Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 ahmanirrahim. Asalamualaikum 0:01 warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma 0:03 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:05 sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita 0:08 berjumpa lagi hari ini hari Kamis 0:10 tanggal 12 Rabiul Akhir 1448 Hijriah 0:13 atau tanggal 24 September 2026. Kita 0:17 jumpa lagi dalam acara Bincang Hijrah 0:21 bersama tentu saja Bang Habib. Beliau 0:24 adalah seorang master trainer dan 0:27 konsultan digital. 0:30 Nanti ada bintang tamu kita yaitu Mas 0:32 Dedi Rahmadi. Eh, Rahmadi. Mas Dedi 0:36 Rahman. Beliau adalah praktisi branding 0:40 dan komunikasi. Sudah ada di ujung 0:43 telepon di pakai Zoom ini ya. Oke. 0:46 Asalamualaikum Bang Habib. 0:48 Waalaikumsalam warahmatullah. 0:49 Bang Dedi Rahman. Asalamualaikum. 0:52 Waalaikumsalam. 0:53 Masyaallah suaranya ketengaras. Oke, 0:56 jadi kita akan mengambil tema gaya 0:59 purbaya saat peran berubah ya. Gaya 1:02 purbawa Purbaya saat peran berubah. 1:05 Silakan ee Bang Habib sebagai pengantar. 1:09 Bagaimana? 1:12 Asalamualaikum warahmatullahi 1:13 wabarakatuh, Pak. Pak Krisna, Pak Dedi, 1:16 dan seluruh pendengar Rasil di seluruh 1:19 Indonesia dan di beberapa negara yang 1:22 mendengar lewat ee streaming. 1:25 Mudah-mudahan hari ini kita diberkahi, 1:27 dimudahkan. 1:28 Amin. Amin. 1:29 Kita membicarakan sesuatu yang 1:31 sebenarnya lebih jauh dari sekedar media 1:35 sosial. ini penting ee bagi kita 1:38 nantinya kita bisa pakai untuk kehidupan 1:40 kita sehari-hari maupun kita bisa pakai 1:42 untuk e merek gitu ada bisnis ataupun 1:45 kita bisa melihat fenomena yang ada di 1:48 masyarakat sehingga kita tidak tertipu 1:52 ee dengan ee pencitraan 1:54 kita bisa membedakan secara ilmiah, 1:57 secara akademis gitu ya. bagaimana ee 2:01 ini bukan sekedar media sosial, kita 2:03 membahas ee terkait personal branding 2:05 ya. 2:07 Jadi ee bukan bahasa yang sederhana 2:10 bagaimana orang terlihat menarik Pak 2:11 Krisna, 2:12 bagaimana mendapatkan follower atau 2:15 bagaimana membuat viral. Bukan sekedar 2:17 itu, tapi ini eh sebagai eh strategic 2:21 positioning eh manajemen reputasi, 2:25 komunikasi eh kredibilitas dan 2:28 kepercayaan atau ter gitu ya. Nah, ada 2:31 ada fenomena yang sangat menarik ee yang 2:33 kita jadikan cash tadi. Kebetulan di 2:35 YouTube saya itu selalu muncul ya berita 2:39 yang lagi hot beberapa hari ini ya 2:42 sebetulnya sudah cukup lama lebih dari 2:45 seminggu tetapi terus muncul g ya ee 2:49 perubahan ee dari kabinet ya peran ee 2:53 Purbaya Yudi Sadewa ya tanggal 14 2:56 September digantikan oleh ee Menteri ee 3:00 SUA Hasil Negara. Nah, ini menarik, Pak 3:04 Krisna. Ketika ee seseorang mengalami 3:07 perubahan ya, namanya institutional rule 3:11 atau peran apakah personal brandingnya 3:13 ikut hilang gitu ya. Ee nah ini Purbaya 3:17 juga cukup ee menarik ya. Jadi ee 3:21 fenomenanya cukup besar ya sampai ada 3:24 istilahnya namanya ee purbaya effectf 3:26 gitu ya. Kalau kita lihat pemantauan ada 3:29 drone emprit ya ee itu sekitar 1 tahun 3:33 ee terakhir ada 1 juta percakapan 3:36 digital mengenai Purbaya ya dan lebih 6 3:39 miliar engagement gitu ya. Engagement tu 3:42 kayak interaksi gitu ya dan ada 2,3 3:46 juta pengikut di TikTok dan 1,23 3:49 juta pengikut di Instagram gitu ya pada 3:53 pertangahan September. Nah, angka ini 3:55 bukan pemantauan aja, tetapi eh sensus 3:58 eh publik ya, sehingga kita bisa baca 4:01 sebagai indikator ee digital gitu ya, 4:05 bukan ukuran popularitas. Jadi ee kita 4:08 enggak bahas popularitas seseorang 4:10 tetapi kita bahas bagaimana personal 4:13 branding. Banyak orang yang takut 4:14 kehilangan jabatan, takut kehilangan 4:16 posisi karena dia ee bingung nanti saya 4:20 sebagai apa gitu ya. ya dia membayangkan 4:24 ya ee orang harus melihat dia sebagai 4:27 apa gitu ya. Nah ee dia memakai topeng 4:31 gitu ya, dia memakai topeng orang lain 4:33 gitu ya. Kadang-kadang bahkan merubah 4:35 topengnya atau wajahnya gitu ya. Tetapi 4:39 eh personal branding di sini adalah 4:41 memperjelas mukanya gitu ya sehingga 4:44 orang mengasosiasikan dia sebagai apa 4:46 gitu ya. Nah, nah, nah. Ketika skalanya 4:50 sudah seperti Purbaya, orang itu melihat 4:53 perhatian publiknya sudah lebih besar 4:54 lagi. Nah, kalau kita lihat kemarin 4:57 Purbaya itu 4:59 ee beberapa jam sebelum ee setelah ada 5:02 perubahan jabatan akun TikTok-nya itu 5:05 ada tulisannya sudah siap belum gitu ya. 5:07 Ada saya sempat baca komentarnya. Nah, 5:11 besoknya unggahannya itu udah 4 juta 5:14 view-nya yang lihat ya ada 20.000 Ribu 5:17 komentar ya. Nah, kontennya itu setelah 5:21 itu dia mancing depan rumahnya. 5:23 Eh, 5:24 belakang rumahnya. 5:25 Belakang rumahnya itu kontennya udah 9 5:28 juta lebih view gitu ya. 5:31 Ya. Nah, wah kita langsung mikir, "Oh, 5:34 berarti dia disukain masyarakat ya." Ee 5:37 tapi kalau dari konsep branding ini 5:38 enggak sesederhana itu ya. Iya. 5:41 Artinya gini, artinya personal brandnya 5:44 tetap jalan walaupun purbanya sudah 5:46 enggak jadi menteri gitu. 5:47 Itu itu itu yang saya tangkap ya, yang 5:50 tangkap ya. Nah, nah ini kita bahas dari 5:53 perspektif strategic branding dan kita 5:56 bisa mengaplikasikan ini dalam kehidupan 5:58 kita sehari-hari. Bagaimana ketika kita 6:01 kenalan sama orang, kita selalu 6:03 bawa-bawa nama jabatan. misalnya saya 6:05 sebagai ee direktur hasil gitu atau saya 6:07 sebagai apa, saya sebagai apa. Ketika 6:10 jabatan itu enggak sudah enggak melekat, 6:11 banyak orang yang post power syndrome 6:13 gitu ya. 6:14 Nah, 6:16 jadi menteri, jadi apapun gitu ya, dia 6:18 pengin diperlakukan sebagai menteri. Dia 6:20 pengin diperlakukan sebagai orang pent 6:21 pal tidak jadi menteri lagi. 6:23 Nah, pada itu yang yang banyak orang 6:25 sampai sakit sampai segala macam. Nah, 6:28 ee dia seharusnya diasosiasikan sebagai 6:32 orang melihat dia seperti apa. Nah, itu 6:34 itu sebetulnya autority ya, ee karakter 6:37 gitu ya. Nah, jadi Kay Purbaya itu ada 6:40 dua eh yang bisa dilihat. Dia sebagai 6:43 profesional, yang kedua dia sebagai 6:45 human atau sebagai manusia gitu. 6:48 Ketika 6:50 profesionalnya berubah, dia tetap ada 6:52 sebagai karakter personal ee sebagai 6:54 manusia ya. Jadi ee bagaimana ee 7:00 karakter personal ini tetap kuat. Nah, 7:02 kita ambil contoh lain ee terlepas dari 7:05 pandangan politik ya, misalnya Pak Anis 7:06 ya, Pak Anis juga seperti itu ya. 7:09 Sekarang jabatan politiknya tidak ada, 7:11 tetapi engagementnya masih tinggi gitu 7:13 ya. Bahkan masih diperhitungkan sebagai 7:14 kandidat ee apa namanya? Presiden gitu 7:18 dan bagai tokoh-tokoh lain juga seperti 7:20 itu. Prabo juga seperti itu sebelumnya. 