Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Rasul TV 0:13 Bismillahirahmanirahim, 0:15 assalamualaikum warahmatullahi 0:16 wabarakatuh. 0:17 Allahuma sholi ala sayyidina Muhammad wa 0:19 ala ali sayyidina Muhammad. 0:21 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 0:22 ini hari Rabu tanggal 16 Muharram 1448 0:26 Hijriah atau tanggal 1 Juli 2026 kita 0:30 berjumpa lagi dalam acara 0:31 Hijrah Talk ya. 0:34 Kami menghadirkan ada tiga narasumber 0:37 ini. 0:38 Emm, ada Anjas, Ustad Anjas ini dari 0:42 Yayasan Inspirasi Quran Berbagi. 0:46 Kemudian ada Iwan Setiawan 0:49 Sekjen dari Arimatea. 0:51 Emm 0:53 kemudian juga emm 0:56 ada 0:58 Bapak Heriyanto. 1:00 Seorang mualaf ya, yang hadir di sini 1:03 nanti kita dengar ceritanya. 1:06 Sini tentu saja ada Neiza. 1:08 Neiza dan Aldi. Assalamualaikum Ustad 1:11 Iwan. 1:12 Waalaikumsalam. 1:14 Ustad Anjas, Ustad Anjas dan Mas 1:17 Heriyanto, assalamualaikum. 1:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:20 wabarakatuh. 1:21 Ini saya minta bantuan 1:23 sama Mas Iwan terus nih Ustad Iwan ya 1:25 untuk menghadirkan para mualaf nih. Ini 1:28 bisa cerita sedikit tentang Heriyanto 1:30 dulu deh ya. Pengantar dari Ustad Iwan. 1:33 Siapa Heriyanto ini. 1:35 Bismillahirahmanirahim, eh Pak Heriyanto 1:37 ini teman saya waktu kuliah dulu. 1:40 Di Malang? 1:41 Di Malang ketika itu kuliah kami di 1:42 Malang, ITN Malang ya Institut Teknologi 1:45 Nasional Malang. 1:47 Sama-sama jurusan teknik sipil tapi saya 1:49 S1 beliau 1:51 D3. 1:51 Emm. 1:52 Nah, jadi kenal memang di jurusan kita 1:55 itu beliau ini seorang mualaf gitu kan. 1:57 Ah, sudah dan alhamdulillah satu kos 2:00 dengan saya. 2:01 Ada kisah-kisahnya yang memang menurut 2:03 saya bagus untuk diangkat. 2:05 He em. 2:05 Cuma selama ini dia enggak mau 2:07 dipublikasi karena mungkin privat 2:09 katanya gitu kan. 2:10 Cuma kemarin mungkin pas momennya saya 2:13 ajak 2:14 tolonglah bahwasanya ini kesempatan 2:17 untuk memberikan edukasi, bukan kita mau 2:19 show atau gimana ya, tapi edukasi kepada 2:21 umat Islam. Ada sebuah kisah yang 2:23 mungkin bisa di 2:25 di apa ya, di 2:27 sharing lah buat umat gitu. 2:29 He em. 2:30 Ya sudahlah, apalagi di [tertawa] grup 2:31 kita ada grup anak kos-kosan itu masih 2:34 sampai sekarang ya. 2:35 Sudah berapa puluh tahun kami 2:36 ber-berteman gitu kan, lebih dari 20 2:39 tahun. 2:39 He em. 2:40 Nah, semua support, ya deh berbagi 2:42 kisah. 2:43 [tertawa] 2:44 Mas Herianto nih katanya orangnya 2:46 enggak-enggak senang ngomong ini ya. Oke 2:48 Mas Herianto, barangkali bisa 2:49 diceritakan sedikit gimana nih? 2:51 Assalamualaikum warahmatullahi 2:52 wabarakatuh. 2:53 Silakan Mas Herianto, waalaikumsalam. 2:55 Assalamualaikum warahmatullahi 2:55 wabarakatuh. 2:56 Ah, saya alhamdulillah 3:00 saya masih diberi kesehatan sama Gusti 3:02 Allah, mungkin pada hari ini 3:05 teman saya Iwan 3:07 Ustaz Iwan ini mengajak saya untuk 3:09 berbagi cerita. 3:10 Iya. 3:11 Mungkin di usia saya masih ada 3:14 saya akan memberikan suatu cerita 3:17 seperti apa 3:19 ah 3:20 suka dukanya 3:22 kita 3:24 sebagai orang yang awalnya berkeyakinan 3:27 bukan Islam terus akhirnya kita 3:30 mencari kedamaian 3:32 akhirnya berlabuh di agama Islam. 3:33 He em. 3:35 Saya ini 3:36 tahun 94 itu 3:40 bulan Mei 3:41 He em. 3:41 kalau enggak salah tanggal 8 3:43 He em. 3:44 itu 3:47 saya ah 3:50 syahadat 3:51 Iya. 3:52 tetapi di Minggu. 3:54 Heeh. 3:55 [berdehem] 3:55 Tetapi kalau misalkan saya tarik mundur 3:58 tidak semudah itu yang saya 4:00 Heeh. 4:01 Syahadat, langsung syahadat langsung 4:02 diterima 4:04 sama orang yang 4:05 ee mengawal saya. 4:07 Iya. 4:08 Nah, saya sudah mulai tertarik dari 4:11 Islam itu 4:13 karena saya tersentuh dengan 4:15 satu 4:17 ee surat di Alquran tetapi saya enggak 4:20 paham apa nama suratnya 4:22 tetapi 4:24 sebelum saya hafal itu saya enak sekali 4:27 dengarnya. 4:27 Heeh. 4:28 Nah, kebetulan dari rumah saya tinggal 4:30 tuh di area Pasar Minggu 4:32 Heeh. 4:32 itu Gang Langgar 2 itu pemukiman padat 4:35 jadi ada musala 4:37 kami keluarga Manado 4:39 Heeh. 4:40 ee satu-satunya keluarga yang di situ 4:43 yang beragama Kristen. Kami juga 4:45 termasuk dilindungin sama warga 4:47 setempat. 4:48 Nah, terus kalau misalkan salat Maghrib 4:50 itu biasanya 4:52 ada satu surat yang dibacakan setelah Al 4:54 Fatihah. 4:55 Imamnya ini? 4:55 Iya, ternyata kalau didengar itu enak 4:58 sekali. 4:58 Heeh. 4:59 Seringkali gitu, sedangkan dulu waktu 5:02 itu saya Kristen. 5:02 Waktu didengar itu langsung ngerti 5:04 artinya enggak? 5:05 Tidak. 5:05 Enggak ngerti cuma 5:06 Enggak ngerti tapi kok enak ya lagu apa 5:08 bukan lagu apa syairnya gitu nah terus 5:10 akhirnya saya 5:11 kalau kemanapun misalkan saya ke rumah 5:13 teman atau sekolah ataupun masuk ke 5:15 rumah teman gitu ya atau main gitu kalau 5:17 dengar surat itu 5:20 saya berhenti enak sekali. 5:23 Ternyata 5:25 ee saya itu ditinggal sama nenek saya. 5:29 Heeh. 5:30 Meninggal. 5:30 Iya. 5:31 Sebelumnya saya memang 5:33 tinggal sama 5:35 nenek karena saya 5:37 termasuk keluarga broken. 5:40 Ini agak agak lama nih ceritanya. 5:41 Enggak apa-apa silakan silakan. 5:43 Setelah itu 5:45 sebelum nenek saya meninggal itu kami 5:47 keturunan Chinese. 5:48 Iya. 5:49 Nenek Chinese Tiongkok asli. 5:52 Kami keturunan Manado. 5:53 Eee, saya mayoritas Nasrani, bukan 5:57 Katolik. 5:59 Semua Nasrani kakak kakak ya orang tua 6:02 semuanya, adik pun. Terus 6:04 sebelum nenek saya meninggal ini ada 6:05 pesan. 6:07 Tapi kita enggak sadar kalau itu adalah 6:10 pesan nenek meninggal itu. Masih lama 6:12 belum eee sekitar dia berapa bulan. 6:15 Nenek saya bilang, "Kalau kamu 6:17 Islam ya ke eee ke 6:19 masjid. Kalau kamu Kristen ke gereja. 6:22 Kalau kamu Buddha ya ke pura. Kalau kamu 6:24 Kong Kong Cu ya ke tempat ibadahnya. 6:27 Jadi harus punya identitas atau agama di 6:30 situ." 6:32 Nah, long cerita lagi setelah nenek saya 6:34 meninggal 6:36 itu 6:39 saya dimimpiin. 6:40 Nenek saya 6:46 saya itu kecil. 6:48 Di mimpinya tuh saya kecil. 6:50 Karena 6:52 saya tinggal sama beliau. 6:55 Saya ingat kata-katanya. Tapi saya 7:01 apa ya, merasa kecil itu gelap. Hitam 7:04 gelap. 7:06 Itu 7:08 ada yang salat. 7:10 Terang itu. Terang. 7:14 Ada yang salat. 7:16 Nenek saya 7:18 nenek saya 7:20 beragama Kong Cu. 7:23 Nenek saya 7:25 tidak kenal Islam. 7:27 Terus saya ingat pesannya beliau. 7:31 Eee 7:32 [berdehem] 7:34 mimpi itu tuh eee 7:36 enggak berturut-turut, tapi 7:39 berapa hari kemudian lagi saya mimpi 7:41 dengan yang sama. 7:43 Berapa hari lagi 7:48 saya juga mimpi yang sama. 7:50 Hmm. 7:51 Terus akhirnya 7:54 saya ini termasuk setelah saya 7:56 kehilangan nenek saya 7:59 saya masuk kategori anak yang bandel. 8:03 Saya tidak punya keluarga 8:05 saya tinggal nenek akhirnya saya kami di 8:08 ditinggal sama om-om dibagi 8:12 ah saya tidak ada yang ngawasin lagi 8:13 jadi saya terutama bandel. 