Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:13 TV. [musik][bernyanyi] 0:18 Para pendengar radio di mana pun Anda, 0:21 sepertinya Bang Dr. Toni Rosid sudah ada 0:25 di ujung telepon. Kita akan berbincang 0:28 dengan beliau. Berbagai kisah lain akan 0:32 kita bahas bersama Dr. Toni Rosit. 0:35 Berikut ini. Bang Fahri sudah terhubung 0:38 di ujung telepon. Jempol sudah diangkat, 0:41 tanda sudah terhubung kita dengan Mas 0:44 Toni Rosid. Asalamualaikum 0:46 warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar 0:49 Mas Toni Rasyid? 0:51 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:53 wabarakatuh, Pak Ihsan dan seluruh kabar 0:56 baik. Alhamdulillah. 0:57 Alhamdulillah. Ini radio kita ini. 1:00 Amit kita yang belum baik ini karena Mas 1:03 Bapaknya marah karena bapaknya mungkin 1:05 salah urusan anak sama bapak ini masih 1:08 pula. Anak Krakatau pula lagi ya. Ini 1:11 ini dia emang nepotisme ini bahaya 1:14 rupanya. Sampai ke gunung pula ya. Ada 1:16 gunung ibu juga di sana tuh di NT di 1:18 mana? Indonesia Timur ya. Ibu, Bapak 1:21 juga, Pak, para pendengar ingin 1:24 mendengar nih kisah dari berbagai cerita 1:27 di antara kisah ya ini. Oh, iya ini hari 1:30 e 17 tahun Radio Silaturahim Milad Mas 1:33 Toni ini. Mudah-mudahan selalu istikamah 1:36 ya. Allah memberikan selamat untuk radio 1:39 Rasil Miladnya yang ke-17. Amin. 1:42 Semoga semakin besar memberikan 1:45 kontribusi bagi umat dan bangsa ini. 1:48 Rasil semakin maju, rasil semakin ee 1:52 bisa diterima, rasil semakin bisa meluas 1:56 manfaatnya untuk umat dan untuk bangsa. 1:59 Terus menjaga semangatnya ee semangat 2:02 persatuan dan semangat kemajuan 2:05 untuk Islam yang satu. Mantap. Terima 2:07 kasih, Mas Toni. Mas Toni [berdehem] 2:10 ada buku baru. Sudah baca belum, Mas 2:12 Toni? Nih e apa nih buku Islam ala-ala 2:16 Prabo. Ini pada uring-uringan pula 2:19 termasuk lembaga zakat. Kata orang, 2:21 "Wah, jangan-jangan dari uang zakat nih. 2:23 Akhirnya tambah susah ini menghimpun 2:24 zakat." Ada yang bilang, "Kata Yusuf 2:27 Begur, ini mestinya Prabo seolah-olah 2:30 Islam." Banyak pula cerita di balik 2:32 cerita ini menjadi sorotan luar biasa. 2:36 Ay a wa ini cerita ya. Tapi cerita MBG 2:40 yang enggak pernah habis-habisnya. 2:42 sampai ada pertanyaan sampai berapa sih 2:44 korbannya itu harus di ee publikasikan 2:48 sehingga mau tarik rem tangan untuk yang 2:50 satu ini menjadi cerita yang belum 2:53 selesai-selesai dari cerita gizi yang 2:56 nampaknya harapan bangsa ini kekurangan 2:59 giznya 3:01 itu pada pinjol pinjaman online sampai 3:06 105 triliun ya kalau duit yang orang 3:10 terkaya di Indonesia itu 17,6 triliun 3:12 sudah dikirim ke luar negeri. Tapi 3:15 rakyat Indonesia yang miskin yang bayar 3:17 pajak seabrek-abrek ini 105 triliun itu 3:21 menyedot dana pinjol. Innalillah. 