Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:02 [musik] TV. 0:08 Halo. Asalamualaikum warahmatullahi 0:10 wabarakatuh, Bang Toni Rosid. 0:12 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:14 wabarakatuh, Mas Angga. 0:16 Bagaimana Bang Toni? sudah ee tenang 0:19 sekarang karena ee apa dinamika 0:23 pemilihan PBNU sudah selesai apa justru 0:26 malah makin deg-degan lagi nih Bang 0:28 Toni. 0:30 Kalau pengamat itu kan tidak boleh 0:32 membawa perasaan. 0:33 Oh gitu. Tidak boleh perasaan ya. 0:36 Harus bersikap rasional terhadap objek 0:39 apun. 0:40 Jadi supaya lebih objektif, lebih 0:43 independen, lebih memberikan ee gagasan 0:47 dan masukan-masukan yang bisa menjadi ee 0:51 objek untuk diskusi atau menjadi apa 0:53 buah diskusiah. 0:55 Iya. Karena kan kami juga melihat ya 0:57 Bang Toni ee salah satu menjadi bagian 1:00 gitu ya dari tubuh besar ee ee 1:03 organisasi PBNU ya Bang Toni ya. Tapi 1:05 itu juga bisa menjadi analisanya lebih 1:08 lebih tajam gitu ya, lebih ee faktual 1:12 gitu ya, dan lebih berimbang karena 1:14 memang di pagi hari ini kita ingin 1:17 mengangkat salah satunya mau ke mana 1:19 gitu ya. Nahdatul Ulama di bawah e Kiai 1:24 Miftahul Ahyar dan juga Kiai Hakim 1:27 Mahfud gitu ya. Karena 1:30 sorotan masih gitu ya. eh masyarakat 1:33 menjadikan salah satu eh media contoh 1:36 kayak bocor alusnya tempo gitu kan 1:38 sekarang nih trending itu disimak di 1:41 mana-mana gitu ya ketika dikaitkan 1:43 muktamar kemarin dengan kepentingan 1:45 kekuasaan kalau saya malah dapat satu 1:48 tulisan Bang Toni yang judulnya itu e 1:50 Gus Dur antara guru bangsa, Presiden, 1:54 dan Politik. Ah, ketika dibaca ternyata 1:58 memang ada beberapa ee peristiwa yang 2:02 sepertinya berulang ketika PBNU ini ee 2:06 dimasuk ke era pergantian kepemimpinan. 2:10 Lalu yang namanya organisasi besar gitu 2:13 ya selalu menarik perhatian para 2:15 politisi. Nah, di tulisan ini tuh 2:17 begitu. Namun ee ee dari beberapa 2:21 peristiwa ada yang terjebak juga di 2:23 dalam pusaran politik praktis ini para 2:25 pengurusnya. Makanya kita ingin 2:28 bagaimana analisa Bang Toni memaknai 2:31 orang kan melihat para kiai di NU ini 2:35 sudah seperti guru bangsa. Namun 2:37 beberapa hal guru bangsa ini tidak bisa 2:40 menempatkan ee ee apa tantangan 2:45 tantangan antara tarik-menarik 2:47 kekuasaan. Harusnya guru bangsa itu ada 2:48 di atas politik negara gitu. Nah, ini 2:50 kok bisa diatur oleh politik negara. 2:52 Apakah benar seperti itu, Bang Toni 2:54 dalam perjalanannya dan sampai yang 2:56 terbaru hari ini? Itu yang pertama kita 2:58 ingin menyeriti itu. Yang kedua juga 3:00 kaitannya Bang Teni ya ee mengenai 3:03 elektabilitas tokoh-tokoh politik. saat 3:07 ini yang ternyata para surveyor gitu ya 3:11 atau para politisnya sendiri sudah mulai 3:14 sibuk dan sudah mulai membangun 3:17 elektibilitas yang sesungguhnya. Nama 3:18 Prabowo sebagai presiden dan penguasa, 3:21 nama Dedi Mulyadi juga sebagai penguasa 3:23 daerah gitu ya. Ada juga nama Pak Anis 3:26 juga Anis Baswedan juga yang masuk di 3:28 elektabilitas ini. Bagaimana Bang Toni 3:31 melihat e ke depannya gitu ya. Dua hal 3:33 ini dulu Bang Toni menjadi topik kita. 3:35 Monggo. 3:37 Baik, Mas Angga dan seluruh pendengar 3:41 hasil di mana pun berada. 3:44 Eh, 3:46 tidak apple to app sesungguhnya 3:48 membandingkan Gus Dur dengan 3:50 pemimpin-pemimpin 3:52 ee NU setelahnya. 