Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 [musik] 0:08 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh. 0:18 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. 0:20 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 0:22 wa ala ali sayyidina Muhammad. 0:24 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 0:26 ini. Hari ini adalah hari Rabu tanggal 4 0:30 Safar 1447 Hijriah atau 30 Juli 2025. 0:35 Kita jumpa lagi dalam Hijrah Talk ya. 0:38 Kami menghadirkan kembali 0:41 seseorang yang luar biasa. Ini dulu 0:43 namanya Luang I e waktu masih beragama 0:47 Protestan ya. Luang I sekarang namanya 0:51 berubah menjadi Koh Aziz. usianya 46 0:54 tahun, 0:56 anaknya tujuh 0:58 dari tiga istri. Mau tujuh ya? Mau tujuh 1:01 nih, mau tujuh. Bentar lagi insyaallah 1:02 September ngelahirin nih ya. Jadi mau 1:05 tujuh dari tiga istri dan semuanya hafiz 1:07 ya. 1:09 Masyaallah. Asalamualaikum. Selamat 1:11 kembali ke Rasil Kak Aziz. 1:13 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:14 wabarakatuh. Pakis barangkali bisa 1:16 diulang dulu gimana ceritanya dari 1:18 Protestan tertarik kepada Islam tuh 1:20 bagaimana ceritanya 1:22 sebenarnya awalnya itu bukan Protestan 1:24 apa 1:26 saya ini kan dilahirkan di keluarga 1:28 Chinese. Chinese itu sebenarnya itu 1:30 Konghuchu. Kong 1:32 h 1:32 makanya saya kemarin ngomong kan sama 1:34 teman-teman saya aktif di debat debat 1:37 lintas agama 1:38 di TikTok bareng Bang Zuma. 1:39 Heeh. 1:40 Natalia juga dulu pernah diundang ke 1:42 sini. 1:43 Iya. 1:44 Bahkan [berdehem] 1:44 kemarin safari dakwah bareng safari 1:47 dakwah bareng Natalia gitu 1:49 di di Malang ini baru pulang safari 1:50 dakwah. 1:51 He. 1:52 Nah, 1:54 saya sempat ngomong sama teman-teman 1:56 seandainya agama Konghucu itu diakuin 1:58 dari dulu tahun-an, mungkin Chinese itu 2:00 enggak banyak yang Protestan sama 2:02 Katolik. 2:02 Hmm. 2:04 Kami ini Konghucu awalnya. 2:08 Nah, karena agama yang dinilai diterima 2:11 itu lima di Indonesia yang diakui 2:13 Konghucu masuk aliran kepercayaan. Kita 2:16 harus memilih 2:19 memilih empat di antara lima. 2:21 Hm. 2:22 Kayak gitu. Kenapa kok empat? 2:24 H 2:24 satu tidak masuk apa? Tidak masuk ke 2:27 hitungan. 2:28 He. 2:28 Kenapa? Karena agama ini dianggapnya 2:32 negatif. 2:33 Hm. 2:33 Bagi ras Chinese. 2:35 H. 2:36 Kok bisa negatif? Iya, karena ini ada 2:38 hubungannya dengan adu dombanya 2:41 teorinya si Belanda ini dari zaman 2:43 Belanda. Jadi pada zaman Belanda bukan 2:45 cuman mereka mengirim C6 ya. 2:47 C6 itu kan mereka pura-pura jadi muslim 2:50 dan mereka menjadi misionaris antar 2:52 daerah, antar negara gitu. C6 kalau C5 2:55 itu kan di dalam negeri saja gitu. 2:57 Pura-pura muslim mempelajari Islam untuk 2:59 menghancurkan Islam itu C5. Tapi 3:01 [berdehem] kalau lintas negara itu 3:03 namanya 3:04 S ya. Nah, itu 3:07 tidak hanya mereka yang dikirim tapi 3:09 antar etnis Tionghoa dengan 3:12 orang pribumi atau kita bilang cindola 3:14 dengan suku asli Indonesia gitu. 3:16 Hm. 3:17 Jadi diadu 3:19 ke orang ini orang Chinese dibilang gini 3:23 ke Cindo dibilang gini. Tuh kan tiap ada 3:25 kriminal KTP-nya apa? KTP-nya Islam 3:30 karena mayoritas memang orang Islam dan 3:32 kita berada di di masa penjajahan oleh 3:35 VOC. 3:36 Heeh. 3:36 Bahkan setelah VOC berubah ke Jepang. 3:39 Heeh. 3:40 Itu kan trauma yang luar biasa kan dan 3:42 kemiskinan yang benar-benar mengakar. 3:45 Bahkan nenek moyang kita istilah katanya 3:48 di masa-masa penjajahan dan masa-masa 3:52 awal kemerdekaan sampai pakai ini kan 3:55 baju karung. Heeh. 3:57 Yang banyak tumunya itu. Heeh. Banyak 3:59 tumunya. Anti beras gitu kan ya. Anti 4:02 beras dan segala macam 4:04 ya. Otomatis namanya orang miskin, orang 4:06 dalam kondisi terpaksa apapun dilakukan 4:09 kan. 4:09 Heeh. 4:10 Nah itu makanya dalam Islam juga sama. 4:12 Kalau ada orang yang mencuri untuk makan 4:14 jangan dihakimi. Justru kita 4:16 berkewajiban ngasih makannya. Itu 4:18 indahnya Islam. He. 4:19 Nah, yang terjadi Pak waktu itu 4:23 yang namanya nyuri atau apa ternyata 4:26 orang Indonesia gitu kan, orang asli. 4:29 Kenapa? Karena mereka memang sedang 4:30 dijajah. 4:31 He. 4:32 Nah, dibilanglah bahwasanya yang 4:34 kriminal-kriminal ini orang asli 4:37 Indonesia. 4:37 He. 4:38 Pribumi gitu. Mereka mau berontak gitu 4:41 kan. Mereka mau berontak. Kenapa? Mereka 4:43 barbar. 4:44 Mereka tidak melihat kenapa dia mencuri. 4:46 Enggak dilihat itu. Ya 4:47 intinya barbarlah kriminal-kriminal. 4:49 dari mereka kan gitu. Nah, akhirnya 4:51 orang Cina takut kan kemakan gitu 4:54 walaupun walaupun tetap bertahan di 4:56 Indonesia kemakan akhirnya bangun-bangun 4:58 tembok. Nah, ini dibilang ke orang 5:01 pribumi lain lagi tuh Cina lihat 5:02 ngerampok negeri lu. Begitu ngerampok 5:04 pagarin tinggi-tinggi. Iya. Eksklusif 5:07 enggak mau main. Padahal mereka takut. 5:09 Hm. 5:10 Takut ada yang ngemal kan gitu kan. 5:12 Nah, dibilangnya apa? Orang Cina 5:14 ngerampok kekayaan lu. Padahal yang 5:16 ngerampok VOC. 5:17 Hm. kayak gitu. Sedangkan ke orang Cina 5:20 dibilang mereka tuh anarkis, mereka itu 5:23 kriminil, mereka itu adalah pemberontak. 5:27 Loh, kok negeri dijajah mau merdeka 5:29 dibilang pemberontak? Yang salah siapa 5:31 kan gitu. 5:32 Nah, 5:33 dan memang pada masa penjajahan tidak 5:36 ada namanya orang dijajah itu pintar. 5:39 Hm. 5:40 Stoplah kata-kata seperti itu. Stop. 5:42 Kalau dijajah ini jadi pintar, stoplah. 5:43 Stop. Yang namanya dijajah itu dibodohi. 5:46 He. 5:46 Kalau misalnya pintar, enggak mungkin 5:48 bisa dijajah kan gitu. Pasti akan 5:50 merdeka gitu. Lebih baik berdaulat 5:52 dengan negara sendiri walaupun kecil 5:54 daripada dipimpin oleh negara besar, kan 5:56 gitu. He 5:58 iya seperti itu. Nah, ini makanya orang 6:02 Chinese nih menganggap bahwasanya agama 6:04 yang dipeluk oleh pribumi adalah agama 6:06 kriminal. 6:07 Hm. 6:08 Kan kita enggak baca Quran, kita enggak 6:10 baca hadis. 6:12 Yang kita lihat apa? kenyataan loh data 6:14 loh gitu kan 6:16 iya kan data kan gitu dilihat seperti 6:19 itu ini mengakar terus-terusan sehingga 6:22 sehingga ketika kita sudah di masa tahun 6:25 0-an ini pun 6:27 orang-orang orang-orang Protestan dan 6:29 orang-orang Katolik melihat bahwasanya 6:31 memang orang Cina ini anti 6:33 h 6:34 terhadap agama Islam. Maka dikirimlah 6:38 misionaris-misionaris 6:40 yang memperbolehkan adat istiadat Cina 6:43 itu dilakukan di agamanya. 6:45 Hm. 6:45 Terutama Katolik. Karena kenapa? Dekat 6:47 dengan sosok Dewi Kuan Im. 6:50 Hm. 6:51 Di sana kan ada Bunda Maria sama-sama 6:52 perempuan gitu. 6:53 Nah, seperti itu. 6:55 Nah, ternyata Protestan ngejar 6:56 ketertinggalan lebih cepat dan Protestan 6:58 pintar. Mereka merangkul yang 7:00 Chinese-Chinese dan mereka dididik untuk 7:02 jadi misionaris. Dan kalau kita lihat 7:04 sekarang misionaris-misionaris itu 7:06 banyak yang yang beretnis cindo. 7:09 Hm. 7:10 Kayak gitu. Tahun orang-orang [berdehem] 7:12 yang lahir di tahun 0-an seperti saya 7:15 70-an ya. Terus 80 itu mereka baru 7:19 digiring dimasukkan ke gereja. 7:21 H. 7:21 Tapi anak-anak generasi kami ini sudah 7:24 lahir di generasi gereja. 7:26 Hm. 7:26 Jadi mereka otomatis secara setelah 7:28 lahir sudah Protestan, sudah Katolik. He 7:31 seperti itu. Nah, makanya 7:34 tadi saya bilang saya itu konghucu 7:36 sebenarnya. Saya kenal sosok De Kuan Im 7:39 yang tak pernah kalah. Iblis tak pernah 7:41 bisa menyentuh dia. 7:43 Mana ada ceritanya dari Kuan Im kalah. 7:45 Enggak ada. Bahkan nih Naca, ada satu 7:48 sosok namanya Naca. 7:50 Iya. Apa yang naik gelang api itu? Naca 7:54 itu. 7:54 Itu bandelnya luar biasa. Bapaknya ampun 7:57 sama dia. 7:58 H. 7:58 Heeh. Tapi sama Duan Im cuman dikepretin 8:01 pakai air dari bambu itu dikepretin 8:05 diajak jalan mau tuh tunduk. [berdehem] 8:08 Itu saking luar biasanya Dewi kita. 8:10 Kemudian kita dikenalkan kepada 8:13 sebenarnya saya dikenalkan sama Katolik 8:14 dulu. 8:15 Hm. 8:15 Cicik sayalah masuk ke Katolik. 8:17 Iya. 8:17 Boarding dia 8:19 di sana. Dulu kita kenal ada Santa 8:21 Maria. 8:21 Iya. 8:22 Nah, cici saya enggak masuk ke Santa 8:23 Maria. 8:24 Hm. 8:25 Tapi ada sekolah Katolik lain di sana. 8:27 Nah, ngikutlah cici saya gitu. He 8:29 ngikut. Kemudian giliran kokoh saya nih 8:31 SMP butuh nilai. Bikinlah agamanya apa? 8:35 Buddha. Ternyata enggak ada tempat 8:36 ibadah. 8:37 Akhirnya pilih yang pilih apa? Pilih 8:39 terdekat apa? Protestan. 8:41 Hm. 8:42 Ah jadilah Protestan kokoh saya. Nah 8:44 kokoh saya baru ngajak saya di kelas 5 8:47 itu saya sudah diajak ke gereja. 8:50 Waktu itu agama dilihatnya sebagai apa? 8:52 Kok enak sih pindah-pindah gitu kayak 8:55 kayak pindah apa gitu. 8:57 Ini mau jujur apa enggak? [tertawa] 8:59 Jujur dong, jujur, jujur. 9:02 Silakan antum yang sudah muslim sekarang 9:06 yang yang seusia saya nih lahir 70-an 9:10 atau lahir di awal 70 atau tahun tahun 9:14 60 ya silakan jujur. 9:17 Ketika Anda memilih proses atau Anda 9:20 peduli enggak itu agama? Enggak peduli. 9:22 [tertawa] 9:23 Gua enggak peduli gua mau ke Buddha mau 9:25 ke apa. Yang penting gua Konghucu gua 9:27 nih jalan. 9:28 Maka terjadilah dua ibadah waktu itu. 9:31 Oh 9:31 kami solid dengan kekongjuan kami gitu 9:34 kan di generasi tahun 0-an itu anak yang 9:37 lahir tahun 60 9:39 gitu kan. Kalau mama saya kan sudah 9:40 tahun 50-an kan. 9:42 Heeh. He. 9:42 Yang tahun 60 itu mulai dikenalkan. 9:45 tahun 0 kami dibawa kan yang lahir tahun 9:48 0-an dibawa ke gereja 9:50 itu kami tetap melakukan tradisi tahun 9:53 -an anak yang lahir tahun 90-an 2000 9:55 baru dia sudah hampir tidak kenal 9:58 tradisi-tradisi dan kegiatan-kegiatan 10:00 yang ada di Konghucu. 10:01 Kalau generasi kami ke atas nih 10:03 mau agamanya apa kek tetap aja PP 10:07 PPI itu pakai itu. Heeh. Tetap 10:09 nyembahnya siapa? Tuti Pak Kung. Siapa? 10:12 Dien. Siapa lagi? Dewi Kananim. 10:15 Dewi Kananim. Oh, paling ngetop Dewi 10:17 Kananim pokoknya. 10:18 Oke. 10:19 Iya. Sampai sekarang juga ditanya sama 10:21 saya, "Dewa paling disenangin apa di 10:23 dalam ini Konghucu?" Tetap dari Kanan 10:25 Imim saya bukan bukan Sun Gookong bukan 10:28 apalagi panglima Tienveng gitu kan. 10:30 Kalau Panglima Tienveng kan menderita 10:31 banget dari dulu beginilah cinta gitu. 10:34 Ah, cengeng banget kan gitu. Jadi 10:36 [berdehem] 10:37 saya tetap kalau ditanya yang paling 10:40 berkesan siapa sih? Jadi Iuanim walaupun 10:42 saya tahu itu Dewi 10:44 gitu dalam Islam sudah tidak diakui tapi 10:46 sosok-sosok yang digambarkan diuanim dan 10:49 itu digambarkan pula dalam kekristenan 10:51 hampir mirip dengan Bunda Maria. Dan 10:54 silakan tanya kepada Chinese-Chinese 10:57 apa cindo-cindo yang Katolik tanya kamu 11:01 milih Dewi apa milih bunda, patung Bunda 11:03 Maria yang mirip Cina apa negro? Pasti 11:05 Cina. He. 11:07 Eh, serius? Benar. Serius. 11:10 Cindo cindo mualaf yang saya bawa dalam 11:13 program Safari dakwah. Nanti kita bahas 11:15 itu ya. Dalam program mualaf berdakwah 11:18 itu ada yang ngomong, "Gua suruh milih 11:20 patung Bunda Maria, satu wajahnya Cina, 11:23 satu wajahnya bukan Cina. Gua pilih yang 11:24 Cina dong katanya." [tertawa] Kenapa? 11:26 Mirip dianim. 11:28 Kayak gitu. K Melon sudah pernah 11:30 diundang ke sini enggak? Melissa undang 11:31 Melon belum. Ah nanti undang biar 11:33 dicerita bagaimana dia dia memilih 11:36 apa patung Dean. Nah beliau sudah sudah 11:39 ngikut dalam program mualaf berdakwah 11:41 gitu. 11:42 Saya punya program mualaf berdakwah dan 11:44 yang berdakwah itu mualaf-mualaf gitu. 11:46 Seru pokoknya seru deh 11:47 pokoknya seru. Dan ini lagi program mau 11:49 keliling Indonesia. 11:51 Kalau mualaf berdakwah itu materinya 11:53 sharing aja. Sharing bagaimana dia 11:55 proses masuk Islam gitu atau gimana? 11:58 Nah mereka nanti saya ini dulu briefing 12:00 dulu. Hm. 12:02 Saya lihat mereka yang pandai bicara 12:04 atau enggak gitu. Tapi tetap sama mau 12:05 pandai bicara mau enggak. Begitu depan 12:07 jemah pasti 15 menit macet. 