Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:17 warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma 0:19 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:21 sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita 0:24 berjumpa lagi hari-hari hari ini hari 0:26 Kamis tanggal 2 Januari tahun 0:30 2025 atau bertepatan juga dengan tanggal 0:33 2 Rajab 0:34 1446 Hijriah. Kita jumpa lagi dalam 0:37 acara bincang hijrah. Sudah ada Bang 0:41 Habib di gedung DPR. Kemudian dari 0:45 Purwokerto ada Abi Darwis. Kemudian di 0:50 Surabaya ada Abi eh ada Abi ada Salim 0:56 Suharis ini coach semua nih ya coach 0:59 coach Abi Darwis dan Coach Salim 1:02 Surabaya Purwokerto dan Jakarta di DPR. 1:06 Asalamualaikum Bang 1:10 Habib. Bang Habib. Waalaikumsalam 1:12 warahmatullahi wabarakatuh. 1:13 Waalaikumsalam. Ini adalah 1:15 warahmatullahi wabarakatuh. BNSP Master 1:18 Trainer Habib 1:20 Husein. Bang 1:22 Habib, kita akan membahas apa di Bincang 1:26 Hijrah Kamis ini? 1:31 Oke. Bismillahirrahmanirrahim. 1:32 Asalamualaikum warahmatullahi 1:33 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:35 warahmatullah. Sahabat pendengar Rasil 1:38 yang dirahmati Allah. Terima kasih, Pak 1:41 Krisna membuka acara pagi ini. Hari ini 1:46 saya kedatangan dua tamu spesial, mentor 1:49 nasional dan luar biasa kiprahnya tidak 1:52 diragukan lagi dan beliau ee juga 1:56 beberapa kali diundang ke luar negeri 1:59 untuk ee membicarakan terkait bisnis dan 2:02 eksekusinya. Jadi beliau terkenal dengan 2:07 mentor atau coach yang cukup killer 2:10 karena 2:12 memaksa ee apa namanya para muridnya 2:15 untuk ee mengeksekusi bukan hanya cerita 2:19 dan narasi. Dua-duanya ini mentor yang 2:21 luar biasa, Coach Abi Darwis dan Coach 2:24 Salim. Jadi di era digital 2:27 ini kita melihat Pak 2:30 Krisna ee 2:32 bagaimana sebuah bisnis dimulai dari 2:36 sesuatu yang kecil gitu ya. Kalau kita 2:38 lihat mungkin Google itu dari garasi ya, 2:41 bisnis-bisnis banyak sekali bisnis yang 2:43 dimulai dari pinggiran gitu ya. Bahkan 2:46 beberapa kali saya melihat ee satu 2:49 bisnis itu dimulai dari desa gitu Pak 2:51 Krisna gitu ya. Terakhir ada salah satu 2:55 eh coach eh mentor yang kita mentori 2:59 juga itu dari desa di Bandung gitu ya. 3:03 Dia bisa berkembang bisnisnya sampai 3:04 omset miliaran itu hanya dengan menjual 3:08 ee mangkok gitu ya. Gitu. Jadi bagaimana 3:12 sebuah bisnis itu dimulai dari mimpi 3:14 gitu ya dan banyak orang menyerah karena 3:19 bisnisnya selalu gagal gitu ya. Nah, 3:22 bagaimana pentingnya mentor gitu ya? Apa 3:24 bedanya mimpi dengan realita? Itulah ee 3:27 fungsinya mentor di sini gitu ya. 3:29 Bagaimana orang menyerah setelah 3:32 berkali-kali ee gagal gitu ya. Bisnis 3:34 itu juga butuh 3:36 data dan ee strategi yang akurat. 3:39 Bagaimana kalau kita lihat banyak bisnis 3:41 itu berdarah-darah Pak Krisna karena 3:44 strateginya juga sama gitu ya. Saya 3:46 punya bisnis ee saya punya strategi A 3:48 gitu ya. ee sedangkan ada lagi pengusaha 3:51 lain, dia punya strategi yang sama gitu 3:54 ya. Dan akhirnya apa? Implikasinya 3:56 adalah budget pemasaran yang naik gitu 4:00 ya. Karena strategi yang sama digunakan 4:03 oleh orang yang berbeda gitu ya. Nah, 4:05 inilah gunanya sekarang namanya personal 4:08 personalized eh marketing gitu ya. Jadi, 4:11 bagaimana kita membawa data ini dibaca 4:15 sehingga kita bisa membikin jurang 4:19 pemisah antara ee kita dan pesaing baru 4:22 gitu ya. Jadi bisnis ini ketika banyak 4:25 juga cerita mungkin juga saya sejak 4:27 kecil ada toko yang sudah ramai gitu ya, 4:30 ada bisnis yang sudah ramai dia sudah 4:32 puluhan tahun dia akhirnya tutup tanpa 4:35 kesalahan dia. Dia merasa tidak bersalah 4:37 gitu ya. I. Tetapi apa yang kesalahan 4:39 adalah tidak berubah gitu ya. Dia tidak 4:41 berubah, tidak menggunakan database-nya 4:43 dia, pelanggannya dia dengan 4:46 strategi-strategi khusus. Jadi yang kita 4:48 butuhkan bukan strategi yang umum, Pak 4:49 Krisna. Kalau strategi umum itu akan 4:51 berdarah-darah melawan ee giant ya, 4:54 melawan perusahaan-perusahaan besar. 4:56 Tetapi strategi kita adalah strategi 4:58 personal, strategi yang khusus, strategi 5:01 yang bagaimana ee Pak Krishna dekat 5:03 dengan orang, database-nya dikumpulin, 5:05 bagaimana di-follow up, terus akhirnya 5:08 itu menciptakan ee relasi gitu ya dan 5:12 emosional gitu ya sehingga orang tidak 5:15 ingin berpindah ke lain hati. Itu Pak 5:17 Krishna mungkin ee sebagai pembuka di 5:20 sini ee nanti banyak kita diskusi dengan 5:23 Abw danachim gitu ya. bagaimana di 5:27 tengah distrupsi sekarang ini juga 5:29 pemerintah ee mencanangkan ee strategi 5:33 ee yang mengadopsi artificial 5:35 intelligence atau kecerdasan buatan ya 5:38 di ee program-program prioritas nasional 5:40 gitu ya. Bagaimana ee strategi ketahanan 5:44 nasional, ketahanan pangan gitu ya. Dan 5:47 semua terintegrasi Pak Krisna sekarang 5:49 ee semua terintegrasi dengan big data ya 5:53 dan ee kecerdasan buatan. Dan ini kita 5:56 semua dunia ini bergerak dengan sangat 5:59 cepat gitu ya. Kalau kita pakai strategi 6:01 yang itu-itu aja, kita pakai apa ya udah 6:04 cara dulu gitu ya, kita akan terlindas 6:06 gitu ya gitu ya. Bahkan pemerintah 6:08 sekarang sudah mengeksekusi dengan 6:10 program-programnya gitu ya dengan ee 6:13 adopsi. Misalnya gini ee pertanian 6:15 sekarang itu melihat semua pakai ee big 6:20 data big data dan kecerdasan buatan gitu 6:22 ya. dia bisa ee lihat oh area ini subur 6:25 atau enggak ditanamin. Nanti dia bisa 6:27 monitor bagaimana ee monitor lahan ini 6:30 supaya bisa disiremin, bisa diolah 6:33 dengan bukan cuman manusia tapi padatnya 6:36 tuh nanti padat teknologi manusianya 6:38 cuman sedikit satu orang itu bisa 6:40 ngelola 40 hektar lahan gitu ya. Di mana 6:43 di zaman sebelum-sebelumnya itu enggak 6:44 bisa gitu ya. Bahkan ini ee ada ee dua 6:49 kali luas Pulau Jawa ee hutan itu mau 6:51 dijadiin sumber daya pangan gitu ya, 6:54 sumber daya energi gitu ya. Jadi 6:56 bagaimana nantinya ke depannya ini kita 6:58 semua ee bisnis kita itu integrasi 7:01 dengan plannya ee pemerintah dan kita 7:04 itu ee warga dunia gitu ya. Digital 7:07 citizenship, Pak Krishna. bagaimana kita 7:10 menyelaraskan strategi kita dengan ee 7:13 strategi pemerintah dan ee era disrupsi 7:17 ee yang global ini gitu ya, sehingga 7:19 kita bisa bertahan di tengah gempuran e 7:22 luar biasa ee saat ini gitu ya. Itu Pak 7:25 Krisna mungkin pembuka dari saya. 7:26 Silakan ee mungkin Abi dilanjutkan 7:30 dengan e Abi atau saya serahkan ke 7:33 Pak mau ngobrol sama Coach Abi Darwis 7:36 nih juga Coach Salim. 