Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Rasil TV. 0:58 Bagaimana Pak Munif aktivitasnya di 1:01 Ramadan juga Idul Fitri kemarin ini kita 1:04 masih suasana Syawal ini Pak Munif ya. 1:06 Lagi rame-ramenya ini nih biasanya nih 1:09 apa ee halalbihalal. 1:12 Saya kemarin pulang kampung Mas Angga. 1:13 Pulang kampung. 1:15 Cuman ee apa ee 1:18 tidak terasa kita tiba-tiba menjadi 1:20 orang yang sudah paling tua ya jadi kita 1:23 tidak kemana-mana yang didatangin ini 1:25 sama 1:25 Iya iya iya. 1:27 sanak keluargalah 1:28 Ehm. 1:29 keluarga 1:31 Alhamdulillah masih diberikan ee nikmat 1:34 usia oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala 1:36 untuk bisa terus ee berkiprah nih Pak 1:39 Munif ya. 1:40 Aktivitas di bidang pendidikan juga 1:42 jalan terus ya Pak Munif ya. 1:43 Alhamdulillah. 1:45 Sekarang ee mulai lagi bergeliat ee 1:48 Ehm. 1:48 Mas Angga 1:50 teman-teman di kantor ee kemarin 1:52 kebanjiran ini Mas Angga permintaan 1:56 kita kan insya Allah November akan 1:59 kunjungan lagi ke Eropa ya, Finlandia 2:01 iya iya 2:02 Swedia itu ada Denmark ya 2:05 he em 2:06 eh apa sampai dua rombongan terbentuk 2:09 Mas Angga 2:09 he em 2:10 luar biasa jadi rupanya tertunda dua 2:13 tahun kemarin membuat animo luar biasa 2:16 besar gitu 2:17 iya tertunda dua tahun kan 2:19 eh berarti penundaan itu sekarang harus 2:22 dijalankan dan sekarang sepertinya sudah 2:24 bisa kembali beraktivitas ya Pak Munif 2:27 ya 2:27 betul iya mudah-mudahan nanti kita dapat 2:30 informasi ya bagaimana sekolah-sekolah 2:32 keren di luar negeri itu pasca pandemi 2:35 ini Mas Angga itu yang 2:37 betul 2:37 eh nanti mudah-mudahan kita bisa share 2:39 lah ke di eh Radio Rasindo 2:42 memang secara grafik khususnya di di 2:45 Eropa Amerika itu memang aktivitas sudah 2:48 berjalan dengan normal banyak 2:49 negara-negara yang sudah lepas masker ya 2:51 Pak Munif ya 2:52 betul betul 2:54 didukung juga 2:56 iya dan itu diumumkan resmi ya oleh 2:58 pemerintah Mas Angga 2:59 iya 3:01 dan memang kesiapan mereka setelah 3:02 melalui pandemi ini walaupun akan ada 3:06 akan ada perubahan yang dirasakan 3:09 melalui eh sistemnya ataupun melalui eh 3:13 para pelaku pendidikannya juga 3:16 tapi teknologinya malah berkembang terus 3:18 ini Pak Munif sepertinya ya 3:20 iya iya 3:22 luar biasa teknologi 3:23 teknologi dan itu juga Ivan Ahfot yang 3:26 akan kita angkat salah satu latar 3:27 belakangnya adalah melihat bagaimana 3:30 perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi 3:32 ini kan sangat cepat yang mengharuskan 3:34 kita untuk siap menghadapi perubahan 3:37 perubahan apapun karena perubahannya 3:38 juga perubahan dunia ini begitu cepat 3:40 juga 3:41 tak terlepas juga bidang pendidikan yang 3:44 perubahannya itu terus-menerus kalau 3:46 sekarang ada eh yang disoroti dalam 3:49 beberapa tahun terakhir ini 3:51 apalagi orang melihat mulai di 2019 3:54 ketika kalau tidak salah Pak Munif 3:56 Jepang 3:57 itu menyebut Society 5.0 gitu ya ada 4:00 yang mengatakan seperti itu dalam dunia 4:02 bidang pendidikan dan itu yang akan kita 4:05 angkat di malam hari ini dengan topiknya 4:09 itu desain sekolahnya manusia era 4:11 Society 5.0 begitu Pak Munif ya 4:15 Ya betul 4:17 Baik Pak Munif sebagai pembuka dari Pak 4:19 Munif ya juga bagaimana kenapa 4:21 mengangkat topik ini Pak Munif bisa 4:23 mungkin menyapa dulu ikhwan dan 4:24 akhwatnya yang sudah hampir 1 bulan ya 4:26 tidak bersua silahkan Pak Munif 4:29 Ya 4:30 terima kasih Mas Angga 4:33 bismillahirrahmanirrahim 4:34 eh assalamualaikum warahmatullahi 4:37 wabarakatuh 4:39 bahagia sekali rasanya 4:41 eh saya bisa eh 4:44 berbagi lagi ya informasi tentang 4:46 pendidikan di Radio Rasul yang kita 4:48 cintai dan Rasul TV 4:51 ya karena ini masih bulan Syawal 4:54 jadi saya atas nama pribadi 4:57 eh izinkan mengucapkan taqabbalallahu 4:59 minna wa minkum 5:01 minal aidin wal faizin mohon maaf lahir 5:04 dan batin 5:06 mudah-mudahan 5:08 seperti membuka lembaran baru ya setelah 5:10 kita keluar dari Ramadan 5:12 sekarang eh kita dalam kondisi bersih 5:15 gitu dan 5:16 eh mudah-mudahan 5:18 kita akan lanjutkan dengan rekam jejak 5:20 yang 5:21 eh bagus ya itu tidak kita kotori lagi 5:24 lah ini 5:26 nah mudah-mudahan 5:28 kemudian eh 5:31 saya sengaja 5:33 eh ini me memunculkan judul ya tentang 5:39 eh Society 5.0 ya karena 5:43 eh terakhir kemarin kita bincang 5:45 pendidikan itu kita bahas tentang kampus 5:47 merdeka ya. 5:49 Nah, ini ee terus bergulir ya rupanya ee 5:53 yang mana 5:55 terjadi pro dan kontra. 5:57 Itu saya tadi pagi juga ee memberikan ee 6:01 atau kesempatan berbagi ya di salah satu 6:04 kampus ya di daerah di provinsi Banten 6:09 ya, di provinsi Banten 6:11 itu tentang kampus merdeka ya. 6:14 Nah. 6:15 Dan benar terjadi ini terjadi apa 6:18 distorsi masih istilah ini ee kemudian 6:21 juga paradigma apakah kita mampu atau 6:24 tidak. 6:26 Nah, akhirnya saya simpulkan bahwa 6:29 sebenarnya sebenarnya sangat 6:33 ada hubungannya 6:35 antara 6:36 kondisi masyarakat dari zaman ke zaman 6:39 dengan pendidikan. 6:42 Nah, ini dengan pendidikan masyarakat 6:44 itu. Jadi antara pendidikan dengan ee 6:48 budaya culture atau kondisi 6:50 masyarakatnya itu sangat berhubungan 6:52 begitu. 6:53 Nah, 6:54 karena itu ada dua dua atau ada satu 6:58 dululah nanti istilah yang penting ini 7:00 yang ingin saya jelaskan di pengantar 7:04 ini yaitu society 5.0 ini sebetulnya apa 7:07 sih? Dan ini munculnya baru Mas Angga 7:09 sebelum pandemi lah 2019 itu kan. 7:12 Iya. 7:12 Nah, 7:13 dan itu sekali lagi ya Jepang ya. 7:16 Jepang yang memunculkan itu 7:18 Heem. 7:18 ee society 5.0. Nah, 7:22 jadi sebenarnya di satu jurnal Mas Angga 7:25 itu 7:26 ee ada penjelasannya secara histori ya. 7:30 Ini. Nah, ini mudah-mudahan nanti ini 7:32 sebagai pengetahuan ya buat ee semua 7:36 pendengar ee 7:38 radio silaturahim dan juga Rasel TV ya. 7:42 Iya. 7:43 Jadi 7:45 sebutan society ini, kondisi masyarakat 7:49 ini, itu dimulai kalau dalam pemberian 7:51 label angka itu disebut society 1.0 Mas 7:56 Angga. 7:56 Iya. 7:56 Nah, ini ketika manusia itu masih berada 8:00 pada masa era berburu gitu. Meskipun 8:04 sudah mengenal tulisan ya, itu. 8:07 Nah, ini 1.0. 8:09 Nah, 8:10 biasanya antara 1.0 8:13 ke 2.0 itu, itu eee 100 tahun, satu abad 8:19 misalnya kayak gitu. 8:20 He em, he em. 8:21 Nah, 8:22 tapi ciri-cirinya kita enggak ngurusin 8:24 tahunnya di sini, tapi ciri-cirinya 8:26 society 1.0 itu adalah manusia yang 8:31 masih dalam era berburu, meskipun dia 8:34 sudah mengenal huruf ya sebagai sarana 8:37 komunikasi antar manusia. 8:39 Yang kedua, 8:40 society 2.0 setelah itu. Nah, ini era 8:44 pertanian. 8:46 Nah, itu ya, era pertanian ini, di mana 8:49 mulai manusia itu bercocok tanam, sudah 8:52 tidak pindah-pindah lagi Mas Angga. 8:54 Iya. 8:54 Kalau berburu itu pindah-pindah begitu. 8:57 Karena sesuai dengan eee hewan buruannya 9:00 kan Mas Angga, 9:01 Nomaden. 9:02 Iya, nomaden gitu. Tapi ketika sudah 9:04 mengenal pertanian, era cocok tanam, 9:07 maka itu disebut namanya society 9:11 2.0. 9:13 Nah, kemudian berkembang lagi menjadi 9:15 society society 3.0. Nah, ini apa? Ini 9:18 era industri. 9:20 Nah, era industri. Jadi ketika manusia 9:24 sudah mulai mengenal mesin 9:28 ya, untuk membantu aktivitasnya 9:30 sehari-hari. 9:31 Nah, society 3.0. Nah, sebenarnya dari 9:35 society 3.0 inilah Mas Angga, itu muncul 9:39 yang namanya perkembangan baru namanya 9:41 revolusi industri. Kan itu dikasih nama 9:44 revolusi industri 1, 2, kan 9:48 revolusi industri 1 itu adalah alatnya 9:51 ketemunya mesin gitu. 9:53 He eh. 9:53 Lalu satu abad berikutnya revolusi 9:56 industri 9:57 2 9:59 dengan ditemukannya listrik gitu. 10:01 Lalu ada revolusi industri 3 gitu dengan 10:04 ditemukannya komputer dan 10:07 revolusi industri 10:09 4.0 dengan ditemukan internet. Nah, ini 10:13 sebetulnya kalau kita buat struktur 10:16 kajian sejarahnya itu setelah Society 10:19 3.0. Jadi revolusi industri itu muncul 10:22 setelah Society 3.0 gitu karena itu era 10:24 industri memang. 10:26 Iya. 10:26 Nah, kemudian balik lagi untuk 10:28 masyarakatnya ningkat lagi Society 4.0. 10:33 Apa 4.0 ini? 10:35 Mereka sudah mengenal teknologi, 10:38 komputer dan internet. Nah, jadi 10:42 karena sudah industri tadi yang sampai 10:45 sekarang ini 4.0 istilahnya kalau dalam 10:48 angka, maka 10:50 masyarakatnya itu disebut Society 4.0. 10:53 Nah, 10:54 Society 4.0 ini, Mas Angga, 10:57 He eh. 10:57 ini 10:59 sekarang menyebar ke seluruh dunia. 11:02 Sekarang ini menyebar ke seluruh dunia 11:04 dan dampaknya luar biasa. Peran, Mas 11:07 Angga, satu kata, antara 11:10 teknologi, 11:12 teknologi itu bisa saya katakan 11:14 artificial intelligence, robot, 11:16 hologram, macam-macam itu. 11:20 Internet of thing, macam-macam itu 11:22 teknologi. Dengan manusia, ini 11:25 pembedanya peran. 11:27 Perannya di Society 4.0 itu yang dahsyat 11:31 lebih tinggi yang teknologi Mas Angga 11:33 daripada manusia gitu. 11:35 Sehingga 11:37 terjadilah ketergantungan yang luar 11:39 biasa 11:41 manusia itu menggantungkan pada 11:43 teknologi. Adiktifnya luar biasa. 