Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahimahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan dan
- akhwat pendengar Radio Silaturahim dan
- juga pemirsa Rasil TV yang dirahmati
- Allah. Alhamdulillah kita kembali
- berjumpa Iwan akhwat di Senin malam hari
- ini tanggal 14 Jumadil Akhir 1446
- Hijriah atau tanggal 16 Desember 2024.
- Kembali hadir acara tadabur Al-Qur'an
- bersama Ustaz Doni Amir Sagap yang
- alhamdulillah telah bergabung bersama
- kami di sini. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Kak Pari. Apa kabar, Ustaz?
- Alhamdulillah. Alhamdulillah sehat ya.
- Setelah sekian lama nih enggak live nih,
- kita kembali lagi siaran live hari ini,
- Ustaz, ya. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
- Tema yang akan disampaikan adalah
- mengenai metode dakwah adalah juga
- dakwah gitu ya. Iya. Kita akan
- bersama-sama simak Iwan akhwat dan nanti
- yang ingin bergabung bertanya silakan
- Anda bisa kirimkan melalui WhatsApp kami
- di
- 0811999720. Tapad Ustaz. Baik, terima
- kasih Kang Fahri. Ee ikhwan akhwat
- sekalian, Bapak Ibu yang dirahmati Allah
- di mana pun berada.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillah.
- Alhamdulillahilladzi anzal sakinata
- fiubil
- mminin liydadu imanan
- maimillahi
- junudamawati
- [Musik]
- wallahuimanakatu wasalam
- alahmatanilamin asofya wal mursalin waa
- alihi wasbihi ajma amma
- ba maasiral muslimin wal muslimat
- rahimakumullah ikhwan akhwat para
- pendengar Radio Silaturahim, demikian
- pula para pemirsa Rasil TV di mana pun
- berada. Alhamdulillah, segala puji bagi
- Allah kita kembali bisa ee bersua,
- berjumpa ee lewat udara atau lewat layar
- ya. Tapi di mana pun kita berada pada
- malam pada kesempatan malam hari ini
- niat kita sama. yakni kita ingin ee
- membuka hati, membuka pikiran kita untuk
- masuknya ayat-ayat Al-Qur'an,
- mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an sehingga
- semoga dengan demikian Allah menjadi
- rida kepada kita dan kita bisa
- mendapatkan pelajaran dari Al-Qur'anul
- Karim sebagai pedoman petunjuk kehidupan
- kita.
- Selawat dan salam mari senantiasa kita
- sampaikan, kita curahkan kepada
- junjungan kita, quduwah hasanah kita,
- yakni Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam. Demikian pula kepada
- seluruh keluarga dan sahabat-sahabat
- beliau. Semoga kita pun istikamah, terus
- kita belajar, terus kita mengamalkan dan
- mendakwahkan nilai-nilai yang beliau
- sallallahu alaihi wasallam telah ajarkan
- untuk hidup kita di atas dunia
- ini. Baik, ikhwan- akhwat sekalian,
- Bapak, Ibu yang dirahmati Allah.
- Kesempatan ee malam hari ini kita akan
- membahas satu ayat Al-Qur'an yang
- berkaitan dengan ee metode dakwah. Ee
- jadi judulnya metode dakwah itu adalah
- juga
- dakwah. Jadi saya langsung saja to the
- poin ya. banyak ee jemaah, banyak
- curhatan ya, banyak persoalan yang ee
- sampai kepada kami, kepada saya
- terutama mengenai bagaimana berdakwah
- ya, terutama kepada mungkin keluarga ya,
- kepada anak ya,
- kepada anak-anak muda kita sekarang ya
- ee banyak ee kendala, banyak hambatan
- dan lain sebagainya. Kenapa? Kenapa itu
- terjadi sebetulnya? Ya, karena berdakwah
- itu kan sebetulnya adalah tugas kita
- semua. Jadi kalau zaman dulu umat
- terdahulu tugas dakwah itu hanya kepada
- nabinya saja, kepada rasulnya saja. Tapi
- kalau kalau kita umat akhir zaman,
- setelah Rasul kita wafat, setelah Nabi
- Muhammad wafat, tidak ada nabi lagi.
- Nah, oleh karenanya risalah atau tugas
- dakwah itu bersambung ee berestafet
- kepada kita. Itulah yang membedakan kita
- dengan umat-umat yang terdahulu. Nah,
- oleh karenanya walaupun tentu ee
- spektrum atau luasnya dakwah kita
- masing-masing tentu berbeda-beda. Tapi
- setidaknya kepada keluarga kita, ahli
- keluarga kita, sebagaimana disebutkan
- dalam surah at-Tahrim surah ke-66 ayat
- yang keenam itu kalimat Allah
- azubillahiminasyaitanirrajim.
- Ya ayyuhalladina amanu anfusakum wa
- ahlikum
- waarikatunidadumun. Wahai orang beriman,
- jagalah. Nah, itu perintah Allah.
- Berhati-hatilah, jagalah, cegahlah diri
- kalian dan juga ahli keluarga kalian
- dari api neraka. maksudnya mencegahnya
- itu adalah dengan mendakwahi mereka.
- Nah, jadi dakwah itu adalah kewajiban
- bagi kita menyambung estafet para rasul
- terdahulu. Karena khusus umat akhir
- zaman, khusus kita ini, nabi kita tidak
- ada lagi dan tidak ada nabi lagi setelah
- beliau. Maka tugas dakwah itu bersambung
- kepada
- kita. Nah, kenapa terkendala dalam
- dakwah kita?
- Terutama tadi saya katakan kepada
- anak-anak muda, kepada anak-anak kita
- ya. Kadang kita suka menjalahkan ee
- zaman, oh zamannya sudah beda nih. Tapi
- sesungguhnya dakwah itu tetap sama saja
- di zaman mana pun tetap sama. Karena
- dakwah adalah dakwah. Mungkin ee malam
- hari ini mungkin metodenya lah yang
- harus kita perbaiki. Nah, isinya tentu
- sama, isinya tentu baik gitu ya.
- misalkan mengajak anak untuk salat,
- mengajak anak untuk ee apa ee ingat
- Al-Qur'an dan lain sebagainya. Tapi
- mungkin metodenya ini yang perlu kita ee
- garis bawahi dan perlu kita ee
- evaluasi. Bapak, Ibu yang dirahmati
- Allah, ikhwan akhwat sekalian, saya
- ingin tampilkan ayat yang yang kita yang
- akan kita tadaburi pada malam hari ini,
- yakni surah An-Nahl, surah ke-16 ayat
- ke-125.
