Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- You went so soon. So soon
- [musik]
- you left so soon. So soon.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu
- wasalamu ala sayyidina Muhammad waa
- alihi wasbihi ajmain. Rabbi zidni ilma
- allahumfani bima alamtani waimni ma
- yangfa warzuqni ilman yangfauni.
- Dipancarkan dari jalan masjid
- silaturahim nomor 36 Kalimangis Cibubur
- Bekasi radio silaturahim dan rasil
- visual untuk Islam yang satu. Ikhwan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala. Senang sekali di malam hari ini
- kita hari Ahad ketiga di bulan Oktober
- dapat kembali menyapa Anda di mana pun
- Anda berada. Iwan Ah dalam acara bincang
- pendidikan. Saya Angga Aminuddin
- ditemani oleh Yusuf Sebangkit di meja
- operator dapat kembali menyapa Anda di
- mana pun Anda berada. Anda yang berada
- di daerah Batam dan sekitarnya yang
- mendengarkan kami melalui Radio Sela FM
- ataupun Anda di daerah Semarang yang
- mendengarkan kami melalui Radio Seratim
- Semarang, Sukabumi, Anda pendengar Radio
- Latan FM ataupun di manaun Anda yang
- dapat mengakses heran kami melalui
- ww.radiosuratriim.com.
- Di malam hari ini kita akan menyimak,
- kita akan mendengarkan perbincangan kami
- bersama Bapak Munif Khatib sebagai
- narasumber dari acara bincang pendidikan
- yang seperti biasa setiap minggu pekan
- ketiga setiap bulannya kita tayangkan.
- Telah hadir telah bersama kami
- narasumber kita Bapak Munif Khatib.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat Pak Munif ya?
- Alhamdulillah harus sehat. di bulan
- Oktober ini pekan ketiga kita kembali
- menyapa pendengar ikhwan dan akhwat. Dan
- di malam hari ini Wan Akwali kita akan
- mengangkat topik mengenai ini pertanyaan
- topik ini
- topiknya sebuah pertanyaan. [tertawa]
- Mungkinkah kualitas pendidikan Indonesia
- seperti Finlandia?
- Ada ada keterusannya ini tantangan
- Kementerian Pendidikan Indonesia pada
- tahun politik 2019. [tertawa]
- Ini bikin menariknya nantinya Pak Unif
- ya
- Pak Unif. Kenapa ee mengangkat topik ini
- di pertemuan kita kali ini?
- Iya. Yang pertama
- gemes masing ya. [tertawa]
- Jadi saya yang ada di lapangan ya.
- He.
- Di sekolah itu ada perasaan gemas gitu.
- Heeh.
- Artinya begini mestinya itu kan tadi
- pertanyaan mungkinkah mestinya itu tidak
- hanya mungkin tapi mampu mestinya.
- Heeh.
- Itu yang pertama.
- Terus yang kedua, kenapa harus
- mengangkat topik seperti ini? Nah, saya
- melihat ini kan tahun politik ini, Mas
- Angangga.
- Iya.
- [berdehem] ee
- kita punya harapan bahwa ke depan ini
- benar-benar
- kualitas pendidikan
- di
- negara kita ini benar-benar menjadi apa
- ya center of point gitu loh.
- He. Jadi sudah jangan ini lagi sudah
- jangan ee
- bermain-main pada pendidikan bisa
- dibungkus dengan kepentingan-kepentingan
- politik. Sudah harusnya pendidikan
- benar-benar dibungkus dengan kepentingan
- anak bangsa gitu
- yang mana siap diminta siap menghadapi
- era global sekarang ini. Nah, jadi ada
- dua itu Mas Angga mungkin alasannya.
- Tapi dalam panahuan Pak Munib di tahun
- politik yang dihangatkan, disibukkan
- gitu, dibasiskan dengan para politikus,
- sebenarnya dari segi pendidikan
- Indonesia di tahun 2018 ini dalam
- pantauan Pamunip yang dilupakan oleh
- masyarakat banyak.
- Iya.
- diabaikan oleh pemerintah.
- Iya. Iya.
- Itu apa sih, Pak?
- Jadi sebenarnya ini ya [berdehem]
- yang
- kita lihat fakta ya, Mas Angga ya.
- He.
- Yaitu secara average ini rata-rata.
- Iya. Iya.
- kualitas pendidikan kita itu masih jalan
- di tempat gitu loh. He.
- Ini kalau saya perhatikan
- ee mohon maaf ini mulai dari menteri
- pergantian menteri yang satu dengan ee
- pergantian menteri yang lain ini
- sepertinya tidak ada lompatan, Mas.
- sangga itu yang mungkin masyarakat
- melihat apalagi 3 bulan yang lalu ah itu
- kan kita kaget dengan adanya informasi
- di media bahwa kualitas pendidikan kita
- itu masih jauh di bawah Vietnam. Masih
- di bawah Vietnam. Bayangkan
- Vietnam itu kan Jakarta tahun-an lah.
- Iya. Nah, itu jadi kalau kita ini 20
- 38 tahun ya berarti kan satu generasi
- itu.
- Nah, ee masyarakat awam
- bersama-sama orang yang ada di lapangan
- yang berkaitan dengan pendidikan
- menganggap problem ee kualitas ini itu
- benar-benar menjadi problem yang harus
- diperhatikan. Mas Angga, kita gak pernah
- punya lompatan-lompatan itu.
- Lompatan inovasi-inovasi baru.
- Betul. Iya. Padahal di negara-negara
- lain, negara tetangga kita lah yang ee
- mungkin dalam perbincangan di radio ini
- beberapa bulan yang lalu ee ketika ee
- apa formasi dana ini untuk ee tunjangan
- kinerja guru itu kita sudah lebih banyak
- Heeh. itu dihitung prata kan per guru
- dibanding dengan negara-negara lain.
- Tapi kok tetap kita ndak maju-maju gitu.
- Nah, dulu salah satu penyebab tidak
- majunya karena gaji guru kecil. Sekarang
- sudah tidak lagi. Kita mau bandingkan
- dengan profesi yang lain meskipun tidak
- yang paling atas tapi dibandingkan
- dengan guru pada tahun-tahun yang lalu
- sudah melonjak dengan adanya Iya.
- Tunjangan sertifikasi. harapannya kan
- ini menjadi pendorong gitu majunya
- kualitas pendidikan, tapi ternyata
- enggak juga itu.
- Nah,
- terus semakin ee banyak dan beragamnya
- juga gitu ya bangsa Indonesia ini tadi
- terbosan-terobosan yang paling utama
- dari pemerintah harusnya kan ee dilihat
- akan membuktikan bahwa hasil pendidikan
- itu terhadap kepada bidang-bidang lain
- gitu mungkin ya.
- Betul. Sepakat ya. Jadi seperti yang
- kemarin itu dari Bank Dunia itu yang ee
- apa di Bali acara IMF dengan
- iya pertemuan itu kan akhirnya sudah
- muncul
- yang asalnya mengukur itu dengan human
- development index sekarang sudah berubah
- menjadi human capital index gitu. Jadi
- manusia itu sudah dianggap sebagai
- kapital modal dan 70% masangga itu
- adalah keberhasilan pendidikan yang di
- situ.
- Heeh. Jadi malah bukan problem di alam,
- sumber daya alam, bukan problem di apa
- ee masalah kesejahteraan, tapi bagaimana
- kualitas pendidikan. Kalau manusianya
- ini berkualitas,
- meskipun kita bisa lihat Singapura gak
- punya sumber alam, tapi ee apa rakyatnya
- makmurlah dibanding dengan Indonesia.
- Nah, jadi ini yang mungkin perlu kita
- gali malam ini gitu. kita gali malam
- ini. Kenapa Ikhwan Ahwad
- memotret sedikit gitu ya di 2018
- pendidikan Indonesia dibandingkan dengan
- bahkan dengan negara Vietnam saja. Jadi
- bukan pendidikan aja nih ketinggalan
- sekarang.
- Kalau investasi aja kemarin
- kita sudah ketinggalan sama Vietnam gitu
- sekarang pendidikan sama Vietnam. Jadi
- potret ini kami singgung sedikit karena
- kita akan melihat sebenarnya ee topik
- yang kita angkat ini ketika
- membandingkan dengan Finlandia itu
- seperti apa gitu ya. Mungkin kita ingin
- mengetahui terlebih dahulu Pak
- Munipangnya Finlandia seperti apa sih
- gitu ya. Makanya itu jadi
- ee saya kan beberapa kali ke sana
- Masangga dan
- ee sebulan yang lalu kita juga baru dari
- sana membawa rombongan.
- Jadi memang sebenarnya
- yang kenapa kok Finlandia yang kita
- munculkan itu Finlandia itu pada tahun
- 0-an mas Angga itu kualitas
- pendidikannya itu amburadul.
- He
- itu
- amburadul itu gimana?
- Amburadul itu dalam arti ya mungkin
- jalan di tempat lah gitu. I
- cuman
- karena negaranya kecil
- Heeh.
- lalu sumber daya alamnya itu terbatas.
- Di Finlandia itu yang terkenal adalah
- danaunya.
- Sampai terkenal dengan negara 1000
- danau.
- Iya.
- Sedangkan
- sumber alam lainnya adalah
- hutan.
- Jadi hutan apa? Ee pohon-pohon pinus itu
- Masangga. Nah,
- mungkin kalau dibandingkan dengan
- Indonesia jauh, Mas Angga, sumber daya
- alam yang lain. Nah, pada tahun 0-an
- dengan keterbatasan
- ee sedikitnya sumber daya alam itu,
- orang-orang di sana memfokuskan pada
- kualitas manusianya. Itu tadi, human
- capitalnya itu.
- Akhirnya mereka membentuk tim, Mas
- Angangga. H
- Finlandia
- ee
- Finlandia
- apa yang menjadi penyebab pendidikan di
- Finlandia itu jalan di tempat.
- Nah, ketika tim ini terbentuk beberapa
- ahli gitu
- dan diteliti, mereka menemukan hasil
- penelitian ini selama 10 tahun.
- Heeh.
- Penyebabnya. Nah, ternyata penyebabnya
- dua hal besar dan ini saling
- berhubungan. He.
- Yang pertama adalah ini politik
- pendidikan di negara itu dan yang kedua
- adalah kualitas dari pabrik guru,
- fakultas keguruannya di sana gitu. Nah,
- pada tahun-an, Mas Angga
- ee politik ee pendidikan di Finlandia
- itu sebelumnya adalah sentralistik.
- Ini saya berdiskusi dengan beberapa ahli
- pendidikan di Helsinki University.