11:46 Iya. 11:46 Nah, ini Society 4.0. 11:48 Heeh. 11:49 Nah, ini sekarang terjadi Mas Angga. 11:51 Iya. 11:51 Sekarang ini terjadi gitu. 11:53 Bahkan 11:55 lewat eh kajian-kajian fiksi ya, apakah 11:59 itu tulisan atau sampai dalam karya film 12:03 ya. 12:03 Lahirlah Terminator Mas Angga. 12:06 Iya. 12:07 Terminator itu kita akan perang sama 12:10 robot gitu loh dan kan kita kalah 12:12 manusia itu. 12:13 Mesin ya, heeh. 12:14 iya, dibangun ketakutan-ketakutan itu. 12:17 Nah, 12:18 semuanya tersihir ya, negara-negara ini 12:21 semuanya tersihir oleh Society 4.0 ini 12:25 gara-gara ya Internet of Things dan 12:27 lain-lain. Kecuali satu negara Mas 12:29 Angga. 12:30 Heeh. 12:31 Eh, yang sadar gitu bahwa ini enggak 12:34 boleh dibiarkan terus. 12:36 Peran mesin, peran robot itu lebih 12:40 tinggi dari peran manusia. Gitu. Manusia 12:43 yang harus menguasai teknologi. Nah, 12:46 negeri itu namanya Jepang Mas Angga. 12:48 Iya. 12:48 Nggih. 12:49 Nah, sehingga 12:51 eh mereka pelajari ini dampak-dampak 12:54 dari eh 12:56 negatif terutama, dampak negatif dari 12:58 revolusi industri 4.0 pada masyarakat 13:02 4.0 itu, Society 4.0 itu diteliti betul 13:07 dampak-dampak negatifnya. Luar biasa 13:09 ini. 13:10 Gitu. Nah, mereka mulai mengembalikan 13:15 merubah peran Mas Angga. 13:17 Bahwa memang manusia tidak bisa lepas 13:21 dari teknologi gitu. Namun peran manusia 13:24 ini bisa diperbesar begitu. 13:26 Heeh. Sehingga teknologi ketika 13:30 dikaitkan dengan peran manusia, 13:32 teknologi ini di bawah manusianya, Mas 13:34 Angga, begitu. 13:35 Jadi, 13:36 teknologi akan dibuang oleh manusia 13:38 ketika itu tidak menghasilkan benefit 13:41 untuk kesejahteraan manusia, hal-hal 13:43 yang baik, begitu. Bukan untuk hal-hal 13:45 yang buruk, Mas Angga, begitu. 13:47 Itu akan ditinggalkan teknologi. Nah, 13:50 maka dimulailah dengan 13:53 penelitian-penelitian secara sosiologis 13:56 dan juga penelitian-penelitian akademis 14:00 diberikan label ciri-ciri ini namanya 14:02 Society 5.0. 14:04 Nah, yang mana 14:06 Society 5.0 itu adalah 14:09 masyarakat yang punya pandangan bahwa 14:13 teknologi itu hanya bagian kecil dari 14:16 kehidupan manusia. 14:19 Manusialah yang tetap menjadi apa itu, 14:23 penentu, Mas Angga, begitu. 14:25 Nah, ini 5.0. Jadi, eh ini kembali ke 14:29 manusia lagi, begitu sebenarnya. 14:31 Nah, 14:32 ini masalahnya, Mas Angga, tidak semua 14:36 negara, begitu, bisa keluar dari 4.0 14:40 menuju Society 5.0, begitu. Tidak 14:44 semuanya, begitu. Bahkan 14:46 ada beberapa kajian juga yang mengatakan 14:49 ini sulit sekali, begitu. Sulit sekali. 14:52 Nah, 14:53 tapi kok Jepang bisa, begitu. Nah, 14:55 ternyata, ternyata 14:58 bagaimana seorang individu 15:02 yang berkumpul sampai jadi masyarakat 15:05 yang berkumpul sampai jadi satu negara 15:08 bisa keluar dari Society 4.0 yang kita 15:12 ini punya potensi terjajah oleh 15:15 teknologi, 15:16 tapi menjadi kita yang mengendalikan 15:18 teknologi dalam Society 5.0, terma- 15:21 ternyata 15:23 kunci pembukaannya itu adalah di 15:26 edukasi, Mas Angga. 15:27 Iya. 15:28 Di pendidikan, begitu 15:30 di pendidikan. 15:32 Nah, karena itu saya mencoba atau kita 15:35 ayo berdiskusi ini, bagaimana 15:39 ya, negeri kita ini bisa 15:42 eh, menuju ke Society 5.0, Mas Angga, 15:46 begitu. 15:46 Heeh. 15:47 Eh, yang sekarang ini sudah semua negara 15:49 berlomba-lomba. 15:50 Iya. 15:51 Karena kita tahu kata kuncinya adalah 15:53 kerenkan pendidikannya, gitu, iya kan? 15:55 Betul sekali. 15:56 Perbaguskan pendidikannya. Itu nanti 15:59 kita akan menjadi Smart Society 5.0, 16:02 gitu. 16:03 Nah, kalau ini terjadi, Mas Angga, maka 16:07 eh, insyaallah eh, teknologi berkembang 16:10 bagaimanapun juga tetap dalam genggaman 16:13 eh, koridor humanism, gitu, kemanusiaan, 16:17 Mas Angga, seperti itu. Tidak 16:20 eh, terlalu apa sih yang sekarang kan 16:21 orang tua sempat mengkhawatirkan kan, 16:24 Mas Angga, kan pengaruh-pengaruh 16:26 teknologi ini. Nah, itu tidak tidak 16:28 terjadi. Jadi, eh, manusianya tetap 16:31 sebagai pengontrol utama. 16:34 Berarti pendidikan kata kuncinya. Nah, 16:37 karena itu 16:38 saya mencoba nanti atau kita 16:40 berdisu-berdiskusi sebenarnya 16:42 bagaimana sih model atau desain ini, 16:45 gitu ya, pendidikan atau sekolah ini 16:48 yang kalau tadi Mas Angga eh, sebutkan 16:50 ini saya kasih judul sebagai solusinya 16:54 adalah desain sekolahnya manusia. 16:57 Seperti itulah, Mas Angga, sebagai 16:59 pengantarnya ini. 17:00 Revolusi industri 4.0 yang menggunakan 17:03 kecerdasan 17:05 eh, buatan, artificial intelligence, ya, 17:07 Pak Menteri, sehingga muncul istilah 17:10 bahwa anak-anak kita ini akan dibentuk 17:13 menjadi robot, nah, ada istilah begitu 17:15 kan. Sedangkan Society 5.0 memfokuskan 17:18 kepada komponen teknologi dan 17:20 kemanusiaannya. 17:22 Kembali lagi bahwa semaju apapun, 17:25 secanggih apapun teknologi itu tetap 17:28 harus manusia yang paling berperan. 17:30 Pendidikan 17:32 masuk kan tadi Pak Munif katakan 17:34 peran yang penting dalam perkembangan 17:36 era 5.0 karena 17:39 ya bagaimanapun kualitas SDM ini yang 17:42 menentukan 17:44 tadi teknologi itu nanti bisa membawa 17:47 kemaslahatan atau justru teknologi itu 17:50 membawa kepada kemudaratan. Jadi tetap 17:53 di SDM manusianya. Kalau tadi Pak Munif 17:56 mencontohkan film Terminator, walaupun 17:58 mesin tetap ternyata 18:00 yang menjalankan itu manusianya. Baik 18:02 Pak Munif, sebenarnya 18:05 desain sekolah 18:08 yang ada dalam 18:10 eh konsep Pak Munif yang sudah 18:13 mungkin Pak Munif sudah sudah buat ya 18:14 bahkan sudah sudah di sudah diseminarkan 18:18 di mana-mana sepertinya desain sekolah 18:19 ini. Bahkan bisa sudah dipraktikkan bisa 18:22 jadi gitu ya. Memulainya dari mana Pak 18:24 Munif mendesain sekolah 5.0 atau Society 18:28 5.0 ini? 18:29 Iya. 18:31 Iya, awalnya itu adalah 18:34 eh 18:36 sekolah yang sudah mau collapse Mas 18:39 Angga. 18:40 Iya kan? Iya, itu saya tulis di buku 18:43 saya pertama kan sekolahnya manusia 18:45 begitu. Nah, ini di satu yayasan 18:48 rata-rata banyak sekolah Islam yang 18:50 memang dari Jawa Timur rata-rata ya. 18:52 Iya iya. 18:53 Gitu. 18:54 Nah, kalau 18:55 pendengar dan pemirsa Radio Rasio dan 18:58 Rasio TV sempat membaca buku saya 19:01 Sekolahnya Manusia itu di babak pertama 19:03 itu cerita tentang sekolah-sekolah ini 19:06 gitu. Kita kan dulu 19:08 eh buku itu saya saya tulis tahun 2009 19:12 ya. 19:13 iya 19:13 2009 berarti berapa ini 13 tahun yang 19:16 lalu kan 19:16 he em he em 19:17 nah 13 tahun yang lalu tapi itu kan 19:19 pengalaman dari beberapa tahun ya 19:21 sekitar tahun 2000-an itu yang saya 19:24 tulis berarti eh Society 5.0 ini kan 19:27 enggak ada masih istilah itu belum ada 19:29 Mas Angga 19:30 iya 19:30 karena ini istilah baru tapi kok eh 19:33 ketika saya diberikan kesempatan gitu 19:37 untuk membantu sekolah yang sudah mau 19:39 tutup ini Mas Angga 19:41 he em 19:41 Pak Munif tolong Pak Munif bantu sekolah 19:44 kami Pak Munif gitu 19:46 tahun depan itu masih ada sekolah ini 19:48 aja kita sudah bersyukur begitu Mas 19:50 Angga 19:51 iya 19:51 jadi tujuannya itu hidup nah 19:53 saya merasa punya kesempatan lalu punya 19:58 kewenangan yang penuh untuk merubah 20:01 he em 20:01 sekolah ini gitu 20:03 supaya bagus gitu 20:05 nah di sinilah 20:07 solusi ini atau poin-poin eh tentang 20:12 saya bisa katakan kriteria-kriteria 20:14 gitu loh 20:15 dari sekolah kebanyakan itu ketika saya 20:18 amati 20:19 saya merasa ini penyebab mundurnya 20:22 sebuah sekolah gitu sampai 20:25 para peserta didiknya enggak maju-maju 20:27 gitu 20:28 he em 20:28 gitu nah ini yang saya hilangkan Mas 20:30 Angga 20:31 iya 20:31 saya dulu ya saya ingat istilahnya 20:33 variabel pengganggu gitu 20:36 ini ayo kita hilangkan ini variabel 20:38 pengganggu kita ganti ini nah hanya saja 20:42 karena ini merubah paradigma Mas Angga 20:45 maka 20:46 terjadi anu ya apa eh terjadi ini tidak 20:51 mulus langsunglah Mas Angga terjadi 20:53 pergolakan-pergolakanlah 20:55 gitu bahkan 20:56 tim saya sendiri menolak konsep ini gitu 20:59 jadi 21:00 betul 21:00 apalagi ya betul jadi awalnya itu malah 21:03 dari sekolah yang sudah saya sering 21:06 pakai bahasa la yamut wala yahya sudah 21:08 ndak mati ndak hidup lagi 21:09 iya iya 21:10 nah mungkin kalau waktu itu saya masuk 21:12 di sekolah yang settle gitu Mas Angga 21:15 he em 21:15 yang sudah punya ini mungkin ya itu tadi 21:18 paradigma awal itu menutupi gitu loh 21:21 he em he em 21:21 di di garu ini tapi karena sekolahnya 21:23 sudah pasrah dia akan terbuka kan nah di 21:26 situ akhirnya kita bisa dengan leluasa 21:29 mencoba 21:30 dan ternyata cepat Mas Angga ndak sampai 21:32 nunggu puluhan tahun begitu 21:34 iya 21:35 tapi dalam waktu sekitar 3 tahun iya kan 21:38 gitu sampai 5 tahun itu sekolah itu 21:41 berubah melompat sudah seperti itu nah 21:44 ini akhirnya 21:45 kejadiannya adalah 21:47 ini 21:49 banyak sekali yang 21:51 ingin juga bernasib yang sama gitu 21:54 nah itu kalau di sekolahnya manusia di 21:56 buku saya itu saya tulislah 21:58 kenangan-kenangan itu luar biasa sebagai 22:00 proses belajar di situlah awalnya Mas 22:03 Angga 22:04 apa kriteria ini dan ternyata benar 22:07 ketika zamannya berubah sampai 2019 22:10 muncul society 5.0 ini menjadi solusi 22:13 yang paten konsep ini seperti itu Mas 22:15 Angga 22:16 jadi perjuangan di awal ini ketika 22:18 teknologi membuktikan 22:20 akhirnya bisa selaras gitu ya Pak Munif 22:22 ya 22:23 iya betul betul ndak sama teknologi gitu 22:26 iya sekolah-sekolah lain pas melihat itu 22:27 juga oh ternyata kok sekolah ini sudah 22:29 malah siap duluan gitu ya sebelumnya 22:32 mereka 22:33 berjuang nah Pak Munif bagaimana 22:35 sebenarnya melihat kita pendidikan 22:40 kan wadahnya ini ya kita di Indonesia 22:42 gitu Pak Munif ya 22:43 iya 22:43 di Indonesia 22:44 sangat berpengaruh gitu kan dari 22:47 lingkungan negara kita sendiri 22:50 masyarakatnya sendiri lalu adat 22:52 istiadatnya sendiri sebenarnya 22:54 pendidikan di era society ini apakah ada 22:56 kriteria-kriteria dari Pak Munif sekolah 22:59 ini harus menghadapinya begini 23:01 inovasinya begini Bagaimana Pak Munif? 