Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, ikhwan
- akhwat rahimakumullah.
- Alhamdulillah wasyukurillah kita dapat
- bersama-sama kembali pada siang ini di
- Hijrah Talk. Mas Krishna berhalangan
- hadir ya. Jadi ee saya menggantikan Mas
- Krishna. Tidak lupa tentu saja salam
- selawat kita lantunkan untuk junjungan
- umat kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita dipertemukan dengan beliau di saat
- yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir. Ikhwan akhwat, untuk hijrah tol
- kali ini bisa jadi ini merupakan
- perjalanan
- spiritual seseorang yang menjadi
- narasumber kita yang nanti mungkin juga
- atau bahkan memang kita harapkan bisa
- mempersuasi yang
- mendengar tentang bagaimana beliau
- melangkah mulai dari awal sampai
- sekarang
- ini. Narasumber kita adalah Bapak
- Santoso Halim yang lebih dikenal dengan
- sebutan Ko Halim, pria kelahiran Medan
- yang sebentar lagi berulang tahun nih,
- 25 Mei dan beliau sudah hadir di sini.
- Kita sapa beliau. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ko Halim.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih atas
- kesediaannya hadir di Hijrah Talk yang
- mudah-mudahan seperti yang saya bilang
- tadi bisa mempersuasi orang. Nah,
- perjalanan spiritual yang pengin kita
- dengar nih sejak kecil sampai sekarang
- itu
- kira-kira apa yang mempersuasi Anda? Apa
- yang membuat Pak Halim Ko Halim ini ee
- menjadi sosok seperti sekarang yang
- punya peran begitu banyak di mualaf
- Center nih, Ikhwan Ahwat? Silakan ya.
- Terima kasih.
- Ee selamat siang saya ucapkan terima
- kasih bahwa saya diberikan kesempatan
- untuk berbagi pengalaman ya terutama ee
- terkait dengan ee perjalanan hidup sejak
- kecil.
- Jadi satu hal yang perlu saya sampaikan
- adalah bahwa
- ketika saya dalam kondisi kecil itu ee
- dari sejak bayi sudah sakit-sakitan.
- Jadi waktu itu saya kena penyakit yang
- cukup menakutkan yaitu asma. Jadi sejak
- bayi sudah asma. Nah, karena keluarga
- asli saya itu banyak anak, itu ada
- sekitar 13 orang saudara.
- Ee ada kepercayaan di ee lingkungan
- keluarga orang-orang Tionghoa. Jikalau
- anak sakit dan berkepanjangan, maka dia
- harus di ee berikan kepada saudaranya
- dan diganti nama. Nah, supaya ee
- diharapkan bahwa dia akan ee selamat.
- sehat kembali dan bisa menata hidupnya
- selanjutnya. Nah, akhirnya saya diadopsi
- oleh paman saya itu di usia yang masih
- sangat muda waktu itu masih ee bayi
- kurang lebih sekitar mungkin
- sekit. Nah, sejak saat itu kondisi sakit
- ee asma saya sudah sangat luar biasa.
- Jadi saya menderita penyakit asma itu
- hampir 10 tahun. Berarti dari usia 1
- sampai usia 10. belum juga
- sembuh-sembuh. Nah, yang lucunya lagi
- bahwa kalau kita berpenyakit asma, kita
- sering dapat masukan dari orang bahwa
- harus makan ini, makan itu. Ya, itu Bu
- sampai boleh katakan saya ini sudah
- termasuk kebun binatang, Bu. Kenapa saya
- katakan begitu? Karena apapun saya
- makan. Jadi orang tua itu saking sayang
- dengan saya, takut saya kehilangan ee
- kehilangan saya. Maka ketika disarankan
- untuk makan burung hantu, maka dicarilah
- burung hantu. Jadi ibarat kata dari
- burung hantu,
- ular, anak tikus dan semua binatang
- termasuk kecoa itu sudah pernah dimakan.
- Heeh. Dengan tujuan supaya saya sembuh
- gitu. Nah, jadi makanya saya katakan
- saya itu hampir seperti ee kebun
- binatang mini ini. Semua makanan di
- dihajar tidak sembuh-sembuh juga ya.
- Artinya penyakitnya terus
- berlanjut. Nah, di suatu saat itu saya
- mengalami salah makan waktu itu. Salah
- makan artinya yang paling ditakuti waktu
- orang dulu itu adalah kalau ee asma itu
- minum air kelapa muda. Enggak boleh.
- Heeh. Heeh. H. Jadi, nah waktu itu
- kelolosan saya sempat minum air kelapa
- muda. He. Nah, itu memang habis-habisan
- hari itu. Jadi, itu pas di usia 10 tahun
- kurang. He. Saya minum kelapa muda. Ee
- paginya saya minum dengan lahap sampai
- habis dua biji ya. Karena belum pernah
- minum air kelapa muda kan, termasuk ee
- dagingnya juga. Oh, itu lahapnya luar
- biasa tuh. Nikmat. Nah, sorenya sebelum
- magrib itu saya sudah dalam kondisi
- sangat parah. Jadi, sempat
- muntah-muntah, sempat apa sampai
- akhirnya ee dinyatakan
- meninggal. Jadi, saya pernah meninggal.
- E ini aneh juga nih. Pernah meninggal
- mati. sempat 2 jam tuh meninggal dan
- sempat juga di apa di ee katakan oleh
- dokter yang mendampingi saya selama 10
- tahun itu bahwa ini si kecil ini
- meninggal jadi sudah diganti baju. Nah,
- kalau orang zaman dulu zaman e
- orang-orang Tionghoa kalau ganti baju
- kan minimal tujuh lapis ya harus pakai
- baju tujuh lapis supaya dimakamkan itu
- ee dalam kondisi sesuai dengan
- ritualnya. He itu sudah sempat saya
- sudah sempat digantiin baju ee saya
- sempat meninggal ee ee saya tahu
- meninggal itu setelah saya bangun
- diceritakan. Jadi waktu itu saya pernah
- meninggal 2 jam. Yang saya rasakan hanya
- ee saya memang lepas dari badan saya.
- Jadi saya melihat saya sedang diganti
- baju segala macam. Bingung juga kok ada
- dua dua orang ya antara saya dan yang
- sedang meninggal itu. Nah, di saat fase
- kedua itu saya sempat ee di ee ditarik
- seperti ditarik begitu ya di satu tempat
- gitu. Perjalanan sangat jauh dan sangat
- sepi. Waktu itu perasaan saya sempat
- muncul rasa takut. Yang saya dengar
- adalah ada suara. Suara itu adalah suara
- ibu. He jadi ibu angkat saya
- mendoakan
- bahwa ee ibu saya mengatakan ee bahwa
- dia sangat sayang sama saya dan dia
- minta jikalau Tuhan mengizinkan maka
- biarlah anak ini
- hidup ada rasa sayang. Nah, begitu doa
- itu di
- diperdengarkan itu mendadak saya bangun
- itu lari semua Bu. Jadi satu ruangan tuh
- lari semua karena ini sudah meninggalkan
- ceritanya. He lari. Perasaan
- satu-satunya perasaan ketika saya bangun
- itu adalah saya haus dan lapar. Saya
- makan begitu banyak. He. Makan ini,
- makan itu, sambil minum, sambil makan
- segala macam. Beres. Nah, dokter
- langsung datang mengecek badan saya
- ini. Ee kenapa bisa terjadi seperti ini?
- Dicek secara kesehatan, besoknya disuruh
- ke lab langsung pergi ke rumah sakit.
- dicek itu asma saya sudah hilang sama
- sekali. Justru malah hilang. Enggak ada
- lagi penyakit asma dan seperti saya
- enggak pernah mengindap penyakit asma.