8:17 Terus di situ saya punya kenalan teman 8:20 kenal teman 8:22 banyakan muslim saya tanya 8:25 itu waktu itu sekitar tahun 93 apa 8:28 92 8:30 saat saya masih 8:32 ah es SMP. 8:35 Nah itu saya tanya kok begini-begini 8:38 terus saya suka sama ini 8:40 ada teman saya namanya 8:42 sampai sekarang dia jadi saksi saya. 8:44 Hmm. 8:45 Saya syahadat. 8:47 Ada teman saya namanya Muhammad Ayyubi. 8:49 Hmm. 8:51 Yang kedua lagi Agus Final 8:53 yang saya panggil itu 8:55 Dabo 8:56 panggilannya dulu tuh kita pakai 8:58 nama-nama samaran gitu. 9:00 Nah itu Ayub ini termasuk Pak Ayub teman 9:03 saya Ayub ini 9:06 dia 9:07 orang Cirebon 9:09 orang tuanya sangat ketat kalau misalkan 9:10 habis maghrib pasti 9:11 Harus sholat. 9:12 ngaji 9:13 ada pengajian menjelang 9:15 isya 9:16 nah itu terus akhirnya saya sering 9:17 kumpul sama dia karena saya sudah sudah 9:20 berani nginap gitu. 9:22 Terus asyik gitu terus akhirnya saya 9:23 tanya saya suka surat ini apa ya apa 9:26 bacaan ini gitu. 9:28 Terus dia bilang ah 9:31 entar ajalah atau bagaimana dianggap 9:32 gitu saya kira saya tanya sama bapaknya 9:34 almarhum Pak Slamet. 9:35 Hmm. 9:37 Terus akhirnya dia bilang 9:39 saya sering tanya setelah dia bilang mau 9:40 mau dengar katanya, saya bacakan deh. 9:43 Yang baik katanya, dibacakan sama dia 9:45 terus pengen tahu artinya. 9:47 Ternyata arti artinya 9:49 sedikit agak menyentuh, tertarik bukan 9:51 begitu tertarik. Artinya bahwa Tuhan itu 9:54 tidak dilahirkan atau melahirkan. 9:55 Heem. 9:56 Bahwa Tuhan itu Esa. 9:58 Heem. 9:59 Nah itu agak sedikit saya tertarik 10:01 karena bertolak belakang sedikit sama 10:04 agama yang saya yakini. 10:05 Heem. 10:05 Akhirnya 10:07 saya mulai mempelajari sedikit-sedikit 10:09 sedikit tanpa orang tahu niat dan tujuan 10:13 saya, saya cuma pengen tahu itu Islam 10:15 itu seperti apa sih 10:16 gitu loh, tapi saya tertarik dengan 10:17 Islam itu dengan damainya saat dia 10:19 sholat 10:20 Heem. 10:21 hening 10:23 bersih dengan wudhu 10:25 baju dengan sopan 10:27 yang bisa dikatakan aurat tertutup. Itu 10:30 yang saya anggap tuh 10:32 heningnya mereka itu 10:35 tanpa 10:37 suatu alat musik 10:39 tanpa suatu orang berteriak, 10:41 bernyanyi-nyanyi tetapi mereka 10:44 berbisik 10:45 di tanah sujud, itu yang saya suka. 10:48 Terus akhirnya saya memperdalam 10:51 ee mencari 10:52 yang bisa saya ajak ngobrol tentang 10:54 Islam. 10:55 Tidak mudah itu. 10:57 Karena saya juga 10:59 ee apa ya 11:01 usia masih 11:02 belasan ya 11:04 Terus yang kedua tapi saya di situ dari 11:06 kecil memang saya dituntut 11:08 dari keluarga berpikir keras karena kami 11:10 tidak keluarga tidak kumpul dengan 11:12 keluarga 11:13 jadi 11:14 sensitif kami 11:16 adik kakak kami 11:18 saya itu 11:19 sensitif dengan pembicaraan orang. 11:21 Begitupun dengan cara pengetahuan saya, 11:23 saya mencari saya agak sensitif. Jadi 11:26 saya keras mencari. 11:28 Singkat cerita saya mendapatkan 11:30 orang yang saya anggap 11:32 guru berawal dari guru pencak silat 11:35 orang Betawi ada di daerah Pasar Minggu 11:38 Jalan Rukun 11:40 beliau ini menerangkan sering ada 11:42 pengajian tiap malam Minggu dan pencak 11:45 silat 11:46 [mendengus] 11:47 saya minta 11:49 masuk Islam itu enggak 11:51 enggak mau dia 11:53 enggak mau 11:56 enggak mudah 11:57 saya sudah 11:59 saya sudah sudah 12:01 sudah sudah bulat bahwa saya masuk Islam 12:04 ditolak sama dia 12:05 sampai tiga kali 12:07 dia pengen saya benar-benar 12:11 Islam 12:12 rasanya beda Pak 12:15 kita lahir mungkin 12:18 teman saya Ayub contohnya atau Agus gitu 12:22 dia lahir dari keturunan yang Islam itu 12:24 tidak merasakan tapi saya ingin merebut 12:27 kekasih atau rasa sayang itu 12:30 yang saya minta itu susah 12:32 bahkan saya ditolak 12:34 dan akhirnya 12:36 setahun kemudian 12:39 iya kurang lebih kurang lebih hampir 12:40 setahun saya minta sama beliau 12:42 tolong masukkan saya Islam 12:44 tuntun saya 12:46 dia yakin karena dia juga tidak mau 12:48 menerima dosa kalau misalkan saya ingkar 12:51 alasan alasan alasan beliau seperti itu 12:54 terus akhirnya 12:56 kami 12:58 ketemu 12:59 tadi itu teman saya Ayub sama Agus Final 13:03 menjadi saksi 13:05 dia mau walaupun kami memang saya yang 13:07 benar ya karena ini semua pengaruh sama 13:11 tidak main-main ini bukan sumpah hanya 13:13 sebuah kayak sumpah Pramuka tidak begitu 13:15 tapi ya 13:17 sama Allah ya saya siap 13:20 dari situ 13:23 saya sering salat di rumah atau di 13:25 masjid di rumah itu saya kalau bangun 13:29 subuh 13:31 itu saya salat di teras. 13:32 Ehm. 13:33 Dengan alasnya tuh kalau dulu tuh kan 13:36 setrikaan itu kan ada mukena itu ya. 13:38 Ehm. 13:39 Walaupun ada mukena tapi kami orang 13:40 Kristen jadi buat alas apa namanya 13:43 alas [mendengus] setrika. Nah itu saya 13:46 seorang salat itu. 13:48 Kalau ada orang lewat saya 13:50 Ehm. 13:50 saya iniin 13:52 saya pura-pura ngituin apa rumput apa di 13:54 luar teras gitu. 13:56 Terus akhirnya 13:58 saya waktu sekolah saya tanya 14:01 gua habis salat subuh nih Yop 14:03 Oh ya, habis salat subuh apa? 14:06 Zuhurlah. 14:06 Ehm. 14:08 Sebelum zuhur ada yang lain ya? Ada 14:09 duha. 14:10 Ehm. 14:10 Nah itu. Makanya saya tanya lagi berapa 14:12 rakaat? 14:13 Bacanya apa? Yang penting niat. 14:16 Saya tidak hafal Al Fatihah, lagi 14:18 belajar sepertinya. Jadi saya 14:20 takbir Allahu Akbar saya cerita 14:22 semuanya. Allah gitu. Terus doa 14:26 bahasa Indonesia lah. 14:27 Ehm. 14:28 Ya. Terus habis itu duha ya saya tanya 14:30 lagi 14:31 udah duha nih, apalagi gitu. 14:33 Ehm. 14:34 Siapa yang salat masa salat cuman dibagi 14:35 lima gitu. 14:36 Ehm. 14:37 Lima waktu. Ya udahlah katanya zuhurlah 14:39 habis ini juga salat gitu. 14:40 Terus akhirnya kayak gitulah. Saking 14:42 saking saya 14:44 apa ya? 14:45 Nikmatnya salat ya. 14:46 Nikmatnya salat. 14:47 Karena saya benar-benar 14:49 kayaknya enaknya salat itu. Saya pas 14:51 menikmati salat itu cuman satu yang saya 14:53 suka. 14:54 Ehm. 14:54 Sujud. 14:55 Sujud ehm. 14:57 Ya sujud. 15:02 Saya kehilangan keluarga. 15:05 Di situ 15:06 saya sampai sekarang pun 15:10 kakak saya masih Kristen 15:12 adik saya masih Kristen 15:14 orang tua saya masih Kristen 15:15 saat itu tapi kalau saat ini 15:18 ya tinggal adik sama kakak. 15:21 Adik saya di Jerman. 15:22 Hmm. 15:23 Kakak saya di Bali. 15:24 Hmm. 15:27 Singkat cerita saya ketahuan sama 15:28 keluarga bahwa saya diikutin sama 15:30 saudara-saudara kenapa hari Jumat kok 15:33 mandi saya 15:33 Hmm. 15:34 kalau pulang sekolah. 15:36 Ternyata saya masuk ke masjid pada 15:38 kaget. 15:39 Hmm. 15:40 Saya disidang sama keluarga 15:42 keluarga besar. 15:44 Keluarga saya cuma satu 15:45 Hmm. 15:46 bahasanya. 15:49 Bahwa saya ini keluarga secara lahir 15:51 bukan batin. 15:52 Hmm. 15:53 Berarti saya 15:54 harus minggir. Saya sangat sensitif. 15:56 Hmm. 15:58 Saya sangat sensitif berarti saya 16:01 secara lahir doang bukan secara batin. 16:02 Mereka mengakui seperti itu. Akhirnya 16:03 saya keluar dari rumah. 