23:03 Iya, iya. Perlu nah 23:05 eee ini sebenarnya poin-poin yang 23:08 penting Mas Angga ya dalam diskusi kita 23:10 malam ini. 23:11 He em. 23:11 Ya. 23:12 Jadi eee kriteria itu eee saya susun itu 23:17 di buku sekolahnya manusia. 23:19 Iya. 23:19 Kemudian 2 tahun berikutnya ada gurunya 23:22 manusia, orang tuanya manusia. Sampai 23:25 sekarang ini saya lanjutkan terus 23:27 kurikulumnya manusia Mas Angga ya. 23:29 Kemudian ini bisa selesailah tahun ini 23:31 gitu. 23:32 Nah, sehingga eee ketika konsep-konsep 23:36 ini kita kumpulkan secara struktur lalu 23:40 kita apa eee praktekkan ya di lapangan, 23:44 ada beberapa kriteria yang eee saya 23:46 pikir penting ini. 23:48 Nah, kriteria pertama itu sangat 23:50 berkaitan dengan model pendidikan. 23:53 He em. 23:54 Model pendidikan. Nah, 23:57 saya melihat 24:00 saat itu ya Mas Angga ya, saat itu ya. 24:03 Yang mana model pendidikan rata-rata 24:06 sekolah di Indonesia itu eksklusif Mas 24:09 Angga gitu. 24:11 Nah, itu eksklusif dan ini enggak bagus 24:13 begitu. 24:14 He em. 24:14 Ini enggak bagus gitu. Apa itu maksudnya 24:17 model pendidikan eksklusif? Yang tadi 24:20 saya katakan tidak bagus. 24:22 Untuk 24:23 eee bersekolah sulit peserta didik ini 24:27 Mas Angga gitu. Sangat eksklusif gitu. 24:30 Nah, ini dibuktikan dengan susahnya ya 24:34 kan 24:35 pada saat waktu itu 24:38 anak-anak kita untuk eee ingin masuk ke 24:41 sekolah 24:43 harapannya, idamannya Mas Angga. 24:45 He em. 24:45 Nah, terbukti dengan banyaknya 24:47 serentetan alat-alat tes yang digunakan 24:50 untuk menyaring ini. 24:52 Begitu. 24:53 Nah, 24:54 sehingga muncullah istilah-istilah 24:57 sekolah favorit Mas Angga. Kan betul ya? 25:00 Iya, 25:01 betul. 25:02 Nah, 25:04 sekolah favorit itu sekolah yang isinya 25:06 malaikat Mas Angga. 25:07 He em. 25:08 Gitu. Anak terpinter, iya kan? 25:11 Istimewa, perfect. 25:13 Seperti itu. Nah, 25:16 waktu itu saya kritik ini. 25:19 He em, he em, he em. 25:20 Saya memunculkan 25:22 sebuah kriteria bahwa sekolah itu harus 25:25 inklusif. Nah, ini kan lawan dari 25:28 eksklusif kan? 25:30 Iya, iya. 25:30 Ya, saya katakan saya kasih analogi 25:33 sekolah bukan perusahaan. Kalau 25:35 perusahaan itu harus eksklusif gitu. 25:38 He em. 25:38 Iya kan? Karena semua orang yang kerja 25:40 di perusahaan itu 25:42 untuk masuknya harus dites. Jangan 25:45 sampai ada karyawan yang tidak tidak 25:48 tidak pandai gitu, nanti bangkrut 25:50 perusahaan itu kan gitu. 25:51 Iya. 25:52 Tapi kalau sekolah itu bukan perusahaan, 25:54 jadi siapapun itu harus menikmati 25:57 pendidikan dengan hak yang sama. 25:59 Education for all begitu. 26:02 He em. 26:02 Cuman tahun 2000 itu 26:05 kita enggak dapat sambutan kriteria ini 26:08 Mas Angga. 26:08 he em, he em. 26:09 Iya kan? 26:10 Iya. 26:10 Oke, ini apa ini? Seperti itu. Karena 26:13 memang sistem pendidikan Indonesia pada 26:17 saat itu masih belum begitu, belum 26:19 melihat itu gitu. 26:21 Nah, 26:21 atau bahasa lain kurang komersil kali. 26:24 Betul, mungkin seperti itu. 26:27 Nah, jadi sekarang Mas Angga terbukti 26:31 kan? 26:32 Terbukti. 26:34 Iya kan? Yang memulai memang bukan 26:36 Indonesia, tapi banyak beberapa 26:39 negara-negara yang sekarang diakui 26:41 kualitas pendidikannya keren memulai 26:44 gitu perubahan itu dengan model 26:47 pendidikan yang inklusif. 26:49 Iya. 26:49 Nah, ini Mas Angga. Jadi semua orang itu 26:52 berhak apalagi ketika UNESCO memunculkan 26:56 satu 26:57 konsep education for all. 27:00 He 27:00 Ya ini. 27:01 Nah, ini menurut saya kriteria pertama. 27:05 Jadi kalau Indonesia ini ingin maju Mas 27:08 Angga, masyarakatnya menuju smart 27:11 society 5.0 ini berhasil gitu. 27:15 Dan pemegang kuncinya adalah pendidikan 27:17 maka model pendidikan di sekolahnya ini 27:21 harus 27:22 inklusif. 27:23 Begitu. Nah, sayang sekali loh Mas Angga 27:26 ya inklusif ini diartikan eh kita 27:29 menerima anak berkebutuhan khusus tidak 27:31 ya. 27:32 Itu anak berkebutuhan khusus itu satu 27:34 bagian kecil dari sekolah inklusif gitu 27:37 loh. Iya kan? Nah, jadi eh maksudnya 27:41 adalah kita menerima semua peserta didik 27:44 dalam kondisi apapun. Seperti itu. Nah, 27:48 kalau ada eh tes atau 27:51 observasi-observasi 27:53 yang dilakukan oleh sekolah itu ketika 27:54 masa penerimaan siswa itu sah 27:58 kalau fungsinya untuk database saja Mas 28:00 Angga. 28:01 Tapi bukan sebagai apa pintu diterima 28:04 dan tidak diterima seperti itu. Itu 28:06 eksklusif sudah. 28:08 Nah, sekarang terbukti loh Mas Angga 28:11 seluruh dunia itu mengibarkan bendera 28:14 sekolah inklusif. Kalau ada sekolah yang 28:16 eksklusif tidak laku malah. Nah, kebalik 28:19 ini. 28:20 Iya betul. 28:21 Iya betul. 28:22 Betul. 28:23 Seperti itu Mas Angga. Ini kriteria 28:25 pertama lah mudah-mudahan nanti kita 28:27 bisa elaborasi lagi. 28:30 Itu di model eh sekolahnya, 28:33 pendidikannya Mas Angga seperti itu. 28:36 Inklusif dan eksklusif. 28:39 Iya. 28:40 Mendukung dari kebijakan pemerintah ada 28:43 bagaimana sebenarnya mengatur eksistensi 28:46 inklusif dan eksklusivisme 28:49 sekolah-sekolah. Karena kan saingannya, 28:51 bukan saingannya ya, karena keberagaman 28:52 antara swasta dan negeri gitu kalau di 28:54 kalau di Indonesia ini begitu Pak Munif. 28:57 Betul. Sekarang Mas Angga 28:59 eee 29:01 kalau Kementerian Pendidikan tidak 29:03 mengikuti ini arus perubahan ini 29:06 Heeh. 29:06 kita akan ketinggalan. Karena itu 29:08 sekarang dari Kementerian Pendidikan 29:10 sudah mengakui Mas Angga, bahkan membuat 29:13 kebijakan-kebijakan 29:14 sekolah itu inklusif harus begitu. 29:17 Iya. 29:17 Nah, ini tanda-tandanya Mas Angga ya. 29:20 Pembubaran 29:21 sekolah berstandar internasional. 29:24 Iya, 29:25 betul itu. 29:26 Biar gitu ya kan. Nah, ini kan eee apa? 29:30 eee 29:32 ciri-ciri eksklusivisme ya, eksklusif 29:35 ini kan. 29:36 Iya. 29:36 Itu sudah dibubarkan dengan berbagai 29:38 macam pertimbangan luar biasa. 29:40 Heeh. 29:41 Kemudian muncullah peraturan 29:44 untuk di setiap kecamatan 29:47 itu minimal untuk sekolah negeri ada 29:49 satu sekolah inklusi sudah. 29:52 Iya. 29:52 Iya kan. Itu minimal berarti maksimal ya 29:55 semuanya gitu. 29:56 Iya. 29:57 Maksimal semuanya harus. Mulai seperti 30:00 itu. 30:01 Heeh. 30:01 Nah, kemudian mulai diperkenalkan 30:05 zonasi. Iya kan Mas Angga. 30:07 Iya. 30:07 Sistem zonasi begitu. Jadi eee sekolah A 30:12 gitu akan dapat peserta ya tergantung 30:16 dari zonasinya. Ini seperti di 30:17 Finlandia, di Jepang kayak gini Mas 30:19 Angga gitu. 30:20 Heeh, heeh. 30:20 Zonasi. Nah, wah dengan segala macam 30:23 yang namanya perubahan ya dari A ke B 30:25 itu tidak langsung mulus ya. Tapi eee 30:29 mau tidak mau Kementerian Pendidikan 30:31 kita mengikuti arah itu tadi. Nah, 30:34 sampai sekarang Mas Angga malah 30:38 eee model pendidikan inklusif itu sampai 30:41 sudah menyentuh ke kurikulum dengan 30:43 kurikulum merdeka ini Mas Angga ya 30:45 Iya iya 30:46 Nah bagaimana Pak Munif memahamkan 30:48 kepada masyarakat bahwa Ya masuk ke 5.0 30:54 Society sekolah inklusif ini 30:58 Ya ini masuk dari bagian memanusiakan 31:02 sekolah yang memanusiakan kan istilahnya 31:04 begitu ya 31:05 Betul 31:05 Sekolah yang memanusiakan 31:07 Bagaimana memahamkannya ke masyarakat 31:09 karena kan masyarakat juga kita lihat 31:11 ada yang kaya ada yang Lebih kaya nah 31:14 gitu mereka mereka ke situ masuknya ke 31:16 kelas gitu kan jadinya 31:18 Betul jadi sebetulnya ada cara 31:20 memahamkan masyarakat Mas Angga 31:22 Heeh 31:23 Untuk masalah ini yaitu dengan 31:26 kita harus Mungkin dari sekolah ya yang 31:29 harus kreatif ya itu memunculkan 31:31 fakta-fakta bahwa 31:34 Era society 5.0 ini sekarang ini Mas 31:37 Angga 31:38 Era cyber space ini 31:40 Heeh 31:40 Ternyata apa ternyata membuktikan setiap 31:44 diri manusia bagaimanapun kondisinya itu 31:46 dianggap kapital modal 31:48 Iya 31:49 Dan bisa berhasil iya kan itu jadi 31:53 muncullah multiple intelligence iya kan 31:55 kecerdasan yang macam-macam yang dulu 31:57 tidak diakui gitu 31:59 Nah ini sekarang diakui dulu orang lari 32:02 itu enggak diakui gitu loh 32:04 Iya 32:04 Menjadi sebuah kecerdasan sekarang wah 32:07 Iya kan lari olahraga jadi bintang top 32:10 semua ini nah 32:11 Betul olahraga 32:12 Betul kan ini jadi Eee 32:15 Ini penting dipopulerkan terus gitu 32:17 kepada masyarakat ya bahwa human nah ini 32:22 ya 32:22 Dalam diri Seorang manusia itu sekarang 32:26 adalah kapital modal gitu loh 32:28 Heeh 32:28 Nah mestinya sekolah ini mampu memantik 32:32 Mas Angga gitu loh 32:34 Iya 32:34 Setiap orang 32:36 Itu untuk memunculkan kecerdasannya. 