3:55 E Gus Dur mengalami sebuah masa 3:59 transformasi ya dari Orde Baru ke orde 4:01 reformasi. Betapa gigihnya dulu Gus Dur 4:04 ee 4:07 menjaga jarak dan melakukan sebuah 4:09 perlawanan kritis ya ee perlawanan etik 4:14 kepada penguasa Orde Baru pada saat itu. 4:18 Dan memang kita juga bisa melihat ya 4:20 dari kendaraan aja Gus Durur itu kan 4:22 orangnya sederhana enggak enggak kelihat 4:25 kelihatan enggak punya duit gitu kan. 4:27 memang hidup total ya sepenuhnya tu NU 4:30 gitu loh 4:32 ya. Ya, itu ee tidak bisa dibantah ya 4:35 karena dengan kesederhanaan hidup Gusdur 4:38 kemudian ketika beliau eh jadi presiden 4:41 NU yang justru besar bukan gus Durnya 4:44 dalam pengertian ee infrastruktur ya ee 4:48 terlihat sekali ya itu satu hal yang 4:51 perlu kita merindukanlah seperti minimal 4:53 seperti Gus Dur lah di NU atau 4:56 sebelum-sebelum Gus Dur itu kan 4:58 tokoh-tokoh NU yang relatif tidak mudah 5:01 untuk diinter intervensi relatif ee 5:04 independen sehingga memiliki marwah 5:06 keorganisasian yang cukup kuat untuk 5:09 menyampaikan atau memberikan kontrol 5:11 kepada ee pemerintahan. Ya, 5:14 itu satu hal. Yang kedua begini ya, 5:18 siapapun penguasanya akan intervensi. 5:21 Heeh. 5:22 Emang Jokowi kemarin enggak intervensi, 5:24 emang sebelumnya enggak intervensi. 5:26 Heeh. 5:26 SBY enggak intervensi. Saya pun kalau 5:28 jadi penguasa juga intervensi 5:32 gitu. Itu keniscayaan, Kak. Itu 5:34 kebutuhan politik, 5:36 kekuasaan. Enggak bisa tidak. Ee 5:39 problemnya bukan penguasa intervensi 5:41 atau tidak. Problemnya itu ada di 5:45 organisasi. Mau enggak diintervensi 5:50 ini. Ini jangan ee salah analisis kita. 5:54 Iya. 5:55 Jadi penguasa siapapun ke depan penguasa 5:58 100 tahun akan datang, 1000 tahun akan 5:59 datang akan lakukan. Kenapa? Karena NU 6:02 ini organisasi besar yang memberikan 6:06 pengaruh dalam banyak hal. Pertama 6:09 terhadap stabilitas bangsa. Yang kedua, 6:12 terhadap dua apa? Stabilitas kekuasaan. 6:15 Yang ketiga terhadap dukungan kekuasaan. 6:18 ee dukungan untuk memperpanjang 6:20 kekuasaan karena punya potensi alebility 6:23 yang besar di dalam diri NU. Ada suara 6:26 besar di situ. Siapa yang enggak 6:28 tertarik gitu kan? 6:30 He he 6:31 ya. hanya orang yang tidak tidak 6:32 berpolitiklah yang tidak tertarik kepada 6:35 NU dalam pengertian ee suara yang besar 6:38 ini. NU itu adalah ee organisasi dengan 6:44 jumlah penduduk, jumlah warga warga yang 6:47 yang paling besar di Indonesia ya. Maka 6:51 ya hanya penguasa yang bodohlah yang 6:53 tidak melakukan intervensi. 6:56 Hm. 6:57 Semua penguasa akan melakukan 6:58 intervensi. Kenapa? Pertama kalau sampai 7:03 NU itu kalau konsia betul-betul akan 7:06 memberikan dukung bisa dia bisa 7:08 dijadikan dukungan yang kuat gitu kan. 7:11 Masa Pak Jokowi sebelumnya kita bisa 7:13 bayangkan 7:15 kan 7:16 ada banon daripada NU pasang badan untuk 7:19 Pak Jokowi. 7:21 Narasi-narasi Islam garis keras dan 7:23 sebagainya itu kan adalah bagian 7:24 daripada dukungan kepada pemerintahan 7:26 Pak Jokowi pada saat itu. 7:28 Iya. ya. Apakah ke depan akan seperti 7:31 itu? Kan potensinya begini, potensinya 7:35 itu setidaknya tidak tidak resisten 7:38 terhadap kekuasaan. 7:40 Hm. 7:41 Gitu kan. Yang kedua ya ee 7:45 bisa memberikan dukungan untuk 7:46 stabilitas kekuasaan sehingga ketika ada 7:50 ancaman apapun pada kekuasaan ya 7:53 kekuatan ini bisa dipakai untuk 7:54 memberikan dukungan 7:55 karena mayoritas karena punya punya 7:59 basis massa yang cukup besar atau yang 8:01 ketiga ketika terjadi transformasi 8:02 kekuasaan ya ini bisa memberikan suara 8:08 H 8:08 kan begitu naluri kekuasaan kan akan 8:12 melakukan ini dengan tiga tujuan itu. 8:17 Apakah kemudian apakah ini menguntungkan 8:20 ya bagi organisasi atau merugikan? 