Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:06 [musik] 0:13 Bismillahirahmanirahim. 0:15 Assalamualaikum warahmatullahi 0:16 wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin 0:19 wassalatu wassalamu ala sayyidina 0:22 Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. 0:25 Rabbi zidni ilman Allahuma fa'ni bima 0:27 alamtani wa alimni ma yanfa'ni warzuqni 0:30 ilman yanfa'ni. Dipancarkan dari Jalan 0:32 Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis 0:35 Cibubur Bekasi, Radio Silaturahim dan 0:38 Rasiltv untuk Islam yang satu. 0:41 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 0:42 subhanahu wa taala, apa kabar Anda di 0:44 malam hari ini? Semoga selalu dalam 0:47 keadaan sehat walafiat di mana saja Anda 0:50 berada yang dapat menyimak siaran kami 0:53 melalui radio Radio Silaturahim maupun 0:56 melalui siaran streaming kami ataupun 0:58 live streaming Rasiltv. 1:01 Senang sekali saya Angga Aminudin 1:03 ditemani oleh Ondy dan juga Fahri di 1:06 meja moderator dapat kembali hadir 1:08 menyapa Anda dalam acara Buka Mata Buka 1:12 Telinga edisi hari Ahad 1:15 23 November 2025 bersama narasumber kita 1:20 Dr. Sarbini Abdul Murad. 1:23 Assalamualaikum Dr. Ben. 1:26 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:27 wabarakatuh Mas Angga. Bagaimana sehat 1:29 kabarnya Dok? Alhamdulillah selalu 1:30 sehat. Alhamdulillah selalu sehat. Ini 1:33 saya baru turun gunung Dok, langsung 1:35 siaran nih kita di malam ini. 1:37 Apa itu? 1:39 Matahari ya tenggelamnya. Makanya iya. 1:43 Kena awan hitam. Iya kita jadi online 1:45 saja nih Dok ya. 1:47 Iya. Dokter edisi malam hari ini Buka 1:51 Mata Buka Telinga siapa yang kita 1:53 hadirkan Dok? Tamu siapa nih di malam 1:55 hari ini? 1:56 Masya Allah. 1:57 Malam ini para pendengar kita undang 1:59 spesial karena kita tema kita ini adalah 2:02 tema konflik antara Afghanistan dengan 2:04 Pakistan. 2:06 Dan ini memang kita panggil orang-orang 2:08 yang sangat genuine, orang asli dari 2:09 sana nih. 2:10 Yang sekarang tinggal di 2:12 Afghan. Dari Afghanistan. Nah, kita 2:14 panggil khusus nih biar biar pendengar 2:16 dan penonton asli bisa langsung dari 2:19 sumbernya. Mmm. Beliau adalah Dr. 2:21 Muhammad Ayub Mirdad. Beliau adalah 2:23 salah satu orang dosen di HI di 2:25 Airlangga. 2:26 Pada kesempatan ini kita undang beliau 2:28 untuk menjadi salah satu narasumber 2:30 kita. Ya, dengan kehadiran beliau ini 2:32 maka kita bisa tahu secara detail 2:34 persoalan yang terjadi antara konflik 2:36 antara Pakistan dan Afghanistan karena 2:39 beliau memang ahli geostrategi ini 2:40 beliau. 2:41 Mmm. Iya, iya, iya. Maka 2:43 sebagai sangat tepat dengan Mas Angga 2:44 kita kita undang beliau untuk bisa 2:46 bersama kita. 2:48 Sudah bergabung bersama kita melalui 2:50 live Zoom ya. 2:52 Dr. Muhammad Ayub Mirdad. 2:56 Assalamualaikum warahmatullahi 2:57 wabarakatuh, Pak Ayub. 2:59 Waalaikumsalam warahmatullahi 3:01 wabarakatuh, Pak Eko. 3:03 Apa kabarnya, 3:05 Pak Ayub? 3:05 Alhamdulillah, alhamdulillah sehat, Pak. 3:08 Sehat ya, terima kasih berkesempatan 3:11 untuk hadir di acaranya Dr. Ben di malam 3:13 hari ini. 3:14 Acara buka mata buka telinga. 3:17 [tertawa] 3:18 Jadi kita mau bahas ini mengenai konflik 3:22 ee 3:23 Pakistan dan Afghanistan. Kalau kita 3:25 lihat sebenarnya konflik antara Pakistan 3:27 dan Afghanistan ini 3:29 ee ada yang mengatakan 3:31 sebenarnya ee konflik atau ketegangan 3:34 geopolitik yang paling lama katanya di 3:37 Asia Selatan ini gitu. Jadi naik turun 3:39 gitu ya, Dok ya. 3:40 Iya. 3:42 Sebagai pembuka, Dr. Ben. 3:44 Dari topik kita di malam hari ini 3:46 mengenai bagaimana mengulas konflik 3:49 Pakistan dan Afghanistan, bagaimana Dok, 3:51 sebagai opening? 3:53 Ya. 3:55 Eh. 3:56 Eh, terjadi satu apa ya, satu 3:59 eh, konflik ya, peperangan serang 4:01 menyerang antara Pakistan dengan 4:02 Afghanistan yang sebenarnya kita sangat 4:04 sayangkan ya. Peristiwa kalau enggak 4:05 salah saya bulan berapa tuh, Pak? Eh, 4:07 Pak Ayub, bulan 4:08 Juni ya, atau atau Agustus ya? 4:11 Ya, saya juga lupa tepatnya bulan apa, 4:13 tapi kurang lebih dua dua bulan yang 4:16 lalu. Dua bulan yang lalu, Pak Ayub ya. 4:18 Dan memang ini kan kita sangat 4:20 menyayangkan karena memang ini dua-dua 4:22 negara yang saya pikir negara Islam yang 4:25 sangat kuat dan 4:26 dan awalnya memang 4:28 kita lihat bahwa mereka bersekutu ya, 4:30 antara antara Taliban sama Pakistan ini 4:32 sekutu sebenarnya pada awalnya. Yang 4:34 sama-sama menjatuhkan eh, apa? Eh, 4:38 apakah itu Rusia atau Uni Uni Soviet. 4:42 Dan kemudian banyak juga eh, 4:43 Taliban-Taliban yang memang mereka itu 4:46 berpendidikan di di Pakistan. Maka 4:49 satu serang, Pak. Pak Ayub, saya kaget 4:50 loh, kenapa bisa jadi seperti ini? 4:52 Karena ini kan Taliban sama Afghan 4:55 Taliban sama Pakistan ini kan sahabat 4:57 lama ini. Artinya bukan bukan orang baru 4:59 dalam dalam percaturan politik di Asia 5:01 Tenggara dan Asia Selatan ini. Nah, maka 5:03 pas kejadian seperti itu 5:05 wah, ini saya pikir apakah ada ada 5:07 faktor-faktor eksternal misalnya ya. 5:09 Misalnya kedekatan antara Afghanistan 5:11 dengan India misalnya. Atau memang 5:14 ketika Trump mengatakan bahwa mereka 5:15 akan merebut Bagram misalnya. Apakah ada 5:17 kaitan kita seperti itu? 5:19 Yang yang kita dengar bahwa memang eh, 5:23 Afghanistan dia enggak mau di bawah 5:25 Pakistan ya. Artinya mereka ingin 5:26 mandiri dalam memutuskan semua 5:28 keputusan-keputusan nasional mereka 5:30 terlepas dari ideologi mereka ya. Saya 5:31 lihat saya ini yang yang menjadi eh, 5:34 satu pertanyaan kita nih, Pak. Pak Ayub, 5:36 bahwa 5:36 eh, di samping konflik-konflik antara 5:39 Palestina dengan Israel yang sudah kita 5:41 diskusikan sejak lama. 5:43 Nah, maka kita mencoba untuk mengajak 5:45 pendengar Rasil dan eh, penonton Rasil 5:48 untuk tahu nih apa sih persoalan yang 5:51 terjadi di anak benua ini di 5:54 Asia Tengah dan Asia Selatan yang memang 5:56 ini dua-duanya adalah adalah negara yang 5:58 terkemukalah dalam konteks Islam ini 6:01 yang saya pikir [mendengus] 6:02 ini ini perlu kita diskusi lebih lebih 6:04 dalam lagi. Nah, makanya kita undang nih 6:06 Pak Pak Pak Ayub untuk untuk bisa 6:08 ngejelasin nih karena beliau adalah 6:11 secara apa secara pengalaman 6:14 pasti sudah merasakan dan lebih-lebih 6:16 detail tahu dari kita sebagai orang 6:18 luar. 6:19 Kira-kira itu awalnya nih ya 6:21 Mas Angga ya. Mudah-mudahan nanti kita 6:22 kita bisa diskusi lebih dalam lagi kita 6:24 ajak para pendengar untuk bisa 6:25 berpartisipasi untuk 6:27 kira-kira 6:28 gambaran apa yang bisa kita ambil dari 6:30 konflik ini bahwa 6:32 kita enggak mau dua saudara ini 6:34 berkelahi sama seperti di Sudan ya. Kita 6:36 mengharapkan ada kedamaian. Tapi 6:38 kedamaian mana yang kita bisa harapkan? 6:40 Apa yang bisa kita kita kita harapkan 6:43 agar dua negara ini bisa bersatu. 6:46 Kadang-kadang kita bertanya-tanya kenapa 6:47 Afghanistan dengan India kok bisa akur 6:50 gitu loh. Kok sama sama-sama Islam kok 6:52 enggak gitu loh. 6:53 Nah, ini ini satu pertanyaan. Oke, gitu 6:55 enggak gitu Mas Mas Angga sebagai prolog 6:57 nanti bisa kita diskusi lebih dalam 6:58 lagi. Oke, Dokter Ben. Ikhwan Akhwat 7:02 Anda bisa bergabung di acara ini. 7:05 Silakan nanti Anda bisa menyampaikan 7:07 pertanyaan ataupun komentarnya ke nomor 7:11 WhatsApp Rasil di 08111999720. 7:18 Selanjutnya kita akan ke Pak Dokter 7:21 Muhammad Ayub Mirdad. Beliau pernah 7:25 mengenyam pendidikan Political Science 7:28 di KTB University Afghanistan dan juga 7:31 melanjutkan masternya di International 7:33 Relation Universitas Airlangga Indonesia 7:37 dan juga doktornya diselesaikan di 7:40 Social Science majoring in International 7:43 Relation Universitas Airlangga, 7:46 Indonesia. Dan sekarang kesibukan beliau 7:48 itu selain 7:50 eh mengajar, kesibukan lainnya sebagai 7:53 dosen apa saja nih, Pak Ayub? 7:56 Eh, baik, Pak Eko. Saya ya selain 8:01 eh 8:02 dosen juga sibuk dengan penelitian, 8:05 insyaallah dan ketua dan 8:07 CSPS. Eh 8:09 pusat studi 8:11 Baik. Fakultas Ilmu Sosial FISIP. 8:15 Baik. 8:17 Mengenai konflik Afghanistan dan 8:19 Pakistan. Sebenarnya pertanyaan itu kan 8:21 banyak muncul, ada pertanyaan umum, ada 8:23 pertanyaan kita kaitkan dengan politik, 8:26 apalagi dengan geopolitik gitu ya. Juga 8:30 kaitan dengan sosial kemanusiaan, ada 8:32 juga pertanyaan dengan ini bagaimana ini 8:35 sesama negara muslim, tadi sempat yang 8:37 di diucapkan oleh Pak Deni juga. 8:40 Namun kita ingin lebih tahu akar 8:42 sejarahnya dulu nih. Lalu 8:44 perkembangannya sampai sekarang 8:46 sebenarnya dinamika politik Asia Selatan 8:49 itu ketika Afghanistan dan Pakistan 8:53 tidak stabil itu bagaimana, ketika 8:55 stabil nanti seperti apa gitu ya. Kita 8:58 memulai dari mana nih, Pak Ayub? Monggo, 9:00 silakan Pak Ayub. 9:02 Eh, baik, Pak Eko. Terima kasih atas 9:06 undangannya. 9:08 Eh, sebenarnya konflik antara antara 9:10 Afghanistan Pakistan ini bukan ini 9:13 pertama kali yang terjadi, tapi 9:15 sebelumnya juga 9:17 eh 9:19 sering terjadi khususnya di era Dokter 9:22 Najibullah ya. 9:23 Waktu itu Taliban belum 9:25 muncul atau belum ada. 9:28 Karena ini mulainya dari eh pembagian 9:31 perbatasan antara dua negara. 9:34 Eh, dan waktu Afghanistan di bawah 9:38 penjajahan Inggris dan Pakistan ini 9:40 belum ada itu Great 9:43 Britain atau yang ada India. Jadi, 9:45 perbatasan Afghanistan dengan India pada 9:48 waktu itu. 9:50 Nah, intinya sejarahnya ini memang 9:52 [berdehem] 9:53 sampai sekarang eee 9:55 masalah pertama antara dua negara ini 9:57 perbatasan. 9:59 Pemerintah dan pihak Afghanistan yang 10:02 pada waktu itu namanya Raja Abdul Rahman 10:06 yang sudah menandatangani 10:08 eee 10:09 yang apa garis Diwuran atau perbatasan 10:13 antara Afghanistan, Pakistan dengan 10:15 Inggris pada waktu itu. 10:18 Tetapi [berdehem] saya dari pihak 10:20 Pakistan selalu eee memberikan bukti 10:23 bahwa ini bukti nyata, ini bukti 10:27 berdasarkan sejarah bahwa ini perbatasan 10:29 antara dua negara. 