3:24 Ya, begitulah. Benarkah ketika 3:27 kemiskinan menjadi modal politik? Karena 3:30 kemiskinan dengan nilai jini yang sudah 3:32 hampir 4% ini nampaknya menjadi sebuah 3:36 sorotan. Tapi apa yang Mas Ton dilihat 3:39 dari Hang Henghong yang terjadi 3:43 bersamaan dengan keadaan bangsa ini 3:45 belum lagi diiringi berbagai bencana 3:47 yang terus bergulir pagi hari ini. Kabar 3:50 terus tidak kelar-kelar. Silakan Mas 3:53 Toni Rosit. Oh iya ada kode dari AHY 3:58 pemimpinan tidak selamanya. Wah, ini 4:01 juga menjadi sebuah cerita lain yang 4:04 menjadi sorotan para politisi menjelang 4:07 202. Silakan Mas Toni Rosid untuk 4:11 memberikan tanggapan atau catatan 4:13 perhatiannya. Tafadol Mas Toni. 4:16 Baik, [mendengus] terima kasih Pak Ihsan 4:17 dan seluruh pendengar hasil. Kita mulai 4:19 dari buku ya. 4:22 Nah, buku ini menarik gitu kan. Tapi 4:24 Rasel enggak dapat proyeknya ya. 4:26 [tertawa] 4:29 Ini entar jadi kalau buku itu kan hal 4:32 yang 4:32 ada ada urusan Umar bin Abdul Aziz pula 4:35 lagi. Dulu ada Umar bin Khattab ya. Ini 4:37 Umar bin Abdul Aziz. 4:38 Iya. [berdehem] 4:39 Jadi cara ya ini perlu diluruskan dari 4:44 awal ya. Setiap umat itu kan punya cara 4:47 di dalam mengekspresikan agamanya, 4:50 mengekspresikan imannya siapapun itu 4:52 gitu kan ya. termasuk umat Islam ee 4:55 personalnya itu punya cara masing-masing 4:59 di dalam mengekspresikan 5:00 ee cara itu dia Islam dengan cara salat, 5:05 ritual, Islam dengan cara tidak salat 5:08 itu kan macam-macam. Islam dengan cara 5:10 puasa, Islam dengan cara banyak sedekah, 5:13 Islam dengan cara berjuang ee membangun 5:16 satu NGO berbasis Islam, masuk ke ormas. 5:20 soal kemudian mereka di ormas itu 5:23 berkontribusi atau nyari makan di ormas 5:24 itu soal cara saja yang berbeda antara 5:27 satu dengan ee yang lain. Dan menurut 5:31 saya Prabowo adalah seorang muslim yang 5:33 memiliki cara untuk berislam 5:35 mengekspresikan keimanannya dengan 5:37 caranya dan itu adalah hak Prabowo. ah 5:40 soal kemudian itu ditulis di dalam 5:42 sebuah buku gitu loh atau nanti akan 5:45 ditulis dalam sebuah artikel dikaitkan 5:47 dengan keislaman Prabowo itu sah-sah 5:49 saja. Cuman satu hal yang harus menjadi 5:52 sebuah prinsip itu harus objektif, harus 5:54 jujur gitu loh. Ya. Jadi Islam Pak 5:59 Ihsan, Pak Andi itu dengan Islamnya 6:02 siapa itu namanya? Ee yang walikota New 6:06 York itu kan tetap berbeda cara 6:08 mengekspresikannya kan. He 6:11 iya. Islamnya Pak Prabowo dengan 6:12 Islamnya Habib Riz tentu berbeda. Yang 6:15 salah adalah kalau itu ditulis tidak 6:18 sesuai dengan apa yang ada. He. 6:21 Kalau itu sesuai dengan apa yang ada, 6:23 kalau kemudian kekeliruhan itu karena 6:25 persepsi yang tidak disengaja, menurut 6:28 saya bisa dimaklumi, bisa dipahami. Tapi 6:31 kalau kemudian menyimpangkan persepsi 6:34 dengan secara sengaja itu yang di tidak 6:36 bisa dipahami. 6:38 Mungkin karena sebuah penilaian ya satu 6:42 hal itu mungkin tidak detail, mungkin ya 6:46 kurang komprehensif atau tidak apa 6:50 adanya gitu kan yang sehingga kemudian 6:52 mendapatkan ee respon ke ee sangat luas. 6:56 Yang kedua adalah ya ee Islam ala 7:00 Prabowo ditulis oleh orang yang kalah 7:03 dalam muktamar. [tertawa] Akhirnya yang 7:05 lain-lain gitu kan. Aku enggak ikutan. 7:08 Enggak ikutan. Coba yang menulis itu 7:10 menang di Mtamar misalnya itu berebut. 7:12 Oh iya itu itu wawancara sama aku itu. 7:15 Ini sudah punya makna politis. Jadi 7:17 bukan pada substansi isi buku itu, 7:21 tetapi sudah pada sebuah apa namanya? Ee 7:25 ada apa ada unsur politik karena itu ada 7:29 dampaknya dari tulisan itu dan 7:31 sebagainya itu kemudian membuat ramai. 