Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [musik] 0:01 Amin. 0:11 [musik] 0:18 [musik] 0:25 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:27 warahmatullahi wabarakatuh. 0:28 Alhamdulillah. 0:32 Muhammtani 0:38 waimni mafuni warzu ilman. Dipancarkan 0:42 dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36, 0:44 Kalimanggis, Cibuasi, Radio Silaturahim 0:47 untuk Islam yang satu. Kami juga siaran 0:49 melalui e YouTube e Rasil TV. Anda juga 0:53 bisa menyaksikan kami di smartphone-nya 0:56 atau di PC-nya siaran langsung di malam 0:59 hari ini. Senang sekali saya angga 1:01 Aminuddin ditemani oleh Muhammad Fahri 1:04 di operator dan juga Atep di kameramen 1:07 dapat kembali hadir ikhwan akhwat di 1:09 Ahad pekan ketiga. Ahad malam seperti 1:13 biasa kami hadir dalam acara bincang 1:16 pendidikan bersama pakar dan ahli 1:18 pendidikan yaitu Bapak Munif Khatib. 1:21 Alhamdulillah kita sudah bergabung 1:24 bersama beliau. Jadi malam hari ini kami 1:26 siaran melalui ee aplikasi Zoom Meeting. 1:30 Asalamualaikum warahmatullahi 1:32 wabarakatuh, Pak Munif Hati. 1:34 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:35 wabarakatuh. 1:36 Kabarnya sehat, Pak, malam ini? 1:39 Alhamdulillah harus sehat, terus 1:41 bersemangat. 1:42 Harus sehat, terus bersemangat. Kita 1:44 juga doakan Pak Munip ya untuk pendengar 1:46 dan ikhwan ahad yang saat ini mungkin 1:49 mm ada yang sakit gitu ya. ada yang 1:51 isoman juga gitu ya dan yang kondisinya 1:54 sedang sakit jaga kesehatan gitu Pak 1:56 Munif ya. 1:57 Betul. 1:58 Kalau di rekan-rekan sendiri, 2:00 rekan-rekan pengajar pemunif yang ada di 2:02 Insan Mandiri ataupun School of Human 2:04 itu bagaimana kondisi kesehatan para 2:06 pengajar dan para stafnya Pak Munip? 2:09 Iya sama Mas Sangga ya. Ada beberapa 2:12 yang isoman ya. 2:13 Iya. 2:14 Karena positif rata-rata memang penyebab 2:17 positifnya itu bawaan dari keluarga. 2:20 bawaan dari kalau ee guru itu ibu-ibu ya 2:24 dari suaminya gitu, 2:26 dari ee orang tuanya seperti itu. Jadi 2:30 ee 2:32 apa ada beberapa tapi lebih dari lima 2:35 lah Masangga gitu kalau saya 2:37 lebih dari lima ya. 2:38 Iya lebih dari lima. Jadi memang 2:40 berpengaruh ya berdampak. 2:41 Iya. Iya. 2:42 Nah apalagi ini kan sekarang sudah mau 2:44 sudah masuk tahun ajaran baru ya. 2:46 Heeh. Tadi saya baca satu artikel CNN 2:49 Indonesia. Jadi dia ada kolom khusus 2:52 gitu ya, Pak Univia di portal online-nya 2:55 itu berbagi cerita ee melewat melewati 2:58 COVID. Berbagi cerita melewati COVID. 3:00 Ada edisi guru ee perempuan namanya tuh 3:03 Bu siapa tadi saya lupa tuh. Jadi dia 3:05 cerita gitu ketika baru-baru ini bulan 3:09 lalu dia sedang mempersiapkan untuk 3:12 program belajar jarak jauh. Ya, tadinya 3:15 kan sekolahnya tuh akan menerapkan tatap 3:18 muka walaupun terbatas, tapi dengan kena 3:21 COVID, wah itu semua berubah dan 3:23 ternyata yang berubah tuh bukan hanya di 3:25 rumahnya, ternyata di negeri ini gitu 3:27 ya. Karena angkanya angkanya begitu 3:29 besar di negeri ini. Sampai akhirnya 3:30 menteri-menteri kan udah tunda dulu deh 3:32 Juli jangan dulu. Jadi cerita-cerita 3:36 guru bagaimana di masa mereka isoman 3:38 juga ee sebenarnya bisa ee dibagi gitu 3:41 ya dengan orang banyak ya. Cerita kita 3:43 juga sebenarnya bisa Pak Munif ya karena 3:45 cepat isoman juga kita bulan lalu nih. 3:47 [tertawa] 3:47 Iya saya juga kan gitu 3:50 apalagi long COVID ya cukup panjang 3:53 sampai beberapa kali 3:54 Heeh. 3:55 Apa siaran Rasil kan mesti siaran ulang 3:57 ya karena 3:57 Iya. Heeh. 3:58 kondiksi kesehatan. Cuman alhamdulillah 4:00 sekarang sudah segar kembali. 4:01 Heeh. He. Nah, tapi kita di malam hari 4:03 ini kan masih kaitannya dengan pandemi 4:07 Covid Pak Munif ya. pandemi Covid belum 4:09 berakhir dan 4:11 PJJ tetap dilaksanakan selama 1 tahun 4:14 ini. Kualitas pembelajaran melalui PJJ 4:16 harus diukur. Jadi 1 tahun evaluasi 4:18 pembelajaran jarak jauh. Sukseskah 4:21 sebenarnya itu sudah 1 tahun lebih ya. 4:23 Bahkan kalau saya tadi e browsing e 4:25 info-info terkini PBB sendiri di awal 4:28 tahun ini menginformasikan bahwa 1 tahun 4:30 penelitian dia lebih dari 300 juta anak 4:33 tidak terakses pendidikan virtual. 4:35 Sekarang katanya naik lagi pip. Iya. 4:37 Betul. 4:38 jarak jauh kan virtual andalannya. Belum 4:40 lagi yang putus sekolah begitu tinggi 4:42 sekarang Pak Munip angka di Indonesia 4:44 mungkin akan terus bertambah karena 4:45 Covidnya malah nambah terus ketika di 4:47 negara-negara lain malah turun ya tapi 4:49 secara global malah sekarang tuh ada 4:51 gelombang lagi. Nah itu Pak Munip dari 4:53 data-data yang sudah Pak Munip siapkan 4:55 topik bahasan kita juga mengenai satu 4:57 evaluasi diawali dengan ee salam mungkin 5:01 kepada pendengar kami persilakan. 5:03 Iya iya makasih Mas Angga. 5:05 Bismillahirrahmanirrahim. [berdehem] 5:07 Asalamualaikum warahmatullahi 5:08 wabarakatuh. 5:10 Alhamdulillahiabbil alamin. Wasalatu 5:12 wasalam ala rasulillah wa ala alihi 5:14 wasohbihi waman walah. Amma ba'du. Ee 5:19 pertama alhamdulillah ya kita bisa 5:22 bertemu kembali ini ee untuk live 5:25 langsung bincang pendidikan. 5:28 Seperti pengantar dari Mas Angga, saya 5:31 selalu berdoa untuk pendengar 5:35 Radio Silaturahim 5:37 dan Rasil TV. Semoga Allah selalu 5:41 menjaga kesehatan kita semua, keluarga 5:44 kita, teman-teman kita, guru-guru kita. 5:48 Mudah-mudahan 5:50 kita semua bisa 5:53 berhasil ini menghadapi ee cobaan dari 5:57 Allah Taala yang berupa musibah ya ee 6:01 pandemi Covid-19 ini yang awalnya dulu 6:06 banyak ahli memperkirakan ini hanya 6:08 sebentar kan Mas Angga. 6:10 Iya. 6:11 Ternyata ini berkelanjutan ya, apalagi 6:15 si virus ini sekarang bermutasi ya. 6:20 Sekarang katanya ada lagi Mas Angga 6:22 selain apa delta ada lagi kapa katanya 6:25 itu 6:25 K. He 6:26 ya dan itu 50 kali lebih menular 6:30 daripada Delta sampai ngeri saya. 6:32 He. 6:33 Nah, jadi ee 6:36 ini luar biasa. Saya tadi siang 6:39 kedatangan tamu Mas Angangga 6:40 I 6:41 ee kita apa makan siang bersama di rumah 6:45 saya ini. Ee 6:48 jadi wali murid cuman pekerjaannya di 6:52 dunia satelit gitu di Uni Eropa. 6:54 Kantornya itu di Jerman. Nah, cuman kan 6:57 ini gak boleh ee apa harus tetap di 7:01 Indonesia kan gitu. Nah, ee saya bertemu 7:05 dua kali dengan orang ini. Ee awal 7:09 pertemuan pertama saya mengunjungi 7:11 rumahnya itu dia menjelaskan bahwa 7:14 betapa banyak pekerjaan yang tercancel 7:17 begitu ketika harus keluar ke negara ini 7:20 tercancel 7:21 sampai 7:23 2023. Mas sangga 7:25 H. 7:26 Saya langsung bilang sama teman-teman 7:28 ini kalau di Eropa sampai 2023 sekarang 7:31 padahal masih 21 ya itu. Nah tadi siang 7:35 katanya ini diperpanjang lagi sampai 25. 7:40 Bayangkan 7:41 dahsyat sekali ini. 7:42 Nah ee kita cukup bergembira sebetulnya 7:45 dan inti bisa kita lihat penyebabnya apa 7:48 karena di beberapa negara Eropa kan 7:51 sudah mulai lepas masker ya kan. Iya, 7:54 itu di Inggris sudah mulai lepas masker 7:57 itu. Nah, sedangkan di negara kita, wah 8:00 luar biasa ini. Nah, karena itu Mas 8:02 Angga ee 8:06 sebulan yang lalu itu ada apa informasi 8:10 tentang beberapa institusi yang 8:13 mengadakan riset ini dulu ya kan riset 8:17 tentang ee dan hasil riset ini 8:20 dilaporkan ke Kemend DIIKBUD. Di situlah 8:23 sebagai pertimbangan apakah nanti Juli 8:26 ini ee tatap muka atau PJJ gitu 8:31 meskipun akhirnya diputuskan PJJ kan. 8:33 Nah, cuman yang ingin saya share sebagai 8:35 pengantar ini, Mas Angga adalah hasil 8:38 akumulasi riset 8:40 penelitian ini survei selama 1 tahun kan 8:44 sebelum tahun ajaran baru ini, Mas. 8:46 Sangga di ee teman-teman itu ngambilnya 8:49 seperti itu sebelum tahun ajaran baru. 8:51 Sehingga diharapkan dari data ini Juli 8:55 bulan ini tahun ajaran baru itu apa yang 8:58 perlu diperbaiki 9:00 begitu dibenahi itu apa? Nah, hasilnya 9:03 begini, Mas Angga. 9:04 Iya. 9:05 Untuk Indonesia, seluruh Indonesia 9:08 itu dengan adanya pandemi ee Covid-19 9:13 ini, proses KBM, jadi proses kegiatan 9:18 belajar mengajar yang berhasil, Mas 9:21 Angga ternyata hanya 35% Mas Angga. 9:26 Bayangkan berarti untuk mudahnya yang 9:30 gagal itu KBM itu tidak terjadi itu 65%. 9:35 Bayangkan cukup besar kan? 9:36 Iya. 9:37 Itu jadi ini 65%. 9:40 Nah, lalu saya masih ke angka ini yang 9:44 35%. 