Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail TV. 0:13 Bismillahirrahmanirrahim. 0:15 Asalamualaikum warahmatullahi 0:16 wabarakatuh. 0:17 Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad 0:19 wa ala ali sayyidina Muhammad. 0:21 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 0:23 ini hari Rabu tanggal 16 Muharam 1448 0:26 Hijriah atau tanggal 1 Juli 2026 kita 0:30 jumpa lagi dalam acara Hijrah Talk ya. 0:34 kami menghadirkan ada tiga narasumber 0:37 ini. M ada Anjas Uda Anjas ini dari 0:42 Yayasan Inspirasi Quran Berbagi. 0:46 Kemudian ada Iwan Setiawan, Sekjen dari 0:50 Arimatea. 0:51 Ee kemudian juga mm ee ada 0:58 Bapak Herianto 1:00 seorang mualaf ya yang hadir di sini. 1:03 Ya, nanti kita dengar ceritanya 1:06 sini. Tentu saja ada Neza, Nezah dan 1:10 Algi. Asalamualaikum Ustaz Iwan. 1:13 Waalaikumsalam. 1:14 Bunda Anza, Bunda Anjas dan ya Mas 1:17 Harianto. Asalamualaikum. 1:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:20 wabarakatuh. 1:21 Ini saya minta bantuan sama Mas Iwan 1:24 terus Ustaz Iwan ya untuk menghadirkan 1:27 para mualaf nih. Ini bisa cerita sedikit 1:29 tentang Harianto dulu de pengantar dari 1:32 Ustaz Iwan. Ya, 1:33 siapa ini? 1:35 Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Ee Pak 1:37 Herianto ini teman saya waktu kuliah 1:39 dulu 1:40 ya 1:40 di Malang. 1:41 Di Malang. Ketika itu kuliah kami di 1:42 Malang ITN Malang ya, Institut Teknologi 1:45 Nasional Malang. 1:47 Sama-sama jurusan Teknik Sipil tapi saya 1:49 S1. Beliau S ee D3. 1:52 Hm. 1:52 Nah, jadi kenal memang di jurusan kita 1:55 itu beliau ini seorang mualaf gitu kan. 1:58 Ee sudah dan alhamdulillah satu kos 2:00 dengan saya. ada kisah-kisahnya yang 2:02 memang menurut saya bagus untuk 2:04 diangkat, 2:05 cuma selama ini dia gak mau dipublikasi 2:08 karena mungkin privat katanya gitu kan. 2:10 Cuma kemarin mungkin pas momennya saya 2:13 ajak tolonglah bahwasanya ini kesempatan 2:17 untuk memberikan edukasi. Bukan kita mau 2:19 sok atau gimana ya, tapi edukasi kepada 2:21 umat Islam. Ada sebuah kisah yang 2:23 mungkin bisa di 2:26 ee di apa ya di sharing lah buat umat 2:29 gitu. H 2:30 ya sudahlah apalagi [tertawa] di grup 2:31 kita ada grup anak kos-kosan itu masih 2:34 sampai sekarang ya 2:35 sudah berapa puluh tahun kami berteman 2:37 gitu kan lebih dari 20 tahun 2:40 nah semua support deh berbagi kisah 2:43 [tertawa] 2:44 Masanto nih katanya orang enggak senang 2:46 ngomong ini ya oke Mas barangkali bisa 2:49 diceritakan sedikit gimana nih 2:52 warahmatullahi wabarakatuh silakan 2:53 Masantalaikumsalam warahmatullahi 2:55 wabarakatuh 2:56 e saya alhamdulillah Ya, saya masih 3:01 diberi kesehatan sama Gusti Allah. 3:03 Mungkin pada hari ini teman saya Iwan, 3:07 Ustaz Iwan ini mengajak saya untuk 3:09 berbagi cerita. 3:10 Iya. mungkin di usia saya masih ada, 3:14 saya akan memberikan suatu cerita 3:17 seperti apa ee 3:20 suka dukanya kita 3:24 sebagai orang yang awalnya berkeyakinan 3:27 bukan Islam, terus akhirnya kita mencari 3:30 kedamaian, akhirnya berlabu di agama 3:33 Islam. Hm. 3:35 Saya ini tahun 94 itu 3:40 bulan Mei. 3:41 Heeh. 3:41 Kalau enggak salah tanggal 8. 3:43 He. 3:44 Itu 3:47 saya ee 3:50 syahadat. 3:51 Iya. Di 3:52 tetapi di Pasar Minggu. 3:54 He. [berdehem] 3:55 Tetapi kalau misalkan saya tarik mundur, 3:58 tidak semudah itu yang saya 4:00 hmm 4:01 sahadat langsung sahadat langsung 4:02 diterima. 4:04 sama orang yang ee mengawal saya. 4:07 Iya. 4:08 Nah, saya sudah mulai tertarik dari 4:11 Islam itu karena saya tersentuh dengan 4:16 satu 4:17 ee surat di Al-Qur'an, tetapi saya 4:20 enggak paham apa nama suratnya. 4:22 Tetapi 4:24 sebelum saya hafal itu saya enak sekali 4:27 dengarnya. 4:27 Hm. 4:28 Nah, kebetulan dari rumah saya tinggal 4:30 tuh di era Pasar Minggu. 4:32 Heeh. 4:33 itu Gang Langgar 2 itu ee pembuktian 4:35 padat. Jadi ada musala 4:37 kami keluarga Manado he 4:40 ee satu-satunya keluarga yang di situ 4:43 yang beragama Kristen. Kami juga 4:45 termasuk dilindungin 4:46 sama warga setempat. 4:48 Nah, terus kalau misalkan salat magrib 4:51 itu biasanya ada satu surat yang 4:53 dibacakan setelah al-Fatihah. 4:55 Imamnya ini. 4:56 Iya. Ternyata kalau didengar itu enak 4:58 sekali 5:00 seringkiali gitu. Sedangkan dulu waktu 5:02 itu saya Kristen. 5:02 Waktu didengar itu saya langsung ngerti 5:04 artinya enggak? 5:05 Tidak. 5:05 Enggak ngerti. Cuman 5:06 enggak ngerti. Tapi kok enak ya lagu apa 5:08 bukan lagu apa syairnya gitu. Nah, terus 5:10 akhirnya saya 5:11 kalau ke mana pun misalkan saya ke rumah 5:14 teman atau sekolah ataupun e ke rumah 5:16 teman gitu ya atau main gitu. Kalau 5:18 dengar surat itu 5:20 saya berhenti enak sekali. 5:23 Ternyata 5:25 ee saya itu ditinggal sama nenek saya. 5:29 Heeh. 5:30 Meninggal. Iya. 5:31 Sebelumnya saya memang tinggal sama 5:35 nenek karena saya termasuk keluarga 5:38 broken. 5:40 Ini agak agak lama nih ceritanya. 5:42 Enggak apa-apa. Silakan. Silakan. 5:43 Nah, setelah itu sebelum nenek saya 5:46 meninggal itu kami keturunan Chines. 5:48 Iya. 5:49 Nenek Chinas Tiongkok asli. 5:52 Kami keturunan Manado. Ee saya mayoritas 5:57 Nasrani bukan Katolik. 5:59 semua nasrani kakak, kakak orang tua 6:02 semuanya, adik pun terus sebelum nenek 6:05 saya meninggal ini ada pesan 6:07 tapi kita enggak sadar kalau itu adalah 6:10 pesan nenek mau meninggal itu 6:12 masih lama belum ee sekitar dia berapa 6:14 bulan 6:15 nenek saya bilang kalau kamu Islam ya ke 6:18 ee ke masjid 6:20 kalau kamu Kristen ke gereja 6:22 kalau kamu Buddha ya ke pure. 6:25 ya ke tempat ibadahnya. Jadi harus punya 6:29 identitas atau agama di situ. 6:32 Nah, Laun cerita lagi setelah nenek saya 6:34 meninggal 6:36 itu 6:39 saya dimimpiin. 6:41 Mana mana saya? 6:46 Saya tuh kecil di mimpinya tuh saya 6:49 kecil 6:51 karena saya tinggal sama beliau. 6:55 Saya ingat kata-katanya, tapi saya 7:01 apa ya? Merasa kecil, gelap, hitam, 7:04 gelap. 7:06 Itu 7:08 ada yang salat terang itu. 7:11 Hm. 7:12 Terang. 7:14 Ada yang salat, "Nenek saya, 7:18 nenek saya beragama kungcu." 7:21 Heeh. 7:23 nenek saya tidak kenal Islam. 7:26 H. 7:27 Terus saya ingat pesannya beliau 7:31 ee [berdehem] 7:34 mimpi itu tuh ee enggak berturut-turut. 7:37 Tapi berapa hari kemudian lagi saya 7:41 mimpi dengan yang sama. 7:43 Berapa hari lagi 7:48 saya juga mimpi yang sama. 7:50 Hm. 7:51 Terus akhirnya 7:54 saya ini termasuk setelah saya 7:56 kehilangan nenek saya, 7:59 saya masuk kategori anaknya bandel. 8:03 Saya tidak punya keluarga, saya tinggal 8:05 nenek. Akhirnya kami di ee ditinggal 8:09 sama om-om dibagi. 