- Mereka mengatakan karena mungkin
- negaranya kecil gitu, kecil,
- jumlah sekolah juga tidak banyak, maka
- sudah negara aja yang membuat
- sentralistik kurikulum. Bahkan sampai
- detail-detail kurikulum itu negara yang
- membuat. Nah, sehingga karena semuanya
- semuanya terpusat lagi,
- semuanya terpusat seperti itu. Nah,
- namun buktinya tidak jalan
- itu. Sehingga pegiat-pegiat pendidikan
- di Finlandia pada saat itu sepertinya
- ingin apa ya dalam tanda kutip itu ee
- memberanikan diri mengatakan bahwa beri
- kami kebebasan untuk mendesain kurikulum
- sendiri-sendiri. Nah, dan ini dipotret
- sebagai inilah penyebab Masangga jalan
- di tempat itu. Tahun 0-an, nah Finlandia
- merubah sistem politik pendidikannya
- itu. Yang pertama
- mengubah dari sentralistik kurikulum
- menjadi desentralisasi kurikulum. Nah,
- sehingga ee setiap sekolah
- pada distrik-distrik yang ee ditentukan
- itu kurikulumnya berbeda-beda.
- H
- itu ee sampai bulan kemarin, Mas Angga
- saya datang ke Finlandia itu
- ee saya datang ke sekolah yang
- berbeda-beda.
- Heeh. Jadi saya jangan sampai kalau ke
- sana itu ke sekolah yang sama,
- ke sekolah yang berbeda-beda. Saya
- kumpulin data dari beberapa tahun yang
- lalu, mungkin ini keempat kalinya saya
- ke sana itu ya sekolahnya beda-beda
- memang kurikulumnya. Jadi ketika kita
- datang ke sana dapat sesuatu yang baru
- lagi. Sesuatu yang baru lagi. Nah, jadi
- benar-benar sekolah ini diberikan
- otonomi untuk mendesain kurikulum
- kurikulumnya, terutama kurikulum yang
- faktual, yang detail ya itu. Nah, ini
- berjalan Mas Angga pada tahun 90-an.
- Apa hasilnya?
- Ketika 10 tahun kemudian, nah tahun
- 2000-an sudah Finlandia yang semula
- tidak terdengar kualitas pendidikannya
- di dunia tiba-tiba meroket. Bisa saya
- katakan ya itulah melompat atau meroket.
- Nah, karena itu
- saya pikir ketika kita mau kita ee
- melisting ini, saya pernah melisting Mas
- Angga.
- Iya.
- Bagaimana sih kondisi Finlandia itu?
- Mungkin sekarang sekarang ini jumlah
- penduduknya cuman R5.700-an.
- Nah, Indonesia kan luas ya. Nah, betul.
- Kenapa berani melakukan desentralisasi
- kurikulum yang kalau kita listing
- kondisinya negaranya kecil, sumber daya
- alamnya terbatas mestinya itu
- sentralistik. Sedangkan di Indonesia
- yang sangat luas negaranya dengan
- berbagai macam budaya dan sumber daya
- alamnya yang mana mestinya hal itu
- mewajibkan kurikulum pendidikan di semua
- distrik di Indonesia itu desentralisasi.
- Nah, jadi ada kayak model yang unik gitu
- loh yang semestinya di Indonesia itu
- mampu untuk desentralisasi dengan
- kondisi alamnya
- i
- tidak dilakukan.
- di Finlandia yang mestinya tidak tidak
- perlu desentralisasi karena kecil sumber
- daya alam terbatas. Ketika dilakukan
- desentralisasi maju. He.
- Nah, ini kan seperti apa ya ee seperti
- ada masalah mestinya tahu solusinya
- namun
- tidak dieksekusi. Nah, ini yang saya
- katakan tadi.
- Apa mungkin nanti di tahun depan ini
- tahun politik ini isu tentang
- desentralisasi kurikulum ini saya pikir
- ini harus diangkat Mas Angga gitu loh.
- Harus diangkat ke mana? Ke publik gitu.
- sehingga ee ada pembelajaran di
- masyarakat ini bahwa sebenarnya potensi
- Indonesia ini untuk menjadi ee apa ee
- maju kualitas pendidikannya itu sangat
- besar gitu. Sangat besar sekali itu.
- Ee se membutuhkan waktu berapa lama
- pemerintah untuk menyadari hal tersebut?
- Kalau tadi misalkan Pak Munip
- merentangkan dari mulai tahun 0 sampai
- -an
- sampai pemerintah itu bersedia untuk
- memfasilitasi para ahli pendidikan di
- negara itu gitu.
- Iya.
- Karena ini kan pasti ada sinergitas, ada
- kepercayaan yang tinggi dari pemerintah
- juga terhadap para ahli pendidikan
- sehingga diberikan kesempatan situ gitu.
- Iya. Iya.
- Pengalamannya Finlandia itu sampai ya
- mereka bisa
- Iya.
- Begitu bagaimana, Pak?
- Iya. Kalau dari beberapa referensi dan
- diskusi Mas Angga
- ee satu dasawarsa 10 tahunan Mas Angga
- i
- mereka itu jadi bekerja kerasnya itu
- benar-benar 10 tahun setelah mengetahui
- penyebab utama ya bukan penyebab
- sekunder tapi penyebab primer ini
- sebenarnya. Iya. Jadi ee dari politik
- kurikulum pendidikannya itu jadi ee
- mungkin kayak kita Masangga dulu sangat
- pendidikan itu diwarnai dengan
- kepentingan politik ee kelompok tertentu
- ya. Tapi
- setelah ee orang-orang di sana sadar
- bahwa pendidikan itu mestinya harus
- terlepas gitu dari kepentingan politik,
- ini ada sebuah grand desain yang harus
- diambil itu cukup lama, satu generasi
- atau dua generasi dan itu harus
- dilanjutkan terus.
- Tidak tergantung kepentingan politik
- tertentu yang limit waktunya sangat
- terbatas.
- mereka sadar itu dan akhirnya mereka
- lakukan itu. Jadi kurikulum yang
- sekarang ini berkembang di Finlandia itu
- hasil pemikiran sampai ee 20 tahun yang
- lalu, Mas.
- Iya.
- Ya. Jadi kelihatan gitu ada grand desain
- gitu. Kalau boleh jujur di Indonesia ini
- kita gak punya grand desain pendidikan.
- Grand desain pendidikan itu bukan
- undang-undang sistem pendidikan. Enggak
- gitu.
- Kan kita ini punya dua undang-undang
- besar. Undang-undang Sistem Pendidikan
- Nasional dan Undang-Undang Guru dan
- Dosen hanya dua. Grand desain mestinya
- adalah sebuah prospektus gitu, sebuah
- planning sampai satu generasi itu
- bagaimana mau dibawa ke mana ini?
- Apa yang ingin dicapai?
- Apa yang ingin dicapai? Undang-undang
- itu adalah bagian bagian-bagian dari
- grand design ini mestinya. Jadi untuk
- mengawal ini kan butuh rule, butuh
- aturan. Nah, mestinya undang-undang itu
- seperti itu. Nah, kita lihat gara-gara
- tidak ada grand design, betapa gampang
- kelompok-kelompok tertentu ingin
- menggugurkan pasal-pasal dari
- undang-undang pendidikan nanti dari
- undang-undang guru dan dosen juga.
- Dan itu terjadi terus ya.
- Iya. Dan muncul di bawah undang-undang
- itu kan Permendikbud. Permendikbud.
- Iya. Iya.
- Nah, itu seperti contoh Mas Angga.
- He.
- Mas Angga bisa bayangkan ya kalau kalau
- kita ini punya problem tidak ada grand
- design di Finlandia. Heeh.
- Pendidikan yang paling fokus itu adalah
- pendidikan anak usia dini.
- Beberapa kali saya ke PAUD di sana itu
- luar biasa, Masangga fokusnya
- dan pengajarnya adalah para profesional
- sampai jenjang profesor. Itu bayangkan
- itu yang di PAUD.
- Jadi mereka benar-benar dihargai.
- Nah, setahun ini Masangga di Indonesia
- ada satu Permendikbud yang saya lupa
- nomor dan tahunya yang mana yang membuat
- down guru-guru PAUD ini. Jadi,
- teman-teman yang menjadi guru PAUD ini
- tidak dianggap sebagai guru sehingga
- tidak ada tunjangan sertifikasi lagi
- Iya. Jadi pendamping ya kayak pembimbing
- seperti itu. Nah, jadi masih dianggap
- ini sekunder pendidikan anak usia dini
- bukan yang primer. Padahal kan kalau
- dari keilmuannya ini pondasi sebetulnya
- itu. Nah, kenapa kok terjadi begitu?
- Asalnya diakui senang sampai di kampus
- tuh PG PAUD ramai masangga full
- mahasiswanya sekarang sepi.
- Iya. Hm.
- Karena masa depannya gak jelas gitu.
- Iya. Nah, ini kan fakta ini terjadi
- gara-gara saya yakin tidak ada grand
- desainnya gitu sehingga aturan-aturan
- yang dibuatnya
- tidak ada pegangan sebetulnya tidak ada
- jalan yang apa yang menetapkan ini
- sampai tujuannya ke mana.
- Nah, ini saya pikir yang terjadi
- sekarang. H.
- Jadi apa mungkin nah itu tadi politik
- pendidikan yang ada di Finlandia itu
- dimunculkan juga di Indonesia pada tahun
- politik ini untuk ee 2019 ke depan.
- Jadi kalau di Finland itu anak
- bersekolah kan katanya usia 7 tahun baru
- baru sekolah gitu.
- Iya iya baru SD ya itu
- baru SD. Cuman mereka betul-betul
- memperhatikan pra sekolahnya
- itu luar biasa
- itu PAUDnya gitu ya. H itu menjadi
- kelebihan buat Finland. Ya,
- betul. Itu ee bahkan dari hamil,
- pendidikan ibu hamil.
- Heeh.
- Itu beberapa kali saya sharing ketika
- seorang ibu di sana melahirkan, maka
- pemerintahnya
- menghadiahkan warga negaranya ibu yang
- hamil ini big box, lemari besar. Itu
- yang isinya ketika kita buka itu adalah
- permainan-permainan anak-anak mulai bayi
- sampai umur 6 7 8 tahun.
- Iya. Iya. Lalu buku-buku
- pled macam-macam itu itu dari
- pemerintahnya.
- Sehingga
- ibu anak ini harus menjadi guru pertama
- anak-anaknya. Wah, ini kan dahsyat
- sekali sebetulnya.
- Betul itu.
- Nah, itu Iwan Ah sedikit tadi ee Pak
- Mendip menjelaskan ee latar belakangnya
- kenapa Finland bisa menjadi ee satu
- salah satu negara yang pendidikannya
- nomor satu di dunia. Sekarang masih
- diakui pendidikannya nomor satu di
- dunia, Pak ya?
