Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Sampai-sampai Pak Mahfud MD bilang kalau 0:02 enggak salah ya ee tak diingatkan e 0:06 malaikat pun menjadi pejabat di 0:08 Indonesia gitu kan itu menjadi burukil 0:13 [musik] 0:13 TV. [bernyanyi] 0:19 Asalamualaikum warahmatullahi 0:20 wabarakatuh Bang Toni. 0:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:23 wabarakatuh. Mas 0:24 sehat Bang Toni. 0:25 Alhamdulillah sehat. 0:28 Baik, Bang Toni. Ada beberapa tema yang 0:30 ingin kami sampaikan terkait dengan hang 0:33 henghongnya di sepekan hari ini, Bang 0:36 Toni. Beberapa hari terakhir ini kan 0:39 publik disuguhi. Ada tiga rangkaian 0:42 berita yang jika dicermati memiliki 0:45 benang merah yang sangat kuat, yaitu 0:47 persoalan amanah, tata kelola, dan 0:50 kepemimpinan. Di satu sisi muncul eh 0:53 pengakuan kuasa hukum Don Rito bahwa 0:56 rumah di Sentul yang digelah penyidik 0:59 merupakan rumah milik J Pitsus Febri 1:03 Adriansyah yang disebut telah dipinjam 1:05 sejak 2023 untuk operasional sebuah 1:09 yayasan termasuk berangkas yang berisi 1:12 puluhan kilogram emas dan jutaan dolar 1:14 yang diklaim sebagai milik yayasan. 1:17 Kasus ini kemudian memunculkan 1:19 pertanyaan besar tentang transparansi 1:22 kepemilikan aset dan hubungan antara 1:24 tokoh yang memiliki posisi penting 1:28 dengan aktivitas lembaga yang mengelola 1:30 dana dalam jumlah sangat besar. Di sisi 1:34 lain, Bang Toni, para pakar mengingatkan 1:37 bahwa sejak 2025 hingga pertengahan 2026 1:43 sudah ada 17 kepala daerah nih, Bang. 1:46 Hasil Pilkada 2024 yang terjerat KPK, 1:50 Presiden Prabowo kemudian didorong agar 1:53 menjadikan pertemuan dengan para kepala 1:55 daerah sebagai momentum reformasi 1:58 sistemik mulai dari pembenahan biaya 2:00 politik, kemudian tata kelola partai 2:03 hingga penguatan pengawasan internal 2:06 daerah. Pesan yang muncul sangat jelas, 2:09 korupsi bukan hanya persoalan individu, 2:12 tetapi juga persoalan sistem. Nah, yang 2:16 ketiga dari lingkungan ormas ee 2:19 keagamaan, tokoh senior NU yang juga 2:22 Wakil Ketua Umum MUI, K. H. Marsudi 2:26 Suhud menyatakan beliau siap maju 2:29 sebagai calon ketua umum PBNU pada 2:33 muktamar mendatang. Dan menariknya 2:35 adalah beliau menekankan bahwa hidupnya 2:38 tidak pernah lepas dari semangat dari 2:42 semangat kemudian khidmah atau 2:44 pengabdian. Bagi beliau kepemimpinan 2:47 bukan sekedar jabatan melainkan amanah 2:50 untuk melayani umat dan memperbaiki 2:52 organisasi. Baik, Bang Toni. Dari 2:55 rangkaian ee informasi yang berseliwuran 2:58 dalam sepekan ini, bagaimana kemudian 3:00 Bang Toni sebagai pemerhati bangsa dan 3:02 pengamat politik melihat ee hal ini? 3:05 Silakan, Bang. 3:06 Baik, Mas Agus dan seluruh pendengar 3:09 hasil terkait soal pentul itu dulu 3:13 pernah sempat disinggung 3:15 di dalam podcastnya Tempo kan, bocor 3:18 halus. 3:19 Heeh. 3:21 mengakui si A 3:25 skenario-skenario yang kemudian 3:28 ee dibuat ee untuk bagaimana ee 3:33 menyelamatkan kasus di Sentul itu 3:36 kira-kira begitulah podcastnya ya atau 3:38 podcastnya gitu kan. 3:40 Terus [berdehem] kemudian sekarang 3:41 muncul ya pada saat itu kan kemudian 3:44 publik mulai ee terframing, publik mulai 3:48 ee 3:51 apa mendesain ya cara ee pola 3:54 berpikirnya terkait dengan yang ada di 3:57 Sentul. Kok ada rekayasa ya gitu, ada 3:59 rencana rekayasa ya kira. Maka kemudian 4:02 ketika sekarang muncul berkaitan dengan 4:06 kasus ee uang apa ee sesuatu yang 4:09 disentul itu muncul yayasan kan persepsi 4:12 publik sudah terbentuk gitu loh. 4:14 Iya. 4:15 Muncul pertanyaan apakah ini bagian 4:16 daripada skenario yang dulu di ini kan 4:19 pertanyaan apakah ini bagian dari 4:21 skenario yang dulu dibicarakan dalam 4:24 podcastnya bocor halus kan gitu. 4:26 Iya. 4:28 Tapi seringki begini secara umum ya ee 4:33 secara umum 4:35 bahwa ada fakta-fakta hukum dan 4:37 fakta-fakta persidangan itu ya ee oleh 4:41 publik dianggap sebagai banyak ee 4:45 dianggap begitu banyak peran dan 4:47 intervensi yang kemudian menciptakan 4:49 skenario-skenario yang ee di luar yang 4:52 sesungguhnya kan. Jadi antara fakta 4:55 hukum, fakta persidangan dan sebagainya 4:57 seringkali tidak sesuai dengan fakta 4:59 yang sesungguhnya. Apalagi kalau itu 5:02 menyangkut kepada ee elit dan elitnya 5:05 banyak. Begini sebagai sebuah gambaran 5:07 Mas Sakdus dalam banyak ee fakta hukum. 