8:12 Ah, saya tidak ada yang ngawasin lagi. 8:14 Jadi saya terutama ee bandel. 8:17 Terus di situ saya punya kenalan teman. 8:20 Kenal teman 8:22 banyakan muslim. Saya tanya 8:25 itu waktu itu sekitar tahun 93 8:28 92 8:30 saat saya masih 8:32 ee SMP. 8:35 Nah, itu saya tanya kok begini-gini 8:38 terus saya suka sama ini. Ada teman saya 8:41 namanya 8:42 sampai sekarang dia jadi saksi saya. 8:44 H 8:45 saya sahadat. 8:47 Ada teman saya namanya Muhammad Ayyubi. 8:49 H. 8:51 Yang kedua lagi Agus Fainal. Yang saya 8:54 panggil itu Dabo panggilannya. 8:58 Dulu tuh kita pakai nama-nama samaran 8:59 gitu. 9:00 Nah, itu Ayub ini termasuk Pak ee teman 9:03 saya Ayub ini 9:06 dia orang Cirebon. Orang tuanya sangat 9:10 ketat. Kalau misalkan habis magrib pasti 9:12 harus salat 9:12 ngaji. 9:13 Ada pengajian menjelang ee isya. Nah, 9:16 itu terus akhirnya saya sering kumpul 9:18 sama dia karena saya sudah berani nginp 9:21 gitu. Terus asik gitu. Terus akhirnya 9:23 saya tanya, "Saya suka surat ini apa ya? 9:26 Apa bacaan ini gitu." 9:28 Terus dia bilang, "Ah, entar aja lah 9:32 atau bagaimana." Dianggap. Saya akhirnya 9:33 saya tanya sama bapaknya almarhum Pak 9:35 Samet. He. 9:37 Terus akhirnya dia bilang, saya sering 9:39 tanya akhirnya dia bilang, "Mau mau 9:41 dengar katanya saya bacakan yang baik 9:44 katanya." dibacakan sama dia terus 9:45 pengin tahu artinya. Ternyata artinya 9:49 sedikit agak menyentuh tertarik 9:51 bukan menyentuh tertarik artinya bahwa 9:53 Tuhan itu tidak dilahirkan atau 9:55 melahirkan 9:56 bahwa Tuhan itu esa. 9:59 Nah, itu agak sedikit saya tertarik 10:01 karena bertolak belakang sedikit sama 10:04 agama yang saya yakini. 10:05 Akhirnya 10:07 saya mulai mempelajari sedikitsedikit 10:10 sedikit tanpa orang tahu niat dan tujuan 10:13 saya. Saya cuman pengin tahu itu Islam 10:15 tuh seperti apa sih gitu loh. Tapi saya 10:17 tertarik dengan Islam tuh dengan dama 10:19 saat dia salat hening, 10:23 bersih dengan wudu, baju dengan sopan 10:27 yang bisa dikatakan aura tertutup. itu 10:30 yang saya anggap tuh keningan mereka itu 10:35 tanpa 10:37 suatu alik 10:39 tanpa suatu orang berteriak 10:41 bernyanyi-nyanyi tetapi mereka 10:44 berbisik di tanah sujud itu yang saya 10:47 suka akhirnya saya memperdalam 10:51 ee mencari yang bisa saya ajak ngobrol 10:54 tentang Islam 10:55 tidak mudah itu. 10:57 karena saya juga ee apa ya usia masih 11:03 belasan ya. Terus yang kedua, tapi saya 11:06 di situ dari kecil memang saya dituntut 11:09 dari keluarga berpikir keras karena kami 11:11 tidak keluarga, tidak kumpul dengan 11:12 keluarga. Jadi sensitif kami, adik kakak 11:17 kami, saya itu sensitif dengan 11:20 pembicaraan orang. 11:21 Begituun dengan cara pengetahuan saya. 11:24 Saya mencari, saya agak sensitif. Jadi 11:26 saya keras mencari singkat cerita saya 11:29 mendapatkan orang yang saya anggap 11:32 guru 11:33 berawal dari guru pecak silat orang 11:35 Betawi 11:36 ada di daerah Pasar Minggu Jalan Rukun. 11:40 Ee beliau ini menerangkan sering ada 11:42 pengajian tiap malam Minggu dan pencak 11:45 silat. [mendengus] 11:48 saya minta masuk Islam itu enggak enggak 11:51 mau dia. 11:54 Enggak mau. H 11:56 enggak mudah. Saya sudah saya sudah udah 12:01 udah udah bulat bahwa saya masuk Islam 12:04 diok dia sampai tiga kali 12:08 dia pengin saya benar-benar 12:11 Islam. 12:12 Rasanya beda, Pak. 12:15 Kita lahir mungkin teman saya Ayub 12:19 contohnya atau Agus gitu, dia lahir dari 12:22 keturunan yang Islam itu tidak 12:24 merasakan. Tapi saya ingin merebut 12:27 kekasih atau rasa sayang itu yang saya 12:30 minta tuh susah. 12:31 H 12:32 bahkan saya ditolak. H 12:34 dan akhirnya 12:36 setahun kemudian 12:39 ya kurang ambil kurang lebih hampir 12:40 setahun saya minta beliau tolong 12:43 masukkan saya Islam tuntun saya. Dia 12:46 yakin karena dia juga tidak mau menerima 12:49 dosa kalau misalkan saya ingkar. He 12:51 alasan alasan alasan beliau seperti itu. 12:54 Terus akhirnya 12:56 kami 12:58 ketemu ya tadi itu teman saya Ayub sama 13:02 Agus Faenal menjadi saksi. Dia mau 13:05 walaupun kami memang saya yang benar ya 13:08 karena ini semua pengaruh sama tidak 13:11 main-main ini bukan sumpah hanya sebuah 13:13 kayak sumpah pramuka tidak. itu. Tapi ya 13:17 sama Allah ya siam. 13:20 Dari situ 13:23 saya sering salat di rumah atau di 13:25 masjid. Di rumah itu saya kalau bangun 13:30 subuh 13:31 itu saya salat di teras. 13:33 He. 13:33 Dengan alasnya tuh kalau dulu tuh kan 13:36 setrikaan itu kan ada mukena itu ya. 13:39 Walaupun ada mukena tapi kami orang 13:41 Kristen. Jadi buat alas apa namanya? 13:43 [mendengus] Alasika. Nah, itu saya 13:46 seorang salat itu 13:48 ada orang lewat saya. 13:50 Hm. 13:51 Saya iniin saya pura-pura ngituin apa 13:53 rumput apa di luar teras gitu. 13:56 Terus akhirnya 13:58 saya waktu sekolah saya tanya, 14:01 "Gua habis salat subuh nih, Yup." Gitu. 14:03 Oh iya, habis salat subuh apa? 14:06 Zuhurlah gitu. 14:08 Sebelum zuhur jalan ada duha. He. 14:10 Nah, itu makanya saya tanya lagi, 14:12 "Berapa rakaat bacanya apa?" Yang 14:14 penting niat. Saya tidak hafal 14:17 Al-Fatihah lagi belajar seperti itu. 14:19 Jadi saya takbir Allahu Akbar saya 14:21 cerita semuanya Allah gitu. Terus doa ee 14:26 bahasa Indonesia lah. 14:27 H. 14:28 Terus habis itu duha ya. Saya tanya 14:30 lagi, "Kudah duha nih?" Apalagi gitu. 14:33 He. 14:34 Siapa yang salat? Masa salat cuman 14:35 dibagi lima gitu 14:37 dengan waktu. Ya udahlah katanya 14:38 zuhurlah, habis ini juga salat gitu. 14:40 Terus akhirnya ya gitulah saking saya 14:44 apa ya 14:45 nikmatnya salat ya. 14:46 Nikmatnya salat karena saya benar-benar 14:49 kayaknya enaknya salat itu. Saya pas 14:51 menikmati salat itu cuman satu yang saya 14:53 suka. 14:54 Sujud. 14:55 Sujud 14:57 ya. Sujud. 15:02 Saya kehilangan keluarga 15:05 di situ. Saya sampai sekarang pun 15:10 kakak saya masih Kristen, 15:12 adik saya masih Kristen, orang tua saya 15:14 masih Kristen saat itu. Tapi kalau saat 15:17 ini ya tinggal adik sama kakak. Adik 15:21 saya di Jerman. 15:23 Hm. 15:23 Kakak saya di Bali. 15:24 H. 15:27 Sayaat cerita saya ketahuan sama 15:28 keluarga bahwa saya diikutin mah 15:31 saudara-saudara. 15:32 Kenapa hari Jumat kau mandi saya 15:34 kalau pulang sekolah? 15:36 Ternyata saya masuk masjid pada kaget. 15:39 He. 15:40 Saya disidang sama keluarga, keluarga 15:42 besar. 15:44 Keluarga saya cuma satu. H 15:46 bahasanya 15:49 bahwa saya ini keluarga secara lahir 15:51 bukan batin. 15:53 Berarti saya harus minggir. Saya sangat 15:56 sensitif. 