7:22 Nah, gitu ya. dan ee hampir 10 tahun 7:25 gitu, tapi namanya masih ee bagus gitu 7:27 ya secara ee kita bahas secara ee ee 7:31 branding gitu ya. Nah, 7:34 kita tuh sering campurin antara image, 7:36 reputasi dan branding gitu ya. Jadi 7:38 kadang nih ini contoh ya ee misalnya 7:41 kita bawa ke level internasional ee ada 7:45 ee Cristiano Ronaldo. Cristiano Ronaldo 7:47 itu itu sangat kuat gitu ya e 7:51 pengaruhnya ya di dunia sepak bola 7:53 sehingga brand-brand besar itu nempel 7:55 sama sama dia. Ya. Suatu saat sesi 7:58 wawancara ya ee dia ngobrol ee sama 8:03 wartawan di depannya ada Coca-Cola ya 8:06 Coke ya Mas Dedi tahu ya 8:08 ceritanya. 8:09 Dia cuman menyingkirkan ee apa namanya? 8:11 Botol ee minuman bersoda ya. Dia cuma 8:14 menyingkirkan aja. 8:15 Nah itu perusahaannya rugi sampai 8:18 triliunan gitu ya. karena cuman cuman 8:21 gerakan ee dia nyir 8:22 c sederhana itu ya 8:24 ee apa namanya gerakan itu apa itu 8:26 adalah personal brandingnya dia sangat 8:29 tinggi. Sekali 8:31 kuat sekali artinya apa? Oh Ronaldo 8:33 enggak suka minuman karbon nasi. Oh 8:35 Ronaldo hidupnya sehat bla bla bla bla. 8:37 Panjang itu ceritanya. Nah image itu apa 8:41 yang dilihat orang gitu ya. Dan reputasi 8:44 beliau itu cukup sangat bagus sekali. 8:47 Makanya kita tuh mesti bedain antara 8:49 profesional dan ee apa namanya? 8:52 Personal. Itu yang mesti dibeda banyak 8:54 ya orang ditempelkan kepada brandnya 8:57 atau ee ketika orangnya itu turun 9:00 brandnya ikut hancur gitu ya. Nah, itu 9:03 yang mesti dibedakan. Jadi ee populer ya 9:07 bukan personal branding, tapi ketika 9:10 kita membangun karakter itu yang jadi 9:14 lebih kuat. Nah, nanti kita bahas sama 9:17 Mas Dedi nih pakarnya ya. Ee bagaimana 9:20 branding itu dibentuk dan bagaimana kita 9:23 mempersiapkan branding ee sampai 9:25 menjelang kematian lah ibaratnya gitu, 9:27 Pak Kr. 9:27 Iya. 9:29 Nanti [berdehem] kita juga ee bakal 9:31 enggak punya jabatan apa-apa, enggak 9:32 punya gelar apa, gelar pun enggak dibawa 9:35 mati gitu. Dan ee ini yang menarik gitu 9:38 ya, bagaimana kita bisa membranding kita 9:42 ya, membranding diri kita supaya bisa 9:45 bermanfaat. Tujuannya tetap bermanfaat 9:46 untuk banyak orang dan bagaimana orang 9:49 itu melihat kita 9:50 dan ini bisa berdampak luas. Itu mungkin 9:53 pembuka aja. 9:54 Baik, walaupun pembuka pertanyaan sudah 9:56 masuk ini dari Bapak Rudi. 9:59 Nah, Mas Dedi 10:00 Bang Ab eh ee Bang ada Bang Dedi ya 10:04 katanya. Oh, 10:05 boleh tanya apakah ee masalah 10:07 brandingnya ini hanya disematkan kepada 10:10 orang public figure saja atau orang 10:12 biasa pun juga tidak terlepas dari harus 10:16 punya public branding? Eh, punya 10:18 branding. Silakan. 10:23 Siapa ini? 10:23 Dari Bapak Rudi. 10:25 Saya belum ngasih apa-apa. 10:27 Sudah dibuka dulu ini. Semangat. 10:30 E mungkin Mas buka bisa 10:31 buka dulu. Buka dulu. Oke. Oke. Baik, 10:33 Pak Rudi mohon maaf ya nanti akan 10:35 dijawab oleh Pak Dedi nih. 10:37 Asalamualaikum warahmatullahi 10:39 wabarakatuh. Terima kasih 10:40 ee atas undangannya nih ee Mas Habib dan 10:45 Pak ini Pak Krisna. Alhamdulillah. 10:49 Nah, ini pembahasan cukup menarik ya 10:52 karena memang lagi 10:54 tren juga gitu kan ya. Saya juga lihat 10:57 bahwa di sosial sosial media juga di 11:00 sosial media saya juga walaupun saya 11:01 enggak follow beliau tapi konten-konten 11:04 terkait ee Pak Purbaya ini tetap muncul 11:08 gitu kan ya. Nah ee saya ingin tidak 11:11 berpanjang lebar menjelaskan banyak hal 11:14 gitu kan ya. K tadi sudah disampaikan 11:16 oleh ee Habib cukup cukup panjang, cukup 11:21 luas, cukup lebar gitu kan ya. Nah, saya 11:24 ambil supaya gampang diingat itu ada 11:27 empat hal aja. 4 + 4 + 1 nanti jadi 5. 11:31 Jadi yang pertama itu dari empat itu 11:34 yang pertama itu adalah kompetensi. Jadi 11:38 kalau kita membangun personal branding, 11:40 kompetensinya harus jelas dulu. Karena 11:44 dengan adanya kompetensi kita jadi 11:46 memiliki apa yang tadi disebut oleh 11:48 Habib itu otoritas. 11:50 Otoritas kita bisa dapat secara legal. 11:53 misalkan jadi Menteri Keuangan, tetapi 11:55 itu enggak cukup. Harus sesuai dengan 11:59 kompetensi kita otoritas tersebut. Nah, 12:01 dari Purbaya itu dijelaskan di awal 12:05 kalau dia itu adalah S1-nya itu elektro 12:08 ITB. 12:09 Kalau mau saya kasih tahu, kebetulan 12:12 saya dari ITB juga. He. 12:14 Jurusan elektro di ITB itu passing 12:17 grade-nya tertinggi di ITB. Oh, 12:20 jadi kumpulan orang paling cerdas di 12:23 Indonesia itu kumpulnya di elektro 12:26 kalau dia masuk ITB gitu ya. Kalau di UI 12:29 itu kedokteran gitu ya kalau enggak 12:31 salah ya kedokteran 12:32 UI. Tapi kalau di ITB itu elektro. 12:35 Elektro. 12:35 Nah, itu berarti dia punya otoritas 12:37 sebagai orang cerdas gitu kan ya, layak 12:40 untuk didengar. dan S2, S3-nya terkait 12:43 dengan ekonomi. Jadi dia memang layak 12:45 untuk jadi Menteri ee keuangan. Ditambah 12:49 memang sejak zaman Pak Jokowi sebenarnya 12:51 dia berada di latar di di bagian di 12:55 balik layar untuk pengurusin masalah 12:58 urusan ekonomi. Jadi yang pertama itu 13:00 kompetensi harus ada. Jadi kalau kita 13:03 membangun ee personal branding, 13:05 kompetensinya harus ada. Nah, kayak 13:08 Habib sendiri ya menunjukkan master 13:10 BNP-nya gitu kan ya. Saya sendiri 13:13 menunjukkan ee strategis branding dan 13:16 komunikasi. Itu yang pertama. Yang kedua 13:20 itu adalah diferensiasi. 13:23 Jadi untuk membangun personal branding 13:25 kita punya enggak cukup dengan 13:27 kompetensi tapi juga harus punya 13:29 diferensiasi. 13:31 Nah, Purbaya datang sebagai Menteri 13:35 Keuangan. dia merombak apa yang menjadi 13:39 tesis orang sebelumnya 13:41 bahwa Kementerian Keuangan itu harus 13:45 formal, 13:46 I 13:46 harus rumit, harus kemudian ee 13:51 sangat e muter-muter untuk menjelaskan 13:53 sesuatu. Nah, Purbaya itu berbeda sama 13:56 sekali. Dia antitesis dari semua Menteri 14:00 Keuangan lainnya. 