15 menit 12:10 pertama itu 12:11 macet. 12:12 Macet biasanya. Makanya tugas saya 12:14 memancing. 12:15 Oh 12:15 kayak gitu. Dan kalau misalnya enggak 12:17 kalau dampingi melaku Aziz ya 12:18 didampingi sama saya atau ustaz lain. 12:20 Tapi sementara ini saya masih mampu 12:22 karena masih sebulan sekali ya mualaf 12:25 berdakwahnya. 12:26 Jadi saya dampingi 12:28 nanti kalau macet saya pancing gitu. 12:30 Kalau saya kan sudah ngomong 5 jam juga 12:33 kuat. [tertawa] 12:35 Sudah senior 12:36 ini malah berdakwah. 12:38 Heeh. 12:38 Ke mana aja titik-titik yang akan di 12:42 sampaikan? Di mana aja? 12:44 Ini yang sudah berjalan kemarin Juni dua 12:47 tempat. Juni itu di Jawa Timur dan Jawa 12:50 Tengah. Jawa Tengah tepatnya di daerah 12:52 Jogja, Sleman, dan 12:54 daerah Bantul. Hm. 12:56 Nah, rencana Oktober kembali ke ke 13:00 daerah ini ke daerah Jogja. 13:02 Nama kemarin hari Juli. Juli itu 13:05 kebetulan kita melibatkan semua banyak 13:08 komunitas kan. Nah, itu mualaf 13:11 berdakwahnya di Malang dan kebetulan 13:13 istri saya ee ketua dari sebuah 13:15 komunitas 13:17 kajian muslimah yang 13:20 namanya adalah Hijrah Akhwat Indonesia. 13:23 Hm. Tadinya hijrah-hijrah akhwat Malang 13:27 kok nanggung [berdehem] gitu. Malang 13:28 doang sudah Indonesia sekalian gitu. 13:30 He. 13:30 Nah, besok ini mau ngadain acara 13:32 September 13:34 itu Agustus satu agenda, 13:37 September 2 agenda, November satu 13:40 agenda. Itu sudah ada. Berarti Oktober 13:42 kan nanti saya ke Jogja insyaallah. Dan 13:44 kemungkinan juga antara Oktober itu juga 13:46 saya bisa ke Kupang. 13:48 Hm. Oke. 13:49 Ada tawaran ke Kupang. 13:50 Kenapa Kupang? 13:51 Ya ditawarin saja. 13:53 Hmm. Hm. Ya, karena kan di sana kan 13:55 minoritas ya. 13:56 Heeh. Nah, kemarin kita juga ngunjungin 13:58 minoritas. 13:59 Heeh. 14:00 Jadi bahkan ada satu daerah di Malang 14:03 Selatan itu padahal dekat dengan Masjid 14:05 Chengho itu enggak punya masjid. 14:07 Hm. 14:08 Beda-beda kampunglah dengan Masjid 14:09 Chengho itu satu kampung enggak punya 14:11 masjid. 14:12 Dan karena 14:13 tapi Islam 14:14 banyak mualafnya. Mualafnya tapi sekitar 14:16 7%-an. 14:17 Heeh. Tapi enggak ada masjid. Enggak 14:19 bisa karena mereka terbentur peraturan 14:22 tiga menteri tidak sampai 40 orang. 14:25 7% itu paling 20 orang. 14:27 Hm. 14:28 Atau 25. 14:28 Jadi enggak boleh 14:30 enggak boleh. Nah, sempat dirikan 14:31 langgar ya diemo. [tertawa] 14:33 Hm. 14:34 Dua kali di demo gitu. 14:36 Jadi kalau mau beriri ibadah gimana? 14:37 Secara yaman. 14:38 Di rumah sendiri-sendiri enggak apa-apa. 14:40 Di rumah sendiri-sendiri enggak apa-apa. 14:41 Tapi merupakan mendirikan tempat rumah 14:43 ibadah itu enggak boleh karena terbentur 14:45 dengan peraturan tiga menteri 14:48 kayak gitu. Dan katanya usud punya usud, 14:50 ternyata di sana ditemukan makam tertua 14:53 itu ternyata makam muslim. 14:55 Artinya apa? Mereka dulu di sana muslim. 14:57 Hm. 14:58 Pemakaman ya bukan cuman makam. 15:00 Pemakaman muslim itu yang tertua dan 15:03 jeda waktunya dengan pemakaman Kristen 15:05 pertama itu jauh. Artinya ada tahapan di 15:07 sana yang tadinya muslim menjadi 15:09 Kristen karena misionaris. 15:12 Di sana juga ada patung Yesus besar 15:14 gitu. Saya sempat mau foto itu enggak 15:15 jadi saya. 15:17 Takut nantinya malah teman-teman di sana 15:19 di ini inginkan jadi bumerang gitu. Saya 15:21 enggak jadi gitu. [berdehem] 15:22 Oke, Iwan dan kami masih bersama Koh 15:26 Aziz. Beliau ada mualaf sekarang punya 15:29 program apa e mualaf berdakwah ya. 15:33 Mualaf berdakwah. Ini ada ustaz 15:34 sebenarnya sebenarnya banyak cuman salah 15:36 satunya itu. 15:37 Oke, ada pertanyaan kita bisa jawab ya. 15:40 Asalamualaikum Kak Aziz. Saya mau tanya 15:42 nih, 15:42 kalau di PIK atau apa nih Pantai Indah 15:45 Kapuk itu rata-rata agamanya apa kok 15:48 seperti mereka 15:49 tersendiri gitu? 15:52 Saya justru kalau PIK itu enggak ngerti 15:53 sama sekali sekarang. [tertawa] 15:56 Sebab kenapa? Saya tuh tahunya dulu 15:59 Citra tahun 5 96 itu tahunya 16:03 itu masih banyak yang Kucu. H 16:05 generasi-generasi tahun 5 97 yang ada di 16:08 Citra 1 2 3 4 eh 123 ya itu punya 16:12 Konghucu. Kenapa? Karena bapak saya itu 16:14 kebetulan salah satu pemuka agama 16:17 Konghuchu yang ada di Jakarta Barat. 16:20 Hm. 16:21 Jadi saya tahu mereka dari Citra dari 16:24 Citra DU Citra Sat. 16:27 Iya, dari Citraland, daerah Citraland 16:29 sono apa Taman [berdehem] dan Mogot itu 16:31 rata-rata kunghucu mereka. Tapi KTP-nya 16:33 sudah ada Protestan, Katolik, tapi 16:36 mereka melakukan proses itu kan saya 16:38 bilang kita nih, wah pokok we don't care 16:41 wis. 16:42 Sing penting opo? Ibadah konghucu kita 16:44 bisa jalan. 16:45 Jujur coba jujur tanya antum-antum semua 16:48 atau anda-Anda semua yang yang kelahiran 16:50 tahun 60-an ya, kelahiran tahun-an 16:54 sampai 80 gitu. Jujurlah ketika kita 16:57 kolom agama kita nih Protestan yang kita 16:59 lakuin paling sering apa? Agama 17:01 Konghucu. 17:02 H 17:03 prosesi agama Konghucu itu jadi 17:05 tapi di KTP dia proses atau Katolik ya. 17:07 Ya ngikut juga double [tertawa] 17:10 double dari yang lahir tahun 60-an. Jadi 17:13 puncak-puncak itu kan tahun 0-an itu 17:15 sudah mulai kita masuk anak-anak lahir 17:17 tahun 0-an nih mulai masuk gitu. 17:20 Hm. 17:20 Mulai masuk mulai masuk secara 17:22 besar-besaran ke Katolik dan Protestan 17:25 gitu. Oke. 17:27 Tahu enggak kenapa Protestan gencar 17:29 banget? 17:30 Kenapa 17:30 sama Katolik? 17:31 Kenapa? 17:32 Nah, apa? Ngerekrut mereka. Tahu enggak? 17:35 Yang nguasin perekonomian di Indonesia 17:37 siapa? 17:37 Oh, itu ya 17:39 ada apa tiap bulan? Ada perpuluhan. 17:42 Oh, 17:42 ada perpuluhan. 17:43 Ada perpuluhan enggak? 17:44 10%. 17:45 10% pendapatan kotor dari jemaah. Nah, 17:49 kalau contoh gini misalnya Pak Pendeta A 17:53 punya jemaah orangorang Chinese 10. 17:56 Hm. 17:57 Dari satu orang itu pendapatan kotornya 17:59 per bulan itu Rp100 juta. Berarti dia 18:01 sudah ngantongin R juta hanya untuk 18:03 kejujurannya di mana bahwa benar data 18:06 itu segitu jumlahnya. Mungkin enggak dia 18:08 memanipulir harga enggak segitu? 18:10 Misalnya 18:12 orang kalau mau nipu sama orang berani 18:14 enggak? 18:15 Hm. 18:15 Berani. Kenapa? Nanti orang enggak 18:17 kelihatan. Kalau dia bilang nanti Tuhan 18:19 lihat loh. Nah, wis wis gitu. Kalau 18:22 zaman-zaman saya nih, masih zaman-zaman 18:24 saya nih. Zaman-zaman saya nanti kalau 18:28 anak Tuhan bohong, Tuhan Yesus mar kita 18:30 kan ada Tuhan. 18:32 Iya. Itu ditanamkan. 18:34 Oh, jadi sejujur-jujurnya dia. 18:37 Iya. Heeh. Sekarang konsep pajak kan 18:39 juga sama. 18:39 Heeh. 18:40 Kita mau bayar pajak nih kasih isian ya. 18:42 Wis, yang diisi itu dia enggak percaya 18:44 udah didata pajaknya berapa. Nanti kalau 18:47 sidak ternyata salah kena dendak gitu 18:49 aja. 18:49 Hm. 18:50 Nah, kalau misalnya di di perpuluhan 18:52 saya kurang tahu sekarang. Kalau dulu 18:53 kan zaman-zaman saya perpuluhan itu baru 18:56 diinikan. 18:57 Hm. 18:58 Zamannya papa lah ya. Misalnya masih di 19:00 gereja 19:00 papa tuh kan kena perpuluhan sudah. Papa 19:03 dan teman-temannya itu yang 19:04 tengkulak-tengkulak palawijaya yang 19:06 nguasain daerah itu. [tertawa] Jadi 19:09 pokoknya palawij itu enggak lari dari 19:11 kami. 19:11 H. 19:13 Enggak lari dari kami. Kenapa? Karena 19:14 kami ngambilnya cash cash and carry. 19:16 gitu langsung cash gitu kan. Terus ya 19:19 kami jujur kan memang kalau itu 100 kilo 19:22 kami bilang 100 kilo he 19:24 kalau tempat lain kan terkadang dibilang 19:26 100 kilo ternyata isinya 100 kilo lebih 19:28 gitu tapi bayarnya 100 kilo kan gitu. 19:30 Nah makanya orang-orang pribumi lebih 19:32 senang menjual kepada cindo. 19:35 Hm. Oke. 19:36 Jadi kalau misalnya di kampung tuh ya 19:38 ini saya tidak tidak 19:40 bercerita bohong. [berdehem] 19:43 Teman-teman saya banyak yang nonton. 19:44 Hm. banyak laporan saya juga nonton 19:47 debat saya juga banyak. Jadi di kampung 19:50 kami nih ini tokonya mama. 19:52 Hm. 19:53 100 m di depan toko orang pribumi. 19:55 Hm. 19:56 Orang lari ke mama. 19:58 Kenapa? 19:59 Jadi gini. Ah ini gini kata mama gini. 20:03 Kamu beli gula di sana berapa? Misalnya 20:05 beda beda, beda Rp100 lah. Dulu kan 20:08 Rp100 udah udah besar ya atau Rp50. 20:12 Nih tolong belikan di sana. Beli di sana 20:14 kan beli datang gulanya. 20:16 Hm. 20:16 Ngambil timbangan nih sekilo tak 20:20 tak gula taruh tak. Berat ke mana? 20:23 Hmm. 20:23 Berat ke sini. 20:25 Hmm. 20:25 Ah. Akhirnya kata mama nih ya. Kamu mau 20:27 pilih yang mana? Tuh kan dipajang. Pilih 20:30 gula yang mana. 20:31 H 20:31 di tengah, di pinggir, di mana? 20:33 Diambillah sama mama. Ditaruhlah. Tak. 20:36 Ini timbangan kodok. 20:37 Timbang kodok ini 1 kilo beratnya ke 20:40 sini. 20:41 Hmm. Kata mama, "Jangan bodoh kamu." 20:43 Artinya ada kecurangan dalam 20:45 dibodohin. Kamu beli ini lebih murah 20:47 tapi sebenarnya lebih mahal. 20:48 Oh, 20:49 oke. Kita timbang secara pas. Timbang 20:51 secara pas. Naikin lagi. Kan berat ke 20:53 sini nih. 20:54 He. 20:54 Diambil sama mama tuh ons. Tak masih 20:57 berat ke sini. Nah, lu katanya 12 ons 21:00 loh. Katanya masih berat ke sini. 21:04 Artinya nih gula nih 9 ons seteng 21:05 kurang. 21:06 H 21:07 bukan sekilo. Nah, gitu. 21:09 Itu yang yang terjadi dulu. 21:10 Waduh. Jadi makanya kenapa orang Chinese 21:14 itu ketika berdagang ramai karena mereka 21:16 yang melakukan konsep apa yang dilakukan 21:18 yang diperintahkan dalam Islam Allah. 21:20 Wsirul mizan waqimulna bilqisti wsirul 21:25 mizan dalam surat Arrahman. 21:27 Padahal orang Islam duluan yang disuruh 21:29 gitu loh. 21:30 Hm. Cuma 21:31 apa ya? Kejujuran itu emang emang mahal 21:34 ya. Emang mahal 21:35 dan modal kejujuran itu enggak cuman 21:37 buat muslim tetapi dalam segala bidang 21:39 itu ada. 21:40 Masyaallah. I segala bidang ada gitu. 21:42 Hm. 21:43 Nah, kalau saya dulu itu, nah setelah 21:46 Konghuji itu kan pilih Protestan kan. 21:48 He. [berdehem] 21:49 Sebenarnya ketika saya pilih Protestan 21:51 tuh tadi kan enggak enggak enggak 21:53 selesai tuh. He. 21:54 Ketika saya pilih Protestan itu 21:56 sebenarnya saya sudah tahu konsep 21:57 ketuhanan dalam Islam. 21:59 He. 21:59 Kan saya sekolah negeri. 22:00 He. 22:01 Kalau pelajaran agama Islam saya enggak 22:02 keluar. 22:03 Heeh. He. 22:04 Tapi saya enggak boleh jadi muslim. Dan 22:06 teman-teman saya tiap sore itu saya 22:08 lihat ini orang Islam enggak ada 22:09 kerjaan. 22:10 [tertawa] 22:11 itu kok Allahu Akbar Allahu Akbar ber 22:14 semua tuh kan kelanggar. 22:15 Jadi sebelum Allahu Akbar itu sudah 22:17 mereka sudah mandi lagi main sama saya 22:19 nih tetap aja ditinggal aja gitu 22:21 takut takut dipukul sama orang tuanya. H 22:24 takut dipukul disiplin gitu. Saya pikir 22:27 orang Islam ada-ada aja sih bilang 22:29 belajar cuman itu-itu aja buku itu-itu 22:32 aja gangguin aja gitu 22:35 gangguin aja mau main enggak boleh kan. 22:37 H 22:37 ya mereka ber gitu jalan benar-benar 22:40 gitu tiap sore. Nah, terus enggak cukup 22:42 di sana mereka dipondokin kan gitu. 22:44 He. 22:44 Nah, mereka itu sering ngomong ke saya, 22:47 "Nabimu itu ee Tuhanmu itu nabiku." 22:49 Hm. 22:51 Kalau tempatmu kan Yesus. 22:52 He. 22:52 Dulu [berdehem] mana ada kebangkitan 22:54 Yesus Kristus. Enggak ada 22:55 kalender dari dulu tuh dari zaman Ki 22:58 Benen belum lahir sampai Ki Benen wafat 23:00 tuh ya. 23:00 Iya. 23:01 Heeh. Sampai cucunya Ki Benen tuh sunat 23:03 ya. 23:03 Iya. 23:04 Heeh. itu itu tetap aja kebangkitan Isa 23:07 Almasih baru sekarang tahun 2020-an 23:09 diganti kan 23:10 he 23:10 dulu kan enggak jadi saya dibilang gitu 23:14 nabi e tuhanmu itu nabi di agamak tetapi 23:17 kami menggambarkan nabi nabi itu Tuhanmu 23:20 itu lebih suci 23:22 h 23:23 ibunya luar biasa l katanya enggak 23:25 pernah disentuh laki-laki hamil atas 23:28 kehendak Allah kun fayakun gitu saya 23:31 ingat aja kun fayakun kun fayakun kun 23:33 fayakun Apaan sih? Bilang Tuhan gua di 23:36 ini dinilai. Tapi benar juga sih ya kok 23:40 mereka ngaku nabi tapi ya tapi mereka 23:43 memang mengkisahkan Maria ini tidak 23:45 punya pacar. 