Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Masih bersama kami dalam program acara
- tausiah sore.
- Kajian kitab Riyadhus Shalihin. Bersama
- Ustad Ahmad Shaleh yang di kesempatan
- sore ini kita
- membahas bab baru dengan judul haramnya
- berpakaian sutra
- bagi laki-laki dan tadi Ustad juga
- melengkapi dengan
- eee
- emas dan perak yang juga tidak boleh
- digunakan oleh laki-laki baik sebagai
- perhiasan
- maupun alat kebutuhan sehari-hari. Dan
- dikecualikan untuk wanita
- memakai emas, perak dan sutra
- untuk sebagai perhiasan saja begitu
- Ustad.
- Iya, iya.
- Baik Ustad, sebelum
- kita ke pertanyaan dari para penonton
- yang sudah dikirim.
- Heeh.
- Tadi Ustad menyebutkan salah satu hikmah
- diharamkannya sutra itu
- bagaimana agar muslim ini
- tidak
- bermewah-mewah.
- Naam.
- Gitu. Nah, kalau kita tarik
- ke zaman sekarang gitu Ustad.
- Naam.
- Kan dalam Islam ada kias gitu ya.
- Iya.
- Apakah bisa eee mengharamkan sutra yang
- memang dulu mungkin sangat mahal gitu.
- Dan kalau kita lihat sekarang
- eee maksud jenis kain kan sudah banyak
- yang bahkan bisa terlihat lebih bagus
- dari sutra itu sendiri gitu.
- naam.
- Tapi kalau ditarik kias dengan
- benda-benda lain, misalnya kita melihat
- banyak barang-barang yang mungkin
- namanya aksesoris.
- Iya.
- Tapi harganya pun bisa sangat mahal.
- Kita melihat ada jam tangan yang bisa
- harganya miliaran.
- Naam.
- Tas misalnya, bahkan kendaraan.
- Heeh.
- Apakah bisa disamakan gitu Ustad?
- Naam, masya Allah pertanyaan yang bagus
- sekali. Ikhwan wal akhwat, pendengar
- Radio Silaturahim serta pemirsa Rasiltv.
- Allah subhanahu wa taala atau al Islam
- mengajarkan kepada pemeluknya bahwa
- kalau kita memiliki harta, maka harta
- itu harus dipertanggungjawabkan di sisi
- Allah azza wa jalla. Dengan kata lain
- bahwa harta itu harus dimanfaatkan.
- Dimanfaatkan untuk apa? Kan begitu.
- Jelas bahwa kita diciptakan itu untuk
- bersen- bukan untuk bersenda gurau, tapi
- Allah menciptakan kita untuk ibadah.
- Untuk mengabdi kepada Allah subhanahu wa
- taala. Dalam konteks ini adalah berarti
- kita diciptakan, diberi potensi oleh
- Allah itu untuk mampu menegakkan
- ibadah-ibadah itu.
- Sementara ibadah yang kita pahami adalah
- ibadah dari yang terkecil sampai yang
- terbesar.
- Dari masalah-masalah yang kecil, masalah
- yang soghir maupun hatta al kabir sampai
- yang besar, ini harus diperjuangkan.
- Jadi kalau kemudian sekali lagi,
- meskipun nanti ada batasan-batasan
- kebolehan. Oh, boleh ini boleh boleh.
- Tetapi kalau kita melihat perjuangan
- para sahabat itu kalau sudah terisi
- dadanya dengan dengan tauhid, maka
- bahkan batas kebolehan itu mereka
- abaikan. Mereka ingin senantiasa menjadi
- yang the best of the best.
- Menjadi hamba yang paling
- yang paling dekat, menjadi hamba yang
- paling bersegera untuk diterima
- amalan-amalan nya atau diakui sebagai
- hamba yang diridai oleh Allah subhanahu
- wa taala. Dengan konteks tadi,
- jam tangan harga 2 miliar.
- Saya kira hendaknya kita jangan tertipu.
- Harga 2 miliar dengan harga 50.000,
- fungsinya sama.
- Maka saya katakan jangan tertipu. Muslim
- itu selalu berpikir substansial, gitu
- kan. Bahwa kemudian tapi kan boleh. Bagi
- Anda yang mampu pun memiliki kekayaan
- triliunan, maka 2 miliar menjadi sedikit
- tetapi kalau 2 miliar ini dibelanjakan
- di jalan Allah, ini akan lebih
- bermanfaat nah oleh sebab itu maka,
- sekali lagi mari kita lihat sampai kalau
- kita melihat Rasulullah Shallallahu
- Alaihi Wasallam yang yang dinyatakan
- dalam beberapa nas itu bisa melakukan
- apa saja
- bahkan bisa
- memperagakan atau bahkan mampu diberi
- kesempatan bahkan untuk bisa hidup
- seperti raja
- tapi justru Nabi Yunus Muhammad
- Shallallahu Alaihi Wasallam menolak
- tidak
- aku cukup satu hari kenyang dan satu
- hari lapar
- padahal makan
- ini sudah dijamin makan bagi beliau
- Shallallahu Alaihi Wasallam kerajaan
- juga dijamin dari timur dan barat mau
- diberikan kepada beliau, tapi justru
- beliau mengatakan seperti itu memakna
- apa arti dari itu semua, gitu kan? Nah,
- maka nanti ada pendekatan fikih
- ya yang kemudian kata para ulama
- pendekatan fikih ahkam
- namun juga ada pendekatan fikih dakwah,
- fikih ahkam biasanya ini boleh atau
- tidak boleh gitu kan? haram atau halal
- tapi kan ini halal ya Ustaz? Naam, ini
- halal, gitu kan? tapi dalam pendekatan
- fikih dakwah ini bisa me bisa bermasalah
- enggak atau tidak?
