Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. Bang Ihsanuddin Nursi apa 0:20 kabar? 0:22 Waalaikumsalam 0:24 warahmatullahi wabarakatuh. Air. 0:26 Masyaallah. Herah 0:29 yah nampaknya dunia tidak sedang 0:31 baik-baik saja. Walaupun perjanjian 0:33 sudah di apa ya diteken nampaknya ambisi 0:37 dari Israel masih terus. Bahkan barusan 0:40 kami bacakan Syria yang menang-menang 0:43 baik ini dikejar pula diserang ya di 0:46 daerah selatannya itu ada drus di sana. 0:49 Akankah Turki bergerak? Akankah menjadi 0:52 ramai lagi menjadi babak lain setelah 0:54 Iran? yang dikatakan menjadi bahaya 0:56 lain. Ee denyut dunia di tengah Timur 0:59 Tengah ini menjadi catatan akhir zaman 1:02 mungkin, Bang. Tapi di dalam negeri 1:04 nampaknya kita ini sedang terus didera 1:07 dengan daya beli yang terus anjlok juga 1:10 lapangan kerja dan perlambatan 1:13 industrialisasi yang terus terjadi serta 1:15 tekanan fiskal pajak. Sekarang ini ada 1:19 kabar tentang media online yang bakal 1:21 kena pajak mulai masa ke depan juga. 1:24 Koperasi merah putih yang tadi beritanya 1:26 tuh dibangun di tengah hutan lah kan ada 1:29 efisiensi. Tapi nampaknya tah macam mana 1:32 ya dengan kasus MBG ini akan menjadi 1:35 kisah lain dari KPK atau kejaksaan dalam 1:39 lembaga yang lagi populis ini. Mungkin 1:41 Bang Ihsanuddin Nursi bisa memberikan 1:43 pencerahan buat kita semua di tengah 1:46 gejolak dunia yang luar biasa. Belum 1:49 lagi Amerika dan lain-lainnya. Silakan 1:51 Bang Ihsanud. 1:54 Baik. 1:56 Bismillahirrahmanirrahim. 1:59 Alhamdulillahiabbil alamin 2:02 wasatu wasalam ashabina 2:24 Muhammad. 2:27 Kita mulai dengan negeri. Kalau Iran 2:29 sebenarnya 2:31 ee ee sori kalau Israel sebenarnya sudah 2:34 jadi 2:35 sudah jadi 2:38 apa ya? 2:39 H 2:39 berita umum bahwa perilakunya memang 2:42 begitu. Perilakunya tidak akan pernah 2:44 patuh. 2:45 Perilakunya akan pokoknya selama dia 2:48 He 2:48 selama dia begitu. 2:50 H 2:51 dia dapat dukungan dari Amerika dia akan 2:53 terus begitu. H 2:55 iya kalau saya ngelihatnya ya tidak 2:58 peduli apakah Austuria, apakah di 2:59 Libanon, apakah di 3:01 dia akan terus begitu, 3:03 akan terus begitu dia tidak akan pernah 3:05 berhenti dan 3:06 itu sudah dituliskan denganas 3:08 dengan tegas dalam Al-Qur'an. 3:11 Sudah maktu 3:14 sudah tergurat tergurat kokoh begitu. 3:18 Nah, kita mulai dengan kondisi 3:19 Indonesia. Heeh. 3:21 Ee saya hari ini membaca 3:25 ee sebuah media 3:29 yang menceritakan 3:32 ee berbagai situasi Indonesia yang 3:34 memburuk 3:37 dan saya tahu media itu 3:41 media yang 3:43 mau menunjukkan independensinya. Tapi ee 3:46 selama Jokowi berkuasa, dia telah 3:48 menjadi media yang paling ee kokoh 3:52 mendukung Jokowi Widodo gitu. 3:55 Saya tidak perlu sebut. 3:57 Nah, ee tapi media itu media berpengaruh 4:00 kebetulan. 4:03 Nah, kalau kita melihat dari media lain 4:07 sementara juga ee menunjukkan tentang 4:10 pemberitaan NBG, pemberitaan SPPG, 4:14 pemberitaan tentang PHK yang ee terus 4:19 bergelombang 4:21 sehingga mensag menjadi gas mitigasi PHK 4:25 gitu. 4:29 Jadi di 4:29 yang menariknya kenapa yang menariknya 4:31 kenapa kenapa Manchestek menjadi 4:33 Manchestek? Kenapa bukan Menko? Kenapa 4:36 bukaner? 4:37 Menarik kan? 4:40 Kenapa juga bukan menteri-menteri lain 4:42 yang berhubungan dengan 4:44 mitigasi PHK tadi yang berkaitan dengan 4:46 lapangan kerja. 4:49 Nah, itu menggambarkan 4:52 ee beberapa media itu menggambarkan 4:54 sesungguhnya ee apa yang selalu kita 4:58 sampaikan dirhasil itu menjadi 5:00 kenyataan. Jadi enggak ada yang baru 5:02 kalau kita ngelihat dari itu 5:04 karena kita sudah ngomong duluan, kita 5:05 sudah bicarakan duluan, kita sudah bahas 5:07 duluan bahwa 5:10 gelombang PHK tidak akan berhenti. 5:14 Lalu lingkungan buruh ribut karena yang 5:17 satu masuk kekuasaan, yang satu jadi 5:19 menteri, yang jadi staf presiden, yang 5:21 satu merasa ini tidak sesuai gitu. 5:24 Heeh. He. 5:25 Sehingga satu sehingga 1,3 juta buruh 5:29 mengundurkan diri dari partai buruh 5:31 gitu. 5:33 Iya. itu 5:36 setelah berdialog panjang lebar akhirnya 5:39 1,3 juta mundur 5:42 mundur 5:43 dan dan ee 5:46 itu yang yang saya lihat ee 5:51 ee apa ya istil fenomena yang yang 5:56 ya kemarin saya menulis saya sampai 5:58 viral di 17 media online. 