- Silakan bagi Bapak, Ibu, Ikhwan akhwat
- sekalian, para pendengar Radio
- Silaturahim maupun para pemirsa Rasil
- TV. Kalau Bapak Ibu ingin membuka
- mushafnya masing-masing, silakan. Kita
- akan mentadaburi surah ke-16, surah
- An-Nahl ayat
- ke-125. Ya, kalimatnya begini, Bapak,
- Ibu ya. Kalau yang Rasil yang
- menyaksikan Rasil TV atau dari YouTube
- bisa dilihat di layar. Ada kami
- tampilkan ada saya
- tampilkan kalimatnya. Pelan-pelan kita
- buka ya.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim. Udu. Ee
- udu itu ee diambil dari kata daa yadu
- duuwan yang artinya
- dakwah. Lalu menggunakan fi'il amr atau
- perintah kepada kita semua.
- Ada sebuah ee kaidah
- tafsir yang menyebutkan bahwa semua
- fi'il amr di dalam Al-Qur'an itu artinya
- wajib. Ya, artinya
- wajib. Maka demikian pula surat An-Nahl
- ayat 125 ini ketika Allah mengatakan udu
- ee dakwahilah atau ajaklah orang. Ee
- tentu ee tadi spektrumnya beda-beda kan.
- lapangannya beda-beda. Setidak-tidaknya
- adalah keluarga kita, ahli keluarga
- kita. Surat at-Tahrim tadi ayat yang
- keenam. Udu. Ya, wajib bagi kita untuk
- mendakwahi semua orang yang ada dalam
- tanggungan kita. Tentu saja. Ah, lebih
- luas lagi mungkin kalau kita ee apa
- punya kewajiban misalkan jadi pimpinan.
- Nah, berarti yang di bawah kita itu juga
- menjadi mad'u istilahnya atau objek
- untuk didakwahi. Demikian pula kalau
- guru-guru para para asatiz, para
- asatizah misalkan ya, guru-guru, para
- ustaz. Nah, lebih luas lagi tuh
- spektrumnya. Tapi kalaupun kita bukan
- ustaz, kalaupun kita bukan pimpinan dan
- lain sebagainya, tetap kita memiliki
- kewajiban setidak-tidaknya kepada
- keluarga kita.
- Lalu Allah lanjutkan kalimatnya. Udu ila
- sabiliik. Ya, dakwahilah manusia orang
- tadi sesuai dengan tanggung jawab kita.
- Ke mana? Ila sabilibik. Kepada jalan
- Tuhanmu. Nah, kalau ini sih kita sudah
- mungkin kita sudah pahamlah ya. Udu ila
- sabiliik. Nah, yang menjadi perhatian
- atau yang mungkin menjadi evaluasi bagi
- kita selama ini adalah lanjutan ayatnya.
- Ada ada kalimat bil ee ba itu ee apa
- artinya dengan ee jadi maksudnya begini
- dakwahnya tadi fi'il amr perintah wajib
- artinya itu kan wajib wajib berdakwah
- tapi dengan adanya kata-kata dengan di
- sini
- bi alhikmah atau bil hikmah wal mauah
- dan seterusnya ya. Nah, artinya bahwa
- dalam ayat ini dakwah itu wajib.
- Demikian pula metodenya pun wajib ikut
- seperti yang Allah Subhanahu wa taala
- sudah
- tetapkan. Nah, ini metodenya dirinci nih
- oleh Allah. Di sini tuh, Bapak, Ibu yang
- dirahmati Allah. Dalam ayat ini ada
- rincian metodenya.
- Maka itu kalau metodenya tidak kita
- pakai, maka yang salah bukan bukan isi
- dakwahnya. Yang salah juga mungkin bukan
- madunya, bukan penerima dakwahnya. Boleh
- jadi yang salah adalah dainya alias
- kita. Kenapa? Karena kita tidak pakai
- metode yang Allah sudah tetapkan. Ah,
- dakwahnya wajib, metodenya pun juga
- wajib. Udu ila sabilibika. Kalau cuma
- sampai situ saja kalimatnya, bebas tuh.
- Boleh pakai metode apapun sesuka-suka
- kita. Tapi kalimatnya lanjut. Udual ila
- sabilbika bil hikmah. Eah. Dengan
- begini, dengan begini, dengan begini
- kata Allah ya. Eah. Jadi wajib berdakwah
- dan wajib pula mengikuti cara dakwah
- yang Allah sudah tetapkan. Nah, apa saja
- cara dakwah itu yang Allah sudah
- tetapkan itu?
- Setidaknya pada ayat ini yang kita
- tadaburi malam ini, surat An-Nahal ayat
- 125, Bapak Ibu, ada tiga
- metode. Ada tiga metode yang wajib kita
- ikuti. Nah, apa saja yang tiga ini?
- Pelan-pelan kita buka, ya. Udu ila
- sabiliik. Ya, serulah atau ajaklah,
- dakwahilah orang ke jalan Allah ee
- dengan metode satu bil hikmah. Metode
- hikmah. Apa itu hikmah? Nanti kita buka.
- Yang kedua, wal mauidotil hasanah. Yang
- kedua, e dan dengan mauah alhanah. Apa
- itu mauah hasanah? Nanti juga kita buka.
- Lanjut. Ada wa ada wa lagi, ada wau
- lagi. Waadilhum billati hiya
- ahsan. Dan
- berdiskusilah,
- berkomunikasilah dengan mereka. dengan
- objek dakwah itu dengan cara komunikasi
- yang ahsan. Ahsan itu sebuah kebaikan
- yang
- tertinggi. Nah, jadi kebaikan itu ada
- beberapa kosakata dalam Al-Qur'an. Ada
- alkhair ya, ada Alma'ruf juga kebaikan.
- Makruf kebaikan yang diketahui semua
- orang. Ee ada lagi at thaayyib. Ee
- demikian pula yang tertinggi adalah
- hasan atau ahsan. Jadi ahsan itu adalah
- yang paling hasan, yang paling baik.
- Jadi berdiskusilah, bicaralah kepada
- mereka dengan cara bicara yang paling
- baik. Ada tiga ya, saya ulangi. Yang
- pertama bil
- hikmah, yang kedua wal mauatil hasanah,
- dan yang ketiga adalah wajadilum billati
- hiya ahsan. Dan ee apa yang ketiga itu
- berdiskusilah, berbicaralah kepada
- mereka dengan cara bicara yang terbaik.
