Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- H. Berasil
- TV untuk Islam yang satu.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu
- wasalamu ala sayyidina Muhammad wa ala
- alihi wa asohbihi ajmain. Rabbi izidni
- ilma allahumfani bima alamtani waimni
- mafuni warzuqni ilman yangfuni.
- Dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimbanggis,
- Cibubur, Bekasi. Radio silaturahim dan
- juga rasio visual untuk Islam yang satu.
- Ikhwan ahad yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala. Senang sekali di
- malam hari ini saya Angga Aminuddin
- dapat kembali menyapa Anda di mana pun
- Anda berada. yang masih setia stay tune
- di 720 AM gelombang kita radio
- silaturahim untuk Islam yang satu
- ataupun Anda yang berada di daerah Batam
- dan sekitarnya, Semarang dan sekitarnya
- ataupun daerah-daerah lain dan di mana
- pun Anda berada yang dapat mengakses
- kami melalui streaming Rasil di
- ww.radiatarin.com. Malam hari ini saya
- ditemani oleh Muhammad Fahri, ada Neza,
- dan Fajar Hidayat dapat kembali menyapa
- Anda dalam acara Bincang Pendidikan.
- Kita sudah memasuki hari yang ke-15 di
- bulan April 2018 dan kita sudah masuki
- hari yang ke-29 di bulan Rajab
- 1439 Hijriah. Beberapa hanya apa satu
- hari lagi gitu ya menjelang bulan
- Syakban dan sebentar lagi kita akan
- memasuki bulan Ramadan. Ikhwan Awat
- bincang pendidikan narasumber kita, ahli
- pendidikan kita yaitu Bapak Munif
- Khatib. Alhamdulillah telah hadir di
- studio. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Pak
- Mudip. Sehat terus ya? Alhamdulillah
- harus sehat. Membaik? Membaik ya? Terus
- membaik dan tugas sudah mulai anu. Oh,
- tugas sudah mulai menunggu ee
- karya-karya ada yang ter apa istilahnya
- tuh tertunda.
- Iya. sudah mulai sudah mulai bisa di
- progres lagi. Betul ya. He. Terutama
- buku yang baru ini kurikulumnya manusia
- itu. Iya. I iya iya. Saya berusaha bulan
- April ini selesai harus ya.
- Mudah-mudahan diberikan kelancaran Pak
- Unip. Betul. Dan juga diberikan kekuatan
- terus gitu ya untuk selalu berkarya.
- Amin. Iya. Amin. Masangga. Tapi berarti
- untuk ee tatap muka dengan siswa juga
- kan masih ya. Iya. dengan g mulai besok
- saya sudah mulai ini mulai besok sudah
- mulai iya aktif lag aktif lag biasanya
- ada kerinduan apa kalau ke kelas tuh
- mengajar sudah itu iya mengajar iya
- karena mungkin passion-nya guru ya jadi
- ketika kemarin kan cukup lama tidak
- mengajar tidak ketemu sama anak-anak
- jadi wah ada kerinduan yang luar biasa
- itu. Nah, mudah-mudahan besok bisa
- ketemu sama anak-anak. Mudah-mudahan di
- beberapa sekolah yang Pak Munip ee
- geluti gitu ya, beraktivitas di
- sana. Kalau gadget nih, Pak Munip ya
- atau handphone lah, smartphone itu boleh
- enggak anak-anak bawa ke kelas, ke
- sekolah? Heeh. Ee sangat tergantung dari
- kesepakatan di kebijakan dari
- penyelenggara sekolah ya. Heeh. Kalau di
- sekolahnya manusia School of Human itu
- enggak apa-apa. Enggak apa-apa ya? Iya.
- Jadi cuman aturannya begini. Heeh.
- Ketika anak masuk ke kelas, handphone
- itu diletakkan. Iya. Nah, masalahnya
- adalah handphone ini oleh siswanya Heeh.
- diisi oleh modul-modul pembelajaran.
- Heeh. Jadi ketika gurunya dalam proses
- pembelajaran meminta anaknya itu sudah
- tidak bisa meminta siswanya. Sudah bukan
- ayo nak buka buku lagi. Sudah enggak.
- Ayo buka modulmu. Nah itu di handphone.
- Nah cuman kan anak-anak tidak hanya
- handphone gitu kadang-kadang langsung ke
- laptopnya. Iya langsung ke tab-nya gitu.
- Karena kita
- sekarang harus fokus kepada digital
- modul. Jadi anak-anak sudah memakai ini.
- Nah, ini kan hanya alat kan. Oh, berarti
- gadget dijadikan alat alat gitu ya.
- Pelengkap mereka dalam proses belajar.
- Betul itu. Nah, setelah selesai ya sudah
- diletakkan lagi seperti itu. Tapi ada
- juga yang sekolah tidak memperbolehkan
- gitu ya selama seluruh aktivitas
- pelajaran. Iya. Ya. Nah, ini yang ada
- pro dan kontranya kan sebetulnya. Heeh.
- Ada, Bro. Seperti contoh
- ee biasanya sekolah-sekolah boarding
- gitu seperti kalau Insan Mandiri SMP IT,
- SMA IT, Insan Mandiri itu insyaallah
- tahun ajaran barunya itu menggunakan
- digital modul. Anak-anak pakai tab
- tab-nya itu offline tidak nyambung ke
- internet. Tidak nyambung ke internet.
- Iya. Cuman di situ semua modul-modul
- vlog guru Al-Qur'anul Karim, buku-buku
- fikih Al-Qur'an 30 juz dengan beserta
- apa suara-suara dari para apa
- ee ee pembaca-pembaca yang bagus itu
- kita masukkan. Jadi kan keren kan
- sarungan tapi bawa tabwa isinya semua
- ada di situ. Berarti karena memang sudah
- saatnya gitu ya perkembangan teknologi
- khususnya alat betul ee alat komunikasi
- teknologiah gadget gitu ya. Salah satu
- produknya adalah ee smartphone dan juga
- ee laptop. Laptop itu bisa menunjang
- proses pendidikan. Betul. Namun sekarang
- muncul masalah, Pak Munip. Muncul
- masalah ketika kita bicara tentang
- gadget dalam hal interaksi sosial
- ataupun dalam hal pendidikan. Makanya di
- malam hari ini kita akan menganggap
- topik dalam bidang pendidikan ini gadget
- antara kebutuhan dan kecanduan. Namun
- seperti biasa Ikhwan Ahmad ketika kita
- mengangkat topik ini ee karena kemarin
- sempat diskusi juga dengan Pak Mi kita
- angkat mengetik apa ee topik apa gitu
- ya. Namun harus ada solusinya. Betul.
- Nah, jadi mengangkat topik ini kita
- ingin mencari solusi praktis masalah
- gadget antara orang tua dan anak.
- Mungkin nanti juga kita bisa berkembang
- di sekolah gitu atau di lingkungan. Nah,
- itu yang menjadi topik kita. Latar
- belakangnya mungkin tadi sedikit saya ee
- menyampaikan ketika di sekolah ada
- beberapa aturan mengenai gadget juga. Ee
- sempat dalam beberapa tahun terakhir ini
- para psikolog, para pendidik, para guru
- sempat muncul istilah-istilah antara
- orang tua versus gadget. Iya. guru
- versus gadget, sekolah versus gadget
- gitu ya. Bahkan sekarang politikus
- versus gadget. Kalau itu sudah
- macam-macam lah istilahnya. Nah,
- sekarang mengangkat ee topik ee gawai.
- Gawai ya kalau bahasa Indonesianya atau
- gadget atau alat teknologi ini latar
- belakangnya apa, Pak Munip? Apakah dari
- itu semua atau ada lebih khusus lagi?
- Iya, betul. yang ee apa latar belakang
- ini topik ini kita angkat masalah gadget
- karena belakangan ini ya belakangan ini
- mungkin itu sekitar kalau saya
- hitung-hitung 3 tahun lah belakangan ini
- tiba-tiba gadget
- ini banyak menimbulkan masalah itu.
- Banyak menimbulkan masalah itu. Nah,
- karena itu ee di malam ini mudah-mudahan
- Mas Angga nanti dari
- diskusi kita ini muncul sebenarnya cara
- memandang yang objektif. Iya. Tentang
- alat ini tuh bagaimana seperti itu. Dan
- harapannya seperti tadi solusi-solusi
- praktis ya yang mungkin pendengar radio
- silaturahim
- dan ee Rasil TV bisa langsung
- mempraktikkan gitu. Besok pagi mungkin
- bisa langsung dipraktikkan. Iya, ya.
- Nah, seperti itu. Nah, jadi menurut
- saya, Mas Angga, menurut saya
- gini. Anak kita ini itu adalah makhluk
- yang tumbuh dan berkembang. Sepakat ya?
- Sepakat. Tumbuh dan berkembang gitu.
- Nah, tumbuh ini biasanya H itu tumbuh
- kembang itu istilahnya itu
- biasanya dari berbagai dimensi. H ya.
- yang ingin ee saya share di awal ini
- sebagai prolog itu adalah anak itu
- tumbuh
- kembang yang mana tumbuh kembang itu
- butuh sekali kemampuan sosialisasi gitu.
- itu wajar gak bisa gak bisa kita nafikan
- anak kita mau hidup di mana saja dia
- butuh
- untuk kembangkan kemampuan
- sosialisasinya itu nanti kemampuan
- sosialisasi itu berkaitan dengan emosi
- dan lain-lain itu itu yang pertama
- sosialisasinya.
- Nah, yang jadi masalah ketika anak ini
- butuh perkembangan sosialisasi, karena
- ketika kita punya anak bayi,
- lingkungannya
- segitu.
- Tambah umur, lingkungannya tambah
- membesar. He. Membesar, membesar.
- Sehingga kemampuan sosialisasi itu tidak
- bisa dipisahkan dari lingkungan,
- environment lingkungan. Nah, sekarang
- kalau kita sudah bicara masalah
- lingkungan, anak kita tumbuh berkembang
- pada sebuah lingkungan yang dahsyat ini
- lingkungannya ini juga berkembang, Mas
- Angga. Lingkungannya juga berkembang.
- Jadi, saya pernah berdiskusi, ada
- beberapa orang tua yang masih menutup
- mata bahwa lingkungan itu tidak
- berkembang, zaman itu tidak berkembang
- katanya. H. Nah, anak kita berkembang
- pada zaman yang statis katanya. H. Nah,
- karena itu butuh ilmu-ilmu zaman dulu
- itu oke cukup selesai. Ilmu-ilmu modern
- itu tidak perlu karena zamannya
- dianggap tidak berkembang. He. Nah,
- tapi fakta yang berbicara Mas Angga
- ternyata zaman memang berkembang. Iya.
- Nah, sehingga sehingga Mas Angga sebagai
- pengantar ketika kita berbicara tentang
- lingkungan, lalu lingkungan itu kita
- bagi duah sederhananya. Lingkungan mikro
- yaitu keluarga dan lingkungan makro di
- luar rumah. Iya kan? termasuk di
- sekolah, termasuk ke komunitas yang lain
- itu biasanya lingkungan yang lebih luas
- akan mempunyai daya intervensi yang
- cukup besar kepada anak
- kita. Otomatically, otomatis itu i
- lingkungan yang kecil itu akan ee
- dipengaruhi oleh lingkungan yang besar.
- Apalagi kalau kita berbicara tentang
- rumah sekarang yang kecil, hubungan
- antara orang tua dengan anak juga tidak
- seperti zaman dulu. Orang tua sekarang
- sibuk dan lain-lain. Sehingga yang kecil
- ini pun itu kadang-kadang sudah blur.
- Nah, lalu apa hubungannya dengan gadget?