6:01 Salah satu tulisan saya tadi 6:04 kita paparkan bahwa 6:07 ee negara telah kehilangan 6:10 model 6:12 satu 6:14 perencanaan, 6:16 satu pelaksanaan, satu penganggaran, 6:20 pengevaluasian yang yang 6:24 memang berpijak pada upaya menjawab 6:28 problem-problem mendasar pada kehidupan 6:31 masyarakat. 6:32 Engak. Padahal ada BAPENAS. Nampaknya 6:34 BAPENAS sudah tidak berfungsi sekarang. 6:38 Sebenarnya sudah tidak berfungsi sejak 6:41 sejak Indonesia didik oleh NB dan Pak. 6:43 Oh iya iya. 6:47 Saya Nah, karena kebetulan saya saya 6:50 menyaksikan ketika ketika ketika ada 6:53 pelatihan mereka meranjang 6:55 menarik semua kewenangan BAPENAS itu. 6:58 Saya 6:59 di sebuah gedung pemerintah gitu. 7:00 diundang sebuah nih saya jadi ini un 7:03 told story 7:05 saya ingin menyampaikan ini un told 7:07 story 7:09 satu hari saya diajak oleh seorang 7:11 petinggi negeri ini. Hm. Saya bilang ke 7:15 mana saya engak saya saya sengaja. Dia 7:18 bilang saya sengaja tidak ngerti tahu 7:20 Anda 7:21 datang ke sini 7:22 dan kita mau ke mana? 7:24 Nah sekarang kita menuju ke sebuah saya 7:26 enggak usah sebut gedung sebuah gedung. 7:28 Hm. Nanti kita lihat di situ bagaimana 7:32 ee 7:33 pertemuan itu. Ini pertemuan apa 7:36 ya? Ada pembahasan keuangan negara. 7:40 Oh gitu. Oke. 7:42 Saya karena keuangan negara saya tentu 7:46 berkaitan dengan ya berkaitan dengan 7:49 patience saya, berkaitan dengan 7:52 kompetensi saya gitu ya. 7:53 Heeh. 7:55 Saya hadir di situ, sang pejabat tentu 7:58 duduk di depan dan saya duduk paling 8:00 belakang. 8:04 Jadi 8:06 ee saya lihat saya, oh di situ saya tahu 8:10 ternyata di situ sedang dibahas 8:13 Undang-Undang Keuangan Negara gitu 8:15 RUU. He. 8:17 Jadi ee jadi bahasa kerennya sedang 8:20 dibuat satu ee naskah akademik untuk ee 8:27 keuangan negara. He. 8:31 Nah, ee 8:33 rupanya dia menjadi narasumber di situ. 8:37 Oke. H 8:38 pulang kita saya tanya loh kalau kalau 8:42 kalau naskah akademiknya begitu saya 8:44 bilang, maka 8:47 kewenangan BEPENAS itu diambil. 8:50 H 8:52 nanti kita lihat dampaknya. 8:54 Dia cuma jawab nanti kita lihat 8:55 dampaknya. Dan benar dampaknya adalah 8:58 Wik yang saat ituus menjadi BAPNAS 9:01 merasa betul kewenangannya dipangkas. 9:03 Jadi itu kan era Budo sebagai menteri 9:05 keuangan, 9:07 Kiki sebagai menteri BAPENASENAS. 9:11 Maka 9:13 ee Quick bereaksi 9:16 maka keluarlah Undang-Undang 254 tentang 9:19 sistem perencanaan Pembangunan Nasional. 9:22 Dari situ sebenarnya, dari situ 9:24 sebenarnya dia menjadi kajian saya 9:26 berkali-kali di Komisi 11 ya 9:29 yang isinya menyatakan kalau Anda bisa 9:32 mengubah Undang-Undang 17 2003 tentang 9:34 keuangan negara yang menghimpun seluruh 9:37 kekuatan keuangan negara baik dari mulai 9:40 perencanaan sampai dengan itu saya akan 9:43 cium tangan dengan Anda gitu kalimat 9:45 saya di Komovisi 11 9:50 H 9:52 He he he. 9:53 Poinnya ketika kita sekarang ngelihat 9:54 gitu ya, kita ngelihat ee ee saya 9:59 setelah itu cuma sekali menjadi 10:00 pembicara di Papenas. Setelah itu saya 10:02 enggak pernah lagi diundang diundang ke 10:04 Bappenas gitu 10:05 sampai. Jadi artinya sudah 20 berapa 10:08 tahun? 10:09 22 tahun ya. Cuma sekali diundang Bapak 10:11 Nasra itu enggak pernah lagi dan memang 10:13 tidak berharap juga. 10:16 Apa-apa ini adalah kalau hari ini kita 10:18 menyaksikan berbagai media membahas 10:20 tentang MDG, SPPG, 10:23 lalu tentang 10:24 koperasi 10:25 ee koperasi merah putih 10:28 lalu bicara tentang swasembada emergi, 10:31 sasembada pangan. H 10:33 kan semuanya berkaitan dengan 10:34 perencanaan pembangun. 