10:31 Tapi pihak Afghanistan selalu menolak. 10:34 Ini eee bukan eee 10:37 Afghanistan ini selalu klaim bahwa eee 10:40 Provinsi Khyber Pakhtunkhwa atau Khyber 10:43 Pakhtunkhwa 10:45 itu eee teritori Afghanistan. 10:48 Intinya ini 10:50 dan sampai sekarang ini berlangsung. Itu 10:52 satu. 10:54 Dan yang kedua, eee 10:56 tadi Pak Edi Prabowo juga bilang bahwa 11:00 tadi ya orang atau awam melihat Pakistan 11:03 dan Taliban ini sebagai sebagai sekutu 11:06 ideologis. 11:08 Eee kalau kita lihat sejarah munculnya 11:12 Taliban, 11:13 Pakistan punya peran yang sangat-sangat 11:16 besar ya sejak tahun 90-an 11:19 ketika eee eee 11:22 Soviet keluar dari Afghanistan, perang 11:24 sipil terjadi di Afghanistan dan sampai 11:27 munculnya Taliban, 11:29 eee memang Pakistan eee 11:32 punya peran yang sangat besar dan 11:34 membantu Taliban sampai melawan 11:37 pemerintah 11:38 sah Afghanistan yang akhirnya 2021 11:42 jatuh dan presidennya Allah. 11:44 Tetapi pada waktu itu Taliban ini proksi 11:48 dari Pakistan. 11:50 Kelompok yang melakukan eee 11:53 apa ya 11:55 perintah dari atasan yaitu salah satunya 11:57 Pakistan. 11:59 Nah, sekarang beda lagi bukan kelompok 12:03 yang 12:04 masih proksinya Pakistan tapi Taliban 12:06 ini sekarang 12:08 eee mulai menjadi pemerintah walaupun 12:12 tidak ada dasar legitimasi ini. 12:14 Tapi mereka punya kepentingan. 12:17 Kepentingan di Afghanistan. 12:20 Jadi bagaimana bisa teman yang lama 12:23 menjadi tiba-tiba musuh? Musuhnya karena 12:26 Taliban sekarang punya kepentingan 12:28 sendiri 12:29 dan Pakistan juga punya kepentingan 12:31 sendiri. Akhirnya yang muncul karena 12:33 kepentingan tersendiri itu konflik 12:36 antara dua negara ini. Dan yang kedua ya 12:39 memang keberadaan Pak Pakistani Taliban 12:42 atau Tariq e Taliban Pakistan yang punya 12:46 eee hubungan yang cukup erat dengan 12:49 Taliban Afghanistan dan itu juga salah 12:52 satu faktor yang eee 12:55 eee 12:56 pemerintah Pakistan selalu menuduh 12:59 Taliban bahwa memberikan tempat aman 13:01 bagi TTP atau Pakistani Taliban di 13:04 Afghanistan. Ya, dari situ Taliban 13:07 Afghanistan ini selalu menolak eee 13:11 tuduhan tersebut dari pemerintahnya 13:14 Pakistan. Akhirnya mulai konflik. Jadi 13:17 menurut saya ini eee 13:19 eee bukan karena sesama agama tapi lebih 13:23 ke kepentingan. 13:24 Dan kepentingan itu bahwa kepentingan 13:27 nasional dari dua 13:29 negara tersebut. 13:32 Kalau mengenai 13:33 perbatasan 13:36 Durand Line ya, 13:37 Pak Ayub ya. 13:38 Itu sebenarnya apa sih yang menjadi 13:40 alasan memicu ketegangan itu dari 13:42 perbatasan ini? Apakah memang ada 13:44 sejarah dari para penjajah atau memang 13:46 ada di situ wilayah yang memiliki sumber 13:49 daya alam atau bagaimana itu? Ah, ah, 13:52 ini pertanyaan yang sangat menarik, Pak. 13:55 Mmm. Akar konflik Afghanistan itu 13:58 sebenarnya 13:59 konflik antar suku atau etnis. Mmm. Ah, 14:04 konflik bukan antar mereka, ah, konflik 14:06 bersenjata yang terjadi misalnya di 14:08 Rwanda atau di Sudan atau tapi political 14:13 conflict. 14:14 Nah, ini selalu menjadi alat politisasi. 14:17 Selama 20 tahun sebelumnya juga begitu. 14:20 Nah, kenapa perbatasan ini penting? 14:23 Penting bagi suku atau etnis Pashtun. 14:26 Mmm. Karena perbatasan tersebut ini, 14:28 tersebut itu ma, hampir 100% yang 14:32 tinggal di sana itu dari suku Pashtun. 14:35 Dan Afghanistan ini selama Ahmad Shah 14:38 Abdali yang sejarahnya eh kembali ke 3-4 14:41 abad yang lalu, sejak dia berubah nama 14:44 Afghanistan, sampai sekarang Presiden 14:47 Afghanistan itu dari satu etnis adalah 14:50 etnis Pashtun. Dan mereka ini tidak mau 14:53 eh apa ya give untuk teritori tersebut. 14:57 Yang kedua, Afghanistan ini kan salah 14:59 satu negara landlocked. Artinya tidak 15:02 ada laut di sana. Iya, iya. Jadi, kalau 15:04 Afghanistan punya akses di teritori 15:07 tersebut, Khyber Pakhtunkhwa provinsi 15:10 tersebut, Afghanistan otomatis akan 15:12 dapat akses eh ke sini melalui eh 15:16 provinsi Baluchistan. 15:19 Dan yang kedua, eh penduduk Pashtun 15:23 Afghanistan itu langsung meningkat. Yang 15:25 sekarang mereka klaim bahwa kami 15:27 mayoritas eh, tetapi tidak ada data atau 15:30 evidence siapa suku yang mayoritas di 15:33 Afghanistan, tapi itu bisa menjadi eh 15:37 mereka apa namanya jumlah Pashtun di 15:40 Afghanistan otomatis meningkat karena 15:43 suku Pashtun di Pakistan itu lebih 15:45 banyak dibandingkan di Afghanistan. 15:47 Jadi itu eh, salah satu akar masalah 15:51 atau the root causes. 15:53 Eh, kenapa Afghanistan ini selalu klaim 15:56 eh, perbatasan tersebut. Tapi selain itu 15:59 juga perbatasan ini eh, sudah 30 tahun 16:03 lebih menjadi tempat paling aman bagi 16:06 kelompok-kelompok ekstremisme, 16:08 kelompok-kelompok terorisme. Karena itu 16:11 pemerintah pusat Pakistan juga tidak 16:14 punya otoritas yang 16:16 ketat di perbatasan tersebut. Jadi dari 16:19 kelompok-kelompok tersebut itu dengan 16:21 gampang bisa masuk dan keluar eh, dan 16:26 ke Afghanistan maupun ke Pakistan. 16:28 Jadi itu menjadi 16:30 eh 16:31 masalah dan 16:33 sampai sekarang belum belum belum beres 16:35 antara dua negara ini. 16:38 Baik. 16:39 Pak Ayub 16:40 tadi disinggung bagaimana kesukuan 16:43 begitu kuat gitu di eh, Afghanistan dan 16:47 juga di Pakistan sendiri. Kalau dilihat 16:49 dari ikatan budaya sama etnis dan juga 16:54 ikatan eh, agama lah gitu ya, sesama 16:57 muslim gitu ya. Sebenarnya 16:58 kehidupan-kehidupan di sana tuh 17:00 bagaimana sih masyarakat Afghanistan dan 17:02 Pakistan itu? 17:04 Eh, sebenarnya sangat mirip. Sangat 17:07 mirip ya. Sebelas dua belas. 17:10 Tapi ya memang eh 17:13 kalau tapi di Afghanistan ini tadi Pak 17:17 Pak Van, Dokter Van juga bilang, ada 17:20 beberapa suku, ada beberapa etnis. Saya 17:23 etnis Tajik. 17:25 Walaupun bahasa saya berbeda, tapi dari 17:28 sisi budaya kami ada banyak kemiripan 17:31 dengan suku Pashtun. 17:32 Dan begitu 17:34 orang di Afghanistan dan Pakistan ini 17:36 punya banyak eh, kemiripan dalam budaya. 17:40 Agamanya juga 17:42 sama, agama Islam. Tapi eh, agama ini 17:46 selalu menjadi alat politik 17:49 untuk mencapai tujuan dia mereka. 17:52 Selalu mengatasnamakan agama di 17:55 Afghanistan maupun di Pakistan. 17:58 Jadi agama tidak eh, ah itu alat 18:01 politiknya mereka. 18:03 Kalau kita lihat dari tahun 2001 sampai 18:07 2021 itu banyak korban dari aksi-aksi 18:11 Taliban yang terjadi di Afghanistan itu 18:14 90% dia itu orang Afghan sendiri dan 18:17 semuanya orang Islam. 18:19 Dan bom yang terjadi di masjid, di 18:22 tempat ibadah itu yang yang tewas itu 18:24 semuanya dari satu, dari agama yang 18:27 mereka sama-sama percayakan 18:30 eh, Tuhan yang sama. Walaupun 18:32 ya intinya agama itu selalu jadi 18:36 alat politik yang di awal tadi saya 18:38 bilang kepentingan mereka itu lagi 18:41 mengutamakan. 18:42 Ehm. 18:44 Lalu kalau mau masuk kita ke 18:48 pembicaraan tentang Taliban ya, Pak Ayub 18:50 ya. Sebenarnya bagaimana sih pengaruh 18:53 Taliban Afghanistan terhadap hubungan 18:55 diplomatik kedua negara ini, Pak Ayub? 19:00 Pakistan ini salah satu negara, Pak. 19:03 Eh, itu di era periode pertama Taliban 19:10 eh, yang akui eh, 19:13 apa pemerintahan yang Taliban secara 19:16 resmi dan punya hubungan diplomatik 19:19 tahun 96 sampai 2001 ada tiga negara 19:23 waktu itu Pakistan, Arab Saudi dan Uni 19:26 Arab Emirat. 19:28 Nah, 2021 19:30 bulan Agustus ketika pemerintah 19:32 Afghanistan jatuh Presiden Ashraf Ghani 19:34 lari ke 19:35 Uzbekistan 19:37 besoknya yang kunjungi Afghanistan itu 19:40 kepala 19:42 intelijen atau Aisha dari Pakistan 19:44 langsung ketemu dengan pemimpin-pemimpin 19:47 Taliban di ibukota Afghanistan di Kabul. 19:50 Itu menunjukkan bahwa mereka punya 19:52 hubungan yang sangat-sangat dekat dan 19:55 saya dan Taliban ini sangat-sangat 19:57 tergantung pada Taliban dan pada 20:00 Pakistan ini. 20:02 Tetapi sekarang berubah lagi karena itu 20:04 tadi Taliban ini sekarang tidak 20:08 apa ya menunjukkan dirinya bahwa kami 20:11 kelompok seperti 2020 atau sebelumnya 20:14 sekarang ini otoriter. 20:16 Kami mewakili Afghanistan 20:19 walaupun itu tadi tidak ada dasar 20:21 legitimasinya dari internal maupun 20:23 eksternal tidak ada negara yang mengakui 20:26 Taliban 20:27 kecuali Rusia tapi Taliban ini sekarang 20:31 punya kepentingan. 20:32 Jadi hubungan antara dua negara ini 20:35 berdasarkan kepentingan nasionalnya 20:37 mereka sama masing-masing. Makanya 20:40 Taliban yang dulu musuh sama Iran 20:43 sekarang sangat-sangat dekat, sangat 20:45 teman sama Iran karena ada kepentingan 20:47 dengan mereka walaupun dari sisi 20:50 sektarian sangat beda 20:51 satu dia Syiah satu dia Sunni tapi ada 20:54 kepentingan sekarang Taliban lebih dekat 20:56 dengan Iran dibandingkan dengan 20:58 Pakistan. Dan begitu dengan India, 21:01 begitu dengan Cina, dengan Uzbekistan. 21:04 Jadi setiap negara di situ punya 21:07 kepentingan, termasuk kepentingan 21:10 geopolitik dan juga kepentingan ekonomi 21:13 dan keamanan. 21:15 Jadi, itu yang yang yang yang sekarang 21:17 lebih berpengaruh 21:19 eh hubungan antara Taliban dengan 21:21 negara-negara tetangga di sini. 21:24 Oke, sebelum saya ke Dokter Ben, satu 21:26 lagi pertanyaan untuk Pak Ayub. Kalau 21:30 negara-negara ya internasional gitu ya, 21:32 peran mereka kira-kira nih yang terlihat 21:35 gitu ya eh dari mulai Amerika Serikat, 21:38 Cina, bahkan India gitu ya, peran aktor 21:41 internasional mereka tuh bagaimana? 21:43 Memperburuk atau meredakan konflik nih 21:45 Afghanistan-Pakistan? 21:47 Eh 21:48 sebenarnya tidak terlalu eh eh kalau 21:52 negara-negara Barat mulai dari Amerika 21:55 Serikat dan sekutunya tidak terlalu 21:57 ambil isu itu seperti isu yang serius. 