Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:59 al illah w quata illa billah 1:03 subhanaka ilmaana illa ma alamtana 1:06 innaka antal alimul hakim rbi zidni 1:09 ilman warzuqni fahman. 1:12 Eh, alhamdulillah pagi ini kita setelah 1:16 salat subuh kita masih diberikan nikmat 1:18 Allah untuk hadir dalam kajian 1:21 ee hari ini. Kalau kita kasih tema 1:24 adalah 1:26 diskusi Islam gitu ya. 1:27 Diskusi tentang Islam. yang 1:29 alhamdulillah pagi ini guru kita Al 1:33 Ustaz 1:34 Faris Baswedan, LC sudah hadir ya di 1:38 hadapan kita yang insyaallah nanti akan 1:40 membawakan ee akan memberikan beberapa 1:44 mungkin nasihat atau membawakan 1:47 ilmu untuk kita adalah terkait dengan 1:51 ee 1:58 merujuk pada kitab-kitab para ulama ini 2:01 terkait kitab cukup banyak ya. Nanti 2:04 ee Pak Ustaz akan coba menyampaikan satu 2:07 persatu ee apa saja yang ada di dalamnya 2:10 dan insyaallah ee kami mengingatkan 2:12 bahwa kegiatan inilah interaktif 2:14 sifatnya. Jadi ee nanti 2:17 silakan bertanya sebanyak-banyaknya ya. 2:20 Jadi beda dengan konsep hari Sabtu Ahad 2:24 ini eh Sabtu Sabtu ya, Sabtu pagi beda 2:28 dengan hari ini. Jadi kita lebih 2:29 interaktif kami ee siapkan pertanyaan 2:32 nanti terkait dengan ee tema tersebut. 2:36 Baik, tanpa berlama-lama kita langsung 2:40 saja ee kepada Pak Ustaz Tafadul Pak 2:44 Ustaz. 2:45 Baik. 2:46 Asalamualaikum warahmatullahi 2:48 wabarakatuh. 2:50 Waalaikumsalam. 2:52 Bismillahirrahmanirrahim. 2:54 Alhamdulillah. Alhamdulillahiabbil 2:56 alamin 2:59 wabihi nastainu umid dunya wdin wasatu 3:03 wasalamu alal mabuti rahmatanil alamin 3:07 sayyidina wa habibina muhammadin 3:10 asodqil wail amin wahi thirinibinilam 3:16 tabiahum bisanin yaumiddin 3:19 allahumimna yanfaunafna 3:22 bimaamtanaidna 3:24 ilman 3:32 Jemaah sekalian, alhamdulillah 3:34 Alhamdulillahiabbil alamin. Kita 3:36 bersyukur ke hadirat Allah Subhanahu wa 3:38 taala. 3:41 kita bisa duduk di tempat yang mulia 3:43 ini, di waktu yang diberkahi ini untuk 3:47 kita saling 3:49 ee sifatnya tuh berinteraksi 3:53 dalam rangka untuk menjawab permasalahan 3:57 hal-hal yang mungkin bagi kita masih 4:01 belum jelas ya atau sudah jelas tapi 4:04 ingin dipertebal lagi, diperjelas lagi 4:07 ya dalam hal tema mengenai merujuk 4:12 kepada kitab ulama. Ya, tentu di dalam 4:17 masalah merujuk kepada kitab ulama ini 4:20 merupakan suatu 4:23 hal yang sangat amat penting ya. 4:28 Karena Allah Subhanahu wa taala sendiri 4:31 pun lah yang telah 4:35 mengajarkan kepada kita semua 4:38 untuk 4:39 senantiasa 4:41 menyerahkan segala urusan ya atau kita 4:45 merujuk dan menanyakan hal-hal yang 4:48 menjadi 4:50 permasalahan di dalam diri kita atau 4:54 kehidupan kita atau pemahaman kita 4:56 Kepada mereka yang memang berkompeten di 4:59 dalam bidangnya. 5:01 Allah Subhanahu wa taala berfirman, 5:04 "Fas'alu ahlzikri in kuntum la'lamun." 5:10 Tanyakanlah, bertanyalah kepada ahli 5:12 zikir 5:14 jika kalian tidak mengetahui. 5:18 Nah, jadi dari sini Allah Subhanahu wa 5:21 taala memberikan kepada kita semua 5:23 isyarat 5:25 yang 5:28 artinya bahwasannya 5:31 kondisi manusia itu secara umum dibagi 5:34 menjadi dua. 5:36 Yang pertama adalah orang yang memiliki 5:40 pengetahuan 5:42 dan yang kedua adalah orang yang tidak 5:45 memiliki pengetahuan. 5:47 Nah, bagaimana 5:49 Allah Subhanahu wa taala mengajarkan 5:51 kepada dua kelompok orang ini, kelompok 5:54 manusia ini 5:56 ya atau komunitas ini dalam hal 5:59 berinteraksi. 6:01 Allah mengajarkan bahwasanya mereka yang 6:03 tidak memiliki ilmu, tidak memiliki 6:06 pengetahuan hendaknya merujuk, bertanya 6:10 kepada mereka yang memiliki pengetahuan. 6:14 Sehingga orang-orang yang memiliki 6:15 pengetahuan ini akan membimbing dan 6:18 mengarahkan orang yang tidak memiliki 6:20 pengetahuan tersebut kepada jalan yang 6:23 benar. Apa yang harus dia lakukan? 6:26 langkah apa yang dia harus ambil di 6:29 dalam menjalani kehidupannya dan apa 6:32 yang harus dia yakini di dalam agamanya. 6:36 Begitu juga di dalam banyak hadis 6:39 Rasulillah Rasulillah Muhammad 6:41 sallallahu alaihi wasallam pun 6:43 mengajarkan hal yang sama. 6:46 Bahkan Nabi Muhammad sallallahu alaihi 6:48 wasallam pernah menegur sahabatnya 6:52 ketika 6:54 mereka berani untuk menjawab sebuah 6:57 pertanyaan, sebuah permasalahan 7:01 yang nota bene 7:03 ada jawabannya. Hanya saja ketika orang 7:06 yang ditanya ini tidak mengetahuinya dan 7:09 langsung menjawab sesuai dengan 7:12 kemampuan ya ee artinya ketidak sesuai 7:17 menjawab dengan ketidakmampuannya. 7:20 Pernah suatu ketika ada salah seorang 7:23 sahabat yang terluka 7:26 di bagian kepalanya 7:30 dan tibalah waktu salat. Ya, namanya 7:32 luka kan berarti kan diperban, ditutup 7:36 ya agar luka tersebut tidak ee apa 7:40 namanya sifatnya itu terkontaminasi 7:43 dengan apapun ya, baik itu kuman ataupun 7:48 virus atau yang lainnah yang intinya 7:51 bisa memperburuk kondisi orang yang 7:53 memiliki luka tersebut atau menyebabkan 7:56 lukanya tersebut menjadi ee terlambat 8:00 atau sulit untuk sembuh. 8:04 Nah, orang sahabat yang memiliki luka 8:07 tersebut pada satu hari dalam kondisi 8:12 junub. Dalam kondisi junub ya. 8:18 Lalu sahabat tersebut bertanya, "Ini 8:20 bagaimana saya?" Karena kita tahu kalau 8:23 orang dalam kondisi junub, dia 8:25 diperintahkan untuk apa? Mandi. Nah, 8:29 wain kuntum junuban. 8:32 Aru, jika kalian semua dalam kondisi 8:34 junub, maka mandilah. Untuk apa? Untuk 8:37 menghilangkan hadas yang ada pada yang 8:40 ada pada dirinya sehingga dia bisa 8:42 melaksanakan salat. 8:46 Lalu sahabat tersebut yang nota bene 8:50 kondisinya saat itu sedang di tengah 8:52 perjalanan 8:53 ya safar ya. 8:56 Mereka semua bertanya ee atau sahabat 9:00 tersebut bertanya kepada sahabat yang 9:02 lain, "Bagaimana nih saya? Apa yang 9:03 harus saya lakukan?" Ketika itu 9:05 sahabatnya yang lain belum mengetahui 9:09 perkara atau perihal hukum mengusap di 9:13 atas perban atau penutup luka. Ya, itu 9:17 ada hukumnya tersendiri tuh, Pak. 9:20 Nah, singkat cerita para sahabatnya yang 9:23 lain yang ditanyakan itu mengatakan, 9:24 "Ya, saya tidak mendapatkan 9:28 ya di dalam kitabullah, di dalam firman 9:32 Allah Subhanahu wa taala melainkan ya 9:35 mandi 9:37 ya 9:39 mandi. Akhirnya apa? sahabat tersebut 9:41 yang luka akhirnya mandi. 