8:21 Menurut saya merugikan. 8:23 Iya. 8:24 Nah, kenapa merugikan? ini kalau NU itu 8:28 ya tidak punya hutang budi kepada 8:30 siapapun khususnya kepada kekuasaan dia 8:33 bisa objektif bisa independen 8:36 ya 8:37 ya yang kemudian bisa di atas 8:39 pemerintahan untuk menjaga etika 8:42 religiositas yang menjadi tanggung jawab 8:44 dan ee beban yang diberikan kepada 8:47 organisasi Islam 8:48 juga 8:49 organisasi keagamaan. 8:51 Jadi ya e ketika terjadi sesuatu di 8:55 pemerintahan panggil hei pemerintah 8:58 ya presiden. Bapak presiden ini salah 9:01 Pak Presiden ini keliru ini harusnya 9:03 begini nasehat. 9:05 Jadi posisinya ya itu di atas presiden 9:09 gitu loh secara etik moral gitu di atas 9:12 presiden untuk memberikan nasihat. 9:15 Terus kemudian kalau memang presiden 9:17 benar kemudian banyak yang mengkritik, 9:20 banyak yang mendonggrade presiden ini 9:23 bisa tampil 9:25 dengan tanpa beban moral. Eh, Presiden 9:28 ini benar, yang dilakukan itu benar A B 9:30 C D gitu loh. Ini perlu diluruskan. 9:33 Jangan benci kepada presiden. NU tidak 9:35 akan dituduh sebagai pendukung presiden. 9:38 Tapi ketika proses pencalonan itu ada 9:42 intervensi presiden akan memposisikan NU 9:46 serba salah. H 9:48 gitu kan. Kalau ngontrol matak sih mau 9:51 ngontrol 9:53 kayak enggak enggak ada enggak tahu diri 9:55 gitu loh. 9:56 Gitu. Kalau kemudian mendukung orang 9:59 akan memberikan tuduhan ini wajarlah 10:02 memang istilahnya orangnya penguasa kan 10:06 gitu. 10:06 Heeh. 10:08 Maka bergaining position-nya menjadi 10:10 lemah 10:12 gitu kan. He. 10:13 Bukan menjadi bukan ee berada di atas 10:17 presiden yang bisa memberikan nasihat 10:19 gitu kan, 10:20 tetapi justru malah ya menjadi objek 10:24 intervensi daripada presiden dan suatu 10:26 saat akan dipakai untuk itu. Ah ini 10:29 namanya menjebakkan diri dalam proses 10:32 itu. 10:33 Oh, kemarin belum berhasil. Jadi kalau 10:36 kemudian kita lihat banyak video kan 10:38 kiai-kiai itu yang muncul 10:41 prihatin kecewa terhadap proses ini gitu 10:45 loh. 10:46 Ee bisa dikatakan kan setiap muktamar 10:49 begini. 10:50 He 10:51 ini bukan hanya muktamar 2026. 10:56 Ini sudah terjadi sebelum-sebelumnya. 10:58 Karena apa? Ada ruang yang dibuka untuk 11:01 intervensi bagi penguasa, intervensi 11:04 partai politik. Iya. 11:05 Dulu ada partai 11:08 yang berkuasa di PNO karena ee terlibat 11:11 betul untuk di P untuk pencalonan ketua 11:15 umumnya. 11:16 Hm. 11:17 Dulu ada penguasa yang terlibat betul di 11:19 PBNU karena ya intervensi dalam proses 11:24 pemilihan. Ah, sekarang semua kebukalah 11:28 bahwa ya kalau penguasa enggak 11:30 intervensi enggak ada penguasa enggak 11:32 intervensi itu. Saya pun kalau jadi 11:34 penguasa jadi presiden akan intervensi 11:36 kok 11:37 gitu kan ya. Karena ada kepentingan 11:40 jangka pendek, jangka menengah, jangka 11:42 panjang. 11:44 Ya, tidak mungkin. Ini sebuah 11:46 keniscayaan bagi kekuasaan untuk 11:48 melakukan intervensi. 11:50 Jadi problemnya bukan pertanyaannya 11:52 bukan penguasa ikut invensi atau tidak. 11:54 Pertanyaannya adalah apakah organisasi 11:58 itu rela diintervensi ya pada akhirnya 12:01 dikoptasi oleh kepentingan kekuasaan? 