Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:27 Yufid TV [musik] 0:43 [musik] 0:49 Bismillahirohmanirohim, Assalamualaikum 0:51 warahmatullahi wabarakatuh. 0:53 Alhamdulillahi robbil alamin, washolatu 0:55 wassalamu ala sayyidina Muhammad wa ala 0:57 alihi wasohbihi ajmain. 1:00 Robbi zidni ilman, Allahumma fa'ni bima 1:02 alamtani, wa alimni ma yanfa'uni, 1:04 warzuqni ilman yanfa'uni. 1:06 Dipancarkan dari Jalan Masjid 1:08 Silaturahim nomor 36 Kalimalang, 1:10 Cikarang, Bekasi. Radio Silaturahim dan 1:13 Yufid TV untuk Islam yang satu. 1:16 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 1:17 Subhanahu wa Ta'ala, pendengar dan juga 1:20 pemirsa di mana saja Anda berada. Apa 1:22 kabar Anda di malam hari ini? 1:24 Semoga harapan kami, Anda semua dalam 1:26 keadaan sehat walafiat. Adapun yang 1:29 sedang dalam keadaan sakit, semoga 1:32 segera disembuhkan oleh Allah Subhanahu 1:34 wa Ta'ala. 1:35 Senang sekali di malam hari ini Ikhwan 1:36 akhwat, saya Angga Aminudin ditemani 1:38 oleh Fahri di meja operator, ada juga 1:41 Bondi ini kameramen. Dapat kembali 1:43 menyapa Anda dalam acara Buka Mata Buka 1:47 Telinga. Kami hadir di hari Ahad malam 1:50 hari ini kita sudah memasuki hari yang 1:53 ke-24 di bulan Mei 2026. 1:56 Dan narasumber Buka Mata Buka Telinga 1:59 kita Dokter Sarbini Abdul Murad telah 2:03 bergabung di layanan Zoom kita ya. 2:06 Assalamualaikum warahmatullahi 2:07 wabarakatuh Dokter Ben. 2:10 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:11 wabarakatuh Mas Angga. 2:13 Bagaimana Dok di malam hari ini? 2:15 Kabarnya sehat ya? 2:16 Alhamdulillah alhamdulillah sehat 2:16 walafiat. 2:17 Alhamdulillah bisa kembali kita 2:19 bergabung dan juga mengudara. Siapa tamu 2:22 kita di malam hari ini Dokter Ben? 2:25 Ya. [berdehem] 2:26 Ini tamu spesial nih kita undang dari 2:28 dari jauh jauh banget ini di Sumatera 2:30 Utara di 2:31 iya iya. 2:33 Jadi eh selama ini kita bicara tema-tema 2:37 internasional dunia Islam nah untuk kali 2:39 ini untuk pertama kali kita coba topik 2:42 yang memang tidak banyak yang yang tahu 2:45 yang mungkin yang interest 2:48 tapi ini topik yang sangat penting dan 2:50 vital. 2:51 Nah maka kita undang ini ini seorang 2:54 dokter dokter jantung anak ini enggak 2:56 sembarangan orang ini enggak enggak 2:58 semua orang tahu rupanya di bidang 3:00 dokter jantung anak ini. 3:02 Oh. 3:02 Nah beliau adalah Dokter Rizki 3:04 Adriansyah. Beliau juga ketua IDAI untuk 3:07 Sumatera Utara. 3:09 Nah ini seorang dokter yang buat puyeng 3:11 kepala Menteri Kesehatan. Nah ini 3:13 beliau. 3:14 Alhamdulillah ya sudah bergabung bersama 3:16 kita Dokter Rizki Adriansyah. 3:18 Assalamualaikum Dokter Rizki. 3:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 3:22 wabarakatuh. Kabar baik Mas Angga. Bang 3:25 Ben apa kabarnya juga? 3:27 alhamdulillah alhamdulillah 3:29 bisa bergabung kembali bisa mengudara 3:31 lagi ini ya bersama Rasil Dokter Rizki. 3:34 Di tengah-tengah kesibukannya ketua IDAI 3:37 Sumatera Utara ini hadir [berdehem] di 3:41 ruang siaran buka mata buka telinga ya. 3:43 Sekarang BMBT ini miliknya Dokter Ben 3:45 Dokter Rizki. 3:47 Oh iya iya. 3:49 [tertawa] 3:50 Cocok kalau tampil 3:51 iya kita akan mengangkat bagaimana 3:54 kebijakan kesehatan pemerintah saat ini. 3:57 Nah, kita juga ingin mengerti berbagai 3:59 hal sebenarnya, dari mulai masalah 4:00 layanan kesehatan di Indonesia yang 4:03 memang cukup kompleks sekali gitu ya, 4:06 semakin, meskipun 4:09 ada pemerintahan, data-data yang 4:11 mengatakan bahwa 4:12 kesehatan Indonesia itu makin meningkat 4:14 gitu ya, dari mulai data-data 4:17 JKN ataupun data dari ekonomi 4:20 kesehatannya. Sebagai pembuka dari 4:23 Dokter Ben, kenapa kita mengangkat 4:25 bagaimana, apa, topik mengenai bagaimana 4:27 kebijakan kesehatan pemerintah saat ini? 4:30 Pengantarnya, Dok. 4:32 Ya, saya pikir ini 4:34 topik ini perlu kita coba, apa, menjadi 4:37 literasilah, literasi bagi pendengar 4:40 Rasil ya yang 4:41 lumayan, lumayan saat 4:43 sehingga walaupun ini sangat spesifik, 4:45 tapi eh 4:47 kita harus paham walaupun sedikit ya. 4:49 Karena masalah kesehatan ini kan menjadi 4:51 urusan privat kita nih ya, masalah 4:53 pendidikan, kesehatan sesuatu yang 4:55 sangat penting. Siapapun presiden, jadi 4:58 dua pilar ini menjadi hal yang sangat 5:00 urgen 5:01 bagi, apa, bagi rakyat untuk menjadi, 5:04 apa, menjadi hal yang andalanlah itu ya, 5:07 jadi kita melihat bahwa 5:10 eh Pak Menteri Kesehatan ini beliau 5:12 telah mencoba untuk menerjemahkan, 5:15 menerjemahkan 5:16 apa yang menjadi keinginan presiden 5:19 dalam konteks satu dalam bidang 5:20 kesehatan. 5:22 Dan beliau adalah seorang insinyur dari 5:24 IPB, kemudian menjadi seorang menteri 5:27 kesehatan. 5:28 Kemudian kita juga lihat bahwa nanti ada 5:30 rembesannya ke mana-mana nih, Dokter 5:31 Rizki, ada ke BPJS segala macam ya. 5:34 Dan kita tahu bahwa 5:36 eh masalah-masalah kesehatan yang memang 5:39 menjadi masalah di hari ini, misalnya 5:41 contoh ya, contoh misalnya 5:43 eh Menteri Kesehatan membuka yang 5:45 namanya hospital base ataupun 5:47 eh pendidikan dokter spesialis yang 5:50 jumlahnya lumayan ya. 5:52 Ya, dengan pandangan beliau bahwa eh 5:54 dokter Indonesia kurang. Jadi, 5:56 diciptakan atau dibentuk eh pendidikan 6:00 spesialis. Dan hari dan dan bukan cuma 6:02 spesialis juga rumah sakit S1 yang untuk 6:04 pendidikan kedokteran. 6:06 Dan sekarang terjadi over, jadi 6:08 kelebihan jadi masalah baru hari ini. 6:10 Jadi, semua banyak hal yang kita lihat 6:13 eh terjadi eh apa yang over over over 6:16 pusat lah pemikiran beliau ya. Bagaimana 6:18 beliau misalnya meng-cut sih namanya eh 6:22 kolegium yang ada di bawah Menteri 6:23 Kesehatan sehingga ruang ruang gerak 6:26 daripada para dokter dalam membentuk 6:29 sebuah kebijakan kesehatan ini kan 6:31 agak-agak sulit ya. Kemudian belum lagi 6:33 interaksi beliau dengan para guru besar, 6:35 dengan para medis yang begitu 6:37 eh tidak tidak harmonis atau kurang 6:39 harmonis. Kita lihat bagaimana misalnya 6:40 Dokter Rizki yang beliau kritis dengan 6:43 Menteri Kesehatan, beliau dipecat di 6:45 dipecat dari dari rumah sakit 6:48 eh Adam Malik ketika beliau kritis. PB 6:50 IDI demikian juga. Apalagi Dokter Dokter 6:52 Zaenal Muttaqin demikian juga. Jadi, 6:54 memang 6:55 orang-orang kritis di apa di dunia medis 6:58 hari ini bukanlah bukanlah sesuatu yang 7:01 bikin Menteri Kesehatan ini bangga, 7:04 senang ada alternatif pemikiran. 7:07 Ini dianggap bahwa ini adalah lawan saya 7:10 yang mesti saya coba untuk saya akhiri 7:13 tanda petik ya. Akhirnya di di dunia 7:16 eh kesehatan dan kesehatan. Itu satu. 7:19 Kemudian kita lihat juga bagaimana 7:20 misalnya kasus BPJS yang itu 7:22 diangkat sama tulisan Dokter Rizki pada 7:24 hari beberapa hari ini ya tentang 7:26 bagaimana misalnya 7:27 eh 7:29 eh 7:30 apa istilahnya itu 7:32 eh banyak hal lah yang terjadi di 7:33 internal eh BPJS yang juga membutuhkan 7:36 eh apa ya eh pemikiran bersama kita. 7:39 Sehingga nanti pendengar Radio Rasima 7:41 juga bisa memahami dinamika yang terjadi 7:44 hari ini. di dunia medis karena apapun 7:46 yang terjadi pasti imbasnya terhadap ee 7:50 ee masyarakat yang tidak bisa kita 7:52 kita pungkiri. Kira-kira kira-kira 7:54 problemnya seperti problemnya seperti 7:55 itu loh Mas Angga. 7:57 Baik Dokter Ben. 8:00 Kita akan melihat bagaimana sebenarnya 8:02 ee ulasan Dokter Rizki Adriansyah 8:07 lebih ee utamanya kita juga nanti akan 8:10 lihat ee ketimpangan akses fasilitas dan 8:13 juga ee tenaga medis antar ee daerah 8:16 gitu ya lalu juga masalah-masalah klasik 8:20 dalam pelayanan kesehatan itu sebenarnya 8:23 ee seperti apa? 8:25 Dokter Rizki Adriansyah sebagai ee 8:29 apa materi yang akan disampaikan di 8:31 malam hari ini 8:33 silakan Dok, Kang Kusilakan. 8:36 Ee terima kasih Mas Angga. 8:39 Ee kalau pengantarnya dari Bang Ben saja 8:42 sudah seperti itu sepertinya 8:44 banyak sekali masalah kesehatan di sini 8:46 [tertawa] 8:47 mulai dari 8:48 ee apa tadi ee BPJS kesehatan kemudian 8:53 bicara tentang 8:55 pendidikan kedokteran kemudian 8:57 distribusi ee dokter di berbagai daerah 9:01 jumlahnya kurang 9:04 jadi kalau kita lihat akhir-akhir ini 9:09 dalam 5 tahun belakangan ini memang 9:12 ee pemerintah 9:14 sepertinya 9:16 ee berusaha untuk ee menggeser ya 9:21 yang namanya kesehatan itu adalah ee apa 9:25 namanya 9:26 hak rakyat 9:28 tapi digeser menjadi sebuah industri 9:31 saya pikir ini adalah suatu hal yang 9:34 kalau kita lihat dasarnya itu ada 9:37 masalahnya di situ ya. 9:38 Karena membuat paradigma kesehatan ini 9:41 tidak lagi sekedar untuk bagaimana 9:42 membuat rakyat sehat, tapi bagaimana 9:44 juga menjadi sebuah industri. 9:47 Sehingga untuk mendukung eh 9:49 itu diperlukan berbagai 9:52 eh resource sumber-sumber yang memang 9:54 mendukung ke arah industri mulai dari 9:56 pendidikannya, 9:57 kemudian eh 9:59 apa namanya alat-alat penunjangnya, 10:01 kemudian juga sistem pembiayaannya. 10:03 Semuanya diarahkan kepada bagaimana 10:06 kesehatan ini bisa menjadi hal yang 10:08 menguntungkan dari sisi finansial. 10:11 Nah, tentu ini yang eh dilematisnya 10:14 adalah ketika itu berhadapan dengan 10:16 kepentingan rakyat sendiri ya. 10:18 Sebenarnya yang diharapkan oleh rakyat 10:21 adalah sebagaimana apa yang tercantum di 10:23 dalam eh konstitusi kita sejak amandemen 10:26 Undang-Undang Dasar 1945 itu sudah cukup 10:29 jelas bahwa 10:30 yang diharapkan 10:32 negara itu adalah hadir dalam konteks 10:35 memberikan pelayanan kesehatan yang 10:36 layak. 