15:58 Saya sangat sensitif. Berarti saya 16:01 secara lahir doang, bukan secara batin. 16:02 Mereka mengakui seperti itu. Akhirnya 16:03 saya keluar dari rumah. 16:05 Heeh. 16:06 Saya diusir. Ya silakan aja kalau kamu 16:08 enggak mau bisa diatur. 16:10 Singkat cerita seperti itu. Saya tinggal 16:12 di Bekasi. 16:16 di sebelah terminal itu ada ruko. Ruko 16:19 yang tidak dihuni orang banyak tapi 16:22 kosong ada. Terus saya tinggal sama sama 16:25 pengamen penghisap lem itu. 16:28 Itu saya setahun. 16:30 Kebetulan saya ee tahun '95 itu saya 16:34 masuk ke STM 16:36 10 Negeri Cibubur. 16:39 Teman-teman saya yang Ayub Agus itu cari 16:43 dana untuk menghidupkan saya bayar 16:47 ee bukan bayar kost, bayar angkotan, 16:50 angkutan sekolah, terus apa namanya? 16:52 nabis atau makan dan makan di situ. 16:55 Akhirnya saya 16:57 ya sudah enggak usahlah gitu ya. Saya 17:00 setahun di di ruko 17:05 sekolah saya loncat dari lantai du 17:08 karena lantai satu ditutup tentunya sama 17:10 pemilik apa sama ee 17:13 yang punyanya 17:14 developernya lah gitu ya karena rumah 17:16 ruko kosong gitu. Nah, itu jadi 17:21 saya tinggal sendirian. 17:24 Tinggal sendirian. Saya merasa 17:25 kehilangan keluarga yang besarkan saya. 17:28 Tapi ini pilihan saya. 17:32 Saya 17:34 setahun 17:36 saya naik kelas du akhirnya keluarga 17:38 saya mencari saya dan 17:41 ada yang mau nampung saya di Malang 17:44 dari pihak keluarga juga. 17:45 Adiknya Mama. H 17:47 ya. 17:49 Di Malang ini 17:51 saya memang keluarga saya mampu 17:55 ee cukuplah. 17:58 Tapi saat saya di Malang ada suatu misi, 18:01 keluarga saya 18:03 bagaimana caranya saya suruh kembali 18:05 lagi. 18:05 H 18:06 saya 18:06 oke. Kagama-lama ya. 18:08 Akhirnya saya kos. 18:09 He. 18:10 Saya kos. Tapi sebelum kos saya tinggal 18:13 di masjid. Nama masjidnya itu Muhajirin. 18:16 Muhajirin 18:17 sebelah kampus ITN. He. 18:18 Tapi saya belum kuliah di situ. Terus 18:22 akhirnya saya mulai dipanggil lagi, 18:25 dicari, suruh pulang lagi. 18:29 Singkat cerita, 18:31 karena saya enggak butuh biaya, 18:33 saya kuat-kuatin. 18:35 Setelah kuliah, mau kuliah, saya enggak 18:37 bisa kuliah. Kalau kalau kalau mau 18:39 kuliah, 18:41 Heri kalau kamu mau kuliah, saya 18:42 kuliahkan kamu di mana? Kata tante saya. 18:46 Asalkan sem satu kembali lagi 18:49 minta mobil mau dibelikan motor mau 18:51 dibelikan. Saya enggak. 18:54 Saya akhirnya kerja jadi kuli. Akhirnya 18:59 dapat borongan 19:01 apapun gitu. Kuli bayarannya tuh saya 19:04 waktu itu 1 hari R.500. 19:07 Akhirnya saya setahun 19:10 bisa nabung uang. 19:13 Saya bisa masuk D3 dengan uang gedung R1 19:16 juta. Itu pun dicicil. 19:18 Kalau S1 waktu itu kalau enggak salah 19:20 3,5 juta. 19:21 He. 19:22 Nah, itu di situ saya enggak nyaman. 19:25 Saya close. Kebetulan saya kenal sama 19:29 Iwan. 19:29 He. 19:31 Nah, di luar dari situ 19:34 saya lapar, Pak. Karena saya enggak ada 19:36 duit. H. 19:38 Iwan Setiawan ini teman saya 19:42 yang menampung saya 19:44 sampai-sampai saya punya hutang sampai 19:47 kami lulus kuliah. 19:49 Dia yang b saya makan. 19:54 Dia yang b saya 19:57 kos. 19:59 Jadi dia 20:01 saya dibagi tugas sama Iwan tolong ee 20:05 dia kepala gengnya lah. Jadi kepala 20:08 kekos-kosan bayar telepon. 20:10 He 20:11 yang tidak 20:12 abonnemen yang interlokal kan kami kan 20:15 kebanyakan mahasiswa luar-luar Jawa 20:18 atau di Jawa. Jadi 20:20 cek PR sama dia nanti yang bayar. Siapa 20:22 saya yang lapor eh kamu bayar. Terus 20:25 kalau satu kamar ada TV, ada radio 20:27 tambah lagi bar listriknya. 20:30 Tapi Iwan memberikan saya sudah saya 20:32 terangin dulu itu saya bayar gampang. 20:36 Itu Iwan Iwan Stewan saya kenal seperti 20:37 beliau. Terus saya lapar itu Iwan enggak 20:41 tahu. Tapi Iwan kadang-kadang kalau 20:42 anak-anak kos itu jam magrib itu nitip 20:45 dia tahu air lu makan apa? We enggak 20:48 enggak enggak saya udah enggak makan 20:51 makan. Ya kadang kita sebungkus berdua 20:53 sama beliau. 20:54 H. 20:55 Terus ada Pak saya diajak sama dia tuh 20:57 jamaah tablig. 20:58 He he. 21:00 Saya suka jamaah tablig Pak. 21:02 Makan ya [tertawa] 21:03 karena saya lapar Pak saya enggak 21:06 gitu. Jadi ya 21:09 sebenarnya banyak cerita yang ibaratnya 21:12 kesimpulannya 21:15 saya tuh ternyata dulu enggak ragu, Pak. 21:19 Yang Iwan pernah cerita lu sebenar saya 21:21 ragu. 21:22 Saat saya kecelakaan 2 bulan eh 2 minggu 21:25 saya enggak sadar di Malang kepala saya 21:27 pecah. He 21:29 itu saya nyebut Pak Tuhan 21:31 H 21:32 lebih dari satu. 21:34 Maaf ya. Ya Allah 21:37 ya ya Tuhan Yesus ya Dewi Kanan in. 21:41 H 21:41 dokter bilang sama keluarga saya, "Oh 21:43 tenang ini enggak bakal meninggal karena 21:46 bakalan belum diterima sama Tuhan." He. 21:49 Jadi saya nyebutin karena mungkin di 21:51 alam sadar saya [mendengus] tante saya 21:53 bilang, "Wah, kamu waktu apa ya koma 21:57 ngigunya begitu ya." 21:58 Tapi dokter yakin kamu enggak bakal 22:00 meninggal 22:01 kamu belum diterima. Nah, itu 22:04 jadi intinya saya juga waktu itu sempat 22:06 enggak yakin ada suatu keraguan saya 22:10 waktu di Masjid Muhajirin 22:13 itu subuh saya salat tahajud sebelum 22:16 subuh saya maki-maki, Pak. 22:19 Siapa? 22:20 Allah. 22:21 Hm. 22:22 Saya maki-maki Allah. 22:23 H. 22:24 Saya sudah pilih dia. 22:25 He. 22:25 Saya sudah jengking. 22:27 He. 22:27 Saya sudah salat enggak ada hasil. Saya 22:29 masih lapar. 22:31 Hm. He. 22:31 Saya bilang Imam 22:33 [mendengus] 22:34 Imam Ghazali ya, Wan ya? 22:36 Iya. 22:37 Imam Ghazali [mendengus] Imam Masjid 22:39 Muhajirin. 22:40 Saya dijengking-jengking lima waktu saya 22:43 jawaban. 22:45 Saya enggak punya duit biar kuliah. 22:46 H. 22:48 Saya enggak bisa tidur. 22:49 He. 22:50 Lapar. 22:51 He. 22:51 Tapi ternyata 22:53 saya dikenalin sama dulu itu 22:58 Bang Nung Bang Gunung Ringgit ya, Wan? 23:00 Iya. sempat maajar tapi saya enggak mau. 23:02 Saya enggak mau di di belas kasihan saya 23:05 enggak mau 23:05 karena saya masih mampu tangan saya dua, 23:08 kaki saya dua, saya sehat. 23:11 Walaupun saya pernah saking laparnya 23:14 sama kan ini yang saya enggak pernah 23:15 cerita sama teman-teman saya. 23:18 Saya lapar, Pak, di kul di kampus 23:22 enggak bisa bohong. Tapi saya tuh enggak 23:24 sakit. 23:25 Hm. 23:26 Tapi saya lapar saat itu. 23:27 Heeh. 23:28 Saya lihat orang tuh enaknya bukan main. 23:30 He. 23:30 Saya dulu [berdehem] ingat waktu SD 23:32 bikin bubur koran. 