12:06 Itu yang perlu kemudian disadari. Ah 12:08 kemarin itu ada suasana yang berubah 12:10 dari muktamar-muktamar sebelumnya. Ada 12:13 upaya untuk melawan intervensi. Itu satu 12:15 poin. 12:16 Oh bagaimana itu? [tertawa] 12:19 Iya. Ada upaya coba muncul 12:22 ya munculnyawa itu itu adalah bagian 12:25 daripada kesuksesan awal mereka yang 12:28 melawan intervensi. Tetapi kemudian 12:30 setelah di awal kalah lagi gitu kanli. 12:33 Iya. H. 12:34 Iya. Kalah lagi ahliq kalah lagi gitu 12:38 ya. 12:39 35 gitu kan. 12:40 Iya. Terus kemudian ee apa ahwa ini 12:45 tidak berlaku untuk tanfidiah. Coba 12:47 kalau berlaku untuk tanah 12:50 iya 12:50 ahwa tidak hanya berlaku untuk Rais am 12:52 tapi juga berlaku untuk tanfidia. Heeh. 12:55 Jadi, Akwak ini ya inilah yang kemudian 12:59 menentukan 13:00 ya sebagai tim formator menentukan siapa 13:03 ketua umum yang akan dipilih. Tapi 13:05 syaratnyawa anggota-anggota yang 13:07 sembilan terus betul-betul steril dari 13:10 intervensi. Kalau itu kuat sudah NU luar 13:12 biasa. akan terjadi sebuah perubahan 13:15 fundamental dalam relasi dengan 13:18 kekuasaan dan dalam relasinya dengan ee 13:22 masyarakat di luar NU atau di luar NU. 13:25 Namun yang terjadi bagaimana, Bang? 13:29 Ya sudah saya jelaskan gitu loh. 13:32 Jebol juga 13:33 jebol juga. 13:34 Jebol. Dan itu yang di di disampaikan 13:36 oleh para ulama di video-video itu 13:38 banyak. 13:39 Iya. Iya. Iya. gitu loh. Video banyak 13:41 kata rumornya ada uang 30 13:44 ketinggalan di warung [tertawa] sorban 13:47 masa kiai bawa pertama bawa R juta gitu 13:51 ada beredar beredar umur sebelumnya di 13:54 medsos R juta beredar lagi totalnya itu 13:57 250 300 juta dan sebagainya tetapi ya 14:02 bahkan ada seorang kiai membikin video 14:04 itu ini bukan indikator lagi wong aku 14:07 ketemu kok sampai punya warung gitu H 14:10 tetangga saya itu katanya artinya apa? 14:13 Agak sulit untuk dibantah bahwa ya 14:18 muktamar kemarin itu jebol dan dimasuki 14:21 oleh intervensi dalam konteks ini adalah 14:23 kekuasaan. Ini menjadi sebuah pelajaran 14:26 bersama ee kenapa NU ee Muhammadiyah 14:30 kemudian sistem yang kuat sehingga tidak 14:32 bisa dimasukin intervensi itu karena 14:35 sistem sudah kuat. Sistem termasuk 14:37 sistem transformasi pemilihan. ee tua. 14:39 Kenapa ormas-ormas yang kecil? Ormas 14:42 termasuk ormas Islam tidak diinvensif ya 14:44 suaranya kecil, pengaruhnya kecil. 14:46 He 14:47 ya. Apa yang buat energi kalau minta 14:49 bantuan tempat dikasih kalau minta 14:51 bantuan apa namanya ee operasional ya 14:54 dikasih gitu kan. Tapi enggak perlu 14:56 diintervensi karena apa? Tidak memiliki 14:59 potensi untuk bergaining yang besar. 15:03 H. 15:03 Kalau NU bergainingnya besar bahaya 15:06 kalau enggak dipegang. 15:07 Iya. kebetulan yang jadi ketuanya itu ya 15:10 anti apa ee beda dengan pemerintah dan 15:13 punya keberanian, punya nyali untuk 15:15 melakukan kritik pemerintah ya apalagi 15:18 kemudian melawan. Wah itu bahaya. He. 15:21 Karena itu penguasa akan mati-matian 15:23 gimana caranya bisa masuk di dalam ee 15:27 pemilihan NU sehingga 15:30 minimal gitu kan bisa membangun 15:32 komunikasi yang lancar dan efektif 15:34 terhadap pimpinan di PPNU sehingga ke 15:37 depannya tidak ada resistensi yang 15:40 signifikan. 15:41 Syokor-syokor kemudian bisa dukungan ya 15:44 siapa enggak tergoda sama NU? Politik 15:46 mana, Pak? Ya. 15:48 Iya. Iya. PKB, P3. Kalau PAN kan enggak 15:52 mungkin gitu golkar, 15:54 partai-partai yang lain gitu tertarik. 