Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:03 [musik] 0:13 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:15 warahmatullahi wabarakatuh. 0:16 Waalaikumsalam. 0:17 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 0:19 wa ali sayyidina Muhammad. Alhamdulillah 0:21 kita berjumpa lagi hari ini, hari Kamis 0:23 tanggal 23 November 2025 atau tanggal 1 0:28 Jumadil Ula. 1447 Hijriah. Kita jumpa 0:31 lagi dalam acara Wirausaha Muslim. 0:35 Acara ini 0:38 memberikan ruang bagi Anda pengusaha 0:40 muslim untuk mempresentasikan apa produk 0:43 Anda. Silakan kalau mau kirim-kirim, mau 0:45 cerita-cerita produk Anda, boleh. Kami 0:48 membuka peluang untuk Anda pengusaha 0:50 muslim mempresentasikan produknya. Kami 0:54 sudah menghadiri ke sini ada David and 0:57 Maxi [tertawa] 0:59 yang satu musaha apa namanya? 1:02 Pewangi ruangan air presioner ya. 1:05 Iya betul. 1:06 Satu lagi tukang sate. Sate tapi bukan 1:09 sate Semarang. Sate. Sate di Jalan 1:11 Ampera Kemang. Dan itu pengingnya luar 1:15 biasa. Banyak sekali. Banyak 1:17 pejabat-pejabat datang ke sana. Saya 1:20 saya pernah pengin ngundang ini apa 1:22 Bapak Diak Sedaud. Bang mau ngundang 1:25 Mang wawancara di Rasil ngomong-ngomong 1:27 ah malas ana ngomong speak-speak di 1:30 umum. 1:30 He 1:31 gimana kalau kita makan sate aja? Nah 1:33 terus diajaknya lah ke Sate Ampera 1:36 pimpinan Muksin Salim Bahajat atau Maxi. 1:41 Asalamualaikum Maxi and David. 1:44 Waalaikumsalam. 1:46 Selamat datang di Rasil. 1:47 Selamat datang. Oke, kita mulai dari ini 1:50 dulu dari [mendengus] 1:52 David dulu. Bagaimana ceritanya yang 1:53 bisa kecemplung bisnis, pengharum 1:56 ruangan dan apa-apa macamnya itu. 1:58 Silakan. 1:59 Baik, terima kasih. Asalamualaikum 2:01 warahmatullahi wabarakatuh. Para 2:02 pendengar Radio Silaturahim, 2:05 perkenalkan nama saya David. Saya 2:07 tinggal di Jakarta, tepatnya di 2:09 Kalenderan ya. 2:10 Iya. Lahir dan besar di Jakarta. Enggak 2:13 ke mana-mana saya [tertawa] orang 2:14 Jakarta. 2:16 Nah, ee sebenarnya awal mula bisnis saya 2:19 tuh tidak langsung ujuk-ujuk di 2:22 pengharum udara, pengharum ruang. Jadi, 2:25 saya ingat sekali ya pada tahun berapa 2:27 ya ketika umat Islam berbaju-baju putih 2:30 tuh kita dulu kumpul-kumpul di Monas ya. 2:33 Rasanya 2:34 ada titik cerah persatuan umat saat itu. 2:38 Giroh umat tuh 2:40 apa lagi bagus-bagusnya. Nah, makanya 2:42 beralih ke ekonomi, gerakiner gerakin 2:45 gitu kan zaman itu ya. Nah, ada 2:47 teman-teman yang saat itu 2:49 mencoba membuat mini-minimarket. Nah, 2:53 saya pikir 2:54 aduh saya kayaknya kalau bikin 2:55 minimarket nih enggak enggak kapasitas 2:58 saya nih. Saya bikin produknya aja dah. 3:00 Pikiran saya gitu. kita bikin produk 3:03 mudah-mudahan 3:04 diterima nih sama teman-teman kita yang 3:07 bangun ee minimarket pada saat itu. Tapi 3:10 dilalah 3:12 ada something wrong mungkin. Jadi ya 3:15 udahlah gitu kan sudah lewat. Nah, tapi 3:17 ikhtiar saya untuk merealisasikan 3:20 produk-produk muslim itu kuat saat itu 3:24 gitu. Nah, saya mulai apa ya kira-kira 3:26 bisnis yang ee bisa dipakai dibeli 3:31 jutaan umat Islam? Ya, artinya 3:33 maslahatlah ya buat kita dan umat Islam 3:35 dan mudah-mudahan jadi jariah kita nanti 3:38 setelah kita enggak ada nih. 3:39 Wah, tapi orang mengenang kita karena 3:41 karyanya gitu kan. Saya tidak pintar, 3:44 saya bukan ahli agama gitu. 3:46 Nah, saya aktualisasikan yang saya 3:48 pertama kali keret itu 3:50 ee popok bayi. 3:52 Iya. Ya, kalau kita sebut mungkin 3:54 pampers gitu ya, pampers bayi. Nah, 3:58 mereknya apa ya waktu itu? Mereknya ad 4:00 popo ya. Saya simpel aja. Ada popo 4:02 enggak? Ade pikiran saya gitu. [tertawa] 4:05 Ada kita lidahnya orang kalender. Oh, 4:07 ad. Oh, ad popo aja. Ah, ada popok 4:09 artinya kan gitu kan. 4:10 Ee tahun 2015 tuh setelah saya 11 tahun 4:14 di bank, saya keret itu izin edar keluar 4:18 dan mulai dipasarkan. Tapi ya 4:21 ee sosialisasi 4:23 apa pengenalan 4:25 penjualan itu enggak gampang juga 4:27 ternyata. Tapi alhamdulillah di Lalah 4:29 Allah ada tunjukkan ada seorang 4:32 distributor di Kota Kudus, Jawa Tengah. 4:35 Nah, dia mengambil alih untuk melakukan 4:38 penjualan produk pampers saat itu. Nah, 4:40 dia yang ikhtiar dari 4:41 mereknya Ad Popo. 4:42 Iya, mereknya Adepo. Jadi warnanya merah 4:45 putih aja karena identitas bangsa 4:47 Indonesia. Saya pikir gitu. [tertawa] 4:49 Ini kontribusi umat kan merek pampers 4:52 kan di Indonesia kan enggak banyak ya 4:54 dan pabriknya juga enggak banyak. Nah, 4:56 sudah saya serahkan dia sama dia. Saya 4:59 fokus di produksi dan produk aja 5:02 penyediaan kebutuhan penjualan saat itu. 5:04 Nah, 5:06 dia berjalan 3.000 3.000 orang lah 5:10 setiap minggu membeli produk itu. Nah, 5:12 terus jalan lagi dengan merek yang sama 5:14 tisu. 5:15 Pak Krisna. Jadi untuk mengoptimalkan 5:17 penjualan deh kalau udah orang beli 5:20 popok kayaknya orang akan beli tisu deh. 5:22 Gampang. 5:23 Yang belum teras, belum percaya sama 5:25 tisu eh sama pampers dia beli tisu dulu. 5:28 Nah, kalau dia beli, nah pampersnya 5:30 ngikut gitu. Nah, akhirnya terjadi 5:32 penjualan dua kali lipat. 5:34 Nah, ee dilalah distributor saya itu 5:39 berhenti 5:40 bangkrut 5:41 kena investasi bodong. He. 5:44 Jadi modalnya itu kesedot di situ. 5:46 Akhirnya sampai dengan saat ini 5:49 penjualan 5:50 dipers dan tisu ini tidak berjalan lagi. 5:53 Hanya sedikit-sedikitlah gitu yang 5:55 berjalannya. Tapi tidak semasib pada 5:58 saat di-handle sama distributor 6:00 tersebut. 6:01 Nah, 6:03 2017 6:05 saya umroh tuh Pak Krishna. E Pak Parsi 6:08 umrah. Nah, umrah yang pertama dan umrah 6:13 itu tidak pakai biaya. 6:14 Hm. 6:15 Jadi pada saat saya lagi jatuh-jatuhnya, 6:17 lagi enggak punya duit, enggak punya 6:19 duitnya, karena duit itu tersedut pada 6:20 saat itu merealisasikan 6:22 e pampers itu. 6:24 Eeah tiba-tiba ada orang yang belum 6:26 pernah umroh juga. 6:28 Dia tanya saya, "Mau umrah enggak?" 