7:39 Kosabi Darwis. Asalamualaikum. 7:42 Waalaikumsalam, Pak Krishna. Pak Darwis. 7:45 Ini ada teman saya mau bisnis, dia belum 7:48 tahu apa-apa. Lalu dia tanya AI itu dia 7:53 tanya bisnis apa yang menguntungkan? 7:55 Wah, jawabannya 7:56 aneh-aneh. Jawabannya yang susah 7:58 dilakukan. 8:01 Jadi kalau orang bertanya kepada Coach 8:05 Abi Darwis, bisnis apa yang harus saya 8:08 lakukan sekarang ini yang profit, yang 8:12 make money, jawabannya apa, Coach Abi 8:15 Darwis? Baik. Bismillahirrahmanirrahim. 8:18 Asalamualaikum warahmatullahi 8:19 wabarakatuh, Teman-teman semuanya, 8:22 sahabat Bincang Hijrah dan wabil khusus 8:27 kepada Syekh Al Habib yang telah 8:29 memberikan kesempatan dan 8:32 peluang merajut silaturahim di tempat 8:35 yang insyaallah mubarak ini ya. Dan juga 8:37 kepada Pak Krisna guru kita semua ya, 8:40 mentor mentor komunikasi kita ya. Saya 8:44 melihat bahasanya itu udah udah bahasa 8:46 orang 8:47 radio, bahasanya orang broadcast gitu 8:49 ya. 8:51 Ya, jadi menarik sekali Pak Krishna 8:54 terkait dengan pertanyaan bisnis apa 8:56 yang paling menarik sekarang? Ya banyak 8:58 di dalam meme atau di dalam sosmet kita 9:01 lihat bisnis yang paling bagus ya bisnis 9:03 yang dikerjain 9:04 begitu gitu ya. Ee bukan hanya bisnis 9:07 yang dinarasikan, diimpikan tapi enggak 9:10 diapa-apain juga. Nah, sebelum jauh kita 9:12 ke sana ee jadi yang terjadi saat ini 9:16 adalah banyak teman-teman kalau 9:17 jumlahnya cukup besar ya hampir 60 juta 9:19 para UMKM Indonesia itu yang mereka itu 9:23 lebih banyak bertumbuh bisnisnya atau eh 9:26 existing kondisi bisnisnya pada saat ini 9:29 itu memang apa ya lebih kepada 9:33 sebuah apa namanya ee kecelakaan lebih 9:37 sebuah kepada apa namanya kalau saya 9:40 melihat nya bahwa bisnis mereka dibangun 9:42 dengan sporadis. Bahkan kita sering 9:44 mengatakan bahwa bisnis mereka itu ya 9:46 karena rahmat Allah Subhanahu wa taala 9:47 gitu. Jadi mereka tuh kadang-kadang 9:50 enggak ngapa-ngapain, kadang-kadang 9:51 enggak diapa-apain yang bisa bertumbuh 9:53 dan bisa mencapai ee puluhan tahun bisa 9:55 sampai seperti ini ya. Nah, tetapi 9:58 teman-teman semuanya selalu saya 10:00 ingatkan bahwa ayo kita lebih sadar lagi 10:03 bahwa ee apa namanya? Betul. Kalaupun 10:07 kita meyakini bahwa bisnis kita ini 10:09 benar karena rahmat Allah Subhanahu wa 10:11 taala, nah sebagai rasa syukurnya adalah 10:13 bagaimana kita menjalankan bisnis dengan 10:15 saintis gitu loh ya. Kalau kalau tidak 10:18 Tuhan punya cara untuk bagaimana merebut 10:21 atau mengambil bisnis yang sudah 10:22 diamanahkan pada kita ya. Ee bisa saja 10:25 menghilangnya dari ee pelanggan, bisa 10:28 saja karena fraud dari karyawan kita, 10:30 bisa saja kejadian pabrik terbakar dan 10:32 seterusnya dan seterusnya. 10:33 Nauzubillaliklah. Artinya siapapun yang 10:36 merasa bahwa bisnis itu betul-betul 10:38 mendapatkan karunia dan dibantu dengan 10:40 Allah, ayo segera kita sadar bahwa rasa 10:43 syukur kita itu membangun bisnis ini 10:45 dengan saintis, dengan cara yang benar. 10:47 Nah, supaya nanti bahwa bisnis yang 10:50 sudah dianugerahkan kepada kita ini bisa 10:52 bisa bertumbuh. Dan yang lebih menarik 10:55 lagi bahwa setting di dalam setiap 10:57 pemahaman kita bahwa bisnis kita ini 10:59 adalah ee menjadi legesi, menjadi 11:02 warisan buat anak cucu kita. dan legesi 11:05 ini warisan ini bukan hanya untuk 11:06 setahun 2 tahun tapi 400000 tahun ya ee 11:10 bisa menjadi sebuah cerita panjang dari 11:13 sejarah ee kehidupan kita. Dan yang 11:16 menarik lagi sebenarnya teman-teman 11:18 bahwa membangun bisnis itu adalah sama 11:20 seperti kita membangun kehidupan. Nah, 11:23 oleh karena itu membangun bisnis yang 11:25 berorientasi daripada membangun 11:27 kehidupan maka ujung-ujungnya adalah 11:29 happiness. H jangan sampai bisnis kita 11:32 yang sudah kita bangun ee terjadi 11:34 sebaliknya ya. Keluarga berantakan, 11:37 hubungan kita menjadi tidak benar dengan 11:39 tetangga dan macam-macam. Dan sejuta 11:42 polemik yang terjadi buat seorang bisnis 11:44 owner itu yang tidak kita mau. Kita 11:46 kepengin bisnis itu ya bertumbuh dengan 11:49 benar. Personal kita bertumbuh, 11:52 leadership kita bertumbuh, keluarga kita 11:55 bertumbuh, pasangan kita bertumbuh, tim 11:57 kita bertumbuh, dan masyarakat juga 11:58 bertumbuh. Inilah sesungguhnya bahwa 12:01 harapan besar kita bahwa bisnis 12:04 membangun kehidupan akan berdampak dan 12:08 ee terlihat kontribusinya kepada 12:10 masyarakat. Di situlah sesungguhnya 12:12 bahwa sebaik-baik makhluk itu adalah e 12:15 harapan kita semuanya bahwa kita adalah 12:17 menjadi manusia yang paling bermanfaat 12:19 buat sekitarnya. Nah, dari perjalanan 12:22 itu ee Pak Krisna 12:25 akhirnya saya dan Mas Salim berpikir 12:28 bahwa ee kasihan kepada teman-teman yang 12:31 menjalankan bisnis dengan sporadis. 12:33 Ayolah kita membangun bisnis dengan cara 12:35 yang saintis ee terpola, tertata. Nah, 12:40 oleh karena itu RKAP ini kami sodorkan 12:43 walaupun ini sebuah keniscayaan di BUMN 12:46 ya. BMN itu wajib bahkan mereka perlu 12:48 di-publish kepada ee masyarakat di 12:50 website di website supaya mereka bisa 12:53 terakses dan pertanggungjawaban publik 12:54 nanti ya. Nah, tapi intinya adalah kita 12:58 ingin meramu bahwa RKP ini adalah ee 13:02 yang rasanya seperti UMKM atau UMKM yang 13:05 berasa seperti e korporasi. Jadi mereka 13:08 tertata bagaimana mereka akhirnya RKAP 13:11 ini menjadi guiding di dalam perjalanan 13:14 mereka. Karena teman-teman perlu Anda 13:16 perlu kita pahami semuanya bahwa jangan 13:19 sedikit pun kita berpikir bahwa apapun 13:22 cara, strategi, dan perilaku yang kita 13:24 lakukan kemarin yang membuat bis kita 13:26 bisa seperti ini, besok atau saat ini 13:29 pun akan bisa ee berdampak atau bisa 13:33 berhasil seperti kemarin. Enggak ada 13:35 rumus yang seperti itu. Kita perlu yakin 13:37 bahwa semuanya akan berubah. overall E 13:40 to Z-nya akan berubah dari strateginya, 13:43 cara menghitung uangnya dan seterusnya. 