- kejadian seperti itu. Nah,
- rupanya ketika kalau dikaitkan dengan
- keluarga, rupanya kakek
- saya adalah seorang syekh karena saya
- ada darah Aceh. Jadi, Aceh campur Cina
- campur India nih. Jadi saya ini agak
- sedikit unik ini. Gado-gado Bu.
- Nah, dikatakan bahwa cucu saya ini
- spesial, harus dijaga baik-baik karena
- dia punya kemampuan luar
- biasa. Ya, jadi ee memang sesuai dengan
- ramalan kakek kata ibu saya bahwa saya
- memang unik. Nah, sejak saat itu memang
- setelah saya sembuh dari asma itu
- kemudian saya hidup itu normal semuanya
- serba normal. He. Nah, serba normal.
- Saya hidup dalam keluarga yang waktu itu
- ya termasuk keluarga yang cukup berada
- ya. Artinya tidak susahlah hidupnya.
- Wah, saya itu dijaga itu seperti
- permata. He. Jadi tidak boleh ee
- capek-capek, tidak boleh ini, tidak
- boleh itu. Karena khawatir nanti asmanya
- kambu lagi. He he. E terus. Nah, ini
- kehidupan terus berjalan hingga saya
- mulai ee sekolah. Nah, karena ee Bapak
- ateis tidak beragama, kemudian Ibu
- adalah Buddha. Buddha statistik ya
- artinya Buddha yang tidak baca kitab
- hanya sembahyang di kelenteng. He.
- Akhirnya saya dimasukkan ke satu sekolah
- yang cukup bergensi di Kota Medan, yaitu
- sekolah Kristen Metodis. Nah, di situlah
- terbentuk ee keyakinan saya di situ
- mulai masuk ke agama Kristen waktu itu.
- Nah, perjalanan ini terus ee malah waktu
- masuk agama Kristen saya termasuk murid
- yang nakal, suka bertanya yang aneh-aneh
- terhadap pendeta. Iya. Ya, saya masih
- ingat satu peristiwa yang lucu itu
- adalah ketika ada kebaktian. Karena di
- sekolah Kristen kan biasanya setiap hari
- apa itu ada kebaktian. Jadi semua murid
- dikumpul. Nah, saya pernah dikumpul tuh
- waktu itu. Saya berani e tampil ke depan
- pada saat pendeta lagi ceramah. Saya
- tanya kepada Pak Pendeta, "Pak Pendeta,
- kenapa Yesus disalib dalam kondisi
- telanjang? Kan itu
- memalukan." Akibatnya saya diskor 2
- minggu karena dianggap tidak sopan. He.
- Nah, itu mulai itu ah mulai ada
- pertanyaan-pertanyaan yang unik dalam
- diri saya secara pribadi. Nah,
- pelan-pelan tuh mulai tumbuh barangkali
- seperti itu. Tapi ee perjalanan demi
- perjalanan memang sih perkembangan ee
- keimanan saya ee dalam beberapa agama
- saya pernah ee tekuni seperti Kristen,
- Katolik, malah sempat jadi guru agama
- Buddha. Saya pernah juga ee aktif di
- agama Buddha gitu kurang lebih. Nah, ini
- perjalanan singkat dulu. Mungkin ada Ibu
- pertanyaan apa? Yang jelas ketika masih
- kecil sudah sakit sampai 10 tahun ya
- kena asma dan bisa sembuh dan sekarang
- enggak pernah lagi muncul. Engak pernah
- lagi enggak pernah muncul. Heeh. Yang
- dikatakan kalau buku RA Kartini itu kan
- habis gelap terbitlah terang. Kalau
- perjalanan ee Bung Lim ini bisa saja
- juga dari kegelapan menuju menujuhan
- pencerahan. Kalau boleh tahu bagaimana
- proses sampai memperoleh pemahaman Heeh.
- tentang agama yang sekarang sedang
- dipeluk ini, agama Islam ya. Heeh. Ya,
- saya sambung kembali. Jadi ee begitu
- saya sudah mulai besar ee ternyata saya
- punya keunikan. keunikannya itu adalah
- saya gampang bergaul, gampang bergaul
- dan ee diterima di mana-mana dengan baik
- gitu loh. Tentu dengan ee ee dengan apa
- dengan kebaikan diri juga kita enggak
- sembarangan begitu kita jaga etika, jaga
- kesopanan gitu loh diterima. Nah, sampai
- satu titik optimal ketika saya sudah di
- Katolik, saya pernah jadi wakil ketua
- karismatik, kemudian di Buddha saya
- pernah jadi guru agama Buddha. Nah,
- mulai muncul tuh banyak pertanyaan.
- Sebetulnya
- ee tujuan hidup itu apa sih sebenarnya?
- Nah, itu mulai muncul tuh saat itu. Nah,
- ketika itu muncul maka saya sering
- didatangin oleh kakek saya di mimpi
- berkali-kali. He. Nah, kakek saya itu
- postur tubuhnya tinggi ee gagah.
- Pedangnya saya hitung kira-kira ada 2 m
- kali pedangnya. Dia pakai baju hitam
- kemudian pakai apa? Udeng ya? Udeng atau
- apa gitu. Nah, dia datang hanya dia
- lihat saya dan dia katakan
- bahwa kamu sudah dikasih kesempatan
- untuk hidup. Ya, sekarang kamu harus
- fitrah. Nah, ini kembali ke fitrah.
- Maksudnya apa? Enggak paham saya. Saya
- tanya nih ke ulama-ulama. Nah, ternyata
- jawabannya aneka ragam. Ada yang bilang
- saya mesti ee ee apa e jadi orang yang
- lebih baik, harus merubah sikap saya.
- Terus ada macam-macam dah. He. Nah,
- terakhir saya dapat satu ulama yang
- betul dia bisa memberikan pencerahan
- adalah bahwa kemungkinan saya harus
- kembali ke Islam karena katanya kan
- fitrah. Lah ditanya kakekmu tuh siapa?
- Nah, saya bilang saya gak kenal kakek
- saya siapa. Akhirnya saya cari tahu
- siapa kakek saya. Nah, ternyata kakek
- saya memang adalah ulama besar dulu di
- Aceh di Melabo. Nah, ketika ibu saya
- menikah sama bapak saya, bapak saya kan
- asli dari Tiongkok datang. He. Itu
- mereka tidak bisa nikah di Aceh karena
- Aceh waktu itu keras, enggak boleh ada
- kawin campur. Jadi mereka kawin lari.
- Jadi pergi ke satu daerah kira-kira 3
- jam lah dari Aceh. He. Nah, rupanya
- kakek ini adalah ulama besar. Karena
- artinya fitrah kalau dikaitkan dengan
- kakek berarti harus kembali ke Islam.
- Iya. Nah, di situ tuh mulai menggebu.
- Tapi saya masih anggap remeh. Saya pikir
- namanya mimpi ya itu bisa aja karena
- kita mungkin capek ya kan. Bisa aja
- karena itu. Jadi kita tidak terlalu ke
- mistik. Tapi mimpi ini datangnya
- berturut-turut. Kadang-kadang seminggu
- bisa tiga kali, kadang-kadang seminggu
- empat kali. Sampai terakhir
- ujung-ujungnya kakek keluarkan
- pedangnya.
- Lalu ujung pedangnya itu pasti pelipis
- saya di satu malam itu bahwa kalau masih
- tetap bandel maka saya pisahkan kepala
- sama badanmu. Heeh. Wah, ini sudah
- ancaman ini. Keseram juga kan. He. Wah,
- kalau begitu harus bagaimana saya
- pikirkan? Nah, waktu itu saya masih
- dalam kondisi sangat jahiliah, Bu. Saya
- pernah jadi manajer diskotik di Kota
- Batam. Empat ruko, lima lantai lengkap.