- Baru kemudian inbaka hua alamu
- bimilih wahua alamu bil muhtadin.
- Sungguh Allahlah yang mengetahui siapa
- yang mendapatkan petunjuk dan Allah juga
- mengetahui siapa yang ee apa sabilih
- siapa yang sesat dari jalannya. Nah,
- jadi ada tiga metode ini Bapak Ibu ya.
- Tinggal kita buka masing-masing ee apa
- satu-satu supaya kita bisa
- berintrospeksi diri nanti. Jangan-jangan
- selama ini mungkin kitalah yang salah
- dalam berdakwah karena metodenya belum
- kita pakai sesungguhnya.
- Oke. Dari tiga metode tadi Bapak Ibu,
- metode hikmah, metode mau hasanah dan
- jadilhum billati ahsan. Saya mulai dulu
- dari yang ketiga ya. Dari yang ketiga.
- Wadilhum billati ahsan. Kenapa dimulai
- dari yang ketiga? Karena di situ
- sebetulnya nanti ee bisa ee kita ambil
- poinnya dengan lebih mudah gitu ya. Nah,
- jadi wajadilhum billati hiya ahsan. Apa
- itu jadilhum billati hiya
- ahsan? Begini Bapak Ibu,
- jadilhum. Jadala itu artinya ee
- berbantah-bantahan, berdiskusi,
- berkomunikasi gitu ya dengan cara yang
- terbaik. Apa cara yang terbaik dalam
- berkomunikasi? Cara yang terbaik dalam
- berkomunikasi adalah sebagaimana yang
- Allah
- perintahkan kepada para
- nabinya. Para nabi bicara ke umatnya itu
- sesuai dengan perintah Allah, cara
- bicaranya. Nah, cara itulah cara yang
- terbaik.
- Ah, tidak ada lagi cara yang terbaik.
- Karena cara-cara itulah yang Allah
- perintahkan kepada para nabi dan rasul
- untuk bicara kepada
- umatnya. Nah, cara apa yang
- dimaksud dari wajadilu bilati yahsan
- ini? Jadi, caranya adalah perkataan para
- nabi itu, Bapak, Ibu yang dirahmati
- Allah, itu selalu Allah ingatkan ya para
- nabi itu untuk berdakwah.
- Isi dakwahnya tuh ada dua, yakni ada
- kabar gembira ya dan ada
- peringatan. Ee isi bicaranya Nabi itu
- dua, kabar gembira dan peringatan. Nah,
- kalau kita perhatikan para nabi ini
- wajadilhu billati yahsan. Begitu kita
- kumpulkan ayat-ayatnya di dalam
- Al-Qur'an,
- rupanya kabar gembira atau basyirah itu
- dalam dakwah para nabi itu itu disebut
- lebih dulu baru kemudian nazirah atau
- peringatan.
- Dan ee artinya bahwa harus lebih banyak
- memberi kabar gembira kepada objek
- dakwah kita daripada memberi peringatan.
- Nah, itu jadi lebih banyak memberi kabar
- gembira daripada memberi
- peringatan gitu.
- Kalau lebih banyak peringatannya
- daripada kabar gembiranya, nah maka itu
- keliru. Metode yang ee keliru. Ee apa
- contoh dari dari peringatan misalkan ya
- secara sederhana aja misalkan peringatan
- itu ee misalkan kita bilang begini sama
- anak-anak ya atau sama objek dakwah
- kita, kamu kenapa enggak salat? Sudah
- salat belum? Kan Bapak sudah bilang,
- "Kamu begini, kamu begitu, kamu harus
- begini, kamu harus begitu, kamu harus
- salat, kamu harus aduh aduh aduh aduh
- aduh." Nah, itu kan peringatan. Tentu
- saja itu baik. Tentu saja itu boleh kita
- memberi peringatan itu. Tapi yang harus
- kita pahami adalah Bapak Ibu yang
- dirahmati Allah bahwa memberi peringatan
- itu tidak sebanyak memberi kabar
- gembira. Harus lebih banyak memberi
- kabar gembira. Sudah kita beri belum
- kabar gembiranya?
- Ee apa itu contoh kabar gembira? Ya,
- misalkan kabar gembira itu misalkan
- ya kalau kita kepada anak misalkan ya
- kita bisa sampaikan, "Wah, kamu ini
- hebat dulu ayah seusia kamu belum belum
- bisa, belum mengerti tentang ini,
- tentang itu, tentang ini, tentang itu.
- Sekarang kamu sudah mengerti. Sekarang
- kamu sudah bisa baca Al-Qur'an dengan
- baik, bisa mungkin menghafalkan
- Al-Qur'an dengan baik. Ah, ayah yakin
- nanti kamu akan jadi lebih baik daripada
- ayah. Misalkan begitu. Nah, itu kabar
- gembira Bapak, Ibu yang harus kita
- sampaikan kepada objek dakwah
- kita. Baru berapa banyak kabar gembira
- harus kita sampaikan? berapa
- berbandingnya, berapa bandingannya gitu
- ya dengan ee apa dengan
- ee apa dengan ee peringatan berapa
- bandingannya ya kalau boleh di apa
- dibuat perbandingan begitu ini yang ee
- disampaikan di sini hanya yang bentuknya
- anu aja yang bentuknya tunggal ya. Ada
- lagi yang bentuknya tidak tunggal.
- Misalkan dalam surah al-Fat misalkan ya,
- surah ee al-Fat surat
- ke-48 itu ya ayat yang ke-8 ee
- kalimatnya juga sama
- tuh mubasyir apa ee mubasyir atau
- menjadi pemberi kabar gembira dan
- waziron dan menjadi pemberi peringatan.
- Selalu basyirnya disebut duluan baru
- kemudian nazirnya ya. Jadi kalimatnya
- inna arsalnaka syahidan wa mubasyiron
- waziron. Nah, kalimatnya dalam surat
- al-Fat ya. Kami mengutus engkau wahai
- Nabi, wahai Rasulullah ya menjadi
- syahidan ya menjadi saksi ya dan menjadi
- mubasyiron pembawa kabar gembira baru
- kemudian menjadi ee apa namanya? Naziron
- pemberi peringatan. Nah, basyiran
- disebut lebih dulu itu tiga kali lebih
- banyak daripada nazirah yang disebut
- lebih dulu. Jadi, memberi kabar gembira
- itu harusnya tiga kali lebih banyak
- daripada memberi
- peringatan. Itu metode yang Allah
- perintahkan. Makanya kadang-kadang kita
- suka kadang-kadang kita tidak berhasil
- berdakwah enggak didengar sama anak
- misalkan begitu ya. tidak didengar sama
- objek dakwah kita karena kita lebih
- banyak memberikan peringatan.