22:01 Mmm. Eh tidak ada tidak ada keterlibatan 22:03 di situ karena Taliban ini masih ada 22:06 sanksi besar dari Amerika Serikat dan 22:09 karena pelanggaran hak asasi manusia, 22:11 pelanggaran hak asasi perempuan, 22:13 pendidikan, dan lain-lain. Ya, itu 22:15 mereka Taliban ini masih 22:18 eh tidak eh mencapai standar atau 22:23 persyaratan dari negara-negara sini. 22:25 Kalau Cina juga tidak sampai sekarang 22:27 tidak ada statement apapun dari 22:29 pemerintah Cina. Kalau ada juga tidak eh 22:33 terlalu serius untuk eh menunjukkan 22:36 bahwa "Kami akan menjadi mediator untuk 22:39 nego-negosiasikan 22:41 perang konflik antara India, 22:43 Afghanistan, dan Pakistan." Karena Cina 22:46 tidak peduli eh sistem pemerintahan 22:49 negaranya seperti apa. Yang paling 22:51 penting keuntungan ekonominya bisa masuk 22:54 apa namanya dapat dari Afghanistan. 22:57 Eh ekonomi termasuk eh keamanan karena 23:01 Afghanistan ini ada perbatasan dengan 23:03 provinsi 23:04 Xinjiang kalau saya tidak salah itu yang 23:08 ada minoritas Uighur di sana dan 23:11 Pakistan dan China itu lebih-lebih fokus 23:13 di situ termasuk untuk dapat sumber alam 23:17 mineral 23:19 lithium yang ada di Afghanistan itu. 23:22 Jadi tidak tidak terlalu peduli apa yang 23:25 terjadi antara Afghanistan dan Pakistan. 23:27 Dan itu memang sampai sekarang tidak ada 23:30 eh inisiasi apapun dari negara-negara 23:34 tetangga kecuali Iran pernah bilang kami 23:36 siap untuk 23:38 menjadi mediator antara kedua negara 23:41 tersebut. 23:42 Eh 23:43 selama ini masih belum ada dari dari 23:47 negara-negara tetangga di sini. 23:50 Oke. 23:52 Eh Muhammad Ayub, saya akan ke Dokter 23:54 Ben terlebih dahulu. Baik, Dok. 23:56 Kedua negara sering berselisih ya, ada 23:59 tadi soal wilayah perbatasan. Namun 24:01 menarik tadi Pak Ayub menyampaikan eh 24:03 populasi Pashtun ini gitu ya memang jadi 24:06 eh mayoritas di Afghanistan justru 24:09 sebenarnya ada juga terbelah di dua 24:11 negara itu masing-masing gitu ya. 24:12 Makanya tadi ada perdebatan mengenai 24:14 identitas, nasionalisme gitu ya, 24:16 bentrokan juga eh kerap terjadi. Nah, 24:20 Dok, bagaimana Dok melihat dari segi eh 24:23 faktor etnis dan politik 24:28 dari dari eh Afghanistan dan Pakistan 24:31 ini, Dok. Jadi seperti ada politik etnik 24:33 gitu ya. Gimana, Dok? 24:35 Iya. 24:36 Eh saya punya pengalaman ini eh Mas 24:38 Angga ketika 24:39 tahun 2001 24:41 saya kan eh ke Afghanistan sebagai tim 24:43 medis. 24:45 Nah, itu kita melalui Quetta. Dari 24:46 Quetta terus kita ke Kabul ya. 24:50 Nah, saya bawa di Quetta itu mayority 24:52 itu adalah orang-orang orang-orang 24:53 Pashtun. He eh. Ke Pashtun dan supir 24:55 kami itu orang Pashtun. 24:57 Jadi, antara Pashtun Quetta atau ke 25:00 Pashtun-nya Pakistan sama Pashtun-nya 25:02 Afghanistan, mereka itu memang sangat 25:04 memang sudah memang satu etnis, satu 25:06 etnis, satu semua, satu pokoknya memang 25:07 sudah sudah kayak sama gitu loh. Terus, 25:09 kalau enggak salah saya, mungkin Pak 25:11 Ayub bisa bisa luruskan, 25:13 eh Quetta itu sebenarnya bagian dari 25:15 dari dari Afghanistan. 25:17 Jadi, gini ya Mas Angga, dulu Inggris 25:19 ini selalu meninggalkan sisa masalah. 25:22 Ya, itu garis Durand Line itu ya. 25:24 Eh saya dengar Quetta itu masuk ke ke 25:27 apa, sebenarnya punya Afghanistan, terus 25:29 dari Inggris dikasih ke Pakistan. 25:31 Kemudian Kashmir. Kashmir itu ya 25:32 plebisit menang menang ke Pakistan. 25:36 Terus dikasih ke India. Jadi, memang 25:38 Inggris ini adalah negara yang selalu 25:39 menyisakan masalah setelah konflik. 25:42 Selalu itu Inggris itu. Nah, jadi yang 25:44 terjadi hari ini adalah sisa 25:46 sebagian dari sisa-sisa yang yang 25:48 ditinggalkan oleh penjajah Inggris. 25:49 Jadi, jadi ini ini ini jeleknya jadi 25:52 Inggrisnya ini. Sama seperti Malaysia, 25:54 Johor. Johor itu kan punya 25:57 apa namanya, Singapura itu kan punyanya 25:58 Malaysia. Ah, itu jadi etnis Cina 26:01 sekarang. Jadi, jadi ini yang jadi yang 26:02 dibuat persoalan. Nah, makanya seperti 26:05 kata kata Pak Ayub tadi itu bahwa 26:08 negara-negara luar, saya pikir mereka 26:10 itu tidak menginginkan Afghanistan itu 26:12 stabil. Karena Afghanistan ini kan 26:14 karena lama mereka berperang, jadi alam 26:17 mereka itu masih alamiah, sumber tambang 26:20 segala macam itu itu luar biasa itu 26:22 di Afghanistan. Jadi, kalau mereka 26:25 stabil itu saya pikir kalau mereka 26:26 stabil itu kan ini 26:28 eh apa, pemerintah Afghanistan bisa 26:29 menentukan sikap sendiri dia kan. Sikap 26:31 sendiri, tapi dengan tidak stabil ini 26:33 kan, maka pihak-pihak asing juga bermain 26:35 di situ. Nah, makanya ketika terjadi 26:38 konflik India India Pakistan ini kan 26:40 eh eh Pakistan Afghanistan Pakistan kan 26:43 Saudi Arabia yang yang yang turun sama 26:45 Qatar. Karena Qatar ini kan lama menjadi 26:48 base-nya Taliban. 26:50 Dan Saudi Arabia adalah eh negara yang 26:53 sangat dekat sama Pakistan. Jadi dua 26:55 negara ini yang yang mendamaikan. Yang 26:57 lain eh tutup mata lah. 27:00 Nah, makanya eh 27:02 Afghanistan saya pikir ini negara yang 27:03 menurut saya ini luar biasa ya. Daya 27:05 tahan mereka luar biasa daya tahan 27:06 mereka tuh. 27:08 Artinya eh 27:10 mereka itu bisa nyebar ke mana-mana, 27:11 tapi mereka punya mereka tough itu. Jadi 27:14 negara yang tidak bisa ditaklukan oleh 27:15 bangsa asing itu Afghanistan itu. 27:17 Walaupun secara internal mereka punya 27:19 perusahaan-perusahaan secara etnisitas. 27:21 Tapi ketika nasionalisme mereka 27:22 diganggu, mereka bangkit secara bersama 27:24 untuk ini. Nah, makanya seperti kata Pak 27:26 Aip tadi itu dulu proksi Pakistan karena 27:29 dibantu oleh ISIS itu membantu segala 27:31 macam intelijen, termasuk Indonesia nih 27:34 Pak Mas Angga. Indonesia pernah bantu 27:36 juga pada periodenya 27:37 Mendiang Budiman itu namanya operasi 27:39 karpet terbang itu. Hmm. Eh 27:42 apa bahasa 27:43 lupa bahasa Afghanistan tuh satu 27:45 menyediakan senjata sampai satu untuk 27:47 satu satu satu batalion satu truk itu. 27:49 Iya. Nah, itu Indonesia yang kirim izin 27:52 Amerika tapi ke Pakistan kemudian 27:55 ke Afghanistan. Nah, 27:56 jadi 27:58 saya pikir ini eh 28:00 harus didamaikan saya pikir enggak 28:02 mungkin ini berkepanjangan. 28:04 Karena mereka bukan damai ini bukan 28:06 bukan damai permanen. 28:08 Tapi masih menyisakan masalah-masalah 28:10 nih. Nah, dari sebab itu 28:12 eh harus ada pihak yang bisa mencoba 28:15 untuk mengupas permasalahan ini sehingga 28:18 eh Afghanistan dengan Pakistan Pakistan 28:20 ini bisa bisa lebih apa ya lebih toleran 28:23 lah. Iya. Artinya kenapa dengan India 28:25 masih bisa toleran ya sama kenapa dengan 28:28 India apa Cina bisa bisa eh ber ber 28:31 kincau-kincau lah istilahnya bisa 28:32 kongko-kongko lah. Hmm. Nah, 28:35 saya pikir eh di Pakistan pun eh 28:38 kalau misalnya menang partai apa ya 28:41 partai Jamiat Islami itu 28:43 mungkin akan-akan lebih dekat ini mau 28:45 partai politik pun di Pakistan 28:46 menentukan juga ini, Mas Angga. Iya. 28:48 Nah, karena di Pakistan ini kan militer 28:50 dominan ya, militer lebih dominan 28:52 sehingga ee 28:54 apa ya? Jadi, pendekatan-pendekatan 28:56 mereka itu lebih pendekatan militer gitu 28:57 loh. Nah, ini yang saya pikir ee 29:01 dalam konteks ini memang Pakistan merasa 29:03 gua abang gitu loh, gua abang, gua lebih 29:05 senior dari Afghanistan gitu kan. Nah, 29:07 sikap ini juga saya pikir ini 29:10 yang yang bisa memunculkan ee apa 29:12 egoisme sektoral sehingga susah untuk 29:15 bisa menerima hari ini bahwa kenyataan 29:17 hari ini ialah Pak Taliban dulu Taliban 29:19 bagian dari salah satu faksi, sekarang 29:21 enggak ada Taliban lagi, sekarang ada 29:22 negara, gua pemerintahan sekarang, kagak 29:24 gitu loh. Artinya, Anda harus bersikap 29:26 equal, enggak bisa Anda merasa lebih 29:28 kan. Apalagi dengan persenjataan, 29:30 persenjataan Pakistan lebih lebih unggul 29:33 gitu kan. Jadi, pendekatan-pendekatan 29:35 militer saya pikir ini enggak tepat. 29:37 Jadi, pendekatan-pendekatan kemitraan 29:38 ini kan penting. Jadi, bagaimana 29:40 investasi-investasi ee apa tuh ekonomi 29:43 ini yang ini ini lebih penting. Tapi, 29:45 persoalannya adalah 29:46 ee Eropa dan Amerika ini kan tidak 29:48 memberikan akses ee ekonomi yang ke sana 29:51 kan. Oh. Jadi, contoh duta besar 29:53 Afghanistan di di di Jakarta ini mereka 29:56 kerepotan untuk untuk biaya operasional 29:57 itu gimana, sama itu gimana kan. Cuma 30:00 Cina yang baru masuk. Seperti kata Pak 30:01 Ayub tadi, Cina enggak ada urusan yang 30:03 penting dia ee ekonomi bisa bisa dia apa 30:05 investasinya bisa bisa berjalan di di 30:07 Afghanistan. Yang saya pikir itu 30:10 Mas Angga bahwa etnisitas itu enggak 30:11 bisa kita kita lepaskan. 30:13 Jadi, ee Afghanistan ini kalau kata Pak 30:15 Ayub tadi itu sekitar 16 ya, Pak Ayub 30:17 ya, ee suku, tapi mereka kan walaupun 30:19 sedikit tapi kan konflik internal pun 30:21 mereka tajam gitu ya. Indonesia 30:23 yang yang ratusan kita lebih relatif 30:26 lebih bisa bisa lebih lebih damai kan. 30:28 Tapi memang 30:29 ee itu masih sisi lain yang yang yang 30:31 kita lihat di Afghanistan bahwa secara 30:33 etnisitas pun di situ pun ada 30:35 pertarungan. Dan di Pakistan juga enggak 30:37 enggak kalah juga kan 30:39 pertarungan-pertarungan itu. 30:40 Jadi, jadi ada kelompok-kelompok yang di 30:43 di apa dilindungi oleh Afghanistan untuk 30:45 kepentingan proksi Afghanistan untuk 30:47 menghantam Pakistan. Begitu sebaliknya, 30:49 Mas Angga. Sama kayak Iran dengan 30:51 Pakistan juga, kan. Ada 30:52 kelompok-kelompok yang mereka 30:54 dilindungi oleh Iran, ada 30:55 kelompok-kelompok yang dilindungi oleh 30:56 Pakistan untuk saling menghajar gitu 30:58 loh. Jadi, memang ada 30:59 persoalan-persoalan yang secara militer 31:02 dan politik ini memang 31:03 agak panjang ceritanya untuk untuk bisa 31:05 ini. 31:06 Untuk bisa selesai masalah ini. Tapi, 31:07 tapi saya yakin bahwa 31:09 sebenarnya ee kedekatan etnis ini sangat 31:11 membantu sebenarnya untuk bisa 31:13 untuk bisa ini. Dan dan 31:15 pendekatan-pendekatan politik, maka saya 31:17 bilang kalau enggak salah saya Pak Yudi 31:19 ada Jamiat Islami, ya. Kelompok Islami 31:21 yang sama ideologinya. Ada satu partai, 31:23 kalau enggak salah saya itu Jamiat 31:24 Islami itu. 31:25 Yang sama partai dengan yang ada di di 31:27 Afghanistan, ya. Jadi, kan 31:29 ee peran-peran ulama saya pikir harus di 31:30 di dicoba di ditingkatkan. Sama seperti 31:33 Indonesia 31:34 mengambil peran untuk perdamaian di 31:36 Afghanistan, kan yang pertama didekati 31:37 adalah ulama, kan. Ulama segala 31:39 kelompok, ulama baik Syiah maupun Sunni. 