16:05 Hmm. 16:06 Saya diusir ya. 16:07 Silakan saja kalau kamu enggak mau bisa 16:09 diatur. 16:10 Singkat cerita seperti itu. Saya tinggal 16:12 di Bekasi 16:16 di sebelah terminal itu ada ruko, ruko 16:18 yang 16:19 tidak dihuni orang banyak. 16:21 Banyak tapi kosong ada. 16:23 Terus saya tinggal sama sama pengamen, 16:26 penghisap lem itu. 16:28 Itu saya setahun. 16:29 Hmm. 16:30 Kebetulan saya 16:32 eh tahun 95 itu saya masuk ke STM 16:36 10 Negeri Cibubur. 16:37 Hmm. 16:39 Teman-teman saya yang Aigub, Agus itu 16:42 cari dana 16:44 untuk menyekolahkan saya bayar 16:47 eh 16:48 Kos. 16:48 Bukan bayar kos, bayar angkutan 16:50 angkutan sekolah terus apa namanya naik 16:53 atau makan dan makan di situ. Akhirnya 16:55 saya 16:57 ya sudah enggak usahlah gitu. 16:59 Ya saya setahun di 17:02 di ruko kosong 17:04 kalau mau sekolah saya loncat dari 17:06 lantai dua 17:08 karena lantai satu ditutup pintunya sama 17:10 pemilik apa sama 17:12 eh 17:13 Yang punya nya. 17:14 Developer nya lah gitu ya karena rumah 17:16 ruko kosong gitu. 17:17 Nah, itu jadi 17:20 saya tinggal sendirian. 17:24 Tinggal sendirian, saya merasa 17:25 kehilangan keluarga yang besarkan saya, 17:27 tapi ini pilihan saya. 17:30 Mmm. 17:32 Saya 17:34 setahun 17:36 saya naik kelas 2, akhirnya keluarga 17:38 saya mencari saya dan 17:41 ada yang mau nampung saya 17:43 di Malang. 17:44 Dari pihak keluarga juga? 17:45 Adiknya mama. 17:46 Mmm. 17:47 Ya 17:49 di Malang ini 17:51 saya memang keluarga saya mampu. 17:55 Eee cukuplah. 17:58 Tapi saat saya di Malang ada suatu misi 18:00 keluarga saya 18:03 bagaimana caranya saya suruh kembali 18:05 lagi. 18:05 Mmm. 18:06 Saya enggak mau. 18:06 Enggak lama-lama ya? 18:08 Akhirnya saya kos. 18:09 Mmm. 18:10 Saya kos 18:11 tapi sebelum kos saya tinggal di masjid. 18:14 Namanya masjidnya itu Muhajirin. 18:16 Muhajirin. 18:16 Sebelah kampus ITN. 18:18 Mmm. 18:18 Tapi saya belum kuliah 18:20 di situ. Terus akhirnya 18:23 saya mulai 18:25 dipanggil lagi dicari 18:27 suruh pulang lagi. 18:28 Mmm. 18:29 Singkat cerita 18:31 karena saya butuh biaya 18:33 saya kuat-kuatin. 18:35 Setelah kuliah 18:37 mau kuliah saya enggak bisa kuliah. 18:38 Kalau kalau mau kuliah 18:40 "Heri, kalau kamu mau kuliah saya 18:42 kuliahkan kamu di mana?" 18:44 kata tante saya. 18:46 Asalkan sama satu, kembali lagi. 18:48 Mmm. 18:49 Minta mobil mau dibelikan, motor mau 18:51 dibelikan. 18:52 Saya enggak. 18:54 Saya akhirnya 18:56 kerja jadi kuli. 18:58 Akhirnya 18:59 dapat borongan 19:00 Mmm. 19:01 apapun gitu. 19:02 Kuli bayarannya tuh saya waktu itu satu 19:04 hari 19:05 7.500. 19:07 Mmm. 19:07 Akhirnya saya setahun 19:10 bisa 19:11 nabung uang 19:13 Saya bisa masuk di tiga dengan uang 19:15 gedung satu juta itupun dicicil. Kalau 19:18 S1 waktu itu kalau enggak salah tiga 19:20 setengah juta. 19:22 Nah, itu. 19:24 Di situ saya enggak nyaman. Saya kos. 19:26 Kebetulan saya 19:28 kenal sama Iwan. 19:31 Nah, di luar dari situ 19:34 saya lapar, Pak. 19:35 Karena saya enggak ada duit. 19:38 Iwan Setiawan ini 19:40 teman saya 19:42 yang menampung saya 19:44 sampai-sampai saya punya hutang sampai 19:47 kami lulus kuliah. 19:49 Dia yang biayain saya 19:51 makan. 19:54 Dia yang biayain saya 19:57 bayar kos. 19:59 Jadi dia 20:01 saya dibagi tugas sama Iwan. 20:04 Tolong ee 20:05 dia kepala gengnya lah. Jadi kepala 20:08 kos-kosan bayar telepon 20:11 yang tidak abonemen, yang interlokal kan 20:14 kami kan kebanyakan mahasiswa luar-luar 20:17 Jawa atau di Jawa. Jadi 20:19 cek print sama dia nanti saya yang 20:21 bayar. Tapi saya yang lapor. Eh, kamu 20:23 bayar. Terus kalau satu kamar ada TV, 20:26 ada radio tambah lagi bayar listriknya. 20:29 Tapi Iwan memberikan saya 20:32 udah saya talangin dulu. Nanti kan entar 20:34 saya bayar kok gampang gitu. 20:36 Itu Iwan, Iwan Setiawan. Saya kenal 20:37 seperti beliau. 20:38 Terus saya lapar itu 20:41 Iwan enggak tahu. Tapi Iwan 20:42 kadang-kadang kalau anak-anak kos itu 20:43 jam magrib itu nitip. 20:45 Dia tahu. 20:47 Eh, lu makan apa? Eh, enggak enggak 20:48 enggak. Saya udah 20:50 enggak makan. Makan dia. Kadang kita 20:52 sebungkus berdua sama beliau. 20:55 Terus ada, Pak, saya diajak sama dia tuh 20:57 jamaah tabligh. 21:00 Saya suka jamaah tabligh, Pak. 21:01 Makan ya. 21:03 [tertawa] 21:03 Karena saya lapar, Pak. 21:06 Gitu. Jadi ya 21:09 sebenarnya banyak cerita yang ibaratnya 21:12 kesimpulannya 21:15 saya tuh ternyata 21:17 dulu enggak ragu, Pak. Yang Iwan pernah 21:19 cerita lho, Ra. Sebenarnya saya ragu. 21:22 Saat saya kecelakaan 21:24 2 bulan eh 2 minggu saya enggak sadar di 21:25 Malang, kepala saya pecah. 21:27 He em. 21:29 Itu saya nyebut, Pak, Tuhan. 21:31 He em. 21:32 Lebih dari satu. 21:34 Maksud saya ya Allah 21:37 ya de- ya Tuhan Yesus 21:39 ya Dewi Kwan Im. 21:41 He em. 21:41 Dokter bilang sama keluarga saya oh 21:43 tenang ini enggak bakal meninggal 21:45 karena bakalan belum diterima 21:48 sama Tuhan. 21:48 He em. 21:49 Jadi saya nyebutin karena mungkin di 21:51 alam sadar saya 21:53 [mendengus] 21:53 tante saya bilang wah kamu waktu apa ya 21:55 koma 21:57 ngigunya begitu katanya. 21:58 He em. 21:58 Tapi dokter yakin kamu enggak bakal 22:00 meninggal. 22:00 He em. 22:01 Soalnya kamu belum diterima nah itu. 22:04 Jadi intinya 22:05 saya juga waktu itu sempat enggak yakin 22:08 ada suatu keraguan. 22:09 Saya waktu di Masjid Muhajirin 22:13 itu subuh saya 22:15 salat tahajud sebelum subuh 22:17 saya maki-maki, Pak. 22:19 Siapa? 22:20 Allah. 22:21 He em. 22:22 Saya maki-maki Allah. 22:23 He em. 22:24 Saya sudah pilih Dia. 22:25 He em. 22:25 Saya sudah jengking. 22:27 He em. 22:27 Saya sudah salat enggak ada hasil. Saya 22:29 masih lapar. 22:31 He em. 22:31 Saya bilang imam 22:33 [mendengus] 22:34 Imam 22:35 He em. 22:35 Ghozali ya, Wan ya? 22:36 Ya. 22:37 Imam Ghozali 22:38 di Masjid [mendengus] 22:39 Muhajirin. 22:40 Saya sudah jengking-jengking lima waktu 22:43 jawab apa? 22:45 Saya enggak punya duit buat kuliah. 22:46 He em. 22:48 Saya enggak bisa tidur. 22:49 He em. 22:50 Lapar. 22:51 He em. 22:51 Tapi ternyata 22:53 saya dikenalin sama dulu itu 22:58 Bang Gunung Bang Gunung Ringgit ya, Wan? 23:00 Iya. 23:01 Sempat dimodalin tapi saya enggak mau. 23:02 Saya enggak mau di dibelas kasihanin 23:04 saya enggak mau. 23:05 Karena saya masih mampu, tangan saya 23:07 dua, kaki saya dua, saya sehat. 23:11 Walaupun saya pernah 23:13 saking laparnya saya makan ini yang saya 23:15 enggak pernah cerita sama teman-teman 23:16 saya. 23:18 Saya lapar, Pak, di kuli di kampus. 23:22 Enggak bisa bohong, tapi saya tuh enggak 23:24 sakit. 23:25 He em. 23:26 Tapi saya lapar saat itu. 23:27 He em. 23:28 Saya lihat koran tuh enak nih bukan mie. 23:30 He em. 23:30 Saya dulu ingat [berdehem] waktu SD 23:32 bikin bubur koran. 23:33 He em. 23:34 Koran itu di 23:35 hancur. Dulu itu ada kan, Pak, koran 23:37 kotor di tiang itu. 23:39 He em, he em. 23:39 Nah, kayak gitu koran hari ini saya 23:41 robek itu saya bangkit cuci. 23:44 Saya cuci sampai sampai kayak bubur gitu 23:46 di di keran. 