Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
1:52 [musik] 2:13 Bismillahirrahmanirrahim. 2:14 Assalamualaikum warahmatullahi 2:16 wabarakatuh. 2:16 Waalaikumsalam. 2:17 Allahuma shali ala sayyidina Muhammad wa 2:19 ala ali sayyidina Muhammad. 2:21 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 2:23 ini hari Rabu tanggal 2:26 9 Jumadil Awal 1448 Hijriah atau tanggal 2:30 20 Oktober 2026. Kita jumpa lagi dalam 2:33 acara tamu kita. Di sini ada Anggun, ada 2:38 Reva, 2:39 ada Siti, ada Caca yang sedang PKL ikut 2:43 bantu-bantu kita juga. Tentu saja ada 2:45 guru kita Neiza ya. 2:47 Ada juga Ustaz kita 2:49 Ustaz Algi Fahrurrazi di meja operator. 2:53 Kita kedatangan tamu namanya Dokter 3:00 Ko 3:02 [tertawa] 3:03 Konita Basalama. 3:07 Beliau ini lahir tanggal 23 Juni. 3:11 SD di Al Azhar, SMP di Al Azhar, SMA di 3:14 Al Azhar kemudian di UI Antropologi 3:16 sekarang sudah S3 ya Dokter 3:19 Ko Nita Basalama. 3:22 Kita akan bincang-bincang soal memilih 3:24 sekolah, memilih masa depan, nilai 3:27 keluarga, identitas dan 3:31 apa ya ee 3:34 dan nilai ee sekolah lah. 3:38 Pendidikan adalah salah satu 3:40 keputusan terpenting dalam kehidupan 3:43 sebuah keluarga ketika orang tua memilih 3:46 sekolah untuk anak-anaknya 3:48 sesungguhnya mereka tidak sekedar 3:52 ee memilih gedung tempat belajar 3:55 kurikulum 3:56 dan prestasi akademis 3:58 kemudian 4:01 dan mereka juga sedang ikut menentukan 4:03 lingkungan pergaulan pembentukan 4:06 karakter, nilai-nilai kekuatan 4:09 kehidupan dan 4:11 anak 4:13 juga tentang masa depan 4:16 putri-putrinya 4:18 atau putra-putranya ya. Ada sebuah 4:20 pertanyaan mendasar yang patut kita 4:23 renungkan bersama 4:25 apakah sekolah 4:26 hanya bertugas mencerdaskan anak atau 4:29 juga bertanggung jawab membentuk manusia 4:33 yang berkarakter, berakhlak dan memiliki 4:36 identitas diri? 4:38 Assalamualaikum 4:40 Mbak Wanita 4:41 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:42 wabarakatuh 4:43 mantannya? 4:44 [tertawa] 4:45 Benar, benar banget 4:46 Oke 4:47 Itu juga yang mengantarkan saya 4:50 tertarik gitu ya untuk studi tentang 4:54 budaya sekolah 4:55 bahwa sekolah itu bukan satu 4:58 lingkungan akademis saja tapi sebetulnya 5:00 dia lingkungan sosial 5:02 ketika seorang atau sepasang orang tua 5:05 yang mungkin keputusannya kadang-kadang 5:07 juga dipengaruhi oleh keluarganya, 5:09 lingkungan tempat tinggalnya memilihkan 5:11 sekolah untuk anak itu bukan pengalaman 5:13 yang netral tapi satu pengalaman panjang 5:16 dia bukan sekedar sedang memilih 5:19 kurikulum tapi dia sedang memilihkan 5:21 lingkungan di mana anaknya akan punya 5:23 pengalaman-pengalaman sosial selanjutnya 5:27 apakah 5:29 ada diskusi antara orang tua dengan anak 5:31 ketika dia memasukkan ke sekolahnya? 5:34 Artinya si anak juga punya punya hak 5:36 untuk 5:37 berpendapat 5:39 tidak saya enggak suka ini ya sekolah 5:40 ini ya atau gimana itu komprominya? 5:43 Kalau dulu angkatan saya gitu ya waktu 5:46 saya masuk TK saya tahunya dimasukkan 5:49 gitu kan. Mungkin Pak Krisna juga gitu 5:50 ya masuk TK, masuk SD, bahkan mungkin 5:52 masuk SMP gitu ya. 5:54 saya. 5:54 SMA juga? 5:55 Lima jadi aja udah. 5:56 Tahu beres gitu. 5:57 Tapi sekarang ini dari mulai preschool, 6:00 nursery gitu ada trial class, anaknya 6:03 boleh nyoba dulu. 6:04 Oh gitu. 6:05 Heeh, kan eh orang tuanya boleh punya 6:07 experience satu dua kali atau mungkin 6:09 satu kali dibatasi anaknya hadir itu 6:12 dari mulai eh ini ya dari mulai TK gitu 6:15 loh. Eh open house itu kan eh di-create 6:18 untuk membuat eh orang tua calon wali 6:22 murid atau calon eh muridnya punya 6:25 experience dulu sebelum dia eh 6:27 betul-betul eh bisa menjalankan eh 6:30 kehidupan selanjutnya di sekolah 6:32 tersebut dan itu dimulai dari TK atau 6:34 nursery ya. 6:34 Oh waduh ketika open house tuh guru 6:36 seramah mungkin itu 6:38 sama tamu-tamunya. 6:40 eh orang tua juga biasanya tuh udah tahu 6:42 triknya gitu loh eh beberapa kali 6:44 mungkin ketika anak kedua atau anak 6:46 ketiga atau mungkin anak pertama pun dia 6:48 udah dapat pengalaman eh jangan percaya 6:51 gitu aja ya sama ramah-tamah [tertawa] 6:53 di depan tapi eh lihat kantinnya gimana 6:56 obrolan anaknya seperti apa, toiletnya 6:58 seperti apa. Kalau open house kan 7:00 toiletnya dibersihinnya bener ya. 7:01 [tertawa] 7:03 Rapi sandalnya gitu kan. Tapi eh eh dan 7:08 tapi itu sangat menolong kan sebetulnya 7:10 ya. Kita jadinya eh 7:11 paling enggak ketika anak kita masuk ke 7:13 sana dia enggak kaget lagi dengan 7:15 lingkungan fisik gitu. 7:17 Tapi orang tua kan enggak bisa memilih 7:19 bebas karena mengingat geografi antara 7:23 rumah dengan letak rumah dengan sekolah 7:25 karena kalau jauh bagus tapi kalau jauh 7:27 kan 7:28 bagaimana itu? Enggak bisa milih ya. 7:30 Eh contohnya saya nih Pak Krisna. Saya 7:33 milih sekolah dulu baru milih baru milih 7:34 rumah. 7:35 Oh. 7:36 rumah tempat tinggal saya itu mendekat 7:38 ke tempat sekolah 7:38 Oh waduh iya kok bisa begitu tuh? 7:41 Iya, tapi memang 7:42 eee enggak enggak semua eee berawal dari 7:46 pemilihan sekolah pemi- pemilihan rumah 7:49 dulu. Tapi sekarang kalau Pak Krisna 7:51 interview pasangan muda gitu ya, ketika 7:53 dia memilih rumah pertamanya 7:55 salah satu yang dia cari adalah ada 7:57 sekolah bagus atau enggak di sana. 7:58 Ehm. 7:59 Sekolah menjadi daya tarik tersendiri 8:01 untuk pemilihan tempat tinggal. 8:02 Ehm. 8:03 Mulai dari TK sampai SD itu ya. 8:05 Betul. 8:06 Sudah di diincer itu ya. 8:07 Betul. 8:08 Betul. 8:10 Oke. 8:11 Eee kita lihat nah silakan yang mau 8:13 bertanya kami tunggu di 08111999720. 8:18 Kita akan mengambil tema memilih 8:20 sekolah, memilih masa depan, nilai 8:23 keluarga, dan juga identitas dan budaya 8:26 bersekolah. 8:29 Eee 8:30 dari siapa? Dari Tita. Menurut Mbak, apa 8:33 saja pertimbangan utama yang perlu 8:35 diperhatikan orang tua ketika memilih 8:38 sekolah untuk anak? 8:40 Dari Ibu Tita di Pejompongan. 8:43 Ehm. 8:44 Eee terima kasih Bu Tita, salam kenal. 8:46 Ini langsung jawab saja Pak Krisna ya? 8:49 Eee mungkin dari pengalaman saya dulu 8:51 gitu ya, pengalaman saya memilihkan 8:53 sekolah untuk anak eee 8:56 yang pertama me- saya pasti eee cari 8:59 tempat itu dia Pak Krisna pengalaman 9:01 saya kan saya cari sekolah dulu baru 9:02 cari tempat tinggal gitu ya. 9:04 Tapi memang dari dulu ketika kita 9:06 memilihkan sekolah untuk anak kita 9:08 enggak bisa terbuai dengan iklan, visi, 9:11 misi, atau eee kurikulum yang 9:14 dijanjikan. 9:14 Ehm. 9:15 Tapi kita juga harus lihat bagaimana eee 9:19 eee ini ini ceritanya bukan sekolah yang 9:21 baru buka banget lah ya, tapi sekolah 9:23 yang memang sudah punya lulusan atau 9:24 sekolah yang memang sudah punya eee 9:26 siswa yang eee relatif eee sudah 9:30 beberapa angkatan di sana gitu ya. Kita 9:31 mau kita kalau anak kita memang masih 9:34 siswa baru banget di sekolah tersebut 9:35 berarti kita menjadi bagian yang 9:37 menentukan bagaimana sekolah tersebut 9:39 mengembangkan eh relasi ataupun sampai 9:42 establish jadi budaya bersekolahnya. 9:43 Tapi kalau anak kita termasuk angkatan 9:46 yang eh berikut-berikutnya, maka kita 9:48 sudah bisa melihat contohnya bagaimana 9:50 eh anak tersebut berinteraksi di kantin, 9:52 bagaimana anak-anaknya menyambut kita 9:54 ketika datang. Eh kan enggak harus open 9:56 house ya, kita bisa tanya, kita bisa 9:58 lihat. Eh waktu saya milih sekolah, saya 10:00 pengin tahu kalau kita datang ke sana, 10:03 anaknya nanya enggak nih, "Tante cari 10:05 siapa? Tante mau ke mana? 10:06 Assalamualaikum." 