14:02 Jadi gayanya juga gaya koboy kalau 14:04 menjelaskan itu secara simpel dan 14:07 langsung gitu kan ya enggak enggak 14:09 banyak bahasa-bahasa yang ee tinggi 14:13 kemudian blak-blakan gitu kan. Terus 14:15 terang kalau bicara 14:16 Iya. 14:18 Itu jadi membuat orang kaget yang 14:21 tadinya Kementerian Keuangan itu adalah 14:23 kementerian horor gitu ya. orang yang 14:26 menegangkan 14:27 pasti seram banget gitu loh. Apalagi 14:30 kalau sudah bicara kondisi ekonomi itu 14:33 suram banget. Nah, begitu Purbaya datang 14:36 lain ceritanya. Nah, itu diferensiasinya 14:38 jadi kuat dan diferensiasi itu harus 14:41 dibangun secara dari dalam. Itu yang 14:44 disebut oleh Habib tadi otensitasnya. 14:47 Otensity-nya. Jadi harus otentik. Dia 14:50 harus otentik. Nah, kebetulan belasan 14:52 tahun yang lalu saya ketem sering ketemu 14:54 dengan Mas Yudi. Saya biasa panggil Mas 14:56 Yudi. Di kampus juga dia panggilannya 14:59 Yudi. 15:00 Heeh. 15:00 Ee kita sering ngobrol dulu dan memang 15:03 gayanya juga seperti itu. 15:05 Enggak pernah juga saya liihat rambut 15:07 rambutnya itu 15:08 tersisir rapi kayak Habib sekarang itu. 15:10 Enggak. [tertawa] 15:12 Emang dari dulu begitu dan dia tidak 15:13 berubah. Jadi tetap jadi otentik. 15:17 Nah, itu jadi pertama kompetensinya 15:19 kuat. dia punya diferensiasi untuk 15:22 membedakan dari ee personal branding 15:25 yang lainnya dengan jabatan yang serupa. 15:28 Itu dua. Yang ketiga, 15:31 karena ini berhubungan dengan rakyat, 15:33 dengan masyarakat, maka dia harus kuat 15:36 humanity-nya. 15:38 Jadi, ee perilakunya harus ramah, 15:42 merakyat, ee bisa makan di warung, bisa 15:46 ngobrol dengan siapa aja, ketawa-ketawa 15:48 dengan siapa aja. ee sifatnya sederhana 15:51 bahkan bisa menyampaikan sesuatu itu 15:54 joke-joke gitu kan ya kalau pakai bahasa 15:57 bahasa enggak rumit bahasa bahasa bayi 15:59 istilah anak sekarang 16:01 he 16:01 mudah diajak foto. Nah, Habib aja kan 16:03 pernah berfoto kan ya [tertawa] karena 16:06 sesimpel itu jadi sangat human gitu. 16:08 Human touch-nya itu dapat 16:10 kuat banget ya. 16:11 Kuat banget. Hm. 16:12 Jadi kalau kita juga membangun personal 16:14 branding, apalagi untuk jadi publik 16:17 fibur yang biasanya ada protokoler, maka 16:20 kita tembus itu protokolernya 16:23 jadi humanity. Nah, itu yang ketiga. 16:26 Yang keempat hampir terakhir itu adalah 16:29 dia membangun hope. Ada visi, misi, 16:32 target yang selalu dibicarakan itu 16:35 adalah 16:36 pertumbuhan ekonomi 8% gitu loh. Pada 16:39 saat sebenarnya kita lagi sekarat di 5% 16:43 itu dia sudah bicara tentang 8% gitu kan 16:46 ya. 16:48 Dan ada cara-cara poin-poin yang selalu 16:51 dia jelaskan di mana-mana untuk 16:52 mendapatkan tersebut. 16:54 bahwa itu sangat rumit. Iya, betul. Dan 16:56 itu juga tidak ee kerjaan bukan bukan 17:01 tugas wajib, tugas utama dari Menteri 17:05 Keuangan sebenarnya karena itu harus 17:06 kerja sama dengan kementerian lain untuk 17:09 bisa mencapai 8% tersebut. Itu kerjaan 17:12 yang sangat besar. Tapi saya melihat dia 17:15 itu membangun harapan, membangun harapan 17:19 kepada masyarakat bahwa kita bisa loh 17:22 ini bisa berubah gitu kan ya. Nah, itu 17:24 branding yang kemudian ee membuat orang 17:28 tertarik untuk jadi followers-nya, untuk 17:31 tertarik mengikuti apa video-video dia, 17:35 konten-konten dia. Ee besar juga orang 17:39 tertarik untuk berinteraksi makanya 17:41 enjudement-nya sangat tinggi gitu kan 17:43 ya. Nah, empat hal ini yang itu semuanya 17:47 dimiliki oleh purubaya dan itu sebaiknya 17:51 dimiliki oleh kita-kita juga yang 17:53 biasa-biasa ini sebenarnya gitu kan ya. 17:56 Karena nanti akan saya jawab kenapa 17:58 kalau bukan pejabat publik kita juga 18:00 butuh personal branding. 18:02 Jadi yang pertama tadi saya ulang ada 18:04 kompetensi, kemudian ada diferensiasi, 18:07 kemudian ada humanity atau human touch, 18:10 yang kemudian ada membangun hope, visi, 18:13 target gitu kan ya. Dan ini semuanya 18:16 dibungkus 18:17 dalam apa yang namanya konsistensi. He 18:22 konsistensi ini yang harus selalu 18:23 dimunculkan. keempat hal itu selalu 18:26 dimunculkan di mana pun dia berada dalam 18:28 setiap narasi dimunculkan konsisten. Dan 18:32 kalau kenapa konsistensi perlu karena 18:35 konsistensi 18:37 itu bisa memperlihatkan bahwa ini bukan 18:40 kepura-puraan, 18:41 ini bukan hal yang sementara sehingga 18:43 orang menjadi trust. Jadi intinya di 18:47 situ konsistensi ini trust membangun 18:49 trust. Jadi dari keseluruhan 4 + 1 tadi 18:52 itu 18:54 ujung akhirnya adalah trust. Nah, di 18:57 situlah branding gitu kan ya. Nah, 18:59 terkait sama pertanyaan Pak Masud Pak 19:01 Rudi tadi. He. 19:02 Nah, terkait sama Mas Rudi tabi. 19:05 Trust itu adalah ujung target sebuah 19:08 branding sehingga 19:11 siapapun harus membutuhkannya terkait 19:14 tergantung levelnya. Kalau kita adalah 19:18 public figure, maka trust kita itu harus 19:21 cukup besar, harus cukup tinggi. 19:24 Sehingga apapun program yang akan kita 19:27 lakukan itu akan didukung oleh 19:28 masyarakat, didukung oleh media, 19:31 didukung oleh para pejabat lain, 19:33 didukung oleh seluruh stakeholder. Kita 19:37 butuh trust yang sangat tinggi. Akan 19:39 tetapi kalau kita rakyat biasa, kita 19:41 butuh tetap butuh trust. trust dengan 19:45 atasan di kantor, trust dengan bawahan, 19:48 trust dengan teman manajer selevel, 19:51 trust di keluarga, trust di pertaman di 19:55 pertemanan, trust di lingkungan masjid 19:57 dan lingkungan ibadah lainnya. Trust itu 19:59 tetap dibutuhkan. H 20:01 makanya kemudian personal branding tetap 20:04 kita munculkan dan ee nabi kita 20:08 diturunkan 20:10 itu katanya bukan katanya memang 20:12 hadisnya Nabi sendiri bilang untuk 20:14 memperbaiki akhlak. 20:16 H. 20:16 Nah, memperbaiki akhlak itu itu bagian 20:19 dari trust, bagian dari proses personal 20:22 branding. Nah, gitu kira-kira. Saya 20:25 enggak berani panjang lebar. 20:28 Mudah-mudahan ee bermanfaat yang 20:30 singkat. 20:30 Oke, 20:31 saya tambahin sedikit ee terkait 20:34 pertanyaan yang tadi ya. Jadi sebetulnya 20:36 kita mau dikenal sebagai apa ee Pak 20:38 Krisna? Misalnya gini, oh orang kalau 20:42 dikasih tanggung jawab Pak Krisna mah 20:43 kerjaan pasti selesaiah gitu. Ada lagi 20:47 orang, "Oh, ini orangnya pintar tapi 20:48 susah diajak kerja sama misalnya." 