- gitu ya? Jadi sekali lagi banyak faktor
- yang apalagi kemudian dia seorang tokoh
- karena seorang tokoh itu menjadi panutan
- boleh atau tidak, itu jelas ya boleh
- tidak itu nas yang mengatakan halal atau
- haram nas
- tapi kalau kemudian apakah ini menjadi
- kebaikan yang diakomodir oleh sebuah
- komunitas atau tidak, itu seringkali
- tokohnya yang menjadi
- sentral apa namanya? sentral ee
- apa sentral apa namanya sentral rujukan.
- Oleh sebab itu makanya Umar bin
- Al-Khattab ketika se
- sebelum memberikan sebuah kebijakan
- itu mengumpulkan putra-putrinya.
- "Aku besok mau me membuat sebuah
- kebijakan A.
- Siapa yang mentaatinya maka mereka maka
- kalian mendapatkan kemuliaan. Tapi
- barang siapa yang melanggarnya
- aku hukum dua kali lipat dibanding
- makmum biasa."
- Kenapa mesti harus dihukum dua kali
- lipat? Memang beda antara makmum yang
- lain atau rakyat yang lain dengan
- putra-putri Umar bin Al-Khattab?
- Al-jawab naam, sama.
- Tapi karena mereka anak khalifah, anak
- Amirul Mukminin, anak Imamul Muslimin,
- maka ini menjadi tadi sentral rujukan.
- "Oh, anak Amirul Mukminin juga begitu."
- Oh,
- panutan, menjadi sentral panutan. Maka
- oleh sebab itu sekali lagi tadi ada
- pendekatan boleh tidaknya, namun juga
- ada pendekatan fikih fikih dakwahnya.
- Jadi ada dua sisi yang berbeda, ya.
- Kalau orang-orang yang biasanya sudah
- berbicaranya bagaimana pendekatan diri
- kepada Allah, seringkali sudah melampaui
- daripada hukum-hukum haram dan halal.
- Para sahabat tidak lagi bicara halal
- haram, tapi apakah ini akan mendekatkan
- diri kepada Allah atau akan menghalangi?
- Para sahabat ridwanullah alaihim tidak
- lagi berkutat berdebat dengan
- masalah-masalah syubhat.
- Karena yang haram jelas mereka
- tinggalkan, syubhat mereka tinggalkan,
- bahkan yang halal pun mereka kurangi.
- Ini yang kemudian menjadi tolak ukur
- bagi kita sesungguhnya, bagi bagi kita
- yang ingin berjumpa dengan mereka yang
- oleh Allah disebutkan dalam Quran
- radhiallahu anhum waradhu an, maka
- perjalanannya yang sama.
- Tapi kalau kita mau mengukurnya dengan
- tadi saja, maka bisa jadi kita berjumpa
- dengan mereka, tetapi karena jalannya
- tidak sama, bisa jadi kita harus mutar
- terlebih dahulu. Tapi barang siapa yang
- ingin berjumpa dengan Nabi dan para
- sahabatnya yang Allah nyatakan dalam
- Qur'an, radhiallahu anhum waradhi an,
- maka hendaknya kita menempuh jalan yang
- sama dengan mereka.
- Nah, jadi kalau sudah mengatakan ini
- jalan yang sama dengan mereka, maka kita
- kadang tidak lagi membahas ini syubhat
- ataukah haram. Bahkan kita sudah bicara
- apakah ini utama atau tidak utama.
- Gitu ya, bahwa perdebatan yang terjadi
- di kalangan kita harus dipahami juga,
- gitu kan. Namun di sisi lain kita
- orang-orang yang sudah lebih dulu tahu
- memiliki keterbukaan, kelapangan dada
- yang lebih luas.
- Ya, karena tang tingkat kita bukan lagi
- tingkat bicara haram, halal. Ini sudah
- kita lampaui, ya, insyaallah biidznillah
- tabaraka wa ta'ala. Tapi bagi mereka
- yang baru berbicara tentang halal dan
- haram, ya, kita memang harus mengukurnya
- dengan halal dan haram. Ya, jadi kalau
- seperti tadi, kalau dia orang yang
- memiliki kekayaan,
- kemudian dia sudah mengerti, sudah
- bersyahadat, mengerti tentang makna
- syahadatain, maka sebaiknya orang
- tersebut meninggalkan hal-hal yang
- mubadzir dalam pandangan kita. Kata
- mubadzir ini bisa dimaknai bagi kita
- yang sudah mengerti, sudah mencoba yang
- dibicarakan adalah taqarrub ilallah,
- mendekatkan diri kepada Allah, maka
- kemubadziran dimaknai sebuah keharaman.
- Tapi kalau kemudian baru
- melangkah, maka kemubadziran bisa
- dimaknai makruh, begitu. Sesuatu yang
- tidak disukai, dibenci, gitu kan. Nah,
- saya kira pendekatan ini menjadi harus
- dipahami karena tidak semua orang
- memiliki ee tingkat-tingkat
- respon terhadap dalil, terhadap nas itu
- ee sama, jadi berbeda-beda mereka, ya.
- Jadi kalau kemudian misalnya ikhwan
- kita, ya, maksudnya yang sudah
- bersyahadat sudah mengucapkan dua
- kalimat syahadat dan mereka ngerti
- tentang tuntutan-tuntutan dari syahadat
- itu maka sebaiknya dicegah orang
- tersebut. Ya, antum kan sekarang sudah
- menjual diri kepada Allah, dengan begitu
- maka juallah itu di jalan Allah saja.
