Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Wallahuam bisawab. Ikhwan dan akhwat.
- Demikian tadi telah kita simak bersama
- pemaparan tausiah yang telah disampaikan
- oleh guru kita Ustaz Abul Hidayat
- Sairoji. Kami akan jeda sejenak terlebih
- dahulu dan kami akan mempersilakan bagi
- Anda yang ingin bergabung silakan
- kirimkan komentar ataupun pertanyaan di
- nomor kami di nomor WhatsApp 0811999720.
- tetaplah bersama kami.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Radio Silaturahim untuk Islam yang satu
- yang masih dipancarlaskan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis,
- Cibubur, Bekasi. Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala. Di
- kota-kota besar, gaya hidup enjoy life
- yang cenderung permisif memang mudah
- sekali terbentuk karena memang banyaknya
- pilihan hiburan, budaya serba cepat, dan
- pengaruh lingkungan sosial, dan kemudian
- orang jadi lebih sering mengejar
- kesenangan, relaksasi, atau self reward
- setelah sibuk beraktivitas. Namun kalau
- tidak diimbangi dengan kontrol diri dan
- pegangan nilai yang kuat, gaya hidup
- seperti ini bisa membuat seseorang mudah
- boros, kurang fokus dan pada tujuan
- jangka panjang, dan perlahan menjauhi
- dari hal-hal yang lebih bermakna serta
- kehilangan arah.
- Sebelum kita menjawab beberapa
- pertanyaan, kami ingin menyapa ada Ibu
- Ani di Kemayoran, Bapak Yudi di Bogor,
- Eyang Sri, Ibu Sundari, dan juga Bapak
- Manih di Bekasi. Pertanyaan pertama
- datang dari Pak Yudi di Bogor. Pak
- Ustaz, asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, bagaimana sikap orang-orang
- beriman menghadapi cobaan dan ujian?
- Terima kasih.
- Masyaallah. Pertanyaannya emang
- pertanyaan inti. Mau hidup itu isinya
- ujian.
- Kalau kita baca surah Al-Anbiya ayat 35
- Allah berfirman,
- "Nazubillahiminasyaitanirrajim.
- Kullu nafsin zaqatul maut wablukum
- bisyarri wal khair fitnah wa ilaina
- turjaun."
- Allah mempermaklumkan kepada kita supaya
- tidak lupa diri
- ya kebablasan,
- lupa batas pematang ingin meregu
- sepuas-puasnya dalam kehidupan
- maka Allah
- memberikan informasi kullun nafsin
- daiqatul maut. Tiap-tiap yang hidup
- pasti akan mati.
- Sehe apapun,
- setinggi
- cita-cita,
- betapa besar keinginan manusia, ingin
- ini, ingin itu, dan sebagainya, Allah
- memberikan satu maklumat bahwa hidup itu
- sementara, sebentar.
- Yang hidup pasti akan mati.
- Ini dari sini aja kan sudah mestinya kan
- orang tahu diri,
- membatasi diri. Oh, ternyata sementara
- hidup ini.
- Hidup itu ada batasnya. Jadi, manusia
- mestinya mengendalikan
- setiap keinginan
- dan dia sadar bahwa hidup ini cuma
- sementara akan kembali kepada Allah.
- Wablukum bisyarri walhairi fitnah. Dan
- kami akan menguji kamu dengan keburukan
- dan kebaikan.
- Nah, yang setiap hari yang kita hadapi
- kan yang keburukan dan kebaikan.
- Keburukan, kebaikan.
- yang menyenangkan, tidak menyenangkan,
- yang lapang dan yang sempit. Ternyata
- itu semua yang kita jumpai adalah ujian.
- Ujian itu yang dimaksud adalah tes
- kualitas.
- Sejauh di mana kualitas kita sebagai
- manusia.
- Karena manusia sendiri disebutkan oleh
- Allah Subhanahu wa taala bisa mulia bisa
- jatuh martabatnya,
- bisa mulia bisa hina.
- Walaupun Allah sudah memuliakan anak
- Adam, anak cucu Adam.