20:51 Jadi eh 20:54 thought of mind ketika orang mendengar e 20:58 nama itu, itu masuk ke pikirannya dia. 21:01 Oh, dokternya pintar ee tapi enggak mau 21:04 dengerin misalnya. Oh, dokternya sabar 21:06 saya ngomong didengerin. Jadi 21:09 kadang-kadang bukan masalah yang paling 21:11 pintar, tapi yang paling bisa memahami 21:15 yang paling isi ee menjelaskan gitu yang 21:18 tadi Mas bilang gitu ya. Jadi bukan oh 21:22 saya harus bikin supaya orang ini tahu 21:25 saya sebagai apa. Enggak. Tapi 21:27 nilai-nilai saya yang natural ya yang 21:30 saya itu misalnya orangnya ee apa 21:33 detail, orangnya ee perfeksionis, 21:35 orangnya pengin seperti ini, seperti 21:37 nilai-nilai positif itu yang diperkuat 21:40 gitu ya. Yang diperkuat sehingga kita 21:42 tidak berpura-pura menjadi orang lain. 21:45 Kalau berpura-pura tuh capek. Akhirnya 21:47 misalnya ada seorang yang terkenal ke 21:50 gap, "Oh, kok orangnya kayak gini? Oh, 21:52 orang kayak gini." Tapi kalau kita 21:54 menjadi diri kita sendiri memang ee 21:56 nilai-nilai kita yang kita bawa itu yang 21:59 Purbaya ee apa mainkan sebetulnya gitu 22:03 ya. Dia bukan dikenal sebagai orang oh 22:06 menteri keuangan enggak. Tapi begitu 22:09 ganti Purbaya dia adalah Purbaya gitu 22:11 ya. 22:12 Dia e memang emang Purbaya. Udah 22:14 purbaya. Oh, Purba orang sebutin. Bahkan 22:17 saya sempat ketemu itu ee beliau 22:20 ada seorang ee mohon maaf ya maksudnya 22:23 ya kalau kita sebut e pengemis lah ya. 22:26 Pengemis ngadang beliau ngajak ngobrol 22:29 beliau tidak ee apa namanya tidak 22:31 mengabaikan dan tetap ngajak ngobrol. 22:33 Dia itu nghadang dia. Saya lihat sendiri 22:35 depan mata saya gitu ya. Dia ajak 22:37 ngobrol udah sampai orang itu selesai 22:40 baru oh iya orang itu pergi gitu ya. 22:44 Tapi itu adalah karakter natural, baik 22:47 ada kamera maupun enggak ada kamera gitu 22:49 ya. Nah, di samping itu sebagai apa? 22:53 Personal Pak Krishna. Jadi tema atau 22:56 karakter atau narasi yang kita bawa itu 22:58 konsisten gitu. Nah, itu itu mungkin ee 23:02 tambahan aja tambahan. Jadi, orang itu 23:04 berat sebenarnya ngelepas Purbaya itu 23:06 kenapa 23:07 ya? Karena kita ngenal Purbaya itu 23:09 Purbaya bukan dia sebagai menteri 23:11 keuangan gitu ya. dia ngerti nih 23:13 harga-harga lagi naik segala macam itu 23:15 ya walaupun ada kelebihan kekuranganlah 23:18 tetap misalnya kebijakan fiksal mungkin 23:21 agak beda sama yang lain dan lain-lain 23:23 tapi menurut saya ini ee satu hal yang 23:25 menarik terkait brandingnya beliau gitu 23:27 dan dan keikhlasan beliau bagaimana ee 23:30 membangun ini negeri gitu dengan segala 23:32 macam resikonya gitu. 23:34 Oke, kita ke pertanyaan pendengar lagi 23:36 ya dari Bapak Darianto di Subang. Eh, 23:41 bagaimana cara membedakan personal 23:43 branding yang otentik dengan pencitraan? 23:48 Silakan, Mas. 23:53 Oke, ya. Terima kasih. Memang ini sering 23:56 sering banyak pertanyaannya ya. Mana 23:59 yang entik dengan pencitraan? Sebenarnya 24:01 kata kuncinya itu ada di ee konsistensi 24:05 gitu ya. kata konsistensi di mana antara 24:10 tidak ada kamera dengan adanya kamera 24:14 itu enggak ada perubahan. 24:17 Nah, itu dia akan konsisten. 24:19 Cuma kan memang kalau kita tidak ketemu 24:22 langsung kan jadi rumit kita kan ya 24:24 karena kita hanya bisa ngelihatnya di 24:27 sosial media. Nah, kalau itu ee kita 24:31 bisa lihat dari konsistensi dia bisa 24:34 tahan berapa lama. Biasanya kalau 24:38 kemudian dia hanya sekedar pencitraan 24:41 gitu kan ya, dia enggak akan bisa tahan 24:44 lama gitu. Setahun itu aja udah udah 24:47 gerah sekali apalagi kalau sudah dia 24:50 mendapatkan apa yang dia inginkan. 24:52 H. 24:53 Jadi kalau sudah mau jadi calek, begitu 24:55 jadi anggota legislatif dia berubah gitu 24:57 kan ya. Begitu mau jadi walikota, begitu 25:00 jadi walikota dia berubah. Begitu dari 25:03 model berencana jadi capres menjadi 25:06 presiden berubah. Nah, itu bukan ee 25:08 otentik, itu adalah pencitraan gitu kan 25:11 ya. Itu kita bisa lihat setelah terjadi 25:15 jabatan atau setelah target yang 25:18 diinginkan tercapai. 25:21 Cuma memang yang paling bagus itu adalah 25:24 memang bisa lihat langsung karena pesan 25:28 dari 25:29 ee 25:32 Umar Ibnu Khattab juga gitu kan kalau 25:34 untuk menilai seseorang itu apakah 25:37 pernah berbisnis dengannya, apakah 25:40 pernah berjalan safar dengannya, apakah 25:44 pernah menginap bersamanya gitu kan ya. 25:47 Jadi itu langsung dekat gitu. Nah, itu 25:50 kita akan bisa langsung tahu dia 25:52 ee benar-benar pencitraan atau [tertawa] 25:56 bisa benar itu otentik gitu. 25:58 Oke. Kemudian dari Bapak Toto, Bang 26:02 Habib dan Pak Dedi, apakah keberanian 26:05 menyampaikan pendapat yang berbeda 26:07 justru memperkuat atau melemahkan 26:09 personal branding seorang pejabat? Oke, 26:13 saya jawab ya. 26:16 Eh, 26:17 dari Bapak Toto. 26:18 Iya, Bapak Toto. Terima kasih 26:20 pertanyaannya. Kita ee saya ambil contoh 26:23 ee Nabi Muhammad sallallahu alaihi 26:24 wasallam eh personal branding yang 26:28 betul-betul 26:29 ee natural dan betul-betul berasal dari 26:32 jiwanya ee beliau gitu ya. pada saat itu 26:37 kondisinya melawan ibaratnya peradaban 26:40 orang yang ee apa nyembah batu, orang 26:43 yang banyak e yang sudah kebiasaan yang 26:47 salah yang orang lakukan. Tapi ketika 26:50 Nabi Muhammad itu menjelaskan beliau, 26:53 "Saya Nabi Muhammad, saya nabi yang 26:55 diutus oleh Allah gitu ya, saya 26:59 Rasulullah, beliau enggak langsung 27:01 menjelaskan itu. Beliau itu membangun ya 27:03 pengalaman experience sebagai orang yang 27:06 terpercaya gitu ya. Terpercaya itu 27:08 karakter yang dibangun gitu ya selama 27:10 ini ya. Ee bagaimana berdagang ee 27:13 terpercaya, bagaimana menyelesaikan apa 27:16 ee masalah antar kabilah. bagaimana 27:19 segala macam itu dipercaya. Sehingga 27:22 ketika dia menjelaskan bahwa beliau 27:25 adalah Rasulullah itu yang orang itu 27:28 sebetulnya secara hakikat, secara 27:30 kebenaran itu dia bisa menolak pada saat 27:33 itu gitu ya. Tetapi ada ego, egoisme, 27:36 ada apa pride, ada segala macam, ada 27:39 jabatan itu yang yang tidak bisa 27:41 ditinggalkan oleh sebagian yang memang 27:44 menentang ee beliau. tetapi secara 27:48 secara bagaimana ee akhlak beliau dan 27:52 lain-lain itu bisa bertahan sampai 27:54 ratusan tahun gitu ya. Sebagai itu kalau 27:57 kita sebut mungkin eh Mas brand equity 28:00 ya di situ. Jadi bagaimana trust itu 28:04 menjadi reputasi beliau gitu ya. Jadi 28:07 orang itu percaya sama orang bukan saya 28:09 ngomong saya orangnya bisa dipercaya, 28:11 saya orangnya jujur. Tapi pengalaman 28:13 ketika orang itu misalnya orang bisa 28:15 dipercaya. 