9:46 Nah, di beberapa daerah di Indonesia itu 9:50 ketika dizoom diteliti hasilnya cukup 9:54 mengagetkan, Mas Angangga. 9:55 Heeh. 9:57 dari 35% ini dipakai kriteria apakah 10:03 tujuan pembelajaran 10:06 itu tercapai. 10:08 Hm. 10:09 Jadi siswa kita ini belajar itu berhasil 10:11 atau tidak? 10:12 Iya. 10:13 Nah, pasti dong itu yang dari 35% Mas 10:16 Angga bukan yang 65% kan karena KBM-nya 10:19 gagal 65% ini. 10:20 Iya. Ternyata dahsyat sekali Masangga. 10:25 Hm. 77% 10:28 itu gagal, Mas. Enggak 10:29 gagal. 10:30 Iya. Berarti 20 berapa itu? 10:32 23. 10:33 23% yang berhasil. Heeh. 10:36 Ini dari indikator siswa 10:39 itu 77% mengatakan mereka tidak bahagia 10:45 dan 80% kepengin balik lagi Masangga 10:48 untuk tatap muka kembali ke sekolah itu. 10:52 Nah, jadi ee bayangkan tujuh yang yang 10:55 berhasil hanya 23% 10:58 ee kemudian 77% itu gagal. Nah, kemudian 11:03 ketika dizoom lagi Mas Angga untuk 11:06 bagaimana ini kriteria pengajarnya. Nah, 11:09 ketemu lagi masalah Mas Angga bahwa guru 11:12 ini kita yang ngajar ini dengan ee 11:15 online ya kan. Ternyata 11:19 bagaimana skill 11:22 penguasaan guru dalam mengajar online 11:25 ini data dari KPAI guru SMA ke bawah 11:30 SMA, SMP, SD bahkan PAUD dan TK 11:35 negeri swasta yang pernah mendapatkan 11:38 pengalaman pelatihan online sebelum 11:41 pandemi itu hanya 8% Mas Andga berarti 11:45 92% pers guru-guru kita memang belum 11:48 pernah punya pengalaman ngajar dengan 11:50 online ini. 11:51 H. 11:52 Nah, karena itu 1 tahun ini berantakan 11:54 sekali gitu. Enggak dapatlah itu tujuan 11:57 pembelajarannya. Nah, jadi Mas Angga 12:02 ketika kita balik ke data awal 12:05 kenapa 65% KBM itu berantakan? 12:10 Ternyata penyebab utamanya itu adalah 12:15 jaringan. network itu 12:17 masalnya. 12:19 Dan yang kedua adalah perangkat atau 12:22 gadget. 12:23 Iya. [tertawa] 12:24 Ini. Nah, sedangkan kompetensi guru ini 12:29 saya pikir bisa diambil dari yang 35% ya 12:32 kan 12:33 itu. Karena kalau ya sudah enggak ada 12:35 jaringan, enggak ada perangkat ya susah 12:38 gitu. guru sehebat apapun i susah untuk 12:44 ee apa ee kreatif dalam proses 12:48 pembelajaran yang mana tidak boleh 12:49 ketemu sama siswanya itu akhirnya ada 12:53 yang nekad masangga 12:54 iya 12:54 gurunya yang door to dooror ke rumah iya 12:57 kan ada yang ee anaknya datang ke 13:00 sekolah dan lain-lain itu. 13:02 Nah jadi pengantarnya seperti itu, Mas 13:04 Agah. Dahsyat sekali ini 1 tahun ini. 13:07 Iya. Jadi ee kita baru tahu ya bahwa 13:11 ternyata 13:13 ee kalau sekarang ini untuk kesehatan 13:16 harus ada vaksin. 13:18 Heeh. 13:18 Iya kan? Yang kalau bisa seluruh rakyat 13:21 Indonesia itu divaksin gitu. Saya pikir 13:23 ada vaksin yang lebih penting juga yaitu 13:27 jaringan ini Masangga network ini 13:29 jaringan ya. 13:30 Iya itu. Nah sementara itu pengantarnya 13:33 Mas Angga. Hm. Itu data yang kalau dari 13:39 Kementerian Pendidikan sendiri ee apa 13:42 upaya dievaluasi yang Pak Munip bisa 13:45 lihat gitu ya, 13:47 selain kementerian juga dilihat 13:49 pejabat-pejabat yang berkaitan gitu. 13:51 Dalam hal ini juga kita lihat bagaimana 13:53 sikap pimpinan negara kan itu juga dalam 13:56 pandwa Pak apa pantauan Pak Munip selama 13:58 pandemi ini bagaimana perhatian antara 14:00 pendidikan 14:02 ya. Jadi sebenarnya Mas Angangga ee di 14:06 luar Kemend Dikbud ya seperti Kemen Info 14:10 ee dan apa ee ada beberapa BUMNBUMN yang 14:14 lain itu juga ee tengah mencari solusi 14:19 Masangga 14:20 itu tengah mencari solusi. Solusi ini 14:24 saya bagi dua ini pengamatan saya ya. 14:27 Yang pertama adalah pengadaan hardware. 14:31 Nah, kalau pengadaan hardware ini kita 14:33 tahu dari banyak berita, Mas Angga. 14:35 Iya. 14:36 Pak Presiden itu sudah ngomong terus di 14:39 mana-mana kan itu saya lihat videonya 14:42 Kemen itu di daerah-daerah akan dibangun 14:46 ini ini apa BTSBTS ini sudah lengkap Mas 14:50 Angga begitu. 14:51 Nah, problemnya adalah dana Mas 14:54 Angangga. Nah, mentoknya di dana itu. 14:56 Iya. 14:57 Sehingga teman-teman di luar Kemendikbud 15:00 dan ada yang bekerja sama dengan 15:02 Kemendikbud mengambil upaya itu software 15:07 apa software ini edukasi Mas Angga gitu 15:11 edukasi yang ee saya lihat kok gak ada 15:14 biayanya sangat kecil sekali itu. 15:17 Seperti contoh ya Mas Angga ya, sekarang 15:19 itu Kemen Info bekerja sama dengan 15:22 Kemend Dikbud dan bekerja sama dengan 15:24 beberapa ee apa organisasi-organisasi 15:29 ee teknologi ya. 15:31 Heeh. 15:32 Mengadakan ee 15:35 untuk ee guru-guru 15:38 pelatihan literasi digital Mas Anggana 15:41 beberapa kali kan saya bilang ya ini 15:43 mata pelajaran yang penting gitu loh 15:45 zaman sekarang. Tapi kan gaib di sekolah 15:47 gak ada gitu. 15:48 Iya. 15:49 Jadi itu saya ee sendiri sebagai 15:52 pengajarnya Masangga ternyata literasi 15:54 digital itu dibagi empat. 15:57 Hm. 15:57 Pertama adalah skill keterampilan itu 16:02 digital literasinya. 16:03 Yang kedua adalah ee culture. Jadi 16:07 literasi digital culture begitu 16:10 budayanya. Kemudian ada lagi ya literasi 16:13 digital safety. Pengamanan. Heeh. 16:16 Dan yang keempat adalah literasi 16:17 digital. Ini apa? 16:21 Etik. Nah, itu saya sama Kemeninfo ke 16:25 bagian yang culture, Mas. Angangga itu 16:27 ada beberapa poin. Kita tiap Senin sama 16:29 Rabu itu 20 menitan. Ada empat 16:32 pembicara, kadang enam pembicara. Nah, 16:34 ini baru masuk minggu pertama kemarin. 16:36 Jadi, saya melihat ada itikat baik 16:38 begitu, Mas Angga. I. 16:40 Hanya saja, hanya saja sekali lagi ini 16:44 kan software begitu Mas Angangga. 16:46 Betul kan? Ini sangat lunak sekali 16:48 edukasi bukan hardware gitu. Padahal 16:50 kebutuhannya tadi itu sebenarnya 16:52 pembangunan BTS, betul kan? Jaringan itu 16:55 dan lain-lain. Cuman ada niat baiklah. 16:58 Kemudian ada lagi Mas Angga. 17:00 Heeh. 17:01 ee satu sistem pembelajaran ketika 17:05 sangat banyak sekali di Indonesia ini 17:08 yang tidak dapat ee susah ada jaringan 17:12 sama perangkat namanya hybrid learning, 17:14 Mas Angga. 17:15 Hybrid learning 17:16 ya. Hybrid learning itu katakanlah satu 17:19 kelas 17:20 Heeh. 17:21 di satu tempat gitu ada 25 siswa 17:23 misalkan. 17:24 Iya. Setelah dicek ternyata ada 10 yang 17:29 siswanya enggak punya jaringan, enggak 17:31 punya perangkat itu. 17:34 Nah, sedangkan 15 itu ada perangkatnya. 17:37 Maka 10 anak yang tidak punya jaringan 17:41 silakan masuk ke sekolah 17:44 gitu. Jadi satu kelas itu isinya 10 anak 17:46 dengan jarak ya bangku yang disesuaikan 17:50 begitu. 17:51 Sedangkan yang 15 Masga 17:55 itu di rumah karena mereka punya 17:57 jaringan, 17:58 punya perangkat, lalu gurunya ngajar di 18:02 kelas. 18:03 Nah, ketika dia ngajar di kelas, si guru 18:05 ini, siswa yang di rumah juga bisa 18:09 menikmati pembelajaran itu. 18:11 He. 18:11 Nah, jadi ketika misal gurunya itu putar 18:13 video gitu di kelas ada LCD pakai 18:16 infokus gitu. Nah, yang di rumah itu 18:19 juga melihat video itu, Mas Angga, gitu. 18:22 Iya. 18:23 Nah, jadi ee dan bisa interaktif ya. 18:25 Jadi gurunya itu apa kabar ee 18:28 siswa-siswa anakku yang di rumah sudah 18:30 paham ini. Nah, di depannya ada 10 anak. 18:34 Heeh. 18:34 Di rumah masing-masing ada 15 anak. Itu 18:36 namanya hybrid learning. 18:38 Hid. He. 18:38 Nah, itu adalah waktu awal pertama itu 18:42 konsep itu dimunculkan itu kemen 18:45 Kemendikbud senang sekali Masangga. Nah, 18:48 ketemu ini solusinya gitu. Jadi yang 18:50 masuk ke 65% tadi 18:53 yang gagal KBM itu bisa selesai pakai eh 18:57 hybrid learning. Dicoba di ITS, Mas 19:00 Angga. 19:01 Iya. 19:02 Hasilnya kemarin, Mas Angga. 19:04 Heeh. 19:04 Saya dikasih tahu sama salah satu dosen 19:07 di ITS. 19:08 Hybrid learning itu teknologinya 19:11 membutuhkan satu kelas R juta besarnya 19:15 biaya. [tertawa] 19:17 Itu hanya untuk 19:18 itu hanya untuk broadcast-nya aja tuh. 19:21 Makanya itu susah mundur lagi Masangga 19:24 ini. Nah, lihat. 19:26 Jadi, wah dahsyat sekali. 19:27 He. 19:28 Nah, jadi upaya-upaya seperti itu ada 19:30 Mas Angga seperti itu. 19:32 Nah, ada satu lagi informasi Mas Angga. 19:36 Ee kemarin itu Kemendikbud 19:40 sudah bagus kerja sama sama TVRI. He. 19:43 Nah, ini kan media ini, Mas. Sangga. 