- di situ ada Amusemen, ada Casino, ada
- PAP. Komplit saya manajernya. Nah, waktu
- itu saya melihat bahwa ini kesempatan
- saya harus keluar dari
- Batam gitu. Nah, artinya kalau kita ee
- jelaskan dalam agama Islam sekarang itu
- adalah saya diminta untuk hijrah keluar.
- Nah, waktu itu saya putuskan sama istri.
- Waktu itu saya sudah punya istri Advent
- agamanya Kristen juga. Saya Katolik. Ayo
- kita berangkat ke
- Jogja. Padahal Jogja kita juga enggak
- tahu mau ngapain. Cuma ada teman di
- Jogja e dulu bekas teman-teman di klub.
- Dia bilang dia lagi mau buka PA di sana
- butuh orang di Ambarukmo. Hotel Ambarumo
- saya masih ingat. Jadi tujuan saya ke
- Jogja kerja sama teman saya pokoknya
- lepas dulu dari Batam. Karena saya pikir
- PAP kan agak mending ya dosanya ya kan
- enggak ada kasinonya. Kalau di Batam kan
- kasino komplit tuh segala macam komplit.
- Kalau ini agak mendinglah pikiran begitu
- masih pakai cara berpikir orang biasa
- gitu.
- Begitu saya sampai di Jogja ternyata
- Ambaro lagi dibongkar hotelnya karena
- direnovasi karena carefour mau masuk
- waktu itu. Yang depannya kan Carefour.
- Iya.
- Kehilangan kontak. Udah.
- berarti udah enggak bisa ke Pak pun
- sudah enggak bisa. Nah, akhirnya saya
- pikir karena kakek masih datang juga di
- mimpi bahwa ditagih kapan gitu loh. Oke,
- kalau gitu saya pikir kalau saya mau
- masuk Islam saya mesti ke masjid ya.
- Enggak mungkin saya masuk Islam pergi ke
- supermarket ya pasti ke masjid ya kan.
- Akhirnya saya pergi ke masjid gede,
- masjid yang paling top lah di Jogja
- itu. Cari siapa? Saya cari
- ustaz atau kiai di sana. Nah, di hari
- Jumat saya ke sana, saya masih ingat
- waktu itu semua ustaz, kiai itu enggak
- ada lagi. Enggak enggak di enggak
- ditempat. Ini terhalang lagi ini jadi
- Islam ini. Saya masih cari karena saya
- ketakutan kan karena ke ada ancaman dari
- kakek saya. Kalau pedang nanti bisa
- putus kepala kan. Ee cari ketemu sama ee
- satu teman, bukan temanlah kenalan gitu
- namanya Pak Gonang waktu itu. Itu beliau
- adalah ketua himpunan pengusaha muda
- Indonesia. Itu kejadiannya di tahun
- 2004. Saya datangin nekad. Saya bilang
- sama beliau, "Pak Gonang, saya mau masuk
- Islam. Kaget semua. Waduh, kok tiba-tiba
- mau masuk Islam? Ud ngelihat KTP saya
- KTP Batam lagi kan. ini jangan-jangan
- penjahat dari mana kan gitu kan bingung.
- Nah, ini mau islamkan satu ini enggak
- ada kejelasan alamatnya masih di hotel.
- Saya sama istri kan di hotel. Nah,
- akhirnya sudah kalau gitu kita cari ee
- orang yang lebih pantaslah, yang lebih
- tahu siapa. Maka diperkenalkanlah dengan
- almarhum Habib ee Masido
- Alhasni. Ah, di situ saya diperkenalkan.
- Yang lucunya lagi ketika saya
- diperkenalkan dengan Habib katanya ini
- ada namanya Santoso Halim mau masuk
- Islam lah. Kenapa enggak diislamkan?
- Pada diam. Kalau dia mati gimana
- katanya? Waduh Islam kan. Enggak usah
- pusing dia itu mau penjahat mau apa. Itu
- urusan dia. Yang penting dia mau masuk
- Islam kita islamkan katanya gitu. Udah
- terus saya ditanya. Nah saya ditanya ee
- kapan mau masuk Islam? Nah, ini masuk
- Islam gimana caranya nih? Eh, Habib ya
- caranya cuma baca dua kalimat syahadat
- udah jadi Islam habis itu udah
- gampanglah itu agak gampanglah pokoknya
- masuk Islam paling gampang digampangin
- terus sama Habib kan ya supaya saya
- enggak rumit barangkali kan udah main
- gampang-gampang
- ee mau Islam kan kapan Sabtu bisa
- enggak? Enggak enggak bisa, Bib. Sabtu
- soalnya saya ada acara di klub. Saya
- bilang, "Saya ada undangan ini masih
- main klub terus masih minum. Tiap-tiap
- hari harus minum. Tiap malam tuh saya
- harus minum dua botol bir kecil baru
- bisa tidur. Kalau enggak enggak bisa
- tidur. Ee saya ke klub." Hah? Ke klub
- katanya Sabtu. Ngapain di klub? Enggak.
- Saya ada undangan, Bib. Harus hadir.
- Enggak enak ini ada teman gitu. Untuk
- moga-moga aja kamu enggak mati di klub
- katanya. Ya udah, enggak apa-apa, Habib.
- Doain ee minggu aja. Minggu ya. Sudahud
- minggu jam berapa? Jam 0.00 saya bilang,
- "Bip loh kenapa pagi?" Ya dari klub saya
- langsung saya bilang. Jadi habis habis
- ini klub kan jam 0.00 jam . kan itu
- enggak ganti baju langsung
- udah setengah mabuk lagi ini. Wah kok
- kenapa matanya merah? Enggak habis
- minum. Banyak nih Bib. Ya udah kamu
- mabuk ya? Ya sedikitlah Bib. Udah kamu
- ini dulu wudu dulu. Oh dia dia enggak
- ngerti wudu kata Habib. Dia kan belum
- paham wudu kan. Udah kamu mandi dulu.
- dikasih handuk disuruh mandi. Nah,
- begitu selesai mandi, nah baru disuruh
- duduk dipanggil dari Muhammadiyah persis
- sama ee petugas dari Kanwil Agama.
- Panggil langsung bilang, "Kamu sekarang
- syahadat ya?" "Ya udah, Bib. Mau apa aja
- terserahlah. Yang penting gua enggak
- dibantai sama kakek gua." Gua bilang,
- "Ya kan J ngomongnya kurang ajar."
- Betul. Enggak ada sopan santunnya. Udah
- udah sarapan belum? Udah. Eh, makan dulu
- dikit pingsan nanti kau nanti. K. Ah,
- mau diapain, Bib? Kok sampai pingsan?
- Enggak. Makan dulu. Disuruh makan. Udah
- itu sudah siap. Dikasih pakai baju koko.
- E pakai sarung kan belum belum paham.
- Pakai baju koko dikasih kopia. Sudah
- sekarang kamu saya islamkan ya. Saksinya
- banyak. Baca dua kalimat s.
- Begitu selesai baca dua kalimat
- syahadat, yang pertama keluar dari dalam
- hati saya adalah ada rasa ketenangan
- yang sangat luar biasa. Masyaallah.
- Tenang, damai, itu rasanya badan tuh
- ringan. Kalau enggak dipegang mungkin
- saya sudah melayang-melayang tuh.
- Ringan. Nah, habis itu sudah selesai
- baca syahadat nangis nangis air mata
- keluar. Malu saya kok bisa nangis. Habib
- bilang, "Kalau mau nangis, nangis aja.
- Enggak usah gengsi-gengsi, enggak ada
- yang peduli." Katanya, "Lumah nangis
- enggak apa-apa," katanya. Udah nangis,
- sudah nangis,
- udah sekarang sudah jadi Islam katanya.
- Nah, sekarang harus belajar salat.
- Belajar salatnya di mana, Bib? Bib
- enggak? Lu jangan manja-manja sama aku.