- Ha, ha, 2 miliar itu lebih baik
- membangun sebuah pondok pesantren
- misalnya, membantu mengembangkan
- pendidikan misalnya, daripada kau hanya
- membelikan itu. Dibelikan satu hal yang
- sesungguhnya fungsinya tidak berbeda
- dengan yang harga 50.000.
- Atau sepatu.
- Atau yang lainnya.
- Gitu kan? Saya kira
- ee bentuk-bentuk perhiasan sekarang di
- apa namanya di kalangan kaum the have
- itu memang sudah beragam, gitu kan?
- Sampai kita juga tidak tahu apa itu
- namanya, gitu kan? Kalangan mereka saja
- tahu namanya apa dan ini sebagainya.
- Tetapi sekali lagi kita melihat dari dua
- kacamata. Ya, pertama jelas kalau sudah
- sudah dia menjual diri kepada, artinya
- dia memang sudah memeluk Islam itu
- dengan penuh pemahaman maka dia sudah
- tidak dibenarkan lagi seperti itu. Namun
- kalau kemudian masih dalam binaan, itu
- yang namanya juga baru mendekat kepada
- Islam, maka kalau kita melihat bagaimana
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- mendekati orang-orang yang belum
- mendapatkan hidayah, belum mendapatkan
- taufik itu, maka Nabi senantiasa
- mempelajari, melihat
- ya, karena memang sejak awal Nabi sudah
- diperintah oleh Allah Iqra, membaca, ya.
- Bukan
- membaca teks, bukan hanya membaca nas,
- tapi juga membaca apapun dan siapapun.
- Gitu ya. Ini saya kira yang dapat saya
- jelaskan. Wallahu a'lam bishawab.
- Baik, kita baca SMS dan WhatsApp yang
- masuk Pak Ustaz. Yang pertama
- ada dua pertanyaan yang
- mungkin bisa digabung ee dari
- Bapak Hamdi 57 tahun di Lampung.
- Nah.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Bagaimana kalau seorang lelaki memakai
- sarung batik yang mungkin maksudnya
- sering tertulis sutra Pak Ustaz.
- Kemudian
- ada lagi Ibu Ema Jufri di Empang Bogor.
- Assalamualaikum Pak Ustaz Ahmad Shaleh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Bagaimana dengan orang yang tidak tahu
- bahwa itu adalah sutra lalu memakainya.
- Bagaimana cara kita memberitahukannya?
- Kemudian satu lagi saya kebetulan asli
- Purwakarta. Ustaz di daerah mananya itu?
- Terima kasih. Oh yang tadi Pak Ustaz.
- Baik, masya Allah. Pertanyaan menarik
- sekali. Yang pertama tentang apa namanya
- tadi?
- Sarung.
- Sarung batik.
- Sarung batik pada dasarnya
- tidak bermasalah. Namun kalau kemudian
- itu dipakai salat menjadi ada
- pandangan-pandangan.
- Jika
- sarung batik itu tidak mengakibatkan
- orang berpaling dari kekhusyuan fala
- ba'sa tapi tidak apa-apa.
- Tapi kalau kemudian mohon maaf pakai
- sarung kemudian mereknya di belakang.
- Nah, kemudian orang di belakang Allahu
- Akbar kemudian dia baca sarung kaza wa
- kaza gitu. Akhirnya bacaan dia
- terpalingkan.
- Dan ini sesungguhnya dalam satu riwayat
- pernah Rasulullah diberikan diberi
- hadiah dari sahabat.
- Baju, namun kemudian ketika beliau salat
- beliau sempat sekali lagi sempat bukan
- terpa bukan terpalingkan ya sempat
- sempat terpalingkan karena takjub kepada
- baju yang diberikannya
- diberikan sahabat maksud saya sahabat
- memberikan baju kepada beliau kemudian
- beliau kemudian memberikan kepada
- sahabat tadi untuk ditukar
- berikan sama si fulan karena ini baju
- ini telah mengganggu aku dalam salat
- nah bisa jadi mohon maaf ini juga
- menjadi beberapa hal oleh sebab itu saya
- ingin sampaikan dulu
- kalau di
- apa namanya jelas kalau jadi jazirah
- Arab itu banyak hal ya latar belakang
- salah satunya kenapa mereka kemudian
- pakaiannya tidak bermotif
- antara itu di antaranya kedua juga
- memang alasan tapi saya yang berhubungan
- dengan ini yang saya ingin kemukakan
- motif karena motif itu
- bisa mengganggu apalagi mohon maaf ya
- tulisannya di belakang besar
- Anda begini begini begini gitu kan atau
- pilihlah nomor sekian gitu kan itu dia
- mendapati
- saf yang kategorinya paling depan
- ya kadang mungkin dia saf kedua atau
- ketiga tapi bagi orang di belakangnya
- paling tidak apalagi kemudian di
- belakangnya ada bacaannya agak panjang
- gitu kan
- Allah mas nah begitu juga seringkali
- kita yang ada di belakang tidak fokus
- kepada tempat sujud
- karena tadi ada sebuah reflek
- reflek penglihatan mengakibatkan
- kemudian kita terus membacanya
- misalnya tulisan kami adalah anak muda
- ini ini ini ini dibaca dibaca jadi
- mestinya inna salati wa nusuki wa
- mahyaya dan seterusnya dia membaca
- justru itu oke jadi kembali kepada
- pertanyaan jika itu bukan untuk salat
- saya kira
- tidak ditemukan ikhtilaf
- silakan selama berhubungan tidak
- berhubungan dengan hukum yang lain ya
- hukum isbal lain kan ikhtilaf tapi kalau
- kemudian
- batik tadi, sarung batik itu dipakai
- salat
- ya
- dan misalnya ee menarik perhatian orang
- di belakangnya, misalnya mohon maaf
- mereknya gitu yang menarik perhatian.
