Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:28 Brail TV [musik] 0:43 [musik] 0:54 alamin. 0:55 wasam sayidina muhammid 1:01 allahim 1:06 dipancarkan dari jalan masjid 1:08 silaturahim nomor 36 kalimis ciungur 1:11 Bekasi radio silaturahim dan rasil TV 1:14 untuk islam yang satu ikhwan akhwat yang 1:17 dirahmati Allah subhanahu wa taala 1:19 pendengar dan pemirsa di mana saja Anda 1:21 berada apa kabar anda di malam hari ini 1:24 semoga Semoga harapan kami Anda semua 1:26 dalam keadaan sehat walafiat. Adapun 1:29 yang sedang dalam keadaan sakit semoga 1:32 segera disembuhkan oleh Allah subhanahu 1:34 wa taala. Senang sekali di malam hari 1:36 ini ikhwana saya angga Aminudin ditemani 1:39 oleh Fahri di meja operator atau juga di 1:42 kameramen dapat kembali menyapa Anda 1:44 dalam acara buka mata buka telinga. Kami 1:48 hadir di hari Ahad malam hari ini kita 1:52 sudah memasuki hari yang ke-24 di bulan 1:54 Mei 2026 dan narasumber buka mata buka 1:59 telinga kita, Dr. Sarbini Abdul Murad 2:03 telah bergabung di layanan Zoom kita ya. 2:06 Asalamualaikum warahmatullahi 2:07 wabarakatuh, Dr. Ben. 2:10 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:11 wabarakatuh, Mas Angga, 2:13 bagaimana, Dok, di malam hari ini 2:15 kabarnya sehat? 2:15 Alhamdulillah, alhamdulillah sehat 2:16 walafiat. 2:18 Alhamdulillah bisa kembali kita 2:19 bergabung dan juga mengudara. Siapa tamu 2:22 kita di malam hari ini, Dokter? 2:25 Ya, [berdehem] 2:26 ini tamu spesialnya kita undang dari 2:28 dari jauh jauh banget ini di Sumatera 2:30 Utara di Medan. 2:33 Jadi ee selama ini kita bicara tema-tema 2:37 internasional dunia Islam. Nah, untuk 2:39 kali ini pertama kali kita coba topik 2:42 yang memang tidak banyak yang tahu yang 2:46 mungkin yang teres tapi ini topik yang 2:48 sangat penting dan vital. Nah, maka kita 2:52 undang ini ini seorang dokter dokter 2:55 jantung anak ini enggak sembarangan 2:57 orang nih. Enggak enggak enggak terlalu 2:59 banyak diminta doktor jantung anak ini. 3:02 Oh. 3:02 Nah, beliau adalah Dr. Rizki Adriansah. 3:05 Beliau juga ketua IDI untuk Sumatera 3:08 Utara dan ini seorang dokter yang buat 3:11 puyung kepala menteri kesehatan. Nah, 3:13 ini beliau. Alhamdulillah ya sudah 3:15 bergabung bersama kita Dr. Rizyah. 3:19 Asalamualaikum, Dr. Rizki. 3:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 3:22 wabarakatuh. Kabar baik, Mas Angga. Bang 3:25 Ben, apa kabarnya juga? 3:26 Alhamdulillah. 3:27 Alhamdulillah. Alhamdulillah. 3:28 Bisa 3:29 bisa bergabung kembali, bisa mengudara 3:31 lagi ini ya bersama Rasil Dr. Rizki. Di 3:35 tengah-tengah kesibukannya, Ketua IDI 3:38 Sumatera Utara ini hadir [berdehem] di 3:41 ruang siaran buka mata buka telinga. 3:43 Sekarang BMBT ini miliknya Dr. Band, Dr. 3:46 Riz. 3:47 Oh, iya iya. 3:49 [tertawa] 3:50 cocok. Kalau 3:51 kita akan iya kita akan mengangkat 3:53 bagaimana kebijakan kesehatan pemerintah 3:56 saat ini. Nah, kita juga ingin mengerti 3:58 berbagai hal sebenarnya dari mulai 4:00 masalah layanan kesehatan di Indonesia 4:02 yang memang cukup kompleks sekali gitu 4:05 ya. Semak ee meskipun 4:09 ada pemberitaan data-data yang 4:11 mengatakan bahwa kesehatan Indonesia itu 4:13 makin meningkat gitu ya. dari mulai 4:16 data-data ee JKN ataupun ee data dari 4:20 ekonomi kesehatannya. Sebagai pembuka 4:23 dari dokter Band, kenapa kita mengangkat 4:25 bagaimana apa topik mengenai bagaimana 4:27 kebijakan kesehatan pemerintah saat ini? 4:30 Pengantarnya, Dok? 4:32 Ya, saya pikir ini ee topik ini perlu 4:35 kita coba apa menjadi literasilah, 4:38 literasi bagi pendengar asil ya yang 4:42 lumayan besar sehingga walaupun ini 4:44 sangat spesifik tapi ee kita harus paham 4:48 walaupun sedikit ya karena masalah 4:50 kesehatan ini kan menjadi urusan privat 4:52 kita nih ya masalah pendidikan kesehatan 4:55 sesuatu yang sangat penting siapapun 4:57 presiden. Jadi, dua pilar ini menjadi 4:59 hal yang sangat urgen bagi apa? Bagi 5:02 rakyat untuk menjadi apa menjadi hal 5:05 yang andalan lah gitu ya. Jadi kita 5:08 melihat bahwa ee Pak Menteri Kesehatan 5:11 ini beliau telah mencoba untuk 5:14 menterjemahkan menterjemahkan 5:16 apa yang menjadi keinginan Presiden 5:19 dalam konteks atau dalam bidang 5:20 kesehatan dan beliau seorang insur dari 5:24 ITB kemudian menjadi seorang e Menteri 5:27 Kesehatan. 5:28 Kemudian kita juga lihat bahwa nanti ada 5:30 rebesannya ke mana-mana nih Rizki ada ke 5:32 BPJS segala macam dah. Dan kita tahu 5:35 bahwa ee masalah-masalah kesehatan yang 5:39 memang menjadi masalah di hari ini 5:41 misalnya contoh ya, contoh misalnya ee 5:43 Menteri Kesehatan membuka yang namanya 5:46 hospital base ataupun eh pendidikan 5:49 dokter spesialis yang jumlahnya lumayan 5:51 ya. 5:52 dengan pandangan beliau bahwa ee dokter 5:55 Indonesia kurang jadi menciptakan atau 5:58 bentuk ee pendidikan spesialis dan hari 6:01 dan dan bukan cuma spesialis juga rumah 6:03 sakit S1 ya untuk kedoktoran dan 6:06 sekarang terjadi over kelebihan jadi 6:09 masalah baru hari ini. Jadi semua banyak 6:11 hal yang kita lihat ee terjadi ee apa ya 6:15 oposat lah pemikiran beliau ya. 6:17 Bagaimana beliau misalnya mengcut si 6:20 namanya ee kolegium ya atau di bawah 6:23 Menteri Kesehatan sehingga ruang ruang 6:26 gerak daripada para dokter dalam 6:28 membentuk sebuah kebijatan kesehatan ini 6:30 kan agak-agak sulit ya. Kemudian belum 6:33 lagi interaksi beliau dengan para guru 6:34 besar dengan para medis yang itu ee 6:37 tidak tidak harmonis atau kurang 6:39 harmonis. Kita lihat bagaimana misalnya 6:41 dr. Rizki ya beliau kritis dengan 6:43 kesehatan beliau di dipencan dari dari 6:47 sakit eh ada maluika bagaimana dr. PM 6:50 demikian juga apalagi Dr. dral mutqin 6:53 demikian juga. Jadi memang orang-orang 6:55 kritis di apa di dunia medis hari ini 6:59 bukanlah bukanlah sesuatu yang bikin 7:02 Menteri Kesehatan ini bangga, senang, 7:04 ada alternatif pemikiran dianggap bahwa 7:08 ini adalah lawan saya yang mesti saya 7:11 coba untuk saya akhiri tanda petik ya 7:14 karirnya di dunia ee ee departemen 7:17 kesehatan itu satu. L kemudian kita 7:19 lihat juga bagaimana misalnya 7:20 persoalan-persal BPJS yang itu diangkat 7:23 sama tulisan Dr. Rizki pada hari ini ya 7:26 tentang bagaimana misalnya ee 7:30 apa istilahnya itu e banyak halah yang 7:32 terjadi internal e PJS yang juga 7:35 membutuhkan 7:36 ee apa ya ee pemikiran bersama kita 7:39 sehingga nanti pendengar radio rasi juga 7:42 bisa memahami dinamika yang terjadi hari 7:44 ini di dunia medis. Karena apapun yang 7:47 terjadi pasti imbasnya terhadap ee ee 7:50 masyarakat ya itu tidak bisa kita 7:53 pungkiri kira-kira kira-kira pero 7:55 prolongnya seperti itu Mas. 7:57 Baik Dr. Ben kita akan melihat bagaimana 8:02 sebenarnya ee ulasan Dr. Rizki 8:06 Adriansyah. 8:07 lebih ee utamanya kita juga nanti akan 8:10 lihat ketimpangan akses fasilitas dan 8:13 juga ee tenaga medis antar ee daerah 8:16 gitu ya. Lalu juga masalah-masalah 8:19 klasik dalam pelayanan kesehatan itu 8:22 sebenarnya ee seperti apa. Dr. Rizki 8:26 Adriansyah sebagai ee 8:29 apa materi yang akan disampaikan di 8:31 malam hari ini? Silakan, Dok. kami 8:34 persilakan. 8:36 Ee terima kasih Mas Sangga. 8:39 Ee kalau pengantarnya dari bank Ben saja 8:42 sudah seperti itu, sepertinya banyak 8:44 sekali masalah kesehatan. Jadi [tertawa] 8:47 mulai dari 8:48 ee apa tadi ee BPJS kesehatan, kemudian 8:53 bicara tentang 8:55 pendidikan kedokteran, kemudian 8:57 distribusi ee dokter di berbagai daerah 9:02 jumlahnya kurang. 9:05 Jadi kalau kita lihat akhir-akhir ini 9:09 dalam 5 tahun belakangan ini memang ee 9:13 pemerintah sepertinya 9:16 ee berusaha untuk ee menggeser ya yang 9:22 namanya kesehatan itu adalah ee apa 9:25 namanya? Hak rakyat tapi digeser menjadi 9:29 sebuah industri. Saya pikir ini adalah 9:32 suatu hal yang kalau kita lihat dasarnya 9:36 itu ada masalahnya di situ ya. Karena 9:39 membuat paradigma kesehatan ini tidak 9:41 lagi sekedar untuk bagaimana membuat 9:43 rakyat sehat, tapi bagaimana juga 9:45 menjadi sebuah industri. 9:47 Sehingga untuk mendukung ee itu 9:49 diperlukan berbagai ee resource sumber 9:53 yang memang mendukung ke arah industri 9:55 mulai dari pendidikannya, kemudian ee 9:59 apa namanya alat-alat penunjangnya, 10:01 kemudian juga sistem pembiayaannya. 10:03 Semuanya diarahkan kepada bagaimana 10:06 kesehatan ini bisa menjadi hal yang 10:09 menguntungkan dari sisi finansial. Nah, 10:12 tentu ini yang ee dilematisnya adalah 10:15 ketika itu berhadapan dengan kepentingan 10:17 rakyat sendiri. Ya, sebenarnya yang 10:19 diharapkan oleh rakyat adalah 10:21 sebagaimana apa yang tercantum di dalam 10:24 ee konstitusi kita sejak amandemen 10:26 Undang-Undang Dasar 1945 itu sudah cukup 10:29 jelas bahwa yang diharapkan 10:32 negara itu adalah hadir dalam konteks 10:35 memberikan pelayanan kesehatan yang 10:36 layak. Itu hak yang mendasar ya. yang 10:39 sebelumnya itu tidak ada di konstitusi 10:42 kita. Kemudian juga negara bertanggung 10:45 jawab untuk menyediakan fasilitas 10:47 pelayanan kesehatan ya dalam konteks 10:50 pemerataan berkeadilan. Nah, untuk itu 10:54 memang diperlukan suatu terobosan. Nah, 10:57 terobosan ini yang mungkin terjadi 10:59 benturan antara satu dengan yang 11:01 lainnya, baik kita tenaga medis, 11:03 kemudian ee pengambil kebijakan tentu 11:06 saja Kementerian Kesehatan, kemudian 11:09 juga dengan rakyat sendiri ya. Jadi 11:11 benturan-benturan itu yang memang tidak 11:13 bisa kita anggap ini sebagai ee apa ya 11:19 ee sebagai sebuah hal yang memang harus 11:23 dijalani. Tidak. Sebenarnya yang kita 11:25 harapkan adalah sebuah kepemimpinan yang 11:28 dalam memimpin ee masalah kesehatan yang 11:31 sedang dihadapi adalah kepemimpinan yang 11:33 betul-betul pro rakyat. Ya, 11:35 saya sih berharapnya seperti itu. 11:38 Ketika Menteri Kesehatan menjadi ee 11:41 Menteri Kesehatan inilah dipimpin oleh 11:43 Pak Budi Gunadi Sadikin, sebenarnya di 11:46 awal-awal saya juga termasuk orang yang 11:48 menaruh harapan besar ya kepada beliau. 