28:16 dia bisa dipercaya dalam semua hal. Tapi 28:18 begitu dikasih uang ya itulah ujian 28:21 sebenarnya orang itu. Misalnya, "Wah, 28:24 ternyata bikin dikasih uang misalnya R 28:26 juta masih amanat, 10 juta masih amanat, 28:28 100 juta sudah mulai goyang 1 M 1 M 28:32 sudahud hilang itu orang." Nah, itulah 28:34 nilai dari orang tersebut gitu ya. 28:37 Bagaimana pengalaman mereka gitu ya dari 28:41 promise gitu ya. eh apa bagaimana brand 28:44 promise habis itu jadi experience 28:47 terhadap orang itu baru jadi terust gitu 28:49 jadi experience yang dibangun bersama 28:52 Nabi Muhammad ya makanya tadi Mas bilang 28:55 ee kita kalau mau kenal sama orang safar 28:58 aja dulu sama orang itu. Karena apa? 28:59 Kita baru kita bangun tidur orang itu 29:02 tahu kita apakah dia kuat gitu ya ee 29:06 kita monitoring terus ya pasti ada 29:08 karakternya yang keluar gitu ya. Jadi 29:11 kalau kita ambil contoh Rasulullah gitu 29:13 ya sallallahu alaihi wasallam ee beliau 29:16 enggak enggak bilang saya ekspert gitu 29:18 ya, saya leader. Tapi beliau 29:19 mencontohkan ee bagaimana ee apa 29:22 melindungi apa ee harga diri orang lain. 29:26 Ketika ada yang misalnya satu ruangan 29:28 buang, ada yang buang ada ba angin. 29:30 Ketika ada orang yang bangun berarti dia 29:32 yang buang angin. Tapi Rasulullah ayo 29:34 kita wudu bareng-bareng. Ayo. Jadi 29:37 nutupi aib 29:38 nutupin 29:39 aib orang lain gitu ya. Jadi itulah 29:41 karakter gitu ya. Ee kita enggak ya 29:43 jangan sibuk ngomong siapa diri kita 29:45 gitu ya, bagaimana kita segala macam. 29:48 Tapi 29:50 tunjukkan aja perilaku eien bagaimana 29:52 Purbaya itu membangun kebijakan yang 29:54 prakyat, bagaimana dia otentik. Otentik 29:57 tuh kalau di ee Islam tuh sidik ya, 30:01 otentik ya. Jadi benar, jujur gitu ya. 30:03 Bagaimana ee itu dibangun jadi ada value 30:06 dalam diri kita. Mungkin itu ee tambahan 30:09 aja. H. Oke, silakan 30:13 Mas Dedi. 30:14 Kalau dari saya begini, jadi 30:17 ee keberanian untuk menyampaikan 30:20 pendapat yang berbeda dari pendapat umum 30:23 ataupun pendapat yang punya otoritas 30:25 lebih tinggi seperti atasan gitu kan ya, 30:28 itu punya potensi 30:30 ee membangun personal branding asalkan 30:34 memang dia berencana personal 30:36 brandingnya dibangun untuk itu. Jadi 30:38 kalau dia membangun professional 30:40 branding-nya sebagai orang yang punya 30:43 otoritas di bidang hal yang memang dia 30:46 kuat di situ dan dia untuk menjelaskan 30:49 bahwa perbedaan pendapatnya itu 30:52 bertentangan dengan pendapat pada 30:53 umumnya, maka itu cukup kuat gitu kan 30:56 ya. 30:57 Kalau kemudian dia menginginkan bahwa 31:00 [berdehem] personal brandingnya itu 31:02 dianggap sebagai orang yang ee ingin 31:05 memperjuangkan sesuatu, maka keberanian 31:08 itu akan memperkuat ee personal 31:10 branding-nya gitu kan ya. Akan tetapi ee 31:15 kalau kemudian dia ingin personal 31:17 branding itu dianggap orang yang 31:19 kemudian 31:21 ee bisa bekerja sama dengan siapa saja 31:25 atau kemudian ee dianggap humble gitu 31:29 kan ya atau sesuatu yang tidak ingin 31:32 menyakiti oleh ee orang lain gitu kan 31:35 ya. Maka 31:38 keberanian untuk menyatakan pendapat 31:40 secara keras itu juga tidak akan 31:43 membantu. Maka persis yang seperti 31:45 dijelaskan oleh Habib tadi, Nabi 31:48 kemudian tidak kemudian secara keras 31:51 menyalahkan 31:53 ada orang yang yang ee kentut tersebut, 31:56 tapi kemudian 31:58 mencoba menghilangkan rasa malu yang 32:02 muncul dari ee perilaku yang tidak 32:04 sengaja tersebut. Ini kan ee sangat 32:07 halus sebenarnya. ini sangat halus tapi 32:09 tergantung dari kita kita ingin 32:11 membentuk personal branding-nya seperti 32:13 apa. Jadi personal branding itu setiap 32:16 perilaku apapun yang kita lakukan gitu 32:18 kan ya, baik menentang sesuatu atau 32:21 menyetujui sesuatu itu tergantung dari 32:25 personal branding yang mau kita bentuk 32:28 apa yang akan terjadi di pikiran orang 32:29 lain tentang kita gitu kan ya. 32:33 Kalau model politisi sekarang yang 32:35 kemudian ee tidak cocok dengan kebijakan 32:39 pemerintah, dia akan lebih mudah untuk 32:42 menyampaikan hal yang yang tidak suka 32:46 sebagai bentuk pada keberanian dan itu 32:49 untuk personal branding dia gitu kan ya. 32:52 Akan tetapi ada juga yang memang ee 32:55 berharap pemerintah akan semakin baik. 32:59 Jadi keberaniannya itu dia bentuk dengan 33:02 cara bukan menentang kebijakan, tapi 33:05 juga memperlihatkan ada sesuatu yang 33:07 lebih baik dari kebijakan yang ada 33:10 sekarang gitu kan ya. 33:12 seperti ee contoh kasus yang di 33:17 Ketua Umum Gontor kemarin gitu ya, Kiai 33:20 Gontor itu. 33:20 He, bagus sekali pidatonya itu. 33:22 E itu kan ee sebenarnya 33:26 dia punya keberanian untuk ee 33:29 mengeluarkan pendapatnya, 33:31 tapi dia tidak mengatakan bahwa 33:34 MBG itu salah gitu kan ya. [tertawa] 33:37 hebat 33:38 yang dia katakan pendidikan lebih 33:40 penting gitu 33:43 lebih harusnya difokuskan kebijakan 33:45 keren 33:46 di urusannya ke ke pendidikan 33:48 walaupun ditambahin dengan jokes-jokes 33:51 yang cukup menyindir sih [tertawa] 33:54 y gitu kan ya. 33:56 Iya juga 33:57 itu luar biasa sehingga personal 33:59 branding dari ee kiai tersebut itu 34:02 bisa cukup kuat memperlihatkan bahwa 34:05 Gontor itu memang punya ideologi yang 34:08 kuat gitu kan ya. Bahwa Gontor itu 34:10 memang 34:12 ee bukan sembarangan gitu kan yang bisa 34:15 diakoktasi oleh ee pemerintah yang 34:18 berkuasa sekalipun gitu kan. itu maka 34:21 brandingnya menjadi sangat kuat branding 34:23 grontornya dan branding dari kiainya 34:25 sendiri. 34:26 Oke, 34:26 mudah-mudahan. 