7:33 Lalu kemud karena ini ramai biasalah 7:35 orang Indonesia itu kan bes apalagi 7:37 kondisi sekarang banyak pengangguran 7:39 gitu kan ributlah kemudian dios masuklah 7:41 ke Basnas masuklah ke yang lain-lain ya 7:45 biasa Pak Ihsan kalau namanya kalah itu 7:48 orang pada lari misal gubernur jadi 7:50 gubernur orang mendekat setelah tidak 7:52 jadi gubernur orang menjauh gitu kan 7:54 begitu juga kita lihat Pak Jokowi jadi 7:57 presiden. Wah itu begitu banyak 7:59 lingkarannya itu ketika tidak jadi 8:02 presiden. banyak orang yang kemudian 8:04 saya tobat meskipun telat ya kan menurut 8:06 saya ee inilah karakter ee banyak 8:09 karakter orang Indonesia yang semacam 8:11 ini. Tapi lepas dari itu ini menjadi 8:14 sebuah pelajaran gitu kan. Hati-hati 8:17 kalau kemudian ee melibatkan tokoh ya. 8:22 Ya. Tokoh bisa jadi tokoh itu menang 8:24 bisa jadi tokoh kalah. Pada saat ini 8:26 tokoh itu menang yaitu Pak Prabowo ya. 8:29 Tapi sayangnya yang nulis kalah kan 8:30 masalahnya itu. Kemudian yang lain 8:32 menghudar. Nah, ini lebih ke arah situ 8:36 ya. Diskusi yang selama ini terjadi 8:39 lebih banyak kepada urusan proses, bukan 8:42 urusan substantif gitu loh. Urusan 8:44 mekanisme, bukan urusan materi. Ini yang 8:47 harus menjadi sebuah pelajaran dan kita 8:49 terus-menerus itu menandakan bahwa ee 8:52 memang otak kita itu otak mekanik gitu 8:55 kan ya. bukan otak bukan otak substantif 8:58 gitu loh. Itu itu satu hal. 9:00 Kemudian yang kedua soal keracunan gitu 9:03 kan. 9:04 Nah, masyarakat kita kan memang 9:07 masyarakat aksiologis tahunya pokoknya 9:09 kalau menjadi apa? surga gitu loh. 9:12 Tapi epistemologi upaya untuk membangun 9:15 surga itu apa? Nah, itu enggak 9:17 bicarakan. Nah, masuk ke pada MBG ya. 9:21 MBG ya orang yang sering berpikir di 9:24 hulu ini keracunan. Tapi apa yang 9:26 menyebabkan keracunan selama ini enggak 9:28 diungkap. 9:29 Hm. Itu 9:31 mestinya kan diungkap ini keracunan, 9:33 besok keracunan lagi, besok keracunan 9:35 lebih ya. 9:37 Apa yang salah di sini? 9:38 Heeh. Ada yang salah? 9:39 Iya. Apa yang salah di sini? Tapi kita 9:42 diskusinya ributnya ramainya soal 9:44 keracunan dan jumlah angka keracunan 9:47 ribuan. 9:48 E tetapi faktor apa yang menyebabkan 9:51 keracunan ini tidak kita bicarakan. 9:54 Hm. itu itu menunjukkan memang otak kita 9:57 otak instan. Otak masyarakat Indonesia 9:59 pada umumnya otak instan. 10:01 Riuh di dalam sebuah keramaian yang di 10:04 hulu ya tetapi tidak dihilir ya tidak 10:08 kemudian melacak dari hulunya. Apa 10:11 penyebabnya ini akibat dari faktor apa 10:14 ini tidak pernah kita pikirkan dan 10:16 kemudian menjadi diskusi publik. He 10:18 ya mestinya diskusi publik itu ya pada 10:21 hal-hal yang ee tidak hanya ee dihilir 10:25 tetapi juga khulu ya. Itulah yang 10:27 membedakan antara orang yang cerdas yang 10:29 tidak cerdas 10:30 ya. Kenapa tidak cerdas? Ya gimana mau 10:33 cerdas gitu loh ya. Dana pendidikan 10:35 diambil 10:36 gimana anggaran pendidikan diambil 10:38 gimana mau cerdas gitu kan sarjana kita 10:41 sedikit gimana mau cerdas SDM kita itu 10:43 jauh IPM kita indeks indeks pembangunan 10:46 manusia kita Pak Isa kan itu 72 10:50 sementara Thailand saja itu 79 Malaysia 10:54 itu itu 81 10:56 apalagi kemudian Singapura jauh kita 11:00 ya ini kan persoalan hulu gitu loh 11:02 ada persoalan hulu dulu yang kemudian 11:05 kita tidak pernah serius untuk 11:07 menanganinya. 