- Kalau cuma sekedar misalnya mohon maaf
- Kak, maka oleh sebab itu kebiasaan
- komunitas di situ seperti apa, itu
- sangat mendukung.
- Kalau bisa Allah di situ pakai sarung
- komunitasnya, pakai sarung biasa yang
- bermotif, ada yang kotak-kotak, ada yang
- lain. Sudah enggak ada masalah. Karena
- insya Allah komunitas tersebut tidak
- akan lagi memperhatikan.
- Tapi kalau sesuatu yang aneh biasanya,
- yang nyeleneh
- gitu kan, nah itu jadi pusat perhatian.
- Misalnya yang lain gamis polos, gamis
- putih, tiba-tiba kita pakai sarung
- sendirian
- dengan motif seperti tadi, maka saya
- yakin itu akan menjadi perhatian.
- Nah, bahkan kemudian bukan hanya sekedar
- jadi perhatian, bahkan ketika salat pun
- sempat dibaca mereknya. Bahkan bisa jadi
- nanti setelah salat nanya ee sampean
- beli di mana gitu, akhirnya ngobrolnya
- masalah itu. Itu bisa terjadi, ya. Jadi
- saya kira
- ini bisa dipahami. Jadi sebenarnya kalau
- dipakai fala basa, tidak ada masalah.
- Ya, hanya saja sekali lagi kalau itu di
- tempat yang mampu memancing gitu kan
- memancing maksud saya, menarik perhatian
- maka hendaknya diganti dengan yang lain.
- Gitu ya, itu yang pertama. Yang kedua
- apa tadi?
- Ee
- bagaimana kalau dipakai tidak tahu yang
- memakai.
- Oke, bagaimana cara memberitahunya?
- Naam.
- Segala sesuatu karena tidak tahu maka
- maafu dimaafkan insya Allah kalau
- masalah-masalah ini. Ya, dimaafkan.
- Bagaimana cara memberitahunya? Kabarkan
- saja. Saya pernah dengar di radio
- silaturahmi dibahas bahwa menggunakan
- sutra itu kalau pertama dia tidak tahu
- bahwa itu sutra, oh tidak ada masalah.
- Ya sebagaimana juga orang menyangka
- bahwa air putih bahwa ee namanya
- misalnya arak itu adalah air putih.
- Kemudian dia meminumnya dengan keyakinan
- bahwa itu air putih. Maka fala ba'sa
- bihi, meskipun kan tidak mungkin seperti
- itu. Ada aroma yang mengakibatkan dia
- bertanya, "Eh, ini kok air putih kok
- baunya begini?" Kan begitu.
- Hanya maksudnya ini ilustrasi gampangnya
- seperti itu. Ada air putih, kita sangka
- bahwa itu adalah air putih, air minum.
- Namun kemudian kita setelah meminumnya,
- loh ada sesuatu, ada hangat-hangat
- sedikit, gitu kan. Nah, maka itu ma'fu
- kalau memang dia tidak tahu. Namun kalau
- setelah tahu, dia jelas, apa namanya
- setelah diberitahu, maka hendaknya dia
- merubahnya. Kalau dia berpakaian jelas
- gampang. Ya, kalau berpakaian tinggal
- ganti baju. Tapi kalau sudah diminum kan
- susah sekali.
- Gitu kan. Maka kalau itu ikuti dengan
- istigfar.
- Ikuti dengan banyak beramal baik,
- bersedekah, gitu kan. Karena
- kebaikan itu adalah menghapus keburukan.
- Sebagian ulama mengatakan bahwa kebaikan
- yang dimaksud adalah taubat. Tetapi
- sebagian lagi mengatakan, "Bukan, bukan
- hanya taubat. Kalau masalah taubat ada
- nas lain yang berbicara." Tapi di sini
- adalah kebaikan, bahwa kebaikan itu akan
- menghapus keburukan-keburukan.
- Ya, jadi ini saya kira yang harus
- dipahami. Jadi kalau dia tidak tahu
- ma'fu, insyaallah. Kalau tidak tahu
- dalam masalah ini.
- Kecuali dalam masalah tauhid.
- Nah, para ulama mengatakan tidak
- dimaafkan kalau tidak tahu masalah
- tauhid. Oleh sebab itu kewajiban bagi
- seorang muslim pertama kali adalah
- mengerti tentang at-tauhid.
- Nah, gitu ya. Tapi kalau masalah-masalah
- seperti ini
- maka sebagian mengatakan ma'fu, ya atau
- paling tidak ya dimaafkan itu ya. He em.
- Nah, kemudian kalau kita ternyata di
- betul bahwa itu misalnya dia ternyata
- tahu bahwa ini adalah sutra dengan
- ciri-ciri kan mereka juga bisa
- mengenalnya.