31:41 Jadi, ulama-ulama ini yang punya peran. 31:43 Saya pikir Indonesia pun dalam konteks 31:45 ini bisa memainkan peran ini, Mas Angga. 31:47 Jadi, Iya. 31:48 Cara apa? Caranya cara ulama saja. 31:50 Ulama, tokoh-tokoh ulama-ulama Pakistan 31:52 dan Afghanistan kemudian dibawa ke 31:54 Jakarta, didiskusikan. Saya pikir kalau 31:56 ulama-ulama ini bisa bisa punya visi 31:59 yang sama dalam melihat konteks konflik 32:01 antara Afghanistan dengan Pakistan, kan. 32:03 Berarti kan akan lebih mengerucut 32:05 sebenarnya untuk untuk ada perdamaian 32:06 ini. Apalagi yang di 32:08 Taliban ini kan banyak ulama-ulama, ya. 32:09 Ulama ulama yang didengar, yang didengar 32:11 yang istilahnya itu mereka enggak 32:12 populer, tapi tapi didengar. Ini ini 32:14 saya pikir lebih-lebih efektif kalau ada 32:17 pendekatan seperti itu. 32:19 Ehm. 32:21 Pada 90-an Pakistan dukung Taliban, gitu 32:25 ya, untuk mendapatkan pengaruh 32:26 Afghanistan, tapi setelah Taliban 32:28 berkuasa hubungannya malah tidak 32:31 serta-merta membaik. Nah, kalau Dok, 32:34 Dok, kalau Dokter melihat tadi hubungan 32:36 dekat Afghanistan sama India ini 32:39 betul-betul membuat Pakistan itu 32:42 terancam ya Dok ya, kelihatan ya. 32:45 Iya. 32:46 Eh 32:48 kan India Pakistan ini kan musuh abadi 32:50 kayak gitu ya Mas Angga, abadi mereka. 32:52 Masalah Kashmir ini memang musuh abadi 32:53 mereka tuh. 32:54 Makanya eh kalau kita ke ke ke Islamabad 32:57 itu kita lihat tuh pam pampe-pampe 32:59 pembantaian eh masyarakat Kashmir oleh 33:02 India itu masih ada ya sudah ada masih 33:04 ada yang namanya 33:05 eh apa 33:07 pertahanan-pertahanan masih ada di sana 33:09 tuh. Dan saya pas sampai ke Kashmir tuh 33:11 Mas Angga, Kashmir-nya Pakistan ya. 33:14 Dan di sana tuh masih ada juga eh 33:15 kira-kira Laskar e-Taiba itu kan. 33:18 Itu kan masih masih berkeliaran di di di 33:20 Afghanistan eh di di Pakistan. Jadi 33:22 sebenarnya konflik Pakistan India ini 33:24 tuh merembes ke Afghanistan. Maka maka 33:26 sudah hukum hukum normal itu Mas Angga, 33:28 kalau misalnya ketika satu pihak itu 33:31 enggak enggak akur dia akan mendekati 33:32 pihak yang lain kan. 33:34 Iya. Untuk untuk menopang eh apa namanya 33:37 eh hubungan-hubungan apa apakah politik 33:40 atau atau militer gitu kan. Makanya 33:42 saya lihat tuh 33:43 sekarang kesannya tuh agak lebih-lebih 33:45 happy antara Afghanistan sama India gitu 33:47 kan. Walaupun ya happy dalam petik ya, 33:49 itu konteks-konteks politik ya. Nah 33:51 makanya eh 33:53 menurut saya Mas Angga itu memang Saudi 33:55 sama Qatar ini belum enggak maksimal dia 33:57 turun tuh. Enggak maksimal untuk bisa 33:59 menyelesaikan masalah. Saya pikir enggak 34:00 ada masalah sebesar apapun kalau masalah 34:03 serius bisa mencari akar akar konflik 34:05 masalah dan kemudian eh sama-sama duduk 34:08 untuk men 34:10 diskusi [mendengus] 34:11 kembali. Seperti kata Pak Arief tadi itu 34:14 Durand Line itu memang sangat sangat 34:16 berat itu kan. Karena memang memang 34:17 sisa-sisa peninggalan Inggris yang 34:19 memang memang luar biasa ini. Iya. Tapi 34:22 dia di Palestina tapi hari ini kan itu 34:24 kan sisa peninggalan Inggris juga dan 34:25 memang ini ini yang 34:27 saya pikir ini enggak enggak agak sulit 34:28 untuk diselesaikan ini. Menjadi Tapi 34:30 tapi kalau misalnya 34:32 eh ekonomi Afghanistan ini eh bisa 34:34 berjalan lebih baik, masa enggak lebih 34:36 baik penjaga. Saya pikir eh 34:39 konflik-konflik eh apa bersenjata ini 34:41 bisa ditekan kan. Tapi ketika ekonomi 34:43 ini eh masih morat-marit, maka semua 34:47 solusinya yang militer ujung-ujungnya. 34:49 Iya. 34:51 Baik, saya kembali ke Pak Ayub. 34:54 Tadi disinggung eh mengenai tentang 34:57 ekonomi gitu ya. 34:59 Begitu memukul ekonomi masyarakat 35:02 sebenarnya ya dari setiap eh konflik 35:04 ini. Apalagi kalau kita lihat eh peran 35:07 kelompok eh militan lah yang ada di eh 35:11 Afghanistan gitu ya ataupun yang ada di 35:13 Pakistan eh sendiri gitu ya. Yang eh 35:17 kita 35:19 eh baca juga gitu ya eh Tehrik-i-Taliban 35:23 Pakistan gitu ya ataupun eh eh kelompok 35:26 militan yang lain. Bagaimana dari sisi 35:29 eh ketegangan ekonomi ini pengaruhnya 35:31 dari konflik perbatasan menurut Pak 35:33 Ayub? 35:35 Eh 35:36 pengaruhnya sangat besar. 35:38 Sangat besar dan memang di dalam setiap 35:41 konflik korban utamanya masyarakat. 35:45 Dan ini karena perbatasan Torkham 35:49 eh 35:50 antara Afghanistan Pakistan ini sudah 35:53 cukup lama tutup karena konflik tadi dan 35:57 juga perbatasan eh Spin Boldak ada 36:00 beberapa border itu sudah semuanya 36:03 tutup. Jadi di eh 36:06 eh apa namanya di eh 36:11 wilayah Pakistan ini ada banyak barang 36:14 dari eh 36:16 eh eh pihak Afghanistan yang sampai 36:19 busuk misalnya mereka bawa eh 36:22 sayur-sayuran, 36:24 buah-buahan itu semuanya 36:26 rusak dalam mobil, dalam truk-truk yang 36:29 cukup lama berada di sana karena konflik 36:32 tersebut dan perbatasan karena tutup dan 36:35 tidak pihak dua apa dua negara ini tidak 36:38 mau buka untuk eh truk-truk ini bisa 36:41 lewat, bisa masuk ke wilayah negara 36:44 masing-masing. Intinya pengaruhnya 36:47 sangat besar, sangat besar eh harga 36:50 barang naik di Afghanistan karena 36:52 Afghanistan ini sangat tergantung pada 36:55 eh Pakistan karena banyak kebutuhan 36:58 Afghanistan impor dari sana. Mulai dari 37:01 obat-obatan, sayur, buah, eh beras, 37:05 banyak yang Afghanistan impor dari sana. 37:07 Eh jadi semuanya ini harganya otomatis 37:10 naik, apalagi Afghanistan yang saat ini 37:12 yang ekonominya sudah hancur, 37:14 masyarakatnya di atas 20 juta lebih 37:18 tidak mampu makan tiga kali sehari, itu 37:21 hidup tambah sulit bagi mereka di 37:23 Afghanistan. 37:25 Jadi pengaruh konflik antara dua negara 37:27 ini sangat besar terhadap masyarakat di 37:30 mana negara 37:31 khususnya Afghanistan. 37:34 Pak Ayub, kalau isu mengenai 37:36 Pashtunistan itu seberapa kuat 37:37 sebenarnya Afghanistan ya? 37:40 Eh 37:41 Nah itu karena 37:43 Hmm. tadi saya bilang di Afghanistan ini 37:45 masalah akar konflik dan masalah dia itu 37:50 selalu 37:51 etnis. Hmm. Setiap kali, setiap 37:54 pemerintah atau pihak pemerintah atau 37:56 presiden itu pasti bagi mereka 37:58 sangat-sangat penting Pashtunistan ini. 38:01 Eh dan suku Pashtun yang ada di 38:04 Afghanistan mayoritas juga dukung dan 38:06 selalu mereka menggunakan istilah eh 38:09 dalam bahasa Pashtu larobar yaudi eh 38:13 artinya eh 38:15 eh apa ya kalau saya bisa translate 38:17 kalau semoga saya tidak salah ya. Apa 38:20 artinya? 38:21 eh apa 38:22 that side of border atau the side 38:27 Hmm. 38:52 Panjang. 38:56 Kompromi Kompromi 40:02 Oh. 40:04 Oh. 40:16 Eee eee, 40:18 saya bisa katakan akan hilang juga. 40:20 Karena Pakistan ini selalu menuduh India 40:23 bahwa India ini dukung, eee, 40:26 Baluch, Baluchistan, gerakan Baluchistan 40:29 ini untuk merdeka dan dan bisa dari 40:32 Pakistan. Ini semuanya terletak di di di 40:36 di dengan 40:38 Baluchistan, dengan Pashtunistan, dan 40:41 ada keterlibatan negara-negara tertentu 40:44 di kawasan tersebut. 40:45 Jadi itu memburuk-buruk hubungan antara 40:48 Afghanistan-Pakistan termasuk 40:50 peran India juga sangat besar di sana. 40:54 Tapi apakah ada kemungkinan ini bisa 40:57 kalau sudah ada, misalkan, eee, mediasi 41:01 gitu ya, 41:02 tercapai gitu kesepakatan permanen 41:04 mengenai perbatasan Durand Line tadi? 41:08 Eee, eee, 41:09 kalau saya katakan, eee, 41:13 susah juga ya. Tapi 41:14 Susah juga, sulit juga. 41:16 Kalau lihat kondisi politik Afghanistan, 41:18 sejarah dia, sejarah 41:21 politik dia dan hubungan antara 41:23 Afghanistan-Pakistan, 41:24 selama ada pemerintah dan pemimpin dari 41:28 suku Pashtun, dia tidak siap dan tidak 41:31 mau garis Diuran jadi garis resmi antara 41:35 dua negara ini. 41:37 Mmm. 41:37 Tidak, mereka tidak tidak. Sangat-sangat 41:40 sulit. Tapi ya, kalau mujizat terjadi, 41:42 saya enggak bisa, enggak tahu. Tapi 41:45 selain itu, 41:46 eee, 41:47 tidak, mereka tidak mau untuk, eee, akui 41:50 bahwa Diuran ini garis resmi antara dua 41:53 negara. 41:54 Mmm, mmm, mmm. 41:56 Berarti kira-kira langkah diplomatik apa 41:58 ini yang perlu diambil ya, 42:00 nyata gitulah oleh kedua negara ini 42:01 supaya ketegangannya itu ya selesai 42:04 gitu. Bagaimana, Pak Ayub? Kalau 42:06 sekarang kan, eee, 42:08 tuduhan Pakistan terhadap Afghanistan 42:11 itu bukan karena garis di uran tapi 42:14 karena tak TTP ini 42:16 masuk ke Afghanistan dan Taliban tidak 42:18 mau menekan TTP. 42:21 Jadi aksi-aksi terorisme selama beberapa 42:24 terakhir ini terjadi di Pakistan itu 42:27 pihak 42:28 pihak Pakistan selalu klaim bahwa itu 42:31 datang dari Afghanistan. Iya. Dan 42:33 Taliban Afghanistan ini tidak mau ambil 42:37 langkah yang konkret dan tidak mau 42:40 berhenti pergerakan terorisme dari 42:42 Afghanistan masuk ke Pakistan. Nah, ini 42:45 sebenarnya apa history repeat itself. 