23:48 Saya makan. 23:49 Saking laparnya. 23:50 Cuman saya cuman mikirnya sesuatu media 23:53 cuman masuk sini aja. 23:55 Enggak itu singkong, enggak itu beras, 23:57 enggak itu kue. Tapi saya pikir, wah, 23:59 ini 24:00 bisa dimakan. 24:02 Kayaknya enggak ada deh orang mati 24:03 informasinya makan koran mati gitu 24:05 enggak ada. 24:07 Loh, kok enggak selesai. 24:09 Nah, itu jadi 24:11 [mendengus] 24:11 saya itu risiko saya, saya mikir. Saya 24:14 enggak bisa nyalakan orang lain. Saya 24:16 enggak bisa nyalakan orang tua. 24:17 Yang walaupun memang notabenenya saya 24:19 ditinggal. 24:22 Teman-teman saya 24:24 ada namanya Sugeng, 24:26 ada namanya Bagus, ada namanya Irwan, 24:29 ada namanya Al Miri. Teman-teman kampus 24:31 mereka 24:33 kuat menemani saya. 24:35 Ternyata di bawah saya juga saya pikir 24:36 banyak, Pak, yang masih tinggal di 24:38 kolong jembatan. 24:40 Tapi saya mikirnya ya memang di saat itu 24:42 saya menikmatinya sungguh enak. 24:45 Tapi setelah saya 24:49 sudah 24:51 bisa berdiri sendiri, 24:53 bisa kerja, ternyata 24:55 yang saya tanyakan sama Imam Ghazali, 24:57 Allah itu tidak menjawab. 25:00 Ternyata saya salah. 25:01 He eh. 25:02 Allah tuh memberikan saya kesehatan 25:04 untuk menghadapi seperti itu 25:06 He eh. 25:07 sangat besar sekali. 25:08 He eh. 25:08 Saya enggak pernah sakit. 25:11 Saya lapar 25:13 tapi usus saya sehat. 25:15 Saya enggak pernah sakit, enggak pernah 25:16 meriang, enggak pernah masuk angin. 25:19 Itu yang saya baru tahu ternyata saya 25:22 salah. 25:23 Jadi intinya 25:25 di acara ini mungkin 25:27 saya ini 25:30 eee kalau saya cerita masa lalu banyak 25:32 Pak, tapi saya senang sedih. 25:34 Karena saya memang harus berjuang 25:35 sendiri 25:37 tanpa saya harus bilang Mas Iwan. 25:40 Tanpa saya bilang Mas Bagus sama Sugeng, 25:42 sama Irwan, atau sama Wawan, atau 25:44 siapapun. 25:46 Karena mereka juga mendukung saya, tapi 25:48 saya harus bisa. 25:50 Alhamdulillah 25:51 ternyata 25:54 teman-teman 25:55 yang sudah 25:58 menyandang 25:59 atau sudah menerima Islam 26:03 jangan takut, saran saya akan duniawi. 26:07 Karena duniawi itu buat saya cuman hanya 26:09 sebuah identitas. 26:11 Duniawi itu kamu kaya, kamu miskin 26:15 kamu jelek kamu ganteng itu yang ngasih 26:17 nama cuman manusia. 26:18 He eh. 26:19 Bukan Gusti Allah. 26:20 He eh. 26:21 Gusti Allah itu 26:23 semuanya sama. 26:24 Di mata Gusti Allah tuh, si kaya, si 26:26 miskin, si sehat, si sakit 26:29 sama aja. 26:31 Saya cuman saran kalau kita 26:33 [mendengus] 26:34 punya kekuatan untuk ibadah, ya 26:37 kuatkanlah ibadah. 26:41 Tidak bisa atau jangan sampai dinilai 26:44 karena manusia. 26:47 Bukan tipe 26:48 Islam buat saya. 26:50 Karena Islam itu, salat itu, memang buat 26:52 pribadi. 26:54 Buat dirinya sendiri. 26:56 Tetapi yang lebih penting, kita saling 26:58 berbagi. 27:01 Salat itu untuk pribadi, Pak. Menurut 27:03 saya. 27:04 Tetapi kalau berbagi ilmu, 27:06 berbagi rezeki, 27:08 berbagi darah, donor, 27:11 itu sangat bermanfaat kehidupan orang 27:13 lain. 27:14 Salat itu buat diri sendiri. 27:15 Masya Allah. 27:16 Menurut saya itu. 27:18 Iwan salat, 27:19 bagus atau saya salat bagus misalkan. 27:22 Tapi saya enggak berbagi, percuma. 27:24 Ehm. 27:25 Karena saya merasakan saat saya dibagi 27:27 sama seseorang, 27:29 saya selalu mendoakan mereka. 27:31 Tetapi orang tidak berbagi pun saya 27:32 tidak tidak pilih kasih, saya doakan. 27:34 Contoh keluarga saya. 27:35 Ehm. 27:35 Keluarga saya tidak kumpul sama saya, 27:36 saya doakan baik-baik saja semuanya. 27:40 Makanya ada orang mungkin cerita, 27:43 Islam sama Kristen kita bertengkar. 27:46 Saya dalam hati kadang-kadang saya 27:47 berpikir begini. 27:49 Kalian enggak merasakan 27:51 rahimnya 27:53 ibu saya. 27:54 Saya selalu bilang sama Iwan waktu itu. 27:57 Wan, saya mau nanya. 27:59 Aku nih salat, Wan. Aku mendoakan orang 28:01 tua seperti apa? 28:02 Ehm. 28:04 Sedangkan orang tua saya, ibu saya, 28:05 rahim saya, orang mengatakan haram. 28:07 Ehm. 28:08 Kristen. 28:09 Ehm. 28:09 Najis atau apa. Seperti apa, Wan? 28:13 Kita beda jalur lagi. 28:14 Ehm. 28:14 Orang tua saya seperti apa? Apa saya 28:16 enggak mendoakan? Apakah saya termasuk 28:18 orang yang anak yang 28:20 Durhaka. 28:20 Durhaka tidak mendoakan. Apa doa saya 28:22 tercapai, Wan? Sampai ke ujung langit? 28:24 Sampai ke Allah? 28:27 Jejaknya Iwan ya. 28:28 Ehm. 28:29 Salat saja. Doakan saja. 28:31 Semua itu Allah yang menilai. 28:33 Ehm. 28:33 Semua di mata Allah itu sama. 28:35 Ehm. 28:36 Allah yang memang tahu. Allah yang bisa 28:38 menilai. 28:39 Ehm. 28:39 Allah yang bisa menimbang. 28:41 Ehm. 28:41 Walaupun kamu ibadah seperti apa, Allah 28:44 punya penilaian ya. 28:45 Iya. 28:46 Saya akhirnya 28:49 Bapak saya meninggal 28:51 alhamdulillah dengan Islam. 28:55 Ibu saya 28:57 alhamdulillah 29:00 saya jarang ketemu, Pak. 29:01 He eh. 29:01 Jarang ketemu. 29:04 Jarang ketemu. 29:06 Terus akhirnya saya pulang 29:09 Ibu saya sudah 29:11 eh 29:12 [mendengus] 29:13 apa ya? Sudah 29:16 memeluk Islam. 29:17 Alhamdulillah, masya Allah. 29:19 Dia 29:21 ya 29:23 Allah Maha Besar, saya enggak enggak 29:26 saya pun enggak bisa, Pak, doakan. Cuman 29:28 saya saya enggak bisa mengajak. Saya 29:29 cuma nanya bisa mendoakan. 29:31 Karena 29:32 saya tidak punya 29:34 ilmu yang banyak, ilmu yang bisa 29:37 berbicara Islam seperti apa. Saya cuma 29:40 nanya bisa menyelamatkan diri saya 29:42 sendiri dulu saja. Saya enggak bisa 29:43 dakwah, saya enggak bisa 29:46 memberikan ayat apa yang menguatkan 29:47 Islam. Karena saya cuma nanya bisa 29:49 menyelamatkan diri saya sendiri 29:51 diri saya saya selamatkan dulu. 29:52 Tapi berarti Ibu masuk Islam ya, sudah 29:54 ya? 29:55 Saya rencananya kemarin 29:57 saya mau ngajak umroh 29:58 He eh. 29:59 Ibu saya 30:01 sama istri saya. 30:02 Tapi ya insya Allah 30:04 ini 30:05 masih ada kendala lah travel-nya. Tapi 30:07 saya buat itu enggak apa-apa. Semua saya 30:09 serahkan kepada Allah. Saya yakin Allah 30:11 tuh memberikan jawaban itu 30:14 pasti, Pak. Saya enggak saya enggak 30:16 enggak ragu. Malah saya 30:18 saya bilang sama Iwan, saya enggak takut 30:19 sama orang, Pak. 30:20 He eh. 30:21 Karena saya cuma takut sama Allah saja. 30:22 He eh. 30:23 Oh, saya kalau dibunuh mati, Pak. 30:25 He eh. 30:26 Kalau dibunuh mati. 30:28 Tapi saya 30:30 mungkin saya melawan dulu. 30:31 He eh. 30:31 Jangan sampai saya mati konyol. 30:33 He eh. 30:33 Tapi kalau Allah itu saya enggak tahu 30:35 kapan dihukum, saya takut gitu saja. 30:37 Jadi 30:38 ya ibadah saya 30:41 saya jalankan. 30:42 Intinya 30:44 saya takut sama Allah. 30:46 Yang teman-teman yang sudah 30:48 mungkin Iwan ya teman-temannya mualaf di 30:51 penjuru dunia ataupun di Indonesia 30:53 seperti apa. 30:56 Jangan takut. 30:57 Jangan takut Allah itu pasti ada. 30:59 Masya Allah. 