11:09 Jadi kalau torn itu kotor, Pak gitu apa 11:12 kalau kran itu mengeluarkan air kotor 11:14 jangan bicara jenis krannya. H 11:18 jangan bicara arah besar kecilnya. 11:20 Karena berpikirlah ini air dari mana, 11:24 sumbernya dari mana, ini menjadi kotor. 11:27 Ya, kalau kalau para pejabat kita, para 11:29 pemimpin kita ya berpikirnya masih 11:32 dihilir, masyarakat juga akhirnya 11:35 berpikir dihilir. Riuh tidak pernah 11:37 menyelesaikan persoalan, hanya saja 11:39 menunggu persoalan ini berulang, 11:41 berulang terus, berulang terus, berulang 11:44 terus gitu. Akhirnya negara kita stuck, 11:46 tidak pernah bergerak. 11:48 Ah, mari kita mengubah mindset kita, 11:51 mengubah cara berpikir kita. Kalau ini 11:53 tidak berubah, maka ee kejadian ini akan 11:56 berulang dan tidak teratasi. Jadi, bukan 11:59 J hanya ini hentikan dulu. DPR juga 12:01 gitu. Ini hentikan dulu eh masalahnya 12:03 apa dulu. 12:05 Soal kemudian diambil keputusan. 12:07 Keputusan itu kan berbasis kepada hasil 12:09 risetnya. 12:10 hasil riset itu telah menjadi 12:12 rekomendasi untuk membuat keputusan ini 12:14 dihentikan ya. Kalau dihentikan itu 12:17 semuanya atau separuh dihentikan sampai 12:19 kapan tahu dulu masalahnya. 12:22 Itu kan masalahnya ee teman-teman di 12:24 anggota DPR banyak yang ee SMA-nya pakai 12:28 apa paket C masalahnya. [tertawa] 12:30 Nah, teman-teman tidak semua ya semuanya 12:32 bagus-bagus ya tapi ada yang paket C 12:35 kadang-kadang ngomongnya gitu kan. Ada 12:37 tiba masa datang akal ya. Iya, ituang 12:40 banyak keputusan yang tiba masa datang 12:41 akar. Kemarin saya baru pulang dari 12:43 Jogja, saya lihat beberapa itu apaan? 12:45 Gedung gudang beras 12:47 telusan di atas saya koperasi merah 12:49 putih. Oh, benar ya. Yang aneh-aneh aja 12:52 tempatnya. Itu kayaknya protes kepala 12:56 desa tuh kepada pemerintah tentang ini. 12:59 Abang banyak yang aneh-aneh gitu, Bang. 13:01 H. 13:01 Iya. Gini, Pak. Soal KMP itu, Pak Isan, 13:04 sudahlah kita enggak usah bicara proses 13:06 dulu, ya. KMP itu ngambil dana itu kan 13:10 agrenas kemudian pinjam kepada bank lalu 13:13 nanti dicicil 500 juta itu dana desa 13:17 dipakai selama 6 tahun. Kita baru bicara 13:20 itu. 13:21 Gimana daerah itu mau membangun, gimana 13:23 daerah itu memutarkan dana. Udahlah awam 13:26 saja kita menggunakan analisis ee 13:29 ekonomi makro enggak ketemu itu 13:32 [berdehem] 13:33 gitu kan. Enggak ketemu 13:35 ya. kalau kemudian bukan hanya lurah 13:37 yang ini, tapi masyarakatnya. Hanya saja 13:40 masyarakat yang memahami bahwa ya 13:42 pembangunan desa itu berhenti, uang 13:45 berputar di desa itu jauh berkurang yang 13:48 kemudian akibat nasionalnya itu 13:49 pertumbuhan ekonomi otomatis juga ikut 13:51 berkurang ya 13:53 dan ee deflasi kita sudah bertahun-tahun 13:56 deflasi ya Pak daya beli masyarakat itu 13:59 rendah daya beli masyarakat rendah kalau 14:02 bertahun-tahun itu otomatis akan 14:04 menciptakan efisiensi korporasi. Evensi 14:07 korporasi itu jalan yang paling pintas 14:11 ya memphk. Kalau PHK lari lagi muncullah 14:15 kemudian pengangguran, kemiskinan ya ee 14:18 daya beli makin muncul dan ini akan 14:20 menjadi sebuah akumulasi. KMP ini 14:22 tinggal tunggu meledaknya mungkin tahun 14:24 depan 14:25 ya melihat prosesnya seperti itu. Bu 14:28 Iya. Ya, lebih jelas kayak gubernur 14:31 Sulawesi Tengah nih, Anwar Hafid ya, 14:34 yang menggratiskan seluruh pendidikan. 