32:39 Lewat apa? Itu tadi, balik lagi ke 32:42 pembahasan kita awal, passion Mas Angga. 32:45 Iya, kan? Memantikkan hasrat dan minat. 32:47 Oh, itu keluar semua nanti 32:49 kecerdasannya. Nah, sehingga konsep 32:52 semua anak cerdas, semua anak bintang, 32:56 itu real gitu loh, bukan itu ilusi, 32:58 bukan, tapi itu fakta. Nah, ini yang 33:02 mungkin harus dipopulerkan sebagai 33:04 solusi gitu, bahwa eh ayo sekolah itu 33:07 harus menghargai semua anak dalam 33:09 berbagai macam kondisi. 33:11 Mmm. 33:12 Itu, Mas Angga. 33:13 Itu kriteria kriteria yang pertama, Pak 33:15 Munif, dari Society. Kriteria 33:18 selanjutnya? 33:19 Nah, 33:21 kriteria yang selanjutnya, kalau tadi 33:23 kan model ya, Mas Angga, ya? 33:24 Heeh, heeh. 33:26 Ini Society 5.0, 33:29 kalau kita tarik dengan bagaimana 33:31 membentuk masyarakatnya lewat dunia 33:33 pendidikan, 33:34 Iya. 33:36 nama menurut saya ini adalah proses, Mas 33:39 Angga, dari proses pendidikannya. Nah, 33:41 itu. 33:41 Heeh. 33:43 Jadi, proses pendidikan 33:46 yang berhasil sekarang, yang sangat klik 33:49 dengan Society 5.0 itu, bisa saya 33:52 katakan dengan satu kata, nanti ada 33:55 penjabarannya, namanya joyful learning. 33:58 Ini, Mas Angga. 33:59 heeh, heeh. 34:00 Nah, joyful itu menyenangkan. 34:02 Joyful. 34:03 Prosesnya itu pembelajaran harus 34:05 menyenangkan, 34:07 itu. 34:08 Nah, 34:09 Iya. 34:10 ada satu sekolah, Mas Angga, itu 34:13 pembelajarannya tidak menyenangkan, 34:16 peserta didiknya merasa kayak di 34:18 penjara, maka Waalaikumsalam. Itu enggak 34:22 klik dengan Society 5.0. Mungkin eh yang 34:26 seperti itu klik dengan Society 1.0 atau 34:28 2.0, 34:30 yang masih manusia berburu, bercocok 34:32 tanam ya kan, itu. 34:35 Tapi kalau sudah 5.0 sudah tidak itu, 34:38 happy sudah. Jadi apa harus menyenangkan 34:41 sudah seperti itu. 34:42 Ehm. 34:42 Nah, 34:43 ini jadi namanya kita mudahkan saja 34:46 joyful learning ini. 34:48 Nah, ini berkaitan dengan suasana 34:51 sebetulnya 34:52 terhadap proses pembelajaran suasananya. 34:56 Nah, 34:58 bagaimana joyful learning ini? Satu, 35:01 siswanya itu bahagia Mas Angga, tidak 35:04 tertekan. 35:05 Ehm. 35:05 Nah, sehingga ketika banyak sekali 35:08 kasus-kasus siswa 35:10 tertekan di sekolah Mas Angga, baik itu 35:12 ditekan oleh kurikulum, ditekan oleh 35:14 guru ya kan, ataupun eh sesama pelajar 35:18 begitu dan lain-lain, maka 35:21 ini masih belum joyful learning ini. 35:24 Ehm. 35:25 Jadi siswanya itu harus bahagia. 35:28 Ini yang pertama. 35:29 Tadi kan 35:30 Ehm. 35:30 disebut Pak Munif ya mengenai siswa yang 35:33 tertekan. Kita kan melihat dari beberapa 35:38 unsur ya, ada unsur internal, ada juga 35:41 unsur eksternal, ada yang timbulnya dari 35:44 sistem sekolah, dari sekolahnya, 35:46 ada juga yang timbulnya mungkin dari 35:48 luar sekolah, bisa dari rumah ataupun 35:50 dari lingkungan dia gitu ya, lingkungan 35:54 dia bergaul. 35:56 Di Indonesia 35:57 sepertinya 35:59 kasus-kasus yang menimpa pelajar, 36:01 bagaimana pelajar ini 36:03 selalu tertekan yang ekspresinya 36:05 akhirnya ekspresi kepada kenakalan. Ada 36:07 yang mengatakan bahwa eh itu belajarnya 36:09 enggak enggak bahagia tuh, belajarnya 36:11 penuh tekanan tuh. Ini jadi tantangan 36:13 sekarang ini sepertinya Pak Munif. 36:15 Iya. Betul. 36:17 Betul Mas Angga. Nah, itulah 36:19 kita harus merubah ya, itu tantangannya 36:21 gitu. Kita harus merubah gitu. Saya 36:23 sebetulnya berharap begini Mas eh 36:25 sekolah itu 36:27 eh mampu menjadi agent of change, mampu 36:30 merubah kondisi ini gitu loh yang 36:31 sebelumnya ini. 36:32 He em. 36:33 Jadi kalau dulu kan begini Mas Angga, 36:36 sekolah bagus itu pandangan masyarakat 36:39 dulu adalah sekolah yang kayak penjara 36:41 ya gitu. 36:42 Harus seragam semua begitu kan Mas Angga 36:45 ya kan. Tertib ini seperti robot itu 36:49 semua apa peserta didiknya ya kan, tapi 36:52 sebetulnya itu dilakukan dengan merasa 36:55 tertekan gitu loh. Nah ini sudah enggak 36:57 bisa sekarang di society 5.0 dengan 37:00 kemajuan teknologi dan lain-lain. 37:03 Anak-anak kita akan memberontak luar 37:05 biasa kalau masih diterapkan ee, 37:08 tekanan-tekanan 37:10 buruk di situ. Nah ini penting ini Mas 37:12 Angga. 37:12 He em, he em. 37:13 Nah. 37:14 Selainnya juga apa ee, kurikulum juga 37:17 yang yang menekan mereka apalagi dulu 37:19 ada 37:20 sampai standar kelulusan mata pelajaran 37:24 ada standar-standar banyak standarnya 37:26 gitu, banyak nilai yang harus lulus 37:28 segini. 37:29 Banyak tugas yang harus dipenuhi begini, 37:31 buku LKS yang ber banyak-banyak gitu ya. 37:34 Betul betul. 37:35 Ya, kurikulum di Indonesia sempat ee, 37:37 masuk rekor rekor dunia ini. 37:40 Rekor dunia? 37:41 Iya. 37:42 BPS paling banyak seluruh dunia, BPS itu 37:46 beban bidang studi. 37:47 Iya iya. 37:48 Iya, jadi ketika ee, 37:51 masuk di masa itu ee, 37:54 murid Indonesia itu paling banyak 37:56 mendapatkan materi ajar bebannya itu, 37:59 sampai enggak perlu-perlu diajari Mas 38:01 Angga itu. 38:03 Nah. 38:05 Itu anu apa namanya BPS ya tentang beban 38:09 bidang studi yang banyak dan juga ee, 38:11 standar isi yang paling sulit itu rekor 38:14 juga gitu. 38:15 Standar isi paling sulit. 38:17 Ya, sampai ada satu satu artikel Mas 38:19 Angga, dulu saya sering ee, bawakan 38:22 artikel ini, tapi yang nulis ee dari 38:24 Amerika yang mengatakan bahwa 38:27 ee dengan model atau kondisi sekolah di 38:30 Indonesia pada saat itu ya, yang BBS-nya 38:33 terlalu banyak dan sulit itu 38:36 murid yang akan berhasil menjalani 38:37 sekolah itu selevel Albert Einstein 38:40 IQ-nya. Bayangin enggak? 38:42 Semua harus gitu. 38:45 Standarnya, 38:46 standar itu justru ya. 38:48 Iya. Tapi seperti itu ya. 38:50 Iya, dan di dunia jadi bukti juga dengan 38:52 padatnya, dengan banyaknya, dengan 38:54 berjubelnya ya ranking pendidikan 38:57 Indonesia enggak pernah masuk 38:59 yang bagus-bagus tuh Pak Munif ya sampai 39:01 berapa puluh-puluh tahun. Nah, 39:03 sebenarnya bagaimana Pak Munif? Serius 39:05 tapi santai, siswa itu bahagia. Ya, itu 39:07 itu keinginan orang tua biasanya anak 39:09 itu aduh enggak terbebani, tapi mereka 39:12 juga bisa cerdas gitu, bisa pintar, bisa 39:14 menyelesaikan soal gitu. 39:16 Betul. Jadi ketika anak kita santai, Mas 39:19 Angga 39:19 He em. 39:20 itu kita dikritik habis-habisan pada 39:22 waktu lalu itu. 39:23 Iya, iya. 39:24 Ini sekolah apa guyonan gitu. Kalau anak 39:27 ramai di kelas melakukan ini, melakukan 39:29 itu dianggap tidak belajar. Jadi 39:31 paradigma anak belajar itu duduk diam 39:33 seperti robot, dengerin guru ngomong. 39:36 Serius. 39:39 Nah, itu kan. Nah, jadi itu dulu ya, itu 39:43 masa-masa dulu lah. Cuman kita harus 39:45 sabar waktu itu menghadapi gitu. 39:47 Nah, serius tapi santai ya itu. Nah, 39:50 kita buktikan ternyata benar anak-anak 39:52 itu kalau happy begitu, sesulit apapun 39:56 Mas Angga mereka itu ada tantangan untuk 39:58 menyelesaikan gitu loh, untuk memahami, 40:01 untuk mengamalkan itu. Nah, dan 40:05 ee bagaimana suasana 40:08 menyenangkan ini bisa 40:11 terus terjadi secara berkesinambungan, 40:14 ternyata 40:16 guru atau sekolah itu kalau mampu mem 40:20 membangun relasi sama peserta didiknya 40:23 itu luar biasa. 40:24 Mmm. 40:24 Jadi jangan jangan nomor satu adalah 40:27 bisa mentransfer ilmu, itu nanti dulu. 40:30 Tapi bangunlah jembatannya dulu Mas 40:32 Angga. 40:32 Membangun relasi dulu gitu ya. 40:34 Iya relasinya dulu. Nah, katakanlah 40:36 kalau sudah ada jembatannya baru nanti 40:39 apa kendaraan atau ilmu-ilmu yang lewat 40:41 di situ itu lancar gitu. Nah, kan gitu 40:44 kan. 40:44 Ada istilah tuh kalau di Barat itu 40:46 guruku sahabatku itu tuh kayaknya 40:48 meaningful banget itu. 40:51 Iya luar biasa. Nah, ini 40:54 saya pikir kriteria yang penting ya 40:57 dalam proses 41:00 pembelajaran 41:01 yang saya namakan joyful learning. Nah, 41:05 ini yang berkaitan dengan suasana 41:07 belajar Mas Angga tadi kan ya kan. 41:10 Bahagia, serius tapi santai, harmonis 41:14 dalam membangun relasi, ini suasana itu 41:18 joyful learning. 41:19 Itu mampu membangun relasi tapi si murid 41:22 tetap hormat sama gurunya itu gimana Pak 41:24 Munif? 41:25 Iya, keteladanan otomatis begitu. 41:28 Nah, keteladanan. 