31:00 Allah pasti ada. 31:02 Oke Iwan Ahmad tadi kita sudah mendengar 31:05 ya penuturannya atau perjalanan dari 31:08 eee Mas Haryanto bagaimana dia lalu 31:12 eee masuk Islam. 31:14 Eee Mas Iwan bisa ceritakan ketika salat 31:17 kita berdua 31:18 eee tahunya nangis dia tadi dia nangis 31:20 sambil nangis tuh. Sambil keluar air 31:22 mata. 31:23 Iya sebenarnya teman saya ini Haryanto 31:25 ini hatinya lembut ya. 31:27 Dia badannya gede 31:29 ya 31:30 kekar gitu ya. 31:32 Tapi hatinya Hello Kitty kalau kita 31:33 bilang. 31:34 [tertawa] 31:35 Gampang nangis dia. Jadi waktu masih 31:37 kuliah itu biasa dia biasa saya kan ke 31:40 masjid salat. 31:41 Ketika itu dia masih main-main ketika 31:43 awal di kos-kosan saya di Mertojoyo 31:46 daerah Dinoyo gitu kan. 31:47 Uniga. 31:48 Eee di sebelah kampus Uniga. 31:51 Eee datang. Mau ke mana Wan? Mau ke 31:53 masjid. Udah salat sama gua aja di sini. 31:56 He em. 31:56 Ya udah. 31:58 Eee buka tirai hordennya jadi dari sana 32:01 kan masih ada cahaya matahari gitu kan. 32:03 Salat saya imamin berdua gitu. 32:06 Di belakang bunyi terisak-isak gitu kan. 32:09 [mendengus] 32:09 Gitu kan. 32:11 Saya lihat 32:12 nangis ini di belakang ini kan. 32:14 Eee tapi habis saya salam gitu saya 32:16 lihat 32:17 kan kelihatan nih 32:19 air matanya penuh 32:20 Numpang ya. 32:20 gitu kan. Eee begitu saya balik sini 32:24 salam satu lagi langsung cepat-cepat dia 32:26 hapus ndak mau ndak mau kelihatan dia 32:27 nangis gitu kan. 32:29 Terus habis zikir-zikir habis doa dia 32:32 ngomong Wan [mendengus] gimana tentang 32:33 ibu gua. 32:34 He em. 32:35 Kenapa Her? 32:36 Ibu gua belum Wan. 32:38 He em. 32:39 Gimana gua enak-enak di surga, 32:41 ibu gua dibakar di neraka, lu sebagai 32:43 anak gimana? 32:45 Gimana caranya, Wan? 32:47 Ya saya tadi yang seperti Heri cerita, 32:50 doakan aja kita orang Islam ini cuma 32:52 bisa doa dapat hidayah. Semoga suatu 32:54 saat 32:56 keluarga lu bisa masuk Islam, Her. 32:58 Wah, nangis. Itu setiap kali. Sampai 33:01 saya pindah kos ke dekat ITN, 33:03 akhirnya satu kos-kosan sama Heri. 33:06 Nah, di sana itu lagi kalau apa tanya 33:09 tentang ibunya. Jadi bertahun-tahun itu 33:11 aja. 33:12 Ternyata baru saya dapat poinnya tadi. 33:14 Dia enggak bisa mendakwahkan orang tua, 33:16 yang dia bisa lakukan hanya berdoa. 33:17 Ternyata ada poinnya juga. 33:19 Ya, tidak 33:20 Allah kabulkan 33:20 Iya, Allah kabulkan. Ya, bayangkan 33:23 bertahun-tahun itu. Bukan setahun, dua 33:25 tahun, bertahun-tahun dia tanya tentang 33:26 ibunya gitu. 33:28 Hingga suatu hari pulang dia dari 33:30 Jakarta cerita sama 33:32 Wan, alhamdulillah, Wan. 33:33 Ibu gua mah udah syahadat, Wan. Udah 33:35 Islam, Wan. Gimana caranya? Lu yang 33:38 Islamkan? 33:39 Bukan. Terus? Kemarin waktu Ramadhan, 33:42 gua masuk rumah, 33:44 selisih jalan sama ibu gua, ada horden 33:46 kan, selisih jalan tabrakan di horden 33:48 itu. 33:50 Loh, mama mau ke mana? Dia bilang. 33:51 Mau ke masjid, udah pakai mukena gitu 33:53 kan. Nah, mau ke masjid? Sudah, pas 33:56 mamanya berangkat, aku balik ke situ 33:59 sujud syukuran, nangis aku di situ di 34:00 kamar, dia bilang. 34:02 Ya, masya Allah, jadi ini hidayah Allah 34:04 ya, wah kebulana dari Allah yang tidak 34:06 disangka-sangka ya. 34:07 Oke. 34:08 Begitu, Pak. 34:09 Kita sudah mendengar perjalanan menarik 34:11 ya, 34:12 salah satu 34:14 upaya yang dilakukan teman kita untuk 34:16 bagaimana orang jadi masuk Islam, ini 34:18 dalam eh 34:20 usahanya Mas Anjas ini. 34:23 Dia berjalan ke NTT, ke Thailand 34:25 Selatan, ke Mentawai, 34:28 eh dalam naungan Yayasan Inspirasi 34:31 Qur'an Berbagi. Silakan Mas Anjas bisa 34:33 diceritakan kisahnya. 34:35 Baik, ee 34:37 pertama ucapkan terima kasih Ustaz sudah 34:39 mengundang kami di sini tentunya. 34:42 Sebenarnya ini wasilah dari Ustaz Iwan 34:44 juga. Jadi Ustaz Iwan ini luar biasa 34:45 banget Ustaz. 34:46 Betul. 34:47 Luar biasa sekali. Beliau ini aktivis 34:49 yang memang mengajak semua orang yang 34:51 punya potensi untuk bergabung di dalam 34:53 dakwah. 34:54 Walaupun kita tidak menempuh pendidikan 34:56 pesantren ataupun apa ya yang sifatnya 34:59 berbau Islami sejak kecil. 35:01 Beliau membuktikan bahwasanya dakwah itu 35:02 tidak harus dilihat dari track record 35:04 itu. 35:05 Nah, kamu punya niat baik 35:07 [mendengus] 35:07 kamu punya sesuatu yang bisa untuk 35:09 disumbangkan di dalam perjuangan dakwah 35:11 ini mudah-mudahan jadi jalan kan. 35:13 Jadi kemarin itu ee awalnya awalnya ku 35:17 di NTT. Awalnya di NTT itu diajak oleh 35:19 beliau. Diajak oleh Ustaz Iwan. 35:21 Diajak oleh Ustaz Iwan untuk 35:24 [mendengus] 35:25 ke tempat beliau untuk mensyiarkan 35:27 tentang 35:28 Palestina. Karena pada saat itu kan 35:29 Palestina lagi booming-boomingnya kan 35:31 masalah kan. 2 tahun dibantai tanpa 35:33 henti pada saat itu. 35:35 Pada saat kami ee saya ke sana bersama 35:38 Ustaz Iwan memang beliau menjelaskan 35:40 bahwasanya wilayah NTT ini mayoritas non 35:43 muslim ya kan. 35:44 Mayoritas non muslim yang memang 35:47 ana secara pribadi yang belum pernah ke 35:48 sana yang memang cukup ini ya 35:50 shock kultur ya. Shock kultur di pinggir 35:52 jalan kan berbagai macam 35:55 ee apa namanya pemandangan pemandangan 35:57 ya yang berbeda dengan 35:59 ee tempat saya tinggal itu di Sumatera 36:01 Barat kan. Sumatera Barat kan terkenal 36:03 dengan Islamnya sangat kuat ya dan para 36:05 ulama banyak lahir di sana. 36:07 Cuma memang banyak juga ini setelah ana 36:10 searching sejarah-sejarah ternyata ada 36:11 juga sejarah saudagar muslim Minang yang 36:13 pernah membeli tanah di situ. 36:15 Yang hari ini menjadi salah satu ya 36:17 salah satu situs wisata. Cuman 36:20 semenjak wilayah tersebut sudah dikuasai 36:22 oleh apa ya Portugis yang berkuasa itu 36:24 jadi bekas itu sudah dihilangkan. 36:26 Hanya jadi tempat wisata apa itu? 36:29 Kemarin rumah-rumah yang dari 36:31 itu cuman bukan di daerah NTT bersatu, 36:33 bukan di daerah 36:34 kepulauan Kupang itu. 36:36 Flores mungkin. 36:38 Akhirnya kami explore sama kita syiar 36:40 dakwah keliling bareng Ustaz Iwan. 36:43 Khusus konsentrasinya adalah bagaimana 36:45 membangun peradaban Islam itu melalui 36:47 masjid. 36:49 Dan kita juga mensosialisasikan 36:51 bagaimana krisis kemanusiaan yang ada di 36:52 Palestina. Ternyata di situ 36:54 mata saya terbuka, Ustaz. 36:56 Bahwa kondisi dominasi kondisi umat 37:00 muslim 37:01 yang ada di wilayah minoritas ya, 37:03 wilayah mayoritas non muslim 37:06 itu 37:08 membutuhkan banyak 37:10 apa ya, membutuhkan banyak perhatian 37:12 khusus 37:13 dalam hal kemanusiaan maupun dalam hal 37:15 iman. 37:17 Enggak apa-apa kita cerita ya. 37:18 Iya, enggak apa-apa. 37:19 Ini ada salah satu musala yang kami 37:20 datangi di salah satu kabupaten di sana. 37:22 Itu masih di pulau yang ada ini ibukota 37:24 itunya, Kupang. 37:27 Kami naik mobil berdua sama beliau. 37:29 Diajak oleh MUI di sana untuk melihat. 