10:07 He eh. 10:07 Kak, oh ada pendidikan sopan santun yang 10:10 diajarkan di sekolah [berdehem] tersebut 10:11 kepada orang-orang yang lebih tua, 10:13 misalnya seperti itu. Tapi kalau 10:15 lewat-lewat aja, cuek gitu kan, itu eh 10:18 satu poin juga kan buat kita, apakah 10:20 sekolah tersebut eh 10:22 atentif atau cukup perhatian terhadap eh 10:24 sikap eh sikap-sikap anak terhadap orang 10:26 lain gitu ya. Itu satu yang pertama. 10:29 Yang kedua, tentu saja kebersihan. 10:31 Kebersihan toilet, kebersihan eh kantin, 10:34 eh sembarangan atau enggak dia eh 10:36 mengizinkan orang berdagang atau ada 10:38 kurasinya atau enggak eh masakan atau 10:40 makanan di kantin karena 10:42 anak-anak itu jangan sampai dia 10:43 terstimulasi dengan terigu, gula, dan 10:45 lain sebagainya, makanan yang kemudian 10:47 justru menghambat proses belajarnya di 10:49 sekolah. Dia sampai rumah sudah 10:51 kelelahan tanpa ada makanan yang memang 10:54 eh memadai untuk mendukung proses 10:56 belajar-mengajarnya. Kita sudah 10:57 capek-capek sediaan di rumah, sampai 10:59 sana karena ada tukeran sama teman atau 11:01 ada makanan yang eh gula-gula di kantin, 11:05 kalah pasti makanan kita. Tapi kalau itu 11:07 juga termasuk yang dijaga di sekolah, 11:08 saya kira itu eh jadi perhatian 11:11 tersendiri karena anak bukan sekadar 11:13 belajar apa yang dia eh 11:15 bukan belajar di kelas aja, tapi dia 11:17 sudah mulai belajar memilih apa yang 11:19 masuk, halal atau tayibnya itu apa yang 11:20 masuk kepada tubuhnya dia. 11:22 Masyaallah. 11:22 Sudah harus jadi keputusan penting sejak 11:24 dini. 11:24 itu ya, sampai di kantin makanan-makanan 11:26 juga mesti diperiksa. 11:28 Apakah banyak gulanya? 11:30 Betul. 11:31 Oh gitu ya, masyaallah. Jadi hati-hati. 11:34 Oke. 11:35 value-nya di rumah dengan di sekolah 11:36 beda, itu eh kita dia kembali ke dia 11:41 kembali ke rumah sudah bawa value yang 11:43 berbeda dengan kita. Itu kesulitan 11:45 tersendiri. 11:45 Mana yang menang biasanya? Yang paling 11:46 berpengaruh mana? 11:47 Eh 11:48 eh peer peer atau apa? Eh kelompok di 11:51 sekolah pasti akan menang. 11:53 Oh, gitu. 11:53 Iya. Pak itu sudah dia di rumah bisa 11:56 pura-pura nurutin orang tuanya, tetapi 11:57 ketika dia sekolah dia akan kalah dengan 11:59 peer pressure-nya. 12:00 Oke. 12:02 Dari Ibu Yeni, sejauh mana nilai-nilai 12:05 keluarga perlu menjadi dasar dalam 12:07 menentukan pilihan sekolah? Dari Ibu 12:10 Yeni di mana? Tebet. 12:12 Terima kasih. 12:13 Eh 12:15 memilih sekolah itu 12:18 eh 12:19 yang pertama justru yang kita periksa 12:21 value-nya sama enggak dengan yang di 12:22 rumah. 12:23 Heeh. 12:23 Kalau apa sih yang dimaksud dengan value 12:25 gitu ya? Value itu apa yang menjadi 12:29 patokan nilai benar salah, apa yang 12:31 boleh dan tidak boleh di rumah dengan 12:32 sekolah harus sama. Karena kalau enggak 12:34 itu kan jadi perang value antara anak 12:36 dengan orang tuanya. Nanti antara anak 12:38 ketika dia bilang di sekolah yang 12:40 misalnya 12:41 eh cara duduknya saja, cara duduknya 12:44 atau eh 12:46 eh apa? Eh cara dia menyapa seseorang, 12:49 apa yang diajarkan di rumah dengan di 12:50 sekolah ya diusahakan juga harus sama 12:52 sehingga anak tidak bingung enggak 12:54 enggak enggak misjudge orang lain atau 12:56 enggak bingung value. 12:58 Jadi memang eh justru ketika memilih 13:00 sekolah untuk anak yang pertama yang 13:02 harus kita periksa itu apakah value kita 13:04 eh sejalan dengan sekolah atau enggak 13:06 supaya anak juga enggak enggak enggak 13:08 enggak ada stres antara apa yang dia 13:10 dapatkan di sekolah dengan di rumah. 13:12 Bagaimana dengan orang tua yang anaknya 13:14 itu 13:16 gemuk, overweight gitu. 13:18 Dia ada kecurigaan gitu entar anak gua 13:20 pasti dibully nih. 13:22 Heeh. 13:23 Nah, untuk memantapkan anak supaya dia 13:24 nanti enggak usah khawatir 13:26 eh jangan jangan jangan sampai dia 13:28 dibully. Apa yang harus dilakukan supaya 13:30 dia pede si anak ini masuk sekolah itu? 13:33 Eee, pertama kita sepakati dulu 13:35 overweight itu boleh apa enggak? 13:38 Boleh ya? 13:39 Overweight itu boleh. 13:40 Iya sih, 13:42 kalau ya dalam hal masuk pendidikan 13:44 boleh dong. Cuma secara kesehatan 13:47 Iya, [tertawa] 13:47 itu yang pertama yang dari rumah yang 13:50 mungkin eee kita harus sepakati antara 13:52 anak dengan orang tua bahwa overweight 13:54 ini nanti ke depannya ada masalah. 13:56 He eh. 13:56 Sehingga 13:57 Dari rumah juga udah 13:58 Dari rumah juga harusnya sudah di 14:00 eee sudah di eee sampaikan tentang 14:03 pemilihan makanan itu kan harusnya dari 14:04 kecil ya. Sebelum dia bersekolah pun apa 14:06 yang dihidangkan di rumah, apa yang 14:08 dipilihkan, apa yang boleh jajan di 14:10 luar, apa yang tidak, apa yang makan 14:11 bersama itu eee sudah di eee ajarkan 14:15 gitu ya. Tapi 14:17 ketika eee ini kita bicara 14:19 overweight-nya masih dalam eee konteks 14:21 dia sehat gitu ya. 14:23 Value pertamanya adalah sehatnya. Bahwa 14:25 bentuk itu enggak-enggak boleh jadi 14:28 enggak boleh kemudian jadi membuat 14:30 seseorang terkucil karena bentuknya 14:31 berbeda dengan orang lain. Artinya inclu 14:33 nilai inklusif juga harus ditanamkan di 14:35 rumah. 14:36 Eee sekolah itu harus membuat orang 14:39 bersikap adil terhadap perbedaan. 14:42 Ada 14:43 eee contoh-contoh ketika eee bentuk 14:45 badan itu berbeda-beda, ini juga harus 14:47 bisa di harus bisa di eee sampaikan di 14:50 sekolah bahwa kita menerima atau eee 14:53 inklusivitas itu bagian dari eee value 14:55 yang eee dikerjakan di sekolah. 14:58 Eee sekolah yang kemudian 15:01 eee bullying itu bukan sesuatu yang bisa 15:04 dijamin oleh satu sekolah enggak bakalan 15:06 ada di sekolah saya. Tetapi sekolah eee 15:10 yang baik menurut saya akhirnya ketika 15:13 dia bisa mengatasi masalah ketika ada 15:14 bullying, bukan dia bisa menutup-nutupi 15:16 atau menggaransi bullying itu enggak 15:18 ada. 15:19 He eh. 15:20 Nah, menyelesaikan masalah ketika ada 15:21 bentuk badan berbeda eh saya kira ini 15:24 bukan perkara di sekolah eh bisa 15:28 diterima saja tapi juga harus ada 15:29 edukasi kepada eh yang overweight tadi. 15:32 Oke. 15:32 Bahwa overweight ini nanti kamu ke 15:34 depannya bisa punya masalah. Tadi Pak eh 15:36 kemarin itu di live in di Instagram saya 15:38 tuh cukup ramai lewat tentang eh 15:43 klipnya Dokter Amira Abdat tentang 15:44 overweight. 15:46 Kita enggak boleh cuek, kita enggak 15:48 boleh nerima apa adanya tubuh kita 15:50 ketika ketika kita overweight loh. Kita 15:52 harus aware, kita harus awas ketika kita 15:55 mulai overweight. 15:56 He em. 15:56 Karena ke depannya kemudian 15:58 masalah-masalah kesehatan kita dari 16:01 mulai masalah persendian, masalah eh 16:04 nanti kemudian di hari tua kita bisa 16:06 merugikan si anak sendiri ya. Kita akan 16:07 merugikan eh akan merugikan anak dan 16:09 merugikan lingkungannya juga. 16:11 Ketika dia harus eh terus-menerus diasuh 16:14 atau dibantu untuk eh mobilitasnya saja. 16:17 He em. 16:19 Oke, Wenda Not Ahmad masih di acara tamu 16:22 kita di mana kami mengundang 16:25 Dokter 16:27 Konita Basalamah, beliau adalah seorang 16:29 dosen di Unas. 16:31 Ini ada yang bertanya dari siapa nih? 16:36 Dari Ibu Susi. 16:38 Mbak Nita bagaimana sekolah yang 16:40 menerima anak kebutuhan khusus? Kita 16:43 yang normal anak-anak saya yang normal 16:44 apakah 16:46 eh akan terganggu nantinya atau malah 16:49 dia menjadi punya empati? 