11:51 Oleh karena ee di awal-awal kepemimpinan 11:54 beliau itu saya pikir ee untuk ee 11:58 bagaimana meredam ee 12:01 ataupun menurunkan angka penularan COVID 12:05 itu ya saya anggap beliau sedikit 12:07 berhasillah ya cukup berhasil boleh 12:09 dibilang cukup berhasil bagaimana 12:11 membangun kolaborasi antara organisasi 12:14 masyarakat dan Kementerian Kesehatan itu 12:17 betul-betul terjalin pada waktu itu. 12:19 Kemudian yang kedua, di awal-awal 12:21 kepemimpinan beliau itu juga ee saya 12:24 melihat ini ada satu hal yang berbeda 12:26 dibandingkan menteri-menteri sebelumnya 12:28 ya. karena beliau ee mengundang seluruh 12:33 ee pakar ke ya dalam bentuk suasana 12:36 nonformal ya mengundang makan itu di 12:39 rumah jamu di rumah dinas beliau 12:41 termasuk saya juga dan saya paparkan 12:43 sebagai pakar di bidang jantung anak 12:45 saya paparkan masalah layanan jantung 12:48 anak di Indonesia. Nah, namun supaya 12:52 sejalan dengan ee ini apa namanya? 12:54 perjalanan kepemimpinan beliau. Saya 12:56 melihat ee terlalu banyak orang-orang 12:59 yang berusaha untuk ee 13:03 mempunyai kepentingan-kepentingan 13:05 terselubung begitu ya. Saya melihatnya 13:06 seperti itu. 13:08 Nah, itu yang akhirnya apakah itu memang 13:11 beliau sadari atau tidak, tapi itu 13:13 menggeser dari upaya yang memang ee 13:16 awalnya untuk pemerataan pelayanan 13:18 kesehatan. Tapi ada agenda-agenda lain 13:20 yang memang setelah saya baca 13:23 Undang-Undang Kesehatan dan ininya 13:25 memang arahnya memang ingin mendukung 13:28 kepada suatu yang kita sebut dengan 13:29 istilah industri kesehatan atau health 13:31 industry. Nah, di sinilah yang menjadi 13:34 pokok persoalannya ketika masalah itu 13:36 diarahkan ke sana. Misalnya untuk 13:38 layanan jantung anak ya. Saya pada waktu 13:41 awal-awal itu saya paparkan ke beliau 13:43 itu tentang apa yang harus dilakukan di 13:46 mulai dari puskesmas sampai pusat 13:47 rujukan. agar masyarakat yang ataupun 13:50 anak-anak yang mengalami penyakit 13:52 jantung bawan itu bisa dilayani dengan 13:53 baik ya. Di Puskesmas harus tersedia 13:56 apa? dokter puskesmasnya harus diberikan 13:59 pengetahuan apa, keterampilan apa. 14:01 Begitu juga di rumah sakit tipe C ya, 14:04 tipe B sampai kepada rumah sakit di 14:06 pusat rujukan di Rumah Sakit Ciptomangun 14:08 Kusumo atau di Rumah Sakit Jantung 14:10 Harapan kita itu sudah kita buat 14:12 mapping-nya seperti apa dari Sabang 14:14 sampai Merauke sudah bagus. Tapi saya 14:18 sedikit bingungnya ketika data yang kita 14:20 paparkan itu lalu beliau bicara di DPR 14:25 dengan data yang kita miliki itu tentang 14:28 bahwa ada 50.000 anak dengan penyakit 14:30 jantung bawaan setiap tahun 12.000-nya 14:33 kritis dan hanya 6.000 yang bisa 14:35 ditangani. Beliau pakai data itu sebagai 14:38 argumen beliau untuk kita perlu dokter 14:40 asing. 14:42 Nah, ketika itu saya sudah mulai tidak 14:44 pas menurut saya ya argumennya. 14:47 ee sampai diarahkan ke sana. Lalu saya 14:49 sedikit mengkritik. Nah, saat saya mulai 14:52 mengkritik itulah saya saya juga 14:54 merasakan saya sudah begitu tidak bisa 14:58 diharapkan untuk sebagai salah satu 14:59 orang yang menjadi pemberi ee informasi 15:03 yang baik ya demi kemajuan ee kesehatan 15:06 masyarakat kita gitu. 15:08 Lalu saya juga akhirnya ikut mengkritik 15:11 hal-hal yang lain ya termasuk tentang 15:13 puncaknya adalah soal kolegium ya. soal 15:17 kolegium. Jadi ee kita ingin kolegium 15:19 itu independen. Memang pengertian 15:21 independen ini, tafsir independen ini 15:24 yang jadi masalah. Karena maunya Menteri 15:26 Kesehatan tuh independen tapi tetap ada 15:29 ee tangan Menteri Kesehatan di situ. 15:32 Kita sih tidak maunya seperti itu. Kita 15:34 ingin independen itu ya betul-betul 15:35 independen begitu. 15:37 Nah, karena dia di situ berhimpunnya 15:39 para ahli, para pakar, guru besar. Nah, 15:42 ini kan sebenarnya sudah di 15:45 sudah diuj apa ya sudah keluar amar 15:48 putusan Mahkamah Konstitusi. Walaupun 15:51 mengabulkan sebagian, tapi sebenarnya 15:53 jelas di situ disebutkan aku arti itu 15:57 berlaku setelah putusan Mahkamah 15:59 Konstitusi. Kolegium itu harus 16:01 independen dan harus membuat peraturan 16:03 pemerintah yang baru untuk mengatur itu. 16:05 Nah, ini yang sampai sekarang tidak 16:06 dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. 16:09 yang dilakukan Kementerian Kesehatan 16:10 terus dengan kolegium yang sudah 16:12 dibentuknya itu dan terus berusaha untuk 16:15 membuat pendidikan berbasis rumah sakit 16:17 yang standarnya sendiri menurut kita 16:19 banyak hal yang ee bisa menimbulkan 16:23 potensi ya potensi walaupun belum 16:25 terjadi potensi timbulnya ada perbedaan 16:28 output apalagi nanti bicara tentang 16:31 outcome ya dari suatu lulusan pendidikan 16:34 dokter spesialis apakah yang itu 16:37 berbasis pendidikan jikan ee apa 16:39 university base ataupun yang hospital 16:41 base. Nah, itu satu sisi. Di sisi lain 16:44 kita lihat juga punya masalah kesehatan 16:46 yang lain ee tentang BPJS kesehatan. Ya, 16:51 kalau kita lihat akhir-akhir ini, 16:54 pemerintah memang cenderung akan 16:56 melakukan efisiensi di berbagai sektor 16:59 ya, termasuk sektor kesehatan sendiri. 17:02 Nah, dampaknya 17:03 pada awal Februari itu sudah kita lihat 17:05 bagaimana ee itu terjadi pada saat 17:11 Kementerian Sosial dan Kementerian 17:12 Kesehatan, Menteri Sosial dan Menteri 17:14 Kesehatan tuh dipanggil sama DPR untuk 17:17 berkomitmen agar sekitar puluhan juta 17:20 itu masyarakat yang memang penerima 17:22 bantuan iuran itu jangan sampai mereka 17:26 kehilangan haknya begitu ya. Kehilangan 17:27 haknya untuk mendapatkan layanan. Nah, 17:29 faktanya itu terus terjadi. Akhirnya 17:31 timbul gejolak di masyarakat. Nah, 17:33 ternyata datanya enggak matching. Dan 17:36 kalau saya bilang ee bukan sekedar tidak 17:39 matching data Kementerian Kesehatan dan 17:41 Kementerian Sosial, tapi datanya itu 17:44 sangat diragukan 17:45 begitu ya. Tujuannya hanya untuk ya di 17:49 balik itu semua adalah lagi-lagi soal 17:51 efisiensi. Nah, sekarang kita melihat 17:53 juga BPJS kesehatan sendiri di 17:55 internalnya itu di dipaksa untuk 17:58 efisiensi. Jadi, pengklaiman itu kalau 18:01 bisa ditekan jangan sampai terlalu 18:03 tinggi klaimnya rumah sakit 18:05 ditekan 18:05 sehingga diharapkan ada target 1 triliun 18:08 dalam 3 bulan hematnya. Ya, 18:10 itu kan suatu angka yang bombastislah 18:12 menurut saya ya, luar biasa ya. 18:14 Disuruh menghemat R triliun dalam 3 18:16 bulan. 18:18 Nah, ini ee ujung-ujungnya siapa yang ee 18:21 menampakkan apa mendapatkan dampak 18:23 buruknya ya. Pertama rumah sakitnya dia 18:26 akan membatasi layanan ya kan. Dia akan 18:31 berharap jangan sampai terjadi e 18:33 dianggap fraud ataupun mengembalikan 18:35 uang ataupun layanannya malah dibuat 18:37 rugi dan dia enggak mau seperti itu. 18:40 Nah, ujung-ujungnya siapa yang dirugikan 18:41 lagi? Tentu 18:42 rakyat. Dokter, rakyat yang paling 18:44 dirugikan karena obat-obat terbatas. 18:47 Itulah yang jadi 18:49 momok yang belakangan ini ee 18:52 jadi semakin kompleks masalah kesehatan 18:54 di negara kita ini. 18:56 Ini sebenarnya kita berharap Pak Prabowo 19:00 sebagai Presiden turun tangan untuk ee 19:04 memberikan tafsir baru efisiensi itu 19:06 untuk kesehatan seperti apa? Apakah 19:08 memang 19:10 ee betul-betul disuruh ee efisien 19:14 seperti tafsirnya BPJS kesehatan atau 19:17 tafsirnya Kementerian Kesehatan 19:20 atau bagaimana? Atau adakah suatu hal 19:22 yang lebih bijak mengalihkan dana MBG 19:25 untuk subsidi ee iuran BPJS misalnya. 19:28 Itu kan lebih pro rakyat menurut saya 19:30 gitu. kebijakan-kebijakan seperti itu 19:32 yang kita harapkan dari 19:33 ee negara terutama terutama dari Pak 19:36 Presiden Prabowo Subianto sebenarnya itu 19:38 dulu mungkin nanti kita bisa diskusi 19:40 topik mana yang ingin ditanyakan Mas 19:43 Angga. Saya sih buka saja. 19:45 Oke. Nah, drter Rizki kan kami juga ini 19:48 ee mengikuti ya postingan-postingan dr. 19:51 Rizki di Instagram ya dengan 19:53 tulisan-tulisannya gitu ya. Sangat ee 19:55 menarik gitu ya. Apalagi di siaran kita 19:58 malam hari ini buka mata, buka telinga 19:59 kan membuka sesuatu yang enggak dibuka 20:02 di tempat lain gitu ya. Jadi salah 20:06 satunya ini bagaimana sebenarnya tadi 20:08 disinggung industri kesehatan, 20:11 lalu juga politiknya kesehatan gitu ya, 20:14 kaitannya dengan pemegang ee kebijakan, 20:18 pemegang wewenang gitu ya, berbenturan 20:21 dengan para tenaga kesehatan profesional 20:24 gitu ya. Saya ingin ee fokus juga ke 20:28 ketika ada kata bahwa pemerintah 20:32 menjamin kesehatan rakyat gitu ya, lalu 20:35 rakyat Indonesia ini dijamin 20:37 kesehatannya itu ee seperti apa? Karena 20:41 pertanyaan besar masyarakat ketika 20:44 layanan ee BPJS saja gitu ya, 20:49 kenapa lambat sekali gitu. Lalu antrian 20:52 orang sakit di rumah sakit itu dari 20:55 mulai pasrah sampai sakitnya tambah 20:57 sakit lagi gitu ya. Nah, ini ini 21:00 sebenarnya esensi-esensi dari JKN itu 21:03 apa gitu sebenarnya, Dok, yang perlu di 21:06 disoroti dan perlu masyarakat itu tahu 21:08 gitu. Kenapa seperti ini? Bagaimana, 21:10 Dokter? 