- Itu banyak masjid. Kamu pergi ke masjid,
- jangan ke klub lagi. Ya, mati lu nanti
- katanya.
- Lu pergi ke masjid, lu belajar tuh sama
- ustaz di sana. Kebetulan tempat tinggal
- saya dulu di Mangku Yudan, Bu. Heeh. Ee
- disuruh ke masjid. Terus saya bilang,
- "Bib, saya mau tanya nih, Bib. Apa
- kenapa, Bib, habis saya mengucapkan dua
- kalimat sadah saya kalau nangis? Saya
- jarang nangis loh, Bib. Saya ini orang
- kuat, Bib. Laki-laki kok nangis malu
- katanya. Lah enggak apa-apa. Kenapa kok
- nangis malu?
- Yang penting nangis bukan karena banyak
- hutang. Saya bilang, "Enggak, Bib. Saya
- enggak pernah berhutang, Bib." Ya udah.
- Ah, sekarang gini. Kamu kan sudah jadi
- Islam walaupun kamu masih statusnya
- mualaf, ya kan? Jadi nangisnya kamu itu
- dikarenakan selama
- ini jiwa kamu, roh kamu itu mau kembali
- fitrah, mau kembali ke Islam. Cuma
- badanmu ini bandel enggak mau selalu
- maunya ke klub enggak mau ke masjid.
- Jadi ketika jiwa kamu dan badan kamu
- bersatu, maka di situlah kebahagiaan
- dimunculkan. Lalu kamu jadi tenang, jadi
- damai. Paham enggak? Enggak, Bib. Loh,
- kok enggak paham? Ya, pokoknya saya cuma
- pengin tahu kenapa nangis. Ya, nangis
- itu adalah nangis kebahagiaan.
- Lihat enggak kalau misalnya ada ibu-ibu
- melahirkan setelah anaknya keluar dari
- rahim biasanya nangis. Kenapa? Ada dua
- sebab. Satu nangis karena capek. Kedua
- nangis karena bahagia.
- Bukan nangis karena biaya rumah sakit
- belum dibayar ya, Bu ya. Itu jadi
- artinya kan ini ada makna. Ya udah,
- sekarang kamu belajar Islam, pergilah ke
- masjid, belajar sendiri, enggak usah
- diajarin. Kamu pintar kok, katanya.
- Kalau kamu enggak pintar, kamu enggak
- sampai di sini. Allah sudah arahkan. Ya,
- sejak saat itulah saya mulai belajar
- yang namanya
- salat, mulai
- puasa lalu sunat, kemudian saya ee nikah
- ulang dalam Islam. Dan
- alhamdulillah 2 bulan lebih saya setelah
- saya masuk Islam, istri
- saya mengajukan diri minta supaya
- diislamkan juga. Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Padahal saya enggak mau.
- Ayo. Nah, kan lucu kan? Istri mau masuk
- Islam saya bilang, "Ei, lu jangan
- iku-itukan gua lu. Gua lagi spekulasi
- ini." Ya kan? Masuk Islam ini karena
- kakek ancam-ancam. Kalau gua enggak
- masuk Islam ini, lu mau ikut masuk Islam
- maksudnya apa? Apa lu benar dari hati
- atau lu cuma ikut-ikutan?
- Istri bilang, "Gua demen sama lu. Lihat
- lu punya gaya." Katanya, "Sejak lu mas
- mau Islam, lu sudah enggak minum." Heeh.
- "Badan lu selalu bersih.
- Luut udah berubah, sayang katanya."
- "Wah, pakai sayang
- lagi." Loh, kok jadi mesra ya kita ya?
- Artinya selama ini saya merasa suami
- saya itu udah kayak setengah setan
- sebetulnya. Cuma saya enggak berani
- protes. Tapi sekarang kamu sudah beda.
- Tutur katamu sudah bagus. Kamu sudah
- memunculkan sifat-sifat sebagai seorang
- suami. Makanya
- saya mau ikut masuk Islam. Berarti Islam
- ini tepat gitu. Nah, sudah beliau masuk
- Islam. Nah, ini ceritanya nih satu nih.
- Jadi, ikhwan akhwat, begitulah cerita
- Bung atau Koh Halim ini awal menjadi
- mualaf yang kemudian diikuti oleh
- istrinya yang oh ternyata dengan
- berpindahnya agama perilakunya lebih
- keren gitu. Nah, biasanya kan ada saja
- ee hambatan atau masalah yang muncul
- setelah terjadinya perubahan itu.
- Mungkin dari keluarga, mungkin dari yang
- lain. Kira-kira masalah apa yang pada
- saat menjadi mualaf itu kemudian datang?
- Ya, jadi kalau dilihat dari keluarga
- kami ee kalau saya pribadi dari keluarga
- orang Tionghoa asli ya. He itu enggak
- peduli. Yang penting jangan menyusahkan
- keluarga. Karena keluarga saya pada
- prinsipnya adalah bahwa lu akan dianggap
- berhasil kalau lu bisa kaya raya. Itu
- aja. Nah, sebelum lu kaya raya, lu
- jangan coba-coba bicara sama keluarga
- karena ujung-ujungnya nanti pinjam duit
- lagi, ya kan? Jadi hitungannya memang
- luar biasa. Nah, cuma yang berat itu
- adalah istri. Karena beliau ini kan ee
- marganya adalah marga Batak.
- dan keluarganya tidak ada yang Islam.
- Iya. Nah, ini memang tantangan. Jadi,
- artinya ee waktu itu keluarga belum tahu
- secara full bahwa dia itu sudah ee sudah
- kembali ke Islam gitu loh. Heeh. Jadi,
- itulah tantangannya. Tapi alhamdulillah
- ada satu kejadian yang cukup menarik
- yang mau saya ceritakan di sini adalah
- ketika neneknya meninggal, jadi dia
- sempat pulang ke kampung.
- Waktu itu saya tidak punya bekal apa-apa
- ya. Saya hanya bisa kasih ongkos. Lalu
- saya pikir bagaimana saya bisa
- mendampingi istri. He. Sedangkan duit
- pas-pasan hanya buat istri perjalanan
- pulang
- kampung. Dan saya khawatir ketika sampai
- di kampung mungkin dia akan mendapat
- tantangan. Akhirnya dengan ee ilmu apa
- adanya saya salat setiap malam. Salat
- malam ya. ya tahajud lah ya. Saya minta
- supaya Allah mengirimkan malaikatnya
- untuk mendampingi istri selama di
- kampung. Nah, ternyata istri setelah
- kembali kampung cerita kembali ke ke
- dari kampung cerita bahwa ee ketika dia
- sampai di kampung dia enggak berani
- salat. Padahal dia bawa tuh kena
- sajadahnya. Tapi suatu hari mertua saya
- ngomong, e ibu mertua saya
- ngomong, "Saya dengar kamu masuk Islam
- kok enggak pernah sembahyang kamu?"
- katanya. Masyaallah. Akhirnya dia salat
- dengan leluasa karena ditanya Zusul,
- "Kenapa enggak salat gitu loh." Nah,
- ketika kembali pun dia naik bus ya
- pulang dari Medan ke waktu itu saya
- tinggal di Bandung, pulang ke Medan. dia
- itu ee
- sempat ada satu perempuan ibu-ibu
- dampingin dia selama perjalanan sampai
- dekat ke Bandung. Ibu-ibu turun terus
- enggak ada lagi ibunya. Ibunya apa
- memperlakukan dia itu sangat luar biasa.
- Jadi semua diperhatikan barang banyak
- padahal enggak kenal ibu-ibunya. Nah,
- ini kejadian-kejadian ee gaib yang saya
- rasakan.
- Jadi, alhamdulillah akhirnya istri bisa
- ee terus ee terpelihara akidah dan
- tauhidnya gitu loh. Itu kurang lebih
- seperti itu. Jadi tidak ada lagi
- hambatan dari keluarga itu kurang lebih.