14:36 Tapi kan jarang gubernur bisa beraction 14:39 kayak gini bahkan sampai S3 katanya 14:41 warganya. Masyaallah. [tertawa] Ya, 14:43 saya belum cek, Pak. Saya belum cek. 14:45 Yang pasti Kalimantan Timur itu sudah 14:48 menggratiskan S1 sampai S3 sejak tahun 14:50 kemarin. 14:51 Nah, itu 14:52 cuman yang terekspos itu mobil 8 miliar. 14:56 [tertawa] 14:56 Tapi gagasan-gagasan yang seperti ini 14:59 itu satu-satunya dulu enggak tahu saya 15:01 belum cek itu apakah betul Akwar Hafiz 15:03 itu 15:04 dia menggratiskan. 15:05 Kalau Kaltim saya sudah cek saya tahu 15:08 persis bahwa memang S1 sampai S3 sudah 15:12 berjalan 2 tahun ini gratis. 15:13 Iya. Kalau Jakarta wajar demikian 15:15 Jakarta ya tapi memang 15:18 Jakarta belum. Itu SMA apa 15:22 itu aja sudah baru uji coba SMA swasta. 15:25 Hm. SMA gratis, SMA Swat B. 15:28 Kalau Kaltim, 15:29 Heeh. 15:29 SMA bukan hanya gratis, mereka dapat 15:32 tas, mereka dapat baju, mereka dapat 15:34 sepatu. 15:35 Nah, itu coba nih didengar sama 15:37 kepala-kepala ee daerah. Ini kan radio 15:40 dari Aceh hingga Banyuwangi nih, Mas 15:42 Toni. Luar biasa 15:43 sampai New York ya. [berdehem] 15:44 Sampai New York. 40 negara hari ini. 15:47 Tapi yang lebih dari 10 itu kurang lebih 15:50 20 negaralah. Yang lainnya dua tiga 15:52 pendengar ya. termasuk Israel dua 15:54 pendengarlah begitu ya. Tah dia lagi 15:56 siapa dengar 15:57 Israel ada juga ya 15:57 ada juga yang dengar itu dua sekarang 15:59 satu tanya aku itu yang dengarkan 16:01 [tertawa] 16:03 henteu nyaho dia. Dia kalau dengar kita 16:05 nyaho ya tapi ee luar luar biasa tah di 16:08 tengah itu semua pinjol ini luar 105 16:12 triliun Bang ini apa ini? Ini kan riba. 16:16 Ini kan pasti rib lah kalau pinjol ini 16:19 kan. Bahkan sampai berpuluh persen dalam 16:22 sebulan ini. Ini menjadi sebuah fenomena 16:25 yang luar biasa. Malu kadang-kadang 16:28 kalau sudah macet tapi kok tingkat 16:30 kemacetan 4,32%. 16:32 Ini jadi garu-garu kepala pula kita. 16:34 Gimana Mas Toni melihat fenomena ini? 16:36 Pak 16:36 pinjol ini kan akibat Pak, bukan sebab. 16:40 Ini itu 16:41 kalau orang itu susah 16:43 H 16:43 kepepet mau pinjam ke mana? 16:46 Betul. 16:47 Heeh. 16:47 Ya UMKM aja, Pak. Ini yang normal. UMKM 16:51 aja. Mau pinjam ke bank 16:54 usaha mikro ya. Usaha kecil UMKM. Mau 16:58 pinjam ke 17:00 mau pinjam ke bank enggak bisa. 17:02 Apalagi itu itu Mas yang sawah yang 17:06 sawah apa tuh? daerah hijau mau 17:08 dijadikan agunan enggak bisa pula kan 17:10 daerahnya pertanian Bang gak mau jual 17:13 siapa katanya. [tertawa] 17:14 Iya. 17:15 Iya. Maksud saya begini [berdehem] 17:17 saya sih enggak kaget kalau 105 triliun 17:19 besok berapa 200 triliun enggak kaget 17:22 Pak ya. Karena bukan berapa triliun, 17:25 problemnya adalah masyarakat kita 17:27 kemudian