21:12 Iya. Ini sebenarnya kita mau geser 21:16 BPJS kesehatan ini kepada suatu asuransi 21:19 sosial. atau asuransi yang sifatnya 21:22 memang ee jadinya murni ee rakyat ya. 21:26 Jadi kalau asuransi yang murni sosial 21:28 itu artinya betul-betul negara dengan 21:31 pajaknya mensubsidi 100% 21:35 ee iuran BPJS kesehatan itu disubsidi 21:39 oleh pajak. Nah, itu di negara-negara 21:41 sosialis itu mereka menerapkan itu. Tapi 21:44 di negara-negara seperti kita, kita 21:47 pakai semi. Makanya ada prinsip 21:49 gotongroyong ya kan. Yang kaya bayar 21:51 iuran juga tapi untuk yang miskin 21:54 disubsidi oleh negara. 21:58 Nah, sebenarnya arahnya mau diarahkan ke 22:00 mana? diarahkan semuanya semakin 22:03 disubsidi. 22:05 Artinya semakin banyak orang yang 22:07 mendapatkan subsidi atau orang yang 22:10 mendapatkan subsidi itu diharapkan nanti 22:12 ke depan berkurang. 22:14 Iya kan? Kalau dia memang arahnya 22:17 diharapur tentu nanti iuran akan naik. 22:21 Iuran akan naik. Nah, kalau misalnya 22:23 ditanggung oleh negara sebenarnya saya 22:25 sih kepengin idealnya begitu ya. Tapi 22:27 kan lagi-lagi ini tergantung ee apa 22:29 namanya ee kemauan politik pemerintah 22:33 sejauh mana 22:33 politik political will-nya ya 22:35 political will-nya mau enggak 22:37 membiayainya karena MBG aja bisa ya kan 22:40 300 triliun saya bilang kenapa untuk 22:42 mensubsidi ini sebenarnya kalau 22:45 anggaran BPJS kesehatan untuk R00 22:47 triliun itu bisa sedikit lagi itu sudah 22:49 menutupi ini menutupi seluruh iuran itu 22:54 artinya 22:55 bisa menengah dan menengah tengah ke 22:56 bawah itu akhirnya di-cover ya oleh ee 23:00 BBJS kesehatan. Nah, tapi pemerintah kan 23:02 ingin geser ini angka kemiskinannya 23:05 indikatornya dikecil apa namanya dibuat 23:08 sehingga angkanya kecil sehingga yang 23:10 perlu disubsidi 23:12 lebih kecil. 23:14 Nah, kan kalau seperti itu arahnya 23:17 berarti 23:18 lagi-lagi kita bicara selalu tiap tahun 23:20 defisit, defisit, defisit, defisit 23:22 anggaran kesehatan ya kan tiap tahun 23:26 naik dan bakal tahun 2025 ini yang 23:28 paling tinggi sampai 100 sekian triliun 23:31 defisit dari BPJS. Dan ini juga 23:33 diprediksi dalam 3 bulan ini katanya ada 23:35 20 sampai 30 triliun sudah 23:37 defisit. Jadi kalau sampai akhir tahun 23:40 bisa kali 6 bisa 120 triliun. 23:43 defisitnya dari ee anggaran BPJS 23:46 kesehatan. Nah, ini kan pemerintah kan 23:48 berharap tidak sampai defisit seperti 23:50 itu. Maka dilakukanlah yang namanya 23:52 efisiensi. Tapi dampak dari efisiensi 23:55 ini kepada masyarakat layanan ya kan 23:58 layanan yang harusnya bisa dilayani ee 24:00 maksimal menjadi ya ee layanan ee 24:04 dibatasi dengan tertentu dan kita harus 24:07 pahami juga rumah sakit juga tidak ingin 24:09 rugi ya kan. Kalau misalnya begini, saya 24:11 kasih contoh saja tindakannya. suatu 24:13 tindakan operasi yang plafonnya 24:16 misalnya R10 juta, tapi pengeluaran 24:18 rumah sakit untuk operasi itu R juta, 24:21 rumah sakit pasti dia akan menolak, dia 24:22 akan rujuk atau ke mana pasien itu atau 24:24 tidak dilakukan tindakan sampai ada satu 24:27 solusi gimana supaya pasien itu bisa ee 24:30 dilayani. yang seperti-septi ini sudah 24:32 terjadi di seluruh banyak rumah sakit 24:35 yang melayani BPJS sehingga ee 24:39 masyarakat juga mau enggak mau daripada 24:41 dia ikut antrian yang enggak jelas dia 24:43 akhirnya ee membayar juga ya 24:45 mengeluarkan uangnya. 24:47 Nah, ini yang jadi masalah sebenarnya 24:49 buat negara kita. Mau mau diarahkan ke 24:52 mana ini sebenarnya BPJS kesehatan ini? 24:54 Ke asuransi sosial murnah 24:57 ya kan atau diarahkan kepada yang nanti 24:59 ujung-ujungnya semuanya bayar iuran. 25:02 Nah, dokter Dr. Riz. 25:05 Nah, dari pengalaman dokter ya ketika 25:08 memanage sebuah rumah sakit sebenarnya 25:10 itu pengelolaan dana kapitasi dan juga 25:14 klaim rumah sakit yang kaitannya dengan 25:17 PPJS itu sebenarnya gimana sih, Dok, 25:19 yang selalu menjadi alasan 25:21 alasan rumah sakit masalah 25:23 operasionalnya apanya gitu ya? 25:25 [berdehem] 25:26 Kalau kapitasi itu di Puskesmas ya 25:28 biasanya gitu ya. N jadi puskesmas itu 25:30 mendapatkan dana yang namanya dana 25:31 kapitasi. Jadi dia tidak berdasarkan 25:34 ee jumlah ee orang yang berobat, tapi 25:37 berapa penduduk yang diada yang di-cover 25:39 dalam layanan dia di puskesmas itu atau 25:42 di klinik e pratama. Tapi kalau dia di 25:44 rumah sakit 25:46 dia namanya ada pakai namanya tarif 25:48 tarif inigi. 25:50 Ini yang menentukan adalah Kementerian 25:51 Kesehatan tarif itu melalui peraturan 25:53 Menteri Kesehatan. Jadi ada angkanya di 25:55 situ. Misalnya penyakit ini, diagnosis 25:58 ini ada komplikasi atau tidak, maka 26:02 klaimnya kalau ada komplikasi sekian, 26:04 kalau tidak ada komplikasi sekian, gitu. 26:06 He. 26:06 Jadi ee itu yang memang angkanya sudah 26:09 baku berdasarkan tipe rumah sakitnya itu 26:12 masih berlaku berdasarkan itu. Nah, 26:14 problemnya kalau angka itu ternyata 26:18 patok segitu, tapi pengeluarannya 26:20 ternyata setelah dihitung lebih besar 26:22 dari itu. 26:24 Lebih besar dari itu. Misalnya contoh ya 26:26 saya misalnya saya tindakan yang namanya 26:28 menutup jantung bocor. Alat jantung 26:30 bocornya sudah R15 juta atau R juta gitu 26:34 kan klaimnya. hanya R7 juta. Akhirnya 26:38 dari alatnya saja rumah sakit sudah 26:40 nombok. 26:42 Akhirnya rumah sakit bilang ke saya, ke 26:43 dokternya, "Dok, jangan dikerjakan di 26:45 sinilah. jangan dikerjakan di rumah 26:46 sakit ini, dirujuk saja atau ada 26:49 alternatif lain atau ee dibicarakan 26:52 dengan pasien apakah bisa ee kalau dia 26:55 kelas 1 atau kelas ee dua dia mungkin ee 27:00 naik ya co sharing misalnya 27:02 yang kelas 3 ya mau enggak mau dia 27:04 enggak bisa mendapatkan pelayanan. Nah, 27:07 ini kan yang sering sering terjadi gitu. 27:10 Iya. Iya. 27:11 Nah, 27:12 maka ini jadi kelihatan bahwa ini 27:13 peraturan birokrasinya kayaknya kaku 27:15 gitu ya, enggak memfasilitasi apa 27:17 begitu. 27:20 Birokrasi, birokrasinya memang kaku. 27:22 Tapi begini, kekakuan itu sekarang malah 27:25 ee kan gini, kalau orang kaku kan takut 27:29 nanti dituduh ee korupsi atau bagaimana 27:31 ya, dibuat kaku gitu. 27:32 Iya. 27:33 Tapi kalau ini kaku, takut dia bukan 27:35 korupsi. 27:37 takut karena nanti nombok begitu nombok 27:39 pengeluarannya rumah sakit rugi gitu. 27:42 Jadi ee 27:45 kita harus dorong atau kita advokasi 27:49 pemerintah kita ini tolong tarifnya itu 27:51 diperbaiki. 27:53 Tarif IASBG yang ditetapkan oleh Menteri 27:55 Kesehatan itu diperbaiki. Karena itu 27:57 sudah kalau di negara lain bahkan ada 27:59 yang tiap tahun itu diperbaiki karena 28:00 kan ada inflasi, ada faktor-faktor lain 28:03 mengakibatkan harga itu menjadi naik, 28:05 harga obat naik, harga alat kesehatan 28:08 naik. Nah, atau ada cara lain pemerintah 28:11 bagaimana supaya alat-alat kesehatan 28:13 itu, obat-obatan itu jadi lebih murah 28:15 sehingga rumah sakit bisa mampu beli. 28:17 Kalau mampu beli dia bisa tekan harga. 28:20 Kalau tekan harga bisa ini dia akan 28:21 ambil margin berapa keuntungan dia kalau 28:23 dia memberikan pelayanan itu kepada 28:26 pasien. 28:27 Nah, ini akhirnya kan pasien pada 28:29 ngantri. 28:31 Ngantri kalau pasiennya dia ada duitnya 28:33 sedikit mungkin dia bisa naik kelas atau 28:35 dia mungkin ambil jalur umum. Tapi kalau 28:38 buat masyarakat miskin kan ini kasihan 28:41 gitu. 28:43 Jadi memang harus ada terobosan dari 28:47 presiden menurut saya kalau soal-soal 28:49 seperti ini. Karena ujung-ujungnya nanti 28:50 pasti masyarakat yang akan ee terbebani. 28:53 Saya rasa begitu. 28:54 Baik, Dr. Rizki. Ikhwan akhwat yang 28:57 dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Saat 28:59 ini Anda sedang menyimak siaran live 29:02 buka mata, buka telinga. Bagaimana 29:05 kebijakan kesehatan pemerintah saat ini. 29:08 Saya akan ke Dr. Band diseroti beberapa 29:11 hal tadi ee dokter Ben ya. Ee kalau yang 29:14 eh krusial gitu ya yang dilupakan ini ya 29:16 yang dilupakan oleh pemerintah baik dari 29:19 pucuk pimpinannya presiden maupun 29:21 menteri kesehatannya yang tadi 29:22 dimensionen beberapa kali itu apa, Dok 29:25 sebenarnya Dok? 29:26 Ya, padahal tuh krusial nih, jangan 29:28 sampai dilupakan gitu. 29:30 Enggak. Sebenarnya gini, Mas Angga. Kita 29:31 ini kan pemerintah kita enggak ada 29:33 segala ya. Apa sih yang 29:36 sebenarnya? Itu aja sebenarnya saya 29:38 perhatikan. 