin. Nah, nah jadi 37:22 ketika 37:23 dia berbicara, dia apa namanya WhatsApp, 37:27 dia apapun itu ketika hatinya tersenyum 37:30 ya 37:31 itu bakal menyebar gitu ya. Jadi energi 37:34 positif itu menyebar. Ketika dia mau 37:37 jadi leader, dia harus memberikan energi 37:39 positif yang lebih besar gitu ya bukan 37:41 energi negatif. Ketika dia punya energi 37:44 negatif yang besar nah itulah yang 37:46 bahaya gitu ya. Akhirnya macam-macam 37:48 penyimpangan yang dilakukan gitu. Jadi 37:50 istilahnya kalau kata guru saya tuh ada 37:54 satu seperti ini hanya baja yang 37:56 membentuk besi. Hanya baja yang bisa 37:59 membentuk besi gitu ya. Jadi kita mesti 38:01 lebih kuat, bisa lebih bercahaya, bisa 38:04 lebih meng-inspire orang lain gitu baru 38:07 bisa menguatkan orang lain gitu. 38:10 Itu dia. Mas Dedy silakan. 38:13 Oke, saya tambahkan. Ini pertanyaannya 38:15 memang sering saya lakukan dengan 38:16 klien-klien saya. 38:18 Karena saya membantu personal branding 38:20 saya teman-teman eh, klien-klien saya 38:22 itu 38:23 itu melalui sosial media, maka biasanya 38:27 untuk mengetahui personal branding-nya 38:30 awal sebelum saya usulkan yang baru 38:33 gitu, saya akan cek minimal 100 konten 38:37 di sosmed-nya. 38:38 Nah, biasanya di 100 konten di 38:40 sosmed-nya, kalau dia sedang tidak 38:44 membuat personal branding 38:46 itu akan kelihatan. Saya bisa bisa 38:48 capture. 38:50 Lalu dari 100 konten itu, maka pertemuan 38:52 berikutnya saya bisa langsung 38:54 presentasikan mengusulkan personal 38:57 branding-nya dia adalah begini begini 38:59 begini begini gitu kan. Dan biasanya 39:02 100% itu mereka terbelalak gitu. 39:05 Mereka kaget. 39:06 Dan itu kenapa pas banget yang seperti 39:09 mereka inginkan. Dan mereka juga merasa 39:11 bahwa "Ini gue banget, Bang Ded. Saya 39:13 enggak nyangka kalau ternyata orang bisa 39:16 Bang Ded juga bisa melihat bahwa 39:19 saya pinginnya seperti ini. Saya ingin 39:21 orang melihatnya seperti ini." Dan 39:22 ternyata 39:24 yang dilihat seperti ini ternyata 39:27 cukup bagus, berkualitas gitu kan ya. 39:30 Dan itu bisa saya gunakan sebagai modal 39:32 awal untuk membangun elektabilitas dia. 39:35 Kebetulan klien saya kan politisi semua 39:37 gitu kan ya. 39:39 Nah, tapi kalau dia enggak punya sosial 39:41 media 39:43 nah, ini saya butuh waktu sejam dua jam 39:46 untuk ngobrol, menggali bagaimana dia 39:50 berinteraksi di keluarga, bagaimana di 39:52 pertemanan, bagaimana latar belakang 39:54 sekolahnya, bagaimana eh, di di 39:57 kantornya, pekerjaannya, bagaimana 39:59 dengan mimpi-mimpinya, bagaimana dengan 40:02 hobinya, bagaimana dia melakukan kalau 40:04 ada permasalahan sesuatu, dia bagaimana 40:06 cara ngadepinnya. 40:08 Dari kumpulan itu, sejam dua jam 40:10 kemudian ngobrol panjang, baru kemudian 40:12 saya bisa ajukan proposal. 