37:31 Ada musala yang didirikan oleh 37:35 warga muslim di situ yang jumlahnya 37:38 sedikit di pinggir jalan 37:40 He em. 37:41 [mendengus] 37:41 itu di 37:43 halangi untuk didirikan kubah. 37:46 He em, he 37:47 Nah, dihalangi oleh didirikan oleh pihak 37:49 pemerintahan setempat, pemerintahan 37:51 setempat. Di zaman gubernur yang lama 37:53 ya. 37:54 Kalau gubernur-gubernur sekarang agak 37:56 sedikit lebih baik, ada bau apa ya, 37:59 bau-bau mendukung langsung umatnya. 38:01 Akhirnya pada saat itu momentum kami ada 38:04 program dengan lembaga lain itu project 38:06 sedekah daging. Kebetulan alhamdulillah 38:08 banyak bantuan sedekah daging di wilayah 38:10 tersebut. Kalau wilayahnya boleh kita 38:12 sebut? 38:13 Boleh. 38:13 Boleh juga ya. Namanya wilayahnya itu 38:15 Timor Tengah Selatan. 38:17 Untuk konsentrasinya nanti kita bahas. 38:19 Ada musala pinggir jalan, itu yang 38:21 mendirikannya luar biasa. Yang 38:22 mendirikannya itu si pemilik tanah dan 38:24 juga umat non muslim yang ada di situ 38:26 juga. Jadi gotong royong. 38:27 He em. 38:28 Warga di sana gotong royong. Warganya 38:30 saja itu toleransi banget, luar biasa. 38:32 Ada yang nyumbang semen dari yang non 38:34 muslim, warga non muslim di ini di Ambon 38:36 [berdehem] Selatan itu. Nyumbang semen, 38:37 bantu, bantu bangun mushola. Itu dibantu 38:40 sama warga non muslim. Cuma masalah 38:42 perizinannya. 38:44 Perizinannya yang memang 38:46 agak di 38:46 agak dipersulit. Cuma tetap dibangun. 38:49 Mereka enggak [berdehem] dirubuhkan, 38:49 enggak. Cuma dilarang 38:51 untuk meletakkan kubah. 38:53 Oh kubah. 38:54 Itu saja. 38:55 Bangunan tetap berdiri, kubah tidak. 38:56 Gitu. 38:57 Berbagai macam itu sampai 2 tahun, 3 38:59 tahun kabarnya belum selesai di sana. 39:02 Akhirnya kami diajak lagi ke daerah 39:03 paling ujung lagi. Paling ujung lagi itu 39:05 di mana itu Ustaz ya? Soya. 39:07 Atau daerah apa itu? 39:09 Kami menemukan memang wilayah-wilayah 39:11 minoritas muslim itu kebanyakan warganya 39:13 adalah warga prasejahtera. 39:15 He em. 39:16 Akhirnya ada dua poin yang kami dapatkan 39:17 di situ. 39:18 Sulit bangun tempat ibadah. Yang kedua 39:21 rata-rata warganya kurang mampu. 39:23 He em. 39:25 E 39:25 akhirnya kami masuk sebuah wilayah 39:28 namanya Kampung Kium. Itu pedalaman 39:30 sekali, pelosok sekali. 39:32 Dan bahkan akses untuk masuknya itu 39:35 kita pertama naik mobil apa bak itu ya? 39:38 Pick up. Pick up. 39:38 Pick up itu ya. Masuk ke dalam, berhenti 39:40 enggak bisa lagi pakai bak. Pakai motor. 39:42 E di pakai e 39:44 ojek ojek apa namanya? Ojek yang dari 39:47 warga sana. 39:49 E warga sana 39:50 itu untuk masuk ke lebih ke dalam lagi, 39:52 ke dalam sana. 39:54 Itu ada satu masjid yang dibantu oleh 39:57 sebuah lembaga juga. 39:58 E sebuah lembaga juga. 40:00 Dan lucunya dan lucunya ojek yang 40:02 mengantarkan kami ke dalam itu salah 40:03 satunya adalah orang yang sempat muslim. 40:05 He em. 40:06 Sempat muslim. 40:07 Dia awalnya non muslim. E Kristiani, 40:10 muslim, balik lagi non muslim. 40:12 Kenapa? Karena keawaman dalam 40:14 menyampaikan dakwahnya tadi. Jadi tokoh 40:16 di sana itu 40:18 semangat untuk mengajak masuk Islamnya 40:19 luar biasa, cuma semangat untuk merawat 40:22 orang-orang yang baru masuk Islam itu 40:23 kurang gitu. 40:25 Nah, cuma di situ alhamdulillah ada satu 40:26 masjid yang luar biasa. 40:29 Dapatlah tiga poin. Oh, ternyata di situ 40:31 umat muslim eh ada ada kesempatan untuk 40:33 masyaallah bertemu dengan 40:35 saudara-saudara kita yang baru masuk, 40:36 cuma perlu eh edukasi yang lebih 40:38 panjang. 40:39 Akhirnya diskusilah sama Ustaz Iwan. 40:40 Nah, sepertinya kita harus punya 40:42 proyeksi ini, Ustaz. 40:44 Kita proyeksi yang sama. Kebetulan 40:46 memang yayasan kita namanya Inspirasi 40:47 Quran Berbagi. 40:49 Eh kita ingin jadikan Quran itu sebagai 40:51 inspirasi. Karena memang kalau kita 40:52 baca, kita tadaburi, bukan hanya baca eh 40:55 ayat-ayatnya saja, itu isinya tuh solusi 40:57 semua dalam Quran itu. 40:59 Gerakan kemanusiaan itu kan banyak 41:00 semuanya ada di dalam Quran. 41:02 Ngomongin apa? Masalah yatim ada di 41:03 sana. Masalah berbagi kepada eh apa? 41:05 kepada orang yang kurang mampu ada di 41:06 sana. Membangun tempat ibadah ada di 41:08 sana. 41:09 Nah, akhirnya kita diskusi sama Ustaz 41:10 Iwan. Kemungkinan insyaallah pasca ini 41:13 kita akan fokus untuk proyek peduli 41:16 muslim minoritas. Pertama, renovasi 41:18 masjid. 41:19 Iya kan? 41:20 Eh alhamdulillah kemarin ada dua tempat 41:21 yang jadi penerima manfaat kita, itu di 41:24 Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, Nusa 41:26 Tenggara, sama Pulau Flores. 41:30 Nah, pada saat kita ingin proyeksi 41:32 menyalurkan di sana, gempa bumi beberapa 41:35 waktu yang lalu gempa bumi. Akhirnya 41:36 kita ganti ke sembako. 41:38 Kita utamain ngirimin sembako 41:40 sebanyak-banyaknya. 41:42 Nah, itulah eh 41:43 yang akhirnya menjadi 41:46 prioritas kita selain krisis kemanusiaan 41:48 untuk Bumi Syam, 41:50 khusus di Palestina. Di situ kami banyak 41:53 bekerja sama. 41:54 Eh insyaallah kita juga merangkul 41:56 teman-teman yang lain, khususnya untuk 41:57 Forum Arimatea sebagai salah satu wadah 42:00 yang sangat luar biasa 42:02 yang memang sudah hampir 24 tahun ya, 23 42:05 tahun konsisten 42:07 dalam menyampaikan risalah dakwahnya. 42:09 Dan ini momentum juga untuk kami bisa 42:11 terlibat menyelamatkan 42:13 eh saudara-saudara kita yang muslim yang 42:16 berada di wilayah eh minoritas 42:19 yang mungkin 42:21 eh tantangannya lebih berat dibandingkan 42:23 kita yang berada di wilayah yang 42:24 dominasi 42:25 eh mayoritas. Nah, belum ujian di sana, 42:28 belum lagi masa perekonomian. 42:31 Karena memang ada sebuah oknum juga yang 42:32 datang ke sana, oknum yang datang ke 42:34 sana untuk mengajak mereka berada di 42:37 dalam sirkel mereka untuk meninggalkan 42:39 agama. Itu ada. 42:41 Dan dan Pak itu boleh kita sampaikan di 42:43 sini? 42:44 Heeh. 42:44 Boleh ya? Enggak salah ya? Dan itu 42:46 nyata, Ustaz. Pak dulu kemarin ana cuma 42:49 dapat cerita aja dari Ustaz. Ana 42:50 kayaknya enggak mungkinlah kayak gitu. 42:51 Masa iya ada yang seperti itu? Karena 42:53 kami merasa kami di Sumatera enggak 42:54 pernah merasakan seperti itu. Walaupun 42:56 kami dapat isu juga di Sumatera Barat 42:57 itu di wilayah yang di eh salah satu 42:59 wilayah yang dominasi ada di situ juga, 43:01 ada juga yang seperti itu. 43:03 Eh ternyata di situ memang memang iya. 43:07 Nah, maka kita langsung lebih semangat 43:08 lagi untuk mobilisasi. Kalau mereka 43:10 bantu sembako, kita bantu lebih banyak 43:12 sembako. Kalau mereka melarang kita 43:14 bangun masjid, masjid yang ada kita 43:15 renovasi. Karena memang masjidnya 43:17 masjidnya perlu perhatian, Ustaz. Di 43:18 sini luar biasa masjid. Kalau di situ 43:20 butuh perhatian. Fasilitas dan 43:22 macam-macam. Yang sudah retak-retak pun 43:23 masih dimanfaatkan selagi selagi masih 43:25 roboh. Bahkan ada yang 43:27 masjid itu 43:29 eh teman kami berangkat ke sana ke 43:31 Lembata itu 43:32 ada di tengah hutan itu masih kayu-kayu 43:35 gitu. 43:36 Dasarnya pelepah. 