5:13 [berdehem] 5:13 Kasus-kasus yang seringki dimunculkan 5:16 ini nanti berkaitan dengan ee 5:19 kepala daerah ya. kasus-kasus yang 5:21 seringkiali dimunculkan itu ee termasuk 5:25 oleh KPK itu nilainya tidak wow gitu loh 5:31 ya. Nilainya yang diangkat misalnya ya 5:35 bupati ditangkap karena OTT R00 juta 5:39 receh banget gitu loh. 5:40 Iya. Heeh. 5:42 ditangkap karena 200 juta. Gubernur 5:46 ditangkap karena 100 juta. Orang loh 5:49 nyalon gubernur itu ada yang sampai 500 5:52 sampai 1 triliun, 500 miliar sampai 1 5:55 triliun. 5:55 Heeh. 5:56 Yang dipersoalkan 100 juta. Kenapa? 6:00 Apakah betul segitu gitu kan ya? Kenapa 6:03 bukan yang ee 50 M ee 200 M gitu kan? 6:09 proyek-proyeknya infrastruktur saja 6:11 jalan itu minimal apa ee bahkan bisa 6:17 ratusan M gitu ya, masa cuman 100, 200 6:21 kan gitu 6:24 ya. Ini ini menjadi sebuah persoalan 6:26 yang menurut saya ee perlu pembenahan 6:29 sistemik ya dan itu harus dari atas ya 6:31 bisa dari dari bawah gitu. 6:34 E inilah yang kemudian ee seringki 6:37 terjadi bahwa ee Indonesia itu masih 6:41 punya persoalan virus terakir saya terus 6:44 terang tidak terlalu tertarik 6:47 membicarakan secara tuntas dan detail 6:50 komprehensif 6:52 e terhadap satu kasus. 6:54 Kenapa? Karena ini hanya satu comotan 6:57 representasi dari begitu banyak kasus 6:59 dan ini pun hanya ee random sampling lah 7:03 bahasa surveinya itu sekian banyak kasus 7:06 ya. 7:07 Jadi kalau kemudian satu kampung itu mau 7:10 disurvei ya kan tidak mungkin survei 7:12 semuanya ditanya semuanya dikasih 7:14 kuesioner semuanya yang ditanya itu kan 7:17 ya paling 100 orang dari sekian puluh 7:21 ribu orang gitu kan. Nah, itu untuk asal 7:24 samplingnya benar itu sudah 7:26 merepresentasikan 7:28 sebenarnya kasus-kasus seperti ini 7:30 seperti alami di Sentul ini kan 7:32 merepresentasikan dari kasus-kasus yang 7:34 lain. 7:35 Iya. 7:35 Publik juga tidak begitu percaya 7:37 [berdehem] lagi ya mau apa. Tetapi 7:39 publik juga tidak bisa berbuat apa-apa 7:41 kecuali apatisme. 7:42 Heeh. Heeh. 7:44 Gitu kan. Apalagi si A ini [berdehem] 7:46 misalnya si A ini orangnya siapa, set ke 7:50 siapa, berapa banyak dan sebagainya. 7:53 Kalau itu kemudian ada sebuah kasus 7:55 misalnya yang seperti itu, ah itu 7:58 biasanya tingkat rekayasanya akan 7:59 tinggi. 8:00 Iya. 8:01 Karena tidak mau. Kenapa yang di diambil 8:03 misalnya kasus yang 100 juta bukan yang 8:06 200 miliar gitu ya? Kalau 200 miliar itu 8:08 menyasar A, B, C, Dajah-gajah. 8:12 Tapi kalau cuman 100 juta gitu kan yang 8:14 disasarkan cuman AB kecil-kecil tidak 8:17 perlu yang besar-besar karena terlalu 8:19 repot untuk menyadar yang besar karena 8:21 melibatkan yang besar-besar. 8:22 Iya. Jadi korupsi di Indonesia itu tidak 8:24 sendiri apalagi kalau itu uangnya 8:28 ratusan miliar sampai triliunan 8:30 itu enggak sendiri ya. Tapi kalau dia 8:33 korupsi cuma Rp50 juta, R juta, R juta 8:36 itu sendiri bisa dilokalisir dan 8:39 menanganinya itu mudah. Apalagi kalau 8:41 kemudian itu ee ada kaitannya dengan ee 8:46 kepentingan-kepentingan politis yang ada 8:48 di dalamnya. 8:50 Yang penting pokoknya bupati itu ini 8:52 yang penting si si jabatan itu dia turun 8:55 dan sebagainya dilokalisir cari kasus 8:57 yang kecil yang kemudian diselesaikan 9:00 dengan kasus itu sehingga tidak 9:02 melibatkan yang lain dan itu bisa 9:04 panjang, bisa menguras energi dan 9:06 tantangannya akan besar 9:08 dan itu biasa terjadi di Indonesia itu 9:10 dan itu banyak 9:11 ee soal di Sentul itu adalah salah satu 9:13 dari sekian banyak kasus yang ya tidak 9:17 perlu kita heran, tidak perlu kita habis 9:19 ener versi di situ ya tidak akan pernah 9:22 selesai yang seperti ini sebelum ya ee 9:26 ada perubahan sistemik radikal dan 9:28 sistemik terhadap bangsa ini dan 9:29 perubahan itu mengisi berangkat dari 9:31 kekuasaan bukan dari bawah. Itu yang 9:33 pertama ya kita masuk soal bupati, 9:37 gubernur, walikota dan sebagainya ya. 9:40 Kos politik memang tinggi gitu kan. 9:43 costos politik tinggi ee perlu ada 9:46 mekanisme bagaimana cost politik itu 9:48 tidak tinggi. Caranya misalnya gimana? 