29:39 Jadi sekarang kan programnya Pak 29:41 Presiden ini kan MBG utama ya, MBGdes 29:44 gitu ya. Jadi program-program yang 29:47 memang menyisakan persoalan sebenarnya 29:50 gak ada esensi-esensi yang memang 29:51 sebenarnya itu harus dipikirkan secara 29:55 serius. secara sungguh-sungguh ini 29:58 kelupakan kan. Saya pikir masalah 30:00 kesehatan itu hal yang sangat yang 30:02 sangat urgen saya pikir ya apalagi 30:04 masyarakat kita ni kan kita lihat ya 30:07 misalnya angka stunting tinggi tentu 30:09 tentu masyaak stunting tinggi ya dasar 30:13 kenapa Pak Presiden buat MBG stunting 30:15 tinggi nih maka saya buat MBG gitu 30:18 sebenarnya kalau logika sederhana kita 30:20 bahwa eh yang stunting itu kan yang 30:23 paling penting kan hamil misalnya kan 30:26 anak bayi misalnya atau anak-anak SD 30:30 Anda sudah sudah jelas siapa ee apa 30:33 siapa orangnya, siapa komunitasnya kan 30:36 sudah jelas semua. Tapi kan enggak semua 30:37 kok itu dasar untuk dibuat MBG 30:39 sebenarnya kan. Maka ada 30:41 kebijakan-kebijakan presiden sebenarnya 30:42 itu yang bisa mengikis seperti kata drki 30:45 tadi bagaimana saya asuransi semestinya 30:48 pemerintah bisa cover enggak dvera apa? 30:51 karena enggak cukup dana atau misal 30:53 misal juga bisa gini ya seperti dibuat 30:56 desentralisasi asuransi seperti usulan 31:00 Rizki tadi itu ya bahwa apakah ini murni 31:02 negara yang tanggung ya tapi kan kondisi 31:05 hari ini negara menggap-megap ini 31:06 kayaknya agak susah ya tentu sai contoh 31:09 ya contoh misalnya daerah-daerah yang 31:11 kaya yang surpus uang contoh misalnya 31:14 kayak Kalimantan Timur misalnya 31:16 jadi yang kita harapkan Kalimantan Timur 31:17 adalah bagaimana asuransi mereka itu 31:19 ditanggung oleh diel oleh pemerintah 31:22 daerah. Sama kayak di Aceh dulu kan masa 31:24 dulu ada masa itu 31:27 ee JKA JKA NAT gitu loh. Artinya daerah 31:30 yang mentake over itu kan kenal 31:32 kesehatannya enggak bisa bisa di ini 31:35 dongak kalau misalnya dia sakitnya 31:36 mencer diari cacing itu enggak okelah 31:39 enggak enggak darurat kalau misalnya 31:40 darurat misalnya seperti kata Rizki tadi 31:44 itu jantung bocor saya itu ceritanya itu 31:47 atau misalnya patah misalnya segera 31:49 misalnya gitu kan jadi dengan dia pegang 31:51 kartu aja dan pegang kartu kartu 31:53 asuransi itu dia bisa dicover oleh rumah 31:56 sakit di daerah itu di mana aja di 31:58 provinsi itu. Nah, antara desentralisasi 32:02 asuransi bilang harus jadi Rio misal itu 32:05 kayak kaya-kaya lah sama seperti MBG ya. 32:07 Okei. pas Papua betul Papua gitu kan ada 32:11 gestalisasi sekarang ini pemerintah suka 32:13 betul semua ada menasionalkan kopdes 32:15 nasional ya kan sakit dibawa kom daerah 32:17 hadana kuburan jadi kan 32:21 habis 32:22 kata saya enggak ingat ngomong sama Bang 32:25 apa Bang 32:27 aduh siapa waktu meninggal ee saya jadi 32:31 dia bilang bahwa oke di Jawa MBG engak 32:34 penting Kalimantan 32:36 desa-desa Kalimantan atau di Papua MBG 32:38 penting. Nah, di situ yang artinya yang 32:41 difokuskan mana yang lebih penting. Jadi 32:43 bisa didiskusikan nih, Pak Sangga. Jadi 32:45 seperti usul usul tadi drki ya, bahwa 32:48 kalau misalnya negara menghandle itu 32:50 sebenarnya sudah tercover sebenarnya itu 32:52 siasa. Jadi jangan semeragamkan kan kita 32:55 kan paling suka hal seperti itu acara 32:57 nih kode desod saya kan pakai patik 33:00 semua putih semua kan suka 33:02 seragam-seragam semua. Jadi tidak 33:05 memberikan keluasan kepada daerah untuk 33:07 berpikir bagaimana ini bisa dilaksanakan 33:10 dengan baik. Karena kesehatan yang mau 33:12 dirikan masangga itu harus kita akui 33:14 bahwa ini hal yang sangat urgan bagi 33:16 bagi masa depan negara ini. apa 33:18 penyakitan TBC misalkan di mana-mana itu 33:21 kan persoalan 33:22 ini contoh saya gini contoh ya jadi ada 33:25 peman gratis itu kan besar anggaran itu 33:27 kan dari negara itu jadi enggak enggak 33:29 fokus jadi kenapa fokus ini daerah ini 33:30 misalnya lebih ke TBC itu difokuskan di 33:33 situ jadi dikasih dikasih target oleh 33:35 negara bahwa untuk untuk kepala dinas 33:38 atau kepala daerah salah satu prestasi 33:40 kamu adalah menekan TBC misalnya gitu 33:42 kan tekan TBC itu Jawa Barat saya contoh 33:44 dan Jawa Barat tinggi betul TBC ini 33:47 ditekan mana daerah-daerah dilokalisir 33:49 gitu. Jadi kita ini yang yang belum 33:51 dipikirkan oleh oleh negara. Nah, kita 33:54 lihat masangga ya. Misalnya contoh ya 33:56 ketika Bill Gates datang ke Indonesia 33:58 dan Bill Gate ke Indonesia wah orang 34:00 ramai-ramai ramai-ramai saya diundang di 34:02 televisi. 34:03 Iya iya 34:04 sama Prof Profhan apa sudah banyak 34:06 perempuan. Saya bilang sama-sama beliau, 34:09 "Saya enggak mempersoalkan teknis-teknis 34:11 apakah Hana S." Saya enggak 34:12 mempersoalkan itu. Saya persalkan satu 34:14 aja, 34:15 apakah Indonesia dilibatkan dalam pemban 34:17 vaksin di pabrik-pabrik vaksin 34:19 [berdehem] Indonesia? Itu itu penting. 34:22 Itu yang kedua, apakah kita juga harus 34:24 membeli vaksin itu dengan harga yang 34:26 standar internasional? 34:28 Padahal yang namanya istilahnya uji coba 34:30 itu dengan dengan dirakyat Indonesia. 34:32 Jadi saya pikirangga ini memang harus 34:35 ada harus ada pemikiran-pemikiran yang 34:37 sifatnya lateral ya sehingga 34:39 perdebatan-perdebatan ini penting dalam 34:41 sebuah ee apa ya sebuah keputusan 34:43 sehingga keputusan ini matang untuk dia. 34:46 Jadi kalau enggak ada diskusi ada orang 34:48 yang mempersoalkan itu langsung di 34:50 depan. Jadi kan orang jadi malas ngomong 34:52 kan, "Wah dia pasti berpu kan." Tapi 34:54 tidak memandang bahwa setiap perdebatan 34:57 itu adalah menguatkan sebuah keputusan 34:59 kan. Semakin banyak orang kasih ide 35:00 kanan macam-macam kan akan muncul 35:02 ide-ide yang lebih lebih progresif. Tapi 35:05 kalau misalnya berbeda kemudian itu 35:08 dianggap bahagian dari menghambat 35:10 program dia inilah menjadi masalah di 35:12 hari ini enggak pernah selesai. 35:14 Jadi di dunia kesehatan, di dunia 35:16 kesehatan juga sebenarnya demokrasi ini 35:18 perlu dijaga ya, Dok ya. penting enggak 35:20 penting saya melihat ya bahwa demokrasi 35:23 ini kan membuat orang lebih rileks dalam 35:26 dalam menuangkan ide-ide cerdas dia. 35:28 Jadi enggak enggak tertahan dia tu kan 35:30 enggak tertahan. Jadi jadi ee kalau ini 35:33 enggak dibuka ruang yang seperti ini ya 35:34 susah. Ya, contoh seperti ini 35:38 bahwa WHO itu kan setelah Amerika keluar 35:41 dari WHO enggak mendonasi WHO, maka 35:43 salah satu donator paling besar itu 35:45 adalah Bill Gate. 35:48 Yang kedua adalah salah satu apa ya 35:51 vaksin juga saya lupa dengan organisme 35:52 vaksin global itu vaksin global yang 35:55 membiayai ee Riau dan membiayai vaksin 35:59 juga si Belgia juga. Nah, maka ketika 36:01 ada bahwa Mengkes sekarang ini akan 36:05 menjadi direktur WHO, maka orang 36:06 mengkaitkan sama Bill Gates. Jadi, orang 36:09 yang punya saham dia punya punya punya 36:11 hak kan, punya hak untuk menentukan 36:13 siapa orang itu menjadi direktur kan. 36:15 Nah, maka dalam sebuah ee diskusi wah 36:18 ini sudah kelihatan banget ini orangnya 36:19 Bill Gates ini. Jadi 36:20 kelihatan 36:22 ah kakak gitu sayaak. Makanya seperti 36:24 kata ee kata Dr. Rizki tadi itu bahwa 36:27 okelah pada awal-awalnya beliau beliau 36:30 bagus sa jadi kan ada kerja sama ke 36:32 isu-isu bahwa vaksin Covid atau bilg kan 36:35 walaupun kita tutup kopi tapi kan kita 36:39 bukanya of file ini kan ada diskusi itu 36:43 kan antara si sama si 36:46 di gitu K itu itu sisi lain saya. 36:50 Oke oke oke oke. Baik. Nah, Dr. Rizki 36:53 apa juga ee melihat ini kita lagi e 36:56 kaitkannya dengan 36:58 kedaulatan negara di bidang ee kesehatan 37:02 gitu ya. Kalau misalkan di bidang 37:04 politik, di bidang ee sumber daya 37:08 mineral gitu kan selalu disinggung gitu 37:10 ya bagaimana kepentingan ee asing jangan 37:13 sampai gitu ya mengganggu kedaulatan 37:15 negara. Kalau di dunia kesehatan sendiri 37:18 karena tadi disinggung sama dokter eh B 37:20 eh programnya Bill Gates dalam tanda 37:23 petik gitu ya, pemerintah membuka 37:25 selebar-lebarnya tanpa mendengar hearing 37:28 eh para ahli dan begini atau bagaimana 37:30 sebenarnya masalah kedaulatan kesehatan 37:32 ini kaitannya dengan kepentingan asing 37:34 dalam industri kesehatan, Dr. Rizki? 37:38 Ya, sebenarnya kalau kita bicara 37:40 kedaulatan kesehatan kan artinya kita 37:41 bicara hak hak rakyat atas kesehatan ya. 37:45 itu kalau saya sih ee memandang 37:48 bagaimana 37:50 ee benar-benar serius melindungi warga 37:53 negaranya terhadap ee serangan-serangan 37:56 yang memang memakai isu kesehatan ini 37:59 termasuk mungkin ee terkait dengan ee ee 38:02 apa namanya ee data-data 38:06 kesehatan masyarakat sendiri. 38:08 Iya. ya kan ya ini kan jangan sampai 38:11 kita seolah maju dengan adanya 38:14 digitalisasi kesehatan itu, 38:16 tapi sebenarnya data itu terkumpul untuk 38:19 kepentingan-kepentingan 38:21 ee di luar kepentingan kesehatan rakyat. 