9:44 Nah, 9:46 dan dampak daripada jawaban tersebut 9:51 sehingga sahabat yang 9:53 memiliki luka itu pun melaks melakukan 9:56 mandi ya melakukan mandi. 10:02 Lalu sahabat yang mandi tersebut ya 10:06 tiba-tiba lukanya semakin parah hingga 10:09 menyebabkan sahabat tersebut meninggal. 10:14 Nah, ketika mereka sudah pulang kembali 10:16 diceritakanlah kejadian tersebut kepada 10:18 Nabi Muhammad sallallahu alaihi 10:20 wasallam. 10:23 Mendengar kisahnya tersebut Rasulullah 10:25 marah langsung. 10:27 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 10:29 pun langsung marah. Lalu beliau 10:32 mengatakan, "Innama syifaul iyi asal 10:37 atau sualun." Sesungguhnya 10:40 obat daripada ketidaktahuan 10:45 ketidakmampuan kita untuk mengetahui 10:48 sebuah perkara adalah bertanya. 10:51 Jangan langsung apa? Main jawab sendiri. 10:56 Ya, dampaknya akhirnya apa? bisa 10:59 menyebabkan jiwa seseorang pun melayang. 11:04 Ya, begitu juga yang terjadi 11:08 di era sahabat Abdullah ibn Umar 11:11 radhiallahu taala anhu radhiallahu taala 11:14 anhuma. di mana pernah ada kejadian di 11:17 eranya hidupnya sahabat Abdullah bin 11:19 Umar itu ada kekisruhan ya 11:24 gonjang-ganjing 11:26 ya kondisi politik saat itu sedang tidak 11:29 stabil adanya konflik ya sehingga muncul 11:33 peperangan. 11:35 Sahabat Abdullah bin Umar mengambil 11:37 jalan untuk tidak mau turut campur di 11:40 dalam konflik tersebut. Artinya beliau 11:44 me apa namanya? memasang sikap netral 11:48 karena konfliknya antara sesama umat 11:51 Islam. Beliau tidak mau tangannya itu 11:55 dinodai dengan darah saudaranya sesama 11:58 umat Islam. Baik yang dalam posisi benar 12:02 ataupun posisi salah kecuali sudah 12:05 diperjelas. 12:08 Mana lagi konflik itu kan lagi enggak 12:09 jelas. Ada pertikaian. Kalau pertikaian 12:12 ini kan masih belum jelas. Satu sama 12:14 lainnya saling mengklaim bahwasanya 12:17 mereka yang berada di pihak yang benar 12:19 ya yang lainnya salah. 12:23 Sahabat Abdullah. Nah, sedangkan dalam 12:25 mehilangkan 12:27 atau menumpahkan darah seorang muslim 12:29 itu bukanlah perkara yang ringan. 12:32 Ya, dalam sebuah hadis Rasulullah 12:33 sallallahu alaihi wasallam bersabda, 12:35 "Sesungguhnya runtuhnya Ka'bah itu jauh 12:39 lebih ringan bagi Allah daripada 12:42 tertumpahnya darah seorang muslim." 12:45 Darah satu orang muslim aja nih. Apalagi 12:47 kalau ikut serta di dalam pertikaian 12:49 atau peperangan tersebut, dampaknya akan 12:52 lebih banyak lagi. Keb ee apa namanya? 12:55 nyawa yang hilang. 12:58 Lalu ada satu orang mendatangi sahabat 13:01 Abdullah Ibnu Umar radhiallahu taala 13:03 anhuma. Ya, datangi. "Wahai Ibnu Umar, 13:07 kenapa engkau enggak ikut perang?" Ya, 13:10 kenapa kamu tidak ikut perang? 13:15 Bukankah Allah Subhanahu wa taala 13:18 berfirman, "Waqtiluhum 13:21 hatta la takuna fitnah." 13:23 Dan perangilah mereka semua sampai 13:26 fitnah itu hilang. 13:28 Ya, karena fitnah itu maknanya di dalam 13:31 bahasa Arab itu bukan fitnah yang kita 13:34 kayak pahamin, Pak. Kalau kita kan 13:36 artinya apa? Kita ngebohong tentang 13:39 status seseorang 13:41 ya. Artinya kita mengatakan tentang 13:43 seseorang itu yang 13:46 tidak sesuai dengan hakikat yang terjadi 13:49 atau yang ada pada orang tersebut. 13:52 Makna fitnah itu adalah 13:54 kondisi ketika 13:57 ee adanya pertikaian dan belum adanya 14:00 kejelasan status ya ee apa namanya? 14:05 Ketika seseorang itu tidak memiliki 14:06 kemampuan untuk membedakan mana yang 14:08 baik atau pos orang yang dalam posisi 14:12 benar ataupun posisi salah. Itu makna 14:15 fitnah. 14:17 Nah, itu kalau kita ngambil dari sisi 14:19 apa? dari sisi bahasa. 14:22 Lalu sahabat Abdullah bin Umar 14:23 mengatakan, "Enggak, enggak begitu 14:25 caranya atau tidak begitu cara 14:27 memahaminya 14:29 atau maknanya." 14:31 Lalu beliau mengatakan, "Waqatiluhum 14:34 hatta la takuna fitnah." 14:37 Perangilah mereka. Maksudnya di sini 14:39 konteksnya siapa? Orang-orang musyrikin 14:41 sampai fitnah itu hilang. Fitnah di sini 14:44 maksudnya apa? Dari poov. Kalau bahasa 14:46 orang anak sekarang nih dari sudut 14:48 pandangnya orang-orang musyrik yang 14:50 mereka saat itu mereka ketika meyakini 14:54 atau orang musyrikin itu meyakini 14:57 sesembahan selain Allah, mereka sedang 15:00 dalam kondisi ya di tengah-tengah ya 15:05 kekaburan akan kebenaran. 15:09 Sehingga perangilah mereka sampai 15:10 kebenaran itu tersingkap dengan jelas 15:12 dan terlihat dengan nyata. Maksudnya 15:15 apa? sampai mereka 15:18 masuk ke dalam agama Islam. 15:23 Nah, bayangkan kalau tidak merujuk 15:25 kepada Abdullah bin Umar, orang tersebut 15:27 bawa ayat tersebut, bawa ayat yang tadi 15:30 dibacakan untuk apa? Memobilisasi 15:35 masyarakat. Kira-kira bagaimana, Pak, 15:37 kejadiannya, 15:39 pertikaiannya, konfliknya bakalan lebih 15:42 luas lagi enggak? bakalan lebih runam 15:45 lagi. Enggak. Itulah pentingnya merujuk 15:48 kepada para ulama. 15:50 Lalu di antaranya yang lain ya, 15:56 ada di dalam ayat Al-Qur'an Allah 15:59 Subhanahu wa taala berfirman, 16:01 "Innasfa wal marwata min sya'airillah." 16:07 Sesungguhnya Safa dan Marwah itu adalah 16:10 termasuk syiar-syiar Allah Subhanahu wa 16:12 taala. Faman hajjal baita aamaro 16:17 fala junaha alaihi ayatfa bihima. Maka 16:23 tidak ada dosa bagi mereka yang 16:28 bertawaf di antara keduanya. Tiba-tiba 16:31 ada satu orang tabiin 16:34 memahami 16:35 ya bahwasannya 16:39 perintah untuk tawaf di Safa dan Marwah 16:42 itu sifatnya anjuran, bukan sebuah 16:44 keharusan. 16:47 Karena kenapa? Enggak ada dosa. Baik 16:49 dikerjakan maupun tidak dikerjakan 16:50 enggak ada dosanya, kan? Jadi begitu kan 16:52 kalau kita melihat secara tekstualnya, 16:55 teksnya ya. Lalu Sayidah Aisyah 16:58 radhiallahu taala anha menjelaskan bukan 17:00 begitu maknanya. 17:03 Bukan begitu maknanya. 17:07 Kamu kalau mau tahu maknanya, lihat 17:09 kepada 17:11 apa? Asbab nuzulnya. 17:14 Apa itu asbab nuzulnya? Dijelaskan oleh 17:16 Sayidah Aisyah radhiallahu taala anha 17:18 bahwasanya dulu orang-orang Arab kala 17:22 itu di zaman jahiliah menaruh berhala di 17:26 Bukit Safa dan juga di Bukit Marwah. 