Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 [musik] 0:16 Assalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. 0:21 Alhamdulillahirobbil alamin 0:22 wabihinastain waala umuriddunya waddin. 0:26 Wasolat wasalam ala asrofil anbiya wal 0:28 mursalin waala alihi wasohbihi ajmain. 0:32 Asyhaduallailahaillallah 0:34 waasyhaduanna Muhammadan abduhu 0:36 warosuluh. Allahumma sholi wasalim 0:39 wabarik ala nabiyina Muhammadin waala 0:42 alihi wasohbihi ajmain. 0:45 Qolallahu taala fil Quranil Karim, 0:47 audzubillahiminasyaitonirojim. 0:51 Qolu subhanaka laa ilmalana illama 0:54 alamtana innaka antal alimul hakim. 0:57 Waqola aidon qola robbisrohli sodri 1:00 wayasirli amri wahlul uqdatam milisani 1:03 yafqohu qouli, sodaqallahul adzim. 1:05 Alhamdulillahirobbil alamin masih 1:06 dipancarkan dari jalan Masjid 1:08 Silaturahim nomor 36 Cibubur Radio 1:12 Radio Silaturahim untuk Islam yang satu. 1:16 Ikhwan akhwat yang dimuliakan Allah 1:18 Subhanahu wa taala bagaimana kabar anda 1:20 di Selasa malam ini? Semoga Allah 1:23 senantiasa memberikan kesehatan, 1:25 kebahagiaan kepada ikhwan akhwat 1:27 dimanapun anda berada. Senang sekali 1:30 saya Fauzi Ridwanul Haq ditemani oleh 1:32 Neza dan juga Yusuf Subangkit dapat 1:35 kembali menemani ikhwan akhwat dalam 1:38 program tadabbur Alquran 1:41 Selasa 1:42 tanggal 18 Syawal 1447 1:47 Hijriah 1:48 dan juga bertepatan dengan ta 1:50 tanggal 7 April 2026 bersama guru kita 1:55 Al Mukarrom Ustad 1:57 Doni Amir Sagaf. Alhamdulillah beliau 1:59 sudah hadir bersama kita. 2:01 Oleh karena itu kita sapa guru kita 2:02 terlebih dahulu. 2:03 Assalamualaikum warahmatullahi 2:04 wabarakatuh, Ustaz. 2:06 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:08 wabarakatuh, Kang Fauzi. 2:11 Sehat, Ustaz? 2:12 Alhamdulillah, barakallah. 2:14 Alhamdulillahirabbilalamin, semoga 2:16 kesehatan juga dirasakan oleh ikhwan 2:18 akhwat di manapun Anda berada, kami 2:20 doakan 2:21 selalu dalam keadaan sehat. 2:23 Eee 2:24 kita bertemu kembali 2:27 edisi setelah 2:30 bulan Ramadan, baru pertama kali, Ustaz, 2:32 ya? 2:33 Iya, alhamdulillah. 2:35 Nanti mungkin Ustaz akan menyampaikan 2:38 eee ucapan taqabbalallahu minna wa 2:40 minkum, nanti sebelumnya izinkan 2:44 saya memulai dulu, kami 2:46 saya atas segenap Qur'an atas program 2:52 tadabbur Alquran memohon 2:55 taqabbalallahu minna wa minkum minal 2:56 aidin wal faizin kullu am wa antum bi 2:59 khair, semoga Allah menerima amal ibadah 3:02 kita di bulan Ramadan dan tetap 3:05 istikamah apa 3:07 segala amal ibadah yang sudah kita 3:09 laksanakan di 3:10 bulan Ramadan, kita istikamah dan terus 3:13 berlanjut sampai 3:14 bertemu bulan Ramadan kembali, 3:16 insyaallah. 3:17 Baik, ikhwan akhwat 3:19 semoga kajian ini dapat menemani ikhwan 3:21 akhwat di 3:23 malam-malam sebelum 3:26 beristirahat. 3:29 Insyaallah pada malam 3:32 Rabu ini Ustaz Doni akan membahas 3:35 tentang memaafkan orang lain versus 3:40 memaafkan manusia. 3:43 Insyaallah 3:46 bagaimana nanti Ustaz Doni akan 3:48 menjelaskan 3:50 perbedaannya antara memaafkan orang lain 3:52 dengan memaafkan manusia apakah sama 3:54 atau berbeda? 3:56 Eee. 3:57 Sebelumnya bagi Ikhwan Akhwat yang ingin 3:59 ber 4:01 berpartisipasi dan menyampaikan 4:03 pertanyaan dapat mengirimkan pertanyaan 4:06 di nomor WhatsApp Rasio 08111999720. 4:11 Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi 4:13 langsung dengan Ustaz dapat menghubungi 4:15 di 0218451512. 4:19 Baik Ikhwan Akhwat kita 4:21 sama-sama dengarkan ilmu yang akan 4:23 disampaikan oleh Ustaz Doni tentang 4:26 memaafkan orang lain versus memaafkan 4:29 manusia. Tafadhol Ustaz. 4:31 Ya, terima kasih Kang Fauzi. 4:34 Bismillahirrahmanirrahim. 4:35 Assalamualaikum warahmatullahi 4:38 wabarakatuh. 4:39 Ikhwan dan Akhwat sekalian, Bapak Ibu 4:42 yang dirahmati Allah, para pendengar 4:44 Radio Silaturahim. 4:46 Demikian pula para pemirsa Rasio TV di 4:49 manapun berada. Alhamdulillah segala 4:52 puji 4:53 bagi Allah 4:55 eee kita kembali dapat berjumpa lewat 4:58 udara maupun lewat layar 5:01 di suasana yang masih berada di dalam 5:04 bulan Syawal 5:05 eee tahun ini dan semoga Allah ridho 5:09 kepada kita semua. Semoga amal ibadah 5:12 yang telah kita lakukan selama bulan 5:14 Ramadhan diterima oleh Allah Subhanahu 5:16 Wa Ta'ala. 5:18 Taqabbalallahu minna wa minkum kullu 5:20 aamin wa antum bi khair. As'alullahu ay 5:23 yaj'alana minal aidin wal faizin wal 5:26 maqbulin. 5:27 Semoga Allah insya Allah menerima amal 5:29 ibadah kita 5:31 Bapak Ibu semua dan semoga insya Allah 5:33 kita menjadi orang eee yang berhari raya 5:38 dan kembali kepada keadaan yang eee 5:40 fitrah dan kemudian juga diterima segala 5:43 amal ibadah kita. 5:45 Selawat dan salam mari 5:47 kita sampaikan, curahkan kepada Baginda 5:50 Nabi Muhammad sallallahu alaihi 5:52 wasallam. Demikian pula kepada seluruh 5:54 keluarga dan sahabat-sahabat beliau. 5:56 Semoga kita istikamah dalam belajar, 5:59 dalam mengamalkan, dalam mendakwahkan 6:02 nilai-nilai yang beliau sallallahu 6:04 alaihi wasallam telah ajarkan kepada 6:06 kita semua. 6:09 Para ikhwan akhwat, 6:10 para pendengar Radio Silaturahim, para 6:12 pemirsa Rasiltv di manapun berada. 6:15 Eee bahasan kita pada kesempatan malam 6:18 hari ini adalah mentadaburi 6:21 salah satu ciri dari ketakwaan. Ya, jadi 6:26 ketakwaan itu punya berbagai macam ciri. 6:29 Kalau definisinya ada lagi yang yang 6:32 eee mungkin sudah banyak dibahas, tapi 6:35 ciri. 6:37 Malam ini kita membahas cirinya. 6:38 Bagaimana ciri orang yang bertakwa? 6:41 Karena takwa itu memang merupakan 6:44 salah satu tujuan dari Ramadan. Ya, 6:47 Ramadan kita sudah lalu, salah satu 6:49 tujuannya adalah takwa. Ya, jadi ada 6:52 setidaknya empat tujuan Ramadan. 6:55 Yang pertama adalah takwa tadi dalam 6:58 surat eee 7:00 Al-Baqarah ayat 183 sama-sama sudah kita 7:04 eee hafal insyaallah familiar ayatnya 7:07 untuk kita. 7:08 Audzubillahiminasyaithonirojim. 7:10 Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 7:15 laallakum tattaqun. Satu. 7:18 Kemudian yang kedua laallakum tasykurun. 7:22 Nah, 185-nya. 7:24 Tadi [mendengus] 183, sekarang 185. Di 7:27 ujung ayat 185 itu 7:49 Tadi la'allakum tattaqun. Kemudian 7:52 sekarang la'allakum tasykurun, sudah 7:54 dua. 7:55 Yang ketiga, 186-nya. 7:58 Kalimatnya 8:01 ujibu da'watad da'i idza da'an 8:04 falyastajibuli wal yu'minu bi la'allahum 8:08 yarsyudun. [berdehem] 8:10 La'allakum tattaqun satu, la'allakum 8:13 tasykurun dua, la'allakum yarsyudun 8:16 tiga. 8:17 Kemudian yang keempat, ya yang keempat 8:19 walaupun nanti ketakwaan juga ee apa di 8:23 disebutkan dalam 187, ya karena tadi 8:26 sudah disebutkan di 183, nah kemudian 8:29 yang keempat adalah ayat 188-nya. 8:32 Kalimat Allah wala ta'kulu amwalakum 8:34 bainakum bil batil wa tudlu biha ilal 8:37 hukam litakulu fariqam min amwalin nas 8:40 bil itsmi wa antum ta'lamun. Dan 8:42 janganlah kalian memakan harta di antara 8:45 sesama kalian dengan cara yang batil, 8:47 apalagi sampai merekayasa membawanya ke 8:50 ke hadapan hakim di tengah-tengah 8:52 manusia untuk melegitimasi, untuk 8:55 melegalisasi sesuatu yang sebetulnya 8:57 tidak dibolehkan atau haram sementara 9:00 kalian betul-betul mengetahuinya. Nah 9:02 jadi setidaknya ada empat ya ee evaluasi 9:06 Ramadan itu sudah nyampe apa enggak 9:09 Ramadan kita itu ya Bapak Ibu. 9:12 Nah pada kesempatan malam hari ini 9:13 Ikhwan Akhwat Bapak Ibu sekalian yang 9:15 dirahmati Allah akan kita bahas masuk 9:18 lebih khusus mengenai tujuan yang 9:20 pertama tadi, surat Al Baqarah ayat 183. 9:25 Kalimat Allah sering kita dengar ini 9:27 kalimatnya ini, yakni la'allakum 9:29 tattaqun supaya kalian bertakwa. 9:32 Definisinya ada silakan nanti di mungkin 9:35 guru-guru kita Ustad-ustad yang lain 9:37 juga sudah menjelaskan definisinya. Kali 9:39 ini kita akan membahas cirinya, ya 9:41 cirinya. 9:43 Jadi ciri itu, ya berbeda dengan 9:46 definisi. Kalau definisi itu arti atau 9:48 makna, nah ciri itu adalah sesuatu yang 9:51 terlihat, yang bisa diukur, yang 9:53 terukur, ya karena ciri itu melekat, ya 9:56 pada diri eh seseorang yang disebut 9:59 memiliki ketakwaan ini. 10:02 Di mana ayatnya? Quran surat Ali Imran 10:04 surat ketiga ayat 133, 10:07 ya dan juga nanti 134 demikian pula 135, 10:12 Bapak Ibu, ya. 10:14 Nah, kalimatnya 10:15 auzubillahiminasyaitanirrajim. 