9:51 Misalnya gitu kan ya sudah difasilitasi 9:55 untuk kampanye oleh negara. 9:57 Mereka misalnya harus bayar biaya 9:59 kampanye masing-masing ee R00 juta sudah 10:02 mereka enggak perlu kampanye sendiri. 10:04 Ada KPU yang kemudian memimpankan ketika 10:07 mereka melanggar misalnya dan harus 10:10 didiskualifikasi. ketika hukum itu 10:12 ditegakkan ya hukum kan berfungsi selain 10:15 keadilan itu kan berfungsi ee preventif 10:19 dan mereka tidak melakukan seringkiali 10:21 analogi yang saya buat kalau orang itu 10:24 nyeberang di 10:26 ee apa itu lampu merah kemudian 10:29 ditangkap langsung ditilang ya buatlah 10:31 kasus 10 tempat gitu kan ditilang semua 10:34 dibranding. Kira-kira mikir enggak orang 10:37 kalau mau nyeberang lampu merah itu? 10:40 Heeh. 10:41 Motor-motor di lampu merah. Motor-motor 10:43 itu kan biasanya dia di depan lampu apa? 10:45 Bukan di depan lampu merah, di belakang 10:46 lampu merah dia. Jadi lebih maju gitu 10:49 loh. Jadi dia enggak tahu bahwa lampu 10:51 itu berubah dari merah menjadi kuning 10:53 hijau. Dia enggak tahu. Tahunya apa? Di 10:54 belakang itu membunyikan klason din. Oh, 10:57 berarti lampu sudah berubah. 11:00 Coba yang berada di situ kemudian 11:03 langsung ditilang 11:05 gitu kan. Ditilang berubah enggak 11:08 Indonesia 11:09 berubah. soal apa 11:11 ee lalu lintas jalan berubah gitu. Ah, 11:15 begitu juga para apa ee mereka yang 11:18 calon-calon hukum, calon-calon gubernur, 11:21 bupati, walikota atau kepala daerah itu 11:23 itu di apa dibuat ketegasan sesuai 11:27 dengan undang-undang pemilu. Berubah itu 11:29 mereka takut juga sudah keluar duit 11:31 didiskualifikasi. 11:33 Siapapun yang bagi duit diskualifikasi 11:35 selesai itu. 11:36 Iya. 11:36 Siapa yang keluar duit diskualifikasi, 11:38 Mas? masalahnya ya, masalahnya aparat 11:41 sendiri ikut main itu problem. Siapa 11:44 yang bisa menghentikan aparat di atasan? 11:46 Itu faktor pertama ya. Faktor yang kedua 11:49 adalah faktor yang kedua itu 11:54 ee ada setoran-setoran kepala daerah 11:56 itu. 11:57 Heeh. 11:58 Ya, setoran dari mana? Enggak mungkinah 11:59 dari uang pribadi. 12:02 Maka diambillah dari APBD dengan cara 12:04 project dan sebagainya dan sebagainya. 12:08 Eah, selama setoran itu tidak dihentikan 12:11 ya enggak mungkin ya tidak terjadi 12:13 korupsi ya. Ya itu itu problemnya gitu. 12:17 Ini bukan soal moral ya, tapi soal 12:20 sistem. 12:22 H 12:22 maka ada istilah itu saya lupa bahasa 12:25 ini bahasa asingnya itu. Jadi ketika 12:28 seseorang di apa seseorang seorang baik 12:32 itu berada di sistem yang buruk, dia 12:34 akan menjadi buruk. seorang yang buruk 12:36 itu di dalam sistem yang baik akan 12:38 menjadi baik. Sampai-sampai Pak Mahfud 12:40 MD bilang kalau enggak salah ya tak 12:43 diingatkan ee malaikat pun menjadi 12:46 pejabat di Indonesia gitu kan itu 12:48 menjadi buruk. 12:49 Nah itu menganut sebuah teori bahwa 12:52 kalau ee apa orang buruk di sistem yang 12:55 bagus maka menjadi bagus tapi orang baik 12:57 di sistem yang jelek itu kemudian ikut 12:59 jelek gitu. Nah, itulah kira-kira 13:01 gambaran tidak hanya di kepala daerah, 13:03 tapi di di semuanya lah institusi negara 13:06 ini. Tapi ketika kita bicara kepala 13:08 daerah seperti itu, ada setoran-setoran 13:10 yang wajib mereka ee setorkan dan itu 13:12 tidak mungkin kecuali ya kecuali ee 13:16 mereka korupsi ini kan bukan sebab tapi 13:19 akibat 13:20 Heeh. 13:21 dari sebuah sistem 13:23 sistem pemilu yang begitu mahal. 