- Kan sutra itu salah satu ciri yang
- paling sederhana adalah gampang dilipat,
- katanya begitu ya. Ya, banyak hal ya,
- banyak hal ya. Saya kira nanti dapat
- kita lihat informasi dari berbagai
- informasi lain, sumber lain, ciri-ciri
- sutra seperti apa. Nah, kalau sudah tahu
- ya, kasih tahu, ya. Ini sutra, eh sutra
- ya, aduh. Kan kemarin saya dengar di
- Radio Silaturahim dibahas tuh bahwa itu
- tidak boleh. Dalil-dalilnya juga
- dibacakan begitu hadis-hadisnya seperti
- itu. Bahwa kemudian oh enggak, saya
- masalahnya begini, saya pandangan saya
- begini-begini. Dia punya pandangan lain
- begitu ya. Oh, berarti yang jelas kita
- sudah sampaikan bahwa itu adalah sesuatu
- yang diharamkan. Ya, jadi cara
- menyampaikannya, cara mengingatkannya,
- maka Anda lebih mengerti ya, karena
- eh Anda lah yang tahu tentang orang
- tersebut ya. Sementara
- eh kita misalnya kalau misalnya arahan
- secara khusus jelas tidak ada ya, karena
- kita maksudnya saya tidak mengetahui
- orang tersebut. Tapi arahan secara umum
- begitu bahwa pertama ya kita baik-baik
- sampaikan kalau itu apa namanya, kalau
- itu sutra diharamkan di dalam
- hadis-hadis yang begitu banyak ya.
- Demikian saya kira yang dapat saya
- jelaskan. Wallahu a'lam bishawab. Baik,
- kemudian kita ke SMS lainnya.
- Ini ada satu permintaan Pak Ustaz dari
- Arul Khairul di Batam.
- Assalamualaikum Pak Ustaz.
- Saya minta tolong didoakan supaya cepat
- dapat jodoh yang salehah.
- Masyaallah, amin amin amin. Iya, baik.
- Ini permintaan yang bagus sekali ya.
- Namanya minta doa ya kita enggak boleh
- pelit. Ya, kita doakan ya. Siapa
- namanya?
- Khairul.
- Khairul, Allahumma
- anugerahkan kepada Khairul istri yang
- salehah.
- Istri yang dapat mendekatkan mereka
- kepada jalanmu, kepada ridhomu. Amin
- Allahumma amin. Ya, ini saya kira ya,
- sederhana sekali insyaallah.
- Amin ya rabbal alamin. Nah,
- doa juga mungkin buat pendengar pemirsa
- yang lain.
- Yang lain, ya. Kum, ya, buat yang lain
- juga, ya. Jadi, bukan hanya eee siapa
- penanya?
- Khairul.
- Khairul, Khairul, Khairul, Khairul
- mungkin yang dimaksud, ya. Khairul, ya.
- Yang saya maksudkan penanya, ya.
- Khairul, juga para pemirsa,
- para pendengar yang belum memiliki
- pasangan, semoga Allah berikan pasangan
- yang sah. Kalau dia muslimat mendapatkan
- suami yang saleh, yang bertanggung
- jawab, yang mampu membawa ke jalan rida
- Allah. Kalau dia seorang lelaki, seorang
- muslim, semoga Allah berikan pasangan
- yang salehat.
- Yang yang mampu mendukung perjuangannya,
- sehingga mereka sampai ke dalam rida
- Allah tabaraka wa taala. Demikian saya
- kira, ya.
- alamin.
- Eee kita ke SMS lainnya dari
- Ibu Wulan di Bekasi. Ini mengenai
- masalah suami istri, masalah keluarga,
- ya. Eee asalamualaikum, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Maaf bertanya di luar tema, karena saya
- bingung.
- Bagaimana hukumnya jika saya dan suami
- ingin mendaftar haji, tapi ibu mertua
- ingin suami membeli tanah pamannya yang
- akan dijual. Eee sehingga tabungan
- persiapan haji tersebut harus saya
- belikan tanah.
- Suami sangat ingin membuat senang
- ibunya, karena menurut suami harta anak
- adalah harta orang tua. Dan tabungan
- haji itu sebagian juga warisan dari ibu
- kandung saya.
- Naam.
- Bagaimana saya harus bersikap? Mohon
- sarannya.
- Bentang.
- Sesungguhnya pertama, bisa
- dikomunikasikan terlebih dahulu dengan
- mertua.
- Ya, bahwa haji itu sebuah kewajiban yang
- harus ditunaikan jika memang dia sudah
- mampu.
- Ya, dan kedua, insya Allah, pulang haji
- Allah ganti.
- Yakinkan itu kepada ibu mertua, ya, atau
- lewat suami enggak masalah. Tapi kalau
- suami punya pandangan seperti itu juga
- tidak masalah.
- Memang benar bahwa harta dia harta
- ibunya juga.
- Dia ingin mendapat rida Allah melalui
- rida ibunya, gitu kan? Tidak mengapa.
- Kalau kemudian tadi penjelasan pertama
- masih tetap ibunya pokoknya menin, fala
- ba'sa bihi, tidak apa-apa, gitu kan?
- Sampaikan apalagi kemudian tabungan tadi
- belum sampai ke tingkat mampu
- memberangkatkan
- kita misalnya ke tanah suci. Berarti
- statusnya belum kategori mampu.
- Gitu, ya.
- Tetapi kalau kemudian ibunya setelah
- dijelaskan, "Bu, ini memang persiapan
- untuk haji."
- Gitu kan? Persiapan untuk haji. Nah,
- doakan mudah-mudahan nanti sepulangnya
- saya menunaikan ibadah haji, insyaallah
- Allah ganti dengan yang lebih baik.
- Bukan hanya tanah punya paman, tanah
- siapa pun yang ada insyaallah akan
- dibelikan oleh Allah untuk kita, gitu
- ya.