10:35 Iya. termasuk Danantara ya yang minta 10:37 perlindungan KPK sekarang ini. 10:40 Iya. 10:41 Jadi ee 10:43 jadi di ee dan menarik kenapa mereka 10:46 sampai kayak gitu. Nah, artinya 10:49 ee 10:50 anak Betawi bilang tiba saat tiba akal 10:52 gitu. 10:55 H tiba masa tiba akal bang. Iya. 10:58 Tiba masa tiba akal gitu. Tidak di tidak 11:01 dipikirkan dulu jauh sebelumnya dengan 11:03 kalau kata orang Bogor tuh kumahake wae 11:05 lah katanya pokok jalan dulu gitu kumaha 11:08 kumaha 11:11 e itu yang seolah-olah ee ee ya hidup 11:16 ini enggak perlu nah itu itu sebenarnya 11:20 bentuk kegagalan sistem gitu 11:22 h 11:22 kenapa karena memang 11:25 Dasar 2002 atau Undang-Undang Dasar 45 11:28 palsu 11:30 Heeh. 11:30 Itu kan tidak ada lagi bikin GBH. 11:33 Hm. 11:34 Lalu digagas tentang pedoman 11:37 ee pedoman pedoman haluan negara PPHM 11:40 gitu. 11:41 Hm. 11:42 Jumlah orang. 11:43 Iya. 11:44 Enggak bisa juga karena 11:45 di sini 11:46 itu enggak diberi 11:48 ee di situ enggak dibuka ruang juga. 11:49 Lalu mereka bilang, "Iya, kita cabut 11:51 dulu undang-undang tata urutan 11:53 perundang-undangan yang memberi yang 11:55 menyatakan tidak ada lagi produk T MR 11:57 sehingga MPR bisa bikin TAP." 12:00 Artinya poinnya kalaupun mereka 12:02 melakukan perbaikan Undang-Undang Dasar 12:04 Palsu itu hanya dalam menang pendidikan 12:06 PPHN sebenarnya 12:09 baik itu hanya bersifat administratif 12:12 atau itu merupakan suatu keputusan yang 12:14 memang memberikan ee tekanan paksa 12:18 kepada sistem presidensial. H 12:21 ini menarik di sini karena perdebatan 12:23 dan perdebatan sistem menunjukkan bahwa 12:28 mereka yang merancang Undang-Undang 12:29 Dasar 2002 ini tidak punya kompetensi 12:32 cukup untuk bicara tentang konstitusi 12:35 yang memajukan negara. Maaf ya. Maaf ya. 12:40 Karena sesungguhnya di situ mereka tidak 12:43 melihat semua negara yang maju hari ini 12:46 yang kita lihat maju. Apakah kita lihat 12:49 yang namanya Vietnam? Apakah kita lihat 12:52 yang namanya katakan Irang deh yang 12:54 kayak gini? 12:55 Tidak ada yang berpikir hanya dalam 12:57 rangka 5 tahunan dengan RPJMN model 12:59 Indonesia enggak ada. 13:01 Mereka berpikirnya 25 tahun. 13:04 Amerika Amerika 13:07 H 13:08 yang bicaranya kayak gitu. Demikian 13:10 liberalnya itu kalau nih ini nih 13:14 perdebatan saya dengan AI ya. Perdebatan 13:16 saya dengan AI merujuk kepada mundurnya 13:20 Tulsi Gabard gitu ya sebagai direktur 13:23 national intelligence. 13:25 Eh tentu karena AI 13:28 tentu tergantung siapa pemasuknya, siapa 13:31 feedernya, tentu dia akan habis-habisan. 13:33 Tapi ketika saya menggunakan 13:35 dokumen-dokumen Amerika sendiri seperti 13:37 National Security Strategic of US 13:40 September 2002, Nation 2008 dan 13:44 seterusnya. Jadi saya ikutin betul semua 13:46 dokumen-dokumen itu dan saya jadikan 13:48 argumen 13:49 eh akhirnya kalah. 13:52 Oh 13:53 di situ kelihatan bahwa sesungguhnya 13:55 Amerika itu punya jangka panjang untuk 13:58 melakukan satu peperangan. 14:01 Iya. He. 14:02 Jadi mikir perang aja mereka jangka 14:04 panjang sebenarnya. 14:06 Menciptakan perang terus harus e karena 14:08 industri ini harus bergerak gitu. 14:11 Harus bergerak. Itu yang saya bilang. 14:13 Itu yang saya bilang. Itulah financial 14:15 military industrial complex bukan 14:18 h 14:18 industrial complex. Ingat ya di sebuah 14:20 stasiun TV saya bilang 14:22 kalau Anda masih mikir dengan military 14:23 industrial kompleks Anda ketinggalan 14:25 zaman. 14:27 Karena sesungguhnya mereka sudah berpil 14:28 financial military ind. Sejak kapan? 14:31 Sejak Nikon sok sejak tahun 0. 14:38 Sejak tahun 70 gitu. J Agustus tahun 14:42 Nixon Sok terkena mereka bikin sebuah 14:45 perancangan gitu ya tentang bagaimana 14:48 financial military financial industrial 14:50 complex gitu. 14:52 Eh dan berkaitan itu keseluruhan. Jadi 14:55 artinya 14:56 ini ini saya juga terkagum-kagum 15:00 pada mayoritas bangsa Indonesia yang 15:04 masih tetap demam dengan demokrasi 15:06 liberal 15:07 yang masih tetap bukan masih masih demam 15:10 dengan pasar bebas gitu ya. Iya 15:12 masih tetap bangga dengan gitu. Padahal 15:14 dalam perdebatan saya dengan AI itu ya 15:17 dengan menggunakan dokumen itu mereka 15:19 bilang ya itu ironinya Indonesia. Dia 15:21 bilang, 15:22 "He 15:22 sampai AI mesin kayak gitu bisa bilang 15:25 itu ironinya Indonesia, Bang." Tapi 15:27 balik lagi masalah AI, Bang. Ini tadi 15:29 saya juga bacakan berita nih dari 15:31 akademisi yang mengatakan ada beberapa 15:33 bank ya, Bank Danamon juga Warner Bros 15:36 menggunakan e perusahaan itu yang 15:38 memutuskan keputusan tuh AI. Tapi 15:41 pertanggungjawabannya macam mana, Bang, 15:43 ini apa apa ee apakah ini bisa menjadi 15:46 sebuah ee acuan atau menjadi sebuah 15:49 keputusan kalau terjadi macam gitu? 15:52 Kalau kalau saya lihat itu jadi sekedar 15:55 rujukan karena keputusannya tetap di 15:58 tangan manusia. 