13:45 Nanti Mas Salim juga akan membantu 13:47 secara teknikal teman-teman semuanya 13:49 bahwa ee bisnis yang kita lakukan ini ya 13:54 perlu kita kerjakan seperti 13:55 korporasi-korporasi kelas dunia. Boleh 13:58 bisnis kita masih kecil, boleh dimulai 14:00 dari garasi, tapi pola pikir kita, 14:03 mindset kita bahwa kita perlu yakin 14:05 bahwa bisnis ini akan membesar, mendunia 14:08 yang akan bisa memberikan kontribusi 14:10 banyak kepada masyarakat pada umumnya. 14:13 Gitu, Pak Krisna mengawali diskusi kita 14:15 pagi ini ee hari yang Kamis mubarok 14:18 insyaallah. Masyaallah, mantap banget. 14:22 Itu 14:24 tadi rencana yang saintik itu seperti 14:28 apa nih? Banyak yang tanya nih pendengar 14:30 nih. Seperti apa tuh tahapan-tahapannya 14:32 mapagela kalau sampai ke RK 14:37 AP? Seperti apa itu tahapan-tahapannya? 14:40 Iya. Coach Mas Salim kayaknya ee bisa 14:43 ditowel toh Pak Krisna. Oke. Ee Mas 14:48 Salim. Kach Salim. Yes. Mana K Salim? 14:51 Siap siap Bang Krishna di sini. 14:55 Asalamualaikum Salim. Iya nih pendengar 14:58 sudah mulai ada yang bertanya nih. 15:00 Gimana nih kami buta bagaimana cara 15:03 menyusun 15:05 RK AB AP RK RKAP? Eh rencana kerja dan 15:11 anggaran pemerusahaan ya. 15:13 Perusahaan. Lalu 15:15 B yang tadi yang dimaksud dengan sains 15:17 itu seperti apa? Bisa dijelaskan? 15:20 I am. 15:22 Bismillahirrahmanirrahim. Mohon izin, 15:23 Bang 15:24 Krisna. Eh, kita mulai ya dengan 15:30 manunai gitu ya. 15:36 akai. Jadi kita bicara untuk ingin 15:39 menggapai kesuksesan dunia itu tentu 15:42 dengan ilmu. Nah, di sini alhamdulillah 15:45 pada kesempatan yang luar biasa ini kita 15:48 ada 15:49 di forum hijrah ya. Hijrah. Hijrah ini 15:53 kan berarti secara spiritual dan sosial 15:57 berpindah dari sesuatu menjadi lebih 16:00 baik, dari suatu keadaan menjadi keadaan 16:03 yang lebih baik. Tentu dalam adanya 16:06 momentum awal tahun yang mana itu juga 16:10 merupakan tahun ee yang bisa kita 16:13 rancang apa yang akan terjadi, maka kita 16:17 mencoba untuk mendekatkan RKAP ini ke 16:21 masyarakat yang lebih luas. RKAP itu 16:24 Bang Krisna memang selama ini banyak di 16:29 implementasikan di perusahaan-perusahaan 16:31 besar BUMN gitu ya. Namun kita mencoba 16:34 untuk menyederhanakan bahwa tidak hanya 16:38 perusahaan besar saja yang bisa menyusun 16:40 RKAP, namun perusahaan-perusahaan kecil, 16:43 perusahaan-perusahaan yang ingin 16:44 bertumbuh juga bisa menyusun RKP. Nah, 16:47 tadi disebutkan 16:49 bahwa ee kita menyusun menjadi 10 tahap. 16:53 Nah, 10 tahap itu empat tahap pertama 16:56 bicara tentang grow ya. GRW itu berarti 16:59 goal, reality, lalu option, lalu will to 17:04 do, jadi grow. Disingkat grow itu empat 17:07 tahap pertama. Lalu kemudian dari grow 17:11 di will to do yang W itu itu ditopang 17:14 dengan tiga kaki. Tiga kaki yang mana 17:17 kaki tersebut adalah eh budgeting, lalu 17:22 kemudian mitigasi risiko, sama QPI. 17:25 Terus kemudian setelah ditopang dengan 17:27 tiga kaki, lalu ditopang lagi dengan 17:30 proses eksekusi. Ada aktivitas 17:32 eksekusinya, aktivitas monitoringnya, 17:35 dan yang terakhir dikunci dengan konsep 17:39 keberlanjutan, konsep sustainability. 17:42 Nah, jadi kita sederhanakan jadi 10 17:44 tahap ini yang diharapkan mudah dicerna 17:47 dan mudah ditangkap oleh para pengusaha 17:51 UMKM, pengusaha yang sedang bertumbuh 17:54 yang mungkin selama ini terlalu berfokus 17:57 pada proses 17:59 operation tanpa memikirkan proses ee 18:03 scientifik yang tadi disampaikan oleh 18:05 Abi Darwus. Seperti itu, Bang Krisna. 18:09 Oke, ini ada yang bertanya juga, 18:11 bagaimana cara mengubah RKAP menjadi 18:15 aksi yang nyata? 18:18 Iya. Baik, jam ini pertanyaannya 18:23 prosesnya ee bisa disampaikan bertahap 18:26 ya dari yang empat tadi. Jadi pertama 18:31 itu bicara tentang gol. Jadi kita mau ke 18:34 mana pun tentu bicara tentang gol. Kalau 18:36 Bang Krishna misalnya pakai aplikasi GPS 18:40 gitu ya, kan tentu mau ke mana terus 18:44 sekarang ada di mana. Kalau dua-duanya 18:46 itu enggak ketahuan, kita enggak akan 18:48 mampu menyusun rute yang maksimal. Jadi 18:52 mau ke mana nih kita misalnya nih dari 18:54 Bang Krishna yang lagi ada di lagi ada 18:57 di mana nih, Bang? Mohon izin Cibubur. 18:59 Di Cibubur nih. Kemudian mau nyamperin 19:02 ee Habib Husein yang lagi di kantor DPR 19:06 nih di Senayan. Nah, otomatis Cibubur 19:09 dijadikan sebagai titik berangkat lalu 19:13 destinasinya ke ee kantor Senayan. 19:15 Kemudian ditunggu beberapa detik maka si 19:19 GPS tadi akan membantu menyusun rute 19:21 perjalanan. Bahkan dicarikan rute yang 19:24 terdekat, terbaik gitu ya. Bahkan sudah 19:26 dikasih tahu tuh nanti kalau bayar tol 19:29 itu kena berapa, dikasih alternatif juga 19:31 kira-kira lewat mana, apakah lebih cepat 19:34 atau lebih murah. Nah, ini dapat kita 19:36 jadikan sebagai konsep bahwa kalau kita 19:39 ingin mencapai sebuah tujuan, yang 19:42 pertama itu harus jelas dulu tujuannya, 19:44 Bang. 19:45 Sebagaimana ketika ee kita ingin ee 19:49 memberangkat gitu ya kan di setiap 19:52 berangkat kita selalu bicara atau selalu 19:54 berdoa gitu ya. Iya. Selalu berdoa 19:57 bismillahi tawakaltu alallah. Kita ee 20:01 membaca bismillah lalu bertawakal kepada 20:03 Allah. Tapi kan enggak cuman duduk aja. 20:05 Lalu kita bergerak menghidupkan 20:08 kendaraan. Lalu kemudian berjalan 20:10 berhati-hati. Kalau naik motor juga 20:12 pakai helm. Kalau bawa mobil juga 20:14 diperhatikan BBM-nya sudah cukup atau 20:16 belum, mesinnya normal apa tidak. Nah, 20:18 ini semua bagian dari proses. Artinya 20:21 ketika kita memantaskan diri dalam 20:24 proses perjalanan itu, insyaallah akan 20:27 dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa taala 20:29 untuk mencapai di tujuan. Nah, di 20:32 situlah kita menggunakan G. 20:35 GO. Nah, tahap pertama dari RKP yang 20:38 menyusun goal-nya dulu mau ke mana. Lalu 20:42 kemudian masuk ke tahap kedua R. R itu 20:45 adalah reality. Jadi, kita analisa dulu, 20:48 Bang, apa sih yang sedang terjadi di 20:50 sekitar kita? Ee produk kita ini 20:53 kompetitif apa tidak dengan kompetitor? 