16:53 Sek eh pendidikan empati ini jadi 16:56 sesuatu yang eh 16:59 rasanya kita harus kita masih punya PR 17:01 panjang gitu ya. Ketika anak ngelihat 17:05 temannya bermain jatuh itu diketawain. 17:07 Ini kita enggak belum cerita tentang 17:09 kebutuhan khusus nih. Di eh sesama teman 17:12 peer-nya ketika ada teman yang jatuh 17:14 kesakitan 17:16 eh diketawain. 17:17 Itu kan nir empati sekali gitu ya. Nah, 17:20 kehadiran teman-teman yang membawa 17:22 anaknya ke sekolah ee, sekolah umum gitu 17:26 ya, yang memang bukan sekolah khusus ee, 17:29 ABK gitu. Ee, itu sebetulnya bisa 17:32 membantu ee, baik ee, guru, orang tua, 17:36 karena kan orang tua juga terinformasi 17:38 ee, bahwa kita di tengah-tengah kita ada 17:41 anak berkebutuhan khusus yang 17:43 mengajarkan kita tentang empati, tentang 17:45 bersyukur ee, dan untuk selalu melihat 17:48 sisi atau ee, kelebihan orang gitu ya. 17:52 Ee, ini yang saya kira ee, pentingnya 17:54 kita mitigasi terus ee, sampai ee, 17:57 anak-anak anak-anak itu jangan disteril 17:59 dari ee, dari sesuatu yang ee, di luar 18:02 sesuatu yang ya, kan kita tahunya ada 18:04 normal, ada tidak normal gitu. Padahal 18:06 kebutuhan khusus 18:08 resiko. 18:08 Iya, ee, dianggapnya nanti anytime dia 18:11 bisa menyerang. Jadi, harus di anak-anak 18:13 tuh hati-hati sama dia gitu. Padahal, 18:16 ee, coba perhatikan dia butuh apa. 18:18 Ehm. 18:18 Kan ee, dibalik gitu ya cara berpikirnya 18:20 ketika melihat ee, teman-teman yang ee, 18:23 mungkin punya kebutuhan khusus gitu. 18:25 Nah, ini yang ee, dari rumah itu harus 18:28 diajarkan ketika nanti ee, kita ee, 18:31 anytime kita akan ketemu dengan orang 18:33 dengan ee, dengan kebutuhan khusus. 18:34 Entah itu di sekolah, entah itu di 18:36 kereta 18:37 Ehm. 18:37 entah itu di ee, di jalan lain atau ee, 18:41 sesama keluarga kita, itu sejak awal, 18:43 sejak rumah kita harus mengajarkan ke 18:45 anak-anak kita bahwa kita harus helpful. 18:47 Harus melihat ee, anytime orang ada yang 18:50 butuh di assist atau butuh bantuan kita. 18:53 Jadi, jangan tunggu juga sampai sekolah 18:55 gitu ya. Ee, mengajarkan anak untuk ee, 18:58 melihat kebutuhan khusus di orang lain. 19:00 Heeh, oke. 19:02 Baik, dari Ibu Hadijah. 19:05 Ee, Mbak Anita, sejauh mana 19:09 peran guru terhadap orang tua. 19:10 Kadang-kadang orang tua ke sekolah 19:13 menanyakan nomor WA dari si guru. Lalu 19:16 orang tua dengan seenaknya ber-WA-WA 19:18 kepada guru minta perhatian 19:20 tentang anaknya. 19:21 Sejauh mana 19:23 adakah ini keterbatasan dalam hal 19:26 guru memberikan 19:29 perhatian kepada si anak. 19:32 Ini 19:34 kayaknya tadi kita obrolin sebentar ya, 19:36 Pak Krisna, ya, terkait 19:37 WA grup orang tua. Ketika 19:41 ini kan zaman dulu anak-anak saya masih 19:43 di SD, SMP, SMA gitu ini kejadian juga 19:45 sih sebetulnya. 19:46 Ketika 19:49 guru memberikan tugas kepada anak 19:51 orang tuanya dikasih tahu nih di grup. 19:54 Ayah, Bunda, ada tugas untuk 19:56 anak-anaknya. Mohon diperhatikan seperti 19:58 ini. Kemudian 20:01 sekarang ini kan lazim ya, ada grup 20:04 parent atau orang tua, ada gurunya untuk 20:07 memastikan bahwa anak ini menerima apa 20:09 yang disuruh kerjakan di sekolah dan 20:11 di-assist di rumah sehingga orang tua 20:13 bisa bersama-sama mendampingi 20:16 anak-anaknya belajar. Saya kira itu 20:19 masih 20:20 sejauh itu masih memungkinkan, masih oke 20:24 karena memang 20:26 cara kita berkomunikasi dengan guru juga 20:28 sudah berubah ya. Kalau zaman dulu kita 20:30 pasrah nungguin masa terima raport gitu 20:33 atau 20:34 nungguin undangan parent teacher 20:35 meeting. Kalau sekarang guru bisa 20:36 diakses kapanpun karena 20:39 anytime bisa di bisa di bisa diakses 20:42 melalui 20:44 apa WA ataupun SMS. 20:46 Tapi kalau minta perhatian khusus 20:49 itu harus ada kesepakatan-kesepakatan 20:51 antara guru dengan orang tua yang 20:53 barangkali memang anaknya ada kebutuhan 20:55 khususnya juga. Kalau memang ada seperti 20:57 itu 20:58 saya kira guru juga sudah dibekali 21:01 dengan ilmu, dengan skill untuk bisa 21:05 melihat kebutuhan tersebut terpenuhi dan 21:07 memang tugasnya guru tugasnya guru punya 21:10 report dan punya target bahwa setiap 21:12 anak meskipun targetnya berbeda-beda 21:14 tapi target itu terpenuhi. Komunikasi 21:16 secara khusus itu memungkinkan tetapi 21:18 apabila orang tua yang memang secara 21:20 khusus minta anaknya diperhatikan secara 21:22 khusus itu pasti merepotkan sekali 21:23 karena 21:24 [tertawa] 21:24 guru itu 21:26 bikin laporan juga setiap hari, bikin 21:28 rencana pengajaran juga setiap hari, 21:31 belum lagi dia di rumah juga punya anak, 21:32 punya keluarga yang mungkin harus dia 21:35 urus 21:36 jam kerjanya selesai ya dia urusan 21:38 dengan keluarganya sendiri gitu itu juga 21:40 kan pekerjaan yang harus dia selesaikan 21:42 juga 21:43 di luar jam kerjanya dia gitu. 21:45 Untuk minta perhatian khusus saya kira 21:47 ada batasannya kalau memang itu 21:50 memang anak-anak dengan kebutuhan khusus 21:52 pasti gurunya memahami tapi kalau ada 21:55 orang tua yang memang insist banget 21:57 khawatir anaknya enggak eksis enggak 21:59 enggak punya prestasi gitu 22:01 enggak usah buru-buru lah anak waktunya 22:04 masih panjang gitu ya insyaallah akan 22:05 ada masa di mana 22:08 dia 22:09 dia kelihatan bakatnya kelihatan 22:12 kelebihannya enggak enggak perlu kita 22:14 paksakan buru-buru. 22:16 Oke, gimana Not masih di acara Tamokin 22:18 kita di mana kami menghadirkan Dokter 22:22 Konita Basalama beliau adalah dosen 22:25 di Unas. 22:27 Kita bicara soal pendidikan nih 22:29 seluk-beluk pendidikan memilih sekolah 22:31 memilih masa depan nilai keluarga 22:34 identitas dan hanya 22:36 dan budaya bersekolah. 22:39 Ini dari Fajar di Bekasi. 22:42 Assalamualaikum Mbak Konita. 22:45 Cara kita agar tidak salah memilih 22:47 sekolah yang baik untuk anak seperti apa 22:49 karena banyak sekali berita yang beredar 22:51 kasus bully di sekolah bahkan ada yang 22:54 sampai meninggal karena biasanya sekolah 22:56 akan memberikan imis 22:58 sisi baiknya tapi kita tidak tahu saat 23:00 nanti anak sudah masuk ke sekolah 23:03 tersebut sampai lulus. 23:06 Dari Fajar? 23:08 Eh, terima kasih Mas Fajar. 23:10 Eh, ini concern-nya banyak orang hari 23:12 ini ya, Pak Krisna. Kita turut berduka 23:15 dengan eh kasus bullying yang sampai 23:17 meninggal itu. And nih, semua kasus 23:19 bullying kita berduka. 23:20 Hmm. 23:21 Eh, sampai meninggal ini nih benar-benar 23:22 pukulan luar biasa buat dunia 23:24 pendidikan. Karena seharusnya sekolah 23:27 jadi tempat yang aman. Seharusnya 23:28 sekolah adalah tempat aman buat anak 23:31 pergi, anak bermain, anak belajar, dan 23:33 orang tua menitipkan. Tetapi dengan 23:35 ancaman-ancaman eh kasus bullying, orang 23:38 tua jadi berpikir dua kali ketika 23:40 memilih sekolah. Dia harus milih yang 23:41 seperti apa lagi gitu ya. 23:43 Eh, pertama 23:45 eh kita jangan cari sekolah yang yang 23:48 steril dari masalah. 23:49 Hmm. 23:50 Tetapi sekolah yang bisa menyelesaikan 23:51 masalah. 23:52 Hmm. 23:52 Dan dia tidak harus menutup-nutupi 23:54 ketika ada masalah, tetapi dia justru 23:56 menunjukkan bagaimana step-step-nya 23:58 menyelesaikan masalah. Kasus bullying 24:00 itu itu eh baik mikro maupun makro, 24:03 bullying itu eh akan kita temukan. 