23:46 Hm. 23:47 Dulu ngomong gitu. Enggak punya pacar, 23:49 enggak tunangan, enggak kawin, lahir. 23:51 Itu kehendak Tuhanku. 23:53 Maka lahirlah Tuhanmu. Yaah. Gitu. 23:56 Kehendak Tuhanku, lahirlah Tuhanmu. 23:57 Gitu. 23:58 Dalam hati saya, "Ya, iya Tuhanku." 24:01 Tuhanmu sih. Iya. Tapi jangan bilang 24:02 Tuhanku adalah nabimu gitu kan. Turun 24:04 derajat kan gitu. 24:06 Tapi dibilang di agamamu mahu gimana ya 24:09 kan dia masuk nasabnya ke putra Daud. 24:12 He. 24:13 Jadi yang namanya nasab itu kan dari 24:15 suami. Ternyata masuknya ke mana 24:17 nasabnya? Yusuf 24:19 suami dari Maria. 24:21 Bertunangannya [berdehem] 24:21 ketika Maria sudah hamil. Makanya Maria 24:24 dikejar-kejar. Emang ngapain Maria 24:26 sampai dikisahkan dalam Kristen lari 24:29 kemudian lahir di palongan tempat makan 24:32 domba? Kenapa 24:33 emang aman-aman saja gitu? 24:35 Hm. 24:35 Enggak. Maria tuh dikejar sama rabi 24:37 Yahudi. 24:38 Hm. 24:38 Karena tradisi di sana orang hamil tanpa 24:40 suami itu dirajam. 24:42 Hm. 24:42 Maria ini mau dirajam karena hamil di 24:45 luar nikah. 24:46 Heeh. 24:47 Dan memang hamil di luar nikah. Atasnya 24:48 apa? Atas kehendak Allah. Kan gitu. 24:51 Nah, Maria itu kan kabur 24:53 menyelamatkan diri. Kalau dalam Islam 24:55 kan dibawa pohon kurma. 24:56 Iya 24:57 kayak gitu. Karena kenapa? Karena Yesus 24:59 itu lahir pada masa 25:03 para gembala menggembalakan ternaknya di 25:06 padang pada malam hari. 25:08 H 25:09 artinya apa? Hari siang hari itu panas 25:12 banget gitu loh. 25:14 Mereka menggembalakannya pada malam 25:15 hari. Kalau dibilang Desember, pada 25:18 bulan Desember 25:21 di Yerusalem itu suhunya antara 5 25:23 derajat sampai 10 derajat. 25:25 Dingin sekali. 25:25 Artinya kalau malam 5 derajat, kalau 25:27 siang 10 derajat. 25:29 Kan enggak ada kerjaan yang namanya 25:31 gembala kemudian bikin daging beku di 25:33 lapangan kan. 25:34 He 25:34 lah. Iya. Sekarang gembala membawa 25:36 gembalanya mau domba, mau apa dibawa ke 25:39 Padang pada suhu 5 derajat kan enggak 25:42 ada kerjaan. Emang kagak kagak pada mati 25:44 itu gembalanya. H 25:46 hewannya pada mati kan jadi beku di sana 25:48 kan gitu sudah setengah beku. Nah, jadi 25:52 yang lebih masuk akal ternyata adalah 25:55 kelahiran Nabi Isa atau Yesus versi 25:58 Islam pada musim panas 26:00 h 26:01 di bawah pohon kurma kan kayak gitu. 26:04 Nah, itu kemudian dibilang lagiah itu 26:07 tentang konsep ketuhan tentang konsep 26:09 Nabi Isa ya atau Yesus. 26:11 Saya pikir, 26:13 "Ah, ngaku-ngaku aja lah mereka gitu. 26:17 Ngaku-ngaku saya pikirlah sudahlah 26:18 terserah itu kisah mereka, ini kisah 26:20 saya karena saya masih jelang remaja 26:22 waktu itu." 26:23 Heeh. 26:23 Dari anak-anak jelang remaja kayak gitu. 26:26 Nah, ada lagi. Kemudian di dalam Islam 26:31 itu dibilangnya Tuhannya itu tak 26:33 terkalahkan. 26:34 Hm. 26:35 Tuhan gua tuh namanya Allah Subhanahu wa 26:38 taala disingkat Allah SWT. He 26:42 sallahuaii was disingkat Nabi Muhammad 26:46 SW kan gitu kan 26:48 digituin. Oh ya terus gimana? Tuhan gua 26:51 tuh enggak pernah kalah. Beda sama Tuhan 26:53 lu. 26:54 H 26:54 tuhan lu kena tombak gitu 26:57 mati digituin. 26:59 Itu kan keyakinan kita kan gitu. Yang 27:01 enggak gini loh. Tuhan ikut kan maha 27:03 maha maha segalanya. Masa mati Tuhan lu? 27:05 Ini omongan sesama remaja waktu itu. 27:09 Saya kan sering ya mereka mau ngaji kita 27:11 kan jalan gitu kan. Terus ngomong 27:14 omong-omongan anak-anak ya mau ngaji lah 27:16 gitu. Terus 27:18 saya bilang emang emang Allahmu bisa 27:22 apa? Dia nyiptain semua. Termasuk 27:24 kelahiran nabimu itu. Kun payakun. 27:27 Kun payakun ya. Iya saya kan belum bisa 27:29 makhrajal huruf. Kun fayakun. Ya, pakai 27:32 fa kun faakun 27:35 artinya apa tuh? Ya kalau Tuhanku bilang 27:38 jadi, jadi gitu. Jadi, jadi seperti itu. 27:42 Oh, gitu ya. Iya. Tapi ingat saya yang 27:44 saya paling ingat apa Pak? Satu konsep 27:47 ketuhanan yang sangat saya iri ada di 27:49 dalam Islam. Apa? Tuhanku tak pernah 27:52 kalah. Tuhanku maha hebat. Kalau 27:55 menginginkan sesuatu, kun payakun. Nah, 27:57 itu kun payakunnya ini gitu. [tertawa] 28:00 Saya juga kun payakun dulu. 28:02 Heeh. 28:02 Sekarang sudah kun fayakun. Dulu kan 28:04 ngomongnya kun payakun gitu. Karena tahu 28:07 pepaya kan gampangnya ingatnya apa? 28:09 Pepaya kun payakun gitu [tertawa] gitu. 28:12 Jadi hafal gitu. 28:15 Iya. Iya. Mikir juga itu 28:17 kenapa ya di Tuhanku juga Tuhanku mati 28:20 gitu kan ya. Kenapa ditombak? Sedangkan 28:22 kita kan lagi senang-senangnya ada film 28:25 Superman 4. 28:26 Hm. 28:28 Heeh. Superman 4 itu saya sudah 28:30 protestan itu. 28:30 H 28:31 iya. 28:31 Heeh. Cuman saya belum ke gereja. Koko 28:34 saya sudah ke gereja. 28:34 Di film itu ada adegan apa yang bikin 28:36 menarik? 28:37 Yang menarik H [berdehem] 28:39 ah waktu itu saya ke gereja tapi jarang 28:41 gitu. Papa sudah ke gereja tapi jarang. 28:44 Yang menarik gini, 28:47 Superman kalah sama 28:50 ini sama ciptaan genetik, rekayasa 28:53 genetiknya. Heeh. 28:54 Yang mana rekayasa genetiknya itu juga 28:56 kalah setelah dia tidak terkena sinar 28:59 matahari. 29:00 Hm. 29:01 Artinya apa? Ini pendekar, maha pendekar 29:05 yang ada dalam dunia perfilman dan dia 29:07 enggak mati. Ini loh film aja nih pemain 29:10 utamanya enggak mati. 29:13 Ini loh Tuhan mati, "Kenapa Tuhan gua 29:15 harus mati sih?" [tertawa] gitu. Itu 29:18 dalam hati kenapa Tuhan harus mati sih? 29:20 Itu nolak. Awal-awal si gereja nolak. 29:23 Tapi ini agama yang baru gitu. Tapi 29:25 lama-lama kan didoktrin gini, [berdehem] 29:28 Tuhan Yesus itu sebenarnya mati itu 29:30 untuk nebus dosa, dosa kita gitu. 29:33 Terus sebenarnya Tuhan itu hakikatnya 29:35 adalah Allah juga, Roh Kudus juga kan. 29:37 Tritunggal kan. 29:38 He 29:39 cuman beda pribadi gitu. Dulu tritunggal 29:42 dulu itu tercampur dengan konsep onenes. 29:46 Hm. Ones. 29:46 Kita kasih tahu aja. 29:48 Jadi kalau dulu tritunggal itu ya tiga 29:50 pribadi tapi hakikatnya satu. Itu kan 29:54 tritunggal 29:55 di tercampur dengan wanes. Artinya apa? 29:58 Ya Allah itu juga Yesus. Yesus itu 30:00 Allah. Roh Kudus ya Yesus. Yesus ya Roh 30:02 Kudus. Roh Kudus ya Allah juga. Itu sama 30:05 cuman bentuknya tiga beda gitu. Jadi 30:07 tercampur dulu dengan konsep oneness. 30:10 Kalau sekarang ones wanes sendiri kan 30:11 gitu Jo sendiri sekarang gitu. 30:15 Nah, [berdehem] 30:16 ya iyalah gitu akhirnya ya terdoktrin 30:18 itu kan sama satu lagi jika ada sesuatu 30:22 yang sesuai dengan dirimu, maka 30:24 jalankanlah dan pujilah Tuhan. Haleluya. 30:26 Pujilah Tuhan. [berdehem] 30:27 Jika itu tidak sesuai dengan dirimu, 30:29 tetap jalankan dan tetap haleluya puji 30:32 Tuhan. 30:32 Hm. 30:33 Kayak gitu 30:34 dia doktrin banget ya. 30:35 Iya. Karena kenapa? Karena itu kehendak 30:37 Tuhan. 30:38 Nah, ini seiring jalan akhirnya 30:40 ketidakterimaan saya itu lama-lama 30:42 hilang. tapi masih menginginkan sosok 30:44 yang luar biasa. Semakin saya besar, 30:47 semakin saya besar, semakin banyaklah 30:50 informasi tentang Islam, tentang Allah, 30:52 tentang Muhammad yang saya dengar. 30:53 Apalagi Cing Udin waktu itu kan ngetop 30:55 kan 30:56 Zainuddin Omz. Kia Zainuddin MZ kan 30:59 orang ini orang Betawi Cing Udin lagi? 31:02 Heeh. Iya. Cing Udin tuh ngetop. Ngetop 31:05 banget tuh Cing Haji. Cing Haji Cing 31:08 Haji ngetop banget tuh. 31:10 Iya. Jadi ngetop banget. Moga-moga 31:12 pahala tetap ter beliau ya. Sebab saya 31:16 juga pertama kali ceramah itu materi 31:18 beliau 31:19 tentang ini apair 31:24 gitualun. 31:27 Surah Alanfal itu 31:28 ayat 2. 31:29 Pertama kali saya safar apa kultum tuh 31:31 pakai pakai materi beliau [berdehem] 31:34 itu ngetop-ngetopnya Cing Udin tuh. Cing 31:36 Haji Udin udah dengar ini lucu kan 31:39 dengar juga. Ini gua pikir gua makin 31:43 lama makin di Kristen gua makin ngiri 31:45 tapi ini iman gue gitu iman saya gitu. 31:50 Kok orang kampung bilang gua gua l eh 31:52 kita sudah ke Jakarta tahu saya 31:55 [tertawa] itu bolak-balik Jakarta dan 31:57 kita nih sesama Cina ini lu gua lu gua 32:01 [tertawa] di kampung juga lu gua lu gua 32:03 jangan salah gitu 32:04 karena kita sering ke Jakarta dan 32:06 Surabaya. H. Nah, 32:09 ceritanya makinlah gitu. Akhirnya ketika 32:12 saya debat dengan kokoh saya, terbukalah 32:14 tabir di sana. Saya kalah debat tentang 32:16 konsep trinitas. 32:18 Saya kalah debat tentang konsep kesucian 32:20 Maria. Karena kenapa? Surat Matius itu. 32:24 Hm. 32:25 Matius 1 itu di ujung-ujungnya apa? 32:27 Ujung-ujungnya memperanakkan Yusuf. 32:31 Yusuf adalah suami Maria. 32:32 H. Maka Yesus dibilang putra Daud karena 32:36 putra dari Yusuf. 32:38 Kenapa harus ada ini? Ku pikir 32:40 kenapa enggak kayak orang Islam? 32:42 Kun payakun gitu kan. Kan suci beneran 32:45 kalau Kunpayakun 32:46 manusia luar biasa kan gitu. Siapa sih 32:48 manusia luar biasa? Nabi Adam enggak 32:50 punya ayah, enggak punya ibu. Siapa 32:52 lagi? Siti Hawa enggak punya ayah. 32:55 Lah terus yang enggak punya ayah siapa 32:57 lagi? Nabi Isa. Kan kita kenal gitu 32:59 doang. Melkisedek belum kenal. 33:03 MK Sedek belum apalagi Yesus bisa 33:06 ngidupin ngupin orang mati nih yang yang 33:09 dulu saya rada setengah konyol ngapain 33:11 ya bisa ngidupin orang mati tapi kenapa 33:13 dia mati ya 33:14 h 33:16 udah gitu matinya bukan hidup sendiri 33:17 dibangkitkan gitu. Nah, lagi Yesus 33:20 dibaptis. Bentar-bentar. Baptis itu kan 33:23 disucikan gitu. Yesus katanya mati nebus 33:26 dosa manusia. Berarti Yesus dibaptis 33:28 punya dosa dong. Banyak kontradik. 33:31 Itu konsep-konsep yang ada secara kasar 33:33 gitu. Terserah orang oten sekarang 33:36 debatter mau ngomong apa. Terserah 33:38 konsep yang kami pahami dulu seperti 33:39 itu. Dibaptis itu nebusin dosa. Artinya 33:41 menerimai Kristus sehingga dosanya itu 33:44 hilang ditebus oleh Kristus gitu. Sama 33:46 satu lagi dosa waris. Berarti sebelum 33:51 Yesus wafat, dosa waris masih ada dong. 33:53 Yang namanya ada dosa di mana-mana pasti 33:55 masuk neraka. Berarti Abraham, Daud, 33:59 Abraham, Daud, Salomo, 34:02 David tuh terus sama Adam pasti masuk 34:04 neraka dong sebelum Yesus di ini 34:07 di apa? Disalib. 34:08 Loh, ngapain kok setengah mati ngerebut 34:12 nasabnya Daud? dipaksain masuk ke ke 34:16 nasabnya Daud gitu. Kalauah Daud ini 34:18 masuk neraka 34:19 dan Daud juga dosanya ditebus sama 34:22 Yesus kan artinya lebih lebih mulia 34:24 Yesus gitu. Ini berkecamuk apalagi di 34:28 diceritakan kalau di Islam Daud enggak 34:30 jadi nikahin bini orang kan ditegur sama 34:33 dua malaikat. 34:34 Di Kristen itu ngelahirin anak dari 34:37 zina. 34:37 Daud itu berzina. 34:40 Masyaallah. 34:40 Jadi artinya nenek moyang Yesus nih 34:42 zina. H 34:44 sampai lahir anak tapi mati. 34:46 Ada di Injil ya 34:47 kan? Putra Daud ada. 34:49 Makanya dibilang Yusuf putra Daud. Yesus 34:52 putra Daud. Dari mana? Dari jalur Yusuf. 34:55 Yusuf siapa? Menikahi Maria ketika Maria 34:57 sedang hamil. Ketika dikejar-kejar Yusuf 35:01 mau menceraikan. Nah artinya sudah nikah 35:03 kan. 35:04 Enggak mungkin tunangan itu menceraikan. 35:06 Iya. Iya. 35:07 Baca nanti baca tentang kisah ini. 35:09 Tentang kisah hamilnya Maria. Nah, 35:12 akhirnya Yusuf mengakui dia adalah 35:14 istrinya, tidak diceraikan. Kayak gitu. 35:17 Itu banyak pertentangan. Setelah saya 35:19 debat, akhirnya semua saya plong yang 35:21 saya cari ternyata ada di sini. Nah, 35:24 sejak itu saya berpikir saya mau jadi 35:26 muslim yang biasa, muslim yang taat yang 35:30 saya tidak akan kembali lagi ke dalam 35:32 Kristen atau ke Konghucu lain. Tapi saya 35:35 sembunyi-sembunyi tuh. 35:37 Sampai akhirnya ketika saya SMA kelas 2, 35:41 saya banyak menemukan Islam itu luar 35:43 biasa. Ajaran-ajaran yang ada di Kristen 35:46 saya kaji di ini di Islam tentang Daud 35:50 itu Baseba itu 35:52 Daud kan ini zina dengan Baseba. Di 35:55 Islam gimana? Ternyata enggak jadi. 35:58 Daud itu insaf ditegur enggak sampai 36:00 berzina gitu kan. Tetap terpuji. Saya 36:03 bahas tuh baik dengan kokoh saya ataupun 36:05 ustaz-ustaz kayak gitu. Nah, ternyata 36:07 Islam itu luar biasa sempurna. Nah, di 36:09 situlah kemudian saya berpikir sama 36:12 Allah, "Ya Allah, lupakan aku terhadap 36:14 agama yang lama dan kasih pemahaman aku 36:17 terhadap Islam." 