6:31 [tertawa] 6:32 "Ah, saya mimpi de. Ah, saya lagi 6:33 kondisi gini. Ee mau umrah enggak?" ee 6:36 ya udah mau akhirnya dia biayai itu 6:38 padahal yang biayai belum umrah begitu 6:40 loh. [tertawa] 6:41 Atas dasar apa, Den? 6:43 Wallahuam. Bisa Allah yang gerakin kali 6:45 ya. Allah yang gerakin. Nah ee akhirnya 6:48 di sana. Nah saya e pada saat prosesi 6:52 umrah gitu ya selesai saya mencium 6:54 Ka'bah. 6:55 Mencium Ka'bah kok aromanya lembut ya? 6:59 Kok aromanya menenangkan jiwa? Kok 7:01 aromanya kok bikin 7:03 bikin kita tuh tenang. Ya Allah, dalam 7:06 hati saya tuh makanya di Makkah tuh 7:07 enggak boleh sembarang sebut kali ya. 7:09 Jadi sebutnya untung yang baik-baik tuh 7:11 Pak Krisna ya. 7:13 Ya Allah kasih kesempatan saya saya mau 7:16 bikin pengharum udara yang aromanya sama 7:20 dengan Ka'bah. 7:22 Karena saya apa ya pikiran tuh enggak 7:25 mau main minyak wangi karena kan 7:26 teman-teman muslim kita ud main tuh 7:28 sudah banyak toko-toko minyak wangi 7:30 muslim. Heeh. Nah, saya ambil air freser 7:34 aja pengaruh udara yang yang kalau di 7:37 kantor-kantor 7:38 itu kan ada nah yang begitu kan. Nah, 7:41 ini kayak gitu. 7:42 Nah, kayak gitu udah udah terpikir gitu. 7:43 Nah, 7:44 itu dapat knowledge-nya dari mana untuk 7:46 mencapai itu gimana itu? 7:47 Saya enggak tahu dah Allah yang kasih 7:49 jalan 7:50 enggak ada. Saya kan bukan 7:51 background-nya orang produksi, bukan 7:53 orang pabrik saya. 7:54 Nah, gimana itu dapatnya? Nah, gimana 7:56 kan udah udah kita sebut nih waktu saat 7:58 di Makkah kan ya Allah realisasikan eh 8:01 hamba untuk membuat satu produk yang 8:04 bisa maslahat buat umat umat tujuannya 8:06 gitu nih apa namanya saya enggak tahu 8:08 yang tahu hanya pengharum udara aja gitu 8:11 kan pengharum udara. Nah, ee singkat 8:14 cerita saya cari jalan, saya minta 8:18 beberapa botol kecil kali ya dari 8:21 askar-askar yang bertugas 8:23 memberi minyak wangi tuh di Ka'bah tuh. 8:25 Saya minta dong nanti saya akan 8:27 duplikasi pikiran saya gitu. Nanti saya 8:29 cari ke toko parfum tradisional nih yang 8:31 kayak gini ada enggak nih pikiran gitu 8:33 [tertawa] tuh. Ee 8:36 udah saya minta ternyata sulit 8:38 mendapatkan hal bau yang sama. Nah, 8:40 dilalah lagi ada informasi, coba kamu 8:43 datangi perusahaan Prancis itu 8:46 di mana? 8:46 Ee di Jakarta 8:48 tepatnya di Cawang. Datangin perusahaan 8:50 Prancis 8:52 itu yang keret ee bibit parfum 8:56 se-Indonesia. Dia importir ya, produksi 8:58 dan importir. Dia produksinya ada di 9:00 Jakarta. 9:01 Nah, saya bawa itu ke perusahaan Prancis 9:04 itu 9:05 istilah dia tuh matchingin 9:07 ya. Dia ini unsur A-nya berapa, unsur B 9:09 berapa. unsurnya simulasikan 9:12 terus dikeluarkan sama dia ini sama 9:14 enggak? H. 9:14 Alhamdulillah Allah kasih jalan nih. Ini 9:18 sudah dapat nih. Kalau proses dari 1 9:20 sampai 100 9:22 ini udah lima nih. Gitu kan. Tinggal 9:24 cari hal-hal lain. Cari mitra produksi 9:27 di mana ini namanya apa. Saya telepon ke 9:30 salah satu pabrik besar yang memproduksi 9:33 ini nih yang mereknya sudah beredar ke 9:34 mana-mana. Saya telepon bisa enggak saya 9:38 ee numpang produksi untuk sementara 9:40 waktu di sana? ya karena saya anak kecil 9:43 ya dia juga halus siapa sih kan gitu ya 9:46 ee enggak digublis enggak digublis 9:48 enggak apa enggaklah sudah tutup pintu 9:50 gitu kan padahal kalau seandainya ide 9:54 ini terinformasi sama dia mungkin dia 9:56 lebih dulu main 9:58 nah sekarang kan sudah ada tuh yang 10:00 pengharum wangi ya yang aroma kasturi 10:02 kan seolah-olah gitu kan mengingatkan 10:04 nah ide ini dilalah adanya ke kita nih 10:07 alhamdulillah Allah karuniakan kalau dia 10:10 lebih dulu mungkin mungkin kita sudah 10:11 habis artinya market diambil 10:14 mereka semua. Nah, akhirnya ada satu 10:17 pabrik di Bogor yang memproduksi dan 10:19 membuka pintu. Nah, 2020 alhamdulillah 10:23 terealisasi 10:24 ini yang pertama yaitu aroma kiswa. 10:28 Oh, 10:31 ada berapa produk sih? 10:32 E, ada yang base-nya itu ada dua varian. 10:35 Aroma Kiswa dan aroma Masjid Nabawi. 10:38 Dulu kita nama Raudoh namanya. He. 10:40 Tapi ternyata Raudoh itu mereknya sudah 10:44 didaftarkan oleh orang nonmuslim. 10:47 Oh, 10:48 boleh dicari zaman sekarang enak ngecek 10:50 ya ee merek ini udah di udah dipakai 10:53 belum nih? Teman-teman kita nih 10:55 hati-hati yang membuat produk atas nama 10:57 Raudo, atas nama Kiswa itu ada 11:00 undang-undang, ada aspek hukumnya tuh 11:02 yang melekat tuh. Jangan pakai-pakai itu 11:05 gitu kan. Nanti kalau digugat habislah 11:07 kita 11:09 pakai merek apa? Akhirnya ya sesuai ini 11:11 ini identitas mereknya sudah 11:12 tersertifikat AD Fres aroma Kiswah 11:16 alhamdulillah gitu dan ADVES aroma 11:19 Masjid Nabawi. Jadi saya enggak bisa 11:21 pakai Raudoh walaupun orang kenalnya 11:23 sudah tahu Raudah aja, raudoh aja. Jadi 11:25 begitu Pak Krisna. 11:26 Oke. Luar biasa Iwan Nanot ya. Tadi 11:29 sudah presentasi tuh e Mas David tentang 11:32 ee pengharum ruangan. 11:34 Heeh. Heeh. Ada yang aroma Kisfa, ada 11:37 yang aroma Ka'bah, macam-macam ya. 11:40 Oke, nanti kita kemb nanti ee 11:42 Mas David boleh tanya e Maksi. Maksi 11:45 juga boleh tanya 11:46 ee David ya. 11:47 Asalamualaikum Maksi. 11:49 Waalaikumsalam warahmatullahi. 11:50 Antum nih muksin asalim mbah hajat 11:53 kenapa kok jadi panggil Maksi ya? Saya 11:55 dulu nyanyi kan di salah satu tempat di 11:58 tempat di Medan ya. Saya lahir di Medan. 12:00 Jadi orang-orang luar itu selalu panggil 12:03 saya enggak bisa kurang nun dia. 12:06 Jadi maksin maksin lama-lama maksin. 12:09 [tertawa] 12:09 Oh gitu. 12:10 Jadi akhirnya saya bikin album 12:13 nama artisnya jadi Maxi. 12:14 Oh. 12:16 Ah. Terus baik bisa buku buka warung 12:19 sate di Ampera lagi nih. Dan penuh 12:21 sekali pengunjungnya. Itu bagaimana 12:23 ceritanya itu? 12:24 Ya pertama semuanya dari Allah Subhanahu 12:26 wa taala ya. Pertamanya. Yang keduanya 12:29 ee saya dulu memang bisnis suka bisnis 12:32 masak. Saya suka masak. 12:33 Oh masak. Masakan apa aja yang sudah 12:34 dikuasai? 12:35 Saya memang dari emak, dari kakak-kakak. 12:38 Oh 12:39 ee kambing suka karena makanan kita 12:42 sehari itu kan kari kambing, sop 12:44 kambing. 12:45 Jadi saya belajar, belajar, belajar. 12:46 Akhirnya saya suka panggil teman-teman 12:49 makan. Panggil teman-teman makan. Sampai 12:51 akhirnya karena saya vokalis kan vokalis 12:54 itu kan suka buat sesuatu kan supaya ada 12:58 rasanya gitu. 13:00 Saya kepengin mewujudkan itu dalam 13:02 bentuk wujud. Ada buka aja. 13:04 Ah bukalah ini sakti kambing. 13:06 Tentu sebenarnya spesifiknya kita sop 13:08 kambing aslinya. 13:09 Tapi karena satinya kita buat sate juga. 13:12 Jadi sate kambing, sop kambing, kari 13:14 kambing. 13:15 He. 13:15 Ah. Tapi karena kita lahir di Medan juga 13:18 kita buat ada sedikit Melayunya dia. 13:20 Oh. Ada satu Medan ada 13:22 ada satu Medan. Lontong Medan nasi 13:24 lemak. 13:25 Ini kesuhan sasaman. 13:26 Ada kepuasan sebagai orang Medan itu 13:28 [tertawa] 13:28 kita bawalah senang 13:31 ya 13:31 pagi gitu. 13:32 Oke. Itu buka tokonya kan di mana? Di 13:36 Ampera tuh mahal itu. 13:38 Heeh. 13:38 Bukan daerah mahal itu. 13:39 Mahal cuman Subhanallah dapat murah 13:42 dapat orang baik. Yang ngelola orang 13:44 baik. 13:44 Murah dan bagaimana bekas-bekas menteri 13:46 apa pada datang ke sana tu gimana 13:48 ceritanya? kan saya kan saya kan nyanyi 13:51 nyanyi kan banyak teman ya 13:53 jadi mereka itu sudah terbiasa juga 13:55 makan-makan saya punya. 13:56 Oh ya 13:57 kalau latihan di musik di rumah tuh ada 13:59 studio kan kadang-kadang ada latihan 14:01 kalau ada event latihan. 14:03 Nah begitu saya buka saya share 14:05 pada berdatangan ada yang kayak minggu 14:07 ini 30 orang. 