- Iya. Agak turun ya.
- Agak turun. ya turun itu dalam arti anu
- bukan bukan ini ada beberapa yang naik
- seperti Singapura itu.
- Nah, cuman kan kemarin ini yang mengukur
- PISA Masangga
- ketika Singapura itu nomor satu,
- Finlandia nomor 5
- ternyata ada yang mengkoreksi gitu loh.
- Koreksi ini dari sudut pandang culture,
- sikap orang. Ternyata Mas Angga
- Singapura nomor satu menjadi good
- citizen.
- Good citizen.
- Iya. Hanya good citizen aja gitu. Nah,
- ini kita bicara [tertawa] kualitas
- pendidikan karena memang dalam beberapa
- tahun terakhir atau 10 tahun terakhir
- ketika kita melihat kualitas pendidikan
- terbaik di dunia itu pasti Finlandia
- yang keluar gitu ya.
- Ada beberapa fakta Pak Munif yang perlu
- kita sampaikan juga dan perlu saya
- tanyakan juga kepada Pak Munif
- ketika bicara pendidikan di Finlandia.
- Betul sekolah itu sepenuhnya didanai
- oleh negara ya?
- kemarin. Iya, Mas Angga. Namun 2017
- Heeh.
- Itu sekarang membayar.
- Hm.
- Ini yang baru kemarin.
- Ini yang baru.
- Iya. Nah, kita kemarin datang ke sekolah
- kemudian kita tanyakan
- sampai dijelaskan juga sama ee Ibu Duta
- Besar kita ke sana bahwa
- ada peraturan baru dari Finlandia yang
- sekarang ini elementary school SD sampai
- S2 Masangga
- itu
- ee membayar berarti kayak di kita ya
- itu membayar
- ee ee yang sebelumnya itu free. He
- hanya untuk doktor S3. Ah, mereka
- menyebutnya itu ini apa? Eh, periset itu
- resar research reser itu eh diberikan
- subsidi oleh pemerintah Finlandia. Jadi
- kalau ada teman-teman yang sudah master
- mau melanjutkan studi ee S3 di Finlandia
- itu dapat honor lah malah dari
- pemerintah sana. Iya, itu.
- Nah, ini ada perubahan. Saya tanya
- kenapa ee problem ekonomi Mas Angga? Oh
- jadi memang dunia ini sekarang memang
- ada serangan ekonomi yang luar biasa.
- Soalnya 2016-217 Eropa kan ditempaulis
- yang cukup
- kena itu Finlandia itu.
- Nah jadi ee itu namun namun dari
- beberapa diskusi kemarin waktu kita ke
- sana
- Heeh.
- kejadian ini tidak ini tidak apa tidak
- tetap gitu. Iya. Iya.
- Nah, ada kemungkinan berubah berubah
- lagi. Karena itu, Masangga ada yang unik
- di Finlandia sekarang ini. Seluruh
- ahli-ahli pendidikan di Finlandia kalau
- bisa menjual
- konsep pendidikannya di seluruh dunia.
- H.
- Iya. beberapa tahun yang lalu, Mas
- Angga, ketika saya datang ke sebuah
- sekolah di sana, sekolah itu membuka
- membuka diri sudah ee dan gak ada apa ya
- biaya yang harus kita tanggung gitu.
- Iya.
- Tapi sekarang Mas Angga kalau kita mau
- datang kepada di ke sebuah sekolah, kita
- mau studi banding, mau lihat itu costnya
- besar sekali.
- Bayangkan costnya besar sekali.
- Untunglah saya sama teman-teman
- rombongan ini karena sudah lama jadi
- kita punya jalur-jalur yang akhirnya itu
- free. Tapi teman yang rombongan, teman
- yang baru-baru Mas Angga ke satu sekolah
- sekian euro dikenakan. Iya kan? Dulu
- saya diskusi sama orang-orang FNBA.
- FNBA itu finish nation board education
- kayak dewan kurikulumnya itu
- yang kayak di anggota dewan lah DPR-nya
- itu. Itu di bawah Kementerian
- Pendidikan. He,
- mereka sangat senang sekali menyambut
- kita. Jadi, kita di ruangan apa kayak
- ruangan dewan gitu,
- kita diskusi di situ. Tapi sekarang
- ketemu orang-orang ini bayar maksudnya
- sekarang.
- Bayangkan itu. Karena itu kemarin kita
- siasati nih, bagaimana caranya
- ketemu seorang profesor atau ahli
- pendidikan di sana dengan tidak membayar
- karena ini instruksi pemerintahnya.
- Bayangkan.
- Iya. Iya. Oh, sudah menjadi instruksi
- pemerintah
- menjadi instruksi pemerintahnya gitu.
- Nah, akhirnya kita undang aja satu ahli,
- ayo makan malam di kafe. Nah,
- berarti pemerintah juga paham ya ketika
- sudah dijadikan model dari berbagai
- negara, oh ini harus dimanfaatkan.
- Iya. Sekarang ini Finlandia itu menjadi
- konsultan pendidikan G2G dari negara ke
- negara yang lain.
- Oh,
- bayangkan saya dengar Kuwait itu
- ada beberapa negara Timur Tengah itu
- konsultan pendidikannya Finlandia. He
- he.
- Nah,
- Pak kalau saya garis bawahi ada tiga hal
- mungkin ya. Pertama kebijakan
- pemerintah. Bagaimana mengelola
- pendidikannya gitu ya, punya grand
- desain dan segala rupanya. Terus ee yang
- kedua kurikulumnya juga.
- Nah, yang ketiga menyangkut mengenai
- pengajar atau gurunya juga. Bisa begitu
- pemitul
- kondisi guru di sana bagaimana? Apakah
- ada serikat guru atau kualifikasi
- gurunya seperti apa?
- Iya. Iya. Jadi ee sepengetahuan saya
- tidak ada Mas Angga serikat guru.
- Jadi begini.
- Oh jadi PGRI di sana enggak ada ya?
- Enggak ada. [tertawa]
- Enggak ada. Jadi ee ketika ketika apa ee
- dimunculkan desentralisasi kurikulum
- bersamaan dengan itu
- perbaikan pabrik guru yang luar biasa di
- sana.
- Perbaikan pabrik guru.
- Iya. Pabrik guru. Jadi kalau kita
- sebutnya di sini FKIP.
- FKIP.
- Iya. Nah perbaikannya saya cukup belajar
- inten di sini Mas Angga. untuk di apa di
- di S1, S2, S3-nya di sana itu benang
- merahnya bagaimana sebetulnya dan ini
- khusus untuk FKIB ya, Mas Angga. H
- ternyata
- mereka itu merubah total yang namanya
- silabus masangga itu
- silabus
- silabus mereka itu
- sudah tidak fokus kepada teori-teori
- buku-buku referensi yang mengandung
- teori-teori
- ya silabus kan isinya itu semua
- makanya itu.
- Oh gitu.
- Iya mereka punya pola silabus itu harus
- 70%
- Heeh. S1 itu praktik di lapangan. H
- 30% itu baru teori.
- Nah, ini komposisi 7030 ini. Nah, saya
- pernah
- berdiskusi sama teman-teman di Dikti
- untuk di S1-nya. Sekarang katanya sedang
- mau dicoba, Mas Angga.
- Heeh.
- Yang 70% itu teori ini S1 dulu ya.
- Iya. ee apa praktik 70% dan 30% itu
- teori. Nah, ketika ini dijalankan Mas
- Angga, maka
- lulus guru itu punya keterampilan
- mengajar. S1 lulus
- punya keterampilan mengajar.
- Bayangkan Finlandia tidak boleh mengajar
- padahal sudah mempunyai keterampilan
- mengajar.
- Iya.
- S1. Jadi tidak ada di sana guru yang S1.
- Sarjana pendidikan gak ada. H.
- Kapan mereka bisa langsung mengajar jadi
- guru? Master S2,
- magister.
- Iya, magister. Nah, untuk S2-nya, pasca
- sarjananya
- itu tugasnya satu aja menemukan. Nah,
- bayang enggak
- kalau ini yang S1-nya adalah
- mengaplikasikan sudah.
- Heeh. baru yang
- S2-nya adalah menemukan teori-teori
- baru.
- Bayangkan, Mas Angga. Nah, di S2 ini
- tempatnya menemukan teori-teori baru.
- Apakah itu teori kurikulum, apakah teori
- metodologi, apakah teori penilaian
- sampai jenis-jenis bentuk tes yang
- beragam-ragam itu, itu di situ
- ditemukan.
- Nah, lulus
- dengan menyandang seorang penemu teori
- baru dia bisa ngajar di sekolah. Nah,
- ini benang merahnya lihat ya kan harus
- ada reformasi ini di kampus kita ini
- terutama FK guru menjadi pengajar yang
- inovatif.
- Betul.
- Karena syaratnya dia sendiri harus
- menemukan tadi gitu.
- Menemukan. Nah, itu
- bayangkan ya ketika mampu mempraktikkan,
- mengaplikasikan, dan yang kedua
- mampu sudah menemukan sebuah teori lalu
- nyemplung ke sekolah. Masangga gimana
- itu kira-kira kualitasnya? Kan keren
- kan?
- Nah, jadi tiba-tiba teori yang dia
- temukan itu benar-benar dicoba.
- Dia sudah punya kemampuan basic,
- keterampilan mengajar yang luar biasa.
- Lalu fokus kepada teori yang dia temukan
- itu. Ini satu guru lah. Bagaimana kalau
- sekolah itu ada 40 guru?
- bisa dibayangkan itu betapa hidupnya ee
- suasana sekolah itu. Nah, dan kalau mau
- melanjutkan ke tingkat doktoral,
- materi-materinya Mas Angga itu sudah
- kebijakan dunia Mas Angga. H
- bayangkan dan itu sekarang Finlandia
- menikmati betul kalau Mas Angga punya
- anak lalu tinggal di sana misalkan,
- hubungan antara sekolah dengan orang tua
- itu tempatnya hanya di gadget ini, Mas
- Angga.
- H.
- Jadi ada satu program namanya Wilma di
- sana. Wilma ini negara yang punya
- sebuah kayak model website gitu.
- Wilma ini.
- Iya. namanya Wilma. Jadi guru everyday
- tiap hari ketika ngajar berproses
- fotonya, laporannya dan lain-lain.
- Mungkin ada tugas untuk anaknya dan itu
- semua orang tua bisa mengakses di
- kayaknya online juga ya.
- Betul
- online.
- Online
- itu liveat yang luar biasa kalau sudah
- online.