19:45 TVRI di bawah Kominfo juga ini. 19:47 Iya, itu ternyata sekarang enggak putus 19:50 malah gitu. 19:51 Nah, itu. 19:52 Nah, iya saya mendengar enggak tahu ini 19:55 benar atau tidak bisa dicek. Saya hanya 19:57 mendengar ini. 19:58 Iya. itu TVRI menaikkan sampai 40 kali 20:02 lipat apa [tertawa] 20:04 rate per jamnya itu. 20:06 Iya. Iya. Ini memang penting disorot 20:08 gitu, Pak Munip ketika lembaga penyiaran 20:10 publik ya yang dimiliki oleh negeri ini, 20:13 televisi Republik Indonesia yang di 20:16 awalnya kan harusnya memang mendampingi 20:18 gitu ya. 20:19 Tapi sekarang muncul isu ya karena 20:20 [tertawa] 20:21 karena tidak rate-nya itu tidak 20:23 terpenuhi akirnya diop. Wah kita malah 20:25 ini ironis juga gitu. 20:27 Betul. 20:29 Nah, jadi itu Mas Angga kalau ee saya 20:33 apa bisa mengomentari dari 20:36 ee pertanyaannya Mas Angga tadi itu 20:38 bagaimana ini ee lembaga selain ee 20:41 Kemendikbud. Betul 20:42 itu ee saya percaya ya 20:45 I 20:45 ee bagi para 20:47 pejabat atau pejabat publik lah itu yang 20:51 punya niat baik, punya good will lah 20:54 untuk benar-benar bekerja untuk 20:57 menyelamatkan generasi muda di negeri 21:00 ini. Itu pasti kepikiran juga Mas Angga 21:03 begitu [berdehem] 21:04 ee akan mencari solusi bagaimana 21:06 caranya. H 21:08 Pak M juga melihat 21:10 dalam pantauannya selama ini dalam 1 21:12 tahun ini peran yang diambil oleh ee 21:14 pejabat yang ada di legislatif juga DPR 21:17 bagaimana mereka menyarankan kepada 21:19 pemerintah dan ide-idenya. Lalu juga di 21:21 pihak-pihak swasta gitu sekolah-sekolah 21:23 yang akhirnya PJJ ini malah bisa 21:26 berkreasi dan ada juga yang maju gitu. 21:29 Apakah Pak Munip lihat juga hal-hal 21:31 tersebut? 21:32 Ya. Jadi saya melihat Masangga sekolah 21:37 yang sebelum pandemi 21:41 itu punya visi ke depan masangga itu 21:44 mohon maaf rata-rata sekolah swasta ini 21:47 ada negeri ya yang beberapa rata-rata 21:50 sekolah-sekolah yang punya visi yang ee 21:53 sudah maju begitu 21:55 ee ini ee tiba-tiba 22:00 bisa cepat akrab dengan kondisi sekarang 22:03 Masangga Ya, begitu. 22:04 Iya. 22:05 Ee seperti contoh ya saya contohkan 22:07 sekolah yang dekatlah seperti Insan 22:09 Mandiri sama School of Human. Karena 22:11 kebetulan ee saya ada di situ 22:14 3 tahun yang lalu, Mas. Angangga 4 tahun 22:16 yang lalu bahkan itu sudah saya latih 22:20 teman-teman itu untuk membuat e-modul 22:23 vlog pemahaman konsep gitu. 22:26 Bahkan di Insan Mandiri waktu itu kita 22:28 usahakan ayolah siswa itu sudah harus 22:31 dapat tab kan gitu Mas Angga. Heeh. 22:33 Ini ini padahal itu jauh sebelum 22:35 pandemi. Nah, kita sudah persiapkan 22:37 seperti itu sehingga ketika terjadi 22:41 kondisi seperti ini, sekolah-sekolah 22:43 seperti itu itu cepat Mas Angga untuk 22:46 menyesuaikan itu cepat begitu. He 22:48 bahkan ini Mas Angga bahkan 22:51 saya pernah diundang oleh beberapa 22:54 sekolah swasta ya yang ee mereka punya 22:58 punya rencana itu sekolah itu mestinya 23:03 persis kayak model di luar negeri Mas 23:05 Angga. 23:06 Contoh Harvard University kan gitu ya. 23:09 Iya. itu ada berapa fakultas, ada berapa 23:11 jurusan itu. Nah, ternyata Harvard 23:15 University itu ada dua kayak kepribadian 23:19 begitu. Kayak satu orang, tapi ada dua 23:22 sistem yang dipakai. 23:23 Pertama adalah sekolah 23:26 nyata gitu dan yang kedua adalah sekolah 23:29 maya gitu. 23:30 Iya kan? Nah, mereka harus 23:31 basik dan yang online. 23:33 Betul ya menggunakan ee apa distant 23:36 learning lah seperti itu. Nah, di 23:38 Indonesia ini kan masih anu [berdehem] 23:40 belum gitu. He 23:42 ya. Kalau kalau di luar negeri 23:44 kampus-kampus yang besar itu pasti ada 23:47 distant learning-nya, Mas Angga. Jadi 23:49 distant learning ini mereka menerima 23:50 mahasiswa dari seluruh dunia begitu 23:53 karena pembelajarannya ee apa ee 23:56 pembelajarannya online gitu. gak pernah 23:58 ketemu secara fisik antara dosen dengan 24:01 mahasiswanya itu distant learning 100% 24:04 lah 24:05 seperti itu. Nah, kita kan masih belum 24:07 UI belum. 24:08 He 24:09 iya kan yang negeri ya saya anu ee yang 24:11 negeri itu belum 24:13 karena sekarang dist learning kalau di 24:15 negeri ini dilaksanakan karena 24:16 kedaruratan gitu bukan karena planning 24:18 ya. 24:18 Makanya itu 24:19 sebenarnya PJJ di rumah full itu kan 24:21 distant learning PJJ namanya kan 24:24 distance itu kan pembelajaran jarak jauh 24:26 sama. Nah, cuman problemnya itu 24:28 kedaruratan dan ada data tadi Mas Angga. 24:32 Ternyata Mas Angga yang paling banyak 24:36 kena masalah 24:37 iya 24:38 di lembaga pendidikan itu ee ternyata 24:42 pendidikan pedagogik Masangga itu. 24:46 Jadi kan sebenarnya pola pendidikan itu 24:47 kalau di teorinya ada dua Masangga. 24:49 Iya. 24:50 Ada andragogik. Ini pembelajaran untuk 24:53 orang dewasa yang biasanya kita lihat 24:55 mulai kuliahlah kampus S1, S2, S3 itu 24:59 andragogik lah. 25:00 He 25:00 seperti itu. Dan yang kedua adalah 25:02 pedagogik. Nah, ini sebelum perguruan 25:04 tinggi ya SMA ke bawah lah seperti itu. 25:07 Nah, 25:07 ini yang kena dampak Mas Angga. Gagalnya 25:10 KBM itu terbesar itu di pendidikan anak 25:13 usia dini Mas Angga. 25:14 Iya. yang bawah itu ya kan SD itu. Nah, 25:18 lalu mereka mengkerucut begitu mengecil 25:21 mengecil sampai SMA. 25:23 Nah, sedangkan untuk kampus perguruan 25:25 tinggi selama 1 tahun ini itu dirasakan 25:30 baik oleh dosen maupun oleh mahasiswa 25:34 bahwa pembelajaran online adalah solusi. 25:37 Sudah. Nah, itu. 25:38 H. 25:39 Nah, karena itu 25:41 di kampus itu kalau ee saya sebagai 25:44 dosen Mas Angga itu diminta oleh Pak 25:47 Deknya 25:48 I 25:48 untuk membuat survei ke mahasiswanya 25:50 setiap kali ngajar Masangga. 25:52 He. 25:52 Nah, nanti semester depan tahun ajaran 25:55 ini kalian lebih enak memilih online 25:59 atau tatap muka gitu. Itu jawabannya Mas 26:02 Angga. Itu tidak hanya satu dosen kan 26:04 yang dimintai kan. Jadi 26:06 banyak gitu. Jawabannya adalah hampir 26:10 90% mengatakan online saja, 26:12 online aja. 26:13 Nah, ya ini andragogik soalnya 26:16 itu. Iya. Heeh. 26:17 Saya mahasiswa juga. Iya kan? Saya 26:20 sekarang ambil program doktoral ditanya 26:22 juga sama Pak rektornya, direkturnya 26:24 gitu. 26:25 Iya. Nah, kita semua jawab. Aduh, sudah 26:28 kalau bisa itu 100% semua jawab online 26:30 saja 26:32 itu. 26:32 Tapi Mas Angga ini tidak berhasil di 26:36 pedagogik terutama yang anak usia dini 26:39 ya, pembelajaran yang paling bawah 26:41 sekolah SR juga. Betul ya. H. Nah, dari 26:46 pantauan dalam 1 sampai hampir 2 tahun 26:50 ini pemunip ya tadi kan penyebab belum 26:52 berhasilnya secara garis besar itu 26:55 dilihat dari bagaimana pemerataan 26:57 infrastruktur dan juga kualitas pengajar 27:00 menghadapi bagaimana menjalankan 27:02 mekanisme PJJ. Apakah itu satu-satunya 27:05 alasan Pak Munip ya belum berhasilnya 27:08 PJJ di era pandemi sampai ee tahun 2021 27:12 kali ini? 27:13 Ee ya. Jadi 27:18 memang Mas Angga 27:19 H 27:19 ee kalau kita Mas Angga bertanya itu 27:23 apakah itu satu-satunya alasan? Nah, 27:26 penyebab 27:27 kalau kita mengajak pada teman-teman 27:29 guru yang ada di luar negeri begitu. 27:33 Heeh. 27:33 Seperti contoh saya kan punya komunitas 27:35 guru-guru di Finlandia Masang ya. 27:37 Iya. itu. Nah, mereka itu ee lebih siap 27:42 Masangga 27:43 kemampuannya begitu 27:45 untuk memberikan pengajaran online itu. 27:48 Nah, mereka berpikirnya begini, Mas 27:51 Angga. 27:52 Heeh. 27:53 Bagaimana ya kelas itu bisa meaningful, 27:57 bermakna begitu ya kan? Meskipun 28:01 siswanya itu di rumah. Nah, itu. Nah, 28:05 sehingga yang sangat diperlukan terutama 28:08 untuk pendidikan anak usia dini TK SD, 28:11 PAU TKSD itu juga SMP ya, SMP kelas awal 28:16 itu kelas 7 itu adalah bagaimana 28:19 sekarang ini yang diupayakan melakukan 28:21 sinergi sama orang tua masangga. 28:23 Iya 28:24 gitu. Sedangkan 28:26 basic ee kemampuan kompetensinya itu 28:30 sudah khatam, sudah selesai mereka. H. 28:33 Nah, kenapa? Karena Mas Angga mungkin 28:37 saya sering cerita sama Mas Angga 7 28:40 tahun sampai 10 tahun yang lalu ini 28:43 mereka sudah menggunakan pembelajaran 28:45 lewat online gitu. 28:47 Iya. 28:47 Mereka sudah pakai blended learning 28:49 gitu, ada tatap muka langsung dan ada 28:52 online. Hanya saja 28:54 siswanya ketika online itu tetap ada di 28:57 sekolah, Mas Angga, tidak di rumah 29:00 begitu. Nah, ini kan kondisi khas ini 29:03 pandemi ini kan 29:04 gitu yang mana meskipun di negara maju 29:07 ya juga punya tantangan kesulitan Mas 29:10 Angga karena ee anak enggak boleh keluar 29:13 harus di rumah gitu. He. 29:14 Nah, ini sehingga mereka sekarang sudah 29:17 menginjak fase kreativitasnya itu adalah 29:21 bagaimana mensinergikan 29:23 proses pembelajaran itu dengan orang tua 29:25 begitu. Apalagi anak usia dini Masangga 29:28 ya kan butuh pendamping ini. 29:30 Iya. 29:31 Ketika online tuh butuh pendamping itu 29:34 harus ditemani lah gitu ya. harus 29:36 ditemani. Nah, Indonesia tidak mengalami 29:39 itu. Guru-guru kita, Mas Angga gitu 29:42 tidak mengalami tadi saya katakan ya 92% 29:46 belum pernah mengajar pakai online tuh 29:49 belum pernah. 