Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 oleh malaikat Raqib dan Atid. 0:03 Nah, Ikhwan Akhwat sekalian yang 0:04 dirahmati Allah, untuk itu, ya, untuk 0:08 eh, memenuhi 0:11 apa, penjelasan Allah betapa pentingnya 0:14 kata-kata itu dari diri manusia, karena 0:17 menggunakan kalimat yang tidak biasa, 0:19 ya, dalam penjelasan perintahnya, 0:21 menggunakan kalimat negasi atau istisna 0:24 ma yalfizu min qaulin illa ladaihi 0:26 raqibun atid tadi itu, maka Allah pun 0:29 menjelaskan 0:30 kata-kata itu ada khusus, nah, 0:34 enggak bisa sembarangan dia itu. 0:37 Kenapa? Karena begitu diucapkan langsung 0:39 dicatat, begitu, ya. 0:41 Jadi, enggak bisa kita misalkan begini, 0:43 kata-kata saya sampaikan satu kata-kata, 0:46 terus saya bilang begini, "Kalau dia 0:48 sakit hati, ya, bukan salah saya, kan 0:50 niat saya baik." Gitu, misalkan gitu, 0:51 ya. Enggak bisa. 0:53 Gitu. Kenapa? Karena ada bentuk jenis 0:57 perkataan yang tidak boleh diucapkan eh, 1:00 sembarangan. Eh, ini jenis A, harus 1:04 diucapkan kepada anu, kepada itu, tidak 1:06 boleh diganti-ganti gitu sembarangan, 1:08 enggak boleh. 1:10 Apalagi kemudian kita beralasan, "Niat 1:12 saya kan baik bicara begitu." Enggak 1:13 bisa. Kalau salah penempatannya, maka 1:16 yang salah adalah orang yang bicara. 1:19 Nah, ada delapan plus satu 1:22 perkataan, ya, di dalam Alquran itu, 1:25 yang delapan itu adalah qaulan layyina, 1:28 qaulan ma'rufa, qaulan sadida, qaulan 1:32 karima, qaulan maisura, qaulan azima, 1:35 qaulan baligha, dan qaulan saqila. Ini 1:37 jenis-jenis perkataan atau kata-kata, 1:40 qaulan, ya. 1:41 Nah, plus satu, plus satunya apa? Yakni 1:44 ahsanu qaulan, pada surat Fussilat ayat 1:47 33, ada perkataan yang terbaik di antara 1:50 semuanya, namanya ahsanu qaulan, ya. 1:52 Jadi, delapan tadi plus satunya, satunya 1:55 adalah kata-kata terbaik, da'a ilallah 1:58 wa amila sholihan wa qola innani minal 2:00 muslimin" pada surat ke-41 ayat ke-33. 2:04 Nah, 2:06 delapan plus satu kata-kata tadi, 2:07 misalkan "qoulan karima" perkataan yang 2:10 mulia, surat ke-17 ayat 23, surat 2:13 Al-Isra itu ditujukan kepada kedua orang 2:15 tua dan guru-guru. Eee, nanti bahkan 2:19 kepada mahaguru kita yakni Rasul 2:21 Shallallahu Alaihi Wasallam dalam surat 2:22 Al-Hujurat surat 49 ayat kedua itu, eee, 2:26 dan ketiga itu kita tidak boleh eee, 2:29 berkata-kata kepada guru, dalam hal ini 2:32 kepada mahaguru yakni Rasulullah 2:34 Shallallahu Alaihi Wasallam sembarangan 2:35 seperti berkata-kata kepada orang lain 2:37 enggak boleh. 2:39 Kalimatnya "Auzubillah himinas 2:40 syaitonirojim ya ayyuhalladzina amanu la 2:41 tarfa'u ashwatakum fauqa sautin nabi 2:44 kajahri ba'dikum liba'din antahbatha 2:46 a'malakum wa antum la tasy'urun". Wahai 2:49 orang beriman jangan kalian tinggikan 2:51 suara kalian di depan nabi sebagaimana 2:54 kalian bicara kepada sesama kalian. 2:57 Kenapa? Karena itu akan menghapuskan 2:59 amal ibadah perbuatan kalian sementara 3:02 kalian tidak sadar. Nah, itu 3:04 konsekuensinya luar biasa dan para ulama 3:06 menjelaskan itu kepada mahaguru yakni 3:09 Rasulullah, Rasulullah punya pewaris 3:11 yakni ulama, para guru-guru kita, 3:14 "warasatul anbiya" juga kita punya adab 3:17 yang sama kepada beliau-beliau itu. 3:20 Gitu. Jadi kalau orang tidak dijelaskan 3:22 ini, ya mungkin dia akan membantah, dia 3:25 akan eee, punya attitude, punya punya 3:27 kelakuan yang tidak dia jaga di depan 3:29 ulama-ulama, para guru-guru kita yang 3:32 yang baik, yang benar, yang merupakan 3:34 betul-betul pewaris para nabi, bahaya 3:36 nanti. Nah, demikian pula kepada kedua 3:39 orang tua. Jadi "qoulan karima" itu ya. 3:42 Nah, tidak bisa kita kita katakan "niat 3:44 saya baik, niat saya baik" tidak bisa. 3:46 Kenapa? Karena eee, penyebutannya 3:49 kelirus, eee, apa namanya? Peruntukannya 3:51 juga keliru. Nah, itu contoh sih. 3:55 Nah, jadi Bapak Ibu yang dirahmati Allah 3:56 Ikhwan Akhwat sekalian 3:58 eh delapan kata-kata baik ini nanti kita 4:01 akan kupas pelan-pelan kita pelajari ke 4:03 mana dia ber bermuara. Qaulan layyina 4:06 itu kepada siapa harusnya. Qaulan 4:09 ma'rufa saat kapan, kepada siapa. Qaulan 4:12 sadida kepada siapa. Qaulan karima tadi 4:15 kepada siapa. Qaulan maisura, qaulan 4:17 azima, qaulan baligha, dan qaulan 4:18 saqila. Serta ahsanu qaulan dia. Nah, 4:22 cuma sebelum sampai ke situ ada satu hal 4:25 yang penting yang harus kita bahas 4:28 yakni kata-kata baik tadi 4:31 itu 4:32 rumusnya seperti jungkat-jangkit. Nah, 4:35 jungkat-jangkit itu seperti timbangan 4:37 tuh Bapak Ibu. Jadi, kalau satu sisinya 4:39 turun pasti satu satu sisi yang naik ya 4:42 satu sisi yang lain akan naik. 4:45 Begitu pula kata-kata baik. Kata-kata 4:47 baik itu ada di sisi sebelah kanan gitu 4:49 ya. Nah, kata-kata baik ini akan gampang 4:53 akan mudah kita keluarkan bahkan kita 4:56 tidak perlu repot-repot dengan dengan 4:59 otomatis akan keluar kata-kata baik itu 5:01 saat dibutuhkan, saat kita kapan harus 5:04 bicara baik itu kita bisa 5:06 jadi gini ya Kang Fahri Bapak Ibu dan eh 5:09 apa eh para Ikhwan Akhwat sekalian 5:11 kadang-kadang kita enggak bisa 5:13 kendalikan kata-kata. 5:15 Enggak bisa kadang-kadang kita. 5:17 Kalau sudah marah, kalau sudah apa 5:19 enggak bisa kendalikan kata-kata. Nah, 5:21 caranya supaya secara otomatis 5:23 dikendalikan 5:25 yang keluar adalah kata-kata yang baik 5:27 ternyata kita harus tekan dulu kata-kata 5:30 yang buruk. Nah, 5:32 sepanjang hidup kita ini kita latih 5:34 untuk menekan kata-kata yang buruk 5:37 supaya saat kita tidak tidak lagi bisa 5:39 mengendalikan secara eh sadar kata-kata 5:43 kita eh secara langsung tubuh kita akan 5:46 mengendalikan sendiri yang keluar adalah 5:48 kata-kata yang baik. Nah, jadi untuk 5:51 bisa mudah mengeluarkan kata-kata yang 5:53 baik, ada kata-kata yang harus ditekan 5:55 dulu, yang harus di dihilangkan dulu, 5:58 harus digeser dulu. 6:00 Harus kita latihan untuk tidak lagi 6:03 banyak mengucapkannya, gitu ya. 6:05 Namanya adalah qaulan zur, ini sudah 6:08 kita bahas di pertemuan lalu, kata-kata 6:10 buruk dan satu lagi akan kita bahas pagi 6:13 malam hari ini adalah apa yang disebut 6:16 dalam Alquran sebagai nazghun, ya 6:19 nazghun. 6:22 Ini juga adalah bentuk yang harus 6:25 ditekan, ya saat kita berkata-kata atau 6:28 berbicara, nazghun. Nah, insyaallah 6:30 kalau kalau qaulan zur kemarin kita 6:32 sudah bahas dan nazghun ini betul-betul 6:35 kita tekan, kita 6:37 apa 6:38 geser ya dari dalam kehidupan kita, kita 6:41 latihan untuk tidak banyak mengucapkan 6:43 ini, maka dengan mudah nanti insyaallah 6:45 kita bisa mengeluarkan kata-kata yang 6:47 baik saat dibutuhkan. 6:49 Apa itu nazghun? Pelan-pelan kita buka 6:52 ya. 6:53 Di qaulan zur sudah sudah kita sampaikan 6:55 di pertemuan lalu, 6:57 sekarang kita akan menyampaikan apa itu 6:59 nazghun. 7:01 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah, 7:03 Bapak Ibu sekalian, para pendengar 7:05 siaran Hasil TV di manapun berada. 7:07 Jadi nazghun ya diambil dari bahasa Arab 7:10 dengan sulasi mujarrad atau tiga huruf 7:12 ya dalam bahasa Arab, nun, zai dan gha, 7:16 itu ya, nazghun, 7:18 itu ya. Disebut empat kali di dalam 7:21 Alquran. 7:22 Nazghun. 7:23 Apa dia? Secara sederhana saya jelaskan 7:26 dulu. 7:27 Nazghun itu adalah ee 7:31 cara setan 7:33 menggoda manusia 7:35 terutama saat dia sa saat manusia ini 7:39 dalam kondisi emosional marah, sedih, 7:44 kecewa, ah, dan lain sebagainya. Dalam 7:47 kondisi emosional, kemudian setan masuk 7:50 ke dalam diri manusia ini 7:52 untuk apa? Mendorong manusia supaya 7:55 berbicara saat marah itu tadi. 7:58 Supaya dia berbuat sesuatu saat sedih, 8:01 saat kecewa. 8:03 Ah, saat saat emosional itu ada dorongan 8:06 setan untuk kita pengin ngomong gitu, 8:09 pengin bicara, pengin berbuat sesuatu. 8:12 Nah, saat kita kepingin bicara, berbuat 8:15 sesuatu ketika marah, ketika sedih, 8:17 ketika emosional itu, itulah nazghun. 8:22 Yang dampaknya nanti akan memecah belah 8:25 di tengah-tengah kita. Akan kita sesali 8:28 nanti itu. 8:29 Ah, jadi 8:30 apa itu nazghun? Nazghun adalah trik 8:34 atau cara 8:36 setan khusus, ya. Dia tunggu betul anak 8:40 manusia ini kapan dia marah ini. 8:43 Diintai betul kita itu. Kapan dia marah 8:46 ini? Kapan dia emosional ini? Kapan dia 8:48 kecewa? Kapan dia sedih? Ketika dia 8:50 emosional, marah, kecewa, sedih, di 8:53 situlah masuk setan. 