15:59 He. 16:00 Jadi kalau kalau misalnya saya ngelihat 16:02 dari ya ee saya ngambil contoh pribadi 16:05 saya gitu ya. 16:07 Ee saya melakukan perdebatan tentang 16:09 geopolitik. saya melakukan perdebatan 16:11 tentang financial military industrial 16:13 complex gitu ya. 16:15 Karena spektrumnya luas. Jadi saya 16:17 ngelihat saya ngelihat dalam sebuah 16:19 tataran yang luas bahwa satu peristiwa 16:22 akan berkaitan bukan akan berkaitan satu 16:24 peristiwa berkaitan dengan peristiwa 16:26 lain. 16:26 H 16:26 misalnya serangan ke Suriah gitu 16:28 misalnya. 16:29 Iya. 16:29 Jangan kita lihat sebagai single 16:31 variabel itu perilaku Israel terhadap 16:33 Suria. Enggak bisa. 16:35 He. 16:35 Atau katakan ee kemarin waktu 16:40 waktu Israel menyerang Libanon. 16:42 Hm. 16:42 Ya, jangan melihat cuma sekedar itu. Itu 16:44 harus dilihat dalam konstruksi bahwa ee 16:49 ee Bibi Netanyaho 16:51 itu bisa bisa bertindak bertindak 16:53 sendiri di luar dari keputusan 16:55 yang dilakukan oleh Trump ee 16:57 dengan Iran. Gak ada urusan 17:00 dan dia bisa tunjukkan itu gitu. He 17:02 poinnya adalah itu ee Israel itu 17:06 mengambil posisi multiple suitable 17:08 standard walaupun dengan Amerika. 17:11 Jadi bukan hanya Amerika yang punya 17:13 sikap multiple suitable standard. Israel 17:15 pun mengambil sikap multiple suitable 17:17 standar walaupun Amerika. Kalau pakai 17:20 bahasa kalau ini eh kebetulan Takarsan 17:24 baru mengundurkan diri 17:26 dari republik setelah dia berbeda 17:28 pendapat dengan Trump dan menyatakan 17:29 bahwa Trump kalah dalam perakiran gitu 17:31 ya. Sehingga si Takar takar ini 35 tahun 17:34 dan menjadi militan republik dalam 17:36 rangka membelaat Trump gitu ya. 17:39 Ya, Fox TV, Fox News ya. He. 17:42 Ee yang ee habis-habisan membela ee 17:47 dia bilang ini karena Amerika berhasil 17:50 didikte. Tepatnya Israel berhasil 17:53 mendikte Amerika untuk kepentingan 17:55 Israel bukan untuk kepentingan Amerika. 17:57 Ngapain kita mesti membayar pajak untuk 17:59 bangsa ini? Tapi pajak itu digunakan 18:02 untuk membela Israel yang Israel itu 18:04 melakukan pembunuhan genosida dan tidak 18:07 pernah bicara tentang kepentingan 18:08 Amerika. Katanya sedap kan? 18:14 itu itu sampai kayak gitu gitu di ah ini 18:17 kalau kita ngambil dalam konstruksi 18:18 Indonesia misalnya gitu 18:19 ya banyak oligarki yang berkuasa betul 18:22 oligarki menguasai partai politik ini 18:24 kan menjadi 18:25 problem akhirnya lanjut 18:28 nah itu yang yang cerita oligarki itu 18:31 yang sesungguhnya saya bilang begini 18:33 jadi masuk nanti ketemu lagi itu dengan 18:34 argumentasi karena kita 18:37 analisis saling keterkaitan jadi kita 18:39 bicaranya sebuah konfigurasi kekuat 18:40 kekuasaan. 18:41 H. 18:41 Jadi bukan ee konfigurasi kekuasaan itu 18:44 dengan dimensi yang multidisiplin 18:48 sehingga metodologi kita e bukan 18:49 metodologi sehingga paparan kita lebih 18:51 utuh gitu ya dengan metodologi yang 18:54 kokoh gitu. Saya mengajukan metodologi 18:56 tiga 18:56 ee bagaimana metodologi itu harus tunduk 18:58 pada konsistensi, koherensi, dan 19:01 korespondensi. Bagaimana metodologi tadi 19:04 itu tunduk pada cerita 5C, casing contex 19:07 content comprehensive consistent. 19:08 bagaimana metodologi itu tunduk pada 19:10 yang namanya ee cara pandang struktural, 19:14 cara pandang fundamental, cara pandang 19:16 fungsional, tiga metodologi. Nah, baru 19:19 si EA itu kalau dalam bahasa bahasa ya 19:23 ini membuktikan bahwa memang satu 19:24 peristiwa tidak merupakan satu single 19:26 variable. Dia bilang 19:28 baru dia ngejawab, dia baru ngakuin 19:30 bahwa ya iya itu ceritanya begitu cerita 19:34 yang seperti yang saya bilang tadi. 19:37 Hm. I. 19:38 Nah, dari situ bisa kita lihat saya 19:41 bilang begini, misalnya 19:44 di sistem presidensialil berbasis 19:46 demokrasi liberal dengan demokrasi 19:48 liberal yang ujungnya keman presidensial 19:51 sesungguhnya sudah terjadi 19:53 pengambilalihan kedaulatan 19:57 sehingga 19:59 gitu ya kedaulatan rakyat terelintir 20:03 orang itulah yang disebut dengan oligar 20:06 politik. 