17:30 Terlebih lagi di Bukit Safa itu suka 17:34 dililakukan 17:36 pengumuman. orang naik ke Bukit Safa 17:38 pengumuman 17:40 atau mereka me menyenandungkan 17:44 syair-syair yang sifatnya atau berisikan 17:48 ajakan-ajakan kepada jahiliah. Jadi 17:51 tempat enggak baik 17:54 dalam timbangan 17:56 syariat Islam. 17:59 Sehingga sahabat kala itu ketika mau 18:01 maaf para tabiin kala itu agak sedikit 18:05 risih untuk mau apa? 18:07 mau melakukan sai di Safa dan Marwah 18:12 ya. Karena ini dulu tempat pemujaan nih. 18:15 Berarti kalau kita bahasa kita begitu, 18:16 Pak. Tempat memuja gitu. Nah, dijelaskan 18:19 oleh Allah 18:21 kamu melakukan sa'i di Safa dan Marwah 18:24 itu walaupun maksudnya begitu konteksnya 18:27 ya. Tempat itu bekas tempat untuk 18:31 pemujaan tidak ada dosa bagi kalian gitu 18:35 maksudnya. Bukan berarti Safa, sa'i, 18:37 Safa dan Marwah ini sifatnya anjuran, 18:40 bukan sebuah keharusan. 18:42 Nah, lihat dampaknya apa. Kita tahu 18:47 melakukan sa'i di Safa dan Marwah dalam 18:49 ibadah haji ataupun umrah itu sifatnya 18:51 adalah kewajiban secara ijma. 18:55 Dampaknya apa? akhirnya 18:57 menjadikan seseorang itu melakukan 19:00 sesuatu yang melanggar atau menyelisihi 19:05 sebuah kesepakatan. Nah, ini kalau sudah 19:07 dibiarin nih nanti ke sana makin ke sana 19:10 makin ke sana akhirnya banyak hal-hal 19:13 yang sifatnya sudah disepakati untuk 19:14 dikerjakan ditinggalkan, akhirnya Islam 19:17 akan hilang 19:21 keotentikannya atau 19:24 originalitasnya. 19:26 Ya, bisa-bisa enggak nutup kemungkinan 19:28 salat jadi enggak wajib lagi nanti. 19:31 Betul ya, Pak ya. Nah, itu dia. Nah, 19:36 oleh itu para ulama apa para salaf kala 19:40 itu senantiasa 19:42 melihat 19:44 ya menyaring ya menseleksi di antara 19:48 mereka siapa yang menjadi orang yang 19:51 punya hak untuk dijadikan rujukan 19:54 ya. 19:55 Jadi di zaman sahabat sendiri pun, di 19:59 zaman sahabat sendiri ini pun, Pak, yang 20:02 notabene mereka semua ini adalah luar 20:04 biasa. 20:05 Luar biasa dalam hal apa? Kemampuan ya. 20:10 Jadi udah apa namanya spek bawaan ya 20:13 kalau bahasa 20:15 bahasa elektroniknya itu untuk menerima 20:19 aplikasi-aplikasi yang udah luar biasa 20:21 itu ma support gitu, Pak. Kalau kita kan 20:25 enggak, Pak. Nih HP ya apa nih? Kalau 20:27 kalau kita bas pakai HP nih ya kan. Hah? 20:31 Kasih aplikasi agak gedean dikit udah 20:34 ngadet-ngadet jalannya gitu kan. Nah 20:36 kalau sahabat enggak tuh. 20:38 Sistemnya mereka tuh kalau mau nerima 20:40 ilmu tuh cepat gitu. Tapi bersamaan 20:44 dengan itu, bersamaan dengan itu mereka 20:46 enggak semuanya 20:48 memposisikan diri mereka sebagai tempat 20:52 rujukan. 20:54 Disebutkan oleh Ali Ibnu Madini dalam 20:57 kitab al-ilalnya 21:00 dulu yang jadi rujukan sahabat itu dari 21:03 sekian ratus ribu sahabat loh ya. Sekian 21:06 ratus ribu cuma empat orang aja. 21:09 Empat orang nih maksudnya apa? 21:12 Artinya mereka itu yang dijadikan 21:14 rujukan, dijadikan barometer. Metode 21:16 pemahamannya mereka yang dijadikan 21:18 sebagai rujukan. Bukan hanya sekedar 21:20 tempat bertanya. Kalau tempat bertanya 21:22 agak lebih banyak lagi. 21:24 Kalau bahasa simpelnya, bahasa simpelnya 21:26 gini, Pak. 21:28 Mazhab era sahabat itu empat dah 21:32 mazhabnya. Sekarang kan kalau kita nih 21:35 kayak kita nih, Pak, tempat bertanya 21:37 ustaznya banyak kan. Tapi yang ustaznya 21:40 bisa kelasnya jadi bikin mazhab kan 21:42 enggak enggak enggak ada 21:45 ya. Paling cuman siapa? Imam Syafi'i, eh 21:47 Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam 21:49 Syafi'i, Imam Ahmad ibn Hambal. Begitu 21:52 juga di era sahabat pun demikian. Kalau 21:55 yang ditanyain untuk masalah-masalah 21:57 yang ringan itu tapi sampai jadi ulama, 22:00 rujukan para ulamanya juga itu cuma 22:02 empat orang aja. 22:05 Di antaranya Zaid Ibnu Tsabit ya, 22:09 Abdullah Ibnu Abbas di antaranya 22:12 Abdullah Ibnu Umar itu di antaranya. 22:14 Jadi enggak banyak ini pernyataan para 22:17 ulama. 22:19 Nah, 22:22 jadi sudah dijelaskan tuh 22:26 bahayanya kita enggak ngerujuk kepada 22:28 para ulama ya, dampaknya bisa seperti 22:32 apa ya. 22:35 Sama halnya juga dengan kejadian. Nah, 22:37 ini ada satu hal yang penting saya lupa 22:39 nih ngasih contohnya. 22:41 Dulu ketika 22:44 Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dan 22:46 Sayyidina Muawiyah radhiallahu taala 22:48 anhu radhiallahu taala anhum warad sair 22:52 sahabah ya itu punya pertikaian konflik 22:56 perselisihanlah lebih tepatnya gitu 22:58 perselisihan ya mereka berdua bersepakat 23:02 ini kita enggak perlu ngomongin 23:05 perselisihan di antara kedua manusia 23:07 hebat itu ya karena kita selayaknya kita 23:12 bagi kaum muslimin itu mendudukkan 23:14 sahabat tuh kayak orang tua kita, Pak. 23:17 Kayak orang tua 23:19 maksudnya gimana, Ustaz? Sekarang gini, 23:22 kalau orang tua kita berantem, kita 23:24 bakal memihak salah satunya kah? Hah? 23:28 Pertanyaan nih, Pak. Enggak kan? 23:31 Ayah ibu kita nih bertikai nih, berantem 23:33 gitu misalnya. Apa terus kita bakal 23:36 memihak kepada ayah kita terus ikut 23:38 nyerang ibu kita atau sebaliknya kita 23:40 berpihak kepada ibu kita terus nyerang 23:43 ayah kita kan enggak kan? Nah, itu dia. 23:50 Kala itu 23:51 sahabat Sayid ee Sayidina Ali mengutus 23:55 perwakilan untuk menengahi konflik atau 23:58 perselisihan di antara keduanya. 24:01 Sayidina Ali mengutus sahabat Abu Musa 24:04 al-As'ari. 24:08 Sedangkan sahabat 24:11 Muawiyah radhiallahu taala anhu 24:15 warad an sair sahabah ajmain 24:18 itu mengutus sahabat Amr ibnul Ash. Amr 24:23 ibnul Ash. Tiba-tiba ada sekelompok 24:27 orang ya menyatakan 24:31 ya keluar dari barisan para sahabat dan 24:36 bukan hanya sekedar keluar mengkafirkan 24:38 seluruh sahabat. 24:43 Kok bisa 24:45 mereka bawakan ayat inil hukmu illa 24:49 lillah. 24:50 Hukum itu hanya milik Allah, 24:53 bukan miliknya Abu Musa. Bukan bukan 24:56 miliknya Abu Musa, bukan miliknya Amr 24:58 ibn Ash. Waduh, 25:03 masuk akal enggak kalau kita cara 25:06 mahamin? Ya, betul kan? Bawa ayat nih. 25:12 Bukan kosongan 25:15 ya. Ngayal dari mana gitu. Woh, langsung 25:17 kafir. Enggak ada ayatnya di baw hukum 25:20 itu hanya milik Allah, bukan miliknya 25:23 Amr bin Ash. Bukan miliknya 25:26 Abu Musa al-Asy'ari. 25:29 Sehingga kelompok ini dinamakan sebagai 25:32 khawarij. 