Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail [musik]
- TV.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Allahumma sholli ala
- sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina
- Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa
- lagi hari ini hari Rabu tanggal 3 Rabiul
- Awal 1447 Hijriah atau tanggal 27
- Agustus
- 2025 kita jumpa lagi dalam acara Hijrah
- Talk Hijrah Talk menampilkan
- orang-orang yang dulu dalam kegelapan
- terlibat narkobo
- [tertawa][terkesiap]
- dikeluarin dari sekolah tapi sekarang
- alhamdulillah Allah kasih hidayah bahkan
- beliau Beliau sudah bisa mengumrahkan
- orang tuanya. Beliau nih pernah jadi
- driver, driver news di ANTV.
- Pernah dikeluarin dari sekolah, pernah
- menghancurkan mobil yang dia enggak tahu
- mobil siapa itu. [tertawa]
- [terkesiap]
- Ternyata mobil orang terkenal juga ya.
- Masyaallah. Dia enggak tahu anaknya
- siapa, Men. Hancur-hancurin [tertawa]
- aja. Habislah dia dikeroyok, ya.
- Oke. Eh, nama sebenarnya Ahmad
- Syarifudin.
- Siap.
- Ahmad Syarifudin. Tapi orang lebih
- pengenalnya Sincan. Asalamualaikum
- Sincan.
- Waalaikumsalam Ustaz.
- Selamat datang di Rasil.
- Siap.
- Masyaallah. Dengar
- dengar cerita antum tuh.
- Kita mulai dari Sincan dulu. Gimana kok
- tiba-tiba dari Ahmad Syarifuddin namanya
- bisa Cincan? Bahkan lebih dikenal Cincan
- daripada Ahmad Sarifuden. Gimana
- ceritanya tuh? Ee mic-nya tolong dekatin
- ya. Nanti kan orang you youtuber juga
- nih masa enggak segini. Oke.
- Iya. [tertawa]
- Youtuber ini. Waduh.
- Siap siap siap. Aduh muka saya ganteng
- juga Ustaz ya. Kalau di sini di kamera
- aja bagus Ustaz.
- Syukran, Ustaz. Makasih. Terima kasih
- juga buat pemirsa Rasil TV.
- Alhamdulillah saya sudah diundang sama
- Ustaz Krishna. Insyaallah
- bisa berbagi pengalaman dan
- mudah-mudahan bisa
- ada cerita yang bisa menariklah yang
- bisa jadi pelajaran. Ustaz terima kasih.
- Hm. Ya, gimana ceritanya dari Ahmad
- Syarifudin kok namanya di Sincan tuh
- gimana? Itu dipanggil Sincan itu saya di
- antara saya memang Heeh. Saya orang
- h
- saya itu agak-agak orangnya itu yang
- yang begini dah Ustaz agak-agak enggak
- bisa diatur
- orangnya selengean kayak kayak sincan g.
- Iya kayak sincan. Tapi orangnya damai
- Ustaz orangnya mau bergaul ustaz.
- Eh jadi sejak kapan waktu itu ngerasain
- narkoba itu?
- Allah
- subhanallah. Bismillah. Saya itu dari
- SMP, Ustaz.
- SMP dengan anak roboh. Kelas berapa? SMP
- itu eh SMP kelas 1. Saya sudah sampai
- kelas 2 itu udah parah banget, Ustaz.
- Narkoba. Jenis jenis apa?
- Obat Ustaz.
- Obat
- dari Nipam, Reportir, BK, Megadon. Wah,
- pokoknya tahu deh yang anak-anak tahu.
- Orang orang tua enggak tahu tuh kalau
- ya tahu sih sih, Ustaz. kayaknya mungkin
- karena saya kalau misalnya itu sudah
- langsung gebrek langsung tidur
- saya jarang di rumah kayak gitu.
- Gimana bisa ngikutin pelajaran dalam
- keadaan putau?
- Enggak enggak belajar, Ustaz. Saya saya
- itu terkenal orang yang sekolah cuman
- bawa satu buku, Ustaz, selama 1 tahun
- dilipat lagi.
- Dilipat taruh kantong sudah satu buku
- [tertawa]
- itu kagak enggak itu kagak enggak
- habis-habis buku saya, Taz.
- Hm.
- Iya. [tertawa]
- Jadi satu buku 1 tahun, Ustaz.
- Satu satu buku 1 tahun.
- Satu buku 1 tahun
- itu enggak enggak ada catatan yang masuk
- apa gimana? Enggak ada, Ustaz. Saya apa
- yang saya pelajari juga saya bingung,
- Ustaz. [tertawa]
- Makanya saya juga bingung.
- Kalau ulangan-ulangan gitu gimana jawab
- nyontek, Ustaz? Kan pada takut sama kita
- ceritanya.
- Jagoan ya.
- Kagak kagak kita kasih ya. Bahaya.
- [tertawa]
- Oh. Bisa kena narkoba tuh gimana?
- Dipengaruhi oleh siapa?
- Ee yang pertama sih saya coba-coba,
- Ustaz.
- Saya coba-coba ngerasa oh.
- Dan pas saya coba jadi gini cerita
- ininya saya coba-coba. Saya mau. Dan
- yang k yang membuat saya berlanjut itu
- teman saya namanya Indra.
- Teman saya di di SMP itu ibunya kerja di
- rumah sakit jiwa, Ustaz. Ini serius,
- Ustaz. Wallahi, saya cerita
- dia kerja di rumah sakit jiwa. Saya dulu
- beli Nipam itu di blok A, pasar blok A
- yang kecil-kecil yang di pinggir jalan
- itu yang akhirnya pada dirubuhin, Ustaz,
- pada saat itu.
- Nah, itu saya punya teman si Indra ini
- ibunya kerja di rumah sakit jiwa. Dia
- punya botolan ples-presan obat, Ustaz.
- Hm.
- Nah, di situlah saya samain.
- He.
- Ini bentuknya ini saya jajalin. Saya
- jajalin. Enak enggak nih rasanya? Saya
- jajalin. Akhirnya saya plastik
- plastikin. Saya jualin, Ustaz.
- Hm.
- Di sekolahan.
- Noh. W.
- Dan saya enak-enak. Wah, enak nih
- maboknya. Enak. Ada yang obat saya minum
- sekali itu, itu saya tidur sampai 3
- hari. Ustaz,
- mabok enak tuh gimana? Mabok kok bisa
- enak gimana?
- Ng-play, Ustaz. Ngplay waktu itu.
- [tertawa]
- Kalau ngplay itu apa sih yang dirasain?
- Ya, kayaknya yang yang pertama itu
- kayaknya kita ee percaya diri kita
- lebih. Kita enggak peduli misalnya orang
- mau apa segala macam. Pokoknya kita
- ngerasanya oke aja lah.
- Yang paling oke aja tu ya.
- Yang paling oke aja dah. Padahal mah
- cebrik banget Ustaz. Kagak [tertawa]
- kagak pernah gosok gigi. Enggak baju.
- Waduh badan bau. Tapi berasanya paling
- ganteng sedunia ustaz. [tertawa]
- Iya emang begitu. Emang begitu
- keadaannya. Iya. Pokoknya udah paling
- ganteng aja dah. Udah paling keren dah.
- Saya udah di di sekolahan saya paling
- keren. Udah, Ustaz. Jadi selama SMP itu
- SMP kelas 1, 2, 3 tuh kena narkoba tuh
- kelas kelas 3 pas mau ujian saya
- dikeluarin Ustaz
- keluarin karena masalah kasusnya satu
- sekolahan mabuk semua, Ustaz. Saya
- [tertawa]
- serius Ustaz SMP 254 tahun keluaran SMP
- 254 itu
- Cianjur ya. Tahun berapa berarti ya, Ki
- kita keluar Ki? Alumni tahun berapa kita
- ini? Ada teman SMP yang hadir sini, Mbak
- Mas Kiki nih.
- Alumni 94. Boleh di boleh dicari tahu
- itu, Ustaz kalau saya bohong. Itu
- sekolahan di mau dibakar sama anak-anak
- pada dipilok-pilokin tulis I love you.
- Dulu nama saya Subur Soweboer
- masih SMP tuh.
- I love you. Jangan jangan tinggalkan
- kami. Pada sayang sama saya benar. Saya
- kayak [tertawa] gitu
- [terkesiap] saya kayak gitu aja pada
- sayang.
- Saya gembel banget, Ustaz. Tapi pada
- saya enggak pada terima kalau saya
- dikeluarin.
- Oh, gitu.
- Iya. Pada demo.
- Tapi keluarkan keluar juga kan.
- Iya. Dikeluarin itu kan
- itu keluar masuk ke mana tuh?
- Saya enggak diterima di semua sekolah,
- Ustaz. [tertawa]
- Dan itu tertulis ada tulisannya di di
- SMP Darussalam lah. Saya ngelihat dari
- Pak Jamil waktu itu kepala sekolahnya.
- Nah, saya berterima kasih nih buat Pak
- Jamil sudah bisa nerima saya kalau
- nonton Pak Jamil ya. Nah, itu saya pas
- masuk di situ dikasih tahu nih, lu
- enggak enggak bisa diterima di sekolah
- manapun. Ya, perjasa aja sekolah gembel
- itu ini. Mohon maaf nih ya perjasa nih
- di ada di Jagakarsa, Tad. Kagak nerima
- saya, Tad. Itu sekolah swasta gembel
- dah. Kagak nerima saya. Ternyata ada
- surat dari guru saya itu anak yang
- bernama Ahmad Sarifuddin dan Warto. Saya
- berdua Warto waktu itu
- jangan diterima.