20:55 Kompetitornya siapa? keunggulan produk 20:58 kita dibanding kompetitor apa, kelemahan 21:00 produk kita dibanding kompetitor apa, 21:03 terus kemudian ee kita juga harus 21:05 menggali marketnya sendiri itu besarnya 21:08 sebesar apa. Kecenderungan mereka lebih 21:11 cocok, lebih senang dengan produk-produk 21:13 yang nilainya atau value-nya seperti 21:16 apa. Nah, itu digali dulu untuk 21:18 memastikan ee apa yang bisa kita 21:21 perhatikan dari lingkungan dan bisnis 21:23 yang kita jalani selama ini. Sehingga 21:26 kita bisa mengukur dan bisa menilai 21:28 harus membawa bekal apa perjalanan yang 21:31 akan kita lalui nanti. Kalau kita enggak 21:33 analisa, tentu bekalnya juga enggak kita 21:36 prepare sesuai dengan yang akan kita 21:38 jalani. Jangan-jangan kita berangkat 21:41 menuju ke misalnya menuju ke Makkah mau 21:44 umrah gitu ya, tapi bekal yang dibawa 21:47 enggak sesuai sehingga akhirnya malah 21:49 enggak cocok ketika ketika sampai di 21:51 sana. Nah, ini kan berarti untuk bisa 21:54 bawa bekal apa maka harus tahu rutenya 21:58 seperti apa, terus kemudian yang akan 22:00 dijalani tingkat kesulitannya kayak apa, 22:03 sehingga akhirnya bekal yang kita 22:04 persiapkan bisa lebih maksimal. Nah, 22:07 setelah itu baru bicara tentang O. O ini 22:10 adalah option. Option itu kita mikirin 22:12 strategi. Strateginya apakah dengan ee 22:16 jalan kaki ataukah dengan naik kendaraan 22:19 ataukah dengan menggunakan konsep maju 22:21 mundur atau bagaimana gitu kan. Jadi 22:24 strategi yang membuat kita mampu untuk 22:27 mendekati tujuan dengan seproduktif 22:29 mungkin, seefisien mungkin, dan 22:32 seefektif mungkin. Dengan begitu kita 22:35 akan lebih ee cepat untuk sampai di 22:38 tujuan karena kita sudah mendefinisikan 22:41 proses perjalanan tadi dalam bentuk 22:43 strategi. Nah, strategi ini secara umum 22:47 ada tiga, Bang Krishna. Yang pertama 22:51 strategi bagaimana untuk bisa 22:54 men-deliver value kepada customer. Jadi 22:57 misalnya nih kalau kita ee ee mau 23:01 mengkomunikasikan air mineral nih ya, 23:03 air mineral botol misalnya ukuran 600 23:06 ml, kita ngomong nih di ruang meeting 23:08 kita. Lalu kemudian kita kan ingin air 23:11 mineral yang tadi kita diskusikan di 23:13 ruang meeting itu bisa sampai ke 23:14 customer dalam bentuk rasa model yang 23:18 sama seperti yang ada di ruang meeting 23:20 yang kita bangun tadi, Bang. Jangan 23:22 sampai ketika kita ngomongin nih, yuk 23:25 kita deliver air mineral 600 ml dalam 23:29 bentuk botol. Warna botolnya kita kasih 23:30 warna oren misalnya. Ternyata sampai di 23:33 customer ukurannya sudah enggak 600 ml, 23:37 sudah enggak pakai botol, sudah enggak 23:39 berwarna orange. Rasanya juga sudah 23:41 berbeda. Mengapa bisa begitu? Karena 23:44 proses kita men-deliver dari titik pusat 23:48 kendali kita sampai di customer itu kan 23:50 prosesnya bisa panjang, bisa diganggu 23:53 oleh tim kita sendiri yang enggak paham 23:56 tentang value. Bisa juga diganggu oleh 23:58 kompetitor di perjalanan, bisa juga 24:01 diganggu oleh pihak-pihak yang 24:02 berinteraksi sama kita. Misalnya 24:04 distributor, misalnya juga pihak-pihak 24:07 eksternal yang membantu proses yang kita 24:09 jalankan. Contoh yang sering saya pakai 24:11 itu gini, Bang Kris. 24:12 kita ini di ruang meeting diskusi bahwa 24:15 kita bikin restoran misalnya. Iya. Yuk 24:17 kita memberikan layanan seramah mungkin. 24:20 Iya. Kayak gitu nih. Terus kemudian 24:22 restoran kita itu parkirnya dijagain 24:25 sama warga. Iya. Nah, warganya itu 24:27 mukanya 24:29 masam, emosian, ketus, kayak gitu. 24:33 Sampai di depan pintu tim kita itu sudah 24:36 merancang akan melayani customer secara 24:39 ramah. produk-produk kita bikin supaya 24:42 ramah. Tapi belum sampai masuk ke pintu 24:46 ee tempat parkir mobil, mereka itu sudah 24:49 mendapatkan kesan pertama dari penjaga 24:53 parkir yang kita lupa bahwa mereka satu 24:56 bagian stakeholder dari proses. Akhirnya 24:59 customer sudah mau belok enggak jadi 25:01 karena di ee apa di muka Masamin sama si 25:07 petugas parkir tadi gitu kan. Nah, ini 25:10 kan juga menjadikan apa yang kita 25:12 harapkan enggak terwujud karena tidak 25:15 dikoordinasikan, tidak diorganize secara 25:18 baik. Nah, yang terakhir dari grow. Grow 25:21 itu gr ya. Yang terakhir adalah will to 25:25 do. Will to do itu kita turunkan 25:27 strategi yang kita definisikan tadi itu 25:29 menjadi program kerja. Nah, program 25:32 kerjanya apa aja itu kegiatannya apa, 25:34 aktivitasnya apa? Lalu kemudian ee yang 25:38 terkait dengan upaya membahagiakan 25:41 customer itu seperti apa yang terkait 25:44 dengan sudut pandang mengambil 25:45 keuntungan sebanyak-banyaknya seperti 25:47 apa yang terkait dengan sudut pandang 25:50 internal proses seperti apa learning and 25:52 growth-nya seperti apa. Itu yang 25:54 dirumuskan di dalam tahap yang keempat. 25:57 Ini baru separuh perjalanan nih dalam 26:00 perancangan. Masih ada separuh lagi 26:03 untuk masuk ke tahap ekskusi. Begitu, 26:05 Bang Krishna. Oke. Masyaallah. Nih, WA 26:09 sudah banyak yang masuk nih. Saya enggak 26:11 tahu mau jawab apakah 26:13 eh Coach Abbi Darwis atau K Salim nih 26:18 dari Bapak Tomi. Saya pernah melihat ada 26:20 sebuah restoran yang 26:22 bersih. Ee parkir juga gampang, tapi kok 26:25 sepi? Enggak ada, enggak ada pembelinya. 26:28 Apa yang salah dari restoran itu? Jadi, 26:31 restorannya bersih, tertata rapi, tapi 26:33 kok enggak ada pembeli? Kenapa itu 26:36 demikian? 26:37 Iya. Ee nanti Mas Salim bisa nambahkan 26:40 juga ya. Ya, memang kalau kita lihat 26:42 fenom fenomena sebuah bisnis yang sepi 26:46 kayak gitu ya, pasti kita perlu audit 26:48 dulu ya. Bisa saja mereka lambat. 26:52 Ee saya sering bercanda sama 26:53 teman-temannya. Pokoknya kamu bisnismu 26:56 mau breaks seperti apapun juga kalau 26:58 misalnya kamu cepat ya itu kamu akan 27:01 dimaafkan. Apalagi misalnya kayak di 27:03 kuliner misalnya, wah ee bersih, ramah, 27:06 rapi semuanya. Tetapi kalau kita lelet 27:10 menyajikannya dan juga makanannya tidak 27:11 enak, ya ada kemungkinan ee orang juga 27:14 tidak akan datang ke sana lagi. Artinya 27:17 ee kita juga ee tidak bisa dengan 27:19 serta-merta melihat bisnis itu. Atau 27:20 sebaliknya begini, saya bilang sama 27:22 teman-teman, lihat itu ee bisnis mereka 27:24 itu buka jam 0.00 pagi, tutup jam 20. 27:27 malam, enggak ada orangnya tapi tetap 27:29 survive. Nah, kita lupa ternyata 27:32 semuanya sudah dialihkan ke Gojek 27:34 pelanggannya. 