8:55 Setan berusaha sedemikian rupa supaya 8:58 dia bicara. 9:00 Supaya dia eh mengambil tindakan saat 9:02 marah, saat sedih, saat kecewa, dan lain 9:04 sebagainya itu. Ah, jadi dorongan untuk 9:07 bicara, berbuat sesuatu saat marah, saat 9:09 sedih, saat kecewa, itulah nazghun. 9:12 Ah. 9:14 Oke, disebut empat kali dalam Alquran, 9:16 Bapak Ibu. Jadi, kalau kita sudah sudah 9:19 eh bisa mengerti ini nanti, ya, sudah 9:21 kita bisa bisa introspeksi ke dalam diri 9:23 kita, dan kemudian kita latih dia, kita 9:27 tundukkan dia nazghun ini, maka 9:29 insyaallah dengan mudah berikutnya kita 9:31 bisa bicara atau mengeluarkan kata-kata 9:34 yang baik dalam kehidupan kita. 9:36 Oke. 9:37 Mana nazghun? Yang pertama disebutkan 9:39 dalam surah Yusuf, surah ke-12 ayat 9:42 ke-100. Ini contoh nazghun. Ya, yang 9:44 tadi saya katakan ada empat kali ya, 9:45 Bapak Ibu ya. Nah, ini metode tadabbur 9:47 kita. 9:49 Yang pertama, surat ke-12, surat Yusuf 9:51 ayat ke-100. 9:53 Yakni ketika Nabi Yusuf alaihissalam, 9:56 penyebutan nazghun yang pertama, ketika 9:58 Nabi Yusuf alaihissalam 10:00 pada kisah beliau itu, beliau akhirnya 10:03 di kemudian hari menjadi perdana 10:05 menteri, menjadi orang yang eh punya 10:07 jabatan tinggi. 10:09 Lalu 10:10 eh beliau memanggil atau beliau 10:12 mendatangkan Bapak Ibunya. Nah, kemudian 10:15 Bapak Ibunya beliau tempatkan di 10:17 singgasana. 10:19 Warafa'a abawaihi alal arsy, wa kharru 10:21 lahu sujjada. Beliau tempatkan di 10:23 singgasana Bapak Ibunya. Kemudian semua 10:25 orang bersujud hormat kepada beliau. 10:28 Termasuk juga tentu saja kepada Bapak 10:29 Ibunya, yakni Nabi Yakub ya. 10:32 Wa qala, di situlah Nabi Yusuf berkata 10:34 kepada Bapaknya. Wa qala, "Ya abati, 10:36 hadza ta'wilu ru'yaya min qabl. Wahai 10:39 Bapakku, inilah ta'wil mimpi yang dahulu 10:42 saya ceritakan kepada Bapak." Yaitu pada 10:44 ayat keempat ya, ketika beliau eh masih 10:46 kecil menceritakan mimpinya kepada 10:48 Bapaknya. Qad ja'alaha Rabbi haqqo. 10:51 "Sungguh Allah telah menjadikannya 10:52 sebagai sebuah kenyataan." Kata Nabi 10:54 Yusuf. 10:55 Terus kalimat Nabi Yusuf dilanjutkan, 10:57 beliau mengatakan begini, "Wa qad ahsana 10:59 bi. Sungguh Allah telah berbuat baik 11:01 kepada saya, wahai Bapak. Telah 11:02 memberikan banyak kebaikan kepada saya." 11:05 Yang pertama, idz akhrajani minal sijn. 11:07 Ketika Allah mengeluarkan saya dari eh 11:10 penjara. Wa ja'a bikum minal badwi. Dan 11:12 ketika Allah juga telah mendatangkan 11:14 kita sekeluarga dari kampung ke kota 11:17 ini. Kira-kira begitu ya. Nah, ada 11:19 kalimat menarik berikutnya, "Min ba'di." 11:22 Kata Nabi kata Nabi Yusuf, "Min ba'di an 11:25 nazaghasy syaithanu baini wa baina 11:28 ikhwati." Nah, an nazagh. Nazagh begitu 11:31 ya. "Min ba'di anna zaba syaitanu baini 11:34 wa baina ikhwati. Setelah dulu setan 11:37 berhasil memasukkan nazghun ya, nazakh 11:40 tadi itu. Ya, yang kemudian memecah 11:43 belah antara saya dan abang-abang saya. 11:47 Begitu. Eh, jadi min ba'di anna zaba 11:50 syaitanu baini wa baina ikhwati, kata 11:52 Nabi Yusuf. Setelah dulu setan berhasil 11:55 memecahkan saya, antara saya dan 11:57 abang-abang saya. Jadi nazakh, nazghun 12:00 ya. Eh, apa yang dimaksud Nabi Yusuf ini 12:03 Bapak Ibu yang dirahmati Allah? Kembali 12:05 kalimatnya, penjelasannya pada ayat ke-8 12:10 surat Yusuf ya. 12:12 Yakni kita nanti akan lihat bagaimana 12:14 kalimat 12:15 yang diutarakan oleh abang Yusuf. 12:19 Ya, abangnya Yusuf bicara nih kepada 12:22 adik-adiknya. 12:23 Yang kemudian memprovokasi adik-adiknya 12:26 yang sembilan lagi, yang lain. Jadi ada 12:28 total 10 abang-abang Yusuf ya. Karena 12:31 yang satu kan eh, Nabi Yakub itu punya 12:33 12 anak dari empat istri, konon demikian 12:37 dalam berbagai riwayat disebutkan ya. 12:39 Nah, Nabi Yusuf dan Bunyamin ini dari 12:41 istri yang keempat. 12:44 10 anak yang lain itu kemudian bicara di 12:47 antara mereka. Yang tidak diundang 12:49 adalah Nabi Yusuf dan Bunyamin. Nah, 12:51 dalam perkataan mereka, dalam dalam 12:53 meeting mereka itu, eh yang paling besar 12:55 bicara begini pada ayat ke-8. Nah, 12:57 inilah kalimat nazghun, inilah contoh 12:59 kalimat nazghun ya. Nanti akan setan 13:02 pakai eh, juga kepada kita. Ya, jadi 13:05 kita perhatikan bagaimana abang Yusuf 13:07 ini merasa kecewa dia. 13:09 Karena menurut dia Yusuf 13:12 lebih disayangi daripada diri mereka 13:15 oleh bapaknya. Jadi 13:17 kita perhatikan ada rasa ketidakadilan 13:20 yang dirasakan oleh seorang anak dari 13:22 orang tuanya. 13:24 Menurut kita, kalau kalau kita 13:26 perhatikan, oh, wajar dong kalau begitu. 13:29 Seorang anak merasa ee dia tidak-tidak 13:32 lebih disayangi daripada abangnya atau 13:35 daripada adiknya, begitu ya. 13:37 Wajar dong. Nah, ini kita perhatikan. 13:39 Jadi, 13:41 ee apa? Kekecewaan abang-abang Yusuf 13:45 sebetulnya mungkin adalah hal yang wajar 13:47 di awal, tapi kemudian masuk setan, 13:50 ditumpangi oleh setan, ditunggangi oleh 13:53 setan, dan akhirnya menjadi sesuatu yang 13:55 memecah belah. Itulah nazghun itu. 13:58 Ee kalimatnya begini, "Iz qalu dan 14:00 ingatlah ketika dia berkata." Siapa yang 14:02 berkata? Para mufasir menjelaskan bahwa 14:05 ini adalah abang yang paling tua dari 14:07 Yusuf. "Iz qalu, dia berkata, la Yusufu 14:11 wa akhuhu ahabbu ila abina minna." 14:14 Perhatikan kalimatnya. Ini kalimat 14:16 kekecewaan. 14:17 Dia berkata, 14:19 "Sungguh Yusuf dan saudaranya, yakni 14:22 Bunyamin, 14:23 lebih disayangi oleh bapak kita daripada 14:26 kita." Nah, ini kekecewaan ini ya. 14:29 Nah, sebetulnya di sini tuh wajar 14:31 begitu. Ada anak kecewa kepada bapaknya 14:34 bahwa mungkin dia merasa bapaknya kok 14:36 lebih sayang sama adiknya, sama 14:37 kakaknya, begitu ya. Nah, cuma kemudian 14:39 setan masuk dan kita perhatikan 14:41 kalimatnya jadi-jadi naik tuh. 14:44 Jadi, ada tambahan berikutnya tuh. Yakni 14:48 kemudian ada tambahan takabur dengan 14:51 dengan mengatakan, "Wa nahnu usbah." 14:54 "Kok Yusuf lebih disayang ya oleh bapak 14:57 daripada kita?" 14:58 Ee ada kalimat berikutnya, "Wa nahnu 15:00 usbah, padahal kita ini lebih layak 15:03 disayang oleh bapak kita daripada dia." 15:05 Nah, itu kan kalimat takabur. Kalimat 15:07 takabur tadi sebagai hasil dari-dari 15:10 rasa kecewa yang ditunggangi oleh setan. 15:13 Begitu. Padahal kita lebih layak loh. 15:15 Padahal kita yang ini loh. Padahal kita 15:17 yang itu loh. Nah, kalau kita renungi, 15:19 Bapak Ibu, nanti ini polanya sama ya. 15:21 Di-di dalam kehidupan kita sehari-hari 15:23 zaman sekarang pun begitu. Pertama kita 15:25 kecewa, terus kita ungkapkan, setan 15:27 masuk, terus langsung bertambah jadi 15:30 takabur. Padahal kita loh yang kerja, 15:32 padahal kita loh yang begini, padahal 15:33 kita loh yang lebih layak, padahal kita 15:35 sudah begini, padahal kita sudah begitu. 15:37 Itu polanya sama tuh. 15:39 Nafsu. 15:40 Ya, lalu kalimat itu ditutup 15:43 oleh satu kalimat yang judgement, 15:46 penghakiman. 15:48 Gitu, ya. Penghakiman oleh si Abang 15:51 Yusuf ini. Ya, dia mengatakan inna abana 15:54 lafi dholalim mubin, sungguh bapak kita 15:57 ini sudah sesat. 15:58 Ya. 15:59 Gitu. 16:00 Ya, jadi biasanya begitu. Kekecewaan, 16:03 kemudian atau kemarahan, kalau Anda 16:06 ikuti kemarahan itu, Anda ikuti 16:08 kekecewaan itu, mau ngomong rasanya 16:10 pengen ngomong saya ini. Akhirnya 16:12 diikuti ngomong, ah nanti ketambahan ada 16:15 masuk tunggangan setan, ah jadilah 16:17 takabur. 16:19 Wana hnu usbah tadi, harusnya kita. 16:21 Padahal kita yang kerja, padahal kita 16:22 loh yang begini, padahal kita sudah 16:23 berbuat begini, padahal kita sudah 16:25 begini, bla bla bla bla. Ujungnya 16:26 judgement. 16:27 Hmm. 16:28 Wah, ini enggak beres nih. Dia memang 16:29 begitu nih, dia memang anu nih, dia 16:31 memang sengaja nih, dia memang ini nih. 16:32 Ah, itu setan itu. 16:35 Bapak Ibu, 16:37 ikhwan akhwat sekalian, jadi eh masuk 16:39 setan memang tunggu betul kapan datang 16:41 waktunya ini supaya anak Adam ini lengah 16:44 dia di situ. Dia pikir tadi karena 16:46 kekecewaan dia, dia pikir ini sesuatu 16:48 yang wajar, akhirnya dia ungkapkan dan 16:50 di situlah setan masuk. 