- Tidak bisa diterima di sekolah manapun.
- Yang tanda tangan kepala sekolahnya
- Pejo.
- Rendah banget ya. Ya. Iya. Sampai ingat
- sampai sekarang saya udah saya balas
- waktu di reunian, Ustaz. Udah saya udah
- saya bantai guru itu.
- Orang tua udah nyerah deh tuh ya.
- Nyerah.
- Udah nyerah.
- Terus merasa bersalah enggak waktu itu?
- Iya. Iya.
- Merasa berdosa enggak?
- Kapan?
- Hm.
- Pada waktu itu
- ketika kena narkoba itu enggak.
- Pada waktu itu ya kagak-biasa.
- Tapi saya saya pas pindah ke Darussalam
- alhamdulillah ada alhamdulillahnya saya
- saya ucapin alhamdulillah. Karena teman
- saya yang pada main obat banyakan yang
- pada gila, Ustaz.
- Pas saya pindah ke Darussalam di situlah
- saya ketemu ganja.
- [tertawa]
- Iya. Ini ini serius ini, Ustaz. Ini ini
- cerita serius, Ustaz. Jadi saya udah
- enggak main obat lagi.
- Pindah jalur.
- Pindah jalur.
- Pindah jalur ke daun. Enggak
- saya tinggalkan sedikit-sedikit itu
- obat. Jadi saya main ganja di situ.
- Di rusun ketahuan enggak kalau ngisap
- ganja? Ketahuan enggak
- ngisap ganja mah cuman happy-happy aja.
- Ketawa-ketawa. Waktu itu nonton nonton
- Om Krishna juga waktu itu kita [tertawa]
- Om Pepeng padahal kita udah nontonin tuh
- buat ketawa-ketawaan kita itu
- sama Om Patrio. Itu cum itu cuman buat
- ketawaan kita doang. Kalau habis
- ngeganja enak banget ngetawain om-om pad
- [tertawa]
- kita. Aduh
- kita masih kecil waktu itu
- sekitar bok nih.
- Enggak ini ceritanya emang begitu tah.
- Udah ada telepon dari eh Esbu nih. Seven
- Esbu nih. Halo. Halo.
- Mudah-mudahan anak 254 ada yang nonton
- ini.
- Halo. Asalamualaikum.
- Eh, ee tolong diangkat
- Esbu mati ya?
- Oh, mati.
- Oh, mati.
- Sayang banget. Oke.
- Masih jauh enggak perpanjangan ke arah
- lalu bisa salat?
- Waduh, panjang sekali.
- Panjang sekali ya?
- Agak panjang, Ustaz. Nah, singkat
- ceritanya di Darussalam saya
- ee lulus, akhirnya saya masuk STM. Nah,
- di STM itu yang ada kisah saya
- seumur-umur saya digebukin sama orang
- itu paling sakit itu, Ustaz.
- Heeh. He.
- Jadi saya salah gebukin orang, Ustaz.
- Salah gebukin orang. Kar anak sebuah
- tokoh di Indonesia dia.
- Jadi iya tokoh ormas terbesar di
- Indonesia, Ustaz.
- He.
- Mungkin dia kalau nonton ya, Bro, maaf
- ya, Bro. Kita [tertawa] kita CS, Bro,
- sekarang, Bro. Jadi gimana mobilnya
- waktu itu nyelenggol apa?
- Ya sama-sama SMA. Saya kan anak saya
- pakai motor. Saya juga dulu orang kaya
- juga ustaz. Dikit pakai punya motor
- saya.
- Eh dia pai mobil
- saya lewatin nih orang ngocol banget
- begini-gini nih mobilnya dulu mau lancer
- apaap lah gitu.
- Sik siksak-siksak gitu ya.
- Iya. Saya kagak dikasih pas saya lewatin
- celana biru
- saya tungguin saya hancurin mobilnya T
- di pinggir jalan. Jegar jegar jegarj
- dekat sekolahan saya.
- Pas kita lagi sekolah enak-enak saya di
- STM Lenteng Agung. Ustaz STM Leak 33.
- Nah, buat teman-teman STM Layak 33
- tahulah saya lulusan tahun '97. He.
- Nah, itu saya di situ sok jagoan banget.
- Udah wah jeger udah pas kita lagi
- sekolah enak-enak di sekolahan,
- tiba-tiba sekolahan kita pagarnya
- digubrak-gubrak.
- Siapa yang enggak ngaku yang ngancurin
- mobil? Kalau enggak ngaku sekolahan mau
- dibakar. H.
- Waduh.
- Jadi dia dapat data cuma sekolahnya dari
- mana tahunya? Karena saya hancurinnya di
- depan sekolah saya.
- Oh, kok tahu kalau sekolahnya di situ?
- Ah, seragam?
- Iya iya seragam saya dan saya emang saya
- larinya kan ke situ kan dari sekolahan
- saya STM Lenteng Agung kan di pinggir
- jalan juga Ustaz.
- Oh
- sudahud tahu itu pasti anak STM Lenteng
- Agung.
- Oh si
- kalau enggak ada yang ngaku sekolahan
- mau dibakar katanya. Ya udah saya keluar
- akhir saya nunjuk tangan dengan heronya
- saya Ustaz.
- Hah? Terus habis itu digebukin
- ya? Habis digebugin udah udah enggak
- udah enggak ada itan itu digebugin
- paling sakit seumur
- tapi engak enggak diminta ganti. diminta
- ganti
- ganti kalau ganti
- akhirnya saya bilang saya Pak saya masih
- punya keluarga bawa saya ke rumah orang
- tua saya
- dia naikin mobil polisi saya di ini udah
- muka udah benyok udah segala macam guru
- saya ngelihatin saya dipukulin diam aja
- tuh guru kampret emang lu [tertawa]
- kalau ingat itu saya juga stres juga
- masa guru Tad itu guru bener apa kagak
- Tad ya kita digebukin dia diam aja Tad
- ya mungkin dia tahu siapa lawannya dan
- itu di posisi yang salah Iya. Habis saya
- bingung juga
- saya digebukin di ruang kepala sekolah
- itu, Ustaz. Eh, di ruangan guru saya
- digebukin di situ. Jar, jugar jugaar. Ya
- udah,
- saya mah udah pasrah aja dah. Ampun,
- Bang. Ampun. Udah [tertawa] begitu-gitu
- lagi mabok juga sih T. Jadi enggak
- terlalu sakit.
- Aduh.
- Oke. Oke. Ee sekarang ee kita T Deri ya
- sekarang apa gimana kalau Deri ya?
- Ah, kalau [berdehem]
- Om Deri itu alhamdulillah itu orang yang
- bikin saya mau belajar salat, Ustaz.
- Saya mau mengenal salat. Nah, perjalanan
- saya untuk mengenal salat juga parah,
- Ustaz. Kalau sebelum itu parah-parahnya
- saya itu saya di lulus SMA saya kenal
- sama Puta, Ustaz.
- Ini yang saya pengin kasih tahu ke
- teman-teman bahayanya narkoba itu Ustaz.
- Hm.
- Jadi buat narkoba itu biar teman-teman
- paham nih ya,
- lu enggak bakalan ee bisa selamat
- walaupun kayak gua nih. Gua masih hidup
- sampai sekarang. He.
- Tapi apa yang ditinggalkan dari narkoba
- itu sampai saat ini masih ada di dalam
- tubuh saya, Ustaz.
- He.
- Jadi, kalau
- zat-zatnya maksudnya
- zat-zatnya dia itu saya sampai ke dokter
- waktu itu saya sudah di udah di udah di
- [berdehem] ATP ya, Tad.
- Itu ketahuannya itu waktu kita lagi
- periksa darah, Ustaz.
- Hm.
- Lagi donor darah. Donor darah, darah
- saya dikembaliin.
- He.
- Sama PMI. He.
- Kaget dong saya, Tad.
- Nih saya udah udah udah berhenti nih,
- Tad. Udah cuman minum-minum pakai inek
- doang lah. Udah, udah biasa dah yang
- kelas-kelas tinggi lah. Udah sekarang
- udah yang enggak ini putau saya sudah
- tinggalin saya udah berhenti putau gitu.
- Ngeberhenti putau itu saya 8 bulan di
- kampung kampung Setu Bojong Gede.
- He.
- Samping-sat
- rehabilitasi tu
- kagak. Saya rehabilitasi sendiri ustaz.
- Saya ngontrak di rumah kontrakan
- Rp70.000. Nah, saya di situ.
- Nih. Oke, kita e terhbung dengan Deri.
- Oh, Ustaz Deri.
- Halo. Asalamualaikum, Ustaz Deri.
- Waalaikumsalam, Ustaz Krishna.
- Masyaallah, Ustaz Deri kita lagi sama
- Sincan ini.
- Oke, menurut Sincan dari
- Sincan ANTP ya, Ant.
- Menurut Shincan dari Ustaz Derila Sincan
- akhirnya mengenal salat bisa diceritain
- gimana Ustaz Deri pertemuan dengan
- Sincan waktu itu? Sinchan tuh dulu ini
- Sinchan tuh dulu kan dia ee content
- kreator
- konten YouTuber.
- Iya. Dia bantuin temanku bikin-bikin
- akun anu YouTube ee Bang Alvin namanya.
- Ke rumah lah aku kenal Sincan Asbab
- beliau. Terus waktu itu anakku mau bikin
- konten juga.
- Heeh.
- Jadi kalau orang sudah jalan sama aku
- tuh Bang Krishna itu
- mau enggak mau dia kan setiap azan kita
- ke masjid. Enggak mungkin dia nonton di
- luar kan.
- Hm.
