Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim,
- alhamdulillahirabbil alamin hamdan
- katsiron thayyiban mubarakan fih kama
- yuhibbu rabbuna [berdehem] wa yardho.
- Allahumma sholli wa sallim wa barik ala
- sayyidina Muhammadin wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Masih dipancarkan
- dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36
- Kalimanggis, Cibubur, Bekasi. Radio
- Silaturahim dan juga Rasya TV untuk
- Islam yang satu. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh ikhwan akhwat
- yang dirahmati Allah. Senang sekali di
- kesempatan ini kami kembali menjumpai
- ikhwan akhwat dalam program acara eh
- renungan di bawah naungan Alquran ya
- spesial live di kesempatan ini
- alhamdulillah
- guru kita Ustadz Husein Alatas hadir
- untuk memberikan tausiyahnya untuk kita
- semua.
- Ikhwan akhwat di hari eh Kamis ya
- sekarang hari Kamis bertepatan dengan 12
- Rajab 1447
- Hijriah ya.
- Ramadhan sekitar 40 harian lagi Ustadz
- ya masya Allah sudah dekat dan
- bertepatan juga dengan 1 Januari 2026.
- Momentum eh tahun baru Ustadz ya. Banyak
- yang eh menyikapinya ya biasa aja ada
- juga yang sampai merayakan
- padahal pemerintah sendiri istilahnya
- apa ya untuk menunjukkan empati lah
- tidak berlebihan karena banyak saudara
- kita terutama di Sumatera yang tengah
- eh diuji dengan musibah banjir bandang
- dan longsor sampai sekarang kan masih
- pada ya istilahnya menderitalah dengan
- musibah tersebut. Nah, momentum ini
- Ustadz bukan hanya sekedar perubahan
- angka tentunya kan perlu ada apa mungkin
- kita muhasabah eh introspeksi dan
- sebagainya nih. Kesempatan ini, kami
- mohon nasehatnya, Ustaz, dan juga
- bagaimana eh, kaitannya juga dengan
- asal-usul
- eh, bulan Masehi, ya, bulan-bulan
- Masehi. Nah, apakah kita juga sebagai
- kaum muslimin
- patut merayakannya, Ustaz, yang memang
- masih banyak seperti itu, Ustaz.
- [berdehem]
- Kita awali dengan pembacaan Al Fatihah,
- dan mungkin dilanjutkan dengan mukadimah
- dan pemaparan, ya. Kami persilakan,
- Ustaz. [berdehem]
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil
- Arrahmanirrahim.
- Maliki yaumiddin.
- Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.
- Ihdinashirotolmustaqim.
- Shirotolladzina
- an'amta alaihim.
- Ghoiril maghdubi alaihim waladdholin.
- Amin, amin.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil
- alamin.
- Allahumma sholli ala Muhammadin wa
- alihi.
- Allahumma hdina subulassalam wa akhrijna
- minadzulumati ilannur wahdina ila
- shirotikal mustaqim.
- Wajirna min adzabil jahim, ya Rahman, ya
- Rahim.
- Allahumma atina min indika rahmah wa
- alimna min ladunka ilman nafi'a, wa
- anfa'na bima alamtana.
- Rabbana zidna ilman wa alhiqna
- bisholihin, amma ba'du.
- Ikhwan, akhwat
- [berdehem][batuk]
- pendengar, pemirsa radio
- TV Silaturahmi yang dirahmati Allah.
- Alhamdulillah wa syukrulillah yang telah
- memberikan kita hidayah-Nya.
- Mengeluarkan kita dari kegelapan
- dibimbing, diterangi oleh cahaya dan
- petunjuk Allah subhanahu wa ta'ala.
- Yang memperkenalkan kepada kita semua
- asal-usul kita.
- Menerangkan kepada kita pencipta kita,
- pencipta alam semesta dan seluruh
- isinya.
- Begitu pula yang melimpahkan rahmat dan
- karunia-Nya atas kita semua.
- Juga menjelaskan kepada kita tujuan
- hidup kita.
- Mengapa kita ditempatkan dalam kehidupan
- dunia ini?
- Lalu Allah juga menerangkan bagaimana
- cara hidup yang benar, sebagaimana yang
- dikehendaki Allah.
- Dan menerangkan juga ke mana kita akan
- pergi.
- Ini merupakan hidayah
- yang betul-betul tak dapat dibandingkan
- dengan berbagai macam kenikmatan dunia
- dan seluruh isinya. Dengan hidayah ini
- kita dapat betul-betul
- memilih jalan yang akan mengantarkan
- kita menuju keselamatan dunia maupun di
- hari akhir nanti.
- [mendengus]
- Kita saksikan dengan
- lahirnya tahun baru Masehi
- beramai-ramai orang merayakan
- lahirnya tahun Masehi.
- Tetapi sayang sungguh sayang,
- mereka tidak memahami
- latar belakang dari perayaan tersebut.
- Mereka juga tidak memahami
- asal-usul nama-nama dari bulan Masehi
- yang berhubungan dengan apa? Dengan
- mitologi
- kuno
- Romawi
- yang berhubungan juga dengan nama-nama
- dewa-dewa yang mereka sembah.
- Juga nama tokoh-tokoh yang mereka
- agungkan seperti Julius Caesar,
- Kaisar Augustus, ya.
- Sebagai contoh,
- nama bulan Januari
- yang diambil dari kata Janus,
- Janus merupakan
- dewa yang diyakini oleh kaum Romawi kuno
- sebagai dewa yang bermuka dua.
- Heh.
- Dewa yang bermuka dua maksudnya
- dewa yang awal dan dewa yang akhir.
- Dia yang mengawali dan mengakhiri.
- Oleh karena itu mereka
- tempatkan untuk bulan pertama dari bulan
- Masehi.
- Kira-kira keyakinan ini sejalan enggak
- dengan keyakinan kita?
- Kalau kita merayakan,
- seolah-olah kita merestui
- Heh.
- dan mengakui
- bahwa
- Januari atau Janus ini merupakan
- dewa yang bermuka dua yang diyakini oleh
- Romawi kuno dalam mitologi mereka.
- Oleh karena itu,
- pada saat kita merayakan
- bersama mereka-mereka
- yang katakan merayakan tanpa memahami
- apa yang kita lakukan, bisa-bisa kita
- terjerumus dalam perbuatan yang tidak
- benar.
- Jadi, jangan kita menganggap bahwa
- perayaan itu merupakan hal yang sepele,
- hanya bersenang-senang, bersuka ria,
- tidak.
- Kalau kita merayakan sesuatu yang
- berhubungan dengan iman kita,
- dengan ketakwaan, dengan amalan saleh,
- dengan sejarah orang-orang yang berjuang
- di jalan Allah subhanahu wa taala,
- memiliki makna yang sejalan dengan
- keimanan dan keyakinan kita.
- Sebagai contoh, kalau kita katakan
- memperingati nuzul Alquran dan
- merayakan.
- Ini terhubung dengan kitab suci yang
- Allah turunkan
- sebagai pedoman hidup kita, juga rahmat
- bagi kita semua.
- Dengan tujuan betul-betul untuk memahami
- dan mengingat kedudukan Alquran yang
- begitu indah.
- Begitu juga pada saat kita memperingati
- Maulid Nabi.