- Kemudian bisa bergabung dengan mualaf
- center. Heeh. Itu gimana ceritanya? I.
- Nah, kalau cerita mualaf center
- sebetulnya saya punya cita-cita begini
- karena saya melihat bahwa pengalaman
- mualaf ini kan unik. He. Saya termasuk
- beruntung karena tidak terlalu banyak
- masalah. Tapi terus terang saya katakan
- bahwa cobaan ujian yang Allah berikan
- kepada kita orang mualaf ini adalah
- tujuannya supaya kita kuat akidah dan
- tauhid. Kita sempat dicoba macam-macam
- sampai puluhan tahun kita masih
- mengalami cobaan dan ujian. Tapi
- alhamdulillah bisa kita ee hadapi dengan
- baik. Nah, segala sesuatu itu adalah
- tauhid dan akidah kita harus kuat. Nah,
- ini saya kan mau berbagi nih dengan
- mualap-mualf sekarang yang sangat
- dimanjakan. Mualap sekarang zaman saya
- dulu 2004 enggak ada mualap center. Jadi
- kita belajar di masjid semua tergantung
- kita. Kita belajar di masjid kita apa
- kalau muala-mula sekarang kan banyak
- sekali yayasan mualaf yang ngurusin
- mualaf itu enaknya luar biasa. Cuma satu
- hal ketika menjadi seorang Islam kita
- harus tahu bahwa syarat utama setelah
- syahadat itu adalah salat. enggak bisa
- di tawar. Tawar. Heeh. Itu. Nah, ini
- yang saya ingin berbagi. Akhirnya saya
- bergabunglah dengan teman-teman di
- Yayasan Mualaf supaya ikut ee memberikan
- sharing atau sebagai tempat curhatnya
- mereka. Kalau mereka mengalami peristiwa
- gini kan kita ngalamin. Jadi kita bisa
- kasih penguatan. Enggak usah khawatir.
- Karena ee pengalaman kita selama jadi
- mualaf kita enggak pernah yang namanya
- enggak makan. kita yang enggak pernah
- mengalami yang namanya enggak punya
- tempat tinggal, enggak punya baju, itu
- enggak pernah ngalamin. Tapi kalau soal
- kebutuhan, sesuai dengan kebutuhan
- memang dipenuhi. Tapi kalau mau lebih ya
- entar dulu. Tapi intinya kebutuhan beres
- saja. Jadi enggak usah khawatir
- sebetulnya. Nah, ini yang mau kita
- sharing kepada mualaf. Jangan takut.
- Artinya kita harus perkuat akidah dan
- tauhid karena itu satu-satunya senjata
- kita untuk kita terus di jalan Allah.
- gitu loh. Nah, itu kurang lebih seperti
- itu.
- Menghadapi mualaf-mualaf di mualaf
- center ini kebanyakan yang masuk Islam
- itu pria atau wanita sih? Ee variatif
- ya. Tapi rata-rata yang masuk Islam
- yang sebagian besar itu banyak yang
- karena pernikahan. Hm. Jadi menikah jadi
- suaminya mungkin belum Islam, akhirnya
- suaminya ikut Islam gitu. Rata-rata
- seperti kalau kita bicara akhwan, kalau
- kita bicara ikhwan biasanya ikut
- istrinya yang sudah Islam atau dia
- sendiri memang ada ee keinginan untuk
- masuk Islam. Jadi variatif. Saya
- sekarang e tanganin hampir puluhan
- mualaf ya. Rata-rata mereka masih ee
- masih berada di di rana masih mencari
- kehidupan. Jadi ekonominya memang masih
- diperbaiki. Kalau di dalam mempelajari
- agama Islamnya itu sendiri, para mualaf
- yang dibantu oleh ee mualaf center ini
- gimana? Ya, jadi ee kita kalau bimbingan
- itu kita
- lakukan. Namun saya bekerja sama dengan
- masjid. Jadi artinya gini, artinya
- masjid itu kan ada DKM ya. He. Jadi
- ketika si orang ini ee masuk Islam
- setelah kita syahadatkan itu kita
- serahkan kepada ketua DKMnya yang di ee
- domisilinya yang bersangkutan untuk
- dibina sambil kita monitoring aja gitu.
- Heeh. Jadi kita enggak bisa full ee
- bimbing mereka juga karena mereka di
- domisili yang ee berbeda gitu loh. Itu
- kurang lebih seperti tapi lebih banyak
- ke masalah curhat, masalah ngobrol,
- ngopi bareng. Tapi kalau akhwatnya
- khusus ada yang urus akhwat kita enggak
- campur. Jadi saya enggak mau
- menggabungkan antara perempuan dan laki
- karena ini jadi sasarannya iblis
- biasanya ya kita bisain aja gitu loh.
- Heeh. Jadi alhamdulillah masih jalan,
- masih jalan. Ngomong-ngomong nih karena
- kita mempersuasi orang-orang yang
- baru masuk bergabung sebagai mualafi
- ini. Ada enggak kesempatan untuk
- mempersuasi mereka merangkat umrah yuk
- atau haji?
- Ya.
- Ee kadang-kadang kita ada beberapa hal
- yang kita sampaikan kepada mualaf ini,
- tapi untuk masalah haji umrah belum ada
- kepikiran. Mereka hanya berpikir
- bagaimana ekonomi dia bisa lebih baik.
- Karena banyak yang menjadi mualaf justru
- sebelumnya sudah belangsatan. Orang
- bilang sudah kacau balau ekonominya. Dia
- masuk Islam dengan berharap bahwa dia
- bisa ekonomi bisa menjadi lebih baik
- gitu. karena ada dukungan dari Molab
- Center gitu loh. Ee ada sebagian yang
- seperti itu, tapi ada juga yang memang
- hidayah dia enggak peduli soal masalah
- apa-apa tapi dia tetap belajar, tetap
- belajar, tetap ee ngaji e terus ke
- masjid, salat dibenerin. Ada yang
- seperti itu. Tapi sedikit persentasenya.
- Sebagai seorang mualaf yang berada di
- mualaf center itu tentu banyak sekali
- kesempatan untuk melakukan hal-hal yang
- akan ee membantu banyak hal termasuk
- masjid. Kira-kira ee mualaf center
- membantu sesuatu di masjid-masjid
- tertentu jugaah. Nah, ini mualaf-mualaf
- sekarang ini timbul tenggelam. Heeh. Ah,
- jadi
- artinya maaf ya, kalau misalnya kita
- mengadakan acara yang sifatnya santunan,
- nah itu muncul semua. Nah, tapi sudah
- cerita ngaji sudah pada malas, pada
- enggak bener, pada enggak ikut belum.
- Artinya kan memang ini menurut saya ini
- adalah dinamika. Dinamika dalam
- perjalanan keimanan sekarang di ee
- seorang di dalam Islam. Karena Islam ini
- memang enggak bisa instan. Saya saya
- rasakan saya kita berjuang untuk bisa
- punya rumah aja itu butuh waktu sekitar
- 15 tahun. Iya. Hanya untuk mau punya
- rumah ya, rumah sendiri tidak ngontrak
- sana sini. Itu 15 tahun kita berjuang.
- Iya, baik dalam keimanan maupun dalam
- ekonomi. Nah, artinya memang ada
- etapa-etape yang harus dilalui oleh
- seorang mualaf itu, gitu. Tapi ini
- jangan takut karena pasti akan lebih
- baik. Nah, makanya banyak orang
- mengatakan ee ini jadi Islam ini repot
- loh ya. Salat lima waktu belum puasanya
- belum ini belum itu. Ini kayaknya repot.
- Nah, begitu repot saja kita masih ragu
- apakah kita memang layak nanti di di
- akhirat nanti kita bisa diloloskan.