38:24 Iya. Ini yang kita ee harapkan ketika 38:28 pemerintah mencoba mendigitalisasi semua 38:31 layanan kesehatan kita ini sehingga 38:33 semuanya ee tersentralisasi 38:37 tapi betul-betul data itu dijaga oleh 38:39 negara ya karena ini terkait dengan data 38:42 kesehatan rakyat kita sendiri. Dengan 38:45 data itu bisa saja kita akhirnya 38:47 kehilangan kedaulatan. yang ini juga ee 38:51 harus diantisipasi sebenarnya, tapi kita 38:53 enggak melihat suatu ada langkah yang 38:55 betul-betul ee nyata terlihat oleh 38:58 negara bagaimana melindungi rakyat ini 39:01 ee dari serangan-serangan di bidang 39:03 kesehatan ini. Ya, masalnya contoh yang 39:06 disebutkan Dr. Benny tadi, saya termasuk 39:09 orang yang bukan ee anti vaksin ya. Saya 39:11 termasuk orang yang vaksin. Tapi maksud 39:13 saya jangan sampai kita menjadi ladang 39:16 bisnis. itu yang paling penting buat 39:18 saya karena ketika itu yang terkemuka ya 39:22 kan yang memang yang yang terkorbankan 39:25 adalah masyarakat sendiri. Kita bisa 39:27 lihat contoh misalnya sederhana pada 39:29 waktu terjadi ee wabah campak ya. 39:34 wabah campak yang kemarin ini baru-baru 39:36 ini kita lihat ee ketidaksiapan 39:39 pemerintah sendiri di dalam ee upaya 39:43 untuk menetapkan satu daerah itu ee 39:46 menjadi status KLB ya. pemerintah daerah 39:49 ada yang enggak siap karena khawatir 39:52 nanti malah ee timbul macam-macamlah 39:55 pemikiran-pemikiran yang berbeda. 39:57 Kemudian juga dalam hal merespon yang 40:00 masyarakat yang mungkin sebagian ini 40:02 sebagian kecil kalau menurut saya yang 40:05 anti vaksin ini juga pemerintah saya 40:06 lihat kurang begitu mampu untuk ee 40:10 mengatasinya dengan dengan upaya 40:13 mencerdaskanlah ya bagaimana dari aspek 40:15 kesehatan. Kalau kita sih bicara dari 40:18 sisi kesehatannya imunologi, bagaimana 40:19 peran vaksin itu sebenarnya sudah sudah 40:21 selesai diskusi itu selama selama kita 40:24 pendidikan sekolah itu. Tapi ini yang 40:27 menjadi masalah sejauh mana ini 40:29 betul-betul tujuan dari proses yang 40:31 namanya vaksinasi, tujuan dari imunisasi 40:35 itu betul-betul memang niatnya untuk 40:37 melindungi rakyat bukan untuk menjadikan 40:40 ladang bisnis baru yang akhirnya rakyat 40:42 kita menjadi konsumsi vaksin saja gitu 40:45 ya. tidak benar-benar untuk melindungi 40:47 rakyat. Nah, ini yang mungkin kita 40:49 harapkan ada pemikiran-pemikiran yang 40:53 baik ya buat bangsa kita. Saya ee dalam 40:57 posisi itu sebenarnya kalau kita idai 40:59 juga dalam posisi itu. Ee Mas Angga. 41:02 Iya. I I 41:04 baik ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 41:06 subhanahu wa taala. Saat ini Anda sedang 41:08 menyimak siaran live acara buka mata 41:11 buka telinga bersama dua narasumber 41:14 kita, Dr. Sarbini Abdul dan juga Dr. 41:17 Rizki Aransah. Kami mengundang ana untuk 41:19 bergabung, silakan sampaikan pertanyaan 41:21 ataupun komentarnya ke nomor WhatsApp 41:24 Rasil di 0811999720. 41:30 Saya akan ke pendengar ee kita di malam 41:34 hari ini ada Ibu Tati. Asalamualaikum 41:36 warahmatullahi wabarakatuh. 41:38 Alhamdulillah selalu menyimak PPT. 41:40 Semoga para narasumber itu selalu dalam 41:43 lindungan Allah Subhanahu wa taala. Ada 41:45 juga Ibabin. 41:47 Iya. Ada juga Ibu Wati Rifai di Batam. 41:50 Alhamdulillahi rabbil alamin. Ee terima 41:52 kasih Rasil. Saya menyimak saja. Oke. 41:55 Lalu selanjutnya ini ada Ibu Neneng. 42:00 Asalamualaikum warahmatullahi 42:01 wabarakatuh. 42:03 Pertanyaan saya, apakah sama pelayanan 42:06 antara BPJS yang berbayar dengan BPJS 42:10 yang penerima bantuan? Saya pasien BPJS 42:15 penerima bantuan. Waktu kontrol di 42:17 Polimata, saya mendapatkan obat dari 42:20 rumah sakit, tapi ada yang gratis dan 42:23 ada yang harus dibeli di luar. Ini 42:26 sebenarnya pelayanan untuk masyarakat 42:29 yang penuh bantuan itu seperti apa? 42:31 Mohon pencerahan. 42:34 Oke. 42:34 Baik. 42:35 Saya ke dokter Rizki dulu ya. Dari Ibu 42:37 Neng. 42:37 Ibu siapa tadi tuh yang bertanya? Terbu 42:39 Ibu Neneng di Bekasi 42:40 dari Batam ya. 42:43 Ya. Kebetulan saya juga lagi di Batam 42:44 sebenarnya ini. 42:46 Oi. 42:46 Ya, enggak apa-apa. Tapi begini kalau 42:48 saya ee tanggapi sebenarnya tidak boleh 42:51 ada pembedaan perbedaan antara penerima 42:55 bantuan iuran dan yang tidak yang bayar 42:58 sendiri ya. iuran yang penerima bantuan 43:01 iuran itu sebenarnya dia bayar tapi 43:03 dibayar oleh negara tetap juga dia bayar 43:05 artinya dia haknya itu harus sama haknya 43:10 itu harus sama hak untuk mendapatkan 43:12 pelayanan kesehatan tidak boleh ada 43:14 lebih yang membuat itu. Ee bahkan sama 43:18 yang kelas 2, kelas 1 sebenarnya pun 43:20 tidak boleh ada perbedaan pelayanan yang 43:22 membedakannya itu klaimnya si rumah 43:25 sakit itu kepada BPJS itu berbeda. Kalau 43:28 kelas 1 biaya klaimnya akan lebih tinggi 43:31 dibandingkan yang kalau dia kelas 3 ya. 43:34 Tapi kalau dari sisi layanan kita pun 43:36 sebagai dokter enggak boleh 43:37 membeda-bedakan. Nah, ini yang 43:39 sebenarnya apa yang terjadi kepada 43:41 pasien ini adalah dari dampak buruk dari 43:44 sistem yang memang tadi yang paket 43:47 inasbinya itu enggak tercover dengan 43:49 baik 43:51 sehingga masyarakat disuruh membeli 43:52 obat. Padahal kan itu tidak boleh juga. 43:56 harusnya benar-benar kalau layanan 43:58 kesehatan itu yang namanya universal 43:59 health coverage ya kan itu enggak boleh 44:03 ada biaya lagi yang harus dibebankan 44:05 kepada masyarakat semuanya harus 44:06 ditanggung oleh BPJS kesehatan tapi 44:09 faktanya kan tidak seperti itu. Nah, 44:12 masyarakat ini kan harusnya yang juga ee 44:14 kritis terhadap soal-soal seperti ini 44:16 sehingga negara hadir. Kalau misalnya 44:19 masyarakatnya udahlah daripada nanti ee 44:22 aku enggak dilayani 44:24 ya udahlah enggak apa-apalah bayar 44:25 sekian. Akhirnya yang begitu-begitu kan 44:27 jadi terus-terus terjadi ya kalau saya 44:30 bilang ya sehingga enggak ada yang 44:31 betul-betul peduli. Nah, akhirnya 44:34 yang yang dirugikan ya masyarakat juga. 44:36 Saya maunya sih masyarakat kritis. Kalau 44:38 misalnya kita nih dokter Bang Ben saya 44:41 kita sebagai dokter kalau kita terlalu 44:42 teriak berlebihan kita dianggap ada 44:44 punya kepentingan gitu ya. Padahal kita 44:46 juga saya macam ini hari ini saya bicara 44:48 untuk kepentingan rakyat. Bagaimana 44:50 rakyat kita sehat, mendapatkan pelayanan 44:52 kesehatan yang berkualitas, yang lebih 44:54 baik sesuai dengan standar yang mutunya 44:57 terjaga. Kita maunya seperti itu. Tapi 45:00 seringkiali ini dibenturkan oleh sistem 45:02 tadi ya. Misalnya dokter, dokter mau 45:04 memberikan layanan terbaik tapi rumah 45:06 sakit bilang, "Dok, ini biayanya 45:08 plafonnya cuma sekian. Ada yang bisa 45:10 dikurangi enggak, Dok, obat-obatannya?" 45:12 Akhirnya terjadilah seperti itu. Yang 45:15 rugi siapa sebenarnya? Masyarakat. Nah, 45:17 masyarakat ini kita berharap kritis. 45:20 Kalau dia kritis ee 45:25 ya ada kekhawatiran dari masyarakat dia 45:27 enggak mendapatkan layanan dengan baik. 45:30 Nah, padahal kan enggak seperti itu ya. 45:32 Ya, semuanya masyarakat berhak 45:34 mendapatkan pelayanan kesehatan 45:35 berkualitas. Jadi ee apa yang terjadi 45:39 oleh Ibu tadi itu saya rasa ee itu 45:42 adalah akibat dari sistem yang memang 45:45 tidak betul-betul ee sistem pelayanan 45:47 kesehatan yang tidak betul-betul ee pro 45:50 rakyat. Menurut saya seperti itu. 45:53 Baik, selanjutnya ini ada Pak Ahmad di 45:56 Bogor. Asalamualaikum warahmatullahi 45:58 wabarakatuh. 45:59 Waalaikumsalam. Saya membaca di beberapa 46:02 berita bahwa Menteri Kesehatan ini 46:04 mereformasi layanan ee primer menjadikan 46:09 Puskesmas lebih fokus pada upaya 46:12 pencegahan penyakit. Kalau tadi 46:15 disinggung juga sistem berbasis digital 46:19 kan saya menggunakan aplikasi satu sehat 46:23 menurut saya itu 46:25 mempermudah rekam medis pasien. 46:27 Bagaimana menurut dokter terobosan 46:29 Menteri Kesehatan? Oke, digitalisasi itu 46:32 [berdehem] adalah alat dan itu baik 46:34 menurut saya, alat untuk bantu, untuk 46:37 membuat masyarakat menjadi ee 46:39 mendapatkan akses yang lebih baik, 46:41 mendapatkan haknya yang lebih baik, tapi 46:43 jangan dijadikan tujuan, 46:46 gitu. Karena kalau digitalisasi 46:48 dijadikan tujuan, maka jadi maka itu 46:50 sudah berubah, ya kan? Misalnya begini 46:53 nih, contoh ya. Akibat dari e tujuan 46:57 sehingga bebannya enggak betul-betul 46:59 terpikirkan. Akhirnya yang namanya 47:01 dokter, yang namanya petugas kesehatan 47:04 lebih banyak main di laptop daripada 47:05 berkomunikasi 47:07 dengan keluarga atau dengan pasien ya 47:11 kan. Ah ini kan jadi enggak baik 47:14 digitalisasinya jadi berubah ee 47:16 mengambil peran haknya masyarakat untuk 47:18 mendapatkan komunikasi dua arah dengan 47:21 tenaga medisnya. 47:22 Nah, di satu sisi soal itu, yang sisi 47:24 yang kelain, 47:26 persoalan digitalisasi ini enggak bisa 47:28 menyelesaikan semua daerah. Benar, tadi 47:30 di Puskesmas, sekarang juga sudah ee ada 47:32 yang merasakan manfaat dari ee satu 47:35 sehat itu ya. Tapi sekarang ini kita 47:37 lihat kondisi Indonesia ini yang 47:39 betul-betul dari Sabang sampai Merauke 47:41 tidak merata, internetnya juga ee ya 47:45 belum semua daerah ada dengan baik. 47:48 macam baru berapa bulan yang lalu saya 47:50 baru dari Papua loh. Ee Mas Agak saya 47:53 lihat sendiri di sana ya, saya lihat 47:54 sendiri masyarakat di Papua itu di 47:56 Sorong itu 47:58 tidak semua akses bisa internet bisa 48:00 didapatkan mereka. 