- Memperingati ya, bukan merayakan. Karena
- kalau hanya perayaan saja,
- maknanya betul-betul tidak,
- tidak terlalu dalam dan berarti. Tapi
- kalau kita peringati
- dan dalam peringatan tersebut diingatkan
- akan peran Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wa alihi wasallam, misi beliau,
- kitab suci yang beliau bawa,
- dan juga menjelaskan akhlak beliau agar
- umat ini yang lebih banyak mengenal para
- artis,
- mengenal juga para pemain sepak bola,
- begitu juga selebgram ya, mengenal
- YouTuber, menjadikan mereka sebagai
- idola, paham dan mengenal
- bagaimana Allah subhanahu wa taala
- telah mengutus rasul-Nya yang membawa
- rahmat bagi semesta alam.
- Yang menjelaskan betul-betul pedoman
- hidup yang amat indah yang akan
- mengantarkan mereka menuju keselamatan
- dunia dan akhirat.
- Menjadikan mereka manusia-manusia
- yang hidup di bawah naungan rahmat Allah
- Subhanahu wa taala.
- Nabi memperingati
- kelahirannya dengan berpuasa pada hari
- Senin.
- Sebagai syukurnya kepada Allah.
- Nah, kita memperingati juga Maulid Nabi,
- di samping kita ingin mengenal dengan
- jelas sosok beliau, misi beliau, juga
- karena syukur kita yang telah mengutus
- Rasulnya di tengah-tengah kita.
- Sebagaimana firman Allah, "Laqad
- mannallahu alal mukminin idz ba'atsa
- fihim rasulan min anfusihim." Sungguh
- Allah telah melimpahkan karunia yang tak
- terhingga
- kepada orang yang beriman ketika
- mengutus seorang rasul dari kalangan
- mereka.
- Yang kita inginkan peringatan, bukan
- hanya perayaan, bukan hanya kita membaca
- qasidah, menunjukkan cinta kita, tapi
- hidup kita menjauh dari Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Kita ingin
- menjadi peringatan yang selalu
- mengingatkan kita.
- Begitu juga,
- katakan kita merayakan, bergembira
- dengan hari Idul Adha.
- Hari raya Idul
- Adha.
- Idul Adha merupakan hari raya.
- Mengingatkan juga akan pelajaran yang
- amat indah tentang pengorbanan Ibrahim
- alaihisalatu wassalam.
- Dan ini betul-betul merupakan inti dari
- ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah,
- "Qul inna salati wa nusuki wa mahyaya wa
- mamati lillahi rabbil alamin." Melalui
- peringatan Idul Adha, kita diingatkan
- untuk betul-betul mempersembahkan hidup
- kita seluruhnya untuk Allah.
- Mempersembahkan yang kita cintai untuk
- Allah.
- Bukan hanya sebatas kita menyembelih
- kurban kambing atau sapi maupun unta,
- tapi ini betul-betul merupakan apa?
- Merupakan hari raya simbolik yang amat
- indah.
- Begitu juga pada saat kita memperingati,
- katakan Isra dan Mi'rajnya Nabi kita.
- Masih terhubung dengan apa?
- Dengan
- nilai-nilai Islam yang amat indah.
- Tapi kalau kita memperingati hari raya
- tahun baru Masehi
- dengan
- datangnya awal bulan Januari
- dan namanya diambil dari kata Janus yang
- menunjukkan dewa bermuka dua yang
- disembah oleh apa? Oleh kaum Romawi
- kuno, bukankah kita ini jalan mundur ke
- belakang?
- He
- Jalan mundur?
- Ke belakang.
- Apa makna dan nilai dari perayaan
- tersebut? Apa yang kita dapatkan?
- Kita bergembira
- untuk memperingati, merayakan sesuatu
- yang tidak benar.
- Betul enggak?
- Iya.
- Begitu juga kalau kita katakan ya
- ee
- meningkat kepada bulan Februari.
- Bulan Februari diambil dari kata Februum
- yang menunjukkan arti apa? Pensucian.
- Di mana mereka-mereka kaum paganis ya
- pada masa Romawi kuno mereka mensucikan
- diri mereka dari dosa-dosa mereka pada
- bulan tersebut.
- Di bulan?
- Februari.
- Februari yang berasal dari kata Februum.
- Kemudian
- kalau kita meningkat berpindah kepada
- bulan Maret. Bulan Maret sih bulan Maret
- Maret diambil dari kata apa? Dari kata
- Mars yang menunjukkan dewa perang
- mereka. Dewa?
- Perang.
- Dewa perang mereka.
- Jadi kalau kita perhatikan bersama-sama
- apa makna
- pelajaran yang kita dapatkan dengan kita
- merayakan, memperingati tahun baru
- Masehi
- dengan terompet yang mereka tiup,
- kemudian juga topi-topi yang mereka
- pakai
- tanpa mereka sadari mereka memperingati
- ya
- tahun baru tersebut dengan topi yang
- mereka pakai mengingatkan pembantaian
- yang dilakukan terhadap kaum muslimin di
- Spanyol.
- He
- Oleh karena itu
- kita tidak keberatan untuk memperingati
- ya
- waktu yang berlalu.
- Bukan hanya
- peningkatan angka seperti orang yang
- merayakan tahun baru kelahiran ya, tahun
- kelahiran.
- [berdehem]
- Seharusnya mereka pada saat itu
- apalagi orang seperti kita, bukan
- bergembira.
- Tapi sebetulnya kita menangisi dosa
- kesalahan kita
- kelalaian kita, kita memperbaikinya
- ya, agar kita ingat bahwa waktu yang
- berlalu merupakan lembaran.
- Kalau terisi dengan kebaikan kita
- bersyukur pada Allah, kalau terisi
- dengan kemaksiatan seharusnya kita
- bertobat.
- Oleh karena itu muhasabah ini seharusnya
- bukan dilakukan hanya setiap tahun
- He eh.
- tapi setiap hari.
- Pagi hari kita membuka mata kita, kita
- memohon agar Allah subhanahu wa taala
- menjaga kita dari perbuatan yang tidak
- baik.
- Membimbing kita untuk mengerjakan amalan
- saleh.
- Dijauhkan dari perbuatan-perbuatan
- syirik ya.
- Kita isi dengan penuh kesadaran dengan
- amalan yang akan menguntungkan kita. Nah
- sebelum tenggelam matahari
- kita melakukan muhasabah.
- Kalau seandainya kita melakukan
- dosa-dosa di siang hari antara kita
- dengan Allah, kita bertobat kembali pada
- Allah.
- Seandainya kita melakukan kesalahan di
- antara kita dengan manusia, kita memohon
- maaf kepada mereka.
- Jadi sewaktu kita menutup mata di malam
- hari
- He eh.
- kita betul-betul apa
- telah terbebas dari dosa kesalahan kita
- dan kita juga bersyukur dengan hidayah
- Allah dan taufiknya yang membantu kita
- untuk mengerjakan amalan saleh.
- Jadi seharusnya setiap hari kita
- melakukan muhasabah. Al Imam Hasan Al
- Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin
- dia mencatat sepanjang hari
- kegiatan aktivitas dia.
- Demikian pula apa yang disampaikan.