25:34 Khawarij itu dari kata khuj, keluar. 25:37 keluar dari dua kelompok besar sahabat 25:41 kala itu yang sedang ada perselisihan di 25:44 antara kedua kelompok itu. Ya. 25:48 Ah, 25:51 sehingga terjadilah ya ee kondisinya itu 25:55 semakin runyam 25:58 dan khawarij ini melakukan ya 26:01 manuver-manuver 26:03 yang menghilangkan nyawa. Bahkan 26:05 Nasallahu alaihi wasallam ada satu orang 26:07 sahabat itu yang sampai dibunuh dan 26:10 istrinya yang lagi mengandung 26:12 sampai di robek perutnya. 26:16 Ini gara-gara apa? Tidak merujuk kepada 26:19 para ulama. 26:25 Lalu Sayidina Ali memiliki inisiatif 26:28 mengutus 26:30 sahabat yang mulia 26:33 Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu taala 26:35 anhuma. Ngajak dialog. Ngajak dialog. 26:40 Datanglah sahabat Abdullah bin Abbas. 26:45 Lalu di antara isi dialog tersebut 26:49 ya kurang lebih maknanya 26:54 kalian ini berhukum dengan hukumnya 26:56 siapa? Abu Musa al-Asy'ari 26:58 dan berhukum dengan hukumnya 27:02 Amru bin Ash. Sedangkan Allah 27:04 memerintahkan kita untuk hanya berhukum 27:06 kepada hukumnya Allah Subhanahu wa 27:08 taala. 27:12 Lalu sahabat 27:14 apa? 27:17 Abdullah bin Abbas membacakan satu ayat 27:19 yang di mana di dalam suratul maidah 27:22 yahkumani dzawa adlin minkum. 27:26 Kalau kamu 27:28 lagi haji terus membunuh binatang, 27:33 terus binatangnya itu bukan binatang 27:36 yang dijual kayak kijang gak ada yang 27:38 jual kan? Benar enggak? 27:41 binatang liar. Nah, ini kijang ini 27:43 disamakan dengan apa nih harga atau 27:46 penakaran harganya siapa yang nak bayar 27:53 damnya gitu loh kalau bahasanya gitu. 27:55 Allah merintahkan kita untuk 27:59 merujuk kepada dua orang yang kompeten 28:02 untuk memberikan penilaian. Allah 28:05 sendiri yang nyuruh 28:08 ya. Dan juga Allah Subhanahu wa taala 28:12 memerintahkan ketika 28:15 sepasang suami istri 28:18 sedang bertikai atau sedang terjadi 28:21 konflik di hubungan mereka dan tidak 28:24 menemukan titik tengah di antara mereka 28:27 nih. Allah memerintahkan langsung setiap 28:30 masing-masing dari pihak suami maupun 28:32 istri mengirim hakam 28:38 sendiri. Kok kamu Allah aja nyuruh 28:39 begitu? Kok kamu mengatakan orang yang 28:41 menyuruh me 28:44 minta adanya penengah kok langsung 28:46 dikafirin? Berarti secara tidak langsung 28:49 mereka mengatakan Allah mengajarkan keku 28:52 kekufuran. Jadi maknanya inil hukmu illa 28:55 lillah. Iya betul. Hukum itu harus 28:57 berdasar dari Allah. Dan orang-orang 29:00 yang menjadi penengah itu, Sayidina Amr 29:02 bin Ash, Sayidina Abu Musa al-Asy'ari 29:06 itu ketika menengahi 29:08 perselisihan di antara dua orang sahabat 29:11 hebat itu, mereka merujuk kepada 29:13 kitabullah untuk mencari titik 29:15 tengahnya. 29:18 Sehingga akhirnya ya panjanglah itu ada 29:21 diskusinya panjang. singkat ceritanya 29:24 akhirnya komunitas tersebut akhirnya 29:27 kembali dan apa ee 29:33 tobat dan ee kembali kepada barisannya 29:36 sah sahabat. Nah, Bapak, Ibu sekalian, 29:39 jemaah sekalian, memang perkembangan di 29:42 dalam 29:44 dunia keislaman ini cukup beragam. Di 29:48 antaranya ada orang yang mau merujuk 29:50 kepada kitab Allah dan ee sunah 29:53 Rasulillah sallallahu alaihi wasallam 29:56 tanpa mau merujuk kepada kitab ulama. 29:59 Ya, ini bahaya pemahaman seperti ini 30:03 ya. Sebagai bahkan salah seorang imam al 30:08 ulama yang bernama Al Imam Ibnu Rajab 30:10 Al-Hanbali. Ibnu Rajab Alhanbali 30:15 beliau punya 30:17 kitab judulnya Arraddu ala manaba giri 30:22 mazahibil arbaah. 30:24 Bantahan jawaban atas mereka yang tidak 30:28 mau mengikuti mazhab yang empat. 30:31 Di antara isinya itu bisa jadi tuh orang 30:34 yang enggak mau ikut mazhab yang empat 30:38 itu adalah para mujtahid. Artinya mereka 30:42 yang punya 30:45 kemampuan untuk menelaah langsung, 30:48 melihat langsung kepada Al-Qur'an dan 30:50 sunah tanpa merujuk kepada para ulama. 30:53 Bisa jadi. Lalu kata Imam Ibnu Rajab 30:56 mengatakan begini 30:59 ya. 31:01 Iya. Mereka mujtahid 31:04 tapi bukan mujtahid di dalam 31:08 ya memperbaiki dan menguatkan agama. 31:10 tetapi mujtahid di dalam merusak agama. 31:15 Mujtahid di dalam merusak agama. Mengapa 31:18 demikian? 31:20 Ini Imam Ibnu Rajab loh ya tahun 800 700 31:23 800 Hijriah. Artinya kisaran abad ke-8 31:26 abad ke-9 Hijriah. Jadi kalau kita 31:29 sekarang A 1400 sekian 31:31 sudah berapa tahun tuh? 31:34 sudah 600700 tahun yang yang lalu. 31:38 Beliau mengatakan ulama saat ini di 31:41 zaman beliau, 31:43 perhatikan ya, ulama di zaman beliau itu 31:47 jadi muridnya Imam Ahmad aja enggak 31:48 pantes. 31:52 Kita ulama sekarang jadi muridnya ulama 31:56 di zaman Ibnu Rajab aja bisa dikatakan 31:58 tidak. 32:01 Artinya sudah ada kemerosotan, kemampuan 32:06 itu udah udah jauh. 32:11 Bayangkan mereka yang kalah itu tadi 32:12 saya sudah sebutkan punya 32:15 support sistemnya tuh sudah memadai itu 32:17 bisa salah paham sampai sefatal itu. 32:21 Bagaimana kita bahasa Arab aja enggak 32:25 bisa. Kalaupun bisa juga 32:27 pas-pasan. Betul kan? 32:30 Kok mau langsung to ke kitabullah dan 32:32 sunah Rasulullah sallallahu alaihi 32:34 wasallam tanpa merujuk kepada penjelasan 32:36 dan penilaian para ula ulama. Berbahaya 32:38 itu. 32:42 Ahah. Maka daripada itu pentingnya kita 32:44 merujuk kepada kitab para ulama karena 32:46 itu pulalah yang juga di di 32:48 diperintahkan oleh Allah subhanahu wa 32:52 taala. Nah, ini kan katanya k majelisnya 32:55 interaktif nih ya. pertanyaan ini ana 32:57 jadi saya ngomong sendiri nih, Pak. Nah, 33:00 saya sekarang kasih kesempatan nih bagi 33:02 yang hadir di sini untuk apa ee 33:07 menyampaikan pertanyaannya 33:09 untuk kita coba diskusikan ya. 33:14 Saya izin minum ya. 33:20 Ya. Baik. Ee Bapak, Ibu sekalian 33:25 mungkin ee sambil jeda sementara ini ada 33:28 pertanyaan terkait dengan ilmu dengan 33:32 kita tema tadi merujuk kepada 33:34 kitab-kitab 33:35 ulama. 33:36 Iya. 33:38 Ada pertanyaan mungkin? Ah, saya coba 33:43 coba bertanya ya, Ustaz ya, sambil 33:45 pancing yang lain. 33:46 Iya. He 33:46 tadi kan terkait dengan kita punya dua 33:49 ada dua golongan ya orang-orang yang 33:53 memiliki pengetahuan dan juga dan tidak 33:56 menguhan. 