16:53 Akhirnya, Bapak Ibu, karena pada ayat 16:55 ke-8 tadi Abang Yusuf ini nazghun, masuk 16:59 setan dalam dalam amarah dia, dalam 17:01 emosi dia, dalam ketidakadilan yang dia 17:03 rasakan, 17:05 kalimatnya akhirnya memprovokasi 17:07 adik-adiknya yang sembilan 17:09 pada ayat ke-9-nya, kemudian 17:12 adik-adiknya mengatakan uqtulu Yusuf, 17:15 kita bunuh saja Yusuf. Awit rahu ardhon 17:19 atau kita eee asingkan, kita buang dia 17:22 ke negeri yang betul-betul jauh supaya 17:25 kemudian ya khulu lakum wajhu abikum, 17:27 supaya kalian mendapatkan eee kasih 17:30 sayang bapak kalian tertumpah kepada 17:32 kalian, kepada kita, kata 10 anak ini. 17:35 Bapak Ibu yang dirahmati Allah. Nah, 17:37 yang harus kita perhatikan 17:39 eee 17:42 apa? Rencana membunuh Yusuf itu 17:45 itu bukan serta merta 17:47 tapi ada story-nya, ada behind 17:50 story-nya, ada latar belakangnya, yakni 17:53 apa? Kata-kata kekecewaan yang 17:56 dikemukakan di ayat ke-8, kemudian 17:58 ditunggangi setan di situ, ya, ber 18:01 bercampur dengan dengan eee takabur 18:04 akhirnya dan bercampur dengan judgement. 18:07 Itulah yang muncul rencana untuk 18:09 membunuh Yusuf. Uqtulu Yusuf awit rahu 18:12 ardhon, kita bunuh saja Yusuf atau kita 18:15 lempar dia atau kita buang dia eee apa? 18:18 Ke negeri atau ke tempat, ke daerah yang 18:20 amat jauh. 18:22 Gitu. 18:23 Nah, oh, mungkin ada yang berpikir 18:25 begini, mungkin para ikhwan-akhwat yang 18:27 mendengarkan, para pemirsa Radio Rodja 18:28 TV mungkin berpikir begini. 18:30 Oh, berarti kita enggak boleh marah, 18:31 Ustaz? Bukan. 18:34 Berarti kita enggak boleh ngingetin 18:35 orang yang salah dong? Bukan, bukan itu 18:37 maksudnya. Berarti kita tidak boleh dong 18:40 kalau mengingatkan ada kezaliman? Bukan, 18:42 sama sekali tidak. Silakan Anda 18:44 mengingatkan orang yang zalim. Kalau ada 18:47 kesalahan, silakan mengingatkan, silakan 18:49 menegur, memberikan eee penjelasan bahwa 18:51 sesuatu itu salah. Dan tentu saja boleh, 18:55 wajar saja. Marah itu wajar, bukan boleh 18:58 ya, tapi wajar saja. 18:59 Tapi, saat kita marah, saat kita kecewa, 19:03 saat kita sedih, merasa tidak adil dan 19:05 lain sebagainya tadi, jangan dulu 19:08 bicara. 19:10 Gitu. Jangan ikuti rasa kepingin bicara 19:13 itu. Jangan ikuti rasa kepingin ngomong 19:16 gitu, kepingin 19:17 apa mengeluarkan sesuatu itu, jangan. 19:19 Kenapa? Karena itulah setan. 19:22 Heeh. 19:23 Gitu. Tunggu dulu. 19:25 Sampai kemudian reda marahnya, reda 19:27 sedihnya, reda kecewanya, reda 19:30 emosionalnya, baru kita bicara. 19:32 Nah, ini. Ini kelihatannya mungkin 19:35 sepele ya. Tapi Bapak Ibu yang dirahmati 19:38 Allah, ini betul-betul ditunggu oleh 19:40 setan. Kapan lengahnya ini? Kapan 19:42 datangnya ee apa emosi itu? Dan dia 19:45 selalu siap. Begitu kita emosional, ah 19:48 dia masuk untuk ee apa mendorong kita 19:51 supaya kita bicara, akhirnya keluar 19:53 kata-kata dan akan kita sesali 19:55 selama-lamanya. Bapak Ibu yang dirahmati 19:58 Allah. 19:59 Nah, ini contoh Nabi Yusuf ya. 20:02 Kemudian contoh berikutnya supaya jelas 20:04 ya dari nazgun ini adalah Nabi Musa 20:08 alaihissalam. Bapak Ibu. 20:09 Ya. 20:09 Ee Nabi Musa ini luar biasa ini ya. Nabi 20:12 Musa ini, para jemaah sekalian, para 20:16 para pendengar Radio Rasya serta para 20:18 pemirsa Rasya TV di manapun berada. 20:21 Nabi Musa itu orangnya temperamen tuh 20:24 dia, beliau itu. Nabi Musa itu orangnya 20:26 temperamen. Ee jadi pernah beliau marah 20:29 ya. 20:30 Beliau tuh terekam dalam Alquran marah 20:33 dua kali. 20:34 Heeh. 20:34 Marah yang pertama terjadi 20:37 di surat ke-28, surat Alqasas ayat 20:39 ke-15. Ya, silakan Bapak Ibu, ikhwan 20:42 akhwat kalau pengin membuka mushafnya 20:43 silakan atau dicatat nanti ee di di apa 20:46 dibuka lagi untuk betul-betul kita tahu 20:49 bagaimana petunjuk Allah kepada kita. 20:52 Di ayat itu, ayat ke-15 itu dikisahkan 20:55 beliau itu wadakholal madinah, beliau 20:57 masuk ke dalam satu kota ketika anakhili 21:00 goflatimin ahliha ketika para penduduk 21:03 kota itu sedang ee tidur ya kira-kira 21:06 malamlah gitu ya, sedang tidak sedang 21:08 lengah atau sedang tidak ada. 21:11 Beliau 21:13 melihat dua orang laki-laki yang 21:16 sedang saling bunuh, apa, saling 21:19 berkelahi, ya, saling bunuh-membunuh, 21:21 kira-kira begitu ya, perkelahian yang 21:23 amat sengit. Nah, dari dua orang yang 21:25 berkelahi ini, satu dari musuh dia dan 21:27 satu dari musuh satu dari, 21:31 apa, dari 21:32 musuh dia, dari musuh Yusuf, eh, 21:36 dari musuh Musa, yang satu lagi dari 21:38 golongan Musa. Begitu dia lihat, oh, 21:40 rupanya kenal nih, gitu ya, saudaranya 21:42 lah, kira-kira begitu ya. 21:45 Lah, yang dari saudaranya ini, yang dari 21:47 kaumnya ini, dalam dalam keadaan kalah. 21:50 Kemudian dia minta tolong kepada Nabi 21:52 Musa, 21:56 yang dari golongannya ini minta tolong 21:58 kepada Nabi Musa, "Tolongin saya dong, 22:00 tolongin saya dong." Kira-kira begitu 22:02 ya, dalam keadaan kalah sedang berkelahi 22:04 itu. Lalu 22:07 karena Nabi Musa kenal sama dia, tahu 22:10 sama dia, tahu ini dari golongannya dan 22:12 dalam keadaan kalah, kalau kita 22:14 perhatikan wajar kalau kemudian Nabi 22:16 Musa menolong menolong orang ini. Bapak, 22:19 Ibu yang dirahmati Allah, adalah karena 22:21 ada kemarahan yang diikuti tadi itu, ya, 22:24 kalimatnya 22:30 kemudian dipukul oleh Musa orang ini. 22:34 Karena marah, emosi Musa tadi itu, maka 22:37 dipukul 22:38 satu orang ini yang dari musuhnya tadi 22:40 itu, maka dia pun meninggal, mati orang 22:44 itu, sekali pukul, Bapak, Ibu yang 22:46 dirahmati Allah. Mati 22:49 dia sekali pukul. Karena karena marah 22:52 tadi itu ya. Kalau kita perhatikan 22:55 tolong tolong kita pahami bahwa 22:57 kelihatannya wajar Nabi Musa melihat 22:59 ketidakadilan 23:01 di depan mata beliau, melihat orang 23:03 minta tolong di depan mata beliau, tapi 23:06 karena adanya kemarahan maka setan masuk 23:08 menunggangi dan akhirnya terjadi dipukul 23:11 mati. 23:12 Setelah sadar, Nabi Musa mengatakan pada 23:14 lanjutan kalimatnya, "Qala haza min 23:17 amali syaitan, ini betul-betul perbuatan 23:20 setan." Kata Nabi Musa. 23:22 "Perbuatan setan ini. Innahu aduwum 23:24 mubinul mubin, sungguh setan itu amat 23:27 menyesatkan dan betul-betul nyata 23:29 permusuhannya kepada manusia." Nah, cuma 23:32 sadarnya sudah terlambat Nabi Musa. 23:34 Akhirnya sudah terjadi, orang itu sudah 23:36 mati sekali pukul. 23:39 Apakah kita tidak boleh dalam satu 23:41 keadaan kita membela orang yang 23:43 terzalimi? Boleh. 23:45 Tentu, harus kita membela bahkan, gitu 23:47 ya. Tapi jangan kita ikuti marah kita. 23:51 Begitu kita lihat, "Oh, ini kayaknya 23:52 orang saya kenal ini. Ini saudara saya 23:54 ini. Oh, dia dizalimi." Lalu bangkit 23:56 marah kita, gitu ya. Eee nanti kalau 23:58 kita ikuti marah itu eee jadi melenceng. 24:02 Padahal awalnya benar, padahal awalnya 24:04 adalah eee sesuatu untuk de- sesuatu itu 24:07 dilakukan dengan jalan yang benar, tapi 24:09 karena diikuti marahnya, karena diikuti 24:12 tadi rasa emosionalnya, maka setan 24:15 menunggangi dan akhirnya ujungnya tidak 24:18 berakhir dengan baik. 24:20 Yang kedua, Nabi Musa pernah marah, 24:23 Bapak Ibu, Ikhwan Akhwat sekalian yang 24:25 dirahmati Allah, pernah marah Nabi Musa 24:28 kepada Nabi Harun, yakni saudara beliau. 24:32 Eee ini luar biasa. Sekali lagi kita 24:34 akan saksikan, wajar dong Nabi Musa 24:37 marah, gitu ya. Bahkan ada kalimat nanti 24:40 beliau sedih, gitu ya. Marah karena 24:42 sedih dan kecewa. Bagaimana enggak 24:44 sedih, bagaimana enggak kecewa? 24:46 Eee beliau tinggalkan kaumnya kepada 24:48 saudaranya Harun, beliau titipkan. 24:52 Ini adalah kaum Musa yang baru saja 24:55 mendapatkan pertolongan besar dari Allah 24:58 Subhanahu Wa Ta'ala berupa dibelahnya 25:00 lautan. Mereka melewati lautan itu 25:03 dengan selamat, lalu mereka menyaksikan 25:05 di depan mata mereka Firaun yang 25:07 merupakan pemimpin adidaya ketika itu 25:09 tenggelam di lautan. 25:11 Eee peristiwa besar itu seolah-olah 25:14 tidak ada apa-apanya. 25:16 Ketika 40 hari ditinggal oleh Nabi Musa 25:19 memenuhi panggilan Allah, begitu Nabi 25:21 Musa kembali kepada kaumnya yang 25:23 dititipkan tadi kepada Nabi Harun, 25:25 kaumnya sudah menyembah berhala. 25:28 Seolah-olah eee yang laut terbelah tadi 25:31 seolah-olah enggak ada apa-apanya. 