- Nah, jadi kalau kita ada syuting 3 hari,
- 2 hari kan otomatis setiap hari itu kita
- bolak-balik ke masjid. Jadi siapapun
- yang sebetulnya yang e circleku yang
- bergaul sama aku tuh
- mereka semua terjebak akhir jadi ahlul
- masjid gitu.
- Hm. Masyaallah.
- Gitu. Termasuk dengan Ustaz Sincan ini
- satu.
- Syukron, Ustaz. Makasih, Ustaz. Aduh,
- guru saya ini, Ustaz.
- Istikamah ya. Istikamah, [tertawa] Pak
- Sincan ya. Istikamah. Antum ajak salat
- juga. Jangan salat sendiri-sendiri.
- Insyaallah, Ustaz. Insyaallah.
- Hm.
- Karena Allah itu Allah itu tidak bersama
- dengan orang yang salat, tapi bersama
- dengan orang yang mengajak orang salat.
- Anj.
- Oh, yang keret.
- Iya. Karena Allah itu kan dai. Wallahu
- yad dari salam.
- Dan Ustaz ini
- Allah enggak salat kan
- hebat
- Allah enggak salat maka Allah bersama
- dai.
- Iya. Hebatnya Ustaz diri ini, Ustaz. Dia
- itu dia menghargai saya orang yang
- bertato. Saya orang yang hancur-hancuran
- hancur hancuran, yang enggak [tertawa]
- enggak jelas gitu loh, yang kurang sopan
- gituah ya mungkin. Tapi dia menghargai
- saya banget itu mengorangkan saya. Nah,
- itu sama lagu-lagunya beliau itu juga
- saya dengerin, saya dengerin terus ah
- gila dah pokoknya keren [tertawa]
- pokoknya good night dah. Good night lah,
- ente lah. Ah mantaplah. Orang ber orang
- bertato salat itu luar biasa.
- Iya.
- Yang aneh itu enggak punya tato enggak
- salat kan.
- Iya.
- Iya. I tu
- kalau Ustaz Deri sih enggak usah ente di
- Bali aja orang bule-bole disamperin.
- Kasih waktu saya 10 menit apa untuk
- bercerita tentang Islam ya Ustaz Deri
- ya.
- Dibali.
- You like me? I like you. If you don't
- like me, I still like you. Oh,
- jadi Ustaz Deri insyaallah Ustaz Deri
- sudah disiapin sama Allah surga yang
- paling enak nanti, Ustaz Deri.
- Insyaallah. Amin. Ya Allah, sangka baik
- antum. Amin ya Allah. Semoga Allah
- muliakan kita semua ya dengan jannah ya,
- surga ya. Oke, Ustaz Deri nanti
- kapan-kapan lagi di Rasil ya.
- Insyaallah, Bang Krisna.
- Oke.
- Baik. Terima kasih, Ustaz Deri.
- Belum cerita. Belum.
- Eh, asalamualaikum.
- Belum belum cerita apa mandi?
- Belum cerita. Belum cerita juga kan.
- Udah, udah ketemu tadi, Bang Deri. Eh,
- Bang
- kata Oni belum pengin dengar ceritanya
- dulu. Bagaimana sampai akhirnya
- ee si Incan ini lalu janji rajin salat?
- Iya, ceritanya gitu. Karena kita sering
- jalan aja terus aku ajak-ajak iktikaf.
- Biasanya kan kalau kita kan khurus 3
- hari Sincan kayaknya pernah ikut ya.
- Iya. Saya
- ya pokoknya Sincan waktu itu masyaallah.
- Aku lihat dia orang baik, orang lucu ya.
- Namanya Sincan kan [tertawa]
- senanglah. Tapi tiba-tiba dia saber Bang
- Krishna dia mundur tambah berita enggak
- tahu ke mana menghilang
- tahu-tahu ee dia kemarin nelepon lagi.
- Aku pikir Sincan ke mana apa dia udah
- kembali ke laptop [tertawa] apa dia
- masih jurus.
- Enggak, Ustaz. Alhamdulillah. Insyaallah
- enggak.
- Sekarang istikamah ya. Istikamah ya
- dalam Islam ya.
- Amin, Ustaz.
- Itu aja.
- Oke. Baik, Ustaz. Dari terima kasih
- Ustaz. Makasih banyak ya.
- Ditunggu ya nanti diasilan.
- Oke. Asalamualaikum. Sehat selalu Ustaz.
- Oke.
- Siap.
- Jadi kesan antum terhadap Ustaz Deri?
- Aduh luar biasa. Dia guru saya.
- Dia itu
- di mana letak gurunya?
- Ya dia itu yang menggerakkan
- menggerakkan hati saya. Ustaz gimana
- enak? Ayo gua mau salat gitu. Ngerasain
- salat ngerasain ke masjid. Nah,
- [berdehem] ini saya ngerasain ini dan
- ini juga sudah saya rasain juga waktu
- saya di umrah, Ustaz.
- Hm.
- Jadi, pas saya di umrah itu saya itu
- dapat cobaan yang sangat parah, Ustaz.
- He.
- Kaki saya itu, telapak kaki saya itu
- panas kayak dibakar, Ustaz.
- Saya berangkat itu bulan Desember.
- Hm.
- Desember itu di sana sucanya dingin
- banget, Ustaz.
- Saya karena saya orang kaya dikit gitu
- kan, saya ambil yang agak mahal, yang
- Desember, yang dingin katanya. Tapi di
- sana kaki saya panas, Ustaz.
- Orang-orang pada kedinginan antum
- kepanasan.
- Kaki saya kayak terbakar. Kalau saya di
- hotel kaki saya kayak terbakar. Itu saya
- ngambil ngambil umrah yang lumayan
- mahal.
- He.
- Saya ajak lima orang teman saya sama ibu
- saya sama keluarga saya.
- He.
- Nah, ya ceritanya lagi dapat duit banyak
- dah gitu dah. Saya dari YouTube juga
- itu, Ustaz. Alhamdulillah
- saya saya berbaik pengin bersedekah tapi
- di sana saya malah sama Allah malah
- dikasih cobaan itu.
- Pas saya ingat itu di Makkah. Jadi saya
- dari dari Jakarta Makkah dulu baru
- Madinah waktu itu.
- Nah di Makkah itu saya selama berapa
- hari? Sekitar 4 harian atau berapa itu
- kaki saya panas. Saya enggak bisa enggak
- bisa tidur di hotel. Tapi kalau saya ke
- masjid anehnya itu hilang.
- Allahu Akbar. Ini cerita nyata, Ustaz.
- Sampai beli salep saya di apotek. Mahal
- banget tuh salep diiniin supaya dingin.
- Enggak dingin juga kaki saya sama
- sama mantan istri saya. Heeh.
- Wah parah itu, Ustaz.
- Istri waktu itu bisa nerima gimana? Ee
- dalam ngelamar tapi dalam keadaan
- narkoba.
- Narkoba. Oke.
- Gimana tuh?
- Dan ini yang perlu Ustaz tahu juga saya
- nikah itu SMA kelas 3 saya nikah sudah.
- Oh orang tua tahu
- kelas kelas 3 itu saya sudah punya anak
- satu.
- Oh tapi tetap sekolah saya.
- Tetap sekolah.
- Narkoba juga sekolah juga.
- Narkoba juga sekolah juga.
- Punya anak juga
- saya kalau sekolah cupang saya di
- mana-mana ustaz gitu.
- Dari istri kan?
- Iya.
- Iya. Ini serius Ustaz beneran.
- Teman-teman sekolah tahu kalau udah
- enggak ada yang tahu, ada yang enggak.
- Kalau guru ada yang ada yang ada yang
- pora-pora enggak tahu satu orang aja,
- Pak. Pak Rido apa namanya tuh?
- H antum jadi SMA kelas 3 sudah punya
- istri,
- sudah punya anak, Ustaz.
- Sudah punya anak bahkan maisanya apa
- waktu itu?
- Saya kagak ada maisanya. Saya masih
- pelajar gimana?
- Ngempanin istri gimana? jualan obat,
- [tertawa]
- jualan jualan narkoba
- ini mah. Ya emang bener ya mau dikata
- gimana tapi kan yang penting saya sudah
- enggak. Pak polisi jangan tangkap saya
- kan saya sudah bersih. [tertawa]
- Gimana ceritanya
- itu mah? Dulu kan cerita zaman dulu kan
- ini ustaz ya
- emang jual narkoba gampang.
- Saya nih boleh cerita jujur
- saya tuh dulu nongkrongnya di UP ustaz.
- Heeh. He.
- Kalau yang barang-barang putau sahabu
- itu, [berdehem]
- itu anak-anak kampus.
- He.
- Itu itu dia saya itu terkenalnya Starlet
- merah.
- H
- ini. Aduh. Jadi saya jadi cerita aduh
- saya juga takut-takut dikit ini. Tapi
- saya udah kagak ya. Demi Allah saya udah
- kagak boleh dicek dah datang ke rumah
- saya dah. Kagak saya udah udah udah udah
- kagak sama sekali. Entar gara-gara
- [tertawa] dari sini gua ditangkap.
- Kalau Mas masa dia berhasil.
- Enggak enggak enggak saya enggak enggak
- udah insyaallah saya sudah enggak. Tapi
- saya cerita itu memang rada takut itu
- dosa banget buat saya, Ustaz. Jadi
- anak-anak anak-anak kampus itu ya banyak
- yang
- akhirnya cuman Iya. Cuman dia
- ngebohongin orang tuanya, minta duit apa
- segala macam. Katanya buat apa tapi buat
- narkoba, Ustaz.
- Hmm. Waktu itu sih enteng-enteng aja.