23:33 He. 23:34 Koran itu di kajur dulu tuh ada kan, 23:37 Pak, koran koltor di tiang itu 23:39 kayu gitu. Untuk koran hari ini saya 23:41 robek itu saya cuci 23:44 saya cuci sampai kayak bubur gitu di 23:46 iklan 23:48 saya makan 23:49 sanging laparnya. 23:50 Cuman saya cuman mikirnya sesuatu media 23:53 cuma masuk sini aja. Enggak tutup 23:56 singkong, enggak tutup beras, enggak 23:57 tutup kue. Tapi saya pikir, "Wah, ini 24:00 bisa dimakan. Kayaknya enggak ada dah 24:02 orang mati informasinya makan koran mati 24:05 gitu enggak ada." 24:07 Loh, sudah selesai. 24:09 Nah, itu jadi 24:11 [mendengus] 24:12 saya itu resiko saya. Saya mikir saya 24:14 enggak bisa nyalahkan orang lain. Saya 24:16 enggak bisa nyalahkan orang tua yang 24:18 walaupun memang nota B-nya saya 24:19 ditinggal. 24:22 Teman-teman saya ada namanya Sugeng, ada 24:26 namanya Bagus, ada namanya Irwan, ada 24:29 namanya Ali, teman-teman kamus mereka 24:33 kuat menemani saya. Ternyata di bawah 24:35 saya juga saya pikir banyak, Pak, yang 24:37 masih tinggal di kolong jembatan. 24:40 Tapi saya mikirnya ya memang di saat itu 24:42 saya menikmatinya sungguh enak. 24:45 Tapi setelah saya 24:49 sudah 24:51 bisa berdiri sendiri, bisa kerja, 24:54 ternyata yang saya tanyakan sama Imam 24:56 Ghazali, Allah itu tidak menjawab, 25:00 ternyata saya salah. H 25:02 Allah tuh memberikan saya kesehatan 25:04 untuk menghadapi seperti itu 25:07 sangat besar sekali. 25:08 He. 25:09 Saya enggak pernah sakit, 25:11 saya lapar tapi usus saya sehat. 25:15 saya enggak pernah sakit, enggak pernah 25:16 meri, enggak pernah masuk angit. 25:20 Itu yang saya baru tahu. Ternyata saya 25:22 salah. 25:23 Jadi intinya di acara ini mungkin saya 25:27 ini 25:30 ee kalau saya cerita masa lalu banyak, 25:32 Pak. Tapi saya memang sedih karena saya 25:35 memang harus berjuang sendiri 25:37 tanpa saya harus bilang Mak Iwan 25:40 tanpa saya bilang bagus sama Sugeng sama 25:43 Irwan atau sama Wawan atau siapapun 25:46 karena mereka juga mendukung saya tapi 25:48 saya harus bisa. Alhamdulillah 25:51 ternyata 25:54 teman-teman yang sudah 25:58 menyandang atau sudah menerima Islam 26:03 jangan takut. Saran saya akan duniawi. 26:07 Karena duniawi itu buat saya cuma hanya 26:09 suatu identitas. Duniawi itu kamu kaya, 26:13 kamu miskin, kamu jelek, kamu ganteng. 26:17 Itu yang ngasih nama cuman manusia. 26:18 Heeh. 26:19 Bukan Gusti Allah. 26:20 Heeh. 26:21 Gusti Allah itu semuanya sama. Di mata 26:25 Gusti Allah itu si kaya, si miskin, si 26:27 sehat, si sakit, sama aja. 26:31 Saya cuman saran kalau kita [mendengus] 26:34 punya kekuatan untuk ibadah, ya 26:37 kuatkanlah ibadah. 26:41 tidak bisa atau jangan sampai dinilai 26:44 karma manusia. 26:47 Bukan tipe Islam buat saya. Karena Islam 26:51 itu salat itu memang buat pribadi, buat 26:54 dirinya sendiri. 26:56 Tetapi yang lebih penting kita saling 26:58 berbagi. 27:01 Salat itu untuk pribadi, Pak, menurut 27:03 saya. Tetapi kalau berbagi ilmu, berbagi 27:07 rezeki, 27:09 berbagi darah, donor, 27:11 itu sangat bermanfaat kehidupan orang 27:13 lain. Salat itu buat diri sendiri. 27:15 Masyaallah. 27:18 Iwan salat bagus atau saya salat bagus 27:21 misalkan, tapi saya enggak berbagi 27:23 percuma. 27:24 H 27:25 karena saya merasakan saat saya dibagi 27:27 sama seseorang, 27:29 saya selalu mendoakan mereka. 27:31 Tetapi orang tidak berbagi pun saya 27:32 tidak pilih kasih. Saya doakan contoh 27:34 keluarga saya, 27:35 keluarga saya tidak kumpul saya, saya 27:37 doakan baik-baik saja semuanya. 27:40 Makanya ada orang mungkin cerita 27:44 Islam sama Kristen kita bertengkar. Saya 27:46 dalam hati kadang-kadang saya berpikir 27:48 gini, kalian enggak merasakan 27:51 rahimnya 27:53 ibu saya. Saya selalu bilang sama Iwan 27:55 waktu itu, "Wan, saya mau nanya. Aku ini 27:59 salat Wan. Aku mendoakan orang tua 28:01 seperti apa? 28:02 H. 28:04 Sedangkan orang tua saya, ibu saya, 28:06 rahim saya, orang mengatakan haram, 28:08 Kristen, 28:09 najis atau apa, seperti apa, Pak? 28:13 Kita beda jalur lagi. Orang tua saya 28:15 seperti apa. 28:16 Apa saya enggak mendoakan? Apakah saya 28:17 termasuk orang yang anak yang 28:20 durhaka? 28:20 Durhaka tidak mendoakan. Apa doa saya 28:22 tercapai, Wan? Sampai ke ujung langit, 28:24 sampai ke Allah 28:27 bijaknya Iwan ya. Heeh. 28:29 Salat aja, doakan aja. Semua itu Allah 28:32 yang menilai. 28:33 He. 28:33 Semua di mata itu sama. 28:35 He. 28:36 Allah yang yang tahu, Allah yang bisa 28:39 menilai, 28:40 Allah yang bisa menimbang 28:42 walaupun kamu ibadah seperti apa. Allah 28:44 punya penilaian. Ya. 28:45 Iya. 28:47 Saya akhirnya 28:49 Bapak saya meninggal alhamdulillah 28:52 dengan Islam. 28:55 Ibu saya. Alhamdulillah 29:00 saya jarang ketemu, Pak. H. 29:01 Jarang ketemu. 29:04 Jarang ketemu. Terus akhirnya saya 29:07 pulang, 29:09 ibu saya sudah 29:11 ee [mendengus] 29:13 apa ya? Sudah 29:16 memeluk Islam. 29:17 Dapat. Masyaallah. 29:19 Dia 29:21 ya 29:23 Allah maha besar. Saya enggak 29:26 saya pun enggak bisa, Pak, doakan. Cuma 29:28 saya saya enggak bisa mengajak. Saya 29:29 cuma hanya bisa mendoakan karena 29:33 saya tidak punya ilmu yang banyak. Ilmu 29:35 yang bisa 29:37 berbicara Islam seperti apa. Saya cuma 29:41 hanya bisa menyelamatkan diri saya 29:42 sendiri aja. 29:43 Saya enggak bisa dakwah. Saya enggak 29:44 bisa memberikan ayat apa yang menguatkan 29:47 Islam. Karena saya cuma hanya bisa 29:49 menyalahkan diri saya sendirian. 29:51 Diri saya saya selamatkan. 29:52 HR Ibu masuk Islam ya sudah ya. 29:54 Alhamdulillah. Saya rencananya kemarin 29:57 saya mau ngajak umrah 29:59 ibu saya sama istri saya. Tapi ya 30:03 insyaallah ini masih ada kendal lah 30:07 refernya. Tapi saya buat itu enggak 30:08 apa-apa. Semua saya serahkan kepada 30:10 Allah. 30:10 Saya yakin Allah tuh memberikan jawaban 30:13 itu pasti, Pak. Saya enggak saya enggak 30:16 enggak ragu. Malah saya 30:18 saya bilang sama Iwan, saya enggak takut 30:19 sama orang, Pak. H 30:21 karena saya cuma takut sama Allah aja. 30:22 H 30:23 oh saya kalau dibunuh mati, Pak. 30:25 He. 30:26 Kalau dibunuh mati, 30:28 tapi saya mungkin saya lawan dulu. 30:31 Jangan sampai saya mati konyol. 30:33 Tapi kalau Allah itu saya enggak tahu 30:35 kapan dihukum. Saya takut gitu aja. 30:37 Jadi ya ibadah saya jalankan. 30:43 Intinya 30:44 saya takut sama Allah. yang teman-teman 30:47 yang sudah mungkin Iwan ya, 30:49 teman-temannya mualaq di penjuru dunia 30:52 ataupun di Indonesia seperti apa. 30:56 Jangan takut. Jangan takut, Pak. Allah 30:58 tuh pasti ada. 30:59 Masyaallah. 