25:33 Seolah-olah itu 25:34 baru seolah-olah itu tidak pernah 25:36 terjadi, kira-kira begitu. Eee kembali 25:38 lagi mereka menyembah berhala. Betapa 25:40 kecewanya Nabi Musa, betapa sedihnya dan 25:43 marahnya beliau, begitu ya. 25:46 Tapi lagi-lagi tidak boleh diikuti marah 25:49 itu. 25:50 Enggak boleh diikuti marah itu. Nanti 25:51 yang salah itu yang akan yang akan 25:54 maksud saya yang akan gembira itu setan. 25:56 Gitu, padahal dasarnya benar. Tapi 25:59 karena diikuti marahnya, kalau diikuti 26:02 yang akan menang itu setan. 26:04 Eee kalimatnya pada surat ke-7, surat 26:05 Al-A'raf ayat ke-150. Ya, silakan ikhwan 26:09 akhwat, Bapak Ibu mau buka mushaf, 26:11 silakan. 26:12 Atau yang eee lihat layar Hasil TV, di 26:14 layar saya tampilkan surat ke-7 Al-A'raf 26:17 ayat 150. Kalimatnya begini. 26:20 Walamma roja'a Musa ila qaumihi 26:24 Dan ingatlah ketika Musa kembali kepada 26:26 kaumnya setelah 40 hari beliau dipanggil 26:28 Allah, begitu ya. Dipanggil untuk apa? 26:30 Untuk menerima wahyu Taurat. Nah, beliau 26:33 pulang itu membawa lembar-lembar Taurat, 26:36 ya, baru saja turun wahyu kepada beliau. 26:39 Walamma roja'a Musa ila qaumihi 26:41 ghadbanan 26:43 asifan 26:44 Beliau kembali dalam keadaan betul-betul 26:48 marah dan sedih, kecewa beliau. Kecewa 26:52 dan marah. Kecewa, sedih dan marah. 26:55 Kenapa? Menyaksikan kaumnya 26:57 sudah kembali menyembah berhala. 26:59 Kemudian beliau mengatakan, 27:01 "Bisa mah kholaqtumuni min ba'di, 27:02 sungguh celaka yang kalian lakukan 27:04 setelah 27:05 saya meninggalkan kalian, ajiltum amro 27:07 robbikum, apa kalian ingin mendahului 27:10 apa? Allah." Kira-kira begitu. Nah, lalu 27:13 kalimat berikutnya. 27:16 Wa alqol alwah, beliau melemparkan itu 27:19 alwah jamak dari kata lauh atau 27:22 lembaran-lembaran Taurat yang baru saja 27:24 beliau terima. 27:26 Jadi saking temperamennya itu, kitab 27:28 suci itu dilempar oleh Nabi Musa itu. 27:31 Bayangkan kalau sekarang berarti Qur'an. 27:33 Orang marah Qur'an dilempar, itu kan 27:35 luar biasa marahnya kan dia. 27:37 Itu saking temperamennya Nabi Musa, 27:39 dilempar. Wa alqol alwah. 27:41 Kitab suci dilempar oleh beliau, saking 27:44 marahnya dan kecewanya ya, sedihnya. Wa 27:47 alqol alwah, wa akhodza biro'si akhihi 27:50 yajurruhu ilaih, kemudian beliau 27:52 memegang 27:54 jenggot 27:55 Nabi Harun dan ditarik ke arah beliau. 27:58 Ya, artinya apa? Mau dipukul nih. 28:02 Mau dipukul. Dulu beliau pernah pukul 28:05 orang, satu kali pukul mati. 28:07 Sekarang itu beliau lakukan kepada 28:09 adiknya, ditarik jenggotnya. Wa akhodza 28:11 biro'si akhihi yajurruhu ilaih. 28:14 Nah, kemudian di situlah 28:16 dengan cerdik Nabi Harun mengatakan 28:18 kata-kata yang tepat. 28:20 Kata-kata inilah yang menarik, yang 28:22 mungkin juga bisa kita pelajari untuk 28:24 meredakan marah saudara kita ya, mungkin 28:27 atau apa abang atau adik kita kalau lagi 28:29 marah bisa pakai cara-cara Nabi Harun 28:32 ini. 28:33 Nabi Harun bilang begini kepada Nabi 28:34 Musa. 28:35 Qola ibna umma. 28:38 Qola ibna umma, ini kalimat luar biasa. 28:40 Qola ibna umma, "Wahai anak ibuku." Kata 28:43 Nabi Harun. 28:44 "Wahai anak ibuku." 28:46 Puitis, kalimat puitis nih, wahai anak 28:49 ibuku gitu ya. Artinya apa? Wahai 28:52 saudaraku 28:54 kita nih satu rahim yang sama 28:57 engkau adalah anak ibuku kira-kira 28:59 begitu 29:00 kayaknya itu tersentuh Nabi Musa, 29:03 kaum kita betul-betul merendahkan saya." 29:09 "Dan 29:10 hampir mereka membunuh saya." 29:13 "Dan 29:16 maka jangan biarkan mereka ketawa." 29:21 "Jangan biarkan mereka senang melihat 29:23 kamu memukul saya." 29:25 "Dan jangan jadikan saya sebagai orang 29:28 yang zalim." Kata Nabi Harun kepada Nabi 29:30 Musa alaihissalam ya, 29:33 "Wahai anak ibuku." 29:34 "Jangan jadikan mereka senang melihat 29:37 kamu memukul saya atau membunuh saya 29:40 karena mereka memang 29:42 awalnya pengen membunuh saya." 29:44 Gitu. Nah, akhirnya kali ini Nabi Musa 29:48 belajar Bapak Ibu. 29:50 Beliau mampu meredakan meredakan 29:53 marahnya, nanti pada ayat ke 154-nya 29:56 Bapak Ibu yang dirahmati Allah kita 29:58 perhatikan ada kalimat yang luar biasa 29:59 di situ. Tadi 150 ya. Terus nanti 30:02 lanjutkan sampai 154 kalimatnya 30:09 Nah, ketika marah Musa ini sudah reda 30:14 baru kemudian beliau mengambil tindakan, 30:16 mengumpulkan kembali lembar-lembar kitab 30:19 Taurat yang tadi beliau lempar karena 30:21 marah tadi itu. Ada kalimat yang menarik 30:30 pada lembar-lembar Taurat tadi terdapat 30:33 petunjuk dan rahmat Allah kepada orang 30:35 yang betul-betul ingin kembali atau 30:37 takut kepada Tuhannya. Kalimat ini 30:41 kalimat 30:43 bahwa adanya petunjuk dan rahmat itu 30:46 digandengkan Allah setelah Nabi Musa 30:48 berhasil menurunkan marahnya. 30:51 Ingin memberikan pelajaran kepada kita 30:53 bahwa 30:54 dalam kitab suci itu ada petunjuk, ada 30:57 kasih sayang Allah, tapi kalau orang 31:01 banyak marahnya, mengikuti marahnya, 31:04 mengikuti emosinya, besar kemungkinan 31:07 petunjuk dan rahmat dalam kitab suci itu 31:10 tidak bisa dia lihat. 31:14 Nah, bukankah lauh eh Taurat ini tadi 31:17 ada bersama Nabi Musa, tapi karena 31:19 beliau marah, beliau lempar, enggak bisa 31:21 beliau lihat eh petunjuk dan kasih 31:23 sayang di situ. Nah, ketika amarahnya 31:25 sudah reda, baru bisa beliau melihat 31:27 petunjuk dan kasih sayang Allah di situ. 31:30 Gitu. Eh, jadi kadang-kadang 31:33 Quran, ya, orang akrab dengan Quran, 31:35 baca Quran, khatam Quran, ya, tapi kalau 31:38 dalam hatinya tersimpan marah, tersimpan 31:40 dendam, tersimpan emosi, sulit bisa 31:43 mengakses petunjuk itu. Sulit bisa 31:45 mengakses rahmat kasih sayang Allah di 31:46 dalam Alquran itu. Dalam kitab suci itu. 31:50 Maka itu ayat ini menjelaskan setelah 31:52 redanya marah Nabi Musa, baru kemudian 31:54 beliau wa fiha hudan wa rahmatun lil 31:57 ladzina hum li rabbihim yarhamun, bisa 31:59 baru bisa kelihatan itu adanya petunjuk 32:02 dan kasih sayang Allah di situ. 32:04 Eh, jadi Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 32:07 apakah kita tidak tidak boleh marah? 32:10 Ya, apakah tidak wajar seseorang marah? 32:13 Tentu wajar. Namanya juga manusia. 32:16 Jangankan kita, Pak, Bu, ya. Eh, Nabi 32:19 saja marah, marahnya begitu lagi, luar 32:21 biasa, temperamen. Sampai kitab suci 32:24 dilempar begitu, ya, seperti Nabi Musa 32:26 ini. Tapi saat marah, jangan kita ikuti. 32:32 Jangan kita ikuti gosokan setan itu. 32:34 Jangan kita ikuti keinginan untuk 32:37 berbuat, untuk bicara itu. Itulah 32:39 nazghun, nanti akan kita kita akan 32:42 menyesalinya. 32:43 Gitu Bapak, Ibu. 32:45 Oke, baik saya cepat ya satu lagi. 32:47 Contohnya adalah Nabi Yunus 32:49 alaihissalam. Nah. 32:51 Nabi Yunus alaihissalam Bapak, Ibu yang 32:53 dirahmati Allah luar biasa dalam surat 32:55 As-Saffat surat ke-37. Silakan Bapak, 32:58 Ibu ee kalau ingin buka mushaf mulai 33:00 dari ayat 139 surat As-Saffat. 33:04 Nabi Yunus ini dahsyat ya kalimatnya. 33:07 Kita perhatikan beliau juga marah. 33:10 Dan marahnya ini wajar gitu ya kalau 33:13 kita pikir-pikir ya wajar. Kenapa? 33:16 Karena beliau itu kan sudah berdakwah 33:18 kepada kaumnya. 33:19 Sudah memberikan semuanya kepada kaumnya 33:22 diberikan dakwah, diberikan juga 33:24 bantuan, segala macam perhatian dan lain 33:27 sebagainya. 33:29 Tapi kaumnya bukan hanya menolak beliau 33:31 ya dalam berbagai riwayat disebutkan 33:33 merendahkan beliau. 33:36 Gitu ya. Ee akhirnya beliau marah, Nabi 33:39 Yunus marah. Kita perhatikan 33:42 ee pada pada ayat ke-139 di situ dalam 33:45 surat As-Saffat itu kalimat Allah wa 33:47 inna Yunusa lamin al-mursalin ingatlah 33:49 Yunus dia betul-betul adalah seorang 33:52 rasul. 33:54 Kalimat ini penting menjelaskan kepada 33:56 kita Bapak, Ibu ikhwan akhwat sekalian 33:59 di manapun berada ketahuilah 34:02 jangan kan kita seorang rasul saja kalau 34:05 mengikuti marahnya 34:08 mengambil tindakan saat dia marah 34:10 padahal marahnya adalah dari sesuatu 34:12 yang wajar dia akan menjadi terhina. 34:16 Seperti Nabi Yunus. 34:17 Itu rasul gitu ya apalagi kita. 34:21 Siapa kita? Siapa Anda? Kalau katanya 34:24 gini siapa elu katanya begitu kan ya. 34:28 Ya, siapa kita? 34:30 Gitu rasul saja terhina. Maka kalimatnya 34:33 wa inna Yunus, sesungguhnya Yunus salah 34:35 minal mursalin, dia betul-betul seorang 34:37 Rasul. Ingatlah ketika dia pergi iz 34:40 abaqo ee ilal fulki ilal fulkil masyhun, 34:44 ingatlah ketika dia lari ke dalam kapal 34:46 yang penuh muatan. Kemudian dia diundi 34:48 di situ, dia adalah orang yang selalu ee 34:51 keluar undian namanya untuk ee apa di 34:54 dibuang ke laut gitu ya karena muatannya 34:56 berlebihan. 