33:57 Nah ini coba saya agak tarik sedikit 34:01 ee suka ada mana sih yang didahulukan ya 34:05 ada adab 34:07 He 34:08 dan ilmu gitu ya. Iya. 34:10 Kita perlu dengan ilmu bahkan kita 34:12 dianjurkan, diwajibkan bahwa kita 34:14 menuntut ilmu. Namun juga bagaimana 34:16 dengan adab kita. Tadi saya cuma 34:19 menyinggung dengan adab bagaimana adab 34:21 dari orang tua dan juga tadi ada ee Imam 34:24 Ali dan Imam Muammiyah ya. 34:26 Iya. 34:27 Itu mungkin bisa dijelaskan, Ustaz. 34:29 Iya. Iya. Mengenai 34:33 adab dan ilmu ya. Mana yang harus 34:36 didahulukan 34:38 ya? 34:42 Sebetulnya itu enggak perlu ditanyakan 34:44 mana 34:46 ee mana yang dari keduanya yang harus 34:48 didahulukan dan mana yang di 34:52 belakangin. Karena ilmu yang benar pasti 34:56 akan menghantarkan kepada adab yang 34:59 benar. 35:01 Ya, semakin seseorang belajar 35:06 ya menimba ilmu dari seorang 35:11 guru yang kompeten yang guru memiliki 35:16 kebersihan jiwa dan kelurusan sikap itu 35:21 akan 35:23 pasti sedikit banyaknya memberikan 35:26 pengaruh kepada adabnya dan juga 35:29 peningkatan 35:30 keilmuan yang dia ee pelajari. Nah, jadi 35:34 artinya kalau ditanya mana yang harus 35:36 didahukan enggak itu seiring berjalan. 35:40 Seiring berjalan. Ya, saya mengatakan 35:44 ini karena memang kondisi kita juga udah 35:46 agak sulit gitu, Pak. Kalau 35:49 ulama tinggal kita tugas kita nyari apa 35:54 ya? nyari gurunya aja yang yang baik 35:56 yang memang sudahudah ee bisa 35:59 mengarahkan kita, membimbing kita kepada 36:02 jalan du kebaikan tersebut ya. Kebaikan 36:06 dalam hal peningkatan keilmuan, 36:08 pemahaman, 36:10 dan juga apa namanya perbaikan dari 36:12 sikap dan juga perilaku juga adab kita 36:16 di dalam keseharian dan dalam kehidupan 36:19 kita. Ya, kalau misalnya 36:23 ilmunya salah itu akan cenderung nanti 36:26 tidak memiliki adab. Tadi kayak contoh 36:30 ee orang-orang dari kalangan khawarij 36:33 bagaimana mereka menghinakan manusia 36:37 manusia terbaik bahkan sampai 36:39 mengkafirkan. 36:41 Nah, itu dampak dari apa 36:44 ya? karena kesalahan atau ilmu yang 36:46 tidak pas, tidak benar yang dia terima 36:50 dan dia pahami. Sehingga adabnya itu 36:53 adalah cerminan daripada 36:55 ya kebengkokanlah kalau bahasanya kita 36:58 ini kebengkokan ilmunya. Kalau ilmunya 37:01 lurus insyaallah itu akan tercermin 37:04 daripada perilaku dan sikapnya. Begitu 37:07 Pak. Wallahualam. 37:08 Ya, terima kasih Pak. Mungkin ada 37:11 pertanyaan dari 37:13 sisi kanan ya. Silakan. 37:26 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 37:27 ustaz. 37:27 Waalaikumsalam warahmatullahi 37:29 wabarakatuh. 37:29 Ee saya ingin menanyakan mengenai 37:32 terkait dengan 37:34 rujukan kepada para ulama Ustaz. Jadi ee 37:39 beberapa 37:41 ilmu atau beberapa pemahaman terkait 37:43 dengan materi yang didapatkan misalkan 37:47 apakah itu ee bisa berubah dengan 37:50 kondisi yang saat ini terjadi misalkan 37:53 gitu ya. Contoh misalkan ee ada yang 37:58 dalam investasi misalkan Ustaz terkait 38:01 ee kripto atau hal lain dalam satu sisi 38:03 yang berhubungan dengan adanya 38:07 ee intestasi-investasi yang ada 38:09 berbungan bunga atau apa gitu misalnya 38:11 itu adalah haram gitu karena ada 38:13 kelebihan atau apa. Di zaman dulu tidak 38:15 ada seperti itu. Tapi sekarang misalkan 38:17 ada. Tapi beberapa ulama itu ee dalam 38:21 video yang dirujukan meyakinkan pada 38:23 kita itu 38:26 membolehkan gitu ya. Nah, di sisi sisi 38:29 ulama yang sebelum ee yang sekarang 38:32 mempengaruhi atau memberikan ruj kita 38:34 itu membolehkan sementara pemahaman yang 38:36 awal dulu kita pahami itu tidak boleh. 38:39 Apakah itu akan berlaku sesuai dengan 38:42 kondisi yang ada saat ini? Ini 38:44 permasalahan kontemporer. 38:46 Iya, kontemporer seperti itu. 38:47 Kontorer. Artinya boleh enggak kita 38:49 pindah ee pendapat gitu ya? 38:52 Iya. 38:53 Atau artinya merubah atau 38:54 sesuai dengan kondisi yang terjadi, 38:56 kondisi saat ini gitu ya. 38:57 Iya. 38:59 Iya. Ini di apa namanya dalam masalah. 39:03 Jadi gini, 39:06 ini saya saya lagi mikir harus dari mana 39:08 dulu nih bicaranya ya. 39:12 Oke. Jadi masalah orang awam, orang yang 39:16 tidak memiliki pengetahuan itu memang 39:19 harus merujuk kepada 39:21 seorang ulama, orang yang punya 39:24 kapasitas keilmuan yang mumpuni dan 39:26 kredibel dalam hal keilmuan. 39:31 Nah, artinya dia tidak boleh melangkah, 39:34 mengambil tindakan, mengambil sikap, 39:36 kecuali dia sudah memusyawarahkan dan 39:38 bertanya terlebih merujuk kepada para 39:40 ulama terlebih dahulu. Begitu juga di 39:43 dalam masalah-masalah yang sifatnya 39:44 kontemporer yang belum dibahas oleh 39:47 ulama-ulama terdahulu. 39:50 Kalau terjadinya perbedaan pendapat di 39:53 dalam sebuah permasalahan kontemporer, 39:56 maka misalnya ada dua pendapat. 40:00 Yang satu mengatakan A, yang satu 40:02 mengatakan B. Mana-mana pendapat yang 40:05 kita pilih itu 40:09 selama kita merujuk kepada para ulama, 40:12 artinya kita diperkenankan untuk 40:14 melakukan dan mengambilnya. 40:17 Jadi, enggak harus kita secara umum ya, 40:21 enggak harus timbang-timbang nih. Kita 40:23 enggak punya alat untuk menimbangnya 40:26 gitu. sekalipun seandainya di masa yang 40:30 akan datang kita merubah, 40:33 artinya awalnya kita ngikut A ya, terus 40:36 tot ngikut B ya, itu tidak ada masalah. 40:41 Itu tidak ada masalah tapi dengan 40:44 syarat. Satu syaratnya apa? 40:48 Perpindahan tersebut bukan didasarkan 40:51 hawa nafsu. 40:54 Jadi bukan wah nih cari yang 40:55 gampang-gampangnya aja deh. Saya mau 40:58 cari yang gampang-gampangnya. Gampang 41:00 dalam artian tidak ada hajat kondisi 41:03 yang memaksa untuk melakukan hal 41:05 tersebut. 41:07 Ya, 41:11 contoh gimana kondisi contoh hajat 41:13 misalnya gimana gini. kita di dalam 41:15 mazhab Syafi'i ini kan kalau nikah 41:19 itu harus dengan wali kan ya. 41:23 Nah, kalau enggak pakai wali 41:27 dengan wali dan harus dihadiri dengan 41:29 dua saksi. Kalau tidak terpenuhi dua hal 41:33 tersebut, maka nikahnya tidak sah. 41:38 Nah, tiba-tiba kalau misalnya kondisinya 41:41 ada peperangan sampai akhirnya wali 41:46 seorang perempuan tersebut 41:48 meninggal 41:50 ya tidak ada tersisa satuun. 