15:57 PKS aja tertarik kok gitu loh. 15:59 He. 16:00 Nah, apalagi kemudian partai-partai yang 16:02 lain ini seksi NU itu secara politik ya 16:06 e seksi tetapi secara moral mestinya ya 16:11 muktamar demi muktamar menjadi pelajaran 16:13 bersama untuk menjaga NU agar tidak bisa 16:17 terintervensi oleh siapapun. Nah, 16:21 sehingga NU itu independen, punya daya 16:24 tawar ya secara moral yang cukup besar 16:26 sehingga bisa mengawal secara aktif 16:29 terhadap perjalanan ee bangsa ini ke 16:32 depan untuk menjadi bangsa yang lebih 16:34 baik. Begitu. 16:35 Independensi ke depan dengan 16:38 kepemimpinan yang sekarang ini gimana? 16:41 Apalagi sudah ada udah ada apa ee 16:44 pidato-pidato kami ada kecocokan dengan 16:47 presiden gitu ya. Itu gimana tuh Bang 16:49 Tani? 16:50 Ya pastilah pidatonya seperti itu. 16:52 [tertawa] 16:52 Pastilah 16:54 itu kan juga itu kan juga memberikan 16:56 menegaskan gitu loh. 16:59 Menegaskan gitu loh. Sudahlah enggak 17:02 usah. Ini yang berani ngomong itu orang 17:03 NU karena saya orang NU jadi berani 17:05 harus terbuka gitu loh. 17:07 Ya. Jadi harus terbuka yang berani 17:09 ngomong juga kiai-kiai NU harus apa 17:11 adanya. supaya ini dalam rangka untuk 17:15 mengingatkan bahwa NU ini adalah 17:18 organisasi besar, punya magnet yang 17:21 besar dan akan punya pengaruh yang besar 17:24 ketika NU itu dijadikan sebagai 17:26 lokomotif untuk mengawal pemerintahan 17:29 dengan cara yang tepat dan objektif. 17:32 Iya. Iya. Iya. 17:36 Jadi ya enggak usah takut-takut nanya ke 17:38 saya [tertawa] 17:41 dari tadi 17:41 saya jelaskan. 17:42 Iya. Siap. 17:44 Lalu mengenai isu yang kedua, Bang Toni 17:47 yang akan kita angkat ini di pagi ini 17:49 mengenai elektabilitas nih ke depan gitu 17:52 ya. Ini wah enggak kerasa ini waktu kita 17:54 sudah mau habis. 17:57 Oh gitu ya. 17:59 ee untuk elektabilitas 18:06 ada beberapa lembaga survei ya, ada 18:08 indikator. Meskipun indikator mengaku 18:11 tidak 18:12 ee merilis hasil surveinya tapi hasilnya 18:15 itu beredar di berbagai medsos gitu ya. 18:18 Iya. Iya. 18:19 Kemudian SMRC merilis meskipun 18:22 merilisnya itu dicicil mula-mula tentang 18:26 tingkat kepuasan 2 hari kemudian 3 hari 18:29 kemudian baru merilis dokter ee apa 2 18:32 hari kemudian ya baru merilis ee 18:35 elektabilitasnya gitu. Asik ini. 18:39 Terus kemudian muncul tempo gitu kan 18:42 ya. 18:43 Ee tempo kemudian terakhir median 18:46 triomarbun gitu kan. H 18:48 ya. 18:50 Tetapi memang menjadi sebuah pertanyaan 18:52 ee begini 18:55 soalnya sudah ada yang sangat sibuk ini 18:56 Bang Toni ketika muncul hasil itu sudah 18:58 langsung sibuk, langsung responsif gitu 19:03 ya. Ya, tanpa hasil itu kan juga 19:05 masyarakat ee apa namanya memberikan 19:08 banyak dinamikanya kan sudah kencang 19:10 gitu. 19:10 Heeh. 19:11 Ini Mas Angga kenapa hasil surveinya 19:14 jauh ya? Misalnya SMRC itu 14,5 gitu 19:18 kan. 19:20 Terus kemud anektabilitasnya Prabowo. 19:23 Hm. 19:23 Terus kemudian di 19:26 apa median 32 kom sekian persen 19:32 masa S 1 bulan cuman terjadi perubahan 19:35 15% rekus 17% gitu kan. 19:39 He 19:39 ya. Ee terus kemudian saya dapat 19:42 sebelumnya bulan 19:46 ya Mei ya Mei saya dapat ee dari lembaga 19:50 survei yang tidak dirilis ya 19:52 itu 22% nkabilitas Prabowo. 19:57 Ee kemudian di median itu 20:01 ee apa? PKDM. 20:05 Heeh. di median itu 20,6%. 20:10 Heeh. 20:11 Tapi di SMR itu ee 30 sekian persen 20:16 kebalik itu 20:17 sama Prabowo. 