10:37 Itu hak yang mendasar ya, yang 10:39 sebelumnya itu tidak ada di 10:41 konstitusi kita. Kemudian juga negara 10:44 bertanggung jawab untuk menyediakan 10:47 fasilitas pelayanan kesehatan ya. 10:49 Dalam konteks pemerataan, berkeadilan 10:52 ya. 10:53 Untuk itu memang diperlukan suatu 10:56 terobosan. Nah, terobosan ini yang 10:58 mungkin terjadi benturan antara satu 11:00 dengan yang lainnya. Baik kita, 11:03 tenaga medis, kemudian eh 11:05 pengambil kebijakan, tentu saja 11:06 Kementerian Kesehatan, 11:08 kemudian juga dengan rakyat sendiri ya. 11:10 Jadi benturan-benturan itu yang memang 11:13 tidak bisa 11:14 kita 11:15 anggap ini sebagai eh 11:18 apa ya? 11:19 Eh 11:20 sebagai sebuah hal yang memang 11:22 harus dijalani, tidak. 11:24 Sebenarnya yang kita harapkan adalah 11:25 sebuah kepemimpinan yang 11:27 dalam memimpin eh 11:30 masalah kesehatan yang sedang dihadapi 11:31 adalah 11:32 kepemimpinan yang betul-betul pro 11:33 rakyat, ya. 11:35 Saya sih berharapnya seperti itu. 11:38 Ketika Menteri Kesehatan menjadi 11:41 eh Menteri Kesehatan ini lah dipimpin 11:43 oleh Pak Budi Gunadi Sadikin, 11:45 sebenarnya di awal-awal saya juga 11:47 termasuk orang yang menaruh harapan 11:48 besar, ya, 11:50 kepada beliau oleh karena eh di 11:52 awal-awal kepemimpinan beliau itu saya 11:54 pikir 11:56 eh untuk eh bagaimana meredam eh 12:01 ataupun menurunkan angka penularan Covid 12:05 itu, ya, saya anggap beliau sedikit 12:07 berhasil lah, ya. Cukup berhasil, boleh 12:09 dibilang cukup berhasil. 12:10 Bagaimana membangun kolaborasi antara 12:13 organisasi, masyarakat, dan Kementerian 12:16 Kesehatan itu, itu betul-betul terjalin 12:17 pada waktu itu. Kemudian yang kedua, di 12:20 awal-awal kepemimpinan beliau itu juga 12:23 eh saya melihat ini ada satu hal yang 12:26 berbeda dibandingkan menteri-menteri 12:27 sebelumnya, ya, 12:29 karena beliau eh mengundang seluruh eh 12:33 pakar ke ya dalam bentuk suasana 12:36 nonformal, ya, 12:37 mengundang makan itu di rumah jamu di 12:40 rumah dinas beliau, termasuk saya juga, 12:42 dan saya paparkan sebagai pakar di 12:44 bidang jantung anak, saya paparkan 12:46 masalah 12:47 pelayanan jantung anak di Indonesia. 12:49 Nah, 12:50 namun sepa- sejalan dengan eh ini, apa 12:53 namanya, perjalanan kepemimpinan beliau, 12:56 saya melihat eh terlalu banyak 12:59 orang-orang yang berusaha untuk 13:01 eh 13:03 mempunyai kepentingan-kepentingan 13:05 terselubung begitu, ya. Saya melihatnya 13:06 seperti itu. 13:07 Nah, itu yang akhirnya apakah itu memang 13:11 beliau sadari atau tidak, tapi itu 13:13 menggeser dari upaya yang memang 13:16 eh awalnya untuk pemerataan pelayanan 13:18 kesehatan, tapi ada agenda-agenda lain 13:20 yang memang setelah saya baca 13:23 Undang-Undang Kesehatan dan ininya, 13:25 memang arahnya memang 13:27 ingin mendukung kepada sesuatu yang kita 13:29 sebut dengan istilah industri kesehatan 13:30 atau health industri. 13:32 Nah, di sinilah yang menjadi pokok 13:34 persoalannya ketika masalah itu 13:36 diarahkan ke sana. Misalnya untuk 13:38 layanan jantung anak ya. 13:40 Saya pada waktu awal-awal itu saya 13:42 paparkan ke beliau itu tentang apa yang 13:44 harus dilakukan di 13:46 mulai dari Puskesmas sampai pusat 13:47 rujukan. 13:48 Agar masyarakat yang ataupun anak-anak 13:51 yang mengalami penyakit jantung bawaan 13:52 itu bisa dilayani dengan baik. Ya. Di 13:55 Puskesmas harus tersedia apa, dokter 13:57 Puskesmasnya harus diberikan pengetahuan 13:59 apa, keterampilan apa. Begitu juga di 14:02 rumah sakit tipe C ya, tipe B sampai 14:05 kepada rumah sakit di pusat rujukan, di 14:06 rumah sakit 14:08 Cipto Mangunkusumo atau di Rumah Sakit 14:09 Jantung Harapan Kita. Itu sudah kita 14:12 buat mapping-nya seperti apa untuk dari 14:14 Sabang sampai Merauke. 14:15 Sudah bagus. Tapi saya sedikit 14:18 bingungnya ketika data yang kita 14:20 paparkan itu lalu beliau bicara di DPR 14:25 dengan data yang kita miliki itu 14:27 tentang bahwa ada 50.000 anak dengan 14:30 penyakit jantung bawaan setiap tahun, 14:32 12.000-nya kritis dan hanya 6.000 yang 14:34 bisa ditangani. Beliau pakai data itu 14:37 sebagai argumen beliau untuk kita perlu 14:39 dokter asing. 14:41 Nah, ketika itu saya sudah mulai 14:44 tidak pas menurut saya ya argumennya. 14:47 Eh, sampai diarahkan ke sana. Lalu saya 14:49 sedikit mengkritik. Nah, saat saya mulai 14:52 mengkritik itulah saya 14:54 saya juga merasakan saya sudah begitu 14:56 tidak bisa 14:57 diharapkan untuk sebagai salah satu 14:59 orang yang menjadi 15:01 pemberi eh informasi yang baik ya demi 15:04 kemajuan eh kesehatan masyarakat kita 15:07 gitu. 15:08 Lalu saya juga akhirnya ikut eh 15:10 mengkritik hal-hal yang lain ya, 15:11 termasuk tentang 15:13 puncaknya adalah soal kolegium ya. Soal 15:16 kolegium. Jadi 15:18 eh kita ingin kolegium itu independen. 15:20 Memang pengertian independen ini, tafsir 15:22 independen ini yang jadi masalah 15:25 karena maunya Menteri Kesehatan itu 15:27 independen tapi tetap ada ee tangan 15:30 Menteri Kesehatan di situ. Kita sih 15:32 tidak maunya seperti itu. Kita ingin 15:34 independen itu yang betul-betul 15:35 independen begitu. 15:37 Nah, karena dia di situ berhimpunnya 15:39 para ahli, para pakar, guru besar 15:41 Nah, ini kan sebenarnya sudah di 15:45 sudah disetujui apa ya, sudah keluar 15:47 amar putusan Mahkamah Konstitusi 15:50 walaupun mengabulkan sebagian tapi 15:52 sebenarnya 15:53 jelas di situ disebutkan akuo artinya 15:56 itu ya berlaku setelah 15:58 putusan Mahkamah Konstitusi kolegium itu 16:01 harus independen dan harus membuat 16:02 peraturan pemerintah yang baru untuk 16:04 mengatur itu. Nah, ini yang sampai 16:05 sekarang 16:06 tidak dilakukan oleh Kementerian 16:07 Kesehatan. 16:09 Yang dilakukan Kementerian Kesehatan 16:10 terus dengan kolegium yang sudah 16:12 dibentuk yaitu dan terus berusaha untuk 16:15 membuat pendidikan berbasis rumah sakit 16:17 yang standarnya sendiri menurut kita 16:19 banyak hal yang 16:21 ee bisa menimbulkan 16:23 potensi ya, potensi walaupun belum 16:25 terjadi potensi timbulnya ada perbedaan 16:28 output 16:30 apalagi nanti bicara tentang outcome ya 16:32 dari suatu lulusan pendidikan dokter 16:34 spesialis apakah yang itu 16:37 berbasis pendidikan ee apa university 16:39 base ataupun yang 16:41 hospital base. Nah, itu satu sisi, di 16:43 sisi lain kita lihat juga punya masalah 16:46 kesehatan yang lain 16:48 ee tentang BPJS Kesehatan. 16:51 Ya, kalau kita lihat akhir-akhir ini 16:54 pemerintah memang cenderung akan 16:56 melakukan efisiensi di berbagai sektor 16:59 ya, termasuk sektor kesehatan sendiri. 17:01 Nah, dampaknya 17:03 pada awal Februari itu sudah kita lihat 17:05 bagaimana ee itu terjadi pada saat 17:10 Kementerian Sosial dan Kementerian 17:12 Kesehatan 17:13 Menteri Sosial dan Menteri Kesehatan itu 17:15 dipanggil sama DPR 17:16 untuk berkomitmen agar 17:19 sekitar puluhan juta itu masyarakat yang 17:21 memang penerima bantuan iuran itu jangan 17:24 sampai mereka 17:26 kehilangan haknya begitu ya, kehilangan 17:27 haknya untuk mendapatkan layanan. 17:29 Nah, faktanya itu terus terjadi akhirnya 17:31 timbul gejolak di masyarakat. 17:33 Nah, ternyata datanya enggak matching. 17:35 Dan kalau saya bilang 17:37 eee bukan sekedar tidak matching data 17:40 Kementerian Kesehatan dan Kementerian 17:41 Sosial, tapi 17:43 datanya itu sangat diragukan. 17:45 Begitu. Ya, tujuannya hanya untuk ya, di 17:49 balik itu semua adalah lagi-lagi soal 17:51 efisiensi. Nah, sekarang kita melihat 17:53 juga BPJS Kesehatan sendiri di 17:55 internalnya itu di 17:57 dipaksa untuk efisiensi. Jadi 18:01 pengklaiman itu kalau bisa ditekan 18:02 jangan sampai terlalu tinggi klaimnya 18:04 rumah sakit. Ditekan dan diharapkan ada 18:06 target 1 triliun dalam 3 bulan hematnya 18:09 ya. 18:10 Itu kan suatu angka yang 18:11 bombastislah menurut saya ya, luar biasa 18:13 ya. 18:14 Mau hemat 1 triliun dalam 3 bulan. 18:18 Nah, ini eee ujung-ujungnya siapa yang 18:21 eee menampakkan menam apa mendapatkan 18:23 dampak buruknya? 18:25 Ya, pertama rumah sakitnya dia akan 18:27 membatasi layanannya. 18:29 Iya kan. Dia akan 18:30 berharap jangan sampai terjadi eee 18:33 dianggap fraud ataupun mengembalikan 18:35 uang ataupun layanannya malah dibuat 18:37 rugi dan dia enggak mau seperti itu. 18:40 Nah, ujung-ujungnya siapa yang dirugikan 18:41 lagi? Tentu rakyat. Rakyat yang paling 18:44 dirugikan. 18:47 Itulah yang jadi 18:49 momok yang belakangan ini eee 18:52 jadi semakin kompleks masalah kesehatan 18:54 di negara kita ini. 18:56 Ini sebenarnya kita berharap Pak Prabowo 19:00 sebagai presiden 19:01 turun tangan untuk eee memberikan tafsir 19:04 baru efisiensi itu untuk kesehatan 19:07 seperti apa? Apakah memang 19:10 eee betul-betul disuruh 19:12 eee, efisien seperti tafsirnya BPJS 19:15 Kesehatan atau 19:17 tafsirnya Kementerian Kesehatan 19:20 atau bagaimana? Atau adakah satu hal 19:22 yang lebih bijak mengalihkan dana MBG 19:24 untuk subsidi eee, iuran BPJS misalnya, 19:28 itu kan lebih pro rakyat menurut saya, 19:30 gitu. Kebijakan-kebijakan seperti itu 19:31 yang kita harapkan dari 19:33 eee, negara terutama terutama dari Pak 19:36 Presiden Prabowo Subianto sebenarnya. 19:38 Itu dulu mungkin nanti kita bisa diskusi 19:40 topik mana yang yang ingin ditanyakan 19:42 Mas Angga, saya sih terbuka saja. 19:45 Nah, Dokter Rizki kan kami juga ini eee, 19:48 mengikuti ya postingan-postingan Dokter 19:51 Rizki di Instagram-nya dengan 19:52 tulisan-tulisannya gitu ya, sangat eee, 19:55 menarik gitu ya. Apalagi di siaran kita 19:58 malam hari ini Buka Mata Buka Telinga 19:59 kan membuka sesuatu yang enggak dibuka 20:02 di tempat lain gitu ya. 20:05 Salah satunya ini, bagaimana sebenarnya 20:08 tadi disinggung industri kesehatan 20:11 lalu juga politiknya kesehatan gitu ya 20:14 kaitannya dengan pemegang eee, 20:17 kebijakan, pemegang kewenangan gitu ya 20:20 berbenturan dengan para tenaga kesehatan 20:23 profesional gitu ya. Saya ingin eee, 20:26 fokus juga ke ketika 20:29 ada kata bahwa pemerintah menjamin 20:33 kesehatan rakyat gitu ya, lalu rakyat 20:36 Indonesia ini dijamin kesehatannya itu 20:38 eee, seperti apa? Karena 20:41 pertanyaan besar masyarakat ketika 20:44 layanan eee, BPJS saja 20:46 gitu ya. 20:49 Kenapa lambat sekali? 