miskin gitu kan ya aturan 17:31 pinjel tidak ketat 17:33 kan itu masyarakat kita miskin cari dana 17:36 yang instan 17:38 kalau pinjolnya adalah mereka yang punya 17:40 pekerjaan kemudian bisa membayar ini kan 17:42 pinjol macet orang yang tidak punya 17:45 pekerjaan kebutuhan mendesak mau tidak 17:48 mau kemudian mereka pinjam pincol itu 17:51 adalah peminjaman yang tanpa seleksi 17:53 ketat 17:54 ya, akhirnya mereka mendapatkan dana 17:57 instan gitu kan. Ketika dana instan 17:58 mereka dapatkan pergunakan paling tidak 18:00 masalah ee sementara selesai dan orang 18:04 Indonesia yang punya masalah apalagi 18:06 kondisi sekarang itu banyak banget. 18:09 Ketika mereka sudah tidak ada jalan 18:10 buntu mereka kepinjol mereka doa gak 18:14 dapat duit juga. 18:15 Ini yang dimaksud nilai jini ya Mas. 18:17 Heeh. nilai jin yang semakin jauh. 18:21 Pada akhirnya mereka kepada pinjol. 18:24 Kalau masyarakat kita itu ee sejahtera 18:27 gitu, dengan sendirinya pinjol mati. 18:30 Hm. 18:30 Dengan sendirinya pinjol itu menyusut 18:32 kemudian mati. Tapi kalau masyarakat 18:34 kita punya problem ekonomi yang akut 18:36 gitu kan, sementara ada orang kan nyari 18:39 kesempatan untuk menyelesaikan persoalan 18:41 secara instan atau persoalan yang segera 18:43 untuk diselesaikan dan pinjol memberikan 18:46 apa memberikan ruang di situ ketemu 18:49 tumpu tuntut dan itu merupakan hukum 18:52 sosial akan terjadi seperti itu. Kalau 18:55 mau mengurangi pinjol, caranya itu 18:57 adalah bikin masyarakat sejahtera, bikin 18:59 masyarakat lapangan kepekerjaan, dorong 19:02 masyarakat untuk mendapatkan ee 19:05 pendapatan yang layak. Otomatis pinjol 19:07 itu akan mati. Kalau [berdehem] keadaan 19:09 seperti ini ya pinjol juga karena 19:12 peminatnya lebih banyak daripada 19:13 pinjolnya ditekan itu apa namanya hukum 19:17 harus berjalan. boleh memberikan 19:19 pinjaman dari dengan syarat yang lebih 19:21 ketat sehingga orang-orang yang punya 19:23 potensi tidak bisa bayar tidak boleh 19:26 dipendidikan. 19:28 Kalau kemudian pinjolnya itu sendiri 19:31 pada akhirnya ee melanggar aturan 19:34 kebijakan apa pemerintah ya maka apa 19:38 yang kemudian harus dilakukan ya 19:40 lindungi mereka yang jadi korban gitu 19:42 masyarakat 19:44 kita terhadap memang kemiskinan dipiara 19:48 karena memang ini jadi modal politik 19:49 pula itu macam mana Mas Toni ada yang 19:51 pendapat begitu bukan dipelihara 19:54 kemiskin nanti didorong supaya lebih 19:55 banyak [tertawa] 19:57 gitu kan ya. Kalau kita membuat 19:59 kebijakan-kebijakan itu bukan hanya 20:01 memelihara kemiskinan, mendorong 20:04 pertumbuhan kemiskinan. 20:06 Ini kan soal P perlu perlu dievaluasi 20:09 kebijakan-kebijakan itu. Jadi ee Pak 20:13 Ihsan dan seluruh pendengar Rasil gitu 20:15 kan ya 20:16 semua ada teorinya. 