- Enggak merasa enggak berosa ya.
- I
- dijual kayak kayak kayak jualan
- sekarang sudah ngedek gitu. Kalau dulu
- mah ya bodo amat kan. Dapat duit Ustaz.
- Dapat duit dapat makai. Ustaz
- punya anak berapa waktu itu? Dua.
- Satu.
- Satu.
- Ee anak dikasih nama siapa? Anak saya
- namanya Iksan Firdaus.
- Oh, nyaran memberi nama tuh bagus tuh.
- Enggak
- lah.
- Saya itu dulu di di itu nama saya nama
- saya di apa? Nama saya di STM. Saya
- dipanggilnya Ikan dulu di STM.
- Ikan.
- Ikan. Nah, makanya saya kasih nama anak
- saya Iksan gitu. Firdaus itu surga. Jadi
- saya pengin dia jadi surga saya.
- [batuk][berdehem]
- [tertawa]
- Sudah ngerti surga juga saya, Ustaz.
- Oke.
- Pengin surga juga saya, Ustaz.
- Tuh mulai berasanya bahwa ni pekerjaan
- sini enggak benar tuh. Kapan tuh mulai
- rasa-rasa?
- Rasa-rasanya pas teman-teman saya pada
- mati, Ustaz.
- Hmm. Mati karena narkoba.
- Narkoba. Pada narkoba. Nah, itulah
- setelah dia pada mati sampai wah orang
- itu cuman kalau udah pakai narkoba itu
- Ustaz jangankan lu sakit malaria ya,
- lu demam berdarah aja lu sakit lu sakit
- tipes aja mati. Lu pasti
- dijamin pasti mati.
- Karena apa? Karena daya tahan tubuhnya
- itu menurun
- barang yang di darahnya itu. Jadi kalau
- kata si dokter di RS PAD itu di dalam
- tubuh kita ada namanya monster yang
- enggak aktif, Ustaz.
- Jangan salah. Orang yang udah enggak
- pakai narkoba kayak saya ini, saya
- selalu menjaga kesehatan saya, Ustaz.
- Karena di mana saya lagi nge-drop, ini
- monster ini bisa meledak dan dia bisa
- berkembang biak dengan banyak. Ustaz,
- enggak akan mati sampai kita mati. Tuh
- harus diingatin tuh.
- Dan ini aids bukan. Saya sudah cek
- anak-anak saya darah darahnya, Ustaz.
- Saya cek semua. Saya hampir mau bunuh
- diri waktu itu, Ustaz. Saya pikir anak
- saya aids kan saya takutnya kalau kayak
- gitu aids aja, Tad.
- Saya periksa semuanya eh dijelasin
- enggak enggak ada enggak ada enggak
- enggak kena sama sekali.
- sampai akhirnya saya ternak anak lagi
- habis itu gitu kan boleh beranak lagi.
- Itu menurut rumah sakit itu itu memang
- bukannya bukannya yang menularkan tapi
- itu yang berbahaya buat diri kita
- sendiri.
- Jadi kalau sudah pakai itu sudahudah
- barang itu sudah ada di dalam itu sama
- aja kita nyimpan monster di dalam tubuh
- kita
- itu bahayanya putau.
- Oke.
- Bahayanya narkoba.
- In tanya
- Mas Incan bagaimana ceritanya kan waktu
- itu Mas Incan masih narkoba kok bisa
- ngelamar gadis yang dan dan diterima
- pula itu gimana tuh? Aduh dari Suti
- aduh ini ceritanya aduh ini dalam banget
- ini cerita ini. Aduh ente keren banget
- nanyanya. [tertawa] Saya saya mau
- jelasin gimana ya ustaz ya. Enggak
- apa-apa enggak apa-apa juga ya. ini.
- Jadi saya ituudah pacaran dari SMP. Udah
- pacaran dari SMP dan ceritanya
- Allahu Akbar. Aduh, ini ini di-live lagi
- ya. Enggak apa-apa kali ya.
- Dihalusin aja. Dihalusin aja.
- Dihalusin.
- Nah, itu ada kayak gitu. Dia hamil, Tad.
- Dia hamil si wanita ini. Wanita ini
- hamil. Saya masih sekolah T. Saya juga
- ini sudah lama tuh kita enggak ketemu.
- Ternyata pas hamil orang tuanya datang
- ke saya. Saya pernah mencintai dia
- memang dan saya harus menikahi dia.
- He.
- Karena saya bilang saya ini orang yang
- mau bertanggung jawab. Ya udah enggak
- apa-apa saya nikahin kamu.
- Gue juga sayang kok sama lu gitu.
- Ya udah saya nikahin
- sampai akhirnya punya anak.
- Sampai akhirnya punya anak.
- Anaknya disayang sama cucu sama
- kakeknya.
- Sama siapa? Saya.
- Heh. Enggak sih anaknya. Anaknya
- Masincan
- sama mertua disayang sama.
- Iya. Sangat disayang. Saya pun sangat
- disayang sama itu. Tapi sekarang sudah
- almarhum semua itu. Sudah almarhum semua
- ya. Masyaallah.
- Tapi alhamdulillah dia saya ajak naik
- umrah juga kemarin mertua itu. Wah itu
- umroh kan perlu biaya tuh ya.
- Heeh.
- Dapat biaya dari bukan narkob bukan
- narkoba kan.
- Itu mah sudah sehat saya.
- Udah sehat sehat udah sehat umrah.
- Mertua juga ajak umroh semuanya.
- Sama kawan saya satu orang saya taruh di
- saya taruh di kocokan karena teman saya
- banyak. Saya cari, saya pilih, saya
- keluarin yang keluar namanya Heru.
- Itu teman produser di ANTP, Ustaz.
- He.
- Nah, itu akhirnya dia yang dapat ee
- namanya ya. Akhirnya dia saya ajak
- nangis-nangis datang ke rumah saya.
- Beneran ini gua mau diajak umroh? Iya,
- ya.
- Hm.
- Serius? Itu teman saya produser.
- Masyaallah.
- Oke, silakan yang mau bertanya kami
- tunggu di 0811999720.
- Kami masih bersama Sinchan dalam acara
- hijrah Talk ya. Silakan yang mau
- bertanya kami tunggu silakan. Ee
- wah menarik sekali cerita Sincan ini.
- Sering-sering ada di Rasil. Wah.
- Oh. I kalau yang mau hapus tato boleh
- juga tuh T dias.
- Oh maus tato ya. Heeh.
- Ini nomor teleponnya Sincan ya. Saya
- kasih tahu ya. Kalau mungkin mau ada
- saudaranya atau siapa yang mau ngapus
- atau hubungin Sincan nomor teleponnya 08
- 78 kemudian 32 046413
- 08 78 320 046413.
- Gratis ya, Ustaz? Ya,
- gratis ya.
- Kita hapus satu gratis setiap bulan
- sekali di Depok, [berdehem] di Jakarta
- juga ada. Nah, kalau untuk tanggal 2 tuh
- tanggal 7 besok kita di Bogor.
- Kita kerja sama sama berani hijrah,
- Ustaz. Berani hijrah baik. Nah, saya
- salah satu kita sering kerja sama lah
- dan saya juga salah satu orang yang
- menghapus tato.
- Oke,
- gitu. Bagaimana saya ingin yuk kita kita
- mencoba belajar gitu. Maksudnya kita
- hapus, kita mencoba ini kita yang
- penting ada niat dulu dah buat
- menghilangkan. Kalau saya sih kayak
- gitu.
- Sakit enggak sih menghilangkan atau itu?
- Sakitnya sih sebenarnya dua kali, Tad.
- lebih sakit dari kata tat
- walaupun laser ya karena kan dia anatesi
- aja cuman anatesi yang di apa yang salep
- itu ustaz
- makai natesi salep di ini nanti berapa
- berapa menit baru di laser
- h
- dan itu enggak hilang langsung enggak
- jadi hilangnya berapa lama
- itu harus harus ngikutin treatmen itu
- bisa ada yang 10 kali ada yang bisa 6
- kali jadi harus ngikutin
- itu satu anu satu motif tuh satu
- Iya satu ini kayak saya nih masih lama
- nih
- baru hilang Ang pinggir-pinggirnya
- doang.
- Oke, oke, oke.
- Tapi kan yang penting sudah niat. Allah
- kan tahu, Maha Tahu, Ustaz.
- Heeh. Yang penting niat.
- Dan nanti di situ di perkumpulan itu
- kita juga bisa belajar. Jadi belajar
- belajar agama sekalian kayak gitu loh,
- Ustaz.
- Oke.
- Asalamualaikum, Mas Incan. Manek Sal.
- Kisah Mas Sincan. Bagaimana kalau
- dibukukan atau difilmkan?
- Waduh, seru itu.
- Oh,
- seru. Emang benar itu. Saya juga ada
- niat juga sih, Ustaz. Pengin juga.
- Heeh. Nah, cuma saya agak ini nih saya
- semoga nih nonton ya yang bikin
- ceritanya UJ, Tad.
- Hm.
- Itu saya agak kecewa tuh, Tad. Beneran.
- Kenapa?
- Karena
- uje dibilang maboknya itu di filmnya itu
- sampai mau gigil-megigil gitu.
- Itu terlalu bodoh kalau buat saya itu
- sumpah.
- Padahal enggak gitu ya.
- Enggak, enggak kayak gitu. Kalau yang
- orang yang begini itu sakitnya pasti dia
- putau.
- Hm.
- Bukannya sabu hitungannya. Kalau orang
- sabu tuh enggak bakalan kayak begitu
- gitu loh.
- Fuji itu enggak pakai putau saya
- yang saya yakini gitu loh, Ustaz.