13:27 kemudian ee sistem hukum yang begitu 13:30 tidak apa longgar dan kemudian aparat 13:34 yang juga pada bermain di situ itu yang 13:36 kemudian ee kemudian ada setoran-setoran 13:39 dan sebagainya itu yang mau tidak mau 13:42 mereka akan ini. Jadi jangan melihat 13:43 17-nya. 13:46 Justru saya mengapresiasi 13:48 khususnudan kepada 17. 17 ini adalah 13:51 sampel ya yang kemudian merekalah yang 13:54 diselamatkan oleh ee keadaan yang pada 13:57 akhirnya mereka akan menjadi baik. Coba 13:59 kalau dibiarkan lanjut terus-menerus itu 14:02 iya 14:03 yang lain itu dibiarkan saja ya. Kalau 14:06 kita bicara sebagai orang yang beragama, 14:08 merekalah seorang-orang yang yang 14:09 beruntung karena diselamatkan oleh 14:11 Allah, oleh Tuhan sehingga kemudian 14:14 tidak melakukan melakukan lagi. Karena 14:16 tidak ada yang bisa menyelamatkan 14:18 kecuali dengan cara itu. 14:20 Iya. 14:20 Bagaimana mau mereka bisa selamat dari 14:23 apa? Dari korupsi kalau tidak cara itu. 14:25 Kalau enggak cara itu, enggak akan 14:26 selamat. Bagaimana dengan yang lain? 14:28 Apakah kemudian yang lain tidak korupsi? 14:30 Wah, yang lain itu lebih banyak yang 14:33 lebih parah. 14:35 itu artinya dengan ee 17 kepala daerah 14:38 yang terjerat KPK dalam waktu relatif 14:41 singkat ini. Jadi memang ee permasalahan 14:44 utamanya bukan hanya pada moral 14:46 individu, kemudian mahalnya biaya 14:48 politik, lemahnya pengawasan, atau 14:51 memang ini adalah kombinasi dari 14:53 semuanya, Bang Toni? Ya. Ya. Ee sekuat 14:56 apapun moral mereka ya, kalau kemudian 15:00 mereka tidak mengikuti sebuah sistem 15:03 yang sudah berjalan ya, apakah kuat? 15:07 Ras apakah kemudian mereka memundurkan 15:09 diri? 15:10 Iya. 15:11 Ya, ada risiko sosial dan politik ketika 15:13 mengundurkan diri. Risiko politiknya itu 15:14 apa? Ya, mereka akan tidak ada partai 15:17 yang lain yang kemudian nanti akan 15:18 mengusung di mereka lagi. Ya, risiko 15:21 politiknya apa? Ketika mereka nanti 15:23 pengin punya jabatan di mana pun enggak 15:25 ada ya orang sudah apatis dulu. Risiko 15:27 sosialnya itu apa? Masyarakat akan 15:29 menganggap ini orang ting bertanggung 15:30 jawab. Jadi situasinya terjepit. Di satu 15:34 sisi mereka harus mengikuti sebuah 15:36 sistem. Di sisi lain ada ancaman eh apa 15:40 politik eh punishment dan social 15:42 punishment. Itu itu problem gitu. dan 15:45 semua saya pikir menyadari akan hal itu. 15:49 Jadi apakah kemudian solusinya itu 15:51 adalah diberikan nasihat? Enggak. 15:54 Istighasah? Enggak. 15:57 Karena masalahnya bukan di situ. 15:59 Masalahnya bukan di moral. Masalahnya 16:01 adalah di sistem. Kalau soal moral itu 16:03 kan kecil banyaknya. Misalnya wah harus 16:05 setoran kepada A B C D misalnya. 16:08 Kemudian mereka kalau tidak setoran akan 16:10 jadi masalah mereka setoran. Terus di 16:13 situlah mereka akan yang membedakan 16:16 mereka setoran aja tapi enggak ngambil 16:17 duit, enggak ikut ngambil gitu loh. Tapi 16:19 kan korupsi juga meskipun bukan untuk 16:21 dirinya sendiri tapi korupsi itu kan ee 16:25 apa merugikan kepentingan negara untuk 16:28 menguntungkan diri sendiri maupun orang 16:30 lain. Nah, misalnya dia tidak 16:33 menguntungkan diri sendiri berarti dia 16:34 bermoral. Tapi tidak, tapi menguntungkan 16:37 orang lain secara individu dia moral 16:40 gitu kan. Tapi menguntungkan orang lain 16:41 kan korupsi juga atau kemudian dia 16:44 setaranya ke tempat yang lain itu banyak 16:46 tapi kepesan sikit si yang membedakan 16:48 itu kan apakah dia moral ya apakah dia 16:51 itu 16:53 apakah dia itu makan ya apakah dia itu 16:56 makan ee atau kemudian hanya sedikit 16:59 makan atau banyak itu kan yang 17:00 membedakan antara ee modalitas itu gitu. 17:04 Iya. Heeh. [berdehem] 17:05 membedakan. Nah, karena itu menurut saya 17:09 ya sistem yang harus diperbaiki. Jadi 17:11 perlu perlu untuk melihat ee faktor 17:15 penyebabnya apa. 17:16 Iya. 17:17 Nah, kalau faktor penyebabnya moral 17:19 datangkan ustaz. Ini faktor penyebabnya 17:21 bukan faktor penyebab moral. Seringki 17:23 orang salah paham. Ah, ada unsur moral. 