42:49 Kenapa dua dari 2001 sampai 2021 42:53 pemerintah sebelum Taliban ini selalu 42:56 menuduh Pakistan bahwa terorisme masuk 42:59 dari Pakistan ke Afghanistan dan 43:02 melakukan aksi bom bunuh diri dan 43:04 lain-lainnya. Sekarang sebaliknya 43:06 Pakistan klaim bahwa ini bukan dari 43:08 Afghanistan. 43:09 Jadi itu 43:11 Iya, iya. 43:13 Apa ada ada ada istilah dalam bahasa 43:16 Inggris what you plant you sow it, ya. 43:19 Hmm. Apa yang 43:21 Pakistan sendiri tadi saya bilang bantu 43:24 Taliban ini muncul dengan bantuan dia 43:26 mereka sekarang menjadi ancaman besar 43:29 bagi 43:30 kestabilan dan dan keamanan dia Pakistan 43:33 sendiri juga. Hmm. 43:36 Baik, sebelum 43:38 kita ke beberapa pertanyaan pendengar, 43:42 Dokter Ben sebenarnya bagaimana dinamika 43:44 politik Asia khususnya Asia Selatan 43:47 daerah ini ya gitu ya. 43:49 Akibat hubungan yang tidak stabil ya 43:51 antara Afghanistan dan Pakistan gitu ya. 43:56 Enggak sebenarnya di Asia Selatan Asia 43:58 Tengah dari dulu nih Mas Angga. Dari 44:00 dulu. Covid enggak selesai-selesai. 44:02 Apalagi Afghanistan sudah hampir 40 40 44:04 tahun nih kayak kan konflik, sehingga 44:07 agak agak 44:08 agak dalam konfliknya untuk 44:10 menyelesaikan masalah ini memang 44:12 butuh ekstra ada ekstra dan Afghanistan 44:15 itu kan sudah beberapa kali eksperimen 44:16 kan, ada dulu ada siapa 44:19 setelah jatuh jatuh 44:21 Taliban dipimpin oleh siapa tuh ya, 44:23 kemudian setelah terakhir Afghanistan 44:25 kan, mereka mengadakan sistem pemilu 44:27 bebas tapi kan enggak stabil ya kan, 44:29 kemudian memunculkan 44:31 Taliban juga 44:32 jadi jadi konflik dengan dengan Pakistan 44:35 jadi memang 44:36 memang konflik ini memang agak agak 44:37 sulit diselesaikan eh 44:40 apalagi pihak-pihak luar terus saya 44:42 pikir enggak enggak mau mereka itu apa 44:45 aman apa bisa damai 44:47 [mendengus] 44:48 dan dan ini agak agak jauh kalau 44:50 jauh di mana masalah enggak, mereka 44:52 [berdehem] 44:52 Asia Selatan India India Pakistan kan 44:54 pecah dari India India Barat India Timur 44:57 kan pecah dua Bangladesh sama Pakistan 44:59 dan ini kan dari konflik juga 45:01 konflik juga yang pecah dan sampai hari 45:03 ini itu kan Kashmir juga belum selesai, 45:05 jadi memang Asia Selatan sama 45:08 sama Asia Tengah ini memang masih masih 45:09 banyak sisa-sisa eh masalah yang sangat 45:13 sulit di diselesaikan ditambah lagi dan 45:22 Halo Dok, suaranya hilang ini Dok 45:32 Halo Dokter Ben 45:40 Dokter Ben suaranya hilang ya 45:43 Pak Ayub apakah suaranya masih ada Pak 45:45 Ayub dari saya Eh iya ada jelas Oh 45:47 berarti ini sepertinya internetnya 45:50 Dokter Ben ini terganggu gitu ya 45:52 Iya iya 45:54 Baik sambil menunggu Dokter Ben 45:56 terhubung kembali gitu ya, saya akan 45:59 menyapa pendengar-pendengar yang sudah 46:01 hadir menyimak siaran di malam hari ini. 46:04 Ada Ibu Ani Chani Hudaifah di Jakarta. 46:08 Bismillah, insyaallah hadir menyimak 46:10 BMBT di Rahsil malam ini. Semoga 46:13 narasumber dan pejuang dakwah Rahsil 46:16 sehat-sehat. Begitupun Ibu Fani, 46:18 assalamualaikum. Saya sedang mengikuti 46:19 acara ini. 46:21 Selamat bertugas. 46:23 Dari Sukabumi ada Ibu Mariati juga 46:26 menyimak siaran di malam hari ini. 46:30 Begitupun pendengar-pendengar lain 46:31 menyampaikan atensinya. Eh, kita di 46:34 malam hari ini ikhwan akhwat siaran live 46:38 buka mata, buka telinga. Konflik antara 46:41 Afghanistan dan Pakistan. Bagaimana kita 46:44 mengulasnya bersama 46:47 Dr. Sarbini Abdul Murad dan juga Dr. 46:52 Muhammad Ayub Mirdad. 46:54 Dan ikhwan akhwat, kita akan cek lagi 46:58 ini Dr. Ben apakah sudah kembali 47:00 terhubung? Oh, ternyata malah keluar ini 47:02 Dr. Ben. 47:03 Pak Ayub, saya akan ke pertanyaan 47:05 pendengar yang pertama ya, Pak Ayub ya. 47:08 Ada pendengar ini yang bertanya, 47:10 assalamualaikum warahmatullahi 47:12 wabarakatuh. Mas Angga dan juga para 47:14 narasumber. 47:16 Sebenarnya hubungan Afghanistan dan 47:20 Pakistan itu pasti ada dalangnya di 47:23 belakang itu. 47:25 Bagaimana peran negara Amerika dan juga 47:29 Cina? 47:30 Sejauh mana? Terima kasih. 47:33 Baik. Pak Ayub, bisa langsung kita jawab 47:35 pertanyaan ini? 47:36 Oke, baik. Ini Oh, Dr. Ben sudah 47:38 nyambung ya? Iya, sudah. Silakan, Pak 47:41 Ayub. 47:42 Baik, saya tadi bilang juga kalau dalam 47:45 konflik ini saat ini antara Afghanistan 47:48 dan Pakistan 47:49 eh 47:51 peran Cina ini atau Tiongkok ini tidak 47:55 terlalu kelihatan karena lebih utamakan 47:59 kepentingan negaranya khususnya untuk 48:02 ekonomi dan keamanan ee 48:05 Tiongkok sendiri dan juga Pakistan punya 48:08 banyak hutang 48:09 ee 48:11 dari China dan apapun 48:14 ee Tiongkok bilang Pakistan ini siap 48:16 harus melakukan karena 48:18 ee besar hutang tersebut dan tidak bisa 48:22 gampang kembalikan ke Tiongkok. Kalau 48:25 Amerika Serikat punya 48:27 ee 48:28 prasyarat atau requirements untuk ee ya 48:32 Afghanistan atau pemerintahnya Taliban 48:35 pemerintah yang inklusif harus ada dari 48:38 mislain di permi pemerintahannya bebas 48:41 sekolah, universitas, 48:44 peker bekerja bagi perempuan, semua 48:47 harus punya dan menghormati atau respect 48:50 hak asasi manusia di sana. 48:52 Dan baru akan mulai terlibat dalam ee 48:57 memulai itu syarat-syarat untuk bisa 49:00 akui pemerintahnya Taliban. Jadi kalau 49:02 dalam konflik yang terakhir ini terjadi 49:05 ee ya bisa jadi di belakang ada tapi 49:09 kalau di ee yang yang saya saya selalu 49:13 follow up ee media di Afghanistan dan 49:17 kontak yang ada teman-teman di sana 49:19 tidak tidak ada ini apa namanya belum 49:23 ada peran 49:24 dari Amerika Serikat dalam konflik 49:27 tersebut. 49:28 Tapi Donald Trump pernah bilang ee untuk 49:31 menyelesaikan konflik dengan Afghanistan 49:33 Pakistan itu konflik yang sangat gampang 49:36 bagi saya bisa cepat selesai dalam 49:39 mungkin berapa jam lah antara Pakistan 49:42 dengan Afghanistan. Tapi sekarang masih 49:44 diam itu 25 tahun. 49:47 Oh Trump baru bilang aja gitu ya belum 49:49 ada tindakan. 49:49 bulan yang lalu tidak untuk cukup 49:52 beberapa minggu yang lalu pernah di 49:54 langsung. 49:55 Ehm. 49:57 Tapi belum dikasih tahu ya apa itunya 49:59 ya? Ah, iya belum belum 50:01 belum. Belum. 50:03 Itu biasanya di sinyal-sinyal 50:06 politis sepertinya Dokter Ben ya yang 50:08 begitu-begitu tuh ya. 50:10 Iya iya benar. Apakah benar-benar nih 50:12 Cina, eh Amerika, bahkan mungkin bisa 50:15 jadi Rusia ya yang memang punya 50:18 punya catatan sejarah lah sama 50:20 Afghanistan. Eh menurut Dokter Ben 50:22 gimana itu negara-negara itu Dok? 50:25 Melihat konflik kedua negara ini. 50:29 Karena saya menganggap bahwa eh mereka 50:32 tidak tidak punya keinginan untuk untuk 50:34 menjadikan apa apa Afghanistan itu 50:37 stabil gitu saya. 50:38 Karena dengan naiknya Taliban ini kan 50:40 menjadi apa ya kamar Indomielah 50:42 bagi-bagi sebagian orang ya. Ya sama 50:45 kayak Rusia, Rusia sebenarnya mendekati 50:47 Afghanistan karena dia sebel sama 50:49 Amerika aja sebenarnya itu. Soal soal 50:51 dia kan cuma 50:53 me apa ya offsetlah dengan dengan apa 50:55 yang dilakukan oleh Amerika kan. 50:57 Maka saya saya lebih sebenarnya lebih 50:59 cenderung melihat antara Qatar sama 51:01 Saudi Arabia sebenarnya itu. Kalau 51:02 mereka serius benar bisa turun kan. 51:05 Karena karena dua negara ini punya 51:06 hubungan historis dengan kedua negara di 51:08 Asia Selatan ini. 51:10 Jadi sebenarnya kalau kalau Saudi Arabia 51:13 eh turun kemudian eh Qatar turun ya 51:16 bisalah. Tapi kalau Cina saya enggak 51:17 yakin. Seperti kata-kata Pak Yusuf tadi 51:19 itu Cina lebih ke bisnis dia itu kan. 51:21 Iya. Bisnis ya bisnis. Nah kalau dia 51:23 kuliah bisnis dia punya lah terserah 51:25 siapa siapa pemimpin kan. Ehm. Nah bagi 51:28 dia dia lebih menguntungkan Afghanistan 51:29 daripada eh Hamid Karzai atau daripada 51:33 eh Ashraf Ghani kan. Ketika dua 51:35 pemerintahan ini kan enggak stabil 51:36 diganggu sama Taliban kan. Dengan dia 51:38 jadi bisnisnya agak agak agak terganggu. 51:40 Tapi dengan Taliban naik kemudian dia 51:42 bisa menjamin keamanan keamanan Ya, dia 51:45 enggak ada persoalan. 51:47 Karena dianggap bahwa Afghanistan ini 51:48 mengandung tambangnya luar biasa gitu. 51:51 Artinya belum terjamah. Ya, jadi jadi 51:54 enggak enggak penting bagi Cina ini. 51:55 Yang penting Taliban ini bisa menjamin 51:57 keamanan investor mereka ya. 52:00 Apalagi eh 52:02 Pakistan enggak Pakistan sama Cina ini 52:03 kan hubungan sangat dekat sekali kan. 52:05 Sangat dekat sekali artinya 52:07 mereka itu menganggap bahwa eh Pakistan 52:09 head to head sama India ini kan 52:11 mungkin enggak enggak enggak apa ya? 52:13 Enggak enggak enggak selevel kali 52:14 mungkin ya. Maka maka India ke apa 52:16 Pakistan merangkul Cina kan untuk 52:19 menghadapi India ini. 52:20 Jadi jadi jadi semua punya kepentingan 52:22 nih Mas Angga, kepentingan yang 52:25 yang sangat rumit sebenarnya itu. 52:27 Serumit serumit konflik di Afghan di di 52:29 Palestina itu di Asia Selatan serumit 52:31 juga itu konflik itu. Lebih rumit dari 52:33 situ ya. 52:36 Baik, saya akan ke Pak Ahmad ini di 52:39 Bogor. Assalamualaikum warahmatullahi 52:41 wabarakatuh. 52:43 Siaran di malam hari ini Dokter Ben, 52:45 selamat malam semoga selalu sehat. 52:48 Mendengar Afghanistan saya tuh teringat 52:51 dulu waktu sekolah di tahun 90-an itu 52:55 ada nama tokohnya bernama Jamaluddin 52:58 Al-Afghani. 53:00 Saya baca bagaimana perjalanan dia dan 53:03 merubah Afghanistan. Bagaimana menurut 53:05 para narasumber tokoh tersebut? Oke. 53:09 Saya akan ke Pak Ayub Mira dulu. Disebut 53:11 tadi oleh Pak Ahmad ya, ada Jamaluddin 53:13 Al-Afghani. Ya, dulu saya sekolah juga 53:15 nih sering dengar nama ini. 53:17 Bagaimana Pak Ayub? Bisa diceritakan nih 53:18 sosok Jamaluddin Al-Afghani ini? 53:21 Eh 53:22 iya Pak eh Said 53:25 Said Jamaluddin Al-Afghani salah satu 53:28 tokoh yang yang ternama dari Afghanistan 53:32 yang 53:33 eh lahir pada abad 53:36 eh kalau tidak salah 17 atau 53:40 ya cukup lama di Afghanistan. 