29:50 Iya. 29:50 Itu saya mungkin awal dulu dirasil 29:52 ketika pandemi kan Mas Angga pernah 29:54 tanya gimana guru-guru uh kebingungan 29:57 pertama itu pakai WhatsApp pakai ini 29:59 macam kan gitu. 30:02 Iya. Kalau mereka kan sudah siap 7 tahun 30:05 yang lalu tuh sudah siap. Oh, kalau 30:07 online tuh pakai ini. Nah, jadi seperti 30:09 itu. 30:10 He. 30:11 Nah, ini yang saya pikir ee apa fokusnya 30:14 itu di situ, Mas Angga. Problem e 30:16 penyebabnya itu di situ. 30:18 Nah, dari data yang kami peroleh juga 30:20 Pak Monifia, ada satu berita ini dari 30:23 Republika ketika KPAI menyoroti 30:25 Kemendikbud agar segera melakukan riset. 30:29 Sebenarnya PJJ itu merupakan salah satu 30:31 penyebab anak putus sekolah atau tidak. 30:33 Karena dalam 1 tahun tuh kelihatkan 30:36 kesenjangan sosial dari infrastruktur 30:38 itu yang online dan yang tidak. 30:40 Akhirnya angka putus sekolah itu tinggi. 30:44 Ditambah lagi 2 bulan kemudian dengan 30:46 angka COVID yang begitu meningkat ee 30:51 gelombang PHK juga cukup besar. Apalagi 30:54 sekarang ada kekhawatiran PPKM darurat 30:57 akan diperpanjang. gelobang PHK juga kan 30:59 terus bertambah. 31:00 Banyak orang tua yang akhirnya 31:02 anaknya itu putus sekolah dan lebih 31:05 diutamakan biayanya untuk biaya hidup. 31:07 Nah, ini jadi masalah bertubi-tubi lagi 31:09 gitu. Ketika Kemendikbud di bulan lalu 31:11 Aji ingin meriset dulu nih mengenai ee 31:13 infrastruktur. Sekarang ada lagi 31:15 gelombang PHK. Orang tua sudah tidak 31:17 sanggup lagi untuk menyekolahkan 31:18 anaknya. Uh, bagaimana nih Pak Munip ya? 31:21 Nah, itu kompleks ya masalahnya sangat 31:23 kompleks. 31:24 Jadi, ee 31:27 data putus sekolah itu ada ada ini 31:31 beberapa 31:33 kategori, Mas, Angga. 31:34 Iya. 31:35 Itu yang pertama 31:38 dari ee kebutuhan 31:41 keluarga. 31:42 Hm. itu. Jadi ada keluarga Mas Angga 31:46 yang pada awalnya sudah tidak 31:48 mementingkan anaknya untuk sekolah itu. 31:51 Heeh. He. 31:52 Hanya gara-gara peraturan aja wajib 31:54 belajar 9 tahun kan. 31:55 Iya. 31:56 Nah, yang kalau ketemu sama pejabat 31:58 setempat itu akan ditegur 32:01 harus masuk gitu. Iya. 32:03 Tapi sebenarnya ee keluarga ini kepengin 32:06 anaknya bantulah 32:08 ayahnya di sawah lalu ee cari ikan di 32:12 laut gitu. 32:14 Seperti kita pernah ke Kepulauan Rote 32:16 itu. Wow. Itu kadang-kadang anak itu 32:19 ikut cari ikan. 32:21 Heeh. 32:22 Karena profesi orang tuanya nelayan bisa 32:24 sampai 3 bulan Mas Angga gak pulang Mas 32:26 Angga. Waduh. 32:27 Bayangkan 32:28 seperti itu. 32:30 Jadi akhirnya ketika ada pandemi seperti 32:33 ini, 32:34 He. 32:35 Maka kelompok yang pertama ini langsung 32:37 dengan cepat. Nah, benar kan? 32:39 Enggak ada butuh lagi sekolah. Oh, putus 32:41 sudah. 32:42 Iya. Iya. 32:43 Itu yang pertama. Yang kedua, ada 32:45 masyarakat yang educated, Mas Angga. 32:48 Heeh. 32:48 Paham betul bahwa anaknya ini butuh 32:50 pendidikan. 32:52 Hanya saja, hanya saja 32:55 mereka tidak mempunyai kesempatan 32:59 belajar karena apa? Faktor 33:03 dana Masangga. 33:04 He. 33:05 Nah, yang sebelum pandemi itu keluarga 33:09 tersebut mampu gitu memberikan atau apa 33:13 menyekolahkan anaknya dengan dana yang 33:15 sudah di ee apa cadangkan begitu karena 33:19 pekerjaannya bagus. sekarang dengan PHK 33:22 yang tadi Mas Angga katakan habis itu. 33:25 Iya, 33:26 habis. Saya kan punya banyak teman owner 33:30 sekolah, Mas Angga. 33:31 Iya. 33:33 Dan itu teman-teman saya yang 33:35 kadang-kadang terbuka sekali. 33:37 Heeh. 33:37 Nah, 33:39 sebulan yang lalu saya telepon Masangga 33:41 tujuh orang aja saya selalu ganjilah 33:43 tujuh orang itu. 33:44 Iya. 33:45 Saya tanya satu hal, Mas Angga. 33:47 Heeh. 33:48 tentang piutang sekolah. Jadi banyaknya 33:53 SPP yang belum dibayar ya, sekolah 33:55 swasta semua ini. 33:57 Itu dahsyat itu piutangnya menggunung 34:01 sampai 7080% Mas Angga. Bayangkan. 34:03 Wah wah wah. 34:04 Nah 34:06 itu saya pikir ee ini terjadi saya pikir 34:09 acak aja ya tujuh aja itu berarti 34:12 kondisi sama. Dan rata-rata adalah orang 34:15 tua itu bilang, "Maaf saya kena PHK." 34:18 Iya kan? Maaf saya dirumahkan. 34:21 Penghasilan turun. Kalau yang apa? 34:23 Pengusaha itu omset turun, Mas. Sangga 34:25 gitu. 34:25 Omset ya. 34:26 Kena beban hutang. Nah, ini kategori 34:29 yang kedua putus anaknya akhirnya putus 34:31 sekolah. 34:32 Iya. 34:32 Padahal keluarga ini anu well educated 34:36 lah seperti itu. 34:38 Nah, yang ketiga Mas Angga. 34:40 Heeh. He. 34:41 Ada kelompok keluarga yang benefit. 34:46 Dia melihat apa ya manfaat dalam arti 34:49 efektif sama efisiensinya pembelajaran 34:53 ee online atau PJJ 34:55 itu 34:56 karena dirasa tidak efektif Masangga. 35:00 Heeh. Heeh. 35:01 Anaknya gak sekolah wis homeschooling 35:03 aja sekolah di rumah sendiri. Nah, 35:05 terjadilah putus sekolah juga. Jadi 35:07 putus sekolah ini ada tiga kategori. Itu 35:09 menurut saya ini Mas Angangga ini dari 35:11 fakta ya. Itu 35:13 banyak sekarang keluarga-keluarga 35:15 menengah ke atas itu yang homeschooling 35:17 kan anaknya Mas Angga. Heeh. 35:18 Iya ituul 35:19 apalagi untuk anak usia dini ya. 35:21 Ya. Keluar dari sistem sekolah. 35:24 Keluar dari sistem sekolah. Nah. 35:25 Heeh. 35:27 Itu yang yang terjadi Mas Angga gitu. 35:30 Ketika kategori ini, Pak Munif ya. 35:32 Iya. Walaupun kita melihat ya memang 35:35 janji pemerintah ini kan pemerantaan 35:38 infrastruktur lalu ketika angka putus 35:40 sekolah naik tanggung jawab pemerintah 35:43 sepenuhnya kan yang diungkapkan oleh 35:45 pejabat selalu begitu. 35:46 Nah sekarang kalau melihat pemerintah 35:48 ini kan memang sedang ee kelimpungan 35:51 juga ingin menghadapi 35:53 Heeh. 35:54 apa penanganan pandemi juga kan. Jadi 35:56 bidang kesehatan itu sekarang memang 35:57 sedang di sedang difokuskan. 36:01 Bagaimana menurut Pak Menip? Apakah akan 36:04 lebih terbengkalai lagi ini masalah 36:05 pendidikan anak-anak? 36:07 Iya. Iya. Jadi begini, saya pikir ee 36:12 solusinya adalah 36:14 h 36:15 ee dari bawah, Mas Angga. Susah kalau 36:18 menghadapkan dari atas. 36:19 He 36:20 itu susah sekali. Nah, sudah susah lama 36:23 sekali realisasinya. I 36:25 iya iya. 36:27 Nah, apalagi ya mohon maaf ya 36:29 bantuan-bantuan sosial pun kadang-kadang 36:31 masih di 36:32 Iya. 36:33 Apa istilahnya itu 36:34 betul [tertawa] 36:35 ada ada yang mengambil kesempatan di 36:39 kesempitan. 36:40 Nah, itu itu kalau orang masuk neraka 36:43 masuk neraka jahanam duluan itu 36:45 orang-orang yang kayak gitu. 36:46 Iya. Iya. 36:47 Nah, jadi Mas Angga harus dari bawah. He 36:50 ya kan. Siapa ee 36:54 apa elemen pendidikan yang dari bawah 36:57 itu yang langsung bersentuhan dengan 36:59 peserta didik? 37:00 Hm. 37:00 Siapa mereka? Guru, tenaga pendidik. He. 37:04 Baik guru maupun dosen. Nah, kalau saya 37:07 Mas Angga dari pertanyaannya Mas Angga, 37:11 kita tetap harus optimis begitu. 37:14 Kompetensi kita sebagai guru itu yang 37:17 harus kita naikkan. 37:19 Iya. gitu. Ketika kita ini guru yang 37:22 mengajar di area Indonesia yang luas ini 37:25 yang masuk 35%, 37:27 betul kan Mas Angga ya, yang 35% yang 37:30 bisa terjadi KBM 37:32 Heeh. gara-gara ada jaringan dan ada 37:35 perangkat, maka supaya tujuan 37:40 pembelajaran siswanya itu bahagia, nah 37:43 di situ difokuskan 37:46 bagaimana sih tekniknya ini ngajar 37:49 online tapi siswanya semangat gitu, Mas 37:52 Angga tidak tiba-tiba siswanya videonya 37:55 dimatikan, miknya dimatikan, dia main 37:59 game kan gurunya ngomong sendiri. tidak 38:02 seperti itu. 38:04 Heeh. 38:04 Tapi ee siswanya itu semangat gitu. Nah, 38:08 sehingga ee proses pembelajaran 38:12 ee PJJ itu bisa. Karena gini, Mas Angga, 38:16 kalau itu seperti itu berhasil, saya 38:18 pikir itu adalah awal yang bagus, Mas 38:21 Angga. 