17:26 Iya, tapi itu bukan faktor utama. Itu 17:29 katakanlah. Kemudian kalau ee apa 17:31 distribusi variabelnya itu kecil. 17:35 pengaruhnya itu kecil, tapi pengaruh 17:37 yang paling besar itu adalah ee apa? 17:40 sistem. Jadi selama sistem itu tidak 17:42 diperbaiki, tidak. Makanya saya bilang 17:44 ee apa namanya ee moral. Yang kedua 17:47 adalah apakah kemudian itu selesai 17:49 ketika di dihimbau oleh presiden jangan 17:52 korupsi? Enggak juga selama sistemnya 17:55 mereka hidup di dalam sistem itu kok. 17:57 Heeh. 17:57 Gitu kan. Enggak. Apakah kemudian mereka 18:00 dikumpulkan oleh Presiden untuk 18:02 melakukan apa? untuk dihimbau agar tidak 18:04 korupsi gitu. Enggak bisa juga enggak 18:06 ada ngaruhnya. Mereka retreat kan juga 18:08 di di 18:10 dikasih pemahaman soal integritas. Apa 18:12 ada ngaruhnya? Apa ada perubahan antara 18:14 kepala daerah ee era Pak Prabowo dengan 18:16 era Pak Jokowi dan era SBY? Enggak ada. 18:20 Kemudian ketika bahwa ada anggapan 18:24 mereka itu korupsi lalu diefisiensi, 18:26 yang jadi korban siapa? Rakyat. 18:29 Heeh. Apakah kemudian setelah 18:31 diefisiensi itu lebih sedikit yang 18:33 korupsi? Tidak, karena sistemnya masih 18:35 jalan. Justru kemudian uang itu diputar 18:39 di atas, yang di bawah tidak berputar. 18:42 Akhirnya apa? Pertumbuhan ekonomi 18:44 sekitar 80-an% lah pertumbuhan ekonomi 18:47 di daerah itu di bawah 55%. Kenapa? 18:50 Karena uangnya enggak muar di sana atau 18:52 mutar tapi sedikit. 18:53 Dan ini juga ee menjadi PR bagi 18:57 pemerintahan Prabowo sekarang, Bang. dan 18:59 juga Partai Gerindra bahwa dari survei 19:02 ee SMRC ini kepuasan masyarakat terhadap 19:06 Prabowo turun tajam. Ini ee terkait ee 19:10 dengan ee politik, kemudian kondisi 19:13 ekonomi serta penegakan hukum yang saat 19:17 ini kita bicarakan. 19:19 Ini ada empat hal setidaknya kalau soal 19:21 itu. 19:22 Heeh. 19:23 Ini saya tulis nanti saya posting. 19:25 Iya. Semoga hari ini saya posting. Jadi 19:27 yang pertama adalah narasi Pak Prabowo. 19:30 Heeh. 19:31 Yang konfrontatif, rondo ireng. Kemudian 19:34 menyasar ee apa? menyasar media pengamat 19:41 LSM gitu kan. Dan itu tidak perlu dan ee 19:45 kemudian ee rakyat tidak makan dolar, 19:48 orang-orang desa enggak makan dolar dan 19:50 sebagainya gitu kan ya. Ee jadi 19:54 ee apa narasi-narasi politik ini apa 19:58 narasi-narasi 19:59 narasi politik atau komunikasi politik 20:02 ini penting dan itu ee apa bisa 20:06 mendongkret. Yang kedua adalah ee tata 20:10 kelola dan pengawasan dari sebuah 20:12 program. 20:13 Ya, kalau saya selalu konsisten 20:15 mengatakan MBG itu bagus dan perlu, 20:20 cuman tata kelolanya seperti apa? 20:23 Pengawasannya seperti apa? 20:26 Kalau MB misalnya diuji coba aja dulu 20:29 100 di ya 3T daerah terpencil terjauh 20:33 masyarakat yang butuh lalu dievaluasi 20:36 diperbaiki disinergikan dengan KMP 20:39 misalnya ya agar KMP itu menjadi 20:42 supplier utama ada yang mengambil 20:45 barang-barang dari masyarakat untuk 20:46 masuk ya UMKM mikro rakyat masyarakat 20:50 apa usaha kecil dimasukkan ke situ untuk 20:53 men-suplai terhadap kebutuhan NMP. Saya 20:56 pikir jalan dua-duanya. 20:58 Bukan KMP yang berada di pinggir 21:01 kuburan. Di kampung saya itu KMP di 21:04 pinggir di pinggir makam dan jauh dari 21:07 dari masyarakat itu sekitar 500 sampai 21:11 satu hampir 1 kilo 500 sampai 1 kilo. 21:14 Heeh. 21:15 Ee ini jaraknya gitu dari masyarakat 21:17 yang banyak penduduk itu gitu kan. 21:20 Makanya ee dalam konteks ini ini 21:23 kemudian disorot oleh masyarakat kok 21:25 amburadul begini gitu loh. Padahal bagi 21:29 masyarakat kelas bawah ini dibutuhkan. 21:31 Oh, coba bayangkan orang miskin 21:33 mendapatkan makanan ya di kampung sana 21:36 mendapatkan makanan yang biasa mereka 21:37 tidak sarapan dapat sarapan ada buahnya 21:39 lagi ada susunya lagi. Itu wow banget. 