40:15 Mas, eh, saya ajukan proposal begini 40:17 begini dan biasanya dia juga akan 40:19 terkejut-kejut dia. 40:21 Pak Ded, saya pas banget kayak-kayak 40:23 gini. Saya mau dibentuk seperti ini, 40:25 gitu kan ya. 40:26 Jadi, kalau kemudian ditanya, apakah 40:28 kemudian personal branding dibangun 40:30 secara natural? Sangat bisa. Sangat bisa 40:32 dan kita 40:34 kita bisa tidak merasa kita melakukan 40:37 sesuatu sebenarnya kita membangun 40:38 personal branding. 40:40 Tetapi, kalau personal branding itu kita 40:43 lakukan secara sistematis, maka yang 40:46 dicapainya akan jauh lebih cepat 40:48 daripada kita lakukan secara organik 40:52 tanpa terencana. 40:54 Oke. 40:54 Orang bisa mengenal kita memiliki 40:57 kompetensi tertentu, diferensiasi 41:00 tertentu, gitu kan ya. 41:02 Itu mungkin butuh beberapa tahun. 41:04 He em. 41:04 Tapi, kalau dengan secara sistematis 41:06 kita handle, 41:08 maka ya 41:09 3 bulan, 6 bulan juga sudah langsung 41:12 ketahuan. Biasanya saya handle itu 41:15 saya tahu personal branding ini sudah 41:17 sangat pas dan sangat bagus, 41:21 itu ciri-cirinya di sosmed itu dia sudah 41:23 bisa dapat winning konten. 41:26 Winning konten itu adalah 41:29 views, orang yang menonton konten dia 41:32 tersebut itu jumlahnya bisa 100 kali 41:35 lipat atau bahkan 1.000 kali lipat dari 41:38 followers-nya dia. Berarti dia sudah 41:40 menyebar ke mana-mana. 41:42 Nah, winning konten sini, ini bukan 41:45 hal yang viral sesaat, bukan. 41:48 Ini adalah konten yang dibangun 41:51 berdasarkan personal branding dia yang 41:54 sudah sangat kuat. 41:56 Nah, biasanya saya ketemunya itu di 41:57 bulan ketiga kalau saya saya handle. 41:59 Kita exercise segala macam. 42:01 Itu dari saya, mudah-mudahan membantu. 42:03 Oke, ada selanjutnya dari Bapak Khairul. 42:07 Assalamualaikum, Bang Abib dan Pak Dedy. 42:10 Apakah seseorang bisa merubah 42:12 brandingnya yang dulu dikenal misalnya 42:14 berkarakter A lalu ber ingin dirubah 42:17 menjadi B. Apakah bisa ada perubahan 42:20 branding seperti itu? 42:21 Eee 42:22 Dari Bapak Hairul. 42:23 Eee makasih Pak Hairul. Saya ada 42:25 pengalaman pengalaman sedikit ya, ini 42:28 eee kisah nyata. 42:29 Jadi eee ada 42:32 pengukuran berdasarkan sidik jari. Saya 42:35 enggak sebutin mereknya ya, dalam semua 42:37 takutnya jadi ini iklan ya. 42:39 Tapi ada pengukuran Mas Dedy tahu enggak 42:40 yang ada pengukuran karakter sidik jari 42:43 ya? 42:44 Banyaklah. 42:45 Eee banyak ya, kayak kita tahulah ya. 42:47 Jadi eee sebenarnya saya kan apa 42:50 konsultan digital gimana cara naikin 42:53 profit lewat digital ya. 42:54 Nah 42:55 kita bantu juga asesmen orang gitu ya. 42:57 Nah ini membantu pada saat seleksi awal 43:00 kandidat-kandidat itu dikasih 43:02 dikasih eee apa namanya tes tapi cuman 43:06 sidik jari ditempel sidik jarinya nanti 43:08 ketahuan karakternya seperti apa bla bla 43:10 bla bla bla. Ah walhasil ini cukup eee 43:13 viral dan efektiflah kelihatannya gitu 43:16 ya. 43:16 Nah 43:18 eee tapi saya ada sesuatu yang 43:19 mengganjal di pikiran saya, sesuatu yang 43:22 dinamis. Kenapa diukur oleh sesuatu yang 43:24 statis ya, sidik jari itu kan statis. 