14:09 Oh 14:09 ada yang 50 orang nanti gitu-gituah. 14:12 Cuman 14:12 satu-satunya 14:13 e masaknya e al emak-emak. He. 14:16 Jadi kita enggak pakai-pakai bahan-bahan 14:18 apa gitu yang normal-normal aja kita. 14:21 Warung sate yang pakai ban, yang pakai 14:23 band ya. Ini di tempatnya Maxi ini 14:25 bandnya Lemon Tea ya. Lemon tea ada. 14:28 Maxiso ada. Maxis ada juga. Lemon 14:31 katanya 14:32 dia enggak mau di kafe-kafe yang ada 14:34 alkoholnya. 14:35 Iya dia hijrah. Sudah Pak 14:37 hijrah. Jadi dia hanya hijrah 14:39 mau main di restor-restor yang halal ya. 14:42 Iya. mainan dia. 14:45 Saya termasuk enggak enggak kebagian 14:46 tempat tuduh penuh banget ya. 14:48 Takeway banyak ya. TW ya. 14:50 Alhamdulillah ada lah semua rezekilah 14:52 ya. Alhamdulillah. Alhamdulillah. 14:53 Boleh tuh ke pendengar kalau mau 14:55 coba-coba sate Maxian di Jalan Ampera 14:59 nomor berapa? 14:59 Ampera nomor 11. 15:01 Jalan Ampera nomor 11 ya. 15:02 11. Patokannya sebelum L merah aja. 15:04 Oh kalau tiap mingguan mah ada bandnya 15:06 situ ya. 15:06 Nah kalau hari Minggu ada band. Hari 15:09 minggu 15:09 itu satu-satunya warung sate pakai band. 15:11 [tertawa] 15:12 bandnya band top lagi. 15:14 Ee siapa penyanyi itu? Hah? 15:16 Toni. 15:17 Toni. 15:18 Aduh. 15:19 Lagu-lagu 80-an ya. 15:21 Ya. Klasik rock 80-an. Suka. 15:24 Dulu katanya pernah di Arab juga. 15:26 Saya lama di Arab. 15:27 Ngapain di sana? Kerja apa? 15:28 Saya kerja 15:29 saya kerja banyak 15:31 ee termasuk parfum ini kerja parfum juga 15:33 parfum ya. 15:34 Tapi yang lama saya banyak perjalanannya 15:37 saya sales bearing. 15:39 Oh Billy namanya. 15:41 Mu itu ngantar-antar ke kampung-kampung, 15:45 ke Mekah, 15:46 ke Madinah, ke Yombok, ke Taif. 15:49 Naik apa 15:49 saya jalan darat saya mobil kan tokonya 15:53 di Riat tuh 15:54 saya isi barang-barang semua satu truk 15:56 gitu bukan truk besar lah ya. 15:57 Ah itu saya muter keliling ke 15:59 kampung-kampung itu. 16:00 Oh 16:00 wah enak sekali. 16:01 Berarti sudah hafal ini. 16:03 Hafal saya 16:03 berapa tahun di sana? 16:04 10. 16:05 10 tahun. 16:06 10 tahun saya itu. 16:07 Heeh. 16:08 Jadi, jadi baru kita rasakan betulah itu 16:10 Sahara itu bagaimana tengah malam perik 16:13 tidur di pom bensin. Gimana suka suka 16:16 duka penagihan itu? Kan 16:18 kalau penagihan itu kadang-kadang ya 16:21 orang dagang ya, Pak. Kadang-kadang IBM 16:23 aja. 16:24 Apa itu? 16:24 Insyaallah Bukrah malu. [tertawa] 16:27 IBM. 16:27 Kita bilang kapan mau bayar? Insyaallah 16:30 kau datang besok. 16:32 Begitu besok kita datang, Mais mohon 16:34 maaf kalau kau datang baru aja aku 16:36 bayarkan besok kau datang lagi. Nah, itu 16:38 kok jangan itu enggak boleh marah. 16:41 Itu gimana menghadapi itu enggak boleh 16:42 marah. Sabar aja. Cuma kita jangan 16:44 tunjukkan muka kita ini. [tertawa] 16:47 Jangan rida-rida kali juga nanti enggak 16:48 bayar ya. Pura-pura lah ya. Ya begitulah 16:51 orang Arab itu kan suka dia. 16:53 Masyaallah. 16:54 Tapi alhamdulillah semua terlaksana 16:56 dengan baiklah. 16:57 Jadi muazak ya gantar-gantar. 16:58 Muaz namanya itu saya e kelilinglah 17:01 ngantar-ngantar barang, jualan barang 17:03 dia 17:03 pakai nanti sebulan sekali baru pulang. 17:06 Oke. 17:08 Wah, seru banget nih tamu wirausaha 17:10 muslim yang satu pengharum ruangan satu 17:13 sate. [tertawa] 17:15 Ee boleh minta nomor teleponnya? Boleh, 17:17 boleh, 17:18 boleh. 17:18 Oke, nanti saya kasih nomor teleponnya 17:20 ya. 17:21 Iya. 17:21 David Alfitri ini ee bisnisnya pengharum 17:25 ruangan. 17:26 Heeh. Satu-satunya 17:28 ee sama tisu dan pampers. Pampers bayi. 17:32 Adepo. 17:33 Oh, adepo ya. Jadi ee pengharup ruangan 17:37 untuk ee aroma Makkah. 17:39 Makkah dan apa? Ka'bah dan Madinah. 17:42 Madinah. 17:42 Heeh. Raudah. 17:43 Heh. Ini nomor teleponnya 0817 17:47 96 17:49 740. 17:52 0817 17:54 96 740. 17:58 Silaturahim. 17:59 Iya. Silaturahim ya. He. 18:01 Kalau muksin nih yang ee bandar sate 18:04 nih. 18:04 Heeh. 18:05 Satenya sate apa? Kambing. H ayam? 18:06 Sate kambing. Sate ayam. Sate hati. 18:08 Saya waktu enggak kebagian sate 18:09 kambingnya itu. 18:10 Iya. Cepat habis karena saya muda yang 18:12 muda-muda saya cari. 18:13 Masyaallah. 18:15 Muksiin nomor teleponnya 08211 18:19 35 18:23 1 satunya tiga kali. 082 11353111. 18:31 Kalau David, prinsip dalam berbisnis 18:34 apa? 18:36 Ee 18:38 kalau 18:40 ustaz, umat Islam, ulama tidak 18:42 berbisnis, kita tidak tahu bagaimana 18:45 Rasulullah berbisnis. 18:46 Oh, gitu. 18:47 Jadi sebisa mungkin kita aktualisasikan 18:51 apa yang kita tahu tentang Rasul dalam 18:53 usaha kita. He. 18:54 Tentang kejujuran, komitmen, kerja 18:57 keras, 18:58 ee janji ya, janji bayar, janji ketemu 19:02 orang, harus komitmen sesuai dengan jiwa 19:04 Rasul yang sidik, amanah, fatonah, 19:06 tablig. 19:07 Tapi sejauh ini profit ya, bagus ya. 19:10 Alhamdulillah. Jadi ee alhamdulillah 19:12 karena marketnya kan luas ya seluruh 19:14 Indonesia. Kalau dagang sate nih orang 19:16 Papua mau beli sate kagak bisa 19:19 Pak Maxi. Tapi kalau ee pengharum kita 19:22 bisa kirim. [tertawa] Ini kesempatan 19:24 untuk jadi agen-agen di kota-kota di 19:26 Indonesia. Cibubur bisa. 19:28 Wah, Cibubur apalagi tinggal loncat. 19:29 [tertawa] 19:32 Ee kalau maksudnya apa prinsip di dalam 19:33 bisnis apa? 19:34 Kalau saya ikut Imam Ghazali aja lah. 19:38 Orang yang paling mulia di mata Allah 19:40 itu orang yang disibukkan oleh dunia 19:43 untuk kepentingan akhirat. Tapi kita 19:46 mesti berhenti dulu di situnya. 19:48 Kita mesti di tengahnya ambil. 19:50 Seolah-olah 19:51 kita harus berserahlah kepada Allah. 19:54 Semoga kita 19:55 yang disibukkan dunia untuk kepentingan 19:57 akhirat. Karena tak ada upaya manusia 19:59 ini izin Allah Subhanahu wa taala. 20:02 Jadi ada satu cerita sedikit aja yang 20:04 berkaitan dengan filsafat ini. 20:06 Ada orang mabuk 20:08 bertanya kepada Syekh, H, 20:10 "Syekh, bisa enggak aku jadi muridmu?" 20:13 H 20:13 saya bilang, "Bisa 20:15 kau belajar jadi muridku." Ahlan 20:17 wasahlan. He. 20:18 Satu lagi boleh tanya saya? Boleh. Bisa 20:21 enggak aku seperti kamu? 20:23 Syekh 20:23 bisa 20:24 kau murid belajar 20:26 nanti kau bisa seperti kalau Allah 20:28 menghendaki. 20:29 H 20:29 sudah 20:30 saya boleh tanya lagi murid bilang 20:32 sudahlah sudah cukup satu kali terakhir 20:34 bisa enggak syah jadi aku kata [tertawa] 20:38 syh langsung bersujud minta ampun sama 20:39 Allah. 20:40 Oh 20:40 bah saya menjadikan dia syekh Allah 20:43 subhanahu wa taala. Oh, 20:45 yang menjadikan orang mabuk itu pun 20:48 mesti kita tetapkan juga kepada itu. 20:50 Makanya Umar bin Khattab awalnya hina, 20:52 akhirnya mulia. H. 20:54 Nah, jadi jangan hati-hati sama dengan 20:57 kealiman, hati-hati dengan ketenaran, 21:00 hati-hati dengan kesuksesan. 21:02 Semua itu Allah yang taruh. 