- Dikit-dikit peringatan, dikit-dikit
- peringatan, dikit-dikit peringatan gitu.
- Enggak boleh begini, enggak boleh
- begitu. Itu juga peringatan itu juga.
- Nanti kamu kalau begini begini nanti
- aduh mama kan sudah bilang bahwa kamu
- begini memang kamu enggak peruba
- dengerin mama. Nah, itu ya itu
- peringatan tuh ya Iwan
- Awat. Sepertinya kita terputus dengan
- Ustaz Doni. Kita coba kembali
- menghubungkan dengan zoom Ustaz Doni.
- Sepertinya terputus ya.
- Ya, kendala jaringan. Sepertinya kita
- akan coba kembali Wama tetap bersama
- kami di acara tadabur Al-Qur'an.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- [Musik]
- Hasil untuk Islam yang satu. Masih
- bersama kami Iwan Awat di acara tadabur
- Al-Qur'an bersama Ustaz Doni Amir Sagap
- tadi. Mohon maaf Iwan Awat karena ada
- ada sedikit gangguan di aplikasi Zoom
- kami. Ee kita akan kami lanjutkan
- pembahasan di malam hari ini. Tab Ustaz
- I. Baik. Ee kita lanjutkan ya. Ee Bapak
- Ibu yang dirahmati Allah, ikhwan akhwat
- sekalian.
- Ee jadi ee ini saya sedang mencoba
- men-share lagi di layar ee apa ee materi
- kita.
- Jadi wajadilhum billatihi
- ahsan. Berbicaralah, berkomunikasilah
- dengan objek dakwah itu dengan cara
- komunikasi yang terbaik. Ee apa cara
- komunikasi yang terbaik? adalah cara
- komunikasi yang Allah perintahkan kepada
- para nabinya untuk berkomunikasi kepada
- umat. Yakni dengan apa? Prinsip bahwa
- kabar gembira harus lebih banyak
- daripada peringatan. Nah, jadi wajar
- kalau selama ini ee mungkin ibu-ibu
- merasa enggak didengar sama anaknya.
- Kenapa? Isinya peringatan terus
- kalimatnya itu kalimat peringatan. Awas
- nanti kamu kalau begini ininya udah
- belum? Anunya belum inya belum? Ininya
- udah gimana ininya? anunya ini wah gitu
- kan. Jadi selalu peringatan, peringatan
- peringatan peringatan peringatan juga
- tapi didului dengan kabar gembira
- harusnya. Dan kabar gembira itu berapa
- banyak perbandingannya? Setidak-tidaknya
- tiga berbanding satu. Jadi tiga kali
- kabar gembira baru kemudian ada satu
- peringatan bisa kita ee
- sampaikan. Kabar gembira contohnya
- bagaimana? Tadi sudah kita ee apa? sudah
- kita ee berikan contoh misalkan ya kita
- sering-sering memuji ya gitu, kita
- sering-sering ee mengatakan sesuatu yang
- baik ya tentang objek dakwah kita itu
- dan juga memberikan ee satu janji-janji
- yang memang Allah sudah jelaskan itu kan
- metode Allah juga begitu basyirah kabar
- gembiranya banyak gitu ya. Kabar gembira
- ampunan Allah, kabar gembira surga,
- kabar gembira keridaan Allah gitu ya dan
- lain sebagainya. baru kemudian ada
- peringatan-peringatan juga. E tapi kabar
- gembiranya jauh lebih banyak, Bapak,
- Ibu. Ee jadi metode ini prinsipil sekali
- karena kalau kita tidak pakai ee metode
- ini, maka akan kesulitan kita bisa
- menembus ee dakwah itu. Apalagi dalam
- persoalan sekarang ee anak-anak muda
- kita atau generasi kita sekarang ini ee
- juga dihantui ya oleh ee perkembangan
- teknologi yang luar biasa.
- Jadi kalau gadgetnya itu bisa memberi
- dia kabar gembira lebih mudah daripada
- orang tuanya, maka jangan salahkan juga
- mereka kalau mereka lebih ee lekat,
- lebih dekat dengan gadgetnya daripada
- orang kepada orang tuanya. Kenapa? Susah
- untuk ee mendengarkan kabar gembira dari
- orang tua. Selalu tuntutan, selalu
- peringatan, peringatan, peringatan.
- Kalau dari gadgetnya mudah ya.
- game-gamennya dibuat mudah untuk bisa
- mereka menang, dapat hadiah gitu ya di
- dalam game-nya itu, Bapak, Ibu yang
- dirahmati Allah. Nah, jadi ee metode
- dakwah yang sesungguhnya adalah
- basyirah, kabar gembira lebih banyak
- daripada peringatan. Demikian pula di
- tengah masyarakat ya kita berdakwah itu
- sampaikan kabar gembiranya yang lebih
- dulu, yang lebih banyak. Jangan
- sedikit-sedikit kita memvonis dengan ee
- peringatan. Nanti kalau kamu begini
- masuk neraka kamu. Nanti kalau begini
- nanti diazab Allah kamu. Nanti kalau
- begini kalau ah gitu jangan ee kabar
- gembira yang yang sisi kabar gembira itu
- yang harus tiga kali lebih banyak.
- Karena Allah pun begitu kepada kita.
- Ampunan ya keridaan Allah itu banyak
- sekali ya. Bertabur di mana-mana.
- Sedikit-sedikit ampunan, sedikit-sedikit
- ampunan. Allah tuh ya ee banyak sekali
- ee kalimatnya berulang.
- Dalam surat Annisa itu ya Allah tidak
- mengampuni orang yang syirik tapi
- mengampuni yang selainnya. Ee jadi dosa
- apapun itu Allah ampuni gitu kan. Kalau
- dia wafat ee kalau dia bertobat sebelum
- wafat. Quran surah ee Azzumar misalkan
- surah 39 itu ya ayat 53.
- Katakan kepada hamba-hambaku yang
- melampaui batas terhadap dirinya, jangan
- berputus asa terhadap rahmat Allah.
- Karena Allah mampu mengampuni semua dosa
- gitu ya. Innahu hual gfurur rahim.