53:43 Tapi, eh, sama seperti Rumi. Eh, Rumi 53:46 juga tokoh terkenal dari Afghanistan 53:49 yang klaim Iran dan Turki selalu itu 53:52 dari, tapi lahir di Afghanistan. Oh, 53:55 gitu, ya? 53:56 Iya, dia asli, eh, Rumi asli, eh, 53:58 namanya 54:00 eh, 54:01 Maulana Abdul Maulana Jalaluddin Balkhi 54:04 Rumi. 54:05 Balkhi itu salah satu provinsi di 54:07 Afghanistan. Namanya Balkh atau Balkh 54:10 bahasa Arab Syekh. 54:11 Tapi, masih di kata orang Iran, gitu, 54:12 ya? 54:13 Tempat kelahirannya Rumi di sana. Mmm. 54:16 Dan juga termasuk tokoh, eh, 54:19 Sayyid Jamaluddin Al-Afghani. Mmm, gitu, 54:21 ya? Iran sering klaim bahwa itu Mmm. 54:24 dari Iran. Ya, seperti terjadi antara 54:26 negara kita, Indonesia dengan Malaysia. 54:29 Hehehe. 54:29 Jadi, ada ada ada klaim Mmm. itu. Ya, 54:34 sayang dia, Afghanistan sebenarnya ada 54:36 banyak tokoh-tokoh yang cukup eh, 54:40 berpengaruh besar dalam ilmu 54:42 pengetahuan, tapi, eh, sejarah, tapi 54:46 Afghanistan ini terkenal dalam konflik. 54:49 Kalau nama-nama itu banyak orang sudah 54:52 lupakan. Tapi, kalau sebut nama 54:54 Afghanistan, pasti akan responsnya, "Oh, 54:57 Taliban. Oh, asal mau ini, ini." Tapi, 55:00 orang-orang itu loh. Tapi, memang ada 55:03 banyak tokoh-tokoh terkenal, tokoh-tokoh 55:06 ternama, termasuk Imam Abu Hanifah dari 55:09 Afghanistan, lahir di sana, tapi 55:12 sampai eh, 55:14 meninggal dan pindah ke, eh, Iran. Ada 55:17 banyak tokoh dari tokoh-tokoh ilmiah 55:20 maupun dari tokoh agama di sana. 55:22 Dan salah satunya Sayyid Jamaluddin 55:24 Al-Afghani. 55:26 Mmm. 55:27 Ini kalau buat para aktivis Islam, ya, 55:30 khususnya di Indonesia, kayaknya nama 55:33 Jamaluddin Al-Afghani ini cukup, eh, 55:35 tenar, ya, Dok, ya. Apalagi ada 55:37 misi-misi pan-Islamisme dulu gitu ya. 55:39 Dokter Ben, bagaimana ini melihat eh apa 55:42 pemikiran ataupun pengaruh termasuk gitu 55:45 ya kepada eh orang-orang Islam di 55:47 Indonesia itu dari sosok Jamaluddin 55:48 Al-Afghani gimana, Dok? 55:50 Dia [berdehem] juga tokoh reformis ya. 55:52 Itu guru kita yang gurunya 55:54 Muhammad Abduh ya dari dari dari dari 55:56 Mesir kan. 55:57 Dan tetapi masalahnya enggak eh walaupun 56:00 beliau dianggap reformis dan itu menjadi 56:02 inspirasi banyak 56:03 banyak orang ya untuk eh apa ya untuk 56:07 untuk bangkitlah ya untuk bangkit 56:08 melawan kejumudan dan kebodohan umat 56:10 Islam ketika itu ya negara-negara Islam 56:12 ketika itu di bawah penjajahan 56:14 penjajahan asing. 56:15 Tapi kalau saya saya baca eh catatannya 56:18 buku Abdul Hamid, Sultan Abdul Hamid, 56:21 Sultan eh Ottoman yang terakhir itu 56:24 itu beliau beliau agak sinis dengan 56:26 dengan Jamaluddin Al-Afghani ini. Kalau 56:28 kalau dia Afghani kan dia dia agak 56:30 sinis. Iya iya. Karena menurut dia ini 56:32 ini semua catatan dia ya ya maksudnya 56:35 menurut menurut Sultan Abdul Hamid bahwa 56:38 eh beliau itu adalah orang yang 56:40 dibesarkan oleh Inggris itu loh untuk 56:42 mengacak-acak Daulah Ottoman. Nah, kayak 56:45 gitu loh inti inti cerita dari 56:47 dari dan memang eh jadi ada dua ada ada 56:50 dua kutub untuk melihat sosok seorang eh 56:53 Jamaluddin Al-Afghani. 56:55 Tapi terlepas saya bagaimanapun beliau 56:57 banyak ide-ide besar ya untuk 56:58 membangkitkan umat Islam kan untuk 57:00 kembali ke apa ya ke modernitaslah 57:04 agak agak jangan 57:06 jangan jangan di bawah eh 57:08 pendudukan penjajahan gitu loh 57:10 maksudnya. Jadi memang memang 57:11 Afghanistan banyak melahirkan 57:12 tokoh-tokoh besar seperti kata eh Pak 57:15 Ayub tadi itu ya 57:17 eh mungkin Ibnu Sina kali mungkin bisa 57:19 jadi dari dari dari Afghanistan ya. 57:21 Memang banyak melahirkan tokoh-tokoh 57:22 besar yang dari Afghanistan. Tapi karena 57:24 kehebatan mereka itulah maka 57:27 agak susah untuk bersatu kan. Karena kan 57:29 orang hebat semua kan susah bersatu. 57:31 Jadi itu itu 57:32 adalah konsekuensi dari 57:34 dari kelemahan dari sebuah kebesaran 57:36 itu. Saya aduh. 57:38 Iya iya iya. 57:41 Baik, ada satu berita nih Dok ya. Saya 57:44 ini update tentara Pakistan membunuh 30 57:48 militan 57:49 di dekat perbatasan Afghanistan. 57:53 Jadi konfliknya ini bahkan 57:56 eh kalau kita eh lihat korban kan cukup 58:00 eh banyak gitu ya. 58:01 Di bahasakan memang media ini 58:04 macam-macam dari mulai militan, ada juga 58:07 pemberontak gitu ya. 58:09 Ini kabar mengenai terus eh ketegangan 58:13 ini terjadi apalagi di sekitar eh 58:16 provinsi apa nih kalau kita kalau saya 58:19 baca ini Heber 58:21 Paktunhua ini bahasanya bacanya gimana 58:23 nanti Pak Ayub yang tahu gitu ya. 58:27 Nah, lalu juga disinggung mengenai 58:30 eh para pengungsi. Bukankah pengungsi 58:33 juga masih ada di Pakistan gitu ya. Ini 58:35 bagaimana nih eh Pak Ayub nih? 58:38 Tadi update berita mengenai tentara yang 58:39 masih terus eh terjadi perang ya. 58:43 Eh 58:44 ya memang Pakistan ini sedang melakukan 58:47 operasi ya, operasi militer di di 58:50 perbatasannya dengan Afghanistan. 58:53 Jadi tadi eh 58:55 kita bahas di Pakistan juga ada banyak 58:58 kelompok-kelompok 59:00 ekstremisme ya milik selalu me eh 59:03 namanya militan, eh pemberontak atau 59:06 teroris tapi 59:08 kurang jelas dari pihak dua pemerintah 59:11 ini atau khususnya dari Pakistan siapa 59:13 30 orang ini. Apakah itu karena kelompok 59:17 atau etnis Pashtun ya di Pakistan ini 59:20 juga sangat 59:22 eh termarginalize 59:23 dan juga sangat eh 59:26 apa namanya menghadapi diskriminasi dari 59:29 pemerintahannya Pakistan dan pemimpin 59:31 Pashtun 59:32 eh, di Pakistan ini beberapa kali juga 59:35 masuk penjara. Jadi, itu bisa juga dari 59:39 suku tersebut atau juga bisa jadi dari 59:42 TTP karena beberapa minggu yang lalu ada 59:45 beberapa banyak polisi dan tentara 59:48 Pakistan juga tewas ketika mulai konflik 59:52 atau terjadi eh, apa konflik dengan TTP. 59:57 Jadi, saya juga kurang tahu 30 orang ini 1:00:00 apakah itu dari pihak Afghanistan atau 1:00:03 Pakistan ya, tapi 1:00:05 tentu saja tadi juga Pak Ben tanya 1:00:08 tentang pengaruh konflik ini pengaruh 1:00:11 terhadap pengungsian yang ada di 1:00:12 Pakistan ini juga pengungsi Afghanistan 1:00:15 di Pakistan juga sangat negatif dan 1:00:17 sangat besar. Setiap hari ada deportasi 1:00:21 paksa dari Pakistan eh, ribuan orang 1:00:25 Afghanistan dideportasikan 1:00:27 ke Afghanistan dan mereka ketika kembali 1:00:30 ke sana ya, memang Afghanistan saat ini 1:00:32 menghadapi isu kemanusiaan yang sangat 1:00:35 besar. Apalagi ini kita baru masuk di 1:00:38 sana mulai musim dingin dan 1:00:42 cuaca mulai sangat dingin dan 1:00:43 orang-orang ini ketika kembali ke 1:00:45 Afghanistan tidak ada tempat tinggal. 1:00:48 Belum ada, tidak ada pekerjaan, tidak 1:00:50 ada pendapatan dan sangat-sangat sulit 1:00:53 bagi mereka untuk untuk mulai hidup dia 1:00:56 dari nol. Karena kebanyakan pengungsi di 1:00:59 sana itu sudah belasan bahkan puluhan 1:01:01 tahun lahir dia di Pakistan tapi 1:01:04 sekarang deportasi dan mereka ini 1:01:06 menjadi korban dari hmm, eh, 1:01:09 apa permainan politik antara dua 1:01:11 pemerintah tersebut. 1:01:13 Hmm. 1:01:16 Deportasi besar-besaran eh, berarti 1:01:18 pengungsi cukup banyak ya, apalagi 1:01:20 sampai puluhan tahun gitu 1:01:22 eh eh Pakistan selama itu gitu ya masih 1:01:25 mau gitu ya menampung namun sekarang 1:01:27 konflik meningkat ya mereka pun harus 1:01:30 mendeportasi dengan paksa gitu ya. 1:01:32 Betul Pak, Afghanistan kan kalau bukan 1:01:35 baru terjadi konflik di sana. Mulai dari 1:01:38 tahun 1975 1:01:41 semua BG eh mulai dari invasi USSR atau 1:01:45 Soviet sampai 89 dan begitu mulai perang 1:01:50 muncul dia Taliban ini sudah hampir 1:01:53 setengah abad konflik di Afghanistan. 1:01:55 Dan salah satu faktor pendorong 1:01:58 terjadinya pengungsi itu adalah konflik. 1:02:01 Banyak orang Afghanistan meninggalkan 1:02:04 negaranya untuk cari tempat lebih aman 1:02:06 ke negara lain. Dan salah satunya itu eh 1:02:09 Pakistan dan 1:02:11 Iran. Dan sekarang dua negara ini sudah 1:02:16 hampir hampir setahun sudah mulai 1:02:19 deportasi besar-besaran dan sudah bahkan 1:02:22 kalau dari Iran sudah hampir jutaan 1:02:25 sejuta dari Iran dideportasikan ke 1:02:28 Afghanistan. Dan masalah yang kedua ini 1:02:31 yaitu dalam deportasi ini ada banyak eks 1:02:34 militer atau tentara Afghanistan yang 1:02:37 dulu mereka bekerja sebagai tentara di 1:02:41 militer di pemerintah sebelum Taliban 1:02:43 ini itu juga termasuk dan deportasi ke 1:02:47 Afghanistan tapi ketika mereka kembali 1:02:49 ke Afghanistan banyak yang jadi korban 1:02:52 dibunuh dan tidak sampai rumahnya dan 1:02:56 dan karena yaitu balas dendam dari 1:02:58 Taliban. Jadi ya masyarakat awam selalu 1:03:03 menjadi korban di eh konflik dan 1:03:06 khususnya juga dalam kasus Afghanistan 1:03:09 Pakistan. 1:03:11 Hmm. 1:03:12 Oke. 1:03:13 Selanjutnya oh ini Dokter Ben belum 1:03:16 bersambung tersambung lagi gitu ya. 1:03:18 Iya, Pak. 1:03:18 Selanjutnya kita ke 1:03:21 pertanyaan dari hamba Allah ini di 1:03:23 Jakarta ya, tidak menyebutkan nama. 1:03:25 Assalamualaikum warahmatullahi 1:03:26 wabarakatuh. Saya tonton Afghanistan 1:03:29 nonton film Rambo dulu. Wah, film Rambo. 1:03:34 Afghanistan Pakistan dua negara yang 1:03:36 begitu indah. Nah, sebenarnya cerita 1:03:38 sejarahnya apakah seperti yang 1:03:40 digambarkan dalam film? 1:03:42 Oke. 1:03:44 Bagaimana nih? 1:03:45 Pak Ayub pasti pernah nonton kan yang 1:03:46 Rambo di yang di Afghanistan itu gitu 1:03:48 ya. Ehm, 1:03:50 pernah Pak. Tapi sayangnya lupa saya 1:03:52 juga filmnya 1:03:54 cukup lama. 1:03:55 Pak, saya lupa skenarionya skenario di 1:03:59 film itu seperti apa. Tapi ya, ehm, 1:04:02 kurang lebih seperti itu. Yang yang 1:04:05 Oh, negara di dikenal sebagai negara 1:04:07 yang indah. Ini Pakistan sama 1:04:09 Afghanistan memang indah ya? 1:04:11 Kalau agak 1:04:13 bukan karena saya berasal Iya. 1:04:16 Iya. Sekarang saya sudah warga negara 1:04:18 Indonesia. Tapi Afghanistan ini tadi 1:04:21 saya bilang waktu Pak Pak Edo tanya 1:04:24 tentang Jamaluddin Al-Afghani, 1:04:27 saya bilang ada banyak tokoh dari sana 1:04:29 tapi semua orang hanya kenal dan tahu 1:04:32 tentang konflik. 