- Baik [berdehem] itu bersama pengikutnya,
- bersama keluarganya.
- Aktivitasnya dicatat dan ditulis.
- Nah, pada sore hari dia melakukan
- muhasabah.
- Apabila ia menjumpai amal-amalnya yang
- dilakukan tidak sesuai dengan petunjuk
- Allah atau dilakukan bukan karena
- mengharapkan rida Allah, dia mohon ampun
- kepada Allah. Dan dia bersyukur atas
- taufik yang mengerjakan amalan saleh.
- Oleh karena itu kita ingat bagaimana
- Allah perintahkan kita
- untuk [berdehem]
- bertasbih kepada Allah sebelum terbitnya
- fajar. Fasabbih bihamdi rabbika qabla
- tulu'i syamsi wa qabla ghurubiha.
- Sebelum terbitnya matahari, begitu pula
- sebelum apa? Sebelum terbenamnya
- matahari.
- Ya ayyuhalladzina amanu dzukurullaha
- dzikran katsira wa sabbihu bukratan
- wa ashila. Allah perintahkan kita
- bertasbih, mensucikan Allah pagi dan
- petang.
- [berdehem]
- Kita buka hari kita dengan berzikir pada
- Allah, memohon petunjuknya. Tutup hari
- kita juga dengan berzikir kepada Allah
- subhanahu wa ta'ala.
- Nah,
- kalau kita perhatikan bersama-sama Kang
- Riza, orang yang merayakan tahun baru
- ini
- kebanyakan bukan dengan ungkapan syukur
- mereka kepada Allah.
- Hanya sekedar bersenang-senang
- berhura-hura.
- Padahal kita tahu
- bahwa seluruh amalan kita, perbuatan
- kita akan dihisab oleh Allah. Faman
- ya'mal mitsqala dzarratin khairan yarah,
- waman ya'mal mitsqala dzarratin syarran
- yarah. Oleh karena itu kita ingin
- betul-betul semua aktivitas kita,
- peringatan, perayaan kita terhubung
- dengan apa?
- Dengan
- tugas dan peran kita dalam hidup ini.
- Kalau keandai anak kita katakan ee, tiba
- pada hari kelahirannya.
- Kita doakan dia supaya menjadi anak
- saleh, dijauhkan dari perbuatan yang
- tidak-tidak. Bisa dia dewasa, kita
- ingatkan.
- Kamu, umurmu sekarang bertambah.
- Berarti juga pada waktu yang sama
- berkurang kesempatan kamu.
- He eh.
- Kamu bertobat [berdehem] dari kesalahan
- kamu yang sebelumnya dan jadikan hidup
- kamu di masa akan datang lebih baik.
- Bukan kita meniup lilin,
- kemudian riang gembira, mengundang
- tukang sulap. Ini jelas-jelasan tidak
- sesuai dengan apa?
- Dengan
- tujuan dari agama kita yang selalu
- mengingatkan kita untuk melakukan
- muhasabah. Oleh karena itu,
- berkaitan dengan
- perayaan tahun baru, apalagi dengan
- menyalakan petasan, membuang uang kita.
- Alangkah indahnya kalau semua itu kita
- sumbangkan.
- Kita ajak bersama-sama, bahkan
- pemerintah mengajak masyarakat ya, yang
- biasa merayakan tahun baru, mari
- bersama-sama kita kumpulkan uang kita,
- kita membantu saudara kita yang menjadi
- korban di Aceh, di Padang maupun di
- Sibolga.
- Jadi, kesimpulannya agama kita
- mengisi waktu kita atau mengingatkan
- kita untuk mengisi waktu kita dengan
- amalan saleh dan bertobat dari
- kesalahan-kesalahan kita.
- Jadi, perlu betul-betul ulama-ulama kita
- melakukan edukasi kepada umat apa yang
- seharusnya dilakukan, apa yang
- seharusnya mereka tinggalkan. Juga
- loyalitas dan wala mereka sepenuhnya
- mereka persembahkan untuk Allah
- subhanahu wa taala.
- Jadi, kita tidak ingin
- dengan gampang membid'ahkan orang yang
- memperingati katakan Maulid Nabi atau
- Isra dan Mikraj dengan syarat acara
- tersebut bersih.
- He eh.
- Seluruhnya sejalan dengan keridaan Allah
- subhanahu wa taala.
- Berselawat, silakan berselawat kepada
- Rasul. Tapi, jangan lidah berselawat,
- tapi hati kita justru apa?
- Tidak
- berupaya untuk menyesuaikan hidup kita
- dengan meneladani Nabi kita Muhammad
- Shallallahu Alaihi Wasallam. Beramar
- ma'ruf, bernahi munkar, berjuang di
- jalannya, membela kaum mustadh'afin,
- menegakkan keadilan, hidup dengan
- kebersihan dan kejujuran. Itu yang
- diajarkan oleh Nabi kita Muhammad
- Shallallahu Alaihi Wasallam.
- Jadi
- bukan kita menentang hal-hal yang
- positif dan baik tapi perayaan-perayaan
- yang tidak sejalan dengan agama kita,
- apalagi menghubungkan dengan apa? Dengan
- dewa-dewa yang disembah
- yang disembah oleh apa? Oleh eh kaum
- paganis kuno.
- Ini jelas-jelasan bertentangan dengan
- syariat agama kita. Seperti orang juga
- yang memperingati hari apa?
- Valentine.
- 14 Februari.
- Iya.
- Ini juga kalau kita perhatikan
- hal-hal yang
- membuat banyak pemuda-pemudi kita ini
- telah jauh
- keluar dari tuntunan agama Allah.
- Kenapa? Karena ulama kita sibuk
- memperdebatkan masalah ritual
- bukan kehidupan real yang membimbing
- manusia menuju kehidupan yang lebih
- indah, tapi habis waktunya untuk
- perdebatan di seputar ritual yang tidak
- bermakna sedikitpun, seolah-olah itulah
- agama.
- Padahal agama yang sebenarnya
- membimbing manusia dalam seluruh aspek
- kehidupan menuju kehidupan yang lebih
- baik dan lebih mulia. Wallahu A'lam.
- [mendengus]
- Baik, terima kasih Ustaz atas eh
- pemaparannya atau pengantar dari bahasan
- di kesempatan ini, bagaimana kita
- menyikapi
- tahun baru ya yang yang masih banyak
- merayakan Ustaz. Tasyabbuh menyerupai
- Betul.
- kaum
- ya kaum di luar muslim Ustaz ya.
- Berarti apakah artinya mereka juga
- setuju dengan dewa
- Iya.
- dewa Janus?
- Naudzubillah Ustaz ya.
- Kalau kita kan meyakini bahwa awal wal
- akhir adalah Allah.
- Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- segala sesuatu.
- Dan segala sesuatu juga pada akhirnya
- kembali kepadanya.
- Iya, Ustaz. Kalau penanggalan Masehi
- ini, eh kalau kita lihat juga kan
- sebetulnya ini bagian dari ilmu apa,
- Ustaz? Ilmu penanggalan, Ustaz ya. Yang
- kita juga menggunakan sebetulnya, kan.
- Eh, dan itu mengambilnya dari
- eh
- matahari, Ustaz ya. Revolusi matahari,
- ya.