- Betul. Jadi dan ini adalah hasil dari
- program-program doktoral mereka
- itu. Nah, sekarang benar untuk dunia
- sudah tidak hanya di Finlandia sudah
- mulai itu. Bahkan saya mendengar Google
- pun belajar di sana kan sekarang sudah
- Google apa Classroom
- sekarang Google-nya
- luar [tertawa] biasa ya kan bagaimana
- sepertinya
- belajar ke sana juga ternyata. Nah, jadi
- apa ee itu benang merah S1, S2, dan S3
- di pabriknya guru.
- Saya ulangi lagi, S1 adalah
- lulus punya kemampuan untuk
- mengaplikasikan dalam kelas ini ngajar
- sudah. He.
- S2-nya adalah menemukan teori dan S3-nya
- adalah kebijakan-kebijakan dunia kayak
- paperless kan di sana pakai digital
- modul semua masangga. H
- kita ketika pakai digital modul masih
- kaget ini apa orang tua terutama di sana
- sudah sudah sekitar ya 5 tahunan yang
- lalu lah ini sudah familiar itu.
- Lalu ada yang namanya e School
- itu.
- Lalu ada yang namanya green school
- lalu ada yang ee berkaitan dengan ee ini
- apa ee makanan Masangga
- luar biasa. di Finlandia itu sekarang
- ada peraturan baru
- harus tidak boleh warga negaranya
- overweight. Itu mulai dari sekolah.
- Bayangkan
- ketika overweight maka dia dikenakan
- pajak.
- Oh gitu. [tertawa]
- Pajak tahunan. Ada pajak setiap naik
- pesawat kalau overweight dia dikenakan
- pajak kayak bagasi gitu. Bayangkan itu.
- Nah ketika kita diskusi kenapa kok
- sampai ada peraturan seperti itu? Karena
- kesehatan itu unsurnya adalah makanan.
- Hm.
- Kalau kalau masyarakatnya tidak sehat,
- banyak sekali biaya
- pengeluaran-pengeluaran yang mestinya
- tidak perlu dikeluarkan oleh negara itu,
- itu dikeluarkan. Nah, karena itu mereka
- sangat fokus kualitas manusia itu selain
- dari intelektualnya adalah kesehatannya.
- Bayangkan
- menarik sekali.
- Menarik. Saya makan, Mas, Angga di
- sekolah SMA di sana, sekolah inklusi.
- Sudah kita bareng-bareng gitu anak-anak
- dulu makan, murid-murid di sana.
- Kemudian selesai mereka sedang makan,
- kita dipersilakan makan.
- Makanannya adalah makanan-makanan sehat.
- H
- makanan sehat. Bahkan di situ ada jumlah
- kalori sudah diumumkan itu di ujung apa
- ee deretan makanan-makanan. Kita ambil
- makanan sampai minuman. Itu itu yang di
- Helsinski. Bahkan ada satu sekolah
- percontohan di tampiri.
- Heeh.
- Sampai makanan itu Masangga masuk ke
- sebuah mesin Mas Angga kayak mesin X-ray
- gitu.
- Iya
- ya. Ini makanan siswa. Lalu dari situ
- dideteksi jumlah kalorinya berapa,
- langsung keluar
- langsung keluar kayak stroke gitu ya.
- Dan ketika ada yang kurang seimbang
- dikembalikan dia. Bayangkan di situ
- dikasih tahu. Nah,
- mereka sudah fokus seperti itu. Bahkan
- Masangga sampai saya dibawa ke tempat
- pengolahan limbah sampahnya.
- Saya pikir ini sekolah apa negara?
- Bayangkan itu dari satu sekolah. Nah,
- ternyata ini semua adalah hasil dari
- lulusan-lulusan doktornya. bayangkan
- yang sudah fokus seperti itu.
- Nah,
- itu Finlandia. Balik ke FKIP kita, Mas
- Angga. Saya ini kan dosen FKIP, Mas
- Angga.
- Iya. Iya.
- Ketika menerima sebuah silabus dari mata
- kuliah, saya baru menyadari, iya.
- Kenapa kita ini jalan di tempat
- kualitasnya?
- Bayangkan Masangga. Contoh kecil aja.
- Saya ngajar mata kuliah strategi
- pembelajaran.
- Pasti teman-teman dosen yang ngajar S1
- mata kuliah yang sama pasti silabusnya
- rata-rata sama.
- Ketemu teori behaviorism,
- teori kognitivism,
- teori konstruktivism, teori humanism,
- apalagi teori-teori belajar ini sampai
- ratusan teori
- mungkin.
- Dan itu selesai di satu semester
- selesai.
- itu praktik mengajarnya. Padahal mata
- kuliahnya strategi mengajar itu enggak
- ada.
- Satu semester hanya untuk teori
- satu semester hanya itu.
- Saya S1-nya kan bukan FKIP Masangga.
- Jadi saya tidak tahu. Tapi ketika saya
- jadi dosen, saya tahu ini penyebabnya.
- Ketika
- para mahasiswa ini lulus jadi guru masih
- gak siap ngajar.
- Dan di Indonesia S1 gak apa-apa ngajar.
- Heeh.
- Ngajar SD, SMP, SMA gak apa-apa. Tapi
- tidak siap sebenarnya. Karena itu apa?
- Lembaga-lembaga pelatihan guru laris
- manis di sini. [tertawa] Seperti saya
- kan lembaga saya itu ngelatih guru
- sampai seluruh Indonesia.
- Iya. Iya.
- Betul. Kadang-kadang ketika kita melatih
- guru satu materi aja Mas Angga. Heeh.
- Dalam hati saya berpikir apa ini gak ada
- di kampus kan ini sudah guru gitu loh.
- Iya. Iya. I
- ini ternyata problemnya di konten
- sililabusnya.
- Kontensius.
- Saya minta izin sama rektor saya,
- boleh gak saya rubah
- silabusnya? Saya cuman kepengin tahu ada
- perbedaan gak gitu.
- Alhamdulillah rektor saya memberikan
- kebebasan
- ya. Beliau bilang, "Ya, Pak Munif di
- sini tugasnya merubah silabus ini." Itu
- maka Masangga mahasiswanya senangnya
- minta ampun. Ketika saya ngajar materi
- strategi pembelajaran,
- saya suruh ke sekolah-sekolah, Mas
- Sangga di sekitar kampus itu
- saya berikan instrumen sederhana untuk
- ngelihat gurunya ngajar di perkelas.
- Lalu ada feedback, ada tanya jawab
- gurunya, ada instrumen sederhana. Tujuan
- instrumen itu apa? kepengin tahu gurunya
- ini ngajar pakai strategi apa. Nama mata
- kuliahnya strategi pembelajaran.
- Saya sengaja masukkan anak-anak ini,
- mahasiswa ini ke fakta, ke lapangan.
- Udah itu berjalan sampai 2 minggu
- masangga. Mereka door to door ke
- sekolah, duduk di kelas mulai guru kelas
- 1, SD sampai guru kelas 6 dengan membawa
- instrumen. Lalu ketemu sama saya, kita
- ramu data itu. Hasilnya kaget Masangga
- ini guru yang ada ya hampir 95%
- strateginya adalah ceramah. Sampai saya
- bilang, "Nah, benar kan kata saya
- ceramah ila yaumilqiamah." Nah, itu
- [tertawa]
- baru saya ajarin sudah tutup buku-buku
- teori. Ayo, ada 20 strategi pembelajaran
- ini. Ada 200 bisa cuman ini satu
- semester ini 20. Strategi pertama
- langsung praktik, strategi kedua dan
- seterusnya. Wal hasil ceritanya happy
- mahasiswanya masangga gitu. Nah, ini kan
- salah satu contoh kecil
- yang ada di dunia kampus.
- Saya jadi teringat ini ya yang Finlandia
- itu sekarang menjalankan revolusi metode
- pengajaran.
- Iya.
- Mengajar dengan subjek.
- Iya.
- Melihat kondisi Indonesia ya tadi yang
- seperti Pak Muni ceritakan ketika bicara
- tentang pabrik gurunya.
- Iya.
- Nah ee saya kembali lagi ke finalnya
- dulu ya. Karena
- dari cerita-cerita itu wah luar biasa
- gitu. Kok masyarakat dan juga
- pemerintahnya tuh kok mampu gitu
- menjalankan itu kalau misalkan tadi
- mereka membutuhkan waktu 10 tahun, Bang.
- membutuhkan waktu 10 tahun berarti kan
- memiliki prinsip juga pribadi
- kemanusiaan yang kuat mungkin di sana
- gitu ya. Juga saya satu hal yang
- disoroti tadi ketika Pak Munip
- menyinggung politik pendidikannya.
- Nah, politik pendidikannya mungkin di
- sana lebih sehat gitu ya dari mulai
- pendanaan, perencanaan semua gitu tidak
- terganggu dengan hal-hal korupsi,
- anggaran dana
- sementara di Indonesia masih terus
- terjadi.
- Iya. atau terjadi hal-hal ee antara ee
- miskoordinasi antara pemerintah dengan
- dengan pihak-pihak lembaga pendidikan
- sekolah apa itu rapi di sana ya? Betul.
- Rapi sekali masa anu masa enggak dengan
- perbedaan-perbedaan desain kurikulum
- itu, wah mereka menatanya dengan rapi.
- Karena itu tadi ya good will. Nah, ini
- good will dari pemerintahnya itu
- khususnya berkaitan dengan pendidikan
- itu mereka terstruktur. Betul. Itu saya
- kan sekarang sedang nulis buku ini
- Masangga yang kurikulumnya manusia ini.
- Kurikulum manusia. Nah, itu mungkin
- pernah saya informasi ini saya apa
- berikan ke teman-teman guru. Jadi di bab
- duanya itu kan judulnya politik
- pendidikan di Indonesia itu.
- Nah, merdeka kita tahun 1945
- sekarang 2018. Jadi sudah berapa tahun
- ini kan.
- Nah, lalu di buku itu saya munculkan
- sebuah pertanyaan. Siapakah Menteri
- Pendidikan Pertama Indonesia?
- Nah, dari referensi kita mudah
- mengetahui ternyata ee Bapak Ki Hajar
- Dewantoro, Masangga
- sampai motonya itu sampai hari ini
- dipakai logo dari e kementerian ya,
- Tutwhana, Kementerian Pendidikan itu
- ternyata sejarahnya masangga ketika
- ditanya lagi berapa lama ini K. Hajar
- Dewantoro menjabat sebagai Menteri
- Pendidikan cuman 3 bulan masang.