48:02 Puskesmasnya juga ya. 48:04 Jadi kita dorong pun di digitalisasi 48:07 perangkat 48:08 memang belum siap. 48:09 Jadi belum bisa perangkatnya. Dan itu 48:11 yang yang terjadi pada dunia pendidikan 48:13 kan yang seperti yang sekarang sedang 48:14 diusung oleh 48:16 oleh kejaksaan terhadap kasusnya Pak 48:18 Nadim Makarim kan karena 48:21 terlalu jor-joran masyarakatnya belum 48:23 siap. 48:24 Iya. 48:24 Itu yang saya bilang saya berharap 48:25 digitalisasi ini harus didudukkan 48:28 kembali sebagai alat bantu untuk membuat 48:30 layanan market baik. Tapi jangan 48:32 dijadikan seolah-olah kalau 48:34 digitalisasinya bagus layanan 48:36 kesehatannya sudah bagus. Belum tentu. 48:37 Ee iya iya iya. 48:39 Belum tentu. Jadi layanan kesehatan itu 48:41 akan makin bagus kalau masyarakat 48:44 ternyata derajat kesehatannya makin 48:46 baik. 48:48 Kalau itu yang terjadi ya betul berarti 48:50 ini ee sebagai alat bantu yang memang 48:54 membuat derajat kesehatan masyarakat 48:55 menjadi lebih baik. Jangan di jangan 48:58 disalah posisikan. Ini yang namanya satu 49:02 sehat digitalisasi itu ya. He. 49:04 Sekarang kan ada keluhan nih, saya buka 49:06 mungkin di sini ya, ada keluhan yang 49:08 memang 49:08 rumah sakit itu dipaksa untuk bisa 49:12 bergabung di dalam satu sehat digitalnya 49:14 itu nih apa? 49:16 Ternyata banyak rumah sakit enggak siap. 49:18 Heeh. Heeh. Nah, sampai buat teguran tuh 49:20 yang namanya Dirjen Kesehatan Lanjutan 49:22 itu membuat teguran kalau misalnya tidak 49:26 apa namanya tidak menggunakan 49:28 digitalisasi satu sehat ee dia diberikan 49:30 sanksi akreditasinya diturunkan dan 49:32 segala macamnya ancaman-ancaman seperti 49:33 itu. Menurut saya itu tidak baik ya. 49:35 Tidak baik karena apa? Karena kan rumah 49:37 sakit punya keterbatasan ya. Nah, ini 49:40 yang harus dipahami. Kalau memang 49:41 pemerintah mau seperti itu ya dananya 49:43 harus jadi lebih besar untuk diguyurkan 49:45 supaya ee bisa terealisasi. Tapi 49:48 faktanya kan pemda tidak semuanya bisa 49:50 siap. 49:51 Siap. Siap. 49:51 Nah, yang seperti-septi ini yang memang 49:53 masyarakat juga harus pahami bahwa 49:56 digital itu harus kita posisikan pada 49:59 posisi dia sebagai alat bantu. 50:01 Selama ini. Berarti, 50:02 Dok, integrasi data kesehatan yang sudah 50:05 dijalankan oleh rumah sakit-rumah sakit 50:07 gimana, Dok? 50:09 Itu lewat yang namanya ya lewat namanya 50:11 nanti ee rekam medisnya terintegrasi di 50:13 dalam satu sehat itu. 50:15 Hm. Jadi dengan adanya itu memang bagus 50:17 sehingga pemerintah punya satu database 50:20 yang cukup baik untuk ee misalnya 50:22 penyakit ya itu bisa tahu di Indonesia 50:25 ini angka kesakitan itu untuk penyakit 50:28 tertentu itu berapa ya kan. Screening 50:31 juga dilakukan lewat satu set itu bagus 50:33 menurut saya itu bagus dan itu suatu 50:35 terobosan yang baik tapi jangan 50:36 dipaksakan kepada yang memang belum 50:37 mampu 50:38 i 50:38 jadi pemerintah harus pakai cara lain 50:40 bagaimana bisa mendapatkan data itu. Iya 50:43 kan? mungkin ee dengan berkoordinasi 50:46 dengan Dinas Kesehatan ya kan didorong 50:49 atau diambil datanya secara manual atau 50:51 bagaimana ya. Kalaupun datanya ternyata 50:53 masih ada yang bolong-bolong oleh karena 50:55 ketidaksiapan daerah dipahami itu saja 50:57 dipahami dulu ya kan jangan dipaksakan 51:00 karena kalau dipaksakan 51:02 nantinya ee tidak siap. 51:05 Iya 51:06 begitu. Baik, Dok. Ben, ada tambahan, 51:09 Dok, mengenai pertanyaan dari Pak Ahmad 51:11 di Bogor tadi itu terobosan-terobosan 51:13 dari Menteri Kesehatan gitu ya, dari 51:15 reformasi layanan ee Puskesmas sampai ke 51:20 sistem berbasis digital yang menggunakan 51:22 aplikasi SAT Sehat. Kedua, Pak Dok. 51:24 [berdehem] 51:25 Iya, Mas. Sebenarnya ada satu hal yang 51:27 yang mengusik saya ya. Saya sudah 51:29 beberapa minggu yang lalu saya ditelepon 51:31 oleh 51:32 seorang narasumber ee rasil ya, dia WA 51:35 saya gitu. Ee, Dok, ponaan saya hari ini 51:40 dirawat di salah satu rumah sakit 51:42 jantung 51:43 ya. Ada k jantung bawaan lah wong tahu 51:46 namanya. Dan disuruh rujuk ke rumah 51:49 sakit yang lebih dari Hark atau CTO atau 51:54 di rumah sakit atau prototo gitu ya. 51:58 Masangga bayangkan saya di WA jam 11.00 52:01 kemudian saya hubungi teman-teman 52:03 kemudian teman-teman tuh yang punya 52:05 peran di UI cari-cari sampai malam 52:08 enggak ketemu. Besok pagi dapat WA dari 52:10 beliau, "Dok, innalillahi sudah 52:12 meninggal saya." 52:13 Jadi saya berpikir ini gimana ceritanya 52:16 ini orang harus dirujuk dirujuk karena 52:20 satu rumah sakit enggak mampu untuk 52:22 menangani tapi ujungnya meninggal enggak 52:24 bisa di di-handle ya usah ini kan ada 52:27 masalah saya kan ada 52:28 iya 52:29 apa saya nih mungkin mungkin dr riek 52:31 bisa jawab apa masalah sampai 52:35 dihubungi kebetulan dihubungi ke ke 52:38 Cipto kan enggak bisa wah gimana cerita 52:41 [tertawa] 52:43 tu di hand sampai meninggal dia PJS. 52:46 Kalau misalnya ee apa yang pribadi 52:48 mungkin enggak ada salah ya ini PJS ini 52:51 jang keluar saya. 52:53 Jadi itu inti masalahnya kan ada di 52:55 sistem rujukan ya. 52:57 Betul. Heeh. 52:58 Sistem rujukan. Kalau yang kasus yang 53:00 dipaparkan oleh Dr. Band itu ee 53:04 problemnya begini. 53:06 Jadi ada problem yang disebut dengan 53:08 masalah kapasitas. 53:11 kapasitasnya memang kalau memang 53:13 anak-anak dengan penyakit jantung bawan 53:15 dengan seperti yang dipaparkan Bambin 53:17 itu perlu yang namanya ICU anak dan itu 53:20 kapasitasnya terbatas. 53:22 Tapi memang kalau saya 53:25 ee boleh berpendapatlah, berkeyakinan 53:27 tidak semata-mata karena kapasitas. 53:31 ada yang disebut dengan faktor yang 53:32 memang ini kalau ditangani di rumah 53:34 sakit ini 53:36 outcome-nya bisa baik, bisa 53:38 menguntungkan rumah sakit atau tidak, 53:42 tapi itu tidak tersampaikan terungkapkan 53:46 di dalam satu ee diskusi publik ya. Tapi 53:50 itu terjadi 53:52 gitu. 53:53 Nah, kalau yang itu yang terjadi 53:54 masyarakat, maka ketika ternyata 53:58 dikhawatirkan ini outcome-nya jelek atau 54:01 kita bilanglah nanti 54:03 ee itu akan membebani biaya rumah sakit, 54:06 pembiayaan, maka rumah sakit akan 54:09 mengambil satu kesimpulan ICU penuh, 54:12 h 54:13 puicu penuh, semua penuh. 54:16 Yang dirugikan siapa di sini? Masyarakat 54:18 lagi-lagi. 54:19 Iya. Karena tidak ada transparansi di 54:21 dalam real time memang betul enggak 54:24 penuh. Siapa yang tahu ICU penuh atau 54:27 tidak? Kan rumah sakitnya sendiri. 54:29 Sendiri ya. 54:30 Iya kan? Siapa yang bisa mengaudit itu? 54:34 Sejauh mana masyarakat bisa mengakses 54:36 itu? Tidak ada. Karena sistem rujukannya 54:38 itu memang sengaja dibuat ee antar rumah 54:42 sakit saja. Datanya enggak bisa 54:44 terpublish. Misalnya kalau kalau dulu ya 54:49 pernah ada debat ee apa namanya? 54:51 Walikota. Saya pernah usulkan di dalam 54:54 debat itu berani enggak salah satu 54:56 kandidat membuat semacam ee apa namanya? 55:02 Upaya transparansi kesehatan. Misalnya 55:04 real time tiap hari di daerah di di 55:06 rumah sakit mana ini? Ini kapasitas 55:08 ICU-nya penuh berapa? Ini berapa? Kalau 55:10 ada rumah sakit yang berbohong dia kena 55:11 sanksi misalnya. 55:13 ya kan? Dan itu terpantau real time 55:16 sehingga dari rumah sakit di daerah bisa 55:20 tahu itu dia mau merujuk ke mana. 55:23 Kemudian enggak ada alasan sejauh mana 55:26 itu bisa alasan itu diminimalisir dengan 55:28 kondisi sistem jaminan kesehatan 55:30 nasional terkait dengan pembiayaan. 55:32 Misalnya begini, kalau misalnya penyakit 55:34 jantung bawaan tersebut memerlukan biaya 55:36 sampai Rp150 juta atau R300 juta, G 55:40 sejauh mana komitmen BPJS itu akhirnya 55:43 nanti bisa 55:45 ee terklaim dengan baik. 55:48 I kan. 55:50 Nah, yang seperti ini siapa yang 55:52 benar-benar bisa ee memikirkannya? Untuk 55:57 ada terobosanlah, 55:59 ya kan? Jadi masalahnya itu bisa di 56:02 memang betul-betul serius alasannya 56:05 jujur karena kapasitas penuh bisa oleh 56:08 karena sebenarnya alasan lain tapi yang 56:11 terkemuka adalah karena ICU-nya juga 56:13 penuh. 56:15 Itu yang sering terjadi. Ini karena saya 56:17 sebagai praktisi, saya sering ee dulu di 56:20 rumah sakit pertama saya tugas sebelum 56:22 saya dipecat. 56:23 Saya pernah ini suatu hari ee saya dapat 56:27 rujukan dari sejawat ini ada pasien 56:30 jantung bawaan perlu dirujuk. Terus apa 56:32 jawaban rumah sakit waktu itu? Saya 56:33 tanya kan katanya ICU penuh. Oh saya 56:36 bangsa yang enggak bisa ee percaya 56:38 begitu. Saya langsung cek ke rumah 56:39 sakit. 56:40 Iya. Iya. 56:41 Ternyata ada tempat saya marah benar 56:43 waktu itu dibilang penuh. Itu pasien 56:45 kenapa kali bilang penuh? Rupanya alasan 56:47 tilik punya tilik ternyata ada kaitannya 56:50 dengan ee status kepesertaan BPJS. Tapi 56:53 yang seperti itu kan harusnya gawa 56:54 darurat. 