20:19 E begitu juga saya dapat inform eendapat 20:22 dari lembaga survei yang lain gitu kan. 20:24 KDM 32%. 20:27 He 20:27 gitu kan. Ya, coba ya apa yang bisa kita 20:31 tarik dari perbedaan yang sangat 20:33 fundamental ini gitu loh. Begini 20:39 Angga dan seluruh pendengar hasil bahwa 20:41 survei itu kan tetap dibiayai. Lembaga 20:44 survei itu enggak mungkin dia membiayai 20:46 dirinya sendiri. Iya. Ada yang 20:47 karena lumayan besar tetap ada. Tapi itu 20:50 sah-sah saja gitu loh. Nah, ketika yang 20:53 ee ketika hasil surveinya itu ee 20:57 menguntungkan bagi yang membiayai, dia 21:01 akan upload. 21:01 Hm. 21:03 Tapi ketika tidak menguntungkan, dia 21:06 tidak upload, mana sisi-sisi yang 21:08 menguntungkan ketika di disosialisasikan 21:13 dan mana yang tidak menguntungkan ketika 21:15 disosialisasikan. 21:16 Ya, itu ranah yang berbeda. Survei 21:19 dilakukan secara objektif, hasilnya 21:22 diumumkan mana yang perlu diumumkan dan 21:24 mana yang tidak itu sudah politis 21:27 gitu kan. Karena bergantung kepada 21:30 kepentingan yang biaya namanya orang 21:32 biaya kan punya kepentingan. 21:33 Iya. Ada motif dia. 21:34 Heeh. 21:35 Heeh. Tetapi ada juga kadang lembaga 21:38 survei yang memanipulasi data. misalnya 21:42 dia mengambil data-data ya ee responden 21:47 ya sampel-sampel dari responding itu 21:50 diatur sehingga hasilnya seperti yang 21:53 dia dapatkan. 21:54 Jadi random sampling-nya itu betul e 21:57 samplingnya itu tidak random secara 21:59 ilmiah gitu loh. Ada yang seperti itu. 22:02 Ada juga lembaga survei dia nitip ee 22:06 kepada survei yang lain ngapain kita 22:07 survei dia itu teman kan sudah survei 22:09 nanti bagi-bagilah ee hasil duitnya ada 22:12 juga. 22:13 Ah, kita jadi bertanya, ada tiga lembaga 22:16 survei yang mirip misalnya bahwa 22:19 elektabilitas KDM itu sekitar di atas 22:22 30. 22:23 Itu ada tiga lembaga survei yang kita 22:26 baca ya ee smr, indikator, kemudian ada 22:30 satu lembaga survei yang tidak perlu 22:32 saya sebutkan demi kode etik gitu kan. 22:35 Itu mirip hasilnya gitu loh. 22:37 Iya. Iya. ya. Dan kita juga tahu siapa 22:39 yang membiayai terlepas dari itu semua 22:41 gitu loh. Terus kemudian muncul median 22:44 hasilnya kebalik. 22:46 Hm. 22:47 Nah. Nah, orang akan lebih percaya mana 22:50 terhadap ini? maka perlu diverifikasi 22:53 melalui datanya bagaimana proses 22:56 pengambilan sampling dan bagaimana 22:58 kemudian proses ee 23:00 apa namanya menganalisis dari hasil 23:03 survei itu atau menghitung dari hasil 23:06 survei itu, mengolah datanya itu 23:09 kan ini menjadi sebuah pertanyaan tetapi 23:12 lepas dari itu semua ya 2027 ini akan 23:16 semakin ee 23:19 meriah su ini 23:21 meriah meriah masuk di 23:23 di tahun-tahun politiklah, jang politik 23:26 ya. Apalagi ketika kenapa masuk di tahun 23:29 politik? Harusnya 2028 dong, bukan 202 23:32 karena melihat ya bahwa ee Pak Bowo 23:37 sudah tidak kuat lagi. 23:38 Hm. Tidak kuat apanya nih? 23:41 Iya, tidak lagi. Tempo mengatakan 23:42 tingkat kepuasan 37 23:45 pers loh. Median 50. Heeh. 23:48 Oh, 6 call tracking 52 gitu kan. Ya, 23:53 artinya apa ini katakanlah cari jalan 23:57 tengah gitu loh. Meskipun ini metode 23:59 yang tidak benar secara ilmiah gitu kan 24:01 ya. Kita bahasa-bahasa politik lah 24:04 sudahlah kompromi aja tengah-tengah kan 24:06 tetap masih 40 apalagi kalau kemudian ya 24:09 tingkat elekabilitnya itu ada empat 24:11 bahkan empat lembaga survei tingkat 24:13 kepuasan publik pada Prabowo itu di 24:15 bawah 40. 