41:29 Iya keteladanan kan begitu dan 41:31 keteladanan itu tidak harus ditandai 41:35 dengan guru itu seperti raja yang duduk 41:38 di menara gading begitu ya kan. 41:40 Tidak seperti itu yang harus 41:43 tapi 41:44 he eh guru itu bisa itu tadi membangun 41:47 relasi dekat dengan siswa, 41:50 humble, ngomongnya enak ya kan. Itu 41:54 santun, itu langsung seperti cermin Mas 41:58 Angga. Muridnya akan bilang aku harus 42:00 juga seperti beliau nya itu. 42:02 Jangan sampai masuk kelas wah datang 42:04 raja. 42:08 Datang raja atau datang ee, 42:11 pasukan perang gitu, ya, kan. 42:12 Perang. 42:15 Baik, itu yang kedua, ya, joyful, joyful 42:18 learning. 42:19 Learning, ya. Itu sehingga saya bisa 42:22 simpulkan, Mas Angga. 42:23 Iya, iya. 42:24 Pendidikan akan berhasil di era society 42:28 5.0 ketika 42:30 ee, proses pembelajarannya dikemas dalam 42:33 suasana 42:34 menyenangkan, gitu kan, ya. Sebaliknya 42:37 ketika pendidikan itu menegangkan, Mas 42:40 Angga. 42:40 Heeh, heeh, 42:41 iya. 42:41 Suasananya, iya kan, maka percayalah 42:44 itu ee, 42:46 tepat untuk masa zaman Jurassic gitu, 42:48 mungkin ya, Jurassic 1.0 gitu. Nah, 42:51 sekarang kalau boleh jujur, ada loh 42:54 sekolah yang menegangkan, kan, Mas 42:55 Angga, kan. 42:57 Iya. 42:57 Masih masih banyak, nah, itu. 42:59 Masih banyak, masih banyak. 43:00 Itu tantangan kita. 43:01 Sehingga tadi tekanan-tekanan itu ada 43:03 terus setiap hari, ya. 43:05 Betul. 43:06 Dan untuk anak seperti meledaklah ketika 43:08 mereka melakukan kenakalan, melakukan 43:11 kasus. 43:13 Ee, itu kalau mau kita kategorikan bisa 43:16 masuk kriteria kedua mungkin, Pak Munif, 43:18 dari dari pendidikan pada era society. 43:21 Iya. 43:21 Bagaimana dengan kriteria selanjutnya, 43:23 Pak Munif? 43:24 Nah, kalau kriteria yang selanjutnya 43:27 ini saya namakan meaningful learning. 43:31 Heeh, heeh, heeh. 43:32 Meaningful learning ini masih dalam 43:34 proses, Mas Angga. Jadi, proses tadi kan 43:37 joyful, kalau sekolah inklusif itu kan 43:40 Model. 43:40 Iya. 43:41 Ini, cuman meaningful learning ini 43:44 adalah proses yang berkaitan dengan 43:46 materi ajar, bukan dengan suasana, bukan 43:50 dari suasana, tapi materi ajar. 43:52 Heeh, heeh. 43:53 Nah. 43:54 Kalau pembelajaran itu tidak meaningful, 43:57 kontennya 43:58 meaningful itu kan kalau bahasa 44:00 Indonesianya punya kebermaknaan, kan. 44:03 Pembelajaran yang bermakna, maka ini 44:06 tidak akan diterima oleh Society 5.0, 44:08 gitu. 44:09 Heeh. Nah, bagaimana ini? Ya, 44:11 teman-teman guru terutama yang di 44:13 lapangan ini, itu bisa mengemas materi 44:17 ajar itu menjadi meaningful. 44:20 Nah, itu ada Mas Angga, satu ya. 44:24 Guru kita 44:26 atau sekolah tersebut harus mampu 44:28 memahami kebutuhan siswanya apa. 44:31 Baik kebutuhan psikologis maupun 44:34 akademis, sehingga kalau sudah tahu, 44:37 materi-materi 44:38 yang diajarkan itu harus memenuhi 44:42 kebutuhan psikologis peserta didik, itu. 44:46 Jadi, 44:47 eh sudut pandangnya dari siswa, gitu. 44:51 Nah, jadi ini siswa ini butuh apa, 44:53 begitu. Baru eh materi ajar, 44:57 kurikulumnya itu disesuaikan dengan 44:59 pemenuhan kebutuhan. 45:01 Ya, ini. 45:02 Nah, ini Mas Angga, itu dulu. Tapi kalau 45:05 ada materi yang 45:08 sudah tidak memenuhi kebutuhan peserta 45:10 didik, tidak akan pernah bermakna buat 45:13 siswa tersebut, Mas Angga. Males dia 45:15 sudah, iya kan? Gitu. 45:18 Nah, ini yang pertama, Mas Angga. 45:20 Sesuaikan dengan kebutuhan siswa ya. 45:22 Sesuaikan dengan kebutuhan. Akan terjadi 45:24 meaningful nanti, gitu. 45:26 Ini perlu riset Pak Munif enggak? 45:28 Riset gimana maksudnya, Mas Angga? 45:30 Ya, tadi teknologi aja berkembang gitu 45:33 ya. Eh kebutuhan siswa dulu beda dengan 45:36 kebutuhan siswa sekarang. 45:38 Ini kan Nah, sekarang kan ininya alurnya 45:40 itu cepat gitu Pak Munif ya. Khawatir 45:42 nanti kebutuhan 5 tahun yang lalu dengan 45:44 kebutuhan 5 tahun sekarang berubah, 45:46 bahkan 5 tahun ke depan juga bisa 45:47 berubah lagi. Jadi, harus siap untuk 45:49 selalu merubah gitu. 45:50 Iya, selalu. Karena itu konten materi 45:53 juga harus siap gitu loh. 45:55 Jangan sampai kita jadi guru yang 45:57 mengajarkan letter luck ya sudah dari 45:59 dulu kayak gitu terus. Iya kan? Enggak 46:02 mau berubah. 46:04 Dulu belum ada Google, sekarang sudah 46:06 ada Mbah Google. Semuanya bisa kita 46:09 explore, tapi ada yang mungkin enggak 46:10 bisa didapat sama kebutuhan siswa 46:13 sekarang. 46:14 Bagaimana hubungan sosial dan juga 46:17 pertemanan dulu dengan sekarang, mungkin 46:19 gitu ya. 46:20 Iya, betul. 46:21 Apa juga bisa didukung gitu ya mengenai 46:23 faktor-faktor tersebut dengan membuat eh 46:25 materi ya, materi ajar yang 46:28 bermakna. 46:29 Iya. 46:30 Betul. 46:31 Betul, Mas Angga. 46:33 Nah, jadi eh apa tadi kebutuhan ya, Mas 46:37 Angga ya? 46:37 Iya, iya. 46:38 Tuh, kebutuhan ini yang 46:40 yang apa eh menjadikan meaningful. 46:43 He eh. 46:43 Nah, tapi ada lagi, Mas Angga ini. 46:45 He em, he em. 46:46 Ada lagi. Nah, saya sering sebut namanya 46:48 adalah apersepsi. 46:51 Persepsi. 46:52 Apersepsi, iya. Jadi 46:53 Aper, he em. 46:54 Anak sekarang ini, nah ini ala apa itu 46:57 istilahnya digital native ini ya kan? Di 47:00 society 5.0 ini. 47:01 Iya. 47:02 Ini sebenarnya kalau dia sudah 47:05 gurunya sudah memilihkan 47:08 materi ajar 47:10 sesuai dengan kebutuhannya 47:12 perlu diberikan apersepsi, Mas Angga. 47:14 Apersepsi itu adalah the reason, alasan 47:18 kenapa materi ini diajarkan, gitu. Nah, 47:21 itu nanti kalau berhasil gurunya 47:24 memberikan alasan gitu, kenapa ini kamu 47:27 perlu tahu, Nak? Kenapa begitu? Maka 47:30 meaningful itu muncul, Mas Angga, gitu. 47:33 Iya. 47:34 Jadi setelah meracik, memilih materinya, 47:37 itu diberi alasan, Mas Angga, diberi 47:39 apersepsi dulu gitu. 47:42 Diberi apersepsi gitu. Sehingga anak 47:44 tahu, aku ini belajar ini sebenarnya 47:48 manfaatnya adalah untuk nah itu. 47:52 Itu apersepsinya. 47:53 Iya, iya. 47:53 Nah, ini penting. Jadi enggak ujug-ujug 47:58 Assalamualaikum, salam. Ayo buka bukunya 48:00 halaman ini yuk. Enggak kayak gitu. 48:02 Iya, iya, iya. 48:03 Kenapa belajar ini? Kan gitu kan ya, Mas 48:05 Angga? 48:05 Iya, iya, iya. 48:07 Nah, 48:08 jadi 48:09 ini yang menurut saya jam terbang 48:12 guru-guru Indonesia masih kurang, Mas 48:14 Angga. Ini. 48:16 Ehm. 48:16 Dan ini mungkin karena kita 48:18 bertahun-tahun ya, pendekatan 48:20 kurikulumnya itu sangat akademis sekali 48:23 gitu. 48:24 Iya. 48:24 Anggap kognitif sekali sehingga 48:27 seperti anak kita dianggap gelas kosong, 48:30 Mas Angga. 48:31 Ehm. 48:31 Berhasil pendidikan itu kalau dipenuhi, 48:33 cur gitu. 48:35 Sampai airnya sampai tumpah-tumpah gitu. 48:37 Makin banyaknya materi yang dapat itu 48:40 tanpa diketahui why, kenapa 48:42 Ehm. 48:43 kenapa itu mendapatkan materi itu, 48:45 pentingnya itu apa gitu. Karena itu 48:47 kalau boleh jujur sampai sekarang ini 48:49 dampaknya 48:50 kelihatan, Mas Angga. 48:52 Kalau saya tanya gitu ya, 48:54 Ehm, ehm. 48:55 kenapa kamu ini belajar hukum Pythagoras 48:58 itu, manfaatnya untuk kehidupan 49:00 sehari-hari itu apa? Itu ibaratnya 49:03 enggak bisa jawab. 49:04 Iya, iya, iya. 49:05 Apa manfaatnya? Berarti alasan akademis 49:08 itu harus dibarengi dengan alasan 49:11 sosiologis gitu mungkin, Pak Muhib. 49:13 Nah, apersepsi itu 49:15 Ehm. 49:16 alasan, ya kan? 49:17 Ehm, ehm. 49:18 Secara akademis kenapa materi itu 49:21 diajarkan dan secara sosiologis kenapa 49:24 materi itu diberikan 49:25 Nah, itu iya. 49:28 Jadi, pasti punya manfaat secara 49:29 sosiologis. Manusia makhluk sosial gitu. 49:33 Ehm, selain ehm, punya manfaat akademis 49:36 untuk diri sendiri kan. Akademis itu 49:38 mewakili internal, sosiologis itu 49:42 mewakili eksternal lah, kayaknya 49:44 gitulah, Mas Angga. Kalau di teorinya 49:46 itu. Tapi tanpa apersepsi, kering 49:49 pembelajaran mata pelajaran itu jadi 49:51 kering, Mas Angga, begitu. 49:53 Iya, pasti. 49:53 Bermakna. 49:54 Iya, he em, he em, he em. 49:56 Nah, 49:57 itu yang kedua, Mas Angga, dalam 49:59 meaningful itu. 50:00 iya, iya. 50:01 Nah, 50:02 kan ini kayak urutan kan, Mas Angga, ya. 50:03 Pertama milih dulu mata pelajarannya 50:05 sesuai dengan kebutuhan. Oh, itu Society 50:08 5.0 akan muncul itu nanti. Setelah 50:11 dapat, maka ketika eh mau mendelevery 50:16 itu diawali dengan alasan tadi atau 50:17 apersepsi tadi, iya kan? 50:19 Iya. 50:20 Nah, dan yang ketiga, 50:23 cara mendelevery-nya. 50:25 He em. 50:25 Nah, 50:26 cara mendelevery-nya sudah diberi 50:28 apersepsi, Mas Angga, penting ini 50:31 pelajaran ini, salah cara 50:33 mendelevery-nya. Karena apa? Dengan cara 50:38 satu strategi tunggal, yaitu ceramah ila 50:41 yaumil kiamah. Oh, enggak 50:43 Ceramah. 50:44 bermakna lagi itu, Mas Angga. 50:46 Iya, pakai model jarum suntik, ya. Ya, 50:50 itu ngomong. 50:52 Jadi, karena itu saya sebutkan mestinya 50:55 harus multi strategi mengajar. Nah, iya 50:58 kan? Dalam prosesnya ini multi strategi 51:02 mengajar. Karena apa? Dampaknya di yang 51:05 terakhir ini, Mas Angga. Sebab, kalau 51:07 ada multi strategi mengajar itu terus 51:09 dilakukan oleh guru, the end of proses 51:12 itu, akhir dari proses itu adalah ada 51:14 hasil belajar. 