10:17 Silakan kalau mau yang eh 10:19 ikhwan akhwat membuka di apa di eh 10:23 mushaf masing-masing, silakan, ya. Satu 10:26 saat Quran surat Al surat Ali Imran 10:28 maksud saya. 10:29 Kok jadi belibet nih. Surat Ali Imran 10:31 surat ketiga 133 dan 134. 10:35 Kalimat Allah. 10:36 Sudah dibuka semua ya kalau mau buka, 10:37 silakan. 10:38 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 10:40 Wa sari'u, 10:42 bersegeralah kalian ila maghfiratin 10:46 mirabbikum, menuju ampunan Allah 10:48 subhanahu wa taala wa jannatin, dan juga 10:52 surga ardhuha samawatu wal ard, yang 10:55 luasnya seluas langit dan bumi. Kita 10:58 tahu langit tidak ada batasnya, hadirin 11:01 yang dirahmati Allah. Eh kalau bumi 11:04 terbatas, tapi langit itu tidak ada 11:06 batasnya. Wa u'iddat lil muttaqin, yang 11:09 akan ditujukan atau diperuntukkan bagi 11:12 orang-orang yang bertakwa. Siapa saja 11:15 mereka atau apa ciri mereka yang mereka 11:17 miliki, ya di antara lain 11:20 134-nya 11:22 alladzina yunfiquna fis sarra'i wad 11:25 darra', 11:26 ya yakni orang-orang yang tetap berinfak 11:31 baik dia di lapang maupun di masa 11:35 sempit. Nah, jadi kita perhatikan 11:37 bagaimana ciri-ciri ketakwaan di ayat 11:40 ini dan ayat 135 itu nanti 11:43 adalah 11:44 ee kecerdasan emosi. Nah, jadi emotional 11:48 quotient istilahnya itu, kecerdasan 11:51 emosi. Yang pertama 11:53 orang yang tetap berinfak baik di masa 11:56 di masa dia lapang maupun di masa dia 11:58 sulit, ya. Kita baca dulu. 12:01 Yang kedua wal kaziminal ghaiz, ya. Al 12:05 kazim al ghaiz itu artinya menelan, 12:09 menelan marah gitu ya. 12:11 Ee atau bahasa lainnya menahan, ya, 12:15 menahan marah. Jadi 12:16 jadi a apa artinya menelan itu 12:19 sebetulnya 12:21 kalau apa kalau Bapak Ibu lihat ketemu 12:24 orang 12:26 Bapak Ibu ikhwan akhwat sekalian tidak 12:28 akan tahu dia 12:30 makan apa siang tadi, dia enggak dia 12:32 makan apa siang tadi kita enggak tahu. 12:34 Sebab apa? Sudah dia telan. 12:36 Ee itu maksud maksudnya al kaziminal 12:39 ghaiz itu begitu, menahan marah itu 12:41 artinya 12:42 tidak lagi nampak, tidak lagi kelihatan. 12:45 Ya, misalkan ada orang heh heh 12:47 saya tahan lagi tahan marah nih, lagi 12:49 tahan marah nih, ya. Tapi kelihatan gitu 12:51 ya, itu bukan al kaziminal ghaiz. 12:54 Ee itu. Jadi al kaziminal ghaiz itu 12:56 seperti orang yang memakan sesuatu dan 12:59 kemudian orang lain memang tidak tahu 13:01 apa yang dimakan karena sudah tertelan, 13:03 ya, gitu ya. Jadi al kaziminal ghaiz. 13:07 Lalu berikutnya dan ini yang akan 13:08 menjadi ee stressing pembahasan kita wal 13:11 afina anin nas. Nah, di sini 13:15 mohon fokus kita di sini 13:18 kalimatnya 13:20 dalam bahasa Arab dalam redaksi 13:23 Alqurannya adalah wal afina anin nas, 13:27 memaafkan manusia. 13:31 sayang sekali 13:32 di dalam cetakan terjemahan bahasa 13:34 Indonesia 13:36 itu diartikan memaafkan kesalahan orang 13:40 orang lain maksudnya 13:42 ya 13:42 padahal cetakan bahasa Arabnya wal 13:45 'afina anin nas memaafkan manusia 13:49 kalau memaafkan orang lain 13:52 dalam bahasa Arab pasti akan jadinya wal 13:54 'afina misalkan ya anil akharin 13:59 memaafkan orang lain 14:02 gitu 14:04 nah makanya judul kita malam ini 14:06 memaafkan manusia memaafkan orang lain 14:09 versus memaafkan manusia sebagai satu 14:11 ciri ketakwaan ya jangan sampai kita 14:14 keliru kalau redaksi bahasa Arab itu 14:17 memang 14:18 di dalam di dalam 14:20 ter apa terjemahan bahasa Indonesia 14:23 banyak yang keliru ketika diterjemahkan 14:27 ke dalam bahasa Indonesia 14:29 sebelum kita masuk lebih lanjut ya 14:30 kepada ayat ini misalkan ambil contoh 14:32 yang lain misalkan 14:35 Quran surat ke 55 surat Ar-Rahman ya 14:38 akrab dengan kita surat ini 14:40 ada 31 kali ayat di situ berulang 14:44 kalimatnya fabi ayyi ala irobbikuma 14:47 tukazziban 14:49 kalau kita buka terjemahan cetakan 14:51 bahasa Indonesia 14:53 saya sudah me me apa mengecek mensurvei 14:56 hampir seluruh terjemahan 14:58 yang beredar gitu 15:00 diartikan di situ fabi ayyi ala 15:03 irobbikuma tukazziban adalah 15:06 maka nikmat Tuhanmu yang mana 15:09 lagi ya yang kamu dustakan 15:12 gitu 15:13 silakan nanti Bapak Ibu ee atau Ikhwan 15:15 Akhwat sekalian me membuka di 15:17 terjemahannya ya kalau ada yang sedang 15:19 pegang silakan buka 31 kali ayat 15:21 berulang dalam surat Ar-Rahman surat 15:24 ke-55 juz yang ke-27 fabiayyi ala i 15:27 rabbikuma tukadziban. Ya, ayatnya di 15:30 situ diterjemahkan "Maka nikmat Tuhan 15:32 kalian yang eh maka nikmat Tuhanmu yang 15:35 mana yang kamu dustakan?" 15:38 Nah, 15:39 Ikhwan rahmat sekalian, Bapak Ibu yang 15:40 dirahmati Allah, 15:42 kedengarannya 15:43 benar begitu ya eh arti itu terjemahan 15:46 itu padahal salah dalam dalam 15:48 terminologi bahasa Arabnya. Sehingga 15:50 kita akan kehilangan banyak makna di 15:52 situ ya. 15:53 Eh kalimat sesungguhnya dalam bahasa 15:55 Arab adalah fabiayyi ala i rabbikuma. 15:59 Ya, fabiayyi ala i rabbikuma. 16:02 Kuma itu dhamir atau kata ganti 16:05 terhadap dua nafar, dua dua ya, dua 16:11 sosok begitu. 16:13 Nah, jadi seharusnya dalam terjemahan 16:15 kalimatnya adalah "Maka nikmat Tuhan 16:18 kalian berdua yang mana yang kalian 16:20 berdua dustakan?" 16:23 Gitu. 16:24 Jadi 16:25 kalau nikmat Tuhan kamu yang mana yang 16:28 kamu dustakan seolah-olah satu orang, 16:29 satu nafar begitu. Padahal eh maksudnya 16:32 adalah dua, dua sosok, dua nafar. 16:36 Fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban 16:38 begitu ya. Anehnya lagi kalau dan di 16:41 surat Al-Mujadalah nanti surat ke-58-nya 16:44 eh Ar-Rahman kan 55 ya kalau ke-5 ke 16:48 geser ke-58 awal juz yang ke-28 16:52 ayat yang pertama itu. Kalimat Allah 16:54 kalimat Allah di situ qad sami'allahu 16:56 qaulatillati tujadiluka fi zaujiha wa 16:59 tasytaki ilallah wallahu yasma'u 17:02 tahawurakuma. 17:03 Di situ juga ada dhamir kuma. 17:06 Dan di situ diartikan 17:08 "Allah telah mendengar percakapan kalian 17:10 berdua." Nah, kuma berdua. Tapi kenapa 17:13 di Ar-Rahman tidak diartikan berdua? 17:15 Nah, itu itu anunya terjemahan bahasa 17:18 Indonesia yang yang bisa membuat kita 17:20 kehilangan banyak sekali makna yang 17:24 sungguh berharga. 17:26 Eee, begitu juga kalau kita kembalikan 17:28 ciri orang bertakwa 17:30 ayat 134 surat Ali Imran wal aafina 17:34 aninnas, bukan wal aafina anil akharin. 17:40 Memafkan manusia, bukan memafkan orang 17:43 lain, ya. Dampaknya besar ini, dampaknya 17:47 luar biasa. 17:48 Saya alhamdulillah eee apa, pengalaman 17:52 banyak curhat jamaah gitu ya, kepada 17:55 saya, ya, Kang Fauzi dan 17:57 apa, jamaah sekalian, Bapak Ibu, ikhwan 18:00 akhwat, banyak orang yang curhat 18:03 sama saya 18:05 mengatakan bahwa 18:07 sulit sekali bisa memafkan orang lain. 18:11 Nah, 18:12 ke 18:13 kira-kira tuh analoginya 18:15 sudahlah 18:17 sesuatu itu diambil dari kita, umpamanya 18:20 kita dizalimi atau disakiti begitu ya, 18:23 lewat perkataan, lewat perbuatan, lewat 18:26 apapunlah. 18:28 Sudah kita dizalimi, sudah kita disakiti 18:31 sesuatu seperti diambil dari kita 18:35 lalu ketika kita disuruh memafkan dia 18:37 itu kan seolah-olah kita disuruh lagi 18:39 memberikan sesuatu kepada dia gitu. 18:42 Jadi sulit gitu ya, susah untuk memafkan 18:46 orang lain. 18:48 Karena memang kalimat Qurannya bukan 18:50 begitu, bukan memafkan orang lain, tapi 18:52 memafkan manusia. 18:54 Nah, di sini luar biasanya Alquran gitu 18:57 ya, maka itu kita kehi akan kehilangan 19:00 banyak eee kemukjizatan Quran kalau dia 19:04 tidak diartikan dengan sebaik 19:06 sebaik-baiknya. 19:08 Gitu, dengan sebenar-benarnya. 