- Gimana kalau cuma seminggu sekali kita
- ibadah? Apa enggak lebih parah tuh
- kondisi? Ini ada perbandingan seperti
- itu. Heeh. Gitu. Heeh. Iya. Ya. Setelah
- proses menjadi mualaf ini, kemampuan
- diri kita untuk mengendalikan ego kita,
- emosi kita meningkat atau bagaimana?
- Ceritain dong. Ya, jadi iman itu naik
- turun. Iman itu naik turun begini. Jadi
- kadang-kadang memang muncul tuh muncul
- iblisnya kita muncul. Jadi kepengin lagi
- digoda lagi. Kepengin kayak dulu ya kan
- ee kepengin lagi ee belangsatan. Cuma
- alhamdulillahnya yang bisa membuat kita
- meredam itu yaitu salat. Nah, ketika
- kita salat, ketika kita mulai ee apa ee
- wudu itu mulai itu bisa kita kendalikan.
- Jadi memang poinnya itu
- adalah kita harus salat. Jadi enggak ada
- tawaran bagaimanapun kita tetap harus
- salat. Itu adalah udah hal yang harus
- enggak bisa ditawar. Enggak bisa
- ditawar. Enggak ada salat percuma kita
- bicara mau apa pun enggak ada gunanya.
- Ikhwan akhwat, kehadiran Bung Halim atau
- Santoso Halim ya aslinya Santos So
- Halimli sebagai tamu kita di Hijrah Talk
- mudah-mudahan mempersuasi kita semua dan
- perjalanan mulai dari kecil sampai
- dengan sekarang itu kalau dibayangkan
- bukan hal yang sederhana apalagi dengan
- gambaran yang tadi kita simak. Tapi kita
- akan lanjutkan menyimak apa yang bisa
- kita dengar setelah jeda
- berikut. Brail TV.
- Terima kasih masih tetap bersama Rasil
- untuk Islam yang satu di acara Hijrah
- Talk yang menghadirkan Bung Halim atau
- Koh Halim yang rasanya e ee banget ya.
- Nah, kalau bicara soal jadi mualaf tadi
- di umur 4 40 berapa? 41 ya. 41 41
- baru masuk Islam. He padahal urusan
- khitan kan katanya cuma di Islam ya
- sementara. Jadi itu waktu itu belum
- dong. Belum. Terus ya enggak takut ada
- ceritanya. Ah mau
- dengerin gimana? Gimana ya? Jadi
- ee
- ketika sudah dianggap ee baik oleh istri
- lalu saya mulai berpikir kan ini saya
- mau itu waktu itu sudah mau masuki bulan
- suci Ramadan. Pada saat saya saya
- mengucapkan dua kalimat sadar itu. Jadi
- beberapa bulan lagi masuk ee apa ee
- bulan suci Ramadan. Saya pikir ada yang
- kurang nih di diri saya. Apa ya masalah
- sunat ya? Terus terang sunat itu
- merupakan satu hal yang cukup menakutkan
- bagi kita yang non Islam ya. Terutama di
- Buddha-Buddha ya enggak boleh mas
- sembarang potong tu enggak boleh ya kan.
- ee di sedangkan di Katolik sendiri juga
- tidak diajarkan soal sunat bukan hal
- yang wajib dan tentu masalah sunat ini
- akan menjadi satu masalah yang cukup
- krusial
- karena ada operasi kan pikiran begitu.
- Nah, oke. Ee kemudian saya sempat
- hubungi salah satu ulama di Jogja.
- Beliau juga sudah meninggal. Namanya
- almarhum Ustaz Fani. Beliau ada dari
- Muhammadiyah yang selama ini selama saya
- masuk Islam itu ee beliau bimbing saya
- dalam hal ee ee iman dan akidah dan
- tauhid. Saya tanya ke
- beliau, "Saya mau sunat."
- Kaget. Ustaz Fanani kaget. Kamu sudah
- usia begini masih belum sunat? Ya
- belumlah. Saya kan dulu pindah-pindah
- agamanya dari Katolik, kemudian dari
- Buddha, cuma Hindu aja belum pernah
- ngerasain kan. Heeh. Heeh. Terus gimana
- ini bagusnya? Ya sudah kalau gitu ee
- kita atur, kita
- sunat. Nah, udah saya dibawa ke tukang
- hitan yang cukup terkenal di Jogja.
- Mungkin semua orang Jogja tahu itu, Pak.
- Siapa gitu namanya. Nah, begitu saya ke
- sana sudah siap-siap ke sana. Begitu
- saya masuk pintu, waduh saya lihat ada
- salib sama Yesusnya gede banget di di
- ruang tamunya. Kaget saya. Saya bilang,
- "Waduh, jangan ini balik lagi saya kalau
- begini caranya. Cari yang lainlah yang
- agak sedikit ee apa netral gitu loh.
- Rumah sakit misalnya. Loh, kok jadi
- begini?" Katanya ini kan enggak masalah
- katanya. Mau dia keyakinan apapun yang
- penting dia melaksanakan tugas. Ya tapi
- saya enggak bisa. Saya bilang, "Saya
- merasa saya kembali lagi ke masa lalu
- nanti." Saya bilang, "Ya sudah, akhirnya
- dicarilah di Rumah Sakit Muhammadiyah
- Ahmad Dalan di ee Jalan Ahlan." Waktu
- itu saya sudah pindah ke Kauman karena
- saya sudah kerja dengan Sultan waktu
- itu. Sempat saya bekerja sama Sultan 4
- tahun waktu itu. Sultan Habeng Guono
- 10.
- Nah, disunatlah, diaturlah waktunya.
- Nah, memang cerita hitan ini memang
- cerita yang cukup cukup apa menarik
- untuk kita bahas sebetulnya ya. Memang
- saya agak kulucu juga ya karena udah
- seusia segitu ya. Ee sedangkan kita
- belum tahu apa-apa akhirnya saya
- dimasukkanlah ke ruang operasi. Nah, di
- ruang operasi itu dinginnya luar biasa,
- Bu. Itu sampai gemeter, Bu. Dan saya
- disuruh
- disuruh telanjang sebelah bawahnya kan
- terus cuma dikasih kain tipis. Waduh,
- ini dingin sekali ini. Luar biasa. Nah,
- dokternya masuk. Dokternya bilang, "Wah,
- ini ini yang mau disunat ini udah tua
- sekali. Harus pakai
- gergaji enggak bisa pakai pisau-pisau
- biasa. Kalau begini katanya, waduh ini
- dokternya bercanda, Pak. Pasti saya
- percaya bahwa itu sampai kayak begitu
- karena kita
- yakinnya dalam hati ini kok pakai
- gergaji apa mau potong kaki atau apa
- gitu." Ya udah katanya siap-siap aja
- dibuka dikasih lihat.
- Begitu dikasih lihat, "Ini kok enggak
- ada katanya. Mana ini kok hilang?"
- katanya. Oh, mungkin dingin kali, Dok.
- Sembunyi. Masih bisa bercanda. Padahal
- sudah ketakutan itu. Akhirnya
- diputuskanlah disunat. Nah, setengah
- sunat itu masuklah beberapa mahasiswi
- sama misiswa yang lagi KKN. KKN.
- Dikasih tahu sama dokter, "Dok, ah ini
- coba lihat ya. Inilah bentuk daripada
- sesuatu yang sudah usia 40 yang mau kita
- babat nih sekarang katanya astagfirullah
- saya malunya minta ampun waktu itu
- sangat malu karena malu ya takut ya malu
- ah disunat loh saya tanya sama dokternya
- dok ini sembuhnya berapa lama ah
- seminggu juga kelar katanya 3 bulan saya
- enggak bisa jal Bu heeh saking takutnya
- it bulan saya pakai
- sarung luar biasa nah lewatlah itu Masa
- sunat itu beres hampir du ham sampai
- hampir 3 bulan enggak sampai 3 bulan
- akhirnya selesai bersih kemudian
- masuklah bulan suci
- Ramadan. Nah ini istri kan belum pakai
- jilbab masihlah gayanya masih gaya
- sedikit
- gaya-gaya lagi mau tanktop sudah agak
- mending ya masih enggak sering pakai
- tapi belum ngerti hukumnya. Iya. Iya.