51:16 Nah. 51:16 Biasanya bentuknya kelihatan 51:17 project-project yang bermanfaat sebagai 51:20 problem solving, Mas Angga. Jadi, 51:21 bermakna sekali gitu loh. Oh, ternyata 51:24 aku belajar ini manfaatnya muncul sampai 51:27 project ini untuk menyelesaikan masalah 51:29 ini, masalah itu. Nah, 51:30 Iya. 51:31 jadi 51:32 eh apa ya, materi mata pelajaran ini 51:35 tidak seperti eh makhluk yang hanya 51:39 hidup di ruangan sekolah saja, di kelas 51:43 7 kali 7, Mas Angga, tidak. Tapi, di 51:46 luar itu, ya kan, dalam kehidupan yang 51:48 sebenarnya itu bermanfaat gitu loh, ada 51:51 hasilnya, ya kan. 51:52 Ada hasilnya, betul. Jangan sampai tadi 51:56 di ruangan sekolah, keluar sekolah tadi 51:59 belajar apa gitu ya. 52:01 Pas masuk ke dunia realita, apa gitu ini 52:04 yang bisa di 52:05 yang bisa diaplikasikan, jangan sampai 52:07 seperti itu. Tapi tetap tadi multi 52:09 strategi ini penting ya, Pak Munif ya, 52:11 penting sekali. Sebagus apapun sebagus 52:14 apapun nanti he eh, materinya sebagus 52:16 apapun, delivery-nya itu enggak, ya 52:18 enggak bisa. 52:19 Ya, betul. 52:20 He eh. 52:21 Kemarin kan pandemi kan itu tertantang 52:23 kan. 52:24 Oh, iya, jadi 52:25 adalah yang mampu punya multi strategi, 52:28 kemampuan multi strategi gitu. 52:29 Iya, iya, iya, itu pandemi, he eh, he 52:31 eh. 52:33 Menguasai media pembelajaran juga 52:35 penting sekali ini untuk para guru saat 52:38 ini. 52:39 iya, betul. 52:39 Iya. He eh. 52:41 Tidak terasa, Pak Munif, kita sudah satu 52:42 jam ini ya bicara di malam hari ini. 52:45 Ikhwan akhwat, saat ini Anda sedang 52:47 menyimak dan menyaksikan acara live 52:51 bincang pendidikan bersama Bapak Munif 52:53 Atib. Kita mengangkat topik mengenai 52:56 desain sekolahnya manusia era society 52:59 5.0. 53:01 Sekolahnya manusia sebagai solusi model 53:03 pendidikan pada era society 5.0. Dan Pak 53:06 Munif, kita akan jeda dulu ya. Kita akan 53:08 kembali di sesi kedua. Masih ada kita 53:11 hingga 21.30 nanti. Dan ikhwan akhwat, 53:14 bagi Anda yang ingin bergabung bersama 53:16 kami, silakan sampaikan pertanyaan 53:18 ataupun komentarnya ke nomor WhatsApp 53:21 Rasya di 0811 53:23 19 99 720. Anda juga bisa memberikan 53:27 komentarnya melalui channel YouTube 53:31 Rasya TV yang live. Dibuka kan komennya, 53:34 Udi? Oh, dibuka ya. Pasti bebas kalau 53:36 pengin ngasih komen di siaran 53:38 eh, YouTube-nya Rasya. Kami akan 53:40 kembali, ikhwan akhwat, di sesi kedua, 53:42 tetaplah bersama kami. 55:35 Ikhwan Akhwat yang dirahmati Allah Wa 55:38 Ta'ala, terima kasih masih bersama kami 55:40 di malam hari ini siaran live bincang 55:44 pendidikan bersama Bapak Munif Khatib 55:47 desain sekolahnya manusia era Society 55:50 5.0 di malam hari ini kita membahas 55:53 mengenai bagaimana sebenarnya 55:54 transformasi Society 5.0 dan peran 55:58 pendidikan. 55:59 Tadi juga setelah banyak dijelaskan oleh 56:02 Pak Munif mengenai kriteria sebenarnya 56:06 bagaimana 56:07 pendidikan pada era Society ini termasuk 56:11 tadi menjadi desain sekolahnya manusia. 56:14 Baru tiga kriteria yang kita sampaikan 56:16 di malam hari ini ya Pak Munif ya. 56:18 Pertama kriteria yang masuk ke dalam 56:21 modelnya sebenarnya dari sekolah 56:23 inklusif dan juga eksklusif. 56:25 Sebenarnya di 5.0 ini sudah 56:28 seharusnya sekolah inklusif ini 56:32 dinikmati oleh masyarakat. 56:34 Lalu ada kriteria kedua joyful learning 56:37 dan masuk juga ke kriteria ketiga 56:40 meaningful learning. Sebenarnya 56:42 ada berapa kriteria yang rencananya akan 56:44 Pak Munif sampaikan di kriteria 56:47 pendidikan pada era Society 5.0 ini Pak 56:50 Munif? 56:50 Iya, pada diskusi malam ini Mas Angga 56:54 kurang dua lagi Mas Angga. 56:55 Ehm. 56:56 Ya. 56:57 Kurang dua lagi ya. 56:59 Yang keempat itu kita 57:03 namakan portofolio. 57:05 Iya toh. 57:06 Jadi 57:07 portofolio ini sudah hasil akhir dari 57:10 sebuah proses pembelajaran 57:12 anak-anak kita Mas Angga. 57:13 Ehm, ehm. 57:14 Ada dokumen 57:16 namanya portofolio. Kalau kita kan dulu 57:18 rapor, ijazah kan gitu misalnya. 57:21 Nah, ini sekarang itu sudah enggak 57:23 berlaku di Society 5.0 Mas Angga 57:25 sebetulnya. 57:26 Iya, iya. 57:28 Iya kan. 57:28 Ehm. 57:29 Kalau enggak salah kita pernah ya di 57:31 bincang pendidikan ini dari Radio Ras 57:33 ini membedah ee portofolio begitu. 57:36 Meskipun banyak sekali yang ingin 57:38 diulang lagi Mas Angga sebetulnya. 57:40 iya. 57:41 Portofolio, portofolio ini. Jadi, 57:43 sekolah yang sesuai dengan 57:46 era Society 5.0 ini, setiap selesai jeda 57:51 per semester, per tahun, sampai lulus, 57:55 itu 57:56 siswanya 57:57 bisa 57:59 ee apa ya artinya? 58:01 Me- mengukur ya kan, tentang 58:05 portofolionya, memperlihatkan 58:07 portofolionya. Apa itu portofolio? 58:10 He eh. 58:11 Yaitu 58:13 keterampilan anak-anak kita, skill Mas 58:15 Angga. 58:16 He eh. 58:17 Skill di dalam proses pembelajaran itu. 58:19 Ini kalau dulu enggak dinilai skill ini 58:22 Mas Angga. Seperti anak kita diskusi itu 58:24 enggak dinilai. Anak kita 58:28 buat penelitian, anak kita melakukan 58:31 eksperimen, anak kita ee membuat 58:35 macam-macam ya kan, ee karya-karya itu 58:39 itu enggak ada nilainya. Yang dinilai 58:41 cuman satu, tes. Nah, betul kan Mas 58:43 Angga ya. Tes, begitu. 58:45 Nah, jadi portofolio itu adalah skill 58:48 anak-anak kita, ditambah 58:51 keikutsertaannya anak-anak kita dalam 58:54 ikut serta ee 58:56 pengembangan bakatnya, 58:58 ekstrakurikulernya, 59:00 organisasi sosialnya dan lain-lain 59:03 sampai 59:05 prestasi-prestasinya Mas Angga. Nah, 59:07 kalau itu dikumpulkan semua pada masa 59:09 sekolah ini, 59:11 apalagi semua itu lahir di ee masa 59:15 sekolah ya, 59:16 sebagai akhir dokumen akhir ee proses 59:20 pendidikan, maka itu yang dilihat. Zaman 59:22 sekarang orang akan tanya 59:25 untuk mengenal anak-anak kita itu, 59:27 perusahaan misalkan 59:29 itu bukan ditanya Anda itu siapa, bukan 59:32 tapi mana portofolio Anda begitu. Nah, 59:35 jadi sudah tidak ngelihat ijazah, 59:38 ngelihat angka-angka kognitif itu sudah 59:41 sudah tidak lagi Mas Angga sekarang gitu 59:43 tapi Anda ini sudah menghasilkan apa, 59:46 Anda sudah melakukan apa saja itu. Ini 59:48 namanya portofolio. Nah, sehingga kalau 59:51 kita boleh jujur ayo kita teliti 59:53 sekarang saja berapa banyak sekolah yang 59:56 lulus siswanya keluar juga rapor 59:59 portofolionya itu masih sedikit Mas 1:00:01 Angga gitu. 1:00:02 Iya. 1:00:02 Padahal portofolio ini dibutuhkan oleh 1:00:07 society 5.0. Itu seperti itu Mas Angga, 1:00:10 mungkin nanti di satu kesempatan kita 1:00:12 bisa membedah 1:00:14 heeh. 1:00:14 ya lebih khusus tentang 1:00:16 portofolio 1:00:18 ini. 1:00:19 Nah, 1:00:20 kemudian kriteria yang kelima ini yang 1:00:22 terakhir, nah ini yang berkaitan dengan 1:00:25 manajemen sekolah. Nah, sekolah zaman 1:00:28 sekarang Mas Angga mau sekolah itu ada 1:00:31 di gunung, ada di desa, ada di 1:00:35 perkotaan, ada di mall-mall, ada di mana 1:00:40 itu harus ada quality control itu 1:00:42 sekarang gitu. Quality control ini 1:00:46 seperti jawaban dari pertanyaan para 1:00:50 siswa dan para orang tua yang menitipkan 1:00:53 anaknya ke sekolah itu 1:00:56 apa buktinya kalau anak saya nanti akan 1:01:00 berhasil sekolah di sini, itu sekolah 1:01:03 harus menunjukkan jaminan mutunya. Nah, 1:01:05 itu tadi dengan 1:01:07 quality control itu. 1:01:08 Iya, iya. 1:01:09 Nah, sistem quality control ini banyak 1:01:11 cuman saya salut dengan Jepang Mas 1:01:14 Angga. 1:01:14 Heeh. 1:01:15 Jepang itu memunculkan namanya total 1:01:18 quality management in academic, sekarang 1:01:20 ditiru di banyak negara, Mas Angga. 1:01:23 Betul. 1:01:24 Total quality management in akademik. 1:01:27 He eh. 1:01:27 Ya, itu. Jadi, TQM istilahnya, ya kan? 1:01:31 Nah, semua sekolah itu menerapkan eh 1:01:34 quality control management-nya dengan 1:01:36 itu, yang mana rapi sekolah itu. Jadi, 1:01:39 eh ada jaminan begitu. Peserta didik 1:01:42 yang sekolah di situ itu visi dan 1:01:45 misinya akan bisa dapat anak-anaknya, 1:01:47 siswanya begitu. 1:01:48 Ini harus dibedakan quality control di 1:01:50 bidang industri dan pendidikan, ya? 1:01:52 Ya. Ya, eh 1:01:54 ada ada ada eh pembedaannya. 1:01:57 Pembedaannya sangat besar, Mas Angga. 1:01:59 Iya. 1:02:00 Itu. Nah, sekarang yang mulai booming 1:02:01 itu yang untuk pendidikan begitu. 1:02:03 Iya iya. 1:02:04 Itu. Yang saya pernah jumpai di 1:02:07 Indonesia itu eh sekolah dengan quality 1:02:11 control-nya itu eh quality assurance 1:02:15 yang dipakai itu dari perusahaan seperti 1:02:18 ISO begitu, Mas Angga. 1:02:19 Ah, iya. 1:02:20 Nah, ISO itu bayarnya mahal. Tapi, eh 1:02:25 Jepang tidak menggunakan itu. Jepang 1:02:27 menggunakan TQM, ya kan? Apa bedanya ISO 1:02:30 sama TQM? 1:02:31 Eh kalau TQM itu built in. Sekolah itu 1:02:34 membangun sendiri 1:02:35 He eh. 1:02:36 sebuah instrumen-instrumen quality 1:02:38 control begitu sesuai dengan budayanya, 1:02:40 Mas Angga. 