21:04 Di tengahnya itu yang ditaruh. Hikmah 21:06 nih. Hikmah 21:06 antara dua itu tengahnya mungkin kita 21:08 taruh situ. 21:09 Kalau enggak kita taruh nanti kita rasa 21:11 ikhtiar kita yang membuat 21:12 berhasil padaan itu semua Allah 21:14 Subhanahu wa taala. 21:15 Oke, ini ada pertanyaan nih. Ee 21:19 [berdehem] Bang Maksi mau tanya kenapa 21:21 orang Arab pandai berbisnis? 21:23 Iya, 21:24 karena orang Arab itu kan hidupnya kan 21:27 berdagang. 21:28 Hm. 21:29 Hidupnya itu kan ee potensi negara kan 21:31 tak ada waktu itu Sahara. He. 21:34 Jadi perdagangan itu dari zaman Nabi 21:36 bawa bahan ke sini, taruh ke sini, 21:38 hijrah. Hijrah. 21:39 Ah, dalam berhijrah. Ah, cuman 21:41 prinsip-prinsip dagang itulah yang mesti 21:43 kita 21:44 harus jaga. Betul. 21:46 Jadi, orang Arab itu maka suka 21:47 berdagang. Datang ke Indonesia ini pun 21:49 karena perdagangan. [berdehem] 21:51 Cuman dia membawa akidah yang memang 21:53 betul-betul kuat. 21:55 Itu makanya orang Yaman ya kebanyakan 21:57 itu yang hijrah itu orang-orang Yaman. 22:00 Mereka itu hijrah 22:03 tidak balik ke rumahnya. 22:04 Hm. 22:05 Dia tidak membawa 22:07 tempat dia hijrah itu. Dia enggak ambil 22:10 hartanya buang ke negerinya. Enggak. 22:12 Dia kawin, [tertawa] dia beranak di 22:14 sini, dia hidup, dia habiskan uangnya di 22:17 situ. Jadi makmur satu tempat. Itu 22:20 sejarah 22:21 Arabnya itu. Itu 22:22 kalau begitu. 22:23 Oke. Masyaallah. Silakan yang mau 22:26 bertanya kami tunggu di 08111999 22:31 720. Nih ada dua pembisnis ya. Satu Bang 22:36 David, satu lagi Bang Maxi. Bang David 22:39 ee pembikin pengharum ruangan 22:43 ala Saudi. Kemudian ee Bang eh Maksi 22:49 bikin warung sate di Ampera 22:51 kuliner. 22:52 Kambing muda Maksib. 22:53 Kambing muda Maksip. Kami Muda Pangsi 22:56 Jalan Ampera nomor 22:57 nomor 11. 22:58 Nomor 11. 22:59 Ahlan wasahlan. 23:00 Ahlan wasahlan. Silakan. 23:02 Rasanya maksimal, harganya minimal. 23:04 Ah, masyaallah. [tertawa] 23:06 Mudah-mudahan. Iyalah murah-murah. 23:08 Maksi maksimal ya rasanya maksimal. 23:10 Siap. Harganya minimal. 23:12 Mau tanya ke Bang David, Bang David, 23:14 apakah pelanggan Bang David ada juga 23:16 orang Arab? Karena kan aromanya sana. 23:19 Alhamdulillah bukan hanya orang Arab, 23:21 orang nonmuslim juga jadi penjual 23:23 terbesar di Cengkareng. 23:24 Oh iya 23:25 ya. Sampai di MLM. 23:27 Hm. 23:28 Itu nonmuslim 23:30 eh Chinese. 23:32 Oh gitu ya. [tertawa] 23:34 Alhamdulillah. Jadi aromanya ini 23:37 nonmuslim pun senang. Jadi kita tidak 23:38 dipaksa mentang-mentang bau Ka'bah tapi 23:41 bikin kepala kita pusing. 23:43 Bahasa dulunya tuh nyongnyong ya. Tapi 23:45 kita ee kembali. Oh, Islam itu indah 23:47 loh. Islam itu wangi loh. Islam ini 23:50 segar loh. Islam ini modern gitu. Jadi 23:53 kita bagian dari dakwah lah. 23:54 Justru kalau kita sama yang nonmuslim 23:57 kita hati-hati tuh identitas Islam kita 23:59 nih yang nempel di yang diingat mereka 24:01 gitu. H. 24:04 Jadi bukan hanya Arab. [tertawa] 24:07 Oke. Dari Ibu Renong. 24:10 Bang Masi mau tanya apakah Bang Masi 24:12 juga pernah makan sate di tempat lain? 24:14 [tertawa] 24:15 Oh banyak. Saya saya sebelum buat sate 24:17 saya keliling. 24:18 Oh gitu. 24:19 Dan saya Subhanallah orang suka sama 24:21 sayanya. 24:22 Saya duduk saya cerita mereka yang 24:24 kasih-kasih ilmu saya. 24:25 Jadi yang saya enggak tahu macam mana 24:27 bumbunya mereka yang kasih tahu. 24:29 Nah ilmu sate apa yang paling penting? 24:30 Bagaimana sate itu mus lembut? Enak 24:32 lembut yang pertama kuncinya kambingnya. 24:34 Mus 24:34 kambingnya usianya berapa? 24:36 Di bawah 5 bulan lah kalau jadi ee 24:39 kambing-kambing 5 kilo, 6 kilo 24:42 itu dicarilah dipotong ambillah pahanya. 24:45 He 24:46 ambil ininya. Maka ditusuk. Kalau sudah 24:48 kami mudah tak perlu diapa-apain lagi. 24:51 Hm. 24:51 Tinggal dibakar saja selesai. Sudah 24:54 mudah dia. 24:55 Kalau bumbu-bumbunya apa yang 24:56 bumbunya? Bumbu kacang. Bumbu kecap. 24:58 Kalau bumbu kecap itu sederhana aja 25:01 supaya ibu-ibu atau sahabat-sahabat bisa 25:04 juga mempraktikkannya. 25:05 Dirajang bawang, dirajang tomat, 25:07 dirajang cabe rawit, 25:09 taruh kecap, taruh juruh nipis. 25:11 Sederhana saja. 25:13 Selalu habis dia malam dia 25:14 habis. 25:15 berapa kaming satu malam habis? 25:17 Bisa dua, tig bisa. 25:19 Oh, masyaallah. 25:20 Bisa bisa tergantung. Kadang-kadang ada 25:23 pesanan dari luar juga. 25:25 Oh, ada pesanan dari luar ya. 25:26 Tapi kadang-kadang itu 25:27 kita tanya bocorannya nih, Pak Krisna 25:29 nih. 25:29 Silakan. 25:30 Itu biar bisa pas gitu rasanya ya, itu 25:33 berapa lama sih apa kira-kira berapa 25:36 menit gitu ya manggangnya ya? 25:37 Mang dia kan kalau menit kan kita enggak 25:39 bisa pastikan tergantung aratnya 25:41 bolak-baliknya bagaimana. 25:42 Yang penting masaknya itu bakar aja 25:44 dulu. Heeh. 25:45 Begitu sudah agak sedikit berapa menit 25:47 gitu, baliklah 25:48 supaya ada colornya. 25:51 Jadi color kita tahu. Jadi dagingnya pun 25:54 tak boleh kering-kering kali matang. 25:55 Matang 25:56 habis air dagingnya keras. 25:58 Kambingnya kambing dari mana itu 26:00 kambingnya itu saya bisa dari Jawa, bisa 26:04 juga dari Bogor saya. Hmm. 26:07 Tergantung 26:07 sekali pesan berapa banyak? Ee saya 26:09 pesan dua ekor, 3 ekor, tapi du hari 26:12 sekali, sehari sekali gitu tiap hari 26:14 karena dia belanja kan. 26:16 Kalau untuk dimakan 26:17 kalau di stok nanti enggak enak. 26:19 Kalau untuk makan malam dipotongnya 26:20 kapan? Pagi. 26:21 Ee kalau dipotong pagilah. 26:23 Pagi? 26:23 Pagi sudah ditusuk-tusuk dah itu. 26:26 Hm. 26:26 Malam sudah ditusuk untuk jualan pagi. 26:29 H. 26:29 Jadi ini besok mau jualan, malam sudah 26:31 rapi. Jadi besok enggak ngerja-ngerja 26:34 lagi. 26:35 Heeh. 26:35 Tinggal bakar aja. Oke, Bang Max selamat 26:37 datang di Rasil dari 26:40 siapa nih? Arto. 26:43 Ee 26:45 berapa jumlah pegawainya? 26:47 Saya pegawai sekarang sembilan. 26:49 Sembilan. 26:50 Sembilan orang sekarang. 26:51 Terus pembagian selarinya gimana itu? 26:53 Kalau 26:53 pembagian selari insyaallah sebelum 26:54 tanggal awal akhir bulan bayarlah semua. 26:57 Hm. 26:58 Sebelum 26:59 itu dari sebelum dia lamar sudah 27:01 ditentukan gajinya berapa-berapa. Bukan. 27:03 Bukan peruntungan bukan. 27:04 Ditentukan. Enggak. Belum. Enggak. 27:05 Enggak 27:06 kita gaji bulanan ngikuti inilah 27:10 ngikuti peraturan ya. 27:12 Kalau David berapa pegawainya? 27:14 Saya tidak banyak lima orang. 27:16 Lima orang. 27:17 Heeh. Jadi ee produksi 27:19 yang produksi siapa? 27:20 Produksi kita bermitra sama pabrik 27:23 besar. Alhamdulillah sekarang sudah 27:24 diterima, sudah welcome mereka karena 27:26 penjualan kita kan naik terus nih, grow 27:28 terus nih. 27:29 Masyaallah. 