- Iya. Bayangkan diganti lagi, diganti
- lagi, diganti. Saya hitung itu karena
- ngitungnya gampang itu Masangga ada
- banyak referensi ternyata sampai 2018
- sampai Pak Muhajir ini jadi menteri
- mulai Kia Hajar Dewantorut sampai Pak
- Muhajir, Menteri Pendidikan Indonesia
- sudah ganti 38 kali
- 10 kurikulum. Bayangkan
- kurikulum tidak berubah loh ya.
- Berganti. Kalau berubah itu biasanya
- pengembangan itu okelah. Tapi ini
- berganti Masud 10 bayangkan
- ganti
- menterinya 38.
- Nah misal idealnya satu menteri 5 tahun
- saja [berdehem] kita hitung.
- Heeh.
- 38 * 5.
- Iya. Sudah 100 berapa?
- Iya. Kita masih belum sampai 100 tahun.
- Nah ini fakta membuktikan. bahwa good
- will bahwa pendidikan itu harus terlepas
- dari kepentingan-kepentingan politik itu
- masih belum kelihatan. Itu bayangkan
- yang kemarin Mas Angga Pak Muhajir itu
- buat terobosan keren.
- He.
- Moratorium ujian nasional tapi gagal.
- Nah, bayangkan ya. Jadi menterinya
- mengusulkan kepada Presiden
- moratorium ujian nasional.
- Kan mestinya harus terust, harus percaya
- dong presidennya sama menteri
- pendidikannya.
- Heeh.
- Tapi ternyata ditolak.
- Jadi ini bukan anggota DPR yang
- mengusulkan moratorium pendidikan kepada
- pemerintah. Bukan.
- Ini juga bukan PGRI
- ya atau ee apa ee organisasi-organisasi
- guru yang lain. Bukan. ini secara
- internal Menteri Pendidikan
- Menterinya.
- Iya.
- Pasti Pak Muhajir kan punya data-data,
- punya alasan-alasan kenapa
- betul.
- Tapi dengan cepatnya dipikir dulu dan
- akhirnya ditolak. Nah, ini saya rasa
- memang unsur politis masih kental.
- Nanti kita bicara tentang ujian ya.
- Iya. [tertawa]
- Sampai kasihan saya. Nanti banyak yang
- ini Pak proyeknya banyak yang hilang
- makanya [tertawa] itu. Iya. Dan saya
- kasihan lihat ini lihat apa guru-guru
- siswanya sekarang sampai ah ujian santai
- yang mules perutnya itu guru sama orang
- tuanya. H
- itu padahal di Finlandia masangka gak
- boleh itu ada tes-tes standar yang
- iya
- menentukan mereka itu mampu atau tidak
- lulus atau tidak.
- Apalagi ada standar kelulusanlah. usia
- 17 tahun baru gak apa-apa.
- Bayangkan. Jadi ee tes-tes itu mereka
- kaitkan dengan perkembangan psikologis,
- usia perkembangan psikologis anak.
- Mental anak menghadapi hasil tes itu
- disiapkan mereka antara umur 16 sampai
- 17 tahun.
- Tapi di bawah itu enggak ada itu. Nah,
- sedangkan kalau guru ngasih materi lalu
- pakai ulangan harian itu wajar sebagai
- konsep checking ya. Heeh.
- Tapi di ujung-ujung ini jenjang tes tes
- lagi supaya masuk ke jenjang yang
- berikutnya pakai tes itu mereka sudah
- bongkar gitu loh.
- Ujian nasional sudah lulus. Ada tes lagi
- mau masuk ke selanjutnya tes lagi.
- Iya itu kan aduh luar biasa gitu.
- Ujian nasional juga harus merata lagi
- semua.
- Iya. Iya. Apalagi dengan perkembangan
- segregasi istilahnya. I.
- Nah, ini ini ada ada hal yang baru
- segregasi itu kan dipisahkan itu ee
- lawannya segregasi itu ee inklusi.
- H
- itu segregasi itu inklusi. Nah, saya
- kemarin mendengar satu teman yang doktor
- di sana ngambil teman dari UGM ini tapi
- ngambil apa? Doktor di Finlandia itu
- ketika kita ke Estonia perjalanan di
- mana? Di kapal itu.
- Iya. ee
- ee teman saya ini bercerita tentang
- sebuah runtutan.
- Runtutan sebuah apa ya? Pola pendidikan
- yang ada di Finlandia itu dahsyat
- sekali, Mas. Angga.
- Heeh. He.
- Jadi ceritanya begini.
- Dulu ini pada zaman manusia bodoh
- itu ketika lahir
- perempuan langsung dibunuh. Masa enggak?
- Kan kita sering itu dengar
- riwayat-riwayat itu, sejarah-sejarah
- itu.
- Kenapa malu?
- Aib.
- Aib.
- Dulu tuh anak perempuan aib gitu.
- Aib dibunuh.
- Baru lahir oek bunuh. Apalagi hak
- belajar. Apalagi kita gak usah ngomong
- itu. Iya.
- Langsung dan hari itu juga dibunuh.
- Bungkus ayahnya biasanya yang nanam
- sendiri di apa? Di di di dikubur, di
- tanah hidup-hidup. Selesai.
- Lalu dalam perkembangan berikutnya,
- lahir perempuan tidak
- Heeh.
- tidak dibunuh.
- Heeh.
- Laki-laki sama perempuan diberikan
- kesempatan hak hidup.
- Tapi ketika lahir laki atau perempuan
- cacat masangga secara fisik atau secara
- brain kelihatan bunuh masangga.
- Iya. Yang cacat ya.
- Nah, jadi ini historinya itu dibunuh
- apalagi hak belajar tidak ada untuk yang
- cacat. He dalam perkembangannya ketika
- lahir cacat Mas Angga tidak dibunuh.
- Heeh.
- Dipasung
- dikandangkan kayak binatang
- tapi dia tidak dibunuh.
- Ini zaman selanjutnya nih.
- Iya. Ini zaman tidak dibunuh. Berarti
- dia punya hak hidup saja sambil makan.
- Ini kayak binatang sudah. He.
- Itu. Dan yang berikutnya
- lahir punya problem hambatan
- disekolahkan.
- Heeh. dapat hak belajar
- tapi gak boleh ketemu sama anak-anak
- regulir,
- orang-orang reguler dikotak menjadi
- sekolah yang namanya sekolah luar biasa
- SLB
- SLB ini segregasinya gitu.
- Dan
- perkembangan selanjutnya
- lahir ada anak punya hambatan dijadikan
- satu punya hak belajar bersama-sama anak
- reguler.
- Ini namanya sekolah inklusi.
- Nah, Finlandia itu urutannya itu
- sekarang sudah di sekolah inklusi.
- Jadi, hak anak kondisinya apapun itu
- berhak belajar bersama-sama. Hm.
- Hospital school. Di sana ketika seorang
- anak sudah
- mengalami hambatan yang akut, yang
- susah.
- Heeh.
- Untuk berkomunikasi, tetap dapat hak
- belajar tapi di rumah sakit.
- Dokter-dokternya ini yang jadi
- guru-gurunya seperti itu. Nah, ini
- urutan Finlandia. Tapi kalau kita balik
- ke Indonesia, Mas Angga, segregasi ini
- dahsyat, Mas Angga. Tidak hanya di
- sekolah luar biasa.
- yang masih di kotak di Indonesia sini.
- Tapi sekolah-sekolah untuk anak reguler
- mengalami juga segregasi modern.
- Bayangkan anak yang boleh masuk di
- sekolah yang dianggap keren harus
- lewatin proses seleksi tes
- masuk. Iya.
- Bayangkan mereka kepengin yang pintar,
- yang gak pintar sedikit. Waalaikumsalam.
- Uh, dahsyat. Ini kita ini
- saya mengalami itu.
- Ngalamin itu ya. Nah,
- makanya kalau kelas ini kelas khusus,
- kelas pintar semua
- yang yang nilainya di atas 90 semua.
- Iya.
- N itu sekolah-sekolah binaan saya masa
- enggak mau mendobrak ini.
- Ini segregasi modern ini. Ada anak gak
- bisa baca gak boleh sekolah. Ada anak
- gak bisa nulis gak boleh sekolah.
- Sekolah itu harus nerima anak-anak
- pintar. Anak-anak yang tidak pintar itu
- tidak boleh sekolah. cari sekolah lain,
- silakan cari sekolah lain dan lain-lain.
- Nah, ini kalau satu sekolah gak apa-apa
- sekolah lain oke menerima lah. Kalau
- banyak sekolah apalagi ini jadi image
- ya image
- nah bahwa sekolah favorit adalah yang
- ketat sekali masuknya ya kan dari
- nilai-nilai dan lain-lain. Nah,
- kita kalau menurut saya kita masih hidup
- pada zaman juresik gitu loh. Nah, jadi
- harus didobrak ini gitu. Saya bilang
- sama teman-teman penyelenggara sekolah
- swasta terutama, "Ayo, yang dobrak itu
- harus ramai-ramai gitu dan dobraknya itu
- dari sekolah kita sendiri saja gitu.
- Mikro-mikro itu kalau banyak akan
- menjadi makro
- itu dan terbukti."
- Saya menyaksikan dengan mata kepala
- sendiri, Mas Angga. Sekolah inklusi yang
- kita bina benar-benar konsep semua anak
- bintang itu kelihatan. Saya barusan tadi
- itu dari anu satu acara Mas Angga.
- Acaranya adalah ee apa? Digital para
- games. Bayangkan para games.
- Iya. Jadi anak-anak berkebutuhan khusus
- membuat program untuk membuat game di
- apps.
- Bayangkan
- di mana, Pak?
- Acaranya di Cipurta Mall. Tadi
- saya lihat ada sekitar 50 lebih lah
- anak-anak itu dari berbagai jenjang.
- Iya. Iya. Nah, mereka ditantang untuk
- membuat eh games dan mereka serius gitu.
- Ada talk show-nya, saya kemudian jadi
- pembicaranya. Dan setelah talk show
- selesai,
- anak-anak ini tampil mempresentasikan
- bagaimana logika berpikir di game. Ini
- anak autism,
- ada anak serebal pals. Bayangkan Mas
- Angga.
- Iya. Iya.
- Jadi saya bilang Allahu Akbar gak ada
- anak bodoh itu. Gitu. Nah, inilah yang
- menyebabkan ya itu kualitas pendidikan
- kita itu jalan di tempat. Baik. Nah,
- Pakip dari banyaknya fakta-fakta yang
- sudah disampaikan oleh pendidikan di
- Finlandia sekarang yang paling dirasakan
- oleh Finlandia sendiri capaian
- pendidikannya itu
- ketika bicara bidang ekonominya gimana
- sih Finland? Bidang kesehatannya gimana
- sih Finland gitu ya.
- Iya. Iya.