- Nah, itu, Ustaz. Kalau kita dalam
- sehari-hari ya baik-baik saja, Ustaz.
- Kan tidak masalah, kan.
- Untuk menggunakan penanggalan tersebut,
- gitu.
- Semua seharusnya kita, kalau kita
- mayoritas, arti umat Islam di tempat,
- penanggalan yang mereka gunakan
- penanggalan yang apa? Yang memang
- ditentukan oleh Allah.
- Kita kan tahu bahwa penanggalan
- Hijri itu
- itu bukan diciptakan oleh Sayyidina
- Umar.
- Ehm.
- Bukan juga diciptakan oleh Rasulullah.
- Betul awal penanggalannya dimulai dari
- hijrahnya Nabi kita Muhammad Shallallahu
- Alaihi Wasallam. Itu hanya menjelaskan
- awalnya.
- Tapi perjalanan bulan ini siapa yang
- menentukan?
- Wal qamara qaddarnahu manazila hatta
- adakal urjunil qadim.
- La syamsu yang bagi laha antu drikal
- qamara. Walan lailu sabiqun nahar. Wa
- kullun fi falakin yasbahun.
- Jadi
- penanggalan
- Hijri ini yang diawali dengan hijrahnya
- Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi
- Wasallam, itu hanya menentukan awal
- tahunnya. Sebenarnya
- dalam tahapan dan perubahan yang
- mengikuti ketentuan yang ditentukan
- Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari
- pergeseran bulan
- setiap malamnya.
- Ehm.
- Dari satu manzilah menuju manzilah.
- Dan kita semua tahu
- bahwa penanggalan ini didasari eee
- bulan yang mengitari bumi kita. Bulan
- yang mengitari bumi kita
- Iya.
- setiap malamnya dia berpindah dari
- manzilah ke manzilah ya, ditandai dengan
- apa? Dengan cahaya bulan.
- Penanggalan pertamanya dengan lahirnya
- bulan sabit.
- Kemudian perlahan-lahan dia membesar
- hingga tiba saat purnama. Dan dapat
- terus kita evaluasi dan koreksi kalau
- terjadi kesalahan.
- He em.
- Dengan
- kembali kepada tanda-tanda yang Allah
- Subhanahu wa Ta'ala tentukan.
- Kemudian perubahan harinya pun jelas.
- Di mana penanggalan Hijriah itu
- perubahan harinya dengan terbenamnya
- matahari.
- Terbenamnya matahari itu merupakan lahir
- nya hari baru.
- Jadi kalau kita katakan masuk dari kita
- sekarang berada di hari Kamis.
- Iya.
- Nanti terbenam matahari kita sudah masuk
- hari baru, berarti sudah hari Jumat.
- Jumat ya.
- Sudah hari Jumat.
- Misalnya maghrib besok sudah Jumat ya.
- Maghrib itu sudah hari Jumat.
- Iya.
- Oleh karena itu menentukan awal Idul
- Fitri, awal Ramadhan, begitu juga awal
- Idul Adha
- kembali kepada standar tersebut.
- Tapi kalau tahun matahari ini
- berdasarkan putaran bumi mengitari
- Matahari ya.
- Revolusi bumi saja.
- Perhitungannya ya evolusi bumi.
- Perhitungannya pun apa?
- Perhitungannya pun perkiraan, oleh
- karena itu tidak bersifat stabil.
- He em.
- Ada 28 hari,
- 29,
- 30,
- 30,
- 31,
- 31.
- Tapi kalau bulan, dia berkisar di hanya
- 29 dan 30. Berdasarkan evolusi bulan
- yang mengitari bumi kita dan ditandai
- dengan cahaya matahari yang dipantulkan
- oleh bulan.
- Yang dipantulkan oleh bulan.
- Oleh bulan.
- Bulan. Oleh karena itu lebih akurat,
- lebih tepat. Dan kita harus tahu
- apa-apa yang berhubungan agama kita
- tidak dikaitkan dengan bulan Masehi.
- Ehm.
- Contoh
- apabila seorang katakan beriddah.
- Berid
- Beriddah.
- Beriddah.
- Dia beriddah
- sedangkan dia
- tidak lagi datang bulan.
- Tidak lagi datang, Bu?
- Iya.
- Atau datang bulannya tidak menentu.
- Hingga tidak dapat dijadikan sebagai
- barometer.
- Maka dia beriddah selama
- 3 bulan.
- Selama 3, Bu?
- 3 bulan.
- 3 bulan.
- Bukan 3 bulan Masehi, tapi 3 bulan
- Hijri.
- Jadi seandainya katakan dia menceraikan
- menceraikan katakan istrinya di
- pertengahan bulan.
- Berarti kan
- dengan berakhirnya bulan tersebut
- dihitung 1 bulan.
- Ehm.
- Masuk bulan yang ke-2, berakhir dihitung
- 2, Bu?
- 2 bulan.
- Masuk bulan yang ke-3, begitu berakhir
- bulan tersebut masuk
- bulan baru, maka berakhirlah iddahnya.
- Dan ini penting sekali. Kenapa?
- Karena selagi suaminya ingin rujuk
- istrinya
- sedangkan dia berada pada waktu iddah
- tidak perlu menikah lagi.
- Ehm.
- Tidak perlu meni
- Menikah lagi.
- Kemudian seandainya suaminya wafat
- atau istrinya wafat dalam waktu iddah
- hak warisnya tidak putus.
- Hak waris tidak pu
- Dan ditentukan masa iddahnya itu selama
- 3 bulan qamari.
- 3 bulan
- Qamari.
- Atau 3 kali katakan haid dan suci. Eh, 3
- kali suci dan haid. 3 kali suci dan
- Haid.
- Haid.
- Atau bagi wanita yang hamil dengan
- melahirkan anaknya, wanita yang
- meninggal dunia 4 bulan 10 hari.
- 4 bulan 10 hari
- tidak mengikuti
- ya.
- Tidak mengikuti rotasi bulan
- bulan Masehi, tapi bulan apa?
- Hijriah.
- Bulan Hijriah.
- Nah, kira-kira ada enggak perbedaan
- antara keduanya?
- Iya.
- Katakan umpamanya
- dia
- sudah hampir mendekati berakhirnya masa
- iddah dalam hitungan
- qamari.
- He eh.
- Bulan.
- Dalam hitungan Masehi belum.
- Begitu berakhir dalam hitungan bulan
- eh
- Hijriah.
- He eh.
- Walaupun Masehi belum berakhir, iddahnya
- sudah selesai. Dia bebas, dia bisa
- menikah. Dan seandainya salah satunya
- meninggal dunia, sudah tidak ada hak
- waris lagi.
- He eh.
- Begitu juga ibadah haji dikaitkan dengan
- bulan Hijriah. Yas'alunaka anil ahillah.
- Ahillah.
- Qul hiya mawāqitu lin-nāsi wal-hajj.
- Jadi, ketentuan haji, kapan ditentukan
- tanggal 9 wukuf di Arafah, kapan juga
- yauman nahar, itu berdasarkan bulan
- Hijriah.
- Hijriah.
- Jadi
- yang berhubungan dengan agama kita, ya,
- semua
- ketentuan waktunya kembali kepada apa?