27:29 Heeh. Jadi ee mereka setelah hasil 27:32 produksi report ee hasil produksi kita 27:35 mulai distribusikan ke agen-agen kita, 27:37 Pak. 27:38 Ada di beberapa kota. 27:40 Oke. 27:41 Dari Riri Bang David mau tanya bagaimana 27:43 untuk penjah peniruan bareng menjaga? 27:45 Ah, ini dia ini yang jadi masalah saya 27:49 termasuk yang sudah menjual-jual produk 27:52 kita. Tadinya kan kita memang 27:54 identitas kita kan air frresner. 27:56 tiba-tiba nanti di lapangan bikin dong e 27:59 yang roll onroll onan gitu ya. Padahal 28:02 tadinya kan kita tidak main tuh. 28:04 Akhirnya pedagang-pedagang itu yang 28:06 memakai nama merek ee merek kita untuk 28:10 dijual misalnya. Makanya di lapangan tuh 28:13 banyak kiswah, Raudah, Nabawi. Padahal 28:16 itu ya mohon maaf ya ee ilegal gitu. itu 28:20 tuh mungkin himbauannya gimana ya kalau 28:23 belum belum ada yang diciduk mungkin ya 28:27 masih menyebar luas tapi ya kembali lagi 28:30 Allah sudah ngatur rezeki kita dah 28:31 biarin aja gitu 28:33 enggak dibiarin aja nih 28:34 sampai saat ini saya masih ya biarin aja 28:37 lah saya enggak bisa itu juga 28:39 kadang-kadang juga 28:41 tapi kalau perusahaan besar enggak 28:42 mungkin pakai merek yang sudah terdaftar 28:44 itu pasti saudara-saudara kita yang ya 28:47 udah bagi makan apa cari sama-sama cari 28:49 makanlah gitu aja Hm. Oke. 28:52 Dari Bapak Bambang, apakah Bang David 28:56 dan Bangsi pernah kepentok dengan 28:59 penipuan atau kerugian? H 29:03 kalau 29:03 sering. [tertawa] 29:05 Nah, bagaimana terus bangkit lagi 29:06 gimana? 29:07 Ee bangkit lagi kembali lagi. Itu aja. 29:09 Udahlah rezeki kita 29:10 kerugiannya kenapa? Ditipu apa gimana? 29:13 Biasanya gitu. Jadi e kirim dulu. 29:16 Padahal itu teman dekat, padahal mereka 29:18 pakai peci putih, pakai sorban. 29:20 Kirim dulu kirim ya. 29:22 Dikirim e kirim ke mereka nanti mereka 29:25 nyuruh orang lagi jualan. 29:27 Nah, akhirnya orang yang disuruh itu 29:28 tidak setor kan. Nah, yang saya orang 29:31 itu saya anggap percaya ya akhirnya 29:33 tidak menyetor ke saya juga begitu. 29:37 Jadi kalau sih pernah ada makan 29:39 saya di rumah makan tak ada lah. 29:40 Enggak ada ya? [tertawa] 29:42 Berk 29:43 aman-aman aja orang Indonesia enggak 29:46 mau. 29:47 Jadi Tuti tetap bayar ya orang kirim 29:48 kambing dibayar ya. 29:51 Bang Makasi apa sih zikirnya? Kok 29:53 satenya bisa laku banget tadi ya. 29:55 Oh 29:57 dari Tata 30:01 ya Kal. Kalau jadi begini, e peristiwa 30:06 Siti Hajar itu, peristiwa Siti Hajar itu 30:09 waktu dia ditaruh Nabi Ibrahim di raudah 30:13 e di tawaf sai. 30:15 Heeh. 30:16 Ditanya sama, "Ya Nabi Allah, apakah ini 30:19 dari pikiran kau?" 30:20 He he. 30:21 "Tidak, ini dari Allah. Kalau Allah 30:23 sudahlah tinggalkan kami di sini. Allah 30:25 merahmati kita." 30:27 Ini menariknya ni 30:28 tawakal ya. 30:29 Mulai dari 30:32 tawaf. Eh apa? 30:33 Marwah. 30:34 Marwah safa, kesucian kepuasan. 30:36 Kesucian, kepuasan. 30:38 Itu kan wujud manusia itu harus 30:39 berikhtiar. Dia 30:41 mesti dinampakkan sama Allah kita tu 30:43 berikhtiar. Itu makanya Siti Hajar itu 30:45 berikhtiar dia dalam mencari air. Karena 30:47 anaknya sudah nangis, sudah meresahkan 30:50 Nabi Ismail ini 30:52 sampai tujuh lemas sudah enggak sanggup. 30:55 Apa yang dibuat Allah Subhanahu wa 30:56 taala? Dikeluarkanlah air zamzam ini 30:59 tapi tidak dari ikhtiarnya. 31:01 Hm. He. 31:02 Tapi dari kaki celah-celah jari Nabi 31:05 Ismail. 31:06 Masyaallah. 31:07 Artinya berpegang teguh kepada asbab. 31:11 Heeh. 31:11 Sebab akibat tu kita berusaha, kita 31:13 sati, kita baguskan, kita bagus. Tapi 31:15 jangan pernah menyandarkan dalam hati. 31:18 Rezeki, langkah, pertemuan maut, jodoh 31:21 di tangan Allah Subhanahu wa taala. Jadi 31:23 kawan yang sahabat saya ini enggak usah 31:25 pikir, buat saja. Kalau Allah 31:27 menghendaki Anda kaya, kayalah dia. 31:29 Kalau Allah menghendaki Anda miskin, ya 31:31 sabar saja. Karena kesabaran itu lebih 31:33 bagus daripada kekayaan itu. 31:36 David, ada pertanyaan enggak buat Maksi? 31:38 Saya pertanyaannya udah pengin ke sana 31:40 aja [tertawa] 31:42 ya. Nanti para pendengar hasil kita 31:44 cobain ya nanti apa kasih password lah 31:47 biar dapat diskon nih. Berarti pendengar 31:50 pendengar hasil ya Pak Krisna ya. 31:52 Diskon. [tertawa] 31:54 Oh yang mendengarkan gitu ya. kita lama 31:56 lagi jadi enggak beruntung besar-besar 31:58 kali. [tertawa] 31:58 Wah, saya di Bogor jadi pengen makan 32:00 sate Ampera nih. Sebelah mana sih? 32:02 Waduh, jadi dibikin ngiler aja. Ee, dari 32:07 siapa nih? Dari Susi. 32:10 Heeh. 32:10 Ee, Bang Maksi apakah sudah pernah 32:12 nyobain ee sate-sate yang ada di Ampera 32:17 dan Kemang? 32:18 Kalau di Ampera itu enggak banyak ya 32:21 sate, Pak? 32:22 Enggak banyak. yang terkenal itu di 32:23 Kampung Melayu. 32:25 Oh iya, Kampung Melayu ada dua situ. Ada 32:26 Habib, ada Mansur. 32:28 Ada Mansur, ada di Pondok Bambu, 32:31 Batimbul. 32:32 Heeh. 32:32 Wah, itu itu hebat itu guru-guru kita 32:35 semuaah itu. 32:35 Oh, belum sate Anda tuh di mana sate 32:38 Anda semua. Wah, ini hebat-hebat. 32:41 Jadi, sesama muslim itu bukan pesaing 32:42 ya, itu guru-guru kita ya. Ah, itu 32:45 makanya di antara kita sama dengan 32:47 perdagangan kita, kita taruh 32:49 tengah-tengah Allah. 32:52 [tertawa] 32:54 karena apa ketika Nah ini ini bagus juga 32:58 [tertawa] ini ulama ulama dahuluah ini 33:00 bicara kalau kita bahagia dengan 33:02 kebahagiaan orang lain 33:04 kebahagiaan orang itu tutup ketok pintu 33:06 kita ambil bahagiaku ini. 33:08 Masyaallah. 33:08 Jadi enggak perlu kaya 33:10 enggak perlu juga miskin kaya sudah 33:12 urusan Allah deh. Kita berdoa lah kalau 33:15 kaya dicoba lebih enak juga memang 33:17 dahsyat. 33:18 Engak [tertawa] 33:18 itu baru omongannya ya belum satenya. 33:22 dari Bupati. E maaf ya, Pak Pangsi. Apa 33:25 kok masih belajar tasawuf juga? Katanya 33:28 [tertawa] 33:29 saya banyak belajar-belajar jugalah tapi 33:31 ee Alhikam ada, tasawuf ada, saya masuk 33:34 juga salafi, saya masuk juga ke mana 33:37 Alwasdriah, NU, Majelis Tabl saya maasui 33:40 semua. 33:41 Masyaallah. 33:43 Yang penting kan kita besarkan Allah 33:44 Subhanahu wa taala. 33:46 Metode-metode itu kita pakai, yang cocok 33:47 kita pakai, kita pakai 33:49 yang rasa-rasa kita enggak mau pakai, 33:51 tak usah salahkan orang lain. 33:53 Kita pakai saja yang kita mau pakai. 33:55 Sama aja. Kita tidak dituntut atas 33:57 pertanggungjawaban dalil 33:59 karena kita umat pengikut. 34:01 Sudah ada mazhab ulama-ulama mazhab tuh. 34:03 Sudah ada ulama-ulama kita yang 34:04 ngasih-ngasih fatwa. Biarkan saja sudah 34:07 kita ikut aja. Paling enak ikut 34:09 masing-masing di posisinya. Ya 34:10 sampai nawat aja paling enak. Udah 34:13 iya iya 34:13 enggak ada beban. Oke, siap. 34:17 Jadi apa santapan rohaninya dapat apa 34:20 santapan jasmaninya dapat kalau di sate 34:24 [tertawa] 34:24 datang ke kita, kita bisa muzakarah 34:27 sate maksim 34:28 enggak mau cerita agak mau cerita musik 34:30 ini juga bisa. 34:32 Oke. 34:34 Ee wah saya pernah ke Sate Ampera penuh 34:38 sekali itu. 34:40 Oh emang mungkin minggu malam kali ya. 34:43 Iya, kadang-kadang ada event gitu pas 34:45 orang datang ada juga sepi juga, Pak. 34:48 Ada juga enggak semuanya juga ramai. 