36:18 H. 36:19 Nah, seiring itu pula pembimbing saya 36:21 ngomong gini, [berdehem] "Loh, kamu mau 36:23 ke Jakarta ya?" "Iya. Mau ngasih tahu 36:25 orang tua kalau sudah muslim?" Itu 36:27 pembimbing saya kumpul. 36:28 He. 36:29 Saya dibimbing banyak orang, banyak. 36:32 Jadi kalau zaman dulu tuh ya Cina mualaf 36:34 w pokoknya ngetop deh. Enggak cuman 36:36 ustaz yang senang sama kita, cewek-cewek 36:39 senang. [tertawa] 36:41 Jadi saya itu banyak diajarin teman. 36:44 Makasih ya teman-teman SMA yang sudah 36:45 banyak ngajarin saya ngaji gitu kan. 36:48 Terus banyak ngajarin saya ini segala 36:51 macam kadang suka jajanin saya. 36:52 SMA-nya SMA mana sih? 36:53 SMA 2 Jember. 36:55 Oh SMA 2 Jember. 36:56 Iya SMA 2 Jember. Nah, itu saya ya 37:00 didekatin juga gitu sama anak-anak cewek 37:03 diajarin ngaji gitu. Ayo ngaji ngaji 37:05 ngaji yuk. Udah gua enggak tahu. Wih, 37:07 makanya gua ajarin gitu. Mumpung 37:09 [tertawa] pelajaran kosong pokoknya jadi 37:12 mualaf enak deh dikeroyok gitu. Akhirnya 37:15 bilang tuh nanti kalau pulang dari 37:17 Jakarta harus jadi daiah, jadi ustaz. 37:20 Ya, saya bilang itu berat. Nah, ketika 37:22 saya sudah di Jakarta, saya baca sebuah 37:24 majalah kalau enggak salah majalah 37:27 Sabili. Sabili. 37:29 He. 37:30 Heeh. 37:30 Piman redaksinya ada di sini tuh. 37:32 Heeh. Ah, 37:33 Heri Nurdi. 37:34 Oh, di mana 37:34 piman redaksinya? 37:35 Nanti ketemu dong kalau ada. 37:36 Oh, ya boleh. 37:38 Ee sabili apa islah gitu. Saya saya 37:41 salah enggak enggak tahu. Jadi saya 37:42 lihat 37:43 di salah satu halaman ada nahnu duat 37:45 qobla kulli saaiin. 37:46 H. 37:47 Saya sudah tahu artinya tuh kok bagus 37:50 banget ya. Sudah. Bismillah. Nahnu duat 37:52 komlakulin. Sampai sekarang moto saya 37:54 itu 37:54 hmm 37:55 nahnu duad komlakulaiin. Dan sekarang 37:58 kalau ditanya kok profesi utamanya apa? 38:00 Dai. 38:00 Hm. 38:01 Dai kondang. Enggak. Enggak tahu kondang 38:03 [tertawa] kondang. Saya enggak peduli. 38:04 Saya enggak peduli orang mau lihat saya. 38:06 Saya enggak peduli. Saya bikin YouTube 38:09 mau banyak orang lihat enggak peduli. 38:11 Mau ada orang cela saya, "Ah, dai kurang 38:14 ilmu enggak peduli. Yang penting saya 38:15 ngajarin. Saya rangkul mualaf. Ada orang 38:19 yang dukung saya. Terus kalau enggak ada 38:21 orang dukung saya tetap saya akan jalan 38:23 kayak gitu. Dan keluarga saya si 38:25 persiapkan untuk dakwah dan saya yakin 38:27 Allah akan hadirkan orang-orang yang 38:30 satu frekuensi 38:32 yang akan menolong saya. Insyaallah 38:35 seperti itu yang akan bergabung 38:37 dan saya lakukan. Jadi saya dai kalau 38:39 misalnya terus Bang Iwan paling-paling 38:41 tuh 38:42 Ustaz Iwan ngeselin itu 38:44 tahu-tahu kok apa besok berangkat apaan 38:48 ente badal wah ya jalan [tertawa] 38:51 materi apa terserah ente gitu 38:53 ke Makassar ke mana-mana ya 38:54 diajak jalan ke sini kita berangkat ayo 38:57 berangkat ayo gitu kadang malam tengah 38:59 malam besok pagi yuk jalan gitu paling 39:02 sering Ustaz Iwan Ustaz Iwan 39:03 ayo badal ayo jalan ente pengisi ya ya 39:06 gitu kadang [tertawa] enggak badal juga 39:08 aneh sekarang ingat sama ente katanya 39:09 ayo ente ngisi. Gitu. Nah, paling sering 39:12 lupa. Nah, begitu sudah enggak enggak 39:14 ada ini yang yang ini enggak ada 39:15 pemateri oh ada kokoh gitu [tertawa] 39:18 tapi masih ingat gitu ya. Termasuk 39:21 berhasil dikenalkan beliau. Nah, jadi 39:23 kalau saya itu kalau misalnya terus 39:25 kemudian saya misalnya lagi ngerjain 39:27 komputer, 39:29 kok berangkat sekarang ini sering saya 39:31 sering 39:32 pulang ke rumah atau lagi kerja 39:33 tahu-tahu ada orang jalan ustaz apa? Ayo 39:37 ngapain 39:39 ceramah loh saya kapan dikabari? Enggak 39:42 emang enggak ngabarin terus ya ingatnya 39:44 [berdehem] ustaz sekarang [tertawa] 39:46 terus ya acara sudah mulai gitu sering 39:48 kalau saya lagi ngerjain komputer atau 39:50 saya baru datang dari luar langsung saya 39:52 paling cuman ganti baju jalan tapi kalau 39:54 lagi ngerjain komputer saya telepon anak 39:56 saya ini ada komputer ada laptop udah 39:59 Abi bongkar tapi Abi mau jalan cuman Abi 40:01 rapikan nih analisanya ini. Jadi kamu 40:04 langsung langsung megang ini nanti. Nah 40:06 komponen ini, komponen ini kayak gitu 40:08 langsung dia pegang kayak gitu. Ee kalau 40:11 saya sudah bilang komponen ini, dia 40:12 tahu, "Oh, gejalanya enggak tampil ya, 40:14 Bi." Iya, gitu. Enggak tampil. Sudah. 40:16 Oke. Kalau enggak bisa berarti bawa 40:18 mangga dua kayak gitu. Saya jalan jalan 40:20 mau 2 hari 3 hari jalan gitu. 40:22 Jadi, nahnu doat qoblain. 40:24 Dan saya tidak pernah berpikir saya mau 40:26 dapat uang atau enggak. 40:28 Begitu saya mau jalan saya tanya istri 40:29 saya, "Megang uang enggak?" "Megang, 40:32 kenapa?" Abi enggak sempat ke ATM? Tapi 40:34 kalau sempat ATM saya ambil. 40:35 H. 40:36 Saya selalu ada tabungan tak terduga 40:38 walaupun enggak banyak gitu kan. Dan itu 40:40 memang istri saya juga tahu jumlahnya 40:42 berapa se 40:43 dan jumlahnya siap keluar kota gitu ya. 40:46 Kadang enggak. [tertawa] 40:48 Kadang ATM saya enggak sampai sejuta. 40:50 Eh, 40:51 ATM saya enggak sampai sejuta kadang. 40:52 He. 40:53 Yang saya gunakan kan Mandiri. 40:54 Yang saya gunakan Mandiri. 40:56 Tahun lalu kan di sini pakai Mandiri kan 40:57 rekening saya. Nah, itu saya gunakan 40:59 kadang enggak sampai sejuta. 41:01 Hm. 41:02 Jalanjalan aja sudah bismillah aja jalan 41:03 sudah. 41:04 Oh, 41:04 kayak gitu. J 41:05 ada aja ya. 41:06 Ya, cari yang murah, Ustaz. [tertawa] 41:08 Kadang juga enggak dapat apa-apa, Ustaz. 41:10 Saya itu safari dakwah kayak kemarin 41:11 Juni, ya. Juni itu 1000 perak pun enggak 41:13 dapat. 41:14 Dan memang kita sudah dengan teman itu 41:16 bismillah jalan-jalan. Kenapa? Karena 41:18 kita ke sana itu bukan minta tetapi kita 41:20 ngasih. Di sana itu banyak mualaf-mualaf 41:24 yang kadang baru mualaf sebulan, 2 bulan 41:26 dan mereka minoritas di sana. 41:28 Dan pekerjaan mereka ya maaf kata ya, 41:32 jadi dalam tanda kutip menengah ke 41:34 bawah. Artinya kita bawa bingkisan ke 41:37 sana. 41:37 Heeh. termasuk kemarin ke Malang 41:41 itu ada kita siapkan 25 bingkisan dan 41:44 amplop satu orang itu minimal Rp50.000 41:47 kan Rp50.000 kali 25 gitu. 41:49 Nah, itu juga kita siapkan 25 yang 41:53 datang lebih. 41:54 Hmm. Ya, yang kurangnya gimana itu? 41:57 Ya udah panitia aja Pak Haji apa kurang 42:00 ya udah. Kalau kemarin di Malang 42:02 alhamdulillah ada Pak Haji. 42:04 Oh dia handle 42:05 Pak Haji. Ada Pak Haji yang handle 42:06 kurangnya gitu. 42:08 Pakin deh gitu. Iya gitu. Oke Pak Haji 42:10 dibalik layar. Tapi untuk daerah lain 42:12 belum tentu. 42:14 Berarti daerah lain kita ongkos dewe. 42:16 Kalau ternyata ada yang tahu saya kan 42:17 sebar tuh player 42:19 safari dakwah ke mana, ke mana, ke mana 42:21 gitu. Ini kan sampai Desember ya. 42:23 Terkadang kan ditaruhin nomor rekening 42:26 tahu ustaz 42:27 ini ya dibawa untuk safari dakwah. Oke 42:30 gitu. 42:32 Oke. Terus kemarin sama K Julius kan di 42:35 itu fan racing di channel dia kok masuk 42:38 kok berapa? 10 juta. Saya bilang oh 42:40 alhamdulillah. Cuman ni pemain bola saya 42:42 bilang kenapa nolnya tiga dibuat bola 42:45 [tertawa] 42:46 ya alhamdulillah gitu. Tapi dengan itu, 42:48 Ustaz 42:49 saya sampai ke Malang 42:51 uang Rp10.000 itu yang ngasih saya ada 42:54 yang R500 Rp10.000 Ibu itu kita sampai 42:56 ke Malang saudara kita itu kita kasih 42:58 bingkisan, kita kasih sembakau 43:01 dan anak saya saya bawa yang bayi 43:03 yang belum 2 tahun ini kena flu 43:05 Singapura pulang dari sana. 43:07 Heeh. 43:08 Karena ternyata di sana ada yang flu 43:10 Singapura begitu telepon ternyata di 43:11 sana ada yang 43:12 sekarang gimana 43:13 sekarang alhamdulillah 43:14 sudah sembuh ya 43:15 belum tapi sudah membaik gitu [tertawa] 43:18 semalam masih rada rewel dikit tapi 43:19 sudah main gitu. Nah, itu 43:22 anak saya ketika kita pengajian. Abi 43:26 apa? Guguk. Guguguk. Dia senang 43:28 [tertawa] lihat guguk. Disangkanya guguk 43:30 tuh kambing. 43:31 Oh, 43:32 saya kan punya kambing, punya domba. 43:33 Heeh. 43:34 Ah, dia bisa main-main domba tuh. Jadi 43:36 guguk disangkanya seperti domba. Dia 43:39 tahu itu guguk tapi dianggapnya kayak 43:40 domba. Abi guguk guguk. [tertawa] Saya 43:43 mau ceramah itu Abi guguk guguk. 43:46 Tarik-tarik tuh jadi ngelihatin gugup 43:48 mandir. Antum bayangin coba mereka tuh 43:50 7% kurang 43:52 enggak punya masjid 43:53 di sana. 43:54 Allah 43:55 ada tempat di belakang belum belum 43:56 terlalu rapi saya bilang, "Ustadz, 43:58 insyaallah entar saya carikan uang." 44:00 Tanggung jawab saya. Saya bilang, "Antum 44:02 bayangin Ustaz gini, kita ke sono ongkos 44:04 dewe, mangan dew jalan dew mulai dewek 44:07 ya." 44:07 Hm. 44:08 Bawa anak, bawa istri. 44:09 Heeh. 44:10 Begitu ketemu tempat saya bilang, "Itu 44:12 tanggungan saya." 44:14 Terus disangkanya saya ada uang kan sama 44:16 sama beliau. 44:17 Saya sampai Jakarta telepon, 44:19 "Asalamualaikum Ustaz." Apa saya sudah 44:22 panggil tukang? Hah? Ngapain? Rapin di 44:25 belakang loh. Ih, jangan gitu loh. 44:27 Katanya ustaz yang tanggung. Iya, tapi 44:28 tunggu dulu gitu. [tertawa] 44:30 Tunggu dulu cariin dulu gitu. Maksudnya 44:33 saya cariin dulu doain saya dapat rezeki 44:35 lebih gitu kan. 44:37 Ya saya cariin dulu gitu ya. Ini udah 44:39 panggil tukang gimana ustaz? Ya gimana 44:42 sih? bilang, "Ya udah suruh kerja 44:43 sehari." Saya gituin. Akhirnya 44:44 alhamdulillah ada teman cerita ke saya. 44:49 Saya kan cerita ke dia, "Kenapa kok 44:50 ustaz?" "Ya, ini dia sudah panggil 44:53 tukang katanya." "Enggap, Pak, saya 44:54 closing deh R1 juta." 44:56 Masyaallah. 44:56 Closing R juta. Cuman kita kan 2 juta 44:59 lebih kan butuhnya. 45:00 Alhamdulillah nih, Tat R juta. Saya 45:02 bilang, "Dah kerjain." [tertawa] Tapi R 45:05 juta ya. R1 juta pas-pasin. Eh, enggak 45:08 lama nambah Rp1.200 200 katanya. Oh, ya. 45:11 Jadi dikaspasin aja ya katanya. Ini 45:13 belum nambah lagi jadinya. Ya sudah, 45:15 paspasinnya R.200 itu kan tinggal 45:18 ngeramik, keramiknya sudah ada dan 45:20 bocornya tinggal ditutup. Saya bilang, 45:22 "Udah enggak usah dirapi-rapiin gitu. 45:24 Nanti kita shoot biar umat Islam, kita 45:27 bukan ngemis ya, biar umat Islam ada 45:30 sumbangsinya di sana. Jadi di akhirat 45:32 nanti walaupun 10.000 tembok itu akan 45:34 bersaksi saya disumbang sama si fulan." 45:37 Masyaallah. 45:38 Saya gitukan. [berdehem] 45:40 Oke, Iwan Danat masih di acara Hijrah 45:42 Talk bersama Ko Aziz. Ini banyak yang 45:45 nanya nomor teleponnya berapa? Yayasan 45:47 ee Tionghoa 45:49 Muslim itu juga berapa nomor ee 45:52 rekeningnya? Ya, nomor dari Koh Aziz 45:55 adalah 726. 45:58 Kemudian 43 46:00 63 46:03 76 46:07 kok 72 46:08 itu nomor rekening nomor maaf nomor 46:11 rekening nomor rekening ya sekarang 46:12 nomor telepon dulu 46:13 heh 46:14 0838 46:15 maaf salah ya [tertawa] 46:19 [terkesiap] 46:20 oke nomor nomor teleponnya 0838 46:24 74 70 235 46:29 083874702353. 46:33 Kalau nomor rekeningnya BSI 726 43637 46:42 BSI atas nama Yayasan Tionghoa Muslim 46:45 Inspiration ya. [mendengus] Oke. Ee 46:49 nanti saya akan bacakan lagi ya. Nah, 46:51 Kok Aziz, 46:53 apakah ee jalan dakwah ini enggak 46:56 nyusahin, enggak enggak cari penyakit? 46:59 Iya, Teman-teman sering begitu ya. 47:00 Jangankan dakwah, 47:02 ini kok Julius nih. 47:03 H 47:05 dia juga biasa-biasa 47:07 ngerangkul mualaf kan, nyelamatin 47:09 mualaf, ngeluarin uang buat mualaf. 