19:10 Nah, apa saja perbedaannya nih? 19:12 Makna dari memaafkan manusia yang tidak 19:15 ada kalau dia memaafkan orang lain 19:16 adalah 19:17 ada tiga 19:20 yang bisa saya tampilkan ada tiga. 19:22 Yang pertama 19:24 dengan kata-kata memaafkan manusia 19:27 bukannya memaafkan orang lain 19:30 memberikan keringanan 19:32 terhadap apa yang dikenal dengan reward 19:36 bias 19:38 biasnya reward gitu. 19:40 Jadi maksudnya begini 19:42 orang itu 19:44 akan sulit memaafkan orang lain 19:47 karena 19:48 orang yang disuruh diminta memaafkan ini 19:52 berpikir seolah-olah dia harus 19:55 memberikan reward kepada orang yang 19:57 sudah menyakiti dia. 19:59 Nah, padahal 20:02 kalau kalimatnya dikembalikan ke Quran 20:04 memaafkan manusia maksudnya adalah 20:08 penerima reward 20:11 atas kemaafan yang kita berikan itu 20:13 bukanlah orang lain. 20:16 Justru kita sendirilah 20:19 justru memaafkan orang lain itu adalah 20:21 cara untuk menghantarkan 20:24 reward yang paling besar kepada diri 20:27 kita. 20:29 Gitu, makanya manusia yang disebut bukan 20:32 orang lain tapi Anda, saya ini manusia. 20:35 Saya ini manusia. Ketika saya memaafkan 20:37 sebetulnya itu reward-nya kembali kepada 20:39 saya. 20:42 Nah, makanya 20:43 jadi 20:45 mudah memaafkan karena tahu bahwa 20:47 reward-nya itu sebetulnya kembali ke 20:48 kita. 20:50 Nah, di sini ada ada 20:51 sedikit gambarannya 20:54 di layar saya tampilkan kemarahan yang 20:57 terkena jadi begini kenapa kok 20:59 reward-nya akan kembali kepada diri 21:01 orang yang memaafkan itu gitu ya ya tadi 21:04 hebatnya Quran tuh menyebut manusia 21:06 memaafkan manusia bukan memaafkan orang 21:08 lain, memaafkan manusia. 21:11 Iya, maksudnya kita ini manusia, kita 21:14 sendiri itu manusia. 21:16 Ketika kita ketika kita memaafkan orang 21:18 sebetulnya kita sedang menghantarkan 21:19 hadiah kepada diri kita sendiri. Nih, di 21:22 layar saya tampilkan. 21:24 Kemarahan yang terpendam adalah sampah 21:28 yang mengandung penyakit. 21:30 Maka dari itu memaafkan kepada orang 21:33 lain sesungguhnya adalah hadiah terbesar 21:37 untuk diri kita sendiri. 21:40 Nah, saya ulangi ya. Jadi memaafkan 21:43 kepada orang lain 21:45 sesungguhnya adalah hadiah terbesar 21:48 untuk diri kita sendiri. 21:50 Nah, itulah sebabnya kalimatnya bukan 21:53 memaafkan orang lain tapi memaafkan 21:55 manusia, mengizinkan diri kita 21:58 mendapatkan hadiah untuk diri kita 22:00 sendiri karena lepas tadi dendam itu, 22:04 lepas tadi marah itu benefit-nya atau 22:07 manfaatnya itu memang luar biasa dan 22:10 untuk diri kita sendiri. 22:13 Bapak Ibu, sementara kalau kita tidak 22:15 lakukan, kalau kita tidak memberi 22:18 memberi kemaafan kepada dia, kepada 22:20 orang yang menyakiti itu 22:23 iya, karena kita rasa kok jadi saya 22:25 harus memberi reward kepada dia, 22:27 sebetulnya yang rugi itu adalah diri 22:29 kita sendiri. 22:31 Nah, yang rugi adalah diri kita dan 22:33 ruginya tidak tanggung-tanggung 22:36 besar ruginya itu. 22:38 Besar. Makanya sekali lagi hebatnya 22:40 hebatnya Quran itu adalah mukjizat ini 22:42 betul-betul luar biasa. Kalimatnya bukan 22:45 memaafkan orang lain tapi memaafkan 22:47 manusia. 22:48 Apa saja rugi seseorang ketika dia tidak 22:52 bisa memaafkan karena sebetulnya 22:54 kemaafan itu adalah kembali kepada 22:55 dirinya bukan kepada orang itu, bukan 22:57 kepada orang yang berbuat apa zalim atau 23:01 eh apa 23:02 menyakiti dia bukan tapi diri dia 23:05 sendiri. 23:07 Apa ruginya? Ada beberapa nih saya ingin 23:09 tampilkan. Nanti nanti juga benefit-nya 23:11 gitu ya. 23:12 Yang pertama, ini satu penelitian yang 23:15 cukup baru dilakukan ee, 23:18 bulan Mei 2024 dirilis atau diterbitkan 23:22 di sebuah lembaga namanya National 23:24 Institute of Health. 23:26 Ya. 23:27 Judulnya di situ di 23:29 atau langsung saja nih yang yang diberi 23:31 stabilo di ee, saya saya beri 23:35 apa namanya? Enggak tunjuk kalau di 23:38 layar Hasil TV ya. 23:41 Kalimatnya begini. 23:42 Recurring feeling of anger. 23:46 Perasaan marah yang berulang. Kenapa dia 23:49 berulang? Karena 23:50 ada 23:51 kemarahan itu belum selesai. 23:54 Belum termaafkan. Orang orang lain 23:57 berbuat salah ke kita. Kita marah. 24:01 Orang lain yang berbuat, tapi kita yang 24:02 marah. Kemarahan itu tersimpan di dalam 24:04 diri kita kita. Makanya recurring, 24:08 berulang. 24:09 Ya, kalau lihat status WA-nya jadi marah 24:12 lagi kita. 24:14 Kalau lihat status IG-nya jadi marah 24:16 lagi kita. 24:18 [tertawa] 24:18 Kalau teringat peristiwa itu gitu 24:20 misalkan gitu ya, kita jadi marah lagi. 24:21 Namanya recurring feeling of anger, 24:24 perasaan marah yang berulang. 24:26 Apa dampaknya ini kalau tidak buru-buru 24:28 diselesaikan kalau tidak buru-buru di 24:30 diputuskan atau di dimaafkan begitu? 24:33 [mendengus] 24:33 Ya, dampaknya resikonya kepada kita. 24:36 Kalimatnya may increase a person's risk 24:40 of developing heart disease. 24:43 Meningkatkan resiko orang tersebut tadi, 24:46 bukan orang yang berbuat zalimnya bukan, 24:48 tapi kitanya yang menyimpan marah itu 24:51 beres meningkat resiko terkena serangan 24:55 jantung. 24:57 Karena limiting the blood vessels 24:59 ability to open, karena perasaan marah 25:02 tadi 25:03 membatasi kemampuan pembuluh jantung 25:06 untuk membuka. 25:08 Nah, inilah yang dibuktikan oleh 25:10 research yang dilakukan di eh yang 25:13 dilakukan di apa bulan Mei yang 25:15 diterbitkan ya jurnalnya bulan Mei 2024 25:18 ini di penelitian ini. 25:21 Nah, ini dilakukan oleh eh apa 25:24 eh seorang 25:26 eh peneliti ya apa eh leadernya gitu ya, 25:30 namanya Laurie Friedman Downs. Nah, itu 25:33 ya. 25:34 Silakan nanti kalau kalau 25:36 Bapak Ibu Ikhwan Akhwat sekalian ingin 25:38 membaca lebih jauh silakan. Ya, ini ini 25:41 ada 25:42 apa 25:43 eh penelitiannya dan ini saya tampilkan. 25:47 Jadi, kalimatnya begini. 25:50 Eh, dalam penelitian ini ya 25:54 eh 25:56 apa namanya 25:58 partisipan atau apa eh relawan gitu ya 26:01 yang diteliti ini dibagi tiga kelompok. 26:04 Kelompok pertama 26:06 itu diminta atau diajak ngobrol soal 26:12 perasaan yang eh soal peristiwa yang 26:14 bikin dia sedih. 26:16 Nah, jadi kelompok pertama kelompok 26:18 sedih. Lalu sambil diajak ngobrol 26:21 di-trigger sedihnya gitu, di di di ajak 26:23 ngobrol yang sedih yang bikin dia sedih. 26:26 Itu semuanya diukur ya. 26:28 Variabel detak jantungnya diukur, 26:30 kemudian juga eh apa blood flow-nya 26:33 pembuluh apa eh aliran darahnya diukur 26:35 dan lain sebagainya. Tekanan darahnya 26:37 gitu ya diukur. 26:39 Eh, kelompok kedua 26:41 setelah tadi kelompok pertama sedih 26:44 kelompok kedua nah, ini diajak ngobrol 26:48 soal sesuatu yang bikin dia marah. 26:52 Nah, jadi kelompok kedua adalah kelompok 26:53 marah, gitu ya. 26:55 Nah, diajak ngobrol gitu. Apa yang kamu 26:58 ingat-ingat deh, coba peristiwa yang 27:00 bikin kamu marah. "Oh, iya iya, saya 27:02 ingat tuh begini-begini." Ah, waktu 27:04 sedang terjadi mar apa dia dia mengulang 27:08 eh memorinya tentang kemarahan itu, 27:10 semua juga diukur, ya. Variabel detak 27:13 jantungnya diukur, tekanan darahnya 27:15 diukur, ya, semuanya diukur, ya, untuk 27:17 mengetahui apa yang terjadi kepada dia. 27:20 Begitu juga satu kelompok lagi, ya, 27:23 tidak diajak diajak hanya diajak ngobrol 27:26 mengenai hal yang biasa-biasa saja, 27:28 enggak enggak sedih, enggak marah gitu, 27:30 cuma ngobrol-ngobrol ringan. Gimana 27:32 kabarnya? Gimana ini itu? Bla bla bla 27:33 gitu ya, sambil juga diukur sebagai 27:36 kontrol grup istilahnya dalam dunia 27:38 penelitian. Untuk untuk untuk 27:40 dibandingkan nantinya. 27:42 Nah, 27:43 apa yang terjadi? Di sini saya saya 27:45 tampilkan di eh layar hasil TV, 27:49 itu the researcher found 27:51 Oh, ya, kemudian 27:53 eh apa penelitian ini juga eh apa 27:57 menunjuk kepada menunjuk spesifik kepada 28:01 eh menit ketiga, menit ke-40, menit 28:04 ke-70, dan menit ke-100. Jadi, dicatat 28:06 skornya tuh ya. Di menit ketiga apa yang 28:09 terjadi? Di menit ke-40 apa yang 28:10 terjadi? Di menit ke-70 apa yang 28:12 terjadi? Di menit ke-100 apa yang 28:14 terjadi? 28:16 Lalu, 28:17 the researcher found para peneliti para 28:20 peneliti menemukan bahwa the the ability 28:23 of the blood vessels to dilate, 28:26 kemampuan 28:27 pembuluh jantung untuk membuka was 28:31 significantly reduced, nih kalimatnya, 28:34 sangat berkurang, 28:36 kemampuan pembuluh jantung untuk membuka 28:37 itu sangat berkurang among participants 28:41 in the anger group. Nah, ini saya garis 28:43 bawahi di layar hasil TV ini. 28:45 Jadi, 28:46 eh grup yang di di-trigger marahnya 28:48 tadi, dipicu marahnya tadi dengan di 28:50 dengan diminta bercerita sesuatu yang 28:53 bikin dia marah itu, itu kemampuan 28:55 pembuluh jantungnya untuk membuka itu 28:57 sebetul-betul berkurang. 