20:51 Lalu antrean orang sakit di rumah sakit 20:53 itu dari mulai pasrah sampai sakitnya 20:56 tambah sakit lagi gitu ya. Nah, ini ini 21:00 ini sebenarnya esensi esensi dari JKN 21:02 itu apa gitu sebenarnya Dok yang perlu 21:05 di 21:06 disoroti dan perlu masyarakat itu tahu 21:08 gitu kenapa seperti ini. Bagaimana 21:10 Dokter Isy? 21:12 Iya, ini sebenarnya kita mau geser 21:16 BPJS Kesehatan ini kepada suatu asuransi 21:19 sosial atau asuransi yang sifatnya 21:22 memang 21:23 eh jadinya murni eh rakyat ya. 21:26 Jadi kalau asuransi yang murni sosial 21:28 itu artinya betul-betul negara 21:31 dengan pajaknya mensubsidi 100%. 21:35 Eh iuran BPJS Kesehatan itu disubsidi 21:39 oleh pajak. Nah, itu di negara-negara 21:41 sosialis itu mereka menerapkan itu. 21:44 Tapi di negara-negara seperti kita, kita 21:47 pakai semi. Makanya ada prinsip gotong 21:49 royong ya kan, yang kaya 21:51 bayar iuran juga 21:53 tapi untuk yang miskin disubsidi 21:56 oleh negara. 21:58 Nah, sebenarnya arahnya mau diarahkan ke 22:00 mana? Diarahkan semuanya semakin 22:03 disubsidi 22:05 artinya semakin banyak orang yang 22:06 mendapatkan subsidi 22:08 atau orang yang mendapatkan subsidi itu 22:11 diharapkan nanti ke depan berkurang. 22:13 He. 22:14 Iya kan? Kalau dia memang arahnya 22:17 diharapkan berkurang tentu nanti iuran 22:18 akan naik. 22:20 Iuran akan naik. 22:22 Nah, kalau misalnya ditanggung oleh 22:24 negara sebenarnya saya sih kepingin 22:25 idealnya begitu ya tapi kan lagi-lagi 22:28 ini tergantung eh apa namanya eh 22:31 kemauan politik pemerintah sejauh mana 22:33 Politik political will-nya 22:35 Political will-nya mau enggak 22:37 membiayainya? Karena MBG aja bisa ya 22:39 kan? 300 triliun saya bilang kenapa 22:42 untuk mensubsidi ini? Sebenarnya kalau 22:45 anggaran BPJS Kesehatan itu 300 triliun 22:47 itu bisa 22:48 sedikit lagi itu sudah menutupi ini, 22:51 menutupi seluruh iuran itu artinya 22:55 bisa menengah dan menengah ke bawah itu 22:57 akhirnya di-cover ya oleh 23:00 eh BPJS Kesehatan. Nah, tapi pemerintah 23:02 kan ingin geser ini angka kemiskinannya 23:05 indikatornya dikecili, apa namanya, 23:07 dibuat sehingga 23:09 angkanya kecil, sehingga yang perlu 23:10 disubsidi 23:12 lebih kecil. 23:14 Ah, kan kalau seperti itu arahnya 23:17 berarti 23:18 lagi-lagi kita bicara selalu tiap tahun 23:20 defisit, defisit, defisit, defisit 23:22 anggaran kesehatan. 23:24 Iya kan? 23:25 Tiap tahun naik dan bakal tahun 2025 ini 23:27 paling tinggi sampai 100 sekian triliun 23:31 defisit dari BPJS dan ini juga 23:33 diprediksi dalam 3 bulan ini katanya ada 23:35 20 sampai 30 triliun sudah 23:37 defisit. Jadi kalau sampai akhir tahun 23:40 bisa kali 6 bisa 120 triliun 23:43 defisitnya dari 23:45 ee anggaran BPJS Kesehatan. Nah, ini kan 23:47 pemerintah kan berharap 23:49 tidak sampai defisit seperti itu, maka 23:51 dilakukanlah yang namanya efisiensi. 23:53 Tapi dampak dari efisiensi ini kepada 23:56 masyarakat, layanan, iya kan? Layanan 23:58 yang harusnya bisa dilayani ee maksimal 24:01 menjadi ya 24:02 ee layanan ee dibatasi dengan tertentu 24:05 dan 24:06 kita harus pahami juga rumah sakit juga 24:08 tidak ingin rugi, iya kan? Kalau 24:10 misalnya begini, saya kasih contoh saja 24:12 tindakan, misalnya suatu tindakan 24:13 operasi yang plafonnya 24:16 misalnya 10 juta, tapi pengeluaran rumah 24:18 sakit untuk operasi itu 20 juta, rumah 24:21 sakit pasti dia akan menolak, dia akan 24:22 merujuk atau ke mana pasien itu atau 24:24 tidak dilakukan tindakan sampai ada satu 24:26 solusi gimana supaya pasien itu bisa ee 24:30 dilayani. 24:31 Yang seperti-seperti ini sudah terjadi 24:33 di seluruh banyak rumah sakit yang 24:35 melayani BPJS sehingga 24:37 ee 24:39 masyarakat juga mau enggak mau daripada 24:41 dia ikut antrian yang enggak jelas, dia 24:43 akhirnya ee membayar juga ya, 24:45 mengeluarkan uangnya. 24:47 Iya. 24:47 Nah, ini yang jadi masalah sebenarnya 24:49 buat negara kita. Mau mau diarahkan ke 24:52 mana ini sebenarnya BPJS Kesehatan ini? 24:54 Ke asuransi sosial murnikah? 24:56 Iya kan? atau diarahkan kepada yang 24:58 nanti ujung-ujungnya semuanya bayar 25:00 iuran. 25:02 Nah Dokter kalau semua dapat rezeki. 25:05 Nah dari dari pengalaman Dokter ya 25:07 ketika memanage sebuah rumah sakit 25:09 sebenarnya 25:10 itu 25:11 pengelolaan dana kapitasi dan juga klaim 25:14 rumah sakit yang kaitannya dengan BPJS 25:17 itu sebenarnya gimana sih Dok yang 25:19 selalu menjadi alasan alasan rumah sakit 25:22 masalah operasionalnya apanya gitu ya. 25:25 [berdehem] 25:26 Kalau kapitasi itu di Puskesmas ya 25:28 biasanya gitu ya. Jadi Puskesmas itu 25:29 mendapatkan dana yang namanya dana 25:31 kapitasi. Jadi dia tidak berdasarkan 25:34 eh jumlah 25:35 eh orang yang berobat tapi berapa 25:37 penduduk yang diada yang di-cover dalam 25:40 layanan dia di Puskesmas itu atau di 25:42 klinik eh pratama. Tapi kalau dia di 25:44 rumah sakit dia namanya ada pakai 25:47 namanya tarif tarif INACBG. 25:50 Ini yang menentukan adalah Kementerian 25:51 Kesehatan tarif itu yang melalui 25:52 Peraturan Menteri Kesehatan. 25:54 Jadi ada angkanya di situ misalnya 25:56 penyakit ini 25:58 diagnosis ini ada komplikasi atau tidak 26:01 maka klaimnya kalau ada komplikasi 26:03 sekian kalau tidak ada komplikasi sekian 26:05 gitu. 26:06 Jadi 26:07 eh itu yang memang angkanya sudah baku 26:10 berdasarkan tipe rumah sakitnya itu 26:12 masih berlaku berdasarkan itu. 26:14 Nah problemnya kalau angka itu ternyata 26:18 patok segitu tapi pengeluarannya 26:20 ternyata setelah dihitung lebih besar 26:22 dari itu. 26:24 Lebih besar dari itu. Misalnya contoh ya 26:26 saya misalnya saya tindakan yang namanya 26:28 menutup jantung bocor. 26:29 Alat jantung bocornya sudah 15 juta atau 26:32 20 juta. 26:34 Gitu kan. Klaimnya hanya 17 juta. 26:37 Akhirnya dari alatnya saja rumah sakit 26:39 sudah nombok. 26:41 Akhirnya rumah sakit bilang ke saya ke 26:43 dokternya Dok jangan dikerjakan di 26:45 sinilah jangan dikerjakan di rumah sakit 26:46 ini dirujuk saja atau ada alternatif 26:49 lain atau 26:50 eh dibicarakan dengan pasien apakah bisa 26:53 ee, kalau dia kelas satu atau kelas 26:56 ee, dua, dia mungkin ee, naik ya, 27:00 co-sharing misalnya. 27:02 Mmm. 27:02 Yang kelas tiga ya, mau enggak mau dia 27:04 enggak bisa mendapatkan pelayanan. 27:07 Nah, ini kan yang sering sering terjadi. 27:09 Gitu. 27:10 Iya, iya. 27:11 Nah. 27:12 Makanya jadi kelihatan bahwa ini 27:13 peraturan birokrasinya kayaknya kaku 27:15 gitu ya, enggak memfasilitasi, kayaknya 27:17 kaku begitu. 27:19 Birokrasi, birokrasinya memang kaku, 27:22 tapi begini, kekakuan itu sekarang malah 27:25 ee, 27:27 kan begini, kalau orang kaku kan takut 27:29 nanti dituduh ee, korupsi atau bagaimana 27:31 ya, dibuat kaku. 27:32 Iya. 27:32 Tapi kalau ini kaku, takut dia bukan 27:35 korupsi. 27:37 Takut karena nanti nombok begitu, nombok 27:39 pengeluarannya rumah sakit rugi gitu. 27:41 Jadi, 27:43 ee, 27:45 kita harus dorong 27:48 atau kita advokasi pemerintah ini, 27:50 tolong tarifnya itu diperbaiki. 27:52 Tarif INA-CBG yang ditetapkan oleh 27:55 Menteri Kesehatan itu diperbaiki, karena 27:57 itu sudah 27:58 kalau di negara lain bahkan ada yang 27:59 tiap tahun itu diperbaiki, karena kan 28:00 ada inflasi, ada faktor-faktor lain 28:02 mengakibatkan harga itu menjadi naik. 28:05 Harga obat naik, harga alat kesehatan 28:08 naik. 28:09 Nah, atau ada cara lain, pemerintah 28:11 bagaimana supaya alat-alat kesehatan 28:13 itu, obat-obatan itu jadi lebih murah, 28:15 sehingga rumah sakit bisa mampu beli. 28:17 Kalau mampu beli, dia bisa tekan harga. 28:20 Kalau tekan harga misalnya ini, dia akan 28:21 ambil margin, berapa keuntungan dia 28:23 kalau dia memberikan pelayanan itu 28:25 kepada pasien. 28:27 Nah, ini akhirnya kan pasien pada 28:29 ngantri. 28:30 Ngantri kalau pasiennya dia ada duitnya 28:33 sedikit, mungkin dia bisa naik kelas 28:34 atau dia mungkin ambil jalur umum. 28:37 Tapi kalau buat masyarakat miskin kan 28:39 ini, kasihan. 28:41 Gitu. 28:43 Jadi, memang harus 28:45 ada terobosan dari Presiden menurut saya 28:48 kalau soal-soal seperti ini. Karena 28:50 ujung-ujungnya nanti pasti masyarakat 28:51 yang akan eh terbebani. Saya rasa 28:53 begitu. 28:54 Baik, Dokter Rizki. Ikhwan akhwat yang 28:57 dirahmati Allah subhanahu wa taala, saat 28:59 ini Anda sedang menyimak siaran live 29:02 buka mata buka telinga bagaimana 29:04 kebijakan kesehatan pemerintah saat ini. 29:08 Saya akan ke Dokter Ben. Disoroti 29:10 beberapa hal tadi eh Dokter Ben ya. 29:13 Eh kalau yang eh krusial gitu ya yang 29:15 dilupakan ini ya yang dilupakan oleh 29:18 pemerintah baik dari pucuk pimpinannya 29:20 presiden maupun menteri kesehatannya 29:22 yang tadi di-mention beberapa kali. 29:24 Itu apa Dok sebenarnya Dok? 29:26 Yang padahal itu krusial ini jangan 29:28 sampai dilupakan gitu. 29:30 Enggak sebenarnya gini Mas Angga. Kita 29:31 ini kan pemerintah kita ini enggak ada 29:33 skala prioritas ya apa sih yang eh 29:35 gitu. 29:36 Sekali sebenarnya itu saja sebenarnya 29:37 yang saya perhatikan. 29:39 Jadi sekarang kan programnya Pak 29:41 Presiden ini kan MBG yang utama ya MBG, 29:44 komdes. Gitu ya. 29:46 Program-program yang memang menyisakan 29:48 persoalan sebenarnya. 29:50 Enggak ada esensi-esensi yang memang 29:51 sebenarnya itu harus dipikirkan secara 29:54 secara serius, secara sungguh-sungguh 29:57 ini terlupakan. 