- Level-level jenis narkoma masih dari
- dari rendah apa yang tinggi apa yang
- paling terendah apa
- yang paling terendah? He.
- Yang paling enggak terlalu efeknya
- ya minum anggur cap orang tua lah. Itu
- paling rendah.
- Di atasnya apa?
- Di atasnya ya obat-obatan lah.
- H
- kalau yang obat-obatan atau
- berapa tablet sekali minum?
- Kalau saya sudah sampai 12 Ustaz
- 12 tablet. 12 kali minum.
- Berapa manis reaksinya tuh setelah
- minum?
- Ya paling 1 jaman, setengah jaman sudah
- enaklah.
- Enggak ee lalu ngerasa playnya.
- Iya bisa seharian kalau segitu mah bisa
- seharian saya asik.
- Oh asiknya se seah orang lain.
- Iya. Dan obat saya kan obat rumah sakit.
- Rumah sakit jiwa beneran
- lebih ori rumah saya mah. [tertawa]
- Kalau yang dijual-jual kan bohongan.
- Kalau saya mah ori. Punya orang gila
- beneran. Yang saya minum [tertawa]
- punya orang gila beneran. Ya Allah ini
- dari yang seri. Asalamualaikum.
- Betul-betul guru ngapain biar anaknya
- enggak waras. Maaf ya. Terima kasih
- Sincan. Tadi yang enggak digebukin
- gurunya enggak diam aja.
- Iya
- ya. Itu benar-benar guru katanya. Karena
- Anda nih di dalam posisi yang salah
- soalnya.
- Oh iya iya iya iya iya iya iya.
- Mudah-mud. Alhamdulillah sekarang Sincan
- sudah jadi ustaz, sudah tobat. Terima
- kasih Ibu Sri.
- Mm. Kemudian ee
- dari
- Mas Tejong.
- Asalamualaikum Mas Sincan. Kalau boleh
- tahu masih ngajikah nimba ilmu sampai
- sekarang dan bagaimana pengalaman
- keislaman dalam keluarga masyarakat?
- [berdehem]
- Ya, itu pertanyaan dari Tejo Sukmono
- ya. Alhamdulillah sekarang kita malah
- saya alhamdulillah saya dikasih ee
- dikasih kesempatan sama Allah untuk
- terus belajar. Ada beberapa ustaz juga
- ya tadi salah satunya Ustaz Deri, ada
- Ustaz Lukman, ada Ustaz Kiki. Saya malah
- mendirikan satu forum namanya forum
- Arimatea, Ustaz yang mana di situ kita
- ngaji bareng-bareng sama mualaf ya itu
- dengan dengan belajar bareng mualaf
- itulah akhirnya saya memilih jalan untuk
- ee berdakwah di mualaf, Ustaz.
- Heeh.
- Bagaimana? Karena di situ ada
- adrenalinnya saya.
- He.
- Kenapa saya memilih garis itu?
- Karena kan kalau kalau sama kalau sesama
- sama ini Islam sama Islam kayak Ustaz
- Dedi kan yang ada ribut nanti sama saya
- Ustaz gaya-gaya saya kan kalau sama
- mualaf sama gimana saya dakwah saya
- mengajak orang Kristen untuk mengenal
- Islam. Nah akhirnya saya memilih jalur
- itu.
- Dari saya memilih jalur itu akhirnya ya
- saya banyak belajarlah sampai kita juga
- ya jujur saya baca Quran juga masih
- belajar. Malah saya ee bersama
- teman-teman di Arimatea itu menciptakan
- bagaimana caranya kita belajar Al-Qur'an
- artinya, Ustaz. Jadi kita bikin satu
- buku itu artinya semua.
- Enggak ada Al-Qur'annya, enggak ada
- Arabnya
- ya. Di mana tapi kita tetap bertanya
- kepada Ustaz, orang yang ngerti. Jadi
- dan itu kita ngambilnya dari Depak,
- Ustaz.
- He.
- Ee bagaimana kita tahu arti-artinya dari
- Al-Qur'an itu gitu loh, Ustaz.
- H. He.
- Jadi enggak enggak hanya membaca
- Al-Qur'annya, tapi juga kita belajar
- membaca artinya. Dan setelah belajar
- tahu artinya insyaallah lebih enak
- karena kita tahu, ngerti gitu loh,
- Ustaz.
- Hm. Oke. Dari Mas Mono. Asalamualaikum,
- Mas Incan. Mohon maaf bisa diulang
- enggak secara singkat bisa lepas dari
- narkobanya seperti apa?
- Oke, secara singkat saya menghilangkan
- narkoba saya. Saya 8 bulan saya di
- Bojong Gede. Saya menghilangkan narkoba
- itu saya ada dua ya, Pak. cuman dua
- antara hidup dengan mati. Kenapa dengan
- hidup dengan mati? Karena saya kalau
- saya enggak pakai barang itu, saya ini
- menahan untuk tidak memakai barang itu.
- Saya memahan menahan untuk tidak
- memakai. Kalau saya memakai pasti saya
- sembuh. Tapi saya akan tetap
- ketergantungan dengan pulau itu.
- Hm.
- Saya itu ngipet itu, nyelepet itu, itu
- sampai 12 kali. Kalau buat yang
- tahu-tahu yang orang yang suka makai
- pasti dua kali aja udah muntah-muntah.
- Kalau kita udah ngipetnya udah sampai 12
- kali udah berarti gimana tuh? 12 kali
- itu mainin darah. He.
- Jadi habis dimasukin jegrek, tarik lagi,
- jegrek lagi ngerokok. Tarik lagi jegrek
- lagi ngerokok. Itu darah doang yang
- disedot di pompanya itu sampai 12 kali.
- Kalau yang enggak biasa dua kali aja
- pasti
- telap. Nah, saya 8 bulan itu saya yang
- namanya saya buang, mohon maaf ya, bab
- di celana apa segala macam saya di kamar
- mandi saya meriang yang kayak filmnya si
- UJ itu ya kayak begitulah. Itu yang saya
- rasain. Saya badan saya kedinginan,
- kepala saya udah rasanya mau pecah,
- urat-urat semuanya udah pada kayak mau
- putus semuanya 8 bulan itu ya. Tapi
- alhamdulillahnya
- Allah masih ngasih kesempatan buat saya
- buat hidup dan jarang orang itu yang
- keluar dari situ itu bisa hidup. H.
- Maka dari situ saya berterima kasih
- banget ya sama keluarga, sama Allah
- Subhanahu wa taala lah. Dan saya bisa
- sampai sekarang saya masih bisa hidup
- gitu, Ustaz.
- H.
- Tapi ya itu dia bilang saya bilang
- walaupun kita hidup sekarang jangan
- berbangga hati gitu loh. Karena tetap
- aja kita pernah pakai.
- Nah tetap kita pernah pakai. pasti masih
- ada ampas-ampas yang kita pegang itu.
- Nah, itu kita harus
- berpola hidup sehat terus gitu.
- Bagaimana supaya ya kita minta ridanya
- sama Allah supaya hilang semua seperti
- itu.
- Mascan sekarang bagaimana orang tua Anda
- memandang Anda dan mertua Anda memandang
- Anda sekarang?
- Kalau orang tua saya alhamdulillah
- sekarang dia
- banggalah sama anaknya.
- Bangga bangetlah ibu saya.
- Iya.
- Bukan bisa mengumrahkan mereka.
- Bisa mengumumrahkan. Dan saya juga punya
- kalau orang mertua saya juga bangga
- banget. Tapi alhamd eh bukan
- alhamdulillah ya sudah meninggal
- dua-duanya. Kalau ibu saya bangga banget
- dari saya yang benar-benar hancur banget
- sekarang saya sudah bisa bikin
- pengajian, saya sudah bisa bikin
- pengajian rutin mualaf selama setiap
- minggu saya sudah bergaul dengan
- circle-silker yang baik kayak Ustaz
- Krishna, [tertawa] Ustaz Deri. Silkelnya
- sudah beda.
- Masyaallah.
- Nah, terus ee Oh iya, saya ada cerita
- nih, Ustaz. itu aja
- saya nih nih berkahnya seorang ibu
- h
- saya bisa dapat uang banyak dan saya
- bisa berkah sampai sekarang saya
- ketolong mungkin sampai sekarang saya
- enggak mati mungkin sampai sekarang saya
- enggak ditangkap polis mungkin saya
- orang yang sudah mau mati berapa kali
- tapi saya enggak mati itu karena orang
- tua doa orang tua orang tua saya itu gil
- keren banget ibu saya surga saya itu
- keramat saya sampai di sini aja saya
- tulis surgaku namanya keramatku
- he
- ibu saya itah dia itu saya waktu itu
- dapat uang Rp50 juta, Ustaz.
- Heeh.
- Saya dapat uang Rp50 juta ni dari hasil
- YouTube saya, Ustaz.
- Itu saya langsung kasih ke ibu saya.
- Enggak saya kurangin speser
- R juta. R jutanya
- R5 jutanya, Bu. Saya baru pernah ini
- dapat uang sebanyak ini nih. Saya kasih
- Ibu terserah Ibu mau diapain. Ini demi
- Allah, demi Rasulullah, Ustaz.
- Terus
- ibu saya masih hidup jadi saksinya.
- Ibu saya kasih dan ibu saya itu
- senangnya seampun-ampun. [tertawa]
- Mungkin saking senangnya tembus kali ya
- ke langit. Saya juga enggak ngerti juga
- ini.
- Heh.
- I tapi senang banget dibagiin dia kasih
- janda, dibeliin pengajiannya, pakaian
- tuh yang tukang tukang nabunabu qasidah
- di kampungnya dia kan.