21:42 Iya 21:43 wow banget ya. dan sangat-sangat 21:45 dibutuhkan membantu anak itu, membantu 21:47 orang tuanya gitu loh. Cuman masalahnya 21:49 ya ee banyak yang salah sasaran kemudian 21:52 pengelolanya yang ambadur dana yang 21:55 Rp10.000 misalnya yang dipakai untuk 21:58 makanan itu banyak dikurang-kurangi. Ya 22:00 kalau lihat kan itu paling 7.000 ada 22:02 yang 7.000 ada 8.000 sudah dikorupsi di 22:05 situ. Dan kemudian yang ketiga adalah 22:07 Pak Prapowo memang niat untuk melihat 22:10 korupsi, tetapi orang-orang di 22:11 sekitarnya e tercera korupsi seperti 22:13 ketua MPG. 22:14 Heeh. 22:15 Gitu kan banyak yang terjadi korupsi. 22:17 Artinya pemberatan korupsi itu 22:18 pencegahan korupsi dengan sebuah sistem 22:21 orang akhirnya sempit untuk melakukan 22:24 ruang untuk melakukan korupsi itu 22:26 menjadi sempit yang pada akhirnya ee 22:28 jumlah koruptor itu berkurang gitu loh. 22:31 Dan negara yang diselamatkan lebih 22:32 banyak. Itu namanya pemberatasan 22:33 korupsi. 22:34 Iya. 22:35 Tapi kalau kemudian jumlah korupsi dan 22:37 nilai korupsinya juga tidak kalah dengan 22:40 sebelumnya, ya narasi-narasi melawan 22:43 korupsi juga enggak ada artinya gitu. 22:45 Sekarang Pak Prof misalnya orang-orang 22:46 dekat aja aku sikat agak susah juga gitu 22:50 loh membangun sebuah narasi-narasi ee 22:53 seperti itu. Itulah di antaranya yang 22:56 memang menjadi faktor ee mendongret 23:00 sehingga elektabilitasnya itu sampai 23:01 14,5% kan. 23:03 Iya. itu bagi orang yang 23:07 memegang kendali semua instrumen negara 23:09 dengan kekuatan logistik dan apa setiap 23:13 performance-nya itu di syarat media itu 23:16 betul-betul menjadi persoalan yang 23:17 serius gitu loh tingkat kepuasannya dari 23:21 2025 bulan November itu 801% 23:25 kemudian Maret 2026 itu turun menjadi 23:29 70-an% sekarang menjadi 51,1% menurut 23:33 SMR ya 23:34 itu juga menjadi masalah gitu kan. Ada 23:36 lembaga survei yang kemudian menyatakan 23:40 kepada media bahwa lembaga survei ini 23:43 tidak membuat pernyata tidak meril ya 23:47 tidak merilis ee surveinya ee tapi hasil 23:51 hasil surveinya itu beredar ke 23:53 mana-manais 23:55 juga namanya. [tertawa] Tapi tapi itu 23:58 menarik gitu loh. Kenapa? Ini ini satu 24:00 pertanyaan yang menarik ini secara 24:01 politik ya. Iya. 24:03 Kenapa SM itu minggu yang lalu kan, Rabu 24:07 yang lalu kan kita wawancara kan? 24:08 Heeh. Iya. Pak kan 24:10 saya kan bilang kan yang lalu jadi ee 24:14 kenapa kok SMRC itu merilis hanya 24:17 tingkat kepuasan 24:19 hari Senin itu tidak merilis tingkat 24:22 elektabilitas di mana-mana. Kalau rilis 24:24 itu biasanya kan bareng semuanya 24:26 disampaikan kan. He 24:27 eh akhirnya Rabu malam dirilis setelah 24:30 saya bicara itu rilis bahwa tentang 24:32 kelabil artinya itu apa? Layak dan patut 24:35 untuk dipertanyakan 24:38 ada desain apa dengan ee pecicilan ee 24:43 rilis ini gitu kan. Begitu juga ada yang 24:46 lain itu kenapa itu mengatakan tidak 24:49 dirilis? biasa dirilis juga enggak 24:51 apa-apa kan gitu kan ya namanya survei 24:54 kemudian dirilis kan hal-hal yang biasa 24:56 saja gitu loh ya tapi kemudian tersebar 24:59 di mana-mana hasilnya sama juga ada apa 25:03 ini ada lembaga yang lain lagi. Jadi ada 25:06 tiga lembaga survei yang melakukan 25:07 survei itu yang salah satunya di 25:11 antaranya itu masih ee dari kalangan 25:14 istana lah itu hasilnya mirip 25:18 maka banyak tidak dibantah. Begitu juga 25:20 sekarang sedang ada sedang ada survei 25:22 lagi. Saya lagi menunggu ada satu 25:24 lembaga lagi. Jadi mohon maaf kalau saya 25:25 tidak sebutkan lembaga-lembaga survei 25:27 itu karena ini kode etik karena ee 25:31 orang-orang yang survei itu bicara 25:33 dengan saya. Ini ini kode etik ya. Ada 25:36 satu lagi lembaga survei yang sedang 25:37 melakukan seperti saya. Enggak tahu hari 25:39 ini sudah selesai atau belum ya. Dan 25:41 saya yakin itu tidak akan dirilis kalau 25:44 hasilnya tidak menguntungkan bagi yang 25:47 membiayai rilis. Tapi kalau hasilnya 25:48 menguntungkan akan dirilis. Nah, kita 25:50 tunggulah dirilis atau tidak. Kalau tak 25:52 dirilis