43:27 Gitu ya, kecuali ada spesial case 43:29 misalnya minum obat tertentu gitu ya 43:30 berubah dan lain-lain. Tapi ini kan 43:32 sesuatu yang 43:33 saya dilahirkan seperti itu sidik 43:35 jarinya seperti itu kan. 43:36 Kenapa orang dicap eee dengan sidik jari 43:39 gitu ya. Saya lagi pelajarin kenapa 43:41 orang itu ngecap gitu dengan sidik jari. 43:42 Artinya gini ketika sidik jari saya 43:45 polanya seperti ini saya diterima kerja 43:47 misalnya. Ketika sidik jari saya kayak 43:49 gini saya 43:50 minimal kalau enggak diterima penilaian 43:52 orang itu udah enggak enggak kurang gitu 43:54 ya saya. Akhirnya apa ada satu kasus 43:56 gini Pak Krisna. 43:57 Orang itu di dianalisa sidik jari ini 44:00 hasilnya itu emosi segala macam dan 44:03 lain-lain ini teman saya sendiri nih Pak 44:05 Dedy juga kenal Mas Dedy. Emosi dan 44:07 lain-lain. Tetapi penampakannya orang 44:09 ini sangat sabar, sangat wise, sangat 44:12 benar-benar sama temannya tuh luar 44:13 biasa. Sampai owner-nya sidik jarinya 44:16 ini. 44:17 Dia sampai ngetes berkali-kali dan 44:18 hasilnya selalu sama. Akhirnya apa? Dia 44:21 panggil orang ini, dia panggil orang 44:23 ini, "Saya sudah ngetes berkali-kali 44:24 kenapa hasilnya selalu sama. Anda tidak 44:27 sesuai sama sidik jari Anda." gitu. 44:29 Sidik jarinya itu emosi dan lain-lain. 44:32 Tapi asli, ternyata orangnya sangat 44:34 sabar, sangat wise. Dia bilang gini, dia 44:35 bilang gini, "Memang dulu saya emosi." 44:38 Gitu ya. Tapi saya perbaikin itu. Saya 44:40 lihat oh saya punya apa, sifat karakter 44:42 yang apa, agak temperamen dan lain-lain. 44:44 Tapi saya naik apa, perbaikin dan 44:46 lain-lain. Akhirnya berubah. Jadi 44:49 sesuatu yang eh 44:51 eh statis itu bisa dirubah. Ah, jadi 44:54 buat penilaian awal oke lah sidik jari. 44:56 Tetapi memang assessment awal terlepas 44:58 dari itu. Kita ngelihat orang saya 45:01 berkali-kali pengalaman Pak Krisna, itu 45:03 sering banget pengalaman. Saya lihat 45:04 orang 45:06 sederhana gitu ya. Saya dulu jual rumah 45:09 apa namanya, lihat orang itu dari fisik. 45:11 Wah, ini bisa enggak nih beli rumah 45:12 miliaran gitu ya. Gitu dan lain-lain 45:15 dari fisik. Tapi pengalaman saya itu 45:17 berubah setelah ya, saya lihat orang 45:19 yang sederhana. Saya benar-benar eh ya 45:21 Allah ini eh saya pasrah ya dengan 45:24 kekuasaanmu. Orang yang gerakin, orang 45:26 yang apa, yang mendatangkan pembeli itu 45:28 Engkau gitu ya. Nah, ketika ada satu eh 45:31 orang sederhana naik motor, pakaiannya 45:34 juga sederhana dan lain-lain. Dia bilang 45:37 gini. "Saya mau nawar." gitu ya. "Saya 45:39 mau nawar, saya mau beli." Saya bilang, 45:41 "Kerjanya apa, Bu?" "Saya jualan roti." 45:43 Ini kisah nyata juga. Maksudnya 45:46 eh saya bilang, "Oh iya, Bu." Karena 45:48 kita sudah memang sudah pasrah ya, itu 45:50 ada satu apa namanya ilmu ya, kekuatan 