38:22 Awal yang bagus. Karena ketika nanti 38:24 yang 65% 38:26 itu ada jaringan dan perangkat, nah 38:29 kompetensi pengajarnya sudah siap gitu 38:31 loh, Mas. Ang 38:32 itu 38:33 kan yang pertama yang problem utama itu 38:36 kan ee jaringan sama perangkat itu 38:39 solusinya cuman satu Mas Angga duit dana 38:42 selesai dan 38:44 betul kan tapi kalau kompetensi itu kan 38:47 proses pembelajaran 38:48 betul 38:49 nah jadi saya pikir itu harus itu dulu 38:53 kita bekerja sekarang menghadapi masalah 38:56 ee dunia ini, pandemi ini bersama-sama 38:59 dari Batem 39:00 ayo kita tingkatkan kan skill kita itu. 39:03 Nah, saya ini sekarang merancang Mas 39:06 Angga ya. Mudah-mudahan ini berhasil 39:09 untuk 39:10 pembelajaran yang pedagogik tadi SMA ke 39:13 bawah itu. 39:14 Iya. 39:15 Nah, kenapa online itu susah? Lebih 39:18 mudah andragogik. 39:20 Heeh. 39:21 Karena ada satu hal yang ada di 39:24 andragogik 39:26 tapi itu tidak ada di pedagogik. Mas 39:28 pedagogik 39:29 apa itu namanya? self responsibility. 39:33 Hm. 39:34 Nah, jadi ee apa ee tanggung jawab akan 39:39 diri sendiri untuk apa ini sekolah? Iya 39:42 kan? 39:42 Itu 39:43 kalau mahasiswa S1, S2, S3 itu self 39:48 responsibility-nya itu terbangun Mas 39:51 Angga. 39:51 Iya. 39:52 Sudah terbentuk juga. 39:54 Sudah terbentuk. Iya. Meskipun lebih 39:56 tinggi 39:57 paling tinggi itu S3 mas 39:59 S3 40:00 ya. nanti turun S1 turun gitu. Nah, itu 40:03 self responsibilitynya. 40:05 Iya. 40:05 Nah, tapi itu tidak terjadi pada peserta 40:08 didik yang 40:09 pedagogik 40:10 pedagogik yang SMA ke bawah apalagi yang 40:12 anak kecil Mas Angga gitu loh. 40:14 Jadi masih sekolah itu kayak 40:17 dituntun harus dituntun ya kan ini dan 40:20 lain-lain harus diperingatkan. 40:22 Kadang-kadang jam 0.20 jam 0.00 masih 40:25 tidur anak-anak. Nah, berarti Mas Angga 40:28 selain 40:30 yang tadi saya katakan guru ini harus 40:33 mengasah kompetensi 40:36 skill-nya itu hard skill-nya yaitu 40:39 teknik-teknik pengajaran yang 40:40 menyenangkanul 40:42 yang bermakna. Selain itu guru harus 40:46 juga ngajarin siswanya punya self 40:49 responsibility. 40:50 Responsibility. He. 40:51 Nah, sehingga ini nanti ee apa ada 40:55 irisannya lah Masanggaya kan meskipun 40:58 pedagogik anak kita di SMA ke bawah tapi 41:01 dilatih punya rasa tanggung jawab 41:03 sendiri. Nah, ini tekniknya bisa 41:05 bermacam-macam. Nah, saya 41:07 ee merancang itu sekarang Mas Angga. 41:09 Jadi, gimana sih 41:11 self responsibility? Jadi, ini karakter 41:14 kan sebetulnya anak kita itu bisa kuat 41:16 gitu. 41:17 Saya aja, Mas Angga sampai saya 41:19 contohkan ya. Ada yang tamu tadi siang 41:21 itu. 41:22 Heeh. 41:23 Kemarin Sabtu itu saya kuliah, Mas 41:24 Andra. Saya kuliah. Tiba-tiba ee yang 41:29 mestinya jam yang ditentukan dimundurkan 41:31 oleh profesornya. 41:32 Iya. 41:33 Jadi sore hari begitu. Nah, sore hari 41:37 udah jam .00 mulai. Nah, padahal Mas 41:41 Angga 41:42 jam .00 41:43 saya itu sudah harus ke Ciracas ke 41:46 tempat kakak saya. 41:47 Iya. cuman karena kita ini punya self 41:50 responsibility yang tinggi. Nah, 41:53 beda dengan anak-anak yang pedagogik 41:55 ini. Maka handphone itu di mobil, Mas 41:58 Angga tetap saya dengerin ini profesor 42:01 kita apalagi [tertawa] iya online begitu 42:03 ini ini karena saya apa ya butuh memang 42:07 begitu loh. Butuh gitu loh. Nah, 42:09 kebutuhan ini kan yang tidak terjadi di 42:12 anak-anak kan. Padahal itu bisa 42:13 dibangkitkan sebenarnya. He. 42:15 Nah, ini tantangan ee guru. Saya pikir 42:18 kalau semua guru seperti itu 42:20 kompetensinya secara hard skill diasah 42:23 dalam kondisi pandemi ini. 42:25 Kemudian juga soft skill anak-anak ini 42:27 tentang itu tadi self responsibility-nya 42:31 minimal kita punya ikhtiar ya kan. Nah, 42:35 dari Batam ini sehingga nanti ketika 42:37 dievaluasi, disurvei sama 42:39 lembaga-lembaga survei berhasil begitu. 42:43 sepertinya self responsibility ini juga 42:45 masih menjadi masalah di kalangan 42:47 mahasiswa S1 [tertawa] 42:50 karena beberapa kampus beberapa kampus 42:53 dalam 1 tahun kemarin juga mereka ee 42:55 mer-review hasil riset hasil apa, wah 42:58 menurun drastis di era pandemi ini. 43:00 [berdehem] Jadi mahasiswa tuh 43:01 istilahnya kalau ATEP itu apa, Tep? Ee 43:03 mager ya 43:05 mager. [tertawa] 43:06 Jadi di kalangan S1 pun masih tinggi 43:09 gitu ya. Kurang ya. Perlu perlu sekali. 43:11 Heeh. 43:12 Masangga saya waktu ngajar S1 sebelum 43:14 pandemi inih. Heeh. 43:15 Ya kan itu kan ada asistennya. 43:18 Iya. 43:19 Ya. Asistennya 43:21 itu. Asistennya. Saya tanya, "Mas, Anda 43:23 tugasnya apa, Mas?" 43:25 "Saya bantu Pak Munif ngabsen loh." 43:27 dipresensi anak-anak di absen ini, ini 43:29 hadir hadir [tertawa] ini. Bayangkan itu 43:32 tidak saya lihat S1 di luar negeri kayak 43:34 gitu tidak saya lihat. [tertawa] 43:38 Jadi mau masuk mau enggak masuk ya 43:40 tanggung jawab Anda sendiri. Bayangkan 43:42 seperti itu. 43:43 Iya. I 43:44 ini ee benar kayak piramida terbalik 43:48 untuk 43:48 pedagogik ini ee sori andragogiik ini ya 43:51 kayak piramida terbalik gitu. 43:53 Tapi kalau sudah S2, S3 ya kan 43:55 itu ini kan 43:57 apalagi anu kayak kita ini yang sudah 44:00 berusia lanjut tapi masih tetap semangat 44:02 belajar itu lah kepengin cepat selesai 44:04 masa enggak gitu. 44:05 Betul. Ya, tadi kematangan usia juga 44:08 sangat berpengaruh ya. 44:09 I betul ya kan tu tantangannya Mas Angga 44:12 ini yang saya mau coba bisa gak 44:14 membangun self responsibility 44:17 di itu peserta didik yang pedagogik itu 44:20 tantangannya. [tertawa] 44:22 Baik Pak Munif ini kita di studio sudah 44:25 ee menunjukkan waktu 2056 44:28 menit ya. Kita jeda dulu Pak Munif ya. 44:31 Ya, 44:31 kita jed 44:35 menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 44:37 sudah masuk. Dan ikhwan akhwat kami 44:39 informasikan kepada Anda silakan untuk 44:42 bergabung memberikan pertanyaan atau 44:45 ataupun komentarnya ke siaran live kami 44:49 di malam hari ini Bincang Pendidikan. 44:50 Kita membahas mengenai 1 tahun evaluasi 44:52 pembelajaran jarak jauh. Sukses atau 44:55 tidak sukseskah? 44:57 Silakan sampaikan ke nomor WhatsApp 44:58 berhasil di 0811999720. 45:02 Tetaplah bersama kami. Kami akan segera 45:04 kembali. 45:20 [musik] 45:27 Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk 45:29 Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang 45:30 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 45:32 terima kasih masih bersama kami dalam 45:34 acara Bincang Pendidikan. Narasumber 45:36 kita Bapak Munif Khatib. Alhamdulillah 45:40 nih di malam hari ini bisa kembali 45:42 siaran live mengangkat satu topik 45:44 mengenai 1 tahun evaluasi pembelajaran 45:48 jarak jauh melihat ketika pandemi 45:51 Covid-19 yang belum berakhir dan 45:54 pembelajaran jarak jauh tetap 45:55 dilaksanakan selama 1 tahun bahkan lebih 45:58 kualitas pembelajaran melalui PJJ ini 46:01 banyak sekali dievaluasi 46:04 lalu banyak juga yang ee melihat bahwa 46:07 keberhasilan itu masih jauh dari kata 46:11 ee baik ataupun apalagi memuaskan gitu. 46:14 Begitu ya, Pak Monif ya. [terkesiap] 46:16 Kita sudah ada beberapa pendengar yang 46:19 ee memberikan pertanyaan dan juga 46:21 komentarnya, Pak Murif. Namun saya 46:23 sebelum ke beberapa pendengar itu 46:26 begini, Pak Murif. Ee satu hal tadi 46:29 ketika kita ee melihat 46:32 sumbangan 46:34 dan juga peran dari masyarakat selain 46:36 pemerintah ya dari tingkat atas tapi 46:38 dari bawah solusi-solusi terbaik ee tadi 46:41 Pak Munip luar biasa sudah mempunyai 46:42 satu e pemikiran self responsibility. 46:46 Kalau dari kalangan kalangan 46:50 akademis nih, Pak Munif ya, 46:52 kalangan-kalangan akademis ataupun 46:54 para-para tokoh, Pak Munip apakah 46:56 memantau mereka itu sekarang 46:57 perhatiannya seperti apa sih, apa sih 46:59 yang harus mereka sumbangkan gitu ya 47:01 sebagai bagian dari solusi gitu 47:02 menghadapi ini bersama-sama? 47:06 Iya. Ya, makasih Mas Sangga. Jadi, he 47:08 ee para akademisi 47:11 atau teman-teman yang ee bergerak di 47:16 bidang praktisi pendidikan ya. 47:19 Heeh. 47:19 Ee saya pikir ee mereka juga ini apa 47:24 sedang mencari bentuk Mas Angga untuk 47:27 membantu ini 47:28 gitu. Ee mereka itu sampai bilang 47:30 begini, "Kita ini sekarang ada tiga 47:33 titik sentuh." 