34:50 Kalau baru-baru buka gitu kan siang mau 34:52 menjelang siang 34:54 ya. Tapi kalau udah makan siang 34:55 lumayanlah. 34:56 Ini adaanya bagaimana cara mendapatkan 34:58 pewangi Ka'bah dan bagaimana untuk 35:02 berkunjung ke Ampera datang aja. P saya 35:04 kasih nomor teleponnya aja ya. 35:06 Heeh. Ee nih David Alfitri adalah 35:10 pengusaha air freser atau pengharum 35:13 ruangan. 35:14 Heeh. 35:15 Apalagi teh aromanya? 35:16 Aromanya tuh ada lima. Jadi aroma kota 35:19 suci umat Islam dan kota peradaban Islam 35:22 dunia. 35:22 H 35:23 saat ini baru ada lima. Ee Kiswah itu 35:26 identitas Makkah, Nabawi itu identitas 35:29 Madinah. Ee Tarim identitas Yaman. 35:34 Kuba. 35:35 Ah, Tarim ini yang merah ini. 35:36 Oh, 35:37 e aromanya itu Arab yang 35:40 agak kuno lah ya, kuno. 35:41 Agak nyongnyong gitu ya. Tapi peminatnya 35:43 banyak. 35:44 Gimana mendapatkan? 35:45 Kan kita gurunya Habib-habib. 35:47 Oh, gitu. 35:48 Colek dikit dong gitu. Oh, iya. Kita 35:50 bikin yang kayak gini. 35:51 Ini David 35:53 David pewangi ruangan adalah 0817. 35:57 Sudah. Kemudian 96. Kemudian 740. 36:03 He 36:03 0817 36:05 96 740 36:08 silaturahim ya. 36:10 Masih sate kambing Ampera nomornya 081 36:16 0821 36:19 lagi 35 36:23 111 36:25 082 36:27 11 36:29 35 36:32 111 36:34 H. 36:35 Ini lahirnya pada Desember semua ya? 36:36 Iya [tertawa] akhirnya saya juga 36:37 Desember katanya. 36:40 Capricorn 36:41 bisa begitu ya 36:42 sepatungan kita. [tertawa] 36:45 Masyaallah. 36:48 Acara wirausaha muslim kali ini seru 36:51 banget. Saya senang dengarnya. 36:53 Ee 36:55 Pak Maxsi bisa masakan apa lagi? Cerita 36:58 dong. Katanya 36:59 saya ee suka masakan Melayu 37:02 karena emak kan 37:04 ee lahir kami didikan Melayu di Medan 37:07 Melayu. 37:07 Kuncinya apa sih? itu berani bumbu san 37:11 apanya. Jadi kalau kita bikin nanti 37:13 lontong Medan tuh lodehnya tuh lain 37:15 sama tochonya ada. 37:17 Di merah ada lontong Medan juga 37:18 ada. Udah hari Jumat insyaallah buka 37:20 lontong Medan. 37:21 Aduh 37:21 bawa dari Medan orangnya. Emak-emak 37:23 semua berumur-berumur. 37:25 Heeh. Jadi makan lontong, nasi wudu, 37:28 nasi kuning, soto. 37:30 Waduh 37:31 pecal. 37:33 Ini buat rindu. Buat rindu aja. Karena 37:36 pagi kan perlu juga sarapan kan. I 37:38 kalau sok kambing kan kambing-kambing 37:40 itu biasanya sore orang suka datang 37:42 perlu kehangatan kambing 37:43 perlu kehangatan dia kalau sore. 37:45 Pak Iskandar ee Pak Mangsi bisa masakan 37:49 Aceh enggak katanya? 37:50 Ah itu saya tak pandai tu pandai Aceh. 37:52 Tak pandai 37:53 tak bisa saya masak Aceh sama sekali. 37:55 Tak bisa 37:56 lebih itu ya bagus. Enak enak dia kari 37:59 pulih bagus banyak bumbunya lebih keras. 38:03 Kita juga pencinta 38:03 saya rasa ya tapi enggak tahu saya. 38:05 Kita juga pencinta kuliner. [tertawa] 38:07 Oh, gitu. 38:09 Ee Pak Masi, kenapa sekarang orang Arab 38:12 juga makan nasi? Padahal dulunya kan 38:13 enggak makan nasi. 38:15 Iya, karena orang Arab di yang datang ke 38:16 sini kan udah udah lahir di sini. 38:19 Bukan orang yang di Arab yang di 38:21 maksudnya 38:21 di Arab di sana dia malam makan roti. 38:24 Oh, malam makan roti. 38:25 Kalau siang dia makan kapsa. Bukhori 38:27 namanya. 38:28 Kalau rus yang murah meriah itu yang 38:30 banyak 38:31 kita beli R. 38:32 Beras mati tu 38:33 beras mati itu semua nasi enggak pakai. 38:35 Enggak semua pakai beras mati. Pas mati 38:37 itu dari dari mana? Dari Pakistan. Dari 38:39 Pakistan. Dari Pakistan ada, dari Mesir 38:41 ada. Tapi yang banyak Pakistan. Abukas 38:44 ada merek mereknya juga. Bagus. 38:46 Jadi beras mati itu masakan utama orang 38:50 Arab. Di Saudi ya saya 38:52 di Saudi di Yaman juga beras mati enggak 38:54 ada pakai beras 38:55 Ramos, 38:56 beras ini pandan wangi. Dia enggak 38:59 enggak masuk ke sana dia. 39:01 Iya. 39:01 Enggak tahu orang tuh suka itu kayaknya 39:03 enggak suka Pulan ya, 39:04 Bang? 39:04 Enggak. Heeh. 39:06 Bang Masi, kenapa kalau di Saudi kalau 39:08 acara kawinan acaranya malam? Malam 39:11 sekali. Betul. 39:12 Di sana kehidupan di sana itu memang 39:14 malam. 39:15 Oh, gitu. 39:16 Jadi makannya itu aja kalau yang 39:18 laki-laki bisa 11 sampai jam 12 malam 39:21 gitu. 39:22 Perempuan tuh jam 3. Baru makan. 39:24 Jam . 39:26 Lum. 39:26 Heeh. Memang begitulah adatnya. 39:28 Sahur kali. 39:29 Jadi diundang berkawinan itu jam 10. 39:32 Baru orang datang. 39:33 Jam 10. 39:34 Jam 10. baru datang. 39:35 Terus acaranya apa aja biasanya? 39:37 Acaranya enggak ada. Ahah. Pertama kali 39:39 saya viral ada 39:40 saya viral ada nyanyi saya. [tertawa] 39:42 Oh nyanyi 39:43 kalau kalau lihat di channel YouTube itu 39:45 ada 39:45 ee orang Arab kalau senang 39:48 itu saya yang nyanyi. 39:49 He gimana 39:49 kayak Mas Batangan sawer saya pakai Mas 39:52 [tertawa] Batangan ada kawin Mbah Naim. 39:54 Kawinan Abu Jad Salim Banaim. Ee 39:57 kebetulan saya yang nyanyi. Widi 39:59 masih bisa lagu-lagu Saudi juga. Enggak 40:01 berani saya bawa lagu Arab karena lidah 40:03 kan pasti hancur. 40:04 Oh gitu. 40:05 Saya bawa lagu Melayu, ikan dalam kolam 40:08 saya bawa. 40:09 Misalnya gimana lagunya itu? 40:10 Hah? 40:10 Lagunya gimana? Misalnya 40:12 jangan-jangan dulu janganlah diganggu. 40:18 Biarkan saja dia duduk tenang-tenang. 40:22 Itu saya nyanyikan Arab-arab G [tertawa] 40:25 itu saya sudah ada R8 juta sudahud yang 40:27 nonton. Oh, ya. 40:28 Jadi saya setelah kawinan itu 40:30 apa alamat YouTube-nya 40:31 itu orang yang masukkan. 40:33 Oh, orang yang masukkan. 40:34 Jadi dibuka di YouTube itu channel 40:36 YouTube itu kalau kalau orang Arab 40:38 senang gitu tulisan. Kalau orang Arab 40:40 senang 40:40 kalau orang Arab senangnya ya. 40:42 Kalau orang muncullah muka saya di situ. 40:44 Ada 40:44 lagu Melayu. Ternyata dia senang ya. 40:46 Oh, saya bawa lagu Melayu batnya bat 40:48 Arab. 40:49 Saya [tertawa] kasih dia gendang. 40:51 Saya bawa buat gini saya pakai minus 40:52 one. 40:53 Coba silakan Anda buka YouTube Anda. E 40:55 ketik kalau orang Arab senang. Nah, itu 40:57 yang nyanyi maksi 40:58 saya pergi toko unta tempate. 41:01 Saya kan makan unta, Pak. Unta muda. 41:03 Saya langsung minta foto. [tertawa] 41:06 Harap terkenal juga saya 41:09 orang lagu Indonesia. 41:10 Eh, 41:11 daripada 41:12 kok tadi kenal sama Pak Ihsan. Gimana 41:13 cerita Pak Ihsan Talib? 41:14 Pak Ihsan Talib ini pertama kali orang 41:17 baik. 41:17 Heeh. 41:18 Saya kenal ceritanya itu masyaallah 41:19 tabarakallah. 