24:05 Hmm. 24:06 Eh, baik eh dari mulai verbal bullying, 24:09 dikatain, di-label, itu semuanya verbal 24:12 bullying. Tapi bagaimana sekolah 24:14 tersebut mengatasi masalah-masalah baik 24:16 mikro maupun eh makro bullying itu. 24:18 Eh, makro bullying itu ya sampai 24:20 berantem, sampai physical gitu ya, 24:22 sampai eh dibutuhkan penanganan khusus 24:24 terkait fisiknya. Eh, eh sampai di 24:27 maupun fisik maupun mentalnya gitu ya. 24:30 Tetapi dari mulai bullying ketika eh 24:32 sekolah itu punya SOP terhadap 24:35 penanganan masalah, saya kira itu 24:37 sekolah yang sudah ahlinya yang eh layak 24:39 didukung. 24:41 Hmm, oke. 24:42 Jadi, eh prinsipnya sekolahnya 24:44 nutup-nutupin masalah atau dia tahu cara 24:46 menyelesaikan masalah. 24:47 Karena itu yang direkam oleh anak. 24:50 Hmm. 24:50 Bukan itu bukan tempat itu jadi tempat 24:52 anak belajar menyelesaikan masalah. 24:54 Hmm. 24:55 Itu budaya menyelesaikan masalah, bukan 24:58 budaya lari dari masalah. Anak itu 25:00 ketika dapat masalah 25:01 eee 25:03 dia melawan atau dia lari, kan enggak 25:06 enggak bisa seperti itu. Skill 25:07 menyelesaikan masalah itu yang menjadi 25:10 eee kunci kemandirian anak di masa 25:12 depan. Mampu menyelesaikan masalah atau 25:14 enggak? Itu dimulai dari sekolah 25:16 memberikan contoh dalam everyday 25:18 life-nya. 25:19 Oke. 25:21 Assalamualaikum, Mbak Konita. Kalau saya 25:23 dari dengar dari uraian Mbak Konita, 25:26 kelihatannya sekolah-sekolah yang 25:27 disampaikan tadi sekolah-sekolah elit, 25:29 ya. Bagaimana dengan sekolah negeri yang 25:33 kadang-kadang 25:35 muridnya terdiri berbagai macam profesi 25:38 ayahnya. 25:42 Eee sekolah 25:44 penelitian saya kebetulan eee bukan di 25:46 sekolah elit, ya, eee Pak Krisna, gitu. 25:49 Eee tapi it's okay. Eee kita kita harus 25:51 melihatnya sebagai kita kita put on 25:54 table, kita pakai kita semua eee 25:56 letakkan di meja, kita perlakukan secara 25:58 sama rata, baik sekolah elit maupun 26:00 tidak, tapi dia punya PR untuk 26:02 menyelesaikan sekolah menyelesaikan 26:03 masalah yang sama. 26:04 Itu persamaan, ya. 26:05 Iya. Kalau di sekolah yang eee 26:09 dikatakan elit atau sekolah yang memang 26:11 punya model seleksi yang lebih eee 26:14 ketat, biasanya baik anak maupun orang 26:16 tua itu memang sudah diseleksi lebih 26:18 dulu. Tapi ketika anak yang eee sekolah 26:21 yang quote unquote eee tidak favorit, 26:23 mungkin tadi maksudnya bukan elit kali 26:25 ya, favorit atau tidak favorit, gitu ya. 26:27 Eee 26:29 orang tua menjadi punya PR eee orang tua 26:33 jadi punya pekerjaan tambahan untuk 26:34 memastikan bahwa anaknya berada di 26:37 lingkungan yang aman. Eee orang tua yang 26:39 menuntut agar eee lingkungan sekolah itu 26:41 selalu aman, ini menjadi eee salah satu 26:44 dari eee trias atau triangulasi 26:46 stakeholder sekolah. Eee yang saya 26:48 maksud di sini adalah bahwa sekolah itu 26:50 isinya bukan guru anak saja loh, isinya 26:53 ada orang tua. 26:53 Mmm. 26:54 Stakeholder atau pemegang saham 26:55 terbesarnya juga sesungguhnya orang tua. 26:58 Anak datang ke sekolah itu bukan eh 27:01 value free, tapi dia sudah membawa value 27:02 dari rumah. 27:05 Anak eh sekolah itu bukan tempat yang 27:07 netral juga. 27:08 Mmm. 27:09 Sekolah itu sudah punya eh nilai atau 27:11 sudah punya rancangan yang dirumuskan 27:13 dalam kurikulum, tetapi ada hal-hal lain 27:15 yang namanya hidden kurikulum. Nah, ini 27:18 yang yang harusnya diperhatikan orang 27:20 tua ketika memilih eh sekolah bukan 27:22 hanya kurikulumnya, tapi apa yang 27:23 hidden, apa yang enggak kelihatan, 27:25 tetapi itu muncul dalam keseharian. 27:28 Orang tua yang tidak eh yang tadi yang 27:31 dimaksud elit ataupun tidak elit atau 27:33 favorit atau tidak favorit mungkin saya 27:35 enggak punya pilihan untuk masukin anak 27:37 saya sekolah kecuali di sekolah yang A 27:39 Mmm. 27:39 yang memang tidak favorit, yang dekat 27:41 dari rumah, yang penting anak sekolah 27:43 dulu, kan seperti itu ya. 27:44 Eh saya tidak mena 27:46 Tapi dia tetap ingin menghasilkan 27:48 anak yang berkualitas gitu. 27:50 Mmm. 27:50 Pendidikan di rumah menjadi sesuatu yang 27:53 eh artinya fungsi keluarga itu harus 27:55 kuat. 27:56 Mmm. 27:56 Kalau keluar dimulai dengan eh anak-anak 27:59 yang eh hasil dari disfungsi keluarga, 28:01 artinya bagaimana value yang disampaikan 28:04 orang tua, bonding dengan orang tua 28:05 enggak kuat, dia masuk ke sekolah juga 28:07 dia cuma jadi bagian dari masalah. 28:09 Mmm, oke. 28:10 Jadi, eh di manapun anak kita 28:12 bersekolah, kalau kita sudah cukup eh 28:15 bawa eh value atau fungsi berasal dari 28:17 keluarga yang berfungsi dengan baik, 28:19 saya kira anak itu akan lebih terbuka 28:21 ketika menyampaikan masalah, ada masalah 28:23 atau tidak disampaikan secara lebih eh 28:26 terbuka dan baik gitu ya. Anak enggak 28:28 tahu-tahu mengurung diri gitu ya. Eh 28:30 orang tua juga enggak eh enggak 28:32 tahu-tahu eh masalahnya sudah panjang 28:34 baru ketahuan gitu ya, tapi komunikasi 28:36 yang baik saya kira eh ini eh salah satu 28:39 kata kunci dalam kesuksesan 28:42 eh pendidikan anak. 28:44 Oke, dari Ibu Tuty. 28:47 Eee, Mbak Wanita, bagaimana 28:51 anak-anak 28:52 yang punya bakat masing-masing antara 28:55 teman satu dengan lain tuh bakatnya 28:57 beda-beda. Apakah sekolah harus 28:59 mengkhususkan 29:00 satu dengan lainnya karena dia punya 29:03 bakat-bakat tertentu tiap anak lain-lain 29:05 gitu. 29:08 Ini menjadi eee salah satu alasan kita 29:12 memilih sekolah gitu ya, Pak Krisna. 29:15 Ketika kita sudah mengenali bakat anak 29:17 kita dari kecil 29:18 ketika kita sudah mengenali bakat anak 29:20 kita sebelum dia bersekolah tentu saja 29:23 kita memasukkan dia ke sekolah yang bisa 29:25 bukan hanya bukan hanya difasilitasi 29:28 oleh sekolah tapi sekolah 29:30 eee bisa memberikan ruang untuk bakat 29:32 itu tumbuh enggak harus di sekolah itu 29:33 sendiri. Jadi misalnya dia jago memanah 29:37 atau jago menyanyi misalnya sekolahnya 29:39 enggak punya ekskul menyanyi, sekolahnya 29:41 enggak punya ekskul memanah misalnya 29:42 tetapi sekolah tersebut dia jangan di 29:44 sekolah lain ke yang full day yang 29:46 anaknya juga enggak bisa punya aktivitas 29:47 di luar sesudahnya. 29:49 Tapi ini menjadi jangan segalanya 29:51 diserahin ke sekolah juga ya. Kalau 29:52 ketika orang tua mau masukin anak ke 29:55 sekolah dan tidak ada tempat untuk 29:57 menampung bakatnya yang memang sudah 29:59 dikenali seperti tadi menyanyi atau 30:00 menjadi atlet eee 30:03 saran saya sekolahnya jangan yang eee 30:06 full dan tidak memberikan ruang untuk 30:08 anak-anaknya berkembang sesuai dengan 30:11 bakat yang sudah ada sebelumnya. 30:13 Misalnya dia dipilihkan sekolah yang dia 30:15 tetap bisa les sesuai dengan bakatnya. 30:17 Tapi itu eee bukan menjadi tanggung 30:19 jawab orang tua. 30:20 Itu kembali lagi eee relasi antara anak 30:23 dengan orang tua. Belum tentu juga 30:25 anaknya enggak menikmati sekolahnya. 30:27 Jangan dipaksakan juga dia mau enggak 30:29 mau ikut apa maunya orang tua gitu kan. 30:32 Oke, terus siapa lagi nih? 30:35 Eee 30:38 Assalamualaikum, Mbak Dita di Bogor. 30:41 Sekolah mahal itu apakah sudah menjamin 30:43 sekolah itu terbaik untuk anak kita? 30:46 Dari Ibu Dita di Bogor. 30:51 Sekolah mahal? 30:53 Enggak. 30:54 Enggak? 30:54 Enggak, enggak pernah. 30:56 Itu tidak berbanding lurus dengan berapa 30:59 yang kita keluarkan. Effort itu bukan 31:00 selalu tentang uang. 31:02 Mmm. 31:02 Effort itu tentang bagaimana kita 31:03 memilih, bagaimana kita eee eee effort 31:08 kita tuh tidak berbanding lurus dengan 31:09 uang yang kita keluarkan. 31:11 Effort kita nih bukan masalah berapa, 31:13 berapa rupiah atau berapa dolar yang 31:14 kita kirim ke luar negeri untuk 31:16 menyekolahkan di sekolah terbaik, 31:17 enggak. 