29:59 Kan saya pikir masalah kesehatan itu hal 30:01 yang sangat yang sangat urgen saya pikir 30:03 ya apalagi masyarakat kita ini kan 30:06 kita lihat ya misalnya angka stunting 30:08 tinggi tentu ya tentu masalah ya apa 30:10 saya enggak stunting tinggi ya. 30:12 Nah itu kan dasar kenapa Pak Presiden 30:14 buat MBG? 30:15 Stunting tinggi ini maka saya buat MBG 30:17 gitu kan. Sebenarnya kalau logika 30:19 sederhana tidak bahwa 30:21 eh 30:22 gitu ya stunting itu kan yang paling 30:23 penting kan hamil misalnya anak bayi 30:26 misalnya atau anak-anak istri ya. 30:28 Artinya 30:29 ada itu ada sudah-sudah sudah jelas 30:31 siapa eh 30:33 apa siapa orangnya, siapa komunitasnya. 30:35 Kan sudah jelas semua tapi kita enggak 30:37 semua kok itu dasar untuk dibuat MBG 30:39 sebenarnya kan. Maka ada 30:40 kebijakan-kebijakan presiden sebenarnya 30:42 itu yang bisa mengikis tindakan otoriter 30:45 Rizki tadi. 30:46 Bagaimana misalnya asuransi semestinya 30:48 pemerintah bisa cover, enggak di-cover 30:51 karena apa? Karena enggak cukup dana. 30:53 Atau misalnya bisa juga misalnya gini 30:54 misalnya 30:55 seperti dibuat desentralisasi asuransi 30:58 seperti usulan saudara dokter Rizki tadi 31:00 itu ya bahwa apakah ini murni negara 31:02 yang tanggung ya? Tapi kan dengan 31:04 kondisi hari ini negara menganga 31:06 menganga ini kayaknya agak susah ya. 31:08 Tentu saja misalnya beri contoh ya 31:09 contoh misalnya daerah-daerah yang kaya 31:12 yang surplus uang contoh misalnya kayak 31:14 Kalimantan Timur misalnya. 31:16 Iya, jadi yang kita harapkan ke depan 31:17 adalah bagaimana asuransi mereka itu 31:19 ditanggung oleh di-handle oleh 31:21 pemerintah daerah sama kayak di Aceh 31:23 dulu kan masa dulu ada masa-masa Irian 31:26 itu. 31:27 Ah, JKA JKA enak gitu loh artinya daerah 31:30 yang mau men-take over itu karena 31:32 kesehatan enggak usah ditanggung enggak 31:34 bisa diiniin loh misalnya kalau misalnya 31:36 yang sakitnya mencret diare misalnya 31:37 cacingan itu enggak oke lah enggak 31:39 enggak ada obat. 31:40 Kalau misalnya darurat misalnya seperti 31:42 seperti kata dokter Rizki tadi itu 31:44 jantung bocor saya itu ceritanya itu 31:47 atau misalnya patah misalnya segera 31:49 misalnya gitu kan jadi dengan dia pegang 31:51 kartu aja dengan pegang kartu misalnya 31:52 kartu asuransi itu dia bisa di-cover 31:55 oleh rumah sakit di daerah itu di mana 31:57 aja boleh di provinsi itu. Nah, seperti 32:00 antara desentralisasi 32:02 asuransi yang harus di Riau misalnya itu 32:04 kayak kayak kayak kaya lah. 32:06 Sama seperti MBG ya oke MBG saya Papua 32:09 butuh apa? Buat ada desentralisasi 32:12 sekarang ini pemerintah suka betul semua 32:13 alam nasionalkan kopdes nasional ya kan 32:16 saya kira dibuat kopdes daerah ada 32:18 kuburan jadi kan 32:19 dengan 32:20 iya habis itu 32:22 Dia kata saya enggak ingat ngomong sama 32:24 Bang apa Bang 32:27 Aduh, siapa waktu meninggal itu 32:29 Lupa saya 32:30 Jadi dia bilang bahwa oke di Jawa MBG 32:34 yang penting Kalimantan 32:36 Misalnya di Kalimantan atau di Papua 32:38 yang lebih penting. Nah, di situ yang 32:40 artinya yang di difokuskan mana yang 32:42 lebih penting. Jadi, bisa didiskusikan 32:44 nih, Mas Angga. Jadi, seperti kayak usul 32:46 usul dari Direktur Rizki ya bahwa kalau 32:48 bisa negara meng-handle itu sebenarnya 32:50 sudah sudah ter-cover sebenarnya kalau 32:52 ada siasat. Jadi, jangan semua 32:53 diseragamkan ya, kan. 32:55 Kita kita kan paling suka hal seperti 32:56 itu. Acara nih 32:58 dis-code saya kan pakai batik semua atau 33:01 putih semua. Kan suka seragam-seragam 33:03 gitu semua. Jadi, iya iya. Kita 33:05 memberikan keluasan kepada daerah untuk 33:07 berpikir bagaimana ini bisa dilaksanakan 33:10 dengan baik. Karena kesehatan yang mau 33:12 diberikan, Mas Angga, itu harus kita 33:13 akui bahwa ini hal yang sangat urgen 33:16 bagi bagi masa depan negara ini. Kalau 33:18 orang penyakit TBC misalnya kan di 33:20 mana-mana itu kan persoalan. 33:22 Ini contoh saja ini contoh-contoh ya. 33:24 Jadi, ada pemeriksaan gratis itu kan 33:26 besar anggaran itu kan dari negara itu. 33:28 Jadi, enggak enggak fokus. Jadi, kalau 33:29 fokus ini daerah ini saya lebih ke TBC. 33:32 Itu difokuskan difokuskan di situ. Jadi, 33:34 dikasih ke dikasih target oleh negara 33:36 bahwa untuk untuk bagi kepala dinas atau 33:38 kepala daerah salah satu prestasi kamu 33:40 adalah menekan TBC. Misalnya gitu kan. 33:42 Tekan TBC. Itu Jawa Barat saja contoh 33:44 ya. Jawa Barat tinggi betul TBC. 33:46 Ini ditekan mana daerah-daerah di di 33:48 lokalisir gitu. Jadi, kita ini yang yang 33:51 yang perlu dipikirkan oleh oleh negara. 33:53 Nah, 33:54 kita lihat Mas Angga ya misalnya contoh 33:55 ya ketika Bill Gates datang di 33:57 Indonesia. 33:58 Datang Bill Gates ke Indonesia. Wah, 33:59 orang ramai-ramai ramai-ramai. Saya 34:01 diundang di televisi. 34:03 Iya iya. 34:04 Mau Prof Prof Boohan dapat apa Prof 34:06 Boohan? Saya biasa ngobrol sama beliau. 34:09 Saya enggak mempersoalkan teknis-teknis 34:11 apakah ada sampel. Saya enggak 34:12 mempersoalkan itu. Saya mempersoalkan 34:13 satu saja. Apakah Indonesia dilibatkan 34:16 dalam pembuatan vaksin di pabrik-pabrik 34:19 vaksin [berdehem] Indonesia? 34:20 Itu. 34:21 Itu yang paling penting itu. Yang kedua 34:23 apakah kita harus membeli vaksin itu 34:25 dengan harga yang standar internasional? 34:27 Padahal yang namanya istilahnya uji coba 34:30 itu dengan dengan di daerah Indonesia. 34:32 Jadi, saya bikin rangka ini memang harus 34:34 ada harus ada pemikiran-pemikiran yang 34:36 sifatnya lateral ya, sehingga 34:39 perdebatan-perdebatan ini penting di 34:40 dalam sebuah apa ya sebuah keputusan 34:43 sehingga keputusan ini matang untuk 34:45 dibuat. 34:46 Tapi kalau enggak ada diskusi ada orang 34:48 yang mempersoalkan itu langsung di 34:50 depan, jadi kan orang jadi malas ngomong 34:52 kan wah ini pasti berpihak ya kan. Tapi 34:54 tidak memandang bahwa setiap perdebatan 34:57 itu adalah mengeluarkan sebuah keputusan 34:59 kan, semakin banyak orang kasih ide kiri 35:00 kanan macam-macam kan akan muncul 35:02 ide-ide yang lebih lebih lebih progresif 35:04 kan, tapi kalau misalnya 35:06 berbeda kemudian itu dia enggak bagian 35:09 dari menghambat program dia, inilah yang 35:11 menjadi masalah dari ini enggak pernah 35:13 selesai. 35:14 Jadi di dunia kesehatan di dunia 35:16 kesehatan juga semua demokrasi ini perlu 35:18 dijaga ya Dok ya. 35:20 Penting enggak penting, saya melihat ya 35:21 bahwa demokrasi ini kan membuat orang 35:24 lebih rileks dalam dalam menuangkan 35:27 ide-ide cerdas dia kan, jadi enggak 35:28 enggak tertahan dia. 35:30 Enggak tertahan, jadi jadi kalau ini 35:32 enggak dibuka ruang yang seperti ini ya 35:34 susah. Ya contoh seperti ini Bapak ya. 35:38 Bahwa WHO itu kan setelah Amerika keluar 35:41 dari WHO, enggak mendonasi WHO, maka 35:43 salah satu donatur paling besar itu 35:45 adalah 35:46 Bill Gates. 35:48 Yang kedua adalah salah satu apa ya 35:51 vaksin juga salah satu organisasi vaksin 35:52 global itu 35:54 vaksin global yang membiayai 35:56 WHO 35:57 dan yang membiayai vaksin itu kan si 35:59 Bill Gates juga nah maka ketika ada itu 36:02 bahwa Menkes sekarang ini akan menjadi 36:05 Direktur WHO, maka orang mengaitkan sama 36:07 Bill Gates kan, jadi orang yang punya 36:09 saham dia punya punya punya hak ya kan, 36:11 punya hak untuk menentukan siapa orang 36:13 itu menjadi Direktur kan, nah maka dalam 36:15 sebuah diskusi wah ini sudah kelihatan 36:18 banget ini orangnya Bill Gates ini, jadi 36:20 Kelihatan banget. 36:22 Ah kata gitu saya enggak makanya seperti 36:24 kata 36:25 kata Dokter Rizki tadi itu, bahwa oke 36:27 lah pada awal-awalnya beliau beliau 36:30 bagus dan saja ini kan ada kerja sama 36:32 atau isu-isu bahwa vaksin Covid ada Bill 36:35 Gates ini kan walaupun kita tutup kopi 36:37 tapi kan 36:38 yang kita bukanya Epstein of file ini 36:40 kan ah 36:41 ada diskusi itu antara si Epstein sama 36:44 si 36:45 ini 36:46 si Bill Gates ya. Kira-kira itu itu itu 36:48 itu sisi lain lah urusan nya. 36:49 Oke oke oke oke baik. 36:52 Nah, Dokter Rizki apa juga ee melihat 36:55 ini, kita lagi ee kaitkannya dengan 36:58 kedaulatan negara di bidang ee kesehatan 37:02 gitu ya. Kalau misalkan di bidang 37:04 politik, di bidang 37:06 ee sumber daya mineral gitu kan selalu 37:09 disinggung gitu ya bagaimana kepentingan 37:11 ee asing jangan sampai gitu ya 37:14 mengganggu kedaulatan negara. Kalau di 37:16 dunia kesehatan sendiri kan tadi 37:18 disinggung oleh Dokter ee Ben ee 37:21 programnya Bill Gates dalam tanda petik 37:23 gitu ya. Pemerintah membuka 37:25 selebar-lebarnya tanpa mendengar hearing 37:28 ee para ahli dan begini atau bagaimana 37:30 sebenarnya masalah kedaulatan kesehatan 37:32 ini kaitannya dengan kepentingan asing 37:34 dalam industri kesehatan Dokter Rizki? 37:38 Ya sebenarnya kalau kita bicara 37:39 kedaulatan kesehatan kan artinya kita 37:41 bicara hak hak rakyat atas kesehatan ya. 37:44 Nah. 37:45 Itu kalau saya sih ee memandang 37:48 bagaimana 37:49 ee benar-benar serius melindungi 37:53 warga negaranya terhadap ee 37:55 serangan-serangan yang memang memakai 37:57 isu kesehatan ini. 37:59 Termasuk mungkin ee terkait dengan ee 38:02 apa namanya ee data 38:05 data-data kesehatan masyarakat sendiri. 38:08 Iya. 38:08 Iya kan ya ini kan jangan sampai 38:11 kita 38:12 seolah maju dengan adanya digitalisasi 38:14 kesehatan itu 38:16 Heeh. 38:16 tapi sebenarnya data itu terkumpul 38:19 untuk kepentingan-kepentingan 38:21 ee di luar kepentingan kesehatan rakyat. 38:24 Iya. 38:24 Ini yang kita eee, harapkan ketika 38:28 pemerintah 38:29 mencoba mendigitalisasi semua layanan 38:31 kesehatan kita ini, sehingga semuanya 38:34 eee, tersentralisasi. 