20:07 Ya, L dia bilang ya itu kalau pakai ya 20:10 itu kajiannya 20:13 bilang 20:16 lihat coba secara detail secara melulu 20:18 ah itu saya sebutin lagi berbagai data 20:20 oh iya akhirnya dia ngakuin dia ya 20:23 perinter cuma sekedar formulasi padahal 20:26 sesungguhnya sudah terjadi yang namanya 20:28 pemusatan kekuasaan di bidang politik 20:30 itu demokrasi liberal dengan 20:32 presidensiil ya lalu berikutnya 20:36 dibilang ekonomi, Anda menggunakan pasar 20:38 bebas. Nah, di pasar bebas itu dengan 20:41 kekuatan dengan kekuatan produsen dan 20:45 kekuatan finansial berada di tangan 20:47 produsen, maka sesungguhnya sudah 20:49 terjadi pergeseran konsumen itu didikte 20:52 habis-habisan 20:54 sehingga terjadi pemusatan kekuasaan 20:56 ekonomi di tanah segelintir orang. 20:57 Itulah oligarki ekonomi. 20:58 Heeh. 20:59 Ketika yang namanya oligarki politik 21:01 lemah, maka yang mengambil alih adalah 21:02 oligar ekonomi. Nah, apa poinnya? Ah, di 21:05 sini menarik. H 21:07 apa poinnya dari perangai poinnya dalam 21:09 perdebatan bagaimana terjadi oligarki 21:11 politik dan oligarki ekonomi itu 21:14 kelihatan 21:17 bahwa negara akhirnya 21:20 hanya menjadi alat ini disebut nih ini 21:23 disebut 21:24 negara hanya menjadi alat untuk 21:27 mengakumulasi kekayaan para orang kaya 21:31 dan mengakumulasi kekuasaan yang mereka 21:33 sudah punya. Loh, jadi meritokrasi ini 21:36 menjadi morat marit teokrasi ya. Tokrasi 21:39 ya. Iya. Jadi luar biasa ini kan lagi 21:42 viral nih asisten 21:44 jadi ketika argumen-argumen 21:46 lanjut. 21:47 Iya. Jadi artinya ketika argumentasi 21:50 argumentasi itu kita masukin sedemikian 21:52 rupa gitu ya. 21:53 Saya bilang itu ilusi. E akhirnya mereka 21:55 bilang ya itu ilusi. 21:57 Ilusi bahwa pasar itu bebas. Ilusi bahwa 22:00 partai demokrasi itu bebas. Itu ilusi 22:03 semua katanya. itu ilusi kesetaraan. Itu 22:06 ilusi di mana konsumen punya kekuasaan 22:08 gitu. Nah, ketika bicara meritokrasi 22:11 jangan berharap karena akhirnya yang ada 22:13 adalah oligarki 22:16 orang-orang yang dia sukai, orang-orang 22:18 yang mengabdi pada dirinya. 22:21 Ajar Pak Prabowo bilang ini negeri 22:23 makmur tapi kok rakyatnya miskin. Ya, 22:24 dia sendiri tahu sebenarnya. 22:28 itu itu artinya paradoks di situ. Nah, 22:30 sehingga ketika dia tahu Indonesia 22:32 paradoks 22:34 I tulis ya betul 22:35 yang mengakumulasi ya yang mengakumulasi 22:38 kekayaan, yang mengakumulasi kekuasaan 22:41 di tangan segelintir orang ya itu yang 22:43 pernah saya bilang berkali sistem itu 22:46 telah melanggangkan ketimpangan 22:49 kemanusiaan. 22:50 H 22:51 itu yang tidak menjawab amanah pembukaan 22:54 Undang-Undang Dasar 45. Tidak 22:57 membebaskan. 22:59 penting tidak membebaskan ketertindasan, 23:02 tidak membebaskan kebodohan, tidak 23:05 membebaskan kemiskinan, tidak 23:07 membebaskan ketimbangan, tidak 23:09 membebaskan kehinaan. 23:12 H gitu. 23:14 Yes. Nah, kalau kerangkanya begitu gitu 23:16 ya, K maka kasus sekarang merosotnya 23:19 kepercayaan masyarakat terhadap 23:21 pemerintah di bidang penegakan hukum, 23:23 merosnya kepercayaan 23:26 masyarakat ee pada pemerintah di bidang 23:29 ekonomi, di bidang sosial, di 23:32 macam-macam gitu terhadap e Gatra itu. 23:35 Itu bukan hal baru. Sekarang memang tadi 23:37 selain model perencanaannya salah, 23:40 begitu ulang model perencanaannya salah 23:43 lalu kemudian sistemnya salah, aktornya 23:46 salah gitu ya. 23:49 Aktornya salah. Nah, akibatnya jadi 23:52 begitu. Jadi bukan cuma sekedar sistem 23:54 dan aktor yang salah. Dia dilengkapi 23:56 dengan perencanaan yang salah sebagai 23:57 dampak dari sistem yang salah. dia 23:59 dilengkapi dengan aktor yang tidak 24:01 kompeten seperti maksudnya masuknya 24:03 misalnya seorang yang tidak