31:00 Allah pasti ada. 31:02 Oke, Iwan Hamad. Tadi kita sudah dengar 31:05 ya penuturannya atau perjalanan dari ee 31:08 Mas Haryanto, bagaimana dia lalu ee 31:12 masuk Islam. Eh, Masan bisa ceritain 31:16 ketika salat kata berdua ee tahunya 31:19 nangis deh. Tadi cerita aja sambil 31:21 nangis tuh 31:22 sambil air mata. 31:23 Kan sebenarnya teman saya ini Harianto 31:25 ini hatinya lembut ya. 31:27 Dia badannya gede ya, kekar gitu ya, 31:32 tapi hatinya Hello Kitty. Kalau kita 31:34 [tertawa] 31:35 gampang nangis dia. Jadi waktu masih 31:37 kuliah itu biasa dia biasa saya kan ke 31:40 masjid salat ketika itu dia masih 31:42 main-main ketika awal di kos-kosan saya 31:45 di Mertojo daerah Dinoyo gitu kan. 31:47 Uniga. 31:48 E di sebelah kampus Uniga. Nah, datang. 31:52 Lu mau ke mana, Wan? Mau ke masjid. Udah 31:54 salat sama gua aja di sini. 31:56 Hm. Ya udah e buka tirai horden kan. 32:00 Jadi dari sana kan masih cahaya matahari 32:02 gitu kan. Salat saya imamin berdua gitu. 32:06 Di belakang bunyi terisak-isak gitu kan 32:09 [mendengus] gitu kan. Nah saya weh 32:12 nangis ini di belakang ini kan. Nah tapi 32:15 habis saya salam gitu saya lihat kan 32:17 kelihatan nih 32:19 air matanya penuh 32:20 gitu kan. E begitu saya balik sini salam 32:24 satu lagi langsung cepat-cepat dia 32:26 hapus. Gak mau gak mau kelihatan dia 32:28 nangis gitu kan. 32:29 Terus habis zikir-zikir habis doa dia 32:32 ngomong Wan [mendengus] gimana tentang 32:33 ibu gua? 32:35 Kenapa Her gua belum Islam W? 32:39 Gimana gua enak-enak di surga 32:41 ibu gua dibakar di neraka. Lu sebagai 32:44 anak gimana? 32:45 Gimana caranya Wan? Hm. Ya, saya tadi 32:48 yang seperti cerita, doakan aja. Kita 32:51 orang Islam cuma bisa doa dapat hidayah. 32:54 Semoga suatu saat keluarga lu bisa masuk 32:57 Islam. Air, wah nangis. Itu setiap kali 33:00 sampai saya pindah kos ke dekat ITN, 33:04 akhirnya satu kos-kosan sama Heri. 33:06 Nah, di sana itu lagi kalau apa tanya 33:09 tentang ibunya. Jadi, bertahun-tahun itu 33:11 aja. Ternyata baru saya dapat poinnya 33:13 tadi. Dia enggak bisa mendakwahkan orang 33:16 tua. Yang dia bisa lakukan hanya berdoa. 33:17 Ternyata ada poinnya juga. He. 33:19 Ya. Tidak. 33:20 Allah kabulkan. 33:20 Iya. Allah kabulkan. Ya. Bayangkan 33:23 bertahun-tahun itu bukan setahun 2 33:25 tahun. Bertahun-tahun dia tanya tentang 33:27 ibunya gitu. Sehingga suatu hari pulang 33:30 dia dari Jakarta cerita sama Wan. 33:32 Alhamdulillah Wan. Ibu gua mah sudah 33:34 syahadat Wan. Udah Islam Wan. 33:36 Eh, gimana caranya 33:37 lu yang Islam kan bukan? Terus kemarin 33:41 waktu Ramadan gua masuk rumah selisih 33:45 jalan sama ibu gua. Ada horden kan? 33:47 Selisih jalan tabrakan di horden itu 33:50 loh mama mau ke mana? Dia bilang mau ke 33:52 masjid. Sudah pakai mukena gitu kan. Nah 33:55 mau ke masjid sudah masuk mamanya 33:57 berangkat aku balik situ sujud syukuran 33:59 nangis aku di situ di kamar. Dia bilang 34:01 masyaallah 34:03 masyaallah. Jadi ini hidayah Allah ya. 34:04 Wasbulana dari Allah tidak 34:06 disangka-sangka ya. Oke, 34:08 begitu, Pak. 34:09 Kita sudah mendengar perjalanan menarik, 34:11 ya. Salah satu 34:14 upaya yang dilakukan teman kita untuk 34:16 bagaimana orang jadi masuk Islam ini 34:19 adalah usahanya Mas Anjas ini. Dia 34:23 berjalan ke NTT, ke Thailand Selatan, ke 34:27 Pentawai ee dalam naungan Yayasan 34:31 Inspirasi Quran Berbagi. Silakan, Mas 34:33 Anjis. Bisa diceritakan misalnya. 34:35 Baik. Ee 34:37 pertama ucapin terima kasih Ustaz sudah 34:39 mengundang kami di sini tentunya. 34:42 Sebenarnya ini wasilah dari Ustaz Iwan 34:44 juga. Jadi Ustaz Iwannya luar biasa 34:45 banget, Ustaz. 34:46 Betul. 34:47 Luar biasa sekali. Beliau ini aktivis 34:49 yang memang mengajak semua orang yang 34:51 punya potensi untuk bergabung di dalam 34:53 dakwah. 34:54 Walaupun kita tidak menempuh pendidikan 34:56 pesantren ataupun apa ya yang sifatnya 34:59 berbahu islami sejak kecil. Beliau 35:01 membuktikan bahwasanya dakwah itu tidak 35:03 harus dilihat dari trk rekor itu. 35:05 Nah, kamu punya niat baik, [mendengus] 35:07 kamu punya sesuatu yang bisa untuk 35:09 disumbangkan di dalam perjuangan dakwah 35:11 ini, maka dia dijalankan. Jadi kemarin 35:13 itu ee awalnya awalnya 35:17 di NTT, awalnya di NTT itu diajak oleh 35:19 beliau, diajak oleh Ustaz Iwan, diajak 35:22 oleh Ustaz Iwan untuk [mendengus] 35:25 ke tempat beliau untuk mensyiarkan 35:27 tentang Palestina. Karena pada saat itu 35:29 kan Palestina lagi booming-boomingnya 35:31 kan masalah kan 35:32 2 tahun dibantai tanpa henti pada saat 35:34 itu. 35:35 Pada saat kami ee saya ke sana bersama 35:38 Ustaz Iwan memang beliau menjelaskan 35:40 bahwasanya wilayah NTT ini mayoritas 35:42 nonmuslim ya kan? Mayoritas nonmuslim 35:46 ya. Memang ana secara badi yang belum 35:48 pernah ke sana ya memang cukup ini ya 35:51 sok kultur ya sok kultur di pinggir 35:53 jalan kan berbagai macam ee apa 35:56 ornamen pemandangan ya yang berbeda 35:59 dengan 35:59 ee tempat saya tinggal itu di Sumatera 36:01 Barat kan Sumatera Barat kan terkenal 36:03 dengan Islam yang sangat kuat ya 36:05 dan para ulama banyak lahir di sana 36:07 cuma memang banyak juga ini setelah an 36:10 searching sejarah-sejarah ternyata ada 36:11 juga sejarah saudagar muslim Minang yang 36:13 pernah membeli tanah di situ yang hari 36:16 ini menjadi salah satu 36:17 ya salah satu situs wisata cuman 36:20 semenjak wilayah tersebut sudah dikuasai 36:22 oleh apa ya Portugis ya pada saya itu 36:24 jadi bekas itu sudah dihilangkan 36:26 hanya jadi tempat wisata apa itu kemarin 36:29 rumah-rumah yang dari itu cuman bukan di 36:32 daerah NTT baru oh bukan di daerah ee 36:34 kepulauan Kupang itu 36:36 mungkin 36:38 akhirnya kami explore sama ee kita syiar 36:40 dakwah keliling bareng Ustaz Iwan khusus 36:44 konsentrasinya adalah bagaimana 36:45 membangun peradaban Islam itu melalui 36:47 masjid. 36:49 Dan kita juga mensosialisasikan 36:51 bagaimana krisis kemanusiaan yang ada di 36:52 Palestina. Ternyata di situ mata saya 36:55 terbuka, Ustaz. 36:56 Hm. 36:57 Bahwa kondisi dominansi kondisi umat 37:00 muslim yang ada di wilayah minoritas ya 37:04 mayoritas nonmuslim 37:06 itu 37:08 membutuhkan banyak 37:10 apa ya? membutuhkan banyak perhatian 37:12 khusus 37:13 dalam hal kemanusiaan maupun dalam hal 37:15 iman. 37:15 H 37:17 enggak apa-apa ya kita cerita ya. 37:18 Iya. 37:19 Ini ada salah satu musala yang kami 37:21 datangkan di salah satu kabupaten di 37:22 sana itu masih di pulau yang ada ini ibu 37:24 kota NTT-nya Kupang. 