- Nah, suatu
- hari meninggallah Ustaz
- Fanani. Kami dikasih tahu waktu itu kami
- sudah pindah lagi ke Jakarta dikasih
- tahu bahwa Ustaz Fanani sudah meninggal,
- istri datang he berkunjung ke kuburannya
- beliau. Nah, ternyata kuburannya Ustaz
- Fanani itu sangat sederhana. Tidak
- dipakaiin keramik, hanya dikasih satu
- papan saja. hanya namanya saja. Di
- situlah
- istri merasa
- bahwa kalau sudah meninggal ya begini
- kondisinya. Mungkin di situlah istri
- merasa
- bahwa dia mau lebih benar dalam
- melaksanakan agama Islam sebagai seorang
- muslimah. Akhirnya dia bilang, "Saya mau
- pakai jilbab." Nah, waktu itu pulang ke
- Jakarta dia sudah pakai jilbab. Ya,
- pakai jilbab tuh. Baju-bajunya banyak
- tuh yang harus dibuang. Harus enggak?
- Pertama gini sayang ya katanya kita
- kasih orang aja. Saya bilang kasih orang
- sama negara kita jelumusin orang kan.
- Udahlah mending dibuang-buangin aja.
- Udah ada sebagian kita bakar, kita
- bakar, kita buang. Beres. Nah,
- alhamdulillah sampai hari ini istri
- tetap istikamah dalam berjilbab. Dan
- juga putri saya waktu itu kita
- menikahnya cepat dan kemudian kita
- hampir 9 tahun
- nunggu Allah percayakan kita untuk
- seorang anak. Akhirnya lahirlah seorang
- anak. Dan hari ini
- alhamdulillah ee anak saya putri umur
- sekitar 13 tahun itu sudah pakai jilbab.
- Alhamdulillah sekolah di sekolah Islam
- dan sudah bisa baca Al-Qur'an. Jadi
- alhamdulillah. Nah begitulah sebetulnya
- keindahan dalam Islam. Iya. Jadi kita
- tidak merencanakan, kita hanya menuruti
- apa yang ditakdirkan Allah. Sebetulnya
- itu paling aman. Jadi enggak perlu pakai
- rencana kita karena rencana kita pasti
- enggak sempurna. pasti ada
- kekurangannya. Nah, Allah berkehendak
- yang luar biasa sehingga putri kami
- sehat saat ini bisa baca Quran dan
- sudah pakai jilbab gitu. Alhamdulillah
- 20 tahun sudah berarti di dalam ranah ee
- Islam ini 22 tahun. 22 tahun.
- Ngomong-ngomong ngajak saudara-saudara
- untuk juga jadi mualaf enggak? Iya.
- Jadi kami berusaha ee apa e mengajak
- saudara-saudara dengan akhlak. Jadi
- mungkin mereka agak sulit ya kalau
- diajak untuk masuk Islam karena mereka
- menganggap bahwa apa yang mereka yakini
- itu sudah paling bagus. Tapi
- alhamdulillahnya Allah mudahkan kami
- dalam segi ekonomi sehingga kita bisa
- membantu mereka dalam segi ekonomi
- sehingga mereka merasakan keberadaan
- kita sebagai orang muslim ternyata
- banyak membantu. Nah, itu
- alhamdulillahnya kita. Jadi sampai hari
- ini memang saudara-saudara belum ada
- satu pun yang ee
- bersad moga-moga Allah berikan hidayah
- karena kita hanya bisa berusaha ya itu
- yang penting adalah kita jaga akhlak
- kita. supaya mereka bisa menilai Islam
- dari akhlak kita gitu loh. Itu aja yang
- Allah berikan kemudahannya kepada kita
- gitu. Ketertarikan dan keinginan untuk
- mempelajari Islam lebih dalam itu kan
- ini 21 tahun ya. Itu sejak berapa tahun
- berada di ranah ini? Ee sejak 10 tahun
- terakhir. 10 tahun terakhir iya. Baru
- saya mulai full ini saya ambil pensiun.
- He. Jadi pada saat saya sudah masuk
- pensiun, saya memang ambil pensiun.
- Kemudian ee saya mulai ee dakwah ee
- salah satunya dengan channel Kohal Halim
- TV. Saya muncul setiap hari Senin, Rabu,
- Jumat. He. Ee saya memberikan sedikit ee
- bukan tausiah tapi ee sharing beberapa
- pengalaman. Ee sekarang subscriber saya
- lumayan cuma berapa bulan dapat sekitar
- 7.000-an.
- Keren. Jadi, Ikhwan coba simak apa yang
- disajikan di Kohalim TV. Iya, Kohalim
- TV. Hah? Ko Kohalim
- TV. Nah, ini semua tentu saja kalau tadi
- sebetulnya saya ingin tanya deh terkait
- lagi dengan yang tadi sudah ditanyakan.
- gimana mulai mampu mengendalikan egois
- kita yang karena di samping sudah umur
- nambah dan pengalaman menghadapi
- kesulitan demi kesulitan di dalam proses
- perjalanan sebagai mualaf ego tuh
- diapain sih mestinya biar dia kalah gitu
- ya jadi gini ee seperti tadi saya
- jelaskan bahwa iman kita ini kan naik
- turun naik turun artinya ada di satu
- saat kita di titik terendah ada satu
- saat di titik tertinggi. Tapi senjatanya
- cuma satu. Ketika ego itu sudah mulai
- muncul, He
- cepat-cepat
- wudu salat dua rakaat. Oh, jadi ilmunya
- itu tipsnya adalah wudu salat. Salat.
- Sudah begitu
- wudu kemudian salat insyaallah maka
- insyaallah beres. Apa tertekan kita
- punya ego. Kenapa? Masalahnya adalah
- kita jarang sadar ket kita ini lagi
- egois gitu. Betul. Tapi intinya ego itu
- muncul ketika kita mulai ada
- ciri-cirinya seperti kita sudah merasa
- diri kita paling benar ya kan terutama
- di keluarga apalagi sudah pensiun ya kan
- ketemu terus sama istri kan. Nah
- kadang-kadang istri ee ngomel misalnya
- kita merasa oh kenapa saya diomelin saya
- kan kepala keluarga. Nah itu juga muncul
- tuh. Eh kalau istri ngomel itu kan
- perempuan memang perlu 30.000 kata sat
- hari sementara pria cuma R.000. Jadi
- boleh dong. Jadi kalau kita sudah
- pahamin itu akhirnya ee omelan dia
- seperti lagu lah ya. Jadikan lagu aja
- udah jadi enggak perlu terlalu pusing
- gitu loh. Heeh. Ngomong-ngomong nih
- dengan keberadaannya di mualaf center
- tadi, apa sih yang dilakukan untuk
- mensejahterakan masjid-masjid yang
- taruhlah di dekat di sekitar kita
- tinggal? Ya. Jadi kalau muab center
- sendiri sebetulnya ee ini kan ee tidak
- ada ee donasi atau tidak ada apa-apa.
- Jadi kita masih mengandalkan kemampuan
- kita untuk ee membina mualaf ini. Nah,
- masjid-masjid sekarang ini juga
- sebetulnya juga ada beberapa masjid yang
- konsen juga mau bantu mualaf. Jadi
- artinya kalau misalnya mualaf itu memang
- ee bisa diajak untuk ee mungkin
- pekerjaan itu mereka juga mau bantu gitu
- loh. Jadi ya harus memang kerja sama
- dengan masjid-masjid. Nah, cuma kalau
- perannya mualaf terhadap masjid hingga
- hari ini belum ada gitu. Karena
- masjid-masjid sekarang kalau dia memakai
- e misalnya marbot ya kita bicara marbot.