31:18 Tapi effort kita bagaimana kita eee 31:20 sebelum anak ini bersekolah, dia sudah 31:22 punya value, dia sudah cukup kuat untuk 31:25 ketika dia masuk sekolah eee dia bisa 31:28 memilih teman, itu kan penting sekali 31:30 ya. 31:30 Dia bisa eee tahu ke dia dalam keadaan 31:33 bahaya, itu juga penting sekali. Eee dia 31:36 tahu eee dia dia bisa mengkomunikasikan 31:38 apa yang dia dapat di sekolah dengan 31:40 orang tuanya. Itu kan fungsi keluarga 31:42 berperan sebelum dia masuk ke sekolah. 31:44 Mmm. 31:45 Jadi apakah sekolah yang eee mahal itu 31:48 menjamin eee 31:51 eee output gitu ya atau luaran? Enggak, 31:54 enggak sama sekali. 31:56 Luaran itu eee bisa kita kawal menjadi 31:59 yang terbaik apabila memang effort kita 32:02 yang effort kita eee kita kita tidak 32:04 menyerahkan anak begitu saja ke sekolah. 32:06 Mmm. 32:07 Dia bukan pabrik. Sekolah itu enggak 32:10 bukan pabrikasi anak saleh atau 32:11 pabrikasi anak pintar. 32:13 Mmm. 32:13 Sekolah itu fasilitas, ada kurikulum. 32:16 Kita sepakat atau tidak dengan 32:17 kurikulumnya, value-nya sama dengan kita 32:19 atau tidak. 32:19 Mmm. 32:21 Kurikulumnya itu 32:23 diberikan ketika 32:26 daftar bisa enggak artinya si orang tua 32:27 lihat kurikulumnya apa saja, boleh 32:29 enggak? 32:29 Kurikulum yang tertulis bisa. 32:31 Bisa? 32:31 Bisa. 32:32 Mmm. 32:32 Ada eee ada eee kurik ekstrakurikuler 32:35 apa, intrakurikuler seperti apa 32:37 pelajarannya. Kita bahkan bisa tanya 32:40 persentase 32:41 eh pelajaran-pelajaran itu seberapa 32:44 banyak pelajaran agama, bahasa Inggris 32:46 atau bahasa asing lainnya, pelajaran 32:49 adakah 32:50 apa 32:51 pelajaran tambahan untuk anak-anak yang 32:53 memang berbakat atau untuk diikutkan 32:55 olimpiade 32:56 atau 32:57 apa 32:58 persentase pelajaran olahraga, 33:00 ekstrakurikuler olahraga, itu semua 33:01 haknya orang tua untuk bertanya. Tetapi 33:04 itu kan kurikulum, sesuatu yang 33:06 tertulis, sesuatu yang bisa diakses 33:07 kapan saja. Tapi kalau hidden kurikulum 33:10 atau kurikulum yang diimajinasikan, yang 33:12 belum dikomunikasikan berupa value, 33:15 berupa luaran yang nanti dihasilkan, itu 33:18 eh kepekaan dan ketajaman orang tua 33:21 dalam melihat realitas di lapangan, ini 33:23 yang eh 33:25 harusnya kita latih dan kita perhatikan 33:27 sejak awal memilih sekolah untuk anak. 33:30 Oke, masih bersama Dokter Konita 33:34 Basalama. 33:36 Eh, Mbak Konita mau tanya. 33:39 Apa yang harus ditanaman ditanamkan guru 33:42 kepada anak-anak didik agar anak-anak 33:47 saling sayang menyayangi antara sesama 33:49 teman. 33:51 Ini pertanyaannya dari guru kali ya. 33:53 Eh, kali ya. 33:55 Apa yang ditanamkan oleh guru? 33:57 atau Bu Lina ini. 33:58 Eh, mungkin mungkin juga. 34:00 Eh 34:01 Pak Krisna tahu ini ya, ini bahasanya 34:04 bahasa lucu-lucuan aja, monkey 34:06 [berdehem] see, monkey do. 34:07 Eh, monkey see, monkey do, apa itu? 34:10 Anak itu eh peniru ulung. 34:13 Oh. 34:14 Anak itu copycat, copy paste ulung loh. 34:19 Apa yang dia lihat dalam kehidupan 34:21 sehari-hari di sekolah apa yang dia 34:24 lihat kehidupan sehari-hari di rumah 34:26 itulah menjadi praktik sosialnya dia di 34:29 peer ataupun di lingkungan 34:30 pertemanannya. 34:32 Jadi dimulai dengan kasih sayang di 34:34 rumah, dimulai dari guru 34:37 dia mencontoh dan dia akan mempraktekkan 34:40 tentu saja akan diuji gitu ya kalau saya 34:43 sayang teman saya disayang balik apa 34:44 enggak dan itu pentingnya guru-guru 34:46 menjadi pengawas, guru-guru eee apa eee 34:52 menyatakan mana yang boleh mana yang 34:53 enggak, batasan kasih sayang kan juga 34:55 ada ya seberapa jauh jangan tiba-tiba 34:57 anak TK gitu umur 3 4 tahun lucu-lucuan 35:00 tetapi main cium gitu kan ih so cute 35:03 dicubit-cubit 35:04 [tertawa] 35:04 gitu karena mungkin so cute-nya di rumah 35:07 biasanya kayak gitu dicubit-cubit gitu 35:08 atau enggak dicium gitu itu kan juga 35:10 harus ada batasan-batasan yang diawasi 35:13 oleh guru sejak dini. 35:15 Jadi, eee 35:17 bagaimana strateginya itu dia balik lagi 35:19 ke bahasa yang lucu tadi monkey see 35:21 monkey do anak itu mempraktekkan apa 35:23 yang dia lihat 35:24 tindakan sosial itu dimulai dari 35:26 imitasi. 35:28 Pak Konita dulu ketika kami bersekolah 35:31 ada istilah guru killer, dosen killer, 35:34 semua serba killer. Kalau sekarang masih 35:37 musim enggak yang killer-killer ini? 35:39 Apakah si orang tua boleh mengadu kepada 35:41 kepala sekolahnya? Kami 35:44 kurang berkenan dengan 35:46 Ibu yang killer ini atau Bapak yang 35:48 killer itu. 35:49 Kalau dosen killer masih Pak Krisna 35:51 masih masih banget. 35:53 Ah, guru killer eee 35:56 Udah enggak ada kayaknya kayak gitu ya? 35:58 Saya enggak pernah dengar guru killer. 35:59 [tertawa] 36:01 Eee oh kalau dulu tuh kan istilahnya 36:04 lebih seru lagi kali ya ada 36:07 eee apa ya dulu ya? 36:09 Dulu kan punya julukan ya guru-guru itu 36:11 enggak cuma killer gitu. 36:13 Eee 36:16 selama eee apa yang dimaksud dengan 36:18 killer ini kan harus diverifikasi ya. 36:21 Eee anak bisa biasa disampaikan dengan 36:24 perkataan baik tiba-tiba dapat suara 36:26 tinggi sedikit atau enggak ee 36:29 pekerjaan-pekerjaan rumah yang di luar 36:31 dari kurikulum yang sudah disepakati itu 36:33 men dijadikan bagian dari hukuman 36:35 misalnya ee orang tua enggak terima 36:37 anaknya ketakutan gitu ya ee stres 36:40 belajar itu sampai sekarang masih ada 36:42 Pak Pak Krisna meskipun dalam lingkungan 36:44 sekolah ramah anak gitu ya, tapi stres 36:46 belajar itu masih ee sangat ee kita 36:49 masih-masih terima banyak kasus stres 36:51 belajar ee yang yang diterima oleh anak 36:53 gitu ya 36:54 ee apa yang harus dilakukan 36:57 Ibu kembali kepada coba baca aturan gitu 36:59 ya, coba baca apakah yang dilakukan oleh 37:02 guru itu masih termasuk masih masih 37:04 dalam koridor aturan sekolah, masih 37:06 dalam aturan yang disepakati karena 37:08 ee 37:10 ee kontrak belajar itu kan ada ya di 37:12 depan ya, kontrak belajar apabila 37:14 biasanya ada buku panduan kepantasan 37:16 atau ee panduan ee tindak-tanduk ee 37:20 murid nah apabila dia masih dalam 37:22 koridor kepantasan tersebut dan ternyata 37:24 dia melanggar dan ditegur nah kita juga 37:27 harus tahu caranya tapi 37:28 enggak serta-merta kita buru-buru ngecap 37:31 seorang itu galak karena yang galak itu 37:33 dibutuhkan juga ya untuk memastikan 37:35 aturan itu jalan gitu kan, apalagi di 37:37 sekolah 37:38 ee karakter anak juga beda-beda ada yang 37:40 harus bicaranya kita lebih keras, ada 37:42 yang bicaranya harus lebih lembut ini ee 37:44 kembali lagi tapi prinsipnya adalah hak 37:47 orang tua untuk memverifikasi dan 37:49 apabila memang tidak bisa diselesaikan 37:51 dalam lingkungan ee kelas ataupun ee 37:54 hubungan personal tentu saja harus 37:55 disampaikan ke tingkat yang lebih tinggi 37:57 atau ee pengawas atau supervisornya ya 38:00 mungkin kepala sekolah 38:02 oke 38:05 Mbak Konita mau tanya Mbak Nita setuju 38:07 enggak ada istilah tidak naik tidak naik 38:09 kelas atau naik kelas jadi ada ee 38:13 sekolah yang tidak ada istilah tidak 38:15 naik kelas semua naik kelas atau 38:18 kalau memang masih kurang boleh tidak 38:20 naik kelas Mbak ee 38:22 Konita 38:23 pilih yang mana? 38:26 Eh, pertama eh kalau saya prinsip 38:28 keadilan dulu. 38:29 Enggak semua eh siswa ini 38:33 eh kalau saya sebagai dosen enggak semua 38:35 bisa dapat C. 38:36 Ada yang harus dapat D. 38:38 Oh, gitu ya. 38:38 Karena effort-nya yang dapat A, B, C 38:41 enggak eh eh yang D ini enggak akan sama 38:43 dengan effort yang eh A, B, C gitu ya. 38:46 Dan ketika anak ini yang memang eh 38:52 ini saya saya khawatir gitu ini enggak 38:54 bisa saya jawab secara umum atau secara 38:55 general, tapi saya pribadi sebagai dosen 38:58 saya tidak serta merta meluluskan 100% 39:00 mahasiswa saya. Karena saya eh prinsip 39:03 keadilan tersebut. Yang nilainya A, B, C 39:06 dengan nilainya eh dan effort-nya 39:07 berbeda itu enggak bisa saya eh maka 39:09 saya tidak adil dengan yang effort-nya 39:11 luar biasa. 