29:00 Compare to those in the control group, 29:03 jika dibandingkan dengan control group 29:06 tadi, yang tidak diminta ngapa-ngapain. 29:09 Yang sedih juga berkurang, tapi tidak 29:11 seberkurang yang anger. 29:14 Gitu. Nah, jadi 29:16 eh kemampuan pembuluh jantungnya 29:18 kelompok yang diajak ngobrol soal 29:22 kemarahan, gitu ya, yang bikin dia marah 29:24 gitu ya, trigger di dipicu kemarahannya 29:27 itu, di kalimatnya this vessel 29:30 impairment, kelumpuhan atau 29:32 ketidakmampuan pembuluh jantungnya untuk 29:34 membuka tadi itu, was sustained, 29:37 bertahan up to 40 minute, 29:42 sampai dengan 40 menit after the initial 29:45 recall event that trigger the anger. 29:49 Itu kemarahan kemarahannya terjadi 40 29:52 menit yang lalu, 29:54 tapi pembuluh jantungnya tetap tidak 29:56 bisa membuka sampai 40 menit ke depan, 29:58 gitu. Jadi, jadi total ada 40 menit ke 30:01 ketidakmampuan pembuluh jantungnya untuk 30:03 dilating, untuk membuka. Ya, di situ. 30:07 Eh inilah yang kemudian 30:10 dalam penelitian ini, ya, di di 30:12 disimpulkan bahwa 30:14 terjadinya plak 30:16 di di pembuluh jantung atau dikenal 30:19 dengan istilah aterosklerosis, 30:21 itu bukan hanya soal kolesterol 30:25 atau lemak yang terkandung di eh aliran 30:29 darah, 30:30 tetapi lebih disebabkan karena 30:33 eh 30:35 tekanan darah yang tidak stabil saat 30:37 seseorang marah, 30:39 yang membuat tadi kemampuan pembuluh 30:41 jantungnya 30:42 menjadi lemah. 30:44 Sehingga dalam aliran darah yang membawa 30:47 kolesterol dan juga lemak tadi itu, 30:50 besar kemungkinan untuk lengket. 30:54 Lengket. 30:56 Nah, hadirin yang dirahmati Allah. Jadi, 30:59 ini 31:01 membuktikan bahwa 31:03 [mendengus][terkesiap] 31:04 memaafkan itu bukan untuk orang yang 31:07 dimaafkan. 31:09 Benefitnya. 31:10 Nih ya, nih ini ini hebatnya Quran, ini 31:13 hebatnya Quran. Ini harus kita catat. 31:15 Alquran itu mukjizat itu karena ini. 31:18 Ya, jadi Nabi Muhammad dulu kan enggak 31:20 tahu ini. 31:21 Eee penelitian ini kan gitu. Tapi 31:24 kalimatnya tuh wal afina aninnas. 31:27 Memaafkan manusia. Maksudnya 31:30 manusia yang dapat benefit 31:32 [berdehem] 31:33 atas kemaafan yang kita berikan kepada 31:35 orang-orang yang berbuat kesalahan ke 31:37 kita, bukan untuk dia, tapi untuk kita. 31:42 Gitu. 31:44 Untuk kita sendiri. 31:46 Ya, sebab apa? Kalau tidak dimaafkan, 31:48 ya, hadirin yang dirahmati Allah, Bapak 31:51 Ibu sekalian, para ikhwan akhwat di 31:52 manapun eee berada. 31:55 Yang yang rugi itu kita. 31:58 Yang rugi kita sendiri. 32:00 Ya, 40 menit terjadinya penyempitan 32:03 pembuluh jantung 32:05 itu tidak murah itu. 32:08 Ya, tidak murah. 32:11 Eee makanya 32:14 apa? Benefitnya ke kita. 32:17 Jadi, bukan bukan untuk dia gitu. Jadi, 32:18 enak aja dia dimaafin udah berbuat, ah 32:21 itu kan karena kita tidak mengerti bahwa 32:23 Alquran mengatakan wal afina aninnas, 32:25 memaafkan manusia. Manusia itu maksudnya 32:28 Anda. 32:31 Maksudnya kita sendiri. 32:33 Eee nanti benefitnya kepada kita 32:34 sendiri. 32:36 Ya, jadi Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 32:39 ini luar biasa, ya. 32:41 Eee 32:43 kalimat yang menarik juga nih di layar 32:45 ASI TV ingin saya tampilkan, ya. 32:48 Eee kalimatnya begini, ini menurut saya 32:50 menarik sekali. The reasons 32:53 anger negatively affected blood vessel 32:57 function 32:58 are unclear. 33:01 Jadi mereka pun enggak ngerti, para 33:02 peneliti ini pun enggak ngerti kenapa 33:04 kok marah 33:06 itu bisa mempengaruhi 33:08 eee pembuluh jantung senegatif itu. 33:12 Gitu, mereka pun enggak ngerti, belum 33:13 ngerti itu, enggak ngerti mereka. 33:16 Eee gitu, jadi 33:18 luar biasa gitu, kalau kalau Alquran 33:20 sudah sudah 33:21 memperingatkan, ya, lewat kalimat tadi 33:24 wal afina anin nas, memaafkan manusia. 33:27 Memaafkan manusia. 33:29 Ya, jadi bukan memaafkan orang lain, 33:31 tapi memaafkan manusia. Kalau sekali 33:33 lagi kalau memaafkan orang lain 33:34 seolah-olah hadiahnya adalah untuk orang 33:35 lain itu, padahal untuk diri si yang 33:39 memaafkan tadi. Maka kalimatnya 33:41 memaafkan manusia. 33:43 Itu yang pertama, 33:44 kerugiannya ketika kita tidak mampu 33:47 memaafkan. Padahal sebetulnya eee apa 33:50 eee 33:52 eee pada ujungnya, ya, hadiahnya adalah 33:54 untuk kita. 33:55 Yang kedua, kalau tadi tahun 2024 33:57 penelitian itu 33:59 kalau ini tahun 2009, 2009, bulan April 34:03 2009. 34:05 Eee 34:07 judul judul penelitiannya begini bearing 34:10 grudge 34:11 and physical health. 34:13 Apa dampaknya memendam 34:16 marah atau dendam, apa dampaknya 34:19 terhadap kesehatan fisik? 34:21 Nah, ini luar biasa. 34:23 Jadi nanti apa, ada ada ada 34:28 apa, ada hubungannya, ada kaitannya 34:30 dengan 34:31 eee bahaya merokok gitu ya, gitu ya. 34:34 Kemudian kardiovaskular, dampak kepada 34:37 jantung dan juga 34:39 ee, 34:40 ulcer, ulcer itu adalah luka di lambung, 34:44 ya. Luka di lambung dan usus kecil, nah 34:47 ini. 34:48 Nah, ini ini penelitiannya, saya 34:50 tampilkan di layar hasil 34:52 TV. 34:54 Jadi ada sebuah lembaga, ya. The 34:56 National Comorbidity Survey 34:59 itu lembaga namanya National Comorbid 35:03 Survey. Jadi 35:04 dia me me mensurvey 35:07 penyakit-penyakit yang mentrigger 35:10 penyakit yang lebih besar, namanya 35:12 comorbid, ya jadi penyakit dasar yang 35:15 mentrigger penyakit yang lebih besar 35:16 gitu ya. 35:17 Diteliti 35:18 apa saja gitu, apa saja yang memberi 35:20 dampak kepada penyakit yang lebih besar 35:22 gitu kan. Nah, diteliti kepada 9.882 35:26 pasien, ya. 35:29 Tahun 2009 ini ya penelitiannya ya. 35:32 Ah, hasilnya luar biasa, langsung aja 35:34 kepada conclusion-nya ya di bawah ini, 35:36 ya di saya beri garis bawah di sini di 35:38 layar hasil TV saya tampilkan. 35:41 Nah, jadi ada macam-macam tuh, ya. Jadi 35:43 ee, apa? 35:46 Setelah dilakukan penelitian sekian 35:48 banyak dan lain sebagainya, terjadi 35:50 chronic pain misalkan sakit yang 35:52 terus-menerus gitu, blood pressure-nya 35:55 tinggi, kemudian stomach ulcer ini tadi 35:57 apa luka di lambung, kemudian juga ee, 36:01 apa? 36:02 Ee, headaches atau sakit kepala ya. 36:06 Nah, dan lain sebagainya, back problem 36:09 atau ee, apa? Tulang belakang gitu ya. 36:12 Ee, diabetes, epilepsi segala macamlah 36:14 banyak gitu ya. Dan ujungnya juga ada 36:16 kanker. 36:18 Ee, apa yang terjadi atau konklusinya 36:20 apa? 36:22 Dia bilang sebut begini, in a population 36:24 based survey, setelah disurvey sejumlah 36:27 populasi 9.882 orang tadi itu 36:30 rupanya bearing grudge 36:34 menyimpan dendam 36:36 is associated with a history of pain 36:39 disorder 36:41 itu erat sekali kaitannya dengan 36:44 timbulnya banyak rasa sakit di tubuh 36:48 gitu 36:49 nah rasa sakit di tubuh 36:52 lalu kardiovaskular disease 36:55 penyakit yang kaitannya dengan jantung 36:57 seperti penelitian yang tadi 2024 tadi 36:59 yang lebih baru ini kan 2009 ya 37:02 nah yang menarik and stomach ulcer 37:05 dan juga luka yang ada di 37:08 lambung atau usus kecil 37:10 nah lambung dan atau usus kecil 37:14 nah jadi stomach ulcer itu 37:16 adalah goresan luka 37:19 yang terjadi di lambung ataupun usus 37:21 kecil 37:22 dan itu memang luar biasa dampaknya 37:26 eh istilahnya tidak bisa disembuhkan 37:30 apa dengan sekedar minum obat nah gitu 37:34 ya tidak bisa disembuhkan dengan sekedar 37:36 minum obat nah jadi memang harus 37:38 betul-betul terjadi pelepasan marah 37:41 ah bukan dilampiaskan tetapi dimaafkan 37:45 karena di karena kalau ter lampiaskan 37:46 itu sebetulnya adalah eh juga masih 37:49 dalam kondisi marah ya kalau orang 37:51 bilang begini tapi saya kalau sudah 37:53 dilampiaskan sudah lega sebetulnya tidak 37:55 karena dalam proses marah tadi itu ya me 37:58 me 38:00 luap kan marah itu tadi sebetulnya 38:02 terjadi eh semua semua aspek fisikal ini 38:07 ya jadi sebetulnya tidak tidak betul ya 38:10 yang betul adalah memaafkan nah jadi 38:12 saya ulangi ini penting sekali 38:14 kalimatnya stomach ulcer luka di di usus 38:18 kecil ya 38:19 eh dan juga di lambung ya dan atau di 38:22 lambung dua ya, lambung dan atau usus 38:25 kecil ya atau 38:27 apa usus ada ada namanya lamina 38:30 terminalis juga antara usus kecil dan 38:33 usus besar itu ada sambungan ya di situ 38:36 lebih krusial lagi itu yang yang 38:37 menyambung di situ ya. Wah itu dampaknya 38:40 besar sekali bisa terjadi tidak bisa 38:43 buang air besar gitu ya tidak tidak bisa 38:45 buang angin gitu ya padahal tidak ada 38:47 masalah apa-apa tidak ada apa karena 38:49 terjadinya luka di situ dan itu memang 38:52 dihasilkan karena bearing grudge atau 38:56 menyimpan dendam menyimpan marah. 