20:18 Semua ada teorinya. Jadi kalau sekarang 20:21 kebijakan seperti ini terkaitan dengan 20:23 ekonomi, maka akibatnya akan seperti 20:26 apa? Dampaknya akan muncul seperti apa? 20:28 Pertumbuhan ekonomi akan seperti apa? 20:30 Kemudian nasib korporasi seperti apa? Ee 20:33 kemudian ee apa namanya? Income 20:36 perkapitakan seperti apa. Semua tahun 20:39 depan sudah bisa kita prediksi hari ini 20:41 dari anggaran 20:42 ya. Dari anggaran [berdehem] 20:43 ee APBD. Ee coba kalau misalnya besok 20:47 misalnya ee untuk TKD dana transfer ke 20:50 daerah ya ee 20:53 kan rencana mau dikurangi R4 triliun itu 20:56 187 triliun sekarang dicut enggak enggak 21:00 dikurangi ditambah TKD-nya tumbuh 21:03 ekonomi itu 21:04 jadi berpikirnya bukan mengalihkan tapi 21:08 berpikirnya membuat program baru dengan 21:10 dana baru bukan dana yang sudah ada. 21:13 Heeh. 21:13 Jadi kalau ini kan seperti kita 21:15 mengelola fiskal rumah tangga. 21:17 Di dalam fiskal rumah tangga itu ada 21:21 pengeluaran rutin. 21:22 Nah, kalau kemudian kita yang jelas ya 21:25 pengelaran rutin baik itu konsumtif 21:27 maupun produktif sudah ada. Kemudian 21:29 kalau kita membuat program baru, apakah 21:32 itu program konsumtif atau program 21:33 produktif, maka jangan ambil ya yang 21:37 sudah ada anggaran yang sudah biasa itu. 21:40 Cari anggaran yang lain untuk kemudian 21:43 dikelola buat apa program baru. 21:46 H 21:46 ya. Kecuali 21:48 ya lama itu betul-betul enggak bisa 21:51 dipertahankan dan itu memborosan. Maka 21:54 kemudian dikurangi tapi pengurangan juga 21:56 tidak boleh drastis. ada proses sehingga 21:59 [berdehem] 22:00 ada stabilitas. 22:02 Hm. Ya, memang luar biasa. Eh, apa 22:06 langkah caturnya, [berdehem] Mas Toni? 22:09 Ada kalimat kekuasaan tuh ada akhirnya 22:12 yang ngomong bukan Mas Toni ini atau 22:15 Ustaz ya, tapi seorang ahaye. Ini jadi 22:19 ramai jadinya. Apa yang Mas Toni lihat 22:21 ini kok pada sibuk 202 sudah berbagai 22:25 kisah terus bergulir. Macam mana Mas 22:28 Toni melihatnya ini? Bang 22:30 begini Pak Ihsan. Kita kan sudah sering 22:33 kali dengar bisik-bisik para menteri 22:35 ini. 22:36 Iya. 22:37 Ya. Kalau kita bacanya media kaget. 22:40 H. 22:41 Tapi kalau kita membaca ee apa namanya? 22:44 Ee bertemu dengan mereka enggak kaget. 22:46 Hm. 22:47 Ya kan mereka [berdehem] di di luar. 22:49 Ahay pada cerita ada dua faktor. Yang 22:52 pertama adaah ya ee kekuasaan ini 22:56 meskipun mengakomodir berbagai 22:59 ee apa berbagai pihak, berbagai kelompok 23:01 dan berbagai 23:02 ee apa partai, tapi enggak kompak. 23:05 Hm. Ah, di situlah kemudian mereka 23:08 merasa ada distribusi kekuasaan yang 23:12 dirasa timpang 23:14 termasuk kepada partai-partai yang lain 23:16 yang ada di dalam gitu ya, yang ada di 23:18 dalam dan itu kan bisa dilacak itu MB 23:21 punya siapa gitu kan. Ini bisa dilacak 23:23 punya siapa proyek ini punya siapa 23:25 proyek itu siapa. Ada ketimpangan di 23:27 situ di dalam pembagian menu kekuasaan 23:31 maka kemudian ini fisik. 23:33 mereka kemudian mulai yang faktor kedua 23:35 mulai dapat momentum, dapat ruang. 23:36 Ruangnya itu apa ya? Ee Pak Prabowo itu 23:40 ya elektabilitasnya rendah. 23:42 Hm. H 23:44 gitu kan ya. Ee meskipun median terakhir 23:46 32% itu tempo itu [berdehem] ee 14 15% 23:52 dan 14% semi terbuka itu ee apa namanya 23:56 14 ee semi terbuka itu 15% tertutup 14%. 24:01 Uh. gitu kan. Sementara ada tokoh yang 24:04 meleji 42% KDM 24:07 [tertawa] 24:07 gitu kan. Nah, dalam konteks ini mulai 24:10 ada keberanian apalagi 202728 24:14 ketika tingkat kepuasan Pak kepada Pak 24:16 Prabowo rendah ya kemudian tingkat ee 24:20 apa namanya? Tingkat elektabilitas 24:22 rendah di mana? 24:24 Hm. Iya. 24:26 Ee apa namanya? 