saya yakin tidak semuanya gitu 25:54 loh. Tidak semuanya akan dirilis. Nah, 25:57 itu kan bagian daripada permainan ya 26:00 lembaga survei. Tapi secara substantif 26:03 gitu kan hasil hasil surveinya itu ya 26:08 kita apa kita terutama mereka yang 26:11 mainstream ya lembaga-lembaga survei 26:12 mainstream ya kita harus akuilah kecuali 26:15 memang tetapi tetap dengan cara kritis 26:18 ada yang apatis betul lembaga survei itu 26:20 lembaga mainan silakanlah tetapi kalau 26:23 saya ya ee selama selama saya saya 26:27 standarstandar survei itu dilakukan dan 26:30 saya ee bisa berkomunikasi dengan 26:33 sejumlah lembaga survei selama 26:35 survei-survei itu dilakukan dengan 26:37 cara-cara yang benar, terserah cara 26:40 merilisnya seperti apa, terserah siapa 26:42 yang membiayai, terserah ada makna dan 26:45 motif politik seperti apa, saya akan 26:47 tetap melihat hasil survei itu. Jadi, 26:49 proses survei itu ee itu dijalankan 26:52 dengan kode apa dengan metodologi 26:54 ilmiah. apapun hasilnya itu saya tetap 26:57 harus dan kita semua selayaknya harus 26:59 mengakui itu. 27:00 Baik. Paling tidak itu menjadi barometer 27:03 ketika kita menilai seseorang begitu, 27:07 Bang, ya. 27:08 Oh, iya. Iya. Itu itu soal lain. Kalau 27:10 menilai lembaga suruhnya seperti apa. 27:12 Emang lembaga sur punya duit untuk 27:14 melakukan survei secara gratis? Enggak 27:16 juga kan. 27:17 dan tentu ada kepentingan-kepentingan 27:19 yang bermain. Apakah nanti hasilnya 27:22 sesuai dengan pihak yang membiaya atau 27:24 tidak itu soal lain. Apakah kemudian 27:26 dirilis atau tidak itu soal lain. Apakah 27:28 rilisnya itu dengan cara apa itu juga 27:31 soalsal lain. Tetapi hasil survei itu ya 27:34 selama metode metodologi ee surveinya 27:38 itu benar dan dia lakukan dengan jujur 27:41 ya kita harus juga bisa menerima itu. 27:44 Baik. Terakhir, Bang, terkait dengan 27:47 muktamar NU, Bang, yang ke-35 ini di 27:50 mana K. H. Marsudi Suhud menekankan 27:53 konsep khidmah sebagai dasar 27:55 kepemimpinan. Menurut Abang bagaimana, 27:58 Bang? 27:59 Ya, jualan semua. Itulah namanya 28:02 branding gitu loh. Jadi, kalau tadi Mas 28:04 Agus bilang menariknya enggak ada yang 28:05 menarik. 28:07 Heeh. Ya, kecuali kalau bilangnya begini 28:11 ya, kalau saya diminta ya oleh warga 28:14 Nadin untuk maju ya tidak ada alasan 28:17 untuk tidak maju. 28:18 Saya akan karena ini adalah jalan 28:21 khidmat saya di NU itu bagus gitu kan. 28:26 Ee jadi kalau tidak diminta ngapain juga 28:28 saya maju gitu kan. Dalam Islam 28:30 diajarkan kita tidak boleh ambisi. Kalau 28:32 kalaua ambisi kalau kemudian kita 28:34 mengajukan diri itu dianggap sebagai 28:36 sebuah bagian daripada ada indikator itu 28:38 adalah bagian daripada ambisi. Jadi 28:40 bahasa-bahasanya boleh diubah. J di NU 28:43 sendiri dan beberapa ee apa ormas ini 28:46 kan sudah kayak partai ketika calon 28:49 pemilihan itu. Jadi ada persainganu ada 28:53 permainan yang luar biasa. Saya pikir 28:55 begini aja. Saya ini orang NU ya, saya 28:57 mantan ketua Ibnung. Jadi ee mestinya ya 29:00 semua yang ini ya kalau saya diminta ya 29:02 alhamdulillah ee saya akan enggak ada 29:05 alasan tapi kalau ada yang lebih baik 29:07 silakan kan ada yang itu A B C D itu kan 29:10 ulama-ulama khas ulama-ulama yang 29:12 memiliki pengalaman, ulama-ulama yang 29:14 memiliki integritas yang roh dan 29:17 sebagainya. Saya pikir kalau dibawa oleh 29:19 UI Kiai A, Kiai B, Kiai C, siapapunlah 29:23 itu ya NU akan lebih bagus ya. Tapi 29:25 kalau kemudian seandainya Pak Wartawan 29:28 bertanya gitu, seandainya Bapak yang Pak 29:30 Kiai yang diminta oleh ya kalau memang 29:33 saya diminta 29:35 didesak untuk ikut dan tidak ada jalan 29:37 untuk untuk 29:39 keluar untuk menghindar ya apa boleh 29:42 buat ya bismillah yang namanya juga ee 29:45 namanya jalan khidmah. Tapi saya tidak 29:47 berambisi, saya tidak berkeinginan untuk 29:50 menjadi ketua. Tetapi kalau kemudian 29:52 saya dikasih amanah, saya akan jalankan. 29:54 itu baru menarik. 