24:16 Heeh. Heeh. katakanlah diskon 40 lah, 24:19 tetapi kan tetap di bawahnya 50 di bawah 24:21 50%. Nah, inilah yang kemudian ya 24:25 membuka ruang seksu ee seksi gitu ya 24:28 yang seksi ya untuk menjadi diskusi 24:31 publik 24:33 ya. Artinya apa ya? E ada ruang ini 24:36 melawan Prabowo gitu loh. 24:38 Ada kesempatan ini untuk melawan 24:40 Prabowo. Prabowo enggak kuat-kuat amat. 24:42 Tidak seperti SBY dulu, tidak seperti 24:44 Jokowi dulu. ini rentan dan bisa 24:47 dikalahkan ini. Inilah kemudian 24:50 melahirkan semangat ya mereka yang 24:53 memiliki potensi untuk maju menjadi 24:56 rivalnya Prabowo. 24:58 Nah, ini juga dari satu sisi. Di sisi 25:01 yang lain gitu loh ya, bagi mereka yang 25:03 tidak terkoptasi oleh kepentingan 25:05 politik ya ee ini menjadi sebuah sinyal 25:08 bahwa kepemimpinan Prabowo ini warning 25:12 ya. 25:13 Iya. 25:14 Bisa dikatakan kalau kemudian terus 25:17 tingkat kepuasan segini terus sampai 25:18 akhir ya bisa dikatakan itu gagal 25:20 ketemunan yang gagal. Ah di sinilah 25:22 mestinya Prabowo dan timnya ya melakukan 25:26 evaluasi 25:27 h 25:28 apa yang salah ini, apa yang kurang ini. 25:31 Ya, beberapa kali tulisan saya kan saya 25:34 menyampaikan ini loh kekurangannya harus 25:36 diperbaiki. 25:37 He he he. 25:38 Termasuk narasi. Kemudian program yang 25:41 mestinya terencana dan dikelola dengan 25:43 baik, kemudian diminimalisir potensi 25:46 korupsi ya, kemudian keseimbangan fiskal 25:49 sehingga terjadi sebuah pembangunan 25:52 fiskal pusat dan daerah dan fiskal ee 25:54 program ya anggaran itu. Ini kan 25:58 masukan-masukan orang-orang seperti saya 26:01 karena cinta kepada negara dan ini masih 26:04 tetap peduli untuk memberikan masukan. 26:06 Pak Prabowo ada yang salah dalam 26:09 kepimpinan Pak Prabowo ini sehingga 26:11 elekabilitas dan ini I turun. Nah, itu 26:14 kan sebagai sebuah indikator bahwa ee 26:17 masyarakat kecewa. Kenapa kecewa? 26:20 Kecewanya di mana? Apakah kecewa itu 26:22 substansial atau kecewanya politis? Ee 26:24 terbukti memang kecewnya substansial. 26:27 Kasus MBG, kasus KMP 26:30 gitu kan. yang terus kemudian ee 26:33 termasuk saya bilang sebagai sebuah 26:35 kasus itu di mana daerah tidak bisa 26:38 membangun secara luasa karena 26:40 pengurangan ee apa TKD 26:44 ya dana transfer 26:46 2025 itu pengurangan itu R triliun 2026 26:52 itu pengurangan 228 26 triliun 26:56 2027 nanti itu R4 triliun 27:00 H 27:01 itu ah bagaimana daerah itu bisa 27:05 membangun gitu loh ya. 27:08 Otomatis pembangunan setak lah. Kalau 27:10 pembangunan setak maka uang tidak 27:11 berputar daerah. uang tidak berputar 27:13 daerah, maka apa ee 27:17 k apa ini kemiskinan akan nambah 27:21 gitu loh, PHK dan sebagainya k akan 27:24 deflasi 27:25 itu kan yang terjadi. Apalagi kemudian 27:27 KMP ya itu ee ada yang lebih dari 27:32 separuh, ada yang kurang dari separuh. 27:34 Dana desa dipakai untuk KMP 50 ee R00 27:38 juta per tahun selama 6 tahun. He. 27:40 Dan ini kan juga akan menjadi e 27:43 kesulitan bagi daerah 27:45 tidak seimbang nanti ya. 27:47 Iya. Ya, pada akhirnya wajar kalau 27:50 kemudian akan terjadi perputaran ekonomi 27:53 yang lambat, pertumbuhan ekonomi yang 27:56 lambat yang pada akhirnya ya terjadi 27:59 efisiensi ee terhadap ee korporasi. 28:04 Kalau efisiensi terhadap korporasi itu 28:06 apa artinya? Ya, e PHK. Kalau PHK 28:11 maknanya adalah akan menambah tingkat 28:13 kemiskinan dan tingkat pengangguran. Kan 28:16 begitu. 