37:27 Ana naik mobil berdua sama beliau diajak 37:29 oleh MUI di sana untuk melihat ada 37:32 musala yang didirikan oleh ee warga 37:36 muslim di situ yang jumlahnya sedikit di 37:39 pinggir jalan. Heeh. [mendengus] 37:41 Itu dihalangi 37:44 untuk didirikan Kuba. 37:46 Hm. 37:47 Nah, dihalangi oleh dian oleh pihak 37:49 pemerintahan setempat. Pemerintahan 37:51 setempat di zaman gubernur yang lama ya. 37:54 Kalau gubernur-gubernur sekarang agak 37:56 sedikit lebih apa ya? Ada bau apa ya? 37:59 Bau-bau pendukung dan sumurnya. 38:02 Em. Akhirnya pada saat itu momentum kami 38:04 ada program dengan lembaga lain itu 38:06 projek sedekah daging. Kebetulan 38:08 alhamdulillah banyak bantuan sedekah 38:10 daging di wilayah tersebut. Kalau 38:11 wilayahnya perlu kita sebut 38:13 boleh. 38:14 Boleh juga ya. Nama wilayahnya itu Timur 38:16 Tengah. Nah, untuk konsentrasinya nanti 38:18 kita bahas. 38:19 Ada musala pinggir jalan. Eah itu yang 38:21 mendirikannya luar biasa. Yang 38:22 mendirikannya itu si pemilik tanah dan 38:25 juga umat nonmuslim yang ada di situ 38:26 juga. Jadi gotongroyong. He 38:28 warga di sana gotongroyong. Warganya 38:30 saja itu toleransi banget. Luar biasa. 38:32 Ada yang nyumbang semen dari yang non 38:34 muslim, warga non muslim di ini dian 38:36 [berdehem] 38:36 nyumbang semen, bantu bantu bangun 38:39 musala itu dibantu sama warga nonmuslim. 38:41 Cuman masalah perizinannya, 38:44 perizinannya yang memang 38:46 agak di ee agak dipersulit cuma tetap 38:48 dibangun. 38:49 Mereka [berdehem] enggak robokan, 38:49 enggak, cuma dilarang 38:51 untuk meletakkan kubah. 38:53 Oh, kubah. 38:53 Nah, itu saja. 38:55 Bangunan tetap berdiri, kubah tidak 38:56 gitu. 38:57 Nah, berbagai macam itu sampai 2 tahun, 38:59 3 tahun kabarnya belum selesai di sana. 39:02 Akhirnya kami diajak lagi ke daerah 39:03 paling ujung lagi. Paling ujung lagi itu 39:05 di mana tulisannya? Soya atau daerah 39:08 itu. Kami menemukan memang wilayah 39:11 minoritas muslim itu kebanyakan warganya 39:13 adalah warga prasejahtera. 39:15 Hm. 39:16 Akhirnya ada dua poin yang kami dapatkan 39:17 situ. Sulit bangun tempat ibadah. Yang 39:21 kedua rata-rata warganya kurang mampu. 39:23 H. 39:25 Nah, akhirnya kami masuk sebuah wilayah 39:28 namanya Kampung Kium. Itu pedalaman 39:30 sekali. pelosok sekali dan bahkan akses 39:33 untuk masuknya itu ee kita pertama naik 39:37 mobil apa bug itu ya 39:38 pick up itu ya masuk ke dalam berhenti 39:40 gak bisa lagi pakai bug pakai motor. 39:42 Nah di pakai ee ojek ojek apa namanya 39:46 ojek yang dari warga sana. Nah, warga 39:49 sana itu untuk masuk lebih ke dalam lagi 39:52 ke dalam sana itu ada satu masjid yang 39:55 dibantu oleh ee sebuah lembaga juga e 39:59 sebuah lembaga juga. Dan lucunya dan 40:01 lucunya ojek yang mengantarkan kami 40:03 dalam itu salah satunya adalah orang 40:04 yang sempat muslim. 40:05 Hm. Sempat muslim. 40:07 Dia awalnya nonmuslim. 40:09 Ee Kristiani, muslim, balik lagi 40:11 nonmuslim. 40:13 Kenapa? karena keawaman dalam 40:14 menyampaikan dakwahnya tadi. Jadi tokoh 40:16 di sana itu semangat untuk mengajak 40:19 masuk Islamnya luar biasa. Cuman 40:20 semangat untuk merawat orang-orang yang 40:22 baru masuk Islam itu kurang gitu. 40:25 Nah, cuma di situ alhamdulillah ada satu 40:26 masjid yang luar biasa. 40:29 Dapatlah tiga poin. Oh, ternyata di situ 40:31 umat muslim ee ada kesempatan untuk 40:34 masyaallah bertemu dengan 40:35 saudara-saudara kita yang baru masuk 40:36 cuman perlu ee edukasi yang lebih 40:38 panjang. Akhirnya diskusilah sama Ustaz 40:40 Iwan. Ah, sepertinya kita harus punya 40:42 proyeksi ini, Ustaz. Kita proyeksi yang 40:45 sama. Kebetulan memang yayasan kita 40:47 namanya Inspirasi Quran Berbagi. Ee kita 40:49 ingin jadikan Quran itu sebagai 40:51 inspirasi. Karena memang kalau kita 40:52 baca, kita tadaburi bukan hanya baca ee 40:55 ayat-ayatnya saja itu isinya tuh solusi 40:57 semua dalam Quran itu. Gerakan 40:59 kemanusiaan itu kan semuanya ada di 41:01 dalam Quran. 41:02 Iya. 41:02 Ngomen apa? Masalah yatim ada di sana. 41:04 Masalah berbagi kepada ee apa? Kepada 41:06 orang yang kurang mampu ada di sana. 41:07 Membangun tempat ibadah ada sana. Nah, 41:09 akhirnya kita diskusi sama e kemungkinan 41:11 insyaallah pasca ini kita akan fokus 41:14 untuk projek peduli muslim minoritas. 41:17 Pertama, renovasi masjid, 41:19 ya kan. E alhamdulillah kemarin ada dua 41:21 tempat yang jadi penerima manfaat kita 41:24 itu di Pulau Lembata, masih di Nusa 41:26 Tenggara 41:27 sama Pulau Flores. He. 41:30 Nah, pada saat kita ingin proyeksi ee 41:32 menyalurkan di sana, gempa bumi 41:34 beberapa waktu yang lalu gempa bumi 41:36 akhirnya kita ganti ke sembako. 41:38 Kita utama ngirimin sembakau 41:40 sebanyak-banyaknya. 41:42 Nah, itulah ee yang akhirnya menjadi 41:46 prioritas kita selain krisis segala 41:48 kemanusiaan untuk bumi Syam ee khusus di 41:51 Palestina. Nah, di situ kami banyak 41:53 bekerja sama. Ee insyaallah kita juga 41:55 merangkul teman-teman yang lain 41:57 khususnya untuk Forum Arimatia sebagai 41:59 salah satu wadah yang sangat luar biasa 42:02 yang memang sudah hampir 24 tahun ya 23 42:05 tahun konsisten dalam menyampaikan 42:08 risalah dakwahnya. Dan ini momentum juga 42:10 untuk kami bisa terlibat menyelamatkan 42:13 ee saudara-saudara kita yang muslim yang 42:16 berada di wilayah ee minoritas yang 42:20 mungkin ee tantangannya lebih berat 42:23 dibandingkan kita yang berada di wilayah 42:24 yang berdominansi ee mayoritas. Ee belum 42:27 ujian di sana, belum lagi masa 42:29 perekonomian karena memang ada sebuah 42:32 oknum juga yang datang ke sana. oknum 42:34 yang datang ke sana untuk mengajak 42:36 mereka berada di e di dalam circle 42:38 mereka untuk meninggalkan agama itu ada 42:41 dan itu boleh kita sampaikan di sini 42:44 boleh ya enggak salah ya dan itu nyata 42:47 ustaz kemarin ana cuma dapat cerita a 42:50 ustaz kayaknya gak mungkinlah kayak gitu 42:51 masa iya ada yang seperti itu karena 42:53 kami merasa kami di Sumatera enggak 42:54 pernah merasakan seperti itu. 42:55 Walaupun kami dapat isu juga di Sumatera 42:57 Barat tuh di wilayah yang di ee salah 42:59 satu wilayah yang ada di situ juga ada 43:01 juga 43:02 yang seperti itu. Eh, ternyata di situ 43:05 memang memang iya. Nah, maka kita 43:08 langsung lebih semangat lagi untuk mobil 43:09 proses. Kalau mereka bantu sembako, kita 43:11 bantu lebih banyak sembako. Kalau mereka 43:13 melarang kita bangun masjid, masjid yang 43:15 ada kita renovasi. Karena memang 43:16 masjidnya masjidnya perlu perhatian, 43:18 Ustaz. Di sini luar biasa masjid. Kalau 43:20 di situ butuh perhatian, fasilitas dan 43:22 macam-macam. yang sudah retak-retak pun 43:24 masih dimanfaatkan selagi selagi masih 43:25 roboh. Bahkan ada yang masjid itu ee 43:30 teman kami berangkat ke sana ke Lembata 43:32 tu ada di tengah hutan itu masih 43:35 kayu-kayu gitu dasarnya pelepah. 