41:53 Wali hakim enggak ada karena kondisinya 41:57 perang. 41:59 Boleh enggak kita tak ketika kita mau 42:00 menikahi seorang perempuan yang walinya 42:04 sudah enggak ada, hakimnya juga tidak 42:06 ada. Takqlid ke mazhab Abu Hanifah yang 42:10 di mana beliau tidak mempersyaratkan 42:13 adanya wali, tapi harus ada dua saksi. 42:17 Boleh. Karena kenapa? Kondisinya 42:20 darurat. 42:22 Kondisinya memang tidak memung 42:23 memungkinkan. Itu selaras dengan yang 42:25 apa yang Bapak tanyakan. Artinya kita 42:27 merubah kondisi mazhabnya karena 42:31 perkembangan situasi yang memaksa kita, 42:35 mengharuskan kita untuk mengambil mazhab 42:37 yang berbeda. Kalau kondisi begitu 42:39 boleh. Tapi kalau misalnya cuman karena 42:44 ya dorongan nafsu aja gitu 42:48 ya kan. Nah itu itu tidak diper 42:51 diperbolehkan ya. Wallahuam bawab. 42:58 Baik, Pak Suryadi. Silakan, Pak. 43:02 Pak ini Pak Yono. 43:03 Monggo, Pak. 43:03 Asalamualaikum, Pak Ustaz. 43:05 Iya. Waalaikumsalam warahmatullahi 43:06 wabarakatuh. 43:07 Mohon maaf mau bertanya, Pak Ustaz. 43:08 Iya, Pak. 43:10 Ya. Mengenai bahasan [berdehem] 43:12 bagaimana 43:14 ee 43:16 merujuk kepada ulama, kepada kitab. 43:22 Kalau di era zaman ee sekarang ini kan 43:25 serba 43:27 digital, Ustaz ya. 43:28 Iya. 43:29 Banyak orang 43:32 ketika ada permasalahan 43:35 hanya mungkin 43:37 hanya bertanya, 43:40 mendengarkan di YouTube dan sebagainya. 43:43 H 43:44 ee sedangkan 43:48 Allah dan Rasul-Nya 43:51 telah menjelaskan dalam Al-Qur'an 43:53 bahwasanya ulama ini adalah pewaris para 43:55 para anbiya, para nabi. 43:57 Iya 43:59 lah. Hari ini kebanyakan orang lebih 44:02 percaya digital daripada 44:06 datang misalkan s ke ulama, ada 44:09 permasalahan bertanya ke ulama. 44:12 sudah jarang sekali. 44:15 Bahkan ironisnya sekarang anak muda itu 44:19 jarang sekali yang mau duduk di 44:21 majelis-majelisnya para ulama, 44:23 majelis-majelis yang di dalamnya ee 44:27 membahas tentang ilmu agama baik di 44:30 masjid, di manaun 44:32 lah. Bagaimana caranya supaya yang 44:35 pertama orang awam ini tertarik untuk 44:40 syubah ke para ulama, ke para guru 44:44 datang bersilaturahmi 44:47 dikatakan memandang wajahnya guru saja 44:51 itu mendapatkan rahmat kan gitu. Terus 44:54 bagaimana caranya supaya menarik 44:56 anak-anak muda ini mau duduk dalam 44:59 majelis-majelis ilmu terutama mungkin di 45:03 masjid dan sebagainya, Pak Ustaz. Itu 45:05 saja, Pak Ustaz. Terima kasih ee 45:08 atas waktunya. Asalamualaikum 45:10 warahmatullahi wabarakatuh. 45:12 Waalaikumsalam warahmatull Masyaallah 45:14 pertanyaannya 45:16 yang bertanya satu orang tapi pertanyaan 45:18 langsung banyak borongan. 45:21 Iya. 45:23 Baik, saya coba jawab ya, Pak ya. 45:25 Sebetulnya ini pertanyaannya banyak. 45:27 Terus juga 45:29 selain jumlah pertanyaannya banyak juga 45:34 lebar banget ini cakupan pertanyaannya 45:36 tapi saya coba jawab ya. Yang pertama 45:39 adalah masalah di era digital ini, Pak. 45:42 Ya, yang kita harus pahami nih. Saya 45:45 mungkin Bapak tidak menanya secara 45:47 langsung tapi saya punya apa namanya? ee 45:52 rasa untuk 45:55 membahasnya sedikit. Bisa enggak hal apa 45:59 yang ada di internet ini, di platform 46:01 digital ini kita jadikan sebagai 46:03 rujukan? Maka kita lihat kalau misalnya 46:07 kita merujuk hanya sekedar kepada 46:09 artikel-artikel saja itu tidak bisa 46:12 dijadikan 46:14 ya rujukan utama. Saya bukan mengatakan 46:18 tidak bisa dalam artian tidak sama 46:19 sekali tidak ada gunanya. Ada gunanya 46:21 tapi tidak bisa dijadikan rujukan utama. 46:26 Karena kalau misalnya kita bertanya 46:29 tentang kondisi kita secara khusus, 46:32 spesifik, 46:34 ya itu kita harus 46:37 memberikan pertanyaan atau memberikan 46:41 penjelasan terlebih dahulu kondisi kita 46:43 secara detail dan menyeluruh, 46:47 komprehensif. Kalau sekiranya ada satu 46:51 bagian saja yang miss, itu bisa menjadi 46:54 berbeda kesimpulannya. 46:57 Nah, sekarang kita kan enggak tahu itu 47:00 yang ditulis di internet konteksnya 47:02 seperti apa. 47:06 Nah, tiba-tiba konteksnya A, sedangkan 47:08 kita dalam kondisinya B enggak sinkron, 47:11 enggak nyambung. 47:13 Akhirnya kita melakukan ya sesuatu hal 47:17 yang enggak sesuai. dengan apa yang 47:19 diinginkan oleh syariat. Namun kalau 47:21 misalnya dalam artian memanfaatkan 47:24 platform digital itu artinya kita 47:26 bertanya langsung kepada para ulama 47:28 dengan memanfaatkan 47:30 ya 47:32 yang media yang ada yang saat ini itu 47:35 tidak masalah bagus. Itu artinya kita ee 47:38 apa namanya? memanfaatkan kemudahan 47:40 zaman yang ada di era kita saat ini. 47:44 Nah, lalu 47:48 timbul pertanyaan sekarang anak muda 47:50 nih, Pak. 47:52 Kalau kita bicara anak muda itu 47:54 sebetulnya kompleks, Pak. kompleks. 47:58 Banyak yang harus kita benahi untuk bisa 48:01 menarik anak muda 48:03 mau duduk dan memotivasi mereka untuk 48:08 belajar bertemu, menemui, duduk dengan 48:12 para ulama. 48:14 Namun saya mau fokus pada satu hal 48:17 sebetulnya Pak ya. 48:20 Anak muda ini manusia. 48:22 Manusia ini tidak akan 48:27 ya tumbuh menjadi sesuatu secara 48:31 tiba-tiba. pasti melewati yang namanya 48:33 sebuah 48:35 proses. 48:37 Ya, 48:38 itu sebetulnya harus menjadi 48:41 keprihatinan kita 48:44 sebagai orang tua ya. Bagaimana mereka 48:49 mendidiknya dulu ketika mereka masih 48:53 kecil. Kan anak-anak muda itu kita aja 48:55 ya itu yang hadir di sini semua yang 48:58 umurnya sudah senior itu kan pasti juga 49:00 punya masa kecil kan. Nah. Nah itu 49:04 bagaimana ya kita ke adanya kita saat 49:08 ini kan cerminan daripada proses ya 49:12 perkembangan kita dari masa kecil remaja 49:15 sampai kita ada di saat ini kan Pak. 49:17 Enggak ujuk-ujuk toto datang begini 49:18 jadinya begini ya. kita lahir kondisinya 49:21 saya sudah tingginya sekian kan enggak 49:23 mungkin ada proses dari bocah gitu kan. 49:26 Nah, karena kita melihat banyaknya orang 49:29 tua itu yang melalaikan 49:31 peran mereka sebagai apa? Pendidik 49:36 anak-anak mereka. Contoh kecil, contoh 49:39 kecil nih. Contoh kecil aja. 49:44 Anak ke masjid ya. Anak ke masjid ya. 49:50 Tapi dibiarkan di masjid itu mengganggu 49:53 orang-orang yang salat. Saya bukan 49:56 berarti anti anak main di masjid loh ya, 49:58 Pak ya. Saya bukan saya 50:02 bukan termasuk orang yang anti anak-anak 50:04 main di masjid. Silakan. Tapi namanya 50:08 main itu bukan di setiap waktu di ketika 50:11 di masjid. Saat waktunya salat tiba 50:14 dikerjakan sedang dilakukan berhenti 50:17 mainnya. Mereka harus salat dengan penuh 50:20 tertib. 