39:12 Tapi kalau konteksnya sekolah, saya kira 39:14 ini kembali ke aturan, kembali ke eh 39:17 kesepakatan. Kalau memang dari awal 39:20 sekolah ini sudah berjanji tidak ada 39:21 yang tidak naik kelas, maka ketika ada 39:24 kasus tidak naik kelas, eh tentu saja 39:26 ini akan mengecewakan orang tua. 39:28 Eh tetapi saya sendiri praktek saya, 39:31 praktek saya, saya tidak meluluskan juga 39:33 itu itu tetap saya kerjakan. 39:35 Eh kalau eh tidak meluluskan artinya dia 39:38 harus mengulang mata kuliah tapi tidak 39:39 tinggal kelas sepenuhnya kan ya kalau 39:41 konteksnya mata kuliah, tapi 39:43 eh saya kira eh apa yang harus kita 39:47 pahami, apa yang harus kita sepakati 39:49 ketika satu sekolah ini punya aturan 39:52 tidak meluluskan, dia eh mungkin eh 39:55 konteksnya adalah sedang memastikan 39:57 bahwa yang effort-nya eh yang effort-nya 39:59 sudah sesuai dengan ekspektasi ini ada 40:01 ada penghargaannya. Enggak bisa dihargai 40:03 sama. 40:05 Oke, dari Ibu Yeyen di Pamulang. 40:08 Eh Mbak Konita mau tanya kenapa kalau 40:10 ngambil raport ya rata-rata ngambil 40:12 raport ibunya bukan bapaknya? 40:16 Gitu aja tuh pertanyaannya. 40:19 Masih ya kayak gitu ya. 40:22 Iya sih, eh rasanya urusan anak tuh 40:25 domestik aja gitu ya. Rasanya urusan 40:27 anak tuh ibunya semuanya gitu. 40:29 Eh. 40:32 Ini harus disurvey juga kali ya. Ini 40:34 jawabannya enggak bisa enggak bisa 40:36 kurang lebih nih Bu. Kenapa kenapa 40:39 kenapa ya? Pak Krisna kenapa nih Pak? 40:41 Ya bapaknya mungkin 40:42 jam kerja kan. 40:44 jam kerja. Kalau umpamanya weekend pun 40:46 biasanya bareng ya atau ada sekolah yang 40:48 memang sudah require kedua orang tua 40:50 hadir untuk ngambil sekolah. Saya kira 40:52 ini bisa disiasati seperti itu ya. 40:54 Memang 40:55 eh sekolahnya mengundang kedua orang tua 40:57 dan di akhir pekan dan 40:59 terima raport juga jangan sehari lah 41:00 sekolah-sekolah nih. Bikinlah eh dua 41:03 atau tiga hari dijadwal. Pastikan bahwa 41:06 kedua orang tua hadir. Ini kan mungkin 41:08 salah satu pemikiran saya sendiri ya. Eh 41:11 agak out of the box tapi enggak perlu 41:14 lah ambil raport itu hanya dalam satu 41:15 hari. 41:17 Bisa lah dalam dalam dua atau tiga hari 41:19 dijadwal sehingga 41:21 eh komunikasi itu lebih intens antara 41:23 kedua orang tua dengan 41:25 eh gurunya. 41:27 Ehm. 41:29 Ibu Konita saya pernah punya pengalaman 41:32 anak saya dapat sekolah dapat membuat 41:34 prakarya yang sulit untuk ukuran SD dia 41:37 kerjakan. Kami orang tua ikut 41:39 membantunya. Bagaimana ini? 41:42 Eh. 41:44 Ketika kita memberikan tugas kepada eh 41:46 konteksnya ini mahasiswa lagi. Ada tugas 41:48 yang bisa dikerjakan secara individu, 41:50 ada kerja tugas yang harus dikerjakan 41:52 secara berkelompok. Misalnya memang 41:54 waktunya pendek dan task-nya itu cukup 41:56 banyak, eh area yang harus di-cover 41:59 cukup besar, kita eh menginstruksikan 42:01 agar membuat kelompok dulu. Nah, 42:04 tugas-tugas yang diberikan oleh guru 42:05 sekolah itu sifatnya bukan melatih skill 42:08 anak eh bagaimana dia menginterpretasi 42:10 tugas tapi juga kita ingin agar eh anak 42:13 ini punya bonding dengan orang tua. Anak 42:16 ini punya kerja sama, ada ada komunikasi 42:18 yang efektif di di 42:20 di rumahnya sehingga 42:22 eh pertama anak ini harus harus punya 42:25 keberanian untuk menyampaikan kepada 42:26 orang tua bahwa dia butuh bantuan. 42:28 Ibunya atau bapaknya jangan dikit-dikit 42:30 gitu aja enggak bisa, kan enggak bisa 42:32 kayak gitu juga gitu karena memang 42:34 secara sengaja tugas itu dibikin agar 42:37 anak itu membawa pulang satu eh problem 42:40 untuk di-solve gitu loh. Jadi memang ada 42:42 komunikasi antara anak dengan orang tua 42:45 untuk sama-sama 42:47 eh saya saya enggak enggak enggak 42:49 kemudian ketika anak ini minta bantuan, 42:51 anak ini punya masalah, enggak. Justru 42:53 minta bantuan bisa mengelola apa yang 42:55 dia butuhkan itu skill tersendiri. 42:58 Oke, kemudian dari Bapak Yanto, seberapa 43:01 besar peran keluarga dalam menentukan 43:04 karakter anak dibanding dengan pengaruh 43:06 sekolah dan teman sebaya. 43:10 Eh 43:11 pendidikan pertama itu adanya di rumah. 43:14 Hmm. 43:15 Pendidikan pertama sebelum dia TK, 43:17 sebelum dia eh makanya kan karakter anak 43:20 ya miripnya dengan orang tuanya kan 43:22 bukan dengan 43:24 bukan dengan gurunya. 43:26 Hmm. 43:26 Eh 43:27 dia belajar value, dia menerima 43:29 sosialisasi pertama itu tuh dari 43:31 keluarganya. 43:32 Hmm. 43:33 Sebelum dia sekolah, dia sudah bawa 43:34 value. 43:36 Dia sudah punya value. 43:37 Sebelum dia sampai ke sekolah, sebelum 43:39 orang tuanya memilihkan sekolah, fungsi 43:42 keluarga itu yang harus di diselesaikan. 43:45 Kalau ada anak yang kemudian bermasalah 43:47 di sekolah bukan fungsi anaknya yang 43:48 masalah tapi fungsi keluarga yang harus 43:50 diperiksa. 43:51 Apakah keluarganya sudah berfungsi 43:52 dengan eh sesuai dengan 43:55 eh apa harapan, sesuai dengan hak-hak 43:59 anaknya atau belum. 44:00 Hmm oke. 44:02 Ibu Yayi, eh 44:05 Mbak Konita, bagaimana jika nilai-nilai 44:07 yang ditanamkan keluarga bertentangan 44:10 dengan budaya dan kebiasaan yang 44:12 berkembang di sekolah? 44:14 Ini pentingnya periksa value sekolah 44:16 sebelum masukin anak ke sekolah. 44:19 Ketika kita kecewa dengan cara sekolah 44:21 menyelesaikan masalah 44:23 dan kita tidak berbuat apa-apa, itu anak 44:24 stres loh. 44:26 Eh, enggak semua orang tua kemudian 44:28 punya privilege untuk bisa ngeluarin 44:30 anak dan mindahin anaknya. Maka dari itu 44:32 sekolah itu 44:34 eh sekolah itu bukan dapat gelar, bukan 44:37 dapat ilmu di di kelas aja, tetapi 44:40 sekolah itu modal sosial. 44:42 Mmm. 44:42 Sekolah itu proses sosial. Ketika kita 44:45 ngasih modal, kita enggak boleh salah 44:46 hitung dong. 44:49 Eh, perhatikan betul anak itu akan dapat 44:51 modal apa ketika dia akan bersekolah. 44:53 Value-nya harus sejalan dengan value di 44:55 rumah. 44:56 Kalau udah eh 44:58 kalau udah salah gimana gitu kan? Ya, 45:00 saya enggak enggak enggak enggak bisa eh 45:03 bilang ke orang tua bahwa 45:05 eh 45:06 eh apa Anda eh ketika Anda sudah riset, 45:08 Anda enggak mungkin salah, enggak. 45:10 Mmm. 45:10 Tetapi interpretasi masih ada masih ada 45:12 ruang untuk eh misinterpretasi gitu ya. 45:16 Eh, apa yang bisa kita lakukan? 45:18 Komunikasi sih pertama. 45:20 Komunikasikan dengan sekolah atau 45:21 komunikasikan dengan anak apa sebetulnya 45:23 yang menjadi ganjelan, apa yang 45:25 sebetulnya 45:26 eh apa yang apa yang kita butuh 45:28 penjelasan gitu ya dari sekolah maupun 45:29 dari anak. 45:31 Oke, selanjutnya dari Bapak Indra. 45:34 Eh, Mbak Konita 45:35 di tengah globalisasi dan pengaruh media 45:37 sosial, bagaimana sekolah menjaga 45:39 identitas budaya, nilai agama, dan jati 45:42 diri anak tanpa menutup diri terhadap 45:45 kemajuan zaman? 45:46 Pak Indra. 