34:58 Pada ayat berikutnya luar biasa Bapak, 35:00 Ibu yang dirahmati Allah pada ayat ke 35:02 100 ee 140 eh 142 ya gitu ya. 35:08 Ee 1 2 141 142-nya kalimatnya begini 35:11 Bapak, Ibu. Faltaqomahul Hut 35:15 kemudian setelah dibuang oleh oleh ee 35:18 orang di dalam kapal tadi karena diundi 35:20 namanya keluar terus beliau ee kemudian 35:23 dia ditelan oleh Hut, Hut itu adalah ee 35:26 apa ikan yang amat besar ya kemungkinan 35:29 besar adalah paus ya karena ada paus 35:31 yang sebesar rumah dan lain sebagainya 35:33 besar sekali fal faltaqomahul Hut, 35:36 beliau ditelan oleh ikan paus wa huwa 35:39 mulim, nah ini kalimat ini penting. Wa 35:42 huwa mulim dan dia dalam keadaan 35:45 tercela. 35:47 Jadi ketika beliau ditelan oleh ikan 35:49 paus tadi beliau dalam keadaan tercela 35:52 padahal kalimatnya diawali menjelaskan 35:55 Yunus adalah seorang Rasul. Seorang 35:57 Rasul kalau mengikuti marahnya Bapak, 36:00 Ibu menjadi tercela, itu Rasul ya 36:03 apalagi kita 36:05 apalagi Anda, siapa saya, siapa Anda, 36:08 siapa kita gitu. Itu penting untuk kita 36:10 pahami itu. 36:12 Gitu ya. Oh jadi enggak boleh marah 36:14 Ustaz? Sekali lagi saya ulangi, wajar 36:16 kalau kita marah karena banyak juga kita 36:18 manusia, wajar kalau kita kecewa tapi 36:21 beberapa detik itu saat pengen bicara 36:25 kecewa, marah itu saat kepingin bicara, 36:27 nah di situlah kita tahan. 36:29 Tunggu sampai reda, baru kita bicara. 36:33 Nah, itu baru kita bicara. 36:35 Nah, supaya kita tidak tercela. Nah, 36:37 seperti Nabi Yunus ini, wahuwa mulim, 36:40 dia dalam keadaan tercela. Lanjut 36:42 kalimatnya pada ayat 143-nya, falaula 36:45 annahu kana minal musabbihin, seandainya 36:48 Yusuf Yunus ini tidak termasuk orang 36:50 yang eee musabbihin, yang banyak 36:53 mensucikan Allah, bertasbih, mensucikan 36:55 Allah, artinya bertobat, mensucikan 36:57 Allah, seandainya dia tidak bertobat, 36:59 seandainya dia tidak banyak mensucikan 37:01 Allah, kalimatnya pada ayat 144, 37:03 lalabisa fi batnihi ila yaumiy yubasun, 37:07 sungguh dia akan tinggal dalam perut 37:10 ikan itu sampai hari kiamat. 37:13 Bapak Ibu. 37:15 Waduh, luar biasa. Akan tinggal di situ 37:17 sampai hari kiamat, gitu. Dan itu bukan 37:20 enak tinggal dalam perut ikan itu, Bapak 37:22 Ibu, karena panas gitu ya. Dalam 37:24 berbagai riwayat dijelaskan, ketika 37:26 beliau akhirnya dimuntahkan oleh ikan, 37:28 ya, dari apa dalam dalam apa dalam 37:31 keadaan dimuntahkan itu, beliau eee 37:34 kulit-kulitnya melepuh semuanya. Gitu. 37:37 Karena panas, ya, ikan ikan paus itu 37:39 memiliki minyak di dalam eee tubuhnya 37:42 itu, dan minyaknya itu betul-betul eee 37:44 adalah sesuatu yang panas, gitu. Jadi, 37:46 tidak tidak mudah. 37:48 Kalau beliau tidak bertobat, 37:50 kalau beliau tidak banyak mensucikan 37:52 Allah, niscaya akan tinggal dalam perut 37:54 ikan sampai hari kiamat. 37:56 Nah, yang terjadi kepada Nabi Yunus ini, 37:58 Bapak Ibu, ya, pada surat ke-21 38:01 Al-Anbiya ayat 87, kalimatnya wazannun, 38:04 ingatlah zunnun, Yunus, izzahaba 38:07 mugadiban, 38:09 ketika dia pergi meninggalkan kaumnya 38:11 dalam keadaan marah. Nah, dalam keadaan 38:15 marah, marah karena kecewa, marah karena 38:18 sedih, gitu ya. Telah melakukan dakwah 38:21 kepada kaumnya, tapi kaumnya merendahkan 38:23 beliau, Bapak Ibu. Eee, hati-hati nih, 38:25 jangan sampai terjadi kepada kita. Kita, 38:28 kita marah kepada siapa? Anak, misalkan. 38:30 Kita marah kepada eee, adik atau kemarah 38:33 kepada kakak kita atau marah kepada 38:35 ipar, marah kepada ponakan. Sudah saya 38:38 bantu dia. 38:39 Sudah saya 38:41 dakwahi dia. Kurang apa saya sama dia? 38:44 Nah, itu misalkan gitu ya. Uang saya 38:45 kasih, sekolah saya yang bayarin. 38:49 Dan lain sebagainya. Tapi begitu 38:51 perlakuannya kepada saya. Udah, ah, 38:53 hati-hati Bapak Ibu. Jangankan kita, 38:55 Nabi Yunus saja menjadi tercela karena 38:57 itu. Nah, lanjut kalimatnya, "Fadzonna 38:59 alla naqdiro alaih." Kemudian Nabi Yunus 39:02 berpikir bahwa Allah tidak mungkin akan 39:05 menyulitkan dia. Ya, menyulitkan, 39:08 mempersempit, 39:10 eee, naqdir, ya. Eee, menyempitkan dia. 39:13 Jadi, Bapak Ibu, kalimat ini menunjukkan 39:16 kepada kita, kalau kita ikuti marah, 39:19 kalau kita ikuti sedih, kecewa tadi itu 39:21 dan kita berbuat, bertindak walaupun 39:23 dasarnya kita benar, ya, maka berikutnya 39:26 yang akan kita jelang adalah kesempitan 39:29 hidup. 39:31 Gitu. 39:32 Berikutnya yang akan kita temui adalah 39:34 kesulitan hidup. Nah, mana, mana 39:38 contohnya? Nabi Yunus, alaihissalam, 39:40 surat ke-21 ini surat Al-Anbiya ayat 87. 39:44 "Fadzonna alla naqdiro alaih." Kemudian 39:46 dia berpikir, Yunus berpikir bahwa kami 39:48 tidak akan menyempitkan hidupnya. 39:51 Eee, naqdir diambil dari kata qadar yang 39:53 artinya sempit, gitu. 39:55 Eee, Bapak Ibu. 39:57 Ya, jadi itu, anu ya, apa? Pelajaran 40:00 buat kita. Mudah-mudahan Allah, Allah 40:02 ingat, apa? Eee, Allah, mudah-mudahan 40:04 ini 40:05 Allah mudahkan kita mengingat ini, ya, 40:07 dalam hidup kita. "Fanada fizulumat." 40:10 Lanjut kalimatnya, "Fanada fizulumat." 40:12 Akhirnya dengan skenario Allah, beliau 40:15 berdoa di kegelapan. Kegelapan yang 40:17 dimaksud para mufasir mengatakan di 40:19 dalam perut ikan dan juga di dasar 40:22 lautan. Apa doa beliau? Ini yang 40:24 kemudian membuat beliau diterima 40:26 tobatnya oleh Allah. 40:28 Beliau mengatakan, "Laa ilaha illa anta 40:32 subhanaka 40:34 inni kuntu minadzolimin." Tidak ada 40:36 Tuhan selain Engkau ya Allah, Maha Suci 40:39 Engkau ya Allah, saya ini yang zalim, 40:42 kata Nabi Yunus. Kenapa beliau bilang 40:45 saya yang zalim? Kenapa zalimnya mana 40:47 yang zalimnya itu? Yakni ketika 40:49 meninggalkan kaumnya dalam keadaan 40:51 marah, Bapak, Ibu yang dirahmati Allah. 40:54 Eee padahal marahnya wajar gitu ya, 40:56 karena eee sudah berdakwah, sudah 40:58 melakukan banyak hal, tapi eee kaumnya 41:00 merendahkan beliau. Jadi, 41:03 jangan ambil tindakan, jangan jangan 41:06 berkata-kata saat kita emosional. Itu 41:09 akan kita sesali selama-lamanya dan akan 41:11 membuat kita menjadi orang yang tercela. 41:15 Inilah nazghun, Bapak, Ibu yang 41:16 dirahmati Allah, dua ayat terakhir, 41:19 yakni eee dalam surat ke-7, surat 41:21 Al-A'raf ayat ke-200, serta surat 41:23 Fussilat ayat 36. Di situ penyebutannya 41:27 sama, identik sama, cuma berbeda sedikit 41:29 saja, yakni petunjuk Allah kepada kita 41:32 kalimatnya. Eee surat Al-A'raf ayat 200 41:35 ya. 41:36 "Wa imma yanzaghonnaka minasyaitoni 41:40 nazghun fasta'izbillah." 41:43 Sama kalimatnya dengan surat Fussilat 41:45 ayat 36, "Wa imma yanzaghonnaka 41:48 minasyaitoni nazghun fasta'izbillah." 41:51 Bedanya cuma ujungnya saja. Kalau dalam 41:53 surat ke-7 ayat 200 tadi, "Innahu 41:56 sami'un alim." Kalau dalam surat 41:58 Fussilat ayat 36, "Innahu huwas sami'ul 42:01 alim." Nah, 42:02 jadi ini dua peringatan 42:05 Allah terhadap satu hal yang sama. Dua 42:08 ayat yang berbeda, yang hampir identik 42:10 sama ayatnya, tapi untuk mengingatkan 42:12 satu hal yang sama. Menunjukkan kepada 42:14 untuk mengingatkan satu hal yang sama. 42:16 Menunjukkan kepada kita bahwa apa yang 42:19 diingatkan ini penting sekali sampai 42:21 perlu dua ayat sekaligus untuk bisa 42:24 mengingatkan, gitu ya. Eee wa imma 42:27 yanzaghon nakam minas syaiton nazghun 42:29 fasta'iz billah. Dan jika kamu eee 42:32 ditimpa godaan setan, nazghun tadi itu 42:35 kita tahu nazghun sekarang adalah 42:37 dorongan ya yang eee di di apa di buat 42:41 setan saat kita emosional. Apalagi 42:43 datang nazghun ini kata Allah, fasta'iz 42:46 billah, maka buru-burulah berta'awwuz, 42:50 berlindung kepada Allah, ucapkan 42:52 a'uzubillahiminasyaitonirojim. 42:55 Ucapkan a'uzubillahiminasyaitonirojim 42:57 ini penting supaya kita sadar segera 43:00 bahwa ini adalah perbuatan setan. 43:04 ngomong gitu, pengin rasanya bicara, 43:06 pengin rasanya bertindak, berbuat. Nah, 43:08 ketika sedih, ketika marah, ketika 43:09 kecewa, nah, buru-buru ta'awwuz. 43:13 A'uzubillahiminasyaitonirojim. 43:15 Supaya kita sadar ini perbuatan setan, 43:17 supaya kita tidak menyesalinya Bapak Ibu 43:20 yang dirahmati Allah. Sebentar saja itu. 43:22 Ya, nahan marahnya itu sebentar. 43:25 Setelah reda marah, baru kita bicara. 