- Nah, gadget ini tempatnya di lingkungan
- yang besar itu, Mas Angga. Iya. Dan
- dahsyatnya masangga gadget ini ketika
- anak kita keluar dari rumah, mereka
- menghadapi lingkungan yang besar, di
- situlah gadget berkembang. Hm. Yang saya
- tadi katakan ee apa ee dahsyat adalah
- gadget ini selain berkembang di
- lingkungan yang besar, dia juga
- berkembang di lingkungan mikro rumah.
- Maksudnya apa? Saya masih ingat, Mas
- Angga. Kalau saya dulu ngajar di PAUD,
- di kampus ini, I ada materi tentang ICT,
- tentang komputer, ilmu komputer itu saya
- masih ingat kalau kita mau memberi anak
- kita hadiah komputer yang masih PC itu
- PC PC itu maka monitornya harus
- menghadap jangan sampai menghadap
- tembok. Komputer itu harus diletakkan di
- ruang keluarga. H jangan sampai monitor
- menghadap tembok, tapi membelakangi
- tembok. Biar anak kita membuka apapun
- kita sebagai orang tuanya itu bisa
- ngelihat langsung. Iya. Itu gadget zaman
- dulu. Sekarang dengan handphone ini anak
- kita bisa chatting, bisa browsing di
- tempat yang paling privasi sekalipun
- yaitu kamar mandi bisa. Heeh. Nah, lihat
- sudah masuk ke mikro lingkungan mikro
- gadget ini. Iya. Iya. Nah, berkembang
- dan kita sebagai orang tua, sebagai guru
- bukan malaikat atid dan rqib yang terus
- mendampingi anak kita gitu. Nah, karena
- itu ini penting sekali. Kenapa gadget
- yang mestinya kalau dari zaman itu
- lumrah berkembang, tapi tiba-tiba 3
- tahun belakangan ini menjadi problem
- banyak. banyak sekali problem-problem
- terutama kepada anak kita dan orang tua
- juga kena problem itu. Nah, ini penting
- sekali kita apa diskusikan. Nah, jadi
- sebagai pengantar gadget
- itu akan menjadi problem kalau satu kata
- saja Masangga yaitu adiktif. Adiktif ya.
- Kejanduan. Kecanduan. Iya.
- Kalau dikatakan gadget itu sebagai
- kebutuhan itu sangat lumrah. Itu wajar
- itu. Jadi kalau gadget itu kebutuhan
- manusiawi, Masangga.
- Karena
- tambah waktu zaman tambah
- berkembang orang melihat sebuah tool,
- sebuah alat itu hanya dua kaki sekarang.
- Apakah dengan alat
- itu pekerjaan saya bisa dipermudah?
- alat apapun. Dan yang kedua, apakah
- dengan munculnya alat tertentu, alat
- baru bisa punya nilai tambah buat
- pekerjaan saya? Nah, kalau gadget
- diartikan sebagai alat perangkat yang
- mulai orang tua dan anak fungsinya di
- dua kaki ini punya nilai tambah dan itu
- mempermudah sebuah pekerjaan. Maka saya
- pikir itu lumrah pada zamannya. Tapi
- yang jadi masalah ketika gadget berubah
- menjadi adiktif. Kecanduan di sinilah
- Mas Angga. banyak masalah-masalah yang
- terjadi itu. Baik, itulah alasan kenapa
- ya gadget bisa mempengaruhi anak. Betul.
- Karena memang sudah langsung masuk ke
- dunianya, masuk ke lingkungannya bahkan
- sampai ke lingkungan yang paling mikro.
- Private mikro paling mikro. Tidak
- semua alat atau something sesuatu itu
- bisa nembus dimensi yang tadi itu masak.
- Tapi gadget mampu gitu. Betul. Iya. Nah,
- ini yang jadi masalah kita.
- Bukan hanya dimensi eh bukan hanya
- tempat. Iya, waktu dan suasana juga.
- Betul. Lagi ngaji juga begini. Iya. Lagi
- belajar begini. Lagi kumpul keluarga
- begini. Lagi main, lagi jalan-jalanya i
- sedang apapun. Bahkan
- ee apa kalau ada bahasa hiperbolanya
- ketika tidur bila bisa tidur menggunakan
- gadget mungkin gadget itu akan nyala.
- Betul. Iya.
- Saya beberapa waktu yang lalu reuni ini.
- Heeh. reuni ee kampus ke-30 sudah kan
- 100 lebih hadir itu satu angkatan
- sampai di tempatnya ya sama kita berapa
- tahun enggak
- ketemu seelo sudah selesai kemudian
- duduk mojok sendiri pakai gadget untung
- ketuanya pintar ambil tas gitu
- HP-nya diul langsung kumpulin semua kita
- di sini nih mau ngobrol sampai
- kadang-kadang ee ada 5 tahun kita enggak
- ketemu dan lain-lain seperti itu. Nah,
- itu kan gadget. H. Nah, tapi ada Mas
- Angga untuk kemudahan. Iya. Nah, saya
- pernah diceritain sama seorang dosen di
- ITS. Heeh. Jadi, dosen ini enggak mau
- pakai gadget. He. Gak mau pakai gadget.
- Ketika habis salat zuhur di Masjid ITS
- itu
- Surabaya, dia lihat seorang mahasiswa
- laki-laki gunain gadget di masjid ini.
- Ya, serius gadgetnya.
- langsung disamperin sama dosen ini.
- Heeh. Iya kan? Ditepuk tangannya itu
- dan langsung dimarahi. Itu gak tahu
- tempat Anda menggun menggunakan
- handphone di masjid ini. Heeh. Ini untuk
- ibadah gitu. Mahasiswanya bilang apa? Ya
- saya ngaji, Pak. Ini Pak.
- Jadi Al-Qur'an. Iya. Al-Qur'an yang ada
- di apa ee di di handphone-nya. Saya
- ngaji nih, Pak. He ini beristigfar
- langsung dosen. Dosen ini cerita sama
- saya, astagfirullahalazim. Nah, kan
- gimana ini gadget tapi untuk yang
- tadius? Iya. Tadarus.
- Baik. Iya.
- Dan kita ee batasi Pak Munip ya,
- pemahaman gadget di sini adalah lebih ke
- smartphone baik online ataupun offline
- karena sudah ada istilah ee online dan
- offline. Sekarang memang kalau enggak
- online itu seperti tidak seperti tidak
- mengarungi hidup. Kalau sekarang ada
- istilah anak-anak begitu gitu ya. Nah,
- Pak Munip ee perlu juga sepertinya kita
- ini mengetahui apa sih sebenarnya
- peranan gadget untuk kehidupan saat ini?
- Ya. Jadi kan
- begini, kalau menurut saya gadget itu
- punya peran betul-betul membantu human,
- membantu manusia. He
- sebenarnya. Nah,
- ee yang jadi masalah
- adalah
- ketika gadget
- itu punya peran membantu pekerjaan
- manusia. Heeh. Nah, yang jadi masalah
- adalah manusianya, Mas Angga. Iya. Iya
- kan? Yang menjadi masalah sebenarnya
- manusianya. Sampai ada sebuah fenomena
- sekarang kalau mungkin 5 tahun yang lalu
- itu gadget itu
- adalah punya peran membantu manusia.
- Tapi sekarang Mas Angga. Nah, sekarang
- ini ada ada yang membatasi sampai
- 2020 berarti kurang 2 tahun
- lagi. Kita ini bekerja sama dengan
- gadget. H sudah bukan jadi pembantu
- kita. Gadget bukan jadi pembantu
- manusia, tapi sudah mulai bekerja sama
- dengan gadget. Jadi rekan. Nah, jadi
- rekan sudah. Nah, itu kan kelihatan kan
- kita sekarang kan jadi rekan. dan tahun
- 2020 ke atas
- kita yang akan diperbudak oleh gadget.
- Hm. Nah, apalagi sekarang muncul
- kecerdasan buatan itu artificial
- intellig seperti itu. Nah, jadi
- sebenarnya
- apa ya manusia yang di belakang layarnya
- ini yang penting sebenarnya. Artinya
- gadget itu bisa nanti menjadi bosnya
- manusia,
- bisa menjadi rekan manusia dan bisa
- menjadi alat bantu saja. Bukan
- tergantung gadgetnya sebenarnya, tapi
- tergantung bagaimana manusianya ini.
- Jadi kalau ditanya peran gadget sekarang
- sebenarnya balik ke peran manusianya.
- Bagaimana ke per manusianya gitu. Nah,
- inilah uniknya gadget. Jadi kan gadget
- itu sebenarnya sebuah alat ya. Tapi
- uniknya alat ini punya
- fungsi yang berkaitan dengan dunia maya,
- internet itu. Jadi alat yang di dalamnya
- ada dunia tersendiri sebenarnya dan itu
- luas sekali itu. Nah, ini yang mungkin
- tidak ada di alat-alat yang lain selain
- gadget gitu. Nah, karena itu menurut
- menurut saya bagaimana
- ee kita menghadapi gadget ini seperti
- awal tadi Mas Angangga. Kalau menurut
- saya tetap kita harus mengatakan gadget
- ini adalah tools alat yang mana
- digunakan mestinya pada mestinya yaitu
- bagaimana ini bisa mempermudah pekerjaan
- dan bagaimana gadget itu
- bisa punya edit value nilai tambah.
- Jadi kalau enggak ada gadget mungkin
- nilainya cuman tuuh, tapi gara-gara ada
- gadget bisa 10, bisa maksimal nilainya.
- Apapun itu pekerjaannya, apapun seperti
- itu. Kalau tidak ada gadget ngaji
- mungkin hanya satu lembar saja tiap
- hari. Tapi ketika ada gadget bisa sampai
- 20 lembar karena di mana saja bisa
- misalkan ya kan? dan lain-lain. Nah,
- ketika kita sedang naik bus dan
- lain-lain, wah kita bisa tinggal membuka
- gadget, ya kan itu dan lain-lain.
- Membuka handphone dan mulai ngaji dan
- lain-lain. Maka kalau itu yang
- dilakukan, maka peran gadget itu akan
- positif. He. Akan positif gitu.
- Nah, tapi kalau
- sebaliknya manusianya sendiri yang
- tersedot dengan kecanduan adiktif, iya,
- maka peran gadget akan negatif. Jadi
- sebenarnya, Mas Angga yang membuat
- kecanduan itu pola pikir manusianya yang
- menggunakan. Percaya sama saya, Mas
- Angga? Kalau manusianya berpikir gadget
- itu tidak digunakan pada mestinya tidak
- untuk kemudahan dan tidak untuk punya
- edit value, pasti gadget digunakan untuk
- hal-hal yang lain yang menimbulkan
- adiktif. itu aja batasannya itu.
- Nah, itu menurut saya peranan gadget
- ini. Kalau ingin lebih
- ee paham gitu ya, masyarakat kita sudah
- ke
- tahapan kecanduan atau masih dalam
- tahapan ee membutuhkan sebagai alat
- saja. Iya. Itu menganalisanya bagaimana,
- Pak Mid? Orang yang kecanduan gadget
- nih. Iya. Ada. Heeh.
- Biasanya kalau kita ini Mas Angga itu
- kita punya satu form ya kan satu satu
- berkas form gitu. Kalau misalkan kita
- tanya ini
- orang-orang ee apa orang tua pun bisa.
- Jangankan anak-anak, orang tua pun bisa.