- Tapi kalau kemudian keyakinan itu,
- penjelasan itu kemudian juga belum bisa
- diterima, maka sebaiknya jangan mencari
- masalah dengan ibu.
- Gitu kan? Cukuplah apa namanya, memenuhi
- keinginan ibu, tidak mengapa.
- Apalagi kemudian tadi ibu kita sudah
- tahu bahwa kita punya harta karena
- memang sebagian dari waris, saya kira
- mungkin bukan warisan, warisan dari
- bapak mungkin atau saya tidak tahu
- persis apakah itu warisan dari ayahnya,
- ayahnya sudah meninggal atau gimana,
- gitu kan? Kalau warisan itu kan sudah
- meninggal.
- Berarti mungkin bukan warisan, bisa jadi
- mungkin itu hibah.
- Atau mungkin itu hadiah, gitu tetapi
- dalam masa hidup paling hibah kalau
- memang tetapi ini ber berupa uang juga
- ya, tapi enggak apa-apa lah. Ya, intinya
- adalah seperti tadi.
- Kata kuncinya adalah
- jangan menyakiti ibu, gitu kan? Bahwa
- kemudian dengan pertimbangan tadi karena
- toh juga kalau tetap dialokasikan untuk
- haji belum sampai ke tingkat mampu.
- Kalau itu masih di tabungan dan belum
- memenuhi, gitu ya. Jadi itu saya kira.
- Kemudian tadi ada yang terlewat, Ibu
- siapa yang nanya tentang Purwakarta?
- Iya, Ibu eh Emma Jufri.
- Ah, Ibu Emma. Jadi kami kemarin di
- Masjid Baing Yusuf. Ya, ya ya di ini di
- komplek eh apa namanya pemerintahan
- Kabupaten Purwakarta.
- Ah, di situ ya. Di situ ada masjid
- namanya Baing Yusuf, ya Ibu mungkin
- tahu.
- Abah Aing, Baing itu dari kata Abah
- Aing. Abah Aing itu Bapak Kami.
- Ya, Syekh Yusuf sesungguhnya aslinya ya
- penyebar eh risalah Islam di Pasundan di
- Parahyangan termasuk di Purwakarta
- maksudnya, ya. Jadi itu sebagai
- tambahan, ya atas tadi pertanyaan dari
- Ibu
- Emma Jufri.
- Mak, ya. He em. He em. Demikian. Wallahu
- a'lam bishawab.
- Baik, semoga
- memberikan solusi dan pencerahannya
- untuk Ibu Bulan di Bekasi yang bertanya.
- Kemudian pertanyaan dari Ibu Umi di
- Jakarta. Assalamualaikum, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Bagaimana cara agar anak mau baca
- Alquran tanpa dipaksa?
- Masya Allah.
- Ini
- kasus ini bukan hanya dihadapi oleh
- siapa tadi? Ibu siapa?
- Umi.
- Ibu Umi. Ah, masya Allah Ibu Umi ya.
- Bapak Abu. Ah, Ibu Umi.
- Ibu Umi masya Allah bertanya menarik
- sekali bagaimana caranya agar anak ini
- mau baca Quran tanpa harus dipaksa.
- Maka sampaikan kepada suami kita
- agar suaminya
- menyempatkan waktu tadarus bersama
- keluarga.
- Ya, istrinya gitu kan, anaknya. Baca
- tadarus. Ya, maksudnya tadarus, baca
- Qur'an.
- Nah, nanti kalau itu sudah menjadi satu
- jadwal yang tetap gitu kan, insya Allah
- tidak akan
- dipaksa-paksa lagi. Awal-awal memang
- diajak, ayo kita tadarus dulu,
- mudah-mudahan rumah kita ini semakin
- diberkahi oleh Allah, mudah-mudahan
- karena ternyata faedah dari membaca
- Qur'an ini dahsyat sekali, gitu kan.
- Dahsyat sekali lah, ya. Karena silakan
- nanti bisa lihat artikel-artikel
- penelitian-penelitian tentang
- eh tadarus Qur'an, tentang membaca
- Qur'an, ya, baik itu secara sir maupun
- secara jahr, ya, silakan. Itu insya
- Allah dapat kita petik
- manfaat-manfaatnya, ya. Kalau anaknya
- masih kecil, jelas harus dibimbing
- dengan kelembutan.
- Karena metode kita sekarang memang harus
- memadukan antara kelembutan yang tegas,
- ya. Bukan kekasaran, tetapi kelembutan
- namun tegas. Bagaimana? Saya kira
- masing-masing memiliki metodologi gitu
- pengajaran terhadap putra-putrinya.
- Saya kira ini jadi saran saya, adakan,
- ya, agar supaya tidak semua, adakan satu
- waktu, misalnya kapan bisa ngumpul baca
- Qur'an bersama-sama. Gantian pertama
- bapaknya, kemudian ibunya, kemudian
- anaknya, dan seterusnya dari kakaknya
- terus sampai adiknya. adalah seringkali
- justru yang berperan biasanya ibunya.
- Bapaknya bahkan bacaannya juga
- ah, kan, bacaannya juga tidak begitu
- benar, ini juga masalah. Nah, kalau
- begitu seorang bapak harus berusaha
- belajar baca Qur'an di luar rumahnya.
- Hmm. Karena kalau belajar
- selagi tadarus begitu kemudian dituntun
- oleh ibunya bisa jadi argumentasi bagi
- anak-anaknya, gitu kan. Ah, bapak aja
- udah tua begitu belum bisa baca Qur'an,
- Aku saja nanti saja kalau sudah usia
- seperti Bapak aku baca Quran, belajar
- Quran. Nah, sekali lagi. Jadi,
- tidak salah sesungguhnya belajar
- langsung kepada istri. Ini karena
- fakta-fakta seperti itu.