27:35 Jadi walaupun rumah makannya sepi, 27:38 tenang aja dia. Tapi pesanannya kencang 27:40 udah bahkan lebih ramai daripada orang 27:42 yang orangor yang datang. Karena yang 27:44 takeway itu pesan pulang dia ini beli 27:46 kopi 3 jam. Waduh ada AC-nya, ada 27:49 apanya? Oh, malah secara benefit enggak 27:52 dapat banyak sebenarnya. Nah, itu 27:53 artinya ada banyak ee pola atau ada 27:57 banyak strategi, ada banyak ee mungkin 27:59 habit yang berubah perilaku daripada 28:01 konsumen yang sebenarnya perlu kita 28:04 pahami juga begitu. Nah, itu yang saya 28:06 bilang bisnis sekarang tuh aneh-aneh 28:08 sekarang tuh. Jadi yang terlihat 28:10 kayaknya rugi ternyata untung, yang 28:12 terlihat untung kayaknya rugi. Contoh 28:14 misalnya kayak di medikal ya, kayak di 28:16 kayak di bisnis klinik apalagi yang 28:18 sudah terakses dengan BPJS itu. Oh, kita 28:21 kalau tidak hati-hati benar itu kayaknya 28:23 untung setelah kita jumlah ada ada 28:26 profit tapi setelah kita kasih rumus 28:28 yang dipecah-pecah begitu ini berapa ini 28:30 berapa loh closing. Nah, kalau seorang 28:33 10 setiap orang 10.000 R5.000 ruginya e 28:37 1 bulan 3.000 pelanggan. Kalikan saja 28:39 berapa yang kita harus ee losing untuk 28:41 nutup seperti itu semuanya. Makanya 28:43 nanti ee di dalam RKAP itu ee 28:46 trackingnya tuh juga sangat ketat 28:47 terkait dengan finansial ya. Ee 28:49 bagaimana BP apa namanya HPP sebuah 28:52 produk itu memang perlu perlu ee 28:54 diracking diperhatikan semua. Ee Pak 28:57 Krisna saya selalu bilang sama 28:58 teman-teman semuanya, ayo teman-teman ee 29:00 dihitung dengan benar semuanya. Jangan 29:02 sampai kita terjebak kepada keuntungan 29:05 yang semu dan kerugian yang tidak 29:07 kentara. Keuntungan yang semu apa? 29:10 Kayaknya untung. Padahal enggak. 29:12 Kerugian yang tidak kentara kayaknya 29:13 enggak rugi. Coba kamu hitung. Uh, 29:15 angkanya ngeri itu. 29:18 Nah, oleh karena itu perlu clear. 29:20 Bayangkan kita banyak 29:22 perusahaan-perusahaan yang sudah 29:23 membesar dari awalnya kecil ee tiba-tiba 29:27 dia jual kayak apa ya? eh pembersih 29:30 sepeda yang disemprot itu e kirim 29:32 kontainer-kontainer gitu ya. Setelah 29:34 mereka mau dikirim, saya iseng nanyanya, 29:37 "Bro, itu sudah ketemu HP-nya ya?" "Au 29:41 ee masih kita hitung lagi." "Hah, lu mau 29:44 masih dihitung lagi HP-nya?" "Tapi 29:46 ente-ente sudah mau kir empat 29:47 kontainer." Gimana lagi ya? 29:50 Permintaannya banyak. Ya Allah, ya Rabb 29:52 ya. Ya, ini yang saya bilang. Aduh, ini 29:57 jadi enggak bisa hanya kelihatan kasat 29:59 mata begitu nanti itu ya. Apalagi nanti 30:01 Mas Salim e punya background finance 30:03 yang cukup kuat. Maka ee bagaimana 30:06 memisahkan aset investment, bagaimana 30:08 memisahkan hitung-hitungannya, bagaimana 30:11 reportnya. Nanti kita punya bukan hanya 30:13 sekedar dashboard, tapi ada scoreboard. 30:16 Nah, scoreboard itu adalah data-data 30:17 yang berbicara. Mereka betul-betul 30:20 memecut kepada para owner. Hei, lihat 30:22 itu, lihat kasmu tidak tidak aman. Lihat 30:26 marketmu terancam. Lihat konsumenmu 30:29 semakin menyusut. Nah, itu gak perlu 30:30 kita perhatikan. Pokoknya kita jalan 30:33 aja. Itu yang Mas Salim tadi bilang 30:35 banyak orang yang fokusnya hanya 30:36 operasional. Dashboard-nya dilihat, Bro. 30:38 Nah, kalau kita punya mobil, punya 30:40 pesawat, dashbnya enggak dilihat, ya 30:43 enggak berani dalam keadaan kita antar 30:45 benua terus enggak isi ee apa namanya? 30:48 nya bahan bakarnya enggak terisi. Kalau 30:51 kita ke tol saja mesti dilihat dulu 30:52 sebentar bensinnya gimana cukup enggak? 30:55 Oh, kalau enggak jangan resiko, Bro. 30:56 Resiko. Mending kita penuhin dulu saja 30:58 daripada kita berhenti tengah tol. H. 31:00 Nah, jadi ee scoreboard itu, 31:04 Teman-teman, kalau sudah bertumbuh 31:05 membesar itu berbahaya kalau kita tidak 31:07 perhatikan gitu loh. Maka nanti jangan 31:09 sampai los cas-nya enggak ada kita ee 31:12 jadi kayak kayak keuntungan semua itu. 31:15 Waduh, itu yang saya bilang. Ya Allah. 31:17 Ee e ownernya nanya ke orang 31:20 keuangannya, "Gimana penghasilan kita 31:22 bulan ini?" Alhamdulillah 1,3 M. 31:25 Alhamdulillah. Tapi yang 900 masih 31:27 piutang, Bu. Hah? 900 masih piutang? 31:30 Iya. Yang Rp150 juta masih ada di K. 31:33 Hah. Yang R150 juta masih ada. Hah. Jadi 31:36 1,3 itu ya print out doang. Enggak ada 31:39 duitnya, enggak ada uangnya, Bu. Itu pun 31:41 masih ditambah lagi dengan 300 juta cash 31:44 yang perlu dikeluarkan. hari ini untuk 31:47 menggaji karyawan kita yang sebanyak 200 31:49 orang 150. Allahu Akbar. Allahu Akbar. 31:53 Allahu Akbar. Jadi apa gak pecah 31:56 kepalanya owner kayak begitu tuh. Ya itu 31:58 yang saya bilang katanya membangun 31:59 bisnis, membangun kehidupan 32:01 ujung-ujungnya happiness. Kalau kayak 32:02 gini ya enggak happiness pecah kepala 32:04 kita. Itu yang akhirnya berdampak. 32:06 Akhirnya kita mulai hubungan renggang 32:08 dengan pasangan, dengan keluarga, dengan 32:11 tetangga segala macam itu akan menjadi 32:14 akumulasi yang luar biasa. Nah, oleh 32:16 karena itu teman-teman semuanya 32:18 pentingnya kita mempersiapkan preparing. 32:21 Jadi Pak Krishna sering kita mendengar 32:24 kata-kata bahwa kalau kita mau bisnisnya 32:27 itu yang benar-benar well ya ee maka ya 32:31 e persiapkan lima well-nya itu. Yang 32:33 pertama adalah well prepare. Ini yang 32:35 kita melihat banyak teman-teman yang 32:38 sangat tidak siap untuk bertumbuh atau 32:41 mereka membesar. sangat tidak siap 32:42 mereka ya karena mereka ya berpikirnya 32:45 sekedar menjalankan saja. E itu yang 32:48 akhirnya mereka terjebak kepada Tiran 32:50 of. Tirani of itu apa? Kalau 32:52 pelanggannya 2 T excellent layanannya. 32:55 Tapi begitu kalau warung itu datang satu 32:58 bus satu truk turbulensi Pak. Oh udah 33:01 udah kacau semuanya. Pesan jeruk dapat 33:03 kopi, pesan kopi kasih air putih, pesan 33:05 bakar dapat ayam godok. Pesan wah 33:08 macam-macam pokoknya. Nah itu orang 33:10 sudah mulai. Ah, orang sudah mulai itu 33:12 lihat itu lihat kalau pelanggannya cuma 33:14 dua excellent tapi kalau sudah bahannya 33:15 kayak gini nah itu enggak sadar mereka 33:17 pelan-pelan akan ditinggalkan sama 33:19 mereka itu ya well prepared bermasalah 33:22 sekali di persiapan kita persiapan 33:23 mindsetnya persiapan operasionalnya dan 33:26 segala-gala macamnya. Kalau sudah well 33:28 prepare-nya brengsek katakan seperti 33:30 itu, maka sudah pasti kita tidak akan 33:32 mampu melakukan well organized. Pasti 33:35 enggak bisa ngatur kita. Termasuk juga 33:37 well minutes enggak bisa. Jadi organiz 33:41 kita apa enggak bisa membuat mengatur 33:44 orkestra gitu loh. Jadi eh memanit 33:48 enggak 33:49 bisa mengatur orang-orang pintar. 