- Kepada
- bulan dan tahun Hijriah.
- Begitu juga menentukan bulan-bulan suci,
- baik itu Rajab, Zulqaidah, Zulhijah, dan
- Muharam,
- semua berkaitan dengan ketentuan bulan
- tersebut. Ini yang menentukan bukan
- Saudi Arabia.
- He eh.
- Bukan Mesir. Bukan sahabat. Bukan juga
- nabi, tapi Allah.
- Allah.
- Tapi
- para sahabat menentukan hijrahnya nabi
- ini sebagai awal tahun. Awal tahun.
- Awal tahun.
- Tahun. Tapi ketentuan dan perjalanan
- bulannya semua ditentukan oleh Allah
- subhanahu wa taala. Ini yang menjadi
- rujukan bagi kita semuanya.
- Baik, Ustaz. Selanjutnya nih ada
- pertanyaan dari
- Asma di Jakarta Selatan, Ustaz. Sebagian
- masyarakat ada yang kurang beruntung,
- tidak mendapat pendidikan mau umum
- ataupun agama, sehingga tidak mampu
- membedakan yang baik ataupun yang buruk,
- sehingga hanya ikut-ikutan. Celakanya
- jika temannya mabuk, harus ikut mabuk.
- Jika tidak, ia merasa tidak modern dan
- sebagainya. Sedih sekali, termasuk juga
- mengenai tasyabbuh perayaan-perayaan
- yang itu tidak sejalan dengan syariat
- Islam, Ustad. Demikian dari Asma.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Saudari Asma atau Ibu Asma, saya enggak
- tahu ya.
- Jadi, kalau bicara mengenai umat
- sekarang ini, tanggung jawab terbesar
- itu pada ulama.
- Berkaitan dengan edukasi.
- Dalam pemerintahan, kepada pemerintah.
- Dan ulama memberikan edukasi bukan hanya
- kepada rakyat, tapi kepada para
- pemimpin.
- Oleh karena itu, kehidupan ulama harus
- betul-betul bersifat independen.
- Tidak boleh bergantung kepada sumbangan
- dari pemerintah.
- Tidak boleh bergantung juga kepada
- oligarki, akhirnya lidahnya lidah
- oligarki atau lidah pejabat. Tidak boleh
- juga bergantung atau menggantungkan
- hidupnya kepada rakyat. Akhirnya di saat
- menyampaikan narasinya, menyesuaikan
- kesenangan, keridhoan masing-masing.
- Tapi betul-betul harus punya lembaga
- keuangan independen.
- Hingga dia bisa menyampaikan amanat
- dengan apa? Dengan baik. Tapi tradisi
- budaya di Indonesia ini
- betul-betul tradisi budaya yang amat
- merusak.
- Di mana para ulama
- yang tadinya pada saat belajar ingin
- berdakwah dengan ikhlas dan tulus.
- Tapi begitu mulai tampil di tengah
- masyarakat, kemudian mendapatkan angpao
- ya.
- Kemudian juga terjadi perbedaan angpao,
- dia punya angka. Kalau di masjid katakan
- sekian, kalau di kantor-kantor sekian,
- kalau di tengah-tengah pemerintahan
- sekian, di tengah-tengah oligarki
- sekian.
- Akhirnya apa?
- Akhirnya mereka memilih
- majelis mereka yang angpaonya paling
- besar.
- Lama-kelamaan akhirnya apa?
- Pikiran mereka bukan untuk menyampaikan
- amanat Allah, tapi menyampaikan apa yang
- menyenangkan audiens.
- Seandainya mengkritik pun dengan humor.
- He eh.
- Mengkritik pun dengan hu- humor.
- Akhirnya yang ditangkap bukan
- kritikannya tapi humornya yang
- menyenangkan.
- Seperti katakan mengkritik kepolisian
- atau mengkritik katakan pemerintahan
- diselingi dengan humor. Bahkan polisi
- kalau perlu mengundang mereka untuk
- menyampaikan narasi. Tertawa
- bersama-sama untuk apa? Melonggarkan
- ketegangan mereka.
- Tapi apakah mereka belajar?
- Diingatkan kepada Allah. Nabi disaat
- menyampaikan ceramahnya serius.
- He eh.
- Karena kehidupan ini bukan main-main.
- He eh.
- Afahasibtum annama khalaqnakum abatsa wa
- annakum ilaina la turjaun. Apa kalian
- beranggapan bahwa kehidupan
- kalian ini apa? Kami ciptakan main-main
- dan kalian tidak akan dikembalikan pada
- Allah.
- Kalau serius nanti enggak diundang lagi,
- Ustaz.
- Itulah penceramah yang tujuannya
- menyampaikan edukasi kepada umat hanya
- akan disambut
- He eh.
- oleh orang-orang yang hatinya mau
- menerima kebenaran.
- Tugas ulama menyampaikan.
- Iya.
- Baik di kalangan mereka yang tidak
- mengenal pendidikan agama.
- He eh.
- Kan banyak sekali, banyak luar biasa
- dibandingkan mereka yang hadir di
- majelis-majelis
- He eh.
- di masjid-masjid
- atau dalam pendidikan agama di
- tengah-tengah lingkungan keluarganya.
- Yang lebih banyak yang tidak mengenal
- agama. Akhirnya mereka ikut-ikutan Natal
- bersama, bermabuk-mabukan, bernyanyi
- Natal.
- Begitu juga tahun baru bersama. Kemudian
- mengadakan acara ulang tahun bersama
- dengan
- mengkonsumsi, melakukan apa-apa yang
- diharamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- Ini kan perbuatan yang salah, maka tugas
- ulama itu bukan apa?
- Mendukung sana, mendukung sini atau
- menjadi alat kampanye bagi kekuatan tapi
- memberikan nasehat dan peringatan.
- Sebagaimana misi Rasulullah ma arsalnaka
- illa rahmatan lil alamin, ulama harus
- menjadi rahmat.
- Begitu juga.
- Inna arsalnaka syahidan wa mubasyiro,
- kami mengutus engkau sebagai apa? Saksi.
- Bahwa
- Rasul telah menyampaikan pesan Allah dan
- juga pembawa kabar gembira dan juga
- pemberi peringatan.
- Nah, tradisi kebiasaan
- ulama-ulama menerima angpao dari majelis
- ke majelis sampai ada yang mengatakan
- amplop yang diterima oleh orang tua saya
- yang tahun kemarin saja masih banyak
- yang belum dibuka.
- Ini bukan bicara bohong.
- Amplop yang Abah terima
- peringatan maulid tahun kemarin sampai
- sekarang sebagian belum dibuka.
- Sedangkan rakyat
- hidup dalam penderitaan, dalam
- kesusahan. Apakah bukan ini masuk dalam
- firman Allah yaknizuna dzahaba wal fidha
- walayin fiquna fi sabilillah, menimbun
- emas perak dan tidak menginfakkannya di
- jalan Allah.
- Ehm.
- Dan mereka memakan harta manusia dengan
- cara yang batil.
- Ya ayyuhalladzina amanu inna katsiro
- minal ahbari wal ruhban la yakuluna
- amwalan nasi bil batil wa yasudduna an
- sabilillah.