- Marbot kan punya dasar. Sedangkan mualaf
- ini kan baru berarti belum juga masuk ke
- rana itu gitu loh Bu. Heeh. Iya tapi ke
- depan insyaallah ya. Insyaallah ke
- depan. Heeh. Yang di sini yang
- diperlukan modal kemauan kan untuk
- membantu mengembangkan masjid. Betul.
- Iya. Apalagi dengan wakaf air belakangan
- ini kan sedang ngetren tuh. Heeh. Untuk
- masjid-masjid tertentu. Nah, siapa tahu
- memang diperlukan di sekitar kita di
- yang ada masjid. Karena kalau orang suka
- mampir karena apa? Musafir ya itu kan
- perlu juga minum dan segala macam. Nah,
- banyak sekali masjid yang berusaha untuk
- ya sudahlah kalau sekedar air aja mari
- kita sediakan untuk yang mampir gitu.
- Heeh. Mudah-mudahan sih ya. Ya. Kita
- masih punya waktu. Bisa ceritain enggak
- satu hal yang membuat alhamdulillah gue
- ada di sini sekarang di Islam. Heeh.
- Bagian tertentu apa itu? Ya sebetulnya
- gini, sebetulnya kalau kita bicara bahwa
- saya hari ini bisa jadi seorang muslim
- kembali menjadi Islam bukan rencana.
- Jadi tidak ada rencana. Intinya ini
- semua adalah kadar. Semua adalah takdir
- Allah. Jadi ee intinya ketika kesempatan
- ini sudah ada, nah kita harus manfaatkan
- baik-baik. Kalau kita sampai mengingkari
- lalu kita pindah sana pindah sini,
- ujung-ujungnya nanti kita bingung
- sendiri. Iya. Sebetulnya tujuan hidup
- itu apa. Nah, kalau saya pelajari agama
- Islam, tujuan hidup itu cuma satu, yaitu
- kita takwa pada Allah. Itu saja ya.
- tugas kita itu tugas kita hidup itu
- adalah itu bukan tugas hidup kita itu
- supaya kita punya keluarga kemudian
- punya mobil banyak rumah banyak itu
- hanya urusan dunia sampingan yang paling
- penting adalah kita ya memuji Allah kita
- ibadah sama Allah itu saja kalau kita
- sudah pakai itu sebagai pedoman
- insyaallah yang lain-lain akan
- terpenuhi ah kita harus tulus bahwasanya
- ibadah sama Allah. Nah ibadah itu apa?
- Salah satunya salat. Kenapa saya selalu
- tekankan salat? Karena banyak mualaf
- yang masih bolong-bolong salatnya. Nah,
- ketika salatnya bolong, enggak rutin,
- akidahnya enggak beres, tauhidnya enggak
- beres, akhirnya apa yang terjadi? Dia
- terkatung-katung. Islam sebetulnya juga
- terserah Anda, kan ee sudah dikasih,
- sudah di sudah ditunjukkan jalan,
- silakan pilih. Kan begitu. Heeh. Itu
- loh. Iya. Jadi lagi-lagi salat adalah
- utama. Salat adalah utama. Dan kalau
- memang itu kita tinggalkan, berarti
- hutangnya, hutang salatnya itu yang
- harus diupayakan. Sudah diupayakan.
- Ikhwan akhwat,
- emm Kohal Halim ini aci tahu enggak? Aci
- anak dari orang Aceh, Cina, dan India
- ya.
- Nah, ini kita di penghujung yang
- mengesankan selama proses perjalanan
- menjadi mualaf yang paling mengesankan
- sehingga kalau perlu digenggam erat
- dibagikan ke yang lain biar bisa
- memotivasi dan mempersuasi orang. Apa
- yang paling mengesankan? Iya, yang
- paling mengesankan adalah bahwa Allah
- kita satu
- tauhid dan akidah kita jelas apa? Lima
- rukun Islam. Enam rukun iman itu saja
- dipegang baik-baik, jangan lepas. Lima
- rukun Islam apa? Syahadat, salat, puasa,
- zakat. Punya duit naik e naik haji ke
- Makkah. Lalu masuk rukun iman. Enam
- rukun iman, percaya pada
- akhirat itu dan lain-lain. Dan itu sudah
- harus dipegang kuat-kuat. Jangan
- dilepas. Jangan dilepas. Jangan dilepas.
- Menurut dikau yang paling berat yang
- mana nih di antara 5 dan 6 tadi? Salat.
- Kelihatannya sederhana ya akhwat ya.
- Tapi justru tantangannya. He itu
- tantangan kalau bisa sebelum azan sudah
- wudu. I tambah berat. E tambah berat.
- Salat yang dinilai sama Allah itu adalah
- niat. Contohnya salat subuh. Salat subuh
- itu adalah hal yang berat pada ringan.
- Ketika azan belum berbunyi atau
- menjelang mau azan kita bangun. Nah,
- perjuangan bangun itu yang dinilai sama
- Allah. Bangun enggak lu? Nah, sampai ada
- yang kasih tips dulu. Ada yang kasih
- tips supaya nanti kamu sudah bangun
- jangan sampai kamu tidur lagi. Usap
- wajahmu tiga kali baca Allahu Akbar.
- Sampai begitu orang pakai tips supaya
- jangan sampai tidur lagi. Karena
- biasanya salat itu akan jadi loyo, akan
- jadi terhambat gara-gara apa? Entar lagi
- deh kan masih ada waktu 5 menit lagi.
- Tahu-tahu kebablasan kalaupun jam .
- pagi. I itu tadi kan ada Kohalim TV.
- Iya. Koalim TV untuk urusan ee
- aplikasi-aplikasi yang lain yang akan
- mempersuasi orang yang nonton dan apa
- gitu. ada punya yang lain TikTok gitu
- atau apa? Oh, ada komplit. Jadi, eh
- Kohalim TV itu termasuk di TikTok juga
- ada. Kemudian di ee YouTube-nya ya
- Kohalim TV ada TikTok-nya, kemudian ada
- Instagram-nya juga ada. Jadi kalau akses
- di Kohalim TV itu sudah ada masuk semua
- sudah bisa dilihat gitu. Banyak yang
- bisa dipelajari dari situ. Ee moga-moga
- ini menjadi inspirasi aja dan motivasi
- gitu loh. Oke, Ikhwan Akhwat, kita sudah
- di penghujung. Jadi closing
- statement-nya terkait dengan hijrah apa
- nih? Heeh. Ya, artinya acara ini sangat
- baik. Kemudian ini juga bisa menjadi
- inspirasi. Moga-moga bisa terus
- dipertahankan hijrah ini. Dan ini kan
- pertama kali saya di ee Rasil TV ya.
- Moga-moga kita bisa bertemu lagi di
- acara yang lain dan juga kita berharap
- bahwa mari kita doakan semoga Rasil TV
- ini bisa tetap istikamah, diberikan
- kemudahan sama Allah. Kemudian juga ee
- para petugasnya ya bisa dikuatkan
- imannya ya kan diluruskan niatnya
- kemudian semuanya bisa dalam ee apa
- dalam jalan Allah ya itu yang kita
- harapkan dari situ.
- Terima kasih Koh Halim dan juga ikhwan
- akhwat yang bersama-sama rasil pada
- acara hijrah TQI ini. Mudah-mudahan kita
- semuanya bisa belajar banyak tentang
- sabar, tentang ego, tentang hal-hal yang
- pasti dihadapi oleh kita semua yang bisa
- jadi merupakan PR seumur hidup ya. Baik,
- sekali lagi terima kasih. Billahi taufik
- wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.