33:51 Akhirnya orang-orang pintar banyak yang 33:52 keluar. Orang-orang bodoh dikumpulkan, 33:54 orang-orang yang pejahat semua 33:56 dikumpulkan, orang-orang yang jujur 33:57 akhirnya terbuang. Ya, karena kita tidak 34:00 tidak mampu mengatur sumber daya kita, 34:03 terus mengorganize, terus juga termasuk 34:05 well lead-nya, leadernya enggak pernah 34:08 belajar ditambah well trend, timnya 34:10 enggak pernah dilatih. Subhanallah. Ini 34:12 yang saya bilang sempurnasempurna 34:14 kegagalan kita. Jadi, jadi ya kalau 34:17 bisnis dikelola dengan cara seperti ini 34:19 ya, siapa yang mau melanjutkan para 34:22 profesional itu? Nah, Pak Krishna kalau 34:25 lebih dalam lagi kita bicara tentang 34:27 second generation, mana ada generasi 34:30 penerus kita yang akan melanjutkan 34:31 bisnis orang tua yang seperti ini. 34:33 Apalagi mereka suruh melanjutkan 34:35 hutangnya ayah. Iya, enggak mau mereka. 34:37 Oh, lanjutkan sendiri hutang bapak gitu 34:38 kan ya. Akhirnya mereka lebih banyak 34:41 membuat mainan-mainan sendiri dengan 34:43 teman-temannya. Nah, itu yang tidak kita 34:44 mau. Kita kepengin memberikan tongkat 34:46 estafet perusahaan kita itu clear. 34:49 Bisnis plan-nya oke, RKP-nya jelas, 34:52 untungnya clear. ee culture-nya, tata 34:55 kelolanya itu yang kita kepengin 34:56 wariskan kepada anak-anak untuk 34:59 dilanjutkan dengan cara yang berbeda 35:01 tentunya dengan cara-cara yang sudah 35:03 kekinian. Nah, kalau itu tidak kita 35:05 lakukan ya sama saja kita ini memberikan 35:07 sebuah masalah kepada generasi 35:08 selanjutnya. Kita diingatkan jangan me 35:12 jangan me apa ya ee menurunkan ee 35:15 generasi yang lemah. Oh, tapi kita ini 35:17 akhirnya apa? mendesizain generasi yang 35:19 lemah. Kenapa? dimulai dari kebobrokan 35:22 kita sebagai orang tua di dalam 35:24 mengelola bisnis yang parah seperti ini. 35:27 Terus mereka suruh melelanjutkan ya 35:29 kasihan pada mereka bebannya luar biasa. 35:31 Nah, oleh karena itu saya bilang sama 35:33 teman-teman, RKP ini bukan hanya bicara 35:35 tentang bagaimana preparing bisnis kita 35:37 supaya bagus, tapi kalau kita jauh ke 35:39 belakang ke depan, kita sudah menata 35:42 semuanya itu untuk buat generasi ke 35:44 depan dan kita menunjukkan kepada mereka 35:46 bahwa orang tuamu sangat serius di dalam 35:49 menyiapkan bisnis dan juga di dalam alih 35:52 generasi kepada ee kepada generasi 35:54 selanjutnya. Nah, sehingga apa namanya 35:58 teraturnya operasional di dalam 36:00 perusahaan ini dampaknya ke mana-mana, 36:02 Pak Krishna. Bukan hanya terkait dengan 36:04 kepuasan customer kita dapat profit, 36:06 tidak. Tapi lebih jauh lagi kalau kita 36:08 punya turunan ini kita bicara terhadap 36:11 second generation eh tiga generasi 36:13 selanjutnya empat selanjutnya gitu ya. 36:16 Bisnis-bisnis besar sekarang sudah sudah 36:18 dipegang oleh generasi keempat ya. eh 36:21 taipan-tapan itu sudah mempersiapkan 36:23 dengan cukup rapi mereka kepada generasi 36:25 selanjutnya. Nah, bagaimana kita dengan 36:27 umat Islam 36:28 yang di position sekarang saja masih 36:31 belum tertata dengan cukup baik gitu, 36:34 Pak Krisna. Oke. Eh, saat ini Pak ee 36:38 Kabi banyak ini menjalani autopilot gitu 36:42 ya. Baik dari kehidupan pribadi, bisnis 36:45 juga banyak pelarian karena enggak 36:46 diterima kerja atau misalnya kerja sudah 36:49 bosan sama bosnya 5 tahun, 10 tahun, 36:53 akhirnya lari ke bisnis. Jadi gini, saya 36:55 lihat fenomena ya, Abi ya, ini fenomena 36:57 menarik ya. Banyak yang pendidikannya 37:00 rendah. Jadi ee mereka lulus SD 37:02 kadang-kadang ee SMP itu sudah mulaiin 37:05 bisnis nih. Sedangkan yang belajar terus 37:08 meng apa namanya? menghadapi dunia 37:10 pembelajaran bukan dunia real. Nah, 37:13 ketika dia selesai S1 dia lanjut lagi 37:15 S2. Dia S2 dia mulain cari kerja. Nah, 37:20 ini yang mulai dari lulusan SD dia udah 37:23 ee di lapangan itu udah bertahun-tahun 37:25 dia bisnis gagal dia coba lagi. Akhirnya 37:29 learning by doing gitu. Learning by 37:30 doing itu dia belajar ee dari kehidupan 37:34 gitu ya. Jadi ee ee orang-orang yang 37:38 mempersiapkan mempersiapkan pelajarannya 37:41 dengan akademik yang tinggi, dia enggak 37:43 disiapkan life skill dan dunia 37:45 pendidikan kita itu enggak relate sama 37:48 industri. Banyak sekali yang enggak 37:49 terhubung sama industri. Sehingga begitu 37:52 nyari ee lulus itu dia bingung lagi 37:54 nyari kerja bisnis dia mulain lagi dari 37:56 awal. Harusnya dia dari ee disiapin gitu 37:59 ya. Bahkan kita sering sekali ya ini 38:01 hidup kita tuh autopilot gitu. Jadi 38:04 misalnya saya dari rumah ke Senayan itu 38:06 saya enggak lihat kiri kanan apa ada apa 38:08 di jalan segala macam. Kita enggak tahu 38:10 lewat mana. Bahkan sudah nyampai. Nah, 38:12 kita membangun bisnis juga seperti itu. 38:14 Yang penting jalanlah. Misalnya kita 38:16 bangun bisnis ramai gitu ya, tokonya 38:19 kecil. Ee banyak sekali nih ya 38:21 warung-warung ee dimasuk ke dalam gang 38:24 kecil ramai. Begitu rameai dia bangun di 38:27 pinggir jalan dikasih toko yang besar 38:29 dikasih cahaya AC malah jadi sepi gitu 38:32 ya. Nah, itu kan fenomena yang unik gitu 38:34 ya. Belum lagi begitu bisnisnya sudah 38:37 mulai tumbuh, dia tambah karyawan. Nah, 38:40 itu sumber tanpa analisa dia nambah 38:43 fixed cost gitu ya, biaya yang tetap. 