43:28 Nah, jadi saya sering mencontohkan 43:30 begini. Mungkin saya tutup dengan dengan 43:32 ini ya. 43:34 Coba coba Bapak Ibu perhatikan beberapa 43:36 kasus ini ya. Ini kasus yang pernah juga 43:39 kita tampilkan di pertemuan lalu ini ya. 43:41 Ada yang di Bekasi ini di layar saya 43:44 tampilkan ini ya. 43:45 Ada 43:47 apa istri dibunuh oleh suaminya di 43:50 Bekasi ini ya. Tahun 2022 ini ya. 43:53 Kenapa? Lantaran ucapan sang istri. 43:57 Nah, nanti terungkap di persidangan 43:59 ucapannya itu ya. Nah, ada lagi ini di 44:01 Malang. 44:03 Ya, gitu juga. Suami bunuh istri. Ini 44:05 tahun 2021. 44:07 Nah, karena Begitu juga di Aceh Selatan, 44:11 ya, 44:12 istrinya dibunuh oleh suaminya dan 44:14 beserta dengan kakak serta adik dari 44:17 istrinya. Juga tersinggung ucapan. 44:20 Eh, ini di Singkawang berikutnya ini, di 44:22 tahun 2020 di Kalimantan Barat. Dan 44:25 banyak lagi kalau kita eh kumpulkan 44:28 kasus yang seperti ini. Eh, menariknya 44:31 di di persidangan, ya, terungkap 44:33 kata-kata yang diucapkan istrinya itu 44:36 adalah kata-kata yang benar. 44:38 Kata-kata yang benar isinya, itu muatan 44:40 katanya tuh benar gitu. Eh, cuma ketika 44:44 itu mungkin saat mengucapkan itu, di 44:47 situlah ada tunggangan setan karena si 44:50 istri ini mungkin dalam kondisi marah, 44:52 dalam kondisi khawatir, dalam kondisi 44:54 takut, dalam kondisi kecewa, gitu ya. 44:56 Eh, kira-kira kata-katanya begini kalau 44:58 kita kumpulkan semua hampir sama 45:00 kata-katanya. 45:02 Kira-kira ngomong beginilah kira-kira 45:03 ya. Ini saya saya mau tunjukin betapa 45:06 bedanya pakai marah dengan enggak pakai 45:08 marah. Begini. 45:10 Eh, kira-kira ya kata-katanya begini. 45:13 Eh, kamu kok enggak kerja? Gitu. 45:17 Ayo dong kerja. 45:19 Orang-orang lain juga bisa kerja. 45:21 Gitu. Eh, kita kan punya anak. Kamu kan 45:24 kepala keluarga di sini. 45:26 Anak kita mau dikasih makan apa nanti? 45:29 Coba. 45:30 Kalimat tadi itu saya ucapkan dengan 45:32 datar. 45:33 Tanpa ada marah. 45:34 Keterimanya kan enak-enak aja, 45:36 biasa-biasa aja gitu. 45:38 Sekarang coba pakai intonasi. 45:40 Kamu kok enggak kerja sih? 45:42 Pakai gas gitu. 45:43 Pakai gas. Kamu kok enggak kerja sih? 45:45 Orang lain juga juga dipecat tuh dari 45:48 kerjaannya, tapi mereka kerja. 45:50 Mereka berbuat sesuatu. Kamu ini kan 45:52 kepala keluarga. Eh, enggak. 45:54 Anak ini mau dikasih makan apa anak ini? 45:56 Nah, kita punya anak nih. Listrik belum 45:59 bayar, ini belum bayar. Kepala keluarga 46:00 kok gitu sih. 46:02 He. Coba. 46:03 Kan beda tekanannya itu. Itu aja saya 46:06 cuma mencontohkan gitu ya, gimana kalau 46:08 ada rasa marahnya beneran gitu ya. Di 46:10 situlah masuknya setan Bapak Ibu. Di 46:13 situlah ditunggangi oleh iblis tadi, 46:15 oleh setan tadi menjadi nazghun tadi itu 46:18 karena emosinya tadi. Keterimanya beda 46:21 oleh suaminya. Nah, suaminya juga 46:23 mungkin dalam keadaan yang 46:25 juga kecewa, marah, sedih dan lain 46:27 sebagainya. Nazghun akhirnya pecah 46:30 belah, akhirnya terjadilah pembunuhan 46:32 dan lain sebagainya yang sangat ee 46:34 disesali begitu. Orang-orang ini ditanya 46:37 nih dalam beberapa dalam beberapa video 46:39 itu mereka ditanya, ee diwawancara tuh 46:42 di oleh polisi itu. 46:44 Mereka menyesal, ya. Mereka mengatakan 46:47 gelap mata. Mereka tidak sadari ketika 46:50 itu di apa terjadi. Nah, inilah nazghun. 46:54 Inilah kerja setan Bapak Ibu yang 46:55 dirahmati Allah. Jangan kita ikuti saat 46:58 kita marah itu nanti kita menyesal lama. 47:02 Nah, mungkin selama-lamanya penyesalan 47:04 itu tidak akan pulih nantinya Bapak Ibu 47:06 yang dirahmati Allah. Ee inilah ee 47:09 petunjuk Allah supaya kita betul-betul 47:12 menjaga 47:13 ee nazghun agar nanti pada gilirannya 47:17 akan mudah kata-kata yang baik keluar 47:19 dari diri kita. Ee pertemuan lalu qaulan 47:22 zur, sekarang sekarang nazghun. Dua hal 47:25 penting ini kita jaga, kita mulai buang 47:27 dalam kehidupan kita, mulai sisihkan 47:29 Bapak Ibu yang dirahmati Allah agar ee 47:32 bersemi nanti keluar dari diri kita 47:35 nanti kata-kata yang baik insyaallah. 47:38 Wallahualam bishawab. Billahi taufiq 47:39 walhidayah. Assalamualaikum 47:41 warahmatullahi wabarakatuh. 47:43 Waalaikumsalam warahmatullahi 47:45 wabarakatuh. Demikian Ikhwan Akhwat 47:47 tadabbur Alquran bersama Ustaz Doni Amir 47:48 Sagap. Petunjuk Allah dalam bertutur 47:51 kata. Subtemanya yaitu mengenai 47:53 kata-kata yang harus dihindari. Tadi 47:55 kita membahas mengenai nazghun ya. Yang 47:57 ingin bergabung bertanya silakan Anda 47:58 bisa kirimkan melalui WhatsApp kami di 47:59 08111999720 48:04 ataupun di 0218451512. 48:07 Kami segera kembali. 48:09 Bismillahirrahmanirrahim. 52:49 Satu masih bersama kami Ikhwan Akhwat di 52:50 acara Tadabbur Alquran bersama Ustad 52:53 Doni Amir Sagap. Membahas tema mengenai 52:56 nazgun tadi ya, 52:58 ini dorongan dari setan untuk kita 52:59 berbuat lebih dari sekedar marah gitu 53:01 Ustad ya. 53:01 Iya. 53:02 Jadi kalau marah ya memang jangan 53:04 diikutin Ustad ya. 53:04 Iya. 53:06 Bisa berbahaya. 53:07 Iya. 53:08 Sebelum ke pertanyaan untuk Ikhwan 53:09 Akhwat yang ingin mengikuti kajian via 53:12 Zoom Ustad ya, karena rutin juga setiap 53:14 hari Jumat. 53:15 Setiap hari Jumat pagi habis subuh ba'da 53:17 subuh jam 05.20. 53:18 He em. 53:18 Kita ada kajian 53:20 di Majelis Makbul Qur'ani via Zoom. 53:23 Via Zoom ya. 53:24 Boleh yang ingin gabung nanti bisa 53:25 tanya-tanya langsung ke nomor 53:27 WhatsApp-nya dicatat Ikhwan Akhwat ya. 53:29 Di 0877. 53:31 8021. 53:34 1692. 53:36 087780211692. 53:40 Iya. 53:41 Baik Ustad ini sudah banyak yang masuk 53:42 di WhatsApp Rasial di 08111999720. 53:47 Iya. 53:47 Ini saya sapa Ibu Tati sedang menyimak, 53:50 ya. Dari Ibu Eti Rustaminto juga di 53:54 Singapura sedang menyimak Rasial di 53:56 malam hari ini. Ibu Kartini, Ibu 54:00 Pemi di Tebet, Ibu 54:03 Sri, ya. Bapak Nur, Bapak Nur, Bapak 54:07 Yudi di Bogor. Bapak Haji Hanafi, Bapak 54:09 Haji Muslim Arif Simanjuntak, Ibu Aliyah 54:12 Yahya, Bapak 54:13 Arif Assalam dan masih banyak lagi. Yang 54:16 bertanya saya bacakan yang pertama. 54:19 Ini dua pertanyaan yang sama saya 54:21 bacakan sekaligus, ya. 54:22 Iya. 54:22 Dari hamba Allah. Assalamualaikum 54:25 warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. 54:27 Waalaikumsalam. 54:28 Ustaz, ada yang mengatakan emosi yang 54:30 terpendam tak tersalurkan akan 54:31 menyebabkan depresi dan penyakit. 54:34 Iya. 54:34 Contoh ketika ingin memaki-maki orang 54:36 tapi tidak terlaksana. 54:38 Iya. 54:38 Beda hal dengan orang yang bisa 54:39 melampiaskan caci makinya, maka dia akan 54:42 menjadi lega. Itu bagaimana dengan 54:44 ter- eh hal tersebut, Pak Ustaz. Juga 54:47 ini dari hamba Allah juga ini. Izin 54:49 bertanya, Pak Ustaz. Tadi bilang kita 54:50 harus jaga kata-kata yang akan dicatat 54:53 malaikat. 54:53 Iya. 54:54 Nah, bagaimana kalau kita marahnya, 54:55 ngomelnya tidak di depan orangnya? 54:57 Apakah juga dicatat malaikat? Sebab kita 55:00 kan perlu pelepasan agar tidak stres, 55:02 Ustaz. Ini bagaimana? Demikian. 55:04 terima kasih. Eh pertanyaan menarik 55:06 sekali. 55:08 Ikhwan dan akhwat sekalian, Bapak Ibu 55:09 yang dirahmati Allah di manapun berada. 55:12 Jadi 55:13 eh saya setuju dengan kalimat anger 55:17 management. 55:18 Anger 55:19 Jadi yang harus di-manage itu marahnya. 55:23 Gitu. 55:24 Nah, marah itu 55:27 eh bukan sesuatu yang harus dilampiaskan 55:30 dalam artian 55:32 sebetulnya yang harus dilampiaskan itu, 55:34 yang harus di- sampaikan itu adalah 55:37 ee konten atau isinya 55:40 ee sementara marahnya itu sendiri itu 55:43 adalah tambahan 55:45 dari emosional rasa 55:48 rasa emosional yang berakar sesungguhnya 55:51 di diri kita 55:53 gitu mungkin di di masa lalu kita trauma 55:56 masa kecil dan lain sebagainya nah jadi 55:59 ee nanti kalau Bapak Ibu perhatikan 56:00 misalkan 56:02 ee banyak penelitian dilakukan di dunia 56:05 ee apa ee penelitian sains gitu ya 56:09 mengenai ini misalkan ada yang pernah 56:11 dilakukan penelitian oleh seseorang 56:13 bernama ee 56:16 apa namanya ee dari Kaiser Permanente ya 56:19 nanti kalau Bapak Ibu cari di Google 56:21 Kaiser Permanente terus ee ee Vincent 56:25 Felitti namanya Dokter Vincent Felitti 56:28 pernah melakukan penelitian tentang ke 56:30 yang apa ee tentang sesuatu yang 56:32 kemudian dikenal sebagai Adverse 56:34 Childhood Experiences atau pengalaman 56:37 masa kecil yang traumatis 56:39 traumatis 56:40 trauma masa kecil itu membuat seseorang 56:42 tadi 56:44 menjadi memiliki ee apa 56:48 ee ya katakanlah 56:50 permasalahan emosional emosi mental 56:54 ya jadi 56:56 kalau seseorang mengikuti marahnya 56:59 itu berarti dia sedang membuka lagi luka 57:04 ee apa trauma masa kecilnya 57:08 entah entah di mana atau apa itu ya tapi 57:10 itulah yang membuat dia kemudian menjadi 57:12 seseorang yang emosional tadi itu jadi 57:15 jangan dianggap emosional itu wajar oh 57:17 saya nih memang begini dari dari lahir 57:19 tidak itu kan terjadinya setelah adanya 57:22 trauma masa lalu trauma masa kecil nah 57:25 jadi kalau diikuti ya itu bukan lega 57:28 bukan itu itu adalah itu membuat kita 57:30 puas ya tapi ee sekaligus akan 57:34 merongrong kita. Kenapa? Nah, begini. 