mengerti 24:05 tentang ee energi mesti duduk di bidang 24:07 energi hanya karena ee ee ee balas budi 24:11 misalnya contohnya begitu gitu. 24:14 Ada orang yang tidak mengerti tentang 24:15 yang ijazahnya lagi digugat gitu ya. 24:18 Iya. Atau atau misalnya anggota DPR 211 24:22 orang tidak jelasah ee kelas 24:24 pendidikannya apa, jenis pendidikannya 24:26 apa gitu loh. 24:27 Sementara 24:28 yang lain kayak gitu ya gimana? Sampai 24:30 akhirnya diledek 24:32 anak-anak S1 yang cerdas-cerdas itu 24:35 gimana negara ini diatur oleh 211 orang 24:37 pendidikannya tidak jelas gitu ya. 24:39 Dia bikin pengawasan, dia bikin 24:41 penganggaran katanya begitu kan. 24:43 Betul. 24:43 Dia bikin aturan katanya. Coba 24:45 bagaimana enggak kacau? dan dia diatur 24:48 oleh ketua partai lagi. Bingung juga 24:50 kan? I. Nah, lalu problema lagi bicara 24:54 efisiensi tapi kabinetnya bengkak. 24:56 Katanya coba logika-logikanya itu 24:58 logika. Nah, itu 25:00 itu menggambarkan 25:02 bahwa ee 25:05 ketika kita tidak memahami apa yang kita 25:07 bicarakan 25:09 takunaal 25:11 ya kita tidak melakukan apa yang kita 25:14 katakan gitu ya. He. 25:15 Maka yang ada akan bencana, yang yang 25:19 ada terjadi petaka. 25:22 Itu yang mestinya dipahami ketika memang 25:24 sesuatu tidak diserahkan kepada yang 25:26 ahlinya. Ee jadi begini gitu ee ee 25:31 katakan kantor pemerintahan menjadi 25:32 kantor partai misalnya kan gimana coba? 25:36 Iya iya iya. 25:38 Kantor departemen di kantor partai 25:39 gimana coba? Itu dia itu meritokrasi 25:41 yang aur-auran gini kan, asisten apa 25:45 pengusaha jadi komisaris perusahaan BUMN 25:48 itu kan. Jadi lucu-lucuan juga. 25:51 Ah itu a itu kalau 25:53 itu tadi sistemnya membuka ruang 25:57 tidak adanya demarkasi 26:00 antara 26:02 pengusaha dengan penguasa. H 26:04 di era Soeharto demarkasi itu dibuat 26:08 sejelek-jeleknya Soeharto, Soeharto 26:11 masih membuat demarkasi. 26:13 Demarkasi antara pengusaha dengan 26:16 makanya saya ingat betul 1 pagi saya 26:18 ngopi pagi bersama ee Mas Salah 26:22 Salahuddin. Gusah itu pernah ke sini 26:25 juga silaturahmi beliau. Allah yarham. 26:28 Jadi saya ngopi pagi gitu ya. 26:30 Pejaten di Pejaten ya. 26:32 Ee enggak di rumahnya. 26:33 Oh, di rumahnya. 26:34 Di rumahnya kita pagi di rumahnya. 26:36 Di rumahnya ngobrol kanan sendiri. 26:40 Nah, salah satu tesis ya dulu di era 26:42 Orde Baru katanya di fungsinya kita 26:44 bicara si ABRI. 26:46 H 26:47 sekarang di fungsi antara pengusaha 26:49 dengan penguasa. Saya ketawa. 26:55 Dia bilang e tapi yang parah sebenarnya 26:57 justru sekarang katanya karena fungsi 27:00 ini berkumulasi. pada konsumsi ekonomi 27:02 dan politik. 27:04 Kalau dulu kan cuma eh dampaknya pada 27:07 politik, sementara ekonominya kan tetap 27:09 ini. 27:10 H 27:10 saya bilang, "Mas, jangan salah itu 27:13 bagian dari ee kesalahan Undang-Undang 27:17 Dasar 45 palsu." 27:18 Nah, 27:19 karena pasal 6A ayat 2, pasal 6a ayat 4 27:24 he 27:24 dan pasal 1 ayat 2, pasal 2 ayat 1-ang 27:27 dasar patim palsu itu begitu gitu. 27:30 Pantesan Pak Amin Rais nyari-nyariin 27:32 Bang Iksanuddin Nursi kah merasa 27:33 bersalah atau macam mana, Bang? 27:38 Ah, artinya ee saya 27:41 ee ini kan mestinya 27:42 mestinya 27:44 ee tadi ya kalau berdebat dengan AI saja 27:48 AI bisa menyatakan ironinya bangsa 27:50 Indonesia, 27:51 menariknya bangsa Indonesia. Di tengah 27:53 melihat kegagalan Amerika menerapkan 27:55 demokrasi liberal, sistem ekonomi kayak 27:58 gitu gitu ya. He. 27:58 Tapi menariknya Indonesia, Indonesia 28:00 tetap berpaka, berpikir amn 28:04 halo 28:04 74% itu katanya di masyarakat Indonesia 28:08 itu masih menjunjung tinggi demokrasi 28:10 dan pasunasi 28:13 walaupun menteri keuangannya bolak-balik 28:14 ke Beijing ya. 28:17 Iya. 28:19 He 28:19 kan sebenarnya dalam rangka sekedar 28:21 menyeimbangkan. 28:22 Heeh. Dalam rangka menyeimbang. Sekarang 28:25 saya punya pertanyaan, kenapa danaan 28:28 darah sumber daya Indonesia fokusnya 28:31 pada sawit, pada nikel, dan pada batu 28:34 barang? 