38:46 Bahkan sekarang 2023 itu data itu 38:49 42% GenZ itu menganggur. Kenapa? Karena 38:53 karyawan ini sekarang banyak digantikan 38:55 sama AI, kecerdasan buatan. Saya mau 38:57 rekrut ee 10 orang, saya rekrut aja 39:00 orang. sisanya saya rekrut AI gitu ya, 39:03 itu bisa kerja 24 jam kali 7 hari tanpa 39:06 ngeluh, tanpa minta naik gaji Pak Krisna 39:09 tanpa tanpa ee ada apa gejolak gitu ya, 39:13 tanpa ada baper, tanpa ada drama segala 39:15 macam gitu. Itu yang dilakukan 39:17 perusahaan sekarang anggarannya itu 39:18 dialihin ke itu gitu. Itu itu itu yang 39:21 yang pentingnya kita belajar strategi 39:24 yang Abi Darwis e katakan, K. Salim 39:27 katakan ini bagaimana kita itu hidup 39:30 bisnis itu enggak autopilot gitu ya. 39:32 Bikin tujuan, sumber dayanya apa, 39:34 roadmap-nya seperti apa, tantangannya 39:36 apa. Jadi mulai dari ee riset dulu, 39:39 lihat target kita siapa, menunya apa 39:41 sih, kita misalnya pakai lokasi, 39:43 lokasinya kayak gimana. Nah, kita juga 39:46 lihat ee banyak strategi yang nanti 39:48 mungkin dikasih sama Abi sama Kos Ali 39:51 ini mungkin karena perkenalan dulu awal 39:54 nanti kita bahas lagi kemudian atau 39:57 mungkin nanti ee silakan Abi kalau ada 39:59 yang bisa di-sharing terkait ee ee event 40:02 atau apa. Intinya kita itu ee bagaimana 40:05 caranya membangun bisnis itu tidak 40:08 autopilot, bagaimana hidup kita ini 40:10 tidak autopilot. Begitu ada target awal 40:13 tahun, tiba-tiba akhir tahun, oh iya 40:15 targetnya ya sudah nanti kita bikin 40:16 target baru gitu ya. Target tahun baru 40:19 tapi target yang dulu aja tidak tercapai 40:21 sama sekali gitu ya. Jadi itu itu itu 40:23 Pak 40:24 Krisna ini banyak pertanyaan masuk tapi 40:26 waktunya sudah singkat banget nih. Kita 40:28 singkat aja dari Bapak Bapak Wiriadi nih 40:32 dari Bekasi ya. Asalamualaikum ee Coach 40:37 Darwis dan Coach Salim. Iya. Ee saya 40:41 ingin bertanya. Saya ada SSB sekolah 40:44 sepak bola sudah 2 tahun dengan segala 40:46 permasalahannya. Bagaimana supaya bisa 40:48 bertahan? Permasalahannya saya dengan 40:51 pendanaan dan 40:53 kompensasi pelatih atau 40:56 gurunya. Sekolah sepak bola nih. 41:00 Sekarang sekarang juga marak ini. Iya. 41:02 Sedikit sedikit saya tambahkan sebelum 41:05 nanti Mas Salim ee melengkapin. Jadi ee 41:08 Pak Krishna dan teman-teman semuanya, 41:09 RKP itu menariknya adalah itu adalah 41:12 dokumen yang kita persiapkan sebagai 41:15 based on di dalam operasional kita dan 41:17 juga guiding di perusahaan kita. He. 41:18 Nah, nanti ee tektokannya yang kita 41:22 bongkar-bongkar itu ya based on itu 41:24 kalau Anda perhatikan semuanya, 41:26 Teman-teman, Anda, kita ini berjalan 41:28 tanpa based on sehingga kalaupun ada 41:30 trouble, ada apa-apa itu enggak bisa 41:32 dievaluasi gitu loh. Contoh misalnya, 41:34 "Kenapa kamu melakukan seperti itu?" Ya 41:36 biasanya saya diajarinnya kayak begini. 41:39 Nah, itu kan susah kita mau 41:41 mengevaluasi. Tapi kalau prosesnya 41:44 bisnis prosesnya kenapa ini kok terlalu 41:45 lambat? Oh iya, ada 13 tahapan, bisa 41:47 enggak kita potong jadi 9 atau jadi 7? 41:50 Ini kenapa riskan barangnya cepat rusak? 41:53 Kenapa tahapannya lebih cepat? Bisa 41:55 enggak ditambah lagi prosesnya biar 41:56 lebih safety lagi? Ada bahan yang bisa 41:59 kita diskusi gitu loh. Tapi kalau tidak 42:01 kita diskusinya kan perdebatan, 42:03 perdebatan apa ya? Perdebatan yang tanpa 42:05 ujung dan itu akhirnya ee hanya berdebat 42:09 ee urusan apa ya pembicaraan katakanlah 42:12 tidak tidak based on dalam secara 42:14 keilmuan begitu. Nah, RKP-nya saya 42:16 memandangnya seperti itu. Jadi, ada 42:18 manual yang akhirnya bisa menjadi bahan 42:20 evaluasi buat kita. Bisa kita kaji, bisa 42:23 kita enreement, bisa kita improvement, 42:26 bisa kita eh kalau perlu kita ganti, 42:30 kita keen, kita jaga, kita innovation 42:33 karena ada bahannya. Tapi kalau itu 42:35 enggak ada, apa yang mau kita mau kita 42:37 diskusikan? Karena kalaupun UMKM itu 42:40 nanti dibantu para mentor, para 42:42 konsultan, dia pasti akan ditanya 42:44 tentang itu. Mana data yang bisa saya 42:46 pelajarin? Nah, seperti yang Habib tadi 42:48 sampaikan. Nah, kalau tidak ya kita 42:50 diskusinya warung kopi jadinya nanti. 42:52 Oh, begini begini akhirnya ya sampai 42:55 bertahun-tahun ya diskusi aja enggak 42:57 pernah ada cerita gitu. Tapi kalau ada 42:59 base on-nya dan diskusinya bisa 43:00 diturunkan. Nah, nanti ee sama juga 43:03 dengan kasus yang seperti sepak bola 43:05 juga atau bisnis yang lainnya sama. 43:07 Karena bisnis is pattern. Bisnis itu 43:09 bicara pola sebenarnya ya. Nah, kita 43:11 bagaimana membuat formulasi bisnis itu 43:13 dengan polanya? Ya pastilah. Kenapa 43:16 bisnis itu sepi? Karena tidak punya 43:17 diferensiasi, tidak punya value, tidak 43:20 punya apa namaning position yang cukup 43:22 kuat kepada kompetitornya. Dan yang 43:24 paling penting bisnis itu bisa terancam 43:26 mati karena dia tidak menjadi problem 43:28 solver dan tidak bisa menyelesaikan 43:30 masalah-masalah customer. Itu yang 43:32 paling penting. Karena opportunity itu 43:34 selalu dekat masalah. Makanya para 43:35 pebisnis itu paling senang kalau ada 43:37 masalah karena aura kecium baunya 43:39 opportunity itu kuat sekali gitu. Bahkan 43:42 kalau perlu masalah itu dibuat supaya 43:44 ada 43:45 opportunity. Mas Alim silakan kalau mau 43:47 nambahkan. 43:50 Oke. Baik. Ini banyak yang bertanya 43:51 nomor telepon Bang Habib ke mana? Saya 43:54 kasih banyak yang mau konsultasi. I 43:56 silakan ee Abi atau kan 0823 aja ya. 44:01 Boleh. Boleh ditampung. Boleh ditampung 44:03 sal. Iya. 0823 44:08 10.000213 44:10 0821 eh 44:12 0823 44:13 10.000 213. Ini banyak yang bertanya mau 44:18 bagaimana caranya bisa konsultasi dengan 44:20 Coach Abi Darwis dan Coach Salim Suharis 44:24 katanya yaitu ke nomor itu tadi ya 0823 44:30 10.0213. Oke boleh Mas Salim silakan. 44:33 Eh, Pak Salim mau mau tambahkan K Salim 44:36 silakan. 44:37 Ya, dikit aja dari yang disampaikan oleh 44:41 Abi Darwis tadi, sebenarnya inti dari 44:45 bisnis itu adalah terjadinya jual beli 44:48 dan inti dari jual beli adalah 44:50 terjadinya pertukaran antara produk ya, 44:55 bisa barang, bisa jasa dengan uang dari 44:59 customer. Tentu menjadi titik tekan di 45:02 sini adalah customer rela untuk 45:06 melepaskan uangnya demi mendapatkan 45:09 value dari produk yang diharapkan dari 45:12 penjual. Tentu di situlah kita harus 45:15 memahami jadi sebenarnya apa yang 45:18 menjadi buyer value dari ee keinginan 45:22 customer spesifik yang kita bidik kalau 45:25 kita tidak berorientasi pada buyer value 45:28 yang mana buyer value itu sekaligus juga 45:31 merupakan problem yang harus 45:33 diselesaikan oleh ee penjual merupakan 45:37 ee sesuatu penawaran yang ditawarkan 45:41 oleh penjual. Nah, yang pada akhirnya 45:43 membuat buyer merasakan bahwa oh ini 45:46 memang value yang saya butuhkan, ini 45:48 memang value yang saya inginkan. 