47:12 Begitu main ke rumah, mualaf lagi 47:13 ngumpul nih. 47:14 H 47:15 mualaf ngumpul. 47:17 Kok judulus kenal bisik kok. 47:20 Lu ngumpulin mualaf ya? 47:23 Iya. Kenapa lu cari susah lu? K jadi 47:27 susah lu duit gitu ya digituin 47:29 ya. Enggak biar mereka di sini makan di 47:31 sini. Kebetulan kan bujang-bujang 47:33 mereka emang saya suruh ke sini saya 47:35 ongkosin terus saya kasih makan. 47:38 H 47:38 kayak gitu. Sini kasih makan. habis 47:40 makan supaya mereka enggak jenuh dan 47:43 mereka kebetulan kan lagi nganggur nih 47:46 ya siapa tahu nanti dengan silaturahmi 47:48 dengan saya Allah buka pintu gitu kan. 47:51 Wah katanya terus kemarin protes lagi 47:53 kau Julius lu tidak apa? Heeh ke mana? 47:57 Ke mana-mana dong. Gua dengar sampai 48:00 Desember ya. Iya kok gua dengar lu 48:03 ongkos DW ya? Iya 48:06 lu nyusahin ya? Katanya lu cari susah ya 48:09 orang-orang numpuk harta lu buang harta 48:11 katanya. Emang siapa biayain lu? Allah 48:13 saya bilang. [tertawa] Terus 48:15 emang pendapatan lu cukup buat keluarga? 48:17 Ya insyaallah cukup kan gua enggak 48:19 neko-neko gitu. Jadi kalau gua tuh gini 48:21 kok kalau gua pengin sesuatu nih gua 48:25 enggak cukup duit ya gua udah biarin 48:27 walaupun pengin banget nih ah ya 48:29 sudahlah belum waktunya gitu sudah gua 48:32 selesai gitu. Dan tahu enggak kok ini 48:34 sudah mau setahun saya pengin anggur, 48:36 saya belum beli anggur. 48:37 Hm. 48:38 Anggur seprapat berapa sih? 48:39 Hm. 48:41 Dia gua bilang berapa sih kok secara 48:42 logika yang gua keluarin berapa sih 48:44 untuk mualaf binaan gua 120 itu di 48:46 Semarang doang. 48:48 Di Jakarta belum. Lu lihat mualaf pada 48:50 ke sini gua beliin nasi kebully. 48:52 H 48:52 gua beliin nasi ini. Nasi kebuli satu 48:54 porsi 150. 48:56 Hm. 48:57 Yang empat loyang. Terus belum lagi 48:59 kalau datang 20 orang. 49:02 I kadang lagi grebek nih tamunya istri 49:04 40 orang datang. Kita kasih hidangan di 49:07 situ. Minum hidangan apa [berdehem] 49:10 saya bilang kalau dipikir-pikir kan beli 49:13 anggur itu saya suka anggur yang manis 49:15 kan. 49:16 Heeh. 49:16 Yang hijau atau yang bulat tapi manis. 49:20 Seperapat berapa sih kok gitu? Gua 49:22 enggak malu sih kok beli on juga enggak 49:23 malu 49:24 apalagi di swalayan gitu. Cuman gini 49:26 loh, kalau gua udah ada lebih dan gua 49:30 nih bisa nutupin semua gua dan ada di 49:33 sana gua sempetin beli. Tapi kalau gua 49:35 nyempetin untuk beli enggak. Kenapa? Ini 49:37 salah satu cara gua untuk ngatur diri, 49:40 nahan diri agar kenapa? Gua enggak jatuh 49:42 berhutang. H. 49:44 Jadi ketika gua bisa ngendaliin diri gua 49:47 itu terhadap yang halal gua bisa 49:48 ngendaliin diri dan itu kita juga 49:51 dilatih di di puasa kan. 49:52 Nah, artinya ketika gua punya gua bisa 49:55 nahan. Ketika gua enggak punya, ah itu 49:56 yang gua butuhkan untuk nahan supaya gua 49:58 enggak punya hutang. Dan alhamdulillah 50:00 sampai sekarang gua enggak punya utang 50:01 100 perak pun. 50:03 100 perak pun enggak punya hutang. 50:05 He. 50:06 Sampai detik ini. 50:07 Karena walaupun tidak ada tetap jalan 50:08 ya. 50:08 Heeh. Tapi kalau ada orang bilang, 50:12 "Kok, pinjam dong gopek?" Aduh sori. 50:14 Kenapa? Binaan gua tuh 100 lebih. Kalau 50:17 lu pinjam enggak balik. 50:19 Jujur saya ngomong enggak balik gitu. 50:22 Heeh. 50:22 Jujur [berdehem] enggak balik. Nah, 50:23 kalau enggak balik daripada gua kasih lu 50:25 satu orang nih R500.000 buat lu satu 50:27 orang, mending gua kasih binaan gua 50:29 ratusan. R00.000 bisa dipakai oleh 50:32 ratusan orang. 50:33 Hm. 50:34 Kayak gitu. Dan juga kalau lu minjam, 50:36 ada yang minjam kemarin kok anak gua nih 50:38 katanya belum ini bayaran sekolah. Gua 50:41 aja ngutang ke sekolah. Dalam artian 50:43 gini loh, bukan ngutang apa dicicil kan 50:45 boleh cicil tuh. 50:47 Oke. Jatuh tempo bulan besok bayar 50:48 berapa? Bayar berapa gitu. Ini gua masih 50:50 berapa kali jatuh tempo gitu, gua aja 50:53 nyicil gitu loh. Lah lu bilang mau 50:56 pinjam duit ke gua buat bayar anak lu 50:58 gitu. Anak gua aja nyicil gitu. Oh iya 51:00 kok sama ya? Ya sama gitu udah diam aja. 51:04 Yang penting mah kita ini ya jalan apa 51:06 adanya. Bismillah gitu 51:09 ya. Seperti itu Ustaz kayak gitu. Eh 51:11 kalau dibilang nyusahin mungkin sekilas 51:13 nyusahin ya. Tapi tak kasih tahu 51:16 teman-teman, 51:18 harusnya saya ini sudah jadi tulang. 51:20 Harusnya, Ustaz, secara logika. Kenapa? 51:23 Saya itu umur 7 tahun tuh ginjal saya 51:27 luka. 51:28 Hm. 51:29 Luka ginjal saya. Alhamdulillah tuh 51:32 sembuh. Saya ada asma. Terus tekanan 51:34 darah saya itu bisa naik jadi 227. 51:37 Tahu-tahu dadakan segitu. 51:39 Dan rata-rata di 170, 160 itu kalau 51:43 misalnya saya rada capek doang. Kalau 51:45 normalnya ya 140, 130 gitu. Logikanya 51:49 saya sudah ambruk 51:51 tapi enggak ambruk. Kenapa enggak 51:53 ambruk? Nah, mungkin salah satu 51:55 fadilahnya adalah saya itu 51:57 memperjuangkan agama Allah. Sebab apa? 51:58 Apa kata Allah dalam surat Muhammad ayat 52:00 7? Intang auzubillah minasyaitanirrajim. 52:03 Intansurullahakumus 52:06 aqdamakum. Jika engkau menolong agama 52:08 Allah, Allah akan tolong kamu dan akan 52:11 Allah akan tegakkan kakimu, pijakanmu di 52:13 bumi ini. Dan alhamdulillah puasa 52:16 kemarin, 52:17 puasa kemarin seminggu sebelum puasa 52:19 saya pecah pembuluh darah kaki. 52:21 Hmm. 52:22 Pecah pecah paha semua bengap bengap. 52:26 Tapi malam 21 saya sudah safari dakwah 52:29 di Jogja dan medannya naik turun bukit 52:32 lagi pincang-pincang saya. 52:35 Alhamdulillah tuh di jalan tuh 52:36 kuat. 52:36 Iya. Dan sekali lagi ongkos dewek jalan 52:40 dewek muli dewek 52:41 puasa kemarin. 52:43 Ah tanggal 25 balik ke Jakarta. 25 52:47 Ramadan balik Jakarta. Tanggal 27 52:50 Ramadan sudah nyupir. Nyupir sendiri ke 52:53 Jawa Timur. 52:54 Hm. 52:54 Nyupirin keluarga dan macet itu 20 52:58 23 jam di dalam 52:59 yang se tabrakan tuh di mana? Buonowo 53:01 tahun yang lalunya hasil 53:03 tahun lalunya. He 53:04 itu H-2 lagi jalan ada orang ayan kumat 53:08 ayannya dihantem saya [tertawa] 53:11 hancur mobil saya. 53:12 Yang bawa mobilnya itu ayan ya 53:14 yang bawa motor. 53:15 Motor. 53:16 Motor. Habis ngantem saya ngantem lampu 53:20 pecah hancur. Terus spion saya kelempar 53:22 jauh dia ngantem mobil sebelah. 53:25 H. 53:25 Ngantem mobil sebelah. Balik lagi ke 53:27 mobil saya. Ngantem Losbug di sebelah. 53:30 Kan arah berlawanan kan artinya pantat 53:33 losbug. Kepalanya kebentur bolong. Nah 53:35 ibunya ke bentur bagian bawah losbug 53:37 patah kakinya. Ngantem lagi ke mobil 53:40 saya di belakang. Nah baru jatuh depan 53:43 mobil orang. Ngantem lagi di situ. Nah 53:46 dia baru terkapar. 53:48 Saya kondisi pelan. 53:50 Kondisi pelan. Dan alhamdulillahnya di 53:52 sana satu 53:55 apa namanya? Satu pos jaga Brimop itu 53:58 ngelihat. Pak tenang Pak. Bapak enggak 54:00 salah Bapak sudah di pinggir. 54:01 He. 54:02 Tapi tetap sempat kemarin ada accident 54:05 ada ada apa ada kejadian itu sempat 54:07 dipersulitkan karena keluarganya bilang 54:10 udah parah loh saya korban kok. 54:12 [berdehem] 54:12 Akhirnya diganti. Saya ganti Rp3 juta. 54:15 Tadinya enggak mau. Tadinya enggak mau. 54:18 Saya bilang aja ya sudah sidang ajaal 54:19 kita lah. Saya enggak salah kok. Saya di 54:22 pinggir. Saya jalan di pinggir dia ini 54:24 ngelawan arah Ayan. Jadi narik gas 54:27 kencang gitu. Dan keluarganya juga 54:30 sebagian besar minta maaf ada satu 54:31 keluarga yang nekan saya waktu itu. 54:34 Akhirnya damai itu saya kasih Rp3 juta 54:37 dan mungkin karena ini ya karena ikhlas 54:41 gitu. Alhamdulillah hari ketiga habis 54:45 tabrakan keluar dari dia sudah keluar 54:47 dari ICU padahal itu cedera otaknya. 54:50 Masyaallah. Jadi batok kepalanya bolong 54:52 ngantem ujungnya Losbug itu. 54:56 Alhamdulillah itu cuma dirawat 2 hari. 54:59 Hari ketiga sudah keluar. Saya datangin 55:00 lagi rumahnya hari ketiga itu. 55:02 Pas Idul Fitri itu saya datangin ke 55:04 rumahnya. Alhamdulillah. 55:05 Gimana responnya Om? 55:06 Iya. Saya baik-baik ke orang tu ke orang 55:08 tuanya ke mana. Orang tuanya minta maaf, 55:10 neneknya minta maaf. Enggak enggak 55:11 apa-apalah saya bilang. Iya enggak udah 55:14 keluar anaknya katanya sudah dirawat di 55:16 ruang rawat. Moga-moga 3 hari ke depan 55:19 bisa keluar. Alhamdulillah. Itu 55:21 logikanya enggak enggak logika. Saya 55:23 sampai ngomong ke istri saya, "Mati saya 55:25 bilang, "Kenapa bi mati?" "Kenapa 55:28 tengkoraknya bolong?" 55:31 Dia kehantem ujungnya Losbug itu 55:35 dan dia itu anak yang ditinggal sama 55:39 orang tuanya, sama bapaknya tanpa kabar. 55:42 Jadi ibunya besarin dia sendiri, dia 55:44 stres, terus dia sering begadang, 55:47 akhirnya dia kena ayan. 55:49 Hmm. kayan gitu. Jadi termasuk orang 55:51 yang dizalimi. Nah, makanya tuh kalau 55:54 kita nikah ya cobalah nikah itu dari 55:56 dunia sampai akhirat sampai jannah gitu. 55:59 Kalau enggak siap itu jangan nikah deh. 56:01 Kasihan anak-anak itu. 56:03 Luar biasa. Kasihan. 56:05 Oh ini ada yang tanya ee K Aziz katanya 56:08 istrinya tiga, anak tujuh. Kok bisa 56:10 angkur? Bagaimana? Itu satu rumah 56:12 enggak? Satu halaman. 56:14 Satu [tertawa] halaman. 56:15 Jadi 56:17 saya itu 56:20 mempersiapkan pernikahan dari saya masih 56:22 bujang. 56:23 H 56:23 saya banyak kesempatan untuk zina 56:26 banyak. 56:26 Hm. 56:27 Saya banyak kesempatan untuk colek-colek 56:29 gratis. 56:30 Saya banyak kesempatan saya enggak usah 56:32 nyari pacar, pacar datang sendiri. Saya 56:35 banyak kesempatan. 56:36 Teman teman-teman teman-teman SMA 56:38 silakan saksikan saya dan tanyakan 56:40 kepada teman-teman wanita di SMA. H 56:43 teman yang paling dirasa aman ketika ada 56:46 di dekatnya siapa? 56:47 Hm. 56:47 Pasti jawabannya saya karena saya enggak 56:50 pernah colek-colek. Saya melewatkan itu 56:52 semua walaupun terkadang saya juga 56:54 ngelihat teman cantik banget enak jadi 56:57 istri atau pacaran ya gitu. 56:59 Tapi saya pikir ya Allah 57:00 aku ingat satu hal. 57:03 Ketika kita meninggalkan sesuatu yang 57:06 haram karena Allah, Allah akan berikan 57:11 sesuatu itu di sisi kita dalam kondisi 57:14 halal. 57:15 H 57:15 artinya akan diganti dengan yang serupa 57:18 dalam kondisi halal. Saya pertahankan 57:20 itu. Alhamdulillah nikah pertama itu 57:23 lancar walaupun ditabok sama ipar. 57:27 Ya, saya ditanya gini, "Kamu ngelamar 57:29 adik saya?" "Iya." "Kamu mau kasih makan 57:32 apa?" Saya kasih makan nasi, masak batu 57:34 tempeleng saya. [tertawa] 57:35 Tempeleng saya. Saya konyol kalau kalau 57:38 kalau ngelamar konyol saya. 57:39 Alhamdulillah tuh ngelamar konyol juga 57:41 diterima terus. [tertawa] 57:42 Akhirnya ya kita nikah terus kita 57:47 mandiri gitu kan. Kita mandiri walaupun 57:50 sampai kekurangan bahkan makan itu cuman 57:52 pakai sambal terasi. Jadi ada teman 57:55 datang ke rumah 57:56 ngomel-ngomel ente. Ya enggak peduli 57:59 sama saudara katanya. Ana tahu enggak 58:02 makan pakai sambal terasi? Tahu. Ente 58:04 enggak peduli. Saya diam. Istri saya 58:06 diam. Begitu dia pulang berarti dia 58:08 enggak tahu kita juga makan pakai 58:09 terasi. Ya. [tertawa] 58:12 Jadi teman tuh udah ngerasa ini enggak 58:14 punya gitu. Saya kayaknya enggak peduli 58:16 sama dia gitu, enggak nolongin. 58:17 Lah saya juga makan pakai terasi doang. 58:20 Beli terong satu berduain ke istri. Anak 58:22 tuh makan Indomie. 58:23 He. 58:24 Sampai kalau sembelit itu digendom saya 58:27 congkel buknya anak pertama. Heeh. 58:31 Makanya anak pertama saya sekarang kalau 58:32 saya ngomel, kalau enggak ini paling 58:34 minggir doang enggak ngelawan sama saya. 58:36 Heeh. 58:36 Dia tahu cerita ceritanya. Pokoknya Abi 58:39 pahlawanku gitu. [tertawa] Jadi saya 58:42 mandiri gitu kan. Nah, terus 58:44 ketika ngelamar istri kedua, saya 58:47 ngomongnya gini, "Ustaz, 58:49 saya istri khara 18 tahun yang lalu 58:53 keluar yang sekarang, istri yang 58:55 sekarang. Tapi saya punya catatan lain 58:58 di jadi buku yang sebelah sini nih. He 59:01 istri pertama nih. He. 59:03 Satunya itu kaca satunya itu ciri-ciri 59:05 orang lain. 59:06 Saya baru tahu itu ciri-cirmu setelah 59:08 ketemu kamu. 59:09 Hm. 59:10 Saya kasih tahu dia. Dia teman SMP saya. 59:13 He. 59:14 Tapi selama 3 tahun enggak tahu kalau 59:15 saya muslim. 