- memuliakan, memberikan peluang,
- memberikan kesempatan,
- berikan kecerdasan, diberikan
- kehormatan, dunia diserahkan pada
- manusia. Tapi di sisi lain kalau dia
- tidak ber memposisikan diri sebagai
- fungsi sebagai manusia yang terhormat,
- mulia dan dimuliakan
- pada perjalanan dan sikap yang mulia,
- maka dia bisa jatuh dan kejatuhan
- manusia itu bisa lebih hina daripada
- binatang.
- Tuh. Jadi
- Allah sudah jelas sekali uji hidup itu
- ujian.
- Ada
- hawa nafsu, ada akal budi. Pada diri
- manusia sudah dilengkapi
- kecerdasan intelektual, kecerdasan
- emosional, kecerdasan spiritual, ada
- hati nurani, ada Al-Qur'an, ada contoh
- keteladanan Nabi.
- Akhirnya selanjutnya
- kita lihat dalam kehidupan
- banyak orang memilih jalan yang sesaat,
- kenikmatan sesaat walaupun itu sesat
- membawa laknat.
- Jadi ilmu tidak menjadi tidak bisa
- dijadikan satu patokan yang bisa di
- diandalkan semata.
- Nah, maka di sinilah
- apakah kita masih bisa ekst menduduki
- makamnya sebagai manusia mulia atau
- justru kalau tidak dia akan lebih jatuh,
- lebih hina binatang. Bahkan kalau jatuh
- martabat manusia karena ngikuti hawa
- nafsu, siapapun dia bisa lebih hina
- daripada binatang.
- Maka sering saya berseloroh pada ibu-ibu
- taklim ibu-ibu.
- He.
- Ibu-ibu milih anak apa milih kambing? Ya
- dimarahin saya. Masa suruh milih anak
- dibandingkan dengan kambing.
- Milih anak milih kambing. Ya milih anak,
- Pak.
- Heeh.
- Bagus. masa milih kambing. Tapi coba
- kita lihat
- ketika kita merawat anak 20 tahun
- umurnya,
- sekolah mogok, kerja malas,
- makan gembul.
- Heeh.
- Tidur ngorok.
- Heeh.
- Siang molor, malam ngelayap. Pergaulan
- salah.
- Heeh.
- Ya, akhirnya dari mulai minum yang
- hanget berubah menjadi minum brandy
- whisky.
- Heeh.
- Kurang puas juga bel setan, bel koplok
- dimakan
- ditangkap polisi.
- Loh, gimana itu?
- Nyusahin, Ustaz.
- Nah, nyusahin kan
- nyusahin orang tua.
- Orang tua diminta ini itu emnya nangis,
- bapaknya sik eta budak bangor cenah biar
- dia ngerti. Tapi emnya kan enggak bisa.
- nangis akhirnya ya biasalah bukan
- rahasia saya kira boleh tahan di rumah
- tapi mesti Rp50 juta.
- Heeh.
- Jaminannya apa? Jaminan apa? Enggak
- tahulah. Itu realita
- tuh. Pulang ke rumah sehari 2 hari
- dicaraikan ku bapak ke emak. Ayo mau dia
- salat karena ya bisa salat. Tapi 3 hari
- kemudian seminggu kambuh lagi.
- Heeh.
- Lebih buruk lagi sekarang.
- Udah bukan lagi pe pengguna.
- Heeh.
- Pengedar.
- Untuk uang sudah di rumah sudah
- barang-barang habis. Motor dijual, mobil
- digadaikan,
- perhiasan maknya di pokoknya udahlah.
- Waduh ya Allah. Tuh lama-lama ke
- tetangga
- maling segala macam habis uangnya.
- Badannya kurus begitu
- kerjanya. Bawa janda lagi ke rumah bawa
- gadis.
- Heeh.
- Ke mana-mana kumpul kebok.
- Sok eta. Ayo coba
- coba. Kalau piara kambing
- 20 tahun
- beranak ustaz
- beranak pinak setahun dua kali. Kalau
- dua-dua sudah
- kalau 20 tahun 4* 20
- 80 anaknya beranak 80 lagi 160 bisa 400
- ekor kambing selama 20 tahun.
- Tidak dimandiin,
- dicari orang,
- dirawat muda, kasih rumput mau.
- Heeh. [mendengus]
- Lebaran gak usah repot nyari celana.
- Enggak dicelanain juga pantes.
- Ayo
- dijual laku.
- Heeh.