- Terus bidang yang lainnya bagaimana sih
- pembangunannya gitu dengan pendidikan
- seperti ini?
- Iya. Karena pondasinya adalah kualitas
- manusia dalam pendidikannya Mas Angga.
- Maka
- ekonominya, kesehatannya ngikut semua
- masangga.
- B saya dengar Finlandia itu sekarang
- negara terbersih sedunia.
- Betul ya Masangga. Dan dahsyatnya
- afeksinya keren masangga. H. He.
- Jadi, waktu kita ketemu sama duta besar
- ee Ibu Dubes itu mengatakan kepada kita,
- "Coba
- malam keluar anu jalan-jalan di Helsin
- gitu malam sekitar jam 10. Jam 11.00
- gitu. Saya sama teman-teman saya lakukan
- itu Mas Angga." Pertanyaannya adalah
- apakah ada orang di kota-kota di
- Helsingki itu mabuk?
- itu
- yang kedua yang menggunakan
- pakaian-pakaian yang terbuka aurotnya.
- Padahal Finlandia ini Eropa, Mas. Nah,
- di negara lain Eropa
- itu sudah
- biasaah
- biasa kayak gitu. Ketika kita benar, Mas
- berapa? 5 hariah kita di sana itu kita
- lihat itu benar gak ada Mas Angga. orang
- mabuk itu ya di dalam sendiri rumahnya
- sendiri atau apa malu gitu loh kelihatan
- orang. Dan yang kedua adalah itu ee apa
- ee cara berpakaian
- itu mereka sopan-sopan. Kalau ada yang
- terbuka auratnya saya disuruh tanya
- biasanya turis.
- He.
- Nah, ketika kita mau ke Estonia itu naik
- kapal banyak orang-orang tuh yang
- terbuka auratnya pakaiannya. Benar.
- Ketika saya tanya dia bukan orang
- Finland, dia turis gitu.
- Jadi ee kekuatan edukasi tiba-tiba
- berakibat pada kekuatan ekonomi,
- kekuatan kesehatan, dan karakter itu
- sikap.
- Nah, itu saya lihat betul di sana.
- Apalagi kasus korupsi di sana minim
- sekali ya.
- Minim sekali. Minim sekali.
- Masuk negara terbersih.
- Iya. Sampai katanya budu besalan,
- terus mau sekolah di Eropa, saya pilih
- Finlandia yang aman.
- itu. Nah, ya mungkinlah ada kasus-kasus
- tertentu ya seperti di Indonesia juga,
- tapi itu tidak lain-lain pembicaraan
- gitu. Tapi yang kita lihat adalah itu
- tadi pondasi kualitas pendidikan di
- sebuah negara. Ternyata rumah yang
- dibangun di atas pondasinya ini dapat
- semua, Masangga ketika pondasi
- pendidikan kualitas pendidikan ini kuat
- sekali itu.
- Baik, Pak Monif dari semua fakta gitu.
- Lalu kita melihat juga hasil dan capaian
- yang sekarang dinikmati oleh Finlandia
- dari semua teori
- konsep pendidikannya.
- Kalau topik kita mengenai mungkinkah
- kualitas pendidikan Indonesia seperti
- Finlandia. Nah, teori-teori yang
- digunakan oleh Finlandia mungkinkah juga
- diterapkan di Indonesia.
- Lalu bagaimana gitu misalnya kalau
- misalkan Indonesia itu ingin mencapai
- seperti hal itu.
- Indesia. Iya.
- Ada beberapa faktor yang harus
- diperhatikan.
- Iya. Jadi kan begini, ini ada kondisi
- Mas Angga. Heeh.
- Lalu ada kriteria.
- Heeh.
- Yang mana kalau kriteria majunya
- pendidikan di sebuah bangsa itu cocok
- sama kondisinya berarti maju.
- Heeh.
- Itu itu dasar pemikirannya.
- Iya.
- Finlandia ini menyusun kriteria
- hm.
- Bagaimana supaya kualitas pendidikannya
- itu maju.
- Iya. ketika dicocokkan dengan kondisi
- Finlandianya itu gak masuk.
- Yang tadi saya katakan negaranya kecil
- sedikit ya kan sumber daya alamnya juga
- terbatas. Namun mereka punya good will,
- punya benar-benar kesatuan paradigma
- semua unsur mulai pemerintahnya,
- masyarakatnya dan juga kampus itu
- sehingga
- jebol ini yang namanya kondisi yang
- mestinya gak bisa menerima kriteria ini
- bisa. Nah, mungkinkah Indonesia maju?
- Indonesia kriterianya untuk maju
- kualitas pendidikannya sama dengan
- Finlandia.
- Saya sebutkan kriteria itu adalah sistem
- kurikulum.
- Iya.
- Kalau sistem kurikulumnya Finlandia itu
- desentralisasi. He.
- Dan yang kedua misalkan FKIP-nya
- bagus yang tadi saya jelaskan. Yang
- ketiga gurunya ini Masangga kita belum
- bicara gurunya ini.
- Iya. Lalu orang tua di sana masyarakat
- empat ini itu kriteria-kriteria punya
- khas ketika dicocokkan dengan kondisi
- Indonesia ini kayak puzzle masud enggak
- masuk
- h
- berarti kita tidak hanya mungkin mampu
- gitu loh Finlandia kondisinya tidak tapi
- dia bisa jadi itu bisa jadi senyawa gitu
- kita kondisinya sudah oke. Sistem
- desentralisasi kurikulum Indonesia
- multiculture. sumber daya alamnya mulai
- dari ee apa Sabang sampai Merauki luar
- biasa tapi penyakitnya sentralistik ya.
- Waalaikumsalam. Nah, ini itu yang
- membuat ini. Jadi menurut saya antara
- kondisi Indonesia sama kriteria majunya
- kualitas pendidikan itu mestinya sudah
- dapat. Tidak perlu 10 tahun seperti
- Finlandia untuk cepat berubah. Menurut
- saya satu kali aja 5 tahun kalau ini
- serius punya goodwill pemerintah yang
- baru ini nanti insyaallah itu bisa
- masangga.
- Hm. Sama tadi gurunya ya.
- Gurunya ya seperti itu.
- Ada yang belum dibahas sebagai guru
- orang tua.
- Iya. Iya. Jadi ee
- kualitas guru di sana ketika mengajar
- kalau tadi saya cerita dari background
- pendidikannya itu kan
- S2. Cuman menurut saya Mas Angga ketika
- mau kita tarik ke Indonesia sebetulnya
- S1 pun itu is oke. Kalau di Indonesia
- sekarang kan S1 lulus itu kalau di
- Indonesia biasanya anak-anak muda
- sekarang langsung ngambil S2 gitu.
- Itu sesuatu yang bagus juga. Nah,
- masalahnya adalah
- ada rahasia banyak sekali bagaimana guru
- ini tiba-tiba ketika di kelas dahsyat
- sekali Mas Angga
- itu. Nah, karena itu insyaallah ini Mas
- Angga nanti hari Sabtu tanggal 27
- Oktober.
- Oh, ada agenda, Pak?
- Iya, saya ada agenda. itu ada satu
- workshop pendidikan itu. Nah, ini
- mungkin apa pas kebetulan kita membahas
- ini. Ini khusus untuk guru. Iya. Jadi
- rahasia ee menjadi guru hebat di
- Finlandia dan ini
- workshop langsung. Iya.
- Guru hewat. Ala Finland.
- Ala Finland ya. Itu kan kita ngelihat
- ini sebenarnya apa sih? Oh, ternyata
- mereka tuh punya tahapan-tahapan gitu
- loh ini. Dan ketika kita lihat di
- beberapa sekolah yang lain tahapannya
- subhanallah sama gitu Mas
- meskipun materi dan kurikulumnya
- berbeda, tapi tahapan-tahapan ini ketika
- dia ngajar di dalam kelas sampai selesai
- itu punya tahapan-tahapan. Nah, ini yang
- ingin kita bagi sebenarnya sama ee apa
- teman-teman guru itu dan insyaallah
- praktis Mas Angga.
- Iya. Iya,
- praktis. Half D aja. pagi sampai siang
- selesai.
- Dan ini bukan teori,
- tapi langsung workshop.
- Langsung workshop.
- Langsung workshop. Itu kalau Sabtu
- Seninnya insyaallah bisa dipraktikkan
- sama gurunya langsung. Nah, ayo kita
- buat terobosan ini masalah ini. Saya
- susah untuk menjelaskan di sini tapi
- mudah-mudahan bisa gabung di 27 Oktober.
- Baik Pak, kita tahan dulu.
- Kita sudah di studio ini menunjukkan
- waktu pukul 212 menit. Kita jedah dulu
- ya, Pak. Nanti kita lanjutkan di sesi
- kedua dan Iwan dan juga saya akan
- informasikan mengenai agendanya Pakip di
- tanggal 27 Oktober nanti mengenai
- workshop rahasia menjadi guru hebat ala
- Finland. Dan bagi Anda ikwan akhwat yang
- ingin bergabung ataupun ee menyampaikan
- komentarnya selain menyampaikan
- pertanyaannya kepada Pak Munifat
- mengenai topik yang kita bahas di malam
- hari ini yaitu mungkinkah kualitas
- pendidikan Indonesia seperti Finlandia.
- Silakan sampaikan ke nomor WhatsApp
- hasil di 0811999720.
- Untuk berdialog langsung dengan Pak
- Monip, telepon kami di nomor 0218451512.
- Kami akan segera kembali.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- H
- Hasil TV
- untuk Islam yang satu. [musik]
- [musik]
- [musik]
- Radio Silaturahim dan Rasil Visual untuk
- Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala,
- terima kasih masih bersama kami dalam
- acara bincang pendidikan bersama Bapak
- Munif Khatib. Kita mengat topik mengenai
- mungkinkah kualitas pendidikan Indonesia
- seperti Finlandia. Sudah banyak
- fakta-fakta tadi yang disampaikan di
- sesi pertama bersama Pak Munif. Ini juga
- menjadi tantangan Kementerian Pendidikan
- Indonesia pada tahun politik di 2019
- gitu ya.
- Ini ada
- ikutan topiknya nih. Kalimatnya
- tentangan Kementerian Pendidikan
- Indonesia.
- Iya. pada tahun politik. Ee tadi Pak
- Munib menyinggung terus mengenai ee
- goodwill
- iya
- atau sikap masyarakatnya juga yang
- memang dengan pemerintahan ini sejalan
- ya yang dilakukan oleh Vendia. Bagaimana
- dengan
- betul
- ee Indonesia Pak Mundi?
- Iya.