38:59 Menyimpan marah. 39:00 Jadi Bapak Ibu yang dirahmati Allah 39:01 Ikhwan Akhwat sekalian 39:03 eee 39:04 keuntungan atau benefit dalam memaafkan 39:07 itu bukan untuk orang lain tapi untuk 39:09 kita maka itu sebabnya tapi harus 39:11 melewati harus memaafkan kepada orang 39:13 lain. Itu sebabnya 39:15 di dalam Alquran disebut memaafkan 39:17 manusia. 39:19 Karena kita ini manusia kita kita beri 39:21 kemaafan kepada dia sebetulnya untuk 39:23 kita. Jadi manusia memaafkan manusia. Ya 39:27 Nah kalau tadi ruginya ruginya kalau 39:29 tidak memaafkan ya. Nah sekarang 39:32 benefitnya ya benefitnya memaafkan. 39:36 Ini juga penelitian diterbitkan 39:38 jurnalnya di National Library of 39:40 Medicine. 39:42 Eee kalau ini tahun 2017 ya diterbitkan 39:45 tahun 2017. 39:47 Judulnya judul penelitiannya forgiveness 39:51 stress and health. 39:53 A five week dynamic parallel process 39:55 study. 39:56 Jadi studi ini dilakukan selama lima 39:58 pekan. 40:00 Nah ini ya dilakukan selama lima pekan 40:03 kepada 332 40:06 anak-anak muda 40:07 middle age ya usia 40:09 eee ya rentang usianya itu antara 16 40:14 sampai 79 ya tapi eee tentu saja yang 40:18 apa, ee, rata-rata adalah 27,9 usianya, 40:22 ya, dari seluruh 332 40:25 orang ini. 40:26 Ya. 40:27 Nah, apa yang diteliti kepada mereka? 40:30 Ee, setiap pekan, selama 5 pekan, 40:34 partisipan ini diminta untuk melaporkan 40:37 kepada para peneliti, 40:39 level 40:41 mereka bisa memaafkan. Ya, jadi ada 40:44 persoalan apa, memaafkannya gimana, 40:46 levelnya seperti apa, level memaafkannya 40:49 apa, ada yang memaafkan, memaafkan tapi 40:52 ya, setengah-setengah gitu, ya, atau 40:54 memaafkan sedikit atau apa gitu. Nah, 40:56 itu 40:57 di, ee, dilaporkan, ya, selama, selama 5 41:00 pekan itu. 41:02 Demikian pula, dilaporkan juga mengenai, 41:05 ee, survei, apa namanya, ee, kuesioner, 41:09 ee, untuk mengetahui tingkat stresnya 41:11 mereka. Jadi, di, dirancang kuesioner, 41:14 misalkan, kuesioner itu kayak, 41:16 ee, ditanya, ya, seberapa lancar 41:20 buang air besar. Karena buang air besar 41:22 itu adalah salah satu tanda, 41:25 ee, namanya simpatetik nervous system 41:28 atau sistem saraf ketika stres, itu 41:31 salah satunya adalah sembelit. Ya, jadi 41:33 orang kalau stres itu salah satunya 41:34 sembelit. Demikian pula saliva atau air 41:37 liur yang ada di mulutnya. Kalau orang 41:41 stres, ya, memendam marah, ya, cirinya 41:44 adalah salah satu cirinya adalah 41:47 salivanya berkurang, sehingga me, 41:50 mulutnya mudah tergores, ya, mudah luka 41:53 gitu, ya. Mudah luka. Nah, dan lain 41:55 sebagainya. Jadi, jadi dibuat pertanyaan 41:57 atau, ee, laporan seperti itu, apa yang 41:59 terjadi kepada mereka secara stres dan 42:02 apa saja yang mereka, ee, kemaafan yang 42:05 mereka berikan kepada orang gitu, ya. 42:08 Ee, di 5 pekan, selama 5 pekan. Setiap 42:11 minggu dikasih laporan dia. 42:14 Lalu eh gejala-gejala itu, gejala-gejala 42:17 fisiknya diperiksa, ya. Mereka diperiksa 42:19 oleh para peneliti ini, sebanyak 332 42:22 orang. 42:23 Lalu hasilnya luar biasa, ya. 42:27 Eh hasilnya di layar hasil TV ini saya 42:30 tampilkan, ya. 42:31 Eh saya beri garis apa namanya? Eh ini 42:34 gini ya. 42:36 Hasilnya 42:37 level of forgiveness, stress, 42:41 and mental and physical health symptoms 42:45 each showed significant change and 42:48 individual variability in change over 42:51 time. Jadi, level memaafkan dengan level 42:55 stress dan level mental, kesehatan 42:58 mental dan kesehatan fisik, 42:59 gejala-gejala kesehatan mental, 43:00 kesehatan fisik itu betul-betul saling 43:03 terkait dan menunjukkan perubahan yang 43:06 signifikan setiap kali kemafannya naik, 43:09 ya. Maka stressnya berkurang. 43:12 Ke- kemafannya naik, 43:14 kesehatan mental dan fisiknya naik juga. 43:17 Nah, gitu. And individual variability in 43:20 change over time. 43:23 Jadi, in forgiveness were associated 43:25 with decrease in stress. Ya, ini 43:27 kalimatnya ya. Jadi, kema- semakin 43:29 tinggi level kemafan, semakin berkurang 43:32 level stressnya. 43:34 Ya. 43:36 Ya, jadi 43:38 eh dari 5 pekan itu, ya. 43:41 Sebaliknya gitu juga, semakin 43:44 eh sedikit level kemafan, semakin tinggi 43:47 level stressnya, semakin rendah 43:50 kesehatan fisik dan kesehatan eh 43:52 psikologisnya. Gejala-gejalanya 43:55 dibuktikan lewat eh apa? Pemeriksaan. Eh 43:58 gitu. Eh conclusion-nya di sini, ya, di 44:02 penelitian ini. 44:04 This study is the first eh, to provide 44:08 prospective longitudinal evidence 44:10 showing that greater forgiveness is 44:13 associated with less stress. 44:15 In turn, better mental mental health. 44:18 Jadi, ini adalah studi pertama menurut 44:20 mereka, studi pertama yang secara 44:22 longitudinal atau secara, eh, 44:24 apa, panjang gitu karena ada 5 pekan, 44:27 membuktikan, eh, evidence evidence, eh, 44:31 showing, eh, menunjukkan bukti bahwa 44:34 semakin tinggi forgiveness, kemaafan 44:36 seseorang, itu semakin rendah stresnya. 44:40 Dan dan kebalikannya nanti, eh, atau 44:43 bukan kebalikannya, dan juga dampaknya 44:44 adalah semakin tinggi kemaafan seseorang 44:47 yang yang orang berikan kepada orang 44:49 lain, semakin better mental health, eh, 44:53 kesehatan mentalnya. Dan demikian pula 44:55 kesehatan, eh, fisiknya. Nah, jadi, 44:59 eh, apa, 45:02 kesehatan fisik, kesehatan mental gitu 45:05 ya, sangat terkait dengan kemampuan 45:08 seseorang dalam memaafkan. 45:11 Ya, memaafkan. Jadi, benefitnya luar 45:13 biasa. Nah, makanya tadi, sekali lagi 45:15 yang yang kita kagumi betul itu adalah 45:17 kalimat Alquran, ciri orang bertakwa itu 45:21 wal afina alinnas, memaafkan manusia. 45:25 Bukan memaafkan orang lain karena 45:26 benefitnya buat kita. Sebaliknya kalau 45:29 tidak memaafkan, kerugiannya pun buat 45:31 kita. Itu sebabnya ada tiga, apa, ada 45:35 tiga kali gitu ya, take tok ya, take 45:37 tok. Pertama kita seolah-olah memberi 45:39 kemaafan kepada dia, tapi sebetulnya 45:41 dengan begitu kita sedang melepaskan 45:44 segala bentuk beban tadi itu ya, 45:46 kerusakan, eh, lambung, kemudian juga 45:50 usus kecil, kerusakan jantung, 45:51 aterosklerosis dan lain sebagainya itu 45:53 kita lepaskan ya, sambil sekaligus, eh, 45:56 meningkatkan kesehatan fisik dan mental 45:59 kita. Jadi, sebetulnya kita yang 46:01 memaafkan ini. Maka itu kalimatnya wal 46:03 afina anin nas. Ini yang pertama. 46:06 Ini namanya reward bias, ya, bias 46:09 reward. Orang sulit memaafkan karena dia 46:12 berpikir dia sedang harus memberi, dia 46:14 dipaksa untuk memberikan suatu reward 46:17 kepada orang yang sudah menyakiti dia. 46:19 Padahal sebetulnya reward-nya adalah 46:21 kembali kepada dirinya sendiri. 46:23 Nah, [mendengus] kalau memaafkan orang 46:24 lain sulit tuh, ya. Maka itu kalimat 46:27 Allah memaafkan manusia. 46:29 Nomor dua. 46:32 Memaafkan manusia 46:34 itu 46:36 maksudnya luar biasa karena 46:39 tidak ada sebetulnya manusia yang 46:43 aslinya jahat itu enggak ada. 46:46 Nah, ini. 46:48 Oleh karenanya kita bisa memaafkan 46:50 manusia, manusianya yang kita maafkan. 46:52 Nah, ini yang terjadi kepada Nabi Yusuf. 46:55 Nabi Yusuf alaihissalam itu 46:57 di surat 12, Bapak Ibu, nanti kalau 47:00 Ikhwan akhwat mau lihat, silakan surat 47:01 12, surat Yusuf. 47:03 Sejak awal 47:05 ketika beliau mimpi, ya, beliau melihat, 47:07 ya, Bu, ada juga sebagian mufasir 47:09 mengatakan tidak di mimpi itu karena 47:11 kalimatnya, eh, apa, bukan fil manam 47:15 gitu sebagaimana Nabi Ibrahim, ini ara 47:18 fil manam, demikian pula Nabi Muhammad 47:20 ketika perang Badar juga diperlihatkan 47:23 dalam mimpi, iz yurika umullah fi 47:26 manamika gitu, ya. Tapi Nabi Yusuf ini 47:28 tidak. 