1:04:33 Begitu kalau dilihat dari keindahan alam 1:04:36 yang ada di Afghanistan, banyak orang 1:04:39 tidak tahu. Karena konflik itu yang 1:04:42 terjadi. Afghanistan ini sebenarnya 1:04:45 sangat-sangat indah. 1:04:47 Alamnya 1:04:48 belum sebenarnya tersentuh seperti 1:04:51 negara-negara lain. Jadi, sangat alami. 1:04:54 Dan belum ada perubahan apapun di sana. 1:04:57 Ehm, indah sekali. Ya ya, banyak orang 1:05:01 bilang juga ini the Switzerland of 1:05:04 Asia dan Kyrgyzstan juga yang salah satu 1:05:07 tetangganya. Tapi indah, indah. Pakistan 1:05:10 juga begitu, indah sekali. Tapi karena 1:05:14 konflik dan 1:05:16 itu pengaruhnya sangat besar terhadap eh 1:05:20 eh negara-negara nama-nama atau eh image 1:05:23 negara-negara tersebut. Jadi tidak ya, 1:05:26 kalau orang-orang ingin tahu Afghanistan 1:05:28 itu seperti apa, coba lihat tahun 70-an, 1:05:32 60-an. Itu Afghanistan lebih maju 1:05:35 daripada India, daripada Pakistan, 1:05:38 daripada Bali negara. Kalau bukan hanya 1:05:40 di kawasan Asia Selatan, tapi di Eropa 1:05:43 dan juga bahkan sampai Asia Tenggara. 1:05:46 Karena 1:05:47 perempuan, laki-laki, semuanya haknya 1:05:50 sama dan sangat aman, banyak turis, 1:05:53 pendidikannya sangat maju. Tapi konflik 1:05:57 ketika mulai semuanya hancur dan eh 1:06:00 berubah wajah Afghanistan sampai 1:06:03 sekarang. 1:06:05 Oke. 1:06:06 Dokter Ben sudah terhubung lagi. Kenapa 1:06:08 putus-putus, Dok? Ada gangguan ya? 1:06:11 Gangguan, Dok. Gangguan ya, Dok? 1:06:14 Beberapa pertanyaan tadi kalau komentar 1:06:16 dari Dokter Ben kan tadi disinggung 1:06:18 mengenai pengungsi juga ya, pengungsi 1:06:20 Afghanistan dan cukup banyak di Pakistan 1:06:22 mengalami mendeportase. 1:06:24 Lalu juga gambaran sejarahnya 1:06:27 Afghanistan, ini negara-negara yang eh 1:06:30 indah gitu ya, tapi karena konflik ya 1:06:33 keindahan jadi orang enggak tahu gitu, 1:06:35 tahunya cuma konflik aja. Belum lagi 1:06:37 sumber daya alamnya juga pasti cukup eh 1:06:39 besar gitu ya. Bagaimana, Dok, tadi 1:06:41 beberapa pertanyaan yang masuk? 1:06:43 Iya, kan ada ada Lembah Swat itu. Lembah 1:06:46 Swat itu kan di Afghanistan tuh. Ada 1:06:48 orang bilang begini, "Jangan mati dulu 1:06:49 sebelum Anda pergi ke Lembah Swat." 1:06:51 katanya loh. Iya, gitu ya. Saking 1:06:53 eh saking-saking indahnya kata tuh 1:06:55 Lembah Swat. Memang memang karena letak 1:06:56 tinggi itu dia Hindu Kush tinggi-tinggi 1:06:58 banget loh di sana loh. He Kayak Kashmir 1:07:00 itu masa Kashmir itu kan 1:07:02 itu kan tinggi-tinggi banget tuh. Memang 1:07:03 indah banget. Beda aura sama Indonesia 1:07:05 beda gitu. Kita kan hidupnya beda, aura 1:07:08 itu beda. Saya lebih ke aura gitu ya. 1:07:10 Hmm. Saya ke Hindu Kush itu tuh, Gunung 1:07:12 Hindu Kush itu indah-indah sekali, 1:07:13 sungai lebar-lebar, bersih banget itu. 1:07:16 Hmm. Dan insya Allah pokoknya di 1:07:18 Afghanistan itu 1:07:20 saya enggak sampai ke Lembah Swat dan 1:07:21 saya cuma di perbatasan di apa di 1:07:23 Kashmir itu, itu memang luar biasa indah 1:07:25 itu. 1:07:26 Dan makanya eee untuk turis sangat kalau 1:07:29 untuk keamanan turis sangat-sangat 1:07:30 mendukung dan untuk untuk perkembangan 1:07:32 pariwisata ini kan bisa menghidupkan 1:07:34 segala aspek banyak aspek multi player 1:07:36 lah untuk untuk eee ini untuk ekonomi 1:07:39 kemak ke 1:07:40 kemakmuran. Jadi tapi memang harus ada 1:07:42 stabil dulu kalau enggak stabil ya 1:07:44 memang baru eee seperti kata Pak Aip 1:07:45 tadi itu seperti Afghanistan tahun 70-an 1:07:48 ya tahun 70 di mana 1:07:50 eee 1:07:51 mengalami ekonomi yang yang luar biasa. 1:07:53 Dan kita lihat ya eee 1:07:56 Mas Angga ya itu di di di mana ya di di 1:07:58 Amerika itu banyak toko-toko Afghanistan 1:08:00 yang muncul tahu. Di di Australia itu 1:08:02 banyak mereka yang muncul. 1:08:04 Jadi memang 1:08:05 eee ini bangsa ini bangsa yang kuat, 1:08:07 bangsa yang besar sebenarnya. Dan dia 1:08:09 punya sejarah panjang sebenarnya. Ya ini 1:08:10 karena memang karena konflik seperti 1:08:12 kata Pak Aip tadi itu yang 1:08:13 bikin mereka ini agak-agak kebingungan 1:08:15 kan. Apalagi 1:08:17 dengan Iran kan. Jadi kan beberapa 1:08:18 mata-mata yang menjadi agen Israel kan, 1:08:22 agen Mossad ini kan 1:08:23 pengungsi-pengungsi Afghanistan kan. 1:08:25 Juga sebagian diusir dari Iran. Oh. 1:08:28 Dari dari Afghanistan. Juga ekonomi 1:08:30 morat-marit kota mah pengungsi banyak 1:08:32 itu menjadi Hmm. faktor keamanan juga 1:08:35 eee Mas Angga. Jadi ini yang saya pikir 1:08:37 memang eee 1:08:40 masih-masih panjang cerita Afghanistan 1:08:42 ini dan 1:08:43 dan kita lihat bagaimana Indonesia ya 1:08:45 ketika masa Bu Retno itu memberi bantuan 1:08:47 Hmm. bantuan kemanusiaan sehingga 1:08:51 eee apa sehingga musim dingin ini bisa 1:08:53 ter-handle ya. Kemudian gempa gempa bumi 1:08:56 yang di Herat itu kan banyak juga 1:08:58 bantuan-bantuan dari Indonesia yang 1:08:59 datang ke sana. Jadi tapi memang 1:09:01 Indonesia lebih kepada konteks 1:09:02 kemanusiaan ya. Jadi, enggak ada 1:09:04 negara-negara Oki ya. Saya pikir negara 1:09:06 Oki yang sungguh-sungguh untuk bicara 1:09:09 untuk eh apa ya? Untuk mengeluarkan 1:09:12 Afghan eh Taliban ini dari dari dari apa 1:09:16 teroris. Kita gini, "Ya sudahlah itu 1:09:18 masa lalu. Sekarang sudahlah 1:09:20 eh apa eh diakui sebagai karena kayak 1:09:23 korban itu kan bukan cuma Taliban. Yang 1:09:25 korban itu kan masyarakat-masyarakat 1:09:26 kecil ya kan? Mmm. Karena karena kalau 1:09:28 gajah berkelahi kan yang korban Lalu 1:09:30 pelanduk. 1:09:31 Ini yang terjadi hari ini seperti itu. 1:09:32 Tapi kalau Oki misalnya secara 1:09:34 sungguh-sungguh untuk minta Dewan 1:09:36 Keamanan PBB ya untuk bisa men- eh 1:09:39 apa ya? Mengakui Taliban sebagai entitas 1:09:41 sebuah negara dengan persyaratan 1:09:44 dan persyaratan ini pun memang harus ada 1:09:45 pendekatan juga untuk untuk Taliban 1:09:46 untuk bisa memahami keinginan 1:09:48 internasional kan. Misalnya contoh 1:09:50 eh sekolah tentang masalah perempuan ya. 1:09:52 Buat perempuan apa masalahnya? Kemudian 1:09:54 kalaupun misalnya ada ada sudut pandang 1:09:56 yang berbeda. Contoh gini ya, misalnya 1:09:58 internasional mengatakan bahwa perempuan 1:09:59 di kung kung misalnya dikungkung. Tapi 1:10:02 banyak kelompok yang mengatakan bahwa 1:10:03 enggak seperti itu. Nah, oleh sebab itu 1:10:05 harus ada tim internasional di PBB ya 1:10:08 yang perlu diungkapkan Islam itu melihat 1:10:10 secara riil dengan langsung dengan 1:10:11 melihat dengan titik insight-lah artinya 1:10:14 melihat setempat 1:10:16 untuk melihat bahwa apakah benar Taliban 1:10:18 memperlakukan perempuan itu 1:10:19 diskriminatif? Soal pendidikan misalnya, 1:10:21 soal ekonomi dan sebagainya. Ini ini ini 1:10:24 perlu ada tim sehingga tim ini yang 1:10:25 melaporkan kepada Dewan Keamanan atau ke 1:10:27 PBB untuk mengatakan bahwa tujuan selama 1:10:30 ini enggak benar atau benar atau 1:10:31 bagaimana. Jadi, ini harus diselesaikan 1:10:33 karena korban selalu rakyat kecil Mas 1:10:35 Angga. Iya. Karena masyarakat yang 1:10:36 korban gitu 1:10:37 Kalau misalnya petinggi-petinggi Taliban 1:10:39 mereka itu kan ah aman-aman 1:10:40 tenang-tenang saja. Mmm. Gitu kan. 1:10:42 Enggak ada enggak ada urusan mereka 1:10:43 diboikot, mau diapain mereka tetap eksis 1:10:45 kan. Tapi masyarakat bawah. Nah, tapi 1:10:47 ini ini keseriusan Oki ya sebagai 1:10:49 sebagai negara Islam yang punya 1:10:51 hubungan-hubungan eh ideologis ya yang 1:10:53 harus berani untuk untuk mencari 1:10:55 terobosan ya. Terobosan memang 1:10:56 tidak-tidak menggembirakan tapi harus 1:10:58 dilakukan sehingga 1:11:00 masyarakat Afghanistan bisa hidup lebih 1:11:02 damai. Seperti itu Mas Anca. Iya. 1:11:04 Baik. 1:11:06 Eh, menyebut OKI, PBB, juga 1:11:08 negara-negara yang harusnya berperan 1:11:10 gitu ya dalam proses perdamaian 1:11:12 eh, Afghanistan versus Pakistan. 1:11:16 Saya ini jadi googling, ternyata ada 1:11:18 info di tahun 2018, 1:11:21 Indonesia bertempat di Bogor ini jadi 1:11:24 tuan rumah pertemuan ulama trilateral, 1:11:27 Indonesia, Pakistan, Afghanistan. Banyak 1:11:31 yang dibahas yang masih tujuan utamanya 1:11:33 meredakan konflik antara Afghanistan dan 1:11:36 Pakistan. Kalau dari sisi strategi 1:11:39 internasional, Pak Ayub, peran-peran 1:11:42 negara tetangga 1:11:45 ataupun negara ya negara-negara yang 1:11:47 dalam satu wadah OKI misalkan gitu ya 1:11:50 terhadap konflik ini apakah memang 1:11:53 ada langkah-langkah nyata gitu? Apakah 1:11:55 memang tidak ada eh, 1:11:57 bantuan riil sama sekali? 1:12:01 Eh, 1:12:02 kalau 2018 1:12:04 eh, 1:12:06 seingat saya itu ada 1:12:09 eh, dari Taliban juga yang datang ke 1:12:13 Indonesia untuk bertemu dengan Pak Yusuf 1:12:15 Kalla kalau saya tidak salah. He eh. 1:12:18 Tapi seingat waktu itu. 1:12:20 Tapi ya itu tadi 1:12:23 eh, Pak Pak Benny juga sampaikan ya 1:12:26 peran OKI ini sebenarnya besar tapi 1:12:30 siapa anggotanya yang mereka bisa 1:12:32 advokasi. 1:12:34 Misalnya Indonesia salah satu negara 1:12:36 yang terkenal dalam bantuan 1:12:38 kemanusiaannya di dunia. 1:12:40 Dan kita punya budaya gotong royong. 