- Banyak dari rabi-rabi Yahudi,
- pendeta-pendeta Nasrani, sekarang
- ulama-ulama [berdehem]
- dan kiai-kiai yang memakan harta manusia
- dengan cara yang batil dan mereka bukan
- mengajak manusia kepada Allah malah
- memalingkan manusia dari jalan Allah
- Subhanahu wa Ta'ala. Karena apa? Yang
- mereka sampaikan bukan pesan Allah.
- Yang mereka sampaikan fitnah, mengadu
- domba di antara sesama umat Islam,
- menyibukkan umat dengan hal-hal yang
- tidak berhubungan dengan agama mereka.
- Sedangkan hal-hal yang penting yang
- prinsip dalam agama mereka abaikan.
- [mendengus]
- Nah, alangkah indahnya kalau ulama itu
- punya lembaga keuangan.
- Artinya para jemaah yang mampu, yang
- ingin berinfak di jalan Allah ditampung
- apa? Oleh lembaga keuangan tersebut.
- Kemudian lembaga keuangan ini yang
- memberikan apa?
- Yang memberikan nafkah buat para dai
- yang berdakwah.
- Kita saksikan organisasi Katolik.
- Mereka itu bisa memberikan nafkah, ya.
- Untuk para dai mereka yang masuk ke
- hutan, masuk ke daerah
- pedalaman-pedalaman hingga mereka tidak
- berpikir lagi soal menerima uang. Malah
- datang bisa membawa uang.
- Kalau kita datang minta uang.
- Iya.
- Bahkan di tengah-tengah masyarakat
- miskin
- Iya.
- yang enggak punya apa-apa, yang masukkan
- ke dalam tromol seribu rupiah, dua ribu
- rupiah.
- Apa tega kita menerima dari mereka
- sedangkan kita datang dengan mobil
- mewah?
- Datang dengan mobil mewah,
- waktu pulang menerima apa? Di samping
- angpao juga nampan yang berisikan
- makanan, buah-buahan.
- Dari mana? Kita terima dari masyarakat
- awam yang tidak punya apa-apa.
- Kalau seandainya dari kantor-kantor,
- dari kalangan oligarki, ya, mungkin bisa
- diterima, dianggap bahwa ini merupakan
- infak mereka.
- Dengan syarat mereka tidak apa?
- Tidak menyampaikan hal-hal yang
- menyenangkan mereka tapi menyampaikan
- pesan Allah. Tapi begitu kita menerima,
- berat buat kita untuk bersuara.
- Seperti seekor anjing,
- dia hanya tunduk pada yang memberikan
- makan.
- Kalau disuruh menggonggong, menggigit
- walaupun yang digonggong digigit itu
- merupakan orang yang baik, si anjing
- tidak peduli. Yang penting dia akan
- mentaati yang memberi makan dia. Masa
- kita di arahkan menjadi anjing?
- Yang mengikuti perintah yang membayar
- kita. Akhirnya mulai fitnah sana, fitnah
- sini, membenarkan sana, membenarkan
- sini. Akhirnya masuk dalam perangkap
- setan.
- Seperti kasus, jangan jauh-jauh. Kasus
- tambang ini yang diberikan kepada
- organisasi Islam.
- Yang tadinya fokus untuk dakwah,
- akhirnya begitu masuk pertambangan
- terjadi fitnah diantara mereka.
- Uang ini termasuk fitnah yang amat
- besar.
- Nah, termasuk juga kalau kita berangkat
- ke Singapura. Singapura termasuk
- masyarakat Islam yang masyaallah
- baik-baik. Tujuan niatnya juga baik.
- Kita kalau habis ceramah di Singapura,
- hal yang tidak menyenangkan itu para
- jamaah,
- ya. Pada saat berjabat tangan ada yang
- ngasih 10 dolar, 20 dolar, 100 dolar.
- Ini kan enggak nyaman kita salaman
- masukin uang ke kantong, salaman uang.
- Enak enggak begitu caranya?
- Iya.
- Kan enggak menyenangkan.
- Iya.
- Akhirnya membuat hubungan antara kita
- sama jamaah itu. Jamaah menerima apa
- yang kita sampaikan, ya.
- Kemudian kita terima uang dari mereka.
- Transaksi
- Transaksi kan?
- Iya, lama-kelamaan
- kita akhirnya mulai terbiasa dengan hal
- tersebut. Nah, saya termasuk yang paling
- risih kalau masuk ke satu majelis, ya.
- Lalu orang mulai apa?
- Pada saat jabat tangan berikan. Bukan
- kita enggak menghormati dia.
- He em.
- Cuma maksudnya apa?
- Cara ini sebetulnya membuat suasana
- menjadi risih.
- Nah, seharusnya ustaz yang mampu, yang
- punya usaha, yang punya apa, mereka yang
- datang bawa uang untuk memberikan
- bantuan.
- Bukan justru mereka yang menerima dengan
- hati legowo. Bahkan ada kejadian Kang
- Rizal.
- Dia terima uang,
- ketika naik lift dibuka uangnya.
- Dia bilang, "Masa
- segini?
- Kamu kalau panggil pelawak, sulap, kamu
- berikan sekian puluh juta.
- Sedangkan kamu berikan ulama yang
- berdakwah, mengajak, kamu berikan
- bimbingan kepada kamu, kau berikan hanya
- 500 ribu atau 1 juta rupiah.
- Allahu Akbar.
- Terus sekarang ulama-ulama sebagian
- mereka ada apa? Asistennya.
- Ehm.
- Asisten manajernya yang mengatur jadwal,
- mengatur juga bayarannya dan lain
- sebagainya. Walaupun dia enggak
- berhubungan langsung
- tapi apa? Ada aturan seperti itu. Kita
- bertanya apakah ini sesuai dengan sunnah
- Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi
- Wasallam? Saya pernah tegur sebagiannya.
- Mereka mengatakan memangnya Ustad bukan
- manusia enggak butuh makan?
- Saya bilang kalau hanya untuk makan,
- untuk minum yang pantas
- enggak perlu cara semacam ini.
- Belajar coba dari organisasi Katolik.
- Bagaimana mereka
- betul-betul sejahtera
- tapi tidak berhubungan dengan apa?
- Dengan tempat mereka mengajar. Ada
- lembaga yang memberikan dukungan
- keuangan buat mereka. Itu yang harusnya
- kita inginkan.
- [berdehem]
- Kita berharap juga
- katakan Da'i waratsatul Anbiya seperti
- itu. Guru-gurunya juga mereka sejahtera
- tapi tanpa harus menjual marwah mereka
- kehormatan mereka mereka bisa
- menyampaikan dengan penuh apa? Dengan
- penuh betul-betul amanat menjaga
- amanat Allah dengan sebaik-baiknya. Nah,
- ini kalau ulamanya tidak independen
- maka dengan sendirinya mereka mirip
- seperti yang digambarkan Allah dalam
- surat Al A'raf. Famatssaluhu kamatsalil
- kalbi intahmil alaihi yalhats autatruk
- yalhats.
- Akhirnya kita mirip dengan anjing.
- Ehm.
- Yang perannya hanya menjaga rumah
- atau berburu.
- Dia yang berburu tapi keuntungannya
- untuk siapa? Untuk tuannya.
- Tuannya.
- Atau anjing yang bermain di sirkus.