43:38 H 43:38 pelepah namanya 43:40 pelepah 43:40 ee dari kelapa dari Oh iya tentara ya. 43:45 Nah itu [mendengus] semua dibuat itu dan 43:46 itu memang terjadi di Nusa Tenggara 43:47 Timur dan tidak terlihat oleh kita 43:49 semua. Makanya setelah kita sadar di 43:51 situ ada dan situ begitu argen ya, maka 43:53 kita ambil untuk bisa ambil proyeksi di 43:55 sana gitu. 43:57 Oke, Iwan luar biasa. Di acah hijrah ini 44:00 kami mengundang tiga narasumber. Yang 44:02 pertama adalah kami akan bacakan nomor 44:04 HP masing-masing. Siapkan saja pulpen 44:06 nama kertas. Ee yang pertama tadi Bapak 44:10 Herianto seorang mualaf. Kemudian ada 44:12 Anjas dari Yayasan Inspirasi Quran 44:16 Berbagi yang berdakwah ke NTT, Talan 44:19 Selatan, dan Mentawai. Kemudian ada 44:22 Ustaz Iwan Setiawan dari Arimetea. 44:25 Beliau adalah Sekjennya. Kami akan 44:27 bacakan nomor teleponnya. Dan Ustaz Iwan 44:30 juga menulis buku judulnya The Secret 44:32 Fadilah Al-Qur'an. 44:34 The Secret Fadilah Al-Qur'an mengetahui 44:37 rahsia keutamaan Al-Qur'an dari hadis 44:40 Nabi akan membangkitkan semangat setiap 44:42 muslim dan untuk membaca, mempelajari, 44:45 dan mengamalkan Quran. Kemudian juga ada 44:47 stiker-stiker yang berisi kata-kata 44:49 hikmah. Kami mulai dari ee nomor telepon 44:54 ee Bapak Heryanto ya, seorang mualaf. 44:57 Ini nomornya 0813 45:02 kemudian 16. 45:04 47 2525 0813 45:09 16472525. 45:12 Kemudian ada Uda Anjas dari Yayasan 45:15 Inspirasi Quran Berbagi. Nomornya 0823 45:20 83 44 45:23 8954 45:25 0823 45:27 kemudian 83 44 8954 kemudian ada Ustaz 45:34 Iwan Setiawan Sekjen dari Aremaa 45:38 yang juga menulis buku 45:40 ini nomornya ee 45:43 0813 45:45 3 45:47 tiga lagi 44 155 38 0813 45:56 344 45:58 155 46:00 38. Beliau ini sudah 23 tahun 46:03 berciimbung di dalam Arimetea ya, 46:06 menyebarkan dakwah Islam ke para mualaf. 46:09 M kemudian nomor sudah semua ya. Oke, 46:13 ini juga kalau Anda mau sharing infak 46:17 silakan di BSI Rumah Mualaf Arimatea 46:21 Jogja nomornya 7323 46:26 579393. 46:29 7323 46:31 579393 46:34 BSI 46:36 atas nama Rumah Mualaf Arimat 46:39 Yogyakarta. 46:41 Eh, 46:44 Pak Herianto, ada lagi yang bisa 46:46 diceritakan? [tertawa] 46:48 Saya mau nyentuh semua sampai bengong 46:50 saya. Silakan. 46:52 Saya rasa ya 46:54 e lebih dekat ke Mike 46:56 saya rasa. Ya mungkin itu aja, Pak. Saya 46:59 juga tidak mau. Sebenarnya saya enggak 47:02 suka dipublikasi 47:04 karena mungkin Iwan bilang selama kita 47:07 masih dikasih umur mungkin ada 47:09 cerita-cerita yang mungkin bisa 47:11 bermanfaat. 47:12 Positifnya kita ambil insyaallah. Ya, 47:15 intinya saya sekedar menyampaikan untuk 47:18 teman-teman yang [mendengus] satu 47:20 perjuangan untuk kita di akhirat 47:22 mencapai damai surga yang dijanjikan 47:25 Allah. 47:26 Kita memang 47:28 berani mengambil perbedaan sampai-sampai 47:31 kita mungkin kehilangan orang-orang yang 47:34 kita cinta 47:36 atau barang-barang duniawi yang kita 47:38 harus kita tinggalkan. Karena kita 47:40 memilih nilai yang lebih berharga atau 47:43 damai yang paling indah 47:45 yang Allah janjikan 47:48 itu ya surga buat jadi buat saya saya 47:51 sampaikan kepada teman-teman 47:53 ee mualaf 47:55 jangan takut Allah pasti ada 47:58 mukjizat Allah itu enggak ada yang tahu 48:00 Pak 48:01 kita pasarkannya pada Allah 48:03 kita selalu yakin percaya 48:08 bahwa Allah itu ada di kita, bantu kita 48:12 dan tidak diam. 48:14 Iya, 48:15 tunggu pasti indahlah 48:17 itu Pak. Terima kasih. 48:18 Dan kadang-kadang inspirasi kebaikan tuh 48:19 datangnya bukan dari ustaz, dari utang 48:21 orang seperti Pak Heri Antoni. Bisa juga 48:23 ya. 48:24 Ee udah Anjas. Kenapa antum nih masih 48:27 muda, masih gagah lah. Kenapa kok sampai 48:31 ngurusin gini? Kan artinya orang bilang 48:33 enggak ada duit [tertawa] 48:35 sampai pergi ke NTT selatan, Mentawai 48:39 hanya untuk menyebarkan dakwah gitu. Apa 48:42 yang menjadi motivasi dari Uda Anjas? 48:45 Ee baik ee Ustaz karena pernah bertemu 48:49 dengan bukan pernah bertemu ee ada pesan 48:51 yang diberikan oleh Al Ustaz Nababan. 48:54 Heeh. Ya. 48:55 Ustaz Samsul Arif Nababan. 48:58 Ee beliau sangat heroik sekali ketika 48:59 menyampaikan cam di beliau mualap juga 49:01 ya. H 49:01 cuma beliau enggak mau bilang muap lagi 49:03 karena sudah lama katanya saya sudah 49:04 Islam ya gitu kan 49:06 katanya seperti itu. Jadi beliau 49:07 sampaikan ee umat muslim itu yang baik 49:10 terbagi dua katanya. Yang pertama adalah 49:12 umat muslim yang saleh 49:14 ee dia yang sibuk membaca Quran, salat 49:17 lima waktu, zakat yang artinya menyinari 49:20 dirinya sendiri. 49:21 H 49:22 yang kedua ini levelnya lebih tinggi. 49:23 Hm. 49:24 Jalan tol menuju surganya lebih besar. 49:26 Hmm. yaitu umat muslim yang muslih. Musl 49:30 umat muslim yang muslih ini dia sibuk 49:32 ibadah, dia sibuk salat, ibu zakat, dan 49:35 ibu sibuk untuk mencari orang-orang yang 49:39 patut untuk kita bantu. He 49:41 orang ee dia adalah orang-orang yang 49:43 sibuk untuk mencari 49:46 kesempatan untuk bisa bermanfaat untuk 49:48 orang lain. Yang artinya bukan hanya 49:50 sibuk dengan ibadah saja. He. 49:52 Ee bukan hanya sibuk dengan ibadah, 49:53 tetapi juga sibuk untuk merenovasi 49:56 internal muslim ini agar bisa lebih baik 49:58 lagi dan tidak meninggalkan ajaran 49:59 Islam. 50:00 Berarti anak istri sering ditinggal 50:01 dong, ya? 50:01 Hah? Sudah diizinkan saya. [tertawa] 50:04 Masyaallah. 50:06 Iya, gitu. 50:07 Jadi itu dua pesan luar biasa dari Ustaz 50:10 bilang. Jadi, jadi ada dua pilihan. Mau 50:12 jadi umat muslim yang saleh atau umat 50:14 muslim yang muslih. Karena muslim sudah 50:15 pasti saleh 50:16 dan insyaallah akan juga ikhtiarnya 50:18 adalah mensalehkan orang lain juga. 50:19 mengajar untuk saleh bareng gitu. 50:21 Apalagi 50:22 dan jadi mumpung seperti kata ustaz tadi 50:25 ya muda bukan berarti usianya panjang. 50:28 Nah, cuma Allah kasih kemudahan aja 50:30 untuk bisa bergerak lebih matang 50:32 dibandingkan mungkin sesepuh kita. 50:34 Oke. 50:35 Nah, mungkin bisa jadi besok sudah 50:36 selesai umur usia kan. 50:38 Mak dua pesan ini yang jadi motivasi 50:40 untuk bisa terus menginspirasikan Quran 50:42 ke umat itu. Insyaallah. 