24:28 Eh elektibilitas rendah. Halo. 24:30 Elatasnya rendah. Heeh. 24:32 Ya, elitabilitas ee rendah gitu kan. 24:36 Kalau itu kemudian apa namanya? Ee 24:39 rendah, maka unek-unek kekecewaan 24:43 dari para ee orang-orang yang ada di 24:45 dalam itu kemudian muncul 24:47 ee dapat ruang dengan itu. Jadi, ada dua 24:50 hal. Yang pertama ada ketidakpuasan. 24:54 Kemudian yang kedua adalah ketidakpuasan 24:57 ini mendapatkan ruang muncullah orang 25:00 seperti AHY. 25:01 Jadi saya pikir AY itu mewakili banyak 25:05 partai sebenarnya banyak partai. Jangan 25:08 dilihat AHY-nya gitu loh 25:10 ya. Jadi kalau kemudian kita coba ikut 25:13 berbisik-bisik untuk cerita-cerita di 25:14 kamar sebelah Pak gitu kan ya. Orang 25:17 seperti AHY itu banyak gitu ya cuman 25:20 belum mendapatkan ruang. A itu sekarang 25:23 cuma nampaknya ya karena anaknya SBY ya 25:26 jadi ada kekuatan 25:28 bukan anak katau tapi berbicara gitu 25:31 kan. Jadi dua faktor. Faktor di mana 25:34 distribusi kekuasaan dianggap timpang 25:37 oleh mereka yang ada di dalam gitu kan. 25:40 Yang kedua mendapatkan ruang ee ee ruang 25:44 untuk bicara ketika rasa takut mereka 25:46 sudah mulai hilang ya. kecuali memang 25:49 ada Pak Prabowo elektabilitasnya tinggi. 25:52 Kemudian ee 25:55 kalau elektabilitasnya tinggi, kalau 25:57 eleknya tinggi berarti kan dua periode. 25:59 Kalau ada kepastian dua periode enggak 26:00 ada yang berani bicara itu enggak akan 26:03 muncul ahya-ahya yang lain. 26:05 Ee kisah terakhir Mas Toni 30 menit 26:08 sebagai penutup. Apa yang ingin Mas Toni 26:10 tulis atau ingatkan kepada seluruh 26:13 pendengar pemerhati bangsa yang Anda 26:17 lihat dari keadaan bangsa kita ini. 26:19 Silakan, Mas Toni Rasyid. 26:21 Iya. Ee bangsa ini ya neg ee masa depan 26:25 bangsa ini, masa negara ini itu bukan 26:27 milik penguasa tapi milik semuanya. 26:30 Karena itu kita semua memiliki tanggung 26:32 jawab yang sama, memiliki kewajiban yang 26:34 sama dengan proporsi yang berbeda-beda 26:36 antara penguasa dengan rakyat. Oleh 26:39 karena itu, apapun yang terjadi di 26:41 negara ini, mari kita ikut kontribusi 26:43 ya. Ee jangan ikut menambah beban, 26:46 jangan ikut menambah problem gitu ya. 26:48 Kan sudah terlalu banyak problem negara 26:49 ini. Mari kita ikut berkontribusi 26:52 memberikan sesuatu sesuai dengan ee apa 26:55 yang kita mampu untuk mengan termasuk di 26:58 antaranya seperti saya ee kalau kemudian 27:00 kita dukung pemerintah yang bagus-bagus, 27:02 kita support, kita ee apa namanya? Kita 27:06 dorong gitu. Tapi kalau kemudian perlu 27:09 masukin, kita kasih masukan, kita kasih 27:10 masukan. Masukan ya kita semualah 27:12 memberikan masukan supaya seandainya ada 27:15 salah tidak tidak terus masalah ya. 27:17 Seandainya ada yang benar kita dorong 27:19 makin kuat pemerintah untuk benar. Ini 27:21 semua untuk rakyat, untuk negara dan 27:24 untuk masa depan bangsa kita. 27:26 Insyaallah. Insyaallah. Terima kasih Mas 27:27 Toni Rasyid. Mudah-mudahan Allah 27:29 memberikan keberkahan dan selalu 27:31 mendampingi radio ini dengan penuh 27:33 ikhlas. Asalamualaikum warahmatullahi 27:35 wabarakatuh. 27:37 Waalaikumsalam