1:02:41 Iya iya. 1:02:41 Nah, itu. Kalau eh ISO kan tidak, bawaan 1:02:44 dari luar kan, dari manajemen luar itu. 1:02:47 Jadi, sekolah itu harus ngikutin itu. 1:02:49 Nah. 1:02:50 Ini eh saya pikir perlu dipublikasikan 1:02:53 dan juga bicara tentang total quality 1:02:55 management in akademik ini butuh 1:02:58 pembahasan yang cukup lama. Nah, saya 1:03:00 senang sekali, ya, teman-teman tim di 1:03:03 manajemen di Insan Mandiri itu sudah 1:03:04 menggunakan TQM, Mas Angga. Itu. 1:03:07 Kemudian, School of Human sudah 1:03:09 menggunakan TQM dan mulai nih 1:03:12 sekolah-sekolah yang masuk dalam ruang 1:03:14 lingkup peserta GA Guardian Angel kuliah 1:03:16 saya, itu sekarang ramai-ramai 1:03:18 menggunakan ee total quality management. 1:03:21 Nah, mulai gitu. 1:03:23 Kalau quality control yang dilakukan 1:03:26 oleh pemerintahan saat ini melalui Dinas 1:03:28 Pendidikannya ataupun lembaga-lembaga 1:03:31 lainnya, bagaimana Pak Munif? 1:03:32 Masih belum ada, Mas Anggi. 1:03:33 Masih belum ada. 1:03:34 Belum ada. Jadi, ee dianjurkan 1:03:38 sebuah sekolah itu di strukturnya itu 1:03:42 ada pengendali mutu. 1:03:44 Iya. 1:03:45 Nah, tapi alatnya apa dan lain-lain. 1:03:49 Enggak ada. 1:03:49 Enggak ada. 1:03:53 Padahal pengendali mutu itu menentukan 1:03:55 sekali dalam ee kebijakan pemerintah 1:03:58 untuk support ya, support terhadap 1:04:01 lembaga pendidikan itu. 1:04:03 Betul. 1:04:04 Heeh. 1:04:04 Betul sekali, Mas Anggi. Nah, karena itu 1:04:06 ee ini benar-benar ee menjadi hal yang 1:04:10 penting juga di Society 5.0, Mas Anggi. 1:04:14 Sekolah gitu. Kalau ada yang quality 1:04:16 control-nya. 1:04:16 Mudah-mudahan ini jadi perhatian juga 1:04:18 dari pemerintah ya. 1:04:20 Betul. Seperti bukti yang saya buktikan. 1:04:23 Tidak ada satu pun sekolah di Indonesia 1:04:27 yang mencantumkan visi dan misinya itu 1:04:30 kejelekan, enggak ada. 1:04:31 Enggak ada pasti. 1:04:34 Semua bagus. 1:04:35 Semua bagus. 1:04:36 Namun, ketika ada pertanyaan 1:04:39 apa jaminannya 1:04:40 Iya. 1:04:41 visi dan misi yang bagus itu terjadi 1:04:43 pada anak saya yang sekolah di sini. 1:04:46 Nah, itu enggak semua sekolah bisa 1:04:48 menjawab. 1:04:49 Yang bisa menjawab kalau punya quality 1:04:51 assurance, punya quality control, iya 1:04:53 kan? 1:04:53 Iya, iya. 1:04:55 Gitu. 1:04:55 Tapi ini jadi peluang juga untuk sekolah 1:04:57 swasta, mereka mandiri akhirnya gitu 1:05:00 bikin quality control-nya sendiri. 1:05:02 Betul. 1:05:04 Akhirnya gerakan mereka malah lebih luas 1:05:05 gitu. Akhirnya mereka punya ee apa ya, 1:05:09 mitra strategis dengan perusahaan, mitra 1:05:12 strategis dengan lembaga-lembaga lain. 1:05:15 Betul, betul. 1:05:15 Heeh. 1:05:17 Betul, Mas Angga. 1:05:18 Salah satu contoh ya, Mas Angga ya. 1:05:20 Heeh, heeh. 1:05:20 Saya pernah 1:05:22 sampai 5 tahun, Mas Angga, itu 1:05:24 Iya. 1:05:25 eee bekerja sama sama beberapa teman di 1:05:29 di seluruh dunia itu 1:05:30 Heeh, heeh. 1:05:31 untuk eee menjadi observer 1:05:33 sekolah-sekolah. Waktu itu sekolah yang 1:05:34 diobservasi itu Singapura. 1:05:36 Iya. 1:05:36 Itu kalau enggak salah 2005 apa mulai 1:05:39 itu sampai 5 tahunan lah kayak gitu. 1:05:42 Jadi, saya dulu sering bolak-balik ya ke 1:05:44 Singapura itu karena jadi observer gitu. 1:05:47 Iya, iya. 1:05:47 Nah, observer ini dalam rangka quality 1:05:49 control sekolah begitu. Jadi, Singapura 1:05:52 itu luar biasa ya di mereka berani 1:05:54 mengundang gitu 1:05:55 Heeh. 1:05:56 Ada dari Finlandia, saya ingat betul ada 1:05:58 yang dari Amerika, ada yang dari 1:06:00 Australia gitu. Kalau enggak salah itu 1:06:02 sampai ada 11 lah gitu. Saya ikut di 1:06:04 situ. 1:06:05 Heeh. 1:06:05 Nah, 1:06:06 itu salah satunya untuk membangun eee 1:06:09 build in tadi 1:06:11 eee TQM. Kan Singapura itu under bow 1:06:14 Jepang, Mas Angga ya. 1:06:15 Heeh. 1:06:16 Ya, 1:06:16 Korea Selatan itu under bow Jepang gitu. 1:06:19 Oh, gitu ya. Heeh. 1:06:20 Iya, betul. Nah, itu eee yang 1:06:23 diobservasi teliti untuk sarana 1:06:25 prasarana adalah toilet siswanya. 1:06:27 Bayangkan, Mas Angga. 1:06:28 Iya. 1:06:29 Jadi, 1:06:30 kalau toilet bersih ya kan, maka itu 1:06:33 menandakan manajemennya bagus. 1:06:36 Bayangkan, kadang-kadang kita kan 1:06:38 hubungannya di toilet siswa. Bukan 1:06:40 toilet guru, bukan toilet kepala sekolah 1:06:43 loh ya, bukan tapi toilet siswanya gitu. 1:06:45 Siswanya. Heeh. 1:06:47 Bukan mewah, bersih begitu. 1:06:48 Bersih. 1:06:50 Itu saya ingat ada di instrumennya itu. 1:06:52 Kami kita pernah diskusi dulu, ini 1:06:53 kenapa hubungannya ini? Oh, ternyata 1:06:56 panjang itu penjelasannya, Mas Angga, 1:06:58 gitu. 1:06:58 Aduh. 1:06:59 Jadi, 1:07:00 wah luar biasa sekali. Nah, ini 1:07:02 eee ini kita lihat 1:07:04 kita banyak sekali ya, mohon maaf ya 1:07:06 sebelumnya, Mas Angga ya, kalau banyak 1:07:07 sekolah yang tidak menjaga ini. 1:07:10 Ya, kan? 1:07:10 Iya. 1:07:10 Menjaga ini, gitu. Eh, saya pernah 1:07:15 pernah, ini baru-baru ini saja, Mas 1:07:16 Angga, eh, gara-gara blur-nya antara PTN 1:07:20 dengan PTS, Mas Angga. 1:07:22 Iya. 1:07:22 Perguruan Tinggi Negeri dengan Perguruan 1:07:25 Perguruan Tinggi Swasta itu kan sekarang 1:07:26 blur. Kalau zaman saya dulu itu kan yang 1:07:29 menjadi raja Perguruan 1:07:32 Tinggi Negeri, kan? Kalau sudah 1:07:34 kuliah di PTN, wah, itu orang tua 1:07:37 senangnya minta ampun, keberhasilan 1:07:39 dunia akhiratlah, kayak gitu. 1:07:41 Syukuran. 1:07:42 Iya, kan? Kalau di Swasta, waduh, gagal 1:07:45 ini anakku. 1:07:46 Iya. 1:07:46 Padahal sekarang sudah enggak ada itu. 1:07:48 Nah, 1:07:49 nah, ketika eh, membandingkan ini, lalu 1:07:53 menggunakan instrumen, iya, kan? Nah, 1:07:56 ternyata ketemu lagi, gitu, ketika ini 1:07:58 survei. Instrumen lihat toilet siswa, 1:08:01 itu ada, Mas 1:08:03 Mas Angga. 1:08:03 Iya. 1:08:04 Nah, ketika saya enggak perlu sebutkan 1:08:06 Perguruan Tinggi Negerinya, 1:08:08 itu ketika kita masuk ke instrumen ini, 1:08:11 ke kuesioner ini, atau bagian yang perlu 1:08:14 diobservasi, itu jarak 30 m sudah, mohon 1:08:18 maaf, gitu. 1:08:19 Tercium sudah baunya itu toiletnya, Mas. 1:08:22 Sedangkan yang Perguruan Tinggi Swasta 1:08:24 malah ada di mal, bayangkan, yang setiap 1:08:26 berapa menit dibersihkan. 1:08:28 Mmm. 1:08:29 Sangat sekali. 1:08:30 Nah, jadi ini eh, luar biasa tentang 1:08:34 quality control ini. 1:08:35 Mmm. 1:08:36 Ya, di Indonesia toilet paling bersih 1:08:38 ya, di mal. 1:08:41 Di tempat belajar, bahkan tempat ibadah, 1:08:43 gitu, yang ironisnya malah 1:08:45 Nah. 1:08:45 kurang kurang bersih. Pak Munif, kita 1:08:47 akan ke beberapa atensi dari pendengar, 1:08:50 ya, 1:08:51 karena 1:08:52 eh, kita sudah makin mepet ini waktunya. 1:08:54 Banyak atensi yang disampaikan oleh, 1:08:56 termasuknya ini dari Ibu Maryati di 1:08:59 Sukabumi, menyimak, Pak Munif, terima 1:09:02 kasih ilmunya gitu ya. 1:09:04 Ada juga dari pendengar-pendengar lain, 1:09:06 saya akan ke Bapak Ahmad ini di Depok. 1:09:09 Assalamualaikum warahmatullahi 1:09:10 wabarakatuh, Pak Munif terima kasih 1:09:13 materi yang disampaikan mengenai 1:09:15 bagaimana perkembangan teknologi 1:09:17 sekarang, 1:09:18 apakah ke depan proses lebih kompleks 1:09:22 untuk pendidikan? Sepertinya tenaga 1:09:25 kerja dan pengajar yang berkualitas 1:09:29 untuk memajukan pendidikan di negeri ini 1:09:32 harus berkualitas dengan baik. Bagaimana 1:09:35 menurut Pak Munif? 1:09:36 Ya. 1:09:37 Kalau menurut saya 1:09:39 eh peranan 1:09:41 atau kualitas pengajar ya, guru kalau 1:09:44 kita mau eh spesifik ke arah pendidikan, 1:09:48 itu memang harus kreatif sekarang. Gitu. 1:09:52 Harus kreatif. 1:09:54 Nah, eh sekarang itu begini Mas Angga, 1:09:57 ini menjawab pertanyaannya Pak Ahmad 1:09:58 juga ya. 1:10:00 Eh kalau saya lihat 1:10:03 di sebuah sekolah 1:10:05 ada strukturnya kan Mas Angga ya? 1:10:07 Iya. 1:10:08 Itu kan 1:10:10 struktur guru itu paling banyak. 1:10:13 Heeh. 1:10:13 Betul kan? 1:10:14 Ya itu. Kepala sekolah satu Mas Angga 1:10:16 begitu. 1:10:17 Tapi yang paling banyak itu struktur 1:10:19 guru gitu. 1:10:20 Iya iya. 1:10:20 Banyak sekali guru itu. Nah, 1:10:23 sekarang Mas Angga itu berubah. 1:10:26 Heeh. 1:10:26 Sudah berubah gitu. 1:10:28 Jadi 1:10:31 struktur guru yang banyak ini sekarang 1:10:34 oleh zaman, terutama teknologi, nah 1:10:38 untuk masuk ke era Society 5.0 itu 1:10:40 di-minimize sudah. Bayangkan. 1:10:42 Dengan teknologi gara-gara gitu. 1:10:44 Iya iya. 1:10:45 Nah, jadi 1:10:46 satu guru itu bisa ngajar paralel 1:10:48 langsung 10 kelas Mas Angga. 1:10:50 Oh. 1:10:50 Tapi dengan teknologi, dengan hologram 1:10:52 teacher, dengan virtual learning, 1:10:55 bayangkan. 1:10:56 Iya iya iya. 1:10:57 Iya kan? Sehingga enggak perlu nanti 1:10:59 sekolah itu gurunya banyak, enggak 1:11:01 perlu, masa enggak? Bayangkan. 1:11:03 Terjadi seleksi besar-besaran. Apa? 1:11:07 Yang kreatif. 1:11:09 Mmm. 1:11:09 Yang inovatif, yang 1:11:11 punya kekuatan memberi inspirasi kepada 1:11:14 peserta didiknya, itu yang selamat. 1:11:16 Iya, iya, itu yang selamat. 1:11:17 Karena nanti akan diduplikasi oleh 1:11:19 teknologi itu, nah itu. Sedangkan yang 1:11:22 tidak termasuk itu, jadi seperti tadi 1:11:24 pertanyaannya, kalau guru itu eee tidak 1:11:27 berkualitas, ya sudah waalaikumsalam, 1:11:29 dia akan digantikan robot, masa enggak? 