45:53 ilahilah ya. 45:54 Saya benar-benar eh 45:56 yang gerakin orang itu untuk membeli, 45:57 untuk menggerakkan itu Allah gitu. Dia 46:00 bilang, "Oh." Akhirnya dia nawar. Dan 46:02 saya enggak memikirkan itu, oh, ada 46:04 sesuatu eh di balik ini gitu ya. Dia 46:06 nawar dan lain-lain. Terus setelah 46:09 selesai itu, akhirnya dia eh apa namanya 46:12 dia bayar ke bank gitu. Eh, dia bayar 46:14 ada cicil, cuman cicilnya sedikit gitu. 46:16 Dia punya uang ratusan juta di 46:18 rekeningnya, 700 apa 800 juta saya lupa. 46:21 Tapi 46:22 setelah itu 46:24 eh dia bayar gitu ya. Dicicil berapa 46:26 tahun, 2 tahun apa 3 tahun dan cukup 46:27 besar cicilannya. Setelah selesai saya 46:30 lihat rumah saya eh yang saya jual itu 46:32 sudah di 46:33 dibongkar, dihancurkan dengan eh vila 46:36 seperti istana lah gitu ya. Ya, 46:39 lumayan ya rumahnya lumayan bagus gitu 46:41 ya, minimalis tapi dihancurin sama dia 46:43 diganti istana. Itu saya 46:45 bongkar bagaimana ini eh saya melihat 46:47 seseorang ternyata itu di dirubah eh 46:50 persepsinya ya dengan sesuatu yang 46:53 eh di balik itu ya. Saya tanya-tanya, 46:55 akhirnya saya tanya sama tetangganya, 46:57 "Ini orang ini, Ibu ini apa kerjanya?" 46:59 gitu ya. 47:00 "Emang tukang roti?" Iya, benar tukang 47:01 roti tapi yang punya eh semacam Holland 47:03 Bakery itu yang di di banyak gitu eh 47:06 ruko-ruko itu eh semacam Holland Bakery 47:08 seperti itu gitu ya eh Global Bakery 47:11 atau apa, besar gitu ya pokoknya. Oh, 47:13 jadi sesuatu yang eh yang kita itu 47:16 lihat, 47:17 nah iya tetap belum tentu 47:20 [tertawa] 47:20 apa yang memang tergambar gitu ya. Kita 47:23 sering tertipu oleh sesuatu yang kita 47:24 lihat gitu ya, itu indrawi ya. Indrawi 47:26 yang sangat terbatas gitu ya. Jadi 47:29 ada eh satu eh hal ketika kita 47:33 benar-benar eh natural authority kita 47:35 juga main gitu ya yang tadi Mas Dedy 47:37 bilang gitu ya. 47:39 Kita itu meninggalkan apa yang kita 47:42 nanti 47:43 eh kita tinggalkan ya jariyah, ilmu 47:45 kita, bukan apa yang kita pengin 47:48 tampilkan gitu ya. Jadi eh kamera bisa 47:51 berhenti menyorot gitu ya, tapi ilmu 47:53 kita, jejak kita kayak Purbaya apa yang 47:55 ditinggalkan itu masih sampai sekarang 47:57 itu orang masih masih berasa. Itu yang 47:59 yang yang mungkin eh sedikit Pak Trisna. 48:02 Oke, Pak Dedi Rahman silakan mungkin ini 48:05 tambahkan. 48:07 Jadi memang eh pada saat saya 48:09 meng-handle klien, ada yang terjadi 48:11 memang perlu melakukan perubahan eh 48:14 branding gitu kan ya. 48:17 Cuma biasanya dari awal saya mengukur 48:19 branding itu 48:21 salah satu tools-nya itu menggunakan eh 48:23 12 archetype karakter. Jadi setiap orang 48:27 itu ada karakter-karakter yang didominan 48:30 dalam dirinya sesuai DNA-nya 48:32 dan itu yang saya bangun sebagai 48:34 branding. 48:35 Dan ini biasanya saya sesuaikan dengan 48:37 dapilnya atau kon-calon konstituennya. 