50:22 Tapi yang kita lihat sekarang 50:23 fenomenanya di masyarakat atau di banyak 50:25 masjid di di negeri kita atau secara 50:29 saya enggak mau generalis di di Jabo 50:31 Tabek lah yang saya perhatikan lah itu 50:33 kan masyaallah kan. Nanti kalau misalnya 50:36 pas imamnya salatnya jahriyah lomba tuh 50:39 pde lomba apa gede-gedean. Amin. 50:44 Betul kan? 50:45 Nah, itu kenapa? Karena memang orang 50:48 tuanya enggak ngajarin. Orang tuanya tuh 50:51 kayak udah 50:54 apa namanya? Terbebani dengan anaknya. 50:57 Udah deh ke masjid deh. Dianggapnya 50:59 masjid itu kayak bengkel. 51:04 Padahal seharusnya orang tuanya edukasi 51:07 dulu sebelum dibawa ke masjid. 51:11 Ya, 51:15 Ustaz enggak bisa. Enggak bisa. Saya 51:16 anak saya saya buktikan kok saya bisa 51:18 kok. Saya bawa anak saya umur 4 tahun, 5 51:21 tahun bisa salat tenang. 51:24 Sampai sekarang saya punya anak sekarang 51:27 kelas 3 SD sudah saya ajak masjid kelas 51:30 1 SD. Ada teman-temannya main ketika 51:33 salat bisa dia salat. Enggak pakai 51:35 bercanda sama teman-temannya. Saya 51:37 persilakan sudah selesai salat kamu main 51:40 silakan. Malah 51:43 saya suruh main 51:45 bukan saya persilakan. Saya yang nyuruh 51:48 main setelah apa? Salat. 51:52 Ya, kebetulan contohnya saya suka ngajak 51:54 begini. Kebetulan masjid di rumah tempat 51:59 saya tinggal tuh ya kurang lebih sebesar 52:01 inilah mungkin agak lebih besar lagi 52:02 malah. Luas banget, Pak. Memang ini ya 52:05 masjidnya. 52:07 itu saya kadang setelah selesai salat 52:09 saya ajak ke tengah masjid saya senderan 52:13 di tiang ya tengah-tengah gini saya 52:15 suruh lari 52:18 ngilangin tenaganya menyalurkan 52:20 tenaganya dia untuk apa beraktivitas 52:23 secara lewat dengan fisiknya kan 52:25 anak-anak mau dunianya main kan ya saya 52:28 suruh lari sudah tapi setelah selesai 52:31 salat nah itu contoh 52:34 nah banyak orang tua yang 52:38 terlewat pada fase fase itu dididik, 52:43 dimotivasi, diingatkan 52:46 ya untuk duduk dengan para ulama ya. 52:50 Sehingga kalau kita melihat sekarang 52:52 kondisinya sudah seperti ini, banyak 52:55 anak muda yang jauh dari para ulama, 52:57 maka yang harus introspeksi, yang 53:00 merenung terlebih dahulu itu ya siapa 53:02 ya? Orang tuanya. 53:06 Ya, kadang kita ini fenom apa yang 53:09 sangat disayangkan lebih cepat 53:11 menyalahkan anak muda padahal tidak 53:13 munculnya generasi di kalangan muda yang 53:16 seperti itu melainkan hasil daripada apa 53:18 ya orang tuanya kan 53:22 gitu. 53:25 Makanya kalau saya ngelihat 53:26 kadang-kadang ada diskusi di di internet 53:28 gitu kan ada tuh gen X, gen Milenial, 53:32 gen gen Z gitu kan. Terus suka apa 53:37 namanya ya? Ledek-ledekan. Ah, ni genzi 53:41 begini gini begini. Eh, kalau gen 53:43 milenal jangan ente ngeledek genya. Itu 53:46 genzi bisa muncul gara-gara ada gen 53:48 milenial. Iya, 53:52 gen milenial. N lihat atau gen sebelum 53:55 saya enggak hafal tuh gen X apa-apa 53:56 gitu. Sebelumnya liihat milenial seperti 53:58 ini, jangan ente ledek. Jangan Anda 54:01 ledek. adanya gen karena ada gen 54:04 sebelumnya. 54:07 Artinya munculnya generasi yang tidak 54:12 ee sesuai dengan ekspektasi kita tuh 54:14 harusnya kita ngacak kepada diri kita 54:16 ini. Jangan-jangan kita punya turut 54:18 andil melahirkan generasi ini. 54:21 Itu dia. Nah, sembari. Tapi bukan 54:25 berarti kita sekarang kan ini ngomong 54:26 masalah apa namanya? ee 54:30 seperti enggak bukan menyalahkan, tapi 54:32 ini untuk menjelaskan titik masalahnya 54:37 agar kita perbaiki walaupun ya jalan 54:40 untuk memperbaikinya agak panjang. Nah, 54:43 walaupun ada sih solusi-solusi kayak 54:45 jangka pendeknya, jangka menengahnya itu 54:48 maka itu panjang nanti pembahasannya 54:51 gitu, Pak. Wallahualam. Semoga bisa 54:53 dijawab, Pak, ya. 54:54 Iya. Baik. Ee masih ada pertanyaan, ya? 54:58 Nih pertanyaannya biasanya susah nih, 55:01 Ustaz. 55:01 Dari Pak Suryadi nih. Silakan. Siap. 55:03 Siap. 55:10 Wah, dibilang susah mati itu, Pak. 55:13 Asalamualaikum warahmatullahi 55:14 wabarakatuh, Ustaz. 55:15 Waalaikumsalam warahmatullahi 55:17 wabarakatuh. 55:17 Ustaz, masalah pahaman ilmu, Ustaz. 55:20 Banyak ilmu-ilmu ini yang beda pendapat, 55:22 Ustaz. 55:23 Beda pendapat. 55:24 Beda pendapat. 55:25 Iya. Kadang ada pendapat ulama ini 55:28 berbeda dengan pendapat ulama ini. 55:30 Iya. 55:31 Sehingga ada pendapat ulama ini ajaran 55:33 ikuti pendapat ini. Ini contoh ustaz 55:37 pada zamannya Ali 55:40 perang dengan Muayyah 55:42 kan beda pendapat ustaz masalah qisos 55:45 pemenuhan Utsman. 55:47 Si Ali bilang kita satukan umat dulu. 55:51 Satu umat dulu baru kita kisos. cari 55:53 pembunuhnya si Utsman. Kenapa semua 55:57 muayah begitu juga tidak kita kes dulu 55:59 cari pembunuhnya lalu kita kita sesuai 56:04 ajaran Al-Qur'an kita adili pembunuhnya 56:07 sehingga timbul peperang ustaz begitu 56:10 juga ada juga pendapat yang lain ustaz 56:12 contohnya 56:13 pendapat dari ee Sunni dengan Syiah. 56:17 Akhirnya mereka berantem ustaz perang 56:19 juga Ustaz. Heeh. 56:21 Bagaimana menurut Pak Ustaz itu 56:23 pendapat-pendapat para ulama itu, Ustaz? 56:25 Makasih. Asalamualaikum warahmatullahi 56:27 wabarakatuh. 56:27 Waalaikumsalam. 56:28 Baik. 56:32 Dalam artian gini, dinamika perbedaan di 56:35 antara para ulama itu 56:38 selayaknya 56:40 untuk 56:43 apa namanya? 56:45 Bagi para ulama itu mengerti ruang 56:47 bahasannya. ruang 56:50 ruangnya 56:54 ya. Maksudnya bagaimana, Ustaz? 56:58 Jangan pembahasan-pembahasan tingkat 57:00 tinggi, pembahasan-pembahasan yang bisa 57:03 memicu 57:05 fitnah ya. Bahkan bisa ee 57:11 apa namanya? 57:15 menghasut masyarakat itu di 57:19 sampaikan 57:21 di tengah masyarakat. Artinya saya 57:24 ngomong menghasut gini ini bukan berarti 57:25 bahasan yang salah. Enggak. 