- Tapi lagi-lagi tadi,
- ini menjadi preseden kurang baik kalau
- kita memikirkannya dari sudut yang
- negatif. Tapi bisa juga begini
- pemahamannya. Kalau kemudian anak kita
- diberi hidayah oleh Allah, tuh kan.
- Bapak kita sudah tua begitu saja masih
- mau belajar baca Quran sama Ibu.
- Jadi sesungguhnya ada negatif dan
- positifnya. Sangat tergantung kemudian
- anak kita ini kebiasaan melihat sesuatu
- itu gimana.
- Kalau tadi kan kalimat pertama
- negatifnya, ih si Bapak saja sudah tua
- begitu baru belajar Quran.
- Namun kemudian ada kalimat, iya masya
- Allah si Bapak ya, sudah tua begitu saja
- masih mau belajar Quran sama Ibu.
- Sisi pandang, sisi pandangannya.
- Nah, jadi sisi pandang. Maka kalau dalam
- motivasi-motivasi itu bagaimana kita
- merubah dua pandangan tadi cuma satu
- pandangan yang positif. Misalnya gelas
- sudah berisi air
- setengahnya. Pandangan pertama
- mengatakan gelas itu baru terisi
- setengahnya.
- Tapi pandangan lain mengatakan gelas itu
- sudah terisi setengahnya.
- Hmm.
- Faktanya sama, tapi pandangannya
- berbeda. Yang satu mengatakan sudah
- terisi, yang satu baru terisi.
- Kalimat ini pun bisa dimaknai
- bermacam-macam.
- Gitu kan.
- Kalau sudah terisi berarti dia apa
- namanya,
- sudah apa namanya, sudah upaya dianya
- berarti ada manfaatnya, ada faedahnya,
- ada gunanya, atau ada buktinya bahwa
- kerja dia sudah menghasilkan
- setengahnya.
- Tetapi juga bisa dimaknai positif juga
- yang tadi yang baru setengahnya. Agar
- dia senantiasa terus untuk memenuhinya
- karena baru terisi setengahnya. Dia
- tetap bekerja terus-menerus sehingga ter
- sehingga penuh mem, apa namanya, mampu
- memasukkan apa, memasukkan air ke dalam
- gelas. Misalnya dalam sebuah perlombaan
- kan harus ngisinya pakai sedotan, gitu
- kan. Nah, dua-duanya bisa kita maknai
- positif. Oleh sebab itu sesungguhnya
- Islam membangun kita, membangun
- paradigma kita, pemikiran kita, agar
- senantiasa positive thinking atau
- husnuzan.
- Ya, positive thinking atau husnuzan
- dalam setiap peristiwa. Sehingga
- ada diantara tokoh yang terkenal
- menyatakan bahwa
- "Saya tidak tahu apakah ini apa namanya,
- apakah ini
- eh, azab, eh, apakah ini musibah,
- ataukah
- eh, apa namanya, rahmat.
- Tetapi aku tetap berkeyakinan bahwa
- Allah pasti memberikan yang terbaik
- kepadaku."
- Jadi, misalnya seseorang hartanya
- dicuri.
- Orang tersebut mengatakan, "Saya tidak
- tahu apakah ini musibah dicuri ini
- ataukah justru
- rahmat Allah?"
- Gitu kan? Kan ada orang yang justru
- menjadi bertobat, semakin dekat kepada
- Allah dengan cara hartanya dicuri.
- Tapi ada orang yang kemudian, ya kan,
- harta itu memang diperuntukkan untuk
- jihad fisabilillah, untuk membangun
- sesuatu yang lebih bermanfaat, tapi
- kemudian dicuri. Nah, kita tidak mampu
- menilai secara hakikat itu apa
- sesungguhnya. Maka kemudian kita
- katakan, "Saya tidak tahu apakah ini
- musibah atau rahmat." Tapi yang jelas
- saya berbaik sangka kepada Allah, Allah
- pasti akan memberikan yang terbaik.
- Gitu. Jadi, tidak setiap tidak lulus itu
- merupakan bencana.
- Tidak lulus, baik lulus masuk sekolah,
- kuliah, atau tidak masuk kerja.
- Bukan berarti bencana.
- Atau bisa juga tidak setiap penerimaan
- kita, kita diterima di lembaga sekolah
- manapun yang kita keinginkan, itu
- menunjukkan rahmat, belum tentu.
- Nah, tetapi kita tetap harus berbaik
- sangka.
- Kalau kita diterima di sebuah lembaga
- atau di sebuah, alhamdulillah ya Allah
- mudah-mudahan tempat ini mendatangkan
- keberkahan. Nah, gitu. Tapi kalau
- ditolak, oh bisa jadi Allah membebaskan
- aku dari tempat itu karena bisa jadi
- jika aku ada di situ
- aku tidak dapat memanfaatkan kebaikan
- itu. Gitu, jadi senantiasa apa ya,
- positif thinking atau tadi yang disebut
- dengan bahasa kita husnuzan, ya baik
- sangka kepada Allah. Demikian saya kira
- yang dapat saya jelaskan atas pertanyaan
- dari siapa tadi?
- Eee
- Eee Ibu Umi.
- Ibu Umi, ya jadi demikian Ibu Umi. Yang
- paling penting juga kalau itu tidak
- misalnya bapaknya orang sibuk
- macam-macam, ya beri contoh sama Ibu,
- ya. Ajak Nak, sini Nak ayo ngaji sama
- Ibu.