47:34 Tiga titik sentuh yang utama. Yang 47:37 pertama adalah siswa itu, yang kedua 47:40 adalah guru dan yang ketiga orang tua. 47:42 Masangga itu. He 47:44 jadi ee 47:47 saya melihat benar-benar banyak 47:50 orang-orang yang ikhlas ya Mas Angga ya. 47:52 Dalam arti ikhlas itu dalam arti 47:54 benar-benar memikirkan 47:56 ee kondisi ini perlu dicari solusinya 47:59 itu bekerja sudah mulai Masangga. 48:01 Iya 48:01 itu 48:02 bekerja. Nah ee tekniknya macam-macam. 48:06 Mereka ada yang ee webinar rutin, ya 48:09 kan? 48:10 Betul. 48:10 Rutin webinar itu. 48:13 Ada juga di daerah tuh yang punya radio 48:15 komunitas tuh, Pak Munip. Dia bikin 48:16 radio komunitas dipakai buat belajar. 48:21 Cuman daerah kalau komunitas kan daerah 48:22 ya hanya sekitar tingkat kecamatan, 48:24 desa. 48:25 Iya. Iya. Iya. 48:26 Heeh. 48:27 Kita sebetulnya punya media televisi 48:29 cuman kan itu tadi di awal ternyata ada 48:32 crash gitu. 48:33 Iya. tantangannya malah radio ini Mas 48:36 Angga gitu loh. 48:37 Heeh. Heeh. 48:37 Radio kalau boleh jujur Mas Angga ya. 48:40 Heeh. 48:41 Radio itu kan murah sekali. 48:43 Iya 48:43 ya. Kalau dilihat dari sisi pendengar 48:47 ya. 48:47 Nah pendengar itu 48:49 yaah dan ee saya mengalami puncak-puncak 48:54 keemasan radio ini dari versi saya ya 48:56 Mas Angangga ya. 48:57 He heeh. ketika radio itu punya program 49:01 acara dulu sandiwara radio 49:06 saya waktu itu 49:07 seri masih SMA Mas Angga itu gak pernah 49:10 mau lepas kelanjutannya apa, 49:12 kelanjutannya apa. Berarti kan kalau 49:15 saya SMA waktu itu ya adik-adik kelas 49:18 saya yang SMP itu juga kesengsem Mas 49:21 Sangra gitu Mas Angga. 49:22 Dengan itu berarti kalau radio sebagai 49:26 medianya 49:28 metode yang digunakan adalah dengan 49:31 bercerita 49:33 sehingga imajinasi pendengar ini bisa 49:35 dibawa 49:36 Heeh. sesuai dengan tujuan cerita itu. 49:40 Kenapa ilmu-ilmu akademis mata pelajaran 49:43 di sekolah tidak bisa dibuat seperti 49:45 itu? Nah, ini 49:46 pertanyaannya juga. Nah, 49:49 tantangan ya. Jadi nanti 49:51 para praktisi, ahli-ahli pendidikan, 49:53 para akademisi juga harus mencoba ini 49:56 begitu kan. He. Apakah kita juga perlu 49:58 meminta kepada Kominfo bahwa kan dalam 5 50:01 tahun ini banyak sekali radio-radio yang 50:03 berguguran nih? Maksudnya berguguran tuh 50:05 akhirnya gelombangnya nganggur. Minta 50:07 kepada Kominfo yang nganggur itu kita 50:08 gunakan untuk belajar sekolah gitu kan. 50:10 Bisa juga. 50:10 Iya sangat. Sangat bisa juga begitu. 50:14 Dan itu kan ee sampai ke pelosok-pelosok 50:17 kan. Apalagi saya 50:19 kalau sudah AM kayak rasil AM G bukan FM 50:23 itu kan bisa sampai pelosok kan 50:25 seperti itu. Rasil aja bisa didengar 50:27 He. 50:28 Sampai di mana? Malaysia. Iya kan? 50:31 Singapura. 50:33 Heeh. 50:35 Begitu ya. 50:36 Ee karena ada di Batam kan? Ada di 50:38 Batam. 50:38 Iya. Jadi ee luar biasa mestinya hanya 50:42 saya merasakan bagaimana teknisnya itu 50:45 ternyata 50:47 Mas Angga dengan sandiwara radio cuman 50:49 isinya adalah he 50:51 benar-benar ee tentang materi-materi 50:54 akademis sehingga anak-anak itu akan 50:57 benar-benar ee mengikutinya. Itu kan 51:00 salah satu cara juga Masangga ya. Why 51:02 not harus kita coba semua gitu. 51:04 Ada kemauan pasti ada jalan. 51:07 Iya. Ada yang baru lagi, Mas Angga. Ini 51:10 dari apa? Ee 51:13 sahabat saya yang tadi makan siang 51:15 namanya Virtual School sekarang. 51:17 Virtual school. 51:18 Jadi ya virtual school itu kayak game 51:21 gitu, Mas Angga. 51:22 Heeh. 51:23 Jadi siswa itu punya avatar di program 51:26 game. 51:27 Iya. Iya. 51:28 Pak I kan nanti gurunya juga masuk 51:30 bangut-bangut. Paham dia. 51:33 Nah, 51:33 yang biasa ML tahu ini ya 51:35 Mobile Legends ya. [tertawa] 51:38 Ya, itu jadi ee apa 51:42 langsung 51:43 iya sampai seperti itu. Bayangkan 51:45 jadi avatar. 51:46 Makanya mereka kan kalau mabar Pak Munif 51:48 kalau mabar itu kan sambil ngobrol. Oh, 51:50 bisa ya mabar sambil ngobrol. Saya 51:51 bilang tuh main bareng gitu ya. Main 51:54 bareng sambil ngobrol. Heeh. 51:55 He. 51:56 Nah, akhirnya sama anak-anak SOH 51:58 sekarang ini kita mau buat project ini. 52:01 Gitu. 52:01 Saya diminta menyusun skenario 52:03 pembelajaran selama 30 menit. Kita nyoba 52:06 lima anak saja. 52:07 Nah, itu yang ikut gabung tapi avatarnya 52:09 di sana. 52:10 Nah, saya juga nanti punya avatar di 52:12 situ. 52:13 Cuman kontennya apa? Kontennya pelajaran 52:15 nanti. 52:16 Pelajaran kontennya pelajaran. Jadi 52:18 mulai 52:19 datang ke sekolah, naik sepeda, naik 52:21 motor itu kelihatan semua. Setiap ee 52:23 siswa bisa beda-beda milih seragam. 52:26 Bayangkan Mas Angga. Iya. 52:27 Ini kan dahsyat kan. 52:29 Jadi kalau dari yang ribet itu bisa 52:31 apalagi radio saya pikir 52:33 yang lebih sederhana. Jadi 52:36 ah harus kreatiflah ini. Harus kreatif 52:38 ini. 52:39 Hm. 52:41 Baik saya menyapa ini ada pemirsa 52:45 YouTube Wardana, ada juga Titi Priat 52:50 Tiningsih, 52:52 ada juga ini MTs 2 Blitar hadir 52:54 menyimak. Hm. Ada juga Yuliati Eko, ada 52:58 juga Rumah Langit Official, Rahmi 53:00 Oktarina. Terima kasih Pak Munip. Salam 53:02 takzim 53:03 menyimak di malam hari ini. Ya, pemirsa 53:05 ee kita di malam hari ini membahas 53:08 mengenai bagaimana sebenarnya 53:09 efektivitas PJJ dalam 1 tahun ini sukses 53:12 atau tidak. Kita langsung ke beberapa 53:14 pertanyaan masuk, Pak Munif, ya. Ini di 53:16 antaranya dari Bapak Arif di Tapos 53:19 Depok. Asalamualaikum warahmatullahi 53:21 wabarakatuh. 53:22 Waalaikumsalam warahmatullah. Pakunif 53:24 pendidikan dan pandemi bagi seorang 53:26 guru, beberapa teman saya akhirnya 53:30 berhenti karena hanya guru honorer di 53:33 sekolah swasta, tidak dapat gaji, tidak 53:35 dapat penghasilan ketika dia tidak ada 53:37 jam mengajar. Sementara untuk pendidikan 53:40 virtual tidak ada modal dan sekarang 53:42 menjadi penjual makanan. Ini juga harus 53:44 diperhatikan bagaimana guru-guru mungkin 53:47 seperti nekes-nekes yang tidak diberikan 53:50 bayaran oleh pemerintah bisa berguguran 53:52 juga. Bagaimana menurut Pak Monif? 53:55 I ya ini kalau sudah seperti itu 53:57 [berdehem] 53:58 prioritas anggaran sebetulnya Mas. 54:01 Nah ini kan wilayah pemerintah ya 54:03 sebetulnya ya 54:04 gitu. Karena ini sepengetahuan saya 54:07 mudah-mudahan saya ini salah ya. 54:10 Sepengetahuan saya 54:12 status guru honorer itu hanya ada di 54:14 Indonesia Mas. hanya di Indonesia 54:17 ya itu jadi 54:18 He 54:19 ee ya guru itu guru profesi yang harus 54:22 dihargai profesional mestinya dan 54:25 benar-benar ee basic ee apa standar 54:29 hidup basic ya dasar itu mestinya harus 54:31 terpenuhi kan gitu. 54:33 Heeh. 54:33 Nah jadi ee 54:36 ini kondisi ini yang pandemi ini memang 54:39 akhirnya memperparah ya. saya juga apa 54:42 prihatin itu jadi mestinya ee ini 54:47 momentum untuk pemerintah maksud saya ya 54:50 momentum momentumnya itu adalah satu 54:53 ayolah ini hutang guru honorer ini harus 54:56 diselesaikan ini gitu. Iya kan? Saya 54:59 percaya saya percaya kalau distribusi 55:01 guru itu merata sebetulnya 55:03 iya 55:04 itu ee tidak ada guru honorer Masangga 55:07 he 55:08 gitu. Nah, jadi ee itu dulu secara apa? 55:13 Status begitu. 55:14 Nah, baru yang kedua ketika ada pandemi. 55:18 Nah, kan tidak hanya profesi guru saja 55:20 yang kena ya, Mas Sangga ya. Hampir 55:21 semua profesi kan. He. 55:23 Nah, bantuan-bantuan 55:25 ee apa ee dari pemerintah yaah itu 55:29 itulah prioritas utama itu. Apalagi yang 55:31 sampai benar-benar enggak bisa 55:33 beraktivitas, enggak berpenghasilan. 55:35 I. 55:35 Nah, itu harus di apa? diprioritaskan 55:38 sebetulnya itu Mas Sangga. 55:41 Selanjutnya ada Ibu Hanum dari Depok. 55:44 Asalamualaikum warahmatullahi 55:45 wabarakatuh. Pak MIP, saya ingin 55:47 bertanya bagaimana upaya pimpinan dalam 55:51 hal ini kepala sekolah dalam 55:53 meningkatkan motivasi dan kinerja guru 55:56 dalam pembelajaran secara online yang 55:58 sudah berjalan lebih dari setahun. 56:00 Karena bukan hanya murid yang jenuh 56:02 dengan belajar online, guru juga 56:04 ternyata bosan dan jenuh, Pak Unif, 56:06 dengan pembelajaran seperti itu. Terima 56:08 kasih atas penjelasannya. 56:11 Iya. Jadi ee 56:16 ini mungkin ee tips ya dari saya ya, Bu 56:19 Hanum ya. 56:21 Yang pertama sebagai pimpinan ini kepala 56:23 sekolah 56:25 harus 56:27 berani melakukan 56:30 reduksi beban kurikulum Mas Angga itu. 56:33 Iya. 56:35 Nah, ini sudah direstui oleh menterinya, 56:38 oleh Mas Menteri itu direstui gitu loh. 56:41 Silakan 56:42 sekolah ini 56:45 sekarang ini 56:46 itu untuk menyederhanakan kurikulum. 