28:34 Iya. 28:35 So, look beyond 28:39 fokus resources yang ada di dan antara 28:41 in tidak masuk misalnya ke energi, 28:45 kenapa tidak masuk ke emas, 28:46 kenapa tidak masuk misalnya ke hal-hal 28:49 lain? Masuknya cuman ke batu bara, ke 28:51 nikel, dan ke sawit. Saw 28:54 siapa penguasa itu sampai akhirnya jadi 28:58 gede. Betul. 29:00 Penguasa penguasa nikal Indonesia itu 29:03 ngomong di Singapura ee bunyi alarm 29:06 sudah ditandai 29:09 kurang lebih. Nah, ee 29:11 saya kira begitu pembahasan kita. Halo. 29:13 Iya. Satu lagi, Bang, yang mau kami 29:15 tanyakan terhubung mau tanya ini. Ini, 29:18 Bang. Sekarang ni kan zaman orang pada 29:20 mau masuk kuliah, masuk sekolah. Mak-mak 29:23 baris di apa di di toko emas dan 29:27 lain-lain jual hartanya buat pendidikan. 29:30 Menterinya pun pernah mengatakan ini 29:32 survival mode. Apa yang Bang Ihsanuddin 29:35 Nursi ingin sampaikan buat pendengar 29:37 yang sedang mengalami zaman kayak gini 29:39 ya, urusan kambing hitam banyaklah ya. 29:42 Perang di Timur Tengah lah dan apa 29:43 menterinya bilang ini negeri tumbuh tapi 29:45 kok rusak. Apakah ada yang merusak atau 29:48 macam mana, Bang? Dan bagaimana 29:50 masyarakat bersikap dengan keadaan macam 29:52 begini? Menyelamatkan masa yang terus 29:54 bergulir 29:55 di kerangka sistem politik ekonomi. Anda 29:59 ee Anda disuruh terbuka gitu ya. Ini 30:02 saya kita 30:03 kita kita rekonstruksi dulu ya. Kita 30:05 rekonstruksi dulu, nanti kita dekon lalu 30:07 kemudian kita rekonstruksi. di sistem ee 30:10 ekonomi, Anda diminta untuk tunduk pada 30:13 ketentuan-ketentuan luar 30:15 yang bicaranya tentang keterbukaan, 30:17 transparansi, 30:18 MSC. Iya. 30:19 Transparansi di berbagai 30:21 Anda lupa yang menentukan keterbukaan 30:23 transparansi itu pihak luar. Anda tidak, 30:25 Anda tidak memahami apa maksud pihak 30:27 luar sampai betul-betul meminta 30:28 keterbukaan. 30:30 Apakah Amerika memang betul-betul 30:31 terbuka dalam persoalan perekonomian? 30:33 Enggak. Enggak juga. 30:37 Nah, apa maksud di balik keterbukaan 30:40 yang sedemikian rupa tingginya yang 30:42 diminta sama mereka? Karena bahasa 30:43 mereka kerennya transparansi gitu ya. 30:45 I 30:46 kalau kejujuran memang seharusnya 30:47 tinggi-tingginya. Kejujuran itu betul 30:49 harus tinggi-tingginya. 30:50 Tapi kalau transparansi sampai dibuka 30:53 sedemikian rupa itu sama dengan Anda 30:55 menyerahkan diri ketentuan standarisasi 30:59 pengawasan. Jadi standarisasi pengawasan 31:02 gitu ya. Dan penilaian Anda serahkan ke 31:04 pihak AC. 31:05 Hm. 31:07 Itu yang tidak dipahami. Saya ulang ya 31:09 dengan kondisi yang seperti sekarang nih 31:11 saya ngomongnya sebenarnya sudah 31:12 berkali-kali ya. Jadi 31:18 adalah 31:19 Iya. Artinya memang artinya kita 31:22 mengatakan begini, 31:24 kita ingin bilang begini, inilah betapa 31:26 pentingnya pendidikan. Karena ketemunya 31:28 nanti di situ 31:29 kita ngomong berkali-kali saja gitu ya. 31:31 Iya. Iya. Susah enggak nyambung gitu ya. 31:33 Iya. Memang banyak orang berubah dengan 31:35 pendidikan. Betul, Pak. 31:37 Artinya begini, kalau dibilang enggak 31:39 nyambungnya masih bagus. Ini budak 31:44 sumung 31:46 omahum yailun. Anda ada telinga tidak 31:49 mendengar, ada mata tidak melihat, ada 31:52 hati beku dan kemudian Anda tidak pandai 31:54 bersyukur gitu. Nah, itu jatuhnya 31:56 begitu. itu dari segi dari segi e model 31:59 secara menyeluruh 32:00 ekonomi diminta di politik diminta 32:02 begitu gititu 32:03 dampaknya akhirnya kita ketika rupiah 32:07 kelihatan sebentar menguat terus 32:08 kemudian kembali melemah saya kemarin 32:10 ditanya lagi sama seorang 32:13 seseorang datang dengan timnya gitu ya 32:16 ke tempat ke kantor nanya 32:20 ini dengan kondisi 32:22 kayak gini terus rupiah kayak gini terus 32:24 Purbaya sudah dapat pinjaman 32:26 Global bond sudah terbit, kenapa rupiah 32:28 masih melemah? Iya, 32:30 saya kasih bukti. Saya bilang, "I'm 32:32 talking by data. 32:34 I'm talking by methodology." Saya gelar 32:37 ini datanya, 32:38 ini metodologi. Lihat sendiri. Saya 32:40 bilang kaget dia. Jadi artinya apa? 32:43 Rupiah kan terus melemah. 