29:55 Iya, 29:56 gitu ya. Itu baru menarik. Ah, kita 29:59 berharap ormas-ormas ee Islam itu ya 30:02 membawa marwah ormasnya dengan cara-cara 30:04 seperti ini sehingga bisa menjadi sebuah 30:06 ee uswah, bisa menjadi sebuah 30:08 keteladanan, bisa menjadi memberikan 30:11 referensi bagi generasi-generasi 30:13 berikutnya. Para santrilah ini kan ya 30:15 semua kan para di NUI itu kan santri 30:18 gitu kan. berikan contoh seperti itu. 30:21 Bukan kemudian ee seperti tim ses 30:25 membuat tim ses kemudian aduh ini sudah 30:28 terlalu jauh. Nah, inilah ketika terjadi 30:32 konflik internal sudah waktunya untuk ee 30:35 NU melakukan refleksi diri terutama di 30:38 PPNU melakukan refleksi diri. Begitu 30:40 juga misalnya ya Gus Yahya ya yang sudah 30:44 orang-orang yang terlibat di dalam 30:45 konflik selama ini ya sudahlah legowo 30:48 untuk tidak mencalonkan diri lagi. Jadi 30:51 semacam tidak patutlah ya ee apa ini 30:56 soal marwah keulamaan tidak patut untuk 30:59 kemudian menawarkan diri maju. 31:03 Heeh. 31:03 Gu saya akan maju saya akan ini, saya 31:06 akan benah. Ya, kalau kemudian saya akan 31:08 benai semua juga ingin membenahi kok 31:09 gitu loh. 31:10 Iya. 31:11 Semua kalau semua khidmat semua 31:12 alasannya pasti khidmat kokmah kok gitu 31:15 loh. Ya terlepas dari Kiai Masudi ee 31:19 Masudi atau siapapun lah gitu semuanya 31:21 itu e saya yakin para ulama itu mau 31:24 khidmat gitu. cuman seringki 31:26 digosok-gosok di oleh orang lain yang 31:29 kemudian masuk di dalam ee semacam 31:32 sistem kepartaian untuk memperebutkan 31:34 itu. Padahal ulama-ulama NU itu luar 31:36 biasa ya. Ulama-ulama NU itu gudangnya 31:39 orang alim, gudangnya orang mukhlis, 31:41 orang ikhlas, gudangnya orang-orang yang 31:45 ee apa namanya? Ee membangun integritas 31:48 santri, mempersiapkan masa depan ee para 31:52 pemimpin yang bermoral. Itulah ee 31:54 wataknya di antaranya ya NU karena NU 31:57 itu adalah organisasi mayoritas. Jangan 31:59 kemudian ya ee ini rusak gara-gara ada 32:04 beberapa orang yang menunjukkan ambisi 32:07 untuk menjadi pemimpin ee di PPNU 32:10 kemudian menggunakan manuver-manuver 32:12 alah partai politik yang menurut saya 32:14 tidak pas. Ormas itu beda dengan partai 32:18 politik. mestinya karakter ormas dijaga 32:21 tidak jangan sampai dengan karakter 32:23 politik karena di ormas itu high politik 32:25 bukan pragmatis politik gitu. 32:28 Iya. Baik baik terima kasih Bang Toni 32:32 atas dialog kita di pagi hari ini Bang 32:35 Toni. Terima kasih banyak dan mungkin 32:37 sebagai penutup Bang Toni. 32:40 Heeh. Iya. ee bahwa sekali lagi 32:43 Indonesia ini ee 32:47 sedang dalam masa dalam tanda kutip 32:49 transisi. Ee mari kita tetap jujur. 32:53 Pertama ya kita harus terus ya ee untuk 32:57 memiliki kepekaan terhadap sejarah 32:59 bangsa ini dengan semua peristiwa yang 33:02 ada. Kemudian kita berusaha hadir untuk 33:05 memberikan kontribusi. Kemudian yang 33:07 kedua adalah ee kita harus objektif dan 33:10 jujur terhadap semua realitas yang ada. 33:13 Ya, kalau tidak objektif, tidak jujur, 33:15 kalau semua dengan ee 33:19 interest ini menjadi rusak semuanya. 33:22 Kemudian ee yang ketiga ya, yang baik 33:26 kita dukung ya, yang baik kita dukung, 33:28 kita support ya, kemudian yang buruk 33:30 kita kritisi sebagai bagian daripada 33:33 kehadiran kita ee di tengah perjalanan 33:35 bangsa ini untuk terus kita men-support 33:38 agar ee bangsa ini ee berada di rel yang 33:41 benar ee tidak meleset ke kanan ke kiri 33:45 tetapi jalan yang lurus sesuai dengan 33:47 cita-cita bangsa. Jadi bangsa yang 33:49 balatun thaibatun warun gfur. Itulah 33:52 Ketuhanan Yang Maha Esa yang diakhiri 33:54 dengan keadilan sosial bagi seluruh 33:55 rakyat Indonesia. Begitu. 33:57 Baik, terima kasih Bang Toni atas 33:59 dialognya. Sehat-sehat selalu Bang Toni. 34:01 Insyaallah kita jumpa lagi di hari Rabu 34:03 pekan depan. Asalamualaikum 34:05 warahmatullahi wabarakatuh, Bang Toni. 34:07 Waalaikumsalam warahmatullahi 34:08 wabarakatuh.