- 1 ekor Rp3 juta. Kalau itu 80 sudah
- berapa? 80 * 3 sudah berapa juta?
- Tuh, [mendengus]
- sekarang pertanyaannya milih kambing apa
- milih anak? Berubah milih milih kambing
- tuh. Jadi kualitas manusia, nilai
- manusia itu bisa jatuh lebih hina kalau
- dia tidak ngikuti makam fitrahnya
- sebagai manusia. Ini ditugaskan ke kita
- orang tua terhadap anak-anak kita.
- minimal
- salah kaprah. Kadang-kadang kita ini
- punya anak itu dianggap anak kita.
- Kemudian yang penting anak itu senang,
- anak itu bahagia, sekolah secara zahir
- menjadi orang yang cerdas tapi hatinya
- dibiarkan kosong daripada iman.
- Kebanggaan kalau terima rapot. Rapotnya
- bagus 80 90. Woh, banggaan.
- Tapi kalau kemudian rapotnya buruk, wo
- sedih kiamat sudahlah. Ini kan sering
- ada ibu-ibu ngambil rapot, anaknya merah
- semua. Uh, sedih itu luar biasa, Pak.
- Nih musibah musibah apa ma? Madesu.
- Madesu apa? Masa depan yang suram tuh
- anak-anak. Kenapa? Lihat nih rapotnya
- mah jeblok semuanya. Gimana? Yang pintar
- aja sekarang itu belum tentu bisa
- bersaing. Yang lari aja kadang
- ketinggalan. Apalagi anak kita ini
- gimana, Pak? Coba bapaknya diam aja
- sambil ngerokok,
- emaknya mau ngemerewek kayak bebek mau
- nelor. Udah enggak bisa kalau begini
- kata ibunya. Ini harus kita mengambil
- sikap. Panggil guru privat. Tuh bagus
- juga sih ibu ini. Panggillah guru privat
- matematika, bahasa Inggris, biologi,
- pokoknya ya. Enggak ada anak yang bodoh.
- Pintar ditekun itu. Pintar. Woh,
- nilainya 80 90 100 90
- bangga. Masyaallah.
- Heeh.
- Kata
- bapaknya, "Bu, lihat anak kita."
- Alhamdulillah. Siapa dulu dong ibunya?
- Gitu. Tapi ketika bapaknya bilang, "Ma,
- ini anak kita pintar-pintar sekarang,
- [mendengus] tapi sudah dewasa, menginjak
- dewasa, sudah baligh,
- belum bisa baca Quran." Heeh.
- Malah enggak salat
- gimana? Enggak nutup aurat ma
- kan situ bapaknya [tertawa]
- jawabnya apa kata emnya ketus lah si
- bapak gitu aja kok repot nanti gitu-itu
- mah bisa sendiri Pak katanya. Nah ini
- kesalahan orang tua. Maka memberikan
- pendidikan pada anak itu pendidikan yang
- benar.
- Kalau hidup dengan permisif,
- ikut-ikutan permisif society,
- masyarakatnya bebas nilai, oh jangan
- anak jangan terlalu ditekan. Kasihan,
- jangan dibangunin. Masih ngantuk, tidur,
- puasa enggak boleh puasa. Yang penting
- anak itu bahagia, senang lah. Kacau
- nanti. Hidup ini ada perintah, ada
- larangan. Ada yang balik baik, ada yang
- tidak baik. Kalau baik dianjurkan. nya
- tidak baik mesti ada aturan-aturan dalam
- kehidupan. Tapi karena dia penganut
- permisif society, masyarakat yang bebas
- nilai,
- bebas dari aturan-aturannya mengikat,
- katanya kasihan, maka yang terjadi
- seperti itu. Banyak orang yang punya
- ilmu tapi jiwanya
- kosong, melompong, kering. Maka ilmu
- tidak bisa jadi panutan. Mau haji kay
- mau kiai, mau ustaz. Kalau ternyata
- aplikasi dalam kehidupan tidak sesuai
- dengan akhlak Islam, bertentangan dengan
- Islam, ya memang bajingan itu kalau
- kejahatan yang dia lakukan.
- Apalagi yang marah kejahatan-kejahatan,
- kemaksiatan-kemaksiatan yang memakai
- kerdok agama, pakai nama ustaz, tapi
- kemudian digunakan hanya untuk maksiat.