57:36 Saya saya sampaikan sedikit, ya. 57:38 He eh. 57:39 Di dalam tubuh kita ada empat hormon, 57:42 Bapak Ibu, yang bertugas memberikan 57:44 kepuasan atau kebahagiaan itu, ya. 57:47 Sa ee satu namanya dopamin. 57:49 Dopamin. 57:50 Yang kedua namanya serotonin, yang 57:52 ketiga namanya oksitosin, dan yang 57:53 keempat namanya endorfin. Setidaknya 57:55 empat hal ini, ya. Walaupun ada yang 57:57 lainnya, tapi empat ini yang utama. 58:00 Nah, dopamin adalah hormon kebahagiaan 58:04 atau kepuasan tadi yang akan didapatkan 58:06 seseorang kalau dia berhasil mengikuti 58:09 apa yang dia inginkan. 58:11 Termasuk dalam hal ini kemarahan 58:13 seseorang ketika dia marah, Bapak Ibu 58:15 yang dirahmati Allah, Ikhwan Akhwat 58:17 sekalian. Kalau kemudian dia mengikuti 58:20 tadi yang disebut puas, yang disebut 58:21 lepas itu adalah mengalirnya dopamin 58:25 karena berhasil mengikuti apa yang 58:27 diinginkan. Sama seperti Anda pengin 58:29 makan nasi goreng, misalkan. Pengin 58:30 makan mie goreng, misalkan, gitu ya. 58:32 Terus kesampaian, itu 58:35 senangnya itu, itu dua kali lipat 58:37 ketimbang sesuatu yang tidak tidak 58:39 diinginkan terus ee dapat, gitu. 58:42 Tapi dopamin itu membuat kita kecanduan. 58:47 Namanya juga dopamin. Di dalam bahasa 58:49 Inggris, kokain itu disebut sebagai 58:51 dope, nama lainnya. Kenapa? Karena dia 58:54 adiktif, kecanduan. Artinya begini, 58:57 kalau Anda ikuti marah 59:00 itu akan membuat Anda candu mengikuti 59:02 marah-marah berikutnya dan semakin 59:04 besar. Dosisnya makin besar. 59:06 Kalau sekarang cuma cukup, misalkan, 59:08 marah yang kecil. Kita kita marah kepada 59:11 orang karena dia ee tidak menghargai 59:13 kita, misalkan. Lalu kita ikuti marah 59:14 itu. Nanti kita akan menuntut orang lain 59:17 untuk menghargai kita dengan lebih lebih 59:19 besar lagi. 59:20 Iya. 59:21 Gitu. Ah, ujungnya akan me me apa 59:24 membuat kita itu sulit bahagia karena 59:27 kita menuntut segala sesuatu itu harus 59:29 sesuai dengan keinginan kita. Itu 59:31 sebabnya marah jangan diikuti. 59:34 Loh, terus bagaimana kalau kita ingin 59:36 mengingatkan orang itu supaya kita lepas 59:39 karena ada ah, di sinilah bedanya antara 59:41 marah dan ketidakadilan atau apapun yang 59:44 harus kita ingatkan tadi kepada orang 59:46 lain. Ah, jadi kalau kita bisa menekan 59:48 marahnya untungnya buat kita. Tapi kalau 59:51 kita ingin mengingatkan orang silakan. 59:54 Enggak ada masalah. 59:55 Kalau kita harus mengingatkan ingatkan. 59:57 Kalau memang ada kezaliman, 59:59 ketidakadilan kita sampaikan sampaikan. 1:00:01 Tapi begitu kita menyampaikannya dalam 1:00:03 kondisi yang tidak marah, maka kita 1:00:05 berhasil mengendalikan 1:00:07 hormon dopamin kita. 1:00:10 Sekaligus juga kita akan menyampaikan 1:00:12 dengan baik, ya. Sekaligus juga kita ee 1:00:16 mem membuat diri kita, sekaligus juga 1:00:18 membuat diri kita ee tidak 1:00:20 mudah 1:00:22 apa? Tidak mudah bersalah. Nah, jadi 1:00:25 tadi kan Nabi Musa, Nabi Yunus, padahal 1:00:28 dasarnya beliau benar. Tapi karena marah 1:00:30 beliau yang salah. 1:00:31 Karena marah beliau yang di cela oleh 1:00:34 Allah, tercela oleh ee disebutkan tadi 1:00:36 tercela dalam surat As-Saffat tadi itu. 1:00:38 Nah, begitu juga kita. 1:00:40 Kita awalnya benar, tapi karena kita 1:00:42 ikuti marah akhirnya besar kemungkinan 1:00:44 kita yang akan tercela, kita yang akan 1:00:45 rusak. Hormon dopamin kita jadi 1:00:48 menguasai kita, akhirnya kita ee menjadi 1:00:50 orang yang ee apa? Menuntut menuntut ee 1:00:54 orang lain selalu ee memahami atau 1:00:57 mengerti kita, ah, semakin sulit kita 1:00:59 bisa bahagia. Nah, 1:01:02 itu bedanya antara marah dan 1:01:04 menyampaikan. Jadi marahnya jangan 1:01:05 diikuti, menyampaikannya silakan. 1:01:09 Ah, kemudian tadi ada pertanyaan 1:01:10 sedikit, bagaimana kalau kita 1:01:12 menyampaikan kemarahan itu di lu di 1:01:15 belakang gitu, ya? 1:01:16 Sebetulnya 1:01:17 begini, apakah ee malaikat akan mencatat 1:01:20 juga? Jadi malaikat tentu saja mencatat 1:01:22 di mana pun kita enggak bisa lari. 1:01:24 CCTV-nya Allah tuh enggak bisa di 1:01:26 enggak bisa diblokir gitu 1:01:28 enggak bisa dirusak. Di mana pun bisa 1:01:30 kelihatan, bisa bisa terekam gitu. Cuma 1:01:32 maksud saya begini, jadi kita 1:01:35 menyampaikan, sekali lagi silakan 1:01:37 menyampaikan 1:01:38 tapi 1:01:39 muatan marahnya itu saja yang harus kita 1:01:42 redakan gitu ya. Tapi isinya boleh, 1:01:44 isinya boleh. Tadi ya, beda antara 1:01:46 menyampaikan ketika marah dan 1:01:48 menyampaikan ketika tidak marah. 1:01:50 He em. 1:01:50 Gitu. Jadi, silakan sampaikan isinya 1:01:53 bahkan kepada orangnya pun enggak 1:01:54 apa-apa, tapi 1:01:56 setelah marah kita sudah reda. Ya, 1:01:59 demikian kira-kira. 1:02:00 Baik, Ustaz. 1:02:01 Walaupun terasanya lega, tapi kalau 1:02:03 menyampaikan marah itu berarti kalau 1:02:04 kita emosi itu berarti memang tetap 1:02:06 tercela ya, Ustaz ya? 1:02:07 Tetap tercela karena kita kan rusak ya, 1:02:09 karena kita mengikuti dopamin. Tadi 1:02:11 hormon dopamin itu candu. 1:02:13 Sekarang cukup satu, besok kita butuh 1:02:15 dua. Gitu. Kalau kita sekarang ikuti 1:02:18 marah, lepasin marah mencaci orang, 1:02:21 rasanya lega. Lega itu sebetulnya tipuan 1:02:23 otak karena otak kita dapat dopamin kan 1:02:26 gitu. Jadi, kita merasa waduh enak gitu 1:02:28 dapat dopamin. Plong. Padahal plong itu 1:02:30 enggak, sebetulnya nanti akan akan 1:02:32 dituntut lagi. 1:02:33 Berikutnya ada kejadian lagi seperti 1:02:35 itu, kita akan lebih sensitif lagi otak 1:02:37 kita namanya dopaminergic pathway 1:02:39 namanya itu ya. 1:02:39 Lagi lagi terus. 1:02:40 Lagi lagi. Jadi, otak kita sudah 1:02:41 membentuk satu sirkuit untuk menagih hal 1:02:45 itu lagi. 1:02:45 He em. 1:02:46 Gitu. Jadi, kita jadi kita berikutnya 1:02:49 kita akan menuntut yang lebih dan itu 1:02:51 membuat kita lambat laun akan semakin 1:02:54 sulit untuk bahagia. Orang salah dikit 1:02:56 kita marah. 1:02:58 Sampaikan Fahri nanti di usia yang 1:03:00 semakin tua 1:03:02 gitu 1:03:03 kita akan jadi sangat sensitif tuh. 1:03:05 Kita akan jadi sangat menuntut. Kenapa? 1:03:08 Karena 1:03:09 dopaminergic pathway kita tadi itu sudah 1:03:11 sulit untuk dirubah. 1:03:13 Karena kita ikuti marah sejak sejak 1:03:15 muda, sejak masa ini apa-apa keluarin 1:03:18 marah. Pokoknya biarin aja yang penting 1:03:20 saya lega marah. Oke, dopaminnya 1:03:22 muncul di situ ya. Tapi eee otaknya 1:03:25 terus-terus nuntut, nuntut, nuntut, 1:03:27 nuntut terus sampai nanti di usia tua, 1:03:29 dia akan jadi sangat sensitif. Dia akan 1:03:31 melihat ini, melihat itu, melihat 1:03:33 anaknya jadi apa kok kok begini, kok 1:03:35 begitu dan sebagainya. Dan itu berbahaya 1:03:38 untuk eee seseorang menuju kematian 1:03:40 dalam keadaan yang sulit bahagia atau 1:03:43 eee suul khotimah. 1:03:45 Gitu ya. 1:03:46 Gitu. Jadi dampaknya memang tidak 1:03:48 main-main ya mengikuti eee marah itu. 1:03:51 Ya, kira-kira begitu. Belajar 1:03:52 mengendalikan emosi ya. 1:03:54 Belajar mengendalikan emosi. Walaupun 1:03:56 isinya silakan sampaikan gitu. 1:03:58 Setelah reda emosinya 1:04:01 Baik, Ustaz. 1:04:02 Kita beralih ke pertanyaan selanjutnya. 1:04:03 Ini dari Bapak Yudi di Bogor, Pak Ustaz. 1:04:06 Assalamualaikum warahmatullahi 1:04:08 wabarakatuh. 1:04:08 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:04:09 Ustaz, bagaimana agar kita bisa menjaga 1:04:12 perkataan kita agar selalu baik? Ini 1:04:15 bagaimana? 