48:40 Kalau cocok, maka itu saya langsung saya 48:42 pakai. Tapi kalau enggak cocok, itu 48:44 digeser sedikit kepada karakter-karakter 48:46 yang lebih cocok tetapi masih dimiliki 48:49 oleh kandidat tersebut. Sehingga 48:52 eh kita fokus untuk mengembangkan 48:54 karakter eh branding yang sesuai dengan 48:58 dapilnya gitu kan ya. 49:00 Sudah dapilnya, kita bangunin seperti 49:02 itu. Nah, pada saat kemudian berjalan, 49:05 bisa saja membutuhkan ternyata 49:07 eh pergeseran branding. 49:10 Misalkan 49:11 eh sebagai contoh eh KDM ya. KDM itu 49:15 sebelum jadi gubernur maka branding dia 49:18 itu kalau dari 12 archetype itu namanya 49:21 caregiver. Jadi gampang menolong gitu 49:24 kan ya. 49:25 Murah hati dalam 49:27 sangat mudah lah eh menolong, memberi 49:30 uang, segala macam, berbagi gitu kan ya. 49:32 Itu yang dia bangun sebagai caregiver 49:34 gitu kan. 49:35 Tapi begitu sudah jadi gubernur 49:39 dia bergeser sedikit itu menjadi eh hero 49:43 ataupun bahkan the ruler. Bagaimana dia 49:46 mulai keras gitu. Dia mulai keras kepada 49:50 orang-orang yang melanggar. 49:52 Langgar, merusak gitu kan ya 49:55 melanggar, tetapi dia masih dalam satu 49:58 satu kerangka pemikiran bahwa 50:01 baik Caregiver itu peduli pada 50:04 masyarakat tetapi juga yang The Ruler 50:06 yang keras itu juga karena kepeduliannya 50:09 pada masyarakat juga 50:10 Hmm, sama ya. 50:11 Style-nya bisa berbeda 50:13 style-nya berbeda, branding-nya berbeda, 50:15 tetapi karena misi sesungguhnya itu sama 50:19 dia masih bisa ber 50:20 dapat 50:21 beda misalkan kalau di Capres kemarin 50:24 untuk mendapatkan anak Gen Z itu butuh 50:28 branding yang lucu-lucuan 50:31 Hmm. 50:31 istilahnya Jester, maka muncullah Gemoy 50:34 segala macam tetapi secara karakter si 50:38 Bapak tersebut itu dari dulu itu The 50:40 Ruler jadi memang dia keras gitu 50:43 cuma dengan cara keras enggak 50:45 menang-menang 50:46 akhirnya dirubahlah gitu kan ya, dirubah 50:49 untuk misal mendapatkan suara tertentu 50:52 begitu sudah dapat 50:53 dan jadi eh Presiden ya tentu akan 50:57 kembali ke karakter awal 50:58 Oke. 50:59 itu sebagai The Ruler gitu kan ya 51:01 sebagai The Ruler bahwa memang bisa 51:03 diganti memang bisa cuma kalau 51:06 pergantian itu tidak sesuai DNA-nya gitu 51:10 kan ya 51:11 maka itu jadi imitasi, tidak lagi 51:14 otentik dia tidak bisa bertahan cukup 51:17 lama, enggak bisa konsisten gitu kan ya 51:20 nah kalau ditanya bisa berubah bisa 51:22 berubah apakah perlu berubah? perlu 51:24 berubah juga gitu kan ya tetapi apakah 51:27 itu bisa konsisten? nah itu belum tentu, 51:29 tergantung dari perubahan 51:31 yang terjadi terhadap DNA karakter dia, 51:34 nah itu 51:35 eh 12 Archetype karakter itu ada di buku 51:38 saya yang judulnya Branding for Public 51:40 Leader 51:40 Mantap. 51:42 dijelaskan 51:43 dan setiap karakter itu juga dija 51:46 diajarkan bagaimana cara membangun 51:49 branding-nya itu dari nol sampai menjadi 51:52 apapun tujuannya lah, mau jadi kepala 51:54 daerah, mau jadi caleg segala macam. 