- Wah, pada di ini senang banget ibu saya.
- Nah, itu dalam waktu enggak sampai 1
- bulan saya dapat rezeki yang luar biasa,
- Ustaz.
- R miliar.
- Iya, insyaallah.
- Masyaallah.
- Dan itu sampai
- ya banyaklah, Ustaz. Saya enggak bisa
- enggak bisa nyebutin nominalnya cuman
- lumayan banyak.
- Kalau sekarang Sincan melihat
- orang-orang yang kena narkoba sekarang,
- bagaimana tanggapannya?
- Goblok. [tertawa]
- Bodoh kalau saya jangan dah.
- Ya, saya juga dulu bodoh. Maksud saya
- gini aja, kalau yang udah banyak
- belajar, banyak nonton, contoh kayak ini
- Hijrah Talk ya. Ini penting banget, nih.
- Bagus banget perjalanan-perjalanan orang
- itu diulas di sini. Nah, tonton-tonton
- yang channel-channel nih yang kayak
- gini. Jangan nonton channel-channel yang
- goyang-goyang apalah segala macam yang
- kagak jelas lu tonton.
- Karena di sini banyak pembelajarannya,
- Tad.
- H.
- Nah, diambil [berdehem] dari
- pembelajarannya itu kalau menurut saya
- kalau kita sudah ngelihat orang, oh dia
- bisa masih alhamdulillah kayak saya
- masih bisa hidup lah. Gua misalnya yang
- lagi makai narkoba sekarang masih bisa
- enggak lu hidup? Enggak, belum tentu. T
- apakah dia dapat hidayah? Kan belum
- tentu juga.
- Apakah dia dapat hidayah? mau mati
- sambil sampai kita lagi ngipe. Teman
- saya, Ustaz itu yang dulu Allahu Akbar.
- Yang main sahabat pilihan Ustaz
- yang syutingnya di Jagakarsa. He.
- Itu sambil ngipe.
- He
- ini kita berlima nih, Tad.
- Heeh.
- Dia masuk lagi nih. Tiba-tiba mati kita
- tinggal, Ustaz. Nah, di situ tuh
- hm
- enggak ada yang orang pakai narkoba itu
- sayang sama temannya. Pasti ditinggal.
- Kalau kita ada di situ, kita bilangin,
- "Eh, mati lagi narkoba." Ya, kita
- ditangkap.
- Hm. Enggak ada persahabatan itu di
- narkoba itu enggak ada bohong. Kagak ada
- kesetia kawanan. Kesetia kawanan yang
- ada itu cuman di Islam. As geboy
- as geboy dah pokoknya. Ini mah serius
- ustaz. Beneran lah sekarang kalau
- misalnya kita lagi mabuk nih
- lagi begitu tiba-tiba saya laporan.
- H
- ini mati mabuk. Saya juga lagi lagi
- celeng. He.
- Ya ditangkap semuanya ya. Mendingan
- tinggal kabur. Itulah kagak ada kesetia
- kawanan dalam narkoba. Enggak ada sama
- sekali.
- Oke, dari Andi di Celeduk.
- Assalamualaikum. Alhamdulillah Rasil
- Rabu siang ini menyiarkan acara yang
- sangat menarik dan menambah wawasan
- kehidupan. Saya mendoakan semoga Allah
- Subhanahu wa taala memberikan kesehatan,
- panjang umur dan kemudahan dalam semua
- urusan untuk Ustaz Sinsan sekeluarga.
- Dan Mas Krisna serta staf radio
- silaturahim dari Pak Andi di Cipadu,
- Cileduk, Tangerang.
- Ee
- boleh tahu nomor telepon Mas Sincan?
- Oke, ini ee Mas Mono ingin tahu.
- Silakan, silakan yang mau tahu nomor
- teleponnya Sincan saya akan bacakan ya.
- Shinchan
- 08
- 78
- sudah ya. Kemudian 32
- kemudian 04
- 13 08 78
- 32
- 04 64 73.
- Mas Incan apakah sekarang keada dalam
- keadaan suka sehat, suka ada apa nih ada
- penyakit yang
- terjadi setelah akibat dari narkoba dulu
- suka ada timbul-timbul penyakit apa
- gitu?
- Oke. Yang saya rasain saya udah ngerasa
- jauh lebih tua, lebih cepat tua gitu,
- Ustaz. Badan saya lemah.
- Enggak enggak enggak selayaknya
- orang-orang yang masih sehat bangetlah.
- Pasti alah, Mbak. Pasti ada yang kita
- rasain. Apa yang kita rasain tuh badan
- kita gampang lemah.
- Alah pokoknya ada. Enggak mungkin enggak
- ada bohong kalau yang orang yang pakai
- narkoba lu bisa sehat 100%
- itu.
- Hm.
- Bohong. Enggak ada. Pasti saya ada yang
- saya rasa sakit. Ada
- sekarang enggak pernah tertrigger untuk
- misalnya nyoba lagi. Enggak. Enggak.
- Nauzubillah minzalik.
- Enggak. Enggak pernah. Yaak. Katanya
- kalau ngelihat orang ini lalu kepengin
- lagi gitu.
- Saya kalau ngelihat orang gitu malah
- saya pengin ajak berantem aja, Ustaz.
- [tertawa]
- Iya goblok banget lu gitu.
- Janganlah malah saya pengin ajak
- berantem aja. Janganlah.
- Masinsan saya sushi, saya mau bertanya
- apakah betul narkoba itu lahir dari
- orang yang keluarganya tidak bahagia?
- Enggak juga.
- Oh, bisa juga. Enggak juga
- kan bisa dada anak ustaz. Ada juga ya?
- Enggak enggak enggak enggak. Saya ini
- keluarga saya, bapak saya guru, Mbak.
- Dan ibu saya, keluarga nenek saya ini
- keluarga dari Islam banget. NU orang NU
- banget.
- Bapak saya itu NU, ibu saya
- Muhammadiyah.
- H bisa kena ya.
- Iya. Ini orangorang Islam-Islam keren
- banget. Malah saya yang paling pasti itu
- circle. Itu paling pasti
- di pergaulan luar
- di luar rumah ya.
- Pasti. Iya. Di pergaulan di luar rumah,
- pergaulan-pergaulan
- ya sama teman-teman dekatnya dia lah.
- H
- itu yang sudah pasti. Kalau masalah
- keluarga
- enggak jadi ini enggak.
- Hm. Mas Incan, adakah orang yang Anda
- persalahkan tapi, tidak susah disebut
- namanya dalam hal ini sehingga ee Mas
- Incan terjebak dalam narkoba? Ada enggak
- orang yang bisa disalahkan tapi enggak
- usah sebut namanya?
- Yang bisa saya sebut ee yang saya
- salahkan orang itu ya namanya Ahmad
- Syarifudin ya. Saya sendiri [tertawa]
- orang yang saya salahkan ya. Saya
- sendirilah sudah pasti saya sendiri.
- Kenapa saya bergaul?
- Kenapa saya mau coba-coba? Kenapa saya
- H
- ya ada salah satu itu teman saya, Ustaz
- yang namanya Ustaz Kiki itu
- itu dia itu enggak mau bergaul sama
- saya.
- Oh i
- ya. Jadi kalau yang yang circle-circle
- benar nih itu pasti takut bergaul sama
- saya.
- Sekarang kok mau?
- I iya sekarang kan udah
- sekarang lain [tertawa]
- sekarang sudah menghasilkan mm-an ya.
- Ah, ember-embran ya. Masyaallah.
- Hm.
- Mas Incan hobinya apa setelah sekarang?
- Oke. Hobi saya kalau saya banyak, Pak.
- Tadi saya hobi saya main saya orangnya
- yang paling suka sama komunitas.
- He.
- Ya, saya paling suka sama pergaulan
- karena memang saya hidup saya,
- keberhasilan saya semuanya dari
- pergaulan Mbak. He
- cuman ya itu dia jangan bergaul yang
- miring-miring. Jadi bergaulnya emang
- yang harus bagus. Nah, setelah saya
- paham itu akhirnya saya memilih
- komunitas-komunitas yang baik.
- Tapi hobi saya ya berkomunitas dari
- mobil, dari air shopgun, apapunlah ya
- olahraga banyak saya yang penting saya
- komunitas.
- Hm.
- Masincan, apa pendapat Masinan tentang
- orang-orang yang kena PHK sekarang? apa
- orang punya ide-ide apa gitu
- yang gila yang gila dari Mas Sincan.
- Oke.
- Orang yang kena PHK gimana pendapat e
- Mas Sincan?
- Ah buat yang kena PHK kalau saya sih ini
- resign ya bukan PHK ya. Nah kalau yang
- kayak PHK sebenarnya nih dan saya pun
- sekarang lagi ngejalanin Ustaz.
- Jadi
- banyak sekarang media-media kayak media
- online ada affiliate, ada YouTube, ada
- TikTok, ada apa itu manfaatin, Bro. H
- itu pasti bakalan dapat cuan ya.
- Contohnya ya Bapak satu inilah saya bisa
- di
- kontennya apa sih kalau
- ya macam-macam. Kalau saya konten kalau
- saya kan lebih ee bisa dapat uang itu
- dari media. Saya bikin media branding.
- Saya membuat satu perusahaan itu gimana
- caranya perusahaan itu bisa bisa
- terkenal, bisa dapat ini. Nah, itu saya
- saya pegang kontennya saya konten
- kreator. Ustaz Deri juga tahu saya itu.