- Maka dari situ kita
- assesment. Maka hasil dari itu, dari
- dialog itu, tapi dialog itu ada
- panduannya, Mas. tangga. Kita bisa tahu,
- maaf, Bapak, Ibu ini sudah adiktif atau
- sudah masuk dalam ibaratnya lampu kuning
- lah. Sudah h tapi enggak, masih belum
- lampu hijau itu bisa. Tapi inti dari
- berkas-berkas itu adalah
- ketika seseorang anak kita atau kita
- sebagai orang
- tua beberapa waktu tidak memegang
- handphone, tidak berkomunikasi dengan
- gadget, panik atau tidak. Selesai.
- Ketika ada secara psikologis unsur
- kepanikan dalam diri kita, maka itu
- tanda-tanda adiktif. Nah, cuman dalam
- form itu panik itu diperetelin lagi satu
- persatu dalam hal apa? Misalkan
- tiba-tiba baterai habis, wah panik.
- Tiba-tiba gak bisa me apa pulsa pulsa
- habis e lalu ee wifi kuota dan itu
- diperetelin seperti itu atau ketinggalan
- zaman juga sekarang ada yang panik. Iya.
- Wah, betul ya.
- Berarti menurut saya ke ini sudah
- tergantung kecanduan atau adiktif atau
- tidak. Sebenarnya wilayahnya adalah
- secara psikologis, Mas. Nah, satu kata
- saja panik ketika barang ini jauh sama
- kita gitu.
- Nah, bagi seorang ee anak atau orang tua
- atau dewasa yang dia sibuk dengan
- pekerjaannya atau kalau anak mungkin
- sibuk dengan ee pelajaran di
- sekolah-sekolahnya
- itu kan sudah beda dunia, sudah beda
- lingkup gitu ya. Terus kecanduannya juga
- beda-beda nih Pak Munik. Iya. Cuman ada
- satu tidak bisa terlepas gitu. Tidak
- bisa terlepas. Iya. Nah, kalau mungkin
- orang yang bekerja itu karena rutinitas
- akhirnya dia membutuhkan gadget. Tapi
- ada orang yang ya memang jadi bagian
- hidup. Nah, ini menjadi bagian hidup ini
- sudah kecanduan tingkat apa? I
- kalau orang menggunakan gadget itu untuk
- kebutuhannya, Mas Angga yang mana bisa
- mempermudah sekali lagi bisa punya edit
- value dan lain-lain, maka menurut saya
- itu belum dalam taraf kecanduan. He.
- Jadi pagarnya itu dua ini, Pak. Heeh.
- Kemudahan sama edit value. Coba masa
- enggak gampang saja. Dulu bagaimana
- mesin ketik? Iya. Tek tek. Iya. Kan anak
- sekarang gak ngerti loh mesin ketik ini.
- Generasi alfa ini sekarang gak ngerti.
- Mesin ketik itu mungkin sudah masuk
- museum bentuknya. Iya kan? Iya. Tek tek
- tek. Saya dulu buat skripsi pakai mesin
- ketik waktu S1. He. Itu salah aja. Aduh,
- buang lagi kertas dan lain-lain dengan
- adanya gadget, laptop, dan lain-lain
- dahsyat.
- muda punya edit value. Nah, ketika
- pekerjaan kita itu
- ngetik ya membuat ini, saya pernah
- pernah bekerja sebagai underwriter,
- terus ngurusin perjanjian, ngetik dan
- lain-lain yang mana mungkin 1 hari 5 jam
- saya harus di depan komputer dan lain
- dan itu banyak sampai sekarang
- orang-orang pekerja. Maka menurut saya
- itu bukan dalam kategori kejanduan itu
- karena memang ini tools alat yang untuk
- digunakan. Sama seperti teman-teman
- kita, saudara-saudara kita yang punya
- pekerjaan membersihkan mobil lah. Kalau
- dulu gimana? Pakai cuman pakai lap saja
- ini. Oh, sekarang dengan adanya tools
- alat lebih mudah disemprot ini dan
- lain-lainnya ya kan? Atau pakai mesin
- dan lain. Nah, selesai. Nah, jadi
- batasannya adalah kalau gadget ini baik
- oleh orang tua ini ataupun anak-anak
- kita sudah digunakan di luar tools ini,
- hakikat dari atau fungsi dari alat
- sampai dia kecanduan.
- Kalau tidak tidak apa tidak ee melihat,
- menggunakan mengikuti, nah apa-apa
- konten yang ada di gadget terus panik
- dan lain-lain. Nah, itu sudah masuk ke
- adiktif, ke kecanduan itu
- sekarang. Tapi kenapa orang kok bisa
- kecanduan gadget? Kok di alat-alat yang
- lain yang non gadget itu tidak gitu?
- Tidak. Kalau buat gadget bisa candu gitu
- ya. Nah, itu kenapa? Karena masangka
- ternyata ternyata secara
- alamiah apa yang dimunculkan oleh
- perangkat ini, gadget ini adalah paling
- disukai oleh otak manusia. Nah, ini
- namanya kalau di neuroscience modalitas.
- Hm. Jadi modalitas itu sukanya otak,
- mudahnya otak itu nyerap informasi dari
- luar itu ada tiga jalan tol. Hm. Ada
- jalan tol audio. Iya. Ada jalan tol
- visual. Iya. Dan ada jalan tol
- kinestetis. Biasanya kalau kita di ilmu
- pendidikan namanya modalitas itu heeh. V
- k gitu. Nah, ternyata di ilmu
- neurosence yang paling cepat informasi
- itu masuk ke otak manusia dan itu cepat
- sekali dipahami sampai masuk ke memori
- jangka panjang itu adalah yang
- menggunakan jalan tol atau
- modalitas kinestetis sebuah aktivitas.
- Oh. Apalagi sama visual. He. Visual yang
- bergerak. Wuh. Itu sukanya otak. Apalagi
- ditambahin audio yang luar biasa. Tapi
- modalitas yang
- paling tidak disukai otak itu hanya
- murni audio saja. H otak malas itu
- nangkap. Tapi kalau tiga modalitas itu
- jadi satu, masa enggak? Itu luar biasa.
- Karena itu gadget itu modalitasnya
- lengkap dan itu naturally disukai oleh
- otak manusia gitu. Iya. Iya. Saya punya
- teman anaknya kecanduan game. H sepak
- bola itu main bola itu. Nah, itu gadget
- kecanduan sudah main game. Terus pulang
- sekolah masuk kamar main-main. Ayahnya
- sampai
- bingung bagaimana ini. Lalu kok bisa
- sampai kecanduan seperti papa ini loh.
- Enggak. Terus saya bilang gini sama
- anaknya, "Coba papamu ajak main." Diajak
- main. Saya 2 minggu ke sana lagi, saya
- lihat anaknya sama papanya main. Nah,
- berarti ee secara alamiah memang tidak
- berkaitan dengan usia. Mau anak-anak,
- mau orang tua ketika otak ini sudah suka
- terhadap informasi yang punya
- karakteristik ginestetisnya kuat, iya
- kan visualnya dan lain itu wajar di di
- apa di disukai sama otak. Nah, ini yang
- menyebabkan gadget itu secara alamiah
- punya daya tarik adiktif. Iya. Itulah
- kenapa orang kecanduan kecanduan itu
- gadget. Betul. Teori modalitas. Teori
- modalitas kalau menurut saya dikaitkan
- dengan neuroscience adalah teori
- modalitas itu dan teori modalitas itu
- sepertinya tidak mengikat usia ya.
- Tidak. Tidak mengikat usia dari mulai
- infent bahkan sampai yang dewasa. Iya,
- seperti itu. Jadi ini penting ini. Nah,
- beda lagi Mas Angga ketika
- ketika kecanduan ini kan kecanduan
- gadget ini kecanduan apanya gitu. Iya.
- Ada anak kecanduan main gadget itu
- menggunakan gadget karena main game.
- Ada. Hm. Iya kan? Ada yang kecanduan
- fokus ke medsos. Iya. Iya. Iya. Ada data
- Mas Angga. salah satu lembaga yang
- memunculkan. Kalau anak laki-laki itu
- biasanya games, kalau anak perempuan itu
- biasanya medsos.
- Sosm itulah sosial media itu. Nah,
- tapi yang dahsyat adalah masangka
- ketika kecanduan gadget
- ini membuka pintu ke kecanduan
- pornografi. Nah, itu. Nah, karena ingat
- gadget ini dunia tersendiri yang lepas
- dari dunia nyata yang kita bisa batasi.
- Gadget tidak bisa dibatasi. itu karena
- kalau sudah masuk ke pornografi lewat
- gadget
- yang diserang itu tidak hanya modalitas
- tadi untuk ketergantungan, tapi
- problemnya di otak gitu ya kan namanya
- PVJ jadi prefrontal kortteeknya rusak
- masangga betul betul itu karena ada
- namanya apa ee zat dopamin yang keluar
- nah ini bahaya gitu ini tidak tidak
- terjadi kalau gadget itu hanya untuk
- media sosial
- He misalkan terus cari apa ee kabar ke
- teman-temannya itu tidak tidak terjadi
- itu. Tapi kalau sudah masuk ke area
- pornografi, wah itu dahsyat. He itu.
- Makanya dalam perkembangan terakhir ini
- ya semua tampilan menu-menu pornografi
- itu seperti ditelusuri gitu ya.
- Ditelusuri bagaimana supaya mudah
- diakses gitu ya. Betul. Melalui medsos
- juga mereka seperti apa ya istilahnya
- itu menginfiltrasi gitu. Iya betul. Kan
- pemerintah ada beberapa media sosial
- dari Amerika yang diblok. Iya. Di
- Indonesia enggak boleh seperti flicker
- karena muatan pornografinya sangat
- tinggi. Lalu juga bahkan Twitter pun
- Twitter pun sebenarnya sudah sudah masuk
- ee rambu-rambu oleh pemerintah karena
- Twitter pun dalam menyaring kurang.
- Begituun YouTube. Kalau YouTube memang
- ee sudah apa ya memang agak agak ketat
- mungkin tampilan-tampilan yang berbau
- pornografi biasanya kan disesuaikan ada
- ada beberapa akses dulu supaya bisa ke
- situ. Cuman memang ee ini menjadi
- masalah serius gitu ya ketika menu-menu
- gadgetnya ini tadi Pak Mul itu dari
- mulai betul ee games
- pornografi, lalu media sosial. Betul.
- Nah, kita kalau pengin menganalisa yang
- manfaatnya yang mau kita ambil atau yang
- sisi negatif yang kita jauhkan gitu ya,
- kecanduan apakah pasti negatif tentu
- pertanyaannya. Iya. Kalau kecanduan
- pasti negatif, Mas. Pasti ya. Pasti
- adiktif, candu. Dampaknya apa, Pak? Ah,
- biasanya kalau sudah kecanduan dampaknya
- itu ada dua, Mas. Heeh. Fisik sama
- psikis. Heeh. Kalau fisik itu saya
- pernah meng-collecting gitu. He. Apa sih
- secara fisik kalau orang sudah kecanduan
- gadget? H itu yang pertama mata
- gangguan itu ee
- jumlah peningkatan anak atau orang tua
- yang matanya problem gara-gara gadget.
- Apakah itu dari bright-nya dan itu
- banyak sekali, Mas Angga itu anak-anak
- kecil dan lain sudah pakai kacamata
- sekarang dan itu ini itu yang pertama.
- Terus yang kedua adalah pendengaran bisa
- berkurang Mas enggak gitu. Pendengaran
- bisa berkurang. Nah, yang satu lagi
- adalah obesitas.
- Karena karena Oh, iya. Olah tuhnya ya.
- Karena tidak pernah bergerak. Oh, iya.
- Iya.
- main gadget terus kecanduan. Apakah itu
- untuk game, apakah itu untuk apa sosial
- media atau searching dan lain tapi orang
- diam itu. Nah, dan makan terus. Tapi
- makan terus kan. Iya.
- Dan yang keempat adalah ini yang
- berkaitan dengan fisik itu menurunnya
- daya ingat. Hm. Menurunnya daya ingat
- gitu.
- Daya ingat itu kan masuk memori jangka
- panjang sebetulnya. Iya. Daya ingat itu.
- Nah, orang lebih suka kalau candu gadget
- itu dia tidak pernah mencerna dengan ee
- bagus informasi itu, tapi dengan
- kecepatan gadget itu hanya numpang saja.
- Jadi, semua informasinya masuk ke memori
- jangka pendek saja sehingga tidak
- dilatih untuk mengingat gitu. Kalau
- sudah kecanduan ini Mas Angga itu. Nah,
- yang bahaya menurut saya selain yang
- fisik ini itu ada yang psikisnya. Nah,
- ini ini problem ee psikis. I. Nah,
- biasanya kalau problem fisik itu bisa
- diobati, Masangga. Heeh. Tapi yang
- psikis ini yang agak susah. Sulit ya?
- Iya. Sulit itu yang
- pertama anak-anak kita tiba-tiba apa ya?
- Tidak terbuka. Hm. sama orang
- tuanya, sama saudaranya gitu. Menutup
- diri tiba-tiba karena apa? Dia punya
- teman yang luar biasa memberi informasi
- apapun bisa yaitu gadget. Nah, ini ini
- kondisi
- psikisnya menjadi tidak terbuka. Terus
- yang
- kedua, emosi anak-anak kita tidak
- stabil. H dengan adanya adiktif ini. Ini
- kalau adiktif ya, Mas Angga ya. Itu.
- Iya. Nah, jadi yang pertama menutup diri
- tidak terbuka, lalu emosinya tidak
- stabil. Kemudian dengan emosi yang tidak
- stabil mudah stres, mudah
- depresi. Nah, tingkat stres
- remaja kalau dibagi dua, yang
- menggunakan gadget sama yang tidak itu
- jauh lebih tinggi yang menggunakan
- gadget. Itu tingkat kestresan dan ee ini
- depresinya. Dan yang terakhir adalah dia
- sudah tidak peka sama
- lingkungannya. Apa yang terjadi di 2 m
- di sebelahnya sudah tidak mengiraukan
- karena sudah fokus ke gadgetnya. Nah,
- ketidakpekaan ini dahsyat, Mas. Angga.
- Akhirnya nanti kepekaan sosialnya
- hilang. Iya. Kepekaan berpikirnya juga
- hilang. I kan seperti itu. Kepekaan
- terhadap lingkungan juga hilang. karena
- sudah terhipnotis semua oleh gadget.
- Nah, ini menurut saya yang bahaya
- sebetulnya dampak-dampak ini. Nah,
- itulah kalau sudah ediktif adiktif
- dampak-dampaknya kayak gitu. Heeh.
- Dampak negatif tadi yang paling ee harus
- kita garis bawahi memang dampak psikis
- ya yang sulit sekali untuk ee
- disembuhkan apalagi terkait dengan
- interaksi sosial. Betul. Interaksi
- sosial bermasalah. Iya. Di keluarga, di
- keluarga, maupun di lingkungan. Iya. ee
- dalam hal pendidikan biasanya
- menganalisa siswa Heeh. yang kecanduan
- gadget. Heeh.
- Ini masalah masalah serius bukan?
- Sangat serius maksudnya karena serius
- sebetulnya ya sebetulnya jarang ada
- sekolah. Saya belum belum pernah
- mendengar tapi ada kemungkinan gak lama
- lagi Masangga. Heeh. Ketika anak kita
- masuk ke sekolah itu kan biasanya
- macam-macam ada tesnya kan. Iya ya.
- Kalau kesehatan
- misalkan tes
- macam-macam. Sekarang sudah ada mulai
- sekolah yang dites urinnya. H apakah ada
- narkobanya atau tidak seperti itu. Nark.
- Tapi saya yakin gak lama lagi akan dites
- ini kecanduan gadget atau tidak gitu.
- seperti ada akan ada ada assesment
- seperti itu kalau menurut saya gitu.
- Nah, ketika kecanduan gadget maka
- siap-siap saja anak ini dalam menerima
- ilmu dari gurunya, dalam berinteraksi
- dengan gurunya, dengan teman-temannya di
- sekolah. Sekolah adalah sebuah
- komunitas. Problem utamanya adalah
- hambatan psikis yang tadi saya
- ceritakan. Iya. Iya. Iya. tidak peka,
- mudah stres, ya kan? Menerima pelajaran
- sulit sedikit sudah putus asa dan
- lain-lain itu tidak bisa mengandalkan
- emosi tadi ya. Iya. emosi, suka berantem
- sama temannya. Dan nah
- ini saya yakin masalah-masalah non
- akademis anak-anak remaja kita di
- sekolah itu kecanduan gadget punya peran
- yang besar mengakibatkan ini. Memang
- kita tidak pernah meneliti saja gitu,
- tapi kok saya yakin itu ada gitu.
- Omip saya akan lebih ke lingkungan
- terkecil. Iya. Yaitu keluarga. Iya. Ee
- pengenalan pertama justru kan dari orang
- tua nih kepada anak. Iya, betul.
- Bagaimana nih mengenalkan gadget kepada
- anggota keluarga? Kalau dalam hal ini
- anak. Betul. Bayi aja kan sekarang sudah
- dikasih. Iya. Makanya itu
- sekarang bayi pun kecanduan ya kan? Bayi
- bayi pun dikasih. Bayi pun kecanduan.
- Jadi salah satu penyebab anak kita
- kecanduan adalah ini salah satunya Heeh.
- orang tuanya kecanduan gadget. Heeh. Ya,
- orang tuanya kecanduan gadget itu. Jadi
- ketika kita sebagai orang tua tahu,
- "Loh, anakku kok kecanduan gadget ini,
- He. Coba introspeksi, apakah saya
- kecanduan gadget atau tidak?" He. Nah,
- ketika orang tuanya sudah selesai
- mengatasi masalah kecanduannya, biasanya
- anaknya cepat juga selesai itu. Nah, dan
- yang kedua adalah seperti yang tadi
- ditanyakan Mas Angga itu bagaimana
- proses
- edukasi gadget kepada anak di lingkungan
- rumah. Ini pentingnya luar biasa, Mas
- Ang. I. Nah, kalau menurut
- saya ini harus dilakukan oleh setiap
- keluarga memberikan informasi yang benar
- tentang fungsi dan peran gadget kepada
- anak kita itu bagaimana. He itu jadi
- kalau menurut saya anak kita sejak dini
- harus diberitahu bahwa gadget ini nak
- hanya alat selesai.
- itu hanya alat alat untuk mempermudah
- dan alat untuk bisa punya nilai tambah.
- Tapi kalau kamu masih bisa dengan mudah
- mendapatkan kebutuhanmu, ngapain pakai
- gadget?
- Contoh, baca
- buku. Kalau ada manual book ini bisa ada
- gitu. kita punya perpustakaan, anak-anak
- bisa dibawa ke sekolah, ke perpustakaan
- kota dan lain-lain. Ya, kenapa membaca
- buku dengan tab? Nah, ini jadi ada kok
- bisa kok. Nah, itu dulu Mas Angga.
- Karena buat anak-anak dalam usia
- tertentu, he membaca buku dengan tab itu
- bukan sebuah
- kemudahan, I kan. bukan sebuah hal yang
- nilai tambah gitu. Beda kalau misalkan
- kita sebagai penulis yang butuh banyak
- referensi buku ya kan dengan adanya
- internet ya kan dan lain-lain ebook
- tinggal copy paste dan lain-lain itu is
- ok lah karena makin mempermudah daripada
- kita jalan-jalan nyari puluhan buku
- sebagai referensi. Heeh. Heeh. Tapi
- ketika anak-anak kita masih belum dalam
- taraf itu ya gunakan orang gak pakai
- alat gak apa-apa kok seperti itu. Enggak
- pakai alat enggak apa-apa gitu. Nah,
- jadi
- mengenalkan fungsi gadget sebagai alat
- untuk mempermudah sebuah pekerjaan dan
- punya nambah ini harus diajarkan kepada
- anak-anak kita sejak usia dini. itu ada
- teman saya Mas Angga dan kalau masuk ke
- YouTube banyak videonya
- itu. Anaknya itu usia 2 tahun itu sudah
- kecanduan gadget. He. Jadi kalau enggak
- dipegangin
- tabisnya minta
- ampun. Wallpaper handphone
- ini yang dipasang adalah ee wajah
- pocong.
- Nah, ketika anaknya ambil gadgetnya,
- lihat wajah pocong nangis dilempar itu
- katanya ini. Nah, ini berarti sudah
- enggak enggak kecanduan lagi. Saya
- bilang, "Enggak, Anda memberi solusi
- dengan menimbulkan masalah baru." Iya,
- iya. I iya kan? Tapi kalau punya
- kakaknya yang wallpaper-nya bukan gambar
- yang menakutkan buat dia, ya, dia
- akhirnya akan ngambil gadget punya
- kakaknya gitu. Jadi, dia bukan takut
- sama gadgetnya, dia takut bukan sama
- setannya kan gitu.
- Nah, jadi
- sebenarnya edukasi ini penting ya.
- Edukasi ini penting gitu. Kalau
- melihat ee kapan anak itu dikenalkan
- gadget itu dari usia bagaimana
- seharusnya?
- banyak anu apa jurnal ini sekarang
- Masangga kalau saya di kampus tuh banyak
- diskusi tentang jurnal-jurnal dan
- lain-lain. Nah, yang terakhir ini Mas
- Angga itu kalau itu jenjang saya tarik
- ke Indonesia ya dikenalkan gadget itu
- SMP
- gampangnya gitu SMP mulai kelas 7 itu
- baru dikenalkan gadget tapi untuk
- elementary school atau SD atau primary
- ke bawah itu kalau bisa jangan jangan
- menggunakan gadget itu. Nah, nah cuma
- kan kalau di Indonesia itu sudah susah
- sekali gitu karena bebas bebas. Iya.
- Iya. Saya tadi makan Iya. di satu mall.
- Heeh. Saya lihat ada keluarga
- muda anaknya dua. Heeh. Ya sudah namanya
- anaknya dua usianya paling hanya beda 1
- tahun ribut. W w w sudah sama orang
- tuanya dikasih gadget diam. Diam. Udah
- sudah orang tuanya merasa inilah solusi
- gitu. Nah. Jadi orang tuanya bisa pesan,
- bisa ngobrol. anaknya ini saya
- bilang itu menurut saya itu salah
- sebetulnya seperti itu. He. Jadi betapa
- banyak ya kita sebagai orang tua melihat
- anak kita terus minta ini, minta itu,
- ribut misalkan atau sama kakaknya dan
- lain-lain. Kenapa itu tidak dipandang
- sebagai peluang untuk pembelajaran? H
- untuk berbicara dari hati ke hati kan
- dan lain- tiba-tiba memberikan
- solusi ya agar jalan pintas gitu. Nah
- nih sudah selesai. Akhirnya muncul
- muncul istilah saya memilih gadget untuk
- ya untuk anak itu. Iya gitu. Jadi
- sekali lagi Mas Angka kita sebagai orang
- tua perlu introspeksi kita ini kecanduan
- gadget atau tidak. Iya gitu. Itu dulu
- kalau kita kecanduan gadget pas di rumah
- seperti yang tadi Mas Angga tanyakan,
- hati-hati anak kita apalagi masih di
- usia dini punya tingkat imitasi yang
- luar biasa. Meniru itu luar biasa. I itu
- makin remaja-remaja menirunya makin
- turun. Dia kepengin malah dia sendiri
- yang muncul menjadi sosok pribadi yang
- beda dengan orang tuanya. Namun ketika
- masih usia dini, oh itu niru masangga.
- Heeh.
- gitu. Nah, ini penting gitu. Ee saya ke
- dampak negatif yang kecanduan gadget.
- Iya. Dari mulai tahapan paling rendah
- dapat dampak negatifnya sampai tahapan
- paling ee tinggi bahkan sudah masuk
- paling berbahaya dampak gadget. Sekarang
- masalah sudah banyak timbul ee
- pembunuhan, betul, kekerasan gitu ya, ee
- pemerkosaan berawal dari ya pengaruh.
- Betul. menu-menu yang ditampilkan di
- dalam gadget. He. Heeh. Melihat
- perkembangan ini bagaimana, Pak. Nah,
- dan merambahnya ke semua tempat gitu ya,
- bukan hanya di rumah, di sekolah. Iya,
- betul. Menurut saya batas wilayahnya
- dua, Mas. Sangga pencegahan dulu. Jadi,
- bagaimana mencegah anak kita tidak
- adiktif gadget gitu. Nah, ketika anak
- kita sudah
- adiktif, maka harus ada solusi-solusi.
- Harus ada solusi-solusi. Adiktif gadget
- ini menurut saya masangnya ada
- kelas-kelasnya. Iya, itu tapi kelas yang
- paling tinggi harus diterapi, Masangga.
- Itu solusinya sampai sampai terapi gitu.
- Banyak mulai sekarang bermunculan terapi
- gadget itu macam-macam, Mas Sangga gitu.
- Nah, kalau saya mungkin di forum
- ini bisa share ada beberapa
- solusi-solusi yang praktis yang mungkin
- mulai besok pagi bisa di dipraktikkan
- dipraktikkan oleh orang tua
- itu. Dan syaratnya Mas Angga cuman
- satu kontinue dalam melakukan.
- Kalau tidak kontinue itu tidak bisa.
- Nah, anak yang kecanduan gadget sampai
- pada tingkatan lampu merah sudah i sama
- solusinya diterapi. Tetap terapinya
- kontinue. Kalau terapi hanya
- sekali-sekali waalaikumsalam gitu.
- Nah, mungkin saya bisa men-sharingkan
- itu bagaimana tip-tips praktisnya ini
- solusi. Solusi. Tapi syaratnya harus
- kontinue. Masus iya harus kontinue.
- Istikamah.
- kelanjutan harus iya betul itu. Hmm gitu
- ya. Iya. Yang pertama mungkin
- besok ngobrol sama anaknya buat
- perjanjian tertulis tentang waktu
- menggunakan gadget.
- Nah, Senin sampai Ahad ya. Kapan ini
- bisa menggunakan?
- ya kan sesuai dengan bagaimana usia anak
- dan lain-lain. Nah, jadi di perjanjian
- itu Mas Angga yang penting adalah waktu
- menggunakan gadget itu.
- Nah, libatkan anak dalam mendesain
- perjanjian itu. Tapi peran orang tua
- harus lebih besar. Iya, itu orang tua
- dalangnya gitu.
- Nah, anak kita akan menawar, apalagi
- anak kita sudah remaja nanti. Iya, itu
- bisa kita lakukan. Tapi jangan lupa di
- perjanjian itu ada pasal yang
- menyebutkan kalau
- misalkan dilanggar apa yang sudah
- diperjanjikan dari waktu itu, apa
- konsekuensinya? Ini penting. Iya. Dan
- kalau bisa konsekuensinya adalah tidak
- boleh memegang gadget dalam waktu
- tertentu. Nah, itu jadi konsekuensinya
- jangan disuruh post up atau rambutnya
- digundulin. Jangan. Tetap masuk ke
- gadgetnya tapi sepakat 1 minggu nak gak
- boleh gunain gadget. H kalau dilanggar
- sekali ngelanggar lagi seminggu lagi.
- Sudah gitu. Nah, saya pikir besok bisa
- dibuat itu dan biar keren modal 6.000
- untuk meter ya.
- Nah, jadi minimal ketika anak kita
- diajak diskusi untuk membuat
- perjanjian yang dahsyat adalah pasti
- anak kita akan tanya, "Wah, kenapa kok
- sekarang ada perjanjian?"
- Di situlah kesempatan orang tua
- memberikan penjelasan tentang bahayanya
- adiktif-addiktif gadget yang tadi saya
- katakan itu, Mas Angga. Gitu enggak
- apa-apa sampai ke addictif gadget adalah
- pintu pembuka adiktif pornografi. Gak
- apa-apa kita omongin gitu sama anak kita
- apalagi sudah remaja gitu. Nah, itu yang
- pertama. Iya. Oke. Sekarang mau atau
- tidak orang tua buat itu? Besok bisa.
- Mah bisa ya? Iya itu yang
- pertama. Lalu yang
- kedua ada dampak obesitas tadi. He. Anak
- menggunakan gadget sudah sosialisasinya
- menurun dan
- lain-lain. Harus mau dilakukan kontinue.
- Ini heeh.
- Sabtu sama Ahad itu kan biasanya libur.
- Iya. Nah, bisa gak orang tua
- menghidupkan kembali permainan
- tradisional? Nah, ayo. Jadi permainan
- tradisional itu terapi sebetulnya untuk
- addictive gadget kayaknya sebelum ke
- anaknya orang tuanya dulu itu terapi
- karena orang tuanya itu banyak yang lupa
- permainan tradisional. Iya. Ah, sekarang
- manfaatkan gadget untuk mencari tahu
- permainan tradisional itu apa. Banyak di
- YouTube. Ayo mulai. keluarga
- kecil dua orang tua ayah ibu satu anak
- bisa iya kan ketika permainan
- tradisional itu dilakukan Mas Angga maka
- apalagi sampai membentuk komunitas
- antara tetangga ini main tali i kan
- congkl bekel itu bisa di rumah dan maai
- maka yang terjadi adalah yang jelas
- kelihatan anak kita akan meninggalkan
- gadgetnya untuk sementara waktu h pasti
- ditinggalkan kena asik main itu. Nah,
- dan ketika orang tua
- kreatif dalam kontinuitas melakukan
- permainan-permainan seperti ini yang
- zaman dulu ini permainan rakyat zaman
- dulu kita hidupkan kembali kreatif itu
- dalam arti setelah
- selesai nilai-nilai karakter akhlaknya
- dimunculkan dalam permainan ini. Iya.
- Ini orang tua harus belajar memang gitu.
- Betul. maka anak kita akan rindu
- menunggu hari Sabtu dan Ahad lagi gitu.
- Anak kita akan juga apa ya ee ketularan
- kreativitasnya. Gimana kalau kita nanti
- tanding sama keluarga ini, tanding
- sampai perkampung nanti akhirnya dan
- lain-lain. Nah, itu seperti itu. Nah,
- dan insyaallah anak kita akan segar
- secara fisik itu. Nah, itu yang yang
- kedua. Yang kedua. Hm. Ayo, gampang. Ayo
- kita selain permainan olahraga ya.
- Olahraga bola atau yang lain pasti itu.
- Nah, terus yang berikutnya adalah,
- nah orang tua harus meluangkan waktu
- sama anak. Nah, saya sering sebut orang
- tua meluangkan waktu sama anak ini
- membuat scheduling, jadwal. Jadwal itu
- memang salah satunya nanti konten itunya
- adalah permainan rakyat tadi gitu. Tapi
- sebelum permainan rakyat itu sebenarnya
- orang tua harus duduk sama anak itu
- menentukan jadwal. Heeh. Menentukan
- scheduling baru isinya apa nanti itu
- bisa macam-macam isinya. Salah satunya
- permainan. Tapi scheduling ini nomor
- satu itu Masangga maaf jarang ada orang
- yang tua, orang tua sama anak ngobrol
- tentang ayo nak kita bahas dalam 1 bulan
- ini jadwal apa? Jadwalnya apa? Jarang
- ya. Jarang. Saya pernah Mas Angga
- pelatihan ini di Singapura Mas Angga.
- Pelatihan untuk pelatihan untuk membuat
- jadwal ini aktiv dan mahal Masangga.
- Bayangkan itu berarti ada ilmunya P. Ada
- ilmunya memang. Iya. Kenapa sulit
- dilakukan? Ada ilmunya.
- H yang susah bukan menentukan ini jam
- ini sampai jam ini. Bukan hari bukan
- tapi kontennya apa itu kontennya itu.
- Nah, jadi ini penting sekali menentukan
- jadwal ini. Nah, kalau menurut saya
- kalau sudah menentukan jadwal kontennya
- adalah salah satunya permainan rakyat
- itu tadi. Ayo kita di jam ini nanti kita
- main ini ya, kita main ini ya gitu.
- Pak Munif, apa bisa ini anak saya yang
- remaja gini-gini mereka kuno nanti
- nganggap ini kuno? Sudahlah lakukan
- saja. Nah, itu iya kita kadang-kadang
- belum melakukan kita sudah merasa tidak
- mungkin berhasil gitu. Iya. Sudah
- underestimate
- under saya punya anu video iklan
- bagaimana sekarang itu
- permainan-permainan tradisional itu
- dihidupkan lagi. Keren videonya. H
- anak-anak remaja-remaja yang membuat
- seperti itu. Video sendiri bukan kayak
- video iklan itu cuman dari company mana
- saya lupa itu. Iya. Tentang permainan
- tradisional. Permen-permahan
- tradisional. Dia menghirupkan lagi
- permainan tradisional itu. H. Nah, lalu
- masangga
- konten setelah schedule dibuat selain
- permainan tradisional adalah ini besok
- bisa dilakukan. H. Bagaimana orang tua
- beserta anak masuk
- dalam ee
- konten-konten gadget yang disukai sama
- anak. Iya. Namanya membuat projek itu
- contoh putri saya suka nyam nonton
- sinetron masang enggak waktu itu. Ini
- masih SMB nih si Bela. He. Saya masih
- ingat Cinta Fitri
- judulnya ya. Yang ke berapa, Pak? Mul
- gak tahu itu lupa. Jadi, iya itu kalau
- sudah ada tamu, tamunya sudah tidak
- dihiraukan
- ya. Saya ada tamu gitu, saya minta
- tolong untuk membuatkan apa,
- mengambilkan apa sudah tidak. TV
- sinetron sudah loh adiktif ini sudah.
- Iya, karena enggak mau ketinggalan
- ceritanya kita ajak silaturahmi di
- jadwal main sinetron itu gak mau.
- Bayangkan.
- Lalu saya tidak marah-marah, Mas Angga.
- He. Saya masuk ke sinetron itu dengan
- sebuah projek. Projeknya apa? Saya
- kumpulkan beberapa teman. Heeh.
- Bagaimana caranya kita melihat enam
- episode dari sinetron itu? Lalu saya
- munculkan beberapa kue sener. Contoh
- pertanyaan satu, siapakah tokoh baiknya?
- He apa? Antagonis. Tokoh protagonis.
- Protagonis. The real problem. Apa
- sebenarnya masalahnya? Apa sih ini? Bisa
- gak jawab itu? Iya. sampai pada satu
- pertanyaan sebenarnya acara sinetron ini
- perlu apa enggak sih dilihat ya? Jadi
- waktu itu enam orang gitu kelompok
- belajarnya nonton masing-masing di
- rumahnya enam episode. Enggak boleh,
- enggak fokus, harus fokus dengan
- mencatat itu. Kalau sudah kemudian pada
- pertemuan berikutnya selesai semua enam
- episode selesai kita kumpul, kita
- diskusi. Ternyata semuanya bilang apa?
- Iya ya. Gak ada masalah apapun. Engak
- ada masalah
- apapun
- dan tidak ee apa
- ee masih banyak waktu digunakan untuk
- yang lain daripada nonton ini. Iya. Iya.
- Coba ini
- sinetron gadgetnya perangkatnya TV.
- Bagaimana dengan games? Bagaimana? Nah,
- ini kita bisa masuk dari problem itu
- tapi dibuat project yang akhirnya sadar.
- Hm. H anak kita punya kesadaran diri,
- banyak alternatif loh, aktivitas yang
- lain yang lebih bermanfaat. Betul gitu,
- Masangga. Itu sudah berapa poin tadi,
- Pak? Tiga poin. Jadi yang pertama adalah
- apa tadi? Ee ini membuat perjanjian.
- Perjanjian dulu. Iya. I kan. Terus yang
- kedua adalah scheduling. Scheduling itu
- kedua. Yang ketiga adalah permainan
- tradisional dihidupkan lagi. Yang
- keempat adalah membuat projek. Membuat
- projek. membuat projek itu. Nah,
- kemudian
- ee ada lagi yang berikutnya, Mas Angga,
- yaitu ini internet, Wi-Fi ada batasan.
- Kalau
- misalkan di rumah kita itu berlangganan
- 24 hours, I ayo di-etting di jam-jam ke
- berapa ada itu pembatasan online ya.
- pembatasan itu seperti itu. Nah, ini
- efektif sekali gitu. Nah, ada juga saya
- punya teman yang ngajarin
- anaknya sebenarnya kapan sih waktu
- efektif membuka email itu?
- Ternyata email itu tidak harus langsung
- dibuka Mas Angga itu. Jadi ada
- waktu-waktu tertentu yang membuka email
- kapan menjawabnya seperti itu. Tidak kan
- kalau kita sudah adiktif ini
- kadang-kadang iya kan? Nah, ada
- notifikasi semuanya pemberataan ada di
- situ.
- Nah, itu mestinya diamkan aja gitu loh.
- Diamkan aja gitu. Artinya yang ngirim
- email tidak mati enggak kalau kita telat
- menjawab kan gitu. Nah, sehingga kita
- sangat benar-benar bisa menyaring
- memfilter gitu ini email yang memang
- benar harus butuh dijawab dan lain-lain
- seperti kayak contoh saya ngajar
- mahasiswa tugasnya ya bail ngapain? Iya.
- Sekarang pakai berat-berat anu apa
- kertas folio dan lain-lain. Apalagi
- kalau betul mahasiswanya sampai 100
- lebih. I kan ayo email. Nah, masalahnya
- adalah kapan saya membuka itu? He. Nah,
- anak kita ada teman saya ngajarin ini
- ngajarin ini. Ternyata Mas Angga ketika
- kita punya schedule membuka email dan
- lain- ini berkaitan tadi dengan wifi
- jaringan internet efektif waktu itu. Oh,
- efektif gitu. Kita membuka email pun
- kita bikin jadwal ya, bikin jadwalnya
- itu. Nah, teman saya ini lama kerja di
- luar negeri Masangga malah dia bilang
- gini, "Ayo Munif, kalau
- kamu kirim email
- kepada company atau orang-orang di luar
- negeri, bandingkan dengan ngirim ke kita
- ke company ke company, kira-kira
- jawabannya lebih cepat mana?"
- Saya bilang, "Iya, lebih cepat yang dari
- luar negeri cepat gitu kayak
- profesional." Terus kita bilang, "Wah,
- ini profesional ya." Baru kita kirim,
- besoknya sudah ada jawaban. He.
- Sebetulnya mereka punya schedule kapan
- membuka, kapan menjawab. Iya. Sampai
- mereka tahu schedule mana email yang
- belum dijawab. Gara-gara apa? Diatur
- dengan schedule. H gitu. Mereka tidak
- terus-terusan di depan komputer, di
- depan
- laptop fokus kepada email yang masuk.
- Tidak. Tapi kalau kita, Nah, gara-gara
- itu adiktif malah gak jawab-jawab karena
- buka yang lain, buka yang lain dan
- lain-lain. Buka lagi. Buka. Baik, Pit.
- Betul itu Mas Angga ada poin ya. Iya,
- lima poin. Dan yang terakhir Mas Angga
- adalah
- ee pendidikan agama.
- Nah, pendidikan agama ini yang menurut
- saya yang penting sekali untuk anak
- kita. Betul. Betul. Terutama masalah
- gadget ini. Itu dan kalau boleh saya
- share biasanya anak kita mulai kecanduan
- gadget lalu sampai punya potensi di
- lampu merah. Heeh. Iya kan? Heeh.
- sampai ya jangan sampai terjadi sampai
- anak kita mohon maaf ini dari kecanduan
- gadget, kecanduan pornografi sampai
- melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
- Heeh. Heeh. Dan itu dalam agama adalah
- dosa dan lain-lain. Itu biasanya ketika
- anak kita sudah
- baligh. Itu ketika anak kita sudah
- baligh. Kalau anak kita masih balita dan
- lain-lain itu mungkin masih belum. Nah,
- karena itu menurut saya ada satu
- kebiasaan yang harus dimunculkan antara
- orang tua dan anak yang berkaitan dengan
- pendidikan agama yaitu merayakan masa
- baligh, merayakan masa
- puber. Biasanya kalau kita punya anak
- putri itu lebih cepat pubernya. Heeh.
- daripada anak putra. Mungkin kalau anak
- putri sekarang SD kelas 5, kelas 6 itu
- sudah
- baligh. SMP kelas 7, kelas 8 baru yang
- putra itu. Tapi
- ketika orang tua punya kebiasaan
- merayakan itu, merayakan itu bukan terus
- foya-foya masa, tapi memberikan sebuah
- nilai kepada anak kita bahwa sekarang
- nak dosamu ditanggung sendiri sama kamu.
- Iya. Iya. Iya kan? Jadi seolah-olah
- menghidupkan alarm lah ya. Betul. Lalu
- memberikan benteng juga. Iya. Saya
- pernah diundang sama teman saya, Mas
- Angga. Saya gak tahu acaranya apa.
- Diundang makan malam. He. Ya sudah saya
- datang. Ternyata acaranya adalah
- merayakan putrinya balaih. Sudah masuk
- balai. Sudah masuk balaih. Lalu ada
- beberapa famili yang diundang. Orang
- luar itu saya gitu.
- Dahsyat, Mas. Angga dikenalkan itu masuk
- memori jangka panjang tak terlupakan
- seumur hidup buat saya.
- Kalau
- bundanya ketika habis makan mereka kedua
- orang tuanya ini berdiri, bundanya
- memanggil si putri ini dengan memberikan
- setangkai bunga mawar. Heeh. Lalu dia
- bilang kepada semua, terutama kepada
- anaknya bahwa
- nak, minggu yang lalu kamu balik.
- Dampaknya luar biasa buat kehidupan
- kamu. Persis kamu sekarang kayak bunga
- mawar ini. Heeh.
- Harum, semerbak, tapi mulai
- kumbang-kumbang nanti mendatangimu. Iya
- kan? Ayo jaga dirimu. Ya kan? Kalau
- ayahnya ngasih kanvas
- putih sama cat. Nah, terus dia bilang,
- "Nah, kamu sekarang
- ini yang melukis di kanvas ini ya kamu
- sendiri mau jadi apa dirimu ini? Kamu
- sendiri lukislah dengan lukisan-lukisan
- yang benar-benar indah dan benar-benar
- lukisan yang disukai oleh agamamu, oleh
- Allah
- Taala. Jangan sampai merusak dirimu
- dengan lukisan-lukisan yang tidak
- benar." H sekarang waktunya. Jadi
- tiba-tiba hari itu menjadi special time.
- Ini dampaknya luar biasa. Iya. Ketika
- kita sudah di luar batas waktu dan
- tempat kepada anak kita, lalu di depan
- anak kita ada handphone, ada kemudian
- laptop dan lain. Mereka punya kesempatan
- membuka hal-hal yang tidak benar
- gara-gara spial time merayakan masa
- puber itu anak kita. Saya yakin
- automatically si putri itu akan wah ini
- saya ngecat kanvasnya dengan kejelekan
- ya sekarang waktunya dengan kebaikan ya
- sekarang waktunya untuk tidak membuka
- yang macam-macam. Nah itu mungkin Mas
- Angga. Baik
- Pak kita akan jeda Pak Mip ya. Kita akan
- kembali di sesi kedua. Ikhwan ahad yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Di
- sesi kedua nanti Anda bisa bertanya.
- Silakan sampaikan pertanyaannya melalui
- SMS dan WhatsApp Rasil di
- 08119970. E dan juga ee Anda bisa
- menghubungi Pak Modif langsung berdialog
- di nomor telepon
- 0218451512. Kami akan segera kembali.
- [Musik]
- Berasil
- TV untuk Islam yang satu.
- [Musik]
- Ah.
- Allah Subhanahu wa taala menjadikan
- kemelaratan ada di depan matanya. Kedua,
- Allah menceraiberaikan urusannya.
- Ketiga, dunia tidak datang kecuali yang
- ditakdirkan untuk dia saja. Demikian
- hadis yang diriwayatkan oleh
- Imamarmidzi.
- Basil TV untuk Islam.
- Untuk diri saya sendiri di rumah saya,
- saya dapat pahala. Yang lain tidak dapat
- pahala. Tapi yang lain sudah cukup. Saya
- telah menjalankan sunah kifayah. Maka
- semua yang di bawah naungan saya sudah
- tidak diminta lagi untuk melakukan sunah
- kifayah. Tapi kalau mau melakukan tetap
- sunah.
- [Musik]
- Brail
- TV untuk Islam yang satu.
- [Musik]
- Radio Silaturahim dan Rasil Visual untuk
- Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa taala,
- terima kasih masih bersama kami dalam
- bincang pendidikan bersama Bapak Munif
- Khatib. gadget. Kita angkat topik di
- malam hari ini antara kebutuhan dan
- kecanduan. Solusi praktis masalah gadget
- antara orang tua dan anak. Bangib, kita
- sudah terhubung dengan pendengar. Halo.
- Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Halo, suaranya suaranya
- kurang kencang.
- Halo. Halo. Iya, silakan di dari mati
- rezeki dari Allah. Betul. Saya kadang
- nangis. I kenapa begini? pada hari ini
- rezeki dari Allah, sedangkan kamu
- mengabaikan makanan ini nikmatnya juga
- tidak ada. H. Jadi itu yang saya sedih,
- Pak. Terus yang kedua, dulu
- kadang-kadang kita sore hari atau kalau
- ada tempat senggang-senggah bersama
- keluarga, duduk sambil makan pisang atau
- apa gitu. Ee bisa bercanda, bisa saling
- meraset sekarang gak. Masing-masing
- pegang, ketawa sendiri, senyum sendiri
- dari yang jauh jadi dekat. Yang dekat
- jadi terabaikan itu Pak. Iya. Jadi mohon
- maaf itu sekedar ini. Jadi kami mohon
- Pak Ad tadi yang kami agak lupa apa saja
- Pak trik-trik solusinya ya. Iya supaya
- supaya lebih efektif dan berhasil gitu.
- Kami mohon bantuannya. Baik Bu Farida di
- Tangerang. Pak Munis. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Iya. Terima kasih Bu
- Farida. Jadi begini,
- tadi saya pakai syarat harus kontinue
- ya, harus kontinue, Mas Angka dari
- beberapa solusi-solusi praktis tadi.
- Nah, misal ya misal tadi disebutkan sama
- Bu Farida tentang ya oke kita sudah coba
- permainan tradisional tapi tiba-tiba
- tidak istikamah. Nah, ini kan tidak
- kontinue. Iya. biasanya penyebabnya
- memang kesibukan dan lain-lain. Nah,
- jadi persis seperti terapi sebetulnya.
- Kalau tidak kontinue akan susah
- keberhasilannya itu akan susah. Nah,
- saya punya cara Mas Angga bagaimana
- untuk menjaga kontinu ini i yang terus
- berkesinambungan
- pelakunya. Mestinya yang menjadi subjek
- tidak harus kita sebagai orang tua, tapi
- anak kita juga bisa. kita minta menjadi
- subjek. Contoh ya, permainan
- tradisional, permainan apa misalkan ayo
- main bekel lah. Biasanya awalnya
- otomatis sama orang tua. Tapi ketika di
- depan kita sudah banyak tugas-tugas
- kerjaan, kesibukan, dan lain-lain, nah
- kita yang harus kreatif. Kita bilang
- sama anak kita, "Kamu sekarang yang
- mimpin adikmu, yang mimpin temanmu, ayo
- buat ini, buat lomba ini, dan
- lain-lain." Maka yang namanya permainan
- tradisional tetap kontinue. Tapi
- subjeknya sudah bukan kita sebagai orang
- tua, tapi anak-anak. Jadi maksud
- saya cara yang banyak tadi ini tanggung
- jawabnya kita jatuhkan kepada anak kita
- yang kita khawatir kecanduan tadi. Maka
- ketika tanggung jawab itu diserahkan
- kepada anak kita, anak kita akan punya
- namanya tanggung jawab itu kan ada
- tugasnya. Uh, ini tugasku ini sekarang
- ini untuk ini seperti itu. Lalu untuk
- menjaga kontinue ini tetap ini, Mas
- Angga, orang tua ndak boleh apa ya,
- enggak boleh terlambat, enggak boleh
- bosan. Terus setiap ketemu sama anaknya
- bercerita bagaimana bahaya kecanduan
- gadget. Apakah itu dapat informasi
- dari media sosial berupa video-video
- yang mengerikan tentang kalau kecanduan
- gadget terhadap penyakit-penyakit psikis
- tadi dan lain-lain seperti itu. Saya
- pernah Mas Angga menunjukkan bagaimana
- problem mata ini ketika anak kita
- kecanduan gadget sampai malam hari
- sambil tiduran tetap memainkan gadget
- seperti itu. itu luar biasa problem mata
- yang bisa terjadi dan benar kejadian dan
- lain-lain. Nah, kalau
- kita ngobrol sama anak kita lalu kita
- lupa untuk menjelaskan ini atau kita
- bosan untuk menjelaskan tentang
- dampak-dampak ini, nah ini kontinue ini
- bisa tidak terjaga nanti, gitu. Nah,
- jadi ada dua masangga. Satu beban
- tanggung jawabnya ini subjeknya itu
- tidak harus kita sebagai orang tua, tapi
- anak kita. nanti anak kita akan jadi
- varian gitu. Anak kita juga akan ee apa
- ee ke teman-temannya, ke komunitasnya
- juga seperti itu. Dan yang
- kedua, kadang-kadang secara psikis kita
- akan stop gadget itu kalau dampak
- negatifnya terus diulang-ulang. kita
- tahu iya ya ini memang negatif ini dan
- lain-lain. Nah itu dan saya sepakat sama
- Bu Farida tadi
- bahwa mulai dari orang tua ayo kalau
- sudah di rumah bisa gak handphone ini
- kita simpanlah gitu. Sudah handphone ini
- kita simpan gitu sehingga makan malam
- apa dan lain-lain itu kita sudah ngobrol
- gitu loh. Nah yang perlu adalah
- obrolannya ini apa itu loh Mas Angga.
- Iya. Kadang-kadang kita ini sekarang
- sudah kehilangan konten apa yang mau
- dibicarakan antara orang tua dan anak.
- Kita susah itu. Sehingga orang tuanya
- bilang, "Aduh, mau ngomong apa ya sama
- anakku ya?" ya sudah deh, gadget aja
- biarin sini. Padahal kalau kita tahu
- caranya masangga, apa sih yang harus
- kita jadi bahan obrol sama anak kita?
- percaya sama kita. Apalagi anak kita
- remaja, butuh figur anak kita itu dan
- banyak anak yang dia tidak mau memulai
- pembicaraan. Iya. kalau enggak di orang
- tuanya dulu seperti itu. Nah, jadi ya
- memang orang tua harus jadi manusia
- pembelajar seperti itu. Nah, dan yang
- terakhir tadi kalau di sekolah sudahlah
- saya selalu bilang sama teman-teman
- guru, he ngasih tugas-tugas yang
- berkaitan dengan internet, gadget dan
- yang berkaitan dengan di rumah itu sama
- dengan PR. Sudah selesaikan itu di
- sekolah mestinya gitu. Saya juga
- kadang-kadang enggak enggak habis pikir
- ya. Heeh.
- Teman-teman guru ini ingin mendominasi
- 24 hours waktu murid-muridnya itu untuk
- akademis sampai di rumah pun gitu loh.
- Padahal kan full day sudah lebih dari
- cukup itu. He he. Iya kan? Ketika di
- rumah beri kesempatan anak-anak kita itu
- untuk bercengkrama dengan orang tuanya.
- Bahkan ada bukan hanya ini bukan Pakif.
- Jadi tugas itu bukan misalkan di hari
- Senin hingga Jumat malamnya harus
- mengerjakan PR. Tapi ada juga tugas
- akhir pekan sampai akhir pekan pun
- dikasih tugas. Makanya seperti itu kan.
- Jadi kayak dunia ini adalah dunia
- akademis semua. Akhirnya waktu libur
- mereka buka gadget. Iya sambil ngerjain
- karena pada penelitian yang saya buat
- Mas Angga anak kita itu remaja terutama
- 80% ngalamin masalah non akademis
- sekarang. 20% aja yang akademis. Iya
- bayangkan seperti itu. Kalau akademis tu
- gampang. He gadget malah bisa membantu.
- Saya saya tadi belajar pagi tadi kan
- akademik tentang aljabar. Heeh.
- Persamaan
- linear. Saya lihat filmnya loh kok
- gampang selesai masalah akademis untuk
- ngajarin ke anak-anak selesai gitu. Tapi
- anak kita banyak dapat masalah non
- akademis. Jadi bukan berarti terus
- kemudahan guru memberi tugas buy email,
- by WhatsApp dan lain itu juga harus
- dikerjakan di malam-malam hari kepada
- anak kita ya. sama aja dengan ngasih PR
- konvensional ini LKS gitu cuman alatnya
- aja alatnya saja yang modern gitu. Baik.
- Ee mengingatkan Bu Farida tadi tadi
- intinya tadi solusi-solusi yang kita
- sampaikan tuh kan tadi ditekankan oleh
- Pak Unif di awal ya. Iya istikamah.
- Istikamah orang tuanya istikamah dulu
- nanti keberhasilannya buat perjanjian
- kan gitu kalau mau diulang lagi ya kan
- buat schedule baru konten-kontennya itu
- yang berkaitan dengan ah itu lagi banyak
- schedule itu tadi tentang permainan
- tradisional membuat projeknya iya kanul
- itu dan lain-lainul ya kita ee
- selanjutnya ke SMS yang sudah masuk
- pesan melalui WhatsApp ada dari Ibu
- Dharma dan juga ada dari hamba Allah
- saya akan gabungkan beberapa pertanyaan
- kalau Burdhamma ini ee menyampaikan
- pertanyaannya, "Bagaimana Pak Munip
- dengan anak saya yang sudah kecanduan
- gadget?" Karena sambil tidur pun dia
- masih melihat HP sambil mendengarkan
- apapun yang ada di dalam HP tersebut.
- Cuma sulit untuk memberitahunya karena
- sudah dewasa. He. Lalu ada juga
- bertanya, "Pak Muni, ee diniatkan
- biasanya kalau buka gadget bagi saya
- yang seorang ibu gitu ya, diniatkan
- kalau untuk lihat informasi misalkan
- grup WhatsApp 15 menit tapi suka
- kebablasan. kadang suka 1 jam bahkan
- kalau lagi masak sampai gosong
- pasangannya karena kebablasannya itu
- bagaimana untuk mengontrolnya nih Pak
- Munim. Lalu saya juga mengatur beberapa
- ee waktu-waktu tadi. Misalkan ee kalau
- untuk anak saya ada perjanjian dalam 1
- hari 3* 15 menit. Misalkan paginya 15
- menit, sorenya 15 menit, malamnya 15
- menit untuk main game. Apakah itu sudah
- benar atau belum? Iya. Nah, digabungkan
- pertanyaan digabungkan ya. Oke. Kalau
- yang pertama anak kita dewasa tapi main
- gadget sambil tiduran dan lain-lain,
- maka solusinya kalau menurut saya
- ngobrol aja ini masalah pemahaman aja
- gitu loh. Iya kan? Apalagi kalau sudah
- dewasa itu biasanya kalau orang tua
- menyodorkan alternatif yang lain. Itu
- kan menyodorkan alternatif yang
- lain. Langsung aja kalau sudah dewasa
- masangga wis daripada mau tidur masih
- buka YouTube dan lain-lain baca
- Al-Qur'an sudah. Iya kan? Kan ada itu di
- handphoneemu Al-Qur'an baca Al-Qur'an
- sudah. Iya kan? berapa ayat selesai
- kemudian sudah tidur seperti itu. Nah,
- itu yang kedua. Langsung aja Mas Angga.
- Heeh. Karena sudah dewasa ini, dia tidak
- akan pernah menangis kayak anak kecil
- lagi. Ambil handphone-nya sor ya sudah
- tidur tidur tidur. Nah, seperti itu
- protes. Oke. Tapi ketika protes itu
- dijawab oleh orang tuanya dengan keren,
- dengan santun berupa pemahaman-pemahaman
- tadi, apalagi dengan alternatif yang
- lain, insyaallah clear seperti itu dan
- itu dibiasakan. Oke, itu lalu yang masak
- sampai gosong dan lain-lain gara-gara
- apa upan dan lain-lain.
- Kalau menurut saya
- gunakan sebuah alat atau sebuah apa
- aplikasi di gadget ini yang kita bisa
- dibantu yaitu alam. Selesai.
- Nah, ketika kita sepakat saya harus
- menjawab WhatsApp 5 menit saja. Pasang
- alarm 5 menit pada saat itu. Ketika main
- WhatsApp alarmnya akan muncul tiit. Ya
- sudah selesai ada tanda kan gara-gara
- enggak ada yang ngasih tanda ini
- kebelblasan 5 menit tapi bisa sampai 1
- jam dan lain-lain. Nah kita tapi kalau
- alamnya bunyi ya harus balik lagi
- konsekuen masangga selesai tinggalkan
- dan lain-lain seperti itu. Nah jadi kita
- secara praktis saja manfaatkan ee apa
- aplikasi yang ada di gadget itu untuk
- memberi tanda seperti itu. Nah atau kita
- titip sama orang yang lain di rumah. I
- ingetin saya ya. ini adalah itu
- mudah-mudahan gak gosong lagi itu. Dan
- yang terakhir tadi kalau sudah dikasih
- batasan waktu anak iya main satu itu
- sudah bagus. H iya kan pertama tidak ada
- batasan waktu lalu dikasih batasan waktu
- dan anak itu konsekuen untuk itu bagus
- sekali. Nanti level berikutnya adalah
- mengganti
- aktivitas gitu. Karena anak kita juga
- kadang-kadang ya perlu dikasih
- pengetahuan tentang ini gadget ini
- bagaimana kan gitu. Iya. Seperti jadi
- tidak bisa 100% dihilangkan gitu ya.