41:20 Yang kedua lama dari Umi Padlon. Saya 41:23 dulu sudah dianggap anak Umi Padlon. He. 41:25 Jadi sayalah sering berkunjung tempat 41:27 Pak Parit, tempat Pak Eh ni jumpalah 41:30 silaturahim. Silaturahim dulu sering 41:33 pagi jam 10 gitu sebelum orang tu kerja 41:36 kami datang sama [tertawa] 41:38 Paklon. Jadi saya kisah lama sudah lama 41:40 kenal mungkin 15 tahun. 41:42 Oke. Kalau David kenal rahasnya sejak 41:44 kapan? 41:45 Sejak saya bekerja di bank dulu. Jadi 41:48 saya pakai headset. 41:50 Jadi perjalanan saya dari kalender ke 41:51 Peluit itu saya selalu mendengarkan 41:53 Rasil. Jadi dulu haal-hafal tuh jam 41:56 berapa, hari apa pengisi-pengisi 41:58 acaranya saya hafal zaman dulu dan itu 42:00 yang yang mengisi ruang agama di di 42:04 kepala dan batin saya. 42:05 Kalau David makanan kesukaannya apa? 42:07 Saya apa ya? Saya 42:11 suka nasi uduk. 42:12 Oh. [tertawa] Oh. 42:13 Makanan Betawi. 42:14 Sate enggak? 42:15 Sate banget. 42:17 Mesti kita datang sampai 42:18 biasanya makan sate ayam pakai tongseng 42:21 kambing ya itu terbalik gitu. e diix ya 42:25 kombinasi [tertawa] 42:28 e 42:30 Bangsi bagaimana cara makan sate kambing 42:32 dan lain-lainnya supaya tidak 42:34 kolesterol? 42:35 H 42:35 waduh 42:35 kalau kambing muda itu tapi saya bukan 42:38 doktor Pak tak berani juga saya bilang 42:40 [tertawa] 42:41 kata-katanya tak ada kolestnya. 42:43 Heeh. Yang jelas kambing ini kan hampir 42:48 semua 42:49 nabi 42:49 nabi memelihara kambing. 42:51 Heeh. He. 42:52 Dan menyebutkan namunya dengan daging 42:53 ngamb 42:53 dan menyebut dan Rasulullah pernah 42:55 berkata suka pahanya kambing. 42:58 Heeh. 42:59 Artinya pasti ada kebaikan dalam diri 43:01 kambing. 43:02 Tapi mungkin 43:04 ah ada lagi unsur-unsur lain yang tidak 43:07 dibolehkan mungkin atau dibolehkan kita 43:09 tak berani bicara ya itu dokterlah 43:11 ya. Tapi kalau pendapat saya, kita orang 43:13 Arab dari dulu makan kambing. 43:15 Hm. Kalau orang Arab kalau bikin 43:17 enggak bisa enggak makan kambing orang 43:18 Arab 43:20 kambing atau motong ayam atau kambing 43:21 jero-jeroannya kan dibuang. Kala ini kan 43:23 masih dimasak di 43:24 dimagdap di dililit dililit dia namanya 43:27 magdab. Perut kambing tuh sama ususnya 43:29 dililit. 43:30 Oh enggak enggak dibuang 43:30 itu kalau pakai daging bakar pakai itu 43:32 enaknya loh. 43:32 Waduh [tertawa] 43:35 udah kebayang ya 43:36 daging goreng. Saya buat daging goreng 43:38 tanbay. Oh, gimana caranya? Itu 43:40 daging goreng tanpa minyak. Jadi saya 43:42 goreng tapi dia enggak tanpa minyak. 43:44 Oh. 43:45 Itu faedahnya apa? Kelebihan apa? Kalau 43:47 memang benar-benar makan daging kita. 43:50 Oh, enak ya. 43:51 Berasa tapi dengan catatan itu aja. 43:53 Kambing udah, udah itu aja kuncinya itu 43:55 aja. Udah. H. 43:56 Enggak usah kita mutar-mutar ke 43:57 mana-mana balik ke situ aja. Kambingnya 44:00 mesti mudah. 44:02 Heeh. 44:03 Kalau jantan sama betina itu bedanya 44:05 apa? Rasanya 44:05 sama aja. Tapi banyak [tertawa] dijual 44:07 betina. 44:08 Betina. Iya. 44:08 Jantan tuh kadang-kadang jarang keras 44:12 banyak. 44:12 Oh gitu. Pak Wasi, apa bedanya daging 44:15 domba dengan kambing biasa kalau di 44:18 bukan sate? 44:19 Kalau daging domba itu manis dia. Lebih 44:21 manis daripada kambing biasa. 44:23 Manis. [berdehem] 44:24 Ah lebih empuk juga. 44:26 Tapi kambing kambing jawa ini kalau diop 44:29 cantik banget. 44:30 He he. 44:30 Enggak ada lemak. 44:32 Kalau domba tuh kadang-kadang lemaknya 44:33 ada, tapi kalau yang muda-muda ni enggak 44:35 begitu banyak lemaknya. 44:37 Hm. He. 44:37 Jadi air sop itu enggak enggak banyak 44:40 lemaknya kalau pakai kambing Jawa. 44:41 He. 44:42 Kambing dari Jawa itu tapi tetap 44:44 ukurannya mudah. 44:46 Oke. 44:46 Itu makanya [berdehem] kita masih banyak 44:48 lagi kekurangan kita dalam membuat sate 44:50 ini. Kita masih banyak lagi belajar dari 44:53 petinggi-petingginya ini orang-orang 44:55 kita ini yang jago-jago bikin sate ini. 44:57 Kita mesti sering datang deh. 44:58 Sate itu asalnya dari mana sih 45:00 sebenarnya? 45:00 Sate itu kalau pendapat kalau yang saya 45:03 lihat dari Indonesia dia 45:04 Indonesia. 45:05 Karena kalau dari Arab tu daging bakar. 45:07 Iya. 45:07 Oh, gitu. 45:08 Cuman daging bakar itu kan banyak 45:10 kerjanya 45:11 buangnya dan enggak bisa cepat jualnya. 45:14 Kalau sate bakar kan kecil-kecil. 45:16 Jadi langsung jadi orang kantor bisa 45:18 makan sate. 45:19 Tapi saya pun enggak berani bilang ini 45:21 dari Indonesia nanti marah juga orang 45:23 yang bukan. Tapi saya tahu saya 45:25 di Arab enggak ada sate jual. 45:27 Indonesia itu kaya banget sama sate-sate 45:28 Madura, sate Padang. 45:30 Ini Indonesia enggak ada lebih lebih 45:32 bagus di Indonesia dari dunia nih. 45:33 Enggak ada 45:34 makanan semua enak-enak 45:35 mungkin. 45:37 Lah enggak ngertilah kita. 45:38 Heeh. 45:39 Surganya dunia ini mungkin ada di 45:40 Indonesia lah. Udah 45:41 semua makanan. 45:42 Semua makanan ada dan semuanya enak. 45:45 Kehidupan yang paling tenang tuh di 45:47 Indonesia. 45:49 Cuman susah kali kita melihat itunya. 45:52 [tertawa] 45:54 Koneksi antara pemerintah sama kita, 45:57 sama pengusaha sama ini yang belum 45:59 sinergi. 46:00 Kalau ini sudah sinergi ah paling kaya 46:02 kita, Pak. 46:02 Iya. Kayak Laksa aja adanya di airport 46:05 Singapura. Heeh. 46:06 Orang tahunya ini masakan Singapur 46:08 bukan. 46:08 Kita makan soto itu masakan Bet luar 46:10 biasa. Kita makan soto Lamongan luar 46:12 biasa. Kita makan soto aja nih. Soto 46:15 Betawi 46:16 masih soto belum yang lain-lain. 46:18 Belum lagi keindahan alam, 46:21 belum lagi sumber daya alam. 46:23 Heeh. 46:23 Tinggal sepakat aja ininya, Pak. Sepakat 46:26 yang ngelola negeri ini yang dikelola 46:29 ulamanya sepakat aja duduk sama-sama. 46:32 Ayo kita biar biar enak kita hidup, Pak. 46:34 Ya. Biar jual sati harga pun bisa naik 46:36 dibeli [tertawa] 46:39 saya pernah makan di sate di Kebumen itu 46:41 enggak pakai 46:42 enggak pakai tusukan jadi sate gitu aja 46:45 langsung. Oh enak banget juga tuh di 46:47 kebun di Sukabumi di ini. Oh enak-enak 46:51 semuaah semua hebat-hebat. 46:52 Oke. Jadi kapan kita ini benar 46:55 ahlan wasahlan [tertawa] 46:57 Krisna puasa kalau enggak puasa saya 46:59 buatkan langsung saya buatkan sorbah. 47:01 [tertawa] 47:02 Kirim aja nanti 47:03 sorbah nanti. 47:03 Sorbah apa itu? 47:04 Bubur gandum. 47:05 Oh bubur gandum. Sorgon apa? 47:08 Bukan sorbah kambing. Jadi kalau puasa 47:10 itu kalau kita makan sorbah gandum itu 47:12 di perut enak. 47:13 Waduh. 47:14 Tenang perut karena enggak enggak keras. 47:17 Hm. Banyak karama. Nanti kalau Ramadan 47:21 ah kita buat insyaallah. 47:23 Oke. 47:24 Wah rasil sering-sering dong ngundang 47:26 tamunya begini nih. Menggaakan [tertawa] 47:27 sekali nih saya. Jadi 47:28 Iya. Semangat. Ayo usaha muslim. bangkit 47:32 lagi. 47:34 Ee Bang David apakah punya counter untuk 47:38 atau toko untuk di mana kita bisa 47:40 membeli produk pengharum ruangan? 