- Sungguh Allahlah yang maha pengampun
- lagi maha penyayang. Jadi kabar
- gembiranya banyak. Nah, jadi inilah yang
- harusnya jadi patokan kita, Bapak Ibu
- yang dirahmati Allah. Karena yang kita
- bawa itu dakwah itu ya mengajak ke jalan
- Allah. Oleh karenanya metodenya pun
- harus pakai metode Allah. Jangan pakai
- metode kita sendiri. Jangan pakai metode
- yang kita pikirkan sendiri. Nanti kita
- sendiri yang capek. Kita kita nanti
- ngeluh kenapa ya Ustaz? Saya udah udah
- segala macam saya buat buat ngingetin
- anak tuh
- ya. Ah udah saya apa namanya? Udah saya
- takut-takuti dengan ini saya inilah saya
- saya diamin aja dia biar anu biar dia
- sadar enggak sadar-sadar juga. Oh
- persoalannya sederhana. Ibu sudah ikuti
- metode Al-Qur'an belum? Yakni kabar
- gembira. Kapan terakhir memberikan kabar
- gembira? Kapan terakhir memberikan
- kebanggaan? Kapan terakhir bicara yang
- ee baik kepada anak gitu. Nah, kalau
- kita bicaranya sarkasme kepada anak ya,
- ya dasar kamu nih apa? bodoh misalkan
- gitu atau dasar kamu nih plin-plan.
- Dasar kamu nih enggak ini dia itu dan
- lain itu bentuk-bentuk nazirah,
- bentuk-bentuk peringatan yang sudah
- terlalu banyak diumbar ya oleh orang tua
- tuh kadang-kadang sehingga ya akhirnya
- sulit dia bisa masuk kepada ee apa ee
- anaknya padahal ee anak itu adalah
- tanggung jawab orang tuanya untuk diberi
- dakwah. Kalau sampai orang tua eh anak
- tuh enggak mau dengerin orang tuanya,
- wah celaka tuh ya. Karena nanti ee bisa
- dia mencari ee di luar sana ya yang
- akrab dengan dia yang dia ikuti. Dan
- kalau kebetulan ada kawan-kawan yang
- tidak baik gitu, e di situlah awal mula
- terjerumusnya anak-anak remaja kita.
- Sebetulnya tanggung jawab orang tua dan
- kalau boleh saya sebut salahnya orang
- tua juga itu ya. Karena di rumah dia
- tidak pernah diberi basyirah, tidak
- pernah diberi kebanggaan, tidak pernah
- diberi apa kepercayaan gitu ya. Selalu
- selalu tuntutan, selalu peringatan,
- peringatan, peringatan. Padahal metode
- Al-Qur'an adalah basyiro
- wazirah. Nah, ini saya ingin mengutip
- sedikit Bapak Ibu ya. Mungkin di
- kesempatan hari ini kita cukupkan satu
- metode dulu ya, karena sudah waktunya
- tadi ada sedikit kendala.
- Ini ada sebuah penelitian yang pernah
- dilakukan di ee di Amerika ya, tapi kita
- ambil pelajaran a dari penelitian ini.
- Penelitian dilakukan oleh seorang guru
- namanya Jane Elliot ya tahun
- 1968. Di kelasnya dia, dia ini ibu guru
- dia Jane Elliot ini. Eah penelitiannya
- ee direkam oleh PBS. PBS itu adalah
- stasiun TV seperti TVRI lah di
- Indonesia.
- Jadi, Ibu Jane Elliot
- ini mengatakan di dalam di kelasnya dia
- bilang kepada anak-anak tiba-tiba aja
- tiba-tiba 1 hari 1 pagi ya ee sambil
- direkam itu ee dia bilang anak-anak
- katanya ibu baru tahu bahwa kalau kalian
- itu matanya biru, bermata biru ya, maka
- itu sebetulnya kalian itu pintar.
- Nah, jauh lebih pintar dari yang matanya
- tidak biru kata dia begitu kata Zliot.
- Jadi mulai sekarang kata Jen Elliot,
- anak-anak yang matanya tidak biru itu
- harus pakai anu harus pakai ee pita di
- lengannya, di tangannya supaya dia tidak
- bercampur, tidak main bareng sama yang
- matanya biru kata Jedelit.
- Terus air minumnya juga harus dipisah.
- Yang mata biru, yang mata tidak biru.
- Begitu juga harus yang kalau yang apa
- nanti keluar duluan itu mata biru dulu
- keluar duluan baru yang mata tidak biru
- kata dia gitu ya. Begitu juga Jen Elliot
- akhirnya membedakan juga cara dia
- merespon terhadap anak yang mata biru
- sama yang matanya enggak biru. Kalau
- anak yang mata biru bertanya tentang
- satu tugas tugas tentang apa? Apa?
- penjelasan yang sedang dijelaskan oleh
- guru oleh Jen Elliot. Ee si Jen Elliot
- ini si Bu Guru ini akan menjawabnya
- dengan tenang, akan menjawabnya dengan
- excited, dengan e
- gembira. Sementara kalau anak yang
- matanya enggak biru nanya ya sama Jen
- Elliot dibuat sarkas ya, dibuat ee
- menyudutkan. Tuh kan anaknya enggak
- dengerin sih dia nih dari tadi nih. E
- gitu. Tuh kan kamu ke mana aja tadi
- enggak dengerin ibu. Ah kira-kira
- begitu. Tuh kan, Ibu capek dari tadi
- ngejelasin terus kamu enggak dengerin.
- Nah, kira-kira begitulah ya dalam bahasa
- Indonesia.
- Nah, diperlakukan seperti itu.
- Dipisahkan di didiskriminasi ya antara
- yang matanya biru dan yang tidak biru
- sampai akhirnya 1 minggu kemudian
- dilakukan ujian. Nah, diberikan soal
- untuk ujian. Nah, hebatnya dari dari
- hasil ujian itu semua anak yang matanya
- biru itu menempati posisi yang tinggi.
- Nilainya sangat tinggi. Semua anak yang
- bermata biru. Sementara anak yang
- matanya tidak biru semua nilainya tuh
- amat rendah. Ya, padahal tentu di
- kelompok anak-anak yang bermata biru ada
- anak-anak yang tidak pandai, tapi juga
- ada anak yang pandai. sebagaimana juga
- di kelompok yang bermata tidak biru.