43:38 Heeh. 43:38 Pelepah apa itu? 43:40 Pelepah. 43:40 Eh dari kelapa, dari 43:43 Lontar kelapa. 43:43 Oh iya, lontar ya. 43:45 Nah, itu [mendengus] semua dibuat itu. 43:45 Dan itu terjadi di Nusa Tenggara Timur 43:48 dan tidak terlihat oleh kita semua. 43:49 Makanya 43:50 setelah sih kita sadar di situ ada dan 43:52 di situ begitu argen ya, maka kita ambil 43:54 untuk bisa ambil proyeksi di sana. 43:56 Gitu. 43:57 Oke, Iwan Hamawi. Luar biasa dia Cahaya 43:59 Hijrah ini kami mengundang tiga 44:01 narasumber. Yang pertama adalah Ana kami 44:03 akan bacakan nomor HP masing-masing. 44:05 Siapkan saja pulpen sama kertas. 44:07 Eh, yang pertama tadi Bapak Heriyanto, 44:10 seorang mualaf. Kemudian ada Anjas dari 44:14 Yayasan Inspirasi Quran Berbagi yang 44:17 berdakwah ke NTT, Thailand Selatan, dan 44:20 Mentawai. Kemudian ada Ustaz Iwan 44:23 Setiawan 44:24 dari Arimatea, beliau adalah Sekjennya. 44:27 Kami akan bacakan nomor teleponnya dan 44:29 Ustaz Iwan juga menulis buku judulnya 44:31 The Secret 44:32 Fadhilah Alquran. 44:34 The Secret Fadhilah Alquran mengetahui 44:37 rahasia keutamaan Alquran 44:39 dari hadis Nabi akan membangkitkan 44:41 semangat setiap muslim dan untuk 44:44 membaca, mempelajari, dan mengamalkan 44:45 Alquran. Kemudian juga ada stiker-stiker 44:47 yang berisi kata-kata hikmah. Kata kami 44:50 mulai dari eh 44:52 nomor telepon 44:54 eh Bapak Heriyanto ya, ya seorang 44:56 mualaf. Ini nomornya 0813 45:02 kemudian 16 45:04 47 2525. 081316472525. 45:12 Kemudian ada Uda Anjas dari Yayasan 45:15 Inspirasi Quran Berbagi 45:17 nomornya 08238344 45:23 8954. 45:25 0823 45:27 kemudian 8344 45:30 8954. Kemudian ada Ustaz Iwan Setiawan 45:35 Sekjen dari Arimatea 45:37 yang juga menulis buku 45:40 ini nomornya eh 45:43 0813 45:47 3 lagi 45:49 4415538. 45:52 0813 45:56 344 45:57 155 46:00 38. Beliau ini sudah 23 tahun bercimpung 46:03 di dalam eh Arimatea ya. 46:06 Penyebarkan dakwah Islam ke para mualaf. 46:09 Ehm, kemudian nomor rekeningnya sudah 46:11 semua ya? 46:13 Oke, ini juga kalau Anda mau sharing 46:16 infak, silakan di BSI Rumah Mualaf 46:20 Arimatea Jogja. 46:23 Nomornya 73 23 579393. 46:29 73 23 579393 46:34 BSI 46:36 atas nama Rumah Mualaf Arimatea 46:39 Yogyakarta. 46:41 Ehm. 46:44 Pak Haryanto, ada lagi yang bisa 46:46 diceritakan? 46:47 [tertawa] 46:48 Saya menyentuh semua sampai-sampai saya 46:49 sampai bengong saya. 46:51 Silakan. 46:52 Saya rasa ya. 46:54 Ehm, lebih dekat ke ke mic. 46:55 Saya rasa ya. 46:57 Mungkin itu saja Pak. Saya juga tidak 46:59 mau. 47:01 Sebenarnya saya enggak suka dipublikasi. 47:03 Karena mungkin Iwan bilang. 47:07 Selama kita masih dikasih umur mungkin 47:08 ada. 47:09 Cerita-cerita yang mungkin bisa 47:11 bermanfaat. 47:12 Positifnya kita ambil, insya Allah ya. 47:15 Intinya saya sekedar menyampaikan untuk 47:18 teman-teman yang. 47:20 [mendengus] 47:20 Satu perjuangan untuk kita di akhirat 47:22 mencapai damai surga yang dijanjikan 47:25 Allah. 47:26 Kita memang. 47:28 Berani mengambil perbedaan. 47:31 Sampai-sampai kita mungkin. 47:33 Kehilangan orang-orang yang kita cinta. 47:36 Atau barang-barang duniawi yang kita 47:38 harus kita tinggalkan karena kita 47:40 memilih. 47:41 Nilai yang lebih berharga atau damai 47:43 yang paling indah yang Allah janjikan. 47:48 Itu ya surga buat jadi buat kita. Saya 47:51 saya sampaikan kepada teman-teman. 47:53 Ehm, mualaf. 47:55 Jangan takut Allah pasti ada. 47:58 Mukjizat Allah itu 48:00 enggak ada yang tahu, Pak. 48:01 Ehm. 48:01 Kita pasrahkan kepada Allah. Kita selalu 48:05 yakin, percaya 48:08 bahwa Allah Allah itu 48:10 ada di kita, membantu kita, dan tidak 48:13 diam. 48:14 Iya. 48:15 Tunggu, pasti indah lah. 48:17 Gitu, Pak. 48:18 Terkadang-kadang inspirasi kebaikan itu 48:19 datangnya bukan dari ustaz, dari 48:21 orang-orang seperti Pak Herianto ini 48:22 bisa juga, ya. 48:23 Eee 48:25 Uda Anjas, kenapa antum nih masih muda, 48:27 masih gagah lah. Kenapa kok 48:30 sampai ngurusin gini, kan artinya orang 48:33 bilang enggak ada duit. 48:34 [tertawa] 48:35 Sampai ada ke pergi ke NTT, Talang 48:38 Selatan, Mentawai hanya untuk 48:40 menyebarkan dakwah gitu. Apa yang 48:42 menjadi motivasi 48:43 dari Uda Anjas? 48:45 Eee baik, Ustaz. 48:47 Karena 48:48 pernah bertemu dengan bukan pernah 48:50 bertemu, ada pesan yang diberikan oleh 48:53 Alustaz Nababan. 48:54 Ehm. 48:55 Iya, Pak. 48:55 Ustaz Samsul Arif Samsul Nababan. 48:57 Eee beliau sangat heroik sekali ketika 48:59 menyampaikan ceramah. Jadi, beliau 49:00 mualaf juga, ya. 49:01 Ehm. 49:01 Cuma beliau enggak mau dibilang mualaf 49:02 lagi karena sudah lama, katanya. Saya 49:04 sudah Islam, 49:05 ya gitu kan. 49:06 Katanya seperti itu. Jadi, beliau 49:07 sampaikan 49:08 eee umat muslim itu yang baik terbagi 49:10 dua, katanya. Yang pertama adalah umat 49:12 muslim yang saleh. 49:14 Eee dia yang sibuk membaca Quran, salat 49:17 lima waktu, zakat, yang artinya 49:19 menyinari dirinya sendiri. 49:21 Ehm. 49:22 Yang kedua, ini levelnya lebih tinggi. 49:23 Ehm. 49:24 Jalan tol menuju surganya lebih besar. 49:26 Ehm. 49:26 Yaitu umat muslim yang 49:28 muslih. 49:29 Muslih. 49:30 Umat muslim yang muslih ini, dia sibuk 49:32 ibadah, 49:33 dia sibuk salat, sibuk zakat, dan ibu 49:36 sibuk untuk mencari orang-orang yang 49:39 patut untuk kita bantu. 49:40 Ehm. 49:41 Orang dia adalah orang-orang yang sibuk 49:44 untuk mencari 49:46 kesempatan untuk bisa bermanfaat untuk 49:48 orang lain. Dia artinya bukan hanya 49:50 sibuk dengan ibadah saja. 49:51 Ehm. 49:52 Eee bukan hanya sibuk dengan ibadah tapi 49:53 juga sibuk untuk merenovasi internal 49:56 muslim ini agar bisa lebih baik lagi dan 49:58 tidak meninggalkan ajaran Islam. 50:00 Berarti anak istri sering ditinggal dong 50:01 ya? 50:01 Hah? 50:03 Sudah diizinkan saya. 50:04 [tertawa] 50:04 Masya Allah. 50:05 Iya gitu. 50:06 Punya semangat yang sama. 50:07 itu itu dua pesan luar biasa dari Ustaz 50:09 Naba Badawi. Jadi jadi ada dua pilihan, 50:11 mau jadi umat muslim yang saleh atau 50:13 umat muslim yang muslih. Kalau muslih 50:15 itu pasti saleh dan insya Allah akan 50:17 juga ikhtiarnya dalam mensalehkan orang 50:19 lain juga ngajak untuk saleh bareng 50:21 gitu. 50:21 Eee, apalagi 50:22 Nah, nah jadi mumpung seperti kata Ustaz 50:24 tadi 50:25 ya muda bukan berarti usianya panjang. 50:28 Nah, cuma Allah kasih kemudahan saja 50:30 untuk bisa ber- bergerak lebih matang 50:32 dibandingkan mungkin sesepuh kita. 50:34 Oke. 50:35 Mungkin bisa jadi besok sudah selesai 50:37 umur manusia kan. 50:38 Nah, dua pesan ini yang jadi motivasi 50:40 untuk bisa terus menginspirasikan Quran 50:42 ke umat itu insya Allah. 50:44 Nah, oke. Kalau buat 50:46 Ustaz Iwan apa yang motivasinya nih 50:47 sudah 23 tahun berkecimpung di Ali 50:50 Matiani? 