56:56 I 56:56 kalau memang serius apanya ya harusnya 56:58 dirujuk saja masalah biaya nanti bisa 57:01 dibicarakan dengan BPJS ini kalau gawa 57:02 darurat kan harusnya begitu ya. Nah, 57:04 yang seperti-seperti ini memang kita 57:06 butuh terobosan 57:09 bagaimana mengatasi masalah seperti yang 57:10 dipaparkan Bang Ben tadi. Itu memang 57:12 banyak terjadi, Bang Ben. Jadi sekarang 57:14 antrian aja untuk jantung anak itu di 57:16 rumah sakit rujukan itu ada yang 6 57:18 bulan, ada yang setahun, 2 tahun. Ada 57:21 yang harusnya bisa di harusnya dilakukan 57:23 operasi saat itu. Akhirnya jadi enggak 57:24 bisa dioperasi karena sudah lewat waktu. 57:28 Ah, kalau mau cepat ah tanda kutip ya. 57:32 tanda kutip nih kalau mau cepat sedikit 57:35 terpaksa atau dipaksa dia mengambil 57:38 jalur umum sehingga enggak lewat antrian 57:40 itu. Ini yang sering terjadi nih gimana 57:43 mengatasi masalahnya. Nah, saya pikir 57:45 ini harus dipikirkan oleh bukan hanya 57:48 sekedar Menteri Kesehatan saya rasa 57:50 harus dipikirkan oleh RI 1 ini Prabowo 57:52 Sugianto. 57:54 Menurut saya seperti itu. 57:56 Iya. 57:56 Harus ada laporan masuk gitu ya ke 57:59 Iya. I pimpinan ini ada Ibu di Jakarta. 58:03 Asalamualaikum warahmatullahi 58:04 wabarakatuh. Saya menyimak siaran di 58:06 malam hari ini. Terima kasih para 58:08 narasumber. Sementara itu, ini ada 58:10 sedikit cerita dari Pak Abdullah ya. 58:14 Asalamualaikum warahmatullahi 58:15 wabarakatuh. 58:17 Saya dapat cerita dari saudara saya yang 58:20 beberapa waktu yang lalu menjadi relawan 58:24 di Aceh ketika terkena bencana. 58:27 ceritanya ini mengenai layanan-layanan 58:30 medis di daerah-daerah apalagi masuknya 58:33 ke daerah terpencil, daerah Takengon dan 58:36 juga sebagainya. 58:38 Mereka melihat para relawan ini 58:41 sepertinya rasio kesehatan pelayanan 58:46 dokter di Indonesia ini masih timpang. 58:48 Apalagi wilayah-wilayah terpencil 58:50 perbatasan belum lagi daerah-daerah yang 58:54 tidak bisa diakses. Padahal di situ ada 58:56 warganya, ada masyarakatnya dan mereka 58:58 sangat membutuhkan. Apakah pemerintah 59:02 tahu tentang hal ini? Mungkin dapat 59:04 cerita juga nih dari dr. band atau ris 59:09 ee saya waktu bencana itu saya ke Aceh 59:12 juga. 59:13 H 59:13 saya ke Tamiang ya. Jadi ee 59:18 saya dapat menyimpulkan bahwa negara 59:20 kita ini belum betul-betul punya satu 59:24 apa namanya ya tools 59:26 SOP. Kalau bencana seperti ini ah maka 59:29 yang harus dilakukan ini itu saya lihat 59:31 tidak tidak begitu terlihat ya pada 59:34 waktu itu. Makanya agak kebingungan di 59:37 awal-awal mau bantuan apa yang mau 59:38 diberikan ya. Nah, kalau soal ini memang 59:41 kita harus ee 59:45 kalau untuk Indonesia ya kita harus 59:47 salut dengan almarhum ya ee Bang Ben ya 59:50 Dr. Jose Rizal ya. He. 59:52 Jadi kalau beliau itu paham betul ketika 59:55 bencana itu mitigasinya apa, kapan harus 59:57 bangun rumah sakit darurat, rumah sakit 1:00:00 lapangan. Nah, itu yang ketika terjadi 1:00:03 di Tamiang itu semua rumah sakit lumpuh, 1:00:05 Puskesmas lumpuh. 1:00:08 Kalau 1:00:09 secara akal sehat saya harusnya pada 1:00:11 saat itu pemerintah bangun yang namanya 1:00:13 rumah sakit ee darurat ya, rumah sakit 1:00:15 lapangan. Tapi itu tidak dilakukan. Yang 1:00:18 dilakukan malah prioritasnya 1:00:19 membersihkan rumah sakit. Saya bukan 1:00:20 bilang rumah membersihkan rumah sakit 1:00:22 atau mengoptimalkan rumah sakit itu yang 1:00:27 definitif itu tidak baik. Ya, itu baik. 1:00:29 Tapi prioritasnya harus agar masyarakat 1:00:32 mendapatkan layanan segera maka rumah 1:00:34 sakit lapangan itu harus didirikan. Nah, 1:00:37 itu yang tidak dilakukan pada waktu ee 1:00:40 bencana. Dan ketika sudah bencananya 1:00:44 sudah mulai redap, pemerintah juga 1:00:47 kebingungan mengkoordinir tim medis yang 1:00:50 masuk ya. Jadi bisa di satu rumah sakit 1:00:53 itu numpuk. Sementara masyarakat 1:00:56 problemnya bukan soal dia rumah sakit 1:00:58 itu ada do bisa diakses enggak rumah 1:01:01 sakit itu? 1:01:02 Problemnya kan masyarakat pada saat itu 1:01:04 belum bisa menjangkau rumah sakit dan 1:01:06 puskesmas karena kondisinya di 1:01:08 titik-titik pengungsi. 1:01:10 Oleh karena itu yang efektif adalah 1:01:12 melakukan mobile klinik atau menempatkan 1:01:15 posco-posco di tempat-tempat pengungsian 1:01:18 daripada 1:01:20 tim medisnya menumpuk di satu rumah 1:01:22 sakit. Nah, yang seperti-seperti itu 1:01:24 kayaknya pemerintah kita walaupun kita 1:01:26 sudah punya pusat langgulangan krisis 1:01:28 yang cukup katanya udah pakar-pakar juga 1:01:31 tapi saya lihat masih keteteranlah 1:01:34 seperti itu ya. Yang itu yang saya lihat 1:01:36 sendiri di lapangan. Saya turun ke 1:01:38 daerah ACamiang, saya turun ke Sibolga, 1:01:41 saya turun ke Langkat. Saya saya melihat 1:01:43 dengan dengan 1:01:46 dan sebagai langsung pelakunya untuk 1:01:48 memberikan pertolongan di sana. Jadi 1:01:50 kita idai waktu itu kita turun ke sana 1:01:54 dan ini kesiapan pemerintah yang saya 1:01:56 khawatir nih kalau ada bencana yang 1:01:57 lebih besar lagi ini saya enggak tahu 1:01:59 sejauh mana kesiapan pemerintah. Padahal 1:02:01 kita sudah bolak-balik kena bencana ya. 1:02:02 Mulai dari tsunami. 1:02:04 Iya. Kemudian ada gunung meletus, 1:02:06 macam-macam. Tapi saya lihat selalu 1:02:08 kalau ada bencana selalu panic disorder 1:02:11 gitu istilahnya gang panik di level 1:02:13 kebijakan gitu. Gimana menurut Bank Ben 1:02:15 sendiri sebagai orang yang juga sering 1:02:18 terlibat di dalam ee dunia kebencanaan 1:02:20 Bang Ben? 1:02:22 Bagaimana Dr. Ben? Monggo. Memang kata 1:02:25 Dr. Rizeki tadi itu kita ini memang 1:02:27 pelanggan pelanggan musibah ya. Musibah 1:02:30 kita kan dari alam dan dari 1:02:32 dari kita buat sendiri kan. Jadi kan 1:02:34 lengkaplah musibah kita ini kan. Nah, 1:02:37 jadi sebenarnya ini saya lihat bahwa ee 1:02:41 mitigasi ini penting. 1:02:43 Contoh seperti contoh ya seperti apa 1:02:46 bencana di Aceh Tamiang itu ada teman 1:02:49 saya biasa saya dok dari dari alumni ITB 1:02:54 membuat tentang literasi tentang ee 1:02:58 bencana alam di Aceh dan di Padang. Dua 1:03:01 dua dua kita ambil sampel langsung saya 1:03:03 bilang begini enggak penting itu saya 1:03:05 bilang 1:03:08 kenapa karena peny bukan karena alam 1:03:11 karena karena memang di pelakunya adalah 1:03:13 manusia ini 1:03:15 jadi memang karena pelakunya manusia 1:03:18 enggak perlu kita buat literasi yang 1:03:19 perlu kita buat mitigasi ini depan 1:03:21 Prabowo saya bilang bukan masyarakat 1:03:24 gitu. 1:03:26 Dan yang kedua saya lihat memang ee apa 1:03:29 ya memang seperti kata segitu memang 1:03:32 orang kita ini memang enggak pernah 1:03:33 siap. Saya enggak tahu kenapa kita 1:03:34 enggak pernah siap ya menghadapi karena 1:03:36 itu setiap bencana ya. Jadi yang 1:03:38 koordinasi ini kurang ya. Jadi di 1:03:40 mana-mana itu cerita lama itu dr. 1:03:42 Oh, yang namanya koordinasi kita 1:03:44 walaupun ada BNPB segala macam itu, tapi 1:03:47 di lokasi itu selalu enggak enggak ada 1:03:49 satu kebersamaan dalam melihat sebuah 1:03:51 bencana itu selalu kita ni [berdehem] 1:03:54 punya puasa-puah ya punya egoisme 1:03:55 sentris enggak jadi enggak tahu apa ya 1:03:58 prioritas pertama yang harus dilakukan 1:04:00 gitu loh. Enggak tahu kenapa kita bilang 1:04:02 orang kita ini enggak pintar ahli-ahliak 1:04:05 enggak tahu kenapa nih karena kalau 1:04:07 masal seperti itu kan pada di sesi 1:04:09 making-nya itu kan pada tokoh politik 1:04:11 gitu kan yang sampai di satu daerah di 1:04:14 Aceh itu pas panjau oleh kotanya pergi 1:04:16 kita ke mana jadi kan kita menghadapi 1:04:19 jadi sebenarnya harus totalitas semua 1:04:21 itu kalau bicara bicara bencana 1:04:23 totalitas seperti kata-kata pertanya Bu 1:04:25 tadi itu apakah ee dokter Indonesia ini 1:04:27 kurang kita enggak enggak walaupun 1:04:30 enggak lebih-lebih banget Enggak. Tapi 1:04:31 enggak kurang-kurang bangetlah personal 1:04:33 ini kita kan pros distribusi kita enggak 1:04:36 enggak enggak enggak merata. Nah, contoh 1:04:38 misalnya contoh ya rezeki misalnya 1:04:40 kemudian jantung anak ditempatkan di 1:04:43 tempat yang di situ enggak ada fasilitas 1:04:45 kan di situ enggak fungsi atau do 1:04:48 ortopedi satu tempat rumah sakit dan di 1:04:50 situ dia gak ada punya enggak dia enggak 1:04:53 ada apa-apa. Wah gimana nih apa jadi 1:04:56 dukun tukang apaah 1:04:59 tulang gitu kan. Jadi sebenarnya ketika 1:05:02 distribusi ini berjalan dengan baik, 1:05:04 pemerintah harus menyediakan itu apa? 1:05:07 Menyiapkan itu adalah tempat-tempat yang 1:05:09 memang representatif. Kalau semua 1:05:11 disiapin, nah kalau macam-macam baru di 1:05:13 tindakan kepada dokter-dokter itu. Tapi 1:05:15 kalau misalnya kita tempakkan ahli ke 1:05:17 satu tempat modal bismillah, saya pikir 1:05:19 enggak bisa gitu. Modal bismillah. 1:05:23 Baik, selanjutnya ini ada pertanyaan 1:05:24 dari hamba Allah di Jakarta tidak 1:05:26 menyebutkan nama. Asalamualaikum 1:05:28 warahmatullahi wabarakatuh. Ee dokter 1:05:31 mohon ini gimana program pemerintah yang 1:05:34 tujuan untuk melakukan pemerataan 1:05:36 membuka peluang beas siswa putra daerah 1:05:39 untuk menempuh pendidikan dokter 1:05:41 spesialis dan menjalankan program dokter 1:05:45 spesialis di wilayah terpencil 1:05:49 perbatasan dan kepulauan. Apakah ini 1:05:52 masih berjalan? Oke, saya ke dokter 1:05:54 Rizki dulu. 1:05:55 Mm saya enggak tahu apakah benar-benar 1:05:58 berjalan atau tidak ya, tapi keluhan 1:06:00 terkait dengan 1:06:02 ee 1:06:04 dokter-dokter yang disekolahkan ketika 1:06:06 dia balik kembali ke daerahnya 1:06:09 malah daerahnya sendiri tidak 1:06:11 memperlakukan dia agar dia 1:06:20 tidak terfasilitasi gitu. 1:06:25 Halo, dokter. Dokter Adriansa. 