1:11:32 Gitu. 1:11:33 Gitu. 1:11:34 Baik. Ada Bapak Eko Mas Rianto, 1:11:38 assalamualaikum warahmatullahi 1:11:39 wabarakatuh. Selamat malam Pak Munif. 1:11:42 Bagaimana sikap kita sebagai orang tua 1:11:46 mendorong atau mengarahkan anak-anak 1:11:48 kita menggunakan teknologi informasi 1:11:51 dengan baik dan amanah? Terima kasih 1:11:54 sebelumnya, terima kasih. 1:11:55 Iya, iya. 1:11:57 Pak Eko, ya? 1:11:58 Iya. 1:11:59 Jadi, Pak Eko, kembalikan 1:12:03 teknologi, perangkat, atau gadget 1:12:05 istilahnya, itu pada fungsi utamanya, 1:12:08 yaitu sebagai alat menyelesaikan tugas. 1:12:10 Mmm. 1:12:11 Itu, Pak Eko. 1:12:12 Nah, ini adalah awal langkah untuk 1:12:17 menghilangkan rasa ketergantungan. Itu 1:12:19 tadi. Nah, ini kan kita sepakat ya, 1:12:22 society 5.0 itu enggak ada 1:12:24 ketergantungan. 1:12:25 Iya. 1:12:26 Enggak ada ketergantungan. 1:12:28 Nah, sama gadget gitu. 1:12:30 Malah eee 1:12:32 bisa menaklukan eee 1:12:35 teknologi. 1:12:36 Nah, karena itu kalau kita tempatkan 1:12:39 gadget itu sebagai eee alat untuk 1:12:42 membantu kita menyelesaikan tugas, 1:12:45 supaya efektif 1:12:48 tujuannya itu eee bisa tercapai dan 1:12:50 efisien waktunya itu cepat gitu, lalu 1:12:53 punya edit value, punya nilai tambah, 1:12:56 maka insyaallah 1:12:59 anak-anak kita akan 1:13:01 adillah dalam menggunakan teknologi, 1:13:04 seperti itu Mas Angga. 1:13:06 Ehm, ehm. 1:13:08 Pak Mukhtar di Jakarta Timur, ada juga 1:13:11 Ibu Vina di Pamulang, terima kasih Pak 1:13:14 Munif, semoga selalu sehat. Ada juga Ibu 1:13:17 Femi di Tebet menyimak, terima kasih 1:13:20 penjelasannya dari Pak Munif, ada juga 1:13:21 Pak Imam Pratomo, Pak Adi di Pasar 1:13:24 Minggu, Ibu Ina Cilandak dan juga ini 1:13:27 pendengar-pendengar lainnya. Kita akan 1:13:30 ke ini tidak menyebutkan nama dari 1:13:33 pendengar 1:13:34 di 1:13:37 081 1:13:39 08128497 1:13:42 sekian-sekian. Assalamualaikum 1:13:43 warahmatullahi wabarakatuh Pak Munif, 1:13:45 mohon arahannya bagaimana menyiapkan 1:13:47 anak-anak kita sekarang masih di bangku 1:13:51 SMP dan tahun depan akan masuk SMA. 1:13:56 Dan anak saya ini sangat suka teknologi 1:14:00 dan kami di rumah menyiapkan dengan 1:14:02 membelikan komputer, 1:14:04 gadget, 1:14:05 bagaimana membantu untuk mengontrol 1:14:08 mereka dan mengarahkan mereka supaya 1:14:10 berprestasi juga dengan teknologi 1:14:12 tersebut, terima kasih. 1:14:14 Iya. 1:14:15 Eee, terima kasih. Cara membantunya 1:14:17 adalah memberikan kesempatan anak-anak 1:14:20 kita untuk belajar literasi digital itu. 1:14:23 Literasi digital. 1:14:24 Ya, literasi digital. Eee, ini salah 1:14:27 satu mata pelajaranlah, anggap begitu 1:14:29 saja, yang mana menjadikan anak kita itu 1:14:32 tadi menganggap eee gadget itu sebagai 1:14:35 alat nanti gitu. 1:14:37 Karena eee tahu betul ya, literasi 1:14:39 digital itu eee macam-macam ya, banyak 1:14:42 sekali. Eee, tapi eee kalau anak kita 1:14:47 ee punya perangkat-perangkat tadi dari 1:14:49 orang tuanya tidak dibekali dengan 1:14:52 keilmuan literasi digital biasanya 1:14:55 yang tidak kita inginkan terjadi gitu 1:14:57 loh, hal-hal yang negatif itu. Tapi 1:14:59 ketika tahu ee tentang literasi digital 1:15:02 itu luar biasa. Ada contohnya sudah ya 1:15:05 kayak Finlandia ya. Finlandia itu 1:15:08 pertama negara yang memunculkan Nokia 1:15:10 kan handphone kan. 1:15:11 Iya. 1:15:11 Nah, itu tahun berapa 20 tahun yang lalu 1:15:15 Nah, tapi ketika itu muncul 1:15:18 Kementerian Pendidikannya langsung 1:15:20 memunculkan kurikulum tentang literasi 1:15:22 gadget waktu itu. Bayangkan. 1:15:24 Heeh. 1:15:24 Nah, ini dari semua jenjang pendidikan 1:15:26 ya. Dan sekarang 1:15:29 panen Finlandia gitu. 1:15:30 Iya. 1:15:31 Finlandia adalah negara yang zero 1:15:32 addictive gadget Mas Angga. 1:15:34 Heeh. 1:15:34 Bayangkan. 1:15:35 Bisa ya. 1:15:36 Bisa gitu. Anak-anak remaja itu kalau 1:15:38 sama handphone ya enggak 1:15:40 enggak sampai handphone itu dibawa terus 1:15:43 ya kan. 1:15:44 Enggak dapat sinyal aja stres begitu Mas 1:15:46 Angga. Tidak 1:15:48 begitu kayaknya. 1:15:49 Di Indonesia begitu kayaknya. 1:15:51 Jadi ketika saya ke sana lihat ke 1:15:54 restoran gitu 1:15:55 Heeh. 1:15:56 ee ada 1:15:57 di sebuah keluarga atau para remaja itu 1:16:00 ngobrol itu enggak ada gadget itu Mas 1:16:02 Angga gitu loh. 1:16:03 Iya iya. 1:16:03 Jadi dia ngobrol ngobrol begitu. Kalau 1:16:06 di kita kan tidak kan. 1:16:07 Gitu. 1:16:10 Di manapun gitu. 1:16:11 Iya ini lebaran Mas Angga teman saya 1:16:13 tidak tidak ikut ya tapi teman-teman ada 1:16:15 yang melakukan reuni. 1:16:16 Heeh. 1:16:17 Wah lalu di grup wah grup kita para 1:16:19 alumni itu grup alumni itu kan wah 1:16:21 biasanya lucu-lucu. Tapi ada satu 1:16:24 kata-kata yang ini berhubungan dengan 1:16:26 apa yang kita bahas. 1:16:28 Gitu. Kenapa jauh-jauh kita reuni sampai 1:16:31 ketemu tetap mainannya gadget semua nah 1:16:33 gitu. 1:16:34 Jadi masing-masing dengan gadget lah 1:16:36 gitu. 1:16:36 Iya iya. 1:16:38 Heeh. Baik. Selanjutnya terakhir ini ee 1:16:41 Pak Munif ya Dari Ibu Rita di Jakarta 1:16:43 Timur. Assalamualaikum warahmatullahi 1:16:45 wabarakatuh. 1:16:47 Waalaikumsalam. 1:16:47 apakah setelah pandemi macam-macam 1:16:50 aplikasi pendukung belajar 1:16:54 Zoom, Google Classroom, Google Class 1:16:57 Meeting, dan lain-lain, apakah 1:16:59 penggunaan aplikasi ini di masa yang 1:17:01 akan datang akan tetap dipakai? 1:17:04 Bagaimana menurut Pak Munif? Terima 1:17:05 kasih. 1:17:06 Iya. 1:17:07 Iya, pertanyaan yang menarik, ya. Kalau 1:17:09 menurut saya 1:17:11 dipakai, Mas Angga. 1:17:12 Iya, iya. He em. 1:17:13 Iya, dipakai, ya, kan? Ee sebagai media, 1:17:18 Mas Angga. 1:17:19 He em. 1:17:20 Sebagai media pembelajaran, itu dipakai. 1:17:23 Nah, jadi ee dan saya yakin, ya, 1:17:26 sebentar lagi akan muncul lagi ini 1:17:28 aplikasi-aplikasi yang lebih keren, gitu 1:17:30 loh. 1:17:30 Iya, apalagi Twitter juga sekarang sudah 1:17:31 bikin siaran streaming. 1:17:33 Nah, 1:17:34 Yang lebih yang lebih simpel daripada 1:17:36 YouTube. 1:17:37 Iya. 1:17:38 Orang bikin bikin webinar sekarang di 1:17:40 Twitter, Pak Munif. 1:17:41 Nah, 1:17:42 luar biasa. 1:17:43 He em. 1:17:44 Iya. 1:17:44 Jadi, itu terus teknologi akan 1:17:46 berkembang. Seperti itu mungkin jawaban 1:17:48 saya, Mas Angga. 1:17:50 Jadi, aplikasi bahkan ke depan akan 1:17:52 muncul aplikasi-aplikasi yang lebih yang 1:17:55 lebih praktis mungkin, ya, Pak Munif, 1:17:56 ya. 1:17:57 Betul. Betul. 1:17:59 Baik, Pak Munif, dari seluruh pembahasan 1:18:00 kita dan juga pertanyaan-pertanyaan yang 1:18:02 masuk 1:18:04 yang menjadi penutup yang perlu 1:18:05 digarisbawahi dari Pak Munif apa, Pak 1:18:08 Munif, untuk ikhwan dan akhwat? 1:18:09 Iya. 1:18:10 Yang ini sebagai closing statement, ya, 1:18:13 sebagai ee untuk para pemirsa, apakah 1:18:16 orang tua, kita sebagai orang tua atau 1:18:18 sebagai pendidik, ya atau sebagai 1:18:21 pengambil kebijakan juga bahwa 1:18:24 fakta adalah kita masuk ke era Society 1:18:27 5.0 ini yang diawali ee Jepang ini, 1:18:30 2019, ya. Kemudian ini sekarang sudah 1:18:33 2022. 1:18:35 Seperti itu. Sampai ee Society 5.0 ini 1:18:38 adalah memanusiakan manusia kembali, 1:18:41 tidak mau tertindas 1:18:43 eh, oleh teknologi. 1:18:46 Nah. 1:18:46 Heeh. 1:18:47 Karena itu, eh, caranya agar anak-anak 1:18:50 kita selamat ini dari apa, dampak-dampak 1:18:53 negatif teknologi adalah dengan 1:18:56 pendidikan. 1:18:57 Nah, sekolah. 1:18:59 Dan sekolah-sekolah yang punya kriteria 1:19:02 yang sudah kita bahas malam ini, 1:19:04 sekolah-sekolah itulah yang akan eksis 1:19:07 dan membawa para pelajarnya untuk 1:19:09 memasuki eh, era Society 5.0. Nah, 1:19:14 mudah-mudahan eh, 1:19:17 pendengar 1:19:18 malam hari ini 1:19:20 eh, itu bisa memahami dan mulai menjadi 1:19:24 eh, apa ya, Mas Angga ya? 1:19:26 Heeh. 1:19:26 Eh, penyampailah, iya kan? Kepada 1:19:29 anak-anaknya, kepada guru anak-anaknya 1:19:32 tentang kriteria-kriteria tadi. 1:19:35 Nah, itu mungkin eh, apa, tujuan kita 1:19:38 berbincang 1:19:39 pendidikan pada malam hari ini. Itu, Mas 1:19:42 Angga, ini saya kurang lebihnya mohon 1:19:44 maaf. Assalamualaikum warahmatullahi 1:19:45 wabarakatuh. 1:19:46 Luar biasa, Pak Munif. Terima kasih 1:19:48 banyak atas eh, materi, ilmu, dan juga 1:19:52 waktunya di malam hari ini yang Pak 1:19:53 Munif luangkan. Semoga Pak Munif selalu 1:19:55 sehat. Insya Allah berjumpa lagi bulan 1:19:57 depan. Insya Allah, Pak Munif ya. 1:19:59 Ya. 1:20:00 Demikianlah ikhwan akhwat yang dirahmati 1:20:01 Allah Subhanahu wa taala, bincang 1:20:03 pendidikan kita di malam hari ini 1:20:04 bersama Bapak Munif Hatib. Semoga apa 1:20:06 yang beliau sampaikan bermanfaat bagi 1:20:08 kita semua. Dari studio kami undur diri, 1:20:11 mohon maaf atas segala kesalahan kata. 1:20:13 Billahi taufiq wal hidayah. 1:20:14 Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu 1:20:16 alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa 1:20:18 atubu ilaik. Assalamualaikum 1:20:20 warahmatullahi wabarakatuh. 1:20:22 Waalaikumsalam.