- Nauzubillah minzalik. Jadi itu bukan
- parameter. Iblis juga lebih hebat lagi
- ilmunya. Tapi ternyata dia menjadi
- penentang syariat, penentang perintah
- Allah Subhanahu wa taala. Jadi iman.
- Nah, itu yang harus kita tanamkan di
- hati. Silakan anak kita menjadi pintar,
- cerdas, mau jadi insinyur, mau jadi
- profesor, mau jadi doktor, mau jadi apa,
- silakan. Bagus, punya cita-cita. Tapi
- tanamkan iman, akidah, akhlak yang baik,
- kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.
- Wallahuam.
- Baik, Ustaz.
- Dan pertanyaan terakhir, Pak Ustaz, dari
- hamba Allah di Sukabumi. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, di tengah gaya hidup modern yang
- serba praktis yang tadi Ustaz sampaikan,
- banyak orang kemudian kurang
- memperhatikan kehalalan makanan. Apakah
- ini bisa berdampak pada kehidupan
- mereka, baik dari sisi hati, akhlak,
- maupun keberkahan rezeki. Terima kasih.
- Di dalam pertanyaan itu sudah mengandung
- jawaban.
- [mendengus] Setiap perbuatan dosa
- itu akan
- mengikis keimanan, akan mengurangi
- kemuliaan daripada manusia, mengurangi
- keberkahan.
- Iya.
- Kalau apalagi dari makanan yang haram
- itu akan menjadikan darah dan daging
- kita kotor. Kalau kita kasihkan pada
- anak-anak, anak-anak yang tumbuh dari
- makan yang halal dan haram.
- Di Hadis Arbain kan di MI di Tsanawiyah
- itu kan dikenal ke sana. Ada seorang
- musafir yang dalam perjalanan jauh,
- bajunya lusuh, rambutnya kusut.
- Dia nampak dalam perjalanan jauh.
- Padahal orang dalam musafir seperti itu
- biasanya doanya dikabulkan.
- Dia berdoa, "Ya Allah, ya Allah, ya
- Allah." Tapi doanya tidak ada yang
- diterima oleh Allah Subhanahu wa taala.
- Ditolak.
- Kenapa? Karena makanannya dari makanan
- yang haram, minuman minuman yang haram.
- Apakah zatnya? Apakan hukumnya. Bisa aja
- makan, minumnya, makanannya baik, tapi
- uang yang didapatkan cara yang tidak
- benar.
- pakaiannya didapat dari cara haram.
- Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan
- Allah Subhanahu wa taala? Nah, hadis
- yang diriwayatkan jelas sekali
- [berdehem]
- ya, bahwa
- setiap daging yang tumbuh dari makanan
- yang haram atau riba, maka neraka lebih
- tepat untuk tempatnya. Nauzubillah
- minzalik. Kita berlindung kepada Allah
- ya. Oleh karenanya hati-hati para ikhwan
- semuanya dalam dalam kehidupan memilah
- dan memilih yang benar dan yang mana.
- Yang yang salah jangan nyari yang banyak
- tapi kita lihat yang bersih,
- yang halal yang baik. Demikian juga
- dalam mendidik anak. Tanamkan di hati
- anak pertama akidah keimanan, ubudiah,
- [mendengus] akhlaknya, kejujurannya, dan
- berikan makanan-makanan yang halal
- halalan thayibah. Karena itu akan
- berpengaruh.
- Bahkan setiap perbuatan buruk kita,
- maksiat kita, durhaka kita,
- seberat apapun, sebesar apapun itu
- berarti turut mengundang turunnya
- bencana. Karena Allah memberikan suatu
- ketetapan. Walau anna ahlal quro amanu
- wattaqau lafatahna alaihim barokati
- minasama wal ard. Wakin kadzabu
- faaknahum bimau yakbun. Jadi ada dua
- keadaan.
- Allah berjanji,
- janji Allah sendiri langsung.
- Barang kalau atau seandainya sekiranya
- penduduk negeri itu beriman dan
- bertakwa, berarti kita yang hidup di
- suatu negeri jika beriman, bertakwa,
- Allah berjanji
- sungguh kami akan menurunkan berkah kami
- buka pintu berkah dari langit dan dari
- bumi. Berarti perbuatan baik secara
- langsung ataupun tidak sebenarnya
- mengundang turunnya berkah dari Allah
- Subhanahu wa taala.