- Tapi karena perlakuannya berbeda, maka
- ee dampaknya juga berbeda. Yang menarik
- adalah yang menarik lagi
- adalah setelah diberi ujian, diberi
- soal, terus dikerjakan. E sekarang
- dibalik oleh Jen Elliot itu tiba-tiba
- besok paginya setelah ujian ada di Lai
- dan lain sebagainya, besok paginya tuh
- Jen Eliot bilang di tengah ee
- murid-muridnya dia bilang begini,
- "Anak-anak, rupanya informasi yang Ibu
- terima tentang mata biru yang pintar itu
- ternyata
- salah. Ternyata yang matanya tidak biru
- itulah yang pintar." Nah, jadi dibalik
- sama dia. Justru orang kalau matanya
- biru dia bodoh katanya Elliot ya. Nah,
- oleh karenanya mulai sekarang juga akan
- terbalik perlakuannya kepada yang mata
- biru itu tidak boleh main sebelum ee
- orang yang matanya tidak biru bermain
- duluan ya. Setelah selesai baru boleh.
- Kemudian minumnya juga boleh bercampur
- dan lain sebagainya. Pokoknya
- didiskriminasi.
- Demikian juga kalau orang apa anak-anak
- yang mata tidak biru bertanya tentang ee
- penjelasan pelajaran yang sedang
- disampaikan, maka Jane Elliot akan
- meresponnya dengan sabar, dengan
- gembira, dengan excitement.
- Nah, sementara kalau yang bertanya
- adalah anak-anak bermata biru, maka Jen
- Elliot secara sarkasme ya, secara
- menyudutkan akan menjawab seperti tadi.
- Oh, tuh kan anak mata biru nih enggak
- enggak dengerin sih, enggak mau dengerin
- sih, enggak mau perhatian sih, enggak
- mau berubah sih, enggak ini sih, enggak
- itu sih. Pokoknya menuduh, menuduh,
- menuntut. Nah, kepada yang bermata biru.
- Ya, ini kebalikan dari yang seminggu
- sebelumnya.
- Nah, sama juga perlakuan itu di di
- diterapkan selama 1 pekan selama 1
- minggu. Setelah 1 pekan setelah 1 minggu
- lalu juga dilakukan ujian juga dengan
- soal yang berbeda, ujian yang sama.
- Diberikan soal mereka ee anak-anak ee
- kelas ini dan hasilnya luar biasa.
- Di ujian yang kedua ini setelah setelah
- berubah apa ee perlakuannya berubah
- berbanding terbalik, hasil ujian pun
- berbanding terbalik. Kalau sepekan lalu
- anak-anak bermata biru nilainya tinggi,
- maka pekan ini setelah diperlakukan
- berbeda. Anak-anak yang matanya biru
- anjlok semua nilainya menjadi rendah.
- Anak-anak yang matanya tidak biru, yang
- pekan lalu diperlakukan diskriminatif,
- sarkasme, tuntutan, tuntutan, tuntutan
- dan peringatan. Yang pekan lalu nilainya
- jelek, sekarang, pekan sekarang karena
- sudah berubah perlakuan gurunya kepada
- kepada dia, maka nilainya naik semuanya.
- Bapak, Ibu yang dirahmati Allah, ya. Ini
- eksperimen ini luar biasa. Sangat ground
- breaking, sangat luar biasa. sangat ee
- dampaknya tuh masih dipakai sampai hari
- ini. Artinya apa? Ketika kita
- memperlakukan dengan positif kepada
- objek dakwah kita itu, maka hasilnya
- bagus. Tapi ketika kita melakukan dengan
- negatif, demikian pula hasilnya negatif.
- Nah, terakhir di kita masih di poin satu
- ya, insyaallah di pekan depan kita
- lanjutkan masih di poin wajadilati
- ahsan.
- Terakhir eh dalam kalimat udu ila
- sabilibika bil hikmah wal maizil hasanah
- ini. Bapak Ibu yang dirahmati Allah yang
- harus kita perhatikan itu adalah ini
- untuk
- pendakwah. Nah maksudnya begini. Jangan
- sampai
- kita ee apa menjadikan ini menjadikan
- perintah dakwah ini sebagai alasan.
- Maksudnya begini, kita kan berdakwah
- kepada anak. Terus kita tahu bahwa kita
- selama ini ee tidak menerapkan metode
- dakwah yang benar, yakni banyakin
- basyirnya, banyakin kabar gembiranya
- daripada peringatan. Lalu kita bilang
- begini, "Saya aja enggak dapat begitu,
- masa saya harus memberikan begitu kepada
- anak." Nah, ini salah, ini keliru, ini
- sifat yang dimainkan oleh iblis. Bapak,
- Ibu yang dirahmati Allah, victim
- mentality. Menjadikan dirinya sebagai
- victim.
- Eh, ketika iblis diusir oleh Allah dari
- surga pada surat
- ke-7 ayat yang ke-16. Nah, dia bilang
- begini, qabima agwaitani laudan
- lahumakal mustaqim. Ya Allah, karena
- Engkau telah membiarkan saya jadi
- tersesat begini, maka saya akan
- menggelincirkan anak cucu Adam. E jadi
- pola sebab akibat itu jangan dicontoh,
- Bapak, Ibu. Jangan kita menuntut kepada
- orang tuh untuk didakwahi dengan cara
- yang baik, baru saya akan memberikan
- dakwah yang baik. Jangan begitu.
- Posisikan diri kita sebagai
- pendakwah. Ya, gitu ya. Jangan kita
- beralasan, saya dulu enggak digituin
- sama orang tua saya. Saya dulu enggak
- dapat yang begini dari orang tua saya.
- Nah, jangan begitu. Jangan begitu. Itu
- sifat yang tidak baik. Sifat iblis ya.
- Jangan juga kita menuntut kamu kok ke
- anak bisa baik kok ke saya enggak.
- Misalkan begitu ya. eh nanti nanti itu
- jadinya sifat victim mentality karena
- posisinya adalah bagi para pendakwah
- justru eh apa namanya tugas basyiro wa
- naziro ini ya kalimat ee baik yang
- dikeluarkan ini untuk para pendakwah
- kepada madunya kepada objek dakwahnya
- itu justru untuk membiasakan diri si
- pendakwah itu sendiri supaya dia menjadi
- lebih baik bagaimanapun atau apapun
- situasi yang terjadi kepada dia. Ee jadi
- jangan diposisikan sebagai kita nih
- sebagai korban. Jangan ee misalkan tadi
- ya saya dulu enggak gitu orang tua saya.