38:37 Tapi betul-betul data itu dijaga oleh 38:39 negara ya, karena ini terkait dengan 38:41 data 38:42 kesehatan rakyat kita sendiri. 38:44 Dengan data itu bisa saja kita 38:47 akhirnya kehilangan kedaulatan. 38:49 Yang ini juga eee, harus diantisipasi 38:52 sebenarnya, tapi kita enggak melihat 38:54 suatu ada langkah yang betul-betul 38:56 eee, nyata terlihat oleh negara 38:59 bagaimana melindungi rakyat ini 39:01 eee, dari serangan-serangan di bidang 39:03 kesehatan ini ya. Masalahnya contohnya 39:05 yang disebutkan Dokter Benny tadi. Saya 39:08 termasuk orang yang bukan eee, anti 39:10 vaksin ya. Saya termasuk orang yang 39:12 butuh vaksin, tapi maksud saya 39:14 jangan sampai kita menjadi ladang 39:16 bisnis. Itu yang paling penting buat 39:18 saya, karena ketika itu yang terkemuka, 39:22 iya kan? Yang memang 39:23 yang yang terkorbankan adalah masyarakat 39:26 sendiri. 39:27 Kita bisa lihat contoh misalnya 39:28 sederhana pada waktu terjadi eee, wabah 39:32 campak ya. 39:34 Wabah campak yang kemarin ini baru-baru 39:36 ini kita lihat 39:38 eee, ketidaksiapan pemerintah sendiri 39:41 di dalam eee, upaya 39:43 untuk menetapkan suatu daerah itu 39:46 eee, menjadi status KLB ya. Pemerintah 39:49 daerah ada yang enggak siap karena 39:51 khawatir nanti malah eee, timbul 39:54 macam-macamlah pemikiran-pemikiran yang 39:56 berbeda. Kemudian juga dalam hal 39:59 merespon yang masyarakat yang mungkin 40:01 sebagian ini sebagian kecil kalau 40:03 menurut saya yang anti anti vaksin ini 40:05 juga pemerintah saya lihat kurang begitu 40:08 mampu untuk eee, mengatasinya dengan 40:12 dengan upaya mencerdaskanlah ya. 40:14 Bagaimana dari aspek kesehatan kalau 40:15 kita sih bicara dari sisi kesehatannya 40:18 imunologi, bagaimana peran vaksin itu 40:20 sebenarnya sudah sudah selesai diskusi 40:22 itu selama 40:23 selama kita pendidikan sekolah itu. Tapi 40:26 ini yang menjadi masalah sejauh mana ini 40:28 betul-betul 40:30 tujuan dari proses yang namanya 40:33 vaksinasi, tujuan dari imunisasi itu 40:35 betul-betul memang niatnya untuk 40:36 melindungi rakyat. 40:38 Bukan untuk menjadikan ladang bisnis 40:40 baru yang akhirnya rakyat kita menjadi 40:42 konsumsi vaksin saja gitu ya. Tidak 40:46 benar-benar untuk melindungi rakyat. 40:48 Nah, ini yang mungkin kita harapkan ada 40:51 pemikiran-pemikiran yang 40:53 baik ya buat bangsa kita. 40:55 Saya eh 40:57 dalam posisi itu sebenarnya. Kalau kita 40:58 IDAI juga dalam posisi itu eh Mas Angga. 41:02 Iya, iya, iya. 41:04 Baik, Ikhwan Akhwat yang dirahmati Allah 41:06 Subhanahu Wa Ta'ala. Saat ini Anda 41:08 sedang menyimak siaran live acara Buka 41:10 Mata Buka Telinga 41:13 bersama dua narasumber kita Dr. Sarsuni 41:15 Abdul Wahab dan juga Dr. Rizki 41:17 Aliansyah. Kami mengundang Anda untuk 41:19 bergabung, silakan sampaikan pertanyaan 41:21 ataupun komentarnya ke nomor WhatsApp 41:23 Rasyid di 08111999720. 41:30 Saya akan ke pendengar eh kita di malam 41:33 hari ini ada Ibu Tati. Assalamualaikum 41:36 warahmatullahi wabarakatuh. 41:38 Alhamdulillah selalu menyimak PBT, 41:40 semoga para narasumber itu selalu dalam 41:43 lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ada 41:45 juga 41:46 Amin ya rabbal alamin. 41:46 Iya. Ada juga Ibu Wati Rifai di Batam. 41:50 Alhamdulillah ya rabbal alamin. 41:52 Eh terima kasih Rasyid, saya menyimak 41:54 saja. Oke. Lalu selanjutnya 41:57 ini ada 41:59 Ibu Nenek. Assalamualaikum 42:01 warahmatullahi wabarakatuh. 42:03 Pertanyaan saya apakah sama pelayanan 42:06 antara BPJS yang berbayar dengan 42:09 BPJS yang penerima bantuan. 42:13 Saya pasien BPJS penerima bantuan. Waktu 42:16 kontrol di poli mata, saya mendapatkan 42:19 obat dari rumah sakit, tapi ada yang 42:22 gratis dan ada yang harus dibeli di 42:25 luar. Ini sebenarnya pelayanan untuk 42:28 masyarakat yang penerima bantuan itu 42:30 seperti apa? Mohon pencerahannya. 42:34 Iya. 42:34 Baik. 42:35 Saya ke Dokter Rizki dulu ya. Dari Ibu 42:37 siapa? 42:37 Ibu siapa tadi itu yang bertanya 42:38 terakhir? 42:39 Ibu Nining. 42:40 Di Bekasi. 42:40 Dari Batam ya? 42:43 Ya, kebetulan saya juga lagi di Batam 42:44 sebenarnya ini. 42:46 Oi. 42:46 Ya, enggak apa-apa. Tapi begini, kalau 42:48 saya ee tanggapi, 42:50 sebenarnya tidak boleh ada pembedaan. 42:53 Perbedaan antara penerima bantuan iuran 42:57 dan yang tidak, yang bayar sendiri ya, 42:59 iuran. Yang penerima bantuan iuran 43:01 sebenarnya dia bayar, tapi dibayar oleh 43:04 negara. Tetap juga dia bayar, artinya 43:06 dia 43:07 haknya itu harus sama. 43:09 Haknya itu harus sama. 43:11 Hak untuk mendapatkan pelayanan 43:12 kesehatan. Tidak boleh ada lebih. Yang 43:14 membuat itu 43:16 ee bahkan sama yang kelas 2, kelas 1 43:20 sebenarnya pun tidak boleh ada perbedaan 43:21 pelayanan. Yang membedakan itu 43:24 klaimnya si rumah sakit itu 43:27 kepada BPJS itu berbeda. Kalau kelas 1 43:29 biaya klaimnya akan lebih tinggi 43:31 dibandingkan yang kalau dia kelas 3 ya. 43:34 Tapi kalau dari sisi layanan, kita pun 43:36 sebagai dokter enggak boleh 43:37 membeda-bedakan. 43:39 Nah, ini yang sebenarnya apa yang 43:40 terjadi kepada pasien ini adalah dari 43:43 dampak buruk dari sistem yang memang 43:46 tadi yang paket INACBGs-nya itu enggak 43:48 ter-cover dengan baik. 43:51 Sehingga masyarakat disuruh membeli 43:52 obat. 43:53 Padahal kan itu tidak boleh juga. 43:55 Harusnya benar-benar kalau layanan 43:58 kesehatan itu yang namanya universal 43:59 health coverage, 44:01 ya kan? 44:02 Itu enggak boleh ada biaya lagi yang 44:04 harus dibebankan kepada masyarakat. 44:06 Semuanya harus ditanggung oleh BPJS 44:08 Kesehatan. Tapi faktanya kan tidak 44:10 seperti itu. 44:11 Nah, masyarakat ini kan harusnya yang 44:13 juga 44:14 eh kritis terhadap soal-soal seperti ini 44:16 sehingga negara 44:18 hadir. Kalau misalnya masyarakatnya 44:20 udahlah daripada nanti 44:22 eh aku enggak dilayani ya udahlah, 44:24 enggak apa-apalah bayar sekian. Akhirnya 44:26 yang begitu-begitu kan jadi 44:28 terus-terus terjadi ya, kalau saya 44:30 bilang ya. 44:31 Sehingga enggak ada yang betul-betul 44:32 peduli. 44:33 Nah, akhirnya 44:34 yang yang dirugikan ya masyarakat juga. 44:36 Saya maunya sih masyarakat kritis. Kalau 44:38 misalnya kita nih Dokter Bambang Ben, 44:40 saya 44:41 kita sebagai dokter, kalau kita terlalu 44:42 teriak berlebihan ini kita dianggap ada 44:44 punya kepentingan gitu ya. Padahal kita 44:46 juga saya macam ini hari ini saya bicara 44:47 untuk kepentingan rakyat. Bagaimana 44:49 rakyat kita sehat mendapatkan pelayanan 44:52 kesehatan yang berkualitas, yang lebih 44:53 baik sesuai dengan standar yang mutunya 44:56 terjaga. 44:58 Kita maunya seperti itu. 45:00 Tapi seringkali ini dibenturkan oleh 45:02 sistem tadi ya. Misalnya dokter, dokter 45:04 mau memberikan layanan terbaik. Tapi 45:06 rumah sakit bilang, "Dok, ini biayanya 45:08 plafonnya cuma sekian. 45:10 Ada yang bisa dikurangi enggak Dok 45:11 obat-obatannya?" Akhirnya terjadilah 45:13 seperti itu. 45:15 Yang rugi siapa sebenarnya? Masyarakat. 45:16 Nah, masyarakat ini kita berharap 45:19 kritis. 45:20 Kalau dia kritis eh 45:25 ya ada kekhawatiran dari masyarakat, dia 45:27 enggak mendapatkan 45:28 layanan dengan baik. 45:30 Nah, padahal kan enggak seperti itu ya. 45:32 Ya semuanya masyarakat berhak 45:34 mendapatkan pelayanan kesehatan 45:35 berkualitas. 45:36 Jadi, eh apa yang terjadi 45:38 oleh Ibu tadi itu saya rasa 45:41 eh itu adalah akibat dari 45:44 sistem yang memang tidak betul-betul eh 45:47 sistem pelayanan kesehatan yang tidak 45:48 betul-betul 45:50 eh pro rakyat. Menurut saya seperti itu. 45:53 Baik. 45:54 Selanjutnya ini ada Pak Ahmad di Bogor. 45:56 Assalamualaikum warahmatullahi 45:58 wabarakatuh. 45:59 Waalaikumsalam. 46:00 Saya membaca di beberapa berita bahwa 46:03 Menteri Kesehatan ini mereformasi 46:05 layanan 46:07 eh primer menjadikan Puskesmas lebih 46:10 fokus pada upaya pencegahan penyakit. 46:14 Kalau tadi disinggung juga sistem 46:17 berbasis digital, kan saya menggunakan 46:21 aplikasi Satu Sehat. Menurut saya itu 46:24 mempermudah rekam medis pasien. 46:27 Bagaimana menurut Dokter terobosan 46:29 Menteri Kesehatan? 46:31 Digitalisasi itu adalah [berdehem] alat 46:33 dan itu baik menurut saya. Alat untuk 46:36 bantu untuk membuat masyarakat menjadi 46:39 eh mendapatkan akses yang lebih baik, 46:41 mendapatkan haknya yang lebih baik. Tapi 46:43 jangan dijadikan tujuan. 46:46 Gitu. Karena kalau digitalisasi 46:48 dijadikan tujuan, maka jadi maka itu 46:50 sudah berubah. 46:51 Iya kan? Misalnya begini nih, contoh ya. 46:55 Akibat dari eh tujuan sehingga 46:58 bebannya enggak betul-betul terpikirkan, 47:00 akhirnya yang namanya dokter, yang 47:02 namanya petugas kesehatan lebih banyak 47:04 main di laptop daripada berkomunikasi 47:07 dengan keluarga atau dengan pasien. 47:11 Iya kan? 47:12 Ah, ini kan jadi enggak baik. 47:14 Digitalisasinya jadi berubah eh 47:16 mengambil peran haknya masyarakat untuk 47:18 mendapatkan komunikasi dua arah dengan 47:21 tenaga medisnya. Nah, di satu sisi soal 47:23 itu. Yang sisi yang ke lain 47:26 persoalan digitalisasi ini enggak bisa 47:27 diselesaikan semua daerah. Benar tadi di 47:30 Puskesmas sekarang juga sudah eh ada 47:32 yang merasakan manfaat dari 47:35 eh Satu Sehat itu ya. Tapi sekarang ini 47:37 kita lihat kondisi Indonesia ini yang 47:39 betul-betul dari Sabang sampai Merauke 47:40 tidak merata. Internetnya juga 47:44 eh ya belum semua daerah ada dengan 47:47 baik. 47:48 Macam baru berapa bulan yang lalu saya 47:50 baru dari Papua loh. 47:52 Eh Mas Aga. Saya lihat sendiri di sana 47:54 ya. Saya lihat sendiri masyarakat di 47:55 Papua itu, di Sorong itu. 47:57 Itu tidak semua akses bisa internet bisa 48:00 didapatkan mereka. 