45:50 Sehingga dengan begitu dia rela untuk 45:53 melepaskan uangnya. Nah, terhadap bisnis 45:57 restoran dan terhadap bisnis ee sekolah 46:00 sepak bola tadi yang terpenting adalah 46:03 temukan dulu buyer value-nya seperti 46:06 apa. Kemudian dikembangkan untuk 46:08 mempelajari dan memahami reason to buy. 46:12 Alasan dari customer itu mau membeli itu 46:15 apa? Kalau misalnya kita enggak paham, 46:18 kita enggak tahu reason to pay-nya 46:19 seperti apa, buyer value-nya seperti 46:22 apa, tentu kita akan salah dalam 46:24 m-deliver value dari produk yang kita 46:27 bangun, yang kita buat. Bisa jadi ee 46:30 orang pengin ke restoran itu bukan 46:33 sekedar ingin makan, bisa jadi mereka 46:36 ingin ee ngobrol-ngobrol, bisa jadi 46:38 mereka ingin foto-foto, bisa jadi mereka 46:42 ingin ee mendapatkan suasana nyaman dan 46:44 lain sebagainya. Sehingga ee value 46:47 seperti apa yang ingin dibidik itu nanti 46:50 akan mendatangkan customer spesifik. 46:52 Jadi kalau misalnya kita membuat 46:54 restoran yang ingin dikunjungi oleh 46:57 orang yang lapar, tentu akan berbeda 46:59 konsepnya dengan ingin membuat restoran 47:01 yang ingin dikunjungi oleh customer yang 47:03 pengin ngobrol-ngobrol. 47:05 Akan berbeda juga membuat restoran yang 47:08 ingin dikunjungi oleh orang yang pengin 47:10 foto-foto gitu. Sehingga apa yang mau 47:13 kita deliver ke customer dan mengapa 47:16 mereka mau datang ke tempat kita itu 47:18 harus dipelajari dan dikaji dulu. Jadi 47:21 ee bertumbuhnya bisnis adalah mampu 47:25 menduplikasi jumlah penjualan dan produk 47:29 yang kita tawarkan tentu harus ada 47:31 pembelinya dan semakin besar yang kita 47:33 target berarti pembelinya juga harus 47:35 semakin besar dan semakin besar pula 47:39 produk yang harus kita siapkan, baik itu 47:41 proses produksinya, proses penyiapannya, 47:44 proses pelayanannya dan lain 47:46 sebagainya. Seperti itu, Bang Krishna. 47:49 Oke, banyak sekali pertanyaan nih. 47:51 Apakah RKP 47:57 PP itu disusunnya sebelum perusahaan itu 48:00 didirikan atau bagaimana? 48:03 Bagaimana pakai filik apa gimana itu ee 48:06 cara rekannya seperti apa? 48:10 Iya. RKP memang idealnya disusun sebelum 48:14 masuk ke tahun berjalan dari sebuah 48:17 proses. Jadi, RKP ini kan turunan dari 48:20 rencana jangka panjang, rencana 20 tahun 48:23 dipotong-potong jadi rencana 5 tahun 48:26 dipotong-potong lagi menjadi rencana 48:28 tahunan. Nah, RKP ini adalah rencana 48:30 tahunan. Jadi kita menyusun RKP 2025 48:34 tentu dalam rangka untuk membuat kita 48:37 memiliki TRK yang bisa kita lalui, yang 48:40 bisa kita jalani untuk mencapai gol yang 48:44 kita harapkan tadi. Nah, bagaimana jika 48:46 sudah terlanjur nih? Kayak misalnya ini 48:48 sudah tanggal 2 nih sudah terlanjur 48:51 masuk 2025 boleh enggak? Boleh saja. 48:54 Jangankan begitu, andaikan kita baru 48:56 sadar bahwa kita perlu guidance di 49:00 pertengahan perjalanan juga enggak 49:02 apa-apa. Pak Krishna mungkin pernah ya 49:04 kira-kira lagi berencana ke mana gitu 49:06 merasa ah saya sudah tahu gitu. Ternyata 49:09 jalannya itu tiba-tiba ada ada ditutup 49:12 misalnya entah ada kegiatan atau apa 49:15 yang menyebabkan Pak Krishna enggak bisa 49:17 lewat jalur tersebut. Nah kemudian baru 49:20 berpikir terus kita lewat jalur mana? 49:22 Lalu kita buka GPS. Padahal itu sudah di 49:25 tengah perjalanan tuh kita baru buka 49:26 GPS. Apakah enggak boleh? Boleh saja, 49:29 tapi akan lebih baik jika kita siapkan 49:32 itu sejak sebelum berangkat dengan ee 49:36 menyiapkan rute yang terbaik tadi. 49:38 Demikian, Bang Kris. Termasuk juga 49:41 kemungkinan hambatan-hambatan harus 49:42 tertulis juga tuh ya. 49:44 Kemungkinan-hambatan yang akan terjadi 49:46 apakah harus ditulis juga? 49:48 Iya. Betul. tentunya ee sebagai 49:52 perencana yang baik pasti akan mampu 49:55 memprediksi risiko. Oleh karena itu tadi 49:58 disebutkan untuk mengawal proses 50:01 eksekusi itu perlu menyiapkan mitigasi 50:04 risiko. Nah, mitigasi risiko ini akan 50:06 semakin tajam seiring dengan semakin 50:09 berpengalamannya seseorang di dalam 50:11 bisnis tersebut. Itu yang membuat ketika 50:14 kita belum benar-benar memiliki 50:16 pengalaman, kita membutuhkan mentor yang 50:19 mereka sudah lebih dulu mengalami proses 50:22 suka duka, terus ee hutan belantaranya 50:26 bisnis itu mereka sudah lebih dulu 50:28 menjalani dan dapat diceritakan kepada 50:30 kita sehingga kita lebih mudah untuk 50:33 menghadapi risiko yang ee berpotensi 50:36 terjadi di masa yang akan datang. 50:39 Baik, terima kasih Coach Abi Darwis dan 50:43 Coach Salim Suharis. Sayang sekali kita 50:45 sudah diwatis oleh waktu, sebentar lagi 50:47 kita masuk waktu zuhur. Untuk Anda yang 50:51 sudah ngirim pertanyaan, mohon maaf 50:52 tidak semuanya bisa kami bacakan. 50:55 Silakan Anda telepon aja kalau mau 50:57 konsultasi ke 50:59 0823. Kemudian 51:02 10.00213 51:04 0823 10.213 51:07 ada Abi Darwis dan Salim Suharis di sana 51:10 yang akan memberikan Anda arahan lah ya. 51:15 Oke. Eh, terima kasih sekali lagi eh 51:18 Coach Abi Darwis dan Coach Salim juga. 51:21 Yes. Bang Habib mana? Bang Habib ini 51:23 siap Mbak Krisna. Bang Habib siap. 51:26 Sayang sekali waktunya ya kita sudah 51:29 dibatasi. Menarik sekali Pak Krisna. 51:31 Oke. Ada kesimpulan yang mau disampaikan 51:33 Bang Habib? Mungkin closing statement 1 51:35 menit. Eh, Ki, K. Salim silakan 1 menit. 51:41 I. Baik, terima kasih teman-teman 51:44 semuanya. Ke depan sudah pasti bahwa 51:48 kita perlu pijakan yang lebih benar di 51:50 dalam pengelolaan bisnis kita. Maka RKAP 51:53 adalah salah satu bekal penting buat 51:57 teman-teman semuanya untuk bisa 51:59 membangun bisnis 52:00 dengan benar ya, dengan lebih saintis 52:04 dan lebih terarah lagi supaya nanti 52:06 hasil outcome yang kita harapkan 52:08 betul-betul terwujud bahwa ee ujung 52:12 perjalanan kita kita akan menjadi 52:14 bahagia termasuk juga membahagiakan 52:16 banyak orang dan yang pasti kita bisa 52:18 memberikan sebuah legesi ataupun warisan 52:20 kepada generasi-generasi kita untuk 52:22 menjadi jauh lebih hebat dari kita. 52:25 Terima kasih. Baik ya. Terima kasih e 52:30 Abi Darwis dan Kos Salim. Ee Bang Habib 52:36 ya. Ya. Kita sepertinya sudah dibatasi 52:38 oleh waktu. Siap. Terima kasih. Kita 52:40 jumpa lagi pada Kamis pertama setiap 52:44 bulan. Kita ketemu pada Kamis pertama di 52:46 bulan Februari. Terima kasih atas 52:48 perhatian Anda semuanya. Saya Muhamad 52:51 Krishna dan Ali mohon pamit. Wabillahi 52:54 taufik walhidayah. Wasalamualaikum 52:55 warahmatullahi wabarakatuh.