- Nah, kalau buat saya pribadi saya bikin
- YouTube tentang agama itu lumayan
- monetize dapat duit juga. Kalau enggak
- yang enggak mau modal bikin affiliate
- misalnya affiliate boleh nyebut ini
- boleh.
- Wah, Shopee, TikTok apa segala macam
- itu lumayan uangnya. Dan sekarang saya
- malah saya pribadi sekarang saya lagi
- ngejalanin jualan di Shopee dan saya
- melihat peluang itu ada. Kenapa enggak
- saya jalanin gitu loh.
- Oke.
- Saya malah saya saya malah jualan juga
- di Shopee. Saya jualan setiap hari.
- Alhamdulillah saya lab. Yang penting
- intinya istikamah. Jangan konsisten sama
- istikamah lah. Kalau ngejalanin media
- enggak konsisten enggak usah dijalanin.
- Mendingan tidur aja dah. Kagak bakalan.
- Jadi
- nih ada ngirimin ini dari Ismail.
- Ismail. Ismail.
- Dari Ismail. Asalamualaikum Rasil. Ane
- Ismail nih di Pondok Aren. Ane cuma mau
- ngingetin kesemua. Kenapa kita enggak
- berani kompak di narasi bahasa tentang
- Oh, mana dia? Oh, bukan itu.
- Asalamualaikum Krishna dan Sincan. Ane
- di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Aneh
- mau sharing aja nih. Kalau anak anak
- generasi 80 90 itu mamboknya putau atau
- di-etap apa? Etap-etap ya
- dietep. Banyak juga kawan aneh yang
- overdosis yang meninggal di tempat.
- Soalnya ane dulu tinggal di Kampung Duku
- Jatayu.
- Iya.
- Alhamdulillah Ustaz masih dikasih
- kesempatan sama Allah buat berubah.
- [tertawa]
- Etap itu apa sih?
- Iya tahu itu ETP. Etap itu tahu sama
- ustaz karena kan di Etap ya bahasa
- bahasanya Ustaz.
- Oh yang yang ngerti bahasa-bahasa
- gitaroba aja nih.
- Oke.
- Tapi emang Tad yang namanya mabuk ketemu
- Tuhan ya cuman itu doang.
- Heeh.
- Mabuk itu kalau kalau menurut saya mabuk
- yang bisa ketemu Tuhan waktu itu ya itu
- barang itu.
- Soalnya kalau
- maksudnya ketemu Tuhan gimana?
- Alah indah banget kita udah nyampai udah
- udah saya udah kayak di jalan di air
- udah kayak sound gook. Iya. Gimana sih?
- Pokoknya aneh dah itu mah. Jangan jangan
- dipelajarin dah
- itu.
- Asalamualaikum Mas Sincan dari Abau nih.
- Bagaimana pendapat ee Sincan mengenai
- BNN?
- Oke.
- Peran ya.
- BNN ya. Kalau BNN alhamdulillah ya. BNN
- sebenarnya bagus. Dengan adanya BNN itu
- kita juga ada rasa takut ya untuk yang
- pada pakai narkoba, untuk yang yang
- jualan apalagi, ada rasa takut bagaimana
- karena dia memang ada badan negara yang
- konsen di narkotika. Nah, cuman untuk
- BNN-nya sendiri maksud saya juga ya
- lebih
- apa lebih baiklah ee ininya pelayanannya
- misalnya kayak masalah rehabilitasi atau
- segala macam itu loh, Tad.
- Soalnya kan saya yang ngerasain
- rehabilitasi sendiri, Ustaz.
- He.
- Saya rehabilitasi ini saya sendiri. Saya
- sampai ngumpet saya sendiri. Jadi buat
- orang yang benar-benar pemakai benar nih
- ya, yang dia pengin tobat ya kasih
- tobatlah. rehabilitasi yang benar, kasih
- tempat yang bagus dan kasih kesempatan
- buat dia mendapatkan hidup yang baru
- gitu loh, Ustaz.
- Jangan tiba-tiba langsung diponis di
- penjara apa segala macam.
- Kasih kasih coba lagi kehidupan dia yang
- baru. Tapi reapnya benar-benar sampai
- berhasil.
- Jangan kayak artis-artis yang
- geblek-geblek gini nih. Udah di udah di
- apa? Rehap-pora rehap tapi sebenarnya
- enggak direhap Ustaz. Masa habis direhap
- dia besoknya dimakai lagi, ditangkap
- lagi, besoknya makai lagi. Rehap apa itu
- namanya?
- Ini baru ada yang nanya nih, apa
- pendapat Sincan mengenai artis penyanyi
- yang sudah kena berbalik, kena lagi kena
- lagi.
- Ya itu dia
- ee apa yang apa yang apakah dia di luar
- kesadarannya atau apa yang dia
- rehapnya kagak benar, Bang.
- Rehapnya kagak benar. gitu. Kalau
- menurut saya kalau mau rehap bener,
- kalau emang pengin niat hilang lu dari
- narkoba, dari hati lu dulu nih, dari
- sini nih, dari dalam hati lu nih,
- lu benar-benar pengin ngilangin lu.
- Kalau lu mau ngilangin narkoba, ya lu
- akan bersusah-susah, bersakit-sakit,
- ngelawan dari keinginan, kemauan lu,
- sugesti lu buat makai barang itu.
- Nah, kalau lu udah bisa ngelawan itu, lu
- sembuh. Kalau rehap cuman bahasanya
- rehap doang di dalam lu cuman bukannya
- diobatin, Tad. Nih kalau diobatin itu
- bukan dikasih obat itu, Tad.
- Kan orang nangis-nangis nih, Tad. Pengin
- makai. He.
- Dikasih kasih sedikit ee dosisnya
- didikitin gitu misalnya. Dikitin,
- dikitin sampai habis. Ya enggak gitu ya
- udah selesaiin aja. Mau mati-mati
- hidup-hidup gitu loh. Lah emang begitu,
- Tad. Itu baru kalau kalau misalnya masih
- diobatin-obatin dikasih tenang ya
- enggaklah.
- Asalamuala. Asalamualaikum, Mas Unsan.
- Ee apa saran Mas Insan kepada orang tua
- yang anaknya kena narkoba? Dia
- nangis-nangis ee sedih. Bagaimana saran
- yang bisa Mas Incan berikan untuk orang
- tua nih yang anaknya kena?
- Yang pertama berdoa, Bu. minta doa sama
- Allah Subhanahu wa taala supaya anak ibu
- cepat dikasih hidayah, cepatcepat supaya
- dikasih soalnya keinginan dan yang
- keinginan untuk untuk berhenti itu pasti
- dari diri anak ibu sendiri. Mau ibu
- taruh di sumur 3 hari juga besok bocah
- itu masih makai lagi pasti.
- Ah, yang kedua, Ibu perhatikan circelnya
- anak Ibu nih. Dijaga di yang dijaga nih
- siapa teman-temannya yang kagak
- benar-kagak benar. Nah, itu ibu juga
- harus tahu nih ngikut ke perkumpulan
- pertemanannya. Jangan cuek sama
- teman-temannya. Kenalin temannya, teman
- lu, teman gua juga bikin kayak gitu. Itu
- yang saya lakuin sekarang sama anak
- saya, Ustaz.
- Yang ketiga, ya belajar agama, Bu.
- Ajarin agama anaknya dikit-dikit.
- Dari Ani, asalamualaikum, Mas Sincan.
- Bagaimana Masincan dari seorang driver
- kok bisa kerja
- di kreatif bahkan bisa mengesal uang
- banyak dari driver loh. Gimana tuh
- ceritanya?
- Iya ya keinginan saya kan tadi saya
- sudah ceritain dari awal sampai akhir
- masa saya buruk banget ya Kak. Masa saya
- tuh buruk banget. Jadi yang benar-benar
- saya pengin ngebanggain orang tua saya.
- Saya pengin ngebalikin dunia ini dari
- orang yang benci sama saya. Jadi orang
- itu sayang sama saya. Itu motivasi saya.
- Hm.
- Jadi saya punya motivasi itu dan
- akhirnya saya hanya 8 bulan saya jadi
- driver. Saya belajar, saya belajar
- kamera, saya belajar editing, saya
- belajar semuanya di ANTP. Alhamdulillah
- ANTp itu kuliah buat saya.
- Karena kalau di ANTP tuh kita bisa boleh
- belajar apa aja, Ustaz. Jadi kita
- belajar sini, belajar sama kameramen,
- saya megang.
- Kenapa enggak pindah ke station lain?
- Tadinya mau pindah, Ustaz. Cuman kata
- ibu saya, "Enggak boleh. Saya sampai
- disuruh bikin TV waktu itu di Bangka
- Belitung."
- Beneran sama Gubernur Bangka Belitung,
- Ustaz.
- Hm.
- Cuman enggak boleh karena kata ibu saya,
- "Lu gobloknya di ANTP, pintarnya di
- ANTP, lu harus ber ee ini di ANTP gitu."
- Hm.
- Karena saya memang saya dari bodoh di
- ANTP, bukan dari bukannya pintar
- bikin perusan sendiri ya
- sampai bikin sendiri.
- Keren, keren. Silakan yang mau bertanya
- kami tunggu di 0811999720
- dari Fitri di Bojong Gede. Sungguh maha
- besar Allah dengan ayat ee Qurannya
- surat at-Talaq ayat 2 sampai 3. Bertakwa
- langsung rezeki yang datang taubatan
- nasuha. Barang siapa bertakwa kepada
- Allah niscaya dia akan mengadakan
- baginya jalan keluar dan memberikan
- rezeki dari arah yang tiada
- disangka-sangka. Masyaallah
- tabarakallah. Mas Sincan berbagi
- hijrahnya. Terima kasih dari Fitri di
- Bojong Gede.