47:30 Nah, tapi 47:31 bahasan kita tidak sampai sejauh itu, 47:33 ya. Pada ayat keempatnya itu surat Yusuf 47:35 itu kalimatnya 47:37 eh, iz qol, iz qol Yusuf li abihi, ya, 47:39 abati, ini roaitu ahada asyaro kaukaban 47:43 wasyamsawalkomaro, 47:44 roaituhum 47:46 li sajidin. Ketika Nabi Yusuf berkata 47:49 kepada bapaknya, "Wahai bapakku, aku 47:52 melihat 11 bintang, melihat bulan dan 47:54 matahari bersujud kepadaku." 47:57 Nah, apa kata Nabi Yakub, bapak Nabi 48:00 Yusuf pada ayat kelimanya? 48:02 Eee, "Qala ya bunayya, 48:04 la taqsus ru'yaka ala ikhwatika 48:08 fayakidulaka kaida." 48:10 "Wahai anakku sayang, jangan kamu 48:13 ceritakan apa yang kamu lihat ini kepada 48:16 abang-abangmu. Nanti mereka akan 48:19 mencelakai kamu, akan membunuh kamu 48:21 bahkan." 48:22 Ya, lalu ujung kalimatnya ini yang 48:24 penting. Ya, kalimat Nabi Yakub, "Inna 48:27 syaitana lil insani aduwun mubin." Itu 48:31 luar biasa kalimat itu. 48:33 Ya, kata Nabi Yakub, kata ayah Nabi 48:35 Yusuf, 48:37 eee, "Jangan kamu ceritakan mimpimu 48:39 kepada abang-abangmu, nanti mereka 48:40 membunuh kamu. 48:42 Tapi ingatlah, ketahuilah bahwa perilaku 48:45 yang mereka lakukan itu, kalaupun mereka 48:47 nanti mencelakai kamu, adalah karena 48:50 setan 48:52 menggoda mereka. Inna syaitana lil 48:54 insani aduwun mubin." 48:56 Sesungguhnya [mendengus] setan itu 48:58 memang betul-betul adalah musuh yang 48:59 nyata bagi manusia. 49:01 Jadi Nabi Yakub mengajarkan kepada Nabi 49:03 Yusuf satu exit, ya, exit strategi yang 49:08 luar biasa. 49:10 Jadi, 49:11 kenapa kita sulit memaafkan manusia? 49:14 Karena kita kira 49:16 manusia itulah yang jahat, dia jahat. 49:19 Padahal dalam kasus Nabi Yusuf ini, luar 49:22 biasa, adik kandungnya sendiri walaupun 49:24 lain ibu 49:26 10 orang abangnya Nabi Yusuf ini, 49:28 ya, membunuh beliau. 49:32 Cuma qadarullahnya tidak wafat Nabi 49:34 Yusuf ini. Ya, cerita Allah, qadarullah 49:37 itu Allah tuh eee me me 49:40 apa? Belum menakdirkan kematian kepada 49:42 Nabi Yusuf, kan. Kan gitu. 49:45 Nah, 49:46 lalu apa yang terjadi di kemudian hari? 49:48 Nabi Yusuf berhasil memaafkan 49:51 abang-abangnya. 49:52 Nah, berhasil memaafkan abang-abangnya 49:54 itu dengan luar biasa, gilang-gemilang 49:57 ya beliau itu. Dahsyat sekali bisa 49:59 beliau memaafkan abang-abangnya itu, 50:01 salah satunya adalah 50:03 karena sejak awal sudah ditanamkan oleh 50:07 ayahanda beliau, Nabi Yakub, bahwa tidak 50:10 ada sebetulnya manusia itu yang aslinya 50:12 jahat itu enggak ada. Innas syaitana lil 50:15 insani aduwun mubin, kalimat penting. 50:17 Eee, innas syaitana lil insani aduwun 50:20 mubin. 50:21 Nanti di ayat 92 surat Yusuf ini, 50:25 kita perhatikan di situ kalimatnya, Nabi 50:27 Yusuf mengatakan kepada abang-abangnya 50:29 setelah sekian lama itu, sampai 50:32 eee apa masa masa remaja habis sampai 50:35 dewasa beliau sampai eee 50:38 akhirnya beliau jadi orang besar gitu. 50:41 Eee, giliran abang-abangnya butuh 50:43 bantuan beliau, abang-abangnya kemudian 50:45 datang menemui beliau, apa kata beliau? 50:47 Apa kata Nabi Yusuf kepada 50:48 abang-abangnya? Qala la tasriba 50:51 alaikumul yaum, ayat 92 ya. Qala la 50:55 tasriba alaikumul yaum. Wahai 50:57 abang-abangku, mulai hari ini sampai 50:59 seterusnya 51:00 selama aku hidup, maka tidak akan pernah 51:03 kalian akan mendengar satu kalimat pun 51:05 keluar dari mulut aku untuk 51:07 mengungkit-ungkit perbuatan yang pernah 51:10 kalian lakukan kepadaku. 51:12 La tasriba alaikumul yaum. 51:14 Eee tidak berhenti sampai di situ kata 51:17 Nabi kata Nabi Yusuf kepada 51:18 abang-abangnya, yaghfirullahu lakum, 51:21 saya doakan mudah-mudahan Allah 51:22 mengampuni kalian abang-abangku. Wahuwa 51:25 arhamur rahimin, dan jangan putus asa 51:28 abang-abangku karena Allah 51:30 kar karena Allah menyayangi kalian 51:33 semua. Eee, jadi kemampuan itu, 51:36 kemampuan yang luar biasa itu ada di 51:39 Nabi Yusuf karena sejak awal Nabi Yusuf 51:42 sudah disampaikan oleh ayahanda beliau 51:44 bahwa manusia itu aslinya tidak ada yang 51:47 jahat. Maka itu kalimat memaafkan 51:50 manusia 51:53 pada ayat 134 surat ee Ali Imran ini 51:56 ciri orang bertakwa memaafkan manusia. 51:58 Maafkan dia sebagai manusia yang 52:02 ditunggangi setan, 52:04 yang digoda iblis, yang disesatkan 52:07 iblis. 52:08 Ee tentu saja ee kalau perilakunya 52:12 berkenaan dengan hukum yang harus 52:14 ditegakkan ya tentu saja harus 52:15 ditegakkan begitu ya. Akan tetapi kalau 52:18 kalau bisa dimaafkan ya tentu bisa 52:20 dimaafkan ya. Artinya misalkan apakah 52:22 kita memaafkan Donald Trump misalnya? 52:25 Ya tentu saja tidak bisa di kalau dia 52:28 ada yang harus dia pertanggungjawabkan 52:30 ya tentu dia harus pertanggungjawabkan 52:32 begitu ya. Tetapi pada hakikatnya 52:33 manusia itu semua aslinya tidak ada yang 52:36 jahat. Ya setanlah yang membuat dia 52:39 hilang ee apa kemanusiaannya tadi itu. 52:44 Ee yang ketiga, 52:46 kalimat memaafkan manusia ini ya 52:49 juga berarti 52:51 ada satu manusia yang senantiasa harus 52:54 kita maafkan terus-menerus. 52:57 Tidak lain dan tidak bukan adalah diri 52:59 kita sendiri. 53:01 Ee memaafkan manusia. Maksudnya manusia 53:04 pertama yang harus dimaafkan lebih dulu 53:06 adalah diri sendiri. Orang yang sulit 53:08 memaafkan orang lain itu karena dia tuh 53:11 sulit juga memaafkan dirinya sendiri. 53:14 Ya sulit juga memaafkan dirinya sendiri. 53:16 Makanya dia sulit memaafkan orang lain. 53:18 Hadirin yang dirahmati Allah. Nah untuk 53:20 menutup ini ya 53:21 kita apa ee tampilkan 53:24 satu penelitian lagi dilakukan di 53:28 ee Ottawa di Ontario, Kanada. 53:32 Ee judulnya I Forgive Myself, Now I Can 53:35 Study. 53:36 Ya How Self Forgiveness for 53:38 Procrastinating 53:40 Can Reduce [berdehem] 53:41 Future Procrastination. Jadi singkat 53:44 cerita dalam penelitian ini, 53:46 [mendengus] 53:46 anak-anak mahasiswa yang waktu semester 53:50 satu nilainya jelek karena menunda-nunda 53:52 belajar, 53:54 kemudian diteliti. 53:55 Ada yang berhasil memaafkan diri 53:58 memaafkan kegagalan yang pernah terjadi 54:00 sebelumnya, ada yang tidak berhasil, 54:02 masih merasa gagal gitu. Nah, rupanya 54:05 yang berhasil memaafkan dirinya itu, ya 54:07 sudahlah saya maafkan diri saya karena 54:10 semester lalu terlalu banyak main gitu. 54:13 [berdehem] 54:13 Nah, justru mereka itu berhasil belajar 54:15 berikutnya di di di apa semester 54:18 berikutnya dan berhasil eh mendapatkan 54:21 nilai yang baik. Yang tidak berhasil 54:23 memaafkan diri masih ada digelayuti rasa 54:25 bersalah, justru belajarnya tidak 54:27 maksimal. 54:29 Nah, sehingga hasilnya pun tidak 54:31 maksimal. Nah, inilah yang sering kita 54:33 temukan misalkan orang menikah, 54:36 lalu dia bercerai dalam 54:39 bercerai hidup gitu ya, terjadi 54:41 pertengkaran, terjadi sesuatu pecahlah 54:43 gitu ya. Nah, 54:45 dia menyalahkan dirinya sendiri itu. 54:47 Terus dia misalkan menikah lagi. 54:50 Kalau dia belum berhasil memaafkan 54:52 kesalahan atau guilty feeling yang 54:55 terjadi dari pernikahan sebelumnya, maka 54:57 pernikahan kedua itu akan sama saja. 55:00 Ya, tinggal nanti 55:02 kapan pecah lagi enggak tahu atau 55:04 terjadi sesuatu yang yang sangat tidak 55:06 baik gitu dan lain sebagainya. Pokoknya 55:08 memaafkan diri sendiri itu adalah kunci 55:10 agar ke masa depan lebih baik. 55:13 Ke masa depan lebih baik. Nah, jadi maka 55:14 itu kalimat Allah tadi memaafkan 55:17 manusia, ya bukan memaafkan orang lain 55:20 karena ada satu manusia yang jadi 55:22 prioritas untuk dimaafkan, yakni diri 55:25 kita sendiri. Ya, sesudah kita bersalah 55:28 gitu yang telah lalu memang ya, mari 55:31 kita bertobat kepada Allah. 