50:51 Iya. Tentang mualaf ini yang memang jadi 50:55 fokus kita. 50:56 [berdehem] 50:56 Banyak lembaga bermunculan kan 50:58 karena adanya mualaf ini ya. 51:01 Puluhan mungkin sekarang lembaga-lembaga 51:03 yang berkecimpung eee menangani tentang 51:06 mualaf. Karena memang 51:07 tentang mualaf ini eee PR juga buat 51:10 kita. Karena mereka ini orang-orang yang 51:12 biasanya 51:13 masalah yang dihadapi kan 51:15 menghada- menghadapi diri mereka 51:17 sendiri, keluarga, lingkungan gitu ya. 51:20 Sehingga butuh 51:22 pendampingan. 51:23 Ya, terkadang kita orang Islam juga 51:25 banyak yang acuh tak acuh gitu loh. 51:27 Ini kan resiko loh, loh yang milih Islam 51:31 kok loh datang ke kita, nyusahin kita, 51:34 minta bantuan di kita. 51:36 Kadang ada yang cara berpikirnya sempit 51:38 seperti itu. Maka dengan adanya 51:40 edukasi-edukasi yang tepat kepada kaum 51:42 muslimin ini 51:44 eee kita eee lihat nih kisah-kisah 51:47 seperti teman-teman ini. 51:48 Memang tidak bisa dinafikan ketika 51:50 mereka masuk Islam, 51:53 pasti berubah pola hidupnya gitu loh. 51:55 He eh. 51:55 Dia mau kembali ke agamanya, keluarganya 51:57 enggak 51:58 enggak apa ya, enggak welcome lagi ya, 52:00 he eh. 52:01 Terus dia umat Islam juga banyak yang 52:03 enggak peduli. 52:04 Iya. 52:05 Ya. 52:05 Jadi, dia di 52:07 eh, dilematis gitu loh. 52:09 Nah, maka memang perlu ketika ada yang 52:11 masuk Islam itu ada harus ada mentor 52:14 atau ada murabbinya, ada ustaz, ada 52:16 komunitasnya. Kalau enggak, eh, banyak 52:19 yang salah jalan. 52:20 Eh, masuk Islam, salah jalan, salah 52:23 pergaulan, salah pemikiran ya, jadi 52:26 liberal, LGBT dan lain sebagainya. 52:29 Nah, maka memang eh, harus ada pembinaan 52:32 lah kalau mualaf-mualaf ini di sisi di 52:34 sesi-sesi awal ketika dia bersyahadat. 52:37 Nah, dengan munculnya banyak lembaga 52:39 mualaf ini, tidak dinafikan ada 52:42 kepentingan-kepentingan juga kadang. 52:44 Karena 52:45 ada gurihnya lembaga mualaf itu, ada 52:48 juga yang hidup untuk cari donasi, tidak 52:50 dinafikan. 52:51 Eh, ada yang memang 52:54 totalitas gitu ya, memberikan 52:57 advokasi pada mualaf. Karena gini, eh, 53:00 menghadapi masalah mualaf ini bukan hal 53:02 yang sepele sebenarnya. 53:05 Kita 23 tahun expert di dalam dunia 53:07 kemualafan ini, 53:09 bukan satu-dua kali kita berhadapan 53:11 dengan kasus. 53:12 He eh. 53:12 Nah, namanya Arimatea kan advokasi, 53:14 rehabilitasi, imunisasi akidah terpadu 53:17 efektif dan aktual. Advokasi pembelaan. 53:20 Sampai di penjara, di pengadilan ya, 53:23 kita berhadapan menghadapi 53:25 permasalahan-permasalahan, kasus-kasus 53:27 yang 53:28 ber, eh, beririsan dengan mualaf. Belum 53:30 lagi adanya mualaf-mualaf gadungan. 53:32 He eh. 53:33 Ini yang terus kami mungkin mem, memberi 53:35 informasi kepada umat. 53:37 Jangan [mendengus] juga kita terlalu 53:38 senang banget dengan mualaf yang datang 53:40 ke tempat kita. 53:41 Ke masjid saja. 53:42 masjid masuk Islam kita enggak tahu 53:44 nasabnya 53:44 He eh. ini orang dari mana dari mana 53:46 dari NTT mau masuk Islam di situ kita 53:49 syahadatin kita kasih bantuan zakat 53:51 segala macam eh tiba-tiba 53:54 dia masuk Islam lagi di tempat lain 53:56 masya Allah 53:56 ya ya nah bahkan hanya untuk menikah 54:00 misalnya kan nah untuk menikah ternyata 54:02 pulang ke daerahnya 54:05 dia bawa istrinya keluarganya anaknya 54:07 akhirnya pindah ke agamanya yang awal 54:09 jadi kedok saja masuk Islam itu maka 54:11 perlu ada edukasi yang 54:13 tepat kepada umat Islam 54:16 kalau yang benar mualaf itu kita tahu 54:18 nih track record-nya 54:20 nah KTP-nya mana datanya jelas kenapa 54:23 dia masuk Islam oh dia selama 3 bulan 54:26 bertanya tentang Islam sama saya nah ada 54:29 mentornya gitu oh ini insya Allah nih 54:31 sebuah pencarian 54:32 tapi kalau ada yang ujug-ujug datang ke 54:34 masjid 54:35 kenapa saya tadi malam mimpi ketemu 54:38 dengan 54:39 sosok wah banyak sekali yang berbicara 54:41 tentang mimpi terus disyahadatan 54:44 dapat uang gali dana gitu kan nah 54:46 ternyata banyak yang dusta namanya 54:48 mualaf-mualaf [berdehem] gadungan 54:50 nah ada satu kisah yang paling heroik di 54:52 dalam Arimatea 54:54 ketika awal-awal itu 54:56 berapa kali Arimatea diadu domba 54:58 ya 54:59 akhirnya juga sempat pecah dengan 55:01 Ustazah Irena Handono dulu 55:04 ya dengan Sekjen Arimatea yang pertama 55:05 itu karena tadi ada yang nyusup mengadu 55:09 domba gitu 55:10 nah 55:12 yang satu lagi tahun 2006 ketika saya 55:15 pindah ke Jakarta 55:17 ini sebenarnya materi-materi yang 55:21 tidak 55:22 cocok untuk dalam di-publish ya 55:24 sebenarnya cuma sebagai informasi 55:27 eh orang-orang tertentu punya misi-misi 55:29 untuk menghancurkan Islam dari dalam 55:31 eh Islam itu kuat kalau dihantam dari 55:33 luar sudah kelihatan musuhnya jelas 55:35 tapi 55:36 kalau dari dalam ini banyak mereka 55:37 melakukan upaya-upaya 55:39 pendangkalan akidah, ya, penyusupan, 55:42 infiltrasi, [berdehem] 55:44 salah satunya 55:45 namanya dulu 55:47 terkenal tuh Andronikus Kaparang, tahun 55:50 2000 55:52 dua ya, dia nyusup di Majelis Mujahidin 55:54 di Yogyakarta. 55:55 Heem. 55:56 Nah, akhirnya mengadu domba. 55:58 Nah, akhirnya Ustaz Abu Bakar Ba'asyir 56:00 ditangkap, salah satunya dia membocorkan 56:03 informasi tentang Majelis Mujahidin, 10 56:05 unit komputernya hilang dalam satu 56:06 malam. 56:07 Heem. 56:08 Ternyata dia adalah sosok Komandan 56:10 Laskar Kristus Wilayah Timur. 56:12 Heem. 56:12 Nah, masuk. Nah, ini terkonfirmasi. 56:16 Dia mengakui setelah melakukan semua 56:18 itu, dia mengakui, "Saya melakukan ini 56:20 di tahun 2002 ketika itu." Nah, itu 56:22 waktu dia gabung di Hari Mate tahun 56:24 2006. Akhirnya bertemu dengan Ustaz Abu 56:27 Bakar Ba'asyir juga 56:29 "Sudah maafkan." kata beliau. 56:30 "Gunakan untuk berjuang untuk Islam." 56:33 Ya. Ya, ini sebuah contoh saja, ya, dari 56:36 sekian banyak pengalaman-pengalaman yang 56:38 saya lalui 56:40 23 tahun ini, masya Allah. 56:42 Banyak kisah-kisah heroiklah dalam dunia 56:44 pergerakan dakwah. 56:45 Heem. 56:46 Jadi, tidak hanya sekadar mualaf, 56:48 tapi ada orang yang berpura-pura mualaf, 56:50 ada yang murtadin, ya, ada yang tadi 56:54 masuk Islam sekarang 56:56 eh, enggak kuat akhirnya kembali lagi ke 56:58 agamanya. 56:59 Gitu, Pak Krisna, banyak sekali. Nah, 57:02 suka dukanya dalam pergerakan dakwah. 57:04 masya Allah, kita 57:06 dapat ilmu ya, sore ini ya. Lika 57:08 kemualafan ya, lika-liku kemualafan, 57:11 luar biasa. 57:12 Oke, kita sudah dibatasi oleh waktu, 57:14 terima kasih sudah Anjas, Bapak 57:17 Heriyanto. 57:18 Sama-sama, Pak. 57:18 Sama-sama, Ustaz Imam, terima kasih atas 57:21 informasinya, atas ilmunya. 57:23 Baik, 57:24 kita jumpa lagi pada 57:26 hari Rabu depan. Saya Muhammad Krisna, 57:29 Neiza, kemudian Algi mohon pamit. 57:32 Wabillahi taufik walhidayah, 57:33 wassalamualaikum warahmatullahi 57:35 kemudian Algi mohon pamit wabillahi 57:37 taufik wal hidayah wassalamualaikum 57:39 warahmatullahi wabarakatuh.