32:44 Hm. 32:46 Jadi jangan dibilang rupiah akan terus 32:48 No, no, no. Untuk jangka panjang rupiah 32:50 akan terus melemah. Dia boleh menguat 32:52 sesaat, tapi akan terus melemah. Kenapa? 32:55 Karena tadi Anda menyerahkan sistem itu 32:56 keluar 32:58 gitu, Anda menyerahkan itu jatuh keluar 33:00 enggak karu-karuan. 33:02 Nah, jadi 33:04 sekarang kalau emak-emak ngejual emas 33:06 dalam rangka pendidikan 33:07 H 33:08 itu menggambarkan 33:10 bahwa emak-mak sadar 33:14 pendidikanlah yang yang masih mampu 33:17 memberi harapan mengatasi masa depan. 33:21 di tengah yang namanya sistem pendidikan 33:23 kita sudah sampai sistem pendidikan 33:27 sekuler. 33:31 I 33:31 ulang ya ulang saya tidak sedang saya 33:34 tidak sedang menakut-takuti nih. 33:36 Iya 33:36 pendidikanlah yang masih memberikan 33:38 harapan pada masa depan. di tengah 33:40 sistem pendidikan kita itu masih 33:43 memberlaku, masih menerapkan model, 33:45 masih melaksanakan model sekularisme. 33:49 What's the point? Sekularisme itu tidak 33:51 akan pernah menjawab kebutuhan manusia 33:53 itu sesungguhnya. 33:55 Ah, artinya, Bu, saya ini juga pernah 33:59 saya ngomong di depan ibu-ibu 2 minggu 34:01 lalu ada sekitar 40 ibu-ibu ngundang 34:04 saya gitu ya. 34:08 Baru kali itu saya memenuhi undangan 34:10 ibu-ibu gitu ya. The power of mak-memak. 34:13 Hm. 34:14 Iya. The power of makak gitu ya. 34:16 Kebetulan si mak-memak ini tukang demo 34:18 jadi ngundang saya gitu. 34:23 Nah, 34:24 di depan mama itu saya bilang, "Inilah 34:26 hasil pendidikan, inilah ceritanya, 34:29 sekularismenya." Bahkan kemarin di 34:31 sebuah masjid saya bilang, "Pesantren 34:32 sekalipun menerapkan sekularisme 34:36 gitu. 34:37 Jadi kalau dia hari ini ee mereka 34:40 menjual emas dalam rangka mempersiapkan 34:43 diri anak-anaknya masuk ke pendidikan 34:45 itu karena pendidikan masih memberikan 34:47 memang secara umum secara universal 34:51 pendidikan mleverage posisi seseorang 34:53 pengetahuan dan seterusnya. Sama seperti 34:56 ketika Rasulullah menerima 34:58 bismik 35:00 hingga 35:03 itu kan membuktikan bahwa umat manusia 35:05 di dunia hanya bisa diverage, hanya bisa 35:08 diangkat harkat martabatnya hanya 35:10 melalui ilmu dan iman bukan. Dan ilmu 35:13 dan imannya bersumber dari ajaran dari 35:15 ajaran Allah bukan dari ajaran bukan 35:17 dari ajaran sekularisme 35:19 gitu. Tapi artinya eh ee pet-nya 35:25 metodologinya benar tapi kontennya salah 35:28 gitu bahasan. Jadi emak-emak itu 35:30 menjalankan metodologinya benar tapi 35:32 gitu ya kontennya isinya substansinya 35:35 itu salah gitu. 35:37 Nah bagaimana memperbaikinya itu kan 35:41 metodologinya adalah ambil waktu anda 35:45 dalam sehari minimal 2 jam 3 jam untuk 35:48 berdialog pada anak. 35:50 Dan isi anak-anak itu dengan Al-Qur'an 35:53 gitu. Isi dengan seayat, dua ayat, tiga 35:57 ayat terserah. Tapi isi anak itu dengan 35:59 membacakan satu ayat lalu kemudian 36:02 bacakan artinya. Kalau bisa tadaburi 36:04 gitu. Sekarang sudah ada AI. Tanya AI. 36:08 Kalau tentang ini bunyinya apa, 36:09 kondisinya gimana, sampaikan itu pada 36:11 anak. Ah, gitu. Jadi mempelajari 36:13 Al-Qur'an itu sekarang sudah jauh lebih 36:15 mudah 36:16 karena ada AI, ada macam-macam. Bahkan 36:18 kita bisa berdebat habis-habisan dan 36:20 kita bisa menyudutkan EAI habis-habisan 36:22 untuk kemudian memenuhi 36:24 hasrat-hasrat kalbu kita, 36:27 untuk memenuhi hasrat pikiran kita. 36:30 Masyaallah. 36:31 Saya kira begitu. Terima kasih banyak 36:34 pendengaril 36:35 ee jangan pernah putus ee menggantungkan 36:39 harapan setinggi-tingginya pada kebaikan 36:41 karena matahari pagi masih terbit dari 36:44 timur. 36:44 Amin. Amin. Insyaallah. Dan seperti 36:47 tantangan pada pada Ibrahim, pada kaum 36:51 gitu ya, tidak akan terbit matahari dari 36:53 barat gitu ya. 36:54 Masyaallah. Terima kasih. 36:56 Mari mari kita e bergantung pada pada 37:00 sambil kita terus berupaya memperbaiki 37:02 kualitas kehidupan kita, 37:04 kualitas kehidupan pribadi, keluarga, 37:05 dan lingkungan. 37:07 Subhanakallahumma wabihamdika asadu ila 37:09 anta astagfiruai wainkum. Alalamualaikum 37:13 warahmatullahi wabarakatuh. 37:14 Waalaikumsalam warahmatullahi 37:17 wabarakatuh.