1:12:43 Ini bisa eh, apa tak sebenarnya 1:12:47 Indonesia tidak ada kepentingan keamanan 1:12:49 atau kepentingan khususnya kepentingan 1:12:52 di bawah sekali dengan apa yang ada, 1:12:54 tapi bisa menggunakan soft power-nya. 1:12:58 Soft power-nya apa? Bantuan kemanusiaan, 1:13:01 itu juga bisa dari sisi pendidikan, 1:13:04 misalnya 1:13:05 bawa dari sana untuk kuliah di Indonesia 1:13:11 atau mengundang Indonesia kan terkenal 1:13:13 salah satu 1:13:15 negara demokrasi nomor tiga, nomor tiga 1:13:18 atau empat di dunia. 1:13:20 Ah, Islam moderatnya melalui organisasi 1:13:24 besar yang ada di sini. 1:13:26 NU dan Muhammadiyah. Bagaimana bisa 1:13:29 masuk dalam negosiasi langsung dengan 1:13:31 Taliban. 1:13:33 Kalau kita tinggalkan konflik antara 1:13:35 Pakistan, India, Pakistan dan 1:13:37 Afghanistan yang di satu sisi. 1:13:40 Ah, pakai Taliban ini, Indonesia ini 1:13:42 termasuk OKI, organisasi eh Islam ini 1:13:47 juga punya peran, tapi belum ada secara 1:13:49 nyata. 1:13:50 Pernah ada beberapa anggota dia bertemu 1:13:53 dengan pemimpin Taliban di Kabul, tapi 1:13:57 pertemuan itu juga mereka tidak terlalu 1:13:59 peduli atau mengambil isu-isu yang tadi 1:14:02 Pak Den bilang, apakah 1:14:04 ah, yang kita dengar di media itu benar 1:14:07 terjadi terhadap perempuan, lebih parah 1:14:09 dari itu. 1:14:10 Lebih parah karena barusan ini, dua 1:14:12 hari, satu hari yang lalu saya baca di 1:14:15 BBC, walaupun keluarga saya tidak ada di 1:14:18 sana, tinggal di sana semua di negara 1:14:20 lain. Tapi sekarang kalau perempuan mau 1:14:24 keluar ah, atau mau ke dokter kalau 1:14:28 sakit 1:14:31 satu lagi yang baru saya baru ingat, eh 1:14:34 gempa yang terjadi di provinsi Kunar 1:14:36 yang perbatasan dengan dekat dengan 1:14:38 Pakistan. 1:14:40 Bantuan yang kirim ke orang-orang yang 1:14:43 terdampak dari gempa tersebut 1:14:46 ini yang salah, hal yang sangat lucu dan 1:14:49 sangat sedih 1:14:50 Mereka utamakan dua. Yang pertama 1:14:53 laki-laki, yang kedua hewan-hewan yang 1:14:56 ada di sana dan 1:14:58 lupakan perempuan di sana. Itu saya 1:15:01 bukan katakan ini, tapi saya baca salah 1:15:04 satu eh politisi dari Pakistan namanya 1:15:07 Muhammad Husain, saya lupa nama 1:15:10 lengkapnya. Perempuan di sana 1:15:12 benar-benar korban utama dari konflik 1:15:16 dan khususnya dari pemerintah Taliban. 1:15:19 Sangat baik. Tidak ada penganiayaan 1:15:21 pendidikannya itu buka sampai kelas 6, 1:15:23 setelah itu perempuan harus di rumah. 1:15:26 Kerja tidak boleh, apalagi 50 tahun 1:15:28 kurang lebih 50 tahun ini konflik, 1:15:31 banyak perempuan di sana kehilangan 1:15:33 suaminya. Yang menafkahi keluarganya itu 1:15:36 pasti 1:15:37 perempuan tersebut atau anak-anak 1:15:39 kecilnya mereka. 1:15:41 Jadi bagaimana dengan mereka? Ya, eh dan 1:15:45 ada ada reporter special envoy atau 1:15:48 reporter dari PBB di Afghanistan namanya 1:15:51 Richard Bennett yang selalu setiap 6 1:15:54 bulan mengeluarkan 1:15:55 temuan-temuan eh pelanggaran hak asasi 1:15:58 manusia yang terjadi di sana. Tapi 1:16:00 belum, sayangnya enggak atau belum ada 1:16:03 langkah nyata dari PBB maupun organisasi 1:16:07 atau negara-negara lain yang ada di 1:16:10 eh negara-negara tetangga atau 1:16:12 negara-negara lain. 1:16:15 Itu ya, Bro. Termasuk Indonesia, Pak 1:16:17 Ayub ya? 1:16:19 Eh Indonesia itu lebih eh eh kalau kalau 1:16:22 Indonesia ya yang lebih fokusnya pada 1:16:25 bantuan kemanusiaan Mmm. daripada 1:16:28 rekognisi pemerintahnya Taliban. 1:16:31 Karena untuk mengakui pemerintah Taliban 1:16:34 ada banyak konsekuensinya. 1:16:36 Jadi negara harus sangat berhati-hati 1:16:38 untuk 1:16:38 Iya. mengakui pemerintah Taliban, tapi 1:16:41 bisa memberikan bantuan kemanusiaan bagi 1:16:44 masyarakat di sana. Bukan melalui 1:16:46 pemerintahan yang Taliban, tapi melalui 1:16:48 organisasi non pemerintahan yang masih 1:16:51 aktif di sana. Ehm. 1:16:53 Kalau dari pengalaman Dokter Ben misi 1:16:56 kemanusiaan misi kemanusiaan gitu ya ke 1:16:58 Afghanistan, 1:17:00 kalau sekarang 1:17:02 itu yang paling membedakan apa, Dok? 1:17:04 Dengan kondisi sekarang nih gitu ya. 1:17:06 Enggak, sebenarnya gini Mas Angga. Ehm. 1:17:08 Eh, pengalaman pengalaman eh kami waktu 1:17:10 di Afghanistan ini 1:17:12 bahwa ada seperti kata Pak Ayub ada 1:17:14 kekhawatiran dari pihak eh apa ya KBRI 1:17:18 kita 1:17:19 eh kita ini berka berkomunikasi ataupun 1:17:22 berhubungan ataupun keamanan dengan 1:17:24 pihak Taliban ya takut ya. Jadi mereka 1:17:26 itu sangat-sangat sangat khawatir kalau 1:17:28 misalnya ada ada apa ya ada kontak 1:17:31 dengan pihak-pihak Taliban. Maka seperti 1:17:32 awal saya katakan tadi itu Mas Angga, 1:17:34 memang memang ada persoalan, persoalan 1:17:36 itu memang ada persoalan. Enggak mungkin 1:17:38 enggak enggak ada persoalan kan. 1:17:40 Jadi saya persoalan di sini kan eh 1:17:43 saya saya agak mungkin saya agak berbeda 1:17:45 dengan dengan Pak Ayub ya. Jadi ada 1:17:47 persoalan, persoalan ini kan harus harus 1:17:50 di di diselesaikan ya. Maka 1:17:52 memang tim yang mau dikirim ini memang 1:17:55 harus dari dari dari negara-negara OKI 1:17:57 ya. Kalau Barat ini kan dari awalnya ini 1:17:59 kan bisa jadi mereka sudah antipati ya 1:18:01 antipati dengan dengan pihak Taliban ya 1:18:03 enggak. Tapi kalau OKI ini kan eh agak 1:18:06 relatif ada ada diskusilah di situ ya. 1:18:09 Apakah Indonesia yang turun, kemudian 1:18:12 eh apa ya Qatar, Saudi Arabia atau 1:18:15 Malaysia yang turun ya di wakil Asia 1:18:17 Tenggara. Mungkin kalau negara-negara 1:18:19 yang moderat turun eh 1:18:21 kemudian bisa melihat langsung, kemudian 1:18:24 bisa melaporkan misalnya ke ke PBB itu 1:18:27 relatif lebih bisa diterima ya. Tapi 1:18:29 kalau misalnya Barat ini kan dari awal 1:18:32 ini 1:18:33 yang satu 1:18:34 tidak respek, yang satu juga tidak 1:18:36 respek gitu. Jadi memang ada ada bias 1:18:38 ya, bisa jadi ada bias walaupun ada 1:18:40 benar itu juga mungkin saja ada ada 1:18:41 bias. 1:18:43 Jadi jadi ini menurut saya Angga 1:18:45 memang Indonesia dalam konteks ini harus 1:18:47 bisa memainkan peran yang 1:18:50 yang lebih apa ya lebih signifikanlah ya 1:18:52 lebih signifikan untuk bisa 1:18:54 menyelesaikan masalah konflik di 1:18:55 Afghanistan dan di Pakistan. Kalau dulu 1:18:58 memang ulama yang diturunkan karena 1:18:59 ulama punya pengaruh sekarang juga ulama 1:19:01 juga dari kedua belah pihak untuk bisa 1:19:04 menyelesaikan konflik ini. Jadi 1:19:07 jadi kita kasihan ya kasihan melihat 1:19:09 Afghanistan ini sehingga 1:19:12 mereka tidak 1:19:13 tidak mampu ya untuk bisa 1:19:15 memerintah ya secara mandiri karena 1:19:17 persoalan-persoalan internal yang sangat 1:19:19 rumit sekali ya 1:19:21 yang terjadi di sana. 1:19:26 Baik Dokter Ben dan juga Pak Ayub ini 1:19:28 kita sudah dibatasi oleh waktu ya sudah 1:19:30 21.30 ini nih menunjukkan waktu kita 1:19:34 sudah di sesi terakhir. 1:19:35 Saya akan ke closing statement ya untuk 1:19:40 sesi penutup kita saya akan ke Pak Ayub 1:19:44 terlebih dahulu. 1:19:46 Closing statement penutup apa yang ingin 1:19:48 disampaikan oleh Pak Ayub dari topik 1:19:50 yang kita bahas di malam hari ini? 1:19:52 Ya baik terima kasih Pak Angga 1:19:55 topik kita konflik Taliban dan Pakistan 1:19:58 ketegangan ini akan terus ada selama 1:20:02 Taliban tidak menindak TTP 1:20:05 dan Pakistan terus menekan isu keamanan. 1:20:08 Itu pasti akan ada. 1:20:10 Tapi mereka juga saling bergantung 1:20:12 seperti yang tadi saya bilang secara 1:20:14 ekonomi, etnis dan geografi 1:20:18 atau geografi. 1:20:19 Sehingga hubungan 1:20:22 putus total sangat kecil kemungkinan. 1:20:27 Jadi 1:20:28 hubungan antara dua negara ini akan 1:20:31 tetap berlangsung. 1:20:32 Eh 1:20:34 konfliknya juga eh bisa selesai dengan 1:20:39 eh kalau ada eh Taliban tetap melakukan 1:20:43 apa yang Pakistan sekarang ingin dari 1:20:45 mereka. Itu dari saya, Pak. 1:20:47 Eh untuk sebagai closing statement. 1:20:53 Baik. Dari Dokter Ben, Dok, bagaimana 1:20:55 penutupnya? 1:20:57 Iya. 1:20:58 Ini kan eh menarik menarik yang diskusi 1:21:00 kita malam hari ini kan menjadi 1:21:01 pendengar bisa paham akan masalah yang 1:21:04 terjadi di dua negara ini. 1:21:07 Dan eh kita yakin bahwa eh 1:21:10 proses ini yang harus berjalan walaupun 1:21:12 agak lambat ya, agak lambat proses untuk 1:21:14 perdamaian. Tapi saya yakin bahwa 1:21:16 eh enggak ada hujan yang enggak berhenti 1:21:18 gitu loh. Intinya saya saya yakin bahwa 1:21:20 satu satu ketika ini semua akan akan eh 1:21:23 akan selesai dengan baik. Tinggal waktu 1:21:25 yang yang akan menentukan itu. Karena 1:21:27 semakin lama orang semakin matang ya, 1:21:29 semakin matang dan 1:21:31 dan orang akan melihat bahwa konflik 1:21:33 berkepanjangan ini tidak akan ada yang 1:21:34 diuntungkan gitu kedua belah pihak. 1:21:37 Jadi eh saya pikir kedua belah pihak ini 1:21:40 harus harus merasakan bahwa Pakistan 1:21:42 merasakan dia sebagai abangnya, abang 1:21:44 senior gitu kan. Menganggap eh Taliban 1:21:47 yang akan menjadi junior. Ya mungkin 1:21:48 dengan perjalanan waktu perjalanan waktu 1:21:50 mungkin eh akan Pakistan akan 1:21:52 mendudukkan Afghanistan secara equal 1:21:54 bahwa eh ini dua entitas negara yang 1:21:57 harus saling menghormati kedaulatan 1:21:59 nasional masing-masing. Saya pikir itu, 1:22:00 Mas Angga. 1:22:04 Baik, Dokter Ben dan juga Dokter 1:22:07 Muhammad Ayub Mirdad, 1:22:10 narasumber tamu kita di malam hari ini. 1:22:12 Terima kasih banyak sudah bergabung 1:22:13 bersama kami dalam acara Buka Mata Buka 1:22:15 Telinga. 1:22:17 Dan juga Dokter Ben, terima kasih banyak 1:22:19 dari semua urusannya dan juga Ikhwan 1:22:20 Akhwat terima terima kasih banyak atas 1:22:22 kebersamaan Anda. Semoga apa yang yang 1:22:25 bahas di malam hari ini bermanfaat, kami 1:22:28 undur diri. Billahi taufik wal hidayah. 1:22:30 Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu 1:22:32 alla ilaha illa anta astagfiruka wa 1:22:34 atubu ilaik. Assalamualaikum 1:22:36 warahmatullahi wabarakatuh. 1:22:38 Waalaikumsalam