59:16 He. 59:17 Dan bertemu kembali setelah kita lulus 59:19 18 tahun. Saya sodorin bukunya 59:22 dia. Dia sama saya bilang bohong 59:25 katanya. Bukunya kan kertasnya kuning. 59:27 Saya bilang sudah umur 18 tahun lebih. 59:30 He 59:31 sudah 19 20 tahun bukunya. 59:33 Tintanya baru katanya. Coba lihat enggak 59:36 tintanya kok beda katanya antara kiri 59:37 dan nah itu lucunya. Sebelah sini biru, 59:40 sebelah sini pink. 59:41 Hmm. 59:42 Beda tinta beda ini. Coba lihat dulu 59:45 teliti saya bilang. Oh iya katanya beda. 59:47 Terus saya bilang mau enggak kamu nikah 59:49 sama saya? Kamu itu katanya gua juga 59:52 baru tahu kamu muslim katanya. Enggak. 59:55 Saya enggak nanya itu. Mau nikah sama 59:57 saya enggak? Kalau kamu enggak mau, saya 1:00:00 cari wanita lain. Mau tapi stop. Mau 1:00:03 kan? Iya tapi stop. Mau enggak? Mau tapi 1:00:06 gua punya orang tua loh. Katanya. 1:00:09 Hm. 1:00:10 Diomelin saya, Ustaz. 1:00:11 Sudah saya sudah. Yang penting kamu mau 1:00:13 kan? Iya. Gua nikah sama lu bukan sama 1:00:15 anak [tertawa] bapak. Terus gimana bapak 1:00:18 sama ibu? Tenang. Yang penting terima 1:00:21 dulu. Kan kamu mau udah kita bismillah 1:00:24 tak lamar ke situ. Ya sudah katanya 1:00:26 berani lu halah saya bilang ngelamar kok 1:00:30 masa takut gitu lu bener ya katanya beda 1:00:34 sama SMP lu. SMP kagak berani sama cewek 1:00:37 katanya sekarang lu berani berani 1:00:39 ngapain si bilang yang ngomong berani 1:00:42 nyolek lu enggak? Enggak. 1:00:44 Heeh. 1:00:45 Terus ngerayu lu enggak? Itu dia dirayu 1:00:48 kagak apa kagak? Dajak nikah katanya. 1:00:50 Tapi mau, Tat. Mau tapi mau gitu. Terus 1:00:54 saya bilang, "Kamu mau dibawain bunga 1:00:56 gitu?" Saya bilang, "Dirayu ya gitu 1:00:59 kek." Katanya, "Enggak usah sama saya." 1:01:01 Saya bilang, 1:01:02 "Heh, 1:01:03 kalau kamu mau bunga ya mau dirayu, 1:01:05 setelah halal saya rayu." 1:01:07 Heeh. 1:01:08 Nanti setelah setelah halal saya tanamin 1:01:10 bunga. Dan itu saya lakukan. Setelah 1:01:13 kita halal saya tanamin bunga mawar 1:01:16 besar-besar gitu kan. Bagus-bagus 1:01:18 bunganya. Alhamdulillah bagus. Jadi saya 1:01:21 potongin taruh di gelas. He. 1:01:23 Saya potongin taruh gelas taruh di meja 1:01:25 tamu. Terus yang paling bagus saya kasih 1:01:28 dia. He 1:01:29 ingat kamu minta apa? Gua mintanya dulu. 1:01:33 [tertawa] 1:01:34 Sekarang enggak mau. Mau gitu. Sama yang 1:01:37 ketiga juga sama. Yang ketiga sama. 1:01:41 Kalau yang ketiga gini. 1:01:43 Ada perantara kan Ustaz? Saya bilang 1:01:45 sama Ustaz, "Ustaz apa? 1:01:47 Jangan dikasih mandi ya gitu maksudnya. 1:01:49 Pesan enggak usah mandi, enggak usah 1:01:51 make up, enggak usah apa. 1:01:52 Saya mau ke sana, saya pengin tahu dia 1:01:54 bawa ketek gimana ini. Serius pesan 1:01:57 pesanin sama ustaznya. Jangan mandi, 1:01:59 jangan apa, pokoknya udah begitu saja 1:02:02 apa adanya, enggak usah pakai bedak. 1:02:04 Datang kan ke rumahnya, datang ngobrol. 1:02:06 Habis ngobrol saya bilang, "Doko, tahu 1:02:09 enggak kedatangan saya ke sini?" 1:02:11 "Enggih." Katanya, "Saya lanjut mau 1:02:14 nikah. Saya mau lanjut. Kalau kamu mau, 1:02:17 kalau mau kamu mau mau sama saya, kita 1:02:19 nikah, kalau enggak tak cari wanita 1:02:21 lain. 1:02:23 Hmm. 1:02:23 Gigih. Saya mau mau tanya sama saya, 1:02:27 "Syaratnya apa, Nduk?" 1:02:29 Iya, gitu. Syaratnya apa, Nduk? 1:02:31 Syaratnya gini. Saya enggak mau tinggal 1:02:34 dengan orang tua, enggak mau tinggal 1:02:35 dengan mertua. Kalau tinggal dengan 1:02:37 madu, nggih mboten nopo-nopo. 1:02:39 Waduh. 1:02:40 Boten nopo-nopo. Terus apalagi? 1:02:43 Aku boleh pakai cadar. Karena dia mau 1:02:44 pakai cadar di rumah enggak boleh. 1:02:46 Hm. 1:02:47 Terus apa lagi, Dok? Aku boleh ngaji. 1:02:49 Sip. Kamu nanti kalau perlu jadi ketua 1:02:52 pengajian sekarang terlaksana. 1:02:54 Hm. 1:02:55 Event yang dia yang dia itu tuh kan 1:02:58 sampai datangin Ustazah Halimah Al Idrus 1:03:00 itu kan bisa belasan ribu orang. 1:03:02 He. 1:03:02 Itu dia yang ngurus tuh bareng 1:03:04 teman-temannya. 1:03:05 Terus dia bilang apa? 1:03:07 Syarat yang selanjutnya aku boleh naik 1:03:09 kuda. Insyaallah nanti kita beli kuda. 1:03:10 Alhamdulillah beli kuda bukan satu. Tapi 1:03:13 kita sempat punya enam. 1:03:15 Oh, sekarang masih ada dijualin. 1:03:17 Oh, 1:03:17 saya enggak mampu rawatnya besar. 1:03:19 Belum mampu. 1:03:20 Sekarang sisa tiga. 1:03:22 Hm. 1:03:22 Yang tiga dijual. Jual, jual murah, jual 1:03:25 butuh. [tertawa] 1:03:26 Jadi capek ngurusin capek anak buahnya 1:03:30 susah. 1:03:31 Halamannya mesti besar dongan rumah 1:03:33 karena punya enam kuda. Itu 1:03:34 kan ngontrak. Ngontra tanah dibangun 1:03:36 rumah. Rumahnya sendiri tanahnya 1:03:37 ngontrak. Hm. 1:03:39 Manajemen langit. [tertawa] 1:03:42 Jadi saya tanya, "Ustaz, kalau jadi 1:03:45 kontrakan kontrakan mau dimulai dari 1:03:46 mana?" Dari sana? Dari sana, dari sana. 1:03:48 Saya bangun rumah jangan dibongkar. 1:03:49 Kalau saya pergi silakan pakai kontrak. 1:03:51 He. 1:03:52 Saya enggak akan angkut. Biar antum 1:03:54 dapat uang, saya dapat pahala. Dan 1:03:56 doakan ketika saya pergi dari sini, saya 1:03:58 dapat tempat yang lebih baik. 1:03:59 H 1:03:59 kayak gitu. Nah, terus selanjutnya apa, 1:04:02 Ustaz? Saya mau memanah. 1:04:04 Hm. 1:04:05 Dan itu juga kalau antum ada uangnya 1:04:08 baru saya manah. Kalau an an apa 1:04:10 jenengan enggak punya uang ya tak tahan 1:04:12 tak nabung dewe. Saya bilang udah kita 1:04:15 beli tanah panah kalau perlu kita 1:04:16 produsen panah. Ternyata alhamdulillah 1:04:18 saya dikasih kemampuan bisa bikin busur 1:04:20 dan busurnya istimewa. Maka busur 1:04:22 pertama kali yang saya bikin buat dia 1:04:24 sekali kalinya bikin busur jadi namanya 1:04:26 busur mahabah. 1:04:27 Hm. 1:04:29 Musuh. 1:04:29 Yang kedua itu, Yang kedua itu saya 1:04:31 bikin busur yang sesuai dengan saya 1:04:32 karena saya sudah tahu 1:04:34 tahu karakter busur dan karakter manusia 1:04:36 harus nyatu. Sebagaimana karakter saya. 1:04:39 Ibarat kata kita bikin keris 1:04:40 itu belajar dari mana bikin busur itu? 1:04:42 Sendiri aja atau tidak aja? 1:04:44 Yang mempertemuankan kita kan tukang 1:04:46 panas. 1:04:47 Oh. 1:04:48 Terus teman-teman di Malang kan memang 1:04:50 pembuat busur. He. 1:04:52 Nah, saya bikin busur sendiri dan saya 1:04:55 bikin tengahnya itu tempat eronya itu 1:04:59 terbuka dan dari kayu yang bagus saya 1:05:03 namain gadis India. Karena kenapa? Yang 1:05:05 ini yang ketiga nih turunan India. 1:05:07 Oh, 1:05:08 seksinya gadis India kan dipuser. 1:05:10 Heh. 1:05:10 Nah, jadi busur itu seksinya ada di 1:05:12 erores tempat itu. Dan sampai se dan 1:05:16 alhamdulillah sudah laku beberapa. 1:05:18 Heeh. 1:05:18 Sampai saya kewalahan saya enggak bikin 1:05:20 lagi sekarang. 1:05:21 Capek. Jadi 1:05:22 bikinnya itu harus konsentrasi. Enggak 1:05:24 bisa. Terus lagi bikin paket enggak 1:05:26 bisa. [tertawa] 1:05:27 Enggak bisa karena itu seni. 1:05:29 Berapa jam itu? 1:05:31 Kalau sekarang sehari bisa bikin dua 1:05:32 atau tiga. Heeh. Hm. 1:05:34 Itu take down semua ya, bukan busur 1:05:36 tempel. Busur tempel 10 bisa sehari. 1:05:39 Hmm. Insyaallah 1:05:40 bisa sehari gitu. Bikin dulu enggak 1:05:42 dilit. Tap 1:05:43 kalau perbaikan komputer masih 1:05:45 masih. 1:05:46 Jadi bagaimana komputer yang rusak 1:05:48 diperbaiki lalu dijual lagi atau gimana? 1:05:50 Kalau saya tuh sekarang lebih 1:05:52 memperkecil. 1:05:53 Kalau dulu kan saya tuh ada lelangan tak 1:05:55 ambil semua, ada pengumpul rongsok tak 1:05:57 ambil semua gitu kan. Dia bawa satu 1:06:00 gerobak, satu gerobak taruh ditimbang 1:06:02 terus yang satuan saya bayar. He. 1:06:05 Saya enggak peduli untung atau rugi. 1:06:06 Yang penting dia makan, anak istrinya 1:06:08 makan, dia enggak dimainkan oleh 1:06:10 tengkulak-tengkulak lain. Saya tahu 1:06:12 tengkulak banyak yang bohong. 1:06:13 Hm. 1:06:14 Saya tahu. Jadi ini barang bagus 1:06:16 kemudian dibeli barang jelek. Kalau di 1:06:18 saya tetap saya beli bagus. Hm. 1:06:20 Anak saya protes, "Bi, tempat sono 1:06:22 segini." Kadang dikibulin. Tuh akhlak 1:06:24 mereka. Akhlak kita seperti ini. 1:06:26 Hmm. Tu. Masyaallah. 1:06:27 Kayak gitu. Jadi kita tumpuk ternyata 1:06:29 pandemi begitu pandemi enggak laku di 1:06:32 kilo. Yang tadinya beli satu satu papan 1:06:35 itu 100.000 200 satu papan jadi cuman 1:06:38 Rp25.000. 1:06:40 Nah itu kemudian sekarang kita ngambil 1:06:44 laptop-laptop yang tidak terlalu banyak 1:06:46 per apa perbaikan dan up to date. Jadi 1:06:50 paling kita iklanin pagi sore sudah 1:06:52 enggak ada 1:06:53 cepat ya 1:06:54 kan langganan kita penjual. 1:06:56 Hm. He. 1:06:57 Kita kan bukan jual sendiri, jadi kita 1:07:00 jual untuk harga reseller kayak gitu dan 1:07:04 apa namanya? Garansi dari saya 1:07:07 kayak gitu. Garansi dari saya. Jadi yang 1:07:09 jual nih reseller dia beli bayar dia 1:07:11 jual lagi. Garansi ke saya dia enggak 1:07:13 capek-capek 1:07:15 kayak gitu, Ustaz. 1:07:16 Insyaallah ini banyak yang nanya nomor 1:07:18 teleponnya. Oke, saya akan bacakan lagi 1:07:19 nomor HP dari Ko Aziz. [mendengus] 1:07:22 Silakan dicatat K Aziz. Nomor HP-nya 1:07:25 0838. 1:07:27 Ini ada Mbak Evi nih. Mbak Evi di 1:07:29 Serpong 1:07:31 dekat berarti Serpong. 1:07:32 Iya. 0838 kemudian 74 70 23 1:07:39 0838 1:07:41 kemudian 74 kemudian 70 23. 1:07:48 Kemudian untuk nomor rekeningnya eh BSI 1:07:52 726 437 1:07:59 BSI yaya atas nama Yayasan Tionghoa 1:08:02 Muslim Inspiration. Loh, begitu ya. Oke 1:08:07 ya. Kalau kalau belum dijawab sama saya 1:08:09 atau misalnya tidak dijawab [berdehem] 1:08:12 minta tolong maklum dan husnuzon saya 1:08:14 ini seorang teknisi. 1:08:16 Jangan telepon. Jangan telepon. Jangan 1:08:17 telepon sekarang dulu nanti ya 1:08:18 teleponnya ya. 1:08:19 Saya saya seorang teknisi. Kalau sudah 1:08:21 megang solder uap itu butuh butuh suhu. 1:08:24 Butuh konsentrasi 1:08:25 dan butuh suhu dan si dan apa namanya 1:08:28 mengkondisikan daerah yang mau area yang 1:08:31 mau diservis. 1:08:32 Kalau itu sudah panas kemudian ditelepon 1:08:34 kemudian saya angkat lagi berarti saya 1:08:35 harus ngatur lagi. 1:08:36 Heeh. 1:08:37 Biasanya istri saja nelepon saya enggak 1:08:39 ini karena orang tua sudah enggak ada 1:08:40 ya. Kalau orang tua mungkin saya angkat. 1:08:42 Istri nelepon aja enggak saya angkat 1:08:43 kayak gitu. Jadi, terus udah gitu kalau 1:08:46 misalnya lagi saya lagi memanah atau 1:08:48 naik kuda itu saya enggak bisa angkat 1:08:50 telepon. 1:08:51 H. 1:08:51 Kalau saya angkat telepon, takutnya 1:08:53 teleponnya jatuh. [tertawa] Bukan saya 1:08:55 yang jatuh, bukan teleponnya jatuh. 1:08:57 Kalau teleponnya jatuh entar belinya ya 1:09:00 saya kan 1:09:01 nabung lagi 1:09:02 ee apa dana yang ada ini kan memang di 1:09:05 semaksimal mungkin untuk safari dakwah. 1:09:08 Jadi enggak enggak setiap saya safari 1:09:10 dakwah itu dapat uang. Terkadang enggak 1:09:12 jadi biaya sendiri. Terkadang dari 1:09:14 teman-teman gitu kan, kok safari dakwah 1:09:16 iya nih kita kasih kan gitu. Terkadang 1:09:19 dari penonton YouTube ngasih tapi tetap 1:09:21 anyway by the way dan yang lain 2 bulan 1:09:24 ini defisit. 1:09:25 Hm. 1:09:26 Defisitnya lumayan jutaan kan gitu kan. 1:09:28 He 1:09:29 artinya ya itu tabungan saya di jalan 1:09:31 dakwah. Dan kenapa saya cari jalan kok 1:09:34 susah gitu ya? Saya gini loh, saya 1:09:36 ngelihat dulu saya enggak ada yang 1:09:37 fasilitasi. 1:09:39 Heeh. 1:09:40 Maaf ya, saya tidak mengecilkan 1:09:42 teman-teman di HISEB. 