Dari 11 Ribu Pendaftar, Hanya 40 yang Lolos: Kisah Haru Petugas Haji Indonesia yang Rela Menggendong Jamaah di Tanah Suci

Makkah, Rasilnews – Di tengah jutaan umat Islam yang memadati Tanah Suci setiap musim haji, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka bukan jamaah, melainkan petugas haji yang siang dan malam memastikan para tamu Allah dapat beribadah dengan aman dan nyaman.

Salah satunya adalah Denny Rahman, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 yang bertugas di Sektor 2 Makkah. Baginya, menjadi petugas haji bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah besar untuk melayani para tamu Allah SWT. Dirinya masih berada di Kota Makkah ditengah tugasnya sebagai petugas PPIH Arab Saudi 2026.

“Jamaah haji adalah tamu Allah. Kami merasa sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk melayani mereka,” ujar Denny via telp dengan Radio Silaturahim,

Di balik keramaian dan kekhusyukan ibadah haji, ada banyak kisah yang jarang diketahui publik. Denny menceritakan bagaimana petugas haji sering kali harus mengesampingkan kenyamanan pribadi demi membantu jamaah yang membutuhkan pertolongan.

Tak sedikit petugas yang harus mendorong kursi roda berjam-jam, membantu jamaah lansia berjalan, bahkan menggendong jamaah yang tidak mampu melanjutkan perjalanan ibadahnya sendiri.

Pemandangan seperti itu, menurut Denny, bukanlah hal yang langka selama musim haji berlangsung.

“Kadang ada jamaah yang kelelahan, ada yang sakit, ada yang bingung mencari rombongannya. Dalam kondisi seperti itu petugas harus hadir dan siap membantu kapan saja,” ujarnya.

Banyak orang mengira tantangan terbesar petugas haji adalah suhu ekstrem Arab Saudi yang bisa mencapai puluhan derajat Celsius. Namun menurut Denny, tantangan sesungguhnya justru datang dari keragaman karakter jamaah.

Ribuan jamaah Indonesia yang datang ke Tanah Suci berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tenang saat menghadapi masalah, tetapi ada pula yang mudah panik ketika mengalami kendala.

Situasi itu menuntut petugas untuk memiliki kesabaran ekstra, kemampuan komunikasi yang baik, dan empati yang tinggi.

“Petugas harus siap menghadapi siapa saja dan dalam kondisi apa saja. Kami harus tetap tenang sekalipun jamaah sedang panik atau marah,” katanya.

Meski berbagai tantangan harus dihadapi, Denny menilai kinerja petugas haji Indonesia tahun ini layak mendapatkan apresiasi tinggi.

Menurutnya, para petugas bekerja dengan penuh dedikasi dan ketulusan. Mereka tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga terlibat langsung membantu jamaah di lapangan.

Jika diminta memberikan penilaian, Denny bahkan memberi skor antara 90 hingga 95 untuk kinerja petugas haji Indonesia.

“Para petugas bekerja dengan hati. Mereka memperlakukan jamaah seperti orang tua sendiri,” ungkapnya.

Menariknya, perjalanan Denny menjadi petugas haji tidaklah mudah.

Ia mengungkapkan bahwa proses seleksi petugas haji berlangsung sangat ketat. Dari sekitar 11 ribu orang yang mendaftar, hanya sebagian kecil yang berhasil lolos.

Bahkan untuk formasi pembimbing ibadah haji, jumlah yang diterima hanya sekitar 40 orang.

Setelah lolos seleksi administrasi, peserta masih harus menghadapi tes berbasis komputer, wawancara, hingga berbagai pelatihan fisik, mental, dan teknis sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.

“Persaingannya sangat ketat. Setelah dinyatakan lulus pun kami masih harus mengikuti berbagai pembekalan sebelum bertugas,” tuturnya.

Bukan Cita-Cita, tetapi Jalan Takdir

Hal yang mungkin mengejutkan, menjadi petugas haji ternyata bukan cita-cita Denny sejak awal.

Ia mengaku lebih sering membayangkan dirinya datang ke Tanah Suci sebagai jamaah biasa. Namun kesempatan menjadi petugas haji datang dan akhirnya ia memandangnya sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Saya percaya ini adalah takdir dan kesempatan yang Allah berikan. Karena itu saya berusaha menjalankan tugas ini sebaik mungkin,” katanya.

Menjelang berakhirnya musim haji, Denny memiliki harapan sederhana namun mendalam bagi seluruh jamaah Indonesia.

Menurutnya, kemabruran haji tidak hanya terlihat saat berada di Makkah atau Madinah, tetapi justru setelah jamaah kembali ke Tanah Air.

Ia berharap nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, dan persaudaraan yang dipelajari selama berhaji dapat terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga seluruh jamaah memperoleh haji yang mabrur dan seluruh pengorbanan yang telah dilakukan selama menjalankan ibadah haji mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT,” ujarnya.

Di tengah jutaan langkah kaki yang bergerak menuju ridha Allah di Tanah Suci, kisah para petugas haji seperti Denny menjadi pengingat bahwa ibadah haji tidak hanya tentang mereka yang berangkat sebagai jamaah, tetapi juga tentang mereka yang dengan tulus mengabdikan diri untuk melayani sesama.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *