Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:08 [musik] 0:14 [musik] 0:18 Bismillahirrahmanirrahim. 0:21 Assalamualaikum warahmatullahi 0:22 wabarakatuh, Ikhwan akhwat 0:23 rahimakumullah. 0:25 Alhamdulillah senang sekali kita dapat 0:28 bersama-sama kembali di acara Ruang 0:30 Kesehatan dari Radio Silaturahim. 0:35 Mudah-mudahan bahasan kali ini juga akan 0:38 mempersuasi kita, membuat kita lebih 0:41 tahu banyak terkait dengan kesehatan, 0:43 bukan hanya fisik tetapi juga non fisik 0:46 ya. 0:47 Semua sehat ya mudah-mudahan. Dan tidak 0:49 lupa tentu saja salam untuk junjungan 0:52 umat kekasih kita, Muhammad Rasulullah 0:55 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 0:57 kita mendapatkan syafaat beliau dan 1:00 dipertemukan dengan beliau di yaumil 1:02 akhir. Amin Allahumma amin. 1:05 Untuk hari ini narasumber kita, sudah 1:08 lama banget kita enggak pernah dengar 1:09 beliau eh hadir ya, yaitu dokter-dokter 1:14 Vidyansyah spesial kesehatan jiwa ini 1:16 dan sudah ada di sini beliau. Kita sapa. 1:19 Assalamualaikum warahmatullahi 1:20 wabarakatuh. 1:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:23 wabarakatuh. Alhamdulillah bugar banget 1:26 nih. 1:26 Alhamdulillah. 1:28 Iya, mudah-mudahan bugarnya bukan cuma 1:30 fisik doang. Insyaallah. [berdehem] Ada 1:33 bahagia dan eh syukur yang berlimpah ya. 1:36 Dok, eh 1:37 ngomong-ngomong 1:39 tadi di off air bicara tentang waktu itu 1:42 penting banget karena 1:44 ada kaitannya dengan kesehatan, 1:48 kecemasan, depresi dan segala macam ya. 1:50 Iya, Mbak Nuning. Ini yang mungkin 1:54 masyarakat abai ya. 1:56 Kaitan antara waktu dengan kesehatan 1:59 jiwa itu 2:00 Singgih banget, ya. Dua sisi mata uang. 2:03 Iya, ya. Sebelahnya harus ada. 2:05 ada. Bisa jadi di antara yang sedang 2:07 mendengar, iya aku juga cemas nih kapan 2:09 aku dipanggil padahal belum siap 2:11 misalnya seperti itu. 2:13 Oke, Dok kita mulai saja. Jadi Ikhwan 2:16 Akhwat di samping 2:18 Anda bisa menyimak sekarang kalau enggak 2:21 sempat ada juga di Rasel TV, ya. 2:24 Dokter Dokter Fidyansyah yang membahas 2:27 terkait dengan waktu kaitannya dengan 2:30 cemas dan depresi. Silakan. 2:33 Iya, ee 2:34 pemirsa Rasel yang dirahmati Allah 2:38 ada dua dimensi yang menyebabkan 2:40 kehidupan ini bisa bisa berlangsung. 2:43 Yang pertama dimensi waktu 2:46 dan dimensi ruang. He em. Nah. 2:49 Mbak Nuning berada di ruang Rasel ini 2:53 bisa berulang enggak? 2:54 Hari ini ada di sini, besok ada di sini. 2:58 Jawabannya insya Allah. 3:00 Insya Allah enggak yakin. Siapa tahu 3:02 keluar dari sini terus bye. Nah. 3:05 Tapi kalau dimensi waktu, Mbak Nuning 3:07 bisa enggak kembali ke SMP 3:10 ke SD, ke TK? 3:14 Karena 3:14 Untuk mengisi waktu yang pernah terjadi 3:16 pada masa lalu. 3:18 Nah, jawabannya bimbang jadi kita dengar 3:21 apa kata Dokter Fidyansyah. 3:21 Oke, jadi memang 3:24 dimensi waktu kita bisa membagi pada 3:26 tiga. He em. Yaitu dimensi waktu masa 3:29 lalu 3:31 dimensi waktu saat ini 3:33 dan dimensi waktu saat akan datang. He 3:36 em. Nah. 3:38 Kebanyakan orang 3:40 melewati itu 3:42 namun mengelolanya keliru. 3:45 Jadi kalau ditanya 3:46 mana dari tiga dimensi yang tadi ada 3:50 He em. yang kita miliki untuk bisa 3:52 dikelola itu dimensi yang mana? 3:55 Yang lalu, 3:56 yang sekarang atau yang akan datang? 3:59 Nah, ini dia nih karena yang akan datang 4:02 kita enggak tahu seperti apa 4:04 dikelolanya. 4:06 Yang lalu bisa mundur? Enggak bisa. 4:09 Jadi hakikatnya 4:11 kepemilikan waktu yang Allah amanahkan 4:13 dalam dimensi kemanusiaan adalah dimensi 4:14 waktu sekarang. 4:17 Nah, ini yang mungkin kita mulai dengan 4:19 sebuah 4:21 eh ayat ya yang Allah juga tentu sudah 4:24 sangat lengkap dan sempurna 4:26 mencoba untuk mengingatkan tentang 4:28 kaitan dimensi waktu dengan kesehatan 4:31 jiwa. 4:32 Yang salah satunya bisa kita kutip yaitu 4:34 surat Fussilat ayat 30 dan 31 ya. 4:39 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 4:41 Bismillahirrahmanirrahim. 4:43 Innalladzina qolu robbunallahu 4:46 sumastakomu. 4:48 Sesungguhnya orang-orang yang 4:51 mengikrarkan ya 4:53 bahwa 4:54 dia menyatakan Allah sebagai robnya 4:56 sebagai Tuhannya. 4:58 Lalu dia istikamah, terus-menerus 5:01 konsisten. 5:02 Enggak ada tempat bergantung lagi 5:04 kecuali oleh Allah. 5:06 Tatanzalu alaihimul malaikat kata Allah. 5:09 Maka orang-orang seperti ini 5:11 itu 5:13 bukan hanya hansip yang jaga. 5:16 Bukan hanya intel yang jaga, bukan hanya 5:18 tentara yang jaga kata Allah, "Aku akan 5:20 kirimkan malaikat." 5:23 Untuk apa yang dijaga? 5:25 Pada orang-orang yang memang harus 5:26 istikamah dengan pernyataan 5:29 daripada ketuhanan, ketauhidannya. 5:33 Alla takhofu wala tahzanu kata Allah. 5:37 Orang-orang ini harus aku jaga 5:39 karena akan mengalami potensi cemas 5:43 dan depresi. 5:44 Khouf dan hazan. 5:48 Nah, dalam dimensi kesehatan jiwa 5:49 ternyata 5:51 orang yang kemudian cemas adalah orang 5:53 yang sudah memprediksi yang akan datang 5:56 dengan ketakutan. 5:59 Jadi, orang cemas adalah karakternya 6:02 belum melewati masa yang dia tentu punya 6:04 waktu apa tidak sudah dibayangi oleh hal 6:08 yang 6:09 mencemaskan, menggalaukan, menakutkan. 6:13 Itu khauf. [menghela napas] 6:15 Maka, disebut cemas dalam bahasa 6:18 kerennya kedokteran itu anxiety. 6:20 Nah. 6:22 Apa yang terjadi kalau kemudian dia 6:24 terjebak dengan pengulangan masa lalu 6:26 yang enggak efektif? Itu depresi. Mhm. 6:29 Sedih. 6:30 Orang sedih, orang depresi adalah orang 6:33 yang tidak pernah bisa move on 6:36 dari pengalaman waktu masa lalu yang dia 6:39 pengin enggak boleh terjadi itu. 6:41 Mestinya waktu kecil itu aku enggak 6:42 begini ya, waktu waktu SMP aku enggak 6:44 begini ya. 6:44 Iya. SMA enggak begini ya. 6:47 Enggak bisa move on dia dengan masa lalu 6:48 yang sudah dia tinggalkan, yang enggak 6:50 pernah bisa dia balik. 6:52 Nah, inilah yang disebut kemudian dalam 6:54 dunia kesehatan jiwa disebut orang 6:55 seperti ini adalah orang-orang yang 6:57 berpotensi akan jatuh di dalam perasaan 7:00 sedih yang berkepanjangan karena tidak 7:04 bisa mencoba untuk melakukan 7:07 perpindahan waktu untuk berada pada 7:10 kondisi saat ini. 7:11 Bisa ada gabungan. 7:14 Pemirsa yang dirahmati Allah. Bisa 7:16 terjadi dalam kondisi orang itu 7:18 dua-duanya dia dibelit ketakutan masa 7:21 depan dia juga alami, kesedihan masa 7:25 lalu juga membelenggu dia. 7:27 Maka, mix kalau orang seperti ini bisa 7:29 cemas dan depresi. Begitulah sebetulnya 7:32 Islam mencoba memberikan perhatian. Ayo, 7:36 kalian orang yang 7:38 tahu Allah itu segalanya, Maha Besar, 7:41 Maha Kasih, Maha sayang. 7:43 Tidak perlu ada yang sudah akan membuat 7:46 kalian cemas di masa masa depan. Dan 7:49 tidak perlu kalian jatuh pada kesedihan 7:51 yang berkepanjangan karena masa lalu 7:52 yang tidak pernah bisa kalian putar 7:54 kembali. 7:56 Jadikan kata Nabi 7:57 hari ini harus lebih baik dari hari 8:00 kemarin. 8:01 Sabdanya enggak dibalik, jadikan hari 8:03 esok lebih baik dari hari ini. 8:07 Sabdanya adalah jadikan hari ini 8:10 lebih baik dari hari kemarin. Karena 8:13 yang kita miliki adalah saat ini, hari 8:15 ini. Iya. 8:21 Yang dimiliki cuma sekarang. Sekarang. 8:24 Jadi kalau cemas untuk waktu yang akan 8:27 datang 8:28 mari kita simak lebih lanjut. Karena 8:31 banyak diantara kita tanpa sadar 8:34 beberapa waktu juga kita sering dengar 8:37 "Nanti aku gimana di sana?" Maksudnya di 8:40 alam barzah. 8:41 [tertawa] 8:44 Iya, Dok. Lanjut. Baik. Nah sekarang 8:48 misalnya kita tentu bersimpati dengan 8:51 apa yang terjadi dari musibah 8:54 Aceh. 8:54 Yang terjadi di Aceh, Sumatera dan 8:55 sekitarnya. 8:57 Makanya ada sebuah kondisi yang disebut 8:59 dengan post traumatic disorder. 9:03 Yaitu gangguan 9:04 dari trauma yang begitu mencekam dari 9:07 satu kejadian 9:09 yang kemudian berimbas pada waktu-waktu 9:11 berikutnya. 9:13 Jadi jadi trauma terus ya. Bagaimana air 9:16 dia lihat 9:17 itu akan mencekam. 9:19 Bagaimana kayu yang mungkin 9:20 menggelinding akan menjadi sebuah 9:23 ingatan ketika dia saat ini melihat kayu 9:26 itu sudah menjadi 9:27 menakutkan. 9:29 Nah, itulah yang disebut tadi ada 9:31 orang-orang yang memang akhirnya tidak 9:33 bisa melepaskan diri trauma, maka 9:35 disebut post traumatic, sangat traumatic 9:37 ya. 9:38 Stress itu di luar kapasitas yang lazim. 9:42 Nah, ini pemulihannya panjang. Makanya 9:43 kan sekarang 9:44 pemerintah dan semua bagian-bagian 9:47 daripada lembaga masyarakat 9:50 berbondong-bondong. Yang mereka butuhkan 9:52 itu healing. 9:54 Ayo lakukan sebuah upaya refresh ulang, 9:58 format ulang bahwa kejadian sudah 10:00 terjadi, ya. Ayo bangkit saat ini masih 10:03 punya kesempatan Allah memberikan 10:06 kehidupan dan tentu ini sebuah 10:08 kesempatan untuk mereformat ulang, 10:12 melakukan upaya-upaya perbaikan, 10:14 pemulihan dengan segala macam 10:16 dinamikanya memang dinamika tentang 10:18 rumahnya yang hilang, 10:19 dinamika mungkin orang terkasihnya 10:22 yang juga sudah meninggalkan. 10:24 Semua dinamika itu sudah masa lalu. 10:27 Namun Allah masih memberikan kalian 10:30 punya masa kini. 10:32 Ayo bangkit, bangun lagi, lakukan lagi 10:34 upaya-upaya upaya untuk keluar dari 10:36 situasi yang membelenggu kalian, jangan 10:38 sampai menjadi trauma yang 10:39 berkepanjangan. Kasus seperti ini waktu 10:41 kasus tsunami lebih dahsyat lagi, Mbak 10:43 Nuning. 10:45 Ya, bagaimana itu gelombang dahsyat 10:48 daripada tsunami dan 10:50 ternyata banyak orang yang survive, ya. 10:53 Hilang semuanya, 10:55 tapi dia tidak terbelenggu dengan masa 10:57 lalu, dia bangkit lagi 10:59 dan sekarang menjadi orang sukses yang 11:00 bisa memaknai adanya hikmah di balik 11:04 musibah. Nah, itu kata kunci yang 11:05 kemudian pada orang depresi tidak 11:07 terjebak. 11:09 Jadi banyak kasus-kasus yang 11:10 menggambarkan 11:12 orang yang kemudian masih terbelenggu, 11:14 ini yang paling sering itu bucin. 11:18 Tidak bisa melepaskan sebuah ikatan 11:20 kasih sayang dari suatu hubungan 11:23 tiba-tiba putus. 11:25 Waduh, 11:26 kemudian mempengaruhi itu, enggak bisa 11:29 hiduplah tanpa dia, aku mendingan mati 11:31 aja deh. Wah, 11:33 sampai sebegitu melonya ya, saking sudah 11:36 bucin ya. Nah, itulah bentuk-bentuk 11:38 turunan-turunan dari pengelolaan waktu 11:41 yang keliru. Bahwa mereka harus tetap 11:45 bangkit lagi, move on lagi. 11:48 Dalam bahasa nanti yang mungkin kita 11:50 akan angkat disebut dengan mindfulness. 11:53 Yaitu fokus pada kondisi saat ini, apa 11:57 yang masih Allah anugerahi dari kondisi 11:59 yang bisa dimanfaatkan, bangkit lagi dan 12:02 hadapi lagi. Itu dari satu sisi yang 12:04 kita sebut orang yang harus melepaskan 12:07 diri dari trauma-trauma masa lalu. 12:11 Sebalik pada yang kecemasan, Pak Nuning. 12:13 He em. Nah, kalau kecemasan pemirsa 12:16 Rizal yang berbahagia dan dirahmati 12:18 Allah, 12:19 ini belum terjadi nih. 12:21 Aduh, 12:23 ini nanti 12:24 penerimaan mahasiswa gimana ya? 12:26 Aku bisa masuk enggak ya? Belum terjadi 12:28 nih. 12:29 Udah dengan ke lawannya nanti bisa 12:30 diterima enggak ya? 12:32 Eh, aku bisa lulus enggak ya? 12:34 Udah, akhirnya qadarullah Allah 12:35 memberikan ikhtiar jalan, lulus. 12:39 Udah lulus kuliah kan? He em. 12:41 Aduh, kuliah gimana nih ya? 12:44 Nanti eh apa nih skripsinya? Ada aja. He 12:48 em. Maka disebut dalam dunia kesehatan 12:49 tuh penyakit jangan-jangan. 12:51 Jangan-jangan ada ya. 12:52 [tertawa] 12:53 Parno itu. 12:54 Jangan-jangan nanti gini, jangan belum 12:56 terjadi nih. 12:57 Jangan-jangan Jangan-jangan asem, jangan 13:00 sop lain. 13:01 [tertawa] 13:03 Jadi, penyakit jangan-jangan itu 13:05 biasanya nanti mampirnya ke IGD. 13:07 Ke gawat darurat. 13:09 Karena yang akan memicu kecemasan itu 13:13 adalah respon kesiagaan. Jantung 13:15 berdetak kencang, 13:17 nafas jadi terengah-engah, 13:19 pencernaan jadi seperti perut melilit. 13:22 He em. Nah, orang-orang yang penyakit 13:24 jangan-jangan ini lupa dengan sumber 13:27 stresornya yaitu lingkup eksternal dia. 13:30 Dia terjebak dengan manifestasi ciptaan 13:33 Allah yang begitu canggih yang sudah 13:35 menyiapkan memang ketika orang cemas 13:36 Allah siapkan terus kesiagaan. 13:39 Yaitu jantung berdetak, paru-paru 13:41 mengembangkan oksigen agar bisa 13:43 mengantarkan sumber energi dalam rangka 13:46 kesiagaan menghadapi sumber yang memang 13:49 dirasakan sesuatu stres. 13:51 Nah, cuma kalau ini terus-menerus 13:53 masuk ke IGD terus tuh. Dicek jantungnya 13:56 normal. He eh. Dironsen paru-parunya 13:58 normal. 13:59 Diperiksa dengan semua teknologi canggih 14:01 USG, MRI, CT scan semua yang dirasakan 14:04 tubuhnya normal. 14:05 Selama dia tidak mencoba untuk 14:08 menginternalisasi, mengkoreksi pada 14:10 sumber stresornya 14:12 penyakit ini akan terus 14:13 namanya penyakit cemas menyeluruh. 14:17 Ada lagi jenis kecemasan itu 14:20 yang disebut dengan obsesif kompulsif. 14:22 He eh. Dia ngulang-ngulang 14:25 suatu tindakan. Eh, ini pintu sudah 14:27 dikunci belum ya? 14:28 Balik lagi dicek. 14:30 [tertawa] 14:31 Sudah balik, eh sudah dikunci belum ya? 14:33 Dicek lagi. Itu bisa 5 sampai 10 kali. 14:36 Hanya sekedar kecemasan ini kunci sudah 14:38 di 14:39 sudah di 14:40 kunci belum? 14:42 Nah, pada ritual-ritual keagamaan itu 14:45 bisa terjadi pada wudhu berulang. 14:48 He eh. 14:49 Iya iya. Wudhu enggak bisa sekali. 14:51 Ya, berulang aduh enggak sah. 14:54 Ulang lagi. 14:55 Enggak sah. 14:56 Akhirnya masuklah kemudian mau salat. 14:59 Takbir itu enggak bisa sekali. 15:02 Takbir salah lagi. 15:04 Takbir salah lagi. Ini yang disebut 15:06 dengan kecemasan dari sesuatu kondisi 15:08 yang menyebabkan dia obsesif terjebak 15:11 oleh pikiran dia 15:12 yang enggak nyaman kalau itu enggak 15:14 dilakukan sehingga menimbulkan 15:15 kecemasan. 15:16 Jadi turunannya banyak dari depresi 15:18 dengan cemas ini ketika nanti pada 15:21 setiap individu tidak memahami adanya 15:25 sumber dari tadi kelola waktu yang tidak 15:27 efektif akibat terjebak masa lalu yang 15:30 tidak pernah biasa dia move on atau 15:32 terjebak dengan masa depan yang selalu 15:35 sudah dengan angan-angan kecemasan 15:37 jangan-jangannya. 15:40 Gitu Mbak Nuning dan Pak Masya Allah 15:44 Jadi ada post traumatic disorder 15:48 tapi yang barusan kita dengar terkait 15:50 dengan obsesif yang ini kayaknya banyak 15:54 nih yang merasa kayaknya gue banget gitu 15:56 [tertawa] 15:58 Eee 15:59 itu baru dua sisi ya, ada yang lain yang 16:03 mungkin lebih umum terjadi? Nah 16:06 Ini dia yang lebih umum terjadi adalah 16:09 kondisi yang kemudian dia merasa 16:12 memiliki 16:14 He eh Nah 16:16 kehidupan ini sering menjadi depresi dan 16:19 cemas karena saking kuatnya merasa 16:21 memiliki 16:23 padahal 16:24 makhluk hidup hanya dikasih hak amanah 16:27 dipinjamkan Iya 16:29 Enggak ada yang punya sendiri 16:30 yang punya sendiri 16:31 [tertawa] 16:32 Makanya ada banyak ayat itu lillahi ma 16:34 fisamawati kemudian Allah lah 16:36 segala yang ada di langit dan bumi 16:38 banyak ayat-ayat menegaskan itu semuanya 16:40 punya Allah 16:41 kalian cuma dipinjamin 16:43 lalu kemudian dimintai 16:44 pertanggungjawaban dari pinjaman tadi 16:45 mungkin dikasih tadi jabatan 16:48 dikasih titipan harta Waduh 16:50 dikasih titipan keluarga 16:52 Berat nih 16:53 [tertawa] 16:53 Cuma nitip sebetulnya Iya iya Tapi 16:55 begitu kemudian secara umum itu melekat 16:58 menjadi kepemilikan tiba-tiba hilang 17:01 Ini misalnya pada kasus jabatan Mbak 17:03 Nuning He eh 17:05 Dia punya jabatan nih 17:07 eselon 4 eselon 3 eselon 2 eselon 1 dah 17:11 katakan gitu ya 17:13 kan ada masanya 17:15 Iya Dia harus mengakhiri jabatan itu ada 17:18 masanya yang disebut pensiun. Iya. Kalau 17:21 enggak siap yang disebut dengan post 17:23 power syndrome. 17:24 Syndrome. 17:24 [tertawa] 17:25 Kehilangan kekuasaan membuatnya tadinya 17:27 ada sopir, ada mobil, ada semua sarana, 17:31 sekarang enggak ada. Karena terbiasa 17:33 memiliki, kehilangan itu semua jadi 17:35 stres. 17:36 Nah, ini enggak disadari banyak kemudian 17:39 terjadi karena tadi post power syndrome. 17:41 He em. 17:42 Kepemilikan lain juga begitu, ya. 17:45 Merasa mungkin mencintai terlalu 17:46 berlebihan pasangan hidupnya tadi. He 17:49 em. 17:50 Qadarullah salah satu harus dicabut dan 17:53 dipanggil. 17:54 Aku ikut aja deh. 17:55 [tertawa] 17:56 Atau aku duluan aja. 18:00 Nah, itu itu hal yang umum yang kemudian 18:02 terjadilah depresi yang berkepanjangan 18:04 dan ujung yang paling menakutkan dari 18:07 dua kondisi itulah bunuh diri. 18:10 Rasa tidak berdaya dari suatu kehidupan 18:13 yang dia tidak bisa hadapi. Ah, udah 18:15 buat apa lagi sih hidup. 18:18 Bermula dari ide aja, cuma ide doang, 18:20 cuma ungkapan. 18:22 Ah. 18:23 Hidup udah enggak 18:24 enggak asik. [tertawa] 18:25 Enggak asik. Ya. 18:27 Ide. 18:28 Lama-lama 18:30 self 18:32 self harm. Menyakiti. 18:35 Lama-lama lebih ekstrem lagi, bukan lagi 18:37 hanya tindakan-tindakan yang mungkin 18:40 merasakan suatu rasa sakit ya. 18:43 Tapi mulai tuh, mungkin 18:45 ya menjatuhkan diri pada sesuatu kondisi 18:48 lompatlah. 18:50 Kalau memang belum waktunya paling kan 18:51 cuma patah. [tertawa] 18:53 Benjol. 18:55 Kemudian harus bangkit lagi, nah itulah 18:57 yang terjebak terus dengan kesalahan 18:59 langkah yang dia seolah-olah bisa 19:01 menentukan ajalnya, tidak. Karena ajal 19:03 sendiri dalam konteks waktu itu hak 19:06 prerogatif Allah. Iya. 19:08 Sebaliknya orang ada yang pengen enggak 19:10 mau mati nih, Cemas dengan kematian. 19:14 Semua alat melekat. 19:16 Ada alat defibrilator, ada alat buat 19:18 kejutnya nih. Ya kalau ada waktunya 19:20 malaikat Izrail datang enggak bisa semua 19:23 alat itu. Iza jaa ajaluhum la 19:25 yasta'khiruna sa'atan wala yastaqdimun. 19:28 Kalau ajal memang sudah datang, enggak 19:30 bisa minta dipercepat, enggak bisa minta 19:31 ditunda. 19:33 Gitulah waktu yang memang tadi manusia. 19:35 Karena itu waspada terus karena kita 19:37 punya waktu saat ini. Sudah waspada 19:39 terus. Jaga terus waktu ini dengan semua 19:42 hal yang tentu bisa kita jadikan karena 19:44 khairunnas anfa'uhum linnas. Sebaik 19:46 manusia adalah orang yang bermanfaat. 19:48 Bermanfaat dalam sisi yang kemudian 19:50 sederhana Allah contohkan dan Rasul 19:52 berikan, menyingkirkan duri. 19:55 Menyingkirkan sesuatu yang berbahaya 19:57 pada suatu aktivitas lalu lintas. Itu 19:59 sudah berbuat baik. Apalagi punya ilmu, 20:02 apalagi punya harta, punya kekuasaan dan 20:06 sebagainya. Jadikanlah semua amanah itu 20:08 untuk memberi manfaat bagi kehidupan. 20:13 Iya. 20:16 Gimana ya kalau mikir soal waktu dan 20:19 kesempatan sementara hak prerogatif 20:21 Allah enggak bisa diapa-apain untuk 20:23 kapan kita pulang, itu memang luar biasa 20:26 sekali. 20:28 Oke, Dok. Masih ada tentu yang lain. 20:30 Ditunggu nih di samping pensiun yang 20:33 jadi momok. 20:34 [tertawa] 20:37 Apa lagi kira-kira? 20:39 Ketika kita juga secara umum berhadapan 20:42 dengan suatu keinginan, Ehem. harapan, 20:46 cita-cita, 20:48 dalam realita yang kemudian terjadi bisa 20:51 miss. 20:54 Aduh, 20:55 saya pengen jadi ini, saya pengen punya 20:57 ini, 20:58 saya pengen selalu pengen pengen pengen 21:00 pengen. 21:01 Dalam realita kehidupan ternyata 21:03 qadarullah-nya enggak matching nih. 21:05 Ehem. Antara yang diinginkan dengan yang 21:07 kemudian Allah 21:09 tetapkan. 21:10 Nah, di sini banyak kesalahan daripada 21:12 persepsi manusia adalah 21:14 dia negatif thinking. 21:19 Ehm. Berpikir negatif. 21:20 Iya. 21:21 Kok 21:22 enggak terkabul sih? 21:23 Udah berdoa, udah berikhtiar, udah 21:26 jungkir balik, 21:28 kok enggak Allah Allah enggak kabulkan 21:30 sih? 21:31 Nyerah. 21:31 Bahkan menghujat nih. 21:32 Nyalahin Allah. 21:33 Nyalahin Allah gitu. 21:35 Allah kejam, Allah enggak sayang dan 21:37 sebagainya. 21:39 Nah, ini tentu situasi yang harus tetap 21:41 dimaknai Ehm. bahwa 21:45 Maha besarnya Allah paling tahu tentang 21:48 apa yang makhluknya harus lalui. 21:51 Dan itu harus diuji 21:54 dengan gap antara tadi harapan dan 21:56 kenyataan 21:57 Ehm. menjadi ukuran. 21:59 Tetap positif thinking apa enggak? 22:01 Coba kita lihat semua risalah kenabian. 22:03 Iya. Enggak dikasih gampang-gampang. 22:06 Ehm. Nabi Musa dipojokin dengan kejaran 22:09 Firaun, enggak tahu kalau laut bisa 22:11 dibelah. 22:13 Harus dibikin stres dulu. 22:16 Kaum yang mengikuti, coba kalau kita 22:17 pada saat itu, mau ikut Firaun atau ikut 22:20 aku? 22:21 Firaun punya kekuasaan, Firaun punya 22:24 segalanya, Ehm. aku enggak punya apa-apa 22:26 dan kalian tinggal di pinggir laut. 22:29 Di belakang Firaun dengan bala 22:31 tentaranya, di depan laut. 22:33 Pilih mana? Pilih mana coba? Kalau pakai 22:35 logika saat itu bukan iman, banyak orang 22:38 yang kemudian akhirnya balik lagi. Iya, 22:41 Musa enggak bawa apa-apa. 22:43 Mau nyelamatin kita pakai apa? Sengaja 22:45 tuh dibikin antara harapan dengan 22:46 kenyataan Ehm. harus berhadapan dengan 22:49 sebuah gap. 22:50 Tapi Allah tentu dengan turunan 22:51 kemukjizatannya, memberi pertolongan. 22:55 Ketok, 22:57 terbelah laut. 22:59 Siti Hajar dengan Nabi Ismail. Ehm. 23:02 Sudah kehabisan nih semua bahan yang 23:05 ditinggalkan oleh eh Nabi Ibrahim kepada 23:07 anak istrinya. 23:09 Apa Allah langsung nurunin tuh makanan? 23:11 Enggak begitu. 23:14 Harus sa'i namanya. 23:16 Berlari dari Bukit Safa ke Marwah yang 23:18 menunjukkan harus berikhtiar. Berjuang. 23:21 Berjuang, bukan [tertawa] hanya ya 23:22 Allah, suamiku enggak kirim ATM nih, 23:25 depositnya sudah habis. Eh sekarang 23:28 semua kok enggak ada. Ya, cukup berdoa? 23:31 Enggak, harus berusaha. Heem, heem. 23:33 Berusaha itulah yang menunjukkan tadi 23:35 ujungnya pada situasi yang sudah 23:38 genting, Allah pasti 23:40 tahu momen yang tepat. Di situlah 23:41 kemudian Nabi Ismail nangis, 23:44 menghentakkan kakinya, keluarlah 23:46 sekarang yang kita kenal dengan air 23:47 zamzam. Mukjizat [berdehem] sepanjang 23:49 kehidupan manusia dari dua tokoh manusia 23:53 yang ketika ada kenyataan hidup yang 23:56 tidak sesuai, tapi tetap istikamah. 23:59 Makanya tadi ayat tadi 24:01 ketika menyatakan Allah Rabb-nya, Dia 24:03 pasti menjadi jalan keluar pada setiap 24:05 solusi 24:06 maka istikamah. 24:09 Terus-menerus dijaga, pertahankan dengan 24:11 konsisten maka Allah katakan, "Aku 24:14 turunkan malaikat 24:15 Heem, heem. dalam rangka menjaga kalian 24:18 agar terhindar dari cemas dan depresi." 24:21 Nah, inilah kemudian yang menjadikan 24:23 tadi bahwa 24:25 harapan dengan kenyataan memang sebuah 24:28 cara Allah menguji. 24:30 Nah, kata kunci terhadap menghadapi 24:32 kenyataan yang tidak sesuai dengan 24:34 harapan adalah positive thinking. Heem. 24:37 Begitu kita sudah negative thinking, 24:39 energi dan aura itu pasti jadi negatif. 24:42 Karena Allah katakan, "Aku sesuai 24:43 persangkaan hambaku." Heem. Apalagi 24:45 sudah sampai menghujat. Sudah sampai 24:47 kemudian menyalahkan dengan segala macam 24:50 ke- kekecewaannya. Nah, itu yang terjadi 24:52 justru adalah aura negatif pasti. 24:56 Nah, mudah-mudahan kita terhindar dari 24:57 ketika ada antara kenyataan dengan 25:00 harapan yang enggak sesuai 25:02 langkah pertama adalah tetap positif. 25:05 Allah yang Maha tahu, oh memang 25:06 qadarullahnya saat ini belum apa yang 25:09 saya inginkan Allah kabulkan. Tapi 25:12 yakinlah 25:13 kalau Allah katakan ud'uni astajib 25:15 lakum. Mhm. Berdoalah padaku, mintalah 25:18 padaku, aku kabulkan. Loh, 25:20 berarti hukum itu kok enggak jadi 25:22 kenyataan. Nah, ini yang kemudian harus 25:25 kita paham. 25:26 Mengabulkan Allah itu bisa pada tiga 25:29 situasi. 25:31 Dikabulkan sebagaimana doa yang memang 25:33 dia panjatkan, dia minta mungkin tadi 25:37 ada karir yang meningkat, dikasih. Mhm. 25:40 Ada jabatan yang kemudian makin 25:42 meningkat, Allah kasih. Itu namanya 25:44 linier antara harapan dengan kenyataan. 25:47 Namun Allah ketika Maha tahu ini enggak 25:49 baik 25:51 Evi Dianza saat ini enggak enggak bagus 25:53 kamu untuk memang 25:55 melanjutkan menjadi eselon satu, cukup 25:56 eselon dua saja. Mhm. Ya sudah, ya. 25:59 Berusaha sudah dengan segala macam 26:01 ikhtiarnya, berarti Allah akan ganti. 26:05 Anak saya lulus dengan kumlot, pekerjaan 26:09 mudah, 26:11 rezekinya kemudian Allah mudahkan. Jadi, 26:13 Allah ganti. Mhm. 26:14 Harapan-harapan yang kemudian tidak 26:16 sama, Allah gantikan dengan 26:18 bentuk-bentuk lain yang memberikan juga 26:20 rasa syukur. 26:21 Nah, yang ketiga ini nih memang nih 26:24 kadang-kadang yang enggak kita sabar. 26:27 Belum tentu langsung dikabulin 26:29 dan enggak merasakan ada pengganti 26:31 bentuknya apa, Mhm. tapi Allah berikan 26:33 nanti di akhirat. 26:35 Allah tangguhkan nanti kebahagiaan itu 26:36 surga. Iya. 26:39 Inilah yang kemudian terjadi pada Nabi 26:40 Ibrahim, coba. Mhm. Kalau Nabi Ibrahim 26:42 waktu itu, wahai Nabi Ibrahim bangunlah 26:44 eh rumahku. 26:46 Lalu serulah orang untuk datang ke 26:48 tempat yang kamu bangun ini dari segala 26:50 penjuru. 26:51 Saat itu kalau kita berpikir sebagai 26:53 Nabi Ibrahim gila. 26:55 Enggak ada alat transportasi, 26:58 tanah tandus, 27:00 tapi suruh manggil. 27:02 Apakah Nabi Ibrahim merasakan doanya 27:04 dikabulkan? Iya. Saat itu tidak. 27:07 Sekarang orang berduyun-duyun ngantri 27:09 mau pergi haji. 27:11 Mau umrah berjuta-juta. Heeh, heeh. 27:14 Doanya dikabulkan menjelang waktu tepat 27:16 bahkan tadi ada yang berdoa sampai 27:18 akhirat nanti yaitu surga. Yang tentang 27:20 Allah la yukhlifu al-mi'ad. Allah tidak 27:23 pernah ingkar janji ketika tadi doa-doa 27:25 itu dikabulkan 27:26 namun penundaan waktu momen itu yang 27:28 kemudian Allah Maha tahu. 27:31 Nah, mudah-mudahan kalau tiga situasi 27:32 itu bisa kita sikapi, gap antara 27:34 kenyataan dengan harapan kita sikapi 27:38 tadi dengan positive thinking, 27:40 kita bersangka baik memang momennya 27:41 Allah yang Maha tahu 27:43 dan Allah pasti akan menggantikan dengan 27:45 sebuah situasi yang lain. Allah tadi 27:47 akan menunda waktu yang tidak saat ini 27:49 tapi Allah ganti pada waktu yang ada 27:51 atau nanti memang 27:53 kekal di dalamnya nanti di akhirat masuk 27:55 ke surga khalidina fiha abada. 27:58 Masya Allah. Tiga poin yang kalau tadi 28:02 kita 28:03 kaitkan dengan perjalanan kita yang mana 28:06 nih ikhwan akhwat yang terasa banget gue 28:09 banget. Tapi baik sebelum kita ke 28:11 pertanyaan 28:12 boleh eh 28:14 ada informasi terkait dengan untuk 28:17 sahabat rasul di seluruh 28:19 jemaah dan juga seluruh jemaah tahsin 28:23 insya Allah ada kopdar 28:25 tawaqufan 28:27 temu jemaah tahsin ajang silaturahmi 28:31 belajar dan menambah semangat di dalam 28:33 perjalanan tahsin bersama waktunya itu 28:36 Minggu 11 Januari 28:40 lusa 28:41 2026 tentu saja ya. Tempatnya di Masjid 28:44 Silaturahim Cibubur dimulai jam 08.00 28:47 pagi. 28:49 Istimewanya itu 28:51 akan diisi langsung oleh seluruh 28:53 narasumber tahsin yang selama ini 28:57 membersamai sahabat-sahabat Rasheed di 28:59 dalam belajar Alquran. 29:02 Jangan sampai terlewat momentum 29:04 kebersamaan yang penuh berkah ini 29:07 dan insyaallah kita akan merasakan 29:10 hangatnya silaturahmi sesama 29:15 pen 29:16 nuntut ilmu Alquran. 29:19 Baik, nanti ditunggu. Eh, kita boleh 29:20 langsung ke pertanyaan ya, eh Dok. 29:22 he em. Ini 29:24 dari tunggu sebentar, mana tadi? 29:27 Dok, saya pernah saat masak lupa sampai 29:32 yang direbus asat dan panci terbakar, 29:36 apinya menjulang ke atas sangat besar 29:38 menjilat-jilat. Untung atapnya 29:42 yang di atas dapur itu bukan papan tapi 29:44 dak semen. Jadi 29:47 tidak apa-apa. Yang terjadi adalah 29:49 setelah itu kemudian dimatikan oleh 29:52 orang lain tentu saja yang ketika saya 29:55 berteriak itu teratasi, sampai sekarang 29:58 saya tidak berani ke dapur. Apa yang 30:01 harus saya lakukan? Padahal emak-emak 30:04 itu kan urusannya dapur ya, Dok. Terima 30:06 kasih. He em. 30:08 Baik, nah inilah salah satu bentuk yang 30:10 dikatakan oleh trauma kan. 30:11 Trauma, he em. 30:12 Meledak, api, dapur, efeknya apa? Takut 30:16 ke dapur. He em, he em. Karena menyimpan 30:18 tadi sebuah masa lalu tentang rekaman 30:22 bakaran, meledak, dan dapur menjadi 30:25 siklus yang sudah membelenggu dia 30:27 namanya. He em. Jadi jaringan saraf 30:30 kalau sudah bicara dapur 30:32 yang aktif cuma itu. 30:34 Yang lain enggak muncul ya. 30:35 Yang lain enggak muncul. He em, he em. 30:36 Kemudian bicara api juga begitu, bicara 30:38 kebakaran, bicara meledak. 30:40 Nah, ini yang memang tadi kita sebut ada 30:43 sirkuit di dalam jalinan saraf itu yang 30:46 sudah membelenggu dia dan menimbulkan 30:48 tadi fobia namanya. 30:51 Ketakutan dari sesuatu bentuk yang tidak 30:54 realistis sebetulnya kan. 30:56 Sekarang dapur pasti sudah dibetulin. 30:59 Eh, kompornya juga sudah bagus lagi. 31:01 Ya, semua sistem pengamanan mungkin juga 31:03 sudah ditambah. Ketika ada asap mungkin 31:05 sudah ditambah lagi sebuah sistem ada 31:07 air itu kan sprinkler-sprinkler yang 31:08 bisa menjadi bagian dari pengalaman itu. 31:11 Nah, apa yang terjadi pada eh Ibu, ini 31:14 kita sebut adalah fobia dari suatu 31:16 trauma. 31:18 Banyak bentuk-bentuk fobia 31:20 yang eh terjadi, Mbak Nuning. He em, he 31:22 em. Ada fobia ruang gelap. 31:25 Iya. 31:26 Kenapa? Karena masa kecil Pernah 31:28 mengalami [tertawa] 31:29 kemudian salah, dimasukin ke kamar 31:32 mandi, dikunci, mati lampu. Oh, hukuman 31:35 dulu ya. 31:35 Hukuman. He em, he em. 31:37 Sehingga dalam benak dia, gelap itu 31:39 adalah sesuatu yang sangat traumatik. He 31:42 em, he em. 31:42 Dia enggak paham tentang maksud daripada 31:44 kedisiplinan tadi sebetulnya, tapi cara 31:46 itu merekam seperti Ibu tadi. Iya. 31:48 Menjadikan itu suatu traumatik. Nah, 31:51 pada batas tertentu ketika memang ini 31:54 sudah tadi Ibu ungkapkan, 31:56 itu kita harus melakukan yang disebut 31:58 dengan kognitif behavior terapi. He em, 32:00 he em. Mengubah cara pandang Ibu, 32:03 mengubah perilaku Ibu tentang situasi 32:05 tadi yang kita kaitkan dengan masa lalu, 32:09 lalu sekarang berhadapan dengan masa 32:10 kini. Itu dilakukannya bertahap, Mbak 32:13 Nuning. 32:14 He em, he em. Jadi kalau contoh pada 32:16 konteks yang kemudian eh sederhana ya, 32:21 mulai melihat dapur itu suasana yang 32:25 menyenangkan. Enggak perlu masuk dulu 32:26 ya. 32:27 Di situ mungkin ada bunga, 32:29 ada sesuatu yang menyenangkan kita, 32:32 disertai juga mungkin dengan anak-anak, 32:34 cucu main di daerah dapur itu. 32:37 Jadi kita hanya melihat dulu tahapannya. 32:39 Jadi, kognitif behavioral terapi kita 32:41 tentang 32:43 ingatan dapur yang pernah menakutkan 32:45 harus diubah dulu ada ingatan-ingatan 32:47 baru. 32:48 Yang akan memunculkan tadi jalinan 32:50 saraf. 32:51 Nah, metode ini memang ketika memang 32:54 tadi cukup kooperatif, cukup bisa 32:56 memberikan ketenangan 32:58 itu bisa berhasil. 33:01 Tapi, ketika memang sudah sangat 33:02 traumatik 33:04 itu ada sesi yang disebut dengan 33:05 hipnoterapi, Mbak Nunung. Oke. Karena 33:08 alam bawah sadar dia itu yang kemudian 33:11 belum bisa memberikan suatu 33:15 eh keserasian dengan realitas sekarang 33:18 sehingga alam bawah sadar ketakutan itu 33:19 terus yang membuat dia terjebak dengan 33:23 situasi tadi. Nah, itu pengobatannya 33:26 pada batasan tertentu perlu di 33:28 ungkap ke dalaman bawah sadar dalam 33:30 bentuk hipnoterapi. 33:32 Nah, pada batasan tertentu hipnoterapi 33:34 gagal. 33:36 Karena tidak semua orang 33:37 bisa dihipnoterapi. 33:40 Orang yang tidak sugestif tidak bisa 33:41 dihipnoterapi. 33:43 Sudah pakai behavioral terapi juga 33:45 enggak mempan. 33:46 Nah, [berdehem] inilah kemudian 33:47 teknologi membantu seseorang dengan 33:50 farmakoterapi namanya. Jalinan sarafnya 33:52 itu perlu diblok. 33:54 Jadi, dia sudah terbentuk semacam sebuah 33:56 refleks. Nah, refleks ini dalam dunia 33:59 kedokteran itu ada 34:00 neuro-neurotransmitter. 34:02 Cairan-cairan yang membelenggu dia 34:05 menjadi aktif terus. 34:07 Oh oh. Nah, cairan-cairan yang aktif ini 34:10 ada teknologi yang bisa membantu diblok 34:12 itu. 34:13 He em he em. Sehingga dia menjadi tidak 34:15 aktif ketika mengalami situasi tadi dan 34:18 kemudian dilakukanlah tadi teknik-teknik 34:20 yang non obatnya. He em. Kognitif 34:22 behavioral terapinya, hipnoterapinya. 34:24 Jadi, pada tahap yang memang tadi sudah 34:27 dilakukan yang non obat pada kasus-kasus 34:29 tertentu itu memang harus dibantu dengan 34:33 pemberian obat. Dan itu tentu harus 34:35 berhadapan dengan eh konsultasi kepada 34:38 psikiater He eh. untuk nanti memilih 34:40 jenis-jenis obat mana yang memang cocok 34:42 pada setiap orang. Jenisnya banyak 34:43 sekali. 34:44 Nah, keserasian tadi karakter orang He 34:48 eh. akan menentukan nanti pilihan 34:50 psikiater memberikan obat tadi. Jadi, 34:53 traumanya kelihatan kan cuma sekali kan 34:54 kejadiannya. 34:55 Iya. 34:56 Tapi trauma ini tentu tidak bisa 34:58 dilepaskan dari pengalaman sebelumnya. 35:01 He eh. Nah, inilah yang tadi nanti akan 35:02 digali. Banyak kasus-kasus yang Ibu 35:04 sampaikan tadi bentuknya beda-beda. 35:06 Takut kucing saja. Iya. Memang kucing 35:09 kenapa sih? 35:09 Nah, kucing kenapa sih? 35:11 [tertawa] 35:11 Jangankan kucing, kecoa nih. 35:14 Sampai lari naik ke atas meja. 35:15 naik ke atas. 35:16 [tertawa] 35:17 Nah, itulah yang disebut tadi ada 35:19 trauma-trauma, persepsi yang keliru 35:21 tentang suatu kejadian menyebabkan dia 35:22 fobia. 35:24 Ketinggian, enggak berani naik pesawat. 35:26 Duitnya berlimpah, mau ke mana saja tapi 35:28 enggak berani kalau naik pesawat. 35:30 Pokoknya kalau pergi jalan darat. 35:32 Karena enggak berani pada ketinggian. 35:34 Jadi, mudah-mudahan Ibu tadi menyadari 35:37 ini disebut fobia He eh. akibat 35:39 traumatik satu kejadian dan proses untuk 35:42 melakukan perbaikannya bisa dimulai 35:44 tanpa obat dulu. He eh. Datang ke 35:47 seorang terapis, bisa ke konselor, bisa 35:49 ke hipnoterapis, bisa ke seorang 35:51 psikiater, bisa seorang psikolog. Nanti 35:52 Ibu diajarkan bagaimana memulai untuk 35:55 mengubah eh pikiran dan perilaku dari si 35:57 trauma tadi. Nah, mudah-mudahan eh 36:00 ikhtiar non obat bisa berhasil. Kalaupun 36:03 tadi ikhtiar tadi seperti tadi Siti 36:05 Hajar tujuh kali bolak-balik itu begitu. 36:08 Enggak berhasil juga, maka farmakoterapi 36:09 memang 36:10 perlu Ibu dapatkan untuk mendapatkan 36:12 perubahan dari siklus neurotransmitter 36:15 yang sudah mengganggu eh fobianya tadi. 36:20 Iya. Jadi, kalau soal waktu enggak 36:22 ketahuan ya, Dok, berapa lama baru 36:24 sembuh? 36:25 Sangat individual. 36:25 Tergantung bagaimana masing-masing. 36:27 Sekarang umur Ibu berapa misalkan, 36:29 kejadiannya kapan itu berpengaruh. 36:32 Semakin cepat saat itu terjadi, ya tentu 36:35 semakin juga pendek proses untuk 36:37 memulihkannya. Kejadiannya sudah 10 36:39 tahun yang lalu misalnya kan. 36:40 Nah, lain lagi nih ya. 36:41 Sudah lain lagi itu. 36:42 [tertawa] 36:42 Ya, jadi momen waktu dan kemudian 36:44 bagaimana kemudian eh variabel atau 36:47 faktor-faktor lain yang melingkupi 36:49 kehidupan Ibu juga akan berpengaruh. 36:52 Baik. Dari tidak ada namanya di sini. 36:57 Dok. 36:59 Mana tadi? 37:02 Kapan usaha boleh menyerah? Ketika kita 37:05 menghadapi anak yang ADHD. Terus terang 37:08 do not what to do. 37:10 Kan akan seumur-umurkah Dok ya Allah. 37:13 Terima kasih. 37:14 Masya Allah. 37:16 Cara Allah memuliakan setiap hambanya 37:18 beda-beda. 37:19 Ehm. 37:20 Ada yang seperti Nabi Sulaiman. 37:22 [berdehem] 37:23 Dengan semua kehebatannya. 37:26 Semua makhluk bisa diperintahkan. 37:28 Tapi ada yang seperti Nabi Ayub. 37:31 Ya. Ada yang seperti Nabi Musa, Nabi 37:34 Isa. Jadi karakter kenabian itu 37:36 sebenarnya ingin menggambarkan 37:38 kita sedang dalam 37:41 episode mana nih. Nah, Ibu mengatakan 37:44 tadi ada anak ADHD. Ini amanah ya. 37:47 Sudah terima sebagai suatu keniscayaan 37:51 dari enggak bisa aduh kalau bisa masukin 37:52 ke perut lagi gitu kan. 37:54 Eh dibalikin lagi gitu kan. Wah, sudah 37:57 nyesal dengan segala macam. Itu tentu 37:58 yang tidak boleh ya. Terjebak dengan 38:00 belenggu waktu yang kemudian menyebabkan 38:02 kita eh tidak bisa move on. Nah, realita 38:05 ini Ibu ADHD itu sangat treatable. 38:09 Dalam dunia kesehatan jiwa. Nah, tentu 38:13 gradasi berat ringannya yang kita tidak 38:14 tahu. Karena ADHD itu ada yang ringan, 38:17 ada yang sedang, ada yang berat. 38:19 Kalaupun sudah sampai yang berat, insya 38:21 Allah ya. Semua dengan teknologi yang 38:23 sekarang dimiliki dalam dunia 38:25 kedokteran, itu bisa membantu. 38:28 Bagaimana dia, namanya kan 38:31 attention deficit, ya. 38:33 Hiperaktif disorder, jadi gangguan 38:36 hiperaktivitas 38:38 dari kondisi dia enggak bisa fokus pada 38:40 suatu kondisi, maka dia pindah-pindah. 38:43 Nah, ini padahal hampir kebanyakan juga 38:46 kasus ADHD itu jenius, anu, nih. 38:50 Orang yang punya kemampuan pada sesuatu 38:53 fokus tertentu, bahkan jenius 38:54 sebetulnya. Dan banyak eh, tokoh-tokoh, 38:57 ya, yang memang kita sebut sekarang 39:00 sukses itu awalnya ADHD. 39:02 He eh. Nah, tinggal tadi, Ibu perlu 39:05 mendapatkan tadi, ya, bagaimana derajat 39:08 ADHD 39:09 He eh. dari yang terjadi, sehingga nanti 39:12 ada treatment-treatment yang 39:13 disesuaikan. Itu langkah pertama ikhtiar 39:15 tadi. 39:16 Kata Ibu kan tadi, "Aduh, sudah ikhtiar, 39:18 ya." Betul tadi. 39:19 Ikhtiar ini tadi pada konteks yang eh, 39:23 ilustrasi Siti Hajar dan Nabi Ismail, 39:26 tidak boleh menyerah. 39:29 Pantang menyerah. Nah, itulah dikatakan 39:31 berlari-lari Bukit Safa, Bukit Marwah 39:33 itu, 39:34 dihitung sekarang 5 kilo. Dan saat itu 39:36 kerikil. Kalau sekarang enak. Pakai 39:38 sepatu lagi, ya. 39:39 Pakai payung. 39:39 [tertawa] 39:40 Adem, AC. 39:42 Jadi, di situ yang Ibu, 39:44 langkah keduanya, betul, 39:47 ubah tadi. 39:49 Harus tetap ada ikhtiar. 39:51 Nah, ikhtiarlah yang nanti akan membantu 39:53 Ibu di dalam mendapatkan 39:55 sunatullah-sunatullah terapinya. 39:58 Sama juga pada kasus yang tadi fobia, 40:02 harus kadang-kadang pada batasnya harus 40:03 pakai obat. 40:06 Karena untuk melatih fokus dia, 40:08 untuk tetap dia tidak terlalu pindah 40:11 dari suatu rangsangan ke rangsangan lain 40:13 karena hiperaktifnya, 40:15 itu obat memang tidak bisa dihindari. 40:17 Lalu orang sering terjebak, "Jadi 40:19 tergantung dong, Dok?" Tidak. 40:23 Tergantung itu kalau istilah daripada 40:26 sebuah pencarian didapatkannya ilegal. 40:30 Dosis yang diminumnya pun suka-suka, 40:33 bahkan melampaui dari batas sebuah 40:36 kondisi yang disebut dengan dosis 40:38 terapeutik. Selama setiap orang 40:40 mendapatkan obat dari tempat yang legal, 40:44 didapatkannya pun melalui sebuah proses 40:46 profesional, dengan dosis yang masih 40:49 dalam 40:50 arahan sesuai instruksi, itu enggak 40:52 tergantung. 40:53 Orang kencing manis minum obat. 40:56 Orang stroke dengan semua dampaknya 40:58 minum obat. 40:59 Jadi minum obat terus-menerus tidak 41:02 otomatis 41:03 disebut ketergantungan, bukan. Karena 41:06 ada ketika tadi tubuh tidak seimbang, 41:09 fungsi obat itu menyeimbangkan, 41:11 menstabilkan dari kondisi yang memang 41:13 tidak sama pada kondisi tadi yang kita 41:16 sebut sudah takdir baik dan buruk memang 41:19 kemudian ada ADHD dan obat itu sebagai 41:21 ikhtiar bukan tergantung. Iya. 41:23 Jadi ketergantungan itu adict itu kalau 41:26 narkoba kali ya. 41:27 [tertawa] 41:28 Baik, Dok. Ini dari Pak Widodo. 41:30 Assalamualaikum. 41:32 Waalaikumsalam. 41:33 Ceramah kesehatan pagi ini sangat 41:35 berkesan dan bermanfaat. Penggabungan 41:37 antara ilmu kedokteran jiwa dengan 41:39 ajaran Islam yang sangat sempurna. Agama 41:43 rahmatan lil alamin ya. Mohon nomor 41:45 kontak dokter dong kalau ingin 41:47 berkonsultasi. Oke, nanti di penghujung 41:50 akan kami berikan. Iya. 41:53 Jelas acara ini bisa di-dengerin lagi 41:56 cukup dengan klik Youtras apa? Rasil TV 42:00 di YouTube ya. Nanti akan keluar. 42:03 Kemudian pertanyaan berikutnya, tunggu 42:06 sebentar. 42:09 Oh. 42:11 Anak 42:12 kok tampaknya suka sesama jenis nih, dia 42:15 sekarang sudah SMA. Ini hukuman Allah 42:18 atau apa ya, Dok? Sebagai ayah saya 42:20 harus bagaimana? 42:22 Heeh. 42:24 Astaghfirullah ya, nauzubillah min 42:25 zalik. Jadi ini kesalahpahaman 42:28 dari tiga doktrin yang menguasai media 42:32 mainstream. 42:34 Heeh. Ya, anak-anak sekarang ini kan 42:36 rujukannya, referensinya 42:38 Googling. 42:40 Ya, AI. 42:41 Nah, terjebaknya mereka di dalam 42:44 pertanyaan Bapak tadi, mereka selalu 42:47 menghembuskan doktrin pertama, ini 42:49 adalah memang dari Sang Kuasa. Dari 42:54 sananya. 42:54 Dari sananya katanya. Bahwa hasrat itu 42:56 muncul bukan sesuatu yang dibuat-buat, 42:59 tapi memang Tuhan sudah memberikan 43:01 otaknya katanya sebagai suatu kelainan 43:03 yang hanya suka dengan sejenis. Itu 43:05 doktrin pertama. Terus? Doktrin kedua 43:07 adalah ini hak azasi. 43:10 Heeh. Ini pilihan saya. 43:12 Heeh. Suka-suka gue dong. 43:14 gue, enggak ngerepotin elu ya. 43:17 Itu doktrin kedua. Sehingga mereka 43:19 hembuskan ketika ini menjadi sesuatu 43:21 yang akan diubah melanggar hak azasi. 43:22 Heeh. Nah, doktrin ketiga sudah tadi 43:25 memang ini dari sananya, kemudian hak 43:27 azasi, enggak bisa dirubah, tidak bisa 43:29 diperbaiki. 43:32 Ya, ini tiga doktrin yang menguasai 43:34 generasi milenial terjebak tuh tadi 43:37 dengan apa yang mereka hembuskan dan itu 43:40 mereka lakukan secara terstruktur, 43:42 sistematik dan masif. 43:45 Masuk pada seluruh relung-relung 43:47 kehidupan, termasuk relung keagamaan, 43:49 menuding. Jangan kira 43:51 eee banyak hal 43:53 pengabaian, penyusupan mereka itu karena 43:56 terstruktur, sistematik, masif, masuk ke 43:58 tempat-tempat strategis. Heeh. Ke 44:00 sekolah boarding yang bernuansa agama 44:02 dan sebagainya. Jadi, Bapak 44:04 eee tentu 44:06 anak Bapak perlu dicerahkan untuk 44:09 mengcounter tiga doktrin tadi. Ini bukan 44:11 fitrah, tidak mungkin 44:14 Allah mengatakan fitrah itu sebagai 44:16 sesuatu yang bertentangan. 44:18 Apa yang kemudian bisa kita 44:20 bantah pertama? 44:22 Penciptaan manusia apa? Adam sama 44:24 George. 44:26 Penciptaannya Nabi Adam dengan Siti 44:28 Hawa, [tertawa] he eh, he eh. Dan terus 44:30 berabad-abad bertahun baru kemudian Nabi 44:32 Luth. 44:34 Jadi, jelas sejarah itu menggambarkan 44:37 ini penyimpangan, ya. 44:39 Yang memang dilakukan oleh segelintir 44:41 manusia yang saat itu sudah Allah 44:43 berikan peringatan-peringatannya. 44:46 Nah, cuma memang karena tadi dunia 44:49 kedokteran sendiri, Mbak Nuning, He eh, 44:50 he eh. itu mengalami degradasi ke 44:53 keputusan, kesimpulan. 44:55 Sampai tahun 2000 seluruh dunia 44:59 menyatakan ini penyimpangan. 45:01 Seluruh dunia, literasi mana pun sampai 45:04 tahun 2000 itu bahwa ini adalah 45:06 penyimpangan. 45:07 Tapi ketika penguasa dikuasai oleh 45:10 orang-orang yang memang punya orientasi 45:11 seksual menyimpang, itu sejarah 45:13 perjalanan LGBT bisa kita buka. 45:17 Jadi, diagnosis yang di Amerika yang 45:19 dikatakan tadi itu bukan penyimpangan, 45:21 itu dimulai karena penentu kebijakannya 45:24 homoseksual. 45:26 A oh. Jadi, memang ini yang dikatakan 45:28 terstruktur sistematis dan masif yang 45:29 menyebabkan literasi 45:32 referensi yang kemudian dunia milenial 45:34 itu seolah 45:36 oh iya, menerima ini. Ini hak azasi, ini 45:39 kodrat Tuhan, dan ini enggak perlu 45:40 disembuhkan. Ketika kita melakukan upaya 45:42 itu dianggap melanggar hak azasi 45:44 dan melanggar juga kodrat Tuhan. 45:47 Padahal sekali lagi, kita banyak bukti 45:51 yang telah memberikan hasil ketika dia 45:54 tahu bahwa posisi ini sebetulnya adalah 45:57 penyimpangan. He eh, he eh. Dan sama 45:59 seperti perilaku tadi fobia, perilaku 46:02 tadi post-traumatic bisa. Semua 46:04 dilakukan upaya untuk perbaikan dan 46:07 pemulihan. 46:08 Dan tentu kepada ahlinya. 46:10 Karena dunia kedokteran dan psikologi 46:14 juga dua cabang. He em, he em. 46:16 Ada yang beraliran sudah tadi memenuhi 46:19 tiga doktrin tadi, sudah memang itu 46:20 sudah begitu, lanjutin saja. Oh, sudah 46:22 makin subur. Kalau ketemu terapis yang 46:24 memang alirannya aliran seperti itu. 46:26 Iya. 46:27 Tapi jangan khawatir tetap masih banyak 46:30 ya, tokoh-tokoh cendekiawan yang memang 46:33 tetap mempertahankan 46:36 nilai-nilai azasi yang betul azasi. 46:39 Jadi kesalahan azasi itu lupa, bukan 46:42 pada hak. 46:44 Ada kewajiban azasi. 46:46 Nah, ini yang mereka tidak ungkap, ya 46:48 sebagai sesuatu bagian keseimbangan, 46:51 kita tidak bisa hanya bicara hak azasi. 46:55 Ada kewajiban azasi. Apa itu kewajiban 46:57 azasi? Adalah apa yang tentu sang 47:01 pencipta telah garisbawahi melalui 47:04 tuntutan-tuntutan kenabiannya terhadap 47:06 kehidupan masyarakat seperti apa. Tidak 47:08 ada kitab suci di manapun di dunia ini 47:11 yang sampai sekarang menjadikan rujukan 47:13 itu sebagai suatu penyimpangan dianggap 47:16 adalah hak azasi dan kodrat. 47:19 Jadi sebetulnya itu bisa ditanggulangi 47:24 dengan cara-cara yang memang tidak mudah 47:26 ya, Dok. Betul. Eh, ini kebetulan sekali 47:29 mirip dengan yang sedang kita bahas. 47:31 Mendengar ini, Mbak Nunung, saya jadi 47:34 ingat ada tetangga saya itu punya anak 47:38 lima perempuan semua, pengin banget 47:40 punya anak laki-laki sampai sedemikian 47:43 rupa dan ketika kemudian Allah 47:46 memberikannya 47:48 anak itu setelah dia remaja ternyata 47:51 jadi 47:53 eh, suka dengan sesama jenis. Keluar 47:55 laki-laki sih. Eh, keluarnya tapi 47:57 perempuan salah-salah, keluarnya 47:59 perempuan lagi tapi dia ber 48:03 pikir, bersikap, berperasaan seperti 48:06 laki-laki. Apakah ini kesalahan orang 48:08 tua yang ngotot banget pengin punya anak 48:12 laki-laki sementara dalam kandungannya 48:14 perempuan jadi 48:15 seperti anak laki-laki. Mohon 48:17 penjelasan, Dok. Terima kasih. 48:19 Iya, dinamika setiap kasus beda-beda. He 48:22 em, he em. Itu contoh yang juga sering 48:24 terjadi. 48:25 Keinginan orang tua 48:28 lalu berbeda. 48:31 Pengin 48:32 perempuan gitu kan. 48:35 Tiba-tiba laki-laki. Ini pengin 48:36 laki-laki tiba-tiba perempuan gitu kan. 48:39 Sehingga semua perangkat sudah terpenuhi 48:42 semua laki-laki 48:43 bajunya warna ini gitu kan. 48:46 Tiba-tiba berbeda. 48:48 Sehingga 48:49 bisa jadi bagian yang kemudian dia tidak 48:53 terima tadi masih melekat. 48:55 Dan si anak kebetulan diperlakukan kayak 48:57 gitu merasa 49:00 Iya, iya. Tapi tidak selalu, tidak 49:01 selalu 49:03 modus atau motifnya seperti itu semua. 49:06 Ya. Tapi yang jelas ini bukan kodrat. 49:11 Tadi kan, tadi kan pengin laki berarti 49:12 di kehamilannya gitu kan mempengaruhi 49:15 semua struktur yang kemudian ada pada si 49:17 anak, bukan. He em, he em. Ya, 49:19 penelitian sudah membuktikan 49:21 secara 49:23 jelas tentang bagaimana bedah otak yang 49:26 kemudian dikatakan antara otak 49:29 penyimpang seksual dengan otak 49:30 heteroseksual itu beda, 49:32 itu bedanya bukan dari lahir. Bedanya 49:35 setelah dia melakukan penyimpangan. Iya, 49:37 iya. 49:38 Jadi mudah-mudahan 49:40 jangan bermula dengan saling 49:42 menyalahkan. 49:44 Tadi kan ini apa kesalahan. Iya, merasa 49:46 dia karena berpikir pengin banget terus 49:48 anaknya jadi kayak gitu. Lakukanlah 49:50 tetap cara-cara praktis yang tentu Allah 49:53 Maha Pengampun. 49:54 Allah Maha Pengasih dan Penyayang, ya. 49:56 Lakukan perbaikan, lakukan ikhtiar, 49:59 insyaallah langkah-langkah pemulihannya 50:02 masih terbuka untuk bisa diperbaiki. 50:04 Amin, insyaallah. Emm, ini satu lagi 50:07 bisa yang terakhir dari Ibu Yuniar. 50:10 Assalamualaikum, Dok. 50:11 Waalaikumsalam. Saya pernah difitnah 50:13 oleh anak sambung saya, laki-laki dua 50:16 orang. 50:17 Tuduhannya mencuri perhiasan almarhum 50:19 ibunya. Yang sampai sekarang enggak 50:21 terbukti dan memang saya tidak melakukan 50:23 itu. Sampai sekarang ada rasa yang 50:26 saya jadi tidak mau berkumpul dengan 50:28 anak-anak ini, dengan anak-anak suami 50:30 saya ini. 50:31 Enggak dendam sih, Dok, tapi saya merasa 50:34 enggak ah, enggak ah. 50:35 [terkesiap] 50:36 Enggak mau sering ketemu apalagi dengan 50:38 anak sambung saya tersebut. 50:41 Dok, apakah ini bisa disebut penyakit? 50:43 Saya 50:44 punya rasa enggak nyaman terhadap 50:46 anak-anak itu, Dok. Terima kasih 50:48 penjelasannya. Ya, Ibu yang disayangi 50:50 Allah, ya, tentu 50:52 dinamika itu kita bisa rasakan, ya, 50:54 bagaimana sebuah 50:56 kondisi kebenaran dengan apa yang 50:59 dituduhkan menjadi sesuatu yang berimbas 51:02 pada fitnah. 51:02 He em, he em. 51:03 Nah, tentu langkah yang tetap harus kita 51:06 lakukan, bagaimana Islam mencoba untuk 51:09 menempatkan situasi ini, ya. Kita 51:11 dituduh, ya. 51:13 Lalu kemudian tentu berimbas pada 51:15 hubungan relasi. 51:17 Eee, silakan nanti Ibu buka surat Al 51:19 Imran 130, 131, ya. 51:22 Allah menegaskan ada 51:25 tiga kriteria ketika kita dianggap layak 51:28 untuk mendapatkan ampunan dan surganya 51:30 Allah. He em, he em. Wasari'u ila 51:32 magfiratin mirabbikum wajannatin 51:35 arduhasamawat u'iddatilmutaqin. Apa tiga 51:37 karakternya? 51:39 Alladzina yunfiquna fissara waddara. Ibu 51:42 biasakan 51:43 saat dengan problematika ini 51:46 tebarkan infak 51:48 dengan segala kemampuannya, ya. Punya 51:51 harta infakkan, ya. 51:53 Punya ilmu infakkan. 51:55 Aduh, enggak punya harta, enggak punya 51:56 ilmu. Ya, dengan tubuh 51:59 senyum. 52:00 Kepada setiap aktivitas, ya. Hadapi juga 52:03 tadi yang dikatakan tadi anak yang 52:05 memfitnah. Hadapi dia dengan senyum. 52:07 Tetap. 52:08 Yang kedua wal kaziminal ghoizo. Kita 52:10 terjebak dengan emosi. 52:12 Tahan. 52:13 Karena itu kita akan terbawa lagi dengan 52:16 apa yang disebut unfinished emotion 52:17 namanya. Enggak berkesudahan. 52:19 Tahan. Nah, ini dahsyatnya Alquran tadi. 52:22 Wal afina aninnas. Forgiveness terapi. 52:26 Senyum, memaafkan itu dua kata yang 52:29 tidak boleh kita tinggalkan begitu ya. 52:31 Oke, Dok. Sayang sekali kalau ini tidak 52:33 disampaikan dari Bapak Asraf. Dok, saya 52:36 punya ponakan ngidap skizofrenia. 52:39 Jadi, pasien di Rumah Sakit Marzoeki 52:41 Mahdi. Umurnya itu sudah 50 tahun, Dok. 52:44 Sudah tamat kuliah. Gelarnya insinyur, 52:47 tapi sampai sekarang enggak seperti 52:49 orang dewasa. Tetap seperti anak-anak. 52:51 Apakah ini akan seumur hidup, Dok, minum 52:54 obat? Tolong penjelasannya dan nanti 52:56 minta nomor teleponnya ya, Mbak Nuning. 52:58 Oh, oke. 52:59 [tertawa] 52:59 Ya. 53:00 Skizofrenia disebut pecah kepribadian. 53:04 Kepribadian itu terukur pada tiga, 53:06 pikiran, perasaan, perilaku. Nah, pada 53:08 orang skizofrenia pecah, ya. 53:10 Nah, tentu ikhtiar-ikhtiar yang tadi 53:13 Bapak sudah lakukan, kami yakin itu 53:15 sudah merupakan juga cara kita 53:17 menghadapi 53:18 apa yang diamanahkan seorang anak ya, 53:21 yang sudah 50 tahun dengan skizofrenia. 53:24 Nah, apakah kemudian ini akan 53:26 berkelanjutan? Ya, tentu. Karena tadi 53:29 ya, pecahnya kepribadian ini 53:32 merusak tatanan dia di dalam 53:34 berperilaku, mengekspresikan, 53:37 kemudian juga melakukan 53:39 tindakan-tindakan, 53:40 dan sampai ada berpikiran tadi. 53:42 Tergantung nih ya jenis skizofrenia 53:43 macam-macam ada skizofrenia paranoid 53:45 namanya curigaan ya dia 53:47 dilirik Mbak Nuning dianggap sudah akan 53:50 mencelakai, orang meludah dianggap 53:52 [tertawa] 53:53 pokoknya semua sikap itu diartikan 53:55 negatif makanya disebut skizofrenia 53:57 paranoid 53:58 ada yang kemudian skizofrenia hebefren 53:59 kacau sekali ya 54:01 ee dia tidak bisa melihat realita nah 54:04 jadi Bapak 54:05 tidak ada penyakit yang tidak bisa 54:07 dipulihkan itu hukumnya 54:09 tidak mungkin Allah menimpakan suatu 54:11 kondisi yang kemudian tidak juga sudah 54:14 disertai solusi 54:16 nah solusinya tentu harus komprehensif 54:19 yang pertama bukan hanya obat tadi ke 54:22 Bapak katakan obat itu sebagai suatu hal 54:24 yang betul itu tapi bukan satu-satunya 54:27 faktor kedua itu tadi bagaimana potensi 54:30 yang masih dia miliki untuk terus 54:32 dibangun makanya di setiap rumah sakit 54:34 punya tempat rehat 54:36 rehat itu dalam rangka memilih dan 54:39 memberikan potensi yang 54:41 tepat untuk dirinya 54:43 nah ketiga perubahan sosial nah lakukan 54:46 modifikasi karena 54:47 ee dia butuh suatu nuansa yang cocok ini 54:52 contoh ilustrasinya kenapa kalau di 54:53 rumah marah-marah gitu kan 54:56 dirawat di rumah sakit kan kenapa di 54:58 rumah sakit bisa tenang 55:00 karena semua sistem mulai daripada 55:02 perawatnya dokternya psikiaternya 55:04 membangun sebuah lingkungan yang itu 55:06 yang mestinya di replikasi di rumah 55:09 jadi perubahan sosial itu harus juga 55:11 dilakukan nah yang keempat ini juga 55:12 tidak kalah penting yaitu spiritual 55:14 religi 55:15 jadi sudah diobati melakukan juga 55:17 perubahan-perubahan fungsi-fungsi 55:20 psikologi dia melakukan 55:22 modifikasi tentang tadi aspek sosial dia 55:25 dan tetap mengarahkan dia pada aspek 55:28 spiritual religi yang tetap sesuai ya 55:31 dengan kemampuannya ini sudah kita tahu 55:33 orang biasa saja salat lima waktu belum 55:35 tentu bisa gitu kita menentukan target 55:38 yang begitu tinggi dari sesuatu hal yang 55:41 harus jangan 55:42 eee diberatkan karena Allah mengatakan 55:45 la yukallifullahu nafsan illa wus'aha. 55:47 Allah tidak membebani hambanya sesuai 55:48 kemampuannya. Jadi, orang skizofrenia 55:50 itu pada batas tertentu memang 55:52 tidak lagi dihukumi secara total. 55:55 Dia harus bertahap dengan kemampuannya 55:57 di dalam konteks-konteks yang sesuai 55:58 kemampuannya. Insya Allah, Pak, selalu 56:00 ada solusi yang bisa diterapkan kalau 56:03 empat faktor tadi dijalani. 56:05 Insya Allah bisa. 56:06 Insya Allah. Dan nomor telepon dokter 56:09 ditunggu nih, nomor berapa? 08 11 11 276 56:14 276 1963 56:16 1963. 56:19 Jadi, untuk yang mengajukan pertanyaan 56:22 tapi belum sempat karena waktu kita 56:24 sudah di penghujung, bisa dengan nomor 56:26 ini tapi WA dulu karena dokter pasti 56:28 sibuk banget ya. 56:30 Baiklah, eee closing statement, Dok. Ya. 56:33 Karena kita bicara tentang waktu, Allah 56:35 juga sangat tegas dengan surat Al Asr 56:38 yang artinya juga demi waktu. 56:40 Wal Asr, demi waktu. Allah katakan innal 56:43 insana lafi khusr. 56:45 Sesungguhnya orang yang tidak mengelola 56:46 waktu, Allah katakan akan rugi. 56:49 Nah, bagaimana cara untuk beruntung? 56:51 Yang pertama, illalladzina amanu. 56:54 Agar waktu itu kita kelola baik itu yang 56:56 masa lalu, masa depan, masa kini, selalu 56:58 diisi dengan nilai-nilai keimanan dan 57:00 ketakwaan. 57:01 Yang kedua, wa amilus shalihat. 57:04 Kalian harus berkarya. 57:06 Berkarya sesuai dengan kemampuannya. 57:08 Allah tidak membebani sesuai tadi 57:09 kemampuan orang beda-beda. 57:12 Yang ketiga, wa tawashau bil haqq. 57:14 Jangan pernah putus asa, harus terus 57:17 bertawas, berwasiat di dalam kebenaran. 57:20 Dan yang keempat, wa tawashau bis 57:23 dan sikapi itu juga dengan kesabaran. 57:25 Mudah-mudahan dengan iman, 57:27 amal saleh, 57:28 selalu pada nilai-nilai kebenaran dan 57:30 kesabaran, pasti waktu itu akan menjadi 57:34 bermanfaat dan beruntung. 57:37 Astaghfirullah atau masya Allah atau apa 57:39 nih yang jelas. Apa yang dibahas kali 57:42 ini betul-betul eh mengembalikan kita 57:45 pada kesadaran bahwa berkubang di dalam 57:48 kesedihan atas masa lalu, buang saja. 57:52 Apalagi itu, yang jelas adalah tempat 57:54 bersandar kita hanya Allah semata. 57:57 Dan kalau yang kita rindukan sekarang 58:00 enggak ada, nanti di sana disediakan 58:02 insya Allah ya. Begitu ya, Dok ya. 58:04 Iya. Terima kasih untuk kebersamaan ini 58:06 sekali lagi sebelum kita berpisah 58:07 08112761963 58:12 adalah nomor yang eh Dokter Fidiansyah 58:15 berikan tadi. 58:17 Tolong di-WA dulu saja ya. 58:19 Baik, sekali lagi terima kasih. Billahi 58:21 taufik wal hidayah. Wassalamualaikum 58:23 warahmatullahi wabarakatuh.