- Enggak mau ya sudah enggak usah. Tapi
- Ibu baca saja, apalagi kemudian Ibu
- bacanya dengan bagus
- bisa jadi nanti bisa menggetarkan jiwa
- anak kita. Ya, karena ada sinyal-sinyal
- yang yang keluar ketika Quran itu dibaca
- bahkan ba- kalau ini bisa jadi anak-anak
- kita menjadi terbiasa mendengar bacaan
- Quran karena ibunya sering baca Quran.
- Ya.
- Penelitian-penelitian banyak menunjukkan
- bahwa bacaan Quran itu mempengaruhi
- ketenangan jiwa.
- Bukan hanya yang membacanya tetapi juga
- pendengarnya.
- Penelitian-penelitian dilakukan terhadap
- dua bayi.
- Satu dibacakan Alquran dengan suara yang
- begitu merdu. Yang satu dibacakan
- kemudian eee apa namanya musik-musik
- yang keras. Maka kemudian ternyata
- penelitian se- selanjutnya, maka
- karakternya ini lebih stabil, lebih
- tenang. Tapi yang ini yang tadi
- musik-musik keras
- eee ternyata jiwanya begitu sta- apa
- instabil atau tidak stabil ya. Nah, saya
- kira ini
- silakan Anda misalnya cari beberapa di
- WA memang sempat viral, juga di eh apa
- di langit bisa dilihat di search aja
- misalnya ada seorang anak yang nangis
- begitu kan, sedang nangis dibacakanlah
- murotal Alquran tiba-tiba dia diam.
- Ya, padahal nangisnya ngamuk begitu ya,
- tetapi demikianlah masyaallah. Nah, ini
- saya kira
- tidak masalah Ibu membacanya
- kemudian akan didengar oleh putra-putri
- Ibu meskipun belum terenyuh pada waktu
- awalnya, tapi insyaallah Ibu yakin pada
- kesempatan kedua ketiganya insyaallah
- putra-putri Ibu pun akan tertarik dengan
- bacaan Alquran insyaallah. Demikian saya
- kira yang dapat saya jelaskan
- wallahualam
- bissawab.
- Baik, masyaallah dan alhamdulillah atas
- jawaban satu saya sebenarnya masih
- sangat banyak Ustad SMS yang dikirimkan
- ikhwan-ikhwan namun
- Masyaallah.
- kita dibatasi oleh waktu
- La haula wala quwwata illa billah.
- menit
- He em.
- menunjukkan
- sebagai
- eh penutup Ustad, kesimpulan
- Naam.
- Kesimpulan dapat yang dapat saya
- kemukakan tentang bahasan tadi, pertama
- bahwa syariat mengharamkan dalam hal ini
- hadis-hadis yang hasan lagi sahih
- mengharamkan beberapa macam ya, yaitu
- Alharir sutra, dzahab emas, kemudian
- fidhoh bagi ini bagi lelaki ya, bagi
- lelaki.
- Eh kemudian alas dari sutra juga tidak
- dibenarkan.
- Kedua
- maksud dari itu semua agar umat Islam
- eh tidak terjebak dengan sifat-sifat
- yang eh luar atau kulit. Dia tidak boleh
- mendahulukan memperbagus kulit sementara
- akidah,
- rohani,
- bagian dalam substansi kita tidak pernah
- diperbagus. Nah, ini dalam rangka paling
- tidak, kalau tidak kita mampu
- memperbagus ruhiyah,
- paling tidak seimbang antara ruhiyah
- dengan yang lainnya. Meskipun dari
- berbagai kitab yang saya baca, para
- ulama memfokuskan dalam memperbagus
- ruhiyah.
- Ya, jadi ini. Jadi, jangan sampai
- kemudian dengan itu semua
- eh fokus kita menjadi masalah-masalah
- kulit, masalah-masalah yang tidak
- bermakna sesungguhnya, ya. Jadi, ini eh
- saya kira yang dapat saya simpulkan dari
- pembahasan bab yang telah kita bahas
- ini. Ya, demikian saya kira yang dapat
- saya kemukakan. Wasallallahu ala
- nabiyina Muhammadin walhamdulillahi
- rabbil alamin. Subhanakallahumma
- wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaih. Al-afwu
- minkum. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakallah khairan, terima
- kasih banyak
- Pak Ustaz atas kehadirannya, masih
- menyempatkan waktu untuk memberikan ilmu
- kepada kita semua di sore hari ini.
- Semoga bermanfaat.
- Allah membalas dengan pahala yang
- berlipat ganda dan juga
- kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan
- dan sampaikan juga kepada
- saudara-saudara kita yang lain yang
- belum mendengarkan.
- Dan terima kasih atas kebersamaannya di
- sore hari ini. Dan kami mohon maaf yang
- sebesar-besarnya
- bagi penanya yang tidak dapat kami
- bacakan SMS maupun WhatsApp-nya karena
- keterbatasan waktu. Simak terus tausiyah
- sore, kajian kita periode sore ini
- setiap hari Jumat jam 4 sore.
- Terakhir, kami yang bertugas, saya Jabir
- Zulfikar. Ada
- Dedy, ada Yusuf Subangkit, ada Zen dan
- juga teman-teman di daerah yang bertugas
- undur diri, mohon maaf apabila ada
- kekurangan dan kesalahan dalam
- membawakan acara ini. Kita tutup
- subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
- alla ilaha illa anta astagfiruka wa
- atubu ilaih. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.