1:06:30 Suaranya enggak ada nih. 1:06:34 Sori. 1:06:36 Ah, tadi suaranya terputus. 1:06:38 I ya, sori. Ee internetnya mungkin agak 1:06:40 sedikit tidak stabil tadi. 1:06:42 Jadi ee problemnya kita enggak tahu ya 1:06:45 masalahnya di mana. 1:06:47 He benar-benar akar masalahnya. Maksud 1:06:50 saya seringkiali gini nih disekolahkan 1:06:52 nih dari Papua ya kan tahu-tahu sudah 1:06:56 pulang sekolah dia enggak balik juga ke 1:06:58 situ. Tilik punya tilik ternyata 1:07:00 masyarakatnya bukan masyarakatnya ya 1:07:02 pemdanya tidak memberikan kesejahteraan 1:07:04 yang baik buat dia atau kenyaman 1:07:06 keamanan buat dia. 1:07:08 Oh 1:07:08 di ujungnya tetap aja masalah pemeratan 1:07:11 tidak pernah benar-benar ee tuntas di 1:07:13 negara kita ini. tetap juga masalahnya 1:07:17 ee di daerah tertentu masih kekurangan 1:07:19 dokter ya di di Papua, Indonesia Timur, 1:07:22 Maluku-Muku Utara itu masih terutama 1:07:25 Nusa Tenggara Timur juga itu masih 1:07:27 banyak daerah-daerah yang memang ee 1:07:29 masyarakat masih sulit mengakses dokter 1:07:32 ya, terutama juga dokter spesialis. Jadi 1:07:35 kalau ditanya kebijakannya bagus menurut 1:07:37 saya ya. Jadi ada pemda menyekolahkan ee 1:07:43 putra-putri di daerah itu untuk sekolah 1:07:45 spesialis dibiayai dengan beasiswa 1:07:49 dan menurut saya ini baik sebenarnya 1:07:51 tapi sejauh mana ini bisa akhirnya 1:07:53 mengikat 1:07:55 buat dokternya itu setelah tamat dia 1:07:57 juga jadi betah di situ. Bukan sekedar 1:07:59 disuruh mengabdi ya. 1:08:01 Iya. 1:08:01 Tapi dibuat betah itu dengan apa? Dibuat 1:08:04 nyaman, dibuat apa ya? Supaya dia bisa 1:08:06 bekerja dengan baik. Kalau dia bekerja 1:08:08 dengan baik, yang merasakan manfaatnya 1:08:11 siapa? Rakyat. 1:08:12 Rakyat. 1:08:13 Rakyat kan? Rakyat yang di daerah itu 1:08:15 yang mendapatkan 1:08:16 Iya. Karena mendapatkan layanan yang 1:08:18 kesehatan yang spesialistik. 1:08:19 Jadi intinya kan muter-muter di situ 1:08:21 sebenarnya. Sejauh mana pemerintah 1:08:23 berkomitmen tidak hanya sekedar 1:08:24 menyekolakan 1:08:25 ee memberikan biaya beasiswa buat ee 1:08:28 putra-putri daerah. Tapi sejauh mana dia 1:08:30 kembali ke daerah dia betul-betul 1:08:31 mendapatkan kesejahteraan, kenyamanan, 1:08:33 keamanan. bagaimana dia bisa bekerja 1:08:36 dengan baik kalau ternyata keamanan 1:08:37 dirinya sendiri juga jadi masalah gitu. 1:08:41 Nah, kita bisa tahu tuh di daerah itu 1:08:43 sampai dokternya meninggal. Baru-baru 1:08:44 ini cerita dokter intensif meninggal. 1:08:47 Iya. 1:08:47 I kan. Jadi hal-hal seperti ini yang 1:08:50 membuat ee masalah pemeratan itu enggak 1:08:53 pernah selesai gitu. 1:08:55 Pemeratan dokter begitu menurut e 1:08:57 menurut pendapat saya begitu Mas Angka. 1:08:59 Oke, Dokter B. Bagaimana menurut Dr. 1:09:02 Bomentari tadi dari Abah? 1:09:04 Ya memang itu kan memang kan ada ada 1:09:07 namanya programprogram yang positif dari 1:09:11 pemda ya. 1:09:12 Ketika melihat mereka melihat ada 1:09:13 kekurangan dokter ya mereka coba kasih 1:09:15 beasiswa 1:09:16 tapi enggak tuntas. Ada juga ada juga 1:09:18 setelah kasih beasiswa ya mungkin 1:09:21 SPP-nya mereka handle tapi biaya hidup 1:09:23 enggak begitu ya. Enggak enggak tuntas. 1:09:25 Karena saya ada berapa teman saya 1:09:27 diskusi katanya gitu saya dikasih e 1:09:29 Bapak Pemuda cuma cuma rekomendasi 1:09:32 pemuda butuh [berdehem] 1:09:34 ee rekomendasi doang ada juga seperti 1:09:35 itu tapi satu harus pulang dia tanpa 1:09:37 diberikan subsidi yang lain-lain gitu ya 1:09:39 jadi 1:09:40 jadi dia enggak punya keinginan karena 1:09:42 apa karena memang dia merasa enggak 1:09:44 pemuda enggak ada jasa bua kad gitulah 1:09:46 tapi kalau ditanggung semua oleh oleh 1:09:48 oleh pemuda kemudian dia balik ke sana 1:09:51 walaupun ee fasilitasnya kurang agak 1:09:54 agak-agak kurang sedikit tapi kan balas 1:09:56 budi ini ada pasti tidak ingat 1:09:59 jadi mungkin ada dua hal memang memang 1:10:01 benya enggak enggak full kemudian ketika 1:10:04 baliknya tidak dia berikan fasilitas 1:10:06 yang memang membadai untuk dia untuk 1:10:08 pekerja ya bukan berarti ini adalah 1:10:10 eksklusif ya bukan tapi memang ini 1:10:13 bentuk ngabdian penting juga di jangan 1:10:15 sampai ee ada hal yang memang menghambat 1:10:18 kerja-kerja di sir pemuda sudah bagus 1:10:20 tinggal diperbaikilahperbaiki bagaimana 1:10:23 ini akan lebih ditingkatkan kanlah 1:10:24 sehingga pemerataannya kan lebih lebih 1:10:27 nyatalah kira-kira gitu Mas. 1:10:33 Baik, Ibu Lia di Bogor. Asalamualaikum 1:10:35 warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih 1:10:37 BMPT di malam hari ini informasinya 1:10:40 sangat 1:10:42 mencerahkan bagi kita. Ya, itu e asap 1:10:45 terakhir yang bisa kita jawab di 1:10:47 kesempatan malam hari ini karena kita 1:10:50 sudah dibatasi oleh waktu ya, drter 1:10:53 Rizki. kita sudah di penghujung acara 1:10:55 mungkin sebagai penutup dari seluruh 1:10:58 bahasan kita dan juga 1:10:59 pertanyaan-pertanyaan masuk yang sudah 1:11:01 kita jawab apa sebagai benang merah dan 1:11:04 yang ingin diingatkan kepada ee seluruh 1:11:07 pendengar mengenai topik yang kita bahas 1:11:10 di malam hari ini dari dr. Rizki sebagai 1:11:14 terima kasih. Terima kasih Mas Angga. 1:11:15 Yang pertama saya juga berterima kasih 1:11:17 nih diundang di Rasil ya. Jadi ee 1:11:21 masalah kesehatan ini memang luas dan 1:11:23 kompleks. Mungkin banyak hal yang masih 1:11:26 kita lihat apa yang kita bahas ini masih 1:11:28 satu penggalan-penggalan 1:11:30 masalah saja. Mungkin suatu hari nanti 1:11:32 kita bisa membahas fokus 1:11:34 topik kesehatan itu yang mana yang 1:11:36 mungkin kita perlu kita perlu ee apa 1:11:40 namanya soundingkan kita viralkanlah 1:11:42 gitu ya. Apakah soal PPJS kesehatan itu 1:11:45 masalah sendiri itu 1:11:46 masalah ee apa apa namanya ee pendidikan 1:11:49 kedokteran itu masalah tersendiri 1:11:52 kemudian masalah pemerataan kemudian 1:11:54 mungkin terkait dengan ee apa namanya 1:11:56 kebijakan-kebijakan kesehatan yang 1:11:58 lainnya sehingga ee kalaupun misalnya 1:12:02 menyenggol atau menyinggung satu ee 1:12:06 topik kesehatan satu dengan yang lainnya 1:12:07 tapi paling tidak ke depan mungkin kita 1:12:09 bisa ini ya lebih ambil satu ee cerita 1:12:14 mungkin dari yang menarik tadi kan 1:12:16 seperti tadi ya dari ada pasien di Batam 1:12:19 cerita begini akhirnya kita baru tahu oh 1:12:21 ternyata masalah itu ada, 1:12:22 ternyata ada masalah seperti itu 1:12:24 sehingga kita bisa ee mengekplore lagi 1:12:26 ee apa yang harusnya dilakukan oleh ee 1:12:29 negara. Saya rasa ee ini sangat menarik 1:12:32 ee Mas Angga untuk tetap kita ee 1:12:36 gaungkan mungkin rasil bisa terdepan 1:12:38 saya rasa belum ada yang benar-benar ee 1:12:42 podcast seperti ini ya menurut saya 1:12:44 seperti itu Masangga. Jadi 1:12:46 coba nanti ke depan bisa kita 1:12:48 pertimbangkan gitu menurut terutama juga 1:12:50 menurut Bang Ben ini. Gimana Bang Ben 1:12:53 ya? Oke. Baik drteri. Dokter Ben sebagai 1:12:57 penutup. 1:12:59 Ya, mungkin ini ee saya pikir seperti 1:13:02 kata Dr. Rizeki, kita coba matangkan 1:13:04 lagilah kira-kira mana yang lebih diurge 1:13:06 penting bagi pabrik kita ya, bagi 1:13:08 pendengar kita sehingga pendengar sini 1:13:11 ee lebih lebih paham, lebih cerdas dalam 1:13:14 melihat persoal-persoalan yang pertama 1:13:15 terjadi di bidang kesehatan. Yang kedua 1:13:18 adalah kita bagian dari speed up kita 1:13:21 kepada pemerintah yang mudah-mudahan 1:13:22 pemerintah mendengar bahwa keluan ini 1:13:25 merupakan masukan yang berharga 1:13:27 pemerintah sehingga nantinya ada 1:13:29 perbagian-perbaikan yang bisa dilakukan 1:13:30 secara bertahap secara gradual yang 1:13:33 mudah-mudahan ini juga akan bermanfaat 1:13:35 bagi masyarakat kita dan sebagai ee apa 1:13:40 radio dakwah kita terus menyerukan ee 1:13:42 kebaikan kepada umat kepada bangsa ini 1:13:46 ya mudah-mudahan 1:13:47 PMT ke depan ini akan coba kita buka 1:13:49 dengan tema-tema yang itu menjadi tema 1:13:51 yang penting bagi masyarakat kita Mas 1:13:53 Angga. Saya itu Mas Angga. Baik Dr. 1:13:57 Rizki Adriansa terima kasih banyak atas 1:14:00 waktunya di malam hari ini dan juga Dr. 1:14:02 M terima kasih banyak sudah bergabung 1:14:05 terus di acara buka mata buka telinga. 1:14:08 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 1:14:09 subhanahu wa taala. Demikianlah acara 1:14:12 live buka mata buka telinga edisi malam 1:14:14 hari ini. Semoga apa yang kami 1:14:16 sampaikan, yang kami diskusikan 1:14:18 bermanfaat untuk Anda semua. Kami dari 1:14:21 studio undur diri. Mohon maaf bila 1:14:23 banyak kesalahan kata. Billahi taufik 1:14:25 wal hidayah. Subhanakallahumma 1:14:26 wabihamdika ashadu alla ilahailla anta 1:14:29 astagfiruka wa atubu ilaik. 1:14:31 Asalamualaikum warahmatullahi 1:14:32 wabarakatuh.