- Edukasi gadget tadi itu yang penting Mas
- itu. Nah itu mungkin ee apa ee secara
- praktis ya jawaban saya. Baik saya akan
- ke SMS lainnya dari
- 08128945 sekians sekian hamba Allah di
- Jakarta. Pak Munif, bagaimana cara
- mengatasi efek negatif yang berupa
- psikis? Iya, psikis yang terganggu
- terutama
- sensitivitas ke lingkungan ini sangat
- minim. Apa yang harus dilakukan
- mengingat gadget pun juga sangat
- dibutuhkan? Mohon penjelasannya
- dizakallah. Oke.
- Jadi dampak negatif dari
- psikis biasanya harus diselesaikan
- dengan pendekatan psikis, Mas Angga.
- Iya. Nah, apa contoh pendekatan psikis?
- Adalah attention, perhatian orang tua
- kepada anak. Perhatian. Meluangkan waktu
- kebersamaan kepada anak. Membuka anak
- untuk bermain keluar rumah ke
- lingkungannya. Ketemu sama teman-teman
- sebayanya.
- Nah, biasanya kalau itu secara kontinu
- kita lakukan, maka dampak negatif psikis
- itu pelan-pelan akan hilang. Yang
- asalnya anak tidak terbuka menjadi
- terbuka, emosinya tidak stabil gara-gara
- ketemu terus sama teman-temannya. Iya
- kan? Berbagai macam orang. Kemudian ini
- belajar untuk menstabilkan emosi.
- Bagaimana jadi perhatian orang tua
- kepada anak dan yang kedua adalah
- kebersamaan orang tua kepada anak. lalu
- membawa anak ini ke
- lingkungan-lingkungan yang positif,
- terutama mengenalkan kepada teman-teman
- sebanya untuk bisa bermain bersama-sama
- dan lain-lain. Itu Mas Angga. Hm. Ini
- juga masih ada yang bertanya, "Bagaimana
- Pak
- Munip anak yang
- keranjingan games di HP-nya? Bagaimana
- solusinya?" Iya. Dari Bapak Asmi di
- Tangerang karena sangat suka game. Iya.
- games itu modalitas yang terbaik yang
- tadi yang disukai sama sama otak
- manusia. Iya kan? Audio, visual ya
- kinestetis. Nah, bagaimana ini games ini
- menurunkan kecanduannya dan lain-lain.
- Mengganti aktivitasnya tidak bermain
- game, Mas Angga, tapi bagaimana game itu
- bisa dibuat. Iya, itu dulu. Sekarang ada
- istilahnya, Mas. Ada sahabat saya yang
- wah inten dalam hal ini namanya
- coding. Nah, itu sekarang anak-anak
- sekolah dasar kelas 1, kelas 2 ayo
- belajar
- coding. Coding adalah dasar-dasar
- pemrograman
- untuk bagaimana game itu bisa dibuat.
- Cuman anak-anak kita tiba-tiba tidak
- adiktif sama game, tapi bagaimana ya
- caranya bisa seperti ini ya? Bagaimana?
- Nah, kreatif, lebih kreatif itu. Nah,
- jadi
- menurunkan adiktif game tidak bisa
- langsung, tidak boleh main game, tapi
- tetap ada gadgetnya tapi
- dialihkan apakah kamu gak kepingin bisa
- membuat seperti ini. Nah, belajarnya diu
- sekarang banyak ekstra-ekstrakurikuler
- atau kursus-kursus tentang coding
- seperti itu. Nah, dan yang kedua menarik
- games yang ada di gadget menjadi ke
- dunia nyata. masangga. Iya. Nah, sekali
- lagi jawabannya kadang-kadang ada di
- permainan tradisional atau huno. Siapa
- tahu kita orang tua yang kreatif sama
- anak-anaknya kreatif bisa menarik games
- itu yang ada di handphone tiba-tiba bisa
- menjadi yang ada di lapangan nyata. H.
- Nah, kemarin saya baca anu
- berita 2 bulan yang lalu di Amerika, di
- New York itu diselenggarakan ee apa ee
- pameran mainan sedunia 1000 lebih
- perusahaan mainan. Ternyata yang paling
- disukai sekarang adalah main
- perang-perangan antara orang tua, anak,
- sama temannya komunitas. Tapi bukan di
- di gadget ya. Main perang-perangan.
- Benar. Iya. tembakan nanti ada ada
- cahayanya yang ini bayangkan seperti itu
- atau model kayak paintball gitu. Iya
- model seperti itu yang paling disukai
- sekarang karena secara apa? nilai secara
- ee keterikatan sesama keluarga, sesama
- teman itu bisa lebih terjaga sportivitas
- dan lain-lain. He. Nah, nah akhirnya
- balik lagi secara naturally manusia juga
- kepengin bergerak. Atau kalau jadi
- pertanyaannya begini,
- apakah apa pertanyaannya sesering apa
- Bapak mengajak main terhadap anaknya? I
- betul. Bisa jadi gitu kali ya. Iya.
- Sekarang ini sudah waktunya orang tua
- pulang di rumah, tinggalkan masalah
- kerjaan di kantor, mainan sama anak.
- Sudah gajah tinggalkan bermain sama
- anak. Tergantung anaknya usia berapa dan
- jangan anaknya ditarik ke kondisi orang
- tuanya. Orang tuanya yang harus masuk ke
- dalam dunia
- anaknya. Sayang sekali kalau anaknya
- sudah kepengin main, oh ayo jadi
- superhero gitu. Orang tuanya gak boleh
- apa baper ya kan kita ini saya CEO kok
- jadi main jadi Batman jadi Superman
- misalnya ya enggak dong kita harus masuk
- ke dunia anak itu. Nah makin anak kita
- remaja beda lagi dan lain-lain. He saya
- kok kepengin menganjurkan seperti itu ya
- setiap orang tua ya. Kenapa orang tua
- sibuk kerja, anak sibuk sekolah?
- Ketemunya adalah ketika selesai pulang
- dan itu waktunya sebentar loh, malam
- sudah capek dan lain-lain. He. Itu
- sayang sekali kalau digunakan untuk yang
- lain-lain. Dan yang menemui mereka
- adalah gadget. Gadget. Kalau enggak
- laptop ya handphone ya. Itu larinya ke
- situ akhirnya.
- He. Baik. Masih ada beberapa pertanyaan
- yang masuk Pak Munip ya. Tapi sebagai
- penutup saya satu aja karena kita sudah
- dibatasi oleh waktu. dari Ibu Ida di
- Jakarta, Pak Munif. Yang saya lakukan
- itu bagaimana pertanggungjawaban kita
- kepada Allah terhadap anak yang sudah
- terlanjur kecanduan gadget bahkan
- melupakan semuanya.
- I
- Nah, ya saya pikir Allah Maha Tahu ya. H
- dalam arti kalau ini ditanya tentang
- pertanggungjawaban kita sebagai orang
- tua ketika amanah yaitu anak kita ee
- kita dapati kecanduan gadget sampai ke
- hal-hal yang sampai parah maka kita
- harus berikhtiar terus masangga gak
- boleh berhenti untuk berikhtiar gitu.
- Insyaallah ikhtiar kita ini akan dinilai
- juga oleh Allah Taala itu berikhtiar
- terus. Nah,
- biasanya kalau menurut saya orang tua
- harus yakin bahwa se nakal apapun anak
- kita, gak nurutnya anak kita karena
- adiktif gadget, adiktif pornografi, dan
- lain-lain, kita harus yakin bahwa anak
- kita punya fitrah
- ilahiah, gitu. Artinya ini mutiara yang
- sedang ditutupi saja oleh setan, gitu.
- Nah, jadi kalau itu paradigma kita
- sebagai orang tua, maka ikhtiar itu
- tidak akan pernah jenuh kita melakukan.
- Iya. Mutiara kok anakku, mutiara kok
- anakku, gitu. Dan yang kedua, ikhtiar
- itu
- harus kita cari tahu penyebabnya apa ini
- anak gitu. Dan ikhtiar yang terakhir
- adalah kita harus berdoa sama Allah
- Taala.
- itu insyaallah dengan tiga ikhtiar ini,
- ikhtiar paradigma pemikiran, ikhtiar
- mencari penyebabnya dan ikhtiar berdoa
- kepada Allah Taala. Insyaallah nanti
- Allah akan punya nilai sendiri bagaimana
- ketika kita mempertanggungjawabkan anak
- kita. Nah, itu Mas And. Baik, Pak Mip
- sebagai penutup. Iya. Di malam hari ini
- dari topik yang kita bahas dan seluruh
- pertanyaan yang kita jawab. Iya.
- Rasulullah
- pernah bersabda dan itu diucapkan oleh
- ee Imam Ali bahwa didiklah anakmu pada
- zamannya. Berarti zaman itu berkembang
- dan perkembangan zaman sekarang boleh
- saya katakan didominasi oleh gadget.
- Karena itu kita tidak boleh kalah dengan
- gadget ya kan. Nah, bagaimana caranya
- supaya anak kita tidak kalah? Maka
- kenalkan gadget sesuai dengan fungsinya.
- Bagaimana sebagai alat untuk mempermudah
- dan bagaimana sebagai alat untuk punya
- nilai tambah gitu. Ketika dua hal ini
- lewat maka pasti itu problem negatif
- seperti pisau. Bisa untuk membunuh tapi
- bisa untuk mengupas buah-buahan yang
- sehat untuk kita makan. Nah, batasannya
- adalah itu tadi. Ketika kita sudah punya
- kepanikan-kepanikan ketika tidak dekat
- dengan gadget, hati-hati itu adiktif.
- Nah, ketika anak kita sudah adiktif,
- kita tidak boleh diam. Kita harus
- kreatif bagaimana mengurangi
- adiktifnya. Beberapa cara bisa dilakukan
- seperti yang tadi saya sebutkan, tapi
- satu kuncinya. Kuncinya
- kontinue. Ketika kita tidak mau
- melakukan ini secara kontinu, biasanya
- anak kita akan susah sekali lepas keluar
- dari kejanduan gadget. Kita gak boleh
- takut dengan gadget. gadget ini media
- alat dan lain-lain. Bagaimana kita bisa
- malah mewarnai alat-alat ini bisa punya
- manfaat yang sebesar-besarnya untuk
- kita. Itu kalau banyak video-video yang
- didapat dari gadget hal-hal yang buruk,
- kenapa video tidak kita lawan dengan
- video? I kan tapi video-video yang
- bermanfaat dan lain-lain seperti itu.
- Film yang jelek lawan dengan film yang
- bagus. Iya kan? Quotes yang jelek lawan
- dengan quotes yang bagus. Nah, ketika
- itu dilakukan, insyaallah kita tetap
- akan menempatkan gadget sebagai alat,
- bukan kita dijadikan alat oleh gadget
- itu. Nah, itu mungkin kesimpulannya, Mas
- Angga. Baik, subhanallah ya akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala. Ee
- demikianlah bincang pendidikan di malam
- hari ini bersama Bapak Munif Hatib.
- Semoga apa yang beliau sampaikan
- bermanfaat bagi kita semua. Pak Monif,
- terima kasih banyak. Insyaallah kita
- jumpa lagi dan siaran lagi di bulan
- depan pemik insyaallah. I Iwat.
- Demikianlah ee di malam hari ini saya
- yang bertugas Angga Aminuddin ditemani
- oleh Muhammad Fahri, Muhammad Neza, dan
- juga Fajar Hidayat undur diri. Billahi
- taufik wal hidayah. Subhanakallahumma
- wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- H
- Berasil
- TV untuk Islam yang satu.