45:47 Ini eh kayaknya cita-cita ataupun jargon 45:51 semua sekolah ya. 45:52 Eh, bahwa siap mengikuti perkembangan 45:55 zaman tanpa ketinggalan jati diri eh 45:57 tanpa kehilangan jati diri gitu kan. Ini 45:59 eh saya tidak doubt, saya tidak 46:01 meragukan bahwa sebetulnya setiap orang 46:03 tua ataupun setiap eh, anak eh, setiap 46:06 eh, sekolah punya cita-cita seperti itu 46:08 gitu ya, sesuai dengan perkembangan 46:10 zaman, skill-nya sesuai dengan kebutuhan 46:13 lapangan kerja, skill-nya sesuai dengan 46:16 eh, perkembangan eh, apa? Eh, 46:19 kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan 46:21 dan karakternya tetap strong gitu kan, 46:23 ini saya kira ini yang dijanjikan oleh 46:25 semua sekolah gitu. Nah, apa yang harus 46:28 kita periksa untuk memastikan bahwa eh, 46:31 visi-misi itu tercapai? 46:32 He. 46:33 Yang pertama, eh, orang tua enggak terus 46:36 member 46:37 masukin anak ke sekolah, daftarin, 46:39 bayar, terus selesai, enggak. 46:42 Enggak sa- enggak selesai sampai di 46:43 situ. 46:45 Eh, ketika anak pun ketika dapat dia 46:47 dapat pelajaran istilahnya ketika 46:48 download komplit, eh, upgrading terus 46:52 berlangsung gitu kan, kita masih ditagih 46:54 untuk nih, saatnya eh, upgrade, ini 46:57 saatnya upgrade software gitu. Nah, kita 47:00 eh, hubung komu- saya kira kuncinya 47:02 adalah komunikasi antara orang tua, 47:04 sekolah dengan anak yang memastikan 47:06 bahwa value dan cita-cita mereka juga 47:08 tetap eh, tetap sesuai gitu ya, enggak 47:11 enggak kemudian enggak sesuai dengan apa 47:12 yang dijanjikan ataupun yang 47:13 diekspektasi karena ketika kita eh, 47:16 bicara semuanya sesuai, kita punya 47:20 kurikulum di kepala kita atau yang kita 47:21 imajikan atau kurikulum imajiner ini 47:23 tetap jalan, nanti anak saya keluar dari 47:25 sini jadi saleh, jadi cerdas, gampang 47:28 dapat kerja, kan gitu ya. Padahal eh, 47:31 kita 47:33 berimajinasi dan menyerahkan saja 47:35 tanpa ada keterlibatan selanjutnya, 47:36 padahal orang tua juga 47:38 eh, senantiasa memastikan bahwa apa yang 47:40 diperoleh dengan oleh anak di sekolah, 47:42 dia main dengan siapa, kan eh, sekali 47:44 lagi proses belajar itu proses sosial. 47:47 Dan proses sosial itu ruang 47:49 interpretasinya luar biasa, anak itu 47:51 makhluk yang selalu melakukan 47:52 interpretasi tiap hari. Komunikasi yang 47:54 eh, yang baik antara anak dengan orang 47:56 tua itu memastikan bahwa proses 47:58 interpretasi itu berjalan 48:00 eee eee sesuai dengan koridor ataupun 48:03 cita-cita yang memang mereka eee setting 48:05 dari awal. 48:06 Oke. Bolehkah saya minta nomor 48:08 teleponnya Mbak Konita Basalamah? Oh, 48:11 boleh. 48:12 [tertawa] 48:12 Silakan disiapkan pulpen sama kertas. 48:14 Saya akan bacakan nomor telepon dari 48:17 Mbak Dokter Konita Basalamah. 48:21 Nomornya 0812 48:25 Sudah? Kemudian 12 48:27 08 48:30 3333 48:32 nya enam kali. 48:33 6 48:34 0812 12 48:37 08 333 48:40 3 nya tiga kali kemudian 6. 48:44 Eee Mbak Konita 48:47 siapa yang paling bertanggung jawab 48:49 terhadap pembentukan karakter anak? 48:51 Keluarga kah, sekolah atau paling besar 48:53 masyarakat? Bagaimana pembagian tanggung 48:56 jawabnya? 48:58 Eee kita kembali ke 49:01 hit ohnya dulu deh. 49:03 Mmm. 49:04 Bahwa 49:05 dialog di Alquran itu di Alquran itu 49:08 menunjukkan dialog itu antara anak 49:10 dengan orang tua itu 49:12 eee at at dialog a anak dengan guru juga 49:15 ada kan sebetulnya antara Nabi 49:18 eee Khidir gitu kan tetapi 49:20 eee dialog yang terbanyak itu antara 49:23 anak dengan orang tua terutama bapak. 49:25 Jadi itu saja sudah menunjukkan secara 49:27 tersirat bahwa tanggung jawab 49:29 terbesarnya ada di orang tua. Sebelum 49:32 anak ini masuk ke 49:34 sekolah ini kan memfasilitasi 49:37 eee dengan kurikulum-kurikulum tuh 49:39 artinya jalan yang dilalui. 49:41 Jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan 49:43 eee pendidikan gitu. 49:46 Tujuan pendidikan itu yang setting eee 49:48 kita para orang tua sehingga kita 49:50 memilihkan sekolah anak sesuai dengan 49:51 tujuan pendidikan yang kita mau gitu 49:53 atau 49:54 eh yang kita eh setting di rumah. Jadi 49:57 eh kita kembali kembali ke situ dulu. 50:00 Yang paling bertanggung jawab menentukan 50:03 eh karakter ataupun hasil pendidikan itu 50:05 orang tuanya. 50:07 Mmm. 50:08 Eh 50:09 ketika anak ini masuk ke sekolah itu dia 50:11 sedang tidak disubkontrakkan. 50:14 Oh. 50:14 Tetapi ini sedang kerja sama. Memastikan 50:17 bahwa tujuan kita sampai. 50:19 Oke. 50:20 Jadi eh dia bukan lagi dititipin lagi di 50:23 pinjam eh sekolah lagi pinjam enggak. 50:25 Tujuan tetap punyanya orang tua. 50:27 Mmm. 50:28 Bahwa ini eh difasilitasi oleh satu 50:31 lembaga namanya fasilitasi bukan 50:33 kemudian memindahkan tanggung jawab. 50:35 Mmm. 50:36 Jadi eh ini saya kira cara berpikirnya 50:38 kita sepakati dulu nih. Kalau enggak 50:39 sama-sama ini eh beda cerita nih kita 50:42 diskusinya jadi lebih panjang dong Pak 50:44 Han gitu. 50:45 [tertawa] 50:46 Oke Mbak Anita dulu waktu saya sekolah 50:49 saya berangkat sekolah sendiri naik 50:51 kendaraan umum sendiri. Tapi sekarang 50:53 anak-anak dijemput diantar jemput. 50:56 Kira-kira ada pengaruhnya enggak 50:57 terhadap eh kemandirian mereka? 51:00 Eh 51:03 mom eh 51:05 saya pernah baca buku Pak Krisna 51:07 judulnya mendidik anak bersama Nabi. 51:09 Mmm. 51:10 Eh 51:12 karya Muhammad Suwaid. 51:13 Mmm. 51:15 Salah satu momen terbaik berbicara 51:18 dengan anak 51:19 itu adalah ketika rihlah atau dalam 51:22 perjalanan. 51:22 Oh iya iya iya. 51:24 Jadi saya sendiri termasuk yang ngantar 51:26 jemput anak 51:28 eh nganterin itu eh saya sendiri saya 51:30 handling bapaknya atau saya karena itu 51:33 mom salah satu menjadi momen terbaik 51:35 untuk berdiskusi berinteraksi dengan 51:38 anak. Karena perjalanan itu sesuatu yang 51:40 menyenangkan. 51:41 Mmm. 51:42 Ketika makan ketika dalam perjalanan 51:45 atau ketika dia sakit. 51:46 Mmm. 51:47 Itu menjadi momen-momen yang jangan 51:48 sampai dilewatkan. Jadi, eh bukan 51:51 berarti kemudian kita 51:53 melatih kemandirian itu kan enggak cuma 51:55 di jalan ya, tetapi memberikan chores di 51:57 rumah, eh berbagi eh tanggung jawab di 52:00 rumah, nyiram tanaman, cuci piring, eh 52:03 merapikan baju, itu semua modal 52:05 kemandirian gitu kan. 52:07 Eh enggak berarti kita melepaskan anak 52:09 satu-satunya jalan melep- eh men- men- 52:11 mendidik kemandirian adalah dengan 52:13 membiarkan dia di jalan. Padahal di 52:15 jalan itu momen eh yang disunahkan untuk 52:19 banyak banyak eh berdiskusi. 52:21 Nah. 52:22 Jadi, eh apakah kemudian ketika kita 52:25 ngantar jemput anak kemandiriannya jadi 52:26 berkurang? Saya saya percaya tidak. 52:28 Hmm. 52:29 Bahkan ketika kita antar jemput anak itu 52:31 harusnya jadi momen berharga untuk 52:32 bicara. 52:33 Hmm. 52:35 Misalnya, 52:36 eh dari Darda, Mbak Konita. "Saya sering 52:41 bertanya 52:43 setiap anak saya pulang sekolah, tadi 52:44 pelajaran apa? Tadi gimana di sekolah?" 52:46 Enggak pernah dapat jawabannya, "Gitu 52:47 dah, gitu." katanya. "Enggak pernah saya 52:49 ingin dia bercerita tentang bagaimana 52:52 tadi pelajaran. Kok enggak pernah mau 52:54 ya? Gimana ini yang harus saya 52:56 lakukan?" 52:58 Eh 52:59 Ibu siapa tadi 53:01 Bu Darda, eh anaknya laki atau 53:02 perempuan? 53:03 Oh, enggak disebutin. 