- Yang jelas ya, mereka hanya menjadi
- alat.
- Pejabat ingin kampanye, panggil ulama.
- Pejabat juga ingin mengadakan syukuran,
- panggil ulama.
- Jadi ini tidak mungkin sama sekali akan
- mampu untuk menyampaikan amanat Allah
- dengan sebaik-baiknya. Nah, saya
- harapkan
- para ulama, para ustaz jangan
- tersinggung dengan apa yang saya
- sampaikan.
- Saya berharap betul-betul ini menjadi
- peringatan sebelum datang hari hisab di
- kemudian hari
- kita akan berhadapan dengan pertanyaan
- yang besar dan kita harus dalam
- menyampaikan dakwah kita dengan niat
- ikhlas mengharapkan ridho Allah bukan
- untuk tujuan dunia atau bertujuan
- menyerang satu kaum atau membela kaum
- yang lain. Tapi semata-mata kita
- sampaikan untuk Allah ud'u ila sabili
- rabbika bil hikmati wal mau'idzatil
- hasanah.
- Jadi kepada saudari Asma atau Ibu Asma
- memang
- kita merasakan betul-betul
- kiai, ulama termasuk saya ini belum
- menjalankan amanat Allah dengan
- sebaik-baiknya untuk memberikan edukasi
- kepada umat. Nah, alhamdulillah dengan
- media Radio Silaturahmi ya
- begitu juga media Islam yang lain
- begitu juga ya kita bisa memasukkan
- dakwah kita melalui YouTube ini
- sebetulnya membantu kita
- bukan kita memanfaatkan media ini untuk
- tujuan yang tidak benar tapi mari kita
- sebarkan kebaikan.
- Mengajak umat untuk kembali kepada Allah
- dengan kemampuan potensi yang Allah
- berikan kepada kita.
- Nah, kita harapkan mudah-mudahan di masa
- akan datang umat Islam [berdehem] tidak
- lagi bersama-sama merayakan tahun baru
- ya.
- Kalau ingin melakukan muhasabah,
- muhasabah bukan setiap tahun
- tapi mereka lakukan setiap hari, setiap
- waktu agar mereka betul-betul senantiasa
- dalam keridhoan Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala. Mudah-mudahan Allah membantu
- kita
- agar kita dapat menjalankan amanat Allah
- sebelum Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- menjemput kita dan meminta
- pertanggungjawaban kita di hari kemudian
- nanti. Wallahu A'lam.
- Baik, Ustaz terakhir mungkin satu lagi
- Ustaz ya masih ada waktu dari Pak Samsul
- di Cibinong. Eh, Ustaz kalender Hijriyah
- eh, dimulai pada masa Khalifah Umar bin
- Khattab. Pertanyaannya kalender apa yang
- dipakai oleh masyarakat muslim sebelum
- itu, Ustaz?
- Misalnya bukankah dalam Alquran
- dikatakan oleh Allah berpuasalah pada
- bulan Ramadan. Ayat itu diturunkan pada
- masa Nabi Muhammad jauh sebelum masa
- Khalifah Umar bin Khattab. Demikian,
- Ustaz.
- Berkaitan dengan nama-nama bulan, nama
- itu sudah ada.
- Jadi kata Ramadan dinamakan karena
- suasana panas terik ya pada saat
- tersebut
- sudah ada sebetulnya.
- Dan bulan Muharam pun sudah ada.
- Orang-orang pada masyarakat jahiliyah ya
- mereka telah apa?
- Telah betul-betul menjaga kesucian bulan
- haram hingga perang langsung mereka
- hentikan bila datang bulan Rajab ya
- atau bulan Muharam atau bulan Zulkaidah
- atau bulan Zulhijah. Mereka juga
- melaksanakan haji kan?
- Ehm, iya.
- Betul enggak?
- Iya.
- Cuma awal tahunnya saja yang disepakati
- dimulai dengan hijrahnya Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Sedangkan nama-nama bulannya sudah apa?
- Sudah ada sebelumnya.
- Sudah ada sebelumnya.
- Baik, Ustaz.
- Eee selanjutnya masih ada waktu, Ustaz?
- Boleh satu lagi.
- Eee ini dari siapa tidak menyebutkan
- namanya. Ustaz, mana yang lebih utama
- eee dalam muhasabah ini?
- Eee pertama meratapi dosa-dosa masa lalu
- atau fokus merencanakan ketaatan di masa
- depan?
- Bagaimana menyeimbangkan keduanya?
- Kemudian dalam Islam juga dosa-dosa
- terhadap manusia itu tidak diampuni
- sebelum manusia itu memaafkan.
- Bagaimana cara muhasabah yang efektif
- untuk dosa-dosa
- eee sosial ya antar sesama
- yang korbannya sudah tidak bisa kita
- temui lagi, Ustaz? Demikian. Dari hamba
- Allah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Apa yang kita lakukan memang tidak
- mungkin kita tarik kembali.
- Berat ya, kalau sudah melakukan sesuatu,
- mengucapkan sesuatu
- seperti kuda yang sudah melompat, enggak
- mungkin dia akan tarik kembali.
- Tapi kesempatan bertobat terbuka.
- Apabila dosa antara kita dengan Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala,
- kita banyak-banyak bertobat, arti
- kembali pada Allah, beristigfar mohon
- ampun.
- Kita bisa lakukan pada saat kita salat,
- sambil menangis pada saat sujud, setelah
- salat ya, begitu juga sambil berjalan,
- sambil kita beraktivitas, sambil kita
- memohon ampun kepada Allah. Dalam waktu
- yang sama, kita menyusul dosa keburukan
- kita dengan kebaikan.
- Sebagaimana sabda Rasul, Ittaqillah
- haitsuma kunt.
- Bertakwalah kamu kepada Allah ya,
- di manapun kamu berada.
- Wa atbi'is sayyiatal hasanah. Susul
- keburukan kamu dengan kebaikan.
- Wa kholiqinnas bi khuluqin hasan dan
- gauli manusia dengan akhlak yang baik.
- Jadi kalau kita dulu berbuat buruk,
- kita bertobat kembali kepada Allah,
- susul keburukan kita dengan amal saleh.
- Dengan amal-amal saleh, saleh.
- Kalau berkaitan antara kita dengan
- manusia,
- apalagi dosa para pejabat nih,
- mengerikan sekali betul-betul.
- Saya pernah sekali waktu menghadiri
- majelis di Mabes
- Polri.
- Kebetulan
- eh yang hadir, yang berdiam itu banyak
- pejabat-pejabat, ada bupati, bupati ya.
- Banyaklah yang apa yang yang yang
- dipenjarakan bersama-sama.
- Setelah saya sampaikan ceramah, saya
- mendapatkan pertanyaan.
- Bagaimana Ustaz dengan harta saya yang
- saya dapatkan, saya kumpulkan dengan
- cara yang haram?
- Arti dari hasil korupsi.
- Saya bilang, kamu harus keluar dari
- harta yang haram tersebut.
- Ehm.
- Sebelum kamu menghadap ke hadapan Allah.
- Kamu keluar dari harta yang haram.
- Lalu kemana harta tersebut harus saya
- serahkan? Kalau saya serahkan ke negara
- dimakan oleh pejabat.