- Masyarakat Indonesia ini apakah sudah
- menjadi sudah menjadikan sekolah dan
- seluruh perangkatnya termasuk guru itu
- menjadi partnernya dalam mendidik
- anaknya. Iya,
- gitu. Karena di Indonesia masih banyak
- loh kasus-kasus ya, Pak ya.
- Orang tua sama guru ribut
- bahkan mulai dari guru dan muridnya yang
- ribut gitu ya. Akhirnya jadi masuk ke
- kasus kriminalitas apa gitu ya.
- Iya. Iya.
- Jadi kalau Finlandia strukturnya itu kan
- gini Masangga ketika sistem kurikulumnya
- itu humanis. Betul gitu. Heeh.
- Ini kan pemerintah yang mendesain ya
- yang menentukan kebijakan.
- Iya. itu dan diikuti oleh
- kampus ini. Iya kan? Bagaimana guru-guru
- yang selesai dari kampus ini juga
- humanis gitu, Mas Angka. Lalu turunan
- berikutnya adalah bagaimana anak-anak
- ini di sekolah gitu.
- Bayangkan sistem politik pendidikannya
- sangat humanis, gurunya sangat humanis,
- lalu dimunculkan semua ilmu ini kepada
- siswa di sekolah, pasti stakeholder yang
- paling dekat dengan anak didiknya adalah
- orang tuanya. di Finlandia ada satu kata
- orang tua kalau ditanya tentang sekolah
- Mas Angga
- teras percaya kepada sekolahnya, percaya
- kepada gurunya, percaya kepada kepala
- sekolahnya. Itu terust percaya. Nah,
- kalau kita tarik ke Indonesia, Mas
- Angga. Nah, struktur ini tadi dengan
- berbagai macam kondisi-kondisi yang
- masih belum sempurna
- ujung-ujungnya
- masyarakatnya masih belum percaya
- h
- sama institusi yang namanya sekolah
- masih belum percaya itu. Nah, buktinya
- apa?
- Betapa banyak kasus-kasus yang terjadi
- di sekolahnya sendiri, Mas Angga. Karena
- [mendengus] kehilangan humanism ini baik
- guru maupun muridnya.
- Ada yang guru memukul murid secara
- fisik. Ada yang murid memukul guru
- sampai dalam kasus-kasus yang lalu
- sampai ada yang meninggal masang yang di
- Madura itu.
- Iya.
- Nah, lalu ketika ini terjadi apa
- dampaknya orang tua? Uh, orang tuanya
- juga begitu. Kehilangan kepercayaan.
- Datang ke sekolah seperti yang kemarin
- terjadi. Masuk kelas langsung tanpa
- adanya tabayun dulu, tiba-tiba gurunya
- langsung dipukul oleh orang tuanya.
- Jadi,
- ini gara-gara tidak ada satu kata
- terust. Belum ada satu kata rasa percaya
- ini masyarakat sama sistem sekolah itu.
- Nah, saya yang di lapangan Mas Angga
- mengalami hal ini terutama untuk orang
- tua ya.
- itu sampai ketika kita membangun konsep
- sekolahnya manusia ini yang humanis ini,
- Mas Angga, ternyata
- orang tua itu terbagi menjadi tiga pola,
- tiga model lah itu.
- Orang tua yang menyekolahkan anaknya
- karena punya latar belakang paradigma
- anakku ini manusia gitu, punya potensi.
- Jadi harus disekolahkan di tempat
- sekolah yang benar-benar mampu memantik
- potensinya nanti. Itu buat saya ini
- orang tua tipe A. Uh. Kalau kita ketemu
- orang tua seperti ini, Masangga luar
- biasa. Itu klik sudah. Nah, tapi
- Masangga ada yang tipe C. Tipe C itu
- Masangga paradigma orang tuanya berbeda
- dengan paradigma sekolahnya. Nah, yang
- jadi masalah orang tua yang punya
- paradigma berbeda ini bersikukuh gitu
- bahwa paradigman lah yang benar gitu.
- sekolah itu ujung-ujungnya adalah tes
- anak berhasil kalau nilai angka yang
- dijadikan syarat utama patokan
- keberhasilan, keterampilan, portofolio
- itu ndak ndak penting. Itu banyak masih
- masangga itu C saya bilang C itu. Dan
- ada model yang B ini yang masih dalam
- kebingungan ini. itu antara percaya sama
- A tapi faktanya masih harus ke C gitu
- dan lain. Nah,
- masyarakat yang B ini yang bingung ini
- masalah jumlahnya paling banyak. Ini
- jumlahnya paling banyak. Nah,
- mengelola masyarakat atau orang tua yang
- masih dalam kebingungan tentang
- paradigma sekolah itu mestinya yang bisa
- menyelesaikan adalah langsung pemerintah
- dalam sebuah sistem pendidikan. Saya
- kasih contoh saja. Misalkan
- kenapa ada orang tua yang sangat
- cognitive minded itu? Karena sistem
- pendidikannya
- melihat keberhasilan siswa, kemampuan
- siswa ini diukur dari the end of
- processe.
- Yaitu ujian.
- Itu sistem pemerintahnya.
- Iya. Ah, karena itu
- masih ada masyarakat atau orang tua yang
- sama gitu dengan sistem pemerintahnya
- yang saya tadi kategorikan di C.
- Tapi fakta membuktikan bahwa nilai-nilai
- hasil tes di atas kertas itu dalam
- kehidupan berikutnya setelah anak
- selesai itu ditaruh di lemari masa gitu.
- Yang penting adalah bagaimana karakter
- anak itu, bagaimana menjaga hubungan,
- bagaimana pengalaman-pengalaman mereka
- dalam bernegosiasi.
- Saya sering sebut portofolionya lah,
- performance mereka bagaimana,
- karya-karya mereka yang sudah dibuat di
- sekolah ataupun juga apa ee
- penelitian-penelitian yang sudah dibuat.
- Nah, ini kadang-kadang
- oleh yang kelompok A itu dijadikan
- pedoman.
- Hm. Masyarakat A ini sudah bilang
- mestinya sekolah itu ngajarin anak kita
- siap hidup gitu. Dan untuk siap hidup
- itu bukan nilai-nilai hasil tes IP-IP
- S1, S2, S3 itu ya di lemari nanti. Tapi
- faktanya tidak seperti itu. Ini sudah
- percaya. Tapi gara-gara sistem
- pemerintah yang masih seperti itu,
- akhirnya lahirlah kebingungan ini di
- kelompok B ini dan ini jumlahnya yang
- paling banyak.
- Banyak. Mas Angga bisa bisa bayangkan
- ketika sistem pemerintahnya humanis,
- kelompok B ini akan semuanya jadi A.
- Yang C pasti akan jadi B dan pada
- pembuktian 5 tahun berikutnya yang B ini
- akan jadi A semua selesai. Nah, itu itu
- analisa saya sebetulnya itu.
- Nah, selama sistem pemerintahannya tetap
- robotic school, nah itu maka gelombang
- masyarakat yang B yang masih kehilangan
- kepercayaan dengan sekolah itu saya kok
- melihat itu akan terus terjadi gitu.
- Sampai saya bilang gini, Mas. Saya
- enggak di sekolah itu kalau kita dapat
- 50 siswa Heeh. itu muridnya 150,
- ada tambahan lagi 100 yaitu siapa? Ayah
- dan ibunya.
- Karena kita juga harus memahami
- bagaimana ini paradigma pendidikan yang
- up to date sekarang.
- Betul. Betul. Baik, Pak Unip. Saya akan
- ke beberapa pertanyaan sudah masuk ini
- dari hamba Allah di Jakarta.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Munif.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apakah di Indonesia ini pendidikan hanya
- masalahnya di anggaran saja?
- berbicara anggaran, berbicara pendidikan
- gratis, kewajiban sekolah di Indonesia.
- Ee apakah cukup Pak Munip mengenai
- anggaran-anggaran yang terus saja
- diminta untuk ditambah untuk pendidikan
- Indonesia? Bicara anggaran.
- Anggaran. [mendengus] Iya. Kalau saya
- bisa jawab gak ya kan
- ee fakta sudah membuktikan itu ketika
- anggarannya
- ditambah bagus penghasilan guru
- diharapkan kualitas pendidikan naik tapi
- ternyata tidak. Jadi tidak berbanding
- lurus ternyata Mas Angga itu.
- Nah, kalau menurut saya masalahnya itu
- adalah sebenarnya pada komitmennya.
- Komitmen apa? Ee teman-teman yang punya
- profesi guru ini sebetulnya itu Mas
- Sangga.
- H
- bukan pada anggaran. Jadi komitmen.
- Komitmen ini kan daya tahan untuk
- bagaimana dia bekerja menjadi seorang
- guru. Kalau komitmennya sudah kuat
- biasanya kompetensinya akan ngikut gitu.
- He.
- Nah, kalau kompetensinya akan ngikut,
- banyak masalah yang selesai. Kreativitas
- selesai di situ, iya kan? Problem
- solving selesai di situ. Tapi kalau
- sudah komitmennya rendah, Masangga,
- maka biasanya kompetensinya akan ngikut.
- Sehingga muncullah guru yang tidak
- kreatif, guru yang gak bisa ngatasin
- masalah siswa-siswanya, bahkan
- masalahnya sendiri. Itu
- baik, Pak Unip. menarik tadi mengenai
- guru yang inovatif mengajar dengan semua
- sistem penemuannya gitu ya.
- Nah, ini yang kalau di Indonesia apakah
- tidak ada hal-hal positifnya guru-guru
- sehingga saat ini Pak Munip?
- Jadi saya ini percaya masangga guru-guru
- kita itu hebat-hebat,
- kreatif-kreatif.
- Saya berapa kali menemukan teman-teman
- guru ini di banyak sekolah di seluruh
- Indonesia ini yang memunculkan karya
- karya hebat. Masangga ada satu di Jawa
- Tengah, Mas Angga.
- He.
- Guru kalau ngajar sejarah itu pakai
- celemek.
- Bercerita pakai celemek. Bayangkan
- celemek yang buat
- Iya. Yang buat kayak di dapur gitu.
- Nah, buat masak. Lalu ee tokoh-tokoh ini
- di dipasang di celemek itu. Bayangkan
- sampai anak-anak ini gak aduh senangnya
- kalau sudah guru itu ngajar. itu luar
- biasa banyak sekali. Ada ee teman-teman
- Mas Angga bagaimana kreatifnya ketika
- semua materi-materi yang berkaitan
- dengan pemahaman konsep itu dijadikan
- parodi semua, Masangga.
- Parodi
- parodi. Masalahnya adalah
- ketika guru-guru kita mencoba kreatif
- ini, fakta di lapangan Mas Angga
- menghentikan mereka. Ada sesuatu yang
- menghentikan mereka adalah apa? Tujuan
- sekolah. H
- untuk tes sudah kurikulum yang padat.