55:33 Betul-betul memperbaiki diri supaya 55:34 maksimal perbaikan itu, betul-betul 55:36 sungguh-sungguh bertobat 55:38 dan beri kesempatan untuk diri kita. 55:41 Nah, beri kesempatan untuk diri kita. 55:42 Bila bila teringat lagi, tobat lagi 55:44 kepada Allah lalu beri kesempatan kepada 55:46 diri kita berbuat baik dan lain 55:47 sebagainya. Kalau kesalahan itu kepada 55:49 manusia, maka buru-buru kita selesaikan 55:52 kepada manusia, Bapak Ibu yang hadir 55:54 dirahmati Allah. Jadi inilah kira-kira 55:57 apa kurang lebih makna luar biasa dari 56:00 kalimat wal afina nas 56:03 memaafkan manusia bukan memaafkan orang 56:05 lain sebagai salah satu ciri ketakwaan 56:08 dari 56:10 surat Ali Imran ayat 134, 56:13 ya. 56:14 Wallahualam bisawab, mungkin ini saja 56:15 yang bisa saya sampaikan, kembalikan 56:17 kepada 56:18 Kang Fauzi. Billahi taufiq wal hidayah, 56:20 assalamualaikum warahmatullahi 56:22 wabarakatuh. 56:25 Alhamdulillah, masyaallah Ustaz. 56:27 Berarti sudah kita 56:29 dapatkan ilmunya. 56:30 Ternyata memaafkan manusia Ustaz ya, 56:32 bukan 56:33 memaafkan orang lain. 56:35 Wal afina aninnas ada di surat Ali Imran 56:39 ayat 134, masyaallah. 56:42 Ya, bisa di 56:44 bisa dibuka kembali Ikhwan Akhwat surat 56:47 Ali Imran ayat 134 56:50 untuk judul 56:53 yang sudah disampaikan oleh Ustaz Doni 56:55 pada malam hari ini. 56:57 Tentang memaafkan orang lain atau versus 57:02 maafkan, memaafkan orang lain versus 57:04 memaafkan manusia. 57:06 Baik Ikhwan Akhwat 57:08 kita masuk ke sesi kedua untuk 57:13 tanya jawab. 57:17 Ehm 57:18 ada Ibu 57:21 Ibu Yuli Lestari 57:23 Heeh. Assalamualaikum warahmatullahi 57:25 wabarakatuh Ustaz. Waalaikumsalam 57:27 warahmatullahi wabarakatuh Bu Yuli ya, 57:29 silakan. 57:30 Bu Yuli alhamdulillah menyimak Ustaz 57:32 Alquran Ustadz jazakumullah khairan 57:34 katsiran. 57:35 Kemudian ada 57:40 ada juga Ibu 57:44 Ibu Ani Hani Hufaida. 57:47 Bismillahirrahmanirrahim 57:49 alhamdulillah Ustadz 57:51 menyimak 57:53 tadabbur Alquran di radio melalui radio 57:55 Ustadz. 57:56 Kemudian 57:58 ada pertanyaan dari Ibu Aminah Ustadz. 58:01 Assalamualaikum warahmatullahi 58:03 wabarakatuh. 58:04 Waalaikumsalam warahmatullahi 58:05 wabarakatuh. 58:09 Ehm. 58:10 Ustadz izin bertanya Ustadz saya pernah 58:13 ehm mendapatkan perkataan yang tidak 58:15 baik di grup ibu-ibu tapi saya tidak 58:18 merasa bersalah kejadiannya di bulan 58:21 Ramadhan. 58:23 Tapi setelah itu 58:25 dia minta maaf kepada saya. 58:28 Namun ehm keadaan hati saya adalah 58:32 hati saya dalam keadaan emosi tapi saya 58:35 memaafkan dia. 58:37 Nah bagaimana Ustadz apakah saya 58:39 mendapatkan pahala kemudian 58:41 bagaimana keadaan 58:44 badan saya atau beban saya di dalam 58:47 badan 58:48 apakah 58:50 saya ter 58:52 terpapar apa menyempitnya pembuluh 58:54 jantung dan lain-lain Ustadz terima 58:56 kasih jazakumullah khairan katsiran. 58:59 Iya bagus Ibu siapa tadi yang bertanya? 59:01 Ibu Aminah Ustadz. Ibu Aminah ya kepada 59:04 Ibu Aminah begini saja Bu 59:07 supaya 59:09 supaya jelas atau supaya yakin gitu ya 59:13 bahwa [mendengus] 59:14 Ibu memaafkan dan juga benefitnya nanti 59:17 untuk Ibu saya sarankan 59:19 Ibu doakan saja orang itu. 59:22 Ya ya yang yang minta maaf kepada Ibu 59:24 tadi kan Ibu kan 59:26 mungkin ragu ya karena saat saat dia 59:28 minta maaf tuh masih ada rasa kesal gitu 59:30 misalkan ya. Nah sekarang coba Ibu 59:32 doakan selama 3 hari berturut-turut 59:35 setelah salat fardhu Ibu 59:38 doakan dia yang terbaik untuk dia 59:41 dan jangan jangan diberitahu kepada 59:44 orang lain jangan diberitahu supaya 59:47 dampaknya nanti betul-betul luar biasa 59:49 kepada Ibu misalkan doakan dia sehat 59:52 doakan dia wafat husnul khotimah doakan 59:55 anak-anaknya bisa menjadi penghafal 59:57 Quran ulama dan lain sebagainya gitu ya 1:00:00 doakan dia bisa 1:00:02 umroh selalu gitu bolak 1:00:05 doakan dia ya pokoknya semua yang 1:00:07 baiklah doakan dia yang baik semua nah 1:00:10 dengan begitu Ibu sedang eh apa eh 1:00:15 apa membersihkan mempurify apa 1:00:17 memurnikan memurnikan eh kemaafan yang 1:00:21 Ibu berikan itu kepada dia dan dampaknya 1:00:23 nanti kepada Ibu coba lakukan selama 3 1:00:26 hari berturut-turut eh setelah salat 1:00:29 fardhu 1:00:31 kurang lebih demikian 1:00:33 demikian Ibu Aminah semoga dapat 1:00:34 menjawab baik Ikhwan Akhwat kami akan 1:00:37 segera 1:00:38 rehat sejenak tetap di Radio Silaturahim 1:00:40 dan Rasya TV untuk Islam yang satu 1:00:43 terima kasih 1:00:50 [musik] 1:01:01 Radio Silaturahim dan Rasya TV 1:01:04 saat ini Anda sedang menyaksikan siaran 1:01:06 langsung program Tadabbur Alquran 1:01:09 bersama Ustad Doni Amir Sagap 1:01:13 beliau menyampaikan tentang 1:01:15 memaafkan orang lain versus memaafkan 1:01:18 manusia 1:01:20 baik Ikhwan Akhwat kita akan melanjutkan 1:01:22 berdiskusi bersama Ikhwan Akhwat. 1:01:25 Pertanyaan selanjutnya datang dari 1:01:28 Bapak 1:01:29 Abdul 1:01:31 Abdul Rahim. 1:01:32 Assalamualaikum warahmatullahi 1:01:33 wabarakatuh, Ustaz. 1:01:34 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:35 wabarakatuh, Pak Abdul Rahim ya, 1:01:37 silakan. 1:01:38 Ustaz, izin bertanya, Ustaz. Tadi Ustaz 1:01:39 menyampaikan 1:01:41 bahwasanya memaafkan manusia ini 1:01:45 atau dari kajian tadi Ustaz menyampaikan 1:01:48 ada hubungannya dengan 1:01:50 bahaya merokok, Ustaz. 1:01:52 Ustaz, bisa dijelaskan tentang bahaya 1:01:53 merokok, Ustaz? 1:01:55 Terima kasih, Ustaz. 1:01:56 Terima kasih, Pak Abdul Rahim tadi ya. 1:01:58 Ini saya tampilkan kembali dari ulang 1:02:00 dari awal apa dari pemaparan tadi ya. 1:02:03 Jadi, yang dimaksudkan dalam penelitian 1:02:05 itu 1:02:08 adalah ee jadi 1:02:10 di penelitian ini disebutkan 1:02:13 bahwa kerusakan 1:02:15 ee me me me mendam marah itu 1:02:20 juga 1:02:21 berkaitan dengan kerusakan 1:02:23 yang sama, bukan sama sih, ada kerusakan 1:02:26 juga. 1:02:27 Jadi, ini saya saya saya garis bawahi 1:02:29 kalimatnya, ada kerusakan juga 1:02:32 yang dialami oleh orang yang merokok 1:02:35 gitu ya. 1:02:36 Ya, jadi merokok itu ya jelas merusak 1:02:38 sih. 1:02:39 Nah, ini kalimatnya di sini ini ya. 1:02:43 Ee we tested the hypothesis of 14 1:02:47 following medical condition ya. Jadi, 1:02:50 diteliti ada 14 kondisi 1:02:54 ee yang sakit gitu ya berdasarkan tadi 1:02:57 ini sebenarnya 1:02:59 ee including jadi orang-orang yang 1:03:01 diteliti 9.882 1:03:04 orang ini 1:03:05 ee ee gender-nya laki-laki dan 1:03:08 perempuan, lalu usianya, lalu rasnya 1:03:11 juga dicampur berbeda 1:03:13 dan juga ada yang merokok dan tidak 1:03:15 merokok gitu ya, smoking status, nah itu 1:03:17 ya. 1:03:19 Itu eh diteliti 1:03:22 mereka, lalu 1:03:23 eh diteliti juga eh 1:03:26 nanti akhir ada ada 14 jenis penyakit 1:03:29 yang mereka eh yang kondisi mereka, jadi 1:03:32 heart disease gitu eh serangan jantung, 1:03:36 kemudian high blood pressure, blood 1:03:39 pressure yang tinggi, kemudian eh asma, 1:03:43 diabetes juga apa kemungkinan kanker, 1:03:47 epilepsi dan lain sebagainya lah. Eh nah 1:03:49 itu, rupanya semua itu 1:03:52 eh berkaitan tadi ya 1:03:55 eh karena memendam marah dan juga 1:03:58 sebagiannya ada dampak dari eh merokok 1:04:02 ya, tapi merokok itu 1:04:03 tidak se tidak dibahas secara khusus di 1:04:06 sini hanya menjadi salah satu komorbid 1:04:09 saja. Komorbid itu artinya bawaan ya, 1:04:13 jadi eh dampak kecil yang eh sesuatu 1:04:16 yang kemudian menghasilkan eh penyakit 1:04:19 yang lebih besar nah kurang lebih 1:04:21 begitu. Ya jadi 1:04:22 eh ada hubungannya merokok lalu gangguan 1:04:26 jantung dan 1:04:28 juga eh apa usus eh luka usus ya, 1:04:33 walaupun eh 1:04:35 dasarnya adalah atau yang lebih besar 1:04:37 adalah tadi eh memendam kemarahan gitu 1:04:40 ya, jadi komorbidnya atau salah satu 1:04:43 bawaannya adalah karena juga kebiasaan 1:04:46 merokok. 1:04:47 Kurang lebih demikian Pak Abdul Rahim. 1:04:50 Ya. 1:04:51 Demikian 1:04:52 Bapak Abdul Rahim, semoga dapat menjawab 1:04:54 apa yang disampaikan oleh Ustaz Doni. 1:04:57 Berikutnya pertanyaan ketiga dari Ibu 1:05:00 Karisa Ustaz. 1:05:02 Ya. Assalamualaikum warahmatullahi 1:05:03 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:05:05 warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz 1:05:06 alhamdulillah kami menyimak tausiah 1:05:09 tadabbur Alquran Ustaz, terima kasih 1:05:11 ilmunya Ustaz, tentang memaafkan 1:05:13 manusia, Ustaz. 