50:44 Oke. Kalau ee Ustaz Iwan apa ya 50:47 motivasinya nih? sudah 23 tahun 50:49 berkecimung di ahli matea nih. 50:51 Iya. Tentang mualaf ini yang memang jadi 50:55 fokus kita [berdehem] banyak lembaga 50:57 bermunculan kan karena adanya mualaf ini 50:59 ya 51:01 puluhan mungkin sekarang lembaga-lembaga 51:03 yang berkecimpung menangani tentang 51:06 mualaf. Karena memang tentang mualaf ini 51:09 ee PR juga buat kita. Karena mereka ni 51:11 orang-orang yang biasanya masalah yang 51:14 dihadapi kan menghadapi diri mereka 51:17 sendiri, keluarga, lingkungan gitu ya. 51:20 Sehingga butuh pendampingan ya. 51:24 Terkadang kita orang Islam juga banyak 51:26 yang acu tak acu gitu loh. Ini kan 51:28 resiko el lu yangemilih Islam kok lu 51:31 datang ke kita nyusahin kita, minta 51:34 bantuan di kita. Kadang ada yang cara 51:37 berpikirnya sempit seperti itu. Maka 51:39 dengan adanya edukasi-edukasi yang tepat 51:42 kepada kaum muslimin ini ee kita ee 51:46 lihat nih kisah-kisah seperti 51:47 teman-teman ini memang tidak bisa 51:49 dinafikan ketika mereka masuk Islam 51:53 pasti berubah pola hidupnya gitu loh. 51:55 Dia mau kembali ke agamanya, keluarganya 51:57 enggak enggak apa ya enggak. Heeh. 52:01 Terus dia umat Islam juga banyak yang 52:03 enggak peduli. Nah, ya. Jadi dia di ee 52:08 dilematis gitu loh. Nah, maka memang 52:11 perlu ketika ada yang masuk Islam itu 52:12 ada ada mentor atau ada murabinya, ada 52:16 ustaz, ada komunitasnya. Kalau enggak ee 52:18 banyak yang salah jalan ee masuk Islam 52:22 salah jalan, salah pergaulan, salah 52:25 pemikiran, ya jadi liberal, LGBT dan 52:28 lain sebagainya. Nah, maka memang ee 52:31 harus ada pembinaanlah kalau 52:32 mualaf-mualaf ini di sisi di sesi-sesi 52:35 awal ketika dia bersyahadat. Nah, dengan 52:38 munculnya banyak lembaga mualaf ini 52:40 tidak dinafikan ada 52:42 kepentingan-kepentingan juga kadang 52:44 karena ada gurihnya lembaga mualaf itu 52:48 ada juga yang hidup untuk cari donasi 52:50 tidak dinafikan. Nah, ada yang memang 52:54 totalitas gitu ya memberikan advokasi 52:57 pada mualaf. Karena gini, e menghadapi 53:01 masalah MOV ini bukan hal yang sepele 53:04 sebenarnya. Kita 23 tahun ekspert di 53:07 dalam dunia kemualafan ini bukan satu 53:09 dua kali kita berhadapan dengan kasus. 53:12 He. 53:12 Nah, namanya Arimat kan advokasi, 53:15 rehabilitasi, imunisasi akidah terpadu 53:17 efektif dan aktual. advokasi, pembelaan 53:20 sampai di penjara, di pengadilan ya kita 53:24 berhadapan menghadapi 53:25 permasalahan-permasalahan, kasus-kasus 53:27 yang ber ee berircan dengan mualaf. 53:30 Belum lagi adanya mualaf-mualaf 53:32 gadungan. 53:33 Ini yang terus kami mungkin memberi 53:35 informasi kepada umat. [mendengus] 53:37 Jangan juga kita terlalu senang banget 53:39 dengan mualaf yang datang ke tempat 53:41 kita, 53:41 ke masjid, 53:42 ke masjid masuk Islam. Kita enggak tahu 53:44 nasabnya ini orang dari mana? Dari mana? 53:46 dari NTT mau masuk Islam di situ. Kita 53:49 syahadatin, kita kasih bantuan, zakat 53:51 segala macam. Eh, tiba-tiba 53:54 dia masuk Islam lagi di tempat lain. 53:56 Masyaallah. 53:57 Ya. Ya. Nah, bahkan hanya untuk menikah 54:00 misalnya kan. 54:01 Nah, untuk menikah ternyata pulang ke 54:03 daerahnya 54:05 dia bawa istrinya, keluarganya, anaknya 54:07 akhirnya pindah ke agamanya yang awal. 54:09 Jadi kedok saja masuk Islam itu. Maka 54:12 perlu ada edukasi yang tepat kepada umat 54:15 Islam. 54:16 Kalau yang benar mualaf itu kita tahu 54:18 nih track recordnya. Nah, KTP-nya mana? 54:22 Datanya jelas, kenapa dia masuk Islam? 54:24 Oh, dia selama 3 bulan bertanya tentang 54:27 Islam sama saya. Ahah. Ada mentornya 54:29 gitu. Oh, ini insyaallah nih sebuah 54:31 pencarian. Tapi kalau ada yang ujuk-ujuk 54:34 datang ke masjid, kenapa saya tadi malam 54:37 mimpi ketemu dengan 54:39 sosok. Wah, banyak sekali yang berbicara 54:41 tentang mimpi. Terus disahadatan, dapat 54:44 uang, gali dana gitu kan. Nah, ternyata 54:47 banyak yang dusta. Namanya mualaf-mualaf 54:48 [berdehem] gadungan. 54:50 Ah, ada satu kisah yang paling heroik di 54:52 dalam Arimatea ketika awal-awal itu. 54:56 Berapa kali Arimatea diadu domba ya, 54:59 akhirnya juga sempat pecah dengan 55:02 Ustazah Hirin Handono dulu 55:04 ya dengan Sekjen Harimate yang pertama 55:06 itu karena tadi ada yang nyusup mengadu 55:09 domba gitu. He. 55:10 Nah, yang satu lagi tahun 2006 ketika 55:15 saya pindah ke Jakarta ini sebenarnya 55:18 materi-materi yang 55:21 tidak cocok untuk dalam dipublish ya 55:24 sebenarnya cuma sebagai informasi 55:27 ee orang-orang tertentu punya misi-misi 55:29 untuk menghancurkan Islam dari dalam. 55:31 H. 55:31 Ee Islam tuh kuat. Kalau dihantam dari 55:33 luar sudah kelihatan musuhnya jelas. H 55:35 tapi kalau dari dalam ini banyak mereka 55:37 melakukan upaya-upaya pendangkalan 55:40 akidah ya, penyusupan, 55:43 infiltrasi. [berdehem] 55:44 Salah satunya namanya dulu terkenal tuh 55:48 Andronikus Kaparang tahun 2000 55:52 2 ya dia nyusup di Majelis Mujahidin di 55:54 Yogyakarta. 55:56 Nah, akhirnya mengadu domba. 55:59 Ee akhirnya Ustaz Abu Bakar Basir 56:00 ditangkap salah satunya dia membocorkan 56:03 informasi tentang Majelis Mujahidin 10 56:05 unit komputernya hilang dalam satu 56:06 malam. 56:08 Ternyata dia adalah sosok komandan 56:10 laskar Kristus wilayah timur. 56:12 Nah, masuk. Nah, ini terkonfirmasi. 56:16 Dia mengakui setelah melakukan semua 56:18 itu, dia mengakui saya melakukan ini di 56:20 tahun 2002 ketika itu. Nah, itu waktu 56:23 dia gabung di Arimata tahun 2006. 56:25 akhirnya bertemu dengan Ustaz Abu Bakar 56:27 Basyir juga. Maafkan kata beliau gunakan 56:31 untuk berjuang untuk Islam. Ya. Ya. Ini 56:34 sebuah contoh aja ya dari sekian banyak 56:37 pengalaman-pengalaman yang saya lalui 56:40 23 tahun ini masyaallah banyak 56:43 kisah-kisah heroik lah dalam dunia 56:44 pergerakan dakwah. 56:46 Jadi tidak hanya sekedar mualaf, tapi 56:48 ada orang yang berpura-pura mualaf. Ada 56:51 yang murtadin ya, ada yang tadi masuk 56:55 Islam sekarang eh enggak kuat akhirnya 56:57 kembali lagi ke agamanya gitu, Pak 57:00 Krisna. Banyak sekali suka dukanya dalam 57:03 pergerakan dakwah. 57:04 Masyaallah kita dapat ilmu ya sore ini 57:07 ya kemualafan ya lika-liku kemualafan 57:11 luar biasa. Oke, kita sudah dibatas 57:14 waktu. Terima kasih sudah Anjas, Bapak 57:17 Herianto 57:19 terima kasih atas informasinya, atas 57:22 ilmunya. Baik ee kita jumpa lagi pada 57:26 hari Rabu depan. Saya Muhammad Krisna 57:29 Neiza, kemudian Algi mohon pamit. 57:32 Wabillahi taufik walhidayah. 57:33 Wasalamualaikum warahmatullahi 57:34 wabarakatuh.