48:02 Puskesmasnya juga, ya. 48:04 Jadi, kita dorong pun dia digitalisasi 48:06 digitalisasi 48:07 perangkatnya enggak siap. 48:09 Jadi, belum bisa perangkatnya. Dan itu 48:11 yang yang yang terjadi pada dunia 48:12 pendidikan kan yang seperti yang 48:14 sekarang sedang diusut oleh Pak 48:15 oleh kejaksaan terhadap kasusnya Pak 48:18 Nadiem Makarim, kan? Karena terlalu 48:21 jor-joran masyarakatnya belum siap. 48:24 Iya. 48:24 Itu yang saya bilang saya berharap 48:25 digitalisasi ini harus di dudukkan 48:28 kembali sebagai alat bantu untuk membuat 48:30 layanan market baik. Tapi, jangan 48:32 dijadikan seolah-olah kalau 48:34 digitalisasinya bagus layanan 48:35 kesehatannya sudah bagus, belum tentu. 48:37 Ah, iya iya iya. 48:39 Belum tentu. Jadi, layanan kesehatan itu 48:41 akan makin bagus kalau masyarakat 48:44 ternyata derajat kesehatannya makin 48:45 baik. 48:48 Kalau itu yang terjadi, ya betul berarti 48:50 ini eh sebagai alat bantu yang memang 48:54 membuat derajat kesehatan masyarakat 48:55 menjadi lebih baik. 48:57 Jangan di jangan disalah posisikan ini 49:00 yang namanya 49:01 Satu Sehat digitalisasi itu, ya. 49:04 Sekarang kan ada keluhan nih, saya buka 49:06 mungkin di sini, ya. Ada keluhan yang 49:07 memang 49:08 rumah sakit itu dipaksa untuk 49:11 bisa bergabung di dalam Satu Sehat 49:13 digitalnya itu nih, apa? 49:16 Ternyata banyak rumah sakit enggak siap. 49:18 He em, he em. 49:18 Nah, sampai buat teguran tuh yang 49:20 namanya dirjen 49:21 kesehatan lanjutan itu membuat teguran 49:23 kalau misalnya 49:25 tidak me 49:26 apa namanya tidak menggunakan 49:28 digitalisasi Satu Sehat eh dia diberikan 49:30 sanksi, akreditasinya diturunkan dan 49:31 segala macamnya. Ancaman-ancaman seperti 49:33 itu. Menurut saya itu tidak baik, ya. 49:35 Tidak baik. Karena apa? Karena kan rumah 49:37 sakit punya keterbatasan, ya. Nah, ini 49:40 yang harus dipahami. Kalau memang 49:41 pemerintah mau seperti itu, ya dananya 49:43 harus jadi lebih besar untuk diguyurkan 49:45 supaya 49:46 eh bisa terealisasi. Tapi, faktanya kan 49:49 pemda tidak semuanya bisa siap. 49:51 Iya iya iya. 49:51 Nah, yang seperti-seperti ini yang 49:52 memang masyarakat juga harus pahami 49:55 bahwa digital itu harus kita posisikan 49:58 pada 49:59 posisi dia sebagai alat bantu. 50:01 Selama ini berarti Dok, integrasi data 50:04 kesehatan yang sudah dijalankan oleh 50:06 rumah sakit masing-masing gimana Dok? 50:08 Itu lewat yang namanya ya, lewat namanya 50:11 nanti rekam medisnya terintegrasi di 50:13 dalam Satu Sehat itu. 50:14 Hmm. 50:15 Jadi dengan adanya itu memang bagus 50:17 sehingga pemerintah punya satu database 50:19 yang cukup baik untuk 50:22 misalnya penyakit ya itu bisa tahu 50:25 di Indonesia ini angka kesakitan itu 50:28 untuk penyakit tertentu itu berapa, ya 50:30 kan? Skrining juga dilakukan lewat Satu 50:33 Sehat itu bagus, menurut saya itu bagus 50:34 dan itu suatu terobosan yang baik. Tapi 50:35 jangan dipaksakan kepada yang memang 50:37 belum mampu. 50:38 Iya. 50:38 Jadi pemerintah harus pakai cara lain 50:40 bagaimana bisa mendapatkan data itu. 50:43 Iya kan? Mungkin 50:44 dengan berkoordinasi dengan Dinas 50:46 Kesehatan 50:47 iya kan? Didorong atau diambil datanya 50:49 secara manual atau bagaimana. Ya 50:52 kalaupun datanya ternyata masih ada yang 50:54 bolong-bolong oleh karena ketidaksiapan 50:55 daerah dipahami itu saja, dipahami dulu 50:58 iya kan? Jangan dipaksakan karena kalau 51:00 dipaksakan 51:02 nantinya 51:03 tidak siap. 51:06 Begitu. 51:07 Baik. 51:08 Dokter Ben, ada tambahan Dok mengenai 51:10 pertanyaan dari Pak Ahmad di Bogor tadi 51:12 itu terobosan-terobosan dari Menteri 51:14 Kesehatan gitu ya dari reformasi layanan 51:17 Puskesmas sampai ke sistem berbasis 51:21 digital yang menggunakan aplikasi Satu 51:23 Sehat. Gimana Dok? 51:24 [berdehem] 51:25 Iya yang saya ingat sebenarnya ada hal 51:27 yang yang mengusik saya ya. Saya 51:29 beberapa minggu yang lalu saya ditelepon 51:31 oleh seorang narasumber rahasia ya, dia 51:34 WA saya gitu. 51:36 Dok 51:37 ponakan saya 51:39 hari ini dirawat di salah satu rumah 51:41 sakit jantung 51:43 dia ada kelainan jantung bawaan Dok. Mau 51:45 minta tolong namanya Dok. 51:47 Dan disuruh rujuk ke rumah sakit yang 51:49 lebih dari ketika HarKit atau atau Cipto 51:53 atau di rumah sakit atau krotok gitu ya. 51:58 Kemas angga bayangkan saat itu di WA jam 52:01 11.00 gua hubungi teman-teman kemudian 52:03 teman-teman tuh yang punya peran di UI 52:06 mencari-cari sampai malam enggak ketemu 52:08 besok pagi dapat WA dari dari beliau 52:11 Dok, innalillahi sudah meninggal 52:12 keponakan saya. Jadi saya berpikir ini 52:15 gimana ceritanya ini orang harus dirujuk 52:18 dirujuk karena satu rumah sakit enggak 52:21 mampu untuk menangani tapi ujungnya 52:23 meninggal enggak bisa di di handle ya. 52:25 Ini kan ini kan ada masalah sebenarnya 52:27 ini kan masalah. 52:28 Iya. 52:29 Apa yang saya ini mungkin-mungkin Dokter 52:30 Rizki bisa jawab kenapa permasalahan 52:32 sampai 52:33 Aduh gimana ini ya? 52:35 Dihubungi kebetulan dihubungi ke ke ke 52:38 Cipto enggak bisa. Wah apa itu kan 52:41 gimana Cipto [tertawa] mau dirujuk tuh 52:43 di handle enggak sampai meninggal. Jadi 52:44 jangan bilang ini 52:46 Kalau misalnya 52:47 soal apa ya pribadi mungkin enggak ada 52:49 masalah ya ini BPJS gimana keluarnya 52:51 ini? 52:53 Jadi itu itu masalahnya kan ada di 52:55 sistem rujukan ya. 52:56 Eee. 52:57 Heeh. Sistem rujukan kalau yang kasus 53:00 yang dipaparkan oleh Dokter Benny itu 53:03 eee problemnya begini. 53:06 Jadi ada problem yang disebut dengan 53:08 masalah kapasitas. 53:11 Kapasitasnya memang 53:13 kalau memang anak-anak dengan penyakit 53:14 jantung bawaan dengan seperti yang 53:16 dipaparkan Bang Benny itu perlu yang 53:17 namanya ICU anak. 53:19 Dan itu kapasitasnya terbatas. 53:22 Tapi memang kalau saya 53:25 eee boleh berpendapat lah berkeyakinan 53:27 tidak semata-mata karena kapasitas. 53:30 Ada yang disebut dengan faktor yang 53:32 memang ini kalau ditangani di rumah 53:34 sakit ini 53:36 outcome-nya bisa baik, bisa 53:38 menguntungkan rumah sakit atau tidak. 53:42 Tapi itu tidak tersampaikan, ter 53:45 terungkapkan di dalam satu eh diskusi 53:48 publik ya. 53:49 Tapi itu terjadi. 53:52 Gitu. 53:53 Mmm. 53:53 Nah, kalau yang itu yang terjadi 53:54 masyarakat maka 53:56 ketika ternyata dikhawatirkan nih 53:59 outcome-nya jelek 54:01 atau kita bilanglah nanti 54:03 eh itu akan membebani biaya rumah sakit 54:06 pembiayaan 54:08 maka rumah sakit akan me mengambil satu 54:11 ICU penuh 54:12 Mmm. 54:12 PICU penuh 54:14 semua penuh. 54:16 Yang dirugikan siapa di sini? Masyarakat 54:18 lagi-lagi. 54:19 Iya ya. 54:19 Karena tidak ada transparansi di dalam 54:21 real time memang betul enggak penuh. 54:24 Siapa yang tahu ICU penuh atau tidak? 54:27 Kan rumah sakitnya sendiri. 54:29 Rumah sakitnya sendiri ya. 54:30 Iya kan? 54:31 Siapa yang bisa mengaudit itu? 54:34 Sejauh mana masyarakat bisa mengakses 54:36 itu? Tidak ada karena sistem rujukannya 54:38 itu memang 54:39 sengaja dibuat 54:41 eh antar rumah sakit saja datanya enggak 54:43 bisa ter ter-publish misalnya 54:46 kalau kalau dulu ya pernah ada debat 54:51 apa namanya walikota saya pernah usulkan 54:53 di dalam debat itu berani enggak salah 54:55 satu kandidat 54:57 membuat semacam eh 55:01 apa namanya upaya transparansi 55:03 kesehatan? Misalnya real time tiap hari 55:05 di daerah di di rumah sakit mana ini ini 55:07 kapasitas ICU-nya penuh berapa ini 55:09 berapa. Kalau ada rumah sakit yang 55:10 berbohong dia kena sanksi misalnya. 55:12 Mmm. 55:13 Iya kan? 55:14 Dan itu terpantau real time sehingga 55:17 dari rumah sakit di daerah 55:20 bisa tahu itu dia mau merujuk ke mana. 55:23 Kemudian enggak ada alasan sejauh mana 55:25 itu bisa alasan itu diminimalisir dengan 55:28 kondisi sistem jaminan kesehatan 55:30 nasional terkait dengan pembiayaan. 55:32 Misalnya begini 55:33 kalau misalnya penyakit jantung bawaan 55:35 tersebut memerlukan biaya sampai 150 55:38 juta atau 300 juta. 55:40 Gitu. Sejauh mana komitmen BPJS itu 55:42 akhirnya nanti bisa 55:45 terklaim dengan baik. 55:47 He em. 55:48 Iya kan? 55:50 Nah, yang seperti ini siapa yang 55:52 benar-benar bisa 55:55 memikirkannya 55:56 untuk ada terobosanlah. 55:59 Iya kan? 56:00 Jadi, masalahnya itu bisa di memang 56:02 betul-betul serius alasannya 56:05 jujur karena kapasitas penuh bisa oleh 56:08 karena sebenarnya alasan lain tapi yang 56:11 terkemuka adalah karena ICU-nya juga 56:13 penuh. 56:15 Itu yang sering terjadi. Ini karena saya 56:16 sebagai praktisi, saya sering 56:19 dulu di di rumah sakit pertama saya 56:21 tugas sebelum saya dipecat 56:23 saya pernah ini suatu hari 56:26 saya dapat rujukan dari sejawat, ini ada 56:29 pasien jantung bawaan perlu dirujuk. 56:31 Terus apa jawab rumah sakit waktu itu 56:33 saya tanyakan? 56:34 Katanya ICU penuh. 56:36 Oh, saya bangsa yang enggak bisa percaya 56:38 begitu saja, saya langsung cek ke rumah 56:39 sakit. 56:40 Iya iya. 56:41 Ternyata ada tempat, saya marah benar 56:43 waktu itu dibilang penuh. Itu pasien 56:45 kenapa kalian bilang penuh? Rupanya 56:46 alasan selidik punya selidik 56:49 ternyata ada kaitannya dengan status 56:51 kepesertaan BPJS. Tapi yang seperti itu 56:54 kan harusnya gawat darurat. 56:56 Iya. 56:56 Kalau memang serius BP apanya, ya 56:58 harusnya dirujuk saja masalah biaya 56:59 nanti 57:00 bisa dibicarakan dengan BPJS ini kalau 57:02 gawat darurat. Kan harusnya begitu ya? 57:04 Nah, yang seperti-seperti ini memang 57:06 kita butuh terobosan. 