1:09:44 Saya itu di kepian itu dari tahun dari 1:09:47 sebelum partai terbentuk sampai tahun 1:09:51 pendirian partai 99 1:09:53 2000 sekian sampai kemudian dapat jatah 1:09:57 di DPR teman-teman itu saya ngikutin. 1:10:00 Tapi saya berharap di sana dakwah saya 1:10:01 aja bisa jalan. Ternyata dakwah saya 1:10:04 tersendat. Akhirnya saya memilih dakwah 1:10:05 kabilah. 1:10:06 He 1:10:07 dakwah kesukuan. Walaupun di perjalanan 1:10:09 kami tidak hanya memegang orang Tionghoa 1:10:12 saja ya, tapi banyak juga yang dari suku 1:10:15 Flores, Medan, Jawa. Kalau dari Jawa 1:10:18 Tengah itu Jawa, banyak Jawa. Suku Jawa, 1:10:21 coklat, hitam, manis, sau, matang. 1:10:23 Masyaallah. 1:10:24 Nah, jadi ee saya konsentrasi ke sana. 1:10:28 Jadi, sebisa mungkin saya tidak 1:10:29 mengganti HP, sebisa mungkin saya tidak 1:10:31 terlalu banyak pengeluaran. Kalau 1:10:33 misalnya ada tamu datang ke rumah, itu 1:10:35 rezeki saya. 1:10:37 Berarti saatnya saya ngajak mereka makan 1:10:39 gitu ya. Tergantung mereka rezekinya 1:10:42 apa. Kalau saya beli nasi padang, nasi 1:10:44 Padang. Kalau lagi kebuli ya kebuli. Dan 1:10:47 salah satu kebuli tolong ya saya 1:10:50 promosikan kebuli Yaman silakan dibeli 1:10:52 ramai-ramai. Beliau adalah yang punya 1:10:55 itu kan Mbak Rindu. 1:10:57 Hm. 1:10:58 Beliau lagi hamil juga. Usianya hampir 1:11:00 sama dengan istri saya. doakan lancar 1:11:02 persalinan mereka berdua dan jadi anak 1:11:05 yang saleh salehah. Dan beliau ini salah 1:11:07 satu yang support makanan untuk panitia 1:11:10 H 1:11:11 dan [berdehem] pembicara setiap kami 1:11:12 ngadain acara 1:11:14 dan juga ngasih dana. 1:11:15 Oke. Ini ada yang tanya alamat ee K Aziz 1:11:18 di mana? 1:11:19 Alamat saya ketik saja Satrio Stable. 1:11:21 Hm. Satrio. 1:11:22 Satrio Stable. 1:11:23 Stable. 1:11:24 Iya. Di Poris. 1:11:26 Oh, di Poris. Tangerang ya? 1:11:28 Di Tangerang. Di Tangerang. 1:11:29 Tangerang ya? Oh, di Poris. Oke, oke, 1:11:31 oke. 1:11:31 Cuman janjiannya saya 1 jam di sini, 1 1:11:34 jam lagi bisa jadi Jakarta Pusat. 1:11:37 Iya, benar. 1:11:38 Emang hari ini ada undangan juga 1:11:40 enggak? Hari ini ada acara ke Kalibata 1:11:42 pulang dari sini. [mendengus] 1:11:44 Berarti sekitaran magrib saya baru 1:11:45 sampai rumah. Tapi terkadang gini sih 1:11:48 ya, saya ini kan memang tidak 1:11:51 memilih-milih teman dan tidak 1:11:53 memilih-milih job dakwah. Hm. 1:11:56 Jadi terkadang saya kalau baru pulang 1:11:58 kayak kayak kemarin nih, saya pulang 1:12:00 hari Kamis kan ya. 1:12:02 Heeh. 1:12:03 Itu hari Kamis sudah ada yang pengin 1:12:05 ketemu. 1:12:05 He. 1:12:06 Kamis kemarin baru pulang dari Malang 1:12:08 saya bilang, "Tolong deh jangan ya gitu. 1:12:10 Mau istirahat dulu?" 1:12:11 Iya, saya mau istirahat. Capek. 1:12:13 Hm. 1:12:14 Capek gitu. Jadi [berdehem] Kamis malam 1:12:16 saya jatahnya datang itu jam 10an malam 1:12:18 itu ada yang mau ketemu Kamis. Saya 1:12:20 bilang, "Enggak bisa saya enggak naik 1:12:21 pesawat." 1:12:22 Kalau dulu sih naik pesawat masih murah, 1:12:24 sekarang saya enggak naik pesawat. Jadi 1:12:26 naik yang kereta 1:12:27 kereta 1:12:28 kereta yang biasalah. Kenapa? Ya 1:12:30 tahulah, enggak usah nanya gitu. 1:12:31 [tertawa] 1:12:32 Kalau mau main Jumat sore aja ya. Jadi 1:12:35 Jumat saya mau tidur, habis jumatan baru 1:12:38 nanti saya ini. Ternyata habis jumatan 1:12:40 juga sudah ada. [tertawa] 1:12:42 Jadi saya sebelum jumatan sudah ada. 1:12:45 Sebelumnya sudah ya. Alhamdulillah si 1:12:47 dicintai, dicintai sih enggak apa-apa 1:12:49 gitu. [tertawa] Aku jaab ngantuk ya kan 1:12:53 manusia ya manusiawi ngantuk gitu. 1:12:56 Kadang kalau misalnya teman-teman yang 1:12:57 sudah tahu kok aku cuman rindu kok gitu. 1:13:00 Aku cuman rindu pengin salaman 1:13:02 ngobrol di sini ya sudah kokok tidur aku 1:13:05 tak tidur di ini ruang tamu ada AC. 1:13:06 Kebetulan 1:13:08 kemarin di dapat dari ngaji cerdas. He. 1:13:11 Jadi dari ini ngaji cerdas dari penonton 1:13:14 ngaji cerdas ngasih gitu kan tak belikan 1:13:17 AC tak rapikan ruang tamu untuk saya 1:13:19 dati 1:13:20 walaupun belum rapi banget. 1:13:22 Jadi kalau ada tamu udah tidur situ ya 1:13:24 kok tidur aja kalau capek gitu. 1:13:26 Alhamdulillah banyak teman yang 1:13:29 saya di jalan aja udah ini kadang kalau 1:13:31 safari dakwah tuh kok mampir rumah 1:13:33 mampir rumah 1:13:34 yupi aku mau mampir saya bilang ya yang 1:13:36 ngajak ini lu puluhan orang mending gini 1:13:38 aja nih kan ada kajian di sini di Ninoy 1:13:41 di mana sampean datang dah semua ke 1:13:43 situ. Habis [tertawa] kajian yuk. Kalau 1:13:45 misalnya mau traktir saya bakso, ayo. 1:13:48 Kalau enggak mau traktir tak traktir 1:13:49 sama saya. 1:13:50 Saya gitukan aja. Kata istri, "Bi, kalau 1:13:53 yang datang banyak ditraktir juga, Bi." 1:13:56 Ya, iya gitu. [tertawa] Iya. Mau apa 1:13:59 lagi gitu. Terus dan dari mana? Nah, 1:14:02 dari Allah nanti. [tertawa] 1:14:03 Dari Allah gitu. Kadang datang ke rumah 1:14:06 gitu. Jadi ke mana-mana. Alhamdulillah 1:14:08 tuh 1:14:09 ya banyak yang rindu, kangen gitu 1:14:13 katanya sih. 1:14:15 Alhamdulillah kan dicintai daripada 1:14:16 dibenci kan. Betul. Betul. 1:14:18 Berarti yang yang benci saya orang-orang 1:14:19 yang penyakit hati sama musuh Islam. 1:14:22 [tertawa] 1:14:23 Iya. Nih di kok Aziz tolong jaga 1:14:25 kesehatannya ya. Kok Aziz sangat 1:14:26 dibutuhkan oleh umat. 1:14:28 Doakan. Doakan. 1:14:29 Jaga kesehatan. 1:14:30 Kan ini salah satu cara jaga itu kan 1:14:32 dengan kita berdakwah di jalan Allah. 1:14:34 Hm. itu juga bagian dari menjaga 1:14:37 kesehatan ya. 1:14:38 Saya pernah di Jogo Karian. 1:14:40 Heeh. 1:14:40 Itu subuh saya ngisi Jumat saya Jumat 1:14:44 ngisi ceramah Jumat. Habis ceramah Jumat 1:14:46 saya langsung ke ini ke tempat lain kan. 1:14:49 H 1:14:50 sebelum itu didahuluin karena jadi 1:14:53 khatib diurut sama terapisnya. Di situ 1:14:57 ada terapis-terapi gratis 1:14:59 dan mumpung masih segar gitu loh. 1:15:02 Sebab saya cerita badan saya beda kan. 1:15:05 perlu perlakuan khusus. Saya di ini di 1:15:08 tensi 1:15:10 berapa 1:15:10 tensi saya rusak katanya. 1:15:12 Ini beneran 170 lebih. Iya. 1:15:15 Enggak pusing enggak 1:15:17 170 1:15:18 tensi lagi. Oke saya turunin. Saya 1:15:20 bilang 1:15:21 yang telepon nanti aja ya. 1:15:22 Oke saya turunin. Saya bilang saya 1:15:24 turunin bentar ya. Saya bilang saya 1:15:26 santai. Oke diukur lagi. 1:15:28 Turun jadi 160 lebih. 1:15:30 Hmm. Tapi masih tinggi itu. 1:15:31 Masih. He 1:15:32 ini alat saya rusak katanya. Enggak. 1:15:34 Yuk, tak normalin lagi. Tensi lagi tiga 1:15:36 kali. Dia geleng-geleng dia. Antum 1:15:39 enggak pusing? Enggak. 1:15:42 Beneran? Enggak. 1:15:44 Tertinggi berapa? 227. Saya bilang wuduh 1:15:48 enggak? Enggak kenapa? Enggak. Enggak 1:15:50 kenapa-napa. Alhamdulillah. Enggak. 1:15:53 Makan daging enggak enggak? Pantang 1:15:55 enggak. Dan saya salah satu orang yang 1:15:57 kuat makan daging. 1:15:58 Hm. 1:15:59 Kalau saya diturutin bisa sekali makan 1:16:01 sekilo lebih. 1:16:02 Oh, I 1:16:02 kuat saya. Kuat. 1:16:04 Terutama kambing gulai. [tertawa] 1:16:07 Kalau makan sate gitu. 1:16:08 Iya sate. 1:16:09 He [berdehem] 1:16:09 sate kambing. 1:16:10 Heeh. 1:16:11 Saya makan sate kambing 30 tusuk 40. 1:16:14 Wajar kalau pas ada lagi Idul kurban 1:16:17 gitu kan ada sepertiga bagian kita kan 1:16:19 ya. Potong bikin itu sendiri manggang 1:16:23 sendiri apa sendiri terkadang 1:16:24 dipanggangin. Nah terus dipijit tuh 1:16:27 ustaz saya bilang ustaz kalau mijit saya 1:16:30 enggak usah sopan-sopan. Ya, saya bilang 1:16:32 maksudnya jangan pakai jempol. Kenapa? 1:16:36 Enggak bakal kuat. 1:16:37 Hm. 1:16:37 Coba suruh duduk saya dipijit. 1:16:40 Enggak kerasa tidur-tidur. Suruh tiduran 1:16:43 rebahan tengkurap dipijat lagi saya. 1:16:46 Yang kencang, Ustaz. Ini sudah kencang. 1:16:48 Enggak kerasa, Ustaz. Wuduh, enggak 1:16:50 kerasa. Benar. Biasa diapain? Pakai 1:16:52 sikut. Dan saya kalau disikut istri tiga 1:16:55 turun tiga-tiganya. 1:16:56 He. 1:16:58 Disikut istri sini selesai saya pindah 1:17:00 ke satunya. Saya pindah ke satunya baru 1:17:02 tuntas. 1:17:03 Hm. 1:17:04 Dan itu sikutnya lecet. 1:17:06 [tertawa] Akhirnya sama ustaz itu 1:17:09 disikut saya disikut segini ya. Itu baru 1:17:13 berasa. Dia bilang saya nyerah. 1:17:15 Enggak jadi saya diterapi. Benar. Enggak 1:17:16 jadi. Enggak jadi terapi. [tertawa] 1:17:19 Enggak jadi saya terapi. Satu-satunya 1:17:21 yang bisa ngalahin badan saya satu 1:17:24 namanya Cak Krishna. [tertawa] 1:17:27 Di mana Cak Krna? Mana namanya? Sama. 1:17:29 Heeh. Cak Krishna namanya. Jadi teman 1:17:32 SMA saya itu kakak kelas saya. 1:17:34 Satu-satunya yang benar-benar sampai 1:17:36 total bisa ngalahin badan saya beliau. 1:17:39 Sampai saya itu habis diterapi sama 1:17:41 beliau tuh lemas. Kenapa gua takut 1:17:43 patah, Cak? [tertawa] 1:17:45 Orang mana dia? Orang Madura. 1:17:46 Orang Madura. 1:17:47 Oh, 1:17:47 orang Madura. Ada di Jember. Krisnawan 1:17:50 namanya. Kalau mau orang Jember e orang 1:17:53 ini orang-orang Malang mau terapi sama 1:17:55 beliau, tak kasih kontaknya. 1:17:57 Hm. 1:17:57 Benar. Luar biasa. Dan satu-satunya 1:17:59 orang saya bilang, "Cak, seumur hidup 1:18:01 aku baru takluk sama sampean." He. 1:18:03 Sama yang lain enggak baru takluk sama 1:18:05 sampean. [tertawa] 1:18:07 Kayak gitu. 1:18:08 Masyaallah. Nih lihat kok Aziz mukanya 1:18:11 cerah aja. 1:18:13 Kalau saya kalau saya sedih ya, 1:18:16 kalau saya ngeluh, 1:18:18 saya letih 1:18:20 saya punya binaan loh. Itu enggak 1:18:22 sedikit. 1:18:23 Kok di tootal-total itu m 500-an ada? 1:18:26 Heeh. yang tetap kan siswa siswa SMI itu 1:18:29 120 di Semarang, di Jakarta lain, di 1:18:32 mana lain. 1:18:34 Kalau mereka kemudian ngelihat saya, 1:18:36 saya sedih, 1:18:37 saya letih, saya lemas. 1:18:39 Mereka mau lihat siapa lagi? 1:18:41 He 1:18:42 kan gitu. Terus ngelihat saya letih. Ah, 1:18:45 tuh kan gara-gara duitnya habis buat 1:18:47 apa? Buat safari dakwah. Istrinya enggak 1:18:49 berantem. Emang kan digituin akhirnya. 1:18:51 Paling istrinya ini apa? Cemberut, 1:18:53 istrinya pada nuntut ini harta. 1:18:55 Enggak. Saya enggak mau kelihatan 1:18:57 seperti itu. Kalau saya kelihatan 1:18:59 seperti itu, nanti yang ngikut saya, 1:19:02 dekat ke saya, yang jadi tim dakwah saya 1:19:04 akan kendur. 1:19:05 Hm. Jadi kalau capek apa yang dilakukan? 1:19:07 Saya 1:19:08 bercerahnya. 1:19:09 Ya udah kalau udah maksimal gua tidur 1:19:11 ya. Sor udah sori gua tidur. Kalau lapar 1:19:15 sor saya mau makan. Oh ya kokudah aja 1:19:17 dibeliin gitu. Enggak usah saya punya 1:19:19 duit gitu. Dan saya tidak terlalu suka 1:19:23 apa namanya minta ke orang. Tapi kalau 1:19:25 dikasih gua traktir enggak apa-apa. 1:19:27 Tapi kalau misalnya tolong beliin ini 1:19:29 dong pakai duit lu, masa lu enggak 1:19:30 beliin gua traktirin enggak saya. He 1:19:32 kalau bisa malah saya yang beliin. 1:19:34 Masyaallah. 1:19:36 Tanya yang di Semarang. 1:19:38 Saya safari dakwah di Semarang 1:19:40 itu yang ngantterin saya yang saya saya 1:19:42 belanjain. Saya kasih makan. Tanya 1:19:43 enggak percaya 1:19:44 yang masih ada Semarang. [tertawa] Saya 1:19:46 1 tahun setengah lebih saya safari 1:19:48 dakwah di Semarang. Hampir tiap bulan 1:19:50 jalan ke sana itu sampai bilang, "Taz 1:19:54 aturan saya loh, Taz yang tanggung jawab 1:19:56 antar jemput antum dan makan antum." 1:19:58 Enggaklah kamu sudah tanggung jawab ini 1:20:00 antar [berdehem] jemput. Nah, jadi 1:20:01 enggak ada salahnya saya interaktif kamu 1:20:03 mau makan apa gitu. Ustaz, kita enggak 1:20:05 dapat uang loh, Ustaz. 1:20:07 Enggak dapat kafala loh. Emang saya ke 1:20:10 sini cari kafala? Saya bilang enggak. 1:20:12 Saya cari jemah sudah. 1:20:14 Dan supaya SMI ini, TMI dan SMI ini 1:20:17 maju. Soal waktu itu masih launching, 1:20:20 baru launching kita enggak punya 1:20:21 donatur. 