56:50 Bahasanya itu menyederhanakan begitu. 56:52 Jadi RPP-nya lebih singkat. 56:53 Menyederhah. 56:55 Iya, betul. He. 56:56 Tidak hanya RPP Mas Angga, tapi dari 56:58 sisi 57:00 kuantity, 57:01 jumlah mata pelajaran. 57:04 Yang kedua, dari sisi kuality, kedalaman 57:07 itu ee apa? Kompetensi dasar dan tujuan 57:11 pembelajaran dan juga dari sisi 57:14 prioritas. ini kepala sekolah sekarang 57:17 punya kewenangan untuk menyederhanakan 57:20 ini. 57:20 Contoh Mas Angga ya yang sebenarnya dari 57:24 pihak kementerian itu sudah memberikan 57:25 ini loh caranya begitu menyederhanakan 57:27 itu. Jadi kalau ada kurikulum satu mata 57:33 pelajaran itu katakanlah satu semester 57:36 itu lima bab masangga. 57:39 Maka cara menyederhanakan adalah jangan 57:43 semua diajarkan. Nah, itu Mas Angga. 57:47 Ayo dipilih bab-bab mana yang ini 57:52 prioritas sesuai dengan kebutuhan 57:55 peserta didiknya dari faktor usianya dan 57:59 kegunaannya, manfaatnya. Ya, bisa saja 58:03 dari lima bab itu hanya dua atau tiga 58:08 bab bisa itu Masangga. 58:11 Nah, tapi mendalam ya kan 58:13 mendalam itu kalau saya ke guru saya 58:17 lebih enak sedikit 58:20 tapi mendalam 58:21 gitu. 58:23 Karena kalau sedikit tapi mendalam itu, 58:27 Mas Angga, 58:28 baik guru maupun siswanya akan 58:31 tertantang untuk ingin tahu lebih 58:34 banyak, lebih dalam lagi. 58:37 Tapi kalau banyak 58:39 hanya tujuan pembelajarannya yang 58:41 dipangkas, artinya banyak tapi 58:44 sedikit-sedikit gitu, Mas Angga. 58:45 [tertawa] I kan 58:46 iya. Iya. 58:47 Hanya cuman kulit-kulitnya saja itu 58:50 menimbulkan kebosanan, Mas Angga. 58:52 begitu. 58:53 Itu karena eh discovering ya kan 58:56 penjelajahan tentang kedalaman ilmunya 58:59 itu enggak ada di situ. Sayang sekali 59:01 gitu. Jadi lebih bagus sedikit saja Mas 59:04 Angga. Nah tapi itu dalam. Nah kepala 59:07 sekolah menurut saya tadi Bu siapa? Bu 59:10 Hanum ya 59:11 harus berani mengambil inisiatif itu 59:14 begitu. 59:15 Harus berani dan para pengawas juga 59:17 harus saya pikir legowo untuk menerima 59:20 begitu. 59:21 Betul. dalam kondisi sekarang ya gak 59:22 bisa kita kaku kan begitu Mas Angga ya 59:25 seperti tidak ada pandemi itu. 59:28 Betul. Betul. 59:29 Nah, apalagi ee prioritas materi ajar 59:34 Mas Angga 59:35 itu saya kok merasa sekarang itu 59:37 prioritas yang penting yang gaib itu 59:39 literasi digital Mas Angga gitu 59:41 yang gaib itu ya. 59:43 Gaib. Iya. 59:43 Padahal dibutuhkan. Padahal dibutuhkan 59:45 sekali. 59:46 Iya. Dahsyat sekali itu. 59:48 Iya kan? Saya sekarang ini fokus ke 59:49 literasi digital, Mas. Angga. Woi, 59:51 banyaknya yang anak-anak ini harus tahu 59:53 mestinya, gitu. 59:54 He. 59:56 Nah, jadi seperti itu saya pikir ee 1:00:00 berani kita menyederhanakan kurikulum 1:00:03 sehingga beban mengajar guru tidak ee 1:00:06 apa tidak ee berat gitu. Dan 1:00:11 mengukur kinerjanya dengan beban yang 1:00:14 tidak berat itu saya pikir akhirnya 1:00:16 mudah kan begitu kan. mulai dari 1:00:19 komitmennya diukur, 1:00:21 mulai dari profesional, kemampuan 1:00:24 kompetensi profesionalnya 1:00:26 itu sampai ke pedagogiknya. Nah, inilah 1:00:30 yang dibutuhkan 1:00:31 training-training yang praktis, Mas 1:00:34 Angga. Begitu 1:00:35 trainingnya saya minta itu praktis. 1:00:37 Jangan muter-muter ke teori, Mas Angga. 1:00:39 Begitu. 1:00:40 Iya. 1:00:41 Teman-teman guru itu bilang, "Pak Munif 1:00:43 yang praktislah," gitu. Karena ya mohon 1:00:45 maaf sebelumnya banyak sekali yang kita 1:00:49 saksikan itu setelah ee biaya sudah 1:00:53 dikeluarkan sangga dan lain-lain tetap 1:00:56 setelah training itu masih bahasa 1:00:58 Surabayanya lolak-lolok. Masa enggak 1:01:00 lolak-lolok? 1:01:02 Apa itu 1:01:02 menerapkannya? Lolak-lolok itu masih 1:01:04 bingung gitu. Itu menerapannya gimana? 1:01:06 Gamang. Gampang ya? 1:01:08 Masih gamang. Iya. He. 1:01:09 Jadi ee harus yang praktis memang gitu. 1:01:12 Jadi sesuai dengan zamannya lah. 1:01:14 Itu ngajar dengan e-learning mentraining 1:01:16 dengan e-learning itu harus daging sudah 1:01:18 jangan dikasih kulit gitu. 1:01:20 Iya. Nah, ini 1:01:23 kita juga bacakan ini komentar dari 1:01:24 pemirsa YouTube Berasil TV Nurul 1:01:27 Fatimah. Asalamualaikum. Salam takzim 1:01:29 untuk Pak Munif. Ada juga ini akun 1:01:32 namanya orang baik ya, Tep ya. 1:01:34 Asalamualaikum. Oh, Gunung Putri 1:01:36 menyimak katanya. Nah, sekarang namanya 1:01:37 di Gunung Putri soalnya kemarin pakai 1:01:39 nama anak. Oke, alhamdulillah anak saya 1:01:41 yang nomor dua baru lulus tahun ini. 1:01:44 Lulus SMP apa SMA gitu ya? Mungkin SMA. 1:01:46 Anak-anak sering keluh kesah belajar 1:01:48 online selama setahun lebih jenuh 1:01:50 penginnya tetap muka. Ada juga komentar 1:01:52 dari Zuraidah Toha. Asalamualaikum. Saya 1:01:54 juga merasa bosan kalau ngajar online 1:01:56 ya. Yang di atas itu muridnya, yang di 1:01:58 bawah ini yang komen mungkin seorang 1:01:59 guru [tertawa] 1:02:01 pengajar nih. Komunikasi hanya satu 1:02:02 arah. Perlu belajar lagi bagaimana 1:02:04 caranya supaya lebih menarik dan 1:02:05 komunikatif. 1:02:07 Satu lagi tambahan, saya juga ada teman 1:02:09 yang mengajar di ee SMA ya, Pemenif ya. 1:02:12 Dia cerita kalau ketika kelas online-nya 1:02:15 itu di rumah itu yang membuat dia jenuh. 1:02:17 Tapi kalau kelas online itu dia bawa ke 1:02:19 sekolah gitu ya. 1:02:21 Iya. 1:02:21 Atau ke tempat dia kantor ee apa tuh 1:02:24 MGMP-nya gitu ya dengan guru-guru lain 1:02:27 bareng yang sehat itu menghilangkan 1:02:29 kejenuhan sedikit. Emang suasana rumah 1:02:31 sih kalau setahun belajar di rumah terus 1:02:34 itu yang kadang-kadang bikin jenuh. 1:02:35 Bagaimana ini Pak Murip? Ya, saya setuju 1:02:38 kalau kita itu work from home, ngajar 1:02:42 dari rumah, percayalah variabel 1:02:44 pengganggunya banyak. Kalau 1:02:45 variabelnya banyak [tertawa] 1:02:46 ya variabel pengganggunya itu banyak. 1:02:48 Iya kan? Karena 1:02:50 orang-orang yang di rumah itu tidak 1:02:53 punya tugas seperti kita gitu mengajar. 1:02:56 Kalau di sekolah itu kan tidak kan. 1:02:58 Oke. Online dari sekolah semua fokus ke 1:03:01 pembelajaran. Jadi kita ikut juga 1:03:04 terpengaruh gitu dengan fokus 1:03:07 konsentrasi gitu. 1:03:08 Cuman kalau sudah di rumah itu variabel 1:03:11 pengganggunya banyak sekali. Iya kan? 1:03:14 Iya. I 1:03:16 apalagi tamu datang. Waduh sudah 1:03:19 berantakan. 1:03:21 Kalau lagi ngajar mungkin di pintunya 1:03:23 harus ditempel. Sedang ngajar online 1:03:26 [tertawa] 1:03:26 tamunya enggak datang. 1:03:29 Baik. Saya pernah kedatangan tamu sampai 1:03:31 nunggu 2 jam ya. Saya sampai enggak 1:03:33 enaknya. [tertawa] 1:03:35 Iya. Iya. Ada juga ini Mbak Lisa di 1:03:38 Bekasi. Asalamualaikum. Terima kasih Pak 1:03:41 Monif. E keren banget bincang 1:03:42 pendidikannya malam ini. Tadi idenya 1:03:45 keren juga itu membuat sandiwara radio 1:03:48 yang kontennya pendidikan. Semoga Rasil 1:03:50 bisa. [tertawa] 1:03:51 Semoga Rasil bisa. 1:03:53 Apakah mungkin? Karena ini di rumah Pak 1:03:57 Monip ya. PJJ itu dirasakan 1:03:58 sangat-sangat kurang optimal. 1:04:01 Hm. Itu bisa apa saja pemil kita. 1:04:04 Iya. 1:04:05 Heeh. 1:04:06 Kalau Sandy Bar mungkin modelnya nanti 1:04:07 ya tadi storytelling tadi gitu ya. Isi 1:04:09 storytelling. Iya 1:04:11 storyting. Jadi ada kekuatan loh di role 1:04:14 play storyting sosi drama macam-macam 1:04:16 namanya. Iya kan? 1:04:17 Betul. Betul. 1:04:18 Itu sebuah metode. Salah satu dari 1:04:20 ratusan metode mengajar. He. 1:04:22 Tapi khusus untuk ee drama ini punya 1:04:25 kekuatan apa? Satu, pendengarnya ini 1:04:29 kalau di radio Heeh. He. 1:04:31 Itu tiba-tiba 1:04:34 apa ya? 1:04:35 Dipaksa oleh skenario cerita itu untuk 1:04:38 terlibat, Mas Angga. 1:04:40 H 1:04:40 begitu. Iya kan? 1:04:42 Jadi pendengar ini untuk terlibat masuk 1:04:44 dalam ee drama itu begitu. Nah, apalagi 1:04:49 apalagi yang ada jedah itu yang luar 1:04:53 biasa Mas Angga. Iya. 1:04:55 Iya kan? Jeda berlanjut besok. Waduh. 1:04:58 Oh, iya itu cerita siapa ya? 1:05:00 Iya. Apakah mungkin guru matematika 1:05:02 ngajar Pythagoras dengan sosiama? Kan 1:05:05 begitu [tertawa] kan? 1:05:07 Lalu sampai ada beberapa jeda sampai 1:05:09 anak itu wah senang dan paham. Nah, itu 1:05:12 yang keren. 