- Nah, itu itu tembok-tembok penggalang.
- Sehingga sebagai manusia kadang-kadang
- guru merasa apa? Percuma aku kreatif
- kayak gini enggak kepakai kok nanti.
- Gitu. Karena tetap anak-anak nanti
- diukur bukan dengan dialog ini. Ketika
- guru ee apa ee mensimulasikan sebuah
- materi ajar, lalu anak-anaknya
- memberikan feedback dan lain-lain. Bukan
- itu yang dinilai. He.
- Ketika anak-anaknya mampu berpuisi,
- materi-materi yang diberikan, ketika
- anaknya mampu membuat parodi-parodi
- supaya hafal. Bukan ini semua yang
- diukur, tapi adalah sebuah lembaran
- kertas soal 1 sampai 50 dengan pilihan
- ganda seperti itu. Kurikulum yang padat,
- yang benar-benar padat kurikulumnya
- sampai kadang-kadang materi yang gak
- perlu pun diberikan kepada anak yang gak
- pas dengan usia perkembangannya. Menurut
- saya inilah kondisi sekarang yang
- menyebabkan kreativitas guru itu
- ditanggalkan satu persatu. Sayang sekali
- masangga mereka ketemu tembok itu gitu.
- Temboknya nih ya berti
- temboknya robohkan itu. Saya bilang gini
- sama guru, ada dua caranya
- ngadapin tembok ini.
- Ada dua caranya.
- Iya. Robohkan atau panjat. Sudah
- [tertawa]
- tembok kan ee insyaallah ada ujungnya
- lah atasnya itu ada panjat gitu apun ya.
- Iya. Atau kalau kita gak mau gak mampu
- merobohkan ini karena kita ini bukan
- politikus dan lain-lain. Kita yang ada
- di kelas sepanjat saja sudah.
- Namun tetaplah menjadi guru yang
- inovatif gitu ya Pak.
- Oh iya
- atau menjadi guru ala Finland. [tertawa]
- Nah itu Alfin.
- Aduh, ini saya informasikan nih Iwan
- akhwat ya, DJ. Jadi, e [berdehem]
- jadi agendanya Pak Munif nanti di
- tanggal 27 Oktober ini tadi pas jeda
- tadi saya tanya Pak Munif mungkin akan
- saya informasikan ya ke pendengar ya
- untuk acara tanggal 27 Oktober ini. Anda
- yang berminat ini ada kontak person-nya
- silakan hubungi
- Nova. Nova nih saudara apa saudari?
- Saudari Nova. dari 08132047
- nih akhwat Nova di 0813
- 2000
- gitu ya 2047
- atau di saudari Neta
- Neta ya
- 0858
- 40151611
- saya ulangi 085840151611
- ini kontak person yang bisa Anda hubungi
- atau nara hubung yang bisa Anda tanyakan
- informasi mengenai acara seminarnya Pak
- Munif di tanggal 27 Oktober. Rahasia
- menjadi guru hebat Ala Finland. Tadi
- gambarannya bagaimana si Ala Finland itu
- [tertawa] Ala Finland itu tadi gambar
- tergambar sudah hal-hal seperti itu ya
- Pak Munif ya.
- Baik. E ini juga ada
- pertanyaan dari hamba Allah. Nah ini Pak
- Munif. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waaikumsalam warahmatullahi wabakatuh.
- Ibu Tia di Bogor. Ee Pak Munif tadi
- menyinggung masalah PAUD di Indonesia.
- Padahal dalam 10 tahun terakhir dimulai
- 2006
- itu geliatnya sungguh terlihat terasa.
- Betul.
- Di mana-mana PAUD itu berdiri. Betul.
- Memang ketika tahun kemarin ada sakit
- hati atau ada [tertawa] kekecewaan
- guru-guru PAUD kepada pemerintah.
- Iya.
- Gimana usahanya nih Pak Munip dari guru
- apa dari PAUD-PAUD yang sekarang ini
- masih berjalan, masih bertahan karena
- melihat fenomena di masyarakat justru
- ini dibutuhkan.
- Iya.
- Bagaimana menurut Pak Moni?
- Kalau menurut [berdehem] saya yang ada
- di lapangan teman-teman guru PAUD tetap
- harus benar-benar mengajar dan
- memberikan bimbingan sama anak-anak yang
- ini di masa pondasi ini masa enggak yang
- penting sekali gitu loh.
- Kalau kita
- guru-guru PAUD mengikuti emosi
- sehingga berpengaruh pada kualitas
- mengajarnya. Saya bisa menganalogikan
- berarti waktu kita membangun pondasi
- sebuah rumah cakar ayamnya banyak yang
- anu gak kuat ini hilangkan mur bautnya
- dihilangkan ini.
- Gimana nanti tanggung jawabnya anak kita
- ini ketika masanya [berdehem] sudah
- membangun rumah
- pondasinya tidak kuat kop.
- Nah, di satu sisi harus ada dong gerakan
- dari masyarakat ini yang mengembalikan
- geliat PAUD lagi.
- Mestinya dulu itu keren sampai ada
- Direktorat PAUD. Iya kan? Iya.
- Itu zaman Pak Anis ada Direktorat
- Pendidikan Keluarga sekarang ini
- sebetulnya itu sudah ini keren. Nah,
- hanya gara-gara sebuah kebijakan yang
- guru PAUD itu masih disebut bukan guru.
- Bukan guru.
- Nah, ini yang menyebabkan teman-teman
- PAUD kecewa Mas Angka itu. Padahal
- mestinya kalau saya ya kalau mau angka
- persentase itu Mas Angga persentase ya
- semua pentinglah dari semua jenjang tapi
- paling bagus kebijakan itu prentase
- persis seperti membangun sebuah rumah
- PAUD itu bangun pondasi sudah itu kalau
- kita bangun apartemen masang berapa
- lantai itu yang dipentingkan kan
- sebumnya pondasinya masangga itu ya
- itulah PAUD gitu. Nah, kan tidak fair,
- tidak adil kan orang-orang yang bekerja
- dalam rangka membangun pondasi anak
- bangsa ini tiba-tiba haknya tidak
- disamakan dengan pembangunan-pembangunan
- rumahnya, apartemennya di lantai 1
- mungkin sampai lantai 80. Nah, itu yang
- menurut saya perlu diperhatikan pada ya
- ke depan ini itu.
- Baik, Pak, kita sudah dibatasi oleh
- waktu
- ini tidak terasa gitu ya di studio sudah
- menunjukkan .30 10 21 26.
- Iya.
- Sebagai penutup, Pak Munif, dari seluruh
- bahasan kita di awal sampai di akhir.
- Iya.
- Sebagai penutup apa yang disampaikan?
- Ah, sebagai penutup untuk para pendengar
- radio Silat ee silaturahim ya, Radio
- Rasil. Yang pertama kalau kita melihat
- kondisi Indonesia sekarang ini, apakah
- itu kondisi alam, kondisi kemampuan
- guru, kondisi siswa-siswa, anak-anak
- didik kita itu [berdehem] dengan
- menjawab pertanyaan mungkinkah kualitas
- pendidikan Indonesia seperti Finlandia
- dengan kondisi yang ada? Mungkin
- bisa
- bahkan mampu gitu. Karena kriteria untuk
- kualitas pendidikan yang lebih bagus
- yang sudah dijalankan ee oleh Finlandia
- itu sudah klop dengan kondisi kita. Itu
- yang pertama.
- Yang kedua adalah saya berharap benar
- goodwill dari pemerintah karena
- tiba-tiba pemerintah ini kayak payung
- gitu,
- kayak payungnya gitu. Nah, ketika
- pemerintah ini sadar bahwa pendidikan
- itu harus humanism, harus dioccokkan
- pada kondisi-kondisi setiap distrik dan
- itu nanti anak-anaknya akan banyak
- sekali rentetannya. Nah, mudah-mudahan
- harapan ee kita semua bahwa Indonesia ke
- depan itu menjadi negara yang manusianya
- itu menjadi aset dari negara itu,
- insyaallah bisa terwujud. itu kita tidak
- akan lagi terjajah dalam bidang apapun.
- Kan sekarang ini masih terjajah. Iya.
- Kalau manusianya kuat itu betul
- apakah dalam ekonomi, kesehatan dan
- lain-lain.
- Saya cuman berharap
- di tahun politik depan ada goodwill
- pemerintah
- untuk benar-benar ee memajukan kualitas
- pendidikan itu kayaknya sudah gak bisa
- ditunda lagi, Mas. Sangga.
- Betul. Betul.
- Nah, itu mungkin sebagai penutup dari
- saya.
- Baik. Luar biasa. Terima kasih banyak,
- Pak Munif.
- Sama-sama.
- Semoga kita dapat siaran lagi di bulan
- depan ya.
- Bulan depan insyaallah.
- Dengar-dengar awal bulan mau ke Tokyo
- nih.
- Iya. Mohon doanya ini kita mau belajar
- sekolah inklusi di situ.
- Sekolah inklusi.
- Iya. Ada satu sekolah Musasino di Tokyo
- itu.
- Dan sekolah ini benar-benar fokus kepada
- anak-anak reguler yang jadi satu dengan
- anak-anak berkebutuhan khusus. Dan
- luar biasa anak-anak yang berkebutuhan
- khusus ini punya karya-karya hebat itu
- dan yang anak reguler tiba-tiba
- ketularan. ketularan sikap positifnyaitu
- kepeduliannya,
- toleransinya luar biasa.
- Itu dari interaksi tersebut aja menambah
- nilai
- sudah menambah nilai. Karena itu
- kita kepengin belajar di situ. Iya.
- Mohon doanya 4 sampai 10 nanti.
- Wih, luar biasa. Bulan November
- dari Finland terog.
- Nah, nanti bincang pendidikan berikutnya
- mungkin oleh-olehnya ini ya. [tertawa]
- Ini cerita-cerita luar biasa nanti dari
- Pak Unif kita akan dapat gitu ya. Semoga
- sel sehat Pak Unif. Iya. Itu insyaallah
- mohon doanya sehat. Demikianlah ikhwan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala. Bincang pendidikan bersama Bapak
- Umfib. Semoga apa yang beliau sampaikan
- di malam hari ini bermanfaat bagi kita
- semua. Saya Angga Aminuddin ditemani
- oleh Husmangkit di meja operator. Ada
- juga Muhammad Ondi undur diri. Mohon
- maaf atas segala kesalahan kata. Bii
- taufik wal hidayah. Subhanakallahumma
- wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Berasil [bernyanyi]
- [musik] TV
- untuk Islam yang satu. H