1:20:23 Jadi salah satu cara cari donatur 1:20:26 kesepakatan saya sebagai figur utama 1:20:29 safari dakwah di tempat SMP ini yaitu di 1:20:31 Semarang. 1:20:32 Alhamdulillah tahun kedua 1:20:35 kami bisa mendirikan dua angkatan. 1:20:38 Heeh. 1:20:38 Kayak gitu. Dan sekarang pengeluaran per 1:20:42 bulan ya di atas 10 lah. 1:20:45 Dan itu ada uang-uang antum semua di 1:20:47 sana. 1:20:48 Ini ada dari Singapura menyimak nih 1:20:50 Nurjamah binti Madio. Kami dari 1:20:52 Singapura menyimak siaran ini. Kami juga 1:20:55 nonton YouTube-nya. Mau tanya sampai 1:20:57 bulan Desember jadwalnya apa saja? 1:21:00 Jadi gini, [berdehem] 1:21:03 saya ini kan sudah bisa bicara ya mualaf 1:21:05 ya. He. 1:21:06 Banyak mualaf tadi kan saya bilang saya 1:21:07 pengin pengin diinikan sama teman-teman 1:21:09 dimajukan dakwahnya dihizab di partai. 1:21:12 Ternyata enggak. 1:21:13 Nah, saya merasa gini dulu waktu saya 1:21:16 pertama mualaf saya sembunyi-sembunyi 1:21:18 nih mau belajar ke mana. Bingung takut 1:21:20 bocor. 1:21:21 Kalau diusir saya mau ke mana. 1:21:23 Jangan sampai mualaf ngalamin seperti 1:21:25 saya. 1:21:26 Oke. 1:21:26 Jadi minimal saya bisa nampung. 1:21:28 H 1:21:29 semampu saya. Tapi ya kalau saya makan 1:21:31 teri ya makan teri jangan minta daging. 1:21:33 Tak lemparin sendal benar sama saya. 1:21:35 [tertawa] 1:21:35 Iya. Saya saya nampung mualaf misalnya 1:21:37 saya saya makan teri dia minta daging. 1:21:39 Mau tak lempar sendal sama saya. 1:21:40 Hm. 1:21:41 Beneran kalau mau ikut saya udah saya 1:21:43 makan sayur-sayur makan daging-daging 1:21:45 kayak gitu maksudnya. Wis tak tak ini 1:21:47 kan ada tempat berlindunglah. Terus yang 1:21:50 kedua saya ngelihat bahwasanya saya 1:21:52 punya kemampuan untuk ceramah 1:21:54 h 1:21:55 untuk public speaking. He. 1:21:57 Tetapi enggak terlalu dipakai sama 1:21:59 teman-teman. Akhirnya yang makai itu 1:22:01 mana komunitas-komunitas lain. Akhirnya 1:22:04 saya 1:22:05 berpikir gini 1:22:07 kan [mendengus] alangkah indahnya ya 1:22:09 kalau misalnya saya bisa ngajak 1:22:10 orang-orang bibit-bibit baru kemudian 1:22:13 dia lebih baik dari saya 1:22:14 dan syukur-syukur saya tidak ngerasa 1:22:16 disaingi ketika dia lebih bagus dari 1:22:18 saya. Fannya banyak dia bisa kaya dia 1:22:22 banyak usaha. Saya enggak peduli. Dia 1:22:24 enggak ingat saya juga bodo amat. Saya 1:22:26 enggak peduli. Yang penting saya ikut 1:22:28 membesarkan dia, ngasih jalan dia dan 1:22:30 Allah tidak akan meninggalkan saya. Saya 1:22:32 enggak butuh manusia sih butuhnya Allah. 1:22:34 Dan cara Allah memberikan kebutuhan saya 1:22:37 adalah dengan mendatangkan orang-orang 1:22:39 yang siap membantu saya. 1:22:41 Hm. 1:22:42 Dan sampai sekarang ini sebenarnya 1:22:43 banyak tawaran tanah cuman bukan wakaf. 1:22:46 Hm. 1:22:47 Pakai sepuasnya cuman daerahnya ada di 1:22:50 Cirebon, ada di Serang. 1:22:51 Kenapa kejauhan? 1:22:53 Enggak bisa. Saya kan juga harus 1:22:55 ngidupin keluarga. 1:22:56 Hm. 1:22:57 Saya tuh 1:22:59 sangat terobsesi dengan Salman 1:23:02 Al-Farisi. 1:23:04 Hmm. 1:23:05 Ketika beliau menjadi gubernur, 1:23:07 Hm. 1:23:08 didatangin sama sahabat lain kalau 1:23:10 enggak salah Abu Bakar apa Umar. 1:23:12 Hm. 1:23:13 Kemudian Abu Bakar bilang, "Engkau bukan 1:23:15 saudaraku. Engkau adalah hamba dunia." 1:23:17 Terus kata Salman Alfarisi, "Tenang 1:23:20 saudaraku, aku hidup mengandalkan 1:23:24 tenagaku, bukan dari gajiku sebagai 1:23:26 gubernur." 1:23:26 Hm. 1:23:28 Jadi, aku membeli bahan, kemudian aku 1:23:30 bikin tikar, separuh dari harga itu aku 1:23:34 makan dan separuhnya lagi aku buat beli 1:23:37 bahan lagi untuk aku bikin tikar lagi. 1:23:39 Kemudian aku jual. Itu yang menjadi 1:23:41 hmm bukan dari gaji sebagai 1:23:43 bukan dari gaji kemudian dipeluk sama 1:23:44 Umar. Sama Umar. Kalau enggak salah saya 1:23:46 terobsesi dari situ. Jadi saya nih tidak 1:23:50 memakan apa yang dikasih sama 1:23:54 teman-teman saudara lain. Kecuali saya 1:23:56 lagi safari dakwah. Kita gunakan itu 1:23:58 saya gunakan sekedar untuk makan saja. 1:24:01 Hm. 1:24:01 Dan itu makan bareng. Kalau saya makan 1:24:03 sendiri enggak. Saya pakai dompet 1:24:05 sendiri. 1:24:06 Oke. Oke. 1:24:06 Saya lebih banyak pakai dompet sendiri 1:24:09 dan saya tidak mau ngambil gaji di sana. 1:24:13 Hm. Enggak mau. Jadi semuanya buat 1:24:14 mualaf saja gitu. Sampai satu hari ada 1:24:18 yang tahu dulu dia ngaji di saya, Ustaz. 1:24:20 Hm. 1:24:21 Dia telepon saya minta nomor rekening, 1:24:23 saya kasih nomor yayasan enggak mau. Dia 1:24:26 bilang, "Saya minta nomor pribadi. 1:24:28 Kenapa? Saya tahu bagaimana antum ngajar 1:24:31 saya setelah harus sampai." 1:24:34 Hm. 1:24:35 "Saya tahu bagaimana antum enggak mau 1:24:37 sama harta." Kata dia. "Ini buat antum." 1:24:40 Masyaallah. 1:24:42 Saya bilang, "Tapi binaan saya butuh 1:24:44 uang." Kan gitu. Binaan saya butuh 1:24:46 biaya. Ini buat buat binaan antum dan 1:24:50 ini buat antum. Dan saya enggak rida 1:24:53 ketika yang dikasih ke antum dipakai 1:24:55 buat jemaah. 1:24:56 Masyaallah. 1:24:57 Sampai begitu tuh. Dulu beliau ngaji di 1:24:59 saya dulu. Sekarang sudah punya sesuatu 1:25:03 gitu. 1:25:03 Oke, Kak Ajis. Sayang sekali kita 1:25:05 dibatasi oleh waktu. Tapi yang nanya 1:25:07 nomor telepon, oke saya akan bacakan 1:25:09 lagi nih. Banyak banget yang nanya nomor 1:25:10 teleponnya nih. Koh Aziz nomornya 0838, 1:25:14 [mendengus] kemudian 74, 1:25:17 kemudian 70 1:25:19 kemudian 23 kemudian 53 0838 1:25:24 74 702353. 1:25:28 Kemudian nomor rekeningnya BSI 726 1:25:33 437 1:25:38 atas nama Yayasan Tionghoa Muslim 1:25:41 Inspiratif ya inspiration. 1:25:44 Oke, ini ada yang lainnya tadi. E, 1:25:45 gimana pendapat K Aziz mengenai Doter 1:25:48 Naik Zakir Naik? He 1:25:51 sedikit aja. 1:25:53 Dr. Zakir Naik itu bukan level saya. 1:25:57 Beliau itu luar biasa. Saya bukan 1:25:59 apa-apanya 1:26:00 teleponnya nanti ya. 1:26:01 Saya bukan apa-apanya beliau. Dan kita 1:26:04 dalam berdakwah punya ciri khas, punya 1:26:08 konsentrasi tertentu dan kita biasanya 1:26:11 membidangi tertentu. 1:26:12 Hm. 1:26:13 Beliau membidangi tentang perbandingan 1:26:16 agama. 1:26:16 H. 1:26:17 Kalau saya sekedar pelengkaplah 1:26:19 nemenin Bang Zuma gitu kan. 1:26:22 Karena saya juga berasal dari Protestan 1:26:24 gitu. Dan kenapa saya sangat rakus dalam 1:26:27 dakwah gini, saudaraku, antum semua itu 1:26:30 kenal Islam dari kecil. 1:26:31 Hm. 1:26:32 Saya ini kenal nih sudah baligh. 1:26:34 Hm. 1:26:35 Dan ketika saya kenal Islam, saya enggak 1:26:37 bisa apa-apa. 1:26:38 H. 1:26:39 Kemudian saya baru kenal dakwah itu 1:26:40 sekitar tahun 97. 1:26:42 Hm. 1:26:43 Baru kenal dakwah '9697. Dan saya baru 1:26:46 bisa berdakwah ini baru 10 tahunan ini 1:26:48 kan ya yang intensif begitu. Saya ini 1:26:50 tertinggal banyak dan tahu enggak harta 1:26:55 tidak dibawa mati. Yang dibawa mati apa? 1:26:57 Salah satunya doa anak saleh. Termasuk 1:26:59 apa? Amalan anak saleh. Saya punya dua 1:27:02 orang tua 1:27:04 yang wafatnya itu 1:27:07 mama enggak sempat salat. H 1:27:09 wafat. 1:27:11 Saya pengin itu 1:27:13 walaupun mereka wafat masih ngalir 1:27:16 pahala dari saya. 1:27:17 Hm. 1:27:18 Dan kenapa? Karena saya berasal dari 1:27:20 beliau. H 1:27:22 dari dua orang tua saya. Setiap apa yang 1:27:24 saya lakukan walaupun saya enggak ikhlas 1:27:27 tapi itu berupa ibadah itu pahala untuk 1:27:29 mereka. 1:27:30 Berbahagialah mereka ketika saya bisa 1:27:32 berbuat satu amal kebajikan 1:27:35 untuk mereka sudah pasti insyaallah 1:27:37 pahalanya. 1:27:38 Tetapi untuk saya belum. 1:27:40 Saya belum tahu apakah saya melakukan 1:27:42 itu ikhlas atau tidak. Tapi minimal apa 1:27:45 yang saya lakukan adalah bentuk bakti 1:27:47 saya kepada orang tua di mana ketika 1:27:49 orang tua enggak ada, saya masih 1:27:51 mengirimkan pahala-pahala. 1:27:54 H 1:27:54 walaupun untuk saya sendiri saya enggak 1:27:56 tahu. 1:27:57 Contohnya apa. Misal saya ini membina 1:27:59 ratusan mualaf kan sekarang 1:28:00 disebut-sebut. 1:28:01 Hm. 1:28:02 Saya enggak tahu ketika nyebut saya ujub 1:28:04 atau enggak kan kayak gitu. Walaupun 1:28:06 saya tahan semoga enggak ujub gitu tapi 1:28:08 minimal orang tua saya dapat pahala dari 1:28:11 saya ngedidik mereka. Oke. Oke. 1:28:13 Kayak gitu. Dan dengan ngedidik mualaf 1:28:16 ini pula 1:28:18 saya ini banyak merangkul tenaga kerja 1:28:21 juga termasuk ustaz-ustaz juga. Bahkan 1:28:23 ustaz yang kami ajak itu di awal-awal 1:28:26 itu ustaz-ustaz yang boleh dikatakan 1:28:28 ekonominya sangat lemah. 1:28:29 He. 1:28:30 Jadi untuk Ustaz ee Dr. Zakir Naik 1:28:33 beliau spesialisasinya di kristenisasi 1:28:36 di kristologi ya. 1:28:38 Kalau saya, saya langsung terjun ke 1:28:40 dunia nyata. Saya mencegah Kristenisasi. 1:28:43 He. 1:28:44 Dan saya tidak mengajak orang Kristen 1:28:47 untuk masuk Islam. Enggak. 1:28:49 Kalau debat-debat saja. Saya tidak 1:28:50 memaksa orang di luar agama Islam masuk 1:28:52 Islam. Tidak. He. 1:28:53 Tetapi saya hanya ngajarin mualaf-mualaf 1:28:58 yang mau belajar. Itu pun kewalahan. Ini 1:29:00 yang mau belajar. Belum semua mualaf. 1:29:02 He. 1:29:03 Kualahan ini. 1:29:04 Kalau diajarin apa? Quran. yang diajarin 1:29:06 Qurannya 1:29:07 semua termasuk fikih. 1:29:08 Heeh. 1:29:08 Termasuk perbandingan agama juga 1:29:10 diajarkan. 1:29:11 H 1:29:11 termasuk memanah berkuda diajarkan. Jadi 1:29:14 banyak cabang yang diajarkan. Itu pun 1:29:16 kewalahan dari tenaga dan juga biaya. 1:29:19 Jadi saya enggak enggak berpikir ke 1:29:20 depan terus ngajak orang-orang di luar 1:29:22 Islam, ayo masuk Islam, masuk Islam. ini 1:29:25 ngurusin saudara kita saja sudah 1:29:27 kehabisan gitu loh, sudah kewalahan gitu 1:29:30 seperti itu. Dan saya pengin 1:29:32 saudara-saudara musl mu mualaf kita ini 1:29:34 makin kuat imannya. 1:29:37 Banyak saya jumpai mualaf 5 tahun enggak 1:29:39 bisa baca Quran. 1:29:40 He. 1:29:40 Kenapa? Karena mereka cuman 1:29:42 disyahadatkan, 1:29:43 yang laki disunatkan, kalau beruntung 1:29:45 dikawinkan. 1:29:46 Hm. Tapi tidak 1:29:47 dicarikan kerjaan. Soal belajar 1:29:49 dibiarkan. Makanya saya mendirikan 1:29:51 sekolah mualaf Indonesia bareng Koriko 1:29:54 dan rencana ke depan kami mendirikan 1:29:56 rumah tahfiz 1:29:59 dan juga mau mendirikan pondok tahfiz. 1:30:01 Kalau pondok tahfiz ini atau rumah 1:30:03 tahfiz ini juga sebagai sarana buat 1:30:05 mualaf-mualaf untuk berlatih public 1:30:08 speaking, untuk menyampaikan, untuk 1:30:10 berdakwah. 1:30:10 Masyaallah. 1:30:11 Jadi semua saling berkaitan kayak gitu, 1:30:13 Ustaz. Insyaallah. 1:30:14 Tenang aja. Sekarang sekolah mualaf 1:30:16 minimal sudah terbentuk. 1:30:17 Heeh. 1:30:18 Rumah mualaf tunggu belum? Tunggu 1:30:20 tanggal mainnya katanya kan gitu kan. 1:30:22 Kalau film-film kan tunggu tanggal 1:30:23 mainnya gitu. Yang penting kita tetap 1:30:25 berusaha gitu. 1:30:26 Tetap berusaha insyaallah. 1:30:28 Baik-baik terima kasih K Aziz sharing 1:30:31 yang luar biasa ya. Nih banyak yang 1:30:33 senang nih. Oke. Wah, nomor telepon 1:30:35 masih ditanya nomornya ya. 08 [tertawa] 1:30:38 38 1:30:39 I yang telepon dulu nanti setelah siaran 1:30:41 0838 kemudian ee 74 70 kemudian ee 23 1:30:49 kemudian 53 0838 1:30:53 kemudian 74 7023 1:30:56 53 Koh Aziz. Heeh. 1:30:59 Terima kasih Kak Aziz. Mudah-mudahan 1:31:01 WA dulu aja yang dapat nomor telepon WA 1:31:03 dulu. Sebab kenapa? Habis ini kita kan 1:31:06 ngobrol sebentar terus saya juga masih 1:31:08 ada agenda, artinya saya harus driving 1:31:10 lagi. 1:31:10 Oke. 1:31:11 Jadi enggak bisa teleponan lama-lama 1:31:13 gitu. [tertawa] Insyaallah. 1:31:14 Eh, di WA aja dulu ya. 1:31:15 Di WA saja. Insyaallah nanti saya balas 1:31:16 malam. Insyaallah. 1:31:17 Oke, terima kasih K Aziz. Saya Muhammad 1:31:20 Krishna. 1:31:23 K D K D [tertawa] 1:31:27 K Ondi K Ondi Saputra kemudian Algi 1:31:30 mohon pamit wabillahi taufik walhidayah 1:31:32 wasalamualaikum warahmatullahi 1:31:33 wabarakatuh 1:31:34 waalaikumsalam warahmatullahi 1:31:35 wabarakatuh 1:31:40 sih