1:05:13 Hmm. [berdehem] Mungkin perlu dicari 1:05:15 juga ini ya bandingnya ke mana nih? Udah 1:05:17 ada yang pernah belum membuat konsep 1:05:19 seperti itu? 1:05:20 Iya. 1:05:21 Kalau bahasa Indonesia, bahasa Inggris 1:05:22 bisa saja tuh kan ada sastranya Pak. 1:05:25 Iya. Kalau eksak w gimana nih mikirnya 1:05:26 nih? 1:05:27 Nah ini 1:05:28 dituntut kreativitas. 1:05:30 Terakhir pemip ini kita akan ke 1:05:32 pendengar dari 087 1:05:35 ee 96644 sekian-sekian tidak menyebutkan 1:05:38 nama. Asalamualaikum warahmatullahi 1:05:40 wabarakatuh. 1:05:41 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:05:42 wabarakatuh. Pak Munif mohon nasehat dan 1:05:45 juga pencerahannya. Ini mengenai anak 1:05:48 saya yang harusnya memasuki SMA di tahun 1:05:52 ini tapi masih di kelas 3 SMP. Ada hal 1:05:57 yang dialami oleh anak saya ketika 1:05:58 kehilangan ibunya 6 bulan yang lalu 1:06:00 karena COVID dan memang sudah tidak ada 1:06:02 semangat lagi untuk ee belajar selama 1:06:05 ini. Mendampingi adalah ibunya. Sebagai 1:06:07 ayah, sulit sekali saya mendekati anak 1:06:10 ini laki-laki dan juga memberikan ee 1:06:13 masukan-masukan supaya dia bisa semangat 1:06:15 lagi. Mohon arahan dari Pak Munif. 1:06:17 Terima kasih. 1:06:18 Iya. Ya. Ee ya saya prihatin ya 1:06:22 mengucapkan Gela Sungkawa juga. 1:06:25 Cuman kan hidup terus harus berlanjut 1:06:27 ini. 1:06:28 Iya 1:06:28 gitu. Hidup harus berlanjut. 1:06:31 ee yang penting karena kelas 3 kelas 9 1:06:37 SMP itu berarti sudah remaja, Mas Angga. 1:06:40 Iya. 1:06:41 Maka salah satu metode yang bisa oleh 1:06:45 sang ayah ini untuk ee dekat dengan 1:06:50 anaknya, putranya mungkin tadi ya, yaitu 1:06:54 dengan menjalin sekali lagi komunikasi 1:06:57 yang harmonis. masangga 1:06:58 itu 1:06:59 karena sudah remaja ini begitu. 1:07:01 Iya. 1:07:01 Jadi 1:07:02 ee harus berbicara dari hati ke hati. 1:07:06 Itu kan sebetulnya kehilangan peran anak 1:07:09 ini. Peran ibunya 1:07:10 yang selama ini mendampingi ya. He 1:07:12 yang selama ini mendampingi kalau si 1:07:14 ayah 1:07:15 bisa berkomunikasi ngobrol 1:07:20 santai tapi serius kepada anaknya 1:07:24 tentang peran-peran apa yang sekarang 1:07:27 itu dari ibunya yang hilang gitu. Iya 1:07:31 kan? Di keluarga ini. Maka sang ayah 1:07:34 harus jujur mengatakan bahwa saya akan 1:07:37 berusaha menggantikan peran itu gitu 1:07:39 loh. 1:07:40 Iya. 1:07:40 Iya kan? peran ini, peran ini. Nah, itu 1:07:42 kan bisa ngobrol tahu, kita listing itu 1:07:45 bisa tahu gitu apa ini perannya. Nah, 1:07:48 dan harus jujur juga ketika katakanlah 1:07:50 ada empat peran yang itu diharapkan oleh 1:07:54 si anak, tapi kita bisanya hanya dua 1:07:57 gitu, Mas. Angga 1:07:58 kita harus jujur. Ini anak remaja sudah 1:08:00 ya kan. 1:08:01 Itu ayah cuman bisa dua ini, tapi yang 1:08:04 ketiga dan keempat itu masih belum 1:08:07 mampu. Gimana ya solusinya? Nah, 1:08:09 sehingga terjadilah dialog Mas Angga 1:08:12 sampai nanti ketemu 1:08:15 solusi. Nah, karena itu ee harus apa ya 1:08:21 sekarang ini benar-benar sinergi antara 1:08:24 orang tua dan anak ini benar-benar Mas 1:08:26 Angga itu sudah yang nomor satu 1:08:28 sebetulnya di rumah ini. 1:08:30 Iya kan? Sudah sinergi loh ya. Sinergi 1:08:32 itu adalah kolaborasi atau kerja sama 1:08:36 yang sumbernya itu masalah ini pandemi 1:08:38 ini gitu. Iya kan? itu. Jadi ee ini 1:08:43 harus dilakukan dan ee 1:08:46 teknik atau metode yang paling ee banyak 1:08:50 berhasil, murah meriah itu adalah dengan 1:08:53 bagaimana menjalin komunikasi 1:08:56 yang efektif, Mas Angga dengan 1:08:59 kesantunan ya kan. kita pandang anak 1:09:02 kita ini sekarang sebagai sosok yang 1:09:05 benar-benar apa ya, partner gitu loh. 1:09:08 Butuh dukungan sebetulnya dengan kondisi 1:09:11 sulit ini. Insyaallah berhasil. 1:09:13 Insyaallah tetap tegar dan tadi ya jalin 1:09:17 komunikasi yang lebih intens, lebih 1:09:19 dekat. 1:09:20 Karena kalau bagi ayah mungkin 1:09:23 masalahnya adalah dia harus kerja kan 1:09:25 gitu ya. Kalau untuk ibu mungkin bisa 1:09:26 mendampingi terus. 1:09:28 Sepertinya masalah ini juga ee bisa 1:09:30 dialami oleh orang-orang lain gitu, Pak 1:09:33 Munip ya. 1:09:34 Betul. 1:09:36 Nanti kita perlu pencerahan dari Pak 1:09:37 sebagai penutup. 1:09:39 Kita sudah dipengung waktu dan kami 1:09:41 mohon maaf kepada Fuji Diana ini 1:09:43 pertanyaannya belum sempat terjawab. Ada 1:09:45 juga Rahmi Oktarina yang juga 1:09:47 pertanyaannya belum sempat terjawab. 1:09:50 Insyaallah di kesempatan lain. Dan 1:09:52 ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 1:09:53 Subhanahu wa taala kita sudah di 1:09:56 penghujung acara. Baik, Pak Munif 1:09:57 sebagai ee penutup dari seluruh bahasan 1:10:00 kita dan juga ee pertanyaan-pertanyaan 1:10:03 masuk yang bisa Pak Monif ee simpulkan 1:10:05 apa ya. Jadi eh sebagai closing 1:10:09 statement ini 1:10:10 he 1:10:12 dari hasil [berdehem] 1:10:15 ee perjalanan [tertawa] 1:10:21 mohon maaf 1:10:22 perjalanan 1 tahun 1:10:25 pendidikan kita dengan PJJ. Fakta 1:10:28 membuktikan Mas Angga 1:10:30 ternyata masih belum berhasil seperti 1:10:33 apa yang kita harapkan. Itu fakta. I 1:10:36 karena itu penyebab-penyebab utamanya 1:10:39 Mas Angga itu yang kita bicarakan pada 1:10:43 malam ini 1:10:44 harus benar-benar 1:10:47 kita semua ini semua pihak ya terutama 1:10:51 yang paling dekat dengan siswa itu yaitu 1:10:54 guru, tenaga pendidik 1:10:56 fokus untuk mencari solusi terhadap 1:11:00 penyebab problem itu tadi. Seperti itu, 1:11:02 Mas Sangga. 1:11:03 Iya. Nah, yang [berdehem] teman-teman 1:11:05 guru ini mampu ya kan 1:11:07 itu khusus yang langsung bersentuhan 1:11:09 dengan siswa itu kan memang bukan Kemen 1:11:12 Info, 1:11:13 bukan Kemen Dikbud 1:11:14 atau BUMN yang lain tapi guru. 1:11:17 Nah, ayolah kita enggak boleh berhenti 1:11:21 untuk belajar. Bagaimana teknik 1:11:24 pembelajaran yang bermakna meskipun 1:11:27 lewat online 1:11:29 itu kita terus harus mendalaminya. Betul 1:11:32 itu. Dan kita harus percaya, Mas Angga 1:11:35 bahwa masalah ini pasti kita bisa 1:11:38 selesaikan. Nah, itu optimisme. Itu 1:11:40 optimisme. 1:11:40 Optimisme. Iya. 1:11:42 Dan yang terakhir, Mas Angga 1:11:45 secara teori karena pembelajaran online 1:11:48 itu memang tepat untuk pendidikan 1:11:51 andragogik. 1:11:53 He 1:11:53 itu secara teori, tapi untuk pendidikan 1:11:57 pedagogik itu masih belum tepat. 1:12:00 Tapi kita tidak mau. Jangan kalah, Mas 1:12:01 Angangga. Karena kondisi yang 1:12:04 menyebabkan mau tidak mau ada PJJ itu 1:12:06 pandemi kan. Semua, 1:12:07 semua tempat, semua negara kayak gitu. 1:12:10 Maka ayo bangun self responsibility, 1:12:14 tanggung jawab diri anak kita supaya 1:12:18 benar-benar anak kita itu merasa butuh 1:12:22 benar-benar materi ajar apapun itu 1:12:25 materinya dari seorang guru. 1:12:28 Nah, 1:12:33 nah sehingga rajin ngikutin pembelajar 1:12:35 seperti itu, Mas Angga. Baik, terima 1:12:37 kasih Pak Munif atas ilmu dan waktunya 1:12:39 di kesempatan malam hari ini. Semoga Pak 1:12:41 Monif selalu sehat ya. Kita jumpa lagi 1:12:43 bulan depan. Demikianlah ikhwan akhwat 1:12:46 yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. 1:12:48 Demikianlah bincang pendidikan bersama 1:12:49 Bapak Munif Khatib. Semoga apa yang 1:12:51 beliau sampaikan bermanfaat bagi kita 1:12:53 semua. Jangan lupa simak selalu bincang 1:12:54 pendidikan di radio silaturahim dengan 1:12:56 narasumber Bapak Muni Fati setiap hari 1:12:59 Ahad malam pekan ketiga setiap bulannya 1:13:03 hanya di Radio Silaturahim untuk Islam 1:13:05 yang satu. Bagi Anda yang tidak sempat 1:13:07 menyimak ataupun baru dengar tadi di 1:13:08 akhir-akhir ee Anda bisa nanti dalam 1:13:11 beberapa saat ataupun besok ataupun 1:13:13 kapanpun Anda bisa tinggal di-searching 1:13:15 saja simak acara keseluruhannya di ee 1:13:20 YouTube channel Rasil TV. Di situ 1:13:22 rekaman-rekaman acara-acara Rasil 1:13:24 insyaallah ada semua gitu ya. Dari 1:13:26 studio kami undur diri. Mohon maaf atas 1:13:28 segala kesalahan kata. Billahi taufik 1:13:30 wal hidayah. Subhanakallahumma 1:13:31 wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta 1:13:33 astagfiruka wa atubu ilaik. 1:13:35 Asalamualaikum warahmatullahi 1:13:36 wabarakatuh. 1:13:39 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:13:40 wabarakatuh.