1:04:15 Iya, terima kasih Pak Yudi di Bogor ya 1:04:18 yang bertanya. 1:04:20 Jadi salah satu caranya adalah Pak Yudi 1:04:22 kita membuang dulu sebanyak-sebanyak 1:04:26 mungkin qaulan zur ya. Di pertemuan lalu 1:04:30 kita sampaikan yakni perkataan dusta, 1:04:32 perkataan judgement itu ya qaulan zur 1:04:35 dan eee nazghun. Kita jaga nazghun. 1:04:39 Eee dua hal ini kalau kita lakukan 1:04:41 dengan baik, insyaallah kata-kata yang 1:04:44 baik pun mudah keluar dari diri kita. 1:04:46 Iya, bahkan eee seperti tanaman. Kalau 1:04:49 dia sudah kita jaga 1:04:52 sebelum kita menanam itu kan kita harus 1:04:54 bersihkan dulu eee tanahnya. Eee ya, 1:04:57 para petani itu sawah mereka sebelum 1:04:59 mereka eee tanam eee bibit padi, mereka 1:05:03 bersihkan dulu gulma-gulmanya. 1:05:06 Mereka bajak dulu tanahnya supaya 1:05:08 betul-betul keluar, tanahnya gembur 1:05:10 dalam keadaan baik, baru kemudian mereka 1:05:12 tanami. Nah, jadi itulah juga yang harus 1:05:14 kita lakukan. Diri kita ini ibarat 1:05:16 tanah, 1:05:18 sudah tertanam banyak perkataan buruk, 1:05:20 kita mendengar perkataan emosional dari 1:05:22 dari masa kecil kita sampai dewasa ini. 1:05:24 Kita mendengar macam-macam perkataan 1:05:26 yang waduh luar biasa sampai kita dewasa 1:05:29 seperti ini. Nah, itu kita kita buang 1:05:31 dulu, kita bersihkan dulu se se dapat 1:05:34 mungkin semisal nya. Nah, insya Allah 1:05:36 nanti ee benih-benih perkataan baik itu 1:05:39 jadi mudah bisa kita ee keluarkan dalam 1:05:41 kehidupan sehari-hari. Ya, demikian 1:05:43 kira-kira. 1:05:44 Baik, Ustaz. 1:05:45 Selanjutnya pertanyaan dari hamba Allah. 1:05:46 Assalamualaikum warahmatullahi 1:05:47 wabarakatuh, Ustaz. 1:05:48 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:05:49 wabarakatuh. 1:05:49 Ini bagaimana menghadapi orang yang suka 1:05:51 emosi dan suka berkata-kata kasar? Ini 1:05:54 mungkin korban dari orang yang emosional 1:05:56 bagaimana? 1:05:57 Iya, betul. Jadi memang agak memang ee 1:06:00 itulah apa ee 1:06:03 kalau kita 1:06:05 di lingkungan kita ya, ada orang-orang 1:06:07 yang seperti itu, apalagi orang dekat 1:06:09 kita ya, 1:06:11 maka kita sampaikanlah dengan berbagai 1:06:13 cara. Kalau enggak bisa langsung, 1:06:15 sampaikan dengan cara yang lain, dengan 1:06:16 cara yang mungkin di apa namanya 1:06:19 diperlihatkan 1:06:20 ceramah atau apa dan lain sebagainya 1:06:22 agar teringat gitu ya. Tapi penting bagi 1:06:25 kita untuk terus memberi peringatan, 1:06:27 untuk memberi terus memberi penjelasan 1:06:29 karena yang akan rugi dirinya sendiri, 1:06:31 diri orang itu sendiri. Coba Bapak Ibu 1:06:33 perhatikan. 1:06:34 Ee rata-rata orang-orang yang maaf ya 1:06:36 terkena penyakit kanker misalkan, 1:06:39 terkena penyakit penyakit yang berat itu 1:06:41 ya, itu rata-rata adalah yang memendam 1:06:42 emosional tadi seperti itu. Bu bukan 1:06:45 hanya memendam, memendam memendam dendam 1:06:48 ya, tapi juga yang mudah marah juga. 1:06:51 Orang yang mudah marah itu enggak enggak 1:06:52 bukan berarti wah lega gitu, enggak. 1:06:54 Karena dopaminnya menuntut terus tadi 1:06:56 kan gitu ya. Nah, sampai-sampai akhirnya 1:06:57 nanti dia ee kesulitan untuk bahagia dan 1:07:00 akhirnya itu akan seperti bumerang 1:07:02 kembali kepada dia merasa dirinya tidak 1:07:04 bahagia karena lambat laun dia akan 1:07:07 merasa ya kecewa gitu. Nah, jadi eh 1:07:11 penting untuk kita ingatkan orang 1:07:13 tersebut yang hidup bersama dengan kita 1:07:15 atau di tengah-tengah kita, diingatkan 1:07:17 dengan berbagai cara. Kalau tidak bisa, 1:07:19 ya sudah. Eh, kalau kalau memang itu apa 1:07:23 bisa dijauhi, dijauhi ya orang seperti 1:07:26 itu gitu ya, daripada kemudian nanti 1:07:27 membuat eh kehidupan kita menjadi eh 1:07:30 rusak juga gitu. Eh, tapi kalau kalau 1:07:33 bisa diingatkan, maka diingatkan adalah 1:07:36 yang terbaik. Demikian kira-kira. 1:07:38 Mungkin doa-doa 1:07:40 tertentu bisa meredakan emosi juga ada 1:07:42 ya, Ustaz ya? 1:07:42 Iya, eh tadi itu eh baik sekali firman 1:07:45 Allah dalam surat ke-7 ayat 200 tadi. 1:07:48 Eh, itu menurut saya adalah sesuatu yang 1:07:52 eh dahsyat. Eh, yakni taawuz. Ya, jadi 1:07:55 kalimat Allah "Wa imma yanzaghonaka 1:07:57 minasyaitoni nazghun, fasta'iz billah." 1:08:00 Nah, lafazkan saja kalimat 1:08:01 "Auzubillahiminasyaitonirojim." 1:08:04 Eh, kalimat utuh itu membuat otak kita 1:08:06 sadar, "Oh, iya ini kerjaan setan." gitu 1:08:08 ya. Atau kita bisa pakai kalimat yang 1:08:11 dipakai oleh Nabi Yunus alaihissalam. 1:08:13 Ketika beliau tersadar, ketika beliau di 1:08:16 dalam perut ikan, beliau mengatakan "La 1:08:18 ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu 1:08:21 minadzolimin." Nah, jadi kalimat itu 1:08:23 sebetulnya langsung eh contohnya adalah 1:08:26 ketika beliau itu marah gitu. Nah, jadi 1:08:28 kadang-kadang eh kita sering hafal 1:08:31 kalimat itu diulang-ulang ratusan kali 1:08:33 gitu ya, tapi karena konteksnya tidak 1:08:35 dijelaskan. Jadi, baca doa itu mah baca 1:08:38 aja, tapi 1:08:39 marah-marah mah marah-marah aja gitu ya. 1:08:41 Kesal-kesal mah kesal-kesal aja gitu. 1:08:43 Padahal doanya dihafal "La ilaha illa 1:08:44 anta subhanaka inni kuntu minadzolimin. 1:08:46 La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu 1:08:47 minadzolimin." Jadi, konteksnya harus 1:08:48 kita pakai. Jadi, kalau doa itu kita 1:08:50 baca, mudah-mudahan dia masuk kepada 1:08:52 diri kita untuk meredakan emosi kita, 1:08:55 untuk bisa memanage ya eh emosi kita. 1:08:58 Demikian kira-kira. 1:09:00 Baik, Ustaz Doni, kita sudah dibatasi 1:09:02 oleh waktu. Mungkin sebelum pamit, 1:09:04 disimpulkan bahasan dari Ustaz. 1:09:05 Baik. 1:09:06 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah, 1:09:08 Bapak Ibu sekalian, para pendengar Radio 1:09:09 Ras FM, para pemirsa Ras TV di manapun 1:09:12 berada. 1:09:13 Eh, 1:09:14 kata-kata itu adalah modal kita. Kita 1:09:17 akan masuk surga atau neraka nanti, itu 1:09:20 salah satu yang akan sangat menentukan 1:09:23 adalah kata-kata kita. 1:09:25 Eh, jadi ini memang ketentuan Allah 1:09:27 kepada kita, gitu ya. Maka itu, penting 1:09:30 sekali menjaganya. Nah, salah satu 1:09:32 menjaganya adalah nazghun tadi itu. 1:09:35 Ketika kita marah, ketika kita emosi, 1:09:38 ketika kita sedih dan lain sebagainya, 1:09:40 setan berusaha untuk memprovokasi kita, 1:09:43 agar kita bicara, agar kita berbuat, 1:09:46 bertindak, ya. Karena apa? Karena besar 1:09:49 kemungkinan kalau kita bertindak, 1:09:51 berbuat, bicara dalam kondisi marah atau 1:09:53 kecewa dan lain sebagainya, kita akan 1:09:55 bersalah. 1:09:56 Kata-kata kita akan bersalah. Kata-kata 1:09:59 perbuatan dan perbuatan kita akan kita 1:10:01 sesali. Itulah yang dicari oleh setan. 1:10:03 Jadi, Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 1:10:05 malam ini kita bicara tentang nazghun. 1:10:08 Mari kita hindari, mari kita bersihkan, 1:10:10 agar kemudian pada gilirannya nanti, 1:10:12 kata-kata yang baik mudah kita keluarkan 1:10:15 dalam kehidupan kita, sehingga tercatat 1:10:17 oleh malaikat Raqib dan Atid, kita bawa 1:10:20 pulang sebagai bekal kita menghadap 1:10:22 Allah subhanahu wa taala, kita bisa 1:10:24 berharap surga-Nya kelak dengan semua 1:10:26 itu. Wallahu a'lam bishawab, mohon maaf 1:10:28 apabila ada kesalahan dan kekurangan. 1:10:30 Billahi taufiq wal hidayah. 1:10:32 Wassalamualaikum warahmatullahi 1:10:34 wabarakatuh. 1:10:35 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:10:37 wabarakatuh. Demikian ikhwan akhwat, 1:10:38 tausiyah malam tadabbur Alquran bersama 1:10:40 Ustaz Doni Amir Sagap. Petunjuk Allah 1:10:42 dalam bertutur kata, tema besar kita dan 1:10:45 subtemanya yaitu kata-kata yang harus 1:10:46 dihindari, nazghun yang kita bahas di 1:10:49 malam ini, ikhwan akhwat. Semoga apa 1:10:50 yang disampaikan bermanfaat bagi kita 1:10:52 semuanya. Dan untuk anak sekali lagi 1:10:54 yang ingin bergabung nanti via Zoom 1:10:55 untuk pengajian di Jumat pagi bersama 1:10:58 Ustaz Doni di grup pengajian MMQ, 1:11:01 Majelis Makbul Qur'ani. Anda bisa 1:11:04 hubungi 081, 1:11:05 087780211692. 1:11:10 Baik, saya Fahri ditemani Neza dan juga 1:11:12 Yusuf Subagyo pamit. Subhanakallahumma 1:11:14 wabihamdika, asyhadu an la ilaha illa 1:11:16 anta, astagfiruka wa atubu ilaik. 1:11:18 Assalamualaikum warahmatullahi 1:11:19 wabarakatuh.