57:09 Bagaimana mengatasi masalah seperti yang 57:10 dipaparkan Bang Ben tadi. Itu memang 57:12 banyak terjadi Bang Ben. Jadi, sekarang 57:14 antrian aja untuk jantung anak itu di 57:16 rumah sakit rujukan itu ada yang 6 57:18 bulan, ada yang setahun, 2 tahun. Ada 57:21 yang harusnya bisa di harusnya dilakukan 57:23 operasi saat itu akhirnya jadi enggak 57:24 bisa dioperasi 57:26 karena sudah lewat waktu. 57:28 Nah, kalau mau cepat 57:30 nah 57:31 tanda kutip ya, tanda nih. Kalau mau 57:33 cepat sedikit terpaksa atau dipaksa 57:37 dia mengambil jalur umum. 57:39 Sehingga enggak enggak lewat antrian 57:40 itu. 57:42 Ini yang sering terjadi nih. Gimana 57:43 mengatasi masalahnya? Saya pikir ini 57:46 harus dipikirkan oleh 57:48 bukan hanya sekedar Menteri Kesehatan, 57:49 saya rasa harus dipikirkan oleh RI 1 57:51 ini, Prabowo Subianto. 57:53 Iya. 57:54 Menurut saya seperti itu. 57:56 Iya. 57:56 Terus ada laporan masuk gitu ya ke 57:59 Iya. 58:00 pimpinan ini. 58:01 Ada Ibu Lisye di Jakarta, 58:02 assalamualaikum warahmatullahi 58:04 wabarakatuh. Saya menyimak siaran di 58:06 malam hari ini. Terima kasih para 58:08 narasumber. Sementara itu ini ada 58:10 sedikit cerita dari Pak Abdullah ya. 58:13 Assalamualaikum warahmatullahi 58:15 wabarakatuh. 58:17 Waalaikumsalam. 58:17 cerita dari saudara saya yang beberapa 58:21 waktu yang lalu menjadi relawan di Aceh 58:25 ketika terkena bencana. 58:27 Ceritanya ini mengenai layanan layanan 58:30 medis di daerah-daerah, apalagi masuknya 58:33 ke daerah terpencil, daerah Takengon dan 58:36 juga sebagainya. 58:38 Mereka melihat 58:40 para relawan ini sepertinya 58:42 rasio kesehatan, pelayanan dokter di 58:46 Indonesia ini masih timpang. Apalagi 58:48 wilayah-wilayah terpencil, 58:50 perbatasan, belum lagi daerah-daerah 58:53 yang tidak bisa diakses. Padahal di situ 58:56 ada warganya, ada masyarakatnya dan 58:58 mereka sangat membutuhkan. Apakah 59:00 pemerintah 59:02 tahu tentang hal ini, Dokter Ben? 59:04 Mungkin dapat cerita juga nih dari 59:05 Dokter Ben atau Dokter Rizki ya. 59:09 Ee saya waktu bencana itu saya ke Aceh 59:11 juga. 59:12 Hmm. 59:13 Saya ke Tamiang ya. Jadi 59:16 ee 59:18 saya dapat menyimpulkan bahwa negara 59:20 kita ini 59:21 belum betul-betul 59:23 punya satu, apa namanya ya, tools 59:26 SOP kalau bencana seperti ini, ah maka 59:29 yang harus dilakukan ini. 59:31 Itu saya lihat tidak tidak begitu 59:33 terlihat ya pada waktu itu. Makanya 59:36 agak kebingungan di awal-awal mau 59:37 bantuan apa yang mau diberikan ya. 59:40 Ah kalau soal ini memang kita harus eh 59:45 kalau untuk Indonesia ya 59:46 kita harus salut dengan almarhum ya eh 59:50 Bang Ben ya Dokter Jose Rizal ya. 59:52 Jadi kalau beliau itu paham betul ketika 59:55 bencana itu mitigasinya apa, kapan harus 59:57 bangun rumah sakit darurat 59:59 rumah sakit lapangan. Nah itu yang 1:00:02 ketika terjadi di Tamiang, itu semua 1:00:04 rumah sakit lumpuh, puskesmas lumpuh. 1:00:07 Kalau 1:00:09 secara akal sehat saya harusnya pada 1:00:11 saat itu pemerintah bangun yang namanya 1:00:13 rumah sakit 1:00:14 eh darurat ya rumah sakit lapangan. 1:00:16 Tapi itu tidak dilakukan, yang dilakukan 1:00:18 malah prioritasnya membersihkan rumah 1:00:19 sakit. Saya bukan bilang rumah 1:00:21 membersihkan rumah sakit atau me me me 1:00:23 me mengoptimalkan rumah sakit itu yang 1:00:27 definitif itu tidak baik ya, itu baik 1:00:29 tapi prioritasnya harus agar masyarakat 1:00:32 mendapatkan layanan segera maka rumah 1:00:34 sakit lapangan itu harus didirikan. 1:00:37 Nah itu yang tidak dilakukan pada waktu 1:00:39 eh bencana. 1:00:41 Dan 1:00:42 ketika sudah bencananya sudah mulai 1:00:45 redap, pemerintah juga 1:00:47 kebingungan mengkoordinir tim medis yang 1:00:50 masuk ya. 1:00:51 Jadi bisa di satu rumah sakit itu numpuk 1:00:54 sementara masyarakat 1:00:56 problemnya bukan soal dia rumah sakit 1:00:58 itu ada dokter 1:01:00 bisa diakses enggak rumah sakit itu? 1:01:01 Nah. 1:01:02 Problemnya kan masyarakat pada saat itu 1:01:04 belum bisa menjangkau rumah sakit dan 1:01:06 puskesmas karena kondisinya di 1:01:08 titik-titik pengungsi. 1:01:10 Oleh karena itu yang efektif adalah 1:01:12 melakukan mobile klinik 1:01:14 atau menempatkan posko-posko di 1:01:16 tempat-tempat pengungsian daripada 1:01:20 tim medisnya menumpuk di satu rumah 1:01:22 sakit. Nah, yang seperti-seperti itu 1:01:24 kayaknya pemerintah kita walaupun kita 1:01:26 sudah punya pusat penanggulangan krisis 1:01:28 yang cukup katanya sudah 1:01:30 pakar-pakar juga tapi saya lihat masih 1:01:33 masih keteteran lah seperti itu ya, yang 1:01:35 itu yang saya lihat sendiri di lapangan. 1:01:37 Saya turun ke daerah Aceh Tamiang, saya 1:01:40 turun ke Sibolga, saya turun ke Langkat. 1:01:42 Saya saya melihat dengan dengan dengan 1:01:46 dan sebagai langsung pelakunya untuk 1:01:48 memberikan pertolongan di sana. Jadi 1:01:50 kita idai waktu itu kita turun ke sana. 1:01:54 Dan ini kesiapan pemerintah yang saya 1:01:56 khawatir nih kalau ada bencana yang 1:01:57 lebih besar lagi ini saya enggak tahu 1:01:59 sejauh mana kesiapan pemerintah. Padahal 1:02:01 kita sudah bolak-balik kena bencana ya 1:02:02 mulai dari tsunami kemudian ada gunung 1:02:06 meletus, macam-macam tapi saya lihat 1:02:07 selalu kalau ada bencana selalu 1:02:10 panic disorder gitu istilahnya kawan 1:02:12 panik di di level kebijakan gitu. Gimana 1:02:14 menurut Bang Ben sendiri sebagai orang 1:02:16 yang yang juga sering terlibat di dalam 1:02:18 eh dunia kebencanaan Bang Ben. 1:02:22 Bagaimana Dokter Ben? Monggo. 1:02:23 Ben, memang 1:02:25 apa kata Dokter Rizki tadi itu kita ini 1:02:27 memang pelanggan 1:02:28 pelanggan musibah ya, musibah kita kan 1:02:30 dari alam dan dari yang kita buat 1:02:33 sendiri kan. Jadi kan lengkaplah musibah 1:02:35 kita ini kan. 1:02:36 Nah, jadi 1:02:38 sebenarnya ini saya lihat bahwa eh 1:02:41 mitigasi ini penting 1:02:43 untuk seperti contoh ya seperti banjir 1:02:46 apa bencana di Aceh Tamiang itu. 1:02:48 Ada teman saya via saya "Dok, 1:02:52 kita dari dari alumni ITB membuat 1:02:55 tentang literasi tentang 1:02:57 eh bencana alam di Aceh dan di Padang. 1:03:00 Dua dua dua di Aceh Tamiang sama 1:03:02 langsung saya bilang begini "Enggak 1:03:04 penting itu saya bilang 1:03:07 eh enggak penting karena pelakunya alam 1:03:10 karena karena memang di di pelakunya 1:03:12 adalah manusia ini soalnya itu. 1:03:15 Jadi memang karena pelakunya manusia 1:03:18 enggak perlu kita buat interaksi. Yang 1:03:19 perlu yang perlu kita buat interaksi 1:03:20 mitigasi ini di depan Prabowo. Saya 1:03:22 bilang kepada masyarakat itu. 1:03:25 Enggak. 1:03:26 Dan yang kedua, saya lihat memang eh apa 1:03:29 ya? Memang seperti yang dikatakan oleh 1:03:31 Rizki itu, memang kita orang kita ini 1:03:32 memang enggak pernah siap. Saya enggak 1:03:33 tahu kenapa kita enggak pernah siap 1:03:35 menghadapi menghadapi setiap bencana 1:03:37 ini. Jadi, yang dikoordinasi ini kurang 1:03:39 gitu kan. Jadi, di mana-mana itu cerita 1:03:41 lama itu, Dokter Rizki. Yang namanya 1:03:43 koordinasi kita boleh walaupun ada MPV 1:03:45 dan segala macam itu. Tapi, di operasi 1:03:47 itu selalu enggak enggak ada satu 1:03:49 kebersamaan dalam melihat sebuah bencana 1:03:52 itu. Selalu kita ini 1:03:53 [berdehem] 1:03:53 yang kuat-kuat yang punya egoisme 1:03:55 sentris 1:03:56 gitu. 1:03:57 Jadi, enggak tahu apa yang prioritas 1:03:59 pertama yang harus dilakukan gitu loh. 1:04:01 Enggak tahu aku kenapa kita kita bilang 1:04:02 orang kita ini enggak pintar-pintar, 1:04:03 enggak ahli-ahli gitu loh. Kita kita 1:04:05 enggak tahu kenapa nih. Karena 1:04:07 kalau masalah seperti itu kan pada 1:04:08 decision making-nya itu kan pada pada 1:04:10 tokoh politik gitu kan. 1:04:12 Dan sampai di di satu daerah di Aceh 1:04:14 itu, pas banjir oleh kotanya, pergi 1:04:16 entah ke mana. Jadi, kan repot kita 1:04:17 menghadapi itu. 1:04:18 Heeh. 1:04:19 Jadi, sebenarnya harus totalitas semua 1:04:21 itu. Kalau kita bicara bencana, 1:04:22 totalitas. Seperti kata-kata pertanyaan 1:04:24 Ibu tadi itu, apakah eh Dokter Inisa ini 1:04:27 kurang? 1:04:29 Enggak enggak walaupun enggak 1:04:30 lebih-lebih banget, tapi enggak 1:04:31 kurang-kurang banget loh. 1:04:32 Persoalan ini kita kan distribusi 1:04:35 kita enggak enggak enggak enggak merata. 1:04:37 Nah, contoh misalnya contoh ya, Dokter 1:04:39 Rizki misalnya kan. 1:04:40 Heeh. 1:04:40 Kemudian Dokter jantung anak ditempatkan 1:04:42 di tempat yang di situ enggak ada 1:04:44 apa-apa. prioritas. Padahal kan dia di 1:04:45 situ enggak fungsi. 1:04:47 Atau Dokter ortopedi misalnya 1:04:49 ditempatkan di satu rumah sakit dan di 1:04:50 situ dia enggak ada pasien. 1:04:52 Enggak dia enggak ada apa-apa. Wah, ini 1:04:54 gimana nih? Apa saya harus jadi dukun? 1:04:56 Dukun apa tukang apa? Tukang dukun apa? 1:04:59 Patah tulang gitu kan. Jadi, sebenarnya 1:05:01 ketika distribusi ini berjalan dengan 1:05:04 baik, pemerintah harus menyiapkan itu 1:05:06 apa? Menyiapkan itu adalah tempat-tempat 1:05:08 yang memang representatif. Kalau semua 1:05:10 sudah disiapin, nah kalau macam-macam 1:05:12 baru dilakukan tindakan pada 1:05:14 dokter-dokter itu. 1:05:15 Tapi kalau misalnya kita tempatkan ahli 1:05:17 di satu tempat, modal bismillah saya 1:05:19 pikir enggak bisa gitu. 1:05:20 Modal bismillah. 1:05:23 Baik, selanjutnya ini ada pertanyaan 1:05:24 dari hamba Allah di Jakarta tidak 1:05:26 menyebutkan nama. Assalamualaikum 1:05:28 warahmatullahi wabarakatuh. Eh, dokter 1:05:30 mohon ini gimana program pemerintah yang 1:05:34 tujuan untuk melakukan pemerataan, 1:05:36 membuka peluang beasiswa putra daerah 1:05:39 untuk menempuh pendidikan dokter 1:05:41 spesialis 1:05:43 dan menjalankan program dokter spesialis 1:05:46 di wilayah terpencil, perbatasan dan 1:05:50 kepulauan. Apakah ini masih berjalan? 