1:05:15 Ustaz, izin bertanya. Ketika kita 1:05:18 berbuat baik kepada seseorang, tetapi 1:05:21 orang tersebut tidak berterima kasih, 1:05:23 bahkan menyakitinya, Ustaz. Apa 1:05:26 sebaiknya yang harus kita lakukan untuk 1:05:28 sama-sama 1:05:29 menjaga kesehatan kita dan 1:05:33 orang yang 1:05:34 kita berbuat baik tersebut, Ustaz. Yang 1:05:37 menyakiti tersebut, Ustaz. Jazakumullah 1:05:38 khairan katsiran. 1:05:40 Iya. 1:05:41 Eh, saya tampilkan lagi, ya. 1:05:42 Di layar hasil TV. 1:05:45 Eh, 1:05:46 ini yang tadi, tadi belum sempat kita 1:05:48 tampilkan ini di waktu pemaparan. 1:05:50 Jadi, begini. 1:05:51 Kadang-kadang orang berpikir 1:05:54 kadang-kadang kita manusia berpikir 1:05:55 bahwa 1:05:57 kalau persoalan itu selesai, enggak ada 1:06:00 persoalan 1:06:01 kayaknya enak deh hidup kita gitu, ya. 1:06:04 Misalkan sudah maafin, ini orang sudah 1:06:06 dimaafin 1:06:07 eh, tapi gitu lagi. Nanti ada orang yang 1:06:09 gitu lagi, gitu lagi gitu, ya. 1:06:11 Kita kira, ya, kita kira ini judulnya 1:06:14 ini dalam penelitian ini judulnya ini, 1:06:16 "Most people think 1:06:18 solving all their problems will make 1:06:22 them happier." 1:06:24 Kebanyakan orang berpikir bahwa kalau 1:06:26 masa semua masalah dia terselesaikan, 1:06:29 maka dia akan bahagia. 1:06:31 Eh, neuroscience says the opposite. 1:06:34 Rupanya enggak gitu, justru 1:06:35 kebalikannya. 1:06:37 Nah, jadi maksudnya gini. 1:06:39 Dari penelitian ini 1:06:41 ya, ini kalimatnya nur, ini di di neuro 1:06:44 globe, ya. Jadi, neuro globe itu adalah 1:06:47 satu apa juga, apa penelitian gitu, 1:06:50 lembaga penelitian. Silakan nanti kalau 1:06:52 ikhwan-akhwat ingin baca lebih jauh, 1:06:54 silakan bisa ketik juga di AI atau di eh 1:06:57 internet, ya. 1:06:59 Neuroscience show 1:07:01 your brain does not reward the absence 1:07:03 of problem. Jadi, otak kita tuh 1:07:07 reward kepada otak itu bukan karena 1:07:09 enggak ada masalah. 1:07:11 Tapi karena kita bisa, tapi justru kita 1:07:14 dapat reward setelah kita bisa 1:07:16 beradaptasi dengan masalah itu. 1:07:19 Nah, jadi 1:07:21 eh pertanyaan Ibu tadi mewakili 1:07:24 kebanyakan orang, termasuk juga mungkin 1:07:26 saya. 1:07:27 Kenapa ya kok masalah itu tetap ada 1:07:29 saja, tetap ada saja orang yang 1:07:31 berbuat enggak enak, tetap ada saja 1:07:34 orang yang eh apa enggak tahu diri, 1:07:36 sudah dimaafin tapi begitu lagi. 1:07:38 Jawabannya adalah supaya otak kita terus 1:07:41 bisa mendapatkan reward dalam memaafkan. 1:07:46 Kalau semua orang baik gitu, otak kita 1:07:50 kehilangan reward. 1:07:51 Karena sebetulnya reward yang didapat 1:07:54 otak itu bukan karena enggak ada 1:07:55 masalah, tapi karena berhasil 1:07:58 eh beradaptasi dengan masalah itu. 1:08:01 Eh. 1:08:02 Jadi, eh begitu masalahnya habis, 1:08:07 [tertawa] 1:08:07 otak kita mati nanti. 1:08:09 Begitu Ustaz. 1:08:11 Iya, otak kita mati nanti. Enggak ada 1:08:13 lagi eh cara kita dapat reward. 1:08:16 Gitu deh kalimatnya. Iya, jadi eh ya is- 1:08:21 istilahnya dalam dunia neurosains itu 1:08:24 this is known as prevalence 1:08:27 prevalence induced concept change, 1:08:30 induced concept change. 1:08:32 Jadi, 1:08:33 eh privilege yang kita dapatkan 1:08:36 itu 1:08:37 bukan karena 1:08:38 mengurangi 1:08:40 apa perubahan atau atau 1:08:43 bukan karena semua itu baik-baik saja, 1:08:44 bukan. Justru karena semua itu tidak 1:08:47 baik-baik saja, setiap saat kita harus 1:08:49 beradaptasi, beradaptasi. Saat 1:08:50 beradaptasi itulah 1:08:52 kita dapat reward dalam 1:08:55 memaafkan nih, dapat reward. Nanti orang 1:08:56 begitu lagi, maafkan lagi, dapat reward 1:08:58 lagi. Nanti orang begitu lagi, maafkan 1:09:00 lagi, dapat reward lagi. Kalau tidak 1:09:02 begitu, misalkan kita maafin terus 1:09:03 orangnya beres semua, kita enggak dapat 1:09:05 reward lagi. Otak kita enggak 1:09:08 enggak enggak bisa aduh enggak enggak 1:09:10 dapat hadiah lagi. 1:09:12 Nih jadi kalimatnya nih ya saya garis 1:09:14 bawahi di di layar AsySyifa TV nih. 1:09:17 Penting ini Bapak Ibu. 1:09:19 Nah, ini ya saya beri tanda panah. 1:09:23 Remove friction completely 1:09:26 and stimulation drop. 1:09:28 Nah. [erangan] 1:09:30 Motivation fades, engagement declines, 1:09:33 and even trivial inconvenience begin to 1:09:36 feel disproportionately 1:09:39 significant. Jadi menghilangkan friksi 1:09:43 dalam hidup ini apa eh menghilangkan 1:09:45 perbedaan, menghilangkan permasalahan 1:09:47 gitu secara completely 1:09:49 itu membuat stimulasi otak tuh drop. 1:09:54 Membuat motivasi itu hilang, membuat 1:09:56 engagement itu apa eh 1:09:59 apa kenyang apa ke ke enak enaknya tuh 1:10:02 jadi enggak ada, declining. Nah nanti 1:10:05 ujungnya hal-hal yang remeh pun akan 1:10:08 menjadi sesuatu yang sangat eh apa 1:10:11 sangat eh 1:10:13 apa namanya menakutkan atau sangat tidak 1:10:15 enak gitu padahal awalnya enak eh gitu. 1:10:18 Jadi menjawab pertanyaan Ibu 1:10:21 dan juga kita semua, kenapa sih gimana 1:10:24 sih orang tuh kok dimaafin tapi begitu 1:10:26 lagi dimaafin kok begitu lagi. Ya memang 1:10:28 itulah yang otak kita butuhkan. 1:10:31 Nah justru kita harusnya senang. 1:10:33 Sunatullah Ustaz. Sunatullah [mendengus] 1:10:36 itulah itulah bagaimana cara itulah cara 1:10:38 Allah ya untuk memberikan asupan 1:10:41 eh pahala, dopamin gitu juga ya dopamin 1:10:45 itu kan hormon ketika kita berhasil ya 1:10:48 beradaptasi dengan kesulitan 1:10:52 eh dengan memaafkan itu tadi ya justru 1:10:55 justru apa kita butuhkan itu ujian gitu. 1:10:59 Eee ujian itu kita butuhkan, bukan 1:11:01 sesuatu yang bukan jangan dianggap 1:11:03 sebagai sesuatu yang enggak enak. Kalau 1:11:05 dianggap sebagai sesuatu yang enggak 1:11:06 enak, kita jadi anti nanti itu. Kita 1:11:09 jadi bingung kenapa orang begini lagi 1:11:11 ya, kenapa begini lagi ya gitu. Kita 1:11:13 bahkan bisa jadi putus asa, ah percuma 1:11:15 maafin orang entar juga dia gitu lagi 1:11:17 nah gitu. Padahal justru itulah ya 1:11:20 kegunaan untuk menstimulus terus otak 1:11:23 kita itu supaya tetap bekerja dengan 1:11:25 baik. 1:11:27 Eee kurang lebih demikian, wallahualam 1:11:29 bissawab. 1:11:31 Wallahualam bissawab demikian Ibu Karisa 1:11:33 semoga dapat menjawab. Seperti imunnya 1:11:36 Ustaz ya? 1:11:37 Seperti imun. Oh iya. Ya seperti itu. 1:11:39 Kekebalan tubuh ya. 1:11:41 Heeh. Baik, demikian Ikhwan Akhwat. 1:11:44 Baik Ustaz sebagai penutup Ustaz. 1:11:48 Tafadhol Ustaz. 1:11:50 Iya jadi Bapak Ibu yang dirahmati Allah 1:11:52 Ikhwan Akhwat sekalian para pendengar 1:11:53 Radio Silaturahim, para pemirsa Ras FM 1:11:55 TV di manapun berada 1:11:57 Alquran ini memang luar biasa mukjizat 1:12:00 kepada kita 1:12:02 eee tapi memang harus kita perhatikan 1:12:04 eee lebih detail. Salah satunya adalah 1:12:07 memaafkan manusia bukan memaafkan orang 1:12:10 lain. Benefitnya ternyata luar biasa 1:12:12 untuk kita dan ruginya pun luar biasa 1:12:15 kalau kita tidak lakukan. Ya 1:12:17 mudah-mudahan ini adalah betul-betul 1:12:19 ciri ketakwaan yang berhasil kita bawa 1:12:22 ya sebagai oleh-oleh hadiah dari Ramadan 1:12:26 kita 1447 1:12:27 Hijriah ini dan kita pakai selama eee 1:12:32 apa setelah Ramadan ini sampai 1:12:34 insyaallah bertemu Ramadan lagi kalaupun 1:12:36 tidak bertemu Ramadan lagi maka 1:12:38 mudah-mudahan sudah memberikan manfaat 1:12:40 bagi kita sehingga kita eee bersiap 1:12:43 dengan amal kebaikan ya keridhoan untuk 1:12:47 pulang kembali ke sisi Allah subhanahu 1:12:49 wa taala. Wallahualam bissawab billahi 1:12:51 taufik walhidayah, assalamualaikum 1:12:52 warahmatullahi wabarakatuh. 1:12:55 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:12:56 wabarakatuh, jazakumullah khairan 1:12:58 katsiran Ustad ilmunya yang sudah 1:12:59 disampaikan. 1:13:01 Semoga ikhwan akhwat mendapatkan manfaat 1:13:03 manfaat apa yang sudah disampaikan oleh 1:13:06 Ustad Doni Amir Sagaf tentang memaafkan 1:13:09 manusia dan karena 1:13:11 keuntungannya benefitnya untuk kita 1:13:13 sendiri sebagai manusia. 1:13:16 Saya Fauzi Ridwan Nurul Haq mohon undur 1:13:18 diri, mohon maaf atas segala khilaf, 1:13:20 subhanakallahumma wabihamdika asyhadu 1:13:22 alla ilaha illa anta astagfiruka wa 1:13:24 atubu ilaih, assalamualaikum 1:13:26 warahmatullahi wabarakatuh.