53:04 ya. Karena memang ada bedanya antara 53:06 anak laki dengan perempuan gitu kan. Eh 53:08 cenderung ceritanya lebih sedikit kalau 53:09 anak laki, kalau anak perempuan tuh eh 53:11 ngobrolnya panjang gitu kan, semuanya 53:14 pengin diceritain gitu. 53:15 Tapi eh 53:17 eh 53:19 yang kedua, ketika dia mungkin 53:21 kelelahan, momen untuk bicara kan enggak 53:23 cuma ketika pulang sekolah gitu Pak 53:25 Krisna, meskipun itu salah satu golden 53:26 momennya. Tapi diajak makan dulu 53:28 mungkin, ketika makan dia lebih 53:30 exciting. Pak Krisna pernah nonton 53:32 Kungfu Panda enggak? 53:33 Iya, iya. 53:33 Eh. Yang pertama nih, Kungfu Panda. Eh 53:37 masternya kan eh bingung gitu caranya 53:39 ngajak eh caranya mengarahkan gimana, 53:41 enggak tahunya dengan makanan 53:42 dia bisa di eh bikin dia bisa 53:46 eh 53:46 eh bisa excel bisa menunjukkan sisi 53:49 terbaiknya ketika dia dikasih makan 53:52 eh ini kan eh itu juga saya oh iya ya 53:55 coba kasih makanan favoritnya bagi eh 53:57 setelah itu mungkin dia bisa 53:58 eh bisa lebih exciting dalam melakukan 54:00 sesuatu ataupun bercerita kepada kita 54:04 oke 54:05 saya akan bacakan lagi nomor telepon 54:07 dokter Konita 54:10 Konita Basalamah beliau adalah dosen di 54:12 Unas ini nomornya 0812 54:16 12 54:18 kemudian 08 54:22 333 tiganya tiga kali enam 0812 54:27 12 08 54:30 333 54:33 enam hmm oke 54:36 eh 54:40 20 tahun mendatang ketika anak-anak kita 54:43 meninggalkan bangku sekolah manusia 54:44 seperti apa yang ingin kita hadirkan 54:46 bagi keluarga masyarakat dan bangsa 54:49 waduh pertanyaannya berat banget ini 54:52 filosofis banget ya 54:53 eh 54:56 dari Bapak Kiki 54:58 iya eh 55:00 Pak Kiki eh saya kira kita sama-sama 55:05 kepengin 55:06 anak kita terjaga 55:08 pertama anak kita terjaga dari eh fitnah 55:11 anak kita terjaga dari eh terjerumus ke 55:14 hal-hal yang kita hindari sama-sama 55:17 eh kita kepengin anak kita bisa 55:18 menyelesaikan masalah secara mandiri 55:21 kita kepengin anak kita helpful eh 55:24 peduli 55:25 eh dengan eh bukan hanya pada bukan 55:27 hanya bisa menyelesaikan masalahnya 55:29 sendiri tapi dia aware dengan masalah di 55:30 sekitarnya dia punya eh kepekaan sosial 55:34 gitu ya 55:35 eh dan terakhir eh bukan terakhir, tapi 55:39 saya kepengin anak-anak itu bisa 55:40 mendoakan kita. 55:41 He em. 55:42 Jadi anak-anak saleh yang bisa 55:43 mendoakan. 55:46 Karena ketika kita enggak ada, 55:48 kita enggak bisa berbuat apa-apa untuk 55:50 eh kecuali kita berharap dari eh dari eh 55:54 pahala yang terus mengalir dari mereka. 55:57 Iya. 55:58 Masih ada waktu? 56:02 2 menit lagi. Enggak satu pertanyaan 56:04 lagi ya. 56:05 Eh, Mbak Konita jika seorang anak 56:08 berprestasi tinggi tetapi tidak jujur 56:11 dan tidak peduli kepada sesama, apakah 56:14 pendidikan yang diterima dapat dikatakan 56:16 berhasil? 56:17 Enggak. 56:18 Enggak. 56:18 Enggak, itu eh maksudnya prestasi apa 56:20 gitu ya jadinya. 56:21 He em, he em. 56:22 Karena eh 56:25 sa karakter itu seperti 56:28 eh value-nya satu gitu ya. Yang lainnya 56:31 tuh nol, nol. Kalau nolnya banyak, kalau 56:33 satunya enggak ada kan sama dengan nol. 56:35 Kalau karakter itu enggak jadi, karakter 56:37 itu dia tidak jujur, dia tidak empati, 56:41 eh dia tidak mandiri, dia tidak terjaga, 56:45 yang lainnya cuma nol gitu. Semuanya 56:46 prestasi-prestasi itu yang kita 56:49 yang mungkin yang maksud dengan prestasi 56:51 itu juara, juara, juara gitu ya. Tapi 56:53 tanpa satu faktor karakter, semuanya 56:56 nolnya enggak terhitung. 56:57 He em, yang penting karakter ini ya. 57:00 Iya. 57:01 Oke, eh 57:03 Mbak Konita seperti kita sudah dibatasi 57:05 oleh 57:06 waktu ya. Ada kesimpulan yang ingin 57:08 disampaikan? 57:10 Silakan. 57:11 Eh, kita sama-sama 57:13 peduli kenapa kita siang ini hadir 57:16 bareng-bareng. Ini eh qadarullah kita eh 57:18 dipertemukan karena kita sama-sama 57:20 peduli 57:21 eh dengan bagaimana 57:24 eh hasil pendidikan anak-anak kita 57:25 depan. Yang pertama kita tawakal. Apapun 57:28 yang sudah kita usahakan, hasilnya eh 57:30 lebih baik dari harapan tentu saja jadi 57:33 mari kita sama-sama saling jaga saling 57:36 berdoa mudah-mudahan anak-anak kita 57:39 senantiasa terjaga dan 57:41 apapun 57:43 yang kita harapkan kita doakan tercapai 57:47 tapi saya ini satu ada satu lagi nih 57:48 kasihan Kak Khadijah ketika saya berada 57:51 di Amerika Serikat di Massachusetts anak 57:54 dari usia dini masuk daycare sampai usia 57:57 balita dimasukkan ke playgroup 57:59 selanjutnya disekolahkan ke SD di rumah 58:01 tetap dibimbing oleh orang tua begitu 58:03 kembali ke Indonesia anak masuk sekolah 58:06 SMP yang baik dan berbahasa Inggris dan 58:09 yang ada IT-nya Islam terpadu 58:13 oh IT Islam terpadu di SMA lalu 58:16 lulus bisa masuk ITB yang penting ada 58:19 komunikasi terus sama orang tua ini anak 58:22 tersebut lulus ITB ketemu jodoh di ITB 58:24 cowoknya lalu menikah kini memiliki dua 58:26 anak dan pasangan lulusan ITB bekerja di 58:29 luar rumah 58:30 anak-anaknya dijaga oleh pengasuh jadi 58:33 pendidikan anak itu sebaiknya harus ada 58:36 komunikasi antara anak dengan orang tua 58:39 orang tua memberitahu mana yang baik dan 58:41 mana yang buruk 58:43 jika jalan di jalan sebaiknya seperti 58:46 apa agar safe jadi mendidik anak harus 58:49 sering berkomunikasi 58:51 dari Bu Ami mungkin ya hanya komentar 58:53 saja atau mau dikomentari lagi 58:55 sepakat Bu meskipun kadang kita perlu 58:58 bantuan meskipun kita 59:00 enggak 59:03 enggak 24 jam gitu ya tapi pertama kita 59:05 minta sama Allah karena penjagaan Allah 59:06 tuh enggak ada batasnya gitu 59:08 sebaik-baiknya penjaga tuh Allah 59:09 kadang-kadang di depan kita juga kalau 59:12 kita jagain 24 jam jatuh-jatuh aja gitu 59:15 kan tapi kalau kita serahkan sama Allah 59:16 insya Allah janji Allah itu pasti Allah 59:19 pasti menjaga sebaik-baiknya penjaga 59:22 saya 59:23 saya kira bekerja atau tidak itu 59:27 kemudian kembali kepada pilihan ataupun 59:30 kebutuhan dan keputusan masing-masing 59:32 pasangan. 59:33 Eee tidak kemudian yang memang 59:36 dua-duanya bekerja mereka tidak punya 59:37 sistem yang memastikan komunikasi dengan 59:41 anak itu berjalan dengan baik. Tadi eee 59:43 sunahnya kita yang bisa saya sampaikan 59:45 atau saya sarankan jangan tinggalkan apa 59:47 yang sudah dipesankan oleh Nabi itu 59:49 tiga, ada tiga waktu terbaik untuk 59:51 berkomunikasi. Di bukunya Muhammad 59:53 Suwaid itu disampaikan ada tiga waktu 59:56 ketika dia 59:57 eee sakit, ketika dalam perjalanan dan 59:59 ketika makan. 1:00:00 sakit ya? 1:00:01 Ketika dia sakit. 1:00:02 Oh. 1:00:02 Ketika dia sakit. 1:00:03 Oke, oke, oke. 1:00:04 Eee ditungguin, dijagain karena memang 1:00:06 itu eee kelekatan atau kemelekatan 1:00:09 antara anak dengan orang tua itu 1:00:10 eee enggak bisa kita 24 jam bersama 1:00:13 tetapi jangan ketinggalan momen itu. 1:00:16 Baik, baik. Terima kasih Mbak Konita, 1:00:19 mudah-mudahan apa yang diuraikan tadi 1:00:20 oleh Mbak Konita bisa jadi inspirasi 1:00:22 untuk kita semuanya dalam mendidik anak. 1:00:25 Ini nomor teleponnya sekali lagi saya 1:00:27 akan bacakan terakhir ya ini ya. 0812 1:00:32 kemudian 12 1:00:34 08 1:00:36 333, 1:00:38 tiganya tiga kali enam. Di WA saja 1:00:40 jangan ngobrol ya. 1:00:41 Di WA saja 0812 12 08333, 1:00:47 tiganya tiga kali enam. Dokter Konita 1:00:50 Basalamah. Terima kasih sekali lagi Mbak 1:00:53 Konita. 1:00:54 Saya Muhammad Krisna, kemudian juga ada 1:00:57 Anggun. 1:00:58 Ada Reva, Siti, Caca, kemudian juga Neza 1:01:03 eee dan Algifar Roji mohon pamit. 1:01:05 Wabillahi taufik walhidayah. 1:01:06 Assalamualaikum warahmatullahi 1:01:07 wabarakatuh. 1:01:08 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:09 wabarakatuh. 1:01:30 Eh.