- Orang tua saya dulu wah jangan. Karena
- memang ee apa posisinya sekarang kitalah
- yang menjadi seorang pendakwah
- setidak-tidaknya kepada keluarga, ahli
- keluarga kita. Dan kita sekarang pahami
- bagaimana perintah Allah. ya sudah kita
- melakukan walaupun mungkin dulu kita
- tidak mendapatkan hal itu dari dari
- orang tua mungkin atau dari sekitar kita
- dan lain sebagainya tapi posisinya
- sekarang kita adalah
- pendakwah. Nah, jadi ini penting untuk
- kita perhatikan supaya kita tidak
- bersembunyi atau tidak berselimut di
- balik sifat yang dulu pernah dicontohkan
- oleh iblis yakni bermental sebagai
- korban atau
- viktim. Baik. Wallahualam bawab. Saya
- pikir itu saja dulu yang bisa kami
- sampaikan karena sudah jam menunjukkan
- sudah jam
- 09.15. Satu langkah dulu nanti di pekan
- depan insyaallah kita lanjutkan dengan
- langkah berikutnya masih di surat
- An-Nahl ayat
- 125 mengenai metode berdakwah yang juga
- wajib sebagaimana dakwahnya itu sendiri.
- Wallahuam biswab. Silakan Kang Fahi.
- Billahi taufik walhidayah.
- Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikian ikhwan akhwat,
- kajian malam hari ini di tadabur
- Al-Qur'an bersama Ustaz Doni Amir Sagap.
- Metode dakwah adalah juga dakwah telah
- kita bersama-sama simak Iwan Ahmad.
- Sudah banyak yang bergabung Ustaz Doni
- di malam hari ini di WhatsApp Rasil juga
- menjak kita di hari ini ada Bapak Ahmad
- sedang menyimak. Bapak Aziz terima kasih
- Ustaz atas nasihat dan juga tausiahnya.
- Ibu Ina juga di Cilandak. Ibu Maryati di
- Sukabumi, Ibu Yanti sedang menyimak.
- Bapak Hidayat di Cilengsi, Ibu Tati,
- Bapak Kiswati, Bu Iskandar di Magelang,
- Abdul Rasyid Aminah, Bu Aliah Yahya, dan
- banyak lagi yang tengah mengirimkan
- WhatsApp di malam hari ini. Langsung
- saja kali ya, langsung ke pertanyaan
- yang sudah masuk. Ustaz, ini yang
- pertama saya akan
- bacakan dari Bapak Dadai di Cicatih,
- Sukabumi. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz Doni. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh, Pak Dad. Ya,
- silakan, Ustaz. Bagaimana dengan para
- pendakwah yang akhir-akhir ini banyak
- yang kontroversi? Entah itu dari cara
- penyampaiannya, berdakwahnya, begituun
- sisi lain kehidupannya yang banyak
- diekspos media sosial. Ini bagaimana
- dengan fenomena akhir zaman ini, Pak
- Ustaz Doni? Terima kasih. Ya, terima
- kasih Pak Dad Bapak Ibu ikhwan akhwat
- sekalian, para pendengar Radio Rasil
- serta pemirsa Rasil TV. Jadi, memang
- kalau kita perhatikan skenario Allah itu
- selalu berlangsung. ya terjadi skenario
- Allah itu di seluruh perjalanan muka
- bumi ini. Ya, kalau kita perhatikan
- baik-baik ee berulang kali Allah
- berfirman di dalam Al-Qur'an ya ee qad
- khalat misalkan dalam surah ketiga,
- surah Ali Imran ayat
- 137 ya. Qat minqlikum sunanun fasiru
- ardur kaifaqibatul mukimin. Telah telah
- berlalu dalam hidup kalian itu dalam
- hidup manusia itu berbagai
- sunah-sunatullah ketentuan-ketentuan
- Allah yang di dalamnya tuh kita lihat
- banyak skenario Allah.
- Nah, kadang-kadang tuh kita lihat ee
- oleh Allah dibuka skenario ya, bagaimana
- seseorang bisa menjadi rendah, bagaimana
- seorang yang lain bisa menjadi tinggi.
- Sebagaimana juga dalam surah e Ali Imran
- yang sama kalimatnya, qulillahumma
- malikal mulki tuttil mulka man tasya
- watanziul mulka miman tasya wa tuizzu
- man tasya wazilu man tasya biadikal
- khair. Allahlah yang meninggikan satu
- golongan atau seseorang juga merendahkan
- atau ee menghinakan satu golongan atau
- seseorang. Nah,
- jadi para ee apa pendakwah sekarang itu
- mudah sekali disebut sebagai ustaz,
- sebagai kiai atau sebagai gus apa dan
- lain sebagainya gitu ya. cuma mengklaim
- saja ee lalu disebut seperti itu.
- Padahal sama sekali harusnya ee tidak
- semudah itu. Kita harus lihat dulu
- bagaimana sepak terjangnya, isi
- pembicaraannya, kualitas yang
- disampaikannya. Karena yang yang di atas
- namakan adalah nama Allah ya kan. Yang
- diatas namakan adalah Islam, yang
- diatasnakan adalah Al-Qur'an. Jadi kalau
- orang-orang datang untuk acara yang
- mengatasnamakan Islam, Maulid Nabi
- misalkan, Isra Mikraj misalkan, apalagi
- tablig Akbar misalkan dan lain
- sebagainya itu kan datang atas nama
- Allah tuh. He. Ee jadi kalau yang
- disampaikan di situ para pembicara yang
- dipercaya ini tidak menunjukkan karakter
- contoh baik dari kata-katanya maupun
- perbuatannya yang sesuai dengan ee
- petunjuk Allah, maka ini celaka ya
- bahaya. Ee nanti ee bagi dirinya sendiri
- juga akan demikian ya. Tadi terhinakan
- oleh Allah Subhanahu wa taala baik di
- dunia maupun di akhirat. itu itu jelas
- tangan Allah bekerja di sana. ee
- bagaimana ee kita dalam hal
- ini ya sedapat mungkin kalau kita dalam
- posisi ee tidak bisa berbuat banyak ya
- sedapat mungkin kita tidak mengikutilah
- ya dalam
- dalam apa dalam hal ini kita ikuti
- guru-guru yang benar, guru-guru yang
- baik yang isi ceramahnya, isi apa
- namanya bobot isinya itu sudah kita
- pahami yang sudah kita mengerti. Contoh
- yang diberikan pun contoh yang baik.