34:27 Baik, selanjutnya dari Bapak Andi, Bang 34:30 Habib, dan Pak Dedi. Apakah branding 34:33 dapat dibentuk tanpa sengaja? Dia 34:35 natural saja begitu. Orang aja yang mau 34:37 yang mau image kan dia gitu. Dia sendiri 34:39 tidak tidak bermaksud demikian. Bisa 34:42 enggak terjadi secara natural 34:44 dari Bapak Andi? 34:46 Oke. Ee kedengar ya suara saya? 34:49 Jadi ee branding itu bisa ee tanpa 34:52 sengaja sebetulnya. Bahkan seringkiali 34:54 personal brand itu ee sadar terlebih 34:58 dahulu sebelum orang itu bangun gitu ya. 35:00 Jadi ee ada intentional branding memang 35:04 kita apa sengaja bagaimana kita ingin 35:07 dikenal. Nah, ini banyak ee beberapa 35:10 oknum orang terkenal ini juga memang 35:12 dibangun untuk melihat orang tuh seperti 35:15 itu. Bahkan kita juga berapa kali ee ya 35:18 melihat ee ya ada oknum pemimpin juga 35:21 seperti itulah. Dia bangun bagaimana dia 35:24 ingin dikenal. Tapi sebetulnya 35:25 sehari-hari juga seperti itu. Ada juga 35:28 ee bagaimana eh apa ya istilahnya tuh 35:31 emergen emergency, emergent branding 35:34 gitu. bagaimana orang itu ee melihat apa 35:38 yang kita sering lakukan gitu ya. Ee 35:40 jadi ketika ada masalah dia datang gitu 35:43 ya, dia hadir gitu ya, dia nyelesaiin 35:46 gitu ya, lama-lama orang itu mikir, "Oh, 35:48 kalau ada masalah ee panggil dia ini 35:50 orang bisa diandelin" gitu ya. Jadi itu 35:52 terbentuknya secara organik ee secara ee 35:56 memang bukan dibuat-buat gitu ya. Nah, 35:58 jadi ee branding itu sebetulnya 36:02 kita itu ee seperti apa? Bagaimana kita 36:05 komunikasinya gitu ya, apa yang 36:07 konsisten kita lakukan, habis itu 36:09 pengalaman pengalaman orang-orang ini 36:11 seperti apa dengan kita gitu ya. Jadi di 36:15 mana orang lain itu ee membentuk 36:18 persepsi tentang kita, bukannya kita 36:20 pengin dilihat seperti apa gitu ya. Loh, 36:23 jadi sebetulnya kalau enggak sengaja 36:25 atau sengaja itu kan sebetulnya ee cara 36:28 ya atau kalau sengaja berarti 36:30 dibuat-buat. Nah, dibuat-buat sebetulnya 36:33 enggak ada masalah. Tetapi memang itu 36:34 karakter kita. Orang-orang belum tahu 36:36 nih saya karakternya kayak gimana. Saya 36:38 penguatanlah karakter saya sama Mas Dedi 36:40 misalnya. Mas Dedi saya pengin jadi apa 36:43 namanya? Pemimpin daerah nih. Karakter 36:44 saya seperti ini. Bagaimana orang bisa 36:46 tahu lebih banyak karakter saya gitu ya. 36:49 Nah, oh biasanya Mas Dedi asesmen dulu 36:50 nih karakternya. Oh, dia bisa baca, "Oh, 36:53 karakternya enggak kayak gini. Jangan 36:54 dibuat-buat gitu ya. Nanti malah kalau 36:56 dibuat-buat malah enggak natural. 36:58 Kesannya juga kelihatan enggak natural. 37:00 Kayak orang senyum. Paktisnya kalau 37:01 senyum benar-benar dari hati. Beda orang 37:04 senyum dibuat-buat gitu ya. Bahkan 37:06 mungkin kalau beberapa saya lihat juga e 37:09 kayak customer care di perusahaan itu ee 37:12 dia nelepon itu di depannya ada cermin 37:14 ya. Jadi begitu dia senyum itu senyumnya 37:17 terdengar sampai di ujung telepon. 37:19 Bayangin. Nah. Nah. Jadi ee ketika ee 37:24 dia berbicara, dia apa namanya WhatsApp 37:28 dia apapun itu ketika hatinya tersenyum 37:30 ya itu bakal menyebar gitu ya. Jadi 37:34 energi positif itu menyebar. Ketika dia 37:37 mau jadi leader, dia harus memberikan 37:39 energi positif yang lebih besar gitu ya, 37:41 bukan energi negatif. Ketika dia punya 37:43 energi negatif yang besar, nah itulah 37:46 yang bahaya gitu. Akhirnya macam-macam 37:48 penyimpangan yang dilakukan gitu. Jadi 37:51 ee istilahnya kalau kata guru saya tuh 37:54 ada ee Dr. Fahmi, hanya baja yang 37:56 membentuk besi. Hanya baja yang bisa 37:59 membentuk besi gitu ya. Jadi kita mesti 38:01 lebih kuat, bisa lebih bercahaya, bisa 38:04 lebih menginspire orang lain gitu baru 38:07 bisa menguatkan orang lain gitu. 38:10 Itu 38:11 sudah Mbak Dedi silakan. 38:13 Oke, saya tambahkan. Ini pertanyaannya 38:15 memang sering saya lakukan dengan 38:16 klien-klien saya. Karena saya membantu 38:19 personal branding saya, teman-teman e 38:21 klien-klien saya itu melalui sosial 38:25 media. Maka biasanya untuk mengetahui 38:28 personal branding-nya 38:30 awal sebelum saya usulkan yang baru 38:33 gitu, saya akan cek minimal 100 konten 38:37 di sosmate-nya. Nah, biasanya di 100 38:40 konten di sosmate-nya kalau dia sedang 38:43 tidak membuat personal branding itu akan 38:46 kelihatan. Saya bisa capture. Lalu dari 38:50 100 konten itu, maka pertemuan 38:52 berikutnya saya bisa langsung 38:54 presentasikan mengusulkan personal 38:57 branding-nya dia adalah begini begini 38:59 begini begini gitu kan. Dan biasanya 39:02 100% itu mereka terbelalak gitu, mereka 39:05 kaget. Dan itu kenapa pas banget yang 39:09 seperti mereka inginkan dan mereka juga 39:11 merasa bahwa ini gue banget Bang D. Saya 39:14 enggak nyangka kalau ternyata orang bisa 39:16 Bang De juga bisa ngelihat bahwa saya 39:19 penginnya seperti ini. Saya ingin orang 39:21 melihatnya seperti ini. Dan ternyata 39:24 yang dilihat seperti ini ternyata cukup 39:27 bagus, berkualitas gitu kan ya. dan itu 39:30 bisa saya gunakan sebagai modal awal 39:33 untuk membangun elektabilitas dia. 39:35 Kebetulan klien saya kan politisi semua 39:38 gitu kan ya. Nah, tapi kalau dia enggak 39:41 punya sosial media, nah ini saya butuh 39:44 waktu sejam 2 jam untuk ngobrol menggali 39:49 bagaimana dia berinteraksi di keluarga, 39:51 bagaimana di pertemanan, bagaimana latar 39:54 belakang sekolahnya, bagaimana ee di 39:57 kantornya, pekerjaannya, bagaimana 40:00 dengan mimpi-mimpinya, bagaimana dengan 40:02 hobinya, bagaimana dia melakukan kalau 40:04 ada permasalahan sesuatu dia bagaimana 40:06 cara dapatinya dari kumpulan itu sejam 2 40:10 jam kemudian ngobrol panjang baru 40:12 kemudian saya bisa ajukan proposal. 40:15 Mas ee saya ajukan proposal begini 40:17 begini begini dan biasanya dia juga akan 40:19 tergaget-gaget ya Pak Det ee saya pas 40:22 banget kayak kayak gini saya mau 40:24 dibentuk seperti ini gitu kan. Jadi 40:27 kalau kemudian ditanya apakah kemudian 40:29 personal branding dibangun sangat 40:30 natural? Sangat bisa. Sangat bisa. dan 40:33 kita 40:34 ee kita bisa tidak merasa kita melakukan 40:37 sesuatu sebenarnya kita membangun 40:38 personal branding. Tetapi kalau personal 40:42 branding itu kita lakukan secara 40:44 sistematis maka yang dicapainya akan 40:47 jauh lebih cepat daripada kita lakukan 40:50 secara organik tanpa terencana. 40:54 Oke. 40:54 Orang bisa mengenal kita memiliki 40:57 kompetensi tertentu, diferensiasi 41:00 tertentu gitu kan ya. itu mungkin butuh 41:03 beberapa tahun. He. 41:04 Tapi kalau dengan secara sistematis kita 41:07 handle, maka ya 3 bulan, 6 bulan juga 41:11 sudah langsung ketahuan. Biasanya saya 41:14 handle itu. Saya tahu personal branding 41:17 ini sudah sangat pas dan sangat bagus. 41:21 Itu ciri-cirinya di sosmate itu dia 41:23 sudah bisa dapat e winning content. 41:26 Winning content itu adalah eh views 41:30 orang yang menonton konten dia tersebut 41:33 itu jumlahnya bisa 100 kali lipat atau 41:36 bahkan 1000 kali lipat dari e 41:38 followers-nya dia. Berarti dia sudah 41:40 menyebar ke mana-mana. Nah, winning 41:42 contents ini bukan 41:45 hal yang viral sesaat bukan. 41:48 Ini adalah konten yang dibangun 41:51 berdasarkan personal branding dia yang 41:54 sudah sangat kuat. 41:56 Nah, biasanya saya ketemunya itu di 41:57 bulan ketiga kalau saya saya handle kita 42:00 exercise segala macam itu dari saya 42:02 mudah-mudahan membantu. 42:04 Oke, selanjutnya dari Bapak Kiro. 42:07 Asalamualaikum Bang Habib dan Pak Dedi. 42:10 Apakah seseorang bisa merubah 42:12 brandingnya yang dulu dikenal misalnya 42:14 berkarakter A lalu ingin dirubah menjadi 42:17 B? Apakah bisa ada perubahan branding 42:20 seperti itu? 42:21 Eh, 42:22 dari Bapak Kirul. 42:23 E, makasih Pak Kirul. Saya ada 42:25 pengalaman pengalaman sedikit ya ini ee 42:28 kisah nyata. Jadi ee ada 42:32 pengukuran berdasarkan sidik jari. Saya 42:35 enggak sebutin mereknya ya semua 42:37 kasusnya. Jadi ini iklan tapi ada 42:39 pengukuran Mas Dedi tahu enggak yang ada 42:41 pengukuran karakter sidik jari? Iya 42:43 enggak? 42:44 Banyaklah. 42:45 Ah banyak ya kita tahulah ya. Jadi eh 42:49 kebenaran saya kan apa konsultan 42:51 digital. Gimana cara naikin profit lewat 42:53 digital ya? Nah, kita bantu juga 42:56 assesment orang gitu ya. Nah, ini 42:58 membantu pada saat seleksi awal 43:00 kandidat-kandidat itu dikasih dikasih ee 43:03 apa namanya? tes. Tapi cuman sidik jari 43:07 ditempel sidik jarinya nanti ketahuan 43:08 karakternya seperti apa bla bla bla bla 43:10 bla. Ah, walhasil ini cukup ee viral dan 43:14 efektif lah kelihatannya gitu ya. Nah, 43:18 ee tapi saya ada sesuatu yang mengganjal 43:20 di pikiran saya. Sesuatu yang dinamis. 43:23 Kenapa diukur oleh sesuatu yang statis? 43:25 Ya, sidik jari itu kan statis gitu ya. 43:27 Kecuali ada special case misalnya minum 43:29 obat tertentu gitu ya, berubah dan 43:31 lain-lain. Tapi ini kan sesuatu yang 43:33 saya dilahirkan seperti itu, sidik 43:35 jarinya seperti itu kan. Kenapa orang 43:37 dicap ee dengan sidik jari gitu ya? Saya 43:40 lagi pelajarin kenapa orang itu ngecap 43:41 gitu dengan sidik jari. Artinya gini, 43:43 ketika sidik jari saya polanya seperti 43:46 ini, saya diterima kerja. Misalnya 43:47 ketika sidik jari saya kayak gini, saya 43:50 minimal kalau enggak diterima penilaian 43:52 orang itu sudah enggak enggak kurang 43:54 dengan saya. Akhirnya apa? Ada satu 43:55 kasus gini, Pak Krisna. 43:57 Orang itu di dianalisa sidik jari ini 44:01 hasilnya itu emosi segala macam dan 44:03 lain-lain. Ini teman saya sendiri nih e 44:05 Pak Dedi juga kenal Mas Dedi emosi dan 44:07 lain-lain. Tetapi penampakannya orang 44:09 ini sangat sabar, sangat wise, sangat 44:12 benar-benar sama temannya tuh luar 44:13 biasa. sampai ownernya sidik jarinya ini 44:17 dia sampai ngetes berkali-kali dan 44:19 hasilnya selalu sama. Akhirnya apa? Dia 44:21 panggil orang ini. Dia panggil orang 44:23 ini. Saya sudah ngetes berkali-kali 44:25 kenapa hasilnya selalu ee sama. Anda 44:27 tidak sesuai sama sidik jari Anda gitu. 44:29 Sidik jarinya itu emosi dan lain-lain. 44:32 Tapi AS ternyata orangnya sangat sabar. 44:34 Sangat. Saya bilang gini, dia bilang 44:36 gini, "Memang dulu saya emosi gitu ya, 44:38 tapi saya perbaikin itu. Saya lihat, oh 44:41 saya punya apa sifat karakter yang apa 44:43 agak temperamen dan lain-lain, tapi saya 44:45 naik apa perbaikin dan lain-lain. 44:47 Akhirnya berubah. Jadi sesuatu yang ee 44:51 ee statis itu bisa dirubah. Eeh jadi 44:54 buat penilaian awal okelah dijari. 44:56 Tetapi memang assesment awal terlepas 44:59 dari itu. Kita ngelihat orang, saya 45:01 berkali-kali pengalaman Pak Krishna itu 45:03 sering banget pengalaman saya lihat 45:05 orang sederhana gitu ya. Saya dulu jual 45:08 rumah e apa namanya? Lihat orang itu 45:10 dari fisik. Wah ini bisa enggak nih beli 45:12 rumah miliaran gitu ya gitu dan 45:14 lain-lain dari fisik. Tapi pengalaman 45:17 saya itu berubah setelah ya saya lihat 45:19 orang yang sederha benar-benar ee ya 45:21 Allah ini ee saya pasrah ya dengan 45:24 kekuasaanmu. Orang yang gerakin orang 45:26 yang yang mendatangkan pembeli itu 45:28 engkau gitu ya. Nah ketika ada satu e 45:32 orang sederhana naik motor pakaiannya 45:34 juga sederhana dan lain-lain. Dia bilang 45:37 gini, "Saya mau nawar." gitu ya. "Saya 45:39 mau nawar, saya mau beli." Saya bilang, 45:41 "Pekerjaannya apa, Bu? Saya jualan 45:43 roti." Ini kisah nyata juga maksudnya. 45:46 ee saya bilang, "Oh, iya, Bu. Karena 45:48 kita udah memang sudah pasrah, ya itu 45:50 ada satu apa namanya? Ilmu ya, kekuatan 45:53 Ilahi lah ya. Saya benar-benar ee yang 45:56 gerakin orang itu untuk membeli, untuk 45:58 menggerakkan itu Allah gitu." Dia 46:00 bilang, "Oh, akhirnya dia nawar dan saya 46:02 enggak memikirkan itu, oh ada sesuatu di 46:05 balik ini gitu ya. Dia nawar dan 46:07 lain-lain." Terus setelah selesai itu 46:10 akhirnya dia ee apa namanya? Dia bayar 46:13 ke bank gitu. dia bayar ada cicil cuman 46:15 cicilnya sedikit gitu. Dia punya uang 46:17 ratusan juta di rekeningnya 700 apa R00 46:20 juta saya lupa. Tapi setelah itu 46:24 ee dia bayar gitu ya. Dicil berapa 46:26 tahun, 2 tahun apa 3 tahun dan cukup 46:28 besar cicilannya. Setelah selesai saya 46:30 lihat rumah saya e yang saya jual itu 46:32 udah di dibongkar, dihancurkan dengan ee 46:35 vila seperti istana lah gitu ya. Ya, 46:39 lumayan ya rumahnya lumayan bagus gitu 46:41 ya. minimalis tapi dihancurin sama dia 46:43 diganti istan itu saya bongkar bagaimana 46:46 ini ee saya melihat seseorang ternyata 46:49 itu di dirubah ee persepsinya ya dengan 46:52 sesuatu yang ee di balik itu ya saya 46:55 tanya-tanya akhirnya saya nanya sama 46:56 tetangganya ini orang ini Ibu ini apa 46:58 kerjanya gitu ya emang tukang roti iya 47:01 benar tukang rot tapi yang punya semacam 47:03 Holland Baker itu yang di banyak itu e 47:06 ruko-ruko itu ee semacam Holland Baker 47:08 seperti itu gitu ya ee global bakery 47:11 atau apa. besar gitu ya. Oh, jadi 47:13 sesuatu yang ee yang kita itu lihat. 47:17 Nah, iya tetap belum tentu [tertawa] 47:20 apa yang memang tergambar gitu ya. Kita 47:23 sering tertipu oleh sesuatu yang kita 47:24 lihat gitu ya. Itu indrawi ya. Indrawi 47:26 yang sangat terbatas gitu ya. Jadi ada 47:29 ee satu ee hal ketika kita benar-benar 47:33 ee natural, authority kita juga main 47:36 gitu ya yang tadi Mas Dedi bilang gitu 47:38 ya. 47:39 kita itu meninggalkan apa yang kita 47:42 nanti ee kita tinggalkan ya jariah ilmu 47:46 kita, bukan apa yang kita pengin 47:48 tampilkan gitu ya. Jadi ee kamera bisa 47:51 berhenti menyorot gitu ya, tapi ilmu 47:54 kita, jejak kita kayak Purbaya apa yang 47:55 ditinggalkan itu masih sampai sekarang 47:57 tuh orang masih berasa. Itu yang yang 48:00 mungkin ee sedikit ee Pakna. 