1:05:53 Saya ke dokter Rizal dulu. 1:05:55 Ehm, saya enggak tahu apakah benar-benar 1:05:58 berjalan atau tidak ya, tapi keluhan 1:06:00 terkait dengan 1:06:02 eh 1:06:04 dokter-dokter yang disekolahkan ketika 1:06:06 dia balik kembali ke daerahnya, 1:06:09 malah daerahnya sendiri tidak 1:06:11 memperlakukan dia 1:06:13 agar dia 1:06:20 tidak terfasilitasi gitu. 1:06:25 Halo, dokter. Dokter 1:06:28 Adriansyah. 1:06:30 Suaranya enggak ada nih. 1:06:34 Sorry. 1:06:36 Ah, tadi suaranya terputus. 1:06:38 Iya iya, sorry. Eh, internetnya mungkin 1:06:40 agak sedikit tidak stabil tadi. Jadi, eh 1:06:43 problemnya kita enggak tahu ya 1:06:45 masalahnya di mana, 1:06:48 benar-benar akar masalahnya maksud saya. 1:06:50 Sering kali gini nih, disekolahkan nih 1:06:52 dari Papua, 1:06:54 iya kan? Tahu-tahu sudah pulang sekolah 1:06:57 dia enggak balik juga ke situ. Tilik 1:06:59 punya tilik ternyata masyarakatnya, 1:07:01 bukan masyarakatnya ya, Pemdanya tidak 1:07:03 memberikan kesejahteraan yang 1:07:05 baik buat dia atau kenyamanan, keamanan 1:07:07 buat dia. 1:07:08 Oh. 1:07:08 Ujungnya tetap saja masalah pemerataan 1:07:11 tidak pernah benar-benar 1:07:13 eh tuntas di negara kita ini. Tetap juga 1:07:15 masalahnya eh di daerah tertentu masih 1:07:18 kekurangan dokter ya di di Papua, 1:07:21 Indonesia Timur, Maluku, Maluku Utara 1:07:23 itu masih 1:07:24 terutama Nusa Tenggara Timur juga itu 1:07:26 masih banyak daerah-daerah yang memang 1:07:28 eh masyarakat masih sulit me mengakses 1:07:32 dokter ya, terutama juga dokter 1:07:33 spesialis. 1:07:34 Jadi kalau ditanya kebijakannya bagus 1:07:37 menurut saya ya. 1:07:38 Jadi ada 1:07:40 Pemda 1:07:41 menyekolahkan eh putra-putri di daerah 1:07:44 itu untuk sekolah spesialis, dibiayai 1:07:47 dengan beasiswa. 1:07:49 Dan menurut saya ini baik sebenarnya, 1:07:51 tapi sejauh mana ini bisa akhirnya 1:07:53 mengikat 1:07:55 buat dokternya itu setelah tamat dia 1:07:57 juga jadi betah di situ, bukan sekedar 1:07:59 disuruh mengabdi ya. 1:08:01 Iya. 1:08:01 Tapi dibuat betah itu dengan apa? Dibuat 1:08:03 nyaman, dibuat apa ya supaya dia bisa 1:08:06 bekerja dengan baik. Kalau dia bekerja 1:08:08 dengan baik, yang merasakan manfaatnya 1:08:10 siapa? Rakyat. 1:08:12 Rakyat. 1:08:12 Rakyat. 1:08:13 Kan rakyat yang di daerah itu yang 1:08:15 mendapatkan. Iya karena mendapatkan 1:08:17 layanan yang kesehatan yang 1:08:18 spesialistik. Jadi intinya kan 1:08:20 muter-muter di situ sebenarnya. Sejauh 1:08:22 mana pemerintah berkomitmen tidak hanya 1:08:23 sekedar menyekolahkan 1:08:25 eh memberikan biaya beasiswa buat eh 1:08:28 putra-putri daerah, tapi sejauh mana dia 1:08:30 kembali ke daerah dia betul-betul 1:08:31 mendapatkan kesejahteraan, kenyamanan, 1:08:33 keamanan. 1:08:35 Bagaimana dia bisa bekerja dengan baik 1:08:36 kalau ternyata keamanan dirinya sendiri 1:08:38 juga jadi masalah gitu. 1:08:41 Eh kita bisa tahu tuh di daerah itu 1:08:42 sampai dokternya meninggal. Baru-baru 1:08:44 ini cerita dokter intensif meninggal. 1:08:47 Iya. 1:08:48 Jadi hal-hal seperti ini yang membuat 1:08:51 eh masalah pemerataan itu enggak pernah 1:08:53 selesai gitu. 1:08:55 Pemerataan dokter. Begitu menurut ah 1:08:57 menurut pendapat saya begitu Mas Angga. 1:08:59 Oke. Dokter Ben, bagaimana menurut 1:09:01 Dokter Ben, komentari tadi dari apa-apa? 1:09:04 Ya, 1:09:05 memang itu kan di memang kan ada ada 1:09:07 namanya program program yang positif kan 1:09:10 dari Pemda dia. 1:09:12 Ketika melihat mereka melihat ada 1:09:13 kekurangan dokter ya mereka cuma kasih 1:09:15 beasiswa. 1:09:16 Tapi enggak tuntas, ada juga yang ada 1:09:18 juga setelah kasih beasiswa ya mungkin 1:09:20 SPP-nya yang mereka handle tapi biaya 1:09:22 hidup enggak begitu ya, enggak satu 1:09:24 tuntas. 1:09:25 Kan saya ada ada berapa teman saya 1:09:27 diskusi katanya itu saya dikasih eh 1:09:29 Pemda enggak mampu. 1:09:31 Cuma rekomendasi Pemda butuh [berdehem] 1:09:33 untuk rekomendasi doang, ada juga 1:09:35 seperti itu tapi setelah itu harus 1:09:36 pulang dia tanpa diberikan subsidi yang 1:09:38 lain-lain begitu ya. Jadi 1:09:40 jadi dia enggak punya keinginan karena 1:09:42 apa? Karena memang dia merasa enggak 1:09:43 Pemda enggak ada jasa buat gua katanya 1:09:45 begitu ya. 1:09:46 Tapi kalau misalnya ditanggung semua 1:09:47 oleh oleh oleh Pemda kemudian dia balik 1:09:50 ke sana walaupun 1:09:52 eh fasilitasnya kurang agak agak agak 1:09:54 kurang sedikit tapi kan 1:09:56 balas budi ini kan ada pasti dia ingat. 1:09:59 Jadi mungkin ada dua hal memang memang 1:10:01 pertama adalah beasiswa yang enggak 1:10:02 enggak full kemudian ketika dia balik 1:10:04 dan tidak dia berikan fasilitasnya 1:10:06 memang memadai untuk dia untuk bekerja 1:10:08 ya. Bukan berarti ini adalah eksklusif 1:10:10 ya itu bukan tapi memang 1:10:12 ini untuk untuk pengabdian itu penting 1:10:14 juga jangan jangan sampai eh 1:10:16 ada hal yang memang menghambat 1:10:18 kerja-kerja dia. 1:10:19 Saya pikir Pemda sudah bagus tinggal 1:10:20 diperbaikilah, diperbaiki bagaimana ini 1:10:23 akan ditingkatkanlah sehingga pemerataan 1:10:25 ini kan lebih lebih lebih lebih nyata 1:10:28 lah kira-kira begitu maksud saya. 1:10:32 Baik. 1:10:33 Ibu Yuliati Bogor, asalamualaikum 1:10:35 warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih 1:10:37 BMBP di malam hari ini informasinya 1:10:40 sangat 1:10:42 mencerahkan bagi kita. Ya, itu asap 1:10:45 terakhir yang bisa kita jawab di 1:10:47 kesempatan malam hari ini karena 1:10:50 kita sudah dibatasi oleh waktu ya. 1:10:52 Dokter Rizki, kita sudah di penghujung 1:10:55 acara mungkin sebagai penutup dari 1:10:57 seluruh bahasan kita dan juga 1:10:59 pertanyaan-pertanyaan masuk yang sudah 1:11:01 kita jawab, apa sebagai benang merah dan 1:11:04 yang ingin diingatkan kepada 1:11:07 seluruh pendengar mengenai topik yang 1:11:09 kita bahas di malam hari ini dari Dokter 1:11:12 Rizki. 1:11:13 Sebagai penutup 1:11:14 kasih. Terima kasih Mas Angga. Yang 1:11:15 pertama saya juga berterima kasih nih 1:11:17 diundang di Rasil ya. 1:11:19 Jadi eh 1:11:21 masalah kesehatan ini memang luas dan 1:11:23 kompleks, mungkin banyak hal yang masih 1:11:25 kita lihat apa yang kita bahas ini masih 1:11:28 satu penggalan-penggalan 1:11:30 masalah saja. Mungkin suatu hari nanti 1:11:32 kita bisa membahas fokus 1:11:34 topik kesehatan itu yang mana yang 1:11:36 mungkin kita perlu 1:11:37 kita perlu eh 1:11:40 apa namanya soundingkan, kita 1:11:41 viralkanlah gitu ya. 1:11:42 Apakah soal BPJS Kesehatan, itu masalah 1:11:45 tersendiri itu. 1:11:46 Masalah eh apa namanya eh pendidikan 1:11:49 kedokteran, itu masalah tersendiri. 1:11:52 Kemudian masalah pemerataan, kemudian 1:11:54 mungkin terkait dengan eh apa namanya 1:11:56 kebijakan-kebijakan kesehatan yang 1:11:58 lainnya. Sehingga 1:12:00 eh kalaupun misalnya menyenggol atau 1:12:02 menyinggung satu eh 1:12:05 topik kesehatan satu dengan yang 1:12:07 lainnya, tapi paling tidak ke depan 1:12:09 mungkin kita bisa ini ya lebih 1:12:11 ambil satu eh 1:12:13 cerita mungkin dari yang menarik tadi 1:12:16 kan seperti yang tadi ya. Dari ada 1:12:18 pasien di Batam cerita begini akhirnya 1:12:20 kita baru tahu oh ternyata masalah itu 1:12:21 ada. 1:12:22 Ternyata ada masalah seperti itu, 1:12:23 sehingga kita bisa eh mengeksplor lagi 1:12:26 eh apa yang harusnya dilakukan oleh eh 1:12:29 negara. Saya rasa 1:12:31 eh ini sangat menarik eh Mas Angga untuk 1:12:34 untuk tetap kita eh gaungkan, mungkin 1:12:37 Rasil bisa terdepan saya rasa belum ada 1:12:40 yang 1:12:40 benar-benar eh podcast seperti ini ya 1:12:43 menurut saya seperti itu Mas Angga. Jadi 1:12:46 coba nanti ke depan bisa kita 1:12:47 pertimbangkan gitu menurut terutama juga 1:12:50 menurut Bang Ben ini. gimana Bang Ben? 1:12:53 Ya. 1:12:54 Oke, baik Dokter Rizki. Dokter Ben, 1:12:56 sebagai penutup. 1:12:59 Ya, mungkin ini eh saya pikir ya seperti 1:13:02 kata Dokter Rizki, kita coba matangkan 1:13:04 lagi langkah-langkah mana yang lebih 1:13:06 di urgel penting bagi publik kita yang 1:13:08 bagi pendengar kita sehingga pendengar 1:13:10 sini 1:13:11 eh lebih lebih paham lebih cerdas dalam 1:13:14 melihat persoalan yang terutama terjadi 1:13:16 di bidang kesehatan. 1:13:17 Dan kedua adalah kita untuk kita mungkin 1:13:20 dari apa kita kepada pemerintah yang 1:13:22 mudah-mudahan pemerintah mendengar 1:13:23 apa-apa keluhan ini yang merupakan 1:13:25 masukan yang berharga bagi pemerintah 1:13:27 sehingga nantinya ada berbagai perbaikan 1:13:29 yang bisa dilakukan secara bertahap 1:13:32 secara gradual yang mudah-mudahan ini 1:13:33 juga akan bermanfaat bagi masyarakat 1:13:36 kita. 1:13:37 Dan sebagai sebagai eh 1:13:39 apa ini dia apa radio dakwah kita terus 1:13:41 menyerukan eh kebaikan kepada 1:13:44 kepada umat kepada bangsa ini yang 1:13:46 mudah-mudahan tak PMT ke depannya akan 1:13:48 coba kita buka dengan tema tema yang 1:13:50 betul menjadi tema yang penting bagi 1:13:52 masyarakat kita masyarakat. Mungkin itu 1:13:53 Mas Angga. 1:13:55 Baik. 1:13:56 Dokter Rizki Adriyasa, terima kasih 1:13:59 banyak atas waktunya di malam hari ini 1:14:01 dan juga Dokter Ben, terima kasih banyak 1:14:04 sudah bergabung terus di acara Buka Mata 1:14:06 Buka Telinga. Oke, Ikhwan Akhwat yang 1:14:08 dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala, 1:14:10 demikianlah acara live Buka Mata Buka 1:14:13 Telinga edisi malam hari ini. Semoga apa 1:14:15 yang kami sampaikan, yang kami 1:14:17 diskusikan bermanfaat untuk Anda semua. 1:14:20 Kami dari studio undur diri, mohon maaf 1:14:22 bila banyak kesalahan kata. Billahi 1:14:24 taufiq wal hidayah. Subhanakallahumma wa 1:14:26 bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, 1:14:28 astaghfiruka wa atubu ilaik. 1:14:30 Assalamualaikum warahmatullahi 1:14:32 wabarakatuh. 1:14:34 Wa. 1:14:47 Hah.