- Ehm.
- Karena pemerintah belum menyediakan apa?
- Belum menyediakan wadah.
- Pengembalian harta dari pejabat-pejabat
- yang ingin bertobat. Pernah Prabowo
- kalau enggak salah Presiden Prabowo
- mengatakan dia akan membuka wadah. Bagi
- pejabat yang.
- Ingin mem iya mengembalikan harta mereka
- dan tidak dikenakan hukuman.
- Kalau yang tidak mengembalikan. Dengan
- kesadaran mereka yang dijatuhkan
- hukuman.
- Kembalikan.
- Kalau seandainya tidak ada wadah yang
- bisa menampung pengembalian yang akan
- digunakan untuk kepentingan rakyat.
- Maka Anda saja bangun lembaga-lembaga.
- Yang.
- Manfaatnya kembali kepada masyarakat.
- Ehm.
- Mau pendidikan yang free buat masyarakat
- awam. Atau rumah sakit. Ya tergantung
- berapa nilainya uang tersebut.
- Ehm.
- Dirikan lembaga-lembaga ya.
- Yang manfaatnya dapat dirasakan oleh
- masyarakat bawah.
- Atau membuat fasilitas umum Ustadz ya.
- Iya fasilitas umum.
- Jadi kalau hal ini dilakukan dia
- mengembalikan kepada rakyat. Karena kan
- kekayaan negara ini baik yang di dalam
- bumi, di luar bumi, di dalam lautan
- semua merupakan kekayaan milik rakyat
- yang dikuasakan kepada negara untuk
- mengatur, mendistribusikan.
- Jadi kalau seandainya.
- Kita tidak merasa aman terhadap pejabat
- negara kita kembalikan langsung kepada
- rakyat.
- Iya.
- Kalau kita pernah berbuat kesalahan
- kepada seorang.
- Kita mengambil hartanya yang bukan hak
- kita ya. Dan lain sebagainya dia
- meninggal dunia atau tidak ketahuan atau
- kita berhutang belum sempat membayar
- orangnya sudah menghilang.
- Ehm.
- Maka.
- Kalau bisa kita gunakan harta kita untuk
- bersedekah, berinfak atas nama mereka.
- Ehm.
- Atas nama mereka.
- Mereka.
- Kalau seandainya ada keluarga mereka,
- kita santuni keluarganya dari uang
- tersebut.
- Kita niatkan bahwa ini merupakan infak
- mereka di jalan Allah sambil kita mohon
- ampun kepada Allah. Ada doa dari Imam
- Ali Zainal Abidin mengatakan, "Ya Allah,
- antara aku
- dan hamba-hambamu
- banyak kesalahan-kesalahan yang aku
- lakukan, sadar maupun tidak sadar.
- Ya Allah,
- begitu juga antara hamba-hambamu dengan
- aku juga terdapat sangkut paut kesalahan
- yang mereka lakukan.
- Maka aku bernazar, berniat ya Allah
- untuk memaafkan semua dosa-dosa
- kesalahan yang orang lain lakukan
- terhadap diriku
- dengan harapan ya, Engkau juga ya Allah
- menanggung kesalahanku terhadap orang
- lain yang belum aku selesaikan. Agar
- kami bersama-sama selamat di hari
- kemudian [mendengus] nanti."
- Jadi kalau kita biasa memberikan maaf
- terhadap dosa kesalahan orang lain, itu
- juga merupakan jalan yang akan membuka
- pintu rahmat Allah yang akan
- menyelesaikan sangkut paut antara kita
- dengan
- dengan orang.
- Jadi biasakan kita memberikan maaf
- terhadap orang lain yang berbuat zalim,
- berbuat aniaya. Saya juga mendoakan
- orang yang mencaci saya, berbuat aniaya,
- yang menyebarkan fitnah mengenai saya,
- saya ikhlaskan dan saya tidak berharap
- di hari kemudian nanti untuk berhenti.
- Ya.
- Berhenti
- di hadapan pertanggungjawaban mereka.
- Tapi saya berharap juga dengan
- memberikan maaf ini, Allah Subhanahu wa
- Ta'ala
- juga ikut turut ya meringankan beban
- saya terhadap orang lain yang belum saya
- selesaikan. Yang paling bahagia bagi
- orang yang beriman kalau tidak menyimpan
- kebencian di hati. Bukankah nabinya nabi
- rahmat yang suka memberikan maaf?
- Berikan maaf. Betapapun besarnya
- kesalahan orang lain, ikhlaskan,
- maafkan.
- Insya Allah dosa kita juga akan diampuni
- oleh Allah dan dosa antara kita dengan
- manusia, Allah akan turun tangan
- menggantikannya dengan rahmat-Nya untuk
- mereka.
- Ehm.
- Wama dzalika alallahi bi aziz. Jadi
- hendaknya kita banyak-banyak
- beristigfar,
- kemudian banyak bertobat. Innallaha
- yuhibbut tawwabin wa yuhibbul
- mutathahhirin. Dan menyusul
- keburukan-keburukan kita dengan
- amalan-amalan saleh yang Allah ridai.
- Dan kita jumpai ada sebagian orang
- yang tadinya terjerat oleh riba.
- Ehm.
- Dia mengambil keuntungan dari Begitu dia
- sadar perbuatannya salah,
- dia banyak menginfakkan hartanya sambil
- menangis.
- Ehm.
- Mengharap di hari kemudian nanti Allah
- subhanahu wa taala apa?
- Tidak meminta pertanggungjawabannya
- atas kesalahan yang pernah dilakukan
- orang yang bertobat. Selagi kita di
- dunia sehat afiat, belum datang
- sakaratul maut,
- Iya.
- mari bersama-sama kita bertobat. Watubu
- ilallahi jamian ayyuhal mukminun
- laallakum tuflihun. Subhanakallahumma wa
- bihamdik.
- Asyhadu an la ilaha illa anta,
- astagfiruka wa atubu ilaik. Wal afu
- minkum. Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikianlah ikhwan akhwat
- renungan di bawah naungan Alquran untuk
- edisi hari ini bertepatan dengan 12
- Rajab 1447 Hijriah,
- juga 1 Januari 2026. Pesan Pesan dari
- Ustaz Husain tadi muhasabah tidak hanya
- setahun sekali Ustaz ya.
- Iya.
- Tiap hari, masyaallah sebelum tidur.
- Tadi Ustaz sebelum sore Ustaz ya. Sore
- apa?
- Sebelum terbenam matahari.
- Sebelum terbenam matahari.
- Kemudian ketika bangun pun mensyukuri
- kita masih diberikan kesempatan hidup
- Ustaz ya. Jadi setiap hari gitu.
- Hidayah untuk menjaga kita dari
- perbuatan-perbuatan yang tidak patut.
- Masyaallah. Baik ikhwan akhwat, semoga
- kita dapat memetik pelajaran dari yang
- disampaikan oleh guru kita Ustaz Husain
- Alatas di kesempatan ini. Terima kasih
- ikhwan akhwat yang sudah menyampaikan
- pertanyaannya.
- Akhirnya saya Rizal Haq dan juga ada
- yang bertugas di kesempatan ini Kang
- Ondi dan juga Kang Fahri undur diri.
- Billahi taufik walhidayah.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.