48:02 Oke, Pak Dedi Rahman silakan. Mungkin 48:05 ini 48:05 saya tambahkan. 48:07 Jadi memang ee pada saat saya men-handle 48:09 klien ada yang terjadi memang perlu 48:12 melakukan perubahan ee branding gitu kan 48:16 ya. Cuma biasanya dari awal saya 48:19 mengukur branding itu salah satu 48:21 tools-nya itu menggunakan eh 12 48:24 archetype karakter. Jadi setiap orang 48:27 itu ada karakter-karakter yang didominan 48:30 dalam dirinya sesuai DNA-nya. Dan itu 48:33 yang saya bangun sebagai branding dan 48:35 ini biasanya saya sesuaikan dengan 48:37 dapilnya atau calon konstituennya. Kalau 48:40 cocok maka itu langsung saya pakai. Tapi 48:42 kalau enggak cocok itu digeser sedikit 48:45 kepada karakter-karakter yang lebih 48:47 cocok tetapi masih dimiliki oleh 48:50 kandidat tersebut. Sehingga ee kita 48:53 fokus untuk mengembangkan karakter eh 48:56 branding yang sesuai dengan dapilnya 48:59 gitu kan ya. sudah ada HP-nya, kita 49:01 bangunnya seperti itu. Nah, pada saat 49:03 kemudian berjalan bisa saja membutuhkan 49:06 ternyata ee pergeseran branding. 49:10 Misalkan ee sebagai contoh ee KDM ya, 49:14 KDM itu sebelum jadi gubernur maka 49:17 branding dia itu kalau dari 12 itu 49:20 namanya caregiiven. Jadi gampang 49:23 menolong gitu kan ya. murah hati ee 49:27 sangat mudahlah ee menolong, memberi 49:30 duang segala macam, berbagi gitu kan ya. 49:32 Itu yang dia bangun sebagai caregiver 49:35 gitu kan. Tapi begitu sudah jadi 49:37 gubernur 49:39 dia bergeser sedikit itu menjadi ee hero 49:43 ataupun bahkan the ruler bagaimana dia 49:46 mulai keras gitu. dia mulai keras kepada 49:50 orang-orang yang 49:51 melanggar 49:52 langgar merusak gitu kan ya melanggar 49:56 tetapi dia masih dalam satu kerangka 49:59 pemikiran bahwa baik caregiver itu 50:03 peduli pada masyarakat tetapi juga yang 50:06 theulor yang keras itu juga karena 50:08 kepedulian kepada masyarakat juga 50:10 sama ya 50:11 jadi 50:11 style-nya bisa berbeda, style-nya 50:14 berbeda, brandingnya berbeda, tetapi 50:16 karena misi sesungguh nya itu sama dia 50:19 masih bisa bertahan 50:20 dapat 50:21 beda misalkan kalau di capres kemarin 50:24 untuk mendapatkan anak Gen itu butuh 50:28 branding yang lucu-lucuan 50:31 istilahnya gester maka muncullah gameoy 50:34 segala macam tetapi secara karakter si 50:38 bapak tersebut itu dari dulu itu the 50:40 ruler jadi memang dia keras gitu cuma 50:44 dengan cara keras enggak menang-menang 50:46 akhirnya dirubahlah lah gitu kan ya 50:48 dirubah untuk misal mendapatkan suara 50:51 tertentu. Begitu sudah dapat dan jadi ee 50:55 presiden ya tentu akan kembali ke 50:57 karakter awal itu sebagai the rulers 51:00 gitu kan ya. sebagai the rules bahwa 51:03 memang bisa diganti, memang bisa cuma 51:06 kalau pergantian itu tidak sesuai 51:09 DNA-nya gitu kan ya, maka itu jadi 51:13 imitasi, tidak lagi otentik, dia tidak 51:16 bisa bertahan cukup lama, enggak bisa 51:18 konsisten gitu kan. Nah, kalau ditanya 51:21 bisa berubah, bisa berubah. Apakah perlu 51:23 berubah, perlu berubah juga gitu kan ya. 51:26 Tetapi apakah itu bisa konsisten? DNA 51:28 itu belum tentu tergantung dari 51:30 perubahan yang terjadi terhadap DNA 51:33 karakter dia. Nah, itu ee 12 archetype 51:37 karakter itu ada di buku saya yang 51:38 judulnya Branding for Public Leader. 51:40 Jadi itu 51:42 dijelaskan 51:43 dan setiap karakter itu juga diajarkan 51:47 bagaimana cara membangun brandingnya itu 51:50 dari nol sampai menjadi apapun tujuannya 51:53 lah. Mau jadi kepala daerah, mau jadi 51:55 calek segala macam. Kira-kira gitu, Pak. 51:58 Baik, terima kasih Bang Abim dan Pak 52:01 Dedi. Kelihatannya sudah terjawab semua 52:02 nih. Yang nanya semua laki-laki semua 52:04 ya. Kenapa ini Rudi, Toto, 52:07 Andi, Hero, Wawan, 52:11 apa perempuan enggak perlu branding ya. 52:13 Oke, terima kasih Bang Habib. Bisa 52:16 diambil kesimpulan siaran hari ini. 52:18 Silakan Bang Habib. 52:21 Bagaimana kita sibuk membangun nama 52:24 sampai lupa membangun nilai di nama itu? 52:27 jabatan kita bisa hilang, perusahaan 52:28 bisa tutup gitu ya, lingkungan kita bisa 52:30 berubah gitu ya, orang tadinya muda jadi 52:33 tua gitu ya, cara melihat kita terkait 52:36 apapun gitu bisa berubah. Tapi kalau 52:38 atribut itu dilepas dari diri kita, 52:40 jabatan, gelar, fasilitas, popularitas, 52:43 apa yang masih orang buat percaya sama 52:45 kita gitu ya. Sebetulnya itulah 52:47 bagaimana personal brand itu diuji, ya. 52:50 bagaimana brand itu yang kuat. Bukan 52:52 cuman pada saat kita punya anak buah, 52:54 punya panggung gitu ya, tapi ketika 52:57 panggungnya sudah berubah gitu ya, 52:59 kompetensi kita tetap dibawa, integritas 53:01 tetap ada, cara memperlakukan manusia 53:04 itu tetap kita ee baik gitu ya. Nah, 53:07 bagaimana pekerjaan orang itu bagaimana 53:10 mengingat kita dan kerjaan kita, semua 53:13 amalan kita itu berdampak gitu ya. 53:15 bagaimana personal branding yang tadi 53:17 dibahas sama Mas Bedi dan ee kita semua 53:20 itu bagaimana membuat nilai yang kita 53:22 miliki itu konsisten gitu ya. Bagaimana 53:25 orang kenal dan bagaimana kita enggak 53:27 perlu jelasin orang sudah tahu dan 53:29 berdampak gitu ya. Mudah-mudahan terus 53:32 sampai generasi-generasi setelah kita 53:34 bahkan kalau kita enggak ada pun itu 53:36 bisa terus dimanfaatkan oleh orang. Itu 53:39 namanya jariah gitu ya. Jadi jangan 53:40 terlalu sibuk membangun personal brand. 53:43 bangunlah pribadi yang layak dipercaya 53:45 gitu ya. Kalau ilmu kita bermanfaat, 53:47 orang itu cari alak kita bagus, orang 53:50 percaya gitu ya. Bagaimana insyaallah 53:52 kita bangun bukan personal branding 53:54 lebih luas dari itu, tapi legasi atau ee 53:59 warisan gitu ya gitu ya. itu mungkin ee 54:02 mudah-mudahan kita semua diberikan 54:04 kekuatan, diberikan ilmu yang 54:06 bermanfaat, dan diberikan nama yang 54:09 insyaallah terus ee baik gitu ya. 54:11 Ilmu-ilmu kita, jariah kita terus 54:13 mengalir. 54:14 Baik, 54:15 baik. Terima kasih Bang Abi, Mas Dedi 54:17 Rahman terima kasih atas sharingnya. 54:21 Masyaallah, mudah-mudahan kita dapat 54:23 pengetahuan jadinya ya tentang branding 54:24 ini. Terima kasih saya Muhammad Krishna 54:27 juga Saputra dan ALG mohon pamit. 54:31 Wabillahi taufik walidah. 54:32 Wasalamualaikum warahmatullahi 54:33 wabarakatuh. Waalaikum