28:18 Nah, itulah keseimbangan fisk karena 28:20 akibat dari keseimbangan fiskal. 28:22 Sementara KMP dan MBK yang notab menjadi 28:27 ee prioritas dana itu masuk ke sana 28:29 belum mampu untuk me ee apa namanya 28:34 mengkompensasi terhadap ya 28:37 ee dampak yang diakibatkan oleh ee 28:40 fiskal yang tidak seimbang ini. 28:43 Dan ini kan terbukti ya itu kita kasih 28:45 tahu pemerintah ini supaya mengevaluasi 28:49 H 28:50 gitu. Iya, 28:51 begitu Mas Angga. 28:52 Dan terakhir sebagai penutup Bang Toni 28:54 dari penjelasan mengenai sibuk-sibuk 28:56 urusan elektabilitas dan juga pencitraan 28:59 ya. Bagaimana pemerintah supaya fokus 29:02 dulu nih urusi negara dan juga rakyatnya 29:04 gitu ya untuk penguasa. Bagaimana Bang 29:06 Toni sebagai penutup? 29:07 Iya. Pencitraan yang abadi itu adalah 29:11 gitu memberikan kepuasan kepada publik, 29:13 kepada rakyat. Cara memberikan kepuasan 29:15 kepada rakyat adalah memberikan 29:17 pelayanan yang hasilnya terukur, 29:19 dirasakan. 29:20 oleh rakyat itu aja. Kalau MBG benar 29:23 misalnya sepertahap benar dan rakyat 29:26 betul-betul merasakan. Apalagi hari ini 29:29 ya dapat informasi di Sidoharjo ada 29:32 berapa ee 200 sekian banyak yang kena 29:36 keracunan kan. 29:38 Nah, penertian-penelitian itu penting. 29:40 Kita sudah ganti ketuanya sudah sampai 29:43 ee ganti-ganti dua kali gitu kan 29:45 ya. Ini mestinya menjadi pelajaran ya. 29:49 ee intinya apa? Perlu penertiban di 29:52 dalam tata kelola negara ya sehingga 29:56 setiap program itu ya visibel ee 30:00 direncanakan dengan baik, dikelola 30:02 dengan baik dan pada akhirnya ee itu 30:05 kemudian menghasilkan sesuatu yang baik. 30:08 Ya, fokus saja bagaimana memberikan 30:11 pelayanan kepada rakyat dalam jangka 30:12 pendek, jangka dan jangka menengah ya. 30:15 Dan kemudian membuat legasi untuk jangka 30:17 panjang. Kalau fokus ke situ gitu kan ee 30:20 itu saya yakin bisa cara itu bisa 30:23 terjadi apabila satu ee apa tata kelola 30:28 itu di rekrutmen SDM berbasis 30:30 meritokrasi. Orang-orang yang 30:32 profesional punya kemampuan. Kalau 30:34 program bagus, orang-orangnya enggak 30:36 bagus, enggak akan jalan. 30:37 Iya. 30:38 Ya, enggak akan jalan. Kemudian yang 30:40 selanjutnya tidak kalah pentingnya itu 30:42 adalah ya ee pengetatan dari potensi 30:45 korupsi. 30:47 Kalau masih memberikan ruang dan 30:49 dibiarkan atau pembiaran terhadap ee 30:52 lingkaran istana melakukan korupsi, ya 30:55 apapun yang dilakukan juga enggak 30:56 efektif. 30:57 H 30:59 sulit gitu loh. Maka SDMSDMN di bawahnya 31:02 yang mula-mula berbasis meritokrasi 31:05 profesional ya akan ikut korupsi juga. 31:07 Karena apa? Tidak mungkin korupsi di 31:10 atas itu tidak melibatkan yang di bawah. 31:13 justru dibawa itu dijadikan sebagai 31:15 sebuah tetangga ya untuk melakukan 31:18 korupsi 31:19 gitu loh. Kalau lingkaran istana bersih 31:22 berintegritas gitu, kemudian SDM-nya itu 31:25 berbasis rekrutmennya berbasis 31:27 meritokrasi kemudian programnya otomatis 31:30 akan dijalankan dengan perencanaan yang 31:32 baik dan pengelolaan yang baik dan 31:34 hasilnya otomatis akan dinikmati betul 31:36 oleh lihat dan itu alektabilitas 31:39 otomatis akan naik gitu loh. 31:41 H 31:41 begitu. Oke, Bang Toni. Luar biasa. 31:45 Terima kasih, Bang Toni atas dialognya 31:46 di pagi hari ini. Semoga mencerahkan 31:49 pendengar. Insyaallah kita jumpa lagi 31:51 pekan depan, ya. Asalamualaikum 31:53 warahmatullahi wabarakatuh. 31:54 Warahmatullahi wabarakatuh.