- Nah, itu baru kita ikuti. Kalau yang
- tidak baik, yang tidak ada isinya dan
- lain sebagainya itu sudahlah tidak usah
- kita ikuti. Biarkan saja nanti ee Allah
- yang mengurusnya. Kira-kira begitu. Tapi
- kalau kita punya kekuatan, kemampuan
- misalkan Bapak, Ibu ada yang kepala
- daerah, ada yang apa gitu ya, otomatis
- jangan diundang, jangan diberi
- kesempatan ee yang seperti itu yang
- merusak, yang tidak memberikan contoh
- yang baik. ee undanglah guru-guru kita
- yang baik, yang ee menunjukkan akhlak
- yang yang bagus, isinya juga ee apa yang
- diceramahkan itu adalah sesuatu yang
- berbobot. Banyak yang seperti itu. Ee
- jadi kira-kira demikian fenomena yang
- mungkin sedang kita alami itu adalah
- menurut saya memang adalah janji Allah
- atau sunatullah yang akan Allah buka. Di
- mana Allah meninggikan satu kaum atau
- seseorang. Demikian pula Allah
- merendahkan atau membuka ya dari satu
- kaum atau seseorang. Wallahualam.
- Baik. Sayangnya di kita tuh makin
- kontroversi makin disukai banyak orang
- gitu ya, Ustaz ya. Betul. Makin beda.
- Asal beda aja pokoknya.
- Masyaallah. Dari Ibu Siti, Ustaz. Di
- Pamulang ya. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz Doni.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz, bagaimana menghadapi
- pertanyaan anak usia 7 tahun ketika
- bertanya tentang Allah Subhanahu wa
- taala? Bagaimana menjelaskannya agar
- mereka paham? Contoh
- pertanyaannya misalkan Allah itu seperti
- apa sih? Ada di mana sih? Dan lain
- sebagainya. Itu bagaimana menghadapi
- anak seperti itu, Pak Ustaz Doni. Terima
- kasih.
- Iya. Iya. Jadi memang ada mahfuzat yang
- terkenal ya apa peribahasa yang
- terkenal. Likulli maqomin maqol
- kalimatnya itu ya setiap maqam, setiap
- level itu ada cara bicaranya
- masing-masing ya. Jadi di level
- anak-anak cara bicaranya sesuailah
- dengan apa ee kapasitas mereka. I nanti
- kalau sudah semakin dewasa, kita
- sesuaikan pula cara bicaranya kepada
- remaja beda lagi, kepada orang tua beda.
- Nah, misalkan tadi anak-anak bertanya
- Allah tuh gimana sih gitu ya. Allah itu
- bagaimana? Nah, kalau pertanyaannya
- seperti itu kita ee ya yang bertanya
- adalah anak-anak. Nah, kita juga
- berusaha menjawabnya dengan bahasa
- mereka. Misalkan
- contoh ibu bisa menjawab misalkan begini
- ee apa?
- ee dicontohkan misalkan ibu sedang
- umpamanya ya, maaf nih, umpamanya ibu
- sedang bikin kue misalkan gitu ya. Ee
- lalu ibu
- bilang ee kamu lihat kue ini kan ya.
- Siapa yang bikin kue ini? Misalkan gitu
- ya. Nah, dia tunjuk nanti ibu gitu
- kira-kira gitu ya. Nah, ibu adalah
- seperti ee Allah kepada kue ini, gitu
- ya. Jadi kita itu dibuat oleh Allah. Nah
- kita itu diciptakan oleh Allah. Ah ibu
- membuat kue tadi itu kira-kira seperti
- itu. Itu boleh cukup sudah kepada
- anak-anak itu untuk menjelaskan bahwa
- Allahlah yang menciptakan kita. Nah
- kalau lagi mau lebih jauh lagi misalkan
- ee menjelaskan bahwa Allah menjamin
- kehidupan kita, menjamin rezeki kita
- misalkan. Ee contoh kan seperti menyiram
- tanaman. Misalkan kita siram tanaman,
- lalu kita tanya kepada anak-anak anak
- kecil, "Coba kamu lihat siapa yang
- menjamin supaya ee tumbuhan ini tetap
- tumbuh, dikasih air gitu, dikasih anu ya
- pupuk dan lain sebagainya. Nanti dia kan
- akan bilang ibu gitu kan atau ayah gitu
- kan." Nah, perumpamaan itu kita
- jelaskan. Begitu juga kita hidup. Kita
- hidup ini atas iradah keinginan Allah.
- Allah juga akan memberikan jaminan
- kepada kita. Sebagaimana ibu atau ayah
- selalu menyirami tanaman ini karena ayah
- kepengin tanaman ini hidup. Nah, gitu.
- Ayah menjaganya. Demikian pula Allah. Ee
- di situlah Allah sebagai Rabb ee sebagai
- penjamin ee sebagai yang ee mengurusi
- kita, ya. Gitu kira-kira. Nah, jadi kita
- bisa memakai analogi-analogi yang
- seperti itu, perumpamaan-perumpamaan
- yang seperti itu yang mudah dilihat oleh
- anak. Ya, kira-kira demikian.
- Baik Ustaz, kita dibatasi oleh waktu
- mungkin sebelum pamit disiapkan
- pembahasan Pak Ustaz. Ya, terima kasih
- Bapak Ibu para pendengar Radio Rasil
- pemirsa Rasil TV di mana pun berada. Ee
- baru satu metode yang kita bicarakan
- pada kesempatan malam hari ini dari
- surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 125
- yakni metode
- wajadilhubillati hiya ahsan. bicaralah
- kepada objek dakwah kita, madu kita
- dengan cara yang terbaik dan jangan
- biarkan diri kita menjadi ee seperti ee
- victim mentality, mengukur-ngukur diri
- dulu. Saya enggak dapat yang enggak
- dapat ee kebaikan gitu, kenapa saya
- harus berbuat? Jangan seperti itu. Jadi
- kitalah sekarang yang menjadi petugas
- dakwah kepada keluarga kita. Maka
- kitalah yang berkorban untuk ee
- memperbaiki cara bicara cara komunikasi
- kita, yakni dengan lebih banyak memberi
- kabar gembira daripada memberi
- peringatan. Tiga berbanding satu
- setidaknya tiga kali lebih banyak
- memberi kabar gembira ee daripada
- memberikan peringatan. Wallahuam.
- Baik Ustaz Doni, terima kasih atas
- nasihat dan juga tausiahnya di malam
- hari ini di acara tadabur Al-Qur'an
- dengan tema metode dakwah adalah juga
- dakwah. Iwan terima kasih juga yang
- sudah bergabung dan mengirimkan WhatsApp
- di malam hari ini. Saya yang bertugas
- Pak Harri ditemani Deza dan juga Yusuf
- Subang pamit. Subhanakallahum
- wabihamdika ashadu alla ilahailla anta
- astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.