47:43 Iya nanti WA aja sama saya. Maksud saya 47:46 kan biar umat Islam tuh bagian dari 47:49 sama-sama saya untuk memperkenalkan ke 47:51 umat gitu. Ibu aja yang jadi counternya 47:55 gitu. Ibu atau 47:57 ada kalau reseller gitu boleh ya? 47:58 Reseller ya boleh. 48:00 afiliator zaman sekarang ya. Enggak usah 48:02 pakai modal, enggak usah pakai modal 48:04 lah. 48:04 Nanti kalau ada yang beli baru ee kirim 48:07 ke saya. Saya yang ngirim deh. Jualan 48:09 aja. Udah. 48:10 Oke. Ini David nomor teleponnya 0817 48:14 96 48:16 kemudian 740. 0817 48:20 kemudian 96740. 48:23 Nanti kita display di warung saten-nya 48:25 Bang Maksi ya. Nah, biar nanti yang 48:29 pendengar hasil yang dengar hari ini. 48:31 Oh, pengin tahu aroma Kiswa ada di 48:34 warung sate kolaborasi 48:36 sambil nyobain [tertawa] 48:38 baksi ya. 48:39 Nomor teleponnya Bang Maksi atau Muksin 48:41 Salim Bahajat nomornya ee Nuim Hayat 48:44 bahajat juga ya. Nuim Nuim 48:46 Nuim. Iya. Bahajat. 48:47 Tahu gang bengkok enggak di Medan? 48:48 Gang bengkok itu gang bengkok itu tempat 48:51 ulama-ulama besar ngajar. 48:52 Oh, Bang Gang Bengkok. 48:54 Jadi abahnya Pak Noim itu ulama besar 48:56 juga. He. 48:57 Di Mekah. 48:58 Ngajar di Mekah. 48:59 Hm. 48:59 Oh, kalau Labuhan Lili. 49:00 Labuhan Lili itu ada masjid raya yang 49:03 paling pertama kali masjid ee Sultan di 49:06 situ. Masjid Raya. Dulu Labuhan itu kota 49:09 paling besar di situ. 49:11 Karena dekat pelabuhan tapi berlawan 49:14 berlayarnya zaman akan ada 49:16 perubahan-perubahan. 49:17 Baik. Ini nomor Bang Maksisate. Bang 49:19 Maksis Sate nomornya 082 H 11 49:24 3553 49:25 35 49:27 111 49:29 08211 49:32 3511. 49:39 Oh, Pak Isa dengar nih. Waduh seru 49:41 banget katanya. 49:45 Oke. Tuh mengenai harganya bagaimana nih 49:49 masing-masing? Waduh, 49:51 harga harganya sama dengan ee pengharum 49:56 ruangan yang sudah beredar 49:58 yang bermer. 49:59 Jadi, mentang-mentang pengusaha muslim 50:00 itu kadang-kadang kan ee pengusaha 50:02 muslim nih kalau bikin produk tiba-tiba 50:04 harganya dua kali lipat. Harga 50:06 kompetitor misalnya 50:07 sabun gitu ya. Nah, kalau muslim kok 50:09 jadi tiga kali lipat. Nah, kalau kita 50:11 harganya sama. Jadi supaya umat Islam 50:13 itu beralih saatnya aroma masjid sama 50:16 dengan aroma kiblatnya. Siap [tertawa] 50:22 memang ini, 50:22 Bang David bisa untuk aroma dalam mobil 50:25 enggak? 50:26 Iya. Ini kan ee sebenarnya varian kita 50:28 ada banyak nih gara-gara satu pengharum 50:31 ruangan ini. Bikin dong yang roll on. 50:33 Akhirnya kita bikin. Bikin dong yang 50:35 ngegantung di mobil tuh dibikin. Nah, 50:37 insyaallah mudah-mudahan nanti awal 50:39 tahun kita akan bikin yang digantung di 50:41 AC itu tuh 50:42 yang kompetitor punya tuh. Nanti kita 50:45 akan buat seperti itu. Tapi perlu 50:47 investasi yang lumayan. [tertawa] 50:49 Masjid mana yang sudah pakai ini? 50:51 Ee Pondok Indah. 50:52 Oh, Pondok Indah. 50:53 Heeh. Pondok Indah itu bagian dari 50:56 penjual yang menjual gitu ya. Ustaz 50:58 Rusmono yang pemulia jenazah ya. Beliau 51:01 ee gencar sekali mensosialisasikan 51:03 pengharum ruangan ini. 51:04 H 51:05 gitu. 51:06 Ee Bang Maksi mau tanya Bang Maksi akan 51:10 sampai berapa lama usaha 51:13 sat restoran sate? Waduh 51:15 berapa lama masuknya ke depannya? 51:17 Heh. 51:17 H wallahualam lah. 51:19 Pranchise boleh enggak? 51:21 Gak ada. 51:21 Belum ada ya? Payah jaganya. [tertawa] 51:25 Padahal ya bagi-bagi ya. Bagi-bagi 51:27 rezeki. Mas belajar datang aja ke sini 51:29 kita ajar. 51:30 Tutupnya jam berapa sih? 51:31 11.00. Jam 11. Malam 51:33 dari jam 51:33 jam 11.00 pagi. 51:35 Wuh. 51:35 Tapi kita buka dari jam 6.00 sekarang. 51:37 Oh. Pagi. 51:38 Jam 6.00 pagi sampai jam 11.00. Jadi 51:39 kena ada sarapan. Ada ada lontongan 51:41 pakai lontong. [tertawa] 51:43 Lontong 51:45 lontong Medan. Ustaz 51:47 harga murah-murah enggak usah 51:48 dipikir-pikirkan. 51:50 Pokoknya yang pegawai bisa makan. 51:53 Kalau yang pengusaha ya lebih bisa lagi. 51:55 Masyaallah. 51:57 Pengusaha bisa mentraktir. 51:59 Apa suka dukanya bikin bikin warung sate 52:02 itu? 52:03 Memang perlu daya tahan. Memang Pak 52:05 perlu daya tahan. 52:06 Terutama kalau bagaimana 52:08 saya kadang-kadang waktu 52:09 ngerintis-ngerintis kan belum laku. 52:11 He 52:12 ngombok 52:13 sedih. [tertawa] 52:14 Heeh. ini jadi ya enggak ada jalan lain 52:17 yang lucunya ini kita sudah 52:18 hancur-hancuran jatuh habis udah kita 52:22 puncak tertinggi tadi 52:24 kita ngadu ke teman kita 52:25 he 52:26 heeh 52:27 terus 52:27 kita bang kita saya punya abang lah itu 52:31 saya ini udah saya pikir saya pengakuan 52:34 gini diterima lah 52:35 nah namanya Bang Abdul Satar 52:38 Abdul Satar saya ngaduk Bang udah 52:40 bangkit lagi ana mau dalalin k 52:43 artinya nya enggak ada arti itu 52:45 kesusahan itu sama mereka 52:47 lagi pengusaha kayak model Bang Abdul 52:49 Sat enggak ada artinya itu 52:51 sudah biasa ya susah 52:52 bangkit aja 52:53 jatuh 52:53 biasa jatuh jadi kita enggak bisa ngadu 52:56 jalannya bangkit aja lagi balik dengan 52:59 cara apa wallahuam lah bangkit lag 53:02 tapi ini bagus in silaturahim inilah 53:05 yang mendatangkan rezeki 53:06 amin 53:08 heeh silaturahim ini yang mendatangkan 53:09 rezeki lain itu tak ada 53:12 oke Kang Fajar 53:15 masih ada waktu. 53:18 Oke, ya. 53:19 Oh, udah closing katanya. Oke, 53:21 baik-baik. Ini sekarang terakhir, ya. 53:23 Saya apa namanya memberikan nomor 53:25 teleponnya David untuk ee pengusaha 53:29 pengharum ruangan David nomornya 0817. 53:32 Kemudian 96 740 53:36 0817 53:37 96 740. 53:40 Kemudian untuk Bang Maxi nomor Bank Maxi 53:44 Sate Ampera 08211 53:48 3511 53:53 satunya tiga kali. Oke, terima kasih ee 53:56 Bang Masi dan Bang David. Ada yang mau 53:58 disampaikan terakhir masing-masing? 54:00 Silakan. 54:02 Berikhtiarlah sebagaimana Siti Hajar 54:04 berikhtiar. Semoga kita semua dirahmati 54:07 Allah sebagaimana Allah merahmati air 54:09 zamzam. Amin. 54:11 Yang enggak pernah habis. 54:12 Dan kita doakan radio silaturahim terus 54:17 dimuliakan Allah, dirahmati Allah, 54:19 diberkah, dibukakan jalan-jalannya. 54:22 David 54:23 saya ikut-ikutan ini ya berhikmah nih 54:25 ya. 54:26 Ee awali dengan munajat, perbanyak 54:28 berbuat, jadilah yang terhebat. 54:31 Masyaallah. 54:32 Insyaallah. Amin. 54:34 Terimanya bagus banget ya. Oke, terima 54:36 kasih sekali lagi Bang David dan Bang 54:38 Maksi. Insyaallah kita kapan kapan boleh 54:41 datang ya. 54:43 Oke, terima kasih saya Muhammad Krishna 54:45 Fajar Hidayah kemundingan Algi mohon 54:48 pamit. Wabillahi taufik walhidayah 54:50 wasalamualaikum warahmatullahi 54:51 wabarakatuh. 54:52 Waalaikumsalam warahmatullahi 54:53 wabarakatuh. Salam takjim. 54:57 Masyaallah. Wah.