57:28 Tetapi ruangnya yang salah. Ruangnya 57:31 yang tidak tidak tepat. 57:36 Karena enggak semua orang itu bisa 57:38 mencerna pembahasan. Begitu. Contoh saya 57:41 ngasih analoginya ginilah. 57:43 Ketika kita anak kita masih umur balita, 57:48 apakah dia bisa mencerna omongan kita 57:50 yang sederhana ketika kita memberikan 57:52 instruksi? Kan enggak bisa, kan? 57:55 Nah, kurang lebih seperti itulah kondisi 57:57 kita dengan para ulama 58:00 ya. Atau misalnya kita ngegodain anak 58:03 kita misalnya manggil namanya aja salah 58:07 kita salah-salahin gitu. Itu 58:08 kadang-kadang suka emosi kan, tantrum. 58:12 Padahal tujuannya orang tua tuh bukan 58:15 mau merendahkan, 58:17 bukan mau menghina ya, 58:20 tapi karena anak belum memiliki apa 58:24 namanya ee 58:27 atau belum memiliki kematangan secara 58:29 emos emosinya dia. 58:31 Nah, jadi kita ini 58:34 selayaknya ini kalau ditanya bagaimini 58:36 sikapnya pertama yang harus diluruskan 58:37 itu yang harus diingatkan adalah para 58:39 ulama dan dainya. Dia harus ngerti 58:42 ruangnya. 58:43 Ketika ada di ruang secara terbuka gini 58:48 umum ya, yang pendengarnya itu dari 58:51 kalangan orang-orang yang bukan semuanya 58:54 itu yang mendalami ilmu agama. Bukan 58:57 berarti saya mengatakan tidak mengerti 58:58 agama, orang yang bukan mendalaminya. 59:01 Ya, tentu mengerti dan mendalami itu dua 59:03 yang berbeda ya. Tidak selayaknya untuk 59:07 menyampaikan, menjelaskan 59:09 masalah-masalah yang bisa berpotensi 59:11 untuk menghadirkan ketidakstabilan. 59:15 Nah, di antara caranya juga adalah apa? 59:17 Bagi kita yang orang yang awam 59:20 yang tidak memiliki ee kedalaman dalam 59:23 hal ilmu agama atau yang tidak mendalami 59:25 ilmu agama selaknya 59:28 untuk tidak keluar, 59:32 tidak menyelisihi 59:35 ya apa yang menjadi 59:39 mayoritas 59:41 kaum muslimin di tengah tempat kita 59:44 tinggal 59:46 selama sama 59:48 selama perbedaannya itu dalam lingkup 59:51 perbedaan yang ditoleransi 59:56 ya bukan setiap perbedaan itu harus kita 59:58 toleransi Pak. Jadi jangan sampai salah 59:59 paham gitu ya. Masa entar to di tengah 1:00:02 masyarakat kita bisa kita tinggal 1:00:05 took masyarakat kita mempercayai Mirza 1:00:07 Gulam nabi kita iya ini aja deh enggak 1:00:11 juga gitu. Jadi ada batasannya. Artinya 1:00:12 selama saya konteksnya adalah 1:00:15 perbedaannya perbedaan yang sifatnya 1:00:18 masih bisa ditoleransi 1:00:20 yaitu kita j selayaknya untuk tidak 1:00:23 menyelisihinya. Contoh yang simpel aja. 1:00:27 [berdehem] 1:00:28 Di masjid ini salatnya pakai qunut ya. 1:00:32 Jangan kalau jadi imam terus salat 1:00:34 subuhnya enggak pakai qunut. 1:00:37 Ya, itu namanya mancing keributan 1:00:41 namanya. 1:00:42 itu dia. Nah, nah itu jadi artinya 1:00:46 sikapnya seperti selama masih di dalam 1:00:49 koridor khilafiah, perbedaan pendapat 1:00:53 yang muktabar diakui ya salahnya kita 1:00:58 orang awam itu ikuti apa yang menjadi 1:01:02 pendapat yang dilakukan, dikerjakan oleh 1:01:06 masyarakat kita. Simpelnya begitu, Pak. 1:01:09 Jadi enggak perlu kita bingung gimana. 1:01:10 Ya sudah pokoknya kita ditinggal di 1:01:12 masyarakat mana. Masalan kita di 1:01:14 Indonesia mayoritas mazhabnya atau 1:01:17 mengamalkan mazhab Syafi'i. Selesai. 1:01:20 Sudah kita kerjain mazhab Syafi'i. Nanti 1:01:21 kalau kita tinggal di mana misalnya 1:01:24 misalnya di Pakistan. Pakistan 1:01:26 mayoritasnya apa? Hanafi. Iya. Jangan. 1:01:30 Terus nanti pas waladin 1:01:33 amin kayak gitu 1:01:37 sekarang dia bisa di dilihatin orang. 1:01:40 Udah di mazhab Hanafi aminnya bagi 1:01:44 makmum jangan keras. Udah silent 1:01:48 volumenya dikecilin. 1:01:50 Nah itu dia seperti itu. Jadi simpel Pak 1:01:53 kalau dalam hal menyikapi perbedaan 1:01:55 pendapat. Tinggal kitanya aja yang 1:01:56 bagaimana memahami cara seni 1:01:59 berinteraksi di tengah perbedaan. 1:02:02 Begitu. Wallahuam bisawab. 1:02:04 Jadi ee tergantung ruang dan waktu gitu 1:02:08 Pak ya. Iya. Jadi enggak salah. Baik, 1:02:10 Ustaz. Karena memang sudah masuk waktu 1:02:12 suruk mungkin ee mohon kiranya ada 1:02:15 sedikit 1:02:16 apa namanya resume 1 menit mungkin, Pak 1:02:18 Ustaz. Dari total keseluruhan. Silakan, 1:02:21 Pak. 1:02:21 Iya. Satu apa nih? Ee nas ee 1:02:23 penutup. 1:02:24 Penutup ya. Baik. Iya. Penutupnya 1:02:26 begini, Pak. 1:02:27 Selama kita masih hidup di dunia, kita 1:02:30 ini enggak bisa terlepas dari namanya 1:02:33 ilmu. 1:02:34 Karena 1:02:36 ilmu itulah yang akan memberikan atau 1:02:39 menghantarkan kita kepada kebahagiaan 1:02:41 baik dunia maupun akhirat. Imam Syafi'i 1:02:45 sendiri pun yang mengatakan, "Man arad 1:02:47 dunya faaihi bil ilm waman aradal 1:02:49 akhirata faaihi bil ilm." 1:02:51 Siapa yang mau dunia dia harus dengan 1:02:53 ilmu. Siapa yang mau akhirat dia harus 1:02:56 ilmu. Nah, kita dalam melihat ilmu agama 1:03:01 ini adalah ilmu yang menghantarkan kita 1:03:03 untuk kepada kebahagiaan kita di akhirat 1:03:07 ya. Yang sudah pasti juga menghantarkan 1:03:10 kita kebahagiaan di dunia ya. Nah, 1:03:14 selayaknya bagi kita untuk tidak apa ee 1:03:17 merasa cukup dengan hadir ke 1:03:20 majelis-majelis ilmu, meng-upgrade, 1:03:22 meningkatkan kembali pengetahuan kita 1:03:24 tentang ilmu agama kita yang bisa 1:03:26 menghantarkan kepada kebahagiaan yang 1:03:29 jauh lebih lama dan jauh lebih kekal 1:03:32 daripada kebahagiaan yang sudah kita 1:03:34 dapatkan di dunia ini. Ini saja dari 1:03:36 saya. Wallahuam bisawab. 1:03:40 Ya, terima kasih ee Pak Ustaz. Jadi ee 1:03:44 semoga hari ini pagi ini ilmu kita 1:03:46 bermanfaat 1:03:47 dan jika memang ada yang tidak hadir 1:03:49 mohon disampaikan 1:03:51 sehingga ilmu ini bisa menyebar sampai 1:03:53 dengan lebih jauh lagi daripada hanya 1:03:55 sekedar di masjid. 1:03:56 Baik, subhanakallahumma wabihamdika 1:03:58 ashadu alla ilahaillallah anta 1:04:00 astagfiruka wa atubu ilaik. 1:04:02 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:04:04 wabarakatuh. 1:04:05 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:04:07 wabarakatuh. 1:04:09 Sallallah ala Muhammad 1:04:13 sallallahu alaihi wasallam. 1:04:17 Sallallah ala Muhammad. 1:04:22 Sallallah