- Ee
- bagaimana dari Rahman, bagaimana dengan
- anak anak Ahmad Albar dan Faris RM yang
- masuk luar tangan kambu? Apa bisa apa
- yang bersangkutan memang diangon jadi
- target atau bagaimana itu?
- Iya. I
- dari Rahman ini
- ya intinya dia belum belum pengin tobat
- sih kalau buat saya.
- Kalau
- belum ada keinginan dari hatinya itu
- emang buat benar-benar tobat.
- Hm.
- Jadi menurut dia tuh nih nih nih kalau
- saya ya pasti ya menurut saya nih karena
- saya pemakai menurut dia itu barang itu
- masih enak gitu aja
- dia masih
- nah gimana supa merubah jadi jadi barang
- enggak enak itu gimana
- diri kita ustaz? Hm.
- Semuanya itu di mindset, Ustaz. Saya itu
- semuanya di pokoknya semuanya itu di
- pikiran kita. Gimana caranya kita bisa
- ngerubah itu bilang itu jadi kagak enak.
- Kalau orang lagi kena narkoba itu apa
- yang ditakutkan? Apa yang paling dibenci
- dan ditakutkan?
- Yang paling ditakutkan apa?
- Ya kalau paling takut kan ditangkap
- polisi lah pastinya. [tertawa]
- Heeh. Ya, paling ditakutkan itu.
- He.
- Kalau kalau sama kematian mah gitu
- ekspresi apa takut tangkap polisi apa
- jadi sembunyi-sembunyi apa ininya apa?
- Iya kalau iya sembuny-sembunyi kan makin
- makin sembunyi makin asiklah pasti.
- [tertawa]
- Iya kayak gitu.
- Tempat persembunyian paling asik kamu di
- di mana?
- Ya kalau saya waktu itu ya seringnya ya
- di ee kos-kosan apartemen di hotel
- makainya tempat-tempat kayak gituah.
- Oh gitu. Ada yang digerebek tuh paling
- ketemu.
- Iya. Nah, itu banyakan ya. Enggak usah
- dah itu, enggak usah di [tertawa]
- enggak usah di [terkesiap]
- tadi perasan banyak ceritanya tuh.
- Seru-seru tuh.
- Enggak usah dibilangin jangan jangan.
- Oke.
- Mas Sincan pernah tugas di luar negeri
- enggak?
- Pernah, Pak. Saya saya alhamdulillah
- saya pernah ke Jepang juga. Di Jepang.
- Ee terus di Hong
- dan syuting juga?
- Iya. Syuting
- Jepang terus
- Hongkong sama
- Hongkong. Oke.
- Itu tapi bukannya di ATP, itu di
- perusahaan yang lain.
- Udah udah enggak narkoba kan? Udah
- enggak narkoba itu?
- Udah saya sudah enggak narkoba.
- Oh, udah enggak narkoba ya.
- Oke.
- Saya sudah alhamdulillah itu setelah itu
- ya saya benar-benar cut narkoba. Tapi
- kalau minum saya masih Ustaz waktu itu.
- Hm.
- Heeh. Kalau minum itu kan buat saya
- bukannya narkoba tadinya. Sekarang sudah
- haram. [tertawa]
- Keren.
- Oke,
- Mas Sincan. apa yang Anda sesalkan dalam
- hidup ini? Waduh,
- yang saya sesalkan
- dalam hidup ini yaitu dia saya
- ee
- kenal narkoba, saya kenal
- kehidupan-kehidupan
- malam, saya
- wah parah dah pokoknya.
- Hm.
- Ya, ya kayak kayak gitulah.
- Hm.
- Itu yang saya sesarkan.
- Daisara. Mas Sinchan mau tanya apa arti
- kebahagiaan bagi Sincan?
- Kebahagiaan. Kebahagiaan buat saya.
- Kebahagiaan. Kebahagiaan buat saya itu
- sekarang ya saya buat saya tuh saya
- anak-anak saya sayang sama saya,
- keluarga saya.
- Alhamdulillah yang saya juga kan
- gara-gara narkoba itu kan keluarga saya
- kan hancur, Ustaz.
- Hm.
- Tapi anak-anak saya semuanya sayang sama
- saya semuanya gitu. Anak tahu enggak
- dulu masa lalunya
- Mas Sincan?
- Kalau anak yang gede-gedenya pasti tahu,
- T. Kalau yang kecilnya enggak.
- Oke.
- Tapi pengetahuan itu kan malah jadi buat
- pembelajaran buat dia supaya enggak
- ee Mas Incan pengajiannya ada di mana?
- Saya mau ikut gabung Don dan bisa
- bertemu dengan Mas Sincan. Pengajiannya
- di mana aja?
- Apa
- pengajian?
- Pengajiannya saya di Depok, Ustaz. Di
- Jalan Pancoranmas Mampang Sawo.
- Oh. Tiap kapan tuh?
- Hari Jumat.
- Oh, tiap hari Jumat. Jam
- jam .00.
- Jam .00. Jam sampai
- itu kita cuman ngajinya enggak baca
- Quran ya, kita cuman tanya jawab,
- permasalahan atau apa.
- Oke, ini ada yang lainnya nomor
- teleponnya Sincan. Saya bacakan lagi.
- Silakan disiapkan Pupan sama kertas.
- Saya akan bacakan lagi nomor telepon
- Shinchan nomornya 08
- 78
- 32
- 04
- 648
- 3204
- 6473.
- Mas Sincan apakah tertarik dengan
- masalah politik? Waduh.
- Wah,
- Mas Tomo nih pertanyaannya.
- Mas siapa?
- Mas Tomok.
- Eh,
- tertarik sih, Ustaz.
- Tertarik.
- Tertarik. Saya tertarik.
- Kemarin waktu ada demo di DPR
- saya peng saya pengin hadir cuma saya
- lagi ada ada keperluan. Saya saya
- tertarik sama politik. Tertarik.
- Oh, tertarik ya.
- Malah saya saya sudah punya niat untuk
- 2029 eh 202 nanti insyaallah saya
- bakalan jadi anggota DPR. Insyaallah,
- Ustaz. [tertawa]
- Ini serius ini saya
- tapi anggota DPR yang tidak dicemooh ya.
- Yang tidak dicemooh. Saya cuma pengin
- saya
- saya ya ngelihat politik yang sekarang
- itu menurut saya makin sedih lah kita
- Ustaz yang kayak kayak gitu.
- Hm.
- Terlalu banyak drama. Drama itu cukup di
- sinetron aja. H
- kalau di kalau di negara jangan pai
- drama. Kasihan rakyatnya [tertawa]
- gitu loh kalau buat saya.
- Oke, Mas Incan ee terakhir apa yang mau
- disampaikan nih Mas buat
- oke
- pendengar hasil?
- Kalau
- izin buat pendengar Rasil ee yang
- pertama
- yang pastinya sih ditonton terus nih
- Rasil TV, Radio Rasil ini keren
- bangetlah. banyak banyak mudah-mudahan
- banyak manfaatnya adaada yang bisa
- diambil dari dari tontonan ini. Dan buat
- ee penonton Rasil TV, buat yang pada
- punya anak nih, Bapak-bapak, Ibu-ibu
- yang pada punya anak, tolong dijaga
- anaknya. Ee dilihat ccle pergaulannya,
- anggap
- anak lu eh teman teman lu teman gua
- gitu. Jadi biar kita kenal, jadi biar
- kita tahu dan dijaga banget deh dari
- mulai handphone-nya, mulai e laptopnya
- itu dijaga. Jangan sampai mereka mulai
- mengenal-mengenal yang aneh-aneh. Karena
- dimulai dari satu batang rokok aja itu
- dia udah bakalan bisa pengin ngerasain
- yang mana itu namanya ganja, yang
- namanya itu namanya obat-obatan itu
- kayak gitu.
- Ketika mengetahui anak.
- Heeh. Jadi jangan sampai jangan sampai
- ya pokoknya kita kita ini anak kita tapi
- jangan jangan dikekangnya jangan dengan
- lu enggak boleh kayak begini enggak
- boleh kayak gini ya dengan pendekatan
- yang persuasif lah yang halus
- ya itu ah saya bilang anggap kawan aja
- dah kalau saya sih kayak gitu
- tetap memberikan kasih sayangnya ketika
- ketahuannya
- Heeh kalau saya sih yang saya rasain itu
- akan lebih nyampe daripada kita dengan
- kekeras kita, dengan streng yang
- keterlalu dia pasti ngumpet-ngumpet mau
- dibohongin anaknya. [tertawa]
- Akhirnya anaknya kayak gitu. Udah dah
- itu udah pelajaran banget.
- Dekatin anak kita, anggap dia sahabat
- kita, kasih sayang yang benar.
- Insyaallah anak kita enggak enggak
- bakalan masuk sampai narkoba. Insyaallah
- saya doain semuanya. Kita berdoa
- bersamalah.
- Oke, Sincan terima kasih Sincan atas
- sharingnya di Rasil ya.
- Siap.
- Sincan juga datang bersama Ustaz Kiki
- nih. Alhamdulillah ya.
- Juga ada Mas Bembi. Terima kasih BBI
- sudah datang sini BB. Ah, BMB. BMB ini
- pencintta pencipta lagu.
- Siap, Ustaz.
- Ah, penyanyi dia.
- Iya.
- Ee kemudian juga di sini tentu saja ada
- Ondi Saputra
- dan Ustaz Algi Fahrur Roji. Mohon pamit.
- Kita jumpa lagi pada acara apa? Hijrah
- Talk selanjutnya. Terima kasih.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.