- Walakin kadzabu faaknahu bimau yaksibun.
- Tapi jika perbuatan kita itu mendustai
- perintah Allah, menyimpang daripada
- agama, kemaksiatan, kedurhakaan dan
- sebagainya itu mengundang bencana. Allah
- akan turunkan
- azab disebabkan oleh perilakunya.
- Jadi kalau di negeri satu negeri itu
- banyak maksiat,
- banyak kedurhakaan,
- banyak korupsi,
- banyak pembunuhan dan seterusnya dan
- lain-lain itu jangan salahkan kalau
- banyak bencana akan menimpa dirinya.
- Dan kalau bencana itu turun, musibah itu
- turun, tidak memilih mana orang baik dan
- mana orang yang baik. Orang yang buruk,
- orang yang melakukan. Orang melakukan
- jelas, tapi orang baik pun akan terkena.
- Hanya bedanya kalau orang baik terkena
- daripada dampak itu ini akan
- menggugurkan semua dosanya dan kalaupun
- dia meninggal meninggal dalam syahid
- sebagai syuhada. Tapi kalau orang jahat
- yang justru mengundang malapetangkatan
- dan bencana itu merupakan mungkin azab
- ataupun persekot siksa sebelum di siksa
- di kubur dan di akhirat nanti. Wallahuam
- bissawab.
- Baik. Jadi siksa sebelum siksa di kubur
- dan akhirat ada persekotnya, Ustaz?
- Ada persekotnya di dunia.
- Baik, ikhwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah Subhanahu wa taala. Telah
- sampailah kita pada sesi akhir di
- tausiah kita di pagi hari ini. Dan
- sebelum ditutup, kita akan ee
- mendengarkan kesimpulan.
- Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
- Mari
- sekali lagi kita sama-sama dengan tawasu
- bilhaq wat tawu bisobr wat tawu bil
- marhamah dan seterusnya. Kita terus
- menggali
- lebih tajam lagi.
- Dan dalam berapa ayat disebutkan
- kalau orang makin tua genggamannya makin
- kendor, makin lemah. Itu artinya supaya
- pegangan dunia itu
- lebih baik kita mulai tinggalkan dan
- lebih erat lagi pegangannya kepada
- Allah. Kenapa usia makin tua
- itu makin banyak nikmat yang dikurangi
- oleh Allah Subhanahu wa taala secara
- indriawi? itu maksudnya kenikmatan
- indriwi dikurangi maksudnya diganti
- dengan kenikmatan yang hakiki, kelezatan
- iman, kenikmatan spiritual, kenikmatan
- berbuat kebaikan dan munajat mendekat
- pada Allah Subhanahu wa taala.
- Jadi hidup sesaat, hidup sebagai ujian,
- hidup sebagai tes kualitas. Mari kita
- isi rentang waktu yang hanya sebentar
- dengan berbagai macam kebaikan yang bisa
- kita lakukan sehingga mampu mengangkat
- harkat, martabat kita sebagai manusia
- yang mudah-mudahan dimuliakan oleh Allah
- subhanahu wa taala. Mohon maaf segala
- kekurangan kekeliruan. Wabillahi taufik
- walhidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakallah kami ucapkan kepada guru kita
- Ustaz Abul Hidayat Soji. Semoga Allah
- selalu memberikan kesehatan kepada
- beliau. Amin.
- Kepada Ibu Sandi Wiriyat Tarmini,
- kemudian Bapak Ibu Suratmi, Bapak
- Rahman,
- kemudian Bunda Nurjanah binti Madi
- Singapura Poset menyimak acara pada pagi
- hari ini. Serta Eyang Sri terima kasih
- serta Bapak Asep sudah menyimak siaran
- kami. Insyaallah nanti Anda bisa
- mengikuti tausiah beliau melalui YouTube
- Rasil TV. silakan ee buka YouTube TV-nya
- dan insyaallah nanti ada Anda bisa
- mengikuti ee apa namanya apa yang beliau
- sampaikan dari awal hingga akhir.
- Akhirul kalam kami yang bertugas mohon
- undur diri. Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.