51:57 Kira-kira gitu. 51:58 Baik, terima kasih Bang Habib dan Pak 52:00 Dedy, kelihatannya sudah terjawab semua 52:02 nih yang nanya semua laki-laki semua ya, 52:04 kenapa ini? Rudi, Toto, 52:06 Andi, Hero, Wawan. 52:11 Apa perempuan enggak perlu branding ya? 52:13 Oke. 52:14 Terima kasih Bang Habib, Mas bisa 52:16 diambil kesimpulan 52:17 siaran hari ini, silakan Bang Habib. 52:20 Tiga menit saja. 52:21 Bagaimana kita sibuk membangun nama 52:24 sampai lupa membangun nilai di balik 52:26 nama itu. Jabatan kita bisa hilang, 52:28 perusahaan bisa tutup gitu ya, 52:30 lingkungan kita bisa berubah gitu ya, 52:31 orang tadinya muda jadi tua gitu ya, 52:33 cara melihat kita 52:35 terkait apapun gitu bisa berubah, tapi 52:38 kalau atribut itu dilepas dari diri 52:40 kita, jabatan, gelar, fasilitas, 52:42 popularitas, apa yang masih orang buat 52:44 percaya sama kita gitu ya. Sebetulnya 52:46 itulah 52:47 bagaimana personal brand itu diuji ya, 52:50 bagaimana brand itu yang kuat bukan 52:52 cuman pada saat kita punya anak buah, 52:54 punya panggung gitu ya, 52:56 tapi ketika panggungnya sudah berubah 52:58 gitu ya, kompetensi kita tetap dibawa, 53:00 integritas tetap ada, 53:02 cara memperlakukan manusia itu tetap 53:04 kita 53:05 baik gitu ya. Nah, bagaimana pekerjaan 53:09 orang itu bagaimana mengingat kita dan 53:11 kerjaan kita, semua amalan kita itu 53:14 berdampak gitu ya, bagaimana personal 53:16 branding yang tadi dibahas sama Mas Dedy 53:18 dan 53:19 eh kita semua itu bagaimana membuat 53:21 nilai yang kita miliki itu konsisten 53:24 gitu ya, bagaimana orang kenal dan 53:26 bagaimana kita enggak perlu jelasin 53:28 orang sudah tahu dan berdampak gitu ya. 53:30 Mudah-mudahan terus sampai 53:32 generasi-generasi setelah kita, bahkan 53:34 kalau kita enggak ada pun itu bisa terus 53:37 di manfaatkan oleh orang, itu namanya 53:39 jariah gitu ya. Jadi, jangan terlalu 53:41 sibuk membangun personal brand, 53:43 bangunlah pribadi yang layak dipercaya 53:45 gitu ya. Kalau ilmu kita bermanfaat, 53:47 orang itu cari Allah kita bagus, orang 53:50 percaya gitu ya. Bagaimana, insyaallah 53:52 kita bangun bukan personal branding, 53:54 lebih lebih luas dari itu, tapi legasi 53:57 atau 53:58 eh warisan gitu ya. Nah, gitu ya. 54:01 Itu mungkin eh mudah-mudahan kita semua 54:03 diberikan kekuatan, diberikan ilmu yang 54:06 bermanfaat, dan diberikan nama yang 54:09 insyaallah terus eh baik gitu ya. 54:11 Ilmu-ilmu kita, jariah kita terus 54:13 mengalir. 54:14 Baik. 54:14 Terima kasih. 54:15 Baik, terima kasih Bang Ambi, Mas Dedy 54:17 Rahman, terima kasih atas sharing-nya. 54:21 Masyaallah, mudah-mudahan kita dapat 